Rabu, 28 Juni 2023

Keutamaan dan Amalan Hari-hari Tasyriq

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri

 

Setelah merayakan Hari raya Idhul Adha, maka umat Islam merayakan rangkaian hari raya ini hingga tiga hari yaitu 11, 12 dan 13 Dzulhijjah. Hari-hari ini disebut dengan tasyriq yang diambil dari kata [شرقت الشمش] yang artinya matahari terbit. Menjemur sesuatu, dalam bahasa Arab dinyatakan: [شَرَّقَ الشَيْءَ لِلشَّمْشِ]. Menurut Imam Nawawi dalam Al-Minhaj, hari-hari ini disebut dengan tasyriq karena orang-orang menjemur daging kurban di waktu tersebut, yaitu mendendeng dan menghampar daging pada terik matahari.

Abu Ubaid mengatakan “Ada dua pendapat ulama tentang alasan penamaan hari-hari tersebut dengan hari tasyrik: Pertama, dinamakan hari tasyrik karena kaum muslimin pada hari itu menjemur daging kurban untuk dibuat dendeng. Kedua, karena kegiatan berqurban, tidak dilakukan, kecuali setelah terbit matahari. (Lisanul Arab, 10:173)”.

 

Keutamaan Hari-hari Tasyriq

Hari-hari ini memiliki banyak keutamaan sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ لِمَنِ اتَّقَى وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang terbilang.” (QS. Al Baqarah: 203).

Ibnu ‘Umar dan ulama lainnya mengatakan bahwa ayyamul ma’dudat adalah tiga hari tasyriq. Ini menunjukkan adanya perintah berdzikir di hari-hari tasyriq. Namun Ibnu ‘Abbas dan ‘Atho’ mengatakan bahwa hari yang terbilang di situ adalah empat hari yaitu hari Idul Adha dan tiga hari sesudahnya. Hari-hari tersebut disebut hari Tasyriq. Namun pendapat pertama yang menyatakan bahwa hari yang terbilang adalah tiga hari sesudah Idul Adha adalah pendapat yang lebih tepat.

Maka, hari tasyriq adalah hari raya bagi umat Islam, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam:

يَوْمُ عَرَفَةَ وَيَوْمُ النَّحْرِ وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَهِىَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Hari Arofah, hari Idul Adha dan hari-hari Tasyriq adalah ‘ied kami -kaum muslimin-. Hari tersebut (Idul Adha dan hari Tasyriq) adalah hari menyantap makan dan minum.” HR. Abu Dawud, Thirmidzi dan Nasai.

Riwayat lainnya menjelaskan:

إِنَّ أَعْظَمَ الأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَوْمُ النَّحْرِ ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ

“Sesungguhnya hari yang paling mulia di sisi Allah Tabaroka wa Ta’ala adalah hari Idul Adha dan yaumul qorr (hari tasyriq).” HR. Abu Dawud.

Hari tasyriq disebut yaumul qorr karena pada saat itu orang yang berhaji berdiam di Mina. Hari tasyriq yang terbaik adalah hari tasyriq yang pertama, kemudian yang berikutnya dan berikutnya lagi.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَّ أَنَّهُ قَالَ مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلَ مِنْهَا فِي هَذِهِ

Artinya: “Dari sahabat Ibnu Abbas ra., dari Nabi Muhammad saw, ia bersabda, ‘Tidak ada amal pada hari-hari ini yang lebih utama daripadanya di hari-hari ini,’” (HR Bukhari).

Merujuk pada ayat dan hadits tersebut maka dapat disimpulkan bahwa hari-hari tasyriq memiliki banyak keutamaan karena mengandung syariah menyembelih kurban dan perintah untuk berzikir dan memuji Allah Ta’ala.

 

Idul Adha dan Tasyriq: Hari Bersenang-senang dan Menyantap Makanan

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa Idul Adha dan hari tasyriq adalah hari kaum muslimin untuk menikmati makanan, beliau bersabda,

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Hari-hari tasyriq adalah hari menikmati makanan dan minuman.” HR. Muslim

Dalam lafazh lainnya, beliau bersabda,

وَأَيَّامُ مِنًى أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Hari Mina (hari tasyriq) adalah hari menikmati makanan dan minuman.” HR. Muslim.

عَنْ نُبَيْشَةَ الْهُذَلِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَزَادَ فِي رواية وَذِكْرٍ لِلَّهِ

“Dari Nubaisyah Al-Hudzali, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, Hari Tasyrik adalah hari makan, minum (pada riwayat lain), dan hari zikir,’” (HR Muslim).

Ibnu Rajab mengatakan:

و إنما نهى عن صيام أيام التشريق لأنها أعياد للمسلمين مع يوم النحر فلا تصام بمنى و لا غيرها عند جمهور العلماء، خلافا لعطاء في قوله : إن النهي يختص بأهل منى

 

“Kita dilarang berpuasa pada hari tasyrik karena hari tasyrik adalah hari raya kaum muslimin, disamping hari raya qurban. Karena itu, tidak boleh puasa di Mina maupun di daerah lainnya, menurut mayoritas ulama. Tidak sebagaimana pendapat Atha yang mengatakan, sesungguhnya larangan puasa di hari tasyrik, khusus bagi orang yang tinggal di Mina.” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 509).

Merujuk pada riwayat tersebut maka hari-hari tasyriq adalah hari untuk makan dan minum karena merupakan rangkaian dari hari raya Idhul Adha serta dipotongnya hewan qurban yang dinikmati oleh umat Islam.

 

Amalan Hari Tasyriq: Berdzikir

Amalan yang paling utama pada hari-hari ini adalah berdzikir (mengingat) Allah Ta’al’la, sebagaimana firmanNya:

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ لِمَنِ اتَّقَى وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang terbilang.” (QS. Al Baqarah: 203).

Ayat ini secara jelas menunjukan perintah untuk berdzikir di hari-hari tasyriq. Adapun dzikir-dzikir yang disyariatkan adalah;

Pertama: berdzikir kepada Allah dengan bertakbir setelah selesai menunaikan shalat wajib. Ini disyariatkan hingga akhir hari tasyriq sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Hal ini juga diriwayatkan dari ‘Umar, ‘Ali dan Ibnu Abbas.

وكان أبو حنيفة يذهب بالتشريق في هذا إلى التكبير في دبر الصلاة

“Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa amal pada Hari Tasyrik adalah takbir setelah shalat,” (Al-Asqalani, 2004 M/1424 H: II/525).

Kedua: membaca tasmiyah (bismillah) dan takbir ketika menyembelih qurban. Waktu menyembelih qurban adalah sampai akhir hari tasyriq (13 Dzulhijah) sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Pendapat ini juga menjadi pendapat Imam Asy Syafi’i dan salah satu pendapat dari Imam Ahmad. Namun mayoritas sahabat berpendapat bahwa waktu menyembelih qurban hanya tiga hari yaitu hari Idul Adha dan dua hari tasyriq setelahnya (11 dan 12 Dzulhijah). Pendapat kedua ini adalah pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad, juga termasuk pendapat Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan kebanyakan ulama.

Ketiga: berdzikir memuji Allah Ta’ala ketika makan dan minum. Yang disyari’atkan ketika memulai makan dan minum adalah membaca basmallah dan mengakhirinya dengan hamdalah.

Keempat: berdzikir dengan takbir ketika melempar jumroh di hari tasyriq. Dan amalan ini khusus untuk orang yang berhaji.

Kelima: Berdzikir pada Allah secara mutlak karena kita dianjurkan memperbanyak dzikir di hari-hari tasyriq. Sebagaimana ‘Umar ketika itu pernah berdzikir di Mina di kemahnya, lalu manusia mendengar. Mereka pun bertakbir dan Mina akhirnya penuh dengan takbir.

 

Memperbanyak Do’a Sapu Jagad

Amalan selanjutnya dalah berdoa kepada Allah Ta’ala khususnya doa apu jagad. Ini sebagaimana firman Allah Ta’al:

فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ, وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” [Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka].” (QS. Al Baqarah: 200-201)

Berdasarkan ayat ini maka para ulama menganjurkan membaca do’a “Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” di hari-hari tasyriq. Sebagaimana hal ini dikatakan oleh ‘Ikrimah dan ‘Atho’.

Do’a sapu jagad ini terkumpul di dalamnya seluruh kebaikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam paling sering membaca do’a sapu jagad ini.  Anas bin Malik mengatakan,

كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – « اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ »

“Do’a yang paling banyak dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Allahumma Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” [Wahai Allah, Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka].” HR. Bukhari dan Muslim

Al Hasan Al Bashri  mengatakan, “Kebaikan di dunia adalah ilmu dan ibadah. Kebaikan di akhirat adalah surga.” Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Kebaikan di dunia adalah ilmu dan rizki yang thoyib. Sedangkan kebaikan di akhirat adalah surga.”

Diriwayatkan dari Al Jashshosh, dari Kinanah Al Qurosy, dia mendengar Abu Musa Al Asy’ariy berkata ketika berkhutbah di hari An Nahr (Idul Adha), “Tiga hari setelah hari An Nahr (yaitu hari-hari tasyriq), itulah yang disebut oleh Allah dengan ayyam ma’dudat (hari yang terbilang). Do’a pada hari tersebut tidak akan tertolak (pasti terkabul), maka segeralah berdo’a dengan berharap pada-Nya.”

 

Banyak Bersyukurlah pada Allah di Hari Tasyriq

Pada hari tasyriq terkumpullah berbagai macam nikmat badaniyah dengan makan dan minum, juga terdapat nikmat qolbiyah (nikmat hati) dengan berdzikir kepada Allah. Dan sebaik-baik hati adalah yang sering berdzikir dan bersyukur. Dengan demikian nikmat-nikmat tersebut akan menjadi sempurna. Jika kita diberi taufik untuk mensyukuri nikmat, maka syukur yang baru itu sendiri adalah nikmat. Sehingga perintah syukur selamanya tidak akan usai.

Seorang penyair mengatakan:

Idza kana syukri ni’matallah ni’matan, ‘alayya lahu fi mitsliha yajibusy syukr

Jika mensyukuri nikmat Allah adalah nikmat, maka karena nikmat semisal inilah, kita wajib bersyukur pula.

Berdasarkan pembahasan sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa hari-hari tasyriq memiliki banyak keutamaan, salah satunya adalah sebagai hari raya bagi umat Islam. Pada hari-hari tersebut kita disyariahkan untuk memotong hewan kurban, makan dan minum, berdzikir, berdo’a serta bersyukur kepada Allah Ta’ala.

Minggu, 04 Juni 2023

Hawa yang Selalu Menggelora

Oleh: Misno Mohd Djahri


 

Salah satu unsur dari manusia yang selalu membawa kepada hal-hal yang bersifat dunia adalah hawa yang ada di dada. Ianya memang menjadi bagian tidak terpisahkan dari manusia, hingga manusia lalai dan lupa akan tujuan kehidupannya di dunia. Bagaimana ketika hawa selalu bergelora di jiwa?

Hawa nafsu manusia, secara bahasa adalah keinginan dari jiwa manusia. Ia adalah unsur yang menjadikan manusia memiliki rasa, asa dan cita-cita tentang dunia. Hawa manusia bisa berupa rasa suka dengan manusia lainnya hingga suka dengan harta dan dunia. Hawa dari satu sisi menjadikan kehidupan manusia lebih berwarna dengan gairah membara. Ini jika diarahkan kepada hal-hal yang halal dan diperkenankan oleh agama. Namun kebanyakan manusia terlena dengan hawanya hingga menjadikannya sebagai pendorong untuk melanggar segala aturanNya.

Hawa yang selalu bergelora dalam tulisan ini adalah hawa nafsu manusia yang selalu mengajak kepada keburukan, cinta dengan dunia, harta dan wanita atau laki-laki lainnya. Pada batas yang diperbolehkan syara’ tentu tidak mengapa, sayangnya seringkali hawa selalu membawa pada hal-hal yang melanggara aturanNya. Mencintai dunia secara berlebihan hingga lupa dengan alam setelahnya, mencintai harta secara berlebihan hingga lupa pada pemilik mutlak harta yaitu Allah Ta’ala. Hawa juga yang menjadikan seseorang cinta dengan wanita atau lelaki lainnya hingga membawanya pada jurang penuh alpha.

Bertambahnya usia, terkadang tidak mengurangi dari hawa-nya untuk melampiaskan semau hasratnya. Bahkan kita lihat bagaimana seorang yang sudah usia di atas 50 tahun hingga tua renta masih terlena dengan hawa-nya hingga melakukan berbagai  hubungan yang tidak dibenarkan oleh agama. Hawa itu semakin menggelora bahkan ketika menjelang renta, di mana ia memiliki harta dan hawa-nya selalu mengajak pada dosa dan maksiat kepadaNya.

Maka, hawa yang terus menggelora sejatinya adalah cobaan dari Sang kuasa, apakah kita mampu untuk menjaganya agar sentiasa berada di jalanNya atau terbawa dalam rasa yang tidak dibenarkan agama. Hawa yang selalu menggelora sejatinya adalah ujian bagi kita, apakah akan membawa pada kebahagiaan di akhirat sana, atau terlena dengan kenikmatan sementara di dunia yang fana.

Semoga Allag Ta’ala sentiasa memberikan hidayah dan inayahNya, sehingga kita mampu untuk mengelola hawa yang selalu menggelora… Aameen, Di tengah gelora jiwa 04062023.

 

Tiga Macam Ego yang Merusak Harmoni Organisasi

Oleh: Luqman Hidayat, M.Pd. 




--------------

Salah satu fitrah manusia adalah berkumpul, berinteraksi, bersosialisasi, membentuk komunitas dan mendirikan organisasi dengan orang-orang yang dianggap mempunyai tujuan yang sama.

--

Seiring berjalannya waktu di dalam berinteraksi/bermuamalah pada komunitas/organisasi biasanya akan muncul silang pendapat, perbedaan persepsi yang hal ini tidak jarang dapat memicu terjadinya konflik di dalam komunitas/organisasi tersebut.

--

Salah satu sebab yang dapat mengakibatkan konflik terjadi berlarut-larut dan tak kunjung menemui titik temu adalah EGO PRIBADI. Ada 3 macam ego yang bisa muncul:

--

1. Merasa Paling Pintar

Merasa diri paling pintar sehingga selalu menganggap rendah orang-orang di sekelilingnya. Orang lain dianggap awam, sedang diri sendiri dianggap ahli. Sehingga pendapat orang selalu dikesampingkan tanpa melihat fakta dan dalil-dalil ilmiah. Pokoknya kalau bukan pendapatnya yang dipakai kurang afdhol. Gengsi menerapkan konsep yang tidak berasal dari gagasannya sendiri. Ego yang semacam ini sering terjadi pada jajaran manager, baik itu top manager, middle manager atau pun lower manager. Karena merasa memiliki otoritas, maka jajaran staf yang tidak memiliki otoritas hanya pasrah walaupun pendapatnya benar tapi tidak dianggap. Paling hanya menggerutu dalam hati.

--

2. Merasa Paling Sengsara

Sudah merasa berusaha sekuat tenaga, all out, ikhlas menyumbangkan tenaga, waktu dan pikiran bahkan tak jarang mengeluarkan uang dari kantong pribadi, tapi tak pernah diapresiasi, tak pernah dianggap, seolah tak punya arti. Lho, bukannya bekerja itu harus ikhlas? Iya, betul sekali. Tapi yang hati itu tidak bisa dibohongi, terkadang perlu dihibur bahkan harus sering dimotivasi. Dalam situasi seperti ini, seorang manager harus peka. Berikan apresiasi, berikan reward, berikan motivasi agar yang bersangkutan tidak patah hati. Karena yang namanya hati kadang kuat, kadang rapuh, kadang semangat, kadang layu,. Sebagaimana iman, bisa bertambah dan bisa berkurang. Biasanya terjadi pada bawahan, anak buah atau jajaran pelaksana di lapangan.

--

3. Merasa Paling Berjasa

Di dalam organisasi, kita harus sama-sama menjaga hati. Hendaknya kita saling menghargai satu sama lain. Jika ada seseorang yang kita anggap paling berjasa dalam organisasi kita, maka rangkullah ia, jaga dengan baik, jangan sampai terlepas. Jika diri kita sendiri yang ternyata Allah takdirkan sebagai orang yang mempunyai jasa besar di dalam organisasi, maka kita harus pandai-pandai menjaga hati, agar tetap rendah hati dan dijauhkan dari sifat sombong. Tetaplah bersikap sebagaimana biasa. Tanamkan dalam hati kita bahwa di dalam organisasi ini tidak ada yang paling berjasa, tetapi semuanya mempunyai jasa yang besar, mempunyai kontribusi, sesuai dengan kemampuan masing-masing.

--

Terakhir, mari kita berdoa kepada Allah Ta'ala agar Allah menyatukan hati kita dan semoga Allah senantiasa memberikan taufik kepada kita semua agar dijauhkan dari sifat sombong dan dijauhkan dari sifat egois.

--

Tulang Bawang,

13 Dzulqa'dah 1444 H/2 Juni 2023 M

Luqman Hidayat, M.Pd.