Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Maret 2025

BUKAN HANYA MEMBACA, TETAPI TADABUR AL-QUR’AN

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri


 

Alhamdulillah, Syukur kepada Allah ta’ala yang telah memberikan kepada kita kenikmatan iman, Islam dan ikhsan. Syukur secara khusus pada hari ini kita masih dapat melaksanakan shalat jumat secara berjamaah dan shaum (puasa) di bulan penuh berkah ini.

Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan alam, habibana wa nabiyyana Muhammad Shalallahu alaihi wassalam, kepada seluruh ahli baitnya, shahabatnya serta orang-orang yang mengikuti jejak sunnahnya hingga akhir zaman.

Pertama, Khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi serta kepada seluruh jamaah jumat sekalian, wasiat taqwa yang bermakna Mengoptimalkan seluruh potensi jiwa dan raga kita untuk mendapatkan Ridha dari Allah Azza wa Jalla.

 

Hadirin Jama’ah Jumat rahimakumullah

Bulan Ramadhan disebut juga dengan bulan Al-Qur’an, karena di bulan inilah al-Qur’an diturunkan, Allah Ta’ala berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ

Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan). QS. Al-Baqarah: 185.

Maka, kembali memahami al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam adalah sebuah keniscayaan. Al-Qur’an adalah pedoman hidup bagi umat manusia, ia menjadi acuan dalam menghadapi berbagai hal dalam kehidupan. Hal ini sebagaimana firmanNya:

ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًۭى لِّلْمُتَّقِينَ

Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, QS. Al-Baqarah: 2.

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًۭى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍۢ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ

Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). QS. Al-Baqarah: 185.

 

 

هَـٰذَا بَصَائِرُ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Al-Qur’an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk, dan rahmat bagi kaum yang meyakini.” QS. al-Jatsiyah: 20.

Sebagai pedoman, maka Al-Qur’an haruslah dibaca dan dipelajari secara intensif oleh umat Islam, Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda:

الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ

“Bacalah Al Quran karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya”. HR. Muslim.

Sebagian salafuna shalih menyatakan:

نزل القرآن ليعمل به فاتخذوا تلاوته عملا

“Al Qur’an itu diturunkan untuk diamalkan. Oleh karenanya, bacalah Al Qur’an untuk diamalkan.”

Tentu saja bukan hanya membaca dalam makna rangkai huruf dan kata, tetapi mentadaburinya dengan sungguh-sungguh, sebagaimana kalamNya:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. QS. Shâd: 29.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an? sekiranya al-Qur’an itu bukan dari sisi Allâh, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. QS. An-Nisâ’: 82.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci? QS. Muhammad: 24.

Ibnul Qayyim “Memahami Al-Qur’an dan merenungkannya akan membuahkan iman. Adapun jika Al-Qur’an cuma sekadar dibaca tanpa ada pemahaman dan perenungan (tadabbur), itu bisa pula dilakukan oleh orang fajir (ahli maksiat) dan munafik, di samping dilakukan oleh pelaku kebaikan dan orang beriman.” (Zaad Al-Ma’ad, 1:327).

 

 

Khutbah Ke-II

Hadirin Jama’ah Jumat rahimakumullah

Bagaimana cara (metode) dalam tabdaur al-Qur’an? Jawabannya adalah dengan membacanya dengan benar, mencermati dengan hati dan pikiran apa yang dibacanya, perhatikan waktu dan tempat membacanya serta hilangkan semua hal yang menganggu dalam konsentrasi ketika memaknainya.

Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan, “Apabila engkau ingin memetik manfaat dari Al-Qur’an, maka fokuskan hatimu saat membaca dan mendengarkannya. Pasang baik-baik telingamu dan posisikanlah diri seperti posisi orang yang diajak bicara langsung oleh Dzat yang memfirmankannya. Al-Qur’an ini makin sempurna pengaruhnya bergantung pada faktor pemberi pengaruh yang efektif, tempat yang kondusif, terpenuhinya syarat, terwujudnya pengaruh, dan ketiadaan faktor yang menghalanginya.

Merujuk pada pendapat Ibnul Qayyim tersebut maka tadabur al-Qur’an adalah membacanya dengan kaidah bacaan yang benar meliputi maharijul huruf dan hukum-hukum tajwidnya, kemudian membaca terjemahnya, membandingkan penfasiran dari para ahli tafsir, pendapat para ulama serta mengoptimalkan seluruh kemampuan kita untuk memahami al-Qur’an dengan sebaik-baiknya.

Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayan serta inayahNya sehingga kita akan terus mampu untuk membaca al-Qur’an dan mentadaburinya. Bogor, Jumat 14032025.

Minggu, 02 Maret 2025

Ramadhan dan Islamic Wealth Management

Oleh: Dr. Misno, MEI., MH., M.Pd

 


Alhamdulillah, Ramadhan sudah kita lalui beberapa hari. Maknanya bulan yang penuh dengan keberkahan ini telah kita isi dengan amal-amal kebajikan, berpuasa (shaum), shalat tarawih, membaca Al-Qur’an dan amal sholeh lainnya baik yang wajib, sunnah ataupun yang mubah. Semangat beribadah di bulan Ramadhan semakin terasa karena Sebagian Masyarakat juga antusias dalam mengisinya dengan amal-amal jama’i sehingga nuansa Ramadhan semakin terasa di berbagai tempat di penjuru dunia.

Namun, ada yang sedikit terlupa atau menjadi sebuah budaya, di mana Ketika Ramadhan tiba maka tingkat konsumsi masyarakat meningkat hal ini terlihat dengan jumlah belanja bertambah pada setiap keluarga. Jika pada bulan-bulan biasa makan cukup dengan nasi dan lauk saja, maka di saat berbuka puasa ada yang Istimewa dari menunya, ditambah dengan ada kolak, es, bubur dan makanan kecil lainnya. Menjelang Hari Raya Idhul Fitri pasar semakin ramai, baik pasar tradisional, pasar modern dan pasar di dunia maya (marketplace). Membeli barang-barang untuk hari raya semisal baju, celana, sarung, mukena dan berbagai aksesoris untuk merayakan hari raya.

Tidak salah untuk memberikan nuansa Istimewa di bulan Ramadhan dengan hidangan yang special, demikian pula tidak salah membeli beraneka kebutuhan untuk hari raya. Tapi, jika hal tersebut menjadikan kondisi keuangan kita mengalami defisit (berkurang atau bahkan nombok) maka ini perlu diantisipasi. Salah satunya adalah dengan mengelola keuangan keluarga secara Islami, atau yang disebut dengan istilah Islamic Wealth Management.

Pengelolaan Harta Secara Islami (Islamic Wealth Management) sejatinya adalah mengelola harta yang dititipkan oleh Allah Ta’ala kepada kita sebagai manusia. Maka ada tiga tahapan utama yang harus dipahami, yaitu; Pertama, wealth creation yaitu mengelola sumber pendapatan (keuangan) harus dari sumber yang halal dan thayiib. Kedua, Wealth Purification and Protection yaitu mengeluarkan hak harta dalam bentuk zakat, infaq, sedekah atau wakaf. Kemudian berupaya menjagga harta tersebut agar bisa dimanfaatkan untuk masa yang akan datang dan keturunan. Ketiga, Wealth Ditribustion and Accumulation yaitu mendistribusikan harta (uang) untuk hal-hal utama yaitu; menabung, konsumsi, Listrik dan kebutuhan pokok lainnya. Setelah itu baru kebutuhan yang tidak mendesak tapi masih diperlukan, hingga menimbang-nimbang kebutuhan yang tidak mendesak dan tidak diperlukan. Selain itu memerhatikan pula tabungan, investasi atau usaha yang dapat menambah pendapatan keluarga.

Implementasi Islamic Wealth Management di bulan Ramadhan ini adalah dengan memerhatikan kembali distribusi dari uang dalam keluarga; apakah kita sudah menunaikan zakat, baik itu zakat fitrah di akhir Ramadhan atau zakat maal yang menjadi kewajiban apabila sudah mencapai nishab (ukuran standar seharga 84 Gram emas) dan haul (satu tahun). Setelah itu memeriksa kembali apakah pola konsumsi kita masih wajar sehingga masih dalam ambang batas ukuran konsumsi bulanan. Jangan lupa untuk tetap menabung dan menambah pendapatan melalu cara-cara yang sesuai dengan syariah Islam. Semoga Ramadhan ini kita dapat meraih keberkahannya sehingga dapat mengakhirinya dengan suka cita dengan keadaan keuangan juga tetap terjaga. 02032025

Rabu, 22 Maret 2023

Trend Saling Meminta Maaf di Awal Ramadhan

Oleh: Misno Mohamad Djahri

 


Salah satu fenomena yang terjadi di awal Ramadhan adalah sebagian masyarakat yang meminta maaf atas segala kesalahan baik yang disengaja atau tidak. Trend ini semakin meluas seiring dengan perkembangan media sosial, sehingga menjadi semcam keharusan bagi umat Islam untuk saling meminta maaf ketika akan memasuki bulan mulia ini.

Sejatinya tidak jauh berbeda dengan tradisi lainnya yaitu saling bermaaf-maafan di hari Raya Idhul Fitri dan terkadang ada juga di Idhul Adha. Sebagai sebuah trend yang berkembang di masyarakata tentu saja kita sebagai muslim tidak dengan mudah mengikutinya tanpa adanya ilmu. Ini sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًۭا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. QS. Al-Isra: 36.

Merujuk pada ayat ini maka kita sebagai muslim tidak boleh sembarangan mengikuti suatu amalan yang belum kita ketahui ilmunya. Apalagi itu terkait dengan syiar-syiar agama yang telah dijelaskan secara sempurna oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dan dilaksanakan oleh para shahabatnya.

Terkait dengan saling meminta maaf di awal Ramadhan, maka ini didasarkan pada salah satu riwayat yang banyak beredar di masyarakat, yaitu riwayat “Ketika Rasullullah sedang berkhutbah pada Shalat Jum’at (dalam bulan Sya’ban), beliau mengatakan Amin sampai tiga kali, dan para sahabat begitu mendengar Rasullullah mengatakan Amin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan Amin. Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasullullah berkata Amin sampai tiga kali. Ketika selesai shalat Jum’at, para sahabat bertanya kepada Rasullullah, kemudian beliau menjelaskan: “ketika aku sedang berkhutbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, hai Rasullullah Amin-kan do’a ku ini,” jawab Rasullullah. Do’a Malaikat Jibril itu adalah “Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut: pertama, Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada). Kedua, Tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami istri; ketiga, Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.

Sayangnya riwayat ini tidak ada sumbernya sama sekali, khususnya lafadz ““Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut: pertama, Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada). Kedua, Tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami istri; ketiga, Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya”. Sehingga tidak bisa dijadikan dasar untuk saling meminta maaf di awal Ramadhan, apalagi meyakini riwayat tersebut dan mengamalkannya serta menjadikan seolah-olah menjadi syiar agama Islam.

Riwayat yang shahih terkait dengan hadits tersebut adalah:

عن أبي هريرة  أن رسول الله صلى الله عليه و سلم رقي المنبر فقال : آمين آمين آمين فقيل له : يارسول الله ما كنت تصنع هذا ؟ ! فقال : قال لي جبريل : أرغم الله أنف عبد أو بعد دخل رمضان فلم يغفر له فقلت : آمين ثم قال : رغم أنف عبد أو بعد أدرك و الديه أو أحدهما لم يدخله الجنة فقلت : آمين ثم قال : رغم أنف عبد أو بعد ذكرت عنده فلم يصل عليك فقلت : آمين  قال الأعظمي : إسناده جيد

“Dari Abu Hurairah: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam naik mimbar lalu bersabda: ‘Amin, Amin, Amin’. Para sahabat bertanya: “Kenapa engkau berkata demikian, wahai Rasulullah?” Kemudian beliau bersabda, “Baru saja Jibril berkata kepadaku: ‘Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan’, maka kukatakan, ‘Amin’, kemudian Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang mengetahui kedua orang tuanya masih hidup, namun tidak membuatnya masuk Jannah (karena tidak berbakti kepada mereka berdua)’, maka aku berkata: ‘Amin’. Kemudian Jibril berkata lagi. ‘Allah melaknat seorang hambar yang tidak bershalawat ketika disebut namamu’, maka kukatakan, ‘Amin”.” Al A’zhami berkata: “Sanad hadits ini jayyid”. HR. Al Mundziri, Adz Dzahabi dan Ibnu Hajar Al Asqalani.

Riwayat ini berbeda dengan riwayat sebelumnya yang menambahkan lafadz saling meminta maaf, sehingga saling meminta maaf di awal Ramadhan merupakan sesuatu yang tidak ada sandarannya dan tidak pernah dilaksanakan oleh Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam, para shahabat dan generasi Islam terdahulu.

Adapun apabila kita melakukan kesalahan, baik yang disengaja atau tidak maka hendaknya segera untuk meinta maaf tanpa menunggu awal Ramadhan atau hari raya Idhul Fitri. Sebagaimana dasar yang sudah jelas dari al-Qur’an dan as-Sunnah.

خُذِ ٱلْعَفْوَ وَأْمُرْ بِٱلْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْجَٰهِلِينَ

"Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh". (QS. Al-A'raf: 199)

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda "Barangsiapa yang pernah berbuat aniaya (zhalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak lakukan, maka (nanti pada hari kiamat) bila dia memiliki amal shalih akan diambil darinya sebanyak kezhalimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi maka keburukan saudaranya yang dizhaliminya itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya". HR. Bukhari.

Oleh karena itu mari sebagai muslim kita beramal dalam agama sesuai dengan apa yang ada di dalam al-Qur’an dan al-Hadits yang shahih serta dilaskanakan oleh para shahabat. Karena hanya dengan beragama menghikuti manhaj merekalah keselamatan dan kebahagiaan akan didapatkan. Wallahu a’lam. Malam Awal Ramadhan 1444 H (22032023).

Senin, 13 Maret 2023

Persiapkan Diri Menghadapi Bulan Suci (Ramadhan 144 H./ 2023 M.)

Oleh: Ahmad Berhimin, SE., ME

 


Bulan suci Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa bagi umat Muslim di seluruh dunia. Selain sebagai bulan yang penuh berkah, Ramadhan juga menjadi momentum untuk memperkuat iman, memperbaiki diri, dan meningkatkan keberkahan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, sebagai umat Muslim, kita perlu melakukan persiapan yang matang untuk menjalankan dan melaksanakan ibadah di bulan suci Ramadhan.

Berikut adalah beberapa persiapan yang perlu dilakukan dalam menjalankan dan melaksanakan ibadah di bulan suci Ramadhan 1444 Hijriah:

1.     Meningkatkan Ketaqwaan

Ketaqwaan adalah kunci utama dalam melaksanakan ibadah di bulan suci Ramadhan. Oleh karena itu, persiapkan diri dengan meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Salah satu cara untuk meningkatkan ketaqwaan adalah dengan memperbanyak ibadah di luar bulan suci Ramadhan seperti shalat, membaca Al-Qur'an, dan lain-lain.

2.     Mengatur Waktu

Mengatur waktu menjadi sangat penting dalam menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan. Mulai dari waktu sahur, waktu berbuka, waktu shalat Tarawih, dan waktu-waktu penting lainnya harus diperhatikan dengan baik. Hal ini dapat membantu kita menjaga kesehatan dan stamina selama menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan.

3.     Menjaga Kesehatan

Menjaga kesehatan juga menjadi persiapan penting dalam menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan. Kita perlu memperhatikan pola makan, hindari makanan yang tidak sehat, dan berolahraga secara teratur. Kondisi kesehatan yang baik akan membantu kita lebih mudah melaksanakan ibadah di bulan suci Ramadhan.

4.     Menyempurnakan Pahala

Bulan suci Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk menyempurnakan pahala. Selain menjalankan ibadah wajib seperti shalat, puasa, dan zakat, kita juga bisa melaksanakan amal-amal lain seperti sedekah, membantu orang lain, dan lain-lain. Dengan menyempurnakan pahala, kita bisa mendapatkan keberkahan dan balasan dari Allah Ta’ala.

5.     Menjalin Hubungan yang Baik dengan Sesama

Menjalin hubungan yang baik dengan sesama juga menjadi persiapan penting dalam menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan. Kita perlu menjaga kerukunan dengan keluarga, sahabat, dan tetangga. Kita juga perlu memaafkan kesalahan orang lain dan berusaha untuk saling membantu.

Dalam kesempatan yang istimewa ini, marilah kita mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk menjalankan dan melaksanakan ibadah di bulan suci Ramadhan 1444 Hijriah. Dengan melakukan persiapan yang matang, kita akan lebih mudah melaksanakan ibadah dan mendapatkan keberkahan dari Allah Ta’ala.

Dalam menjalankan dan melaksanakan ibadah di bulan suci Ramadhan, persiapan yang matang sangatlah penting. Dalam artikel ini, telah disebutkan beberapa persiapan yang perlu dilakukan seperti meningkatkan ketaqwaan, mengatur waktu dengan baik, menjaga kesehatan, menyempurnakan pahala, dan menjalin hubungan yang baik dengan sesama.

Melakukan persiapan yang matang tersebut akan membantu kita dalam menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan dengan lebih mudah dan lancar. Selain itu, persiapan tersebut juga akan membantu kita memperoleh keberkahan dan pahala yang lebih banyak dari Allah SWT.

Namun, tidak hanya itu saja, dalam menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan juga diperlukan kesabaran, ketekunan, dan keteguhan hati untuk tetap konsisten menjalankan ibadah meskipun mungkin terasa sulit atau melelahkan. Kita juga harus selalu mengingat tujuan dari berpuasa dan beribadah di bulan suci Ramadhan, yaitu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meningkatkan kualitas diri sebagai hamba yang lebih baik.

Oleh karena itu, selain melakukan persiapan yang matang, marilah kita juga mempersiapkan diri secara mental dan spiritual dalam menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan. Dengan demikian, kita akan lebih siap dan mampu menjalankan ibadah dengan baik, serta mendapatkan manfaat dan keberkahan yang lebih besar dari bulan suci Ramadhan.

 

Manfaat yang didapat dalam Menpersiapkan menjalankan dan melaksanakan ibadah bulan suci ramadhan 1444 Hijriah

Terdapat banyak manfaat yang dapat diperoleh dalam menyiapkan diri untuk menjalankan dan melaksanakan ibadah di bulan suci Ramadhan. Beberapa manfaat tersebut di antaranya adalah:

1.     Meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT: Dalam melakukan persiapan untuk menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan, kita akan lebih memfokuskan diri pada ibadah dan menghindari hal-hal yang dapat mengganggu ibadah, sehingga dapat membantu meningkatkan ketaqwaan kepada Allah Ta’ala.

2.     Meningkatkan kualitas ibadah: Dengan melakukan persiapan yang matang, kita akan lebih siap dan mampu untuk menjalankan ibadah dengan baik, sehingga dapat meningkatkan kualitas ibadah yang kita lakukan.

3.     Memperoleh pahala yang lebih banyak: Dalam bulan suci Ramadhan, pahala yang diberikan oleh Allah SWT untuk setiap ibadah yang dilakukan akan dilipatgandakan. Dengan melakukan persiapan yang matang, kita akan lebih mudah untuk memperoleh pahala yang lebih banyak dari Allah SWT.

4.     Menjaga kesehatan: Dalam persiapan untuk menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan, kita juga perlu memperhatikan kesehatan tubuh kita. Dengan menjaga kesehatan, kita dapat menjalankan ibadah dengan lebih lancar dan mudah.

5.     Menjalin hubungan yang baik dengan sesama: Dalam bulan suci Ramadhan, kita juga perlu menjalin hubungan yang baik dengan sesama muslim. Dengan melakukan persiapan yang matang, kita dapat memperoleh kesempatan untuk memperbaiki hubungan yang kurang baik dengan sesama muslim, sehingga dapat menjalin hubungan yang lebih baik dan harmonis.

6.     Menjadi pribadi yang lebih baik: Dalam persiapan untuk menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan, kita perlu meningkatkan kualitas diri dan memperbaiki kekurangan yang ada dalam diri kita. Dengan demikian, kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih dekat dengan Allah SWT.

Anjuran dalam Alqur’an yang membahas tentang Menpersiapkan menjalankan dan melaksanakan ibadah bulan suci ramadhan 1444 Hijriah

Dalam Al-Quran, terdapat banyak ayat yang memberikan anjuran dan panduan dalam menyiapkan dan menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan. Beberapa ayat tersebut di antaranya adalah:

1.     "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183). Ayat ini menunjukkan bahwa berpuasa di bulan suci Ramadhan merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang mampu melakukannya. Puasa tersebut harus dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

2.     "Dan janganlah kamu mencampuradukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu menyembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 42). Ayat ini mengajarkan kepada kita untuk selalu berpegang pada kebenaran dan tidak mencampuradukkan antara yang benar dengan yang salah. Dalam menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan, kita harus berusaha untuk memperbaiki diri dan menjauhi perbuatan-perbuatan yang dianggap tidak baik.

3.     "Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 153). Ayat ini mengajarkan kepada kita untuk bersabar dalam menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan. Puasa yang dilakukan selama sebulan penuh bukanlah hal yang mudah, namun dengan kesabaran dan keteguhan hati, kita dapat menjalankan ibadah tersebut dengan lancar dan mudah.

4.     "Dan apabila hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS. Al-Baqarah: 186). Ayat ini mengajarkan kepada kita untuk senantiasa berdoa kepada Allah SWT dalam menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan. Dalam berdoa, kita harus memenuhi segala perintah-Nya dan beriman dengan sepenuh hati agar doa kita dikabulkan dan kita selalu berada dalam kebenaran.

Dengan memperhatikan anjuran-anjuran dalam Al-Quran, kita dapat menyiapkan dan menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan dengan baik dan penuh keberkahan.

 

Kesimpulan

Kesimpulannya, menyiapkan dan menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan adalah kewajiban bagi setiap muslim yang mampu melakukannya. Dalam Al-Quran, terdapat banyak anjuran dan panduan yang dapat dijadikan acuan untuk menjalankan ibadah tersebut. Beberapa di antaranya adalah untuk selalu berpegang pada kebenaran, menjauhi perbuatan-perbuatan yang buruk, bersabar, dan senantiasa berdoa kepada Allah SWT.

Dalam menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan, kita akan merasakan banyak manfaat, seperti meningkatkan ketakwaan, memperbaiki diri, membiasakan diri untuk mengendalikan nafsu, mendapat pahala dari Allah SWT, dan merasakan kebahagiaan dan kedamaian dalam diri. Selain itu, melalui ibadah di bulan suci Ramadhan, kita juga dapat mempererat tali persaudaraan dan solidaritas antar sesama muslim. berhiminahmad11@gmail.com  @ Putra Lintang 13032023

Selasa, 26 April 2022

Tangis di Akhir Finish

Oleh: Abd Misno, MEI

 


Ramadhan sebentar lagi akan berpamitan, bulan yang penuh dengan kemuliaan akan menjadi kenangan sepanjang zaman. Setiap orang berbeda-beda dalam melepas bulan penuh keberkahan, adanya berurai air mata karena bulan mulia sudah tiada di hapan mata. Sebulan penuh berpuasa dan beramal sholeh di dalamnya membawa kebiasaan mulia dan semakin mendekatkan diri kepadaNya. Ia betul-betul menikmati Ramadhan, hingga tak rela bila harus segera meninggalkan. Semoga Allah Ta’ala merahmati mereka yang memang bersungguh-sungguh dalam mengisi Ramadhan, air mata yang mengalir karena berpisah dengan bulan ini menjadi saksi di akhirat nanti, bahwa ia telah mengisi bulan ini dengan sepenuh hati.

Tangis di akhir finish adalah bukti keimanan seseorang, air mata yang mengalir karena Ramadhan akan berakhir. Ia khawatir jika nanti tidak dapat berjumpa lagi dengan bulan yang penuh dengan berjuta pahala dalam ibadah dan dzikir. Kekhawatiran yang muncul dari hati yang paling dalam, karena usia insan adalah rahasia Ar-Rahman. Rasa kekhawatiran inilah yang kemudian membawa syahdu di ujung bulan yang selalu dirindu, bahkan hingga di ujung usiamu. Semoga Allah Ta’ala selalu memberi keberkahan bagi mereka yang dapat menikmati Ramadhan ini, hingga di akhir usia nanti.

Sebagian manusia juga menangis, walau tangis bahagia karena Ramadhan telah berlalu darinya, mereka adalah orang-orang yang tidak percaya, para pendosa mereka yang tidak bisa menikmati Ramadhan mulia. Mereka menangis bahagia karena mereka kembali bebas dari berbuat maksiat dan dosa, mereka bahagia karena mereka kembali kepada lingkungannya yang penuh dengan alpha. Sebagian kaum muslimin juga berada pada posisi ini, di mana mereka juga terbawa dengan orang-orang yang tidak bisa menikmati Ramadhan yang mulia. Semoga kita semua terhindar dari orang-orang yang memang tidak terbiasa dengan hadirnya Ramadhan mulia.

Ada juga sebagian manusia yang biasa saja dengan berakhirnya Ramadhan, sedih tidak bahagia juga tidak. Biasa saja, menjalani hari-hari tanpa makna, bahkan tidak merasa bahwa Ramadhan ini adalah bulan mulia yang memiliki banyak keutamaan di dalamnya. Mereka biasanya yang belum memahami keutamaan Ramadhan, atau yang terlalu sibuk dengan urusan dunia hingga Ramadhan yang tiba disikapi dengan biasa saja. Bahkan hingga akhir Ramadhan sikapnya masih biasa saja, acuh tak acuh dan seperti tidak ada apa apa yang terjadi. Bagi yang merasa seperti ini sepertinya harus banyak belajar kembali Islam yang telah memberikan keutamaan di beberapa bulan khususnya bulan Ramadhan.

Sekadar ingatan, Ramadhan yang akan berpamitan semestinya menjadi banyak pelajaran bahwa ianya memiliki banyak keutamaan. Maka jika kita tidak dapat melaksanakan berbagai peribadahan di dalamnya maka sungguh kita rugi adanya, demikian pula jika kita merasa biasa dengan datangnya maka berarti ada sesuatu dalam diri kita, yaitu keimanan yang mungkin tereduksi dengan dosa dan kesalahan yang menutupi hati kita. Solusi untuk ini semua adalah dengan kembali mempelajari agama kita, karena dengan ilmu kita akan dapat mengetahui banyak syariah Islam yang mulia.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan kepada kita hidayah serta inayahnya sehingga di akhir Ramadhan ini kita masih bisa mengisinya dengan amal mulia, dan ketika ia telah meninggalkan kita maka selayaknya untuk kita berharap untuk dapat berjumpa kembali dengannya. Karena bulan ini benar-benar membawa keberkahan dan memiliki banyak keutamaan serta dilipatgandakannya pahala amal di dalamnya. Aameen Ya Rabbal aalameen… 26042022.     


Minggu, 24 April 2022

Hari-hari Akhir Ramadhan

Oleh: Abd Misno

 


Ramadhan tinggal beberapa hari lagi ke depan, sebagian kaum muslimin telah larut ke dalam ibadah khas di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ini. Sebagian lainnya mulai sibuk dengan persiapan hari rayanya; berbelanja, membuat beraneka makanan dan pulang kampung bagi yang merantau ke berbagai kota di seantero Indonesia. Sementara sebagian lainnya masih tenggelam dalam kesibukan hariannya, bekerja, berdagang dan aktifitas harian yang biasa dilakukan di luar dan hingga di hari-hari akhir Ramadhan. Fenomena hari-hari akhir Ramadhan memang disikapi dengan berbagai pandangan oleh berbagai kelompok umat Islam.

Mereka yang melaksanakan ibadah khas di akhir bulan yaitu i’tikaf adalah orang-orang yang berusaha untuk menjalankan syariah Islam dengan istiqamah. Kebangkitan Islam dan semangat umatnya untuk kembali kepada Islam memang sangat kelihatan khususnya di perkotaan dan anggota dari pergerakan Islam. I’tikaf menjadi ibadah tahunan yang mengalami banyak perkembangan, dari mulai dilakukan secara sendiri-sendiri hingga dibuat program khusus dengan panitia yang menyiapkan segala sesuatunya. Program ini yang yang gratis namun ada juga yang berbayar, untuk sekadar makan dan minuman selama ber’itikaf. Sebagai ibadah yang memerlukan persiapan khusus karena harus berdiam diri di masjid dan tidak boleh keluar hingga pagi hari raya, maka i’tikaf dilakukan oleh mereka yang tidak banyak kegiatan di luar atau yang sejak awal sudah mempersiapkan dirinya.

I’tikaf sangat dianjurkan dalam Islam, Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam juga melaksanakan ibadah ini dan dilanjutkan pula oleh istri-istrinya setelah beliau wafat. Ibadah ini juga dilakukan oleh para shahabat dan umat Islam setelahnya. Salah satu dari tujuan utama dari I’tikaf adalah mengisi hari-hari akhir bulan Ramadhan guna memperoleh lailatul qadar yang ibadah di dalamnya lebih baik dari seribu bulan. Selain itu tentu saja menjadi satu ibadah yang melatih pelakunya untuk semakin dekat kepada Allah Ta’ala, sehinga diharapkan energi I’tikaf ini akan dilanjutkan di masa-masa berikutnya.

Hari-hari akhi Ramadhan juga diwarnai dengan meningkatnya konsumsi umat Islam, membeli pakaian untuk lebaran, membuat beraneka makanan hingga mempersiapkan diri untuk pulang kampung (mudik) guna bertemu dengan kerabat dan keluarganya. Tradisi ini hukumnya mubah saja, karena bergembira di hari raya juga hal yang dibolehkan dalam syariah, demikian pula membuat beranekaragam makanan. Mudik untuk bertemu dengan keluarga khususnya orang tua menjadi hal yang wajib dalam konteks berbuat baik kepada kedua orang tua, serta menyambung silaturahmi dengan kerabat dan keluarga. Hal yang tidak tepat adalah ketika berlebih-lebihan dalam menyiapkan ahri raya, membeli pakaian secara berlebihan, demikian pula menyiapkan makanan dan minuman yang berlebihan. Lebih dari itu adalah jika dalam menyiapkan hal yang mubah ini ternyata melalaikan dari kewajiban agama atau melalaikan berbagai syariah yang ada di akhir bulan mulia. Sehinga boleh membeli pakaian baru, membuat makanan dan minuman serta pulang kampung untuk bertemu dengan keluarga, namun tidak boleh melalaikan dari kewajiban agama, serta hal-hal yang disyariahkan lainnya.

Ada sebagian umat Islam yang ketika berada di akhir-akhir Ramadhan namun acuh tak acuh dengannnya. Ia masih sibuk dengan urusan dunianya hingga terlupa akan keutamaan (fadhilah) hari-hari akhir Ramadhan dan malam lailatul qadar. Mungkin ia tak paham dengan agama dan berbagai syariahNya, tidak mengetahui akan Ramadhan sebagai bulan mulia serta banyak keutamaan di dalamnya. Bagi mereka yang keadaannya seperti ini maka hendaknya kembali belajar agama dan kita yang telah mengetahui untuk mengajaknya mengisi bulan mulia. Bila ada yang acuh tak acuh karena memang kesibukannya, maka mengingatkannya dengan baik adalah cara utama, mungkin hatinya belum terbuka untuk menerima Islam sebagai pedoman hidupnya. Mungkin hidayah belum sampai kepadanya, atau mungkin memang dia sedang terlena dengan hawa dunianya. Maka mengingatkan mereka akan keutamaan Ramadhan dan hari-hari akhirnya harus terus dilakukan, karena inilah tugas kita bersama.

Umat Islam memang berbeda-beda dalam menyikapi hari-hari akhir Ramadhan, setiap mereka memiliki keperluan, kebutuhan dan pemikiran yang berbeda-beda sesuai dengan pemahaman keagamaan mereka. Maka selama tidak melanggar syariahNya, kitab oleh melakukannya dengan tidak berlebih-lebihan di dalamnya. Apabila kita ada kelonggaran dan keimanan semakin bertambah maka laksanakan sunnah-sunnahNya yang membawa kepada peningkatan iman dan keyakinan yang mendalam semisal I’tikaf di sepuluh akhir Ramadhan.

Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah kepada kita, hingga secara bertahap kita akan dapat mengisi hari-hari akhir Ramadhan ini. Wallahua’alam bishawab, 24042022.

 

 

Jumat, 22 April 2022

RAMADHAN YANG TERNODA

 Oleh: Abd Misno

 


Bulan Ramadhan yang penuh dengan kemuliaan tidak selamanya diagungkan oleh sebagian umat Islam, beberapa mereka masih terlena dengan hawa dunia hingga puasa yang bertujuan untuk mencapai takwa sering sekali ternoda dengan dosa yang dilakukannya. Apakah puasa tidak bisa mencegahnya dari sifat alpha? Kenapa Ramadhan yang katanya Iblis, syaithan dan balatentaranya dibelenggu masih saja ada dosa yang dilakukan oleh manusia?

Riwayat mengenai dibelenggunya syaithan adalah shahih (benar) datang dari Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam, beliau bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu. HR. Bukhari dan Muslim.

Riwayat lainnya menjelaskan:

إِذَا كَانَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ

Jika masuk bulan Ramadhan, pintu-pintu rahmat dibukan, pintu-pintu Jahannam ditutup dan setan-setan pun diikat dengan rantai. HR. Bukhari dan Muslim.

Al-Qadhi ‘Iyadh menyatakan dalam Fath Al-Bari dan Syarh Shahih Muslim bahwa yang dimaksud adalah makna secara tekstual dan hakiki. Terbukanya pintu surga, tertutupnya pintu neraka dan terikatnya setan adalah tanda masuknya bulan Ramadhan, mulianya bulan tersebut dan setan pun terhalang mengganggu orang beriman. Ini isyarat pula bahwa pahala dan pemaafan dari Allah begitu banyak pada bulan Ramadhan. Tingkah setan dalam menggoda manusia pun berkurang karena mereka bagaikan para tahanan ketika itu. Beliau juga menyatakan “Juga dapat bermakna terbukanya pintu surga karena Allah memudahkan berbagai ketaatan pada hamba-Nya di bulan Ramadhan seperti puasa dan shalat malam. Hal ini berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Di bulan Ramadhan, orang akan lebih sibuk melakukan kebaikan daripada melakukan maksiat. Inilah sebab mereka dapat memasuki surga dan pintunya. Sedangkan tertutupnya pintu neraka dan terbelenggunya setan, inilah yang mengakibatkan seseorang mudah menjauhi maksiat ketika itu.

Berdasarkan dua riwayat ini sangat jelas sekali bahwa syaithan diikat atau dibelenggu di bulan Ramadhan, tapi kenapa dosa dan maksiat masih ada di bulan mulia ini? Abul ‘Abbas Al-Qurthubi menafsirkan makna dari “syaithan dibelenggu” dengan beberapa perincian; pertama, Setan diikat dari orang yang menjalankan puasa yang memperhatikan syarat dan adab saat berpuasa. Adapun yang tidak menjalankan puasa dengan benar, maka setan tidaklah terbelenggu darinya. Kedua, Seandainya pun kita katakan bahwa setan tidak mengganggu orang yang berpuasa, tetap saja maksiat bisa terjadi dengan sebab lain yaitu dorongan hawa nafsu yang selalu mengajak pada kejelekan, adat kebiasaan dan gangguan dari setan manusia. Ketiga, Bisa juga maksudnya bahwa setan yang diikat adalah umumnya setan dan yang memiliki pasukan sedangkan yang tidak memiliki pasukan tidaklah dibelenggu. Intinya maksudnya adalah kejelekan itu berkurang di bulan Ramadhan. Ini nyata terjadi dibandingkan dengan bulan lainnya.

Penjelasan yang lebih komprehensif disebutkan oleh Ibnu Taimiyah dalam kitab Majmu’ fatawa  beliau menjelaskan bahwa pada bulan Ramadhan, jiwa lebih condong pada kebaikan dan amalan shalih, yang dengan kebaikan ini sebagai jalan terbukanya pintu surga. Begitu pula kejelekan pun berkurang ketika itu yang akibatnya pintu neraka itu tertutup. Sedangkan setan itu diikat berarti mereka tidaklah mampu melakukan maksiat sebagaimana ketika tidak berpuasa. Namun maksiat masih bisa terjadi karena syahwat. Ketika syahwat itu ditahan, maka setan-setan pun terbelenggu.

Menurut Ad-Dawudi dan Al-Mahlab, maksudnya adalah Allah menjaga kaum muslimin atau mayoritas dari mereka dari kemaksiatan dan kecenderungan untuk menuruti bisikan setan. Bahkan Al-Mahlab memberikan argumentasi bagi kalangan yang memahami dibelenggunya setan dalam pengertian hakiki. Menurutnya, masuknya para pendurhaka (ahlul ma’ashi) pada bulan Ramadhan dalam ketataan sehingga mereka mengabaikan hawa nafsunya menunjukkan terbelenggunya setan.

Abu Hasan Ali bin Khalaf bin Abdul Malik bin Baththal Al-Bakri Al-Qurthubi atau yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Baththal, menurutnya “Setidaknya ada dua penjelasan yang diajukan para ulama tentang makna sabda Rasulullah saw di atas. Pertama, ulama yang memahami secara literalis atau sesuai bunyi teks haditsnya. Pintu surga dibuka, dan setan dibelenggu dipahami dalam pengertian yang sebenarnya (al-haqiqi) sehingga intensitasnya dalam menggoda manusia berkurang pada bulan Ramadhan dibanding dengan bulan lainnya.”

Merujuk pada penjelasan tersebut sangat jelas abgi kita bahwa ada dua pendapat mengenai makna dari syaithan yang dibelenggu: Pertama, makna hakiki bahwa syaithan betul-betul dibelenggu sehingga tidak mampu untuk menggoda manusia. Kedua, makna majazi yaitu diikatnya syaithan adalah symbol berkurangnya maksiat karena pembatasan syaithan untuk menggoda manusia. Jika demikian adanya kenapa masih ada dosa di bulan mulia? Kenapa Ramadhan mulia ternoda dengan dosa manusia di dalamnya?

Jawabannya adalah bahwa manusia yang melakukan dosa disebabkan oleh dua hal, faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah sebab-sebab terjadinya dosa karena dirinya, hawa nafsunya dan keinginannya sebagai manusia untuk berbuat dosa. Sedangkan faktor eksternal adalah karena godaan iblis, syaithan dan balatentaranya termasuk dari manusia lainnya agar seorang manusia berbuat dosa. Apabila faktor ekternal ini sangat mendominasi di bulan-bulan selain Ramadhan, maka di bulan mulia ini faktor internal yang menjadi penyebab utama.

Manusia dengan hawa nafsunya selalu mengajak kepada keburukan, dosa dan kesalahan, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

إِنَّ ٱلنَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ

…karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. QS. Yusuf: 53.

Maka, di bulan yang mulia ini yang seharusnya hawa nafsu ini melemah bersamaan dengan jasad yag melemah ternyata tidak semuanya sama pada manusia. Ada beberapa dari mereka, walaupun sedang berpuasa tetapi hawa nafsunya begitu kuat menguasai raganya hingga ia memberontak dan mengajak raga untuk bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Hawa nafsu yang telah membelenggu memang sering sekali susah untuk dilepaskan, bahkan hingga bulan Ramadhan datang. Hingga walaupun Ramadhan tiba, tapi para pengikut hawa ini masih saja tergoda dengan hawanya hingga akhirnya dosa dilakukannya.

Mungkin sedikit perbedaan, bahwa betul ketika dia berpuasa seseorang akan berusaha untuk tidak melakukan perbuatan dosa, tapi bila waktu berbuka maka mereka kemudian membebaskan hawa nafsunya hingga dosa pun dilakukannya. Orang seperti ini di level atas dari orang-orang yang ketika siang hari Ramadhan di saat orang-orang berpuasa mereka tetap melakukan dosa. Kedua-duanya tentu saja tidak baik di mata Allah Ta’ala. Ada level di atasnya yaitu seseorang yang menahan hawa nafsunya selama Ramadhan namun ketika sudah di luar Ramadhan ia kembali bermaksiat dosa kepada Rabb-nya. Pada level ini berarti puasa yang dilakukannya tidak secara signifikan memberikan efek pada peningkatan ketakwaan pada dirinya.

Ramadhan yang ternoda, adalah ketika bulan mulia ini ternyata dinodai dengan berbagai dosa yang dilakukan oleh umat manusia. Mungkin kita juga baik sengaja atau tidak sengaja telah menodainya, maka memohon ampun padaNya (istighfar) dan selalu bertaubat atas semua dosa dan maksiat yang diperbuat adalah jalan keluar yang utama. Walau terasa berat sejatinya inilah perjuangan melawan hawa nafsu yang ada dalam diri manusia, rasa susah dan berat ini akan dibalas dengan rasa ringan dan kebahagiaan di masa yang akan datang serta di negeri penuh keabadian.

Nasihat untuk diri sendiri dan mereka yang masih terjerat maksiat dan terbawa dosa di bulan mulia, maka segeralah tahan diri jangan sampai melakukannya lagi. Mumpun Ramadhan masih di sepuluh akhir, maka perbanyaklah ibadah, bertaubat kepadanya dan jangan lupa iringi dengan doa semoga Allah Ta’ala menundukan hawa nafsu kita.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ ، وَالأَعْمَالِ ، وَالأَهْوَاءِ

Allohumma Inni A’udzu Bika Min Munkarootil Akhlaaqi Wal A’maali Wal Ahwaa’

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari akhlak, amal, dan hawa nafsu yang jelek. HR. Tirmidzi.

Semoga Allah Ta’ala selalu menjaga diri kita dari berbuat dosa di bulan mulia, kalaupun terjatuh maka seger beristighfar, bertaubat dan jangan mengulanginya di bulan mulia dan bulan-bulan berikutnya. Aameen Ya Rabbal’alameen. Tulisan ini adalah pengingat diri, semoga bukan lilin yang terbakar ketika menerangi… Jumat berkah, 22042022.  

 

Jumat, 15 April 2022

Ramadhan di Persimpangan Jalan: Antara Syariah Mulia hingga Fenomena Kenaikan Harga

Oleh: Abd Misno

 


Bulan Ramadhan yang hadir setiap tahun memberikan fenomena tersendiri bagi umat Islam, ia juga mewarnai budaya di seluruh semesta. Kehadirannya disambut dengan suka cita oleh seluruh umat Islam di berbagai penjuru dunia, dari gempita Eropa hingga pedalaman Afrika dan belantara Asia. Semua umat Islam merayakan Ramadhan dengan suka cita, hingga perayaannya menghiasi berbagai media.

Shaum (puasa) di bulan Ramadhan merubah beberapa sendi kehidupan umat Islam di seluruh penjuru dunia. Dari mulai tidak makan dan minum di siang hari, sehingga banyak warung makan dan restaurant yang tutup karena tidak ada pembeli, tradisi berbuka puasa yang selalu dibarengi dengan ta’jil, buka puasa bersama dan berbagai sajian khas yang mengiringinya. Selain itu banyak lagi tradisi yang menjadi kekhasan dari Ramadhan di berbagai penjuru dunia.

Berbagai tradisi yang mengiringi Ramadhan memunculkan berbagai gaya hidup, khususnya terkait dengan konsumsi yang mengalami peningkatan. Jika hari biasa makan “seadanya” maka di bulan Ramadhan akan lebih “istimewa” karena ketika berbuka akan bertambah hidangan khas di dalamnya semisal kurma atau Kolak di Indonesia. Pada tingkat yang masih ditoleransi tentu tidak masalah, sebagai bentuk suka cita di bulan mulia. Menyediakan makanan yang lebih dari hari-hari biasa serta kegiatan lainnya yang membawa pada peningkatan ketakwaan kepada Allah Ta’ala.

Namun yang tidak tepat adalah ketika konsumsi di bulan ini mengalami peningkatan signifikan, hingga memunculkan sifat pemborosan dan mubadzir dalam makanan dan minuman. Ini tentu tidak sesuai dengan syariah Islam yang menganjurkan untuk sederhana dan tidak berlebih-lebihan. Standar suatu hidangan dianggap berlebihan atau mubadzir adalah ketika makanan yang dihidangkan melebihi apa yang dibutuhkan, hingga makanan itu berlebihan dibuang atau menjadi basi. Apalagi jika konsumsi yang berlebihan akan memudharatkan kesehatan bagi umat Islam, karena setelah seharian berpuasa, kemudian ketika berbuka makan sebanyak-banyaknya.

Tingkat konsumsi yang meningkat seringkali dimanfaatkan oleh para produsen, distributor dan pedagang untuk meraih keuntungan sebanyak-banyaknya. Hingga umat Islam dibuat susah karena harga barang-barang dan jasa naik berlipat ganda, padahal seharusnya Ramadhan menjadi bulan mulia justru dinodai dengan kesusahan dari umat karena naiknya harga-harga sehingga membuat susah dalam mendapatkan keuntungannya.

Kenaikan harga adalah hal wajar ketika terjadi mekanisme pasar yang benar, meningkatnya demand (permintaan) tentu akan menaikan harga, apalagi jika supply (persediaan) mengalami pengurangan. Namun jika kenaikan harga bukan karena mekanisme pasar tapi ada hal lain semisal ihtikar (penimbunan) atau kesewenang-wenangan dalam menentukan harga maka hal ini haruslah ditindak oleh pihak berwenang. Pemerintah tentu saja hal ini harus hadir untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan benar.

Ramadhan di persimpangan jalan, di mana bulan suci yang penuh dengan kemuliaan ini di mana umat Islam disyariahkan untuk beribadah di dalamnya justru seringkali diwarnai dengan tingkat konsumsi yang berlebihan serta harga-harga di pasar meningkat hingga membuat susah umat. Sebagai umat Islam kita harus sadar dan dapat mengambil jalan yang benar dalam menyikapo Ramadhan, tidak berlebih-lebihan dalam konsumsi di bulan ini serta ketika menjadi produsen, distributor atau pedagang tidak menaikan harga tanpa adanya mekanisme pasar yang benar. Demikian pula tidak melakukan berbagai hal yang bertentangan dengan syariah Islam, utamanya dalam aktifitas di bulan Ramadhan ini.

Mari mengisi Ramadhan dengan penuh peribadahan, apabila melakukan aktifitas ekonomi semisal konsumsi maka sesuaikanlah dengan kemampuan dan selalu bersifat sederhana dan tidak berlebih-lebihan. Apabila kita sebagai produsen, distributor atau pedagang makan hendaknya tidak berbuat curang atau karena kepentingan dunia kemudian menaikan harga semaunya. Kebijakan pemerintah yang meningkatkan beberapa komidtas dan jasa mencapai 30% masih bisa dilakukan dengan syarat tidak memberatkan masyakarat. Wallahua’lam, Jumat 15 April 2022.

 

 

Rabu, 13 April 2022

Ramadhan; Bulan Dilipatgandakan Pahala Amal Kebaikan

Oleh: Abd Misno



Bulan Ramadhan adalah bulan mulia, karena pada bulan ini amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya. Sebagaimana banyak sekali riwayat yang telah sampai kepada kita dari Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam.

Pertama, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151)

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengatakan, “Sebagaimana pahala amalan puasa akan berlipat-lipat dibanding amalan lainnya, maka puasa di bulan Ramadhan lebih berlipat pahalanya dibanding puasa di bulan lainnya. Ini semua bisa terjadi karena mulianya bulan Ramadhan dan puasa yang dilakukan adalah puasa yang diwajibkan oleh Allah pada hamba-Nya. Allah pun menjadikan puasa di bulan Ramadhan sebagai bagian dari rukun Islam, tiang penegak Islam.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 271)

Sebuah riwayat yang dhaif menjelaskan mengenai dilipatgandakannya amalan di bulan ini, yaitu:

يا أيها الناس قد أظلكم شهر عظيم ، شهر فيه ليلة خير من ألف شهر ، جعل الله صيامه فريضة، وقيام ليله تطوعا ، من تقرب فيه بخصلة من الخير كان كمن أدى فريضة فيما سواه، ومن أدى فيه فريضة كان كمن أدى سبعين فريضة فيما سواه

“Wahai sekalian manusia, telah datang pada kalian bulan yang mulia. Di bulan tersebut terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Puasanya dijadikan sebagai suatu kewajiban. Shalat malamnya adalah suatu amalan sunnah. Siapa yang melakukan kebaikan pada bulan tersebut seperti ia melakukan kewajiban di waktu lainnya. Siapa yang melaksanakan kewajiban pada bulan tersebut seperti menunaikan tujuh puluh kewajiban di waktu lainnya.” (HR. Al-Mahamili dalam Al-Amali 5: 50 dan Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya 1887. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini munkar seperti dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah no. 870)

Walaupun Riwayat ini lemah, namun secara umum bahwa pahala seseorang akan berlipatganda di bulan ini walaupun tidak spesifik 70 kali lipat, karena akan bisa lebih dari itu.

Adapun beberapa atsar dari ulama diantaranya adalah yang dikatakan oleh guru-guru dari Abu Bakr bin Maryam rahimahumullah, “Jika tiba bulan Ramadhan, bersemangatlah untuk bersedekah. Karena bersedekah di bulan tersebut lebih berlipat pahalanya seperti seseorang sedekah di jalan Allah (fii sabilillah). Pahala bacaaan tasbih (berdzikir “subhanallah”) lebih afdhal dari seribu bacaan tasbih di bulan lainnya.” Imam An-Nakha’i rahimahullah mengatakan, “Puasa sehari di bulan Ramadhan lebih afdhal dari puasa di seribu hari lainnya. Begitu pula satu bacaan tasbih (berdzikir “subhanallah”) di bulan Ramadhan lebih afdhal dari seribu bacaan tasbih di hari lainnya. Begitu juga pahala satu raka’at shalat di bulan Ramadhan lebih baik dari seribu raka’at di bulan lainnya.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 270).

Dilipatgandakannya pahala di bulan ini bukan hanya ucapan Nabi, namun juga amalan beliau, sebagaiaman hadits dalam shahihain, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar bersedekah. Semangat beliau dalam bersedekah lebih membara lagi ketika bulan Ramadhan tatkala itu Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan. Jibril mengajarkan Al-Qur’an kala itu. Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup.” (HR. Bukhari no. 3554 dan Muslim no. 2307)

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Al juud berarti rajin dan banyak memberi (berderma)” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 291). Jadi maksud hadits adalah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– rajin memberi sedekah pada orang lain di bulan Ramadhan. Ibnu Rajab juga menyebutkan, “Pada diri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkumpul berbagai macam sifat dermawan. Beliau gemar berderma dengan ilmu dan harta beliau. Beliau juga mengorbankan jiwa untuk memperjuangkan agamanya. Beliau juga memberikan manfaat pada umat dengan menempuh berbagai macam cara. Bentuk kemanfaatan yang beliau berikan adalah dengan memberi makan pada orang yang lapar, menasihati orang yang bodoh, memenuhi hajat dan mengangkat kesulitan orang yang butuh.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 293).

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, “Siapa yang tidak bisa menggapai derajat itsar (mendahulukan orang lain dari diri sendiri, pen.), maka jangan sampai ia tidak mencapai derajat orang yang rajin membantu orang lain (muwasah).” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 300)

Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku sangat senang ketika melihat ada yang bertambah semangat mengulurkan tangan membantu orang lain di bulan Ramadhan karena meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga karena manusia saat puasa sangat-sangat membutuhkan bantuan di mana mereka telah tersibukkan dengan puasa dan shalat sehingga sulit untuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan mereka. Contoh ulama yang seperti itu adalah Al-Qadhi Abu Ya’la dan ulama Hambali lainnya.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 301)

Bukti lain bahwa bulan Ramadhan pahala amal ibadah itu dilipatgandaan adalah riwayat dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya pada seorang wanita,

مَا مَنَعَكِ أَنْ تَحُجِّى مَعَنَا

“Apa alasanmu sehingga tidak ikut berhaji bersama kami?”.

Wanita itu menjawab, “Aku punya tugas untuk memberi minum pada seekor unta di mana unta tersebut ditunggangi oleh ayah fulan dan anaknya –ditunggangi suami dan anaknya-. Ia meninggalkan unta tadi tanpa diberi minum, lantas kamilah yang bertugas membawakan air pada unta tersebut. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِذَا كَانَ رَمَضَانُ اعْتَمِرِى فِيهِ فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ حَجَّةٌ

“Jika Ramadhan tiba, berumrahlah saat itu karena umrah Ramadhan senilai dengan haji.” (HR. Bukhari no. 1782 dan Muslim no. 1256).

Dalam lafazh Muslim disebutkan,

فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً

“Umrah pada bulan Ramadhan senilai dengan haji.” (HR. Muslim no. 1256)

Dalam lafazh Bukhari yang lain disebutkan,

فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ تَقْضِى حَجَّةً مَعِى

“Sesungguhnya umrah di bulan Ramadhan seperti berhaji bersamaku.” (HR. Bukhari no. 1863)

Al-Qari dalam Mirqah Al-Mafatih (8: 442) berkata, “Maksud senilai dengan haji adalah sama dan semisal dalam pahala.” Akan tetapi yang sebenarnya terjadi pahala haji lebih berlipat-lipat daripada pahala umrah. Karena haji adalah salah satu rukun Islam.  Haji adalah rukun dalam Islam sedangkan umrah tetap hukumnya sunnah, persamaannya adalah pada pahala yang akan diterima karena terkait dengan Ramadhan yang mulia.

Merujuk kepada Riwayat-riwayat tersebut makan dapat disimpulkan bahwa Ramadhan adalah bulan yang mulia dan penuh keberkahan karena salah satunya adalah pahala di bulan ini dilipatgandakan pahalanya. Semoga kitab isa mengisi bulan mulia ini dengan amal kebaikan… Wallahu’alam. 13 April 2022.