Tampilkan postingan dengan label Fiqh Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiqh Islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Juni 2023

Keutamaan dan Amalan Hari-hari Tasyriq

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri

 

Setelah merayakan Hari raya Idhul Adha, maka umat Islam merayakan rangkaian hari raya ini hingga tiga hari yaitu 11, 12 dan 13 Dzulhijjah. Hari-hari ini disebut dengan tasyriq yang diambil dari kata [شرقت الشمش] yang artinya matahari terbit. Menjemur sesuatu, dalam bahasa Arab dinyatakan: [شَرَّقَ الشَيْءَ لِلشَّمْشِ]. Menurut Imam Nawawi dalam Al-Minhaj, hari-hari ini disebut dengan tasyriq karena orang-orang menjemur daging kurban di waktu tersebut, yaitu mendendeng dan menghampar daging pada terik matahari.

Abu Ubaid mengatakan “Ada dua pendapat ulama tentang alasan penamaan hari-hari tersebut dengan hari tasyrik: Pertama, dinamakan hari tasyrik karena kaum muslimin pada hari itu menjemur daging kurban untuk dibuat dendeng. Kedua, karena kegiatan berqurban, tidak dilakukan, kecuali setelah terbit matahari. (Lisanul Arab, 10:173)”.

 

Keutamaan Hari-hari Tasyriq

Hari-hari ini memiliki banyak keutamaan sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ لِمَنِ اتَّقَى وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang terbilang.” (QS. Al Baqarah: 203).

Ibnu ‘Umar dan ulama lainnya mengatakan bahwa ayyamul ma’dudat adalah tiga hari tasyriq. Ini menunjukkan adanya perintah berdzikir di hari-hari tasyriq. Namun Ibnu ‘Abbas dan ‘Atho’ mengatakan bahwa hari yang terbilang di situ adalah empat hari yaitu hari Idul Adha dan tiga hari sesudahnya. Hari-hari tersebut disebut hari Tasyriq. Namun pendapat pertama yang menyatakan bahwa hari yang terbilang adalah tiga hari sesudah Idul Adha adalah pendapat yang lebih tepat.

Maka, hari tasyriq adalah hari raya bagi umat Islam, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam:

يَوْمُ عَرَفَةَ وَيَوْمُ النَّحْرِ وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَهِىَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Hari Arofah, hari Idul Adha dan hari-hari Tasyriq adalah ‘ied kami -kaum muslimin-. Hari tersebut (Idul Adha dan hari Tasyriq) adalah hari menyantap makan dan minum.” HR. Abu Dawud, Thirmidzi dan Nasai.

Riwayat lainnya menjelaskan:

إِنَّ أَعْظَمَ الأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَوْمُ النَّحْرِ ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ

“Sesungguhnya hari yang paling mulia di sisi Allah Tabaroka wa Ta’ala adalah hari Idul Adha dan yaumul qorr (hari tasyriq).” HR. Abu Dawud.

Hari tasyriq disebut yaumul qorr karena pada saat itu orang yang berhaji berdiam di Mina. Hari tasyriq yang terbaik adalah hari tasyriq yang pertama, kemudian yang berikutnya dan berikutnya lagi.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَّ أَنَّهُ قَالَ مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلَ مِنْهَا فِي هَذِهِ

Artinya: “Dari sahabat Ibnu Abbas ra., dari Nabi Muhammad saw, ia bersabda, ‘Tidak ada amal pada hari-hari ini yang lebih utama daripadanya di hari-hari ini,’” (HR Bukhari).

Merujuk pada ayat dan hadits tersebut maka dapat disimpulkan bahwa hari-hari tasyriq memiliki banyak keutamaan karena mengandung syariah menyembelih kurban dan perintah untuk berzikir dan memuji Allah Ta’ala.

 

Idul Adha dan Tasyriq: Hari Bersenang-senang dan Menyantap Makanan

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa Idul Adha dan hari tasyriq adalah hari kaum muslimin untuk menikmati makanan, beliau bersabda,

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Hari-hari tasyriq adalah hari menikmati makanan dan minuman.” HR. Muslim

Dalam lafazh lainnya, beliau bersabda,

وَأَيَّامُ مِنًى أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Hari Mina (hari tasyriq) adalah hari menikmati makanan dan minuman.” HR. Muslim.

عَنْ نُبَيْشَةَ الْهُذَلِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَزَادَ فِي رواية وَذِكْرٍ لِلَّهِ

“Dari Nubaisyah Al-Hudzali, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, Hari Tasyrik adalah hari makan, minum (pada riwayat lain), dan hari zikir,’” (HR Muslim).

Ibnu Rajab mengatakan:

و إنما نهى عن صيام أيام التشريق لأنها أعياد للمسلمين مع يوم النحر فلا تصام بمنى و لا غيرها عند جمهور العلماء، خلافا لعطاء في قوله : إن النهي يختص بأهل منى

 

“Kita dilarang berpuasa pada hari tasyrik karena hari tasyrik adalah hari raya kaum muslimin, disamping hari raya qurban. Karena itu, tidak boleh puasa di Mina maupun di daerah lainnya, menurut mayoritas ulama. Tidak sebagaimana pendapat Atha yang mengatakan, sesungguhnya larangan puasa di hari tasyrik, khusus bagi orang yang tinggal di Mina.” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 509).

Merujuk pada riwayat tersebut maka hari-hari tasyriq adalah hari untuk makan dan minum karena merupakan rangkaian dari hari raya Idhul Adha serta dipotongnya hewan qurban yang dinikmati oleh umat Islam.

 

Amalan Hari Tasyriq: Berdzikir

Amalan yang paling utama pada hari-hari ini adalah berdzikir (mengingat) Allah Ta’al’la, sebagaimana firmanNya:

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ لِمَنِ اتَّقَى وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang terbilang.” (QS. Al Baqarah: 203).

Ayat ini secara jelas menunjukan perintah untuk berdzikir di hari-hari tasyriq. Adapun dzikir-dzikir yang disyariatkan adalah;

Pertama: berdzikir kepada Allah dengan bertakbir setelah selesai menunaikan shalat wajib. Ini disyariatkan hingga akhir hari tasyriq sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Hal ini juga diriwayatkan dari ‘Umar, ‘Ali dan Ibnu Abbas.

وكان أبو حنيفة يذهب بالتشريق في هذا إلى التكبير في دبر الصلاة

“Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa amal pada Hari Tasyrik adalah takbir setelah shalat,” (Al-Asqalani, 2004 M/1424 H: II/525).

Kedua: membaca tasmiyah (bismillah) dan takbir ketika menyembelih qurban. Waktu menyembelih qurban adalah sampai akhir hari tasyriq (13 Dzulhijah) sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Pendapat ini juga menjadi pendapat Imam Asy Syafi’i dan salah satu pendapat dari Imam Ahmad. Namun mayoritas sahabat berpendapat bahwa waktu menyembelih qurban hanya tiga hari yaitu hari Idul Adha dan dua hari tasyriq setelahnya (11 dan 12 Dzulhijah). Pendapat kedua ini adalah pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad, juga termasuk pendapat Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan kebanyakan ulama.

Ketiga: berdzikir memuji Allah Ta’ala ketika makan dan minum. Yang disyari’atkan ketika memulai makan dan minum adalah membaca basmallah dan mengakhirinya dengan hamdalah.

Keempat: berdzikir dengan takbir ketika melempar jumroh di hari tasyriq. Dan amalan ini khusus untuk orang yang berhaji.

Kelima: Berdzikir pada Allah secara mutlak karena kita dianjurkan memperbanyak dzikir di hari-hari tasyriq. Sebagaimana ‘Umar ketika itu pernah berdzikir di Mina di kemahnya, lalu manusia mendengar. Mereka pun bertakbir dan Mina akhirnya penuh dengan takbir.

 

Memperbanyak Do’a Sapu Jagad

Amalan selanjutnya dalah berdoa kepada Allah Ta’ala khususnya doa apu jagad. Ini sebagaimana firman Allah Ta’al:

فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ, وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” [Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka].” (QS. Al Baqarah: 200-201)

Berdasarkan ayat ini maka para ulama menganjurkan membaca do’a “Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” di hari-hari tasyriq. Sebagaimana hal ini dikatakan oleh ‘Ikrimah dan ‘Atho’.

Do’a sapu jagad ini terkumpul di dalamnya seluruh kebaikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam paling sering membaca do’a sapu jagad ini.  Anas bin Malik mengatakan,

كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – « اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ »

“Do’a yang paling banyak dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Allahumma Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” [Wahai Allah, Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka].” HR. Bukhari dan Muslim

Al Hasan Al Bashri  mengatakan, “Kebaikan di dunia adalah ilmu dan ibadah. Kebaikan di akhirat adalah surga.” Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Kebaikan di dunia adalah ilmu dan rizki yang thoyib. Sedangkan kebaikan di akhirat adalah surga.”

Diriwayatkan dari Al Jashshosh, dari Kinanah Al Qurosy, dia mendengar Abu Musa Al Asy’ariy berkata ketika berkhutbah di hari An Nahr (Idul Adha), “Tiga hari setelah hari An Nahr (yaitu hari-hari tasyriq), itulah yang disebut oleh Allah dengan ayyam ma’dudat (hari yang terbilang). Do’a pada hari tersebut tidak akan tertolak (pasti terkabul), maka segeralah berdo’a dengan berharap pada-Nya.”

 

Banyak Bersyukurlah pada Allah di Hari Tasyriq

Pada hari tasyriq terkumpullah berbagai macam nikmat badaniyah dengan makan dan minum, juga terdapat nikmat qolbiyah (nikmat hati) dengan berdzikir kepada Allah. Dan sebaik-baik hati adalah yang sering berdzikir dan bersyukur. Dengan demikian nikmat-nikmat tersebut akan menjadi sempurna. Jika kita diberi taufik untuk mensyukuri nikmat, maka syukur yang baru itu sendiri adalah nikmat. Sehingga perintah syukur selamanya tidak akan usai.

Seorang penyair mengatakan:

Idza kana syukri ni’matallah ni’matan, ‘alayya lahu fi mitsliha yajibusy syukr

Jika mensyukuri nikmat Allah adalah nikmat, maka karena nikmat semisal inilah, kita wajib bersyukur pula.

Berdasarkan pembahasan sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa hari-hari tasyriq memiliki banyak keutamaan, salah satunya adalah sebagai hari raya bagi umat Islam. Pada hari-hari tersebut kita disyariahkan untuk memotong hewan kurban, makan dan minum, berdzikir, berdo’a serta bersyukur kepada Allah Ta’ala.

Kamis, 16 Maret 2023

Penjelasan Al-Quran tentang Riba yang Harus Dijauhi serta Cara Mendakwahkannya

Ahmad Berhimin, SE., ME

 


Riba dalam Al-Quran dijelaskan sebagai suatu praktik yang dilarang dan harus dijauhi oleh umat Islam. Riba dijelaskan sebagai suatu praktik yang merugikan dan merusak tatanan keadilan dalam masyarakat. Beberapa ayat dalam Al-Quran yang menjelaskan tentang larangan riba antara lain:

1.     Surat Al-Baqarah ayat 275:

"Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan), dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya."

Ayat ini menjelaskan bahwa riba merupakan suatu tindakan yang sama dengan tindakan setan dan penyakit gila. Riba juga dilarang oleh Allah, sementara jual beli adalah suatu praktik yang diperbolehkan oleh Allah. Orang yang telah mengetahui larangan Allah tentang riba dan berhenti mengambil riba akan mendapat pengampunan, sedangkan orang yang terus mengambil riba akan menjadi penghuni neraka.

2.     Surat Ali Imran ayat 130:

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan."

Ayat ini mengajarkan kepada umat Islam untuk tidak memakan riba dengan berlipat ganda dan untuk takut kepada Allah agar dapat memperoleh keberuntungan.

3.     Surat An-Nisa ayat 161:

"Dan disebabkan mereka mengambil riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang dari yang demikian itu, dan mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan bagi orang-orang di antara mereka yang kafir itu siksa yang pedih."

Ayat ini menjelaskan bahwa orang yang mengambil riba telah melakukan tindakan yang dilarang oleh Allah dan mengambil harta orang dengan cara yang tidak benar. Mereka akan mendapat siksa yang pedih karena tindakan mereka.

Berdasarkan penjelasan ayat-ayat di atas, dapat disimpulkan bahwa riba adalah suatu tindakan yang dilarang oleh Allah dan harus dijauhi oleh umat Islam. Riba dianggap merusak tatanan keadilan dalam masyarakat dan merupakan suatu tindakan yang sama dengan tindakan setan. Oleh karena itu, umat Islam diharapkan untuk menghindari riba dan memperoleh keberkahan dari Allah.

 

Bagaimana Berdakwah tentang Bahaya Riba kepada Sahabat Kita agar Tidak Marah atau Tersinggung?

Berikut adalah beberapa tips yang dapat membantu kita memberitahukan bahaya riba kepada teman atau sahabat kita tanpa menimbulkan marah atau emosi:

1.     Sampaikan dengan santai dan tegas

Ketika memberitahu tentang bahaya riba, sampaikan dengan santai namun tetap tegas dan jelas. Jangan terlalu emosional atau terkesan menggurui. Bicaralah dengan sopan dan penuh rasa hormat, dan jangan menunjukkan sikap superioritas.

2.     Gunakan contoh kasus nyata

Memberikan contoh kasus nyata tentang orang-orang yang telah terjerumus dalam masalah hutang riba dan mengalami dampak negatif yang besar dapat membantu sahabat atau teman kita memahami bahaya riba secara lebih jelas. Dengan melihat dampak yang nyata dan nyata dari hutang riba, mereka mungkin lebih mampu memahami pentingnya menghindari riba.

3.     Berikan alternatif yang baik

Setelah menjelaskan bahaya riba, berikan alternatif yang baik dalam mengelola keuangan mereka. Berikan penjelasan tentang prinsip-prinsip ekonomi Islam dan bagaimana mereka dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Berikan saran tentang cara mengelola keuangan mereka dengan cara yang lebih bijak dan berkelanjutan.

4.     Berikan dukungan dan bantuan

Jika mereka memiliki hutang riba atau kesulitan dalam mengelola keuangan mereka, berikan dukungan dan bantuan dalam menyelesaikan masalah mereka. Ajak mereka untuk mempertimbangkan alternatif yang lebih baik, seperti pinjaman tanpa bunga atau bantuan keuangan dari keluarga atau teman dekat.

5.     Jangan memaksakan

Terakhir, jangan memaksakan pendapat atau saran kepada mereka. Biarkan mereka mempertimbangkan sendiri dan membuat keputusan mereka sendiri. Ingatlah bahwa setiap orang memiliki cara pandang dan pengalaman yang berbeda dalam mengelola keuangan mereka, sehingga tetaplah bersikap sopan dan hormat dalam memberikan saran dan dukungan. berhiminahmad11@gmail.com @ Putra lintang 15032023

 

  

 

Bagaimana Menjaga Perilaku Hidup Agar Terhindar dari Riba?

Ahmad Berhimin, SE., ME

 


Riba adalah praktik keuangan yang tidak diperbolehkan dalam Islam karena dianggap merugikan salah satu pihak dalam transaksi keuangan. Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk menjaga perilaku hidup agar terhindar dari riba. Berikut adalah artikel yang membahas tentang bagaimana menjaga perilaku hidup agar terhindar dari riba.

1.     Membuat Rencana Keuangan

Langkah pertama untuk terhindar dari riba adalah dengan membuat rencana keuangan yang baik. Dalam rencana keuangan tersebut, Anda harus memperhitungkan pengeluaran dan pemasukan uang secara detail. Dengan memiliki rencana keuangan yang baik, Anda akan terhindar dari hutang dan riba yang terkait dengan hutang.

2.     Menghindari Kredit dan Pinjaman

Selanjutnya, Anda harus menghindari kredit dan pinjaman. Kredit dan pinjaman memiliki risiko riba yang tinggi. Oleh karena itu, jika memungkinkan, hindarilah kredit dan pinjaman. Jika memang harus menggunakan kredit atau pinjaman, pastikan untuk memilih produk keuangan yang tidak memiliki unsur riba.

3.     Menghindari Kartu Kredit

Kartu kredit dapat menjadi sumber hutang yang besar jika tidak digunakan dengan bijak. Jangan gunakan kartu kredit untuk membeli barang-barang yang tidak diperlukan atau untuk memenuhi keinginan yang tidak penting. Gunakan kartu kredit hanya untuk keperluan yang mendesak dan pastikan untuk membayar tagihan kartu kredit tepat waktu.

4.     Menghindari Investasi yang Mengandung Riba

Investasi yang mengandung unsur riba, seperti bunga deposito atau saham perbankan, harus dihindari. Sebagai gantinya, Anda dapat memilih investasi yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam, seperti investasi pada properti, emas, atau perusahaan yang tidak terlibat dalam praktik riba.

5.     Menabung secara Teratur

Menabung secara teratur adalah cara yang baik untuk membangun kekayaan dan menghindari riba. Anda dapat menabung secara teratur di bank yang tidak memberikan bunga pada tabungan Anda. Selain itu, Anda juga dapat menabung di bentuk tabungan emas atau tabungan pendidikan.

Dengan mengikuti beberapa tips di atas, Anda dapat menjaga perilaku hidup agar terhindar dari riba. Penting untuk diingat bahwa menjaga diri dari riba bukan hanya menjadi tanggung jawab individu, namun juga menjadi tanggung jawab keluarga dan masyarakat.

Selain lima tips di atas, ada beberapa hal yang juga dapat membantu seseorang untuk menjaga perilaku hidup agar terhindar dari riba, yaitu:

1.     Membuat Perencanaan Pembelian

Sebelum membeli sesuatu, sebaiknya Anda membuat perencanaan pembelian terlebih dahulu. Hal ini dapat membantu Anda untuk menghindari membeli barang-barang yang tidak diperlukan atau yang melebihi kemampuan keuangan Anda. Dengan demikian, Anda tidak akan terjebak dalam hutang yang harus membayar riba.

2.     Mengurangi Konsumsi Barang yang Tidak Penting

Mengurangi konsumsi barang yang tidak penting juga dapat membantu Anda untuk menjaga perilaku hidup agar terhindar dari riba. Anda dapat membatasi penggunaan barang-barang elektronik atau fashion yang tidak terlalu dibutuhkan. Selain membantu menghemat pengeluaran, mengurangi konsumsi barang juga dapat memperkuat kesadaran diri terhadap kebutuhan dan keinginan yang sebenarnya.

3.     Mengikuti Pelatihan dan Edukasi Keuangan

Mengikuti pelatihan dan edukasi keuangan dapat membantu Anda untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mengelola keuangan dengan baik. Dalam pelatihan dan edukasi keuangan, biasanya dibahas tentang bagaimana cara menghindari hutang dan riba, cara membuat rencana keuangan, dan cara mengelola keuangan dengan bijak.

4.     Berdiskusi dengan Ahli Keuangan Syariah

Jika Anda memiliki pertanyaan atau kesulitan dalam menjaga perilaku hidup agar terhindar dari riba, Anda dapat berkonsultasi dengan ahli keuangan syariah. Ahli keuangan syariah dapat memberikan saran dan solusi yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam dalam mengelola keuangan.

5.     Menjalin Hubungan dengan Komunitas yang Sama

Menjalin hubungan dengan komunitas yang sama dapat membantu Anda untuk memperoleh dukungan dan motivasi dalam menjaga perilaku hidup agar terhindar dari riba. Dalam komunitas tersebut, Anda dapat berbagi pengalaman, tips, dan strategi untuk mengelola keuangan dengan baik dan sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.

Dalam menjaga perilaku hidup agar terhindar dari riba, dibutuhkan kesadaran dan kesabaran yang tinggi. Namun, dengan mengikuti beberapa tips dan hal-hal yang telah dijelaskan di atas, diharapkan dapat membantu Anda untuk mengelola keuangan dengan bijak dan sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.

Tindakan yang dapat dilakukan untuk menjaga perilaku hidup agar terhindar dari riba adalah:

1.     Menggunakan Produk Keuangan Syariah

Pertama-tama, Anda dapat menggunakan produk keuangan syariah untuk menghindari riba. Produk keuangan syariah seperti tabungan, deposito, pembiayaan, dan asuransi, didesain berdasarkan prinsip-prinsip Islam dan tidak menggunakan sistem bunga atau riba.

2.     Menghindari Penggunaan Kartu Kredit

Kartu kredit dapat menjadi salah satu sumber utama hutang yang harus membayar riba. Oleh karena itu, hindarilah penggunaan kartu kredit jika memungkinkan. Jika Anda memang membutuhkan kartu kredit, gunakanlah dengan bijak dan pastikan untuk selalu membayar tagihan tepat waktu agar tidak terjebak dalam hutang.

3.     Membuat Rencana Keuangan

Membuat rencana keuangan dapat membantu Anda mengelola keuangan dengan baik dan menghindari hutang yang harus membayar riba. Dalam rencana keuangan, buatlah daftar pengeluaran bulanan, tabungan, dan investasi yang ingin dilakukan. Dengan membuat rencana keuangan, Anda dapat memprioritaskan pengeluaran dan menghindari pembelian yang tidak diperlukan.

4.     Mengelola Utang dengan Bijak

Jika Anda memang memiliki utang, pastikan untuk mengelolanya dengan bijak. Bayarlah utang tepat waktu dan hindari membayar bunga atau riba yang tidak perlu. Jika memungkinkan, cobalah untuk melakukan negosiasi dengan kreditur untuk mengurangi bunga atau riba yang harus dibayar.

5.     Meningkatkan Pengetahuan Keuangan

Meningkatkan pengetahuan keuangan dapat membantu Anda untuk mengelola keuangan dengan baik dan menghindari hutang yang harus membayar riba. Baca buku, ikuti pelatihan atau seminar keuangan, dan jangan ragu untuk bertanya kepada ahli keuangan syariah jika membutuhkan bantuan. Dengan melakukan tindakan-tindakan di atas, diharapkan Anda dapat menjaga perilaku hidup agar terhindar dari riba dan mengelola keuangan dengan bijak sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. berhiminahmad11@gmail.com @ Putra lintang 15032023


Metode Belajar Syariah Islam Tentang Riba

Ahmad Berhimin. SE., ME

 


Aturan Islam tentang riba sangat penting untuk dipahami oleh umat Islam. Riba adalah praktik yang dilarang dalam Islam karena dapat menimbulkan kecurangan dan ketidakadilan dalam transaksi keuangan. Bagi mereka yang ingin mempelajari tentang aturan Islam tentang riba, berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil:

1.     Membaca Al-Quran

Bacaan Al-Quran adalah sumber utama aturan Islam tentang riba. Surah Al-Baqarah, ayat 275-281, secara khusus membahas tentang riba dan hukumnya dalam Islam. Penting untuk membaca dan memahami ayat-ayat tersebut untuk memperoleh pemahaman yang benar tentang riba.

2.     Membaca hadis

Hadis adalah kumpulan perkataan, tindakan, dan persetujuan Nabi Muhammad Shalalllahu Alaihi Wassalam Hadis juga membahas tentang aturan Islam tentang riba. Sebagai contoh, hadis-hadis berikut menguraikan pandangan Islam tentang riba: “Sesungguhnya riba itu ada 70 pintu, dan yang paling ringan dari riba adalah seperti seorang laki-laki yang menikahi ibu kandungnya.” (HR Ahmad dan al-Bazzar) “Janganlah kamu memakan riba. Dan apabila kalian bertemu dengan orang yang melakukannya, bunuhlah dia.” (HR Muslim)

3.     Membaca kitab kuning

Kitab kuning adalah kumpulan kitab pelajaran tradisional Islam. Banyak dari kitab kuning membahas tentang riba dan aturan Islam tentang riba. Sebagai contoh, Kitab Tafsir Jalalain, Fathul Qorib, atau al-Muwatha, secara khusus membahas tentang riba dan aturan Islam tentang riba.

4.     Membaca buku tentang riba

Banyak buku tentang riba yang tersedia di toko buku atau toko online. Buku-buku ini membahas secara rinci tentang riba dan hukum Islam tentang riba. Beberapa buku yang dapat direkomendasikan adalah: "Riba: The Hidden Evil" oleh Dr. Muhammad Imran Ashraf Usmani”, "Islamic Finance For Dummies" oleh Faleel Jamaldeen dan "Islamic Banking and Finance: Fundamentals and Contemporary Issues" oleh Abu Umar Faruq Ahmad

5.     Meminta bantuan dari ahli hukum Islam

Jika Anda mengalami kesulitan dalam memahami aturan Islam tentang riba, Anda dapat meminta bantuan dari ahli hukum Islam atau ustaz terpercaya. Mereka dapat membantu menjelaskan konsep dan memberikan jawaban atas pertanyaan yang mungkin Anda miliki.

Dalam kesimpulannya, mempelajari aturan Islam tentang riba sangat penting bagi umat Islam. Ada banyak sumber yang tersedia untuk mempelajari aturan ini, termasuk Al-Quran, hadis, kitab kuning, buku, dan ahli hukum Islam. Dengan memahami aturan ini, kita dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari dan menghindari riba.

 

Selain cara-cara yang telah disebutkan, berikut ini adalah beberapa tips tambahan untuk mempelajari tentang aturan Islam tentang riba:

1.     Bergabung dengan komunitas atau forum diskusi

Bergabung dengan komunitas atau forum diskusi online dapat menjadi cara yang efektif untuk belajar tentang riba. Anda dapat berdiskusi dengan orang-orang yang memiliki pengalaman atau pengetahuan yang lebih luas tentang topik ini, dan bertanya tentang masalah atau kekhawatiran yang mungkin Anda miliki.

2.     Menghadiri seminar atau lokakarya

Seminar atau lokakarya tentang riba dapat menjadi cara yang efektif untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang topik ini. Anda dapat menghadiri acara seperti ini untuk mendapatkan informasi terbaru tentang aturan Islam tentang riba, dan memperluas jaringan Anda dengan bertemu dengan orang-orang yang memiliki minat yang sama.

3.     Berdoa dan meminta petunjuk kepada Allah Ta’ala

Terakhir, namun tidak kalah pentingnya, berdoa dan meminta petunjuk kepada Allah Ta’ala adalah hal yang sangat penting ketika mempelajari tentang aturan Islam tentang riba. Allah Ta’ala adalah sumber kebijaksanaan dan pengetahuan, dan dengan meminta petunjuk-Nya, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang aturan Islam tentang riba.

Dalam kesimpulannya, mempelajari tentang aturan Islam tentang riba adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim. Dengan memahami konsep ini, kita dapat menghindari praktik riba dan menerapkan aturan Islam dalam kehidupan kita sehari-hari. Ada banyak sumber yang tersedia untuk mempelajari tentang riba, dan dengan mengambil beberapa langkah praktis seperti yang telah disebutkan di atas, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih luas tentang aturan Islam tentang riba.

 

setelah kita mempelari tentang riba akan tetapi kenapa masih ada yang memperaktekan riba atau kompensional di negara kita padahal negara kita umat islam paling banyak penganutnya.

Meskipun kita telah mempelajari tentang riba dan mengetahui bahayanya, masih ada banyak orang yang mempraktikkan riba atau kompensasi di negara kita. Hal ini mungkin disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

1.     Kurangnya pemahaman tentang riba: Banyak orang yang mempraktikkan riba atau kompensasi mungkin tidak sepenuhnya memahami bahayanya dan efek negatifnya terhadap kehidupan mereka.

2.     Ketergantungan pada pinjaman: Banyak orang yang tidak memiliki opsi lain selain meminjam uang dengan bunga tinggi karena mereka membutuhkan uang untuk kebutuhan sehari-hari, investasi bisnis, atau pendidikan. Pemerintah atau lembaga keuangan juga terkadang memberikan pinjaman dengan bunga tinggi.

3.     Kondisi ekonomi yang sulit: Di negara kita, masih banyak orang yang hidup dalam kondisi ekonomi yang sulit, dan mereka mungkin merasa terpaksa untuk mempraktikkan riba atau kompensasi sebagai cara untuk mencari penghasilan tambahan atau memenuhi kebutuhan hidup mereka.

4.     Kurangnya pengawasan dan penegakan hukum: Meskipun praktik riba dilarang dalam Islam dan diatur dalam undang-undang di beberapa negara, masih banyak orang yang mempraktikkannya karena kurangnya pengawasan dan penegakan hukum yang memadai.

Oleh karena itu, selain mempelajari tentang riba, penting juga bagi kita untuk berperan aktif dalam mengedukasi masyarakat tentang bahaya riba dan membantu mereka mencari solusi alternatif yang lebih sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Kita juga harus terus memperjuangkan pengawasan dan penegakan hukum yang ketat terhadap praktik riba agar dapat meminimalkan risiko terjadinya praktik riba di masyarakat.

Berdasarkan pembahasan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa riba merupakan praktik yang dilarang dalam Islam karena dapat merusak keadilan dan menghasilkan keuntungan yang tidak sah. Praktik riba masih sering terjadi di negara kita, terutama karena kurangnya pemahaman tentang bahayanya, ketergantungan pada pinjaman, kondisi ekonomi yang sulit, dan kurangnya pengawasan dan penegakan hukum.

Untuk itu, sebagai umat Islam, kita perlu mempelajari prinsip-prinsip Islam tentang riba dan terus berusaha mengedukasi masyarakat tentang bahaya riba serta mencari solusi alternatif yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Selain itu, kita juga harus terus memperjuangkan pengawasan dan penegakan hukum yang ketat terhadap praktik riba agar dapat meminimalkan risiko terjadinya praktik riba di masyarakat. berhiminahmad11@gmail.com @ Putra Lintang 15032023

Senin, 13 Maret 2023

Mengeluh dalam Islam, Salahkah?

Oleh: Ahmad Berhimin, SE., ME

 


Mengeluh adalah kebiasaan yang sering dilakukan oleh banyak orang. Namun, terlalu sering mengeluh dapat memiliki dampak negatif pada kesehatan mental dan hubungan sosial seseorang.

Salah satu masalah utama dari terlalu sering mengeluh adalah bahwa hal itu dapat memperkuat pola pikir negatif. Saat seseorang terus-menerus mengeluh tentang masalah atau situasi yang buruk, hal itu dapat membuat mereka lebih cenderung melihat sisi buruk dari segala hal dan kurang bisa melihat sisi positif. Akibatnya, mereka menjadi kurang bersyukur dan lebih pesimis terhadap kehidupan.

Terlalu sering mengeluh juga dapat berdampak pada hubungan sosial. Orang yang terus-menerus mengeluh sering dianggap sebagai orang yang negatif dan kurang menyenangkan untuk diajak berinteraksi. Hal ini dapat memengaruhi hubungan mereka dengan teman, keluarga, dan rekan kerja. Selain itu, terlalu sering mengeluh juga dapat memperparah masalah yang ada. Daripada mengeluh tentang masalah yang ada, lebih baik mencari solusi untuk mengatasinya. Jika seseorang terus-menerus mengeluh tentang pekerjaan mereka, misalnya, mereka mungkin merasa lebih baik jika mencari cara untuk meningkatkan kinerja mereka atau mencari pekerjaan baru yang lebih sesuai dengan keinginan dan kemampuan mereka.

Untuk menghindari kebiasaan mengeluh yang berlebihan, penting untuk memperhatikan pola pikir dan bahasa yang digunakan. Saat merasa tidak nyaman atau tidak puas dengan sesuatu, cobalah untuk mencari solusi daripada hanya mengeluh. Jika ada masalah yang tidak bisa diatasi, cobalah untuk melihat sisi positif dari situasi dan bersyukur atas hal-hal baik yang masih ada. Dengan begitu, kita dapat menghindari dampak negatif dari kebiasaan mengeluh yang berlebihan dan menjalani hidup dengan lebih positif dan bersyukur.

Selain itu, penting juga untuk memperhatikan kualitas komunikasi dengan orang lain. Saat berbicara dengan orang lain, cobalah untuk memilih kata-kata yang positif dan menghindari mengeluh secara berlebihan. Jika ingin membagikan keluhan atau masalah, cobalah untuk meminta saran atau dukungan daripada hanya sekadar mengeluh.

Selain itu, penting juga untuk memperhatikan keadaan emosi dan pikiran kita sendiri. Jika merasa terlalu stres atau terbebani dengan masalah, cobalah untuk mencari cara untuk meredakan stres seperti olahraga, meditasi, atau kegiatan lain yang bisa membantu menghilangkan rasa cemas atau tegang.

Penting juga untuk menghindari membandingkan diri dengan orang lain atau melihat kekurangan yang ada di dalam diri kita. Fokus pada kelebihan yang ada dan mencoba untuk meningkatkan diri sendiri dengan cara yang positif.

Dalam situasi tertentu, terkadang mengeluh memang merupakan hal yang wajar. Namun, terlalu sering mengeluh dapat membawa dampak negatif pada kesehatan mental dan hubungan sosial kita. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan pola pikir, bahasa, dan emosi kita sendiri serta memperbaiki kualitas komunikasi dengan orang lain. Dengan cara tersebut, kita dapat menghindari kebiasaan mengeluh yang berlebihan dan hidup dengan lebih positif dan bersyukur.

 

Ayat tentang Mengeluh dalam Al Quran

Al-Quran membahas mengenai sifat mengeluh yang menunjukkan bahwa mengeluh atau mengadu domba terlalu sering dapat membawa dampak negatif pada kehidupan seseorang. Misalnya, dalam Surah Al-Ma’arij ayat 19-21 disebutkan: "Dan sesungguhnya manusia itu sangat senang melihat kebaikan yang datang kepada dirinya; jika mendapat cobaan, ia menjadi putus asa dan berkeluh kesah. Dan jika mendapat kebaikan dari kami, ia berkata: “Ini adalah hak saya” dan jika ia mendapat bencana, ia menganggap itu sebagai kesengsaraan yang menimpa dirinya sendiri."

Berdasarkan ayat tersebut, Allah Ta’ala menyatakan bahwa manusia cenderung menjadi putus asa dan berkeluh kesah saat mendapat cobaan. Namun, Allah Ta’ala juga menyebutkan bahwa jika manusia mendapat kebaikan dari-Nya, manusia tidak menganggapnya sebagai suatu karunia dan berkata bahwa itu adalah haknya, sedangkan jika mendapat bencana, ia menganggap itu sebagai kesengsaraan yang hanya menimpa dirinya sendiri.

Hal ini menunjukkan bahwa manusia terkadang kurang bersyukur atas kebaikan yang telah diberikan dan seringkali lebih mudah mengeluh daripada mengucapkan rasa syukur. Selain itu, Allah juga mengingatkan bahwa manusia seharusnya bersabar dalam menghadapi cobaan dan bencana yang datang, dan menghindari berkeluh kesah yang berlebihan.

Oleh karena itu, dari keterangan dalam Al-Quran, terlalu sering mengeluh dapat memperkuat pola pikir negatif dan mengurangi rasa syukur seseorang. Allah Ta’ala juga mengajarkan agar manusia bersabar dalam menghadapi cobaan dan menghindari berkeluh kesah yang berlebihan.

 

Allah Ta’ala dalam Al-Quran mengajarkan agar kita tidak banyak mengeluh dan bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. Salah satu ayat yang berkaitan dengan hal ini adalah Surah Ar-Rahman ayat 78: "Berapa banyaknya nikmat yang diberikan oleh Tuhanmu kepadamu, maka sebutlah nikmat-nikmat itu. Dan janganlah engkau termasuk orang-orang yang mengabaikannya."

Ayat ini mengajarkan kita untuk selalu mengingat nikmat-nikmat yang telah diberikan oleh Allah Ta’ala kepada kita dan mengucapkan rasa syukur atasnya. Dengan bersyukur, kita dapat menghindari sikap mengeluh dan merasa kurang puas dengan apa yang telah diberikan.

Selain itu, dalam Surah Al-Baqarah ayat 152 juga disebutkan: "Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan ingat (pula) kepadamu. Dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku."

Ayat ini menegaskan pentingnya bersyukur kepada Allah Ta’ala dan menghindari mengingkari nikmat yang telah diberikan-Nya. Dalam hal ini, bersyukur tidak hanya dilakukan dengan ucapan, tetapi juga dengan tindakan yang baik dan menjalankan kewajiban sebagai hamba Allah Ta’ala dengan baik.

Dari keterangan dalam ayat-ayat Al-Quran tersebut, dapat disimpulkan bahwa Allah Ta’ala mengajarkan kita untuk senantiasa mengingat nikmat yang telah diberikan-Nya dan bersyukur atasnya, sehingga dapat menghindari sikap mengeluh dan mengabaikan nikmat yang telah diberikan-Nya. berhiminahmad11@gmail.com @ Putra Lintang 13032023

Senin, 06 Maret 2023

Sebab Doa Dikabulkan oleh Allah Ta'ala

Oleh: Misno dan ChatGPT

 


Doa merupakan ibadah yang sangat penting dalam Islam. Sebab doa dikabulkan oleh Allah Ta'ala dalam Islam merupakan suatu hal yang sangat diharapkan oleh setiap muslim. Namun, ada beberapa hal yang perlu kita ketahui agar doa yang kita panjatkan dapat dikabulkan oleh Allah Ta'ala. Berikut adalah 20 sebab doa dikabulkan oleh Allah Ta'ala dalam Islam.

1.     Memperbaharui Niat dan Keyakinan

Doa yang benar haruslah dilandasi dengan niat yang baik dan keyakinan yang kuat kepada Allah Ta'ala. Niat yang baik dan keyakinan yang kuat akan membantu kita dalam menguatkan doa yang kita panjatkan.

2.     Berdoa dengan Tulus

Doa yang tulus merupakan doa yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan tidak memperdulikan apa yang akan diperoleh dari doa tersebut. Kita hanya berdoa karena memang kita membutuhkan pertolongan dari Allah Ta'ala.

3.     Meningkatkan Kualitas Ibadah

Meningkatkan kualitas ibadah dapat membantu doa kita untuk dikabulkan oleh Allah Ta'ala. Dengan melakukan ibadah dengan baik dan benar, kita akan merasa lebih dekat dengan Allah Ta'ala dan mudah untuk memohon pertolongan dari-Nya.

4.     Berdoa Dengan Istighfar

Istighfar adalah memohon ampunan kepada Allah Ta'ala karena kesalahan yang telah kita lakukan. Dalam berdoa, kita haruslah memohon ampunan dari Allah Ta'ala sehingga hati kita menjadi bersih dan lebih dekat dengan-Nya.

5.     Berdoa Dalam Waktu Yang Tepat

Waktu yang tepat untuk berdoa sangat penting dalam Islam. Waktu yang tepat untuk berdoa adalah pada saat sholat, saat sujud, saat terjadi musibah, saat berangkat dan pulang dari perjalanan, serta saat di malam hari.

6.     Berdoa Dalam Bahasa Yang Diketahui

Berdoa dalam bahasa yang diketahui akan membuat kita lebih mudah dalam memahami makna dari doa tersebut. Oleh karena itu, kita haruslah berdoa dalam bahasa yang kita pahami dengan baik.

7.     Berdoa dengan Memohon Kepada Allah Ta'ala Secara Langsung

Berdoa dengan memohon kepada Allah Ta'ala secara langsung merupakan doa yang benar. Dalam berdoa, kita tidak perlu meminta bantuan kepada orang lain atau melalui syafaat. Kita hanya perlu memohon langsung kepada Allah Ta'ala.

8.     Menjauhi Dosa

Menjauhi dosa dapat membantu doa kita dikabulkan oleh Allah Ta'ala. Dengan menjauhi dosa, kita akan merasa lebih dekat dengan Allah Ta'ala dan doa kita akan lebih mudah untuk dikabulkan.

9.     Berdoa Dengan Kerendahan Hati

Berdoa dengan kerendahan hati merupakan doa yang benar. Dalam berdoa, kita harus merendahkan hati dan mengakui bahwa kita adalah hamba Allah Ta'ala yang lemah.

10.  Berdoa Dalam Kehidupan Sehari-hari

Berdoa dalam kehidupan sehari-hari merupakan suatu hal yang penting dilakukan oleh setiap muslim. Ketika kita berdoa dalam kehidupan sehari-hari, kita harus memohon pertolongan dari Allah Ta'ala dalam segala urusan yang kita hadapi.

11.  Berdoa Dengan Menyebut Nama-Nama Allah Ta'ala

Dalam berdoa, kita harus menyebut nama-nama Allah Ta'ala yang sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Dengan menyebut nama-nama Allah Ta'ala, kita akan merasa lebih dekat dengan-Nya dan doa kita akan lebih mudah untuk dikabulkan.

12.  Berdoa Dengan Memperbanyak Sedekah

Memperbanyak sedekah juga dapat membantu doa kita untuk dikabulkan oleh Allah Ta'ala. Dengan memperbanyak sedekah, kita akan merasa lebih dekat dengan Allah Ta'ala dan doa kita akan lebih mudah untuk dikabulkan.

13.  Berdoa Dalam Kondisi yang Bersih

Dalam berdoa, kita harus dalam kondisi yang bersih. Kita haruslah mandi dan memakai pakaian yang bersih sehingga doa kita lebih baik diterima oleh Allah Ta'ala.

14.  Berdoa Dalam Keadaan Sujud

Berdoa dalam keadaan sujud juga dapat membantu doa kita untuk dikabulkan oleh Allah Ta'ala. Dalam sujud, kita akan merasa lebih dekat dengan Allah Ta'ala dan doa kita akan lebih mudah untuk dikabulkan.

15.  Berdoa dengan Bertawakal

Bertawakal adalah mempercayai sepenuhnya kepada Allah Ta'ala. Dalam berdoa, kita haruslah bertawakal kepada Allah Ta'ala sehingga doa kita dapat dikabulkan dengan mudah.

16.  Berdoa Dengan Menjaga Aqidah yang Benar

Menjaga aqidah yang benar juga dapat membantu doa kita untuk dikabulkan oleh Allah Ta'ala. Dengan menjaga aqidah yang benar, kita akan merasa lebih dekat dengan Allah Ta'ala dan doa kita akan lebih mudah untuk dikabulkan.

17.  Berdoa Dengan Memohon Pertolongan Bagi Sesama

Berdoa dengan memohon pertolongan bagi sesama juga dapat membantu doa kita untuk dikabulkan oleh Allah Ta'ala. Dengan memohon pertolongan bagi sesama, kita akan merasa lebih dekat dengan Allah Ta'ala dan doa kita akan lebih mudah untuk dikabulkan.

18.  Berdoa Dengan Tidak Sombong

Dalam berdoa, kita haruslah tidak sombong dan merendahkan hati. Kita harus meminta pertolongan dengan tulus dan ikhlas tanpa merasa sombong terhadap orang lain.

19.  Berdoa Dalam Keadaan yang Tenang dan Terkonsentrasi

Berdoa dalam keadaan yang tenang dan terkonsentrasi juga dapat membantu doa kita untuk dikabulkan oleh Allah Ta'ala. Dalam keadaan yang tenang, kita akan lebih fokus dan terkonsentrasi dalam berdoa.

20.  Berdoa Dengan Memohon Pertolongan untuk Kebaikan Dunia dan Akhirat

Dalam berdoa, kita harus memohon pertolongan untuk kebaikan dunia dan akhirat. Dengan memohon pertolongan untuk kebaikan dunia dan akhirat, doa kita akan lebih dihargai oleh Allah Ta'ala dan lebih mudah untuk dikabulkan.

Dalam Islam, doa adalah salah satu bentuk ibadah yang sangat penting. Ketika kita berdoa, kita harus memohon dengan hati yang ikhlas dan tulus kepada Allah Ta'ala. Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi doa kita untuk dikabulkan, seperti keikhlasan hati, menjaga aqidah yang benar, memperbanyak sedekah, dan berdoa dengan menyebut nama-nama Allah Ta'ala. Kita juga harus berdoa dalam kondisi yang bersih, tidak sombong, dan dengan memohon pertolongan bagi sesama. Dengan mengikuti hal-hal ini, kita akan memperoleh keutamaan berdoa dalam Islam dan insya Allah doa kita akan dikabulkan oleh Allah Ta'ala.

Jumat, 17 Februari 2023

Hidup Sehat Tanpa Makanan Subhat

 Oleh: Misno bin Mohamad Djahri

 


فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ إِلَى طَعَامِهِ

Maka hendaklah manusia memperhatikan kepada makanannya. QS ‘Abasa ayat 24.

Dalam ayat yang lainnya disebutkan :

وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ

Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezkikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya. QS Al-Maidah : 88.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam bersabda :

 

Daging yang tumbuh dari makanan yang haram maka tempatnya yang pantas baginya adalah neraka “.

Pernahkan anda berfikir ketika anda memakan sepotong sosis panggang,  apakah hasil dari daging sapi yang dipotong sesuai syari’at atau tidak ?, atau pernahkah anda berfikir ketika anda memberikan coklat kesukaan anak  apakah coklat itu dijamin kehalalannya ? bisa jadi kita tdak mau dipusingkan dengan hal-hal “kecil “ seperti ini, namun sepertinya setelah anda membaca ayat dan hadits  di atas kita harus berfkir ulang tentang hal tersebut.

Makanan yang tidak halal adalah makanan yang di dalamnya terkandung bahan-bahan yang memang diharamkan oleh Islam di antara  adalah seperti yang disebutkan dalam QS Al-Baqarah : 173 :

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dari ayat ini cukup jelas jenis-jenis makanan apa saja yang diharamkan oleh Islam, selain yang disebutkan dalam Al-Qur'an Nabi juga mengharamkan beberapa yang lainnya misalnya binatang yang bertaring atau berkuku tajam.

Tentang makanan yang diharamkan kita mungkin sudah cukup jelas, karena itu kita tidak mungkin memakan daging babi atau darah. Namun tahukah anda bahwa tekhnologi di bidang pangan mengalami kemajuan yang sangat pesat sehingga kalau kita tidak hati-hati maka kita akan terjatuh kepada makanan yang haram atau subhat.

Beberapa produk olahan yang sudah akrab di telinga kita ternyata berasal dari fermentasi makanan yang diharAmkan oleh Islam, agar kita tidak terjatuh pada hal itu sebaiknya kita memeriksa bahan dasar dari pembuat makanan yang kita beli, berikut ini adalah hasil olahan di pasaran yang banyak mengandung unsur haram atau subhat :

1.         Gelatin. Nama zat ini cukup populer di masyarakat kita dengan adanya beberapa kasus yang mengemuka. Gelatin adalah hasil ekstrasi dari tulang, rambut, atau bagian limbah hewan, biasanya berupa zat protein yang tidak berbau dan tidak berasa. Nah... gelatin ini terkadang terbuat dari hewan yang haram seperti babi atau juga hewan yang telah menjadi bangkai atau disembelih tidak dengan menyebut nama Allah.

2.         Lesithin. Zat ini hampir sama dengan gelatin yaitu bisa terbuat dari tulang hewan atau bagian lemak lainya, lesithin bisa berasal dari kedelai (soya lesithin). Karena itu ketika kita hendak membeli suatu produk cari bahan dasar lesithin yang terbuat dari kedelai, perlu diketahui bahwa hampir semua coklat menggunakan bahan dasar ini.

3.         Produk olahan khamr. Produk ini biasanya dalam bentuk padat maupun cair, biasanya sebagai bahan flavour yang ditambahkan pada produk makanan, seperti ragi (yeast), rum dan setiap zat-zat yang mengandung al-kohol.

4.         Bangkai. Ternyata ayam potong yang dijual di pasaran juga tidak semuanya halal hal, ini dikarenakan sebagian ayam yang akan dipotong ternyata banyak yang mati, hasil penelitian LPPOM MUI menemukan adanya 3000 ayam yang dijual di pasaran telah menjadi bangkai sebelum dijual, ironinya bangkai-bangkai tersebut dijual dengan harga murah, dan konsumen tidak mengetahui apakah itu ayam masih hidup ketiak dipotong atau sudah menjadi bangkai.

5.         Darah. Saat ini masih kita jumpai di beberapa pasar yang menjual darah sapi yang telah dibekukan, sebagian masyarakat mungkin belum mengetahui hukumnya padahal darah tersebut sama hukumnya dengan darah yang disebutkan pada ayat di atas.

Kehati-hatian kita ketika hendak membeli sebuah produk menjadi kunci agar kita tidak terjatuh kepada memakan makanan yang haram ataupun subhat, saat ini begitu banyak makanan yang tidak menyebutkan komposisinya, entah itu berupa makanan kaleng atau makanan siap saji. Jajanan anak sekolahpun seharusnya menjadi perhatian kita juga karena tidak ada yang menjamin bahwa makanan yang di jual di sekolah itu adalah halal.

Bahaya makanan haram dan subhat banyak sekali namun diantaranya bahaya yang paling besar adalah bahwa daging yang tumbuh dari makanan itu adalah tempatnya di neraka, mungkin kita tidak tahu apakah itu halal atau tidak namun usaha dan kehati-hatian kita yang akan menjadi nilai bagi kita, karena itu dengan makanan yang halal insya Allah badan kita akan sehat dan tentunya hal itu akan mendapat ridho dari sang Pemberi Rizqi.

Dan tanpa makanan subhat apalagi yang haram maka hidup kita akan sehat baik didunia maupun di akhirat kelak.