Tampilkan postingan dengan label Ilmu Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Sosial. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Februari 2024

Manajemen SDM Syariah

By: Misno and AI


Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) Syariah adalah pendekatan dalam pengelolaan SDM yang menggabungkan prinsip-prinsip manajemen SDM dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam. Tujuannya adalah untuk menciptakan lingkungan kerja yang sesuai dengan ajaran Islam, mempromosikan keadilan, kejujuran, dan kesejahteraan bagi karyawan, serta memastikan bahwa kebijakan dan praktik SDM yang diterapkan sesuai dengan hukum-hukum Syariah.

Berikut adalah beberapa aspek penting dari Manajemen SDM Syariah:

Rekrutmen dan Seleksi: Dalam Manajemen SDM Syariah, rekrutmen dan seleksi karyawan dilakukan dengan mempertimbangkan nilai-nilai Islam. Proses ini harus mengutamakan kualifikasi dan kompetensi, serta memperhatikan integritas, keadilan, dan akhlak calon karyawan.

Pengembangan Karyawan: Organisasi yang menerapkan Manajemen SDM Syariah memberikan perhatian khusus pada pengembangan karyawan dalam aspek keagamaan, moral, dan profesional. Ini dapat mencakup penyediaan pelatihan yang mendukung pengembangan pribadi dan profesional yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.

Pengelolaan Kinerja: Penilaian kinerja karyawan dalam Manajemen SDM Syariah mencakup aspek etika dan moral, selain dari kinerja kerja yang lebih teknis. Karyawan dinilai berdasarkan kontribusi mereka terhadap nilai-nilai Islam, seperti kejujuran, kerja keras, dan tanggung jawab.

Kompensasi dan Manfaat: Sistem kompensasi dan manfaat dalam Manajemen SDM Syariah harus mematuhi prinsip-prinsip syariah, termasuk dalam hal pengelolaan dana pensiun, asuransi kesehatan, dan pembagian keuntungan.

Keseimbangan Kerja-Hidup: Organisasi yang menerapkan Manajemen SDM Syariah juga memperhatikan keseimbangan antara kegiatan kerja dan kehidupan pribadi karyawan. Mereka mendorong fleksibilitas kerja dan memberikan perhatian pada kebutuhan karyawan untuk beribadah dan berinteraksi dengan keluarga.

Manajemen SDM Syariah bertujuan untuk menciptakan lingkungan kerja yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, memberikan kesejahteraan bagi karyawan, serta meningkatkan kinerja dan produktivitas organisasi secara keseluruhan. Ini juga memastikan bahwa praktik-praktik SDM yang diterapkan di dalam organisasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Bogor, 14022024.

Minggu, 12 Maret 2023

Solusi Islam dalam Menghadapi Pemanasan Global

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri

 


Pemanasan global adalah fenomena peningkatan suhu rata-rata bumi akibat peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Fenomena ini menjadi masalah global yang harus diatasi bersama. Dalam hal ini, Islam juga turut menitikberatkan masalah lingkungan hidup dan memberikan pandangan tentang bagaimana umat Islam seharusnya bertindak terkait dengan masalah lingkungan hidup, termasuk pemanasan global.

Pertama-tama, pandangan Islam tentang kelestarian lingkungan hidup dapat ditemukan dalam Alquran. Di antaranya, dalam surat Al-A'raf ayat 56, Allah Ta’ala berfirman, "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah diperbaiki (keadaannya) dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan; sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik."

Ayat ini menunjukkan bahwa manusia seharusnya bertindak sebagai pengelola bumi yang baik dan menjaga kelestariannya. Hal ini berkaitan dengan perintah Allah Ta’ala agar manusia menjadi khalifah di muka bumi (surat Al-Baqarah ayat 30), yang artinya sebagai pengurus atau pemelihara bumi. Dalam pandangan Islam, manusia bertanggung jawab menjaga kelestarian bumi dan menjaga keberlangsungan hidup makhluk di dalamnya.

Selain itu, Islam juga menekankan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan melalui hadis. Salah satu hadis yang terkenal adalah hadis yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada di bumi ini dijadikan untuk kepentingan manusia, namun manusia juga diberikan tanggung jawab untuk menjaga kelestarian bumi agar tetap lestari dan dapat dimanfaatkan oleh generasi berikutnya.

Dalam pandangan Islam, menjaga kelestarian lingkungan juga berarti menjaga keseimbangan alam. Alam yang seimbang akan menghasilkan manfaat bagi manusia, sedangkan alam yang tidak seimbang akan menghasilkan bencana dan musibah.

Oleh karena itu, sebagai umat Muslim, kita harus bertindak untuk menjaga kelestarian bumi dan lingkungan hidup. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya adalah:

 

1.     Mengurangi penggunaan energi fosil

Penggunaan energi fosil, seperti minyak, gas, dan batu bara, merupakan salah satu penyebab utama pemanasan global. Sebagai umat Muslim, kita dapat mengurangi penggunaan energi fosil dengan menggunakan energi terbarukan, seperti energi surya dan angin.

 

2.     Mengurangi produksi sampah

Sampah yang tidak terkelola dengan baik dapat menyebabkan pencemaran lingkungan dan menghasilkan gas rumah kaca. Sebagai umat Muslim, kita dapat mengurangi produksi sampah dengan melakukan daur ulang, menghindari penggunaan kantong plastik, dan membuang sampah pada tempatnya.

 

3.     Menjaga kebersihan lingkungan

Menjaga kebersihan lingkungan dapat membantu mencegah pencemaran lingkungan dan mengurangi risiko terjadinya bencana alam. Sebagai umat Muslim, kita dapat menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan, membersihkan lingkungan sekitar rumah, dan mengikuti program kebersihan lingkungan di wilayah tempat tinggal kita.

 

4.     Mengurangi emisi gas rumah kaca

Emisi gas rumah kaca seperti karbon dioksida, metana, dan nitrat oksida dapat menyebabkan pemanasan global. Sebagai umat Muslim, kita dapat mengurangi emisi gas rumah kaca dengan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, menggunakan produk ramah lingkungan, dan mengurangi konsumsi daging.

 

5.     Menanam pohon

Menanam pohon dapat membantu mengurangi emisi gas rumah kaca dan memperbaiki kualitas udara. Sebagai umat Muslim, kita dapat menanam pohon di halaman rumah atau di lingkungan sekitar kita untuk membantu menjaga kelestarian lingkungan.

 

6.     Menggunakan produk organik

Produk organik, seperti makanan organik, dapat membantu mengurangi penggunaan pestisida dan bahan kimia berbahaya. Sebagai umat Muslim, kita dapat memilih menggunakan produk organik untuk membantu menjaga kelestarian lingkungan dan kesehatan tubuh.

 

7.     Mengurangi penggunaan air

Penggunaan air yang berlebihan dapat menyebabkan kelangkaan air di masa depan. Sebagai umat Muslim, kita dapat mengurangi penggunaan air dengan mengumpulkan air hujan, memperbaiki keran yang bocor, dan menggunakan air secukupnya.

 

8.     Mengikuti program lingkungan

Mengikuti program lingkungan di wilayah tempat tinggal kita dapat membantu menjaga kebersihan lingkungan dan mencegah pencemaran lingkungan. Sebagai umat Muslim, kita dapat mengikuti program lingkungan yang diselenggarakan oleh pemerintah atau lembaga lingkungan.

 

9.     Mengajarkan anak-anak tentang lingkungan

Mengajarkan anak-anak tentang lingkungan dapat membantu mereka memahami pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Sebagai orang tua atau guru, kita dapat mengajarkan anak-anak tentang kebersihan lingkungan, penghematan energi, dan pengurangan sampah.

 

10.  Berpartisipasi dalam kampanye lingkungan

Berpartisipasi dalam kampanye lingkungan dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Sebagai umat Muslim, kita dapat berpartisipasi dalam kampanye lingkungan yang diselenggarakan oleh lembaga lingkungan atau organisasi masyarakat.

 

11.  Menggunakan kendaraan ramah lingkungan

Menggunakan kendaraan ramah lingkungan, seperti sepeda atau kendaraan listrik, dapat membantu mengurangi emisi gas rumah kaca. Sebagai umat Muslim, kita dapat memilih menggunakan kendaraan ramah lingkungan untuk perjalanan jarak dekat.

 

12.  Menggunakan produk ramah lingkungan

Menggunakan produk ramah lingkungan, seperti sabun cuci piring dan deterjen organik, dapat membantu mengurangi penggunaan bahan kimia berbahaya dan mencemari lingkungan. Sebagai umat Muslim, kita dapat memilih menggunakan produk ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

 

13.  Mengurangi konsumsi daging

Produksi daging membutuhkan banyak sumber daya dan menyebabkan emisi gas rumah kaca yang tinggi. Sebagai umat Muslim, kita dapat mengurangi konsumsi daging atau memilih untuk menjadi vegetarian atau vegan untuk membantu mengurangi dampak produksi daging terhadap lingkungan.

 

14.  Menggunakan energi terbarukan

Menggunakan energi terbarukan seperti tenaga surya atau tenaga angin dapat membantu mengurangi emisi gas rumah kaca dan mendukung pengembangan teknologi ramah lingkungan. Sebagai umat Muslim, kita dapat memilih untuk menggunakan energi terbarukan di rumah atau di tempat kerja kita.

 

15.  Menjaga kebersihan air

Menjaga kebersihan air sangat penting untuk menjaga kesehatan lingkungan dan manusia. Sebagai umat Muslim, kita dapat menjaga kebersihan air dengan tidak membuang limbah ke sungai atau danau, membuang sampah pada tempatnya, dan mengikuti program pengolahan air limbah di wilayah tempat tinggal kita.

 

16.  Mengurangi konsumsi energi

Mengurangi konsumsi energi dapat membantu mengurangi emisi gas rumah kaca dan menghemat biaya energi. Sebagai umat Muslim, kita dapat mengurangi konsumsi energi dengan mematikan peralatan listrik saat tidak digunakan, menggunakan lampu hemat energi, dan mengurangi penggunaan AC.

 

17.  Mengurangi penggunaan kantong plastik

Penggunaan kantong plastik dapat mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan makhluk hidup. Sebagai umat Muslim, kita dapat mengurangi penggunaan kantong plastik dengan membawa tas belanja sendiri atau menggunakan kantong kain yang dapat digunakan ulang.

 

18.  Membuang sampah pada tempatnya

Membuang sampah pada tempatnya sangat penting untuk menjaga kebersihan lingkungan. Sebagai umat Muslim, kita dapat membawa sampah pada tempatnya dan tidak membuang sampah sembarangan.

 

19.  Mengurangi penggunaan bahan kimia berbahaya

Penggunaan bahan kimia berbahaya dapat mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan manusia. Sebagai umat Muslim, kita dapat mengurangi penggunaan bahan kimia berbahaya seperti pestisida, bahan pembersih, dan bahan pewarna.

 

20.  Menjaga kelestarian lingkungan

Menjaga kelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab kita sebagai umat manusia. Sebagai umat Muslim, kita dapat menjaga kelestarian lingkungan dengan cara menjaga kebersihan lingkungan, mengurangi penggunaan bahan kimia berbahaya, dan mengurangi dampak aktivitas manusia terhadap lingkungan

Dalam Islam, kelestarian lingkungan dianggap sebagai amanah yang harus dijaga oleh manusia. Sebagai umat Muslim, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga kelestarianlingkungan dan mengurangi dampak aktivitas manusia terhadap lingkungan. Dengan melakukan langkah-langkah yang ramah lingkungan, kita dapat membantu mengurangi pemanasan global dan memperbaiki keseimbangan ekosistem.

 

Kesimpulan

Pemanasan global adalah masalah lingkungan yang serius dan membutuhkan tindakan segera dari seluruh umat manusia. Sebagai umat Muslim, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga lingkungan dan mengurangi dampak aktivitas manusia terhadap lingkungan. Islam mengajarkan kita untuk memelihara lingkungan dan menjaga keseimbangan ekosistem. Dalam Islam, alam semesta dianggap sebagai amanah dari Allah yang harus dijaga dan dijaga dengan baik oleh manusia. Dengan mempraktikkan prinsip-prinsip ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat membantu mengurangi pemanasan global dan menjaga kelestarian lingkungan untuk generasi mendatang.

 

Rabu, 01 Februari 2023

Jangan Cari Penyakit di Media Sosial

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri

 


Manusia dengan segala potensi yang ada selalu melakukan hal-hal yang dapat memenuhi kebutuhan dirinya, baik kebutuhan material dan spiritual. Upaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya terkadang tidak memedulikan aturan agama dan budaya, sehingga yang terjadi adalah kerusakan baik untuk dirinya sendiri ataupun orang lainnya. Bagaimana jika kerusakan yang terjadi karena pemenuhan kebutuhan terkait dengan hasrat dan gejolak raga manusia?

Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa manusia selalu berupaya memenuhi semua kebutuhannya, termasuk kebutuhan hasrat biologis yang begitu kuat bergejolak di raga. Ia akan mencari obyek yang dapat memenuhi kebutuhannya, dan agama telah memberikan solusi yang sangat mulia yaitu memiliki pasangan dari jenis manusia lainnya. Sayangnya ada seribu satu sebab yang menjadikan kadang-kadang  salah satu dari pasangan memenuhi kebutuhan biologisnya di luar yang sudah ditetapkan. Apalagi dengan media sosial yang menyediakan semaunya, maka dengan mudah setiap orang untuk mencari apa yang dia inginkan.

“Jangan Cari Penyakit”, adalah sebuah kata yang menggambarkan nasehat seorang teman yang memahami kekurangan kita karena terkadang masih mencari kepuasan lain di luar sana khususnya melalui media sosial. Sayangnya saat ini memang banyak manusia baik muda maupun tua yang telah terjerat ke dunia media sosial, sehingga mereka sangat betah berlama-lama di sana. Apalagi jika apa yang dia cari memang ada di sana, tersedia kapan saja, dan berbagai sajian yang memberikan kepuasan jiwa dan raga.

“Jangan Cari Penyakit”, bermakna mencari-cari hal-hal yang dapat memuaskan raga tanpa melihat efek negatif darinya. Berbagai penyakit lahir ataupun batin adalah sebab dari upaya yang dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhannya tanpa melihat etika agama dan budaya. Belum lagi candu yang mengakibatkan ia terjerat dengan kepuasan sementara padahal masih banyak hal lain yang bisa dilakukannya. Belum lagi membuang waktu sia-sia di depan media sekadar memuaskan segala keinginannya.

“Jangan Cari Penyakit”, gunakanlah media sosial sesuai dengan fungsinya, melandasinya dengan iman dan takwa serta menjadikannya sebagai media dalam menyebarkan kebaikan dan mencegah perbuatan yang mungkar secara agama dan budaya. Faktanya, walaupun kita tidak berniat mencari-cari sesuatu yang tidak baik di media sosial, faktanya ia juga datang tanpa diundang apalagi dengan rumus al-goritma setiap yang kita klik akan diperhitungkan dan menjadi analisis untuk menghadirkan berbagai tayangan yang diprediksi sesuai dengan selera kita. Maka berhati-hatilah dan menyukai (like) atau mengklik sesuatu karena akan menjadi boomerang bagi kita.

“Jangan Cari Penyakit”, karena tanpa dicaripun ia akan datang di media sosial kita. Maka solusinya adalah kuatkan iman dan takwa serta berdoa agar kita mampu menggunakan media sosial dengan bijak sehingga dapat menghantarkan kita ke dalam surgaNya. Wallahu a’lam, 01022023.

Rabu, 04 Januari 2023

Keangkuhan Pribumi dan Kesombongan Pendatang

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri


 

Salah satu permasalahan yang terjadi di masyarakat adalah perselisihan dan konflik antara pribumi dan pendatang. Bukan hanya pada level lokal tetapi secara internasional masalah ini terjadi di berbagai tempat dan kebudayaan. Tentu saja tempat terjadinya adalah adanya perubahan di masyarakat di mana pada satu tempat tidak lagi bersifat homogen pribumi yang mendiami tetapi heterogen dengan banyaknya pendatang. Perselisihan atau konflik semakin terasa apabila terjadi jurang perbedaan di antara pribumi dan pendatang, mulai dari agama dan kepercayaan, sosial, politik hingga masalah ekonomi adalah sebab-sebab utama terjadinya konflik.

Perselisihan atau konflik bisa terjadi secara diam-diam dan tidak kelihatan, namun seperti api dalam sekam yang suatu saat akan meledak. Hal ini terlihat dari kurangnya komunikasi dan muamalah antara pribumi dan pendatang. Hubungan di antara mereka cenderung terpisah dan tidak terjadi akulturasi atau asimilasi. Masing-masing dengan agama, budaya, politik dan ekonominya, kalaupun ada interaksi sebatas formalitas atau karena keperluan sementara saja. Sejatinya fenomena ini sangat berbahaya apabila terus dibiarkan, suatu saat akan menjadi permasalahan besar jika tidak dicari jalan keluarnya. Contoh nyata dari fenomena ini adalah komunitas-komunitas Ikhwan pengajian yang tinggal di suatu wilayah namun tidak membaur dengan masyarakat tempatan. Mungkin seolah-olah tidak masalah, tapi faktanya menjadi api dalam sekam yang suatu saat meledak atau menjadi konflik terpendam yang tidak bagus bagi sosial kemasyarakatan.

perselisihan atau konflik yang kelihatan nyata adalah konflik sosial bernuansa sara yang terjadi di berbagai penjuru dunia, di Indonesia kita mendengar dulu konflik antara suku Madura dan Dayak, demikian pula orang-orang Asli Timor Leste dengan Indonesia. Hingga saat ini beberapa orang di Papua ingin merdeka karena merasa “dijajah” oleh pendatang yang bukan pribumi Papua. Konflik klasik yang tercatat dalam sejarah tentu saja Suku Indian di Amerika dengan Pendatang dari Eropa, juga Suku Aborigin di Australia dan pendatang Eropa. Semuanya berakar kepada perselisihan antara pribumi dan pendatang. Walaupun dengan variasi permasalahan yang berbeda-beda sesuai dengan akar masalahnya masing-masing.

Salah satu dari akar permasalahan khususnya pada perselisihan yang terjadi antara pribumi dan pendatang di masyarakat urban atau modern adalah sikap “angkuhnya pribumi dan sombongnya pendatang”. Pribumi karena merasa di tanah sendiri dan wilayah yang diturunkan dari nenek moyangnya maka dia merasa tinggi di atas para pendatang yang hanya menumpang, pribumi cenderung angkuh dengan sikapnya dengan menganggap pendatang hanya mengganggu kehidupan mereka dan merebut wilayah dan penghasilannya. Stigma ini semakin meningkat ketika ekonomi pribumi di bawah para pendatang sehingga mengancam keberadaan pribumi itu sendiri. Contoh mudahnya adalah suku Betawi yang perlahan tapi pasti keluar dari wilayahnya sendiri di DKI Jakarta. Walaupun tanpa konflik berarti tapi menjadi catatan sejarah tentang bagaimana sikap pribumi terhadap para pendatang. Keangkuhan ini berbeda-beda sesuai dengan sistem budaya, tingkat pendidikan dan perubahan sistem sosial, semakin terbuka budaya suatu masyarakat maka semakin mudah mereka menerima kehadiran para pendatang.

Para pendatang yang seringkali tidak mau disebut pendatang suka seringkali bersikap sombong dengan keadaannya. Merasa tidak memerlukan pribumi, sibuk dengan urusannya sendiri hingga cenderung tidak peduli dengan masyarakat lokal di mana ia tinggal. Kesombongan pendatang semakin terasa dengan tingkat pemahaman keagamaan, kesejahteraan ekonomi, tingkat pendidikan dan level sosial yang dirasa lebih tinggi dari pribumi sehingga menyepelekan pribumi. Pada beberapa fenomena yang terjadi, para pendatang jarang sekali berbaur dengan pribumi dengan berbagai alasan yang sejatinya adalah salah satu bentuk kesombongan.

Keangkuhan pribumi dan kesombongan pendatang sama-sama tidak diperkenankan dalam Islam, karena keduanya adalah sikap menolak kebenaran dari pihak lain dan menyepelekan manusia. sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam:

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” HR. Muslim.

Keangkuhan pribumi terhadap pendatang yang memandang sebelah mereka adalah salah satu bentuk kesombongan. Demikian pula kesombongan pendatang karena menyepelekan pribumi juga kesombongan yang nyata. Maka Islam memberikan solusi kepada pribumi dan pendatang agar selalu berada dalam satu ikatan ukhuwah Islamiyah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌۭ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. QS. al-Hujuraat: 10.

Pribumi dan pendatang yang sama-sama muslim haruslah mengikatkan ukhuwah mereka dalam Islam yang membawa kepada rahmat dari Allah Ta’ala. Pertanyaan yang muncul berikutnya adalah ternyata banyak corak keislaman antara pribumi dan pendatang itu berbeda, pribumi cenderung memiliki corak keislaman yang tradisional sedangkan pendatang lebih banyak yang modernis atau reformis. Ini menjadi bibit konflik tersendiri yang juga terjadi di masyarakat, maka bersikap lebih bijak sebagai pendatang dan lebih terbuka bagi pribumi adalah salah satu jalan keluar. Karena dalam Islam sendiri istilah pribumi dan pendatang bukanlah isu utama, hanya mereka yang bertakwa itulah yang paling mulia. Wallahu a’lam, 04012023.

Selasa, 03 Januari 2023

… karena aku sayang kamu: Menyikapi Fenomena Buka Pakaian di Media Sosial

Oleh: Misno Mohamad Djahri

 


Media sosial telah mengambil banyak waktu kita, hingga tiada hari tanpa membukanya. Berbagai berita, fakta, dan fenomena tersaji dalam bentuk tulisan, gambar dan video bergantian muncul tenggelam di media sosial. Adanya Facebook, Instagram, Twitter, Youtube, Tik-tok dan berbagai media sosial lainnya menyajikan berbagai tontonan yang mengundang rasa penasaran untuk menikmatinya. Tahap berikutnya, media sosial bukan hanya menyajikan audio visual kepada penikmatnya tetapi mengajaknya untuk turut serta dalam menghasilkan sebuah karya yang dikenal dengan istilah content atau materi. Maka, berbondong-bondong pengguna media sosial membuat content dan meng-upload-nya di media sosial dari mulai suara, gambar, video dan berbagai materi yang diharapkan mengundang simpati atau sekadar “like” dari yang menyaksikannya.

Salah satu dari fenomena yang ada adalah banyaknya pengguna media sosial yang memosting photo dan video dirinya dengan berbagai pose, dari yang memiliki manfaat hingga content bejat yang mengundang syahwat. Sajian laki-laki atau perempuan yang tertutup rapi dengan pakaiannya hingga yang membuka auratnya bahkan tidak ada lagi selembar benang yang menempel di badannya.

Wahai saudariku, khususnya mereka yang sering memposting photo atau video dirinya yang membuka auratnya… berhentilah melakukan hal itu karena justru menjadi dosa jariah yang akan membelitmu. Wanita-wanita yang memposting photo atau videonya dengan aurat terbuka, bertakwalah kepada Allah Ta’ala, karena kecantikanmu adalah hanya untuk suamimu atau pasanganmu nanti di surga yang dirindu Bertaubatlah kepada Allah Ta’ala dengan berhenti memposting photo atau video seperti itu, hapuslah semua yang mungkin masih ada di dunia maya. Karena semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya, dosanya berlipat ganda karena selain dosa membuka aurat kemudian engkau menyebarkannya dan mengundang syahwat orang lainnya.

Wahai saudaraku, khususnya para laki-laki yang juga memposting photo atau video yang membuka aurat, (ingat… aurat laki-laki adalah antara pusar dan lututnya) juga photo yang membuka dada dan perutnya, agar nampak memesona dan dilihat oleh laki-laki dan perempuan lainnya. Ini adalah sebuah kesalahan besar, ketika engkau menebar photo atau video yang dengan sengaja memamerkan lekuk-lekuk tubuhmu. Karena begitu banyak saat ini laki-laki yang terbius dan terpesona oleh laki-laki lainnya, salah satunya adalah karena photo atau video yang engkau posting. Bertakwalah kepada Allah Ta’ala, berhentilah memposting photo atau video yang mengundang syahwat laki-laki atau perempuannya lainnya. Itu adalah sebuah dosa, dan akan terus ditulis dosa selama photo atau video itu masih ada. Naudzubillah min dzalika.

Tulisan ini aku buat karena aku sayang kamu, ya… kamu yang sering memosting photo atau video dengan membuak aurat atau mengundang syahwat yang melihatnya. Mungkin engkau akan menudingkan dengan ungkapan “Sok suci, sok alim, gak usah usil urusan orang lain, begitu saja tergoda” dan ungkapan-ungkapan lainnya. Tapi ingatlah, bahwa manusia yang beriman pasti juga akan enggan melihat photo atau video-mu yang membuka aurat atau pose yang mengundang syahwat. Sekali lagi bukan hanya perempuan, tetapi banyak laki-laki saat ini yang memosting photo atau video yang memamerkan bagian-bagian tubuhnya yang sengaja untuk mengundang hawa laki-laki lainnya.

… karena aku sayang kamu. Ingatlah bahwa selama phot atau video itu ada, maka dosa itu akan selalu tertulis untuk mereka yang memostingnya. Bagaimana jadinya ketika kita meninggal, namun photo atau video itu masih ada di media? Tentu penyesalan yang tiada guna adanya.

… karena aku sayang kamu. Jangan hanya memikirkan kesenangan sendiri, tapi pikirkan juga orang lain yang terfitnah dengan photo atau videomu. Bahkan yang lebih dahsyat lagi ketika anak-anak dan mereka yang masih remaja dan pemuda membuka photo atau video itu kemudian terbawa dengan hawa nafsu hingga membawa kepada kemaksiatan yang terus berlaku.

… karena aku sayang kamu. Berhentilah dari sekarang memosting photo atau video seperti itu, gantilah dengan photo atau video yang positif yang mengajak kepada kebaikan dan memberik kontribusi positif bagi generasi baru. Karena kita tidak tahu, kapan ajal akan menjemputmu…

… karena aku sayang kamu. Aku bukan sok suci, karena aku juga merasa memiliki banyak dosa dan kesalahan yang bisa jadi lebih besar dari dosa-dosamu. Tapi aku terus memperbaiki diri, saling nasehat-menasehati agar kehidupan hakiki dapat terealisasi. Nasehati aku bila melakukan dosa dan kesalahan, aku akan menerimanya dengan penuh keikhlasan. Semoga kita selalu bersama dalam kebajikan, hingga ajal berada di kerongkongan dan menuju ke surgaNya dengan penuh ampunan, itulah sejatinya tujuan hidup orang beriman. Wallahu a’lam. 03012023.

Jumat, 14 Oktober 2022

Penipuan Melalui Transfer Bank Tahun 2022

 Misno bin Mohamad Djahri


Sebagian kita mengenal tokoh Robinhood, yaitu seorang tokoh terkenal yang merampok dan hasilnya diberikan kepada fakir miskin. Sebagian orang menganggapnya sebagai pahlawan karena telah memberikan manfaat kepada mereka yang mendapatkan pertolongan, namun Sebagian lainnya tidak setuju dengan perbuatannya karena satu sisi menolong orang lain, sisi lainnya juga merugikan orang lain. Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi nyawa, darah, kehormatan dan harta manusia tentu saja tidak menyetujui perbuatan ini. Hal ini karena perbuatan tersebut adalah diharamkan dalam Islam, walaupun hasilnya untuk orang yang membutuhkan.

Fenomena semacam ini terjadi juga di zaman ini, sebagai bentuk husnudzan (baik sangka) kepada pihak-pihak yang melakukan penipuan mengatasnamakan menolong orang lain yang membutuhkan. Namun jika dia berdusta dengan nama agama dan membantu sesama manusia maka dosanya akan lebih besar dan tentu saja mendapatkan siksaan yang dahsyat di akhirat sana. Inilah beberapa fenomena penipuan yang terjadi di tahun 2022.

Jenis penipuan pertama adalah dengan mengirimkan bukti transfer palsu, ya… bukti transfer itu palsu karena dapat terdeteksi apabila kita lebih cermat melihatnya. Begini kronologinya, ketika saya menyebarkan (share) project donasi untuk Islamic Centre tiba-tiba ada seorang yang mengaku dari “Komunitas Palembang berbagi” mengirimkan bukti transfer dari Bank BRI sebesar Rp, 600.000 dengan kata-kata “Assalamualaikum, ini ada sedikit rezeki buat bantuin donasinya semoga bermanfaat”. Tentu saja saya mengucapkan terimakasih dan doa keberkahan, “Saya dari Komunitas Palembang Berbagi” Pak” begitu pesan WA berikutnya. Hanya berselang satu menit dia kembali mengirim pesan “Pak Maaf, barusan saya buka grup ini salah kirim, cumin 300 mau disumbangkan ke sini. Ternyata ada donasi operasi juga yang mau dibantu bukan Cuma untuk donasi ini saja Pak”. Merasa saya tidak enak dan tidak ada rasa curiga, maka saya meminta nomor rekeningnya, kemudian mentransfer 300 ribu. Dia juga mengirim photo anak yang akan dioperasi forward Open Donasi dari “Relawan Muda Haurgeulis”, yang belum sempat saya download sebelumnya. Ketika masih dalam proses transfer dia mengirim pesan lagi “Mohon dikabari kalau sudah karena mau dikonfirmasi juga ke donasi satunya”. Lalu saya kirimkan bukti transfer dan dia juga mengucapkan “Baik Pak, mohon maaf sebelumnya lagi Pak”. Saya jawab “Iya gak apa-apa tenang aja”, tidak lupa saya mendoakannya “Baarakallahu fi amwaalikum (semoga Allah ta’ala memberkahi harta anda”.

Selang 8 menit dia kembali menghirimkan bukti transfer sebesar Rp 800.000 dari Bank Syariah Indonesia (BSI). Saya bertanya “Apakah ini donasi lain lagi?” dia menjawab “Iya Pak ini yang lain lagi”. Hanya berselang satu menit, tiba-tiba dia mengirim pesan kembali “”Makanya ini konfirmasi dibagi Pak soalnya keluarga tidak tahu ini kalau 2 donasi yang mau dibantu”. Timbul kecurigaan dalam diri saya, maka saya check rekening saya lewat mobile banking ternyata memamg belum ada dana yang masuk baik yang awal ataupun yang kedua. Orang itu sempat sedikit memaksa untuk mengirimkan kembali dengan jumlah separuh dari nilai transfer yaitu 400 ribu, tapi saya sampaikan bahwa uangnya belum masuk di rekening saya. Dia mencoba memaksa lagi, tapi saya bilang kalau sudah masuk ke rekening saya, maka akan langsung saya kembalikan. Dia sempat beralasan dengan sistem di bank dan sinyal, tapi saya bantah bahwa sinyal di saya bagus dan mobile banking juga lancar. Buktinya transfer saya 300 ribu ke dia tercatat jelas, maka kecurigaan itu semakin kuat. Karena tidak ada bukti untuk menuduhnya menipu maka saya hanya doakan semoga mendapatkan keberkahan dalam mengurus donasi untuk umat.

Dia masih tidak mau mengaku dan meminta saya untuk segera mentransfer, bahkan sempat bilang transfer 300 ribu aja pak katanya untuk operasi anak saudara jam 9 ini yang tersisa 1,5 jam lagi. Kecurigaan itu semakin kuat ketika saya kembali mengecek rekening di mobile banking tidak ada dana masuk. Akhirnya pukul 08.00 pagi saya sadar, ternyata ini adalah salah satu bentuk penipuan karena sampai saat ini dana itu tidak masuk di rekening saya, saya juga bilang bahwa uang yang 300 ribu itu saya ikhlaskan kalau untuk membantu orang lain, tidak lupa saya doakan “Semoga Allah dimudahkan Allah ta’ala, baarakallahu fiika”. Akhir dari pesan WA nya adalah “Ya, mohon kirimkan”  mengakhiri komunikasi kami dan saya yakin ini adalah salah satu bentuk penipuan.

Maka kepada seluruh pengurus Yayasan yang membuka donasi hendaknya berhati-hati dengan berbagai bentuk penipuan yang mengatasnamakan donasi juga. Pastikan sebelum mengembalikan cek terlebih dahulu rekening kita apakah ada dana masuk atau tidak. Karena bukti transfer itu dipastikan adalah palsu dengan editan yang kelihatan dari jenis font dan nomor transaksi. Demikian juga kata-kata yang memelas dengan alasan membantu operasi anak yang sakit juga sekadar alasan untuk kita kasihan padahal itu adalah kebohongan yang jelas perbuatan dosa.

Maka, untuk menolong orang lain dalam Islam bukan dengan menipu orang lainnya atau membuat kerugian kepada pihak lainnya, Semoga Allah Ta’ala terhindar dari segala bentuk penipuan makar dan kejahatan manusia lainnya. Wallahu a’alam, Pagi Jumat, 14 Oktober 2022.

Rabu, 27 Juli 2022

Citayam Fashion Week: Budaya Anak Muda yang Perlu Bimbingan

Oleh: Misno Mohamad Djahri

 




Berita mengenai Citayam Fashion Week hingga pekan ini masih mendominasi dunia sosial media (sosmed), sebut saja tiktok, reel instagram, reel di youtube dan saluran lainnya seolah-olah menjadikannya sebagai tema utama. Berbagai content creator bahkan menjadikannya sebagai obyek baru content mereka. Dari mulai wawancara dengan anak muda yang ada di sana hingga semua hal terkait dengan topik ini.  Bagaimana sebenarnya menyikapi hal ini?

Ada banyak hal yang bisa dibincangkan dari fenomena ini, dari mulai kemunculannya, para tokohnya hingga “sesuatu” yang ada di balik viralnya topik ini. Salah satu yang menarik untuk dibahas adalah terkait dengan para pelaku dan tokoh-tokoh yang ada di dalamnya yang sebagian adalah anak-anak dari Citayam, Bojonggede dan Depok. Tentu saja kenyataannya mereka banyak juga dari Bekasi, Tangerang, Bogor dan wilayah Jabodetabek lainnya.

Tokoh-tokoh viral yang ada di berita viral ini ada; Bonge, Kurma, Jeje, Mami dan anak-anak muda yang lainnya. Sebagian besar dari mereka menggunakan outfit yang “heboh” khas anak muda, yang justru menjadi icon bagi berita ini. Sebagian dari mereka adalah anak-anak kalangan ekonomi menengah ke bawah dengan pendidikan yang juga hanya sampai di tingkat dasar atau menengah atas. Tentu saja latar asal-usul, budaya, ekonomi dan Pendidikan bukan menjadi suatu masalah, masalah terbesar bagi penulis adalah beberapa dari mereka yang mengususng gaya hidup yang tidak sesuai dengan agama dan budaya bangsa.

Mamih, Minho dan Bella adalah tigha contoh dari anak muda yang cukup viral di Citayam Fashion Week karena sering menjadi obyek wawancara dan content. Video wawancara mereka bersliweran di social media, dengan gayanya masing-masing. Dari ketiga tokoh tersebut tentu saja ada kesamaan di mana mereka sedang mengalami krisi kepribadian. Bahkan duan ama terakhir mengaku secara terbuka bahwa pekerjaannya adalah “Pekerja Malam”, yaitu melayani om-om dengan tarif tertentu. Tentu saja bukan hanya mereka bertiga, masih banyak lagi remaja-remaja seperti mereka yang terbawa dalam arus budaya yang tidak sesuai dengan agama dan budaya bangsa.

Ketiga remaja tersebut adalah laki-laki namun memakai pakaian perempuan dan dengan gaya kemayu perempuan. Terlihat jelas dalam banyak video viral mereka memakai pakaian perempuan dengan bagian perut terbuka serta aksesoris khas perempuan. Ditambah lagi dengan gaya bicara, gerak tubuh yang jelas mereka adalah remaja putra yang bergaya seperti remaja putri. Sebagian menganggapnya lucu dan sebagai hiburan, Sebagian lagi mungkin cuek saja dengan gaya mereka karena memang sudah banyak di sekitar kita. Bagaimana dengan anda para pembaca? Apakah anda juga “menerima” keadaan mereka? Atau mengaanggap ini adalah sebuah ancaman generasi di masa depan?

Islam sebagai agama yang mengatur seluruh sendi kehidupan manusia telah memberikan pedoman dalam bertingkah laku bagi laki-laki dan perempuan. Demikian pula Islam melarang bagi mereka uuntuk menyerupai lawan jenisnya, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam telah melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki” HR. Bukhari.

Dalam lafazh Musnad Imam Ahmad disebutkan,

لَعَنَ اللَّهُ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ

“Allah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita, begitu pula wanita yang menyerupai laki-laki” HR. Ahmad.

Demikian pula dalam hadits Abu Hurairah disebutkan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَعَنَ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لُبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لُبْسَةَ الرَّجُلِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita, begitu pula wanita yang memakai pakaian laki-laki”. HR. Ahmad.

Berdasarkan Riwayat-riwayat tersebut jelas sekali bahwa Allah Ta’ala dan RasulNya telah melaknat dalam makna menjauhkan dari segala bentuk kebaikan bagi laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki.

Kembali ke fenomena Mami, Minho dan Bella serta beberapa yang lainnya di Citayam Fashion Week, maka kita sebagai seorang muslim harus punya keberanian untuk menyampaikan kebenaran bahwa fenomena tersebut tidak sesuai dengan syariah Islam yang menjunjung tinggi kemuliaan manusia. Sedangkan budaya bangsa sendiri tidak memperkenankan hal ini karena tidak sesuai dengan budaya leluhur kita. Sehingga hal ini harus diberikan peringatan, himbauan, penyampaian dan tahdzir dari semua pihak.

Tentu saja caranya harus sesuai dengan aturan Islam, jangan dengan kekerasan atau penyampaian yang justru menjadikan mereka menjauh dari Islam. Sebarkan dakwah dan keramahan Islam kepada mereka, sadarkan mereka bahwa hal tersebut tidak sesuai dengan syariah Islam dan akan menghancurkan kehidupannya sendiri. Ini menjadi tugas kita semua, sebagai muslim dan seluruh komponen bangsa. Bahwa perilaku yang menyimpang ini akan semakin menyebar apabila kita tidak menghentikan dan melakukan Tindakan amar ma’ruf nahi mungkar. Tentu saja sekali lagi dengan cara yang elegant.

Bagi adik-adik remaja yang sering nongkrong di SCBD, silahkan berkreasi, namun jangan melanggar dari fitrah insani (manusia). Jika kalian laki-laki maka bergaya-lah sebagai laki-laki dan jika kalian perempuan maka berpakaianlah layaknya perempuan. Jika kalian mengalami trauma masa kecil atau ada perasaan dalam hati yang tidak sesuai dengan fisik sendiri maka itu adalah cobaan dari Allah Ta’ala. Teruslah berusaha menghilangkan perasaan yang tidak sesuai dengan jati diri dan fisik yang telah Allah Ta’ala anugerahkan baik sebagai laki-laki atau perempuan.

Namun, jika gaya yang ditampilkan hanya sekadar sensasi atau karena mencari keuntungan duniawi atau untuk mendapatkan uang. Maka berhati-hatilah, pertama bahwa usaha untuk mencari uang atau materi jangan sampai mengorbankan hati Nurani sebagai laki-laki atau perempuan hingga harus merubah penampilan. Kedua, jika uang itu menentukan memang terkadang itu benar, tapi uang bukan segalanya sehingga harus melakukan apa saja tanpa melihat halal atau ahram dalam mendapatkannya. Ketiga, kembalilah kepada Islam yang telah mengajarkan umat manusia untuk memiliki uang tapi tidak menjadikannya sebagai tujuan utama dalam kehidupan hingga tidak melihat dari mana sumbernya.

Citayam Fashion Week adalah satu fenomena yang bukan viral dengan sendirinya, budaya urabn, perubahan di masyarakat hingga kehidupan konsumerisme telah membentuk fenomena ini. Selain itu banyak komunitas yang menumpang viralnya, misalnya dari kalangan LGBT dan yang lainnya. Sehingga mari kita peduli dengan bangsa ini, mari peduli dengan generasi negeri ini, caranya dengan Kembali memahami agama Islam yang menjadi ruh bagi insani. Wallahu a’lam, menjelang tengah malam 27072022. 

Kamis, 21 Juli 2022

“Citayam Fashion Week”: Fenomena Budaya Urban yang Harus Selaras Syariah Ar Rahman

Oleh: Misno bin Mohd Djahri

 


Salah satu dari berita viral saat ini adalah fenomena Sebagian masyarakat yang sebagian besar adalah generasi muda yang berasal dari wilayah Citayam, Bojong Gede dan Depok. Mereka berkumpul dan membuat berbagai kegiatan khususnya “nongkrong” dan bergaya di Kawasan Sudirman Central Business District (SCBD) yang selama ini menjadi Kawasan bisnis dan wilayah orang-orang berdasi dan kalangan professional lainnya. Ada banyak pendapat dari berbagai ahli yang membahas eksistensi mereka. Bagaimana dalam perspektif sosial keagamaan khususnya Islam?

Fenomena “nongkrong” dan kumpul-kumpul anak muda, sejatinya bukan hanya sekarang terjadi, namun sudah sejak lama. Dulu ada istilah “mejeng” yaitu nongkrong di pinggir jalan untuk sekadar bergaya atau mencari hiburan. Kalau fenomena “Citayam Fashion Week” saat ini lebih viral (terkenal dan menyebar) karena media sosial yang saat ini begitu menyebar ke seluruh penjuru hingga kemudian istilah ini viral.

Islam sebagai agama yang paling palingpurna telah mengatur seluruh sendi kehidupan, termasuk aturan mengenai “nongkrong” dan berkumpul di pinggir jalan. Bahkan para sahabat juga memiliki kebiasaan untuk duduk-duduk di pinggir jalan pada masa lalu. Sehingga Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ. فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ، إِنَّمَا هِيَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا. قَالَ فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلاَّ الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ غَضُّ الْبَصَرِ، وَكَفُّ الأَذَى، وَرَدُّ السَّلاَمِ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ

“Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan.” Mereka bertanya, “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkerama.” Beliau bersabda, “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut.” Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan di jalan, menjawab salam dan amar makruf nahi munkar.” HR. Bukhari.

Merujuk pada riwayat ini maka sejatinya tidak ada masalah untuk duduk-duduk di pinggir jalan, namun ada aturan yang harus diperhatikan. Diantaranya adalah; Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan di jalan, menjawab salam dan amar makruf nahi munkar. Aturan ini menunjukan kesempurnaan Islam, bagaimana ternyata kebiasaan seperti ini juga diperbolehkan dengan syarat sesuai dengan aturan-aturan Islam.

Kembali kepada fenomena para pemuda yang nongkrong di SCBD yang kemudian dipeleserkan menjadi Sudirman, Citayam, Bojong Gede dan Depok, maka melihat hukum asalnya boleh-boleh saja untuk melakukan berbagai kegiatan positif dan islami di sana. Namun perlu diperhatikan hal-hal lainnya yang melanggar aturan dan juga syariah Islam. Karena faktanya beberapa kegiatan justru mengandung unsur yang diharamkan dalam Islam, dimulai dari pakaian mereka yang tidak menutup aurat atau tasyabuh dengan orang non muslim, penggunaan aksesoris yang tidak islami seperti tato, music-musik yang tidak Islami hingga lenggak-lenggok mereka yang seoalh-olah berada di atas catwalk.

Pihak berwenang sendiri sudah mengantisipasi kegiatan mereka, mulai dari penjagaan bahaya narkoba, pergaulan bebas, hingga gangguan keamanan di sekitar lokasi. Islam sendiri lebih detail mengatur hal ini yang lebih komprehensif dan berefek jangka Panjang bagi pribadi, komunitas dan juga masyarakat.

Maka, fenomena anak-anak di SCBD memang salah satu budaya urban yang akan terus ada, Islam memberikan panduan dalam setiap kegiatan yang ada. Peran dari setiap muslim, ulama dan yang memahami fenomena ini hendaknya selalu dan terus peduli sehingga tidak terjadi hal-hal yang melanggar dari syariah Islam. Silahkan berkreasi dan melakukan berbagai kegiatan di mana saja, namun syaratnya perhatikan aturan-aturan Islam di dalamnya. Wallahu a’alam. 21072022.  

 

 

 

Sabtu, 28 Mei 2022

Islam dan Etika Lingkungan

Oleh: Aziz Abdurrahman, S.Li (Mahasiswa Pascasarjana INAIS Bogor)

 


Beberapa hari yang lalu media massa dihebohkan dengan banjir rob di Semarang Jawa Tengah, dalam video yang direkam oleh warga sekitar terlihat air laut naik ke permukaan, persis seperti bencana tsunami yang menghancurkan kota Palu pada tahun 2018 silam. Ketika gelombang air laut menghantam pesisir Semarang terlihat dengan jelas bagaimana kendaraan bermotor masyarakat sekitar yang jatuh terbawa arus. Juga terlihat dalam video itu ketinggalan air setinggi dada orang dewasa.

Sejatinya pesisir utara pulau Jawa memang diprediksikan akan tenggelam, bahkan Presiden Amerika Joe Biden menyatakan bahwa tahun 2030 Jakarta akan tenggelam. Tentu pernyataan Biden bukankah untuk menakut-nakuti, sekelas Presiden apalagi negara besar seperti Amerika Serikat, pasti berbicara berdasarkan data saintis yang ada.

Hal senada diungkapkan oleh Dr. Eko Prasetyo dari Universitas Airlangga sebagaimana dikutip oleh CNBC Indonesia, menurut beliau sebab utamanya kata beliau adalah pemanasan global, penurunan muka tanah, dan mencairnya gletser di kutub selatan menjadikan tingginya air laut.

Lantas sebagai negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia, tidakkah Islam memberikan solusi untuk problem tersebut? Sebelum jauh membahasnya ada baiknya kita pahami bersama bahwa islam adalah agama sempurna. Kesempurnaan agama Islam ini ditinjau dari beberapa sisi, diantaranya adalah bahwa dalam ajaran islam, kita sebagai umatnya harus bisa menyeimbangkan antara dunia dan akhirat. Islam bukanlah agama rahbaniyah yang pemuka agamanya hanya tinggal di tempat ibadah serta meninggalkan kehidupan dunia sama sekali. Lihat saja bagaimana Nabi Muhammad dan para sahabatnya mengamalkan ajaran Islam, diantara para sahabat Nabi adalah yang berdagang di pasar, namun aktivitas tersebut tidaklah melalaikan mereka dari mengingat Allah.

Dalam ayat al-Quran di surat Al-Jumu'ah  disebutkan;

يا أيها الذين آمنوا إذا نودي للصلاة من يوم الجمعة فاسعوا إلى ذكر الله و ذروا البيع

"Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian diseru untuk menunaikan shalat pada hari jumat maka bersegeralah untuk mengingat Allah dan tinggalkan jual beli." (QS. Al-Jumu'ah: 9) Oleh karena itu kita dianjurkan untuk  memperbanyak berdoa;

 ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

Semua kita pasti menginginkan kehidupan yang baik, dunia dan akhiratnya.

Selain itu juga agama Islam membawa pesan rahmat untuk sekalian alam. Sehingga sifat rahmat (kasih sayang) itu berlaku universal, tidak terbatas pada sesama orang Islam saja, bahkan sifat rahmat itu berlaku pula untuk orang-orang diluar islam.

Dalam Al-Quran Allah Ta'ala berfirman;

و ما أرسلناك إلا رحمة للعالمين

"Dan tidaklah kami mengutusmu kecuali menjadi rahmat bagi sekalian alam semesta." (QS. Al-Anbiya: 107)

Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

ياأيها الناس إنما أنا رحمة مهداة

"Wahai manusia, aku adalah rahmat yang dihadiahkan (untuk kalian)."

Bahkan lebih dari itu, sifat rahmat dalam islam tidak terbatas pada manusia, melainkan juga kepada binatang. Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kita apabila hendak menyembelih hewan agar menajamkan pisaunya agar hewan sembelihan tersebut tidak merasa kesakitan ketika disembelih. Dan sifat rahmat ini juga berlaku untuk tumbuhan, Dalam islam ketika terjadi peperangan melawan musuh orang-orang kafir, ada larangan untuk menebang pohon, menghancurkan gereja dan membunuh para pemuka agama mereka.

Itulah gambaran sifat rahmat dalam agama islam. Jika demikian bagaimana mungkin islam tidak mengajarkan kepada umatnya untuk memiliki kepedulian terhadap lingkungannya?

 Menurut penelitian, penurunan tanah disebabkan karena eksploitasi air tanah yang berlebihan. Padahal di dalam agama Islam kita diperintahkan untuk hemat dalam penggunaan air. Sampai-sampai sikap hemat ini dipraktekkan langsung oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dalam sebuah hadits yang menjelaskan tentang tata cara mandi besarnya Nabi disebutkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam cukup dengan 1 sha'. Dalam penjelasannya bahwa ukuran 1 sha' adalah 4 mud sedangkan 1 mudah adalah ukuran 2 telapak tangan orang dewasa. Dan untuk berwudhu Nabi cukup dengan 1 sha' saja. Lihatlah bagaimana Nabi kita mengajarkan kita bersikap hemat dalam penggunaan air. Dan hal ini sangat bertentangan sekali dengan sebagian orang yang boros dalam penggunaan air bersih.

Islam juga berusaha menjaga air yang tersedia agar tetap bersih sehingga bisa dimanfaatkan oleh orang banyak. Dalam hadits yang lainnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لا يبولن أحدكم في الماء الدائم

"Janganlah salah seorang diantara kalian kencing di air yang diam/tidak mengalir." (HR. Al-Bukhari)

Para ulama menjelaskan mengapa tidak boleh kencing di air yang tidak bergerak alias diam? Karena jelas akan mengotorinya, sedangkan air yang tidak bergerak seperti air di danau atau sumur sangat dibutuhkan oleh orang banyak untuk kebutuhan mandi, mencuci bahkan bisa untuk dikonsumsi. Masya Allah, sangat indah syariat islam apabila diterapkan oleh umatnya.

Dari penjelasan diatas yang telah disebutkan, sejatinya masih banyak ajaran-ajaran islam kepada umatnya untuk peduli kepada lingkungannya namun penulis batasi pada hal utama yaitu tentang menjaga ketersediaan air bersih yang sangat berguna untuk kebutuhan semua makhluk hidup dan menjaga keselarasan alam.

Dari hadits-hadits yang penulis sebutkan diatas juga membuktikan bahwa islam bukanlah agama yang hanya mengatur kehidupan akhirat saja, bahkan lebih parah dari itu sampai-sampai keluar ucapan bahwa islam adalah agama candu. Sejatinya apabila islam dipahami dengan baik dan diamalkan secara holistic maka akan membawa dampak yang positif bagi lingkungan sekitar

Jumat, 21 Mei 2021

Hati-hati Ketika Bersendiri...

Oleh: Abd Misno Mohd Djahri

 

Manusia adalah makhluk sosial, ia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.  Sehingga setiap orang akan berusaha untuk dapat bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya. Inilah kemudian yang memunculkan berbagai komunitas yang berlatarbelakang berbeda-beda, sebagai hasil dari interkasi di antara mereka. Dalam skala yang lebih besar memunculkan masyarakat yang merupakan kumpulan dari berbagai individu dan komunitas yang membentuk sekumpulan orang dengan karakter yang beragam.

Namun, terkadang manusia juga perlu menyendiri sekadar untuk tidak diganggu oleh orang lain atau ingin instrospeksi diri. Menyendiri memiliki manfaat yang banyak sekali, belajar untuk memahami diri sendiri, atau karena adanya urusan yang memang harus diselesaikan sendiri tanpa adanya campur tangan orang lain. Beberapa orang ada juga yang tidak suka berinteraksi dengan orang lain, hingga ia kemudian lebih suka menyendiri.

Ketika sendiri, bisa jadi kita akan semakin dekat dengan Ilahi di mana kita dapat berfikir dan muhasabah diri tentang berbagai persoalan hidup dan kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan. Perintah untuk bediri shalat malam di keheningan adalah bukti kita sekali-kali diperintahkan untuk menyendiri hanya bersama Ilahi Rabbi. Inilah kemudian yang termaktub dalam kalamNya:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. QS. Al-Isra: 79.

Ayat ini menjelaskan tentang keutamaan dari seseorang yang menyendiri di waktu malam dengan mengerjakan shalat tahajud yang memiliki banyak keutamaan. Salah satunya adalah riwayat dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu ia menuturkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 فَضْلُ صَلاَةِ اللَّـيْلِ عَلَى صَلاَةِ النَّهَارِ، كَفَضْلِ صَدَقَةِ السِّرِّ عَلَى صَدَقَةِ الْعَلاَنِيَةِ.

Keutamaan shalat malam atas shalat siang, seperti keutamaan bersedekah secara sembunyi atas bersedekah secara terang-terangan. HR. Ibnu Mubarak.

Tentu saja selain ayat dan hadits tersebut masih banyak lagi ayat dan hadits yang menyebutkan tentang keutamaan shalat malam (tahajud). Poin pentingnya adalah bahwa menyendiri terkadang membawa kebaikan apabila diisi dengan amal yang mendekatkan diri kepada Ar-Rahmaan.

Menyendiri juga bisa mendatangkan mudharat kepada diri sendiri, godaan syaithan yang selalu menghampiri dengan membisiki “Kamu sekarang sendiri, lakukan saja apa yang kamu inginkan karena tidak ada orang yang melihatnya”. Demikian bisikan syaithan dan balatentaranya. Merasa sendiri dan tidak ada orang lain yang melihatnya menjadikan sebab seseorang kemudian mengisi kesendiriannya dengan berbagai dosa dan maksiat.

Adanya godaan syaithan sebagai faktor eksternal ditambah dengan faktor internal yaitu lemahnya iman dan merasa sendirian menjadi awal dari perbuatan dosa dan maksiat yang dilakukan ketika sendirian. Maka. Hati-hati ketika bersendiri...

Hal ini disebutkan dalam sebuah riwayat:

عَنْ ثَوْبَانَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ : « لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا ». قَالَ ثَوْبَانُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لاَ نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لاَ نَعْلَمُ. قَالَ : « أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا »

Dari Tsauban, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun Allah menjadikan kebaikan tersebut menjadi debu yang bertebaran.” Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, coba sebutkan sifat-sifat mereka pada kami supaya kami tidak menjadi seperti mereka sedangkan kami tidak mengetahuinya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adapun mereka adalah saudara kalian. Kulit mereka sama dengan kulit kalian. Mereka menghidupkan malam (dengan ibadah) seperti kalian. Akan tetapi mereka adalah kaum yang jika bersepian mereka merobek tirai untuk bisa bermaksiat pada Allah.” HR. Ibnu Majah no. 4245.

Makna dari hadits ini adalah adanya orang-orang yang mereka itu muslim (saudara kita dalam Islam), mereka juga melaksanakan shalat tahajud bahkan kulit mereka sama dengan kulit kita namun ketika mereka sendiri mereka melakukan dosa dan maksiat.

Riwayat ini menjadi pengingat untuk diri kita sendiri dan juga kaum muslimin, bahwa hendaknya ketika kita sendiri selalu mengingat Allahu Rabbi, agar kita tidak terjatuh ke dalam kemaksiatan. Hal ini sepeerti diingatkan oleh Allah ta’ala dalam kalamNya:  

يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا

“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nisa’: 108).

Maka berhati-hatilah ketika kita dalam keadaan sendiri, karena syaithan akan selalu menghampiri untuk menggoda kita agar bermaksiat kepada Ilahi. Demikian pula diri ini pun ketika sendiri kadang merasa tidak ada yang melihat lagi, sehingga kemudian ingin melakukan ma’ashi (kemaksiatan) karena kurangnya sifat muraqabah (merasa selalu diawasi oleh Allah Rabbul Izzati.

Kemajuan tekhnologi yang semakin canggih memunculkan berbagai media yang dengan mudah kita akses, baik ketika berada di tengah manusia ataupun ketika kita sendiri. Media sosial yang menghubungkan setiap orang kapan saja dan di mana saja sangat memungkinkan seseorang untuk dapat mengaksesnya ketika sendiri. Maka ketika kita dalam keadaan sendiri kemudian membuka gadget kita dan berselancar di dunia maya atau mengakses media sosial hendaknya kita selalu ingat adanya Allah Ta’ala yang selalu mengawasi kita, kita juga selalu ber-ta’awudz, memohon perlindungan kepadaNya agar tidak mudah terbawa dalam dosa dan maksiat ketika kita mengaksesnya.

Semoga media sosial yang kita akses baik dalam keadaan ramai ataupun sendiri semakin mendekatkan diri kepada Ilahi. Jadikan ia sebagai media untuk berinterksi sesama insani, saling menasehati dan upaya mendekatan diri kepada Ilahi Rabbi. Jika sesekali kita terpeleset ke dalam kesalahan, maka segeralah beristighfar (memohon ampun kepada Allah Ta’ala), kembalilah kepada jalanNya karena di sanalah sejatinya ketenangan dan kebahagiaan insani. Wallahua’lam, Jumat Mulia, 21052021.  

  

Kamis, 02 Juli 2020

Benarkah Jodoh, Rezeki, Kematian dan Perceraian adalah Takdir?


Oleh: Abd Misno Mohd Djahri



Salah satu dari perkataan yang umum di masyarakat adalah bahwa jodoh, rezeki, ajal (kematian) dan perceraian adalah takdir dari Allah Ta’ala, benarkah demikian? Jawabannya adalah Ya, betul sekali bahwa semua itu adalah merupakan takdir dari Allah Ta’ala. Akan tetapi keempatnya memiliki karakter masing-masing, yang apabila kita rinci terbagi menjadi dua; Pertama; Rezeki dan Kematian, Kedua; Jodoh dan Perceraian. Permasalahan ini sangat penting untuk dibahas karena terkait dengan Qadha dan Qadar yang masuk ke ranah tauhid atau keyakinan sebagai seorang muslim. Selain itu jangan sampai kita masuk ke dalam aliran Jabariah yang menganggap bahwa manusia hanya seperti wayang yang dipaksa mengikuti takdirNya, atau seperti Qadariah yang meyakini semuanya adalah kehendak manusia tanpa campur tangan Allah Ta’ala.

Beriman dengan Qadha dan Qadar
Dasar keimanan terhadap qadha dan qadar adalah firman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an, yaitu firmanNya:
وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلا عِنْدَنَا خَزَائِنُهُ وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلا بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ
Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu. QS. Al-Hijr: 21.
Pada ayat yang lainnya disebutkan:  
وَكَانَ أَمْرًا مَقْضِيًّا
“Dan ini perkara yang sudah ditetapkan.” (QS. Maryam: 21).
Riwayat shahih mengenai hal ini adalah sabda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam :
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir, dan kamu beriman kepada qadar yang baik maupun yang buruk. HR. Muslim.
Riwayat lainnya menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan Allah ta’ala ialah pena, kemudian Allah berfirman kepadanya, ‘Tulislah.’ Pena berkata, ‘Tuhanku, apa yang harus saya tulis?’ Allah berfirman, ‘Tulislah takaran (takdir) segala sesuatu hingga hari kiamat.” (H.R. Ahmad dan At-Tirmidzi).
Merujuk pada beberapa ayat dalam Al-Qur’an dan riwayat shahih dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dapat dipahami bahwa Allah Ta’ala telah menetapkan takdir seluruh makhlukNya. Riwayat lainnya menjelaskan:
 كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ.
“Allah telah mencatat seluruh takdir makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi” HR. Muslim, Thirmidzi dan Abu Dawud.
Ada dua istilah yang kemudian dibahas oleh para ulama, yaitu; qadha dan qadar. Keduanya memiliki makna yang berbeda ketika disatukan dalam satu pembahasan (qadha-qadar) apabila dipisah maknanya sama yaitu takdir dari Allah Ta’ala. Secara lebih rinci ada dua pendapat mengenai hal ini;   

Pertama, Qadha dan Qadar bermakna Sama.
Mereka menyatakan bahwa makna qadha dan qadar itu sama maknanya yaitu ketentuan dari Allah Ta’ala sejak zaman dahulu kala. Pendapat ini dipegang oleh Abdul Aziz bin Abdullah yang menyatakan:
القضاء والقدر، هو شيء واحد، الشيء الذي قضاه الله سابقاً ، وقدره سابقاً، يقال لهذا القضاء ، ويقال له القدر
Qadha dan qadar adalah dua kata yang artinya samya, aitu sesuatu yang telah Allah qadha’-kan (tetapkan) dulu, dan yang telah Allah takdirkan dulu. Bisa disebut qadha, bisa disebut taqdir.
Persamaaan makna ini sebagaimana tercatat dalam al-Qamus al-Muhith, yaitu;
القدر : القضاء والحكم
Qadar adalah qadha dan hukum.
Merujuk kepada pendapat ini maka tidak ada perbedaan makna antara qadha dan qadar yaitu ketetapan dari Allah Ta’ala sejak zaman azali.

Kedua, Berbeda makna antara Qadha dan Qadar.  
Pendapat ini memiliki dua pendapat yang berbeda pula, yaitu;
1.      Qadha lebih dahulu dari pada qadar. Qadha adalah ketetapan Allah di zaman azali. Sementara qadar adalah ketetapan Allah untuk apapun yang saat ini sedang terjadi. Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,
قال العلماء : القضاء هو الحكم الكلي الإجمالي في الأزل ، والقدر جزئيات ذلك الحكم وتفاصيله
Para ulama mengatakan, al-qadha adalah ketetapan global secara keseluruhan di zaman azali. Sementara qadar adalah bagian-bagian dan rincian dari ketetapan global itu. (Fathul Bari, 11/477).
Al-Jurjani menyatakan,
والفرق بين القدر والقضاء : هو أن القضاء وجود جميع الموجودات في اللوح المحفوظ مجتمعة، والقدر وجودها متفرقة في الأعيان بعد حصول شرائطها
Perbedaan antara qadar dan qadha, bahwa qadha bentuknya ketetapan adanya seluruh makhluk yang tertulis di al-Lauh al-Mahfudz secara global. Sementara qadar adalah ketetapan adanya makhluk tertentu, setelah terpenuhi syarat-syaratnya. (at-Ta’rifat, hlm. 174)
2.      Kebalikan dari pendapat sebelumnya, qadar lebih dahulu dari pada qadha. Qadar adalah ketetapan Allah di zaman azali. Sementara qadha adalah penciptaan Allah untuk apapun yang saat ini sedang terjadi.
Ar-Raghib al-Asfahani dalam al-Mufradat (hlm. 675) menyatakan,
والقضاء من الله تعالى أخص من القدر؛ لأنه الفصل بين التقدير، فالقدر هو التقدير، والقضاء هو الفصل والقطع
Qadha Allah lebih khusus dibandingkan qadar. Karena qadha adalah ketetapan diantara taqdir (ketetapan). Qadar itu taqdir, sementara qadha adalah keputusan.
Pendapat ini dipegang pula oleh Muhammad bin Shaleh yang menyatakan “Maka ketika Allah menetapkan sesuatu akan terjadi pada waktunya, ketentuan ini disebut Qadar. Kemudian ketika telah tiba waktu yang telah ditetapkan pada sesuatu tersebut, ketentuan tersebut disebut Qadha’”.
Ulama dari kalangan Asy’ariyah dan Maturidiyah berpendapat bahwa makna qadha dan qadar itu berbeda. Syekh M. Nawawi Banten menyatakan:
اختلفوا في معنى القضاء والقدر فالقضاء عند الأشاعرة إرادة الله الأشياء في الأزل على ما هي عليه في غير الأزل والقدر عندهم إيجاد الله الأشياء على قدر مخصوص على وفق الإرادة
“Ulama tauhid atau mutakallimin berbeda pendapat perihal makna qadha dan qadar. Qadha menurut ulama Asy’ariyyah adalah kehendak Allah atas sesuatu pada azali untuk sebuah ‘realitas’ pada saat sesuatu di luar azali kelak. Sementara qadar menurut mereka adalah penciptaan (realisasi) Allah atas sesuatu pada kadar tertentu sesuai dengan kehendak-Nya pada azali,” (Kasyifatus Saja, hal. 12).
Beliau memberikan contoh qadha dan qadar menurut kelompok Asyariyyah, Qadha adalah putusan Allah pada azali bahwa kelak kita akan menjadi apa. Sementara qadar adalah realisasi Allah atas qadha terhadap diri kita sesuai kehendak-Nya.
 فإرادة الله المتعلقة أزلا بأنك تصير عالما قضاء وإيجاد العلم فيك بعد وجودك على وفق الإرادة قدر
“Kehendak Allah yang berkaitan pada azali, misalnya kau kelak menjadi orang alim atau berpengetahuan adalah qadha. Sementara penciptaan ilmu di dalam dirimu setelah ujudmu hadir di dunia sesuai dengan kehendak-Nya pada azali adalah qadar,” (Kasyifatus Saja, 12).
Sedangkan bagi kelompok Maturidiyyah, qadha dipahami sebagai penciptaan Allah atas sesuatu disertai penyempurnaan sesuai ilmu-Nya. Dengan kata lain, qadha adalah batasan yang Allah buat pada azali atas setiap makhluk dengan batasan yang ada pada semua makhluk itu seperti baik, buruk, memberi manfaat, menyebabkan mudarat, dan seterusnya.
وقول الأشاعرة هو المشهور وعلى كل فالقضاء قديم والقدر حادث بخلاف قول الماتريدية وقيل كل منهما بمعنى إرادته تعالى
“Pandangan ulama Asy’ariyyah cukup masyhur. Atas setiap pandangan itu, yang jelas qadha itu qadim (dulu tanpa awal). Sementara qadar itu hadits (baru). Pandangan ini berbeda dengan pandangan ulama Maturidiyyah. Ada ulama berkata bahwa qadha dan qadar adalah pengertian dari kehendak-Nya,” (Kasyifatus Saja, hal. 12).
Merujuk pada berbagai pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa qadha dan qadar adalah takdir dan ketetapan dari Allah Ta’ala. Pada dasarnya ia bersifat azali sejak penciptaan Qalam (pena) yang telah dititahkan oleh Allah Ta’ala untuk menuliskan takdir semesta. Ketetapan ini tidaklah meniadakan adanya usaha dari ikhtiar manusia, dengan kata lain takdir dari Allah Ta’ala terkait dengan usaha maksimal dari manusia.

Iman dengan Takdir: Rezeki dan Kematian
Kembali pada pembahasan di awal, bahwa rizki dan ajal merupakan takdir dari Allah Ta’ala, maka tidak bisa seorangpun untuk menolaknya. Terkait dengan rizki Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ
“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah: “Allah.” (QS. Saba’: 24).
Pada ayat yang lainnya Allah Ta’ala berfirman,
وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ
“Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezki.” (QS. An Nahl: 71).
Merujuk pada ayat-ayat ini maka jelas sekali bahwa rizki dari Allah Ta’ala sudah ditetapkan, namun demikian manusia memiliki usaha untuk menjemput rizki tersebut. Semakin dia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjemput rizki tersebut maka ia akan mendapatkan apa yang dia usahakan. Sehingga jika ada orang yang mengatakan bahwa rizki itu sudah ditentukan, jadi kita tidak perlu usaha maka perkataan ini tidak tepat. Karena perintah untuk berikhtiar sendiri sangat jelas, seperti dalam firmaNya:
هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
“Dia-lah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”. QS. Al-Mulk:15.
Pada ayat yang lainnya juga disebutkan secara jelas:
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الأرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. QS. Al-Jumu’ah: 10.
Merujuk pada pemahaman dari ayat ini adalah bahwa, rizki itu sudah ditetapkan Allah Ta’ala akan tetapi manusia juga diperintahkan untuk mencarinya, menjemputnya dan mendapatkan rizki yang halal.
Adapun berkaitan dengan ajal maka Allah Ta’ala berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185).
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An Nisa’: 78).
Selain dua ayat ini, banyak sekali ayat dan juga hadits yang menunjukan bahwa ajal atau kematian itu sudah ditentukan oleh Allah Ta’ala waktu dan tempatnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,
إنَّ أَحَدَكُم يُجْمَعُ خلقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ، فَوَاللهِ الَّذِيْ لاَ إِلَهَ غُيْرُهُ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ
”Sesungguhnya seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah (bersatunya sperma dengan ovum), kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) seperti itu pula. Kemudian menjadi mudhghah (segumpal daging) seperti itu pula. Kemudian seorang Malaikat diutus kepadanya untuk meniupkan ruh di dalamnya, dan diperintahkan untuk menulis empat hal, yaitu menuliskan rizkinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagianya. Maka demi Allah yang tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Dia, sesungguhnya salah seorang dari kalian beramal dengan amalan ahli surga, sehingga jarak antara dirinya dengan surga hanya tinggal sehasta, tetapi catatan (takdir) mendahuluinya lalu ia beramal dengan amalan ahli neraka, maka dengan itu ia memasukinya. Dan sesungguhnya salah seorang dari kalian beramal dengan amalan ahli neraka, sehingga jarak antara dirinya dengan neraka hanya tinggal sehasta, tetapi catatan (takdir) mendahuluinya lalu ia beramal dengan amalan ahli surga, maka dengan itu ia memasukinya”. HR. Bukhari dan Muslim.
Sebagaimana berkaitan dengan rizki yang sudah ditentukan maka ajal atau kematian juga sudah ditentukan. Namun ia tidak meniadakan ikhtiar manusia, maksudnya dalam konteks kematian jika ada orang yang buhun diri kemudia dia beralasan bahwa itu adalah takdir maka bisa dikatakan bahwa ketika seseorang bunuh diri dan meninggal dunia maka itu adalah takdir. Tetapi ia berdosa karena telah membunuh dirinya sendiri, sehingga ia akan disiksa di neraka, sebagaimana ayat dan juga sabda Nabi yang mulia:
وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا * وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللّهِ يَسِيرًا

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. An Nisa: 29-30).
من قتل نفسه بشيء عذب به يوم القيامة
“Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu, ia akan di adzab dengan itu di hari kiamat”. HR. Bukhari dan Muslim.
Ayat dan hadits ini menunjukan larangan untuk bunuh diri serta ancaman bagi yang melakukannya. Walaupun mati adalah takdir, tetapi manusia memiliki kontrisbusi (kehendak) dalam prosesnya. Kehendak inilah yang kemudian menjadi sebab ia mendapatkan siksa.

Iman dengan Takdir:  Jodoh dan Perceraian.
Berikutnya terkait dengan jodoh dan perceraian, bahwa keduanya adalah merupakan takdir dari Allah Ta’ala. Jodoh seseorang sudah ditentukan, sebagaimana firmanNya:
الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga). QS. An-Nur: 26.
Ayat ini berbicara secara umum bahwa manusia itu diciptakan secara berpasang-pasangan , sebagaimana firmanNya:
وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz Dzariyat: 59). Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan,
جميع المخلوقات أزواج: سماء وأرض، وليل ونهار، وشمس وقمر، وبر وبحر، وضياء وظلام، وإيمان وكفر، وموت وحياة، وشقاء وسعادة، وجنة ونار، حتى الحيوانات [جن وإنس، ذكور وإناث] والنباتات
“Setiap makhluk itu berpasang-pasangan. Ada matahari dan bumi. Ada malam dan ada siang. Ada matahari dan ada rembulan. Ada daratan dan ada lautan. Ada terang dan ada gelap. Ada iman dan ada kafir. Ada kematian dan ada kehidupan. Ada kesengsaraan dan ada kebahagiaan. Ada surga dan ada neraka. Sampai pada hewan pun terdapat demikian. Ada juga jin dan ada manusia. Ada laki-laki dan ada perempuan. Ada pula berpasang-pasangan pada tanaman.”
Jika ada seseorang yang ternyata tidak menikah hingga meninggal dunia maka bukan berarti ia tidak ada pasangan. Adanya unsur kehendak dalam dirinya untuk tidak menikah atau hal lainnya yang menjadikan ia tidak berjumpa dengan pasangannya. Intinya adalah bahwa jodoh itu sudah takdir, namun manusia juga memiliki kehendakn untuk mencarinya dan menentukannya. Jika seseorang telah berusaha untuk mencari pasangan kemudian hingga menikah maka itulah jodohnya. Jika ternyata kemudian ia bercerai dan menikah dengan orang lain maka itupun takdirNya juga.
Perceraian sebagai takdir dari Allah Ta’ala juga merupakan ketetapan yang sudah pasti adanya. Namun ia juga tidak lepas dari kehendak dari manusia, kehidupan keluarga yang penuh dengan romantika; suka dan duka silih berganti, gelombang dan prahara rumah tangga yang sering menerjang terkadang berakhir dengan perceraian. Perceraian itu takdir ketika sudah terjadi, tetapi manusia memiliki kehendak untuk melakukannya atau bersabar dan tetap mempertahankan keluarganya.

Kesimpulan
Pembahasan mengenai jodoh, rizki, ajal dan perceraian terkait erat dengan tauhid atau keimanan seorang muslim yaitu iman (percaya/yakin) dengan takdir dari Allah Ta’ala. Semua hal di dunia ini sudah ditakdirkan, tetap manusia memiliki kehendak dan ikhtiar. Kaya atau miskin, bahagia atau sengsara, menikah atau tetap sendiri, mempertahankan keluarga atau bercerai semua itu adalah pilihan bagi manusia.
Jika kita menganggap bahwa semua itu sudah menjadi takdirNya dan manusia hanya menjalankannya maka ia terbawa pada pemikiran Jabariyah atau Jabriah yang menganggap bahwa manusia hanya seperti boneka (wayang) yang dipaksa mengikuti takdir dari Allah Ta’ala. Sedangkan bila ia berkeyakinan bahwa manusia memiliki kehendak penuh untuk melakukan segala sesuatu tanpa takdir Allah, maka ia terjebak ke dalam pemikiran Qadariah di mana manusia seolah-olah bebas tanpa kuasa dariNya.
Maka, jalan tengah dari keduanya yang merupakan solusi terbaik adalah pendapat dari Ahlu Sunnah wal Jamaah yang meyakini bahwasanya semua takdir semesta telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala sejak awal mula penciptaan, tetapi manusia memiliki kehendak dan ikhtiar untuk menentukan dan memilih yang yang terbaik baginya. Istilah lainnnya menyatakan “Beralih dari satu takdir ke takdir lainnya”, karena kita tidak tahu yang mana takdir kita. Oleh karena itu tetap yakin dengan takdir Allah Ta’ala dan terus berusaha untuk menjadi yang terbaik dan melakukan hal-hal yang baik agar kehidupan kita berakhir dalam kebaikan yaitu di surga sebagai negeri keabadian. Wallahu a’lam, (Menjelang tengah hari di Bogor City, 02 Juli 2020).