Kamis, 25 Februari 2021

Makna sebuah Ikhtiar...

 Oleh: Ibnu Mohd Djahri

 

Manusia adalah makhluk yang lemah, salah satu buktinya adalah terbatasnya panca indra yang dimilikinya. Mata hanya mampu memandang sejauh mata memandang, ia juga tidak bisa melihat sesuatu yang lebih kecil dari jangkauan matanya hingga diperlukan alat semacam mikroskop untuk melihatnya. Pendengaran manusia juga sangat terbatas hingga tidak mampu mendengar suara yang kurang atau lebih dari standar pendengaran manusia. Bahkan tubuh manusia itu sangat lemah, hingga dengan sangat mudah terserang berbagai bakteri dan virus tanpa diketahui cara masuk ke tubuh manusia.

Kelemahan manusia juga terlihat dari terbatasnya ilmu pengetahuan yang dimilikinya, sehingga tidak semua orang mampu untuk menguasai semuanya. Ilmu kedokteran misalnya, hanya para dokter yang mengetahuinya. Lebih spesifik lagi, tidak semua dokter juga memahami penyakit dalam (semisal jantung dan paru-paru). Hanya mereka yang ahli dan spesialisasi di bidang itu yang memahami, itupun masih terus mengalami perkembangan karena semakin banyaknya penyakit yang ada pada diri manusia.

Sebagai manusia biasa yang tidak paham dengan ilmu kedokteran tentu kita lebih tidak mengetahui lagi berbagai penyakit yang ada dalam tubuh kita. Hanya hasil pengalaman sendiri atau pengalamana orang lain yang sedikit membantu kita, bahkan dokter pun selalu mengatakan ini adalah diagnosis yang bisa jadi benar atau salah. Sehingga ketika tertimpa suatu penyakit kita akan berupaya untuk mengobatinya dengan berbagai obat yang direkomendasikan oleh dokter atau orang-orang di sekeliling kita.

Masalahnya adalah obat yang kita jadikan penawar belum tentu sesuai dengan penyakit kita, karena bisa jadi diagnosa salah atau obat tersebut tidak sesuai dengan kondisi tubuh kita. Tidak semua obat cocok untuk semua orang, banyak orang yang memiliki alergi atau kekhususan yang ada dalam tubuhnya. Maka, ketika kita sakit dan minum obat sejatinya itulah ikhtiar (usaha) dari manusia. Kita tidak tahu apakah diagnosis penyakit itu benar, atau obat tersebut cocok dengan kita apalagi dengan dosis yang kadang karena ingin cepat sembuh kemudian ditambahkan dosisnya.

Ya... inilah hakikat dan makna dari ikhtiar, karena sejatinya yang menyembuhkan itu adalah Allah Ta’ala Sang Pencipta manusia dan alam semesta. Obat itu hanya perantara yang dijadikan oleh Allah Ta’ala sebagai wasilah bagi sembuhnya penyakit kita. Sebagai seorang muslim kita harus meyakini hal tersebut, termaktub secara jelas dalam Kalam-Nya Surat Asy-Syu’ara ayat 80 “dan Apabila aku sakit, Dialah (Allah) yang menyembuhkan aku”. Keyakinan ini haruslah terpatri dalam hati setiap muslim, bahwa Allah Ta’ala yang menyembuhkan semua penyakit, kita manusia hanya berikhtiar yang dibarengi pula dengan do’a.

Ikhtiar untuk berobat dengan berbagai penawar yang kita tidak ketahui penyakit dan kecocokannya menunjukan ikhtiar yang tinggi. Karena sebagai manusia kita diperintahkan untuk berusaha, tentu saja harus didasari oleh keyakinan bahwa Allah Ta’ala yang menyembuhkan. Sebagaimana do’a yang kita panjatkan, kita tidak tahu kapan ia dikabulkan tapi yakin bahwa Allah akan mengabulkan doa kita. Jika demikian adanya, teruslah berikhtiar dengan dasar keyakinan bahwa Allah Ta’ala yang menyembuhkan kita, bukan obat-obatan itu. Wallahua’lam bishawab.

Kota Hujan, Capek Mendalam Selepas Maghrib

25022021

Jumat, 29 Januari 2021

Ketaatan yang membahagiakan...

Oleh: Abd Misno Mohd Djahri

 


Kebahagiaan adalah dambaan setiap insan; semua kebutuhan hidupnya terpenuhi, perasaan tenteram yang menyelimuti, tidak ada perasaan gundah gulana di hati dan selalu bahagia sepanjang masa. Dambaan ini begitu melekat dalam jiwa setiap manusia, hingga mereka akan melakukan apa saja untuk mendapatkan kebahagiaannya.

Ada yang bekerja sepenuh masa, peras keringat banting tulang tak kena lelah mengumpulkan harta sebagai cara mendapatkan kebahagiaan. Ada pula yang memenuhi segala hasratnya hingga semua hal dilakukannya tanpa melihat halal atau hal yang dilarang agama. Sebagian lainnya mencarinya dengan menyiksa raga, bertapa atau meninggalkan segala bentuk kehidupan dunia dengan mengasingkan diri di gua-gua hutan belantara atau dalam mihrab-mihrab halusinasinya.

Sebagai seorang muslim tentu kita juga mendambakan kebahagiaan, bukan hanya di dunia namun selamanya di akhirat sana. Lantas... bagaimana cara untuk mendapatkan kebahagiaan? Jawabannya adalah taat kepada Allah dan rasulNya. Mari kita telaah kalamNya yang mulia:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.. QS. An-Nahl: 97.

Indikator pertama dari kebahagiaan adaah kehidupan yang baik, bukan bergelimangnya harta karena berapa banyak orang yang memiliki harta tapi tidak menjadikannya bahagia. Kehidupan yang baik dalam ayat ini adalah munculnya rasa cukup dengan segala fasilitas yang diberikan Allah ta’ala kepadanya. Ia selalu bersyukur dengan yang ada dan bersabar ketika musibah menyapa. Bagi orang yang beriman dan beramal sholeh maka kehidupan yang baik ini tidak hanya di dunia, namun juga di akhirat sana.

فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ

...lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin.. QS. Al-Fath: 26.

Indikator kedua dari kebahagiaan adalah ketentraman dan kedamaian dalam hidup, apapun yang terjadi baik kekayaan atau kemiskinan, kelebihan atau kekurangan, anugerah atau musibah semua itu semakin mendekatkan dirinya kepada Allah Ta’ala. Ketentraman ini adalah karunia dari Allah ta’ala bagi orang-orang yang selalu taat kepadaNya. Maka, apalagi yang kita cari selain kehidupan yang penuh dengan ketenangan? Jika manusia harus berlibur ke Maldive, Bali, Raja Ampar, New Zealand hanya mencari ketenangan, maka umat Islam telah diberikan karunia itu melalui ketaatan kepadaNya.

فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ

mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. QS. Ali Imran: 170.

Indikator ketiga dari sebuah kebahagiaan adalah kegembiaraan yang terus-menerus bahkan tiada batasnya. Ayat dalam Surat Ali Imran: 170 memberikan gambaran tentang kegembiraan abadi bagi para syuhada dan orang-orang yang taat kepadaNya. Jika kita masih merasa bahwa kehidupan yang kita jalani selalu dipenuhi kesengsaraan, maka berfikirlah ulang bahwa kegembiraan dengan mudah akan kita dapatkan ketika kita taat kepadaNya.

Sebuah hadits dari Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam sampai kepada kita:

 أَرْبَعٌ مِنْ سَعَادَةِ اْلمَرْءِ أَنْ تَكُوْنَ زَوْجَتُهُ صَالِحَةً وَأَوْلاَدُهُ أَبْرَارًا وَخُلَطَائُهُ صًالِحِيْنَ وَأَنْ يَكُوْنَ رِزْقُهُ فِى بَلَدِهِ

Rasulullah SAW bersabda, ''Empat macam dari kebahagiaan manusia, yaitu istri yang salehah, anak yang berbakti, teman-temannya adalah orang-orang yang baik, dan mata pencahariannya berada dalam negaranya sendiri.'' (HR Dailami).

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

"Kaya (ghina') bukanlah diukur dengan banyaknya harta atau kemewahan dunia. Namun kekayaan adalah hati yang selalu merasa cukup." (HR. Bukhari dan Muslim).

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ: اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيُّ.

“Ada empat perkara termasuk kebahagiaan; istri yang shalihah, tempat tinggal yang lapang, teman atau tetangga yang baik dan kendaraan yang nyaman.” HR. Ibnu Hibban.

Merujuk kepada ayat dan hadits tersebut, maka sejatinya kebahagiaan itu hanya bisa diraih dengan ketaatan kepada Allah dan rasulNya. Semoga kita mampu untuk meraih kebahagiaan, baik di dunia maupun nanti di akhirat sana. Wallahu a’lam. Bogor, 29012021.

Selasa, 19 Januari 2021

Dua belas Purnama di bawah bayang-bayang Corona

Oleh: Abd Misno Mohd Djahri


Hari berganti hari, pekan pun beralih pekan hingga sampai ke bulan, maka tahun pun berganti. Tahun 2020 yang penuh dengan musibah dan wabah kini telah berakhir berganti dengan 2021 yang penuh dengan harapan agar wabah segera punah. Namun bulan pertama di tahun ini masih bersimbah wabah, bahkan berbagai bencana alam dan kemanusiaa bergantian silih berganti; jatuhnya pesawat Sriwijaya SJ 185, gempa di Majene Sulawesi, banjir di Kalimantan Selatan, gunung meletus dan tanah longsor di berbagai tempat di Indonesia adalah sederet duka yang dialami manusia di awal tahun ini. Tentu saja, yang kita hingga kini masih terasa sudah “Dua belas purnama manusia di bawah bayang-bayang Corona”.

Hari-hari yang melelahkan, penuh ancaman kematian tanpa memandang usia dan kedudukan. Pandemi Covid-19 yang telah satu tahun menimpa umat manusia di seluruh dunia hingga saat ini masih terus terjadi, bahkan korban yang meninggal dunia terus bertambah. Hingga 19 Januari 2021 kasus positif mencapai 927.380 dengan jumlah meninggal 26.590 (www.liputan6.com). Ini bukan jumlah sedikit, karena diprediksi julah tersebut akan terus bertambah. Sangat mengerikan...

Tidak jauh berbeda dengan di Indonesia, wabah ini semakin meningkat jumlahnya di Malaysia, bahkan bulan ini mengalami peningkatan sangat pesat. Jumlah positif di negeri Jiran ini yang positif hingga 18 Januari 2021 sebanyak 161.740 sedangkan jumlah meninggal sebanyak 605. Negeri Tirai Bambu (China) bahkan kembali melakuakn lockdown di beberapa wilayah karena kembali merebaknya virus ini, demikian pula di beberapa wilayah lainnya. Intinya adalah bahwa wabah ini masih ada dan menjadi ancaman global umat manusia. Musuh nyata yang tidak terlihat mata...

Sebagai orang yang beriman (mukmin) dan juga muslim kita harus meyakini bahwa wabah ini dan juga berbagai bencana yang melanda adalah atas kuasa dari Allah Ta’ala. Tidak ada yang luput dari pengetahuan dan kehendakNya, Dia adalah Maha segalanya, memberik rizki, kemudahan hidup dan segala kenikmatan dunia. Terkadang Allah Ta’ala juga menurukan kesusahan, bencana dan wabah untuk menguji umat manusia apakah mereka akan bersyukur atau kufur dariNya. Maka jalan yang sangat bijak ketika wabah ini masih membayang-bayangi, kita harus semakin mendekatkan diri pada Ilahi.

Banyaknya kasus yang ada di sekitar kita, bahkan sebagian telah masuk ke dalam rumah-rumah orang beriman adalah satu cobaan bagi orang-orang beriman. Wabah ini mengingatkan kembali kepada kita akan kuasa dari Allah Ta’ala, Dialah Rabb Sang Pencipta alam semesta, Dia pula yang mengatur seluruh yang ada di dalamnya hingga tidak ada satu virus pun yang hidup dan menyebar di semesta kecuali dengan takdirNya. Maka virus Corona menyadarkan kepada umat manusia akan adanya Allah Ta’ala, satu-satunya Dzat yang harus disembah dan diibadahi. Tidak ada Ilaah (sesembahan) selain Allah Ta’ala. Maka keyakinan ini membawa konsekuensi untuk selalu taat kepadaNya, mengikuti seluruh syariahNya dan menjauhi semua laranganNya.

Keyakinan akan kuasa Allah Ta’ala atas wabah ini meniscayakan kepada kita untuk semakin mendekatkan diri kepadaNya. Memperbanyak ibadah-ibadah yang disyariatkanNya, diawali dengan ibadah-ibadah yang wajib kemudian  yang sunnah  hingga yang mustahab. Ibadah dalam makna yang luas bukan hanya syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji tapi seluruh aktifitas yang dicintai dan diridhai olehNya. Ibadah yang harus dilakukan dengan ikhlas karena berharap mendapat ridha dan surgaNya, serta mengikuti petunjuk yang datang dari Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam. Tidak beribadah dengan amalan-amalan yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi dan para shahabatnya, tidak pula membuat ibadah-ibadah baru yang justru tidak diridhai oleh Allah dan rasulNya.

Tentu saja pelaksanaan ibadah dalam rangka mendekat diri kepadaNya bukan hanya sebatas kewajiban, ia adalah bentuk penghambaan kepadaNya. Menjadi kebutuhan kita sebagai umat manusia untuk mengibadahiNya, karena inilah tujuan diciptakannya jin dan manusia. Ibadah yang dibarengi dengan ketundukan secara total kepadaNya, meyakini bahwa ibadah tersebut menjadi wasilah atas turunnya rahmatNya, serta menjadi penyebab diangkatnya wabah ini. Ibadah yang berimplikasi kepada kepasrahan total hanya kepadaNya, hingga yang terpatri dalam hati dan terucap di lisan adalah La Haula Wa La Quwwata Illa billah, tidak ada daya dan upaya melainkan dengan kehendakNya.

Setelah beribadah dengan benar, selanjutnya adalah bersabar dengan wabah ini. Sabar dengan tetap berikhtiar agar wabah ini ini segera berakhir. Sabar yang terus dilakukan terus-menerus tanpa adanya batasan. Kesabaran yang hanya akan berakhir dengan datangnya kematian, itulah hakikat sabar yang sebenarnya. Kesabaran akan adanya wabah ini, kesabaran ketika ternyata keluarga dan saudara kita terkena, bahkan kesabaran ketika diri kita terkonfirmasi positif dengan virus ini. Karena, lagi-lagi semua itu adalah atas kehendakNya maka selalulah kita mengingatnya. Bahkan ketika kita ditakdirkan meninggal karena wabah ini, maka sejatinya Rasul yang mulia telah memberikan khabar gembira kepada mereka yang terkena wabah ini dengan Syahid meninggalnya.

Kesabaran yang terus dilakukan dengan terus berikhtiar, baik secara individu ataupun sosial. Mentaati protokol kesehatan menjadi sebuah keharusan; memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak adalah standar untuk berikhtiar. Maka lakukanlah ia karena Allah Ta’ala dan RasulNya pun telah memerintahkannya agar kita selalu menjaga kesehatan dan menjauhi segala bentuk kemudharatan.

Ikhtiar yang saat ini sedang digalakkan juga adalah dengan melakukan vaksinasi agar dapat menangkal virus ini. Memang banyak berita di luar sana yang eblum jelas kebenarannya, yang mengatakan bahwa vaksin ini tidak halal, atau vaksin ini mengandung dzat berbahaya bahkan muncul hoax bahwa vaksin ini memiliki semacam chip yang akan mengendalikan umat manusia. Tidak salah untuk berprasangka seperti itu, tapi check and recheck adalah cara yang tepat. Sebagai bentuk ikhtiar tentu saja vaksinasi juga bukan solusi terbaik, karena sejatinya solusi terbaik adalah peningkatan sistem imun kita sehingga akan kuat untuk menghadapi serangan virus berbahaya.

Semoga berlalunya Dua Belas Purnama menjadikan wabah ini akan diangkat oleh Allah Ta’ala, sehingga kita akan kembali kepada kehidupan seperti biasa. Ya Allah jauhkanlah sebagai wabah dan bencana agar kami dapat kembali menyembahMu dengan segenap jiwa dan raga. Angkatlah virus Corona ini, agar kembali shaf-shaf di masjid kembali terisi seperti bangunan yang tersusun rapi. Hilangkanlah wabah ini agar kami dapat kembali mengisi majelis taklim kami dan mempelajari setiap sendi syariah Ilahi. Aamiin Ya Rabbal Aalamiin...

Semoga wabah ini memberi  hikmah yang sangat besar, bahwa sejatinya kita mat manusia sangat lemah di hadapan Al Jabbar, Allah Ta’ala Yang Maha Kuat dan Perkasa. Wallahu a’lam, Bogor, gerimis malam 19012021.

 

 

 

Kamis, 31 Desember 2020

Akhir Kisah Pembela NKRI Bersyariah

 Oleh: Abdurrahman Abu Aisyah



Rabu. 30 Desember 2020 menjadi hari terakhir bagi ormas F*I dan seluruh aktifitasnya. Surat Keputusan Bersama (SKB) yang dikeluarkan oleh Pemerintah Republik Indonesia mengakhiri kiprah organisasi keagamaan di persada Indonesia ini.

Sebagai sebuah organisasi keagamaan Islam, F*I menjadi pioner dalam amar ma’ruf nahi munkar, khususnya di wilayah Jabodetabek sebagai pusat kepengurusannya. Mereka juga berkontribusi di berbagai wilayah khususnya ketika terjadi bencana, tanpa pamrih mereka membantu masyarakat yang mengalami musibah dan kesusahan. Kiprah mereka sangat jelas di dunia nyata dan rekam dunia maya, kontribusi mereka tidak diragukan untuk membantu masyarakat yang memerlukan bantuan.  

Pembubaran F*I  syarat dengan kepentingan politik yang berbau Islamophobia. Bagaimana tidak? Alasan yang tidak masuk akal dengan menyatakan bahwa F*I merongrong Pancasila dan Kesatuan Republik Indonesia adalah fitnah belaka. Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) sebagai perjuangan dasar mereka jelas sekali menjujung tinggi dan membela Negara Kesatuan Republik Indonesia. Justru mereka ingin agar Indonesia ini BERSYARIAH, negara yang memiliki aturan yang jelas dan membela rakyatnya. Bukan negara yang hanya mengutamakan kepentingan golongan tertentu apalagi kepentingan asing yang ingin menjajah Indonesia.

Walaupun pembubaran ini ditanggapi dengan “kegembiraan” oleh para pengurusnya, namun sejatinya di balik pembubaran ini terdapat ancaman besar dan bisa disebut dengan Perang Pemikiran atau Ghazwu Fikri, di mana masih banyak orang yang tidak paham dengan Islam, sehingga organisasi yang mengatasnamakan Islam dianggap sebagai ancaman bagi NKRI. Belum lagi kejahilan mereka terhadap kata syariah dan istilah-istilah khas dalam Islam yang mengakibatkan mereka menudingkan semua yang negatif kepada Islam dan para pemeluknya.

Perang pemikiran yang mengarah pada perang peradaban sepertinya tidak bisa dielakan, kecuali masing-masing pihak berusaha untuk menahan diri dan memahami antara satu dengan yang lainnya. Jika Islam memberikan toleransi yang sangat tinggi terhadap pemeluk agama dan kepercayaan lainnya maka sudah selayaknya mereka yang di luar Islam juga memahami Islam dengan benar. Lebih dari itu umat Islam yang masih mengaku Islam jangan sampai mereka justru yang paling keras permusuhannya terhadap saudara muslim lainnya hanya karena beda jalan perjuangan.

Jika orang-orang di luar Islam memusuhi Islam dan umatnya, mungkin masih “wajar” karena mereka memang tidak paham dengan Islam, yang parah dan sangat memprihatinkan adalah ketika sebagian umat yang mengaku Islam sendiri malah memusuhi Islam, syariahnya dan organisasi keagamaan Islam. Hanya karena beda aliran dan jalan perjuangan kemudian rsa hasad menjadikan mereka memusuhinya.

Apabila dianalisis tentu saja penyakit sebagian umat Islam ini adalah karena jahil (bodoh) dengan agamanya sehingga dengan mudah menyalahkan jalan perjuangan orng atau kelompok lain yang tidak sama dengan diri dan kelompoknya. Padahal dalam ranah dakwah masing-masing orang dan lembaga memiliki posisinya masing-masing yang harus saling mendukung. Kalau belum mampu untuk bersinergi jangan sampai malah memusuhi dan berusaha untuk menjatuhkannya. Apalagi jika masih dalam konteks sama-sama mendukung NKRI, fitnah yang menyatakan sebagian umat Islam ingin merongrong Pancasila dan NKRI adalah “jualan” orang-orang yang tidak suka dengan Islam.

Ada juga sebagian umat Islam yang terfitnah dunia, hanya karena kepentingan dirinya, kelompoknya dan kepentingan dunia lainnya dia mengorbankan sauadaranya sesama muslim untuk tujuan dunianya. Sangat disayangkan jika hal ini terjadi pada umat Islam, hanya karena takut tidak mendapatkan “kue” kekuasaan dan keduniaan ia tega memfitnah dan memusuhi saudaranya yang muslim. Ini tentu tidak boleh terjadi pada umat Islam, di mana izzah, kemuliaan dan kehormatan saudara dalam Islam lebih dari segala kepentingan dunia.

Kepada saudara-saudaraku yang bergabung di F*I, maka teruslah berjuang dan jangan lupa terus belajar tentang agama ini. Semangat amar ma’ruf nahi mungkar juga harus dibarengi dengan ilmu. Sehingga lembutkanlah dakwah anda, walaupun selembut apapun dakwah tetap saja orang-orang yang tidak suka dengan Islam akan tetap memusuhi orang-orang yang komitmen dengan Islam. Namun, teruslah belajar agar langkah dakwah amar ma’ruf nahi mungkar semakin terarah sehingga tidak salah jalan. Apalagi dalam konteks NKRI yang sudah final, negara ini adalah negara mayoritas umat Islam sehingga harus dijaga dan tidak boleh untuk melakukan berbagai bentuk makar, kekerasan apalagi kudeta. Walaupun saya yakin anda semua tidak akan berjalan ke sana, namun berhati-hati terhadap segelintir orang dan kelompok yang mencoba masuk ke organisasi F*I dan yang sejenisnya. Mereka ada dua macam, pertama adlah sebagian umat Islam yang memiliki ghirah dan semangat yang tinggi namun jahil dengan realitas Islam dan keindonesiaan. Kedua adalah musuh-musuh Islam yang masuk ke dalam tubuh Islam untuk menghancurkan Islam dari dalam, merek pura-pura menjadi anggota bahkan kepengurusan, kemudian perlahan mereka mendoktrin dengan ajaran yang salah hingga kemudian sebagian kita terfitnah. Mereka ada dan nyata, bahkan sejak aman perjuangan kemerdekaan musuh-musuh Islam masuk ke dalam tubuh umat Islam dan membuat berbagai kerusakan, bahkan mereka akan selalu ada hingga akhir masa, maka berhati-hatilah. Tujuan utama mereka adalah menghancurkan umat Islam dari dalam, terkadang bahkan menggunakan tangan-tangan dari anak-anak umat Islam sendiri.

Terakhir adalam konteks NKRI tentu saja kita sebagai umat Islam Indonesia sepakat bahwa Pancasila yang sudah Islami dengan Sila pertamanya dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah ijma’ (kesepakatan) dari umat Islam di Indonesia. Sehingga taat terhadap berbagai aturan yang telah dibuat pemerintah adalah sebuah keniscayaan. Tentu saja ketaatan tersebut dalam hal yang ma’ruf dan dibolehkan oleh syariah, apabila ada yang bertentangan dengan Islam maka tegurlah dengan cara yang baik, tidak boleh dengan anarki dan kekerasan. Inilah jalan Islam, mudah-mudahan Allah Ta’ala senantiasa memberkahi umat Islam di Indonesia dan di seluruh dunia... Aameen Ya Rabbal Aalameen. Pagi menjelang siang di Kota Hujan, 31 Desember 2020.

Rabu, 16 Desember 2020

Sinopsis Buku: Perjalanan Menuju Pernikahan

 Sinopsis Buku


Judul Buku: Perjalanan Menuju Pernikahan

Penulis: Abdurrahman Misno BP

Penerbit: Kertasentuh

ISBN: 9786236858196

Tahun Terbit: 2020

Info: 085885753838

 

Syukur kepada Ilahi yang telah memberikan kesempatan berharga sekali buat  ana (saya maksudnya), -soalnya jarang-jarang bisa ketemuan- khususnya kesempatan yang sangat ruarr biasa, apalagi kalo bukan nyusunin kata demi kata dalam buku ini.  Mudah-mudahan  apa yang dibahas di dalamnya memberikan manfaat tidak hanya untuk pembaca tapi khususan ila arwahi yang nulis buku ini tentunya. Mangpaat (kata urang Sunda mah…) bisa didapet oleh pembaca yang masih muda-muda, cantik-cantik dan manis-manis, yang udah rada pahit silahkan minggir. Tapi kalo ga mau minggir ya ga apa-apa, mungkin dia ingin tahu (bukan tempe) isinya apaan sih buku ini. So, buku ini emang untuk yang berjiwa remaja (Bapak-bapak dan emak-emak mikir; “Usia boleh kepala 3, 4, dan 5 tapi jiwa tetap 17 an-“ agar tau begimane seeh rasenye nikeh? And macam mana pula langkah-langkahnya?

Saya sengaja menulis buku ini, dengan sadar dan rasa tanggungjawab sserta tidak ada paksaaan dari pihak manapun terutama dalam menggunakan bahasa yang sederhana dan “renyah“ tentunya. Hal ini mengingat tulisan ini memang dikhususkan buat kamu yang masih remaja, tentunya tidak menutup kemungkinan bagi yang sudah dewasa untuk membacanya, barangkali sekadar iseng-iseng dapat ilmu deh.

Tsuma… buku ini akan ngebahas secara tuntas… tas....tas…. tentang sebuah perjalanan menuju pernikahan, wow keren khan? So…. buat kamu yang masih ngebayang-bayangin pernikahan atawa yang akan menuju pernikahan atau yang sudah menikah ga’ ada salahnya kalau kamu ngebaca tulisan ini.

Insya Allah buku tetap berpegang kepada nash-nash yang shahih dan pendapat yang rajih dari ulama yang mu’tabar, moga-moga aja kamu bisa menikmati perjalanan ini.

 

 

Selasa, 15 Desember 2020

Buku: Mari Ziarah Kubur

Sinopsis
Judul Buku: Mari Ziarah Kubur
Penulis: Dr. Abdurrahman Misno BP, MEI
Penerbit: Pustaka Adab
Tahun: 2020
Info: 085885753838


Kematian adalah sebuah keniscayaan, ia akan menghampiri semua mahkluk hidup di semesta ini. Ketika kematian datang maka tidak ada satu makhluk pun yang mampu untuk menolaknya. Akhir dari kematian adalah jasad yang terkubur di komplek pemakaman, menunggu hingga hari kebangkitan. 
Kuburan yang tersisa menjadi tempat bagi sanak saudara yang masih tinggal di dunia, mereka berziarah untuk mendoakan dan mengingat akan giliran kematian itu datang. Ziarah kubur sebagai satu kegiatan yang telah dilakukan sejak dahulu kala, bahkan sejak manusia pertama meninggal yaitu Nabi Adam alaihi salam. Anak cucunya berkunjung untuk mengingat kembali akan nenek moyang mereka. 
Tradisi ziarah kubur terus berjalan hingga kehadiran Islam yang memberikan seperangkat aturan dengan mengembalikan fungsi dari ziarah kubur yaitu mengingat kematian. Ziarah kubur kini menjadi bagian tidak terpisahkan bagi masyarakat muslim di berbagai wilayah di dunia.  Buku ini membahas mengenai hakikat ziarah kubur dalam Islam, memberikan pedoman tata caranya sehingga pembaca dapat mengamalkannya. Mari Ziarah Kubur...

Kamis, 10 Desember 2020

MENGGENGGAM NUSANTARA: Pasca Covid-19 : Resesi Ekonomi atau Kebangkitan?

Dr. Abdurrahman Misno BP, MEI
Dr. Sabri Mohamad Sharif, M.Sc.


Nusantara Raya adalah wilayah kaya raya yang telah membuktikan eksistensinya sejak masa dahulu kala. Pengalaman peradaban tinggi di masa silam, pahit getir masa penjajahan dan berjuta pengalaman telah menghantarkan wilayah ini untuk menyongsong kebangkitan baru Nusantara. 

Pandemi Covid-19 telah meluluh-lantahkan perekonomian di seluruh dunia termasuk wilayah Nusantara. Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Indonesia, Perintah Kawalan Pergerakan (PKP) di Malaysia dan  _lockdown_  di beberapa wilayah lainnya telah memaksa masyarakat  untuk stay at home dan membatasi berbagai aktifitas dalam jumlah besar.  

Bagaimana Nusantara Raya menghadapi pandemi ini? apakah pasca Covid-19 berakhir ianya akan kembali bangkit dan mencapai kejayaan?  Strategi apa yang dilakukan para pebisnis untuk kembali berjaya dan mampu *Menggenggam Nusantara Raya*? 

Buku ini memberikan satu tema diskusi menarik mengenai strategi *Menggenggam Nusantara Raya* dan prediksi masa depan Nusantara Raya, khususnya pasca  Covid-19: Resesi Ekonomi atau Kebangkitan?

Spesifikasi Buku : 
Judul Buku: *MENGGENGGAM NUSANTARA, Pasca Covid-19 : Resesi Ekonomi atau Kebangkitan?*
Penulis: Dr. Abdurrahman Misno BP, MEI dan  Dr. Sabri Mohamad Sharif, M.Sc. 
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Jakarta, Indonesia.
Tebal buku: xxiii + 174 halaman. 
Tahun Terbit: Desember  2020. 
Harga: Rp. 100.000 *(Harga Promo dan Gratis Khusus Hari ini)*
Info Pembelian: Abdurrahman : 085885753838 
Pembelian Format E book di Gramedia Digital: 
https://ebooks.gramedia.com/id/buku/menggenggam-nusantara-raya

Fitnah yang Lebih Dahsyat dari Wabah

Oleh: Abdurrahman Abu Aisyah

 

Dua hari sudah berlalu, sejak meninggalnya enam umat Islam Indonesia yang mengundang banyak kontroversi. Bahkan ia menjadi satu tanda bagi sebuah fitnah-fitnah berikutnya di masa yang  akan datang. Ya... saya menyebutnya fitnah karena pembunuhan dan meninggalnya seorang muslim adalah fitnah terbesar. Darah umat Islam haram untuk ditumpahkan, apalagi hingga berjumlah enam orang. Saya tidak mau terjebak ke dalam skenario besar pelaku dari pembunuhan ini, yang pasti umat Islam menjadi korban dengan berbagai alasan.

Sebuah riwayat telah shahih sampai kepada kita dari Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam “Hancurnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmiin tanpa hak” HR. Nasai. Merujuk kepada riwayat ini maka jelas sekali bahwa meninggalnya enam orang Islam beberapa hari lalu adalah fitnah terbesar. Riwayat lainnya menyebutkan “Tidak halal darah seorang muslim kecuali tiga sebab.... HR. Bukhari dan Muslim. Riwayat ini menunjukan tentang haramnya darah seorang muslim untuk ditumpahkan.. Demikian juga riwayat lainnya yang menyebutkan bahwa “Dosa membunuh seorang muslim lebih besar daripada hancurnya dunia”. Bahkan darah seorang muslim lebih mulia daripada Ka’bah yang mulia.

Namun hari ini, orang-orang yang telah buta mata hatinya tidak lagi memperhatikan hal ini. Terlalu murah darah seseorang sehingga dengan mudah ditumpahkan. Bukan satu dua orang, tapi enam orang sekaligus, dan bisa jadi ke depan akan terus terjadi fitnah yang lebih besar lagi di negeri ini. 

Kebencian kepada Islam dan umatnya telah membawa kepada fitnah dan menghalalkan segala cara. Ada juga yang hanya ikut-ikutan tanpa ilmu kemudian dengan mudah terpancing dan terbawa berbagai isu negatif tentang Islam. Islam teroris, fundamentalis selalu membawa kekerasan dan tuduhan negatif lainnya. Jika itu muncul dari orang bukan Islam mungkin “bisa dimaklumi” karena mereka memang benci dengan Islam. Tapi, tuduhan dan fitnah ini berasal dari umat Islam yang  jahil dengan agama, hanya mementingkan dunia dan kelompoknya hingga mata hatinya tertutup. Mereka buta dengan fakta yang ada di depan mata, buta mata hatinya hingga tega menumpahkan darah sesama muslim.

Fitnah ini lebih dahsyat dari wabah yang melanda, karena jika wabah membawa kepada kematian yang berakhir karena sebab virusnya, maka fitnah ini tidak habis walaupun puluhan umat Islam meninggal dunia. Butuh beberapa generasi untuk meyakinkan bahwa Islam bukan agama kekerasan. Organisasi masyarakat Islam bukan pelaku kekerasan dan terorisme. Fitnah ini begitu dahsyat, hingga membungkam orang-ornag yang lemah iman. Mereka takut menyuarakan kebenaran hingga menjadi syaithan bisu. Melihat sebuah kemungkaran tetapi tidak berani mengingkarinya.

Maka, bagi umat Islam hendaknya terus belajar tentang dien (agama) ini, jangan Islam yang kita memiliki sekadar ada di KTP, hanya ada di Kartu Keluarga dan identitas  tanpa ruh di dalamnya. Karena dengan semakin belajar Islam kita akan semakin tahu bahwa Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan, Islam tidak pernah menyuruh umatnya membuat keonaran. Bagi umat Islam yang masih mementingkan kelompok atau dunianya, ingatlah bahwa kehidupan dunia ini tidak akan lama, setelah kita berusia 60 tahun, tidak lama lagi kita akan meninggalkan dunia ini. Sangat rugi sekali jika dunia yang fana ini kita korbankan dengan menyebarkan kebencian dan stigma negatif pada Islam dan  umat Islam. Dunia yang dipuja ini akan binasa, dan kita pun juga akan binasa, dan akhirat di sana abadi selamanya.

Bagi umat selain Islam yang memandang Islam sebagai agama yang mengajarkan kekerasan, ingatlah bahwa agama kami tidak seperti yang anda bayangkan. Fakta dan data sejak dahulu kala telah membuktikan bahwa Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan, terorisme dan fundamentalisme. Narasi yang berkembang sejatinya adalah skenario yang hanya mencari keuntungan duniawi, mendapatkan uang dari fitnah yang berkembang dan menjadikan Islam sebagai sasaran permusuhan.

Fitnah ini memang begitu berat, tapi teruslah berjuang saudaraku karena bukan hasil akhir yang akan dinilai, tetapi perjuangan kita untuk Islam dan kaum muslimin, itulah sejatinya perjuangan. Teruslah berjuang sesuai dengan keahlian dan kemampuan kita masing-masing hingga seluruh dunia melihat bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam.

 

Bogor, menjelang tengah malam 10 Desember 2020.

 

 

Pasca Pesta Demokrasi

Oleh: Nurhadi, S.Sos.I., M.H.
(Penghulu KUA Kec. Tanjung Bintang Lampung Selatan)


"Tiap-tiap Kalian adalah pemimpin, dan tiap-tiap pemimpin akan ditanya tentang kepemimpinannya". (HR. Bukhari-Muslim)

Baru saja di sebagian wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melaksanakan Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) secara serentak pada Rabu, 09 Desember 2020. Tentu harapan warga masyarakat dalam pesta rakyat itu akan memunculkan sesosok birokrat yang mampu memimpin daerahnya. Menjadikan pemerintahan daerah semakin tertata dengan baik di segala bidang; ekonomi, sosial dan politik  serta mampu menyatukan keragaman budaya, agama serta adat istiadat mengingat keberadaan kemajemuan masyarakat.

Tatakelola pemerintahan yang baik (good governance) ini hanya dapat dicapai dengan  menempatkan sosok pemimpin yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Ta'ala, memiliki kepribadian yang baik, akhlak atau perilaku yang terpuji dan tantunya ilmu pengetahuan (knowledge)  yang luas. Mencintai rakyatnya dan rakyatpun mencintai karena kebijaksanaannya.

Semua warga negara, walaupun pilihannya berbeda namun memiliki harapan yang sama yakni mengaharapkan pememimpin yang dipilihnya itu mampu menjalankan roda pemerintahan sebaik-baiknya,  sehingga menjadikan masyarakat merasa nyaman di bawah kepemimpinannya.

Tata kelola birokrasi yang baik akan menjadikan pemerintah semakin terhormat dan dibanggakan masyarakat. Namun sebaliknya, tata kelola pemerintahan yang buruk, mengkhianati kepercayaan rakyat, melalui aktivitas, korupsi, kolusi dan nepostisme akan menurunkan legitimasi pemerintah serendah-rendahnya di hadapan publik.

Untuk memperbaiki citra pemerintahan daerah sebagai representasi daerah otonom perlu dilakukan revolusi akhlak dan mental dari hulu ke hilir,  yang diawali dari jajaran birokrat dan terus kebawah sampai pada kelompok masyarakat terkecil yakni keluarga.

Dengan revolusi mental ini diharapkan para pemimpin tidak akan memanfaatkan jabatannya sebagai ajang atau kesempatan untuk memeperkaya diri, keluarga dan kelompoknya saja akan tetapi akan semakin sadar bahawa jabatan dan kepercayaannya itu adalah amanah yang harus dijaga dan dilaksanakan dengan orientasi kemakmuran rakyat yang dipimpinnya.

Pentingnya revolusi mental bagi rakyat juga diharapkan akan mampu membangkitkan masyarakat dari keterpurukan karena kekerdilan mentalnya yang selalu mengharapkan pemberian dari tuannya. Maka dengan revolusi mental terhadap masyarakat akan menjadikan masyarakat yang mandiri, semakain kokoh dan yang lebih penting adalah semakin percaya diri, berakhlak mulia, beriman dan bertaqwa ke Allah Ta'ala.

Semoga para pemimpin yang terpilih dalam pesta demokrasi ini mampu membawa kebaikan dan keberkahan dengan menjalankan roda pemerintahan berdasarkan ideologi pancasila: Berketuhanan Yang Maha Esa, Berperikemanusiaan yang adil dan beradab, memiliki misi Persatuan Indonesia, berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan serta memiliki sifat kemanusian yang adil dan beradab.

Lampung, 10 Desember 2020

Rabu, 09 Desember 2020

PILKADA di Era Covid 19

Oleh : Nurhadi, S.Sos.I., M.H.

Lega sudah setelah melaksanakan hak pilih dalam Pemilihan Kepala Daerah (disingkat: PILKADD). Walau sebagain besar warga tidak dapat Surat Pemberitahuan Pemungutan Suara Kepada Pemilih atau Model C Pemberitahuan-KWK, namun sebagai warga negara yang peduli kita harus tetap ikut memilih pemimpin yang kita harapkan akan dapat mampu membawa kemajuan derah kita dan mejadikan rakyat semakin sejahtera. 

Memang benar bahwa kita hanya punya satu suara. Namun satu suara yang kita miliki itu akan mementukan nasib daerah kita 5 tahun kedepan. So.. Jangan sampai tidak memilih ya. 

Gunakan E-KTP sebagai senjata untuk mendapatkan surat suara dan tiket untuk masuk ke bilik TPS bagi yang tidak dapat formulir Model C.  Tapi di akhir pemungutan suara pukul 12:00 s.d 13:00. E-KTP kita itu kartu multi guna lho. Jadi jangan hanya dijadikan sebagai alat untuk mengambil Bantuan Langsung Tunai (BLT) saja. Manfaatkan  E-KTP juga untuk mengambil hak suara dalam PILKADA.

PILKADA musim ini berbeda dengan PILKADA-PILKADA sebelumya. Bedanya adalah PILKADA musin ini di Era Pandemi Covid 19. Harus tetap mensukseskan PILKADA ini dengan menerapkan Protokoler kesehatan. Budayakan 3M. Tahukan 3M? Yang jelas bukan Maju Mundur Macet. Tapi M yang pertama adalah Mencuci Tangan dengan sabun, M yang kedua Memakai Masker dan M yang ke tiga Menjaga Jarak. 

Harus tahu juga aturan khusus yang diberlakukan di TPS agar tidak di suruh pulang lagi oleh petugas TPS. Yaitu mau mamakai sarung tangan berbahan plastik transparan yang disediakan di TPS. 

Jika semua sudah di lakukan sesuai aturan baik aturan memilih maupun aturan protokoler kesehatan berati kita telah ikut menyukseskan PILKADA di Era Pandemi Covid 19. Dan harus sadar diri. Siapapun yang jadi kepala daerah di wilayah kita itulah  pemimpin terpilih yang harus kita akui keberadannya.

#SalamPILKADA