Mulia Menjadi Ibu Rumah Tangga

on Senin, 31 Januari 2011
Oleh: Ummu Reza

Menjadi ibu rumah tangga? Kalimat itu sering hanya sebagai kata-kata sinis bagi wanita-wanita sejawat jika menemui teman wanitanya yang tak meniti karir. Tapi jangan keliru, Ibu Rumah Tangga tidak seremeh yang Anda bayangkan. Ibu Rumah Tangga atau yang lebih dikenal dengan istilah stay at home mom, homemaker pada hakikatnya justru adalah sebuah medan aktualisasi diri seorang wanita yang sungguh-sungguh membutuhkan ruh dedikasi yang cukup tinggi, betapa tidak? Seorang wanita dituntut untuk menunaikan sekian banyak tugas dan pekerjaan domestik dalam rentang waktu yang tidak mengenal batas, bahkan bisa dikatakan bahwa seorang ibu rumah tangga jauh lebih tangguh dan super ketimbang suaminya (maaf ya para suami, dengan segala hormat tidak bermaksud mengecilkan keberadaan kalian).

"Ah...Saya hanya Ibu Rumah Tangga biasa". Kalimat yang seolah mengisyaratkan bahwa pekerjaan atau status seorang Ibu Rumah Tangga adalah sesuatu yang rendah. Subhanalloh... wahai saudariku..Mengapa harus ada perasaan malu untuk mengatakan status itu? Lihatlah berapa banyak anak-anak yang sukses terlahir dari rahim seorang wanita biasa, seorang wanita rumahan. Dan berapa banyak pula anak-anak yang terjerumus dalam kemaksiatan karena kurangnya kasih sayang dari seorang ibu yang engkau pandang lebih mulia dengan status wanita karir. Tidak banggakah kalian melihatnya? Begitu mulia pekerjaan yang telah kau pandang hina, bahkan Islam pun mengajarkan "Sebaik-baiknya wanita adalah di dalam rumah", menjaga harta dan kehormatan di saat suami tidak berada di rumah. Namun Islam pun tidak melarang kepada wanita untuk menuntut ilmu dan bekerja di luar rumah, selama si wanita mampu menjaga hal-hal yang dapat menjadikan fitnah bagi dirinya.

Pekerjaan Ibu Rumah Tangga adalah ladang amal bagi kita. Dari melayani suami, mengurus anak-anak sampai hal-hal kecil yang ada di dalam rumah.Saat kita melakukannya dengan ikhlas, insya Alloh semua akan terasa ringan. Di tangan para ibulah keberhasilan sang buah hati.Ibu adalah sekolah (madrasah) pertama. Seorang ibu adalah pemimpin di kerajaan suami. Betapa banyak ayat al-Qur'an yang menerangkan mulianya kedudukan seorang ibu. Bahkan dalam hadits shahih yang sangat popular diriwayatkan, suatu ketika datang seorang lelaki kepada Nabi shallallohu 'alaihi wassalam dan bertanya, “Ya Rasulalloh, siapakah gerangan yang paling berhak mendapatkan perlakuan terbaik dariku?” Nabi shallallohu 'alaihi wassalam menjawab, “Ibumu.” “Lalu siapa?” tanya si lelaki. “Ibumu,” jawab Nabi. “Lalu siapa lagi?” tanya lelaki itu lagi. “Ibumu,” jawab Nabi. “Lalu siapa lagi?” tanya orang itu penasaran. “Bapakmu,” tutur Nabi. (HR Al Bukhari/Shahih Al Bukhari no. 5626)

Seorang penyair Arab mengatakan, “Al Ummu Madrosatul Ula, Idzaa A’dadtaha A’dadta Sya’ban Khoirul ‘Irq” (Seorang ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya. Jika engkau persiapkan ia dengan baik, maka sama halnya engkau persiapkan bangsa berakar kebaikan).

Kalimat ini sering menjadi ikon dalam dunia pendidikan Islam. Maka bukanlah sebuah hal yang berlebihan bila Islam sangat mendorong kaum perempuan agar senantiasa meningkatkan kualitas pengetahuannya demi terciptanya suasana yang kondusif bagi keluarga dan membagi peran mereka sesuai kodrat alamiah yang telah Alloh Ta’ala gariskan.

Karenanya, adalah sangat keliru, jika para ibu masih merasa tak berharga dan menganggap dirinya tak memiliki nilai ketika menjadi ibu rumah tangga dan sibuk mengurus anak-anak mereka di rumah.

Wahai para ibu yang sibuk di rumah, Cheer up! Berbahagialah dan berbanggalah, ucapkan Alhamdulillah karena ternyata dan terbukti “karir” Anda sangat bernilai tinggi bila dibandingkan para wanita karir konvensional di mata dunia. Yakinlah, bahwa Anda jauh lebih bernilai dan ber”gaji” tinggi di mata Allah Ta’ala jika Anda niatkan khidmah Anda semata-mata ikhlas lillahi Ta’ala.

Sebagai penutup, ada pesan mulia, dari Anas Radhiyallahu ‘anhu ia berkata: “Kaum wanita datang menghadap Rasululloh shollallohu ’alaihi wa sallam bertanya: “Ya Rasulullah, kaum pria telah pergi dengan keutamaan dan jihad di jalan Alloh. Adakah perbuatan bagi kami yang dapat menyamai ’amal para mujahidin di jalan Allah?” Maka Rasululloh shollallohu ’alaihi wa sallam bersabda: ”Barangsiapa di antara kalian berdiam diri di rumahnya maka sesungguhnya ia telah menyamai ’amal para mujahidin di jalan Allah.” (HR Al-Bazzar)

Wallohu A'lam

Kematangan Spiritual

Kematangan Spiritual
Oleh : Abdurrahman Misno


Ketika kita memulai kehidupan di dunia ini semua orang di sekitar kita sangat mengharapkan agar kita cepat besar, dan waktupun berlalu kini kita mungkin telah menjadi seorang remaja, atau seorang bapak yang telah disibukan dengan urusan dunia. Satu hikmah penting yang dapat kita ambil dari fase kehidupan kita adalah bahwa kita terus berada dari satu tingkatan ke tingkatan yang lain, dengan kata lain kehidupan kita terus ber “ Evolusi “ dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa dan tua renta. Bagaimana dengan keadaan spiritual kita ? apakah terus bergerak meningkat atau mandeg di tengah kemacetan dunia?

Seyogyanya dengan bertambahnya usia kita pengalamana spiritual kita akan semakin kaya dengan segala pengalaman yang kita alami, dan pengalaman inilah yang menjadi bekal menuju kematangan spiritual. Lalu bagaimana agar kita mampu menuju kematangan spiritual itu ?. kita sering mendengar sebuah petuah yang mengatakan bahwa hidup itu seharusnya mengambil ibrah dari ilmu padi yaitu semakin tua dan berisi semakin merunduk, petuah ini memang sangat mudah diucapkan namun dalam prakteknya sangat sulit untuk di amalkan. Pada dasarnya kematangan spiritual bukanlah hadir secara tiba-tiba atau dengan sim salabim, namun pengalaman (Ilmu) dan pengamalan (Amal) menjadi satu kunci yang tidak bisa terpisahkan untuk membentuk sebuah kematangan spiritual. Ketika fase-fase kehidupan kita selalu diiringi dengan kegiatan mencari ilmu Dien (Agama) dan pengamalan apa yang telah kita ketahui maka fase-fase berikutnya tentu kita akan dapat merasakan fase kematangan spiritual.

Kematangan spiritual adalah sebuah fase dimana seseorang itu telah mampu untuk mengalahkan hawa nafsu, menundukannya kepada Syari’at Alloh ta’ala. Hawa nafsu yang berarti sangat luas mencakup nafsu tahta, dunia, wanita dan nafsu untuk menyimpang dari SyariatNya. Karena itu kematangan spiritual tidak harus dinikmati oleh seorang yang tua renta, bisa jadi hal ini bisa dirasakan oleh seorang bayi yang baru lahir atau remaja yang masih belia, lihatlah bagaimana bayi yang dikisahkan dalam kisah Ashabul Uhdud lalu seorang remaja bernama Umair yang begitu setia membela Islam di masa Nabi, itulah sebuah kematangan spiritual hakiki yaitu kenikmatan yang tidak bisa digambarkan ketika iman sudah menghujam dalam dada, semoga kita bisa meraihnya. Wallohu’alam.




Bersedihlah…


Bersedihlah…
Oleh : Abdurrahman M


"Jangan bersedih" (QS Ali Imron 153 dan 139) kalimat ini saat ini begitu akrab ditelinga kita, bisa jadi sebagai hiburan dengan begitu banyaknya musibah yang menimpa negeri kita ini, namun apakah ketika kita tidak boleh untuk bersedih berarti kita dilarang untuk bersedih? Sama sekali tidak Islam tidak melarang ummatnya untuk bersedih, bahkan Nabi Musa sendiri begitu bersedih dalam menghadapi ummatnya yang banyak bertanya ( Qs Thoha 86 ). Kondisi ummat saat ini yang jauh dari tuntunan keyakinan mereka ternyata harus membalikan logika berfikir kita, ketika banyak orang mengkampanyekan "Don’t be sad " maka kenapa tidak ada orang yang berusaha untuk mengatakan " bersedihlah … " yah… bersedihlah ketika melihat ummat ini terlena dengan dunianya dengan syariah palsu mereka ( QS Al-Maidah ayat 50 ) atau dengan keyakinan-keyakinan yang merasuk kedalam Islam, sehingga mereka menganggap itu sebagai bagian dari Islam padahal itu bukan bagian dari Islam ( QS Al-Maidah ayat 3 ). Ketika kita banyak dicekoki dengan kata-kata jangan bersedih maka logika kita akan terasa damai dengan ucapan ini, bahkan hati kita akan mengatakan bahwa " saya seorang muslim dan saya adalah manusia yang pasti masuk surga ", dengan kata lain ketika kita mendengar kata " jangan bersedih " maka yang muncul dibenak kita adalah harapan ( roja' ) sementara jiwa kita akan bermalas-malasan untuk beramal, salahkah yang demikian ? tidak seratus persen salah namun kalau terus dibiarkan pasti akan membuat jiwa kita berkarat dan menghilangkan cahaya kemilau khouf ( takut ) kita kepada-NYA, padahal ketika khouf ini sudah tidak ada berarti kita telah mematahkan satu sayap dari dua sayap dalam tubuh ibadah, bagaimana mungkin ibadah itu akan sempurna tanpa adanya dua sayap yaitu khouf (takut ) dan roja' ( harapan ) QS Al-A'rof ayat 55 ). Karena itu bersedihlah… bersedihlah karena kondisi ummat kita yang semakin jauh dari Islam demikin juga bersedihlah karena tidak ada yang menjamin ibadah kita diterima disisi-NYA, dari kesedihan ini akan muncul sebuah ketakutan akan siksa Alloh dan juga harapan untuk mendapatkan Jannah-NYA. Apakah setelah kita bersedih saja sudah cukup? ternyata tidak bukti dari kesedihan ini haruslah menggugah ghirah kita untuk berperan aktif dalam menyampaikan kebenaran ini, dan akan memuncak dengan kebencian kita kepada sesuatu yang dimurkai Alloh dan yang melanggar syariat-NYA. Dan ketika kita mampu mengaplikasikan hal ini maka insya Alloh kita akan mampu menempatkan kata-kata "jangan bersedih" dan "bersedihlah" sesuai dengan tempatnya, namun karena jiwa kita saat ini terasa hampa dengan khouf ( rasa takut ) pada Alloh ta'ala maka dari sekarang ucapkanlah kepada diri anda dan bisikanlah pada jiwa anda " bersedihlah…






Memang Lidah Tak Bertulang...

on Minggu, 30 Januari 2011
Oleh Ummu Reza

"Heran deh sama fulana..jilbab dah panjang, tapi ko' lidahnya panjang juga"...ih...ga enakkan kalau dengar kalimat begitu. Ya..namanya juga manusia. Manusia itu kan tempat salah dan khilaf. Tuh..keluar deh dalilnya. ya iyakan..Walaupun jilbab dah panjang tapi dia kan manusia biasa, kadang imannya naik, kadang imannya turun (kaya harga sembako aja, naik turun). Gini..Namanya juga maksiat, selama masih hidup di dunia ini, si maksiat tuh tetap ada di sekeliling kita. Tapi dengan berjilbab, sedikitnya kita bisa menahan lisan dari sesuatu yang ga perlu kita ucapkan and kita dengar.. Astaghfirulloh...iya ya..jilbab kita kan sudah syar'i, berarti lisan dan perilaku kita harus lebih baik dari orang yang jahil, orang yang bodoh, orang yang belum tau ilmunya. Bukan sok pinter, tapi kita kan sudah belajar. Dengan ilmu yang ada, kita mencoba menda'wahi diri kita. Alhamdulillah kalau bisa diikuti orang lain.. Masya Alloh..Pahalanya besar banget tuh.

Tapi emang susah ya menjaga lisan. Banyak orang yang bilang lidah itu ga bertulang..kalau bertulang, gimana ngomongnya ya? Emang yang namanya omongan itu ga pernah ada habisnya, bagaikan punya nyawa, dia bisa hidup, dari cuma kabar A, bisa jadi sampai ke yang lain jadi Z. Kalau duit mah enak ya.. bisa bertambah jadi banyak..ah..ada juga duit mah malah berkurang alias di kentit..na'udzubillah.

Mulai sekarang..ga usah deh dengerin omongan-omongan yang ga ada gunanya buat diri sendiri, apa lagi buat orang lain. Mending isi waktu ini dengan yang bermanfaat. Masih banyak ilmu yang bermanfaat yang kita belum tau. Di akhirat nanti kita akan ditanya dihabiskan untuk apa waktu kita saat di dunia, masa habis cuma buat nge-ghibah (ngomongin orang)..ah..rugi amat..Bukannya untung, malah buntung (begitu kata orang jawa). Habis sudah kebaikkan kita untuk orang yang kita ghibahin...Rugi dunia akhirat.

Ingat terus deh firman Alloh yang bunyinya:
“….. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya….”(QS.Al-Hujuraat ; 12)

Banyak Anak Banyak Enak

Siapa yang bilang kalau banyak anak banyak rezeki? itu mah.... cuman buat nyenengin bini biar ga susah "diatur" suami. Eits... tunggu dulu nggak boleh su'udzan sama Allah ta'ala. Kalau kita banyak anak selain banyak rezeki juga banyak enaknya lho..... ga percaya? 
Ngomong-ngomong soal banyak anak, itu emang udah jadi keyakinan leluhur kita sejak tempo doeloe, cuman saat ini kayaknya kayakinan ini sudah mulai luntur. Lihat aja, suksesnya program KB (Keluarga Berencana). Waktu dulu, sebuah keluarga paling sedikit punya anak tiga atau empat. Sekarang "Dua Anak Cukup". Sebenarnya pola pikir masyarakat mengenai banyak anak banyak rezeki sangat dipengaruhi oleh kadar keimanan mereka ditambah zaman yang saat ini penuh dengan persaingan. "Kasih makan anak dua aja susah apalagi banyak", "Ngatur anak dua khan lebih gampang dari pada ngatur anak banyak", "Mendingan anak dua deh.. dari pada banyak-banyak gak keurus". itulah alasan-alasan kenapa saat ini keluarga Indonesia lebih senang jika anak tidak usah banyak-banyak.
Emang bener sih.... kalo ngatur anak cuman dua lebih gampang daripada banyak anak, cuman masalahnya kayaknya bukan di situ, tapi justru masalahnya adalah rasa tawakal kita kepada Allah ta'ala semakin memudar. Kita cenderung berfikir bahwa kalau punya anak banyak hidup menjadi sesak,  buat makannya susah, biaya sekolah yang mahal dan lain sebagainya.
Dari analisa saya bahwa ada beberapa keuntungan ketika kita punya anak banyak : 
1. Rasa tawakal kita kepada Allah ta'ala akan semakin tinggi. Ini terbukti ketika anak kita banyak maka kita akan cenderung lebih rajin bekerja dan tentunya harap kita kepada Allah ta'ala semakin besar. kalau anak cuman dua khan santai aja, "Ah.... anak cuman dua ini gak perlu ngoyo". nah jadi.... semakin banyak anak semakin bertambah keimanan kita. 
2. Banyak Anak banyak enak. Kalau punya anak cuman dua kalau yang satu meninggal sisa satu doang, beda khan kalau anak banyak meninggal satu masih ada yang lain, jadi lebih ikhlas to melepasnya. apalagi zaman banyak penculikan kaya sekarang. kalau anaknya delapan terus diculik satu khan masih ada tujuh jadi yang penculiknya minta tebusan satu milyar juga cuekin aja ( Eh.... yang nggak sih...) maksudnya penculik juga akan mikir nyulik yang keluarganya banyak. soalnya mereka juga tau banyak anak susah kaya'nya. 
3. Dengan banyak anak banyak enaknya (kok diualng lagi sih....?). ya.... tenang saudara-saudari celana robek kanan kiri,, dipakai sama ..... (siapa lagi....). Emang tulisan ini ngebahas tentang banyak anak banyak enaknya jadi yang githu deh.... pokoknya dijamin deh.... kalau banyak anak emang bener-bener banyak enaknya. gak percaya? coba aja tanya para aba' (jama' dari abi/bapak).
Intinya adalah dengan banyak anak hidup terasa enak, lega, tanpa beban, hidup seimbang tidak ada yang ngganggu kalo tidur, istri bisa konsentrasi ngurus kita dan kita bisa pergi berdua, makan enak dsb... dll... de es te... de es cingcau... de es kelap...
Ah.... yang bener kok bisa sih, perasaan tetangga saya anaknya tujuh susah banget hidupnya, anak pertama tau main ke mana, yang kedua ingusnya meler, yang ketiga main di kali ngga ada yang ngelarang, yang keempa bisulan, yang kelima mainan tanah mulu, yang keenam masih ngerangkak jatuh mulu dari tempat tidur karena yang nggak ada yang njagain yang paling kecil masih nyusu nggangguin bapaknye (Kisah nyata....) 
Tapi emang bener Kok banyak anak banyak enaknya. Kita contohin nih.... banyak anak banyak enak.... so' pasti tuh... nggak usah dibahas di sini. Lega? jelas lah plus menjaga kesehatan fisik dan mental, tanpa beban? iyyalah santai aja tawakal kepada Allah ta'ala dengan dibarengi berusaha, ya nggak? Iya dong. Tidak ada yang ngganggu waktu tidur? Khan semua anak dikumpulin di kamar lain, kita tinggal berdua. Atau pas kita lagi tidur bilang aja ama anak yang laing gede "Ayah mau tidur adik-adik kamu jaga yang jangan ganggu ayah" gampang to'?  Selanjutnya  istri bisa konsentrasi ngurus kita dan kita bisa pergi berdua, iya khan? anak tinggal di rumah khan ada anak pertama, kedua dan ketiga yang bisa ngurusin adiknya. Makan enak, kalau lagi lapar dijamin khan makan pasti enak. Udah lauknya enak, nasinya sedikit dibagi orang banyak, enak? Pokoknya Banyak Anak Banya Enak !!!  

Spiritual Writing

on Sabtu, 29 Januari 2011

My Qishah


Memulai Tulisan? Siapa Takut!

Memulai Tulisan? Siapa Takut!
Oleh : Abu Aisyah


Takut memulai tulisan? Ini adalah penyakit berbahaya yang sering menhinggapi para penulis pemula. Takut kalau tulisan tidak bagus, tidak sesuai dengan EYD, tidak komunikatif, takut isinya tidak sesuai dengan keinginan pembaca, khawatir isinya menyimpang dari kebenaran dan perasaan takut lainnya. Semua itu mengakibatkan para penulis pemula kurang produktif dalam menghasilkan karya, atau bisa jadi belum pernah satu tulisanpun yang dihasilkan.
Sebenarnya perasaan khawatir dan takut ketika memulai tulisan adalah sesuatu yang wajar. Ibarat seorang koki yang mencoba menu masakan baru dan langsung dihidangkan kepada pelanggannya, tentu ia akan merasa khawatir dan was-was kalau-kalau resep masakan barunya tersebut tidak sesuai dengan selera pelanggannya tersebut. Demikian pula perasaan takut ketika akan menulis.
Bila kita teliti lebih mendalam, perasaan takut ini berasal dari rasa minder dengan apa yang telah dituliskannya, selain juga merasa diri masih jauh dari sempurna. Sehingga setiap akan memulai tulisan selalu saja perasaan itu muncul, baik ketika mulai menulis atau ketika telah menyelesaikan beberapa paragraph, atau bisa jadi juga sebuah tulisan telah selesai namun perasaan tidak puas mengakibatkan ia khawatir kalau-kaualu tulisannya tersebut dicibir oleh para pembacanya.
Perasaan takut dan khawatir sebenarnya tidak akan muncul jika kita dapat menyikapi setiap tulisan kita. Bagaimana cara menyikapinya? Mudah saja, hal pertama yang harus dilakukan ketika akan memulai sebuah tulisan adalah penguasaan terhadap materi yang menjadi tema tulisan kita. Sebenarnya inilah momok paling menakutkan bagi para penulis pemula. Merasa diri tidak menguasai materi, adalah sebab utama tulisan seringkali macet di jalan. Perasaan ini memiliki tingkatan-tingkatan yang berbeda antara satu orang dengan orang lainnya, ada yang perasaan takut itu hanya sebatas khawatir, ada juga yang sampai tingkat tidak mau sama sekali menyentuh tema tersebut. Namun dari semua perasaan tersebut efeknya adalah sama tidak melanjutkan ide dalam bentuk tulisan. Bagaimana solusinya?
Ada dua jalan keluar dalam menyikapi hal ini, pertama sebaiknya kita hanya menulis mengenai tema-tema yang betul-betul kita kuasai, misalnya jika kita tidak memahami tentang Filsafat maka tidak usahlah kita menuliskan tema tentang filsafat. Namun ini bukan harga mati, jika dia ingin menuliskannya juga tidaklah mengapa hanya saja ia perlu mencari informasi lebih lanjut, bertanya dengan ahlinya atau berdiskusi tentang tema tersebut dengan orang lain. Cara  seperti ini cukup efektif jika kita menginginkan menulis tempa-tema yang belum kita kuasai sepenuhnya. Jadi tidak perlutakut dan khawatiur ketika akan menulis, karena semua pasti ada jalan keluarnya.
Alasan selanjutnya kenapa seorang penulis pemula macet dalam penulisan adalah karena merasa minder, ia merasa bahwa dirinya tidak pantas untuk menuliskan hal tersebut. Jika kita yakin kita tidak mampu untuk menuliskannya, kenapa harus memaksakan diri untuk menuliskannya? Tulislah hal-hal yang telah kita kuasai, jika penguasaan kita akan sesuatu tidak sempurna maka carilah pengetahuan itu untuk mendapatkannya. Misalnya kita merasa belum mampu untuk membahas masalah ibadah, namun kita ingin menuliskannya. Maka satu-satunya jalan adalah dengan menambah ilmu pengetahuan yang ada pada kita. Mudah bukan?
Selain itu, rasa minder juga dapat diatasi dengan sering-sering kita melakukan latihan, artinya ketika kita merasa bahwa kualitas tulisan kita masih rendah maka berlatih, berlatih dan berlatihadalah solusinya. Tidak ada jalan lain, jika kita ingin meningkatkan kualitas tulisan dan kualitas diri kita maka berlatihlah terus jangan pernah menyerah, berusaha dengan bertanya kepada yang lebih ahli adalah sebuah usaha mulia. Setelah itu teruslah menulis, jangan ada rasa takut tulisan kita akan dicerca. Ketika kita merasa bahwa tulisan kita kurang sempurna ini adalah awal dari kesuksesan anda, dengan perasaan ini bukan berarti kita minder, justru sebaliknya semakin terpacu untuk meningkatkan kualitas tuisan kita. Semakin banyak perbaikan yang kita lakukan pada tulisan kita, niscaya tulisan kita akan semakin memiliki kualitas prima. Silahkan dicoba….. 

Anda Adalah Apa Yang Anda Baca

Anda Adalah Apa Yang Anda Baca
Oleh : Ananda Muhammad

Jiwa manusia ternyata sangat lemah, ia dengan mudah dipengaruhi oleh hal-hal lain yang ada di sekitarnya. Manusia akan cenderung bersikap sesuai dengan apa yang ada di sekitarnya, ketika seseorang tumbuh pada lingkungan pemabuk, ketika ia besar akan cenderung menjadi pemabuk atau minimal menganggap mabuk itu adalah sesuatu yang biasa. Demikian pula ketika seseorang tumbuh dan tinggal pada lingkungan pesantren, ia akan cenderung mengikuti ritme dan budaya yang ada di pesantren tersebut. Penyimpangan-penyimpang yang terjadi dari teori awal ini hanyalah pengecualian yang jumlahnya sedikit.
Kelemahan jiwa manusia juga terlihat jelas pada sikap dan tingkah lakunya sehari-hari yang cenderung dibentuk oleh apa yang dia baca. Membaca di sini tentu bisa dimaknai secara luas dan secara sempit. Membaca dengan makna yang luas tentunya seseorang yang memperhatikan apa yang ada di sektarnya akan cenderung menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya tersebut. Contoh paling mudah adalah seseorang pada usia anak dan remaja akan memiliki keinginan yang kuat agar dapat diterima oleh lingkungan pergaulannya dan mencoba melakukan imitasi dengan orang-orang di sekitarnya. Ternyata pada usia dewasa hal ini menjadi sebuah pola pikir yang sulit untuk diubah. Semua itu adalah hasil dari pembacaan seseorang terhadap lingkungan di sekitarnya.
Membaca dalam arti sempit yaitu memaknai barisan-barisan kata dan paragraph pada sebuah tulisan baik dalam bentuk buku, Koran, majalah, bulletin, pada halaman web dan lain sebagainya. Dari kegiatan membaca ini seseorang tidak hanya memaknai saja karya tulis tersebut, melainkan juga secara perlahan ia telah menyerap nilai dan gagasan yang ada di dalamnya. Dari sinilah bagaimana jiwa manusia ternyata sangat lemah, sehingga apa yang dia baca akan cenderung membekas dan menjadi pedoman dalam kehidupannya.
“Anda Adalah Apa Yang Anda Baca”, inilah pepatah yang sering kita dengar, ia mencerminkan bagaimana seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang ia baca, baik secara langsung ataupun tidak. Seseorang yang terbiasa dengan membaca bacaan-bacaan porno akan cenderung memposisikan dirinya pada pelaku dalam bacaannya tersebut. Seorang anak kecil yang terbiasa membaca kisah-kisah fantasy akan cenderung memiliki imaginasi tinggi yang seringkali sesuai dengan kisah fantasy yang ia baca, sebagai contoh seorang anak yang terbiasa membaca komik Doraemon akan cenderung memposisikan dirinya pada tokoh utama kisah ini yaitu Nobita yang selalu memiliki jalan keluar ketika terjadi masalah hanya dengan saku ajaibnya Doraemon.
Pada orang dewasa ternyata pengaruh dari bacaan juga sangat berkesan, mereka yang terbiasa dengan membaca koran politik, koran bola atau koran dan majalah gaya hidup lainnya akan cenderung menyesuaikan diri dengan bacaan mereka terebut. Seorang wanita yang selalu membaca majalah kecantikan dan gaya hidup wanita akan cenderung mengikuti trend busana dan dandanan yang ada pada bacaannya tersebut. Pada pria, ketika ia hobby dengan membaca berita bola maka kecintaannya kepada bola akan semakin tinggi dan akan terus mengikuti berita up date terbaru tentang bola, sehingga tanpa terasa ia telah masuk ke dalam hal-hal yang cenderung pada perbuatan sia-sia tanpa terasa.
Sebaliknya, seseorang yang terbiasa dengan membaca Kalamullah (Al-Qur’an) maka pola pikirnya akan sangat dipengaruhi olehnya. Apalagi jika yang ia lakukan bukan sekadar membaca, ia memaknai, menelaah dan melakukan studi terhadapnya, maka Al-Qur’an akan menjadi dasar pola pikirnya. Lihatlah mereka yang terbiasa dengan membaca Al-Qur’an akan memiliki pola pikir yang lurus dan tidak terperangkan ke dalam bacaan-bacaan yang sia-sia. Sedangkan mereka yang terbiasa dengan bacaan-bacaan yang kurang atau tidak bermanfaat akan terus mengikuti kebiasaannya sehingga menjadi sesuatu ciri  khas dari dirinya.
Pengaruh dari bacaan yang sangat kentara dengan ide-ide yang dimiliki oleh seseorang. Ketika seseorang membiasakan diri dengan buku-buku filsafat, ia akan terpesona dan keranjingan dengan filsafat itu. Demikian pula mereka yang suka dengan membaca bku-buku kebatinan akan memperkuat keyakinannnya terhadap aliran kebatinan. 
Karena itu hendaklah kita kita memperhatikan apa yang kita baca sehari-hari, jika bacaan yang kit abaca adalah Al-Qur’an, Hadits-hadits Nabi, Atsar (pendapat) para shahabat dan ulama-ulama maka ia akan menjadi seperti baik dari segi pola pikir ataupun tingkah lakunya.
Bagaimana jika ada orang yang tidak masuk dalam pembahasannya ini? Misalnya seseorang yang suka membaca tentang madzhab-madzhab atau golongan-golongan Islam yang menyimpang misalnya. Maka dapat dikatakan kasus seperti ini juga tidak terlepas dari kondisi yang saya sebutkan. Jika ia suka dengan bacaan-bacaan tersebut sebenarnya sadar atau tidak dia tengah memposisikan dirinya di antara umat Islam lainnya. Keyakinannya dengan Islamnya akan semakin kuat ketika ia membaca buku-buku yang membahas tentang aliran-aliran dalam Islam.
Walaupun demikian, dalam beberapa kejadian bisa jadi terdapat pengecualian misalnya dengan kebutuhan khusus, misalnya seorang ustadz yang membaca buku-buku tentang UFO, bukan berarti ia terobsesi dengan UFO itu, itu dilakukan sebagai referensi pengetahuan. Demikian pula ada seorang anak Punk yang sedang membaca tentang filsafat misalnya, maka hal tersebut bisa jadi karena ia sedang kuliah mengambil mata kuliah filsafat. Ini artinya bacaan yang mempengaruhi pola pikir adalah yang dilakukan dengan frekuensi lama dan terus-menerus. Jika dilakukan hanya pada waktu-waktu tertentu dan terbatas maka pengaruhnya tidak terlalu membekas
Saya sendiri suka dengan hampir seluruh bacaan, dari mulai Komik Doraemon sampai pemikiran Filsafat. Ada pengaruhnya tidak? Ya…. ada, itu saya rasakan sendiri, sehingga saya juga menerapkan model pembacaan yang memang menjadi referensi hati atau sekadar studi dan memperluas wawasan.
Membahas tentang bacaan, semakin seseorang membaca banyak jenis bacaan dan tidak terpaku pada satu tema saja juga akan mempengaruhi pola pikirnya. Demikian juga pada kasus kebalikannya, ketika seseorang hanya membaca satu jenis bacaan dengan jumlah yang terbatas maka akan sangat mempengaruhi pola pikir orang tersebut.
Pada kasus pertama, orang tersebut akan cenderung memiliki pemahaman dan pemikiran yang lebih luas dan bijak, ini karena referensi dari buku-buku yang didapatkan beraneka ragam. Sedangkan pada contoh kedua orang tersebut cenderung memiliki pemikiran yang terbatas dan terkungkung dengan bacaan-bacaannya yang terbatas juga. Oleh sebab itu perluaslah bacaaqn anda, tentunya dalam ruang lingkup bacaan yang positif dan memiliki pengaruh positif pada jiwa. Wallahu’alam.    

Ikatan Laki-laki Takut Poligami

on Kamis, 27 Januari 2011


Poligami…..
Ah… Isu Basi,
Tak Menarik Lagi,
Bikin Keki,
Tanpa Sensasi.
Ih…. Kok Pilgami Sih…


Emang bener kalo kita ngomongin poligami kaya’nya udah bosen banget. Orang juga udah tahu kalo poligami itu cuma kerjaannya orang-orang yang gak puas dengan satu istri or mereka yang ngerti agama ini. Poligami itu bikin susah istri, merusak tatanan harmoni, menelantarkan anak dan menambah peramasalahan di tengah penderitaan.
Ups…. Boleh aja ngomongin miring ama pelaku poligami, tapi kaya’nya kalo kita ngomong kudu balance deh. “Ya iyyalah yang nulis juga orang laki, pasti jadi pendukung sejati” eit…. Tunggu dulu kita gak ngomongin masalah poligami lagi, tapi kita lagi ngomongin  tentang berbagi suami . “Sami mawon” atuh, sama kali ya…. yah ga apa-apa deh, cuman kita mau ngomongin tentang berbagi suami.
“Yang nulis makalah ini sebagai  suami apa istri?” suamilah …. Lihat aja namanya. Tapi sebagai suami yang sangat memahami perasaan istri (cie….) hingga saat ini belum melakukan poligam ( Niat? So pasti….) Kok jadi begini sih……
Tenang pembaca sekalian, ya… sebagai suami saya juga memahami bagaimana perasaan istri kalau sang suami nikah lagi. Cuman kira-kira bener gak sih sebagai suami akan sangat berbahagia dan berbunga-bunga bila mendapatkan istri muda? Kalo yang kaya’ gini kudu nanya ama pelaku poligami nih…. Oke deh…. Saya sempatkan bertanya ama seorang teman pelaku sejati poligami.
“Antum berpoligami enak gak sih…” waduh masa’ pertanyaannya kaya’ gini, enggak lah… “Sebenarnya apa sih yang membuat antum menikah lagi, udah nikah ama janda, anaknya ada lima lagi”, “itulah Akhi… manfaat dari mengaji, kita jadi tahu sunnah Nabi…. Dan kita bisa menolong para janda yang ditinggal mati (bukan Jomblo Ditinggal Mati lho…). Wuih…. Kayaknya mulya sekali neh…..
“Sunnah Nabi?.... Manfaat Mengaji? Aaaaarrrgggghhhh…… jangan-jangan ngajinya setiap hari cuman masalah poligami. Emang bener poligami sunnah Nabi? Enggak kali….. perasaan udah banyak banget tulisan yang ngomongin hukum poligami, jadi search aja di Ami Google yang baik hati dijamin bakalan nemuin data bejibun tentang hukum poligami. Intinya….. ? ya sudah Nabi (Kesel gak sih….?) sebenarnya sih… kalo dibilang sunnah gak juga, soalnya itu khan khusus nabi, beliau beristri lebih dari empat. Kaya’nya cuman kalau yang mau aja deh…. Ssstt… kayaknya saya termasuk yang mau deh….. Bukan-bukan.. sabar dulu dong. Maksunya mau melaksanakannya. Kalau yang nggak mau seperti saya ya nggak dosa khan? Cuman ya nggak dapet pahala. Berarti kembali ke tadi lagi poligami itu sunnah, kalau tidak dikerjakan tidak apa-apa kalau dilaksanakan akan dapat pahala. Coba siapa yang mau pahala? Loh… yang bapak-bapak kok.. ngacung semua…. Astaghfirullahhal ‘adzim.
Terus manfaat mengaji? Wah… kayaknya udah salah pasang niat nih orang, masa’ buahnya mengaji adalah poligami, apa nggak ada yang lain. “Poligami adalah Ciri Lelaki Sejati” wah….. wah…wah… maskulin sekali nih… laki. Semakin suami rajin mengaji semakin terbukan peluang untuk berpoligami, jadi bagi para istri siapkan diri menghadap Ilahi…. Ups… mati dong. Ya nggak kaya’ gitu. Maksudnya kalau suami rajin mengaji yang kita juga ikut rajin mengaji, kalau suami pengin poligami ya istri harus siapin diri dipoligami. Gampang to’?
Ya…. emang gampang buat yang pengin dikemplang. Perasaan dong dijaga, masak waktu kita masih sengsara makan sepiring berdua di dekat rel kereta, numpang sama mertua pagi makan sore tiada, malam makan paginya buka (woi… batal puasanya) pokoknya menderita lah yaa… tidak ada pikiran mendua (poligami maksudnya), sekarang hidup sudah berkecukupan, mobil ada delapan, kontrakan sembilan dikurangi delapan ditambah enam petakan (berapa coba?), anak tinggal nunggu satu kali lahiran buat bikin kesebelasan masa’ masih harus poligami juga. Di mana perasaan Kanda?
Kalau udah begini susah deh, mendingan bawa guling sama bantal jangan lupa selimutan tidur di comberan. Maksudnya kurangin tensi kita, kayaknya ada yang nggak beres, istri kita, perilaku kita (kurang memusakan misalnya) atau ilmu istri kita yang belum sampai ke sana? Mending kit sambung dulu kabelnya biar nyampai ke sana. Terus kalau udah nyambung tinggal pencet sekringnya nggak usah dibuka sampai badan gosong semua, ah…. Tak berdaya.
Eh… tadi udah sampe mana ya? kok jadi lupa, ya okelah silahkan buat pembaca mengulang bacanya dari paragraph pertama. Saya tunggu di sini saja…… sudah belum? Kalau sudah berarti udah nyambung. Bener sekali, seratus buat antum… seribu buat ana, jadi antum utang sembilan ratus ya….masalah nyambung. Secara umum kalo ada orang yang menolak poligami berarti ilmunya belum nyambung, atau jangan-jangan dia masuk golpar (Golongan Pria Anti Rasulullah) tapi satu kemungkinan terkuat, jika dia dari kalangan laki-laki sepertinya dia sudah mendaftar di
Ikatan Laki-laki Takut Poligami (ILTAPI).
Pembaca sekalian sebenarnya ILTAPI ini adalah organisasi yang sudah lama dilarang, tapi semakin lama pengikutnya semakin banyak, jangan-jangan anda termasuk mereka. Mata-mata ya…..? cuman ya  nggak apa-apa, saya juga bagian dari mereka (untuk sementara) tapi belum mendaftar, baru simpatisan.
Moga-moga aja nanti kalau pas saya daftar langsung terpilih sebagai ketua umum, terus bisa mempopulerkan ILTAPI ini. Walaupun dalam hati nih…. Jangan bilang siaa-siapa ya…. sebagai lelaki sejati… (ngaku nih…) saya juga…….. ehm…ehm….. ingin berpoligami. Kayaknya enak kali…. (bahaya nih….) cuman ya… istri masih kurang dorongannya. Kemarin sebenarnya dorongannya sudah sangat kuat, tapi pas saya lihat ternyata ndorongnya dari depan ke belakang jadi ya… saya mundur lagi. Bagaimana dengan akhi?
Dari pengalaman sih… (masih dalam mimpi) poligami itu bener-bener mulya, apalagi kalau kita menikahi wanita yang sudah janda, punya anak lima, lagi hamil tua terus anaknya sudah punya pacar semua. Dijamin anda akan dipuja depan emak mereka…. Sang Arjuna telah tiba…. Selanjutnya anda dikerubutin oleh mereka dirogoh kantongnya, dibuka dompetnya ternyata ada uang gope saja, itupun berwarna kehitaman karena seringnya buat kerokan. Ya ….. Salam.
Jadi kesimpulannya Poligami adalah Sunnah Nabi, suka atau tidak suka. Sekali sunnah tetap sunnah….. merdeka. Bagi yang siap silahkan mencoba….. yang belum siap nikmati aja apa yang ada. Jangan terlalu “Ngoyo”mkata orang Jawa, legawa kata presiden kita. Terus….. rajin-rajinlah mengaji agar niat berpoligami senantiasa bersemi (awas jaga hati…)
Bagi para istri tingkatkan service diri, agar suami tak pindah ke ranjang “Surti” trus…. Siap-siap jika suami mau berpoligami itu artinya surga sayang sama anti, Cuma antinya aja yang nggak mau ngerti, maunya dimengerti padahal gak ngerti-ngerti apa artinya ini.
Terakhir buat para ketua ILTAPI (masih ingat khan singkatannya) beserta jajarannya kami menghimbau agar membubarkan organisasi anda karena telah melanggar hak asasi manusia, terutama berkaitan dengan hak ber…….. (sensor). Hak berkeluarga adalah hak setiap bangsa dan  oleh sebab itu maka poligami di atas dunia harus digalakan, karena sangat sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Dan perjuangan kemerdekaan berpoligami di Indonesia telah sampailah ke depan pintu gerbang kemerdekaan berpoligami. …….. (silahkan diteruskan…..,  jangan  lupa tangan mengepal dan diangkat ke atas setinggi-tingginya, awas jangan sampai kena plafon)
Terakhir dari yang terakhir, doakanlah saya agar bisa menjadi suami yang bertakwa kepada Allah Yang Maha Esa dengan melaksanakan semua perintahNya (Poligami juga…ya) dan menjauhi laranganNya (Berzina… lah ya…) serta dapat mendakwahkannya (Poligami juga…ya) kepada semua manusia di dunia dan di alam sana (sana mana….?) saya juga mendokan semoga pembaca tulisan ini akan selalu dalam lindunganNya, terutama yang telah menjalankan syariatNya (Poligami tentunya…) dan memberikan rizqiNya yang banyak sehingga dapat berpoligami segera.
Bagi pembaca yang belum menikah, segeralah menikah sebelum gerakan poligami menjadi gerakan nasional dan anda tidak akan mendapatkan kecuali sisa-sisa remahan orang. Anda gak mau khan? Kalau gak mau cepetan dong, jangan tunda sampai besok selagi hayat masih dikandung badan, kalau hayat sudah dilahirkan sudah tidak bisa diharapkan.
So…. Buat para pelaku poligami, selamat anda telah melakukan hal yang sangat terpuja dan terpuji (biar gak diskriminasi) jangan lupa anda punya kewajiban, jangan cuma nafsu diturutkan keturunan dilengahkan, “Setiap kita adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertangungjawabannya” bagaimana kalau istrinya Sembilan dikurang lima, anaknya delapan belas hidup semua (berat juga ya? apalagi kalau digendong semua, ditambah semen lima jalan dari Jakarta ke Himalaya).  Ah…. Pokoknya gak ada habisnya…. Karena itu saya cukupkan di sini saja. Silahkan kasih komentar kalau gak suka. Kalau suka……?  kasih komentar juga…. Ya nggak? Harus  ya… kalau nggak….. saya bilangin emak saya yang di Jawa. Tepatnya di bagian tenggara, sebelah timur desa, dekat pohon kelapa, ada sungainya silahkan nyemplung aja di sana jangan lupa gosok dakinya….. wuah ha…ha…aha. (Awas jangan ngakak… Hei… saya bilang jangan ngakak..) Kok maksa juga sih… ya udah. Silahkan tulis komentarnya….. saya tunggu, kalau nggak mau ya tetap saya tunggu, sampai tulisan ini terhapus di Blogmu. Setuju…..? Harus itu…        
                 

 

Menulis terus… Semangat Terus…



Menjadi penulis adalah sebuah cita-cita dan obsesi banyak orang, namun tidak semua orang bisa menjadi penulis yang professional. Hanya mereka yang memilik keinginan yang kuat yang akan mendapatkan cita-cita mulia tersebut. Sebenarnya menjadi seorang penulis tidaklah sesulit yang dibayangkan, hanya diperlukan sedikit bakat dan segudang kemauan.
Benar sekali… bahwa bakat untuk menjadi seorang penulis tidak begitu berkontribusi dengan keahlian menulis seseorang. Segudang kemauan ditambah  keuletan dan tak kenal lelah adalah kunci sukses menjadi seorang penulis professional. Tidak usah mencari contoh, terlalu banyak jika kita ingin mencari kemauan. Permasalahannya adalah bagaimana membangkitkan kemauan tersebut? Kemauan… memang sering kali tidak secara terus menerus muncul. Bisa jadi hari ini sangat bersemangat untuk menulis, namun di hari berikutnya semangat itu menjadi lemah. Sesuatu yang lumrah, namun bagaimana caranya agar kita selalu bersemangat dalam menulis?
Ada beberapa tips agar semangat kita dalam menulis terus menyala, di antara tips tersebut adalah :
1.Periksa kembali niat anda dalam menulis. Bisa jadi niat utama dalam menulis selama ini kurang memperhatikan masalah keimanan, sehingga cenderung menulis hanya untuk keperluan keduniaan. Karena itu terapkan dari awal bahwa niat kita menulis adalah karena Allah ta’ala, dengan ini mudah-mudahan kita akan terus bersemangat untuk menulis.
2.Ubah materi tulisan. Materi penulisan yang cenderung mengarah kepada sesuatu yang membosankan akan membuat para penulis cepat merasa bosan. Demikian pula materi-materi yang membuat kering spiritual. Mengubah materi tulisan berarti kembali mengintrospkesi materi tulisan kita. Sudahkah ia membuaskan spiritual kita? Atau justru menjadikan jiwa semakin kering dari nilai-nilai Agama
3.Apa tujuan anda menulis? Jika niat sudah baik, insya Allah tujuan kita dalam menulispun akan menjadi baik. Mungkin selama ini kita menulis hanya untuk mendapatkan keuntungan materi (uang), ternyata di tengah jalan uang selama ini diharapkan tidak kunjung datang. Sehingga semangat untuk menulispun memudar. Dalam Spiritual Writing menulis untuk mendapatkan uang tidaklah mengapa, namun jika itu menjadi tujuan utama maka tidak memiliki nilai pahala. Karena itu perhatikanlah kembali apa sebenarnya tujuan kita menulis, apakah untuk mendapatkan uang? Mencapai ketenaran? Atau sekadar menyalurkan kesukaan? Dari semua itu hal yang membuat semangat menulis terus menyala adalah menulis untuk mendapatkan keridhaanNya, inilah tujuan utama kita. Jika dengan menulis kita mendapatkan keuntungan maka tidaklah mengapa mengambilnya. Selama itu tidak menjadi tujuan utama

Dengan ketiga tips ini mudah-mudahan semangat kita untuk menulis kembali menyala, jangan sampai semangat kita untuk menulis memudar hanya karena uang yang kita harapkan tidak kita dapatkan. Menulislah dengan penuh keimanan nisacaya kekayaan itu akan mengikuti di belakang. Yang anda butuhkan hanya keyakinan….. Wallahu ‘alam.   

Seri menikmati Hidup 001

Seri menikmati Hidup 001
Menikmati Sakit

Oleh : Abdurrahman Misno Bambang Prawiro

Kehidupan manusia mirip roda yang berputar, terkadang bagian atas berada di bawah dan sebaliknya terkadang pula bagian bawah berada di atas. Manusiapun sama, kehidupan mereka senantiasa diliputi misteri takdir yang tidak ada satu orangpun mengetahuinya. Bisa jadi hari ini seseorang berada di puncak kekayaan, namun siapa sangka esok lusa ia menjadi orang yang termiskin di dunia. Hari ini seseorang hidup dengan penuh kesengsaraan, namun bisa jadi pekan depan ia bergelimang kekayaan. Saat ini kita sehat wal afiat, namun siapa sangka kita akan sehat selamanya, bisa jadi saat ini kita yang tampak sehat dari luar padahal di dalamnya berkumpul penyakit menular.
Sebagaimana roda, seseorang tentu pernah merasakan sehat dan juga pernah merasakan sakit. Keduanya adalah dua sisi mata uang dalam satu koin yang sama. Nikmatnya sehat adalah ketika kita sudah pernah merasakan sakit,, jika kita sehat terus, tentu tidak tahu bagaimana rasanya sakit. Hanya saja hal ini sangat mustahil, seluruh manusia bisa dipastikan pernah mengalami sakit. Baik sakit yang ringan ataupun sakit yang menahun, semuanya adalah sakit. Lantas bagaimana cara menyikapi sakit?
Bagi anda yang sering mengalami sakit, maka tulisan ini mengajak kita untuk menyikapi sakit secara bijak, tidak perlu menyesal dengan sakit yang kita derita. Tidak perlu berkeluh kesah bila bala’ menyapa dan tidak usah merasa sengsara karena derita yang melanda. Menikmati Sakit, itulah jawabannya. Bagaimana cara menikmatinya? Apakah dengan pasrah dan membiarkan penyakit itu menggerogoti raga? Atau menahan rasa sakit itu walau tersiksa?
Menikmati sakit adalah suatu proses dalam mendidik jiwa dan raga. Bukan sekadar menikmati, tapi juga menyibak misteri dalam rasa sakit ini. Ada beberapa langkah agar kita dapat menikmati sakit, diantaranya adalah :
1.Keyakinan total bahwa penyakit ini adalah takdirNya. Kelihatannya sepele, tapi sangat menentukan. Seseorang yang yakin bahwa sakit itu adalah takdirNya tidak akan pernah merasa itu sebagai musibah. Yakin dengan takdirNya berarti meyakini semua yang menimmpa kita ada hikmah di dalamnya.
2.Ambil sisi positif. Bila selama ini kita berfikir bahwa sakit ini menghambat aktifitas kita, maka mohon diperiksa kaca mata anda. Mengambil sisi positif dari sakit berarti melihat sakit dengan kaca mata positif. Jika selama ini kita memandang dengan kaca mata negative, bahwa sakit itu menyakitkan, menghambat pekerjaan, melemahkan badan, membuat makan tidak nyaman, tidur tidak tenang dan lain-lain. Maka rubahlah sudut pandangan anda dengan sesuatu yag positif. Sakit itu adalah anugerah, sakita itu adalah respon tubuh yang bermanfaat untuk mengistirahatkan badan, sakit itu membuat kita semakin dekat dengan anggota keluarga, sakit itu menambah perhatian pasangan dan keluarga kepada kita. Dan yang paling penting dari semua itu sakit akan semakin mendekatkan diri kepada Ar-Rahman (Allah ta’ala). Jika selama sehat kita sering lupa dengan Sang Pencipta, maka di kala sakit kita akan selalu ingat padaNya, mencoba untuk mendekatkan diri kepadaNya, menyerahkan semuanya kepada Allah ta’ala dan semakin yakin bahwa ada Dia di atas segalanya.
3.Allah sayang pada hambaNya. Seseorang yang sedang mengalami sakit sebenarnya ia sedang disayang oleh Allah ta’ala. Diberikannya rasa sakit adalah sebagai penebus atas segala kesalahannya. Maka semakin seseorang merasakan sakit semakin Allah ta’ala membebaskan segala bentuk kesalahan dan dosa-dosanya. Dengan sakit pula Allah berikan kesempatan kepada kita untuk menikmati kasih sayangnya. Kasih sayang dalam bentuk sakit, sakit yang hanya dirasakan oleh badan sementara ruh kita merasakan kenikmatan.      
Ketiga langkah tersebut hanya sebagai awal dari seni menikmati sakit. Secara teori memang mudah, namun dalam prakteknya sulit dilaksanakan. Barang kali ini benar, tapi menikmati sakit bukan sekali jadi. Ia memerlukan waktu dan latihan, bukan jadi begitu saja dengan instan,  apalagi jika sakit yang kita derita adalah sakit tahunan. menikmati sakit berarti memunculkan kesadaran, diperlukan adanya keyakinan total dalam merubah pola pikir kita.
Dari sekarang yakinlah bahwa sakit adalah nikmat, sakit adalah anugerah dan sakit adalah bukti kasih sayangNya. Dengan ini justru kita akan dapat menikmati sakit, jika kita terus berkeluh kesah dengan penyakit yang kita derita niscaya keluh kesah akan terus melanda. Namun jika kita pasrahkan semuanya, Sakit adalah takdirNya, sakit akan membuat kita semakin dekat denganNya sakit semakin menambah iman kita dan lain sebagainya maka kita akan lebih mudah untuk menikmati sakit yang kita rasa. Sudahkah anda menikmati sakit hari ini?   
Insya Allah pembahasan berikutnya :
Menikmati Musibah
Menikmati Fitnah
Menikmati Gundah
Menikmati Kematian
Menikmati Sakratul Maut
Menikmati Miskin
Menikmati Kaya
Menikmati Rumah Tangga
Menikmati Masa Muda
Menikmati Masa Remaja
Menikmati Kedewasaan
Menikmati Masa Tua




Siapa Sesat? Siapa Selamat? Galak Amat!

Siapa Sesat? Siapa Selamat? Galak Amat!
Oleh : Abdurrahman Misno 

Pendahuluan
إن الحمد لله نحمد ه و نستعنه و نستغفره و نعوذ بلله من شرور انفسنا  و من سيآت اعمآ لنا من يهده الله فلا مضل له و من يضلل فلاهادي أ شهد ان لا اله الا الله  وأ شهد ان محمد عبده و رسو له    أما بعد
Segala puji hanya milik Allah ta’ala yang tidak ada sekutu bagi-Nya, kami memuji-Nya, kami memohon pertolongan hanya kepada-Nya dan kami memohon ampunan kepada-Nya, kami berlindung dari kejelekan diri-diri kami serta kejelekan amal-amal kami, barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya dan barang siapa yang disesatkan oleh-Nya maka tidak ada satu orangpun yang dapat memberikan petunjuk.
Shalawat serta salam semoga tercurah kepada suri tauladan terbaik kita Nabi akhir zaman Muhammad Shalallahu ‘alahi wa salam, ahli baitnya, shahabatnya dan seluruh kaum mu’minin yang mengikuti sunnahnya sampai akhir zaman.
Amma ba’du.
Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad Shalallahu ‘alahi wa salam, sejelek-jelek perkara adalah sesuatu yang diada-adakan di dalam agama, karena setiap yang diada-adakan adalah muhdats (baru) dan setiap yang muhdats adalah sesat, serta setiap kesesatan tempatnya di neraka.
Syukur kepada Allah ta'ala selalu terpanjatkan atas segala limpahan rahmat, anugerah dan hidayahNya hingga detik ini kita masih bisa menikmati hidup dengan segala kenikmatanNya. Di antara kenikmatan yang tidak semua orang mendapatkannya adalah nikmat iman dan Islam, dengan kedua nikmat tersebut kita akan memiliki bekal untuk menjalankan tugas kehidupan.
Anugerah Islam adalah kenikmatan yang tidak bisa dibandingkan dengan apa pun, ia telah memisahkan antara seorang muslim dan kafir, antara calon penduduk surga dan neraka. Nikmat Islam telah menjadikan kita mulia di atas syariahNya :
فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ
Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. QS Al-An'am ayat 125. 
Namun anugerah Islam tersebut kini tengah diuji, kenapa? karena kondisi agama Islam saat ini telah terpecah belah dalam berbagai kelompok dan golongan, sebagian mereka bangga dengan kelompoknya masing-masing, selain itu mereka juga mengklaim bahwa kelompok merekalah yang paling benar. Hal ini tentu membuat kita bingung dengan banyaknya kelompok-kelompok Islam tersebut. 
Jika dahulu Islam hanya satu, yaitu Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alahi wa salam, kini ia telah terpecah menjadi berbagai firqah, kelompok, madzhab, sekte, jama'ah dan aliran-aliran kepercayaan. Walaupun dakwaan mereka mengikuti sunnah Nabi, namun kita harus berhati-hati. Bagaimana kita menyikapi hal ini? haruskah kita mengikuti salah satu dari kelompok tersebut, atau kita berlepas diri dari mereka semua?
Terpecah-belahnya umat Islam saat ini menjadikan kondisi umat labil dan terombang-ambing, ia ibarat buih di lautan yang terombang-ambing gelombang. Pada saat yang demikian umat Islam memerlukan adanya sebuah "kepastian" hukum dan penjelasan qath'i, sebenarnya kelompok mana yang sesat dan seperti apa kelompok yang selamat?
Pengakuan bahwa sebuah kelompok adalah benar dan tidak sesat memerlukan adanya bukti-bukti, demikian pula sebuah kelompok dikatakan sesat jika ada bukti-bukti yang mendukungnya. Dengan bukti inilah kita dapat membedakan siapa yang sesat dan siapa yang selamat.
Buku ini bukan untuk menjustifikasi suatu kelompok tertentu sesat atau selamat, terutama kelompok-kelompok (jama'ah) dakwah yang ada di masyarakat kita, ia hanya memberikan panduan bagaimana sebuah kelompok bisa dikatakan sesat dan sebuah kelompok bisa dikatakan selamat, baik secara keseluruhan atau bagian-bagiannya saja. 
Bisa jadi kelompok-kelompok Islam yang ada saat ini tidaklah sesat secara  keseluruhan, mungkin hanya hasil-hasil dari pemikiran mereka yang cenderung mengarah kepada satu paham tertentu. Atau bisa jadi subhat-subhat yang telah dihembuskan oleh musuh-musuh Islam sehingga suatu kelompok termakan oleh subhat tersebut. Selain itu adanya kepentingan duniawi juga seringkali mempengaruhi pola pikir dan keputusan-keputusan suatu kelompok.
Karena itu kita tidak bisa mengatakan bahwa suatu kelompok itu sesat atau selamat tanpa adanya penegakkan hujjah atas mereka.
Pada dasarnya semua kelompok dalam Islam bertujuan untuk sebuah kebaikan, hanya saja niat dan tujuan yang baik tidak bisa dibenarkan jika dilakukan dengan jalan yang tidak tepat. Seseorang yang terpaksa mencuri hanya untuk memberi makan keluarganya tetaplah seorang pencuri yang dianggap bersalah di depan hukum, demikian pula suatu kelompok dakwah yang meyakini atau menjalankan suatu amalan yang tidak disyariatkan oleh Islam maka tetaplah hal itu tidak benarkan oleh Allah ta'ala, dan dapat divonis bahwa amalan tersebut adalah sesat.
Pentingnya pemahaman mengenai kelompok mana yang sesat dan kelompok mana yang selamat didasarkan pada pemahaman bahwa pada bidang-bidang hukum, fiqh dan dalam menghadapi realita sosial bisa jadi mereka berbeda pendapat. Sebagai contoh ada dua orang yang shalat tarawih, yang satu shalat sebelas raka'at, sementara yang lainnya shalat dua puluh tiga rakaat, mana yang salah? jawabannya adalah keduanya benar dan tidak ada yang salah. Karena ini bukanlah perpecahan, ia hanya perbedaan pendapat yang dimaafkan oleh Islam. Intinya adalah pada masalah-masalah fiqh maka di sana diperbolehkan untuk berbeda pendapa.
Adapun dalam masalah aqidah (ushuluddin) maka tidak boleh adanya perbedaan pendapat padanya. Seseorang yang menyatakan bahwa Allah itu ada dua, atau Allah itu mempunyai anak, jelas orang dan kelompok yang menyatakan demikian itu telah sesat. Demikian juga jika ada seseorang yang mengaku sebagai nabi setelah Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam atau Imam Mahdi, maka dapat dipastikan bahwa dia telah sesat. Dalam masalah aqidah atau tauhid inilah seseorang harus dikatakan sesat atau selamat, ia sebagai timbangan untuk memvonis setiap kelompok Islam yang menyimpang dari aqidah Islam.
Dari sini kita dapat simpulkan bahwa sesat atau selamatnya suatu kelompok sangat dipengaruhi oleh keyakinan dan aqidahnya, jika aqidahnya selamat maka mereka bukan orang sesat, namun jika aqidahnya sesat maka mereka adalah  kelompok sesat. 
Kemunculan berbagai kelompok Islam yang ada saat ini adalah fenomena yang telah diprediksi oleh Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam sebagaimana sabdanya :
افْتَرَقَتْ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَتَفَرَّقَتْ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً
Orang Yahudi telah berpecah belah menjadi tujuh puluh satu kelompok dan Nashrani telah berpecah belah menjadi tujuh puluh dua kelompok dan umatku akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga kelompok. HR Abu Dawud.
Prediksi Nabi Muhammad Shalallahu ‘alahi wa salam bukan berarti beliau ridha dengan adanya kelompok-kelompok tersebut, justru dalam riwayat yang lain beliau memberikan solusinya :
إن بني إسرائيل افترقوا على إحدى وسبعين ملة ، وتفترق أمتي على ثلاث وسبعين ملة كلها في النار إلا ملة واحدة » فقيل له : ما الواحدة ؟ قال : « ما أنا عليه اليوم وأصحابي
Sesungguhnya Bani Israil telah terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan, dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya di neraka kecuali satu kelompok. Maka ditanyakan pada beliau, "Siapakah yang satu itu?". Beliau menjawab "Kelompok yang aku dan para shahabatku berada di atasnya". HR Thirmidzi dan Al-Hakim. 
Maksud hadits ini adalah bahwa kelompok yang selamat tersebut adalah mereka yang berislam sesuai dengan yang dilaksanakan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alahi wa salam dan para shahabatnya. Ini adalah jalan keluar dari perpecahan yang ada.
Namun lagi-lagi setiap kelompok juga mendakwahkan diri bahwa mereka adalah pengikut Nabi dan para shahabatnya. Mereka mengatakan bahwa kami adalah pembela keluarga Nabi Muhammad Shalallahu ‘alahi wa salam, sebagian lagi mengatakan kami adalah orang-orang yang konsisten dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Inilah masalah rumit yang harus kita selesaikan bersama. Siapa yang sesat dan siapa yang selamat? Silahkan membaca buku ini. 


Tuliskan Apa yang Anda Ucapkan

Tuliskan Apa yang Anda Ucapkan
Oleh : Abu Aisyah

Sulit menulis? Tidak tahu apa yang harus dituliskan? Bingung apa yang akan menjadi tema tulisan? Semua itu sering sekali menghinggapi para penulis pemula. Kenapa hal ini terjadi? Bisa jadi kurang pengalaman, atau kurang wawasan dan seringkali tidak memahami tema yang bersliweran di di berbagai kesempatan.
Sepertinya alasan terakhir yang banyak menjadi alasan ketika seorang penulis bingung akan menuliskan apa. Sebenarnya mudah saja, “Tuliskan Apa Yang Anda Ucapkan” artinya setiap ucapan anda yang bernilai tulisan maka segeralah menuliskannya. Apa yang menjadi materi pembicaraan anda dengan teman, keluarga, atasan, teman sejawat atau bawahan silahkan tulisakan pembiacaraan tersebut. Atau ketika ngobrol dengan pasangan di rumah, sedang berada di jalan, di kantor, di sekolahan dan obrolan-obrolan yang terjadi di setiap tempat adalah bahan-bahan tulisan yang setiap hari kita dapatkan.
Tidak usah harus menunggu suasana khidmat, mencari tempat yang tenang atau menunggu datangnya ilham. Tuliskan materi obrolan kita, jika kita seorang penceramah jadikan bahan ceramah tersebut menjadi tulisan. Jika kita seorang guru, jadikan bahan mengajar sebagai tulisan. Jika kita. Jika kita seorang pelajar, jadikan materi guru atau dosen bahan tulisan kita. Jika kita ibu rumah tangga jadikan apa yang kita rasakan sehari-hari menjadi bahan tulisan kita. Mudah bukan?
Intinya adalah apa yang kita ucapkan tulisakanlah, selagi ucapan-ucapan kita baik dan sesuai dengan Islam maka tidak ada alasan untuk tidak menuliskannya. Saya sendiri materi-materi khutbah jumat yang selalu saya tuliskan dan menjadi buku kumpulan khutbah jum’at. Demikian pula isi-isi pengajian yang saya sampaikan. Bahkan bahan-bahan perkuliahan juga saya kumpulkan menjadi sebuah kumpulan karangan.
Maka jika anda masih bingung dengan materi tulisan? Tuliskan saja apa yang adan ucapkan…. Mudah bukan? Wallahu a’lam.   

Gaul Syar'i

on Selasa, 25 Januari 2011
 Gaul Syar'i
Oleh Ananda Muhammad


Gaul kata yang begitu populer di kalangan remaja tapi sayang istilah ini cenderung berkonotasi negatif padahal kalau kita mau mengembalikan kata ini pada asalnya maka dia  bermakna netral, terus gimana cara kita biar tetap gaul tapi sesuai dengan syari'at Islam. Kamu baca aja tulisan ini moga-moga bermanfaat.
يَأَ يُّهَا النَّاس إٍنَّاخَلَقْنَكُم مٍّن ذَكَرٍٍ وَاُنثَى وَجَعَلْنَكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوآ. {الحجرات:13}
"Wahai manusia sesungguhnya kamitelah menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal."(Qs: Al Hujurat 13)
Sabda Nabi:
وَخَالِقٍ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. {رواه الترمذى}
"Dan pergaulilah manusia dengan akhlaq yang baik." (Diriwayatkan oleh Tirmidzi)
Gaul syar'i sebuah kalimat yang sepertinya sangat bertentangan, bayangin aja gaul yang bermakna hura-hura dengan syar'i yang bermakna sebuah aturan hidup dan tuntunan bagi manusia,  Apa lagi kalau kita lihat dari kenyataan sehari-hari, dimana yang namanya anak gaul pasti deh anak lakinya pakai anting-lah pakaiannya setengah robek, belum lagi perempuannya sudah dapat dipastikan yang namanya perempuan gaul ya...ga pakai jilbab, kalau pakai jilbab mah bukan gaul, itu namanya gaung alias anak gunung, ada juga sih perempuan yang pakai jilbab tapi ya.. itu jilbabnya model JG or Jilbab Gaul, nah  ... buat kamu yang "aktivis rohis" mungkin tidak asing lagi dengan kalimat gaul syar'i ini. Lalu seperti apa sih sebenarnya gaul syar'i itu? Soalnya jaman sekarang sedikit saja kita menjauh dari teman-teman, ada aja yang bilang ga' gaul lah! Exklusif banget! atau ucapan-ucapan lain yang kaga' enak didenger, emang sih kalau kamu tebal kuping juga sebenarnya ga masalah tapikan kalau tiap hari ya panas juga lagi, karena itu kamu harus tahu bagaimana pandangan  Islam tentang gaul ini, so... kamu ikutin aja pembahasan ini, santai aja jangan terlalu serius soalnya kalau terlalu serius kamu nanti dikira lagi baca ceramah lagi.

Apaan sih gaul itu?
Gaul sendiri adalah proses hubungan seseorang dengan orang lain atau masyarakat di sekitarnya, jadi ketika kamu berinteraksi dengan orang-orang disekitarmu itu namanya kamu sedang bergaul, gaul sendiri tidak dibatasi oleh sekelompok atau satu strata sosial, jadi ketika kamu berinteraksi dengan guru atau ustadz berarti kamu juga sedang bergaul lho.Nah kalau begini artinya, pasti dong Islam sudah mengatur dan memerintahkannya, hadits di atas adalah salah satu buktinya, terus kalau syar'i itu insya Allah  kamu (antum ) sudah tahu kan, yap...syar'i adalah segala sesuatu yang dibuat oleh Allah ta'ala untuk para hambanya. Nah dari sini kita sudah tahu kan kalau yang namanya gaul syar'i adalah bergaul dengan manusia dengan berlandaskan kepada syari'at.

Begini seharusnya gaul syar'i

Gimana caranya buat remaja yang ingin gaul tapi tetap syar'i. Ya ... jelas yang pertama kudu kamu punya ilmu tentang syari'at Islam.
Allah berfirman:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لآإِلَهَ إِلآَّ اللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَ نبِكَ. {محمد:19}

"Maka ketahuilah bahwasanya tidak ada Tuhan (yang Haq) kecuali Allah dan mintalah ampun atas dosamu." (Qs: Muhammad 19)
dengan bekal inilah kamu bisa bergaul dengan masyarakat.
Dalam menghadapi gaul ini kaya' nya kita bisa membagi remaja dalam dua tipe:
1.Remaja yang ngerasa diri 'alim
2.Remaja yang ngerasa diri lalim (banyak dosa)
Kalau kamu tipe yang mana? Moga-moga sih bukan termasuk dua-duanya soalnya kedua-duanya yang baik sama, nah ini penjelasannya:
1.Remaja yang merasa 'alim, ini biasanya remaja yang terlalu Ekslusif sehingga kalau ngomongi gaul biasanya ngerti innya yang negatif melulu, belum lagi perasaannya yang selalu berpikir bahwa kalau aku bergaul bisa-bisa aku ketularan hal-hal yang negatif biasanya remaja kaya' gini punya ilmu syari'at tapi kurang tepat dalam menerapkannya, sehingga ya kaya' tadi kalau dia mau bergaul bawa annya takut saja, takut ketularanlah, takut menyalahi syari'at de el el, padahal sih ga' jelek-jelek amat kalau dia mau gaul, soalnya masyarakat juga perlu lho untuk di warnai oleh remaja kaya' gini. Nah kalau kamu termasuk tipe ini, bagusnya sih rubah imej kamu bahwa gaul itu selalu bersifat negatif, soalnya dengan gaul ini kamu juga menyampaikan Al haq kepada teman-teman kita (da'wah) terus juga kamu bisa ngasih tahu tentang keyakinan yang kamu miliki dan ini bisa mengubah imej tentang Islam yang terkesan negatif di kalangan umat. Jadi setuju kan kalau gaul itu harus! Kalau ngga setuju saya tunggu sampai setuju.
2.Yang kedua adalah Remaja yang merasa lalim (berdosa), remaja kaya' gini biasanya emang gaul abis, pokoknya tiada hari tanpa kata gaul, cuman kekurangannya, dia ngga mau gaul sama orang-orang yang sholeh, alasannya ya ... tadi remaja kaya' gini biasanya ngerasa banyak dosa, makanya kalau dia diajak gaul syar'i, dia bilang "aku begini orangnya udah banyak dosa, jadi ga pantas kalau aku bergaul dengan mereka (orang-orang yang sholeh). Ini memang alasan mereka, tapi logis lho ......, Nah remaja tipe ini harusnya banyak bergaul dengan syari'ah dan para ahlinya (ulama/ustadz). Soalnya biasanya dia memang masih kurang bekal Ilmunya, jadi kalau udah merasa berdosa sudah tidak mau lagi deh hal-hal yang berbau Agama, remaja tipe ini sebenarnya juga ladang da'wah lho ... bisa jadi mereka memang ngga tahu Agamanya, atau merasa bahwa dia banyak dosa, jadi tidak pantas dengan Agama.
Nah dua tipe remaja di atas mudah-mudahan bisa mewakili Realitas (kenyata'an) yang ada di masyarakat, bahwa memang yang namanya gaul syar'i itu ga' semuanya negatif, jadi buat kamu yang rada-rada alergi dengan kata-kata gaul kaya' nya perlu ditinjau kembali. Apa lagi ketika gaul ini di hubungkan dengan penyampaian kebenaran atau juga ingin memberikan informasi yang positif tentang Islam bisa-bisa gaul itu kudu wajib.
Terus gimana kelanjutan dari gaul syar'i, bagaimana sih sikap sebagai remaja, gaul tapi tetap syar'i. Dua contoh tipe remaja di atas kayaknya bukan contoh yang baik. Karena yang satu mungkin berlebihan dalam bergaul sampai-sampai salah gaul dan yang kedua terlalu menahan diri dari bergaul sehingga terkesan kuper alias kurang pergaulan, nah dari dua tipe ini kayaknya yang bagus adalah tengah-tengah di antara keduanya yaitu tetap bergaul dengan masyarakat, sabar terhadap gangguan, dan memberikan "warna" kepada mereka.
"Sesungguhnya kamu bergaul dengan masyarakat dan sabar terhadap gangguannya itu lebih baik bagimu." (Diriwayatkan oleh

Bekal gaul syar'i
sebelum kamu bergaul tentunya harus punya bekal dulu, bekalnya ya ... Ilmu, ketika kamu sudah mempunyai Ilmu yang benar maka jangan di simpan tu Ilmu, amalkan dan sampaikan (tularkan) keorang-orang di sekitarmu, caranya ya dengan gaul kepada mereka. Cuman jangan lupa ketika kamu hendak mempergauli manusia luruskan niat dulu, karena Allah (lillah), kalau dari pertama niat kita sudah ngga bener, ya gaul kita juga ga bener, dan kalau sudah bergaul jangan lupa rambu-rambunya, jangan sampai bela-bela in gaul, malah salah gaul, yang ideal sih dengan bergaul kamu bisa tambah bersyukur, dalam arti bisa tahu dunia luar dan tidak selalu bersikap egois, dan tidak mau sharing/berbagi dengan orang lain.

Jangan salah gaul!
Nah ... udah tahu kan kalau gaul syar'i itu ada juga nilai positifnya, yang terpenting adalah ketika kita ingin bergaul dengan masyarakat, kita mampu untuk membawa diri, sehingga kita seperti ikan di lautan, walaupun lingkungan di sekitarnya asin tapi ikan tersebut tidak ikut asin, begitu juga kita ketika bergaul dengan masyarakat, tapi kita tidak ikut larut dengan kesalahan-kesalahan mereka. Karena bisa jadi ketika kita tidak bergaul dengan mereka, maka akan timbul kesan Eksklusif dan menutup diri, dari sini akan tumbuh imej atau gambaran bahwa Islam tertutup. Belum lagi jika ada isu-isu negatif, langsung deh cap-cap yang banyak nempel dah .... Teroris lah, Funda mentalis lah .... Ekstrimis de el el. Hal ini bisa jadi karena informasi yang sampai kepada masyarakat kita memang salah, dan ini tugas kita, yang remaja juga ketika bergaul dengan teman supaya harus bisa membawa misi Islam ini. Jangan gaul Cuma dunia aja yang di omongin, ngga bakalan ada habisnya.
Karena itu dari sekarang gaul deh ..... tapi yang syar'i. Bergaul dengan masyarakat dan tetap berpegang teguh pada syari'at, setuju khan.Gaul kata yang begitu populer di kalangan remaja tapi sayang istilah ini cenderung berkonotasi negatif padahal kalau kita mau mengembalikan kata ini pada asalnya maka dia  bermakna netral, terus gimana cara kita biar tetap gaul tapi sesuai dengan syari'at Islam. Kamu baca aja tulisan ini moga-moga bermanfaat.
يَأَ يُّهَا النَّاس إٍنَّاخَلَقْنَكُم مٍّن ذَكَرٍٍ وَاُنثَى وَجَعَلْنَكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوآ. {الحجرات:13}
"Wahai manusia sesungguhnya kamitelah menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal."(Qs: Al Hujurat 13)
Sabda Nabi:
وَخَالِقٍ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. {رواه الترمذى}
"Dan pergaulilah manusia dengan akhlaq yang baik." (Diriwayatkan oleh Tirmidzi)
Gaul syar'i sebuah kalimat yang sepertinya sangat bertentangan, bayangin aja gaul yang bermakna hura-hura dengan syar'i yang bermakna sebuah aturan hidup dan tuntunan bagi manusia,  Apa lagi kalau kita lihat dari kenyataan sehari-hari, dimana yang namanya anak gaul pasti deh anak lakinya pakai anting-lah pakaiannya setengah robek, belum lagi perempuannya sudah dapat dipastikan yang namanya perempuan gaul ya...ga pakai jilbab, kalau pakai jilbab mah bukan gaul, itu namanya gaung alias anak gunung, ada juga sih perempuan yang pakai jilbab tapi ya.. itu jilbabnya model JG or Jilbab Gaul, nah  ... buat kamu yang "aktivis rohis" mungkin tidak asing lagi dengan kalimat gaul syar'i ini. Lalu seperti apa sih sebenarnya gaul syar'i itu? Soalnya jaman sekarang sedikit saja kita menjauh dari teman-teman, ada aja yang bilang ga' gaul lah! Exklusif banget! atau ucapan-ucapan lain yang kaga' enak didenger, emang sih kalau kamu tebal kuping juga sebenarnya ga masalah tapikan kalau tiap hari ya panas juga lagi, karena itu kamu harus tahu bagaimana pandangan  Islam tentang gaul ini, so... kamu ikutin aja pembahasan ini, santai aja jangan terlalu serius soalnya kalau terlalu serius kamu nanti dikira lagi baca ceramah lagi.

Apaan sih gaul itu?
Gaul sendiri adalah proses hubungan seseorang dengan orang lain atau masyarakat di sekitarnya, jadi ketika kamu berinteraksi dengan orang-orang disekitarmu itu namanya kamu sedang bergaul, gaul sendiri tidak dibatasi oleh sekelompok atau satu strata sosial, jadi ketika kamu berinteraksi dengan guru atau ustadz berarti kamu juga sedang bergaul lho.Nah kalau begini artinya, pasti dong Islam sudah mengatur dan memerintahkannya, hadits di atas adalah salah satu buktinya, terus kalau syar'i itu insya Allah  kamu (antum ) sudah tahu kan, yap...syar'i adalah segala sesuatu yang dibuat oleh Allah ta'ala untuk para hambanya. Nah dari sini kita sudah tahu kan kalau yang namanya gaul syar'i adalah bergaul dengan manusia dengan berlandaskan kepada syari'at.

Begini seharusnya gaul syar'i
Gimana caranya buat remaja yang ingin gaul tapi tetap syar'i. Ya ... jelas yang pertama kudu kamu punya ilmu tentang syari'at Islam.
Allah berfirman:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لآإِلَهَ إِلآَّ اللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَ نبِكَ. {محمد:19}
"Maka ketahuilah bahwasanya tidak ada Tuhan (yang Haq) kecuali Allah dan mintalah ampun atas dosamu." (Qs: Muhammad 19)
dengan bekal inilah kamu bisa bergaul dengan masyarakat.
Dalam menghadapi gaul ini kaya' nya kita bisa membagi remaja dalam dua tipe:
1.Remaja yang ngerasa diri 'alim
2.Remaja yang ngerasa diri lalim (banyak dosa)
Kalau kamu tipe yang mana? Moga-moga sih bukan termasuk dua-duanya soalnya kedua-duanya yang baik sama, nah ini penjelasannya:
1.Remaja yang merasa 'alim, ini biasanya remaja yang terlalu Ekslusif sehingga kalau ngomongi gaul biasanya ngerti innya yang negatif melulu, belum lagi perasaannya yang selalu berpikir bahwa kalau aku bergaul bisa-bisa aku ketularan hal-hal yang negatif biasanya remaja kaya' gini punya ilmu syari'at tapi kurang tepat dalam menerapkannya, sehingga ya kaya' tadi kalau dia mau bergaul bawa annya takut saja, takut ketularanlah, takut menyalahi syari'at de el el, padahal sih ga' jelek-jelek amat kalau dia mau gaul, soalnya masyarakat juga perlu lho untuk di warnai oleh remaja kaya' gini. Nah kalau kamu termasuk tipe ini, bagusnya sih rubah imej kamu bahwa gaul itu selalu bersifat negatif, soalnya dengan gaul ini kamu juga menyampaikan Al haq kepada teman-teman kita (da'wah) terus juga kamu bisa ngasih tahu tentang keyakinan yang kamu miliki dan ini bisa mengubah imej tentang Islam yang terkesan negatif di kalangan umat. Jadi setuju kan kalau gaul itu harus! Kalau ngga setuju saya tunggu sampai setuju.
2.Yang kedua adalah Remaja yang merasa lalim (berdosa), remaja kaya' gini biasanya emang gaul abis, pokoknya tiada hari tanpa kata gaul, cuman kekurangannya, dia ngga mau gaul sama orang-orang yang sholeh, alasannya ya ... tadi remaja kaya' gini biasanya ngerasa banyak dosa, makanya kalau dia diajak gaul syar'i, dia bilang "aku begini orangnya udah banyak dosa, jadi ga pantas kalau aku bergaul dengan mereka (orang-orang yang sholeh). Ini memang alasan mereka, tapi logis lho ......, Nah remaja tipe ini harusnya banyak bergaul dengan syari'ah dan para ahlinya (ulama/ustadz). Soalnya biasanya dia memang masih kurang bekal Ilmunya, jadi kalau udah merasa berdosa sudah tidak mau lagi deh hal-hal yang berbau Agama, remaja tipe ini sebenarnya juga ladang da'wah lho ... bisa jadi mereka memang ngga tahu Agamanya, atau merasa bahwa dia banyak dosa, jadi tidak pantas dengan Agama.
Nah dua tipe remaja di atas mudah-mudahan bisa mewakili Realitas (kenyata'an) yang ada di masyarakat, bahwa memang yang namanya gaul syar'i itu ga' semuanya negatif, jadi buat kamu yang rada-rada alergi dengan kata-kata gaul kaya' nya perlu ditinjau kembali. Apa lagi ketika gaul ini di hubungkan dengan penyampaian kebenaran atau juga ingin memberikan informasi yang positif tentang Islam bisa-bisa gaul itu kudu wajib.
Terus gimana kelanjutan dari gaul syar'i, bagaimana sih sikap sebagai remaja, gaul tapi tetap syar'i. Dua contoh tipe remaja di atas kayaknya bukan contoh yang baik. Karena yang satu mungkin berlebihan dalam bergaul sampai-sampai salah gaul dan yang kedua terlalu menahan diri dari bergaul sehingga terkesan kuper alias kurang pergaulan, nah dari dua tipe ini kayaknya yang bagus adalah tengah-tengah di antara keduanya yaitu tetap bergaul dengan masyarakat, sabar terhadap gangguan, dan memberikan "warna" kepada mereka.
"Sesungguhnya kamu bergaul dengan masyarakat dan sabar terhadap gangguannya itu lebih baik bagimu."
 
Bekal gaul syar'i
Sebelum kamu bergaul tentunya harus punya bekal dulu, bekalnya ya ... Ilmu, ketika kamu sudah mempunyai Ilmu yang benar maka jangan di simpan tu Ilmu, amalkan dan sampaikan (tularkan) keorang-orang di sekitarmu, caranya ya dengan gaul kepada mereka. Cuman jangan lupa ketika kamu hendak mempergauli manusia luruskan niat dulu, karena Allah (lillah), kalau dari pertama niat kita sudah ngga bener, ya gaul kita juga ga bener, dan kalau sudah bergaul jangan lupa rambu-rambunya, jangan sampai bela-bela in gaul, malah salah gaul, yang ideal sih dengan bergaul kamu bisa tambah bersyukur, dalam arti bisa tahu dunia luar dan tidak selalu bersikap egois, dan tidak mau sharing/berbagi dengan orang lain.

Jangan salah gaul!

Nah ... udah tahu kan kalau gaul syar'i itu ada juga nilai positifnya, yang terpenting adalah ketika kita ingin bergaul dengan masyarakat, kita mampu untuk membawa diri, sehingga kita seperti ikan di lautan, walaupun lingkungan di sekitarnya asin tapi ikan tersebut tidak ikut asin, begitu juga kita ketika bergaul dengan masyarakat, tapi kita tidak ikut larut dengan kesalahan-kesalahan mereka. Karena bisa jadi ketika kita tidak bergaul dengan mereka, maka akan timbul kesan Eksklusif dan menutup diri, dari sini akan tumbuh imej atau gambaran bahwa Islam tertutup. Belum lagi jika ada isu-isu negatif, langsung deh cap-cap yang banyak nempel dah .... Teroris lah, Funda mentalis lah .... Ekstrimis de el el. Hal ini bisa jadi karena informasi yang sampai kepada masyarakat kita memang salah, dan ini tugas kita, yang remaja juga ketika bergaul dengan teman supaya harus bisa membawa misi Islam ini. Jangan gaul Cuma dunia aja yang diomongin, ngga bakalan ada habisnya.
Karena itu dari sekarang gaul deh ..... tapi yang syar'i. Bergaul dengan masyarakat dan tetap berpegang teguh pada syari'at, setuju khan?

Tulisan yang Mencerahkan
Oleh Abu Aisyah



Apa yang mendorong anda untuk membuat sebuah tulisan? Sekadar hoby? Menyalurkan bakat? Ideologi? Atau mencari keuntungan? Apapun tujuan anda secara pribadi sah-sah saja. Namun tujuan yang akan kita capai biasanya akan mempengaruhi kualitas tulisan kita. Sebagai contoh para penulis yang hanya mengejar keuntungan materi cenderung tidak alagi memperhatikan apa yang ia tuliskan. Selama tulisan itu menghasilkan uang maka akan ia lakukan. Demikian pula jika menulis karena hobi  atau kesukaan, bisa jadi ia akan menuliskan semua hal yang ia saksikan. Baik itu masalah-masalah keseharian atau hal-ha yang bisa jadi mengarah kepada kemesuman, ghibah, membuka aib orang lain dan lain sebagainya. Jika menulis hanya dengan menyalurkan bakat maka bisa jadi ia akan menuliskan hal-hal yang menjadi kesukaannya. Bisa jadi hanya karena hobi kualitas tulisnnya tidak beranjak kepada hal-hal yang dapat mencerahkan. Sedangkan jika menulis karena alasan ideologi, seringkali tidak melihat kualitas dari yang dilihat oleh pembacanya. Sebuah tulisan menurut ideologinya adalah berkualitas padahal secara keilmuan adalah sampah.
Lantas bagaimana cara menghasilkan tulisan yang mencerahkan? Sebuah tulisan akan memiliki sebuah kualitas yang dapat bermanfaat bagi umat manusia ketika tulisan tersebut memberikan sebuah jalan keluar bagi permasalahan yang dihadapi oleh manusia. Ketika banyak terjadi pengangguran maka tulisan yang mencerahkan adalah yang berkaitan dengan bagaimana cara memperoleh pekerjaan, atau bagaimana cara berwira usaha. Tulisan-tulisan tersebut menjadi solusi bagi masyarakat sesuai dengan kondisinya masing-masing.
Selain memberikan solusi, tulisan yang mencerahkan juga memiliki karakter meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Entah itu yang sifatnya fisik maupun spiritual. Ia meningkatkan pengetahuan manusia tentang suatu pengetahuan secara lebih mendalam. Sebagai contoh ketika orang-orang memasuki bulan ramadhan mereka akan cenderung mencari buku-buku panduan untuk mengisi hari-hari mereka di bulan Ramadhan, kreasi menuliskan buku panduan selama Ramadhan adalah sebuah usaha yang dapat mencerahkan.
Tulisan yang mencerahkan adalah tulisan yang tidak mengandung hal-hal yang dapat menjerumuskan manusia ke jurang kesia-sian, kemaksiatan dan kemusyrikan. Ia bahkan menentang segala bentuk pembangkangan kepada Ar-Rahman.  Di era kebebasan seperti ini orang-orang yang hanya menginginkan keuntungan duniawi akan cenderung menuliskan semua hal tanpa melihat apakah tulisan tersebut dapat mencerahkan atau tidak.  Maka kita saksiakan tulisan-tulisan yang penuh dengan kesia-sian, kemaksiatan bahkan tulisan-tulisan yang mengarahkan manusia kepada kekufuran.
Jika anda ingin menjadi seorang penulis, maka jadilah penulis yang memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dengan menghasilkan tulisan-tulisan yang mencerahkan. Wallohua'lam.
       



Kerangka Karangan dalam Tulisan

Kerangka Karangan dalam Tulisan
Oleh : Abdurrahman M


Sebuah ide atau gagasan dalam sebuah penulisan adalah cikal bakal sebuah tulisan. Walaupun awalnya hanya sebuah gagasan, namun sejatinya ia merupakan bagian-bagian dari sebuah kerangka tulisan. Maka sekalipun seorang penulis merasa tidak membuat sebuah kerangka karangan, sebenarnya secara tidak langsung dia juga telah membuatnya, yaitu ketika ide atau gagasan itu telah muncul dalam pikirannya.
Bagi para penulis pemula sepertinya kerangka karangan adalah sebuah keharusan. Kerangka karangan adalah sebuah pedoman akan ke mana tulisan itu diarahkan. Ia mencakup beberapa hal berikut ini :
1.Pemilihan tema
2.Apa tujuan tulisan
3.Ruang lingkup tulisan
4.Kronologi tulisan
5.Kelogisan tulisan
Dalam sebuah tulisan non fiksi kerangka tulisan juga menjadi sebuah keharusan, apalagi tulisan yang bersifat ilmiah. Ia harus didasarkan pada logika dan nalar yang sistematis. Sebeneranya sistematisnya sebuah tulisan tidak hanya pada sebuah karangan ilmiah, setiap tulisan non fiksi seharusnya dibuat secara runtut dan sistematis.
Lalu bagaimana cara membuat sebuah karangan tulisan? Jawabannya mudah saja, setelah kita menemukan ide dan tema tulisan selanjutnya kita akan tetapkan apa kira-kira yang menjadi tujuan dari tulisan tersebut. Sebagai contoh buku saya yang berjudul “Sangkan Paraning Dumadi : Menyibak Makna Kehidupan Manusia” ide utama dari buku ini adalah bagaimana perjalanan manusia di dunia ini. Maka dengan tema utama ini saya tentukan tujuannya yaitu agar manusia mengetahui atau kembali mengingat hakikat kehidupannya. Dimulai dari ia dilahrikan, hidup di dunia dan akan kembali ke akhirat sana.  Dengan tujuan ini maka saya tentukan ruang lingkup tulisan yang merupakan tulisan ilmiah popular dengan pendekatan tazkiyatun nufus.
Berpedoman dengan tema, tujuan dan ruang lingkup tersebut maka saya menggunakan kronologi penulisan, yaitu dari mulai seorang manusia lahir ke dunia bagaimana proses kelahirannya, kemudian bagaimana tugasnya di dunia ini dan akan ke mana manusia setelah kehidupan dunia ini berakhir. Secara runut kerangka tulisannya adalah sebagai berikut :
1.Pendahuluan
2.Awal sebuah kehidupan
3.Asal-usul manusia
4.Kita sebelumnya tidak ada
5.Alam arwah penuh berkah
6.Alam rahim penuh Rahim
7.Alam dunia penuh bala
8.Alam kubur tanpa kabur
9.Akhirat : Awal nikmat atau laknat?
10.Neraka : Negeri duka pendurhaka
11.Surga : Itulah dambaan kita
12.Melihat Allah : Masya Allah
13.Penutup
         Sistematika kerangka karangan yang saya gunakan menggunakan kronologi sesuai dengan urutan kejadian. Hal ini untuk memudahkan pembaca memahami dari awal sampai akhir tentang hakikat kehidupan ini. Sistematika yang runut seperti ini juga akan memudahkan pembaca untuk melakukan pembacaan cepat.
Maka selain keharusan adanya kerangka tulisan, seorang penulis hendaknya juga memperhatikan logika pembaca, apalagi jika tulisan tersebut adalah tulisan non fiksi. Sebenarnya pada penulisan fiksi juga diperlukan logika yang runut, hanya pada beberapa jenis tulisan yang logika kronologi sering diputarbalikkan.
Selain penggunakan kronologi waktu, kerangka tulisan juga dapat disusun sesuai dengan sistematika penulisan ilmu-ilmu tertentu. Misalnya jika ruang lingkup tulisan kita adalah tentang tafsir, maka kerangka penulisannya juga didasarkan pada rumpun ilmu tersebut. 
Apakah bisa menulis tanpa adanya kerangka? Pada beberapa tulisan bisa saja, semisal dalam penulisan cerpen tidak diperlukan adanya kerangka. Namun lagi-lagi tidak adanya kerangka bukan tidak ada sama sekali, biasanya kerangka tulisannya akan menjadi satu dengan ide dan gagasan tersebut.  Jika tulisan hanya berupa artikel atau feature  makakerangka tulisan tidak perlu dituliskan. Namun pada buku-buku dan tulisan panjang kerangka tulisan adalah sebuah keharusan. Walaupun dalam prakteknya terkadang penulis tidak menuliskannya. Karena  sekali lagi kerangka tulisan adalah sebagai pedoman saja, sehingga jika kita sedang menulis kemudian keluar dari kerangka tulisan maka tidaklah masalah, selama tujuan dari tulisan tersebut dapat dicapai.  

Menjadi Sang Pencerah dengan Tulisan

Menjadi Sang Pencerah dengan Tulisan
Oleh : AM Bambang Prawiro


Tidak ada manusia yang mulia kecuali dengan ketakwaannya. Ketakwaan sendiri adalah sebuah rangkaian dari manifestasi keimanan yang teraplikasikan dalam setiap tingkah laku dan perbuatan.  Ini berarti manusia yang mulia adalah mereka yang memiliki amal perbuatan yang dapat dirasakan oleh orang lain. Dengan memberikan manfaat untuk orang lain berarti ia telah memberikan sebuah pencerahan, sebuah pencerahan yang membawa manusia dari kegelapan dan ketidaktahuan kepada terang dengan penuh pemahaman.
Memberikan pencerahan kepada orang lain dapat dilakukan dengan banyak amalan, dengan memberikan bimbingan, berceramah, mengajar, khutbah dan dengan tulisan. Jika mengajar dan berceramah pencerahan yang diberikan hanya kepada orang yang hadir saja, maka pencerahan dengan tulisan akan melintasi berbagai batasan-batasan tersebut. Ia tidak lagi terbatas pada komunitas tertentu melainkan terus-menerus dapat dirasakan oleh siapa saja yang membacanya. Ia juga tidak terbatas oleh waktu, selama tulisan itu masih ada dan dapat dibaca maka pencerahan yang didapatkan akan senantiasa terasa oleh mereka yang membacanya.
Sang Pencerah dengan tulisan adalah mereka yang berkhidmat dan menginginkan kemanfaatan dan pencerahan melalui tulisan. Ia adalah para pejuang tulisan yang selalu mengedepankan pencerahan kepada seluruh insan. Bagaimana agar kita menjadi seorang Sang Pencerah dengan tulisan? Menulis dengan keimanan, dengan niat memberikan pencerahan dan menyebarkan dengan penuh ketawadhu'an.
Menulis dengan keimanan berarti menuliskan hal-hal yang memberikan pencerahan yang didasarkan pada keimanan kepada Ar-Rahman.  Setiap tulisannya adalah manifestasi keimanan dan ketakwaan yang diyakininya secara mendalam. Tulisannya sendiri adalah hasil dari usahanya dalam mendekatkan diri kepada Allah ta'ala. Maka tidak mungkin ia akan menuliskan hal-hal yang menyimpang dari keimanan apalagi menentang keimanan tersebut.
Selanjutnya adalah “Dengan niat memberikan pencerahan” yaitu niat awal dalam menulis adalah karena ingin memberika pencerahan kepada seluruh insan. Tidak ada niat untuk mendapatkan keuntungan, ingin terkenal atau ingin mendapatkan sanjungan. Lillahi ta'ala (niat karena Allah ta'ala) adalah pondasi awalnya, sebagai manifestasi keimanan maka niatnya ikhlas untuk dapat melihat wajah Ar-Rahman.
Terakhir yaitu menyebarkan tulisan tersebut dengan penuh ketawadhu'an, yaitu menyebarkan tulisan tersebut dengan penuh sifat tawadhu' yaitu tidak ingin ada rasa ujub dengan tulisannya. Hal inilaha yang dilakukan oleh para ulama ketika mereka menuliskan hasil karya mereka. Bahkan di antara mereka ada yang tidak mencantumkan nama karena ingin menjaga keikhlasannya.  Inilah salah satu bukti tawadhu ulama ketika menghasilkan sebuah tulisan.
Karena itu jadilah Sang Pencerah dengan menghasilkan tulisan yang dapat mencerahkan seluruh insan di dunia ini. Dengan ini mudah-mudahan tulisan kita menjadi amalan yang dapat dirasakan oleh semua orang kapan saja dan di mana saja, semoga......       

Cerita Fiksi dalam Islam, Boleh Nggak ya..... ? Bagian II

Cerita Fiksi dalam Islam, Boleh Nggak ya..... ? Bagian II
Istinbath Al-Ahkam (Metode menentukan hukum) dalam Islam
Oleh : Abdurrahman

Istinbath Al-Ahkam
Sebagai kelanjutan dari pembahasan tentang hukum Fiksi dalam Islam, maka di bagian dua ini  kita akan menganalisa masing-masing pendapat mengenai hal ini. Pisau analisa yang digunakan adalah kaidah-kaidah yang menjadi pegangan oleh para pendahulu kita yang sholih yaitu dari kalangan shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in. merekalah umat terbaik yang sangat memahami agama Islam ini, bahkan Allah ta’ala telah memberikan jaminan penuh kepada mereka. Allah ta’ala berfirman :
وَالسَّابِقُونَ اْلأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha terhadap mereka dan mereka ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka Surga-Surga yang mengalir sungai-sungai di dalam-nya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keme-angan yang besar.” At-Taubah : 100
Dalam ayat ini Allah ta’ala telah memberikan puncak hidayahNya yaitu keridhoanNya kepada para shahabat Nabi, hal inilah yang menjadi dasar bagi umat Islam untuk mengikuti mereka dalam segala aspek kehidupan. Intinya adalah setiap dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah hendaknya menggunakan metode mereka dalam memahami keduanya. Adapun pada permasalahan yang tidak ada nash nya maka ijma’ mereka menjadi dalil hukum.
Jika masih terjadi suatu perbedaan pendapat dalam suatu permasalahan maka mengembalikan permasalahan tersebut kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah sebuah kewajiban umat Islam, Allah ta’ala berfirman :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِى اْلأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ ذَلِكَ خَيْرُُ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً
Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. QS An-Nisaa : 59.
Dalam ayat ini disebutkan secara jelas mengenai jalan keluar terbaik ketika terjadi perselisihan, yaitu kembalikanlah perbedaan pendapat tersebut kepada Allah dan rasulNya. Maka pembahasan tentang hukum cerita fiksi juga menjadi perbedaan pendapat. Apalagi ruang lingkupnya berkaitan dengan masalah fiqh.
Metode Islam dalam menyikapi setiap permasalahan adalah selalu merujuk kepada sumber hukum Islam yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Allah ta’ala berfirman :
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لأُوْلِي اْلأَلْبَابِ مَاكَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. QS Yusuf : 111.
Maka setiap permasalahan yang kita hadapi pasti ada penjelasannya dalam Al-Qur’an, baik yang sifatnya rinci ataupun bersifat global (umum). Selanjutnya selain Al-Qur’an Allah ta’ala juga telah menurunkan Al-Hadits sebagai penjelas bagi Al-Qur’an, Rasulullah bersabda :
ألا إني أوتيت القرآن ومثله معه
Ketahuilah sesungguhnya telah diberikan kepadaku Al-Qur’an dan yang semisal dengannya (Al-Hadits).
Beliau adalah Sang Pengemban Amanah Utama yang telah menjelaskan seluruh sendi-sendi kehidupan dan sumber-sumber hukum dalam agama. Maka tidak ada hal sekecil apapun yang tidak dijelaskan oleh beliau. Seorang shahabat pernah berkata : “Aku telah meninggalkan kalian dalam kondisi putih bersih, yang malamnya seperti siangnya” [Hadits Riwayat Ibnu Majah, Al-Muqaddimah 43, Ahmad Jilid IV. No. 1374]
Dalam riwayat yang lain beliau bersabda : “Aku telah meninggalkan pada kalian dua hal, yang kalian tidak akan sesat selama berpegang teguh kepada keduanya ; Kitabullah dan Sunnah NabiNya” [Hadits Riwayat Malik di dalam Al-Muwaththa’, Al-Qadar, hal 899]
Maka agama / Dien Islam adalah agama terang benderang, tidak ada padanya kekacauan, semua telah tercover dalam manhaj ilmiah Rabbaniyah. Adapun permasalahan baru dalam Islam, yang tidak ditemukan dalil khusus yang berkenaan dengan itu, maka kita kembalikan kepada keduanya. Allah ta’ala berfirman :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِى اْلأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ ذَلِكَ خَيْرُُ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. QS An-Nisaa : 59.
Mentaati Allah dan rasulNya adalah bukti keimanan seseorang, ia adalah kunci bagi kebahagiaan maka wajib bagi setiap muslim untuk iltizam dengan keduanya. Orang-orang yang tidak mentaati keduanya, ia diancam dengan firman Allah ta’ala :
فَلاَ وَرَبِّكَ لاَيُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan,  dan mereka menerima dengan sepenuhnya. QS An-Nisaa : 65.
Dari dua ayat ini kita mengetahui bahwa setiap permasalahan yang ada haruslah dikembalikan kepada Allah dan rasulNya, yaitu kepada Al-Qur’an dan kepada sunnah Nabi. Maka pada keduanya terdapat jawaban yang shahih, dan seperti inilah Allah ta’ala memerintahkan kita, sebagaimana firmanNya :
وَأَنْ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ﴾[المائدة:49]
……dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah……… QS Al-Maidah : 49.
Maka yang dimaksud berhukum dalam ayat ini adalah pada bidang keagamaan dan juga keduniaan. Pada keduanya terdapat jawaban bagi setiap permasalahan yang ada. Sebagaimana firmanNya :
الر كِتَابٌ أُحْكِمَتْ ءايَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ
Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu. QS Huud : 01
Maka di dalam Al-Qur’an terdapat seluruh penjelasan berkenaan dengan permasalahan hidup di dunia dan diakhirat. Demikian juga di dalam As-Sunnah, Rasulullah Shalala Alaihi Wasalam telah menjelaskan secara rinci bagaimana prinsip hidup, termasuk di dalamnya bagaimana menyikapi permasalahan yang ada.
Dari sini dapat kita simpulkan bahwa segala sesuatu permasalahan baru yang tidak ada sebelumnya dapat dijawab oleh Islam dengan didasarkan kepada nash . teks dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi.

Fiksi dalam Pandangan Islam
Dari kajian mengenai hukum fiksi dalam Islam, yang pertama harus kita lakukan adalah melihatnya dari Al-Qur’an. Apakah ada didalamnya ayat-ayat yang berkaitan dengan hal ini? Masalah fiksi adalah masalah “baru” dalam arti tidak secara khusus ada pada masa beliau, namun adanya kisah-kisah yang dibuat oleh Bani Israil membantah pendapat ini. Walaupun demikian dalam  Al-Qur’an tidak ada secara khusus membahas tentang fiksi. Ini bisa dimaklumi karena Al-Qur’an lebih menitikberatkan pada masalah-masalah  keyakinan (keimanan), bila Al-Qur’an membahas tentang muamalah secara umum hanya memberikan kaidah-kaidah dasar.
Selain itu pada masa wahyu turun, kaum muslimin berkonsentrasi penuh pada penulisan Al-Qur’an (hapalan) dan As-Sunnah. Maka penulisan fiksi pada masa keemasan Islam ini tidak ada. Sehingga jika fiksi dikaitkan dengan sebaik-baik generasi pada umat ini dijamin tidak ditemukan jawabannya. Yang ada adalah kaidah-kaidah tentang norma dan etika, semisal tidak bolehnya berbohong, berdusta, ghibah dan akhlak tercela lainnya.     
Dalil-dalil dari Al-Qur’an yang menjadi pegangan umum dalam membahas masalah cerita fiksi ini adalah ayat-ayat umum yang membahas tentang tida bolehnya melakukan kedustaan atau kebohongan. Misalnya firman Allah ta’ala : 
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أُولَئِكَ يُعْرَضُونَ عَلَى رَبِّهِمْ وَيَقُولُ الأشْهَادُ هَؤُلاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ أَلا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ
Dan siapakah yang lebih lalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka dan para saksi akan berkata: "Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka". Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang lalim. QS Hud : 18 .
Dalam ayat yang lainnya disebutkan :
إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لاَيُؤْمِنُونَ بِئَايَاتِ اللهِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ
Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta. QS An-Nahl : 105
Selain dua ayat tersebut masih banyak ayat-ayat lainnya yang mencela mengenai perbuatan dusta atau bohong dalam konteks umum. Sedangkan hadits-hadits Nabi secara spesifik memberikan ancaman bagi apra pelaku dusta : Rasulullah bersabda :

“Hendaklah kamu selalu benar. Sesungguhnya kebenaran membawa kepada kebajikan dan kebajikan membawa ke surga. Selama seorang benar dan selalu memilih kebenaran dia tercatat di sisi Allah seorang yang benar (jujur). Hati-hatilah terhadap dusta. Sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada neraka. Selama seorang dusta dan selalu memilih dusta dia tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta (pembohong). (HR. Bukhari)

Tanda-tanda orang munafik ada tiga, yaitu bila berbicara dusta, bila berjanji tidak ditepati, dan bila diamanati dia berkhianat. (HR. Muslim)

Celaka bagi orang yang bercerita kepada satu kaum tentang kisah bohong dengan maksud agar mereka tertawa. Celakalah dia...celaka dia. (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Seorang mukmin mempunyai tabiat atas segala sifat aib kecuali khianat dan dusta. (HR. Al Bazzaar)

Rasulullah Saw membolehkan dusta dalam tiga perkara, yaitu dalam peperangan, dalam rangka mendamaikan antara orang-orang yang bersengketa dan pembicaraan suami kepada isterinya. (HR. Ahmad)
Demikianlah hadits-hadits Nabi yang mengharamkan perbuatan bohong dan dusta, ia adalah salah satu dari cirri-ciri orang munafik.
Sekarang yang menjadi permasalahnnya adalah apakah fiksi bagian dari kebohongan, atau kebohongan yang sistematis? ……………….. tunggu jawabannya di bagian ke-III.
 Afwan jika bersambung lagi………………..