Senin, 30 Agustus 2021

Membahagiakan Diri, Orang Lain dan Negara

Oleh: Misno bin Mohd Djahri 



Bahagia adalah dambaan setiap manusia, segala cara dilakukan untuk mendapatkannya. Seseorang pergi untuk bekerja pada pagi dan pulang malam hari hanya untuk mendapatkan kebahagiaan. Sebagian lainnya mengkuti semua jejang pendidikan dari mulai sekolah dasar sampai program doktoral untuk mendapatkan kebahagiaan. Sementara yang lainnya bersusah-payah mencari pasangan hidup yang sesuai dengan kriteria ideal dengan harapan mendapatkan kebahagiaan. Segala cara dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan kebahagiaan, bahkan ada yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang mereka pahami sebagai kebahagiaan.

Setiap orang memahami bahagia dengan perspektif yang berbeda, sebagian menganggap bahwa bahagia itu adalah ketika memiliki harta kekayan yang banyak. Sebagian lainnya berpendapat bahwa kebahagiaan adalah ketika jabatan dan kekuasaan ada di tangannya. Sebagian yang lain lagi berpendapat bahwa memiliki pasangan hidup idaman dan anak-anak yang baik adalah sebuah kebahagiaan sebenarnya. Intinya ukuran kebahagiaan akan berbeda antara satu orang dengan orang lainnya.

World Happiness Report yang disusun Sustainable Development Solutions Network untuk PBB, melaporkan daftar terbaru negara-negara paling bahagia di dunia untuk memperingati Hari Kebahagiaan Internasional yang jatuh pada 20 Maret setiap tahun. Pada tahun 2019 negara yang terpilih sebagai negara paling bahagia adalah Finlandia.

Masyarakat Finlandia bisa mendapatkan kebahagiaan seutuhnya dengan cara berbuat baik terhadap sesama. Mereka bisa menemukan makna hidup dan kepuasan melalui kesetaraan yang lebih tinggi dan dukungan sosial. Tak ada kesenjangan sosial di negara tersebut.

Hal itu dapat diartikan bahwa masyarakat Finlandia mampu mendapatkan kebahagiaan melalui usaha minimal, tidak dengan berusaha keras untuk bahagia. Selain itu, masyarakat Finlandia juga punya kesadaran yang tinggi dalam membayar pajak, karena mereka paham kalau hasil pajak akan digunakan kembali untuk mereka.

Finlandia sebagai negara paling bahagia di dunia memiliki masyarakat yang menerapkan gaya hidup minimalis. Perlu diketahui bahwa masyarakat di negara kawasan Eropa itu dikenal dengan gaya hidupnya yang minimalis. Mereka hanya menggunakan barang-barang bermanfaat saja.

Dalam kehidupan sehar-harinya, mereka juga menerapkan budaya “Sisu”, yakni budaya hidup bahagia meski berada di masa-masa sulit, mereka tetap semangat dan tabah. Selain itu, masyarakatnya juga sangat dekat dengan alam. Mereka begitu menggemari tradisi ‘terapi hutan’, yaitu menjelajah hutan hingga ke pinggiran sungai dan danau.

Peringkat kedua dari negara paling bahagia adalah Denmark. Masyarakat di negara tersebut menerapkan konsep Hygge, yakni cara hidup bahagia, menenangkan jiwa, dan nyaman. Untuk memulai menerapkan konsep Hygge, masyarakat Denmark menciptakan astmosfer yang tenang dan nyaman supaya betah di rumah. Biasanya rumah mereka didesain dengan konsep super cozy yang mengusung interior kayu dan gelas keramik. Selain itu, masyarakat Denmark juga selalu bersyukur sehingga menjadikan mereka lebih gemar menolong, lebih pemaaf dan tidak materialistis.

Peringkat ketiga diduduki oleh Islandia yang menjunjung tinggi kesetaraan, pajak rendah, pendidikan berkualitas, dan kesehatan gratis diterapkan pemerintah Islandia. Kesetaraan menjadi prioritas utama bagi pemerintah di negara yang memiliki pemandangan alam memukau itu. Bahkan, di tahun 2018, pemerintah Islandia telah menyetarakan upah antara pekerja pria dan wanita.Faktor terbesar itulah yang membuat Islandia menempati posisi keempat negara paling bahagia di dunia.

Peringkat selanjutnya Belanda yang terkenal dengan gaya hidupnya yang santai dan ramah. Untuk menciptakan hidup bahagia, mereka menerapkan konsep mendukung sepenuhnya dan kontrol seperlunya. Bagi kalangan dewasa seperti orang tua maupun guru menciptakan suasana yang setara antara satu sama lainnya. Hal itu membuat para remaja di Belanda tidak merasakan perundungan dan bisa berkomunikasi secara leluasa dan terbuka dengan guru maupun orangtuanya.

Swiss dinobatkan sebagai negara paling bahagia di dunia karena masyarakatnya sangat konsisten dalam urusan ketepatan waktu.Tepat waktu sudah mendarah-daging bagi DNA Swiss. Negara ini juga dikenal dengan berbagai brand jam tangan berkelas.

Budaya tepat waktu membuat Swiss sangat bisa diandalkan. Bila janji bertemu pukul 15.00, pertemuan pun akan terjadi tepat pada pukul 15.00. Letak geografis negara Swiss yang berada di kawasan pegunungan itulah yang membentuk karakter masyarakatnya selalu tepat waktu.

Selandia Baru, selain terkenal dengan keindahan alamnya yang luar biasa, Selandia Baru juga menjadi negara terbersih dari korupsi sehingga masuk sebagai negara paling bahagia di dunia. Kebijakan dan sistem penanganan korupsi yang diterapkan pemerintah Selandia Baru patut diacungi jempol. Tak ada lagi ruang bagi siapa pun juga untuk korupsi, sehingga birokrasi di negara ini sangat mudah. Misalnya, untuk mengurus izin-izin usaha, masyarakat Selandia Baru hanya butuh waktu sehari saja.Bahkan, Selandia Baru menempati posisi negara tercepat di dunia dalam urusan birokrasi. Maka tak heran, negara tersebut dijuluki sebagai negara bisnis tercepat di dunia.

Norwegia pernah menempati peringkat pertama sebagai negara paling bahagia di dunia pada tahun 2017 silam. Masyarakat di negara tersebut cenderung dekat dengan keluarga dan punya keinginan membina hubungan hangat dengan sesama.Keamanan finansial juga jadi faktor pendorong negara ini menjadi negara yang paling berbahagia di dunia ini. Di Norwegia, untuk biaya kesehatan, iuran yang harus dibayarkan maksimal US$ 300 per tahunnya.

Dengan begitu, masyarakatnya akan memperoleh fri korti (kartu bebas) sehingga mereka tak perlu lagi bayar biaya kesehatan sepanjang tahun.Karena kebutuhan medisnya terjamin membuat poin Norwegia menjadi terdongkrak dalam variabel penentu kebahagiaan.

Austria menjadi salah satu negara paling bahagia di dunia. Bahkan, Wina, ibu kota Austria menjadi salah satu kota yang memiliki kualitas hidup terbaik di dunia.Meski dikenal sebagai negara yang rendah sumber daya alam, namun pada kenyataannya Austria mampu membuat masyarakatnya lebih bahagia.Hal itu karena kejujuran menjadi budaya bagi masyarakatnya. Semua warga, mulai dari kalangan anak-anak hingga dewasa diajarkan kejujuran.Di semua tingkatan, pelajaran utama di sekolah Austria adalah menanamkan kejujuran.

Bagi pemerintah Austria, pintar penting, tapi kepintaran tanpa kejujuran bisa berujung malapetaka.Pemerintah Austria juga menjamin keamanan, kesehatan, dan pendidikan. Bahkan, jarang sekali ada polisi berseragam yang lalu-lalang di sepanjang kota.

Bagaimana dengan Indonesia? ia menempati urutan ke-92 dari 159 negara di dunia yang paling bahagia. Peringkat ini setidaknya lebih baik dibanding tahun sebelumnya yang berada di posisi ke-96.Selain itu, Indeks kebahagiaan Indonesia juga mengalami peningkatan dari 5,093 menjadi 5,192. Namun, kebahagiaan Indonesia masih tetap kalah dibandingkan beberapa negara di Asia Tenggara lain, seperti Singapura menempati peringkat ke-35, Filipina peringkat ke-69, dan Malaysia peringkat ke-80.

Membahas tentang kebahagiaan tidak akan lengkap tanpa memahami definisi kebahagiaan yang disebutkan oleh para ahli. Kebahagiaan menurut Aristoteles (Adler, 2003) menyatakan bahwa happiness atau kebahagiaan berasal dari kata “happy” atau bahagia yang berarti feeling good, having fun, having a good time, atau sesuatu yang membuat pengalaman yang menyenangkan. Sedangkan orang yang bahagia menurut Aristoteles (Rusydi, 2007) adalah orang yang mempunyai good birth, good health, good look, goodluck, good reputation, good friends, good money and goodnes

Kebahagiaan merupakan sebongkahan perasaan yang dapat dirasakan berupaperasaan senang, tentram, dan memiliki kedamaian (Rusydi, 2007). Sedangkan happiness atau kebahagiaan menurut Biswas, Diener & Dean (2007) merupakan kualitas dari keseluruhan hidup manusia apa yang membuat kehidupan menjadi baik secara keseluruhan seperti kesehatan yang lebih baik, kreativitas yang tinggi ataupun pendapatan yang lebih tinggi.

Fumham (2008) juga menyatakan bahwa kebahagiaan merupakan bagian dari kesejahteraan, contentment, to do your life satisfaction or equally the absence of psychology distress. Ditambahkan pula bahwa konsep kebahagiaan adalah merupakan sinonim dari kepuasan hidup atau satisfaction with life (Veenhoven, 2000). Diener (2007) juga menyatakan bahwa satisfaction with life merupakan bentuk nyata dari happiness atau kebahagiaan di mana kebahagiaan tersebut merupakan sesuatu yang lebih dari suatu pencapaian tujuan dikarenakan pada kenyataannya kebahagiaan selalu dihubungkan dengan kesehatan yang lebih baik, kreativitas yang lebih tinggi sertatempat kerja yang lebih baik.

Sumner (Veenhoven, 2006) menggambarkan kebahagiaan sebagai “memiliki sejenis sikap positif terhadap kehidupan, dimana sepenuhnya merupakanbentuk dari kepemilikan komponen kognitif dan afektif. Aspek kognitif dari kebahagiaanterdiri dari suatu evaluasi positif terhadap kehidupan, yang diukur baik melalui standardatau harapan, dari segi afektif kebahagiaan terdiri dari apa yang kita sebut secaraumum sebagai suatu rasa kesejahteraan (sense of well being), menemukan kekayaanhidup atau menguntungkan atau perasaan puas atau dipenuhi oleh hal-hal tersebut.

Diener (1985) menyatakan bahwa happiness atau kebahagiaan mempunyaimakna yang sama dengan subjective wellbeing dimana subjective wellbeing terbagiatas dua komponen didalamnya. Kedua komponen tersebut adalah komponen afektif dan komponen kognitif.

Dengan demikian, dapat disimpulkan pengertian kebahagiaan adalah perasaan positif yang berasal dari kualitas keseluruhan hidup manusia yang ditandai denganadanya kesenangan yang dirasakan oleh seorang individu ketika melakukan sesuatu hal yang disenangi di dalam hidupnya dengan tidak adanya perasaan menderita.

Kebahagiaan sebagai sebuah perasaan dapat muncul dengan adanya beberapa indikator yang ada, misalnya terpenuhinya kebutuhan pokoknya, keamanan yang terjamin, kesejahteraan dan fasilitas hidup yang cukup. Dalam skala negara, maka negara yang bahagia dapat dilihat dari; Pendidikan gratis, perawatan kesehatan, tingkat kejahatan rendah, jaminan sosial yang nyaman, populasi yang relatif homogen dan makmur.

Selain itu ada juga standar untuk mengukur kebahagiaan sebuah negara dilakukan berdasarkan usia harapan hidup, pendapatan per kapita, kebebasan untuk menentukan pilihan, dukungan sosial, hingga kemurahan hati.

Indonesia menempati posisi ke-92 dari 159 negara di dunia dalam tingkat kebahagiaan, maknanya bahwa warga negara Indonesia belum bisa merasakan kebahagiaan dengan sepenuhnya. Salah satu dari penyebabnya adalah karena mereka belum bisa menjadi pembelajar, ya... belajar adalah kunci utama dalam meraih bahagia.

Bukankah di Indonesia sudah ada wajib belajar minimal 9 (sembilan) tahun, yaitu dari tingkat sekolah dasar sampai sekolah menengah. Ini permasalahannya, bahwa ternyata pembelajaran yang dilaksanakan saat ini masih jauh dari tujuan pendidikan itu sendiri.

Metode belajar yang ada saat ini masih cenderung menempatkan anak sebagai obyek,  sehingga mereka dipaksa untuk menghafl berbagai rumus, teori dan berbagai ilmu pengetahuan. Bahkan sejak tingkat dasar mereka sudah diberikan mata pelajaran yang begitu bayak sehingga bukannya mereka merasa senang belajar, yang muncul adalah belajar itu menjadi beban sehingga mereka tertekan dan stress dengan belajar.

Selain itu pembelajaran yang diberikan tidak sesuai dengan perkembangan anak sehingga kita lihat anak sekolah menengah sudah belajar ilmu untuk perguruan tinggi. Akibatnya lagi-lagi anak tidak suka dengan yang namanya belajar.

Maka bagaimana caranya agar meraih bahagia? Jawabannya adalah dengan memahami makna bahagia, mengetahui kunci-kunci utama kebahagiaan dan menghilangkan segala penghambat dalam meraih kebahagiaan.

 

Rabu, 25 Agustus 2021

🥇 *SANG KSATRIA DAN MASA DEPAN SEMESTA*🥇

Oleh: Misno

🤴🏻 *Sang Ksatria...*
Seiring mentari terbit di ufuk timur sana
Kau hadir di tengah fananya dunia
Membawa cita, tentang semesta yang penuh angkara murka.

🤴🏻 *Sang Ksatria...*
Dalam buaian ayah dan bunda, kau tumbuh dalam kasih dan sayang dari keduanya...
Bukan tanpa duka, bahkan bersimbah darah dan air mata.

Kini kau telah menginjak usia remaja...
Bahkan ragamu jauh dari ayah bunda tercinta...
Demi sebuah cita-cita mulia...
Memberi manfaat untuk Agama, Negara dan bangsa. 

🤴🏻 *Sang Ksatria...*
Tataplah Sang Surya di angkasa Raya...
Kuatkan _azzam_, iringkan dengan ikhtiar dan doa dipanjatkan...
Genggamkan tangan, kaki diayunkan...
Tuk ber _mujahadah_
_Fii sabilillah_

Onak duri pasti akan kau temui...
Jurang menganga di kanan kiri.
Jadikan itu energi...
Tuk meraih Ridha Ilahi 

🤴🏻 *Sang Kstaria...*
Semesta menunggumu
Menunggu kontribusi teraju
Kerana ianya tertunduk malu
Pada manusia yang berlaku liku.

Katakan yang benar walau tantangan menghadang di hadapan
Hilangkan kemungkaran yang merusak kemanusiaan
Tegakan keadilan 
Agar semesta berada dalam kedamaian.

🤴🏻 *Sang Ksatria...* 
Ini adalah Hari istimewa...
Hari di mana engkau hadir di semesta Raya.
Maka, ucapkan kesyukuran 
Atas segala kenikmatan 

Ayah dan bunda selalu berdoa dengan penuh upaya
Agar engkau menjadi Sang Ksatria Perkasa...
Berkeyakinan mendalam...
Serta berjiwa para pahlawan

Selamat Milad penuh keberkahan untukmu Wahai Sang Kstaria
_Baarakallahu Fi umrika..._
Semoga Allah Ta'ala sentiasa memberkahimu, Wahai Penyejuk mata...
Tempat melabuh asa. 
Hingga nanti menutup mata.... 

Bogor, 24 Agustus 2021

Selasa, 24 Agustus 2021

Wahai Para Istri, Bertakwalah kepada Allah...

 Oleh: Misno Mohd Djahri




Ini kisah seorang suami yang telah melewati usia setengah abad, kehidupannya sudah mapan; ada jabatan dan juga kekayaan. Namun ada satu hal yang mulai mengganjal di hatinya, hasratnya sebagai laki-laki tidak lagi dapat tersalurkan sesuai dengan keinginannya. Ya... sejak istrinya mengalami menopause, hasratnya sebagai sebagai seorang perempuan menurun drastis bahkan bisa dikatakan telah tidak ada lagi. Sebaliknya suaminya yang berusia sekitar 55 tahun justru hasratnya kembali bergelora. Sebuah rona kehidupan yang saling bertentangan yang kemudian memunculkan konflik terpendam.

Setiap kali sang suami mengajak istrinya untuk menikmati “surga dunia”, sang istri menolaknya. Kalaupun sekali-kali mau melayani suaminya biasanya dengan penuh terpaksa dan tidak ada lagi “rasa” yang dulu ada. Masa-masa yang seharusnya dapat dinikmati bersama justru menjadi semacam “nestapa” bagi suami karena harus memadu rasa dengan jasad yang seolah-olah tanpa nyawa. Hambar, itulah kata yang dapat digunakan untuk menggambarkan keadaan sebenarnya.

Sang suami berusaha untuk bertahan, menikmati “hidangan” yang terasa tanpa garam itupun kadang hanya satu kali sebulan. Ia tak berani untuk “jajan” apalagi apalagi yang dijajakan di pinggir jalan. Dia termasuk orang yang masih berpegang teguh dengan yang namanya kesetiaan, walaupun tidak begitu teguh memegang prinsip keagamaan. Dia sadar dan terus berusaha menikmati “hidangan rumahan” yang walaupun hambar masih untuk sekadar menyalurkan di jalan yang benar.

Namun, hari-hari berikutnya hasrat itu sepertinya sudah betul-betul hilang dari sang istri, padahal sang suami justru mengalami peningkatan yang semakin menjadi. Hingga akhirnya seringkali sang suami melakukannya sendiri, di kamar mandi dan ketika rasa itu menghampiri. “Biarlah begini...” bisik suami dalam hati.

Pertahanan sang suami mulai mengendor, seiring bisikan kuat dari syaithon. Media sosial menjadi pintu gerbang bagi sebuah “musibah kemanusiaan” yang datang menghampirinya. Seorang lelaki muda dengan usia sekitar 40-an, berparas tampan dan memiliki jabatan lumayan, telah menarik perhatian sang suami yang kesepian. Rayuan manis dari sang iblis membawanya kepada suka dengan sesama jenis, ia sangat terobsesi dengan lelaki “muda” itu hingga hari-harinya selalu dihiasi dengan percakapan, obrolan hingga rayuan pada sang pujaan.

Sang suami terjebak ke dalam cinta terlarang dengan suami orang, ia sadar bahwa itu salah tapi dia juga paham jika ia “berkelana” dengan seorang wanita tentu akan lebih besar bahayanya. Selain juga citra di masyarakat yang akan memandang hina pada dirinya sebagai tokoh di masyarakat sekitarnya. Tapi hasratnya memaksanya untuk disalurkan segera, hingga peristiwa yang mengundang laknat dari Allah Ta’ala akhirnya terjadi juga.

Sepenggal kisah nyata ini menjadi ibrah yang penuh arti, khususnya bagi para istri yang mulai menginjak usia sudah tidak muda lagi. Apalagi yang telah melewati masa menopause dan tidak memiliki hasrat lagi. Bertakwalah kepada Allah wahai para istri... pahamilah suamimu yang walaupun usianya tidak lagi muda tapi masih memiliki hasrat membara. Itulah sejatinya karakter dari seorang pria, di mana hasratnya terus ada bahkan hingga lanjut usia. “Layanilah” suamimu walau hasrat tak lagi menggebu, jadikan dirimu “salju” yang mendinginkan panasnya nafsu suamimu.

Semoga itu menjadi satu jalanmu, untuk menggapai ridha dan surga Rabbmu. Sedikit memaksakan diri untuk “merayu” walau jasad tak lagi bernafsu, jangan biarkan suamimu terjebak dalam dunia semu hanya karena hasratmu tak seperti dulu.

Bagi para suami tentu saja harus terus bisa mawas diri, usia yang tak muda lagi menjadi alasan kuat untuk terus memperbaiki diri. Rasa ini memang tidak pernah akan pergi, mungkin hingga ajal menghampiri. Tapi, me-manage diri itulah yang bisa dilakukan dan terus berdo’a kepada Ar-Rahmaan agar hasrat ini bisa ditahan atau disalurkan di jalan yang benar. Berat memang terasa, tapi teruslah berusaha, karena di sanalah sejatinya kebahagiaan yang didamba akan lebih terasa kenikmatannya. Kenikmatan yang abadi selamanya, yaitu surga dan keridhaanNya. Wallahu’alam...

Dhuha Menjelang di Kota Hujan, 24082021.


Senin, 23 Agustus 2021

Bukan Tak Mau Divaksin...

 Oleh: Misno Mohd Djahri


Pandemi Covid-19 hingga saat ini belum selesai, bahkan di awal Agustus 2021 jumlahnya semakin meningkat. Hal ini yang kemudian menjadikan pemerintah menggenjot vaksinasi untuk semua warga negara. Jika pada awal mulainya program vaksinasi banyak terjadi kontroversi terkait dengan kehalalan vaksin, isu tentang chips yang ada pada vaksin hingga ancaman kematian apabila divaksin. Kontroversi ini perlahan mulai mereda dengan berbagai kampanye, isu dan pola komunikasi pemerintah yang massif kepada masyarakat hingga kemudian menjadi program nasional di tahun 2021.

Pihak-pihak yang menolak vaksin kini bisa dihitung, dari sedikit mungkin penulis salah satunya. Entah karena alasan ideologis, atau termakan berbagai isu tentang vaksinasi hingga logika sederhana yang selalu ada di benak “Saat ini saya sehat, Alhamdulillah. Kalau saya divaksin saya takut malah jadi sakit”. Entah sampai kapan logika ini akan bertahan, beberapa waktu lalu penulis sudah didaftarkan untuk ikut vaksinasi di Puskesmas dekat tempat kerja, namun karena jadwal yang tidak bisa diganggu gugat akhirnya tidak jadi vaksinasi. Waktu berjalan hingga lebih kurang dua bulan, kini lembaga membuka kembali program vaksinasi. Penulis sempat mendaftar melalui aplikasi dan meyakinkan diri untuk mengikutinya.

Namun, keraguan itu kembali muncul,  “Sekarang khan saya sehat, kalau nanti vaksin apa bisa menjadi tetap sehat?” pikirku dalam hati. “Belum lagi masih banyak tanggungan hutang, dan memakai uang orang lain yang harus dikembalikan. Juga rumah yang belum selesai dibangun serta anak dan istri yang masih memerlukan kehadiran saya”. Intinya kekhawatiran kalau divaksin takut malah jadi sakit dan.... MATI di akhirnya.

Bisa jadi alasan ini tidak benar, apalagi melihat berbagai kampanye tentang vaksin yang begitu massif dan menjamin bahwa vaksin itu aman. Bahkan seorang teman sangat menyayangkan sikap tidak mau divaksin, walaupun ada satu teman lagi yang hingga saat ini juga belum mau divaksin. Mungkin alasan yang disebutkan itu salah, karena terlalu egois atau terlalu takut mati. Belum lagi suara sumbang yang menyatakan bahwa mereka yang tidak mau divaksin adalah yang mengikuti atau minimal simpati dengan golongan agama tertentu.

Saya bukan tidak mau divaksin, tapi memang perlu waktu untuk meyakinkan diri bahwa vaksin itu perlu dan penting. Maklum saya termasuk orang yang suka ngeyel dan perlu waktu untuk memutuskan suatu permasalahan. Logika ini masih selalu terngiang-ngiang “Sekarang saya sehat, kalau divaksin takut jadi sakit dan.... bisa mati”. Terlalu norak dan tidak logis mungkin untuk sebagian orang, tapi biarlah untuk sementara ini saya masih bertahan dengan tidak divaksin. Entah sampai kapan, mungkin sampai saya yakin atau keadaan dan pihak lain memaksa untuk vaksin.

Bukan saya menolak vaksin, tapi saya perlu waktu untuk memikirkan kembali keputusan ini. Kalau dibilang mau kapan lagi? Jawabannya ya saya sendiri tidak tahu sampai kapan, karena keyakinan itu perlu argumentasi subyektif bagi saya. Kalau dibilang ngeyel memang iya, sudah sejak awal saya ungkapkan. Tapi, ya sudahlah... biarkan saja terserah orang mau berpendapat apa. Doakan saja pintu hati saya terbuka untuk segera divaksin... Bogor, menjelang tengah malam 23082021.  

Selasa, 17 Agustus 2021

Kemerdekaan dalam Bayang-bayang Konspirasi Global

 

Oleh: Misno Mohd Djahri

 

Tujuh belas Agustus menjadi hari yang bersejarah bagi Indonesia, ia adalah hari kemerdekaan Negara Republik Indonesia (NKRI). Perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2021 berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, karena masih berada dalam bayang-bayang Virus Corona. Ya... sudah lebih dari satu tahun pandemi ini belum berakhir, data dari Kementerian Kesehatan hingga 15 Agustus 2021; jumlah positif 3.854.354 dan korban meninggal dunia 117.588.

Kemerdekaan di tengah wabah ini bukan hanya memakan korban jiwa, tapi berbagai efek akan adanya wabah ini. Maklum, beberapa kebijakan memang cenderung tidak tegas dan membingungkan. Di sisi lain, “luka lama” dari Pilpres di tahun 2018 menyisakan kelompok oposisi yang terus mengkritisi kinerja pemerintah. Sementara umat Islam yang seringkali dirugikan dalam beberapa kebijakan, semisal; perayaan amadhan, Idhul Fitri, Idhul Adha hingga beberapa perayaan dan syiar keislaman yang seolah-olah “diredam”. Sehingga kemudian umat Islam menjadi makanan empuk bagi pada penyebar hoax di tengah umat.

Hasilnya pandemi Covid-19 bukan hanya tentang wabah yang melanda, tetapi telah banyak memunculkan berbagai konflik dan perselisihan di tengah masyarakat. Dari mulai kebijakan ekonomi, sosial, dan keagamaan. Contoh sederhana adalah vaksinasi yang masih mengundang kontroversi, jika pada awal perselisihan pada kehalalalannya, kemudian muncul berbagai berita yang menyebutkan bahwa vaksin tersebut berbahaya, bahkan isu yang menyebar mengandung “chips” tertentu yang dapat mengontrol tubuh orang yang sudah di-vaksin.

Semua itu tentu harus diluruskan sesuai dengan apa adanya, namun sayangnya lagi-lagi berita-berita seperti itu seolah-olah dibiarkan dan menjadikan bahan perdebatan panjang di masyarakat. Walaupun memasuki Agustus 2021 isu tentang vaksinasi ini sudah mulai berkurang dan “arus utama” telah memenangkan untuk sementara isu vaksin ini.

Bagi penulis, permasalahannya memang bukan hanya terkait dengan vaksinasi, ini adalah satu dari sekian banyak “fenomena” lain yang sejatinya merupakan rangkaian dari berbagai skenario yang didesain ada di dunia ini. Kita tidak tahu apa yang sedang dan akan terjadi karena keterbatasan informasi dan sulitnya mencari sebuah kebenaran saat ini. Apakah terkait dengan permusuhan abadi antara umat beragama khususnya kepada Islam, atau ada pihak-pihak yang ingin menguasai NKRI hingga isu pengurangan jumlah manusia (genocide). Kita akan menjadi saksi sejarah untuk bangsa ini ke depan nanti...

Sebagai orang beriman tentu saja kita harus terus berusaha meningkatkan keimanan, menyikapi segala yang terjadi dengan penuh keimanan, berikhtiar dan mencari sebuah kebenaran walaupun sulit untuk ditemukan. Penulis hanya berharap semoga pandemi ini segera berakhir dan perselisihan antar anak bangsa pun segera berakhir. Kita sudah lelah dengan perselisihan antar anak bangsa yang terkadnag memperebutkan “pepesan kosong” atau memperselisihkan berita yang tidak jelas sumbernya. Kita sudah capek dengan berbagai intrik politik yang mengorbankan rakyat hanya untuk kepentingan partai atau golonganya.

Indonesia adalah bangsa yang kaya dan besar, namun karena kekayaan yang dimiliki dan kebesarannya kemudian menjadi rebutan dari pihak-pihak yang memiliki kepentingan dunia. Entah mereka ingin menghancurkan Indonesia, atau merampok semua kekayaannya. Demikian pula umat Islam yang menjadi mayoritas penduduk Indonesia, selalu menjadi incaran dan korban dari berbagai isu global dunia, fundamentalisme, terorisme dan segala stigma negatif yang diarahkan kepada umat Islam. Lengkaplah sudah, Indonesia dan muslim mayoritas di dalamnya selalu menjadi incaran para bandit global, baik karena ideologi, ekonomi atau karena ingin menjajah kembali negeri tercinta ini.

Semoga NKRI tercinta tetap jaya dan dihindarkan dari segala bentuk marabahaya serta dari pihak-pihak yang ingin menghancurkannya... Rabby ja’alna hadza baladan aamina... Ya Allah jadikalna Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi negeri yang aman dan selalu diberkahi... Jadikan warganya aman sentausa dan selalu berada dalam lindunganMu. Aamiin Ya Rabbal alamiin. 17082021.

Jumat, 06 Agustus 2021

Kesabaran di Tengah Wabah: Berawal dari Keyakinan, Ikhtiar dan Tawakal

 Oleh: Misno bin Mohd Djahri



Syukur kepada Allah Ta’ala adalah sebuah keniscayaan, ia menjadi salah satu dari tanda-tanda keimanan seseorang. Syukur atas nikmat iman, Islam dan ikhsan, syukur secara khusus kita panjatkan atas masih diberikannya kita kesehatan sehingga mampu untuk melaksanakan salah satu kewajiban kita sebagai seorang muslim yaitu beribadah kepadaNya. Alhamdulillah...

Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan alam, habibana wa nabiyyana Muhammad Shalallahu alaihi wasasalam, kepada seluruh ahli baitnya, para shahabatnya serta orang-orang yang senantiasa mengikuti jejak sunnahnya hingga akhir zaman. Allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad...

Wabah yang masih melanda negeri tercinta ini sudah selayaknya disikapi dengan iman Islam serta keyakinan mendalam. Keyakinan bahwa semua itu adalah datang dari Allah Ta’ala:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. QS. Ath-Thaghabun: 11.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim, no. 2653).

Maka keyakinan bahwa musibah wabah virus corona sejatinya sudah menjadi kuasaNya dan telah termaktub adanya. Maka menyikapi hal ini setiap muslim haruslah bersabar, memperkuat kesabaran dan kembali bersabar, sebagaimana kalamNya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung. QS. Ali Imran: 200.

Sebuah riwayat dari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam:

قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: {الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُوْلَى}.

Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda, “Sabar itu ketika pertama kali mendapatkan musibah.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam Al-Bazzar dan imam Abu Ya’la dari sahabat Abu Hurairah r.a. imam An-Nawawi menjelaskan bahwa kesabaran sempurna yang terdapat pahala yang melimpah darinya adalah kesabaran ketika pertama kali mendapatkan musibah. Hal ini disebabkan karena betapa beratnya menerima hal itu.

Kesabaran yang dimaksud tentu bukan hanya pasrah menerimanya, namun tetap berusaha agar terhindar atau yang sudah terpapar agar segera sembuh darinya. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah Keadaan (nasib) sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan (perilaku) yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. al-Ra’d: 11).

Rasululah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:

لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ

“Sungguh, seorang dari kalian yang memanggul kayu bakar dan dibawa dengan punggungnya lebih baik baginya daripada dia meminta kepada orang lain, baik orang lain itu memberinya atau menolaknya”. HR. Bukhari.

Ikhtiar akan semakin sempurna jika dibarengi dengan doa, sebagaimana kalamNya:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Dan berfirman Tuhanmu “Memohonlah (mendoalah) kepada-Ku, Aku pasti perkenankan permohonan (doa) mu itu”. QS. Ghafir:60.

Apabila keyakinan sudah mendalam, ikhtiar sudah dilakukan maka akhir dengan berserah diri dan tawakal kepada Allah Ta’ala, sebagaimana kalamNya:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. QS. Ath-Thalaaq: 3.

Rasul Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:

لوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَ كَّلُوْنَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرُزِقْتُم كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا

Seandainya kalian sungguh-sungguh bertawakal kepada Allah, sungguh Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada seekor burung yang pergi dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang. HR.Tirmidzi.

Maka sebagai seorang mukmin dan muslim, upaya kita dalam menghadapi musibah ini adalah dengan terus meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala, bersabar dengan melaksanakan seluruh ikhtiar serta dilanjutkan dengan tawakal hanya kepada Allah Azza wa Jalla.

Semoga Allah ta’ala segera mengangkat wabah ini dan senantiasa menjaga serta memelihara umat Islam dari segala bentuk kemudaharatan. 060821.