Sabar Yang Tiada Batas

on Jumat, 31 Desember 2010
Oleh Ummu reza

“Wah…hari ini tanggal 31 Desember 2010, beberapa jam lagi kita sampai di penghujung tahun 2010. Hmmm….malam  tahun baru. Berbagai acara tumpah ruah, dari yang berbau islami sampai yang berbau maksiat. Ya…sekarang ini malam tahun baru menjadi acara spesial setiap tahun,  bukan hanya dari kalangan non muslim, orang muslim sendiri pun tidak mau ketinggalan. Berbagai dalil mereka sodorkan untuk membenarkan perbuatan mereka. Inna lillahi wa inna illaihi raaji’un. Musibah..!” ucap Rina dalam hati.
Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk kaum tersebut.”
Tanpa sengaja, mata Rina tertuju pada selembar kertas undangan yang tergeletak di samping komputer ruang tengah rumahnya. Undangan syukuran rumah baru dari tetangga depan rumah. Di situ tertulis nama seorang ustadz, hmm...ada ceramahnya juga. “Tapi kenapa harus menunggu malam tahun baru,  padahal rumah itu sudah lama jadi..?? pantas sejak kemarin rumah tetangga Rina ini ramai oleh ibu-ibu yang membantu memasak. Rina jadi teringat perkataan seorang ustadz, “Umumnya persahatan mereka karena dunia, Jadi siapa yang banyak uang, merekalah sahabatnya, merekalah saudaranya. Tetapi mereka yang miskin, mereka yang bertaqwa, bukan sahabatnya”. Hmmm….Rina bergumam dalam hati ternyata memang benar perkataan ustadz dari Riau itu.Ya..tetangga Rina memang sedang naik daun, sedang diuji oleh Allah dengan harta yang berlimpah, mobil baru, rumah tiga, sepeda motor dua, belum lagi harta yang tersimpan, layaknya harta qorun gitu deh..
Allah berfirman:
"Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi." (QS Al-Munaafiquun : 9).
Juga dalam ayat lain Allah berfirman:
"Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar." (QS Al-Anfaal : 28).
“Duh…Rasanya kalau ingat ayat itu ngga mau jadi orang kaya. Apalagi kalau ingat perkataan ustadz kemarin, katanya hisabnya orang kaya di akhirat itu paling lama, berarti enak ya jadi orang miskin, hisabnya cuma sebentar. Tapi lebih enak lagi jadi orang kaya yang selalu beramal kepada orang miskin..” kata syaitan yang mulai merayu Rina untuk berandai-andai
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Bersemangatlah untuk meraih segala hal yang bermanfaat bagimu. Mintalah pertolongan Allah dan jangan lemah. Apabila engkau tertimpa sesuatu (yang tidak menyenangkan) janganlah berkata, ‘Seandainya aku dulu berbuat begini niscaya akan menjadi begini dan begitu’ Akan tetapi katakanlah, ‘QaddarAllahu wa maa syaa’a fa’ala, Allah telah mentakdirkan, terserah apa yang diputuskan-Nya’. Karena perkataan seandainya dapat membuka celah perbuatan syaitan.” (HR. Muslim)
Dari kumpulan ibu-ibu yang sedang memasak itu sesekali terdengar sindiran yang ditujukan untuk Rina. Rina hanya mampu bersabar, beristighfar. Walau tidak dipungkiri, sebagai manusia biasa dia merasa sakit hati, dia merasa sedih, dia ingin membalas. Namun dia sadar bila keburukan dibalas dengan keburukkan hasilnya tidak akan ada manfaatnya. Apalah artinya ilmu yang dia dapatkan, bila dia sendiri mengikuti hawa nafsu, ya hawa nafsu yang datang dari syeitan, seperti firman allah dalam surat al-Baqarah : 208.
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”
Dari Shafiah binti Huyai, istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya setan itu mengalir pada anak Adam di tempat aliran darah.” (HR. Bukhari)
Dan sunnatullah, biasanya orang-orang awam akan lebih mengorek-ngorek kesalahan seorang wanita yang telah berjilbab, ketimbang kesalahan mereka yang tidak berjilbab. Terlebih dengan keadaan diri Rina yang telah berhijab sempurna. Pastilah fitnah akan lebih tajam lagi. Kadang Rina sanggup bertahan, tetapi kadang perasaan gundah hadir dalam hati , dia ingin hijrah dari lingkungan itu secepatnya. Bila mengingat itu semua Rina hanya mampu menangis, memohon kesabaran dan kekuatan dari Sang Maha Pencipta, Sang Maha Pemberi kekuatan, Rabb Semesta Alam. Rina ingin selalu bersabar, bersabar dalam ketaatan, bersabar dalam menahan diri dari melakukan kemaksiatan dan bersabar dalam menghadapi takdir Alloh yang terasa menyakitkan. Ada satu hadits diantara hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salam tentang istimewanya hak tetangga, satu hadits yang selalu membuat hati Rina merasa kuat untuk bersabar.
Dari Abu Dzar Radhiyallahu 'anhu berkata : Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Ada tiga golongan yang dicintai oleh Allah ... dan seorang laki-laki yang mempunyai tetangga. Tetangga tersebut menyakitinya. Maka dia sabar atas gangguannya, hingga kematian atau kepergian memisahkan keduanya".
Memang sejak Rina mendapatkan hidayah, mengenal ajaran Islam yang haq ini. Ajaran Islam yang berdasarkan Al qur’an dan As Sunnah, sesuai pemahaman para ulama salaf. Rina merasa sering dikucilkan,apa lagi bila sudah berbenturan dengan adat dan kebiasaan yang ada di masyarakat. Dengan suami dan anak-anaknya  kadang dia bercerita, dengan tujuan untuk meringankan kesedihan yang ada. Sesekali dia juga bercerita dengan teman-temannya, tapi ternyata…apa yang dirasakan Rina tidak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan teman-temannya…

Di antara ciri-ciri/bentuk kebahagiaan seseorang adalah
1.Apabila diberi kenikmatan maka dia bersyukur,
2. Apabila diuji maka dia bersabar,
3. Apabila berbuat dosa maka dia segera bertaubat.

(bersambung tahun depan ya….^_^)

Ilmu Sebelum Membaca dan Menulis

on Kamis, 30 Desember 2010
Kegiatan membaca dan menulis adalah pekerjaan otak yang tidak semua orang bisa melakukannya, apalagi sampai taraf membaca kritis sejatinya kegiatan membaca bukanlah hanya mengartikan atau memaknai barisan-barisan huruf dan kata, ia adalah menginterpretasikan setiap huruf sebagaimana konteks penulis dan pengetahuannya. Membaca dengan kritis berarti menggabungkan setiap ilmu pengetahuan yang ada pada kita dengan barisan huruf yang ada di depan mata kita. Dari sini berarti ketika kita membaca tidak hanya hanya terpaku dengan apa isi dari tulisan tersebut, namun kita akan menganalisa, menyangkal, menyetujui atau mengkritik apa yang sedang kita baca.


Demikian pula kegiatan menulis, tulisan-tulisan yang berkualitas berasal dari ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh Sang Penulis secara komprehensif. Ia bukan hanya menyusun huruf demi huruf, tidak pula hanya memperhatikan etika penulisan apalagi sekadar tekhnik penulisan. Kegiatan menulis berawal dari proses membaca kritis yang dilanjutkan dengan analisa dan kajian komprehensif. Sehingga ketika seseorang menulis, ia paham apa yang ia sajikan, bukan hanya mengejar kuantitas saja. Tapi kualitas dari sebuah tulisan itulah yang seharusnya dikedepankan.

Maka, ilmu sebelum membaca dan menulis menjadi sebuah keniscayaan “Ilmu sebelum membaca dan menulis adalah nilai dan kualitas dari proses membaca dan menulis seseorang” seseorang yang membaca tanpa didasari oleh ilmu maka ia akan tersesat di belantara kata, atau ia akan terseret arus kalimat yang berujung pada jurang kesalahan pemahaman. Setiap bacaan yang kita baca seringkali mempengaruhi pola piker dan pemhaman kita “Anda adalah apa yang anda baca”. Maka membacalah dengan ilmu……

Setelah aktifitas membaca dengan ilmu dapat dilaksanakan, maka menulis dengan ilmu adalah sebuah tujuan. Berapa banyak para penulis yang telah menyesatkan jutaan manusia, berapa banyak para penulis yang telah membuat sengsara manusia. Sesat karena tulisan yang dihasilkan tanpa didasari oleh iman. Sengsara karena buah karya yang berlumuran dosa dan pelanggaran syariahNya. Maka ilmu sebelum menulis adalah sesuatu yang fardhu, bukan hanya wajib. Apalagi jika dikaitkan dengan tanggung jawab dengan apa yang telah kita tulis, Ingat…… semua tulisan kita akan dipertanggungjawabkan….. bagaimana kalau ada manusia yang berbuat dosa dan maksiat karena pengaruh dari tulisan kita? Ilmu sebelum membaca dan menulis adalah sebuah tanggung jawab kita semua……

Antara Aku, Kau dan Tahun Baru Masehi

on Rabu, 29 Desember 2010
Oleh Ummu Reza


“Besok datang ya ibu-ibu…ke lapangan bulu tangkis RT 06, ada malam tasyakuran, menyambut Tahun Baru, bawa juga anak-anak. Kita kumpul bareng dengan bapak-bapak”. Begitu kira-kira pesan Bu RT saat berbicara di forum arisan. Seketika suasana arisan kali ini riuh oleh suara ibu-ibu. Ada celetukkan dari ibu yang lain, ‘wah…asyik nih, kita bakar ayam and so pasti makan lontong sayur. Nih tukang masaknya ada di sebelah gue”. Geerrrrr….arisan kali ini terasa bagai di pasar kaget, berisiknya minta ampun, apa lagi kalau udah menyangkut urusan makan, hura-hura, pengikutnya pasti banyak. Dari yang tua sampai anak kecil, ngga mau ketinggalan. Coba kalau diundang datang ke ta’lim, seribu macam alasan mereka jadikan dalil.
“Bu…datang dong lu sekali-kali, jangan ngerem aja di rumah. Mentang-mentang udah dapat hidayah nih. Kalau nggak datang, ya…nyumbang ke’ buat nambah-nambahin beli ayam.” Celetuk Bu Linda yang membuyarkan lamunan Bu Marni. “ Maaf Jeng…Saya nggak mau ikutan acara begituan…Lebih baik di rumah aja. Wanita kan lebih baik di rumah. Apalagi acaranya campur baur dengan laki-laki yang bukan mahrom. Udah gitu acara malam tahun baru lagi, acara yang jelas-jelas nggak ada contohnya dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, acaranya agama non muslim.  Itu namanya tasyabbuh.”
“Apaan tuh, gue kaga ngarti ah…Perasaan agama elu sekarang ekstrim banget sih. Ini nggak boleh, itu nggak boleh. Bahasa elu juga sekarang dikit-dikit bahasa Arab. Gue jadi takut nih gaul sama elu” Seloroh Bu Linda yang disambut gelak tawa ibu-ibu yang lain.

Ya…Itulah realita yang ada. Padahal jika kita kilas balik sejarah acara Tahun Baru Masehi, jelas acara ini bukanlah acara kaum muslimin. Walaupun dibungkus dengan acara-acara islami, seperti tasyakuran dengan memanggil penceramah atau acara dzikir bersama. Seperti apa sih sejarah Tahun Baru Masehi. Yuk…kilas balik sama-sama.

Sejarah Tahun Baru Masehi
Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir.
1 tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.

Perayaan Tahun Baru
Saat ini, tahun baru 1 Januari telah dijadikan sebagai salah satu hari suci umat Kristen. Namun kenyataannya, tahun baru sudah lama menjadi tradisi sekuler yang menjadikannya sebagai hari libur nasional untuk semua warga Dunia.
Pada mulanya perayaan ini dirayakan oleh orang Yahudi yang dihitung sejak bulan baru pada akhir September. Selanjutnya menurut kalender Julianus, tahun Romawi dimulai pada tanggal 1 Januari. Paus Gregorius XIII mengubahnya menjadi 1 Januari pada tahun 1582 dan hingga kini seluruh dunia merayakannya pada tanggal tersebut.

Perayaan Tahun Baru Zaman Dulu
Seperti kita ketahu, tradisi perayaan tahun baru di beberapa negara terkait dengan ritual keagamaan atau kepercayaan mereka, yang tentu saja sangat bertentangan dengan Islam. Contohnya di Brazil. Pada tengah malam setiap tanggal 1 Januari, orang-orang Brazil berbondong-bondong menuju pantai dengan pakaian putih bersih. Mereka menaburkan bunga di laut, mengubur mangga, pepaya dan semangka di pasir pantai sebagai tanda penghormatan terhadap sang dewa Lemanja, Dewa laut yang terkenal dalam legenda negara Brazil.
Seperti halnya di Brazil, orang Romawi kuno pun saling memberikan hadiah potongan dahan pohon suci untuk merayakan pergantian tahun. Belakangan, mereka saling memberikan kacang atau koin lapis emas dengan gambar Janus, dewa pintu dan semua permulaan. Menurut sejarah, bulan Januari diambil dari nama dewa bermuka dua ini (satu muka menghadap ke depan dan yang satu lagi menghadap ke belakang).
Sedangkan menurut kepercayaan orang Jerman, jika mereka makan sisa hidangan pesta perayaan New Year's Eve di tanggal 1 Januari, mereka percaya tidak akan kekurangan pangan selama setahun penuh. Bagi orang kristen yang mayoritas menghuni belahan benua Eropa, tahun baru masehi dikaitkan dengan kelahiran Yesus Kristus atau Isa al-Masih, sehingga agama Kristen sering disebut agama Masehi. Masa sebelum Yesus lahir pun disebut tahun Sebelum Masehi (SM) dan sesudah Yesus lahir disebut tahun Masehi.
Pada tanggal 1 Januari orang-orang Amerika mengunjungi sanak-saudara dan teman-teman atau nonton televisi: Parade Bunga Tournament of Roses sebelum lomba futbol Amerika Rose Bowl dilangsungkan di Kalifornia; atau Orange Bowl di Florida; Cotton Bowl di Texas; atau Sugar Bowl di Lousiana. Di Amerika Serikat, kebanyakan perayaan dilakukan malam sebelum tahun baru, pada tanggal 31 Desember, di mana orang-orang pergi ke pesta atau menonton program televisi dari Times Square di jantung kota New York, di mana banyak orang berkumpul. Pada saat lonceng tengah malam berbunyi, sirene dibunyikan, kembang api diledakkan dan orang-orang meneriakkan "Selamat Tahun Baru" dan menyanyikan Auld Lang Syne.Di negara-negara lain, termasuk Indonesia.
Bagi kita, orang Islam, merayakan Tahun Baru Masehi, sama saja kita telah ikut andil dalam acara agama non muslim. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang kaum muslimin menyerupai orang non muslim dan mengikuti hari rayanya. Larangan berpartisipasi dalam perayaan hari raya non muslim sangat kuat. Jangankan ikut andil, sekadar menyerupai mereka saja tidak dibenarkan. Ini membuktikan betapa kuat agama ini dalam melindungi umatnya, dari aqidah, kebiasaan, dan perilaku orang-orang di luar Islam.
Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk kaum tersebut.”
Oleh karena itu tidak dibenarkan menyerupai mereka dalam hal perayaan hari besar. Seperti menyalakan lilin, mercon atau petasan, hingga habis puluhan juta rupiah seperti kaum Konghucu menyambut Imlek. Atau melagukan syair-syair pujian di  Masjid, seperti kaum Nasrani Natalan di Gereja. Maka ini semua adalah penyerupaan terhadap mereka yang sangat dilarang.
Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا
“Bukan golongan kami orang yang menyerupai selain kami.”
maksud dari hadits ini adalah kita berlepas diri dari segala perilaku yang terkait dengan agama dan simbol agama mereka, baik acara keagamaan, pakaian keagamaan, dan lainnya. Namun, untuk perilaku di luar itu, yang terkait dengan kemaslahatan dunia dan kemakmuran manusia, seperti teknologi, ilmu pengetahuan, strategi perang, dan semisalnya, maka Islam membolehkan mengambil manfaat dari mereka.
Ada pun orang Islam yang menjadi penggembira, yang ikut-ikutan berbahagia menyambutnya walau tidak ikut langsung dengan perayaannya, maka ini pun terlarang bahkan haram sebagaimana dijelaskan oleh para ulama.

Wallahu A’lam

Bojong Gede, 29 Desember 2010

Harta Dalam Perspektif Al-Qur'an

Harta Dalam Perspektif Al-Qur'an
1.Definisi Harta
        Harta  dalam bahasa Arab disebut المال   (al-mal) dan bentuk plural atau jama'nya adalah  الأموال (al-amwal ) menurut etimologi kata al-mal berarti condong, miring dan juga berpaling1, seperti disebutkan dalam Al-Qur'an :
والله يريد أن يتوب عليكم ويريد الذين يتبعون الشهوات أن تميلوا ميلا عظيما
Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenara ). QS An-Nisaa ayat 27.
ولن تستطيعوا أن تعدلوا بين النساء ولو حرصتم فلا تميلوا كل الميل فتذروها كالمعلقة وإن تصلحوا وتتقوا فإن الله كان غفورا رحيما
Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri- isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS An-Nisaa ayat 129.
        Sedangkan harta menurut terminology yaitu :  
ما يميل عليه طبع  الإنسات ويمكن ‘دخاره الى وقت الحاجة . أو كان ما يمكن حيازته و‘حرازه وينتفع بهز
Segala yang diminati manusia dan dapat dihadirkan ketika diperlukan atau segala sesuatu yang dapat dimiliki, disimpan dan dapat dimanfaatkan.2  Definisi ini dikemukakan oleh ulama Hanafiya, dalam definisi ini tersirat bahwa manfaat tidak termasuk harta, karena manfaat termasuk milik. Adapun definisi selanjutnya diberikan oleh Jumhur Ulama :
كل ما له قيمة يلزم متلفها بضمانه
Segala sesuatu yang mempunyai nilai dan dapat dikenakanganti rugi bagi orang yang merusak atau melenyapkannya.3
المال هو كل عين ذات قيمة مادية بين الناس 
Harta adalah segala sesuatu yang mempunyai nilai materi di kalangan masyarakat.
2.Kedudukan dan fungsi Harta dalam Al-Qur'an
        Kedudukan harta bagi manusia sangat penting sebagai sarana untuk beribadah kepadaNya. Adapun fungsi-fungsi harta yang dapat kita ambil dari pembahasan ayat-ayat sebelumnya adalah :
1.Harta sebagai penyempurnaan ibadah mahdhah, seperti shalat, haji dan lain-lain.
2.Harta sebagai sarana untuk memelihara dan meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah ta'ala, dengan harta akan memudahkan seseorang untuk beribadah, contohnya seorang perempuan diwajibkan untuk memakai jilbab, karena itu dia membutuhkan kain ataupun uang untuk membeli kain untuk menutup auratnya.
3.Harta sebagai peninggalan bagi generasi setelahnya agar tidak lemah setelah generasi tua tidak ada ( QS An-Nisaa ayat 9 )
4.Menyelaraskan antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.
5.Harta dapat dijadikan sebagai bekal menuntut ilmu yang hukumnya wajib dalam Islam. Keseimbangan hidup antara si kaya dan si miskin, sehingga mereka dapat merasakan indahnya perbedaan.
6.Harta sebagai sarana untuk berjihad, bagi orang-orang yang tidak mampu pergi berjihad di medan perang.
7.Harta sebagai perhiasan dunia yang merupakan fitrah manusia untuk memilikinya, hal ini dibolehkan asalkan tidak berlebihan.
3.Pembagian Harta
Sesungguhnya harta dilihat dari jenisnya ada beberapa macam di antaranya :
1.Harta Muttaqawim dan Ghairu Muttaqawwim.
2.Harta Aqar dan Manqul
3.Harta Mitsli dan Qimmy
4.Harta Istihlaky dan Isti'mal
5.Harta Mamluk, Mubah, dan Mahjur
6.Harta Ashl dan Tsamarat
7.Harta Qismah dan Ghairu Qishmah
8.Harta Khas dan Harta 'Am  
4.Cara Mendapatkan dan Membelanjakan Harta
        Sesungguhnya Islam telah memberikan rambu-rambu bagaimana mendapatkan harta secara benar, yaitu dengan cara bekerja pada bidang-bidang yang halal, tidak meminta-minta kepada manusia serta tidak bekerja dalam bidang kemungkaran, misalnya bekerja di Bank Ribawi, bekerja di Pabrik minuman keras dan lain-lain.
        Dalam membelanjakan harta Islam sangat memperhatikan, bagaimana seorang hamba itu harus membelanjakan hartanya. Ayat-ayat yang telah kita bahas sebelum ini telah memberikan sebuah kaidah yang jelas bagaimana seharusnya seorang muslim membelanjkan hartanya. Secara garis besar bahwa membelanjakan harta haruslah sesuai dengan Islam, misalnya untuk memenuhi kebutuhan hidup, sebagai sarana untuk beribadah dan yang sangat penting yaitu ketika harta tersebut sudah mencapai nishab dan haulnya maka wajib bagi emilik harta untuk mengeluarkan zakatnya. Jika belum sampai maka dianjurkan untuk bersedekah semampunya. 
5.Berakhirnya Hak atas Harta
Sebuah harta tidak lagi menjadi milik seseorang apabila terjadi akad perpindahan harta yang telah diatur oleh Islam, di antara akad-akad yang mengakibatkan berpindahnya suatu hak kepemilikan adalah :
1.Pewarisan, yaitu seorang yang meninggal dunia maka harta bendanya diwariskan kepada ahli warisnya.
2.Jual beli, ketika seseorang berakad untuk menjual hartanya maka kepemilikan harta tersebut berpindah menjadi milik pembeli.
3.Hibah, shodaqah, wakaf dan wasiat, secara umum yaitu memberikan suatu harta benda kepada orang lain tanpa meminta balasan dari orang tersebut, dan hanya mengharapkan ganjaran dariNya. 


Asas-asas Ekonomi Islam

Asas-asas Ekonomi Islam
Pendahuluan
Secara de facto aktivitas ekonomi telah dilakukan oleh seluruh suku bangsa di dunia, dari mulai suku bangsa paling primitive hingga suku bangsa paling modern saat ini. Maka tidaklah mengherankan jika aktivitas ini menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan umat manusia, dari dahulu hingga sekarang dan akan terus berlangsung hingga masa yang akan datang.
Aktivitas ekonomi telah membawa sutera-sutera halus dari Cina mengembara ke gurun-gurun Sahara, ia juga telah menarik kristal-kristal Eropa menuju pedalaman Asia. Semua itu terjadi karena aktivitas ekonomi yang dilakukan oleh umat manusia sepanjang sejarah.
Aktivitas ekonomi juga terjadi di lembah gersang Mekah, berbagai pola dan sistem ekonomi telah berlangsung selama berabad-abad di sini. Kaum Quraisy sebagai salah satu suku pebisnis telah mengarungi gurun-gurun pasir untuk melakukan kegiatan bisnis mereka. Aktivitas ekonomi mereka telah masyhur di berbagai belahan negeri, dari kegiatan bisnis berskala regional yang dilakukan di antara mereka, hingga bisnis berskala internasional yang dilakukan pada setiap bulan Dzulhijjah di Ukaz Expo, Pasar Festival di Dzul Majaz dan Pasar Majaz (Al-Mubarakfury, 1998 : 43). Selain itu mereka juga telah terbiasa melakukan bisnis dalam skala global, hal ini seperti termaktub dalam Al-Qur'an :
لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ(1)إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ
Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.QS Quraisy : 1-2.
Kebiasaan yang mereka lakukan pada musim dingin dam musim panas adalah dalam rangka perjalanan untuk berbisnis ke berbagai tempat di penjuru dunia.
Kondisi perekonomian mereka maju dengan nilai surplus perdagangan yang berlimpah.  Walaupun kondisi ekonomi sebagian mereka mapan ternyata sistem ekonomi yang mereka anut banyak bertentangan dengan nilai-nilai Ilahiyah dan tidak membawa kemaslahatan bagi seluruh manusia. Sebagian kecil mereka ada yang sangat kaya hingga hampir pekerjaannya setiap hari adalah menghambur-hamburkan uang, sementara sebagian besar yang lain hidup dalam kemelaratan dan menjadi budak yang dijualbelikan.
Hal inilah yang menjadikan sistem ekonomi mereka tidak membawa kemaslahatan bagi seluruh lapisan masyarakat. Ini terbukti dengan maraknya praktek riba yang bersifat 'ad'afan mudha'afa. Selain itu dijualbelikannya berbagai jenis khamr semakin membuat sistem perekonomian mereka selaras dengan kondisi sosial kemasyarakatannya yang Jahiliyah.  
Dalam keadaan sistem ekonomi yang demikianlah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa salam diutus untuk mendakwahkan tauhidullah, melenyapkan segala bentuk perbudakan kepada berhala. Selain itu beliau diutus untuk membentuk sebuah masyarakat Islami yang berpedoman kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah yang shahih.
Di bidang ekonomi beliau juga memberikan dasar-dasar dan batasan-batasan dalam berbagai aktivitas ekonomi, kerububiyahan Allah ta'ala, larangan mengkonsumsi khamr, memungut riba, melakukan perjudian dan berbagai bentuk distorsi pasar. Semua itu adalah sebuah tindakan preventif yang beliau lakukan sebagai awal sebuah pembentukan sistem ekonomi yang Islami. 
Setelah beliau hijrah ke Madinah beliau melanjutkan berbagai inovasi di bidang ekonomi, dengan bimbingan wahyu dari Allah ta'ala. Beliau telah membuat sebuah dasar-dasar bagi berjalannya sebuah aktivitas sistem ekonomi yang memiliki karakteristik tersendiri karena dibimbing oleh Yang Maha Mencipta.
Pada hakikatnya teori ekonomi yang beliau gagas adalah sebuah model baru yang tidak pernah ada sebelumnya. Ia sangat berbeda dengan sistem kapitalis yang datang belakangan, atau ia juga bukan jiplakan dari sistem sosialis. Ia berdiri sendiri sebelum sistem ekonomi lainnya menjadi sebuah teori. Maka kewajiban bagi setiap muslim untuk menggali sistem ekonomi Islam ini. 
Bagaimana dasar-dasar sistem ekonomi yang telah beliau pancangkan? Pembahasan ini akan menggali secara mendalam dasar-dasar atau asas-asas ekonomi yang telah beliau pancangkan sejak beliau berada di Mekah hingga hijrah ke Madinah.

Pengertian
Sebelum kita membahas lebih mendalam mengenai asas-asas ekonomi Islam, maka kita akan melihat pengertian dari ekonomi dalam ruang lingkup global. Ekonomi secara etimologi berasal dari bahasa Yunani yaitu kata oikonomia, kata ini terdari dua rangkaian kata yaitu "Oikos" yang berarti rumah tangga dan kata "Nomos" yang berarti mengatur. Gabungan keduanya bermakna mengatur rumah tangga. Kata ekonomi juga bisa berarti menggunakan sesuatu dengan tepat guna (hemat) atau bisa juga bermakna kekayaan.
Adapun makna Islam  secara etimologi berasal dari bahasa Arab yaitu lafadz السلام - أسلم – يسلم - إسلاما (al-salam-aslama-yaslimu-islaman), yang artinya kesejahteraan, kedamaian serta sifat tunduk patuh (Ibnu Mandzur : Lisan Al-Arab).
Sedangkan Islam menurut istilah yaitu :
الإستسلام لله بالتوحيد والانقياد له بالطاعة والبراءة من الشرك وأهله
"Penyerahan diri kepada Allah ta'ala serta tunduk dengan penuh ketaatan serta berlepas diri dari syirik dan para pelakunya." (Al-Utsaimin, Syarh Ushul Tsalatsah : 2004).
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa Islam itu adalah sebuah jalan hidup berupa ketundukan dan penyerahan diri hanya kepada Allah ta'ala saja.
Ada beberapa cendekiawan muslim yang memberikan pengertian Islam dengan “Rangkaian ibadah kepada Allah ta'ala dengan apa-apa yang disyariatkanNya, ia berlaku sejak Nabi pertama di utus hingga hari kiamat tiba"
Dari sini makna ekonomi Islam berarti sebuah sistem ekonomi yang didasarkan pada norma-norma dan adab-adab dalam syariat Islam. Ia merupakan bagian tak terpisahkan dari syari'ah Islam yang mengatur seluruh sendi kehidupan manusia. Jika dikatakan sistem ekonomi Islam berarti sistem ekonomi yang berdiri sendiri dan tidak akiatannya dengan sistem ekonomi lainnya. Ia merupakan sistem yang diturunkan dari Allah ta'ala yang telah menciptakan manusia, sehingga sistem ini adalah sistem Ilahiyah. Walaupun demikian bukan berarti sistem ini tidak memerlukan adanya ijtihad dan pembaharuan dalam beberapa bagiannya. Sebagaimana hukum Islam lainnya, ia menerima setiap kritik dan pemikiran baru yang dihasilakn dari analisa yang qath'i. Dari sinilah sistem ekonomi Islam akan terus maju dan berkembang seiring kehidupan manusia. Ia tidak lekang dimakan zaman, dengan kata lain selalu up to date di mana saja dan kapan saja.
Ekonomi Islam : Sebuah Sistem Ekonomi
Apakah ekonomi Islam sebuah system ekonomi ? untuk menjawab pertanyaan ini mari kita ketahui bersama apa yang dimaksud dengan sistem. Urgensinya adalah untuk menjawab subhat beberapa pihak yang menganggap bahwa ekonomi Islam hanyalah sebuah norma dan etika ekonomi saja. Padahal ekonomi Islam adalah sebuah sistem ekonomi yang terkait erat dengan tiga pokok kegiatan ekonomi yaitu produksi, distribusi dan konsumsi.
Dalam Webster's New Collegiate Dictionary system didefinisikan sebagai " …..a regulary interacting or interdependent group of items forming a unified whole". Sementara Henri Pratt Faerchild mendefinisikannya dengan "….system … an aggregate of related interest or activities. There is the assumption of an organization of part or phases in onderly arrangement a philosophy in all its related phases may be so regarded, also a communication or transportation system, or an economic system. Whatever the system its related character is identified by harmony in operation an integration of its structure".
Dari definisi di atas kita dapat melihat bahwa elemen-elemen atau sub system yang terdapat dalam suatu system dan mencirikan system tersebut adalah :
1.Terdapat suatu komplek keseluruhan elemen-elemen atau bagian-bagian.
2.Setiap elemen tersebut dicirikan dengan interrelasi.
3.Elemen-elemannya saling terintegrasi naumn bersifat otonom atau entitas (entity).
4.Entitas tersebut ditujukan ke arah pencapaian sasaran tertentu terdapat suatau integrasi elemen yang diatur dan disusun dengan mengingat sarana, arti dan hakekat bagi adanya sistem yang bersangkutan. (Suharyono, 2003 : 1.2). 
Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa setiap sistem harus ada dan didukung oleh subsistem baik intern maupun ekstern. Karena tiap-tiap sub sistem mempunyai interaksi sehingga mekanisme sistem berjalan normal dan diharapkan dapat mengarah ke hal yang lebih baik.
Korelasi dengan sistem ekonomi adalah bahwa sistem ekonomi merupakan organisasi yang terdiri dari sejumlah lembaga atau pranata (ekonomi-sosial-politik-ide-ide) yang saling mempengaruhi satu sama lain yang ditujukan ke arah pemecahan problem-problem produksi, distribusi dan konsumsi yang merupakan dasar setiap perekonomian demi tercapainya kemakmuran masyarakat.
Dari sinilah Islam mengambil perannya sebagai sebuah sistem, ia merupakan bagian integral dalam sebuah sistem sosial Islami yang merupakan subsistem dari syariah Islam yang sangat luas ini. Sehingga ia merupakan manhaj al-hayat (way of life) bagi setiap muslim.
Bahkan lebih jauh lagi kebenaran sistem ekonomi Islam akan dirasakan tidak hanya oleh muslim tapi juga bagi orang-orang di luar muslim. Hal ini terbukti dengan banyaknya nasabah bank syariah yang ternyata adalah non-muslim. Demikian pula sifat Islam yang menjadi rahmat bagi seluruh alam :
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ(107)
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. QS Al-Anbiyaa : 107.
Sistem ekonomi Islam adalah sebuah sistem ekonomi yang didasarkan atas keyakinan dan pandangan hidup setiap muslim. Tentu sistem ini akan mengakomodir semua kebutuhan manusia akan sebuah sistem ekonomi, dan ia tentu cocok dengan segala tempat dan zaman.
Mengenai hal ini, menarik sekali apa yang disebutkan oleh Pande Silalahi yang berpendapat "Sistem yang cocok dengan suatu bangsa pada hakekatnya harus didasarkan kepada pandangan hidup bangsa yang bersangkutan, atau ia harus menjelma sesuai pandangan hidup dari bangsa tersebut".
Sistem ekonomi Islam adalah sebuah jelmaan dari pandangan hidup dan keyakinan yang datang dari Sang Pencipta manusia, maka ia akan membawa kemasalahatan bagi umat manusia semuanya. 
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ekonomi Islam merupakan sebuah sistem ekonomi yang terdiri dari subsistem-subsistem yang saling terkait dan tidak bisa dipisahkan.
Dalam ekonomi Islam kita mengenal dua istilah yang berbeda yaitu sistem ekonomi Islam dan Ilmu Ekonomi Islam (Az-Zain : 1981).
Sistem ekonomi Islam didasarkan pada prinsip-prinsip Islam, sedangkan Ilmu ekonomi Islam beraitan dengan tekhnologi dan berbagai disiplin ilmu untuk meningkatkan produktivitas barang dan jasa. Dari sini terdapat perbedaan mendasar antara sistem ekonomi Islam dengan sistem ekonomi Kapitalis, Sosialis atau sistem ekonomi lainnya di mana sistem ekonomi Islam menetapkan secara baku (tauqifi) hal-hal yang berkaitan dengan etika produksi, distribusi dan konsumsi. 
Adapun di bidang peningkatan mutu SDM, penggunaan tekhnologi, pemanfaatan metode-metode terkini adalah bagian dari ilmu ekonomi Islam yang diberikan kebebasan kepada manusia untuk mengembangkannya.
Hal ini berbeda dengan definisi ilmu ekonomi menurut sebagian ahli ekonomi konvensional, menurut mereka ilmu ekonomi adalah "Ilmu ekonomi merupakan suatu studi tentang perilaku masyarakat dalam menggunakan sumber daya yang langka dalam rangka memproduksi berbagai komodti  untuk kemudian menyalurkannya kepada berbagai individu dan kelompok yang ada dalam suatu masyarakat". ( Samuelson, Paul A. dan William D.Nordhaus, 1995 : 4).
Perbedaan mendasar dari keduanya adalah adanya norma dan etika yang menjadi tolok ukur bagi segala bentuk aktivitas ekonomi, semisal produksi, distribusi dan konsumsi.
Asas-asas Ekonomi Islam
Sesungguhnya Islam datang dengan segala bentuk kemaslahatan bagi seluruh umat manusia, karena itu ia memberikan dasar-dasar dan kaidah-kaidah bagi kemaslahatan mereka. Hal ini terlihat dari asas-asas yang menjadi dasar bagi sistem ekonomi dalam Islam.
Beberapa cendekiawan muslim telah merumuskan asas-asas yang menjadi dasar dari sistem ekonomi Islam. Diantaranya adalah Taqyuddin An-Nabhani yang menyebutkan bahwa asas yang digunakan untuk membangun sistem ekonomi Islam adalah : Kepemilikan (property), Pengelolaan kepemilikan (tasharuf al-milkiyah) serta distribusi kekayaan  di tengah masayarakat. (An-Nabhani, 1996 : 50).
Kepemilikan yang dimaksud oleh An-Nabhani adalah bahwa dalam sistem hukum Islam kepemilikan mutlak adalah hanya milik Allah ta'ala, sedangkan manusia hanya sebagai  pengelola saja (istikhlaf). Adapun pengelolaan kepemilikan meliputi bagaimana proses kepemilikan itu diperoleh serta dibelanjakan dan terakhir  distribusi kekayaan di masyarakat. Distribusi menurutnya adalah sebuah proses perpindahan suatu barang ataupun jasa yang telah diatur batas-batasnya oleh syariah Islam.
Asas yang disebutkan di atas terkesan sangat global dan tidak mengkaitkan dengan bagaimana Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wa salam  melakukan aktifitas ekonomi, sehingga tidak sempurna sebuah asas (ushul) tanpa mengkaitkannya dengan asas-asas yang telah dirumuskan oleh beliau.   
Adapun Adiwarman karim membuat sebuah bagan yang sangat menarik berkenaan dengan prinsip-prinsip umum ekonomi Islam. Di antara prinsip-prinsip tersebut adalah : Tauhid (keimanan), 'Adl (keadilan), Nubuwwah (kenabian), Khilafah (pemerintahan) dan Ma'ad (hasil akhir) (Karim, 2007 : 34).
Teori ini banyak mempengaruhi penulis dalam membuat sebuah teori asas-asas dari ekonomi Islam. Pada teori ini sudah dimasukan ke dalamnya etika Nabi dalam melakukan aktivitas ekonomi, hanya saja terkesan memisahkan permasalahan khilafah dengan kenabian. Padahal seperti kita ketahui bahwa beliau telah melakukan fungsi sebagai seorang pengawas pasar (Muhtasib) dan tempat mengadu bagi permasalahan ekonomi yang terjadi pada zamannya. Selain itu kebebasan berusaha  (freedom to act) seharusnyalah menjadi sebuah akhlak dari setiap pelaku bisnis, tentunya bukan kebebasan yang tanpa batas, dengan kata lain kebebasan tersebut adalah jika dikaitkan dengan urusan-urusan dunia yang tidak terkait langsung dengan masalah keagamaan.   
Sementara Afzalurrahman merumuskan bahwa prinsip dasar sistem ekonomi Islam  adalah : Kebebasan individu, Hak terhadap harta, ketidaksamaan ekonomi dalam batas wajar, kesamaan sosial, jaminan sosial, distribusi kekayaan secara meluas, larangan menumpuk kekayaan, larangan terhadap organisasi anti sosial, kesejahteraan individu dan masyarakat. (Afzalurrahman, 1995 : 8-10).
Prinsip dasar ini lebih menitikberatkan kepada bagaimana sebuah sistem ekonomi itu berlaku di tengah masyarakat. Sehingga titik tekannya adalah bagaimana masyarakat mendapatkan kesejahteraan sosial. Kelemahan dari prinsip dasar ini adalah tidak disebutkannya prinsip ketauhidan dan kenabian yang menjadi prinsip dasar bagi setiap teori yang disandarkan kepada Islam. Apalagi berkaitan dengan sebuah sistem ekonomi yang berkaitan erat dengan kepemilikan mutlak yaitu bagi Allah ta'ala. 
Didin Hafidhuddin menyatakan bahwa Landasan filosofi ekonomi Islam adalah : Tauhid, Keadilan dan keseimbangan, kebebasan, amanah dan pertanggung jawaban, saling menolong dan menangggung beban (at-ta'awun wa at-takaful). (Didin Hafidhuddin : 2007).
Landasan filosofi ini sudah cukup sempurna hanya saja karena dituangkan dalam sebuah artikel sehingga diperlukan adanya penjabaran lebih lanjut. Landasan ini didasarkan bahwa sistem ekonomi Islam haruslah memiliki pondasi yang kuat, sehingga ia akan mampu menopang setiap problem dan permasalahan yang tengah terjadi atau yang akan terjadi, khususnya berkaitan dengan aktifitas ta'awun di tengah masyarakat. Sehingga dengan landasan ini diharapkan akan tercipta sebuah sinergi di antara masyarakat di bidang ekonomi. 
Pada dasarnya semua teori asas-asas ekonomi Islam yang telah disebutkan sebelumnya saling melengkapi dan menunjukan bahwa asas ini memiliki akar yang kokoh dalam setiap nash dan dalil yang bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah, sehingga sebuah keniscayaan mana kala seorang muslim komitmen dengan sistem ekonomi ini. 
Agar asas dan prinsip ekonomi Islam yang telah disebutkan sebelumnya lebih sempurna dan sistematis penulis berusaha merumuskan kembali dan menggabungkannya menjadi sebuah asas ekonomi yang dapat dijadikan sebuah acuan bagi para pemerhati ataupun praktisi ekonomi Islam. Rumusan asas-asas ekonomi Islam yang penulis gunakan adalah gabungan dari beberapa teori yang telah disebutkan sebelumnya. Berikut adalah bagan asas ekonomi tersebut :

1.Asas Pertama : Tauhidullah (Pengesaan Allah)
Ini adalah asas mutlak bagi setiap subsistem dalam syariah Islam. Ia merupakan prasyarat mutlak dalam setiap aktivitas hidup manusia. Asas ini yang membedakan antara sistem ekonomi Islam dengan sistem ekonomi lainnya. Bahkan ia merupakan ghayah (tujuan) bagi adanya syari'ah Islam ini.
ولقد بعثنا في كل أمة رسولا أن اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu" QS An-nahl : 36.
Penyembahan kepada Allah ta'ala  adalah inti dari tauhidullah, sehingga inilah asas pertama dan utama dalam system ekonomi Islam.
Asas ini memiliki beberapa pilar yang merupakan bagian tak terpisahkan yang berfungsi mengejawantahkannya dalam system ekonomi Islam. Di antara pilar tersebut adalah :   
a. Pilar pertama : Kepemilikan (Al-Milkiyyah).
Setiap muslim harus meyakini bahwa manusia diciptakan oleh Allah ta'ala, ayat-ayat yang menyebutkan tentang hal ini sangat banyak jumlahnya, misalnya :
يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ(13)
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. QS Al-Hujuraat : 13.
Ini adalah keyakinan mutlak yang menjadi dasar bagi berbagai aktivitas ekonomi setiap muslim. Tidak hanya itu, setelah seorang muslim mengetahui bahwa ia diciptakan Allah ta'ala maka ia harus mengetahui bahwa tujuan dari diciptakannya ia ke muka bumi adalah untuk beribadah. Allah ta'ala berfirman :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. QS Adz-Dzariyat : 56.
Makna "menyembah" dalam ayat ini ini berarti beribadah hanya kepada Allah sang Pencipta. Makna ibadah sendiri mempunyai cakupan yang sangat luas. Seperti disebutkan oleh Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah yang mendefinisikan ibadah dengan :
إسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضه من الأقوال والأفعال ظاهرا وباطنا
"Ibadah adalah sebuah nama yang mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridhaiNya yang berupa perkataan dan perbuatan baik yang Nampak atau yang tersembunyi". (Ibnu Taimiyah, Al-Ubudiyyah : 3)
Dari sini dapat disimpulkan bahwa segala bentuk aktivitas ekonomi adalah bagian dari ibadah yang disyariatkan oleh Islam. Hubungannya dengan asas ekonomi adalah bahwa manakala kita mengimani bahwa Allah adalah pencipta seluruh manusia dan tugas kita di muka bumi adalah untuk beribadah kepadaNya maka kita semakin yakin bahwa segala bentuk aktivitas kita haruslah berlandaskan keyakinan ini.
Dari keyakinan ini pula akan muncul adanya sikap bahwa kita selaku hambaNya, kita adalah ciptaanNya dan kita semua adalah milikNya, sebagaiamna seluruh yang ada di langit dan bumi adalah milikNya :
لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا فِيهِنَّ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ(120)
Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. QS Al-Maidah ayat 120.
Kepemilikan Allah ta'ala atas segala sesuatu di langit dan di bumi serta di antara keduanya adalah kepemilikan mutlak (Absolut Property) sehingga manusia hanya sebagai pemegang amanah (istikhlaf).
Dari sinilah asas ekonomi Islam berbeda dengan sistem ekonomi yang lainnya. Yaitu bahwa kepemilikan pada dasarnya mutlak bagi Allah ta'ala sedangkan manusia hanya sebagai pengelola (istikhlaf)  saja. Walaupun demikian manusia juga diberikan kewenangan untuk memiliki harta Allah (malillah) tersebut. Seperti disebutkan dalam firmanNya :
وَءَاتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي ءَاتَاكُمْ
......dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu. QS An-Nur ayat 33.
Makna ayat ini menunjukan bahwa Allah ta'ala telah memberikan hak kepemilikan kepada manusia untuk menggunakan hartaNya. Selain itu terdapat juga dalam ayat yang lainnya :
وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا
…dan harta-harta yang kalian usahakan. QS At-Taubah ayat 24.
Ayat-ayat yang lainnya masih banyak disebutkan dalam Al-Qur'an yang menisbatkan harta kepada manusia. Dari sini berarti pilar pertama yaitu kepemilikan (milkiyah) dalam Islam adalah kepemilikan mutlak hanya milik Allah ta'ala, dan manusia hanya diberikan hak untuk mengelolanya.
Berkaitan dengan kepemilikan, dalam sistem ekonomi Islam asas kepemilikan yang dianut adalah Multytype Ownership (kepemilikan multi jenis) yang berarti sistem ini mengakui adanya kepemilikan oleh individu, kelompok ataupun negara. Hal ini tentu berbeda dengan sistem ekonomi Kapitalis yang mengakui kepemilikan hanya bagi pihak swasta, atau sistem ekonomi Sosialis yang hanya mengakui kepemilikan bagi negara. (Karim : 42).
b. Pilar kedua : Keadilan (Al-Adl).
Pilar kedua dari asas tauhidullah adalah keadilan (al-'adl). Keadilan yang dimaksud di sini adalah keadilan yang berasl dari Allah ta'ala. Di antara sifat Allah ta'ala adalah Al-'Adl yang berarti Maha Adil, sebagiaman disebutkan dalam firmanNya :
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ(90)
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.  QS An-Nahl : 90.
Berlaku adil dalam ayat ini bermakna  memberikan kepada sesuatu hak-haknya, semisal hak-hak manusia yang harus dilaksanakan, demikian pula hak-hak Allah yang harus kita laksanakan. (As-Sa'di, 2003 : 615). Dalam ruang lingkup ekonomi berarti keadilan Allah ta'ala meliputi pemberian hak rizki bagi setiap makhlukNya (bandingkan dengan teori ekonomi konvensional mengenai sumber daya alam yang terbatas). Selain itu keadilan yang harus dilaksanakan setiap orang-orang yang diberikan amanah harta benda untuk memberikan hak-hak fakir miskin pada sebagian hartanya (zakat).
Ayat yang lainnya menyebutkan :   
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. QS Al-Maidah : 8.
Melengkapi ayat sebelumnya, ayat ini memerintahkan setiap manusia untuk berbuat adil, yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Hal ini berarti tidaklah pantas seorang pelaku ekonomi Islam melakukan hal-hal yang tidak adil dalam segala aktivitas ekonominya.
Secara umum dapat dikatakan bahwa keadilan yang menjadi pilar dari asas ini adalah bahwa segala aktivitas yang dilakukan oleh setiap muslim haruslah berada di jalur la tadzlimuuna wa la tudzlamun (Tidak saling terdzalimi). Baik di bidang produksi, distribusi dan konsumsi. Seorang produsen yang memiliki sifat adil maka akan memproduksi barang-barang yang dibolehkan oleh syariat dan tidak membahayakan konsumen. Demikian pula seorang penjual yang adil akan menjual dan memberikan informasi selengkap-lengkapnya mengenai cacat dari barang yang dijualnya. Selain itu keadilan juga mencakup distribusi harta kekayaan di tengah masyarakat. Allah ta'ala berfirman mengenai hal ini :
كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ
.....supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. QS Al-Hasyr : 7.
Ayat ini menunjukan bahwa distribusi harta kekayaan haruslah merata di antara manusia, dalam arti tidak ada pihak yang berlebihan dan tidak ada pihak yang kekurangan.
Keadilan yang dimaksud bukan berarti seperti sistem ekonomi Sosialis yang menyamaratakan seluruh manusia, akan tetapi sistem ekonomi Islam mentolerir adanya perbedaan yang wajar antara si kaya dan si miskin. (Afdzalurrahman : 1995).    
c. Pilar yang ketiga : Ma'ad (Tempat kembali)
Ma'ad yaitu kesadaran bahwa setiap manusia akan kembali kepada Allah ta'ala (meninggal), keyakinan ini akan berimplikasi kepada sikap dan perilaku (attitude) dari setiap pelaku ekonomi Islam. Kesadaran ini juga akan berdampak kepada kejujuran dan kerendahan hati untuk selalu ingat bahwa setiap manusia akan meninggal. Alah ta'ala berfirman :
إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْءَانَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ
Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur'an, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali. QS Al-Qhashas : 85.
Dalam ayat yang lain disebutkan secara jelas :
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan. QS Al-Ankabut : 57.
Kesadaran setiap muslim bahwa ia akan kembali keharibaanNya akan terlihat dari sikap hidupnya yang selalu dapat menahan diri dari berlebih-lebihan (Ghuluw wa tabdzir). Selain itu ia memiliki sebuah tujuan akhir yaitu akhirat, ia tidak akan mengorankan kehidupan dunianya yang fana untuk meraih kehidupan akhirat yang kekal :
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? QS Al-An'am : 32.
Dengan pilar ma'ad ini kita dapat mengetahui bahwa sewaktu-waktu kita akan meninggalkan dunia ini sehingga aktivitas bisnis yang kita lakukan senantiasa berorientasi kepada akhirat :
وَابْتَغِ فِيمَا ءَاتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi . QS Al-Qhashas : 77.
Inilah keseimbangan yang ada dalam Islam, kehidupan dunia di dapat dan kehidupan akhirat juga selamat. Hal ini sangat berbeda dengan system ekonomi konvensional yang hanya mementingkan urusan dunia saja tanpa pernah berfikir tentang akhirat. Demikian juga kepercayaan lain yang hanya membahas masalah hubungan manusia dengan Tuhan saja.
2.Asas Kedua : Mutaba'aturasul (mengikuti petunjuk Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wa salam)
Para Ulama telah bersungguh-sungguh (ijtihad) dalam menggali berbagai hukum Islam, di antara hasil kesungguhan mereka adalah terumuskannya berbagai kaidah-kaidah fiqhiyah yang berkaitan dengan berbagai sendi hukum Islam. Dalam ruang lingkup ekonomi (muamalah Islam) dikenal adanya kaidah :
الاصل في المعاملت الاباحة إلا ما دل الدليل على تحريمه
Hukum Asal dalam hal muamalah adalah dibolehkan selama tidak ada dalil yang mengharamkannya. Dalam kaidah yang lebih umum dikatakan :
الاصل في الأشياء الإباحة حتى يدل الدليل على التحريم
Hukum pokok dari segala sesuatu adalah boleh, sampai terdapat dalil yang mengharamkan. (As-Suyuti : Al-Asyab Wa Nadzair). 
Sumber kaidah ini berasal dari beberapa hadis nabi yang berkenaan dengan urusan-urusan dunia yang telah beliau sebutkan di antaranya adalah :
حَدَّثَنِي رَافِعُ بْنُ خَدِيجٍ قَالَ قَدِمَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَهُمْ يَأْبُرُونَ النَّخْلَ يَقُولُونَ يُلَقِّحُونَ النَّخْلَ فَقَالَ مَا تَصْنَعُونَ قَالُوا كُنَّا نَصْنَعُهُ قَالَ لَعَلَّكُمْ لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا كَانَ خَيْرًا فَتَرَكُوهُ فَنَفَضَتْ أَوْ فَنَقَصَتْ قَالَ فَذَكَرُوا ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ دِينِكُمْ فَخُذُوا بِهِ وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ رَأْيٍ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ قَالَ عِكْرِمَةُ أَوْ نَحْوَ هَذَا قَالَ الْمَعْقِرِيُّ فَنَفَضَتْ وَلَمْ يَشُكَّ
Dari Rafi' bin Khadij ia berkata "Rasulullah tiba di Madinah dan orang-orag sedang mencangkok pohon-pohon kurma. Beliau bertanya, "Apa yang sedang anda lakukan ?" mereka menjawab "Mencangkok pohon kurma" beliau berkata lagi "Barangkali ada baiknya kalau pekerjaan itu tidak usah diteruskan". Maka berhentilah mereka mencangkok. Tetapi kemudian ternyata hasilnya berkurang, lalu mereka kabarkan kepada Rasulullah. Mak beliau bersabda "Sesungguhnya aku hanya manusia bias. Apabila aku perintahkan kamu mengenai urusan agamamu maka laksanakanlah. Dan apabila aku perintahkan kepadamu sesuatu berdasarkan buah pikiranku semata-mata maka sesungguhnya aku hanya manusia biasa. HR Muslim. 
Dalam riwayat yang lain dikatakan :
أنتم أعلم أمور الدنياكم
"Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian".
Demikianlah penyerahan masalah-masalah keduniaan yang tidak ada nashnya maka hal itu diserahkan kepada setiap manusia untuk melaksanakannya dengan syarat tidak adanya larangan padanya. Asas ini memepunyai beberapa pilar sebagai implementasinya, di anatara pilar tersebut adalah :
a. Pilar pertama : Hady An-Nabi (Petunjuk Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wa salam).
Pilar pertama yang menjadi asas mutaba'aturasul adalah petunjuk Nabi yang berupa perintah, larangan, taqrir dan amalan-amalan beliau. Petunjuknya meliputi hal-hal yang berkaitan dengan akhirat ataupun dalam urusan keduniaan.
Di bidang akhirat, beliau telah memberikan sebuah aturan (role) bagi manusia untuk mengikutinya, misalnya : larangan memakan riba, larangan ikhtikar dan iktinaz, larangan mengkonsumsi semua yang memabukan, larangan menjual sesuatu yang memudharatkan dan lain sebagainya. Semua itu masuk ke dalam sistem ekonomi Islam.
Adapun petunjuk Nabi dalam masalah dunia, maka beliau menyerahkan sepenuhnya kepada manusia.
Berkaitan dengan aktivitas ekonomi maka manusia diberi kebebasan untuk mengembangkan dan meningkatkan produktivitas barang dan jasanya dengan menggunakan tekhnologi terbaru. Dalam ekonomi Islam hal ini masuk ke dalam Ilmu Ekonomi (An-Nabhany : 1995). Adiwarman Karim menyebut istilah ini dengan Freedom to act (kebebasan bertindak dan berusaha), tentu yang dimaksud di sini adalah kebebasan dalam bingkai syariah Islam. Bukan kebebasan yang menghalalkan yang haram.
Petunjuk nabi dalam hal ini meliputi perintah-perintah yang berkaitan dengan sistem ekonomi Islam dan larangan-laranganya, termasuk pula sesuatau yang dibiarkan oleh beliau (taqrir).       
Petunjuk nabi dalam bentuk yang lainnya adalah Adab An-Nabi (etika Nabi) dalam melakukan berbagai aktivitas sehari-hari. Adab An-Nabi adalah setiap akhlak beliau yang agung yang telah mendapatkan pujian dari Allah ta'ala :
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. QS Al-Qalam : 3.  Akhlak beliau yang agung tercermin dalam muamalah sehari-hari yang beliau lakukan. Hal ini telah dipraktekkan oleh beliau Shalallahu 'Alaihi Wa salam, di mana beliau memiliki berbagai sifat yang sempurna di dalam bermuamalah. Di antara adab beliau dalam tersebut adalah :
1.Siddiq (benar dan jujur). Sebuah etika bisnis yang sangat mulia ketika kita mampu mengatakan secara benar apa yang ada pada setiap product yang dijualnya. Demikian pula sikap benar ini akan emunculkan konsep turunan khas ekonomi dan bisnis yakni efektivitas (mencapai tujuan yang tepat dan benar) dan efisien (melakukan kegiatan dengan benar tanpa adanya sifat mubadzir). (Karim, 2007 : 39) 
2.Amanah (tanggung jawab, kepercayaan dan kredibilitas). Sifat amanah berkaitan dengan sikap profesionalisme setiap muslim. Ketika ia diberikan sebuah jabatan, maka sifat amanah ini akan menjadikan ia mampu melaksanakan jabatan tersebut dengan penuh tanggung jawab dan sikap profesional yang tinggi, dari sini akan muncul sebuah hasil maksimal dari jabatan yang emabankan kepadanya.
3.Fathanah (kecerdikan, kebijaksanaan dan intelektualitas). Seseorang yang memiliki sifat fathanah akan tercermin dari tingkah lakunya sehari-hari, kecermatan dan kecerdikan dalam mengambil sebuah keputusan adalah ciri dari sifat ini. Seorang muslim dalam mengambil sebuah keputusan haruslah didasarkan kepada argumen-argumen qath'i dan pertimbangan-pertimbangan yang membawa kepada kemasalahatan hidup, baik di dunia maupun di akhirat sana. Itulah ciri seseorangyang mempunyai sifat fathanah.
4.Tabligh (komunikasi, keterbukaan dan pemsaran). Pedagang yang baik adalah ketika mampu menyebutkan secara terbuka nilai positif dan negatif dari barang atasupun jasa yang dijualnya. Adanya keluhan dari berbagai lapisan konsumen karena tidak adanya sifat tabligh pada seorang pedagang. Sering kali seorang pembeli kecewa dengan barang yang dibelinya. Ketika transaksi berlangsung ia perhatikan tidak ada cacat yang terlihat pada benda yang dibelinya, namun setelah ia sampai di rumah ternyata benda yang dibelinya mempunyai kekurangan yang tidak disebutkan oleh penjualnya. Apa yang terjadi ? kekecewaan karena sifat tabligh tidak ada pada sang penjual.
b. Pilar kedua : Kesejahteraan Sosial (Maslahah Al-Ummah).
Pilar kedua dari asas mutaba'aturasul adalah Maslahah Al-Ummah (Kesejahteraan Sosial). Secara istilah makna Maslahah Al-Ummah (kemaslahatan umat) lebih luas dari sekadar kesejahteraan sosial. Ia mencakup segala hal yang berkaitan dengan tujuan dari sistem ekonomi Islam yaitu baldatun thayibbatun wa rabbun ghafur :
لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ ءَايَةٌ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun". QS Saba : 15.
Inilah tamsil negeri yang didambakan oleh Islam dan menjadi tujuan dari system ekonominya.
Kemasalahtan umat juga mencakup adanya keinginan yang terkendali bagi seluruh masyarakat untuk tidak menghambur-hamburkan harta. Hal ini didasari adanya keyakinan yang mendalam mengenai wahyu yang datang dari Allah ta'ala, terutama berkaitan dengan telah ditetapkannya rizqi bagi setiap makhluk :
وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ(60)
Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. QS Al-Ankabuut : 60.
Selain itu sikap hidup untuk tidak menghambur-hamburkan harta dan tidak mubadzir, Allah ta'ala berfirman :
وَءَاتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا(26)
Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. QS Al-Isra : 26. 
c. Pilar ketiga : Ulu Al-Amri (Pemerintah).
Ada yang terluput dari beberapa teori yang disebutkan oleh para ahli ekonomi Islam, yaitu peran Nabi sebagai seorang pemimpin dalam kaitannya dengan aktivitas ekonomi warganya. Maksudnya adalah beliau telah menjadi seorang pemimpin negara (ulul amri) yang telah melaksanakan fungsi pemerintahan dengan mengeluarkan dan bahkan melaksanakan regulasi pasar agar perekonomian di wilyahnya berjalan normal.
Pemerintah (ulu al-amri) dalam sebuah sistem ekonomi memiliki peranan yang urgen, dan peran ini telah dilakukan oleh Nabi dalam perannya sebagai seorang pengawas pasar (muhatasib), dalam hal ini telah datang kepada kita sebuah riwayat dari di mana Rasulullah datang ke sebuah pasar dan melihat ada seorang pedagang kurma yang mencampur kurma antara kualitas yang bagus dengan yang jelek, beliau langsung melarang hal tersebut.  Demikian pula beliau pernah mengutus seseorang untuk melakukan operasi pasar :
عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ كُنَّا فِي زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبْتَاعُ الطَّعَامَ فَيَبْعَثُ عَلَيْنَا مَنْ يَأْمُرُنَا بِانْتِقَالِهِ مِنْ الْمَكَانِ الَّذِي ابْتَعْنَاهُ فِيهِ إِلَى مَكَانٍ سِوَاهُ قَبْلَ أَنْ نَبِيعَهُ
Dari Ibnu Umar r.a. ia berakata :"Pada masa rasulullah kami pernah berdagang (bahan) makanan, lalu beliau mengirim orang kepada kami dan memerintahkan kami supaya memindahkan barang yang telah kami beli ke tempat lain sebelum menjualnya. HR Muslim.
Dari riwayat ini kita bisa melihat peranan pemerintah di dalam sebuah sistem ekonomi. Dan rasulullah telah melakukan hal itu, maka tidak ada hujjah lain untuk tidak mengikuti fungsi beliau dalam perannya sebagai ulu al-amri (pemerintah) dalam rangka menjaga kestabilan ekonomi terutama di pasar.  
Selain itu peran pemerintah yang lainnya juga sebagai pihak yang berhak untuk menetapkan harga maksimum ataupun harga minimum pada sebuah komoditas, hal ini terutama dilakukan ketika terjadi distorsi pasar atau adanya pihak-pihak yang terdzalimi baik ia sebagai produsen maupun konsumen.
Dari sini peran pemerintah memiliki posisi yang sangat penting sebagai sebuah pilar dalam sistem ekonomi Islam yang merupakan unsur derivatif dari asas mutaba'aturasul. Beliau telah mengimplementasikannnya dan memberikan keluasan bagi pemerintah untuk melaksanakan fungsinya sebagai pengayom umat :
تصرف الامام علي الرعيته منوط بالمصلحة  
Thasharuf (tindakan) imam (pemerintah) terhadap rakyatnya harus dihubungkan dengan kemaslahatan. (Abdul Mujib, 1992 : 61). 
Dengan demikian asas mutaba'aturasul ini menjadi sesuatu yang sangat urgen dalam sistem ekonomi Islam. Sehingga pantaslah kalau Allah ta'ala berfirman :
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. QS Al-Ahzab : 21.
Dengan mengikuti petunjuk dan adab beliau maka insya Allah segala aktivitas ekonomi kita akan mendapatkan ridhaNya, dan kemaslahatan yang berupa kesejahteraan umat akan dapat terwujud sehingga system ekonomi Islam ini akan menjadi solusi bagi setiap krisi ekonomi yang terjadi di muka bumi ini.


Referensi :
Al-Utsaimin, Muhammad bin Shalih. Syarh Ats-Tsalastah Al-Ushul, Mesir : Dar Ibn Al-Jauzy, 2004.
Mudjib, Abdul. Al-Qawaidul Fiqhiyyah, Jakarta : Kalam Mulia, 2001.
Syafe'i, Rahmat. Fiqih Muamalah. Bandung : Pustaka Setia, 2004.
Karim, Adiwarman A. Ekonomi Mikro Islami, Jakarta : Rajagrafindo Persada, 2007.
Suharyono dan Niam Sovie. Sistem Ekonomi Indonesia, Jakarta : Universitas Terbuka, 2003.
Az-Zain, S.A. Syariat Islam : Dalam Perbincangan Ekonomi, Politik dan Sosial sebagai studi perbandingan. Bandung : Penerbit Husaini, 1981.
An-Nabhani, Taqyuddin. Membangun Sistem Ekonomi Alternatif : Perspektif Islam. Surabaya : Risalah Gusti, 1996.
Afzalurrahman, Doktrin Ekonomi Islam I, Yogyakarta : PT. Dana Bhakti Wakaf, 1995.
Al-Mubarakfury, Shafiyurrahman. Sirah Nabawiyah , Jakarta : Rabbani Press, 1998. 
Hafidhuddin, Didin. Islam Membangkitkan Ekonomi Umat, dalam Majalah Sabili Edisi Khusus 2007, hal. 26-27)
Samuelson, Paul A. dan William D.Nordhaus, Mikro Ekonomi, Jakarta : Penerbit Erlangga, 1995. 
Ibnu Taimiyah, Al-Ubudiyyah
Muslim bin Al-Hajaj. Shahih Al-Muslim, Kuwait : Dar Al-Ihya At-Turats Al-'Araby, 1972.             

Kisah Sepasang Sandal Jepit

on Selasa, 28 Desember 2010
Oleh Ummu Reza

Terkadang tanpa disadari, pelajaran hidup itu datang dari sesuatu yang sepele, sesuatu yang dianggap biasa dalam keseharian. Lalu..mengapa kita tidak belajar dari sepasang sandal jepit yang biasa kita pakai. Sandal jepit itu begitu setia dengan pasangannya. Kemanapun sandal jepit yang sebelah kiri pergi, yang sebelah kanan selalu mengikuti. Begitu setianya, seolah tidak ingin berpisah dan selalu ingin bersama, kemanapun, di manapun dan sampai kapanpun..sampai usang, rusak, lalu terdampar sia-sia tanpa penghargaan di tempat sampah..namun masih tetap berdua.

Sandal jepit dengan setia selalu melindungi kaki sang empunya..dari teriknya matahari, dari tanah yang becek, dari sampah yang menjijikkan, dari kerikil yang tajam. Sandal jepit tidak pernah berkeluh kesah. Sang empu selalu menjepitnya, diantara ibu jari dan tengah kakinya. Seolah sang empu memberi isyarat "aku butuh kalian untuk melindungi kakiku"

Sandal jepit tidak pernah menjerit walau terinjak, tidak juga menuntut balasan karena budinya yang telah memberi kenyamanan kaki sang empu. Tidak seperti sang empu yang selalu mengingat-ingat kebaikkannya, selalu ingin mendapat penghargaan, dan selalu mengeluh walau hanya tertusuk duri, walau hanya menginjak lumpur, walau hanya menginjak kerikil. "aduh..gara-gara nggak pakai sandal, kakiku tertusuk duri." itulah sang empu, yang selalu menggerutu bila tertimpa musibah, kemudian  lupa saat diberikan kenikmatan. Allah subhanallahu wa ta'ala berfirman:


“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (Tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al Hadid: 22-23)


Tulisan ini terinspirasi dari sandal jepit yang usang, rusak, terdampar di  tempat sampah.

Bojong Gede, 28 Desember 2010

Sangkan Paraning Dumadi

Siapa Kita? 
Terlalu banyak nasihat yang telah kita dengarkan, terlalu lama di dunia kita tinggal namun kita tak menyadari bagaimana hakikat kehidupan ini. Marilah kita kembali menyegarkan pemahaman kita tentang hal ini, tentang dari mana kita berasal? Untuk apa kita di dunia? Dan ke mana kita pergi nanti?
Manusia adalah makhluk multi dimensi, pada diri manusia terdapat dua unsur utama yang menjadikannya disebut manusia. Dua unsur itu adalah jasad dan ruh,  manusia dengan jasad tanpa ruh adalah sekujur mayat tanpa guna, demikian pula ruh tanpa jasad adalah makhluk yang tidak bisa berbuat apa-apa. Ketika kita kaitkan antara dua unsur manusia ini dengan asal-usul manusia, maka kita mendapatkan dua jawaban yang sempurna.

Inilah Asal-Usul Manusia

Allah ta’ala berfirman :
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَآ أَن تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" QS Al-A’raf : 172.

Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan menyatakan bahwa Allah ta’ala mengkhabarkan bahwa Dia telah mengeluarkan anak cucu Adam dari tulang sulbinya kemudian mengambil persaksian dari mereka tentang ketuhananNya. Maka seluruh arwah manusia menyaksikan hal ini. Secara singkat inilah asal-usul arwah manusia, lantas bagaimana dengan asal-usul jasadnya? Allah ta’ala berfirman :
{يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبا}،
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan  kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. QS An-Nisaa : 01.
Dalam ayat yang lainnya ditegaskan secara detail :
وَلَقَدْ خَلَقْنَا اْلإِنْسَانَ مِن سُلاَلَةٍ مِّن طِينٍ {12} ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَّكِينٍ {13} ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا ءَاخَرَ فَتَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ {14} ثُمَّ إِنَّكُم بَعْدَ ذَلِكَ لَمَيِّتُونَ {15} ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ
…dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik. Kemudian, sesudah itu, Sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. QS Al-Mukminun : 12-15.
Inilah ayat yang paling komprehensif yang berbicara tentang asal penciptaan manusia, sekaligus tujuan dan akhir dari kehidupan manusia.

Itulah asal-usul manusia, secara jasad manusia diciptakan oleh Allah ta’ala dari campuran air yang hina, bahkan kita sendiri terkadang merasa jijik dengannya. Lalu Allah ta’ala menyempurnakan air itu menjadi segumpal darah, lalu menjadi segumpal daging, kemudian segumpal daging itu dikombinasikan dengan tulang sehingga menjadi jasad yang bernama manusia. Jika demikian hinanya asal kita, maka tidak ada tempat bagi kita untuk menyombongkan diri…….
ان الكبر ياء الرداء
Sesungguhnya Kesombogan itu adalah pakaian kebesaranku, maka barang siapa yang mengambilnya ia telah mengambil hakku.
Maka kesimpulannya adalah bahwa manusia berasal dari Allah ta’ala ia ciptakan ruh-ruh manusia jauh seblum diciptakannya jasad, kemudian jasad manusia diciptakan dari percampuran antara seorang laki-laki dan perempuan. Maka rahmat Allahlah yang senantiasa meliputi manusia dari sejak awal penciptannya maka :
فَقُلْ أَفَلاَتَتَّقُونَ
Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya? QS Yunus : 31 

setelah kita mengetahui asal-usul manusia, maka pertanyaan selanjutnya adalah untuk apa manusia ada di alam semesta? Untuk makan saja? Untuk bekerja? Terlena dengan dunia? Marilah kita bertanya kepada Sang Pencipta kita. Allah ta’ala berfirman :
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تُتْرَكُوا وَلَمَّا يَعْلَمِ اللهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُمْ وَلَمْ يَتَخِذُوا مِنْ دُونِ اللهِ وَلاَرَسُولِهِ وَلاَالْمُؤْمِنِينَ وَلِيجَةً وَاللهُ خَبِيرُُ بِمَا تَعْمَلُونَ
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. QS At-Taubah : 16.
Lantas ketika kita tidak dibiarkan begitu saja, apa yang menjadi tuga kita? Allah ta’ala berfirman dalam kitabNya :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ (٥٦)
….. dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. QS Adz-Dzariyat : 56.
Inilah tugas dan tanggung jawab manusia, ia dihadirkan di muka bumi ini hanya  untuk beribadah kepadaNya. lantas akan muncul pertanyaan, kalau tugas kita adalah beribadah bagaimana kita akan melakukan aktifitas kita sehari-hari?

Inilah manfaat dari ilmu, seseorang yang mengartikan ibadah hanya berkaitan dengan upacara ritual adalah tidak bijak. Karena makna ibadah dalam Islam begitu luas, ia mencakup segala bentuk aktifitas yang diniatkan untuk meraih keridhoan Allah Azza Wa Jalla. Maka segala bentuk aktifitas keseharian kita akan bernilai ibadah apabila diniatkan mengharap KeridhaanNya. Rasulullah pernah bersabda :
عَنْ أَبي ذَرٍّ رضي الله عنه أَيضَاً أَنَّ أُنَاسَاً مِنْ أَصحَابِ رَسُولِ اللهِ   قَالوا للنَّبي   يَارَسُولَ الله: ذَهَبَ أَهلُ الدثورِ بِالأُجورِ، يُصَلُّوْنَ كَمَا نُصَلِّيْ، وَيَصُوْمُوْنَ كَمَا نَصُوْمُ، وَيَتَصَدَّقُوْنَ بفُضُوْلِ أَمْوَالِهِمْ، قَالَ:  أَوَ لَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُوْنَ؟ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَة.وَكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَحْمَيْدَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بالِمَعْرُوْفٍ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ وَفِيْ بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ  قَالُوا: يَا رَسُوْلَ اللهِ أَيَأْتِيْ أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ؟ قَالَ:  أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فَيْ حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فَي الحَلالِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ (135) رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Dari Abu Dzar rodhiallohu ‘anhu dia berkata: Ada sekelompok sahabat Rasulullah melapor, “Wahai Rasulullah orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka sholat sebagaimana kami sholat, mereka berpuasa sebagaimana kami puasa, namun mereka dapat bersedekah dengan kelebihan hartanya.” Beliau bersabda, “Bukankah Alloh telah menjadikan bagi kalian apa-apa yang dapat kalian sedekahkan? Sesungguhnya pada setiap tasbih ada sedekah, pada setiap tahmid ada sedekah dan pada setiap tahlil ada sedekah, menyuruh kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah, dan mendatangi istrimu juga sedekah.” Mereka bertanya. “Wahai Rasulullah, apakah jika seseorang memenuhi kebutuhan syahwatnya itu pun mendatangkan pahala?” Beliau bersabda, “Apa pendapatmu, bila ia menempatkan pada tempat yang haram, bukankah ia berdosa? Demikian pula bila ia menempatkan pada tempat yang halal, ia akan mendapatkan pahala.” (HR. Muslim)
Akhirnya semoga tausiah ini kembali menyegarkan ingatan kita bahwa ada sesuatu yang selama ini hilang dalam diri kita yaitu memahami secara komprehensif hakikat kehidupan ini.

Suamiku...Ridhailah Aku...

on Minggu, 26 Desember 2010
Oleh Ummu Reza

Pagi setelah shalat subuh, saya bersiap-siap untuk memasak, menyiapkan makanan untuk hari ini. Rencananya hari ini saya akan berjualan di sebuah masjid di bilangan Bogor. Tiap sabtu dan ahad masjid itu banyak dikunjungi orang yang akan berlibur ke Puncak. Rencananya saya berangkat lebih awal, berharap mendapat tempat berjualan yang strategis. Namun begitu, saya yakin rizki Alloh maha luas dan tidak diduga-duga datangnya.

ومن يتق الله يجعل له مخرجا . ويرزقه من حيث لا يحتسب

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (Ath-Thalaq: 2-3)

Sudah 1 tahun saya menjalani aktifitas ini, semenjak ekonomi keluarga terasa pailit, saya meminta izin pada suami untuk membantunya. Saya berjualan perlengkapan muslimah, seperti kaos kaki, gamis, jubah, jilbab, cadar dan menerima pesanan perlengkapan muslimah lainnya. Alhamdulillah..dengan meminjam modal dari kakak suami, sekarang saya sudah mampu mengembalikkan modal itu, berarti usaha saya ini tanpa modal sekarang. Setelah menyiapkan barang dagangan, saya diantar suami sampai ke lokasi berjualan..saya menata barang dagangan semenarik mungkin..tak lama suami pamit pulang seraya berpesan " pulangnya jangan sore-sore, jangan lupa makan". Ya..saya memang jarang makan saat berjualan, kadang ada rasa sayang membeli makanan, mengingat kebutuhan ini dan itu. Ah..saya sedih jika mengingat banyaknya kebutuhan yang belum terbayarkan. Dalam hati saya berdo'a semoga hari ini daganganku laris..

لو أنكم كنتم توكلون على الله حق توكله لرزقتم كما ترزق الطير تغدو خماصا وتروح بطانا

Sungguh, seandainya kalian bertawakal kepada Allah sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana rizki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang. (HR. At-Tirmidzi).

Wah..Alhamdulillah do'a saya terkabul, dagangan saya laris hari ini. Hanya tinggal beberapa potong saja..Saya bergegas beres-beres dagangan dan pulang dengan wajah berseri-seri. tak lupa buah tangan pun telah saya siapkan untuk anak-anak di rumah..maklum si kecil suka bertanya saat ibunya pulang dari berdagang.

Setahun berlalu..Alhamdulillah perekonomian keluarga mulai membaik, suamipun mendapat kerjaan tambahan di luar jam kerjanya di kantor. Saya pun mulai agak malas-malasan berdagang. Sekarang saya lebih fokus menuntut ilmu. Ada kenikmatan di sana, semakin saya belajar, semakin banyak yang saya tidak tahu sebelumnya. Saya semakin penasaran. Tiap ahad, hampir tidak pernah absen saya pergi kajian. Walau masih sendiri, tanpa mahrom, tapi saya selalu sempatkan pergi kajian. Agar tidak dikomplain suami, saya mensiasatinya dengan masak malam hari sebelum besoknya kajian, beres-beres rumah atau pagi-pagi saya masak terlebih dahulu, semua saya lakukan demi mendapatkan ilmu syar'i. Ya...saya iri dengan mereka yang muda-muda tapi berilmu tinggi, subhanalloh. Saya juga bercita-cita ingin memilki Taman Bacaan Al Qur'an dan Taman Pendidikan Al Qur'an..Insya Alloh.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

"Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim".

Seorang penyair melantunkan:
وَإِذَ النِّسَاءُ نَشَأَتْ فِيْ أُمِّيَةٍ رَضَعَ الرِّجَالُ جَهَالَةُ وَخُمُولاً

Apabila wanita tumbuh dalam kebodohan, maka kaum laki-laki menelan kebodohan dan kelemahan.

Imam Ibnu Rajab (wafat th. 795 H) rahimahullaah mengatakan, “Ilmu yang paling utama adalah ilmu tafsir Al-Qur-an, penjelasan makna hadits-hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan pembahasan tentang masalah halal dan haram yang diriwayatkan dari para Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, dan para imam terkemuka yang mengikuti jejak mereka...”

Dan firman Allah Ta’ala mengenai kisah Nabi Musa dengan Nabi Khidhir. Nabi Musa berkata kepadanya,

"Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?’” [Al-Kahfi: 66]

Ini semua adalah ilmu yang bermanfaat.

1 tahun sudah berlalu, saya fokus menuntut ilmu.. Saya putuskan meminta izin untuk memakai penutup wajah (cadar). Suami menolak dengan alasan belum siap mempunyai istri bercadar. Saya tidak bisa memaksa, walau ada rasa kecewa di hati. Diam-diam saat keluar rumah untuk kajian ummahat dan saat suami bekerja, saya pakai cadar itu di jalan, saat dekat dengan rumah, buru-buru saya membukanya. tapi terus saya coba meyakinkan suami dan menyodorkan dalil-dalil tentang cadar. Akhirnya suami mengizinkan saya memakai cadar, dengan catatan, saya harus siap dengan segala ujiannya, suara-suara sumbang, dan lain sebagainya. Saya mengangguk pasti..insya Alloh..

Fitnah syahwat yang paling berat di alam ini adalah fitnah wanita, karena itu fitnah ini disebutkan pertama kali mengawali fitnah-fitnah syahwat lainnya sebagaimana firman Allah subhanallohu wata'ala ;

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Artinya : “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Al imron : 14)

Untuk itu Allah subhanallohu wata'ala memerintahkan para wanita menutupi seluruh tubuhnya yang merupakan perhiasannya kecuali yang biasa ditampakkan dengan mengenakan jilbab dan kerudung hingga ke dada, sebagaimana firman-Nya :

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

Artinya : “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya.’ (QS. An Nuur : 31)

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

Artinya : “Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab : 59)

Subhanalloh ..ternyata ujian menggunakan cadar begitu nikmat.. dari ditertawakan orang, difitnah aliran ini dan itu, ditangkap polisi karena ikut jaringan teroris, belum lagi aduan anak-anak karena ibunya berpakaian seperti ninja dan lain sebagainya. Kadang saya kuat menghadapinya, tapi kadang saya pun menangis menghadapinya. Saat saya mengadu ke suami, jawabannya selalu "kamu sudah komitmen bukan dengan pilihanmu?"
LAA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH..
Innalloha ma'ashobirin..
Innalloha ma'anna..

Kini 2 tahun sudah saya memakai penutup wajah, dengan berbagai tantangan, ujian, dan basah oleh airmata..

Saya memohon kemudahan dan keistiqomahan dari-MU ya Alloh...
Semoga saya dapat mengamalkan ilmu yang telah saya dapat...
menda'wahkan keluarga saya...mengajak mereka ke jalan Al Haq ini...

Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. QS. at-Tahrim (66) : 6

Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: " Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu "
QS. at-Tahrim (66) : 8

Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): "Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka) " QS. at-Tahrim (66) : 10

Dan Allah membuat isteri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata:" Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim " QS. at-Tahrim (66) : 11

dan (ingatlah) Maryam puteri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab-Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat. QS. at-Tahrim (66) : 12

Yaa zaujiy...Ridhoilah pilihanku..agar aku dapat masuk surga dari pintu manapun karna ridho mu..

Dari Ummu Salamah, ia berkata, "Rasulullah Shalallohu Alaihi Wassalam bersabda : Seorang perempuan jika meninggal dan suaminya meridhoinya, maka ia akan masuk surga." (HR. Ahmad dan Thabrani)

AAMIIIN....

Bojong Gede, 15 Februari 2010

Untaian Nasihat

Oleh Ummu Reza

Nasehat kadang pahit dan getir.
Namun ketulusan menerima membuahkan rasa manis.

Fudhail bin Iyadh berkata, “Wahai orang yang sengsara, kamu orang jahat tetapi menganggap dirimu baik.Kamu orang bodoh tetapi menganggap dirimu pintar. Kamu tolol, tetapi menganggap dirimu cerdik.Umurmu pendek, tetapi angan-anganmu panjang.”

Imam Adz-dzhabi menambahkan, “Demi Allah , sungguh benar apa yang beliau katakan. Kita ini dzalim , tetapi justru merasa didzalimi. Tukang memakan yang haram, tetapi merasa diri kita orang suci. Fasik tetapi merasa diri kita shalih. Mencari ilmu untuk mengejar dunia, tetapi merasa mencarinya karena Allah semata” (Siyaaru A’lamu Nubala’)

Bojong Gede, 23 Oktober 2010

Sepenggal Asmara Dunia Maya

Oleh Ummu Reza

Dini hari, pukul 02.00 Nuri terjaga dari tidurnya. Rencananya hari ini dia ingin berpuasa sunnah. Kemarin suaminya, Tri telah memberinya izin untuk melakukan ibadah shaum sunnah. Nuri selalu ingat perkataan seorang ustadz saat mengisi kajian rutin Ahad di sebuah Masjid di bilangan Bogor, bahwa ibadah puasa merupakan salah satu amalan yang dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala, yang mana Allah menjanjikan keutamaan dan manfaat yang besar bagi yang mengamalkannya.


Raga

on Rabu, 22 Desember 2010
Raga
Oleh : Abu Aisyah 


Kau ada dari tiada
Dari tiada menjadi ada
Ada yang akan tiada
Tiada selamanya

Raga
Kau memesona
Manusia
Alam dunia

Kau indah
Penuh gairah
Lemah
Meremah

Kau belahan jiwa
Semayam sukma
Amanah dunia
Menuju Dia

Raga ..........
Kenapa kau merana
Kenapa kau terluka
Kenapa kau terlena
Kenapa kau terbawa

Manusia
Raga dan jiwa
Satu yang terbagi dua 
Simbol kesempurnanNya

Raga ........
Kau melena
Kau melupa
Kau menyiksa
Kenapa kau ada ?

Raga adalah kita
Jiwa adalah kita 
Kita adalah raga dan jiwa
Keduanya menyatu dalam keagunganNya

Raga……
Kau harus patuh 
Kau harus luruh
Jangan rapuh
Jangan mengeluh

Kau akan bahagia
Jiwamu akan cita
Kau akan mulai
Bila dihiasi dengan syariatNya.

Bogor, 13 Juli 2008    

U r U

Assalamualaikum, how are you friend? Kaifa haluka ya ikhwan? Pa kabar? Moga-moga baek-baek aja. Pertama-tama dan yang paling utama kita mesti bersyukur sama Allah ta'ala yang udah memberikan kenikmatan yang begitu banyak, sampe-sampe kalo kita mo ngetung nikmat itu nggak bakalan bisa. Yang nomor dua Shalawat and salam semoga slalu tercurah kepada the best idol kita, siapa lagi kalau bukan manusia paling sempurna di jagad raya dunia dan juga di akhirat sana, ya ga? Harus ya ! nggak lupa juga buat seluruh keluarganya, shahabatnya dan orang-orang yang mengikuti jejak-jejaknya sampai hari kiamat tiba. Mudahan-mudahan kita dapat menapaki jejak langkah mereka. Amin ya…
Selanjutnya....... yup, buat kamu yang sudah beli buku ini dijamin ga' bakalan rugi. Soalnya buku ini akan ngebahas habis semua hal tentang kamu. U r U.... apaan bacanya tuh? You are You bacanya yu ar yu, kalo diterjemahin ya jadi kamu adalah kamu. Apa hubungannya antara aku dan kamu? Yang nanya aku apa kamu ya? Kok jadi ribet gini sih... ya udah dari padat ribet-ribet mendingan kamu baca aja buku ini sampai kelar.
Insya Alloh buku ini akan ngebahas tentang dunia remaja. Ya... benar dunia remaja adalah dunia kita-kita..... (Sssttttt.....termasuk yang nulis buku ini ga ya?) ya iyyalah... gue juga masih muda lagi, lihat aja face-nya masih muda banget terutama kalo dibandingin sama kakek kamu jauuuuuuhhh bro....oke deh, yang pasti bukkku ini emang bener-bener buat remaja kaya' kamu.
Jangan kaget ya... kalo buku ini "Gue banget" soalnya buku ini adalah hasil dari penelitian dan pengamatan penulis sejak masih di dalam kandungan. Percaya gak? Kalau dalam hal ini terserah kamu aja deh.. percaya atau tidak. Tapi sebagai orang-orang yang beriman.....(cie... kaya' ustadz nih...) kita emang harus percaya hal itu. Hal itu adalah bahwa buku ini memanghasil penelitian sejak kita masih berada di dalam rahim ibu kita, bahkan sejak kita di alam arwah....... hah....  arwah.
Tenang sobat, tul... sekali kamu, gak salah baca, ana juga gak salah nulis, percetakan juga ga salah nyetak. Buku ini memang ada kaitan erat dengaan alam arwah. Kenapa demikian? Karena ini berkaitan tentang diri kamu yang sedang mencari jati diri. Coba inget ilang di mana tuh jati diri? Sampai pusing sepuluh keliling begitu. Betul sobat, ternyata masa-masa remaja bener-bener kita itu sedang mencari jati diri. Nggak ilang ke mana-mana jati diri itu, cuman dia masih bersemayam di lubuk hati yang paling dalam, di antara belukar kelakar dan ilalang belang-belang (gak nyambung khan?)
Sobat... buku ini ingin memberikan sumbangan positif buat kamu yang masih remaja, kalau udah tua bagaimana? Ya nggak apa-apa baca aja buku ini gak rugi ko'. Ana pengin biar remaja kita menjadi seorang ksatria yang siap menyongsong masa depan, masa di depan di dunia dan di akhirat sana. Kamu jangan alergi ya kalau ngomongin akhirat, soalnya ini juga penting banget buat arah hidup kita.
Coba deh kamu bayangin, orang-orang yang nggak punya pegangan hidup dijamin hidup mereka akan kalut, hati tertutup, hawa nafsu berdegup jadi orang-orang yang larut dalam kemelut. Pokoknya gak enak deh.... pegangan hidup juga berakiatan tentang pemahaman diri kita kepada diri kita sendiri. Kamu tahu nggak buat apa sh kamu ada di dunia fana ini? Kayaknya kalau ngomongin beginian kita jadi dewasa banget ya..... mekar sebelum berkembang atawa tua kepanasan.
Tapi enggak ko' frend, walaupun kita ngomongin masalah akhirat itu bukan berarti kamu jadi lebih tuwek dari yang lainnya, kamu tetap kamu U r U, cocok to'?
Betul-betul-betul... (kata upin-ipin) kamu adalah kamu artinya kamu itu ya segala sesuatu yang ada pada diri kamu. Kamu nggak perlu untuk mencari sesuatu yang ada di luar diri kamu yang nggak sesuai dengan kepribadianmu. Kamu juga nggak perlu meniru-niru gaya orang yang ngga sesuai dengan hati nurani. U r U artinya kamu harus punya sikap, dada tegap, pandangan ke depan menghadap dan jiwa benar-benar sigap. Inilah kamu sobat, sekali lagi buku ini ingin mengajak kamu untuk mengenali diri kamu, potensi kamu, nurani kamu, impianmu, jati diri kamu dan yang paling penting masa depan kamu baik di dunia ataupun di akhirat sana. Siap gak? Kalau belum siap ya.... siap grak!!! Ok... udah siap khan?          

Nge-ghibah-in Teroris

Nge-ghibah-in Teroris
Oleh : Abdurrahman MBP


Apaan sih Teroris?
 
"Pak, anak bapak kayaknya ketularan teroris. Lihat saja jenggot dan celananya" kata seorang lelaki setengah baya kepada temannya. "Ah.. kata siapa?" jawab sang bapak. "Lihat saja jenggotnya panjang, dan itu lho.. celananya kayak orang kebanjiran, udah githu kayaknya takut banget sama perempuan".
Emang bener, para teroris yang berkeliaran saat ini memiliki cirri-ciri yang dsebutkan bapak tersebut. Tapi apa iya semua yang berjenggot dan celanya ngatung itu teroris? Kayaknya ngga adil deh..kalau menilai seseorang hanya dari tampilan luarnya. Jadi teroris itu apa dan siapa ya?
Pokoknya yang beli buku ini nggak bakalan rugi deh, tapi harus dibaca yah… kenapa nggak rugi? Soalnya buku ini pengin ngajak pembaca untuk nge-ghibah-in teroris atau ngomongin teroris. Hah… ghibah, bukannya nggak boleh alias haram? Emang iya… itu asalnya. Tapi kalau ngomongin atau nge-ghibah-in teroris itu pengecualian, kerane… (logat Malaysia dikit) teroris tuh… bener-bener bikin hidup kita tidak tenang. Ngebom sana… ngebom sini… banyak sekali…iii.ii
Terus yang mau dighibahin apanya? Ya jelas dong, tentang mereka, kenapa mereka seperti itu?, apa alasannya? Apa mereka orang Islam? Ada sejarahnya gak? Bagaimana ciri-cirinya? Dan yang lainnya. Yang pasti banyaknya banget yang akan kita omongin. Mau khan nerusin buku ini….? Harus mau kalau nga mau saya terusin sendiri.
Oke deh, sebelum ngomongin lebih jauh saya mau ngejelasin dulu tentang apa itu teroris, apa pembaca sudah tahu? Kalau sudah ya lebih bagus, nggak perlu saya jelaskan lagi.
"Ane belum paham euy!". Oh… ada juga yang belum tahu apa itu teroris? Baiklah, saya akan jelaskan apa itu teroris.
Serius dikit nih,   ................ Bersambung.      

DZIKIR SETELAH SHALAT

DZIKIR SETELAH SHALAT

أَسْتَغْفِرُ اللهَ (ثلاثا) اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ.
 “Aku minta ampun kepada Allah,” (dibaca tiga kali). Lantas membaca: “Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dariMu keselamatan, Maha Suci Engkau, wahai Tuhan Yang Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.”1
لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ، اَللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ.
 “Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya puji dan bagi-Nya kerajaan. Dia Maha Kuasa atas se-gala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi apa yang Eng-kau cegah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya (selain iman dan amal shalihnya). Hanya dari-Mu kekayaan dan kemuliaan.”2
لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ.
68. “Tiada Tuhan (yang berhak disem-bah) kecuali Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan dan pujaan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali (dengan pertolongan) Allah. Tia-da Tuhan (yang hak disembah) kecuali Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepadaNya. Bagi-Nya nikmat, anugerah dan pujaan yang baik. Tiada Tuhan (yang hak disembah) kecuali Allah, dengan memurnikan ibadah kepadaNya, sekalipun orang-orang kafir sama ben-ci.”3
سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَاللهُ أَكْبَرُ (33 ×) لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ.
 “Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah. Dan Allah Maha Besar. (Tiga puluh tiga kali). Tidak ada Tuhan (yang hak disembah) kecuali Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan. BagiNya pujaan. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.”4
Membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas setiap selesai shalat (far-dhu).5
Membaca ayat Kursi setiap selesai shalat (fardhu).6
لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. (10× بعد صلاة المغرب والصبح)
“Tiada Tuhan (yang berhak disem-bah) kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya, bagiNya kerajaan, bagi-Nya segala puja. Dia-lah yang menghi-dupkan (orang yang sudah mati atau memberi roh janin yang akan dilahirkan) dan yang mematikan. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.” Diba-ca sepuluh kali setiap sesudah shalat Maghrib dan Subuh.7
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً.
 “Ya Allah! Sesungguhnya aku mo-hon kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal dan amal yang diteri-ma.” (Dibaca setelah salam shalat Su-buh).8