Minggu, 26 September 2021

Wahai Umat Islam... Cukuplah Allah Sebagai Pelindung

Oleh: Dr. Abd Misno, MEI

 


Fitnah terhadap Islam dan umatnya sejatinya telah, sedang dan akan terus terjadi. Stigma negatif tentang Islam menjadi dendam kesumat yang hingga saat ini masih nampak di berbagai belahan dunia, sementara untuk melampiaskannya umat dan para tokohnya menjadi sasaran mereka. Jika pada masa lalu Islam mendapatkan kejayaannya, maka masa-masa berikutnya fitnah kepada Islam dan umatnya silih berganti, datang dan pergi menghampiri hampir di setiap situasi. Berjalannya waktu maka fitnah itu bukan semakin berkurang justru semakin menderu dan menyelimuti setiap jengkal langkah Islam dan ummatnya.

Hari-hari ini pemberitaan pun dihiasi dengan fitnah kepada Islam dengan menjadikan tokoh-tokohnya sebagai sasaran. Pembegalan seorang ustadz di Bekasi, penembakan ustadz di Tangerang dan pembakaran mimbar di Makasar hanya bagian kecil dari fitnah yang terjadi saat ini. Lebih dari itu masih banyak lagi fitnah yang lebih besar berupa pembantaian dan tuduhan Islam dan umatnya sebagai sumber konflik dan kekerasan.

Berita-berita tersebut terkadang membuat umat Islam menjadi ciut nyali, kekhawatiran di hati dan ketakutan di dalam kehidupan. Banyaknya fitnah terhadap Islam serta para tokoh-tokohnya memunculkan ketidaknyamanan pada mereka hingga ketakutan akan peristiwa-peristiwa tersebut mengenai diri atau keluarga dekatnya. Kekhawatiran dan ketakutan seperti ini sejatinya tidak menjadi masalah, selama tidak sampai kepada sikap paranoid yaitu ketakutan berlebihan akan berbagai fitnah ini. karena sebagai umat Islam kita telah memiliki pedoman yang ahrus kita yakini, pedomani dan amalkan.

Al-Qur’an telah memberikan pedoman kepada kita secara jelas, yaitu kalamNya dalam QS. Ali Imran: 173: “...(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung." Ayat ini menjadi kekuatan utama umat Islam, bahwa walaupun banyaknya fitnah yang melanda, sejatinya kita punya Allah Ta’ala sebagai sebaik-baik Penolong dan Pelindung.

Kalaupun ternyata kita tertimpa fitnah tersebut, maka sejatinya itulah takdir Allah Ta’ala atas kita. Sebagaimana kalamNya “Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”, QS. Ath-Thaghabun: 11. Maka sebagai orang yang beriman kitapun harus yakin bahwa takdir Allah Ta’ala itu semuanya indah dan baik untuk umat manusia. Bahkan ketika seseorang itu meninggal karena membela dirinya maka jika ia meninggal maka sahid adanya. Demikian pula ketika dibunuh oleh orang lain maka baginya surga, apalagi jika dibunuh oleh orang-orang yang tidak suka dengan Islam. Sahid menjadi tujuan dari umat Islam, sehingga mereka tidak akan takut dengan berbagai fitnah bahkan kematian yang mengancam mereka.

Inilah sejatinya kekuatan dari umat Islam yang ditakuti oleh musuh-musuhnya, bagaimana tidak? Ketika orang lain ingin agar bisa hidup selamanya di dunia, justru umat Islam menginginkan meninggal dalam keadaan sahid. Sangat menakjubkan...

Maka, Wahai umat Islam... jangan pernah khawatir dan takut dengan berbagai fitnah yang melanda. Ikhtiar secara optimal dengan berjaga-jaga, jihad media dengan selalu menyampaikan kedamaian Islam harus selalu dilakukan. Selanjutnya adalah tawakal, kita serahkan semua kepadaNya, itulah yang terbaik bagi umat Islam. Jika sampai banyak kematian terjadi karena ulah orang-orang yang tidak suka dengan Islam? Maka itulah jalan terbaik bagi mereka, bahkan jalan mulia... sahid di jalanNya.

Maka, tugas kita adalah terus berusaha menyampaikan kebenaran dan kedamaian Islam, memberikan ketenangan bagi umat serta meyakinkan selalu untuk diri kita dan seluruh umat Islam.... Hasbunallah wa ni’mal wakil... Cukup Allah Ta’ala sebagai Sang Penolong dan Pelindung.

 Kota Hujan, 260921.

 

 

 

Kamis, 23 September 2021

Dicari: Pedagang Online yang Jujur dan Terpercaya

 Oleh: Dr. Misno, MEI


 

Dunia belanja online (daring) saat ini semakin ramai dengan hadirnya berbagai platform belanja yang menawarkan berbagai discount dan promo yang menarik. Pandemi Covid-19 yang masih ada mendorong terjadinya perubahan gaya belanja di masyarakat, online marketplace menjadi pilihan yang bisa diandalkan. Apalagi dengan berbagai program yang membuat para pengunjung di dunia belanja maya semakin terbawa dalam belanja yang menjadi trend baru dunia.

Pada umumnya para pedagang di pasar online akan menawarkan dagangannya melalui photo produk yang mereka jual. Maka tampilan dari barang dagangan yang menjadi penarik minat para pembeli menjadi hal yang sangat diperhatikan. Pilihan kamera yang harus bagus, posisi dagangan, pencahayaan hingga jenis barang yang diphoto harus sedemikian rupa diatur. Hingga photo dagangan yang dipajang nampak begitu sempurna di mata para peminatnya. Pada tahap ini mulailah muncul ketidakjujuran para pedagang, mulai dari barang yang dijual berbeda dengan photo produk yang ditampilkan hingga kualitas barang yang tidak sesuai dengan kenyataan.

Selanjutnya adalah sistem penjualan yang dilakukan dengan meletakan harga yang embuat orang penasaran, mulai dari merapatkan harga sehingga sulit dibaca, mengecilkan salah satu angka hingga pembeli salah baca bahkan yang terbaru adalah meletakan harga murah untuk dagangan yang sejatinya hanya bagian dari photo yang ada. Misalnya seseorang memajang gambar sarung, baju koko dan peci dengan harga Rp.37.500. tentu saja calon pembeli akan tertarik dengan hal ini. melalui mekanisme yang sedikit rumit dan tidak terlihat oleh mereka maka mereka langsung setuju untuk membelinya. Padahal seharga itu hanya untuk peci-nya saja, memang seolah-olah penjual tidak salah karena ia meletakan di klik pilihan harga. Namun tentu saja ini tidak sesuai dengan perdagangan dalam Islam.

Trik lainnya yang dilakukan pedagang adalah dengan menghapus komentar negatif yang ada di kolom komentar. Bahkan saya pernah beli satu barang dan di dalam kemasanya tertulis “Bagi Customer yang memberikan bintang di bawah tiga (artinya layanan dan produk buruk) akan diblacklist dan tidak boleh berbelanja lagi”. Ini adalah pedagang yang tidak beretika, karena ia memaksa pedagang untuk memuji barang dagangan atau layanannya padahal itu buruk. Hal ini tentu tidak boleh dibiarkan karena tidak sesuai dengan tuntunan agama Islam dan juga etika yang ada di masyarakat.

Selain itu masih banyak lagi trik para pedagang di pasar online yang tidak sesuai dengan aturan Islam dan etika berjualan. Penulis bisa memprediksi berdasarkan pengalaman pribadi bahwa hampir sebagian besar pedagang di pasar online tidak jujur dalam berdagang. Oleh karena itu hendaknya berhati-hati dalam berbelanja, apalagi yang masih baru dalam dunia perdagangan online. Semoga saja ini hanya awal saja, ke depan toko-toko yang berbuat curang akan hilang dan tidak lagi memiliki pelanggan.

Fenomena ini menyadarkan kita bahwa benarlah kalam Nabi yang mulia bahwasanya para pedagang yang terpercaya dan jujur akan bersama para nabi, syuhada dan shiddiqiin. jumlah mereka memang tidak banyak, dan kita berharap semoga ke hadapan para pedagang muslim yang jujur dan terpercaya dapat meramaikan pasar online kita sehingga apa yang diharapkan oleh para pembeli yang menjadi tuntunan dalam Islam dalam terlaksana dengen semestinya, yaitu perdagangan yang saling ridah di antara mereka.

 

Manusia: Tempat Salah dan Dosa

 Oleh: Dr. Misno, MEI



 

Allah Ta’ala menciptakan manusia dengan sempurna, dari jiwa mulia dan raga sempurna yang membalutnya. Kesempurnaan manusia bukan berarti tanpa cela, justru karena segalanya ada (amal mulia dan dosa) ia disebut manusia. Ketika imannya meningkat maka amal mulia dilakukannya, maka ia mendulang pahala dari Allah Azza wa Jalla. Namun ketika imannya turun dan berkurang adanya, ia terjatuh ke dalam lembah dosa, hingga kemaksiatan membelenggunya. Inilah hakikat dari manusia, tempat salah dan dosa, mahal al-khotho’ wa nisyan.

Pemahaman ini bukan berarti kita membiarkan dosa dan kesalahan ada pada diri manusia, tidak pula memberikan toleransi kepada diri ini untuk dimengerti. Sekadar berbagi cerita tentang hakikat manusia. Bahwa ianya adalah insan penuh dosa dan kesalahan, termasuk diri kita yang mungkin di mata manusia dianggap mulia.

Bukan alasan yang tepat untuk membela diri yang masih terjerat dalam maksiat, tidak pula menghibur jiwa ketika dosa masih terasa indah dirasa. Tapi memahami dari hakikat manusia itulah yang lebih utama. Bagaimana tidak? kita yang terus berusaha dan sekuat tenaga untuk menjadi manusia yang “sempurna tanpa dosa” namun seringkali kembali terjerembab ke dalam kesalahan serupa. Ya... mungkin ini adalah kelemahan kita.

Ketika dosa dilakukan dengan kesadaran nyata, diri kita tak mampu untuk melawannya. Bahkan terkadang menikmatinya dengan sepenuh jiwa dan raga, kita larut ke dalamnya hingga terlupa akan neraka di akhirat sana. Saat dosa terlaksana, penyesalan muncul di dalam jiwa hingga diri merasa tak ada lagi guna. Namun, ketika dosa itu berulang di berbagai masa maka hati mulai keras dan tak lagi merasa akan apa yang dilakukannya, hingga jiwa cenderung membelanya sekuat tenaga.

Kita sadar sepenuh rasa, bahwa apa yang kita lakukan itu adalah dosa. Namun jiwa ini masih belum bisa melepaskannya, mungkin terbebas sementara tapi kemudian kembali melakukannya. Sulit memang meninggalkannya, apalagi jika telah membalut jiwa, ia perlu perjuangan tiada tara agar bisa lepas daripadanya.

Bagi mereka yang melihat manusia berbuat dosa, pasti dengan mudah akan mengatakannya “Jangan dilakukan itu dosa”. Bagi sebagian yang lain akan berkata “Anda memang makhluk pendosa”, sambil menuduhkan telunjuknya ke muka kita. Lebih dari itu mereka akan mencela dan mengucilkan “para pendosa” karena jijik ketika bersamanya. Tentu saja tindakan mereka tidak salah, karena memang demikian adanya. Namun akan lebih bijak apabila mendatanginya dengan penuh kasih sayang, mengajak bicara dengan penuh adab dan kesopanan, membawanya dari tengah manusia dan menasehatinya dengan nita ikhlas karena Allah Ta’ala.

Para Pendosa memang makhluk durjana, tapi bukan berarti ia ahli neraka, selagi hayat masih di badannya maka pintu taubat dan hidayahNya akan selalu terbuka. Jangan mudah mencela para pendosa, bahkan kita pun tak lepas darinya. Karena kita adalah manusia tempat salah dan dosa...

Banyak manusia yang memang tidak bisa memahami jiwa para pelaku dosa, karena mereka hanya melihat dari sisi dhahirnya saja. Bahkan kalau perlu para pendosa itu segera diberi hukuman yang nyata, dipotong tangan atau dirajam di hadapan manusia. Tindakan ini tidak salah, tapi lagi-lagi memahami mereka yang melakukan dosa dan kesalahan itu dengan lebih mendalam mutla diperlukan. banyak orang yang melakukan dosa dan kesalahan, kemudian mereka bersenang-senang dengannya tanpa memperhatikan syariat agama. Mereka bangga dan bahkan menyiarkan dosa dan kesalahannya di hadapan manusia, mengajak manusia untuk menjadi teman-temannya dalam dosa. Mereka itulah para pendosa yang harus diberikan hukuman dan peringatan karena telah nyata dosa dan maksiat yang dilakukannya.

Namun, ada di antara manusia yang melakukan dosa bukan karena mereka suka dengan perbuatannya. Mereka hanya lalai dan alpa, terjatuh ke dalam dosa dan kemaksiatan karena kejahilan, ketidakpahaman dan ketidakkuasaan dalam membimbing dirinya. Mereka sadar itu dosa dan maksiat, namun mereka belum bisa untuk meninggalkannya. Keinginan itu terbebas dari perbuata dosa dan maksiatnya selalu ada, tapi seringkali ia terjatuh kembali dengannya. Maka bagi mereka kita harus lebih bijak, mendoakan dan selalu menasehatinya dengan kasih sayang itulah yang diharapkan. Karena bisa jadi suatu masa ia akan kuat dan dengan penuh kesadaran untuk kembali ke jalan yang benar dengan meninggalkan segala dosa dan kesalahan.

Kembali kepada hakikat dari manusia, maka teruslah kita belajar agama dan memahami hakikat manusia sebagai tempat salah dan dosa. Tapi bukan membiarkan saudara kita terlena dengannya, menasehatinya dengan penuh kasih sayang. Itulah yang menjadi tuntunan agama.

Semoga menjadi penghapus dosa

Bogor, 23092021.

 

Buku... Bukan Aku Tak Mau Menyentuhmu...

 Oleh: Dr. Misno, MEI



 

Buku...

Bukan aku tak mau menyentuhmu...

Karena aku sangat asing dengan hakikat dirimu

Keluargaku tidak familiar denganmu

Masyarakatku tidak terbiasa dengan dirimu

Kau hanya milik para KUTU BUKU

 

Buku...

Katanya kau lambang kemajuan peradaban

Kenapa di sekitarku tak banyak yang paham

Atau mereka sibuk dengan berbagai kegiatan

Hingga melupakan dirimu yang katanya penuh ilmu pengetahuan

 

Buku...

Kenapa aku belum mau menyentuhmu?

Mungkin karena aku tak terbiasa bersamamu

Sejak kecil memang Ibu dan Bapak Guru mengenalkanmumu

Membagikan kepada kami untuk bisa sekadar mengeja kata dalam dirimu

Namun, keluarga dan masyarakat menjauhkanmu

Dari diriku dan banyak anak seumuranku

Hingga membaca tak lagi menjadi kebiasaan baku.

 

Buku...

Mungkin ini salahku

Salah keluargaku

Atau salah masyarakatku

Yang tidak terbiasa denganmu

Hingga kebodohan dan kemadekan ilmu pengetahuan berkembang karena tanpamu

 

Buku...

Semoga generasiku nanti akan mau menyentuhmu

Bermesra denganmu, mendekapmu dan menjadikanmu teman sepanjang waktu

Akupun akan menguatkan azzam-ku untuk selalu bersamamu

Hingga akhir waktu

Karena kutahu, dirimu adalah pintu gerbang ilmu

Bahkan jalan untuk mengenal Rabb-ku...

 

Malam hening di Bogor, 23 September 2021

 

 

 

Tutup Telinga pada Waktunya

 Oleh: Dr. Misno, MEI


Berita viral terkait dengan santri (siswa) salah satu pondok pesantren yang menutup telinga mereka karena mendengar musik menjadi perbincangan hangat di media masa dan elektronik saat ini. Media sosial pun menyebarkan berita ini yang mendapatkan respon positif dan juga negatif. Bagaimana tidak? Di era di mana musik dan lagu menjadi bagian dari kehidupan manusia yang seolah-olah tidak bisa dipisahkan, tiba-tiba muncul sekelompok anak yang anti dan tidak suka dengan lagu dan musik. Hingga mereka harus menutup telinga agar tidak mendengarkan suara musik dan nyanyian.

Perbincangan mengenai lagu dan musik sejatinya sudah ada sejak dahulu kala, para imam madzhab telah membahasnya secara sempurna. Saat ini kita lihat satu pihak menyatakan bahwa musik itu bisa menghaluskan jiwa sebagai salah satu dari karya seni manusia. Pihak lain menyatakan bahwa musik dan lagu akan menumbuhkan kemunafikan dan berujung pada keingkaran kepada Ar-Rahman (Allah Ta’ala).

Dua perspektif yang berbeda memunculkan dua kutub yang saling bertentangan di tengah masyarakat. Demikian pula pada umat Islam, di mana banyak yang membolehkan lagu dan musik tanpa membatasinya, namun ada juga sebagian kecil yang mengharamkannya. Sementara di antara kedua kelompok tersebut ada yang mengharamkan hanya pada lagu dan musik yang memang mengandung unsur keharaman semisal; wanita yang membuka aurat, campur baur laki-laki dan perempuan tanpa batas, atau musik yang membawa kepada paham kesesatan.

Permasalahan musik dan lagu memang tidak akan pernah habisnya, masing-masing pihak akan berpegang teguh kepada argumentasinya. Sebagai bagian dari obyek yang dikaji oleh fiqh dalam Islam, lagu dan musik memang memiliki banyak kemudharatan, apalagi jika kita lihat fenomena lagu dan musik saat ini yang cenderung pada pemujaan terhadap dunia, harta, tahta, wanita dan kenikmatan dunia lainnya. Hanya sedikit dari penyanyi dan pemusik yang menyadari bahwa apa yang mereka lakukan sejatinya haruslah diselaraskan dengan nilai-nilai Islam.

Lagu dan musik yang ada saat ini memang lebih kepada perbuatan yang mengarahkan kepada keharaman, karena dari mulai penyanyinya, musiknya hingga lirik-nya cenderung menjauhkan diri dari ketaatan kepada Sang Pemilik Alam. Lebih dari itu ia membawa kepada kesenangan duniawi dan melupakan ukhrawi yang ujungnya adalah mengesampingkan urusan agama. Bahkan pada masyarakat yang belum paham tentang agama akan merasa aneh ketika ada yang menyatakan bahwa lagu dan musik itu haram.

Bagi para santri yang memang berkonsentrasi kepada hafalan Al-Qur’an tentu saja ini menjadi permasalahan tersendiri. Di mana alunan lagu dan musik memang sering kali membuai pendengarnya hingga dengan mudah dapat dihafalkan syairnya. Ini tentu sangat berbahaya bagi mereka yang sedang belajar untuk menghafal Al-Qur’an. Apalagi dalam beberapa hal seringkali memang lagu dan musik dapat menghilangkan hafalan Al-Qur’an karena menjadikan mereka lalai dan terbuai dengan musik dan nyanyian.

Maka, silahkan tutup telinga bagi mereka yang tidak suka dengan musik dan nyanyian, karena itu adalah haknya. Apalagi jika itu terbukti akan menghilangkan hafalan, tutuplah telingan pada waktunya, yaitu ketika musik dan lagu itu kian membelenggu hatimu. Bisa jadi itu adalah tindakan terbaik yang bisa dilakukan, di saat banyak manusia tidak lagi memperhatikan sesuatu yang haram walaupun menjadi sesuatu yang biasa di tengah manusia.

Bagi yang masih suka dengan mendengarkan musik dan nyanyian maka pilihlah yang bisa mendekatkan diri kepada Ar-Rahman, tidak melalaikan dan tidak mengandung hal-hal yang diharamkan oleh Islam. Saat ini banyak pilihan lagu dan musik yang mengarah kepada kebaikan, ambilah ia sekadar sebagai hiburan. Jangan pernah ia melalaikan dari membaca dan mentadaburi kalam Ar-Rahman. Karena itu memang yang membawa kepada ketenangan dan kedamaian sebenarnya.

Biarkan generasi Rabani tumbuh di bawah naungan Ilahi, nanti di suatu saat nanti mereka juga akan menyadari bahwa sejatinya hidup ini memang penuh dengan hal-hal yang diharamkan, namun kebanyakan manusia tidak sepemahaman. Maka, tetaplah belajar hingga sampai kepada kita pemahaman mendalam. Berlaku bijak menjadi sebuah ukuran, ketika ilmu itu terpatri di lubuk hati yang paling dalam. Wallahu’alam, menjelang malam di Kota Hujan. 230921.  

Rabu, 08 September 2021

Bahasa Arab: Bahasa Wahyu bukan Tanda Teroris

 Oleh: Dr. Misno, MEI


Islam sebagai agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam masih belum banyak dipahami oleh “alam” termasuk dunia yang ada di dalamnya. Bagaimana tidak? Keindahan Islam yang menebarkan kedamaian dan keselamatan seringkali tertutup atau sengaja ditutupi atau menutup diri dari rahmat Islam. Mereka adalah orang-orang yang di hatinya ada kebencian terhadap Islam, atau orang yang karena kepentingan dunia kemudian menganggap Islam sebagai agama yang membawa kepada kekerasan dan terorisme.

Mereka yang tidak suka dengan Islam memang beraneka ragam; dari mulai yang menjadikan Islam sebagai musuh karena doktrin yang diterimanya, karena kebodohan dan tidak pahamnya dia terhadap Islam, hingga karena bayaran yang murah kemudian berani untuk menghina Islam. Kelompok terakhir ini sepertinya yang saat banyak bergentayangan di dunia maya dan juga dunia nyata saat ini. Hanya karena dibayar dengan harga yang tidak sepadan dengan mulianya Islam, ia mau membuat statement yang menghina, mencela, memfitnah dan menebar fitnah bahwa Islam adalah agama kekerasan dan terorisme.

Jika Islam sulit difitnah karena sifatnya memang selalu membawa rahmah (kasih sayang) maka kemudian dicari hal lain yang terkait erat dengan Islam. Fitnah terhadap para ulama Islam sudah banyak dilakukan, pondok pesantren dan sekolah Islam dianggap sebagai sarang terorisme sudah juga terjadi, kelompok rohani Islam (rohis) dan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang dianggap sumber paham terorisme sudah terjadi, dan kini beredar fitnah bahwa bahasa Arab dianggap sebagai ciri-ciri terorisme.

Islam dan Arab memang tidak bisa dipisahkan, dalam makna bahwa Al-Qur’an turun di Jazirah Arab dan menggunakan bahasa Arab. Maka jika mereka tidak bisa menyerang Islam maka kini bahasa Arab diserang dianggap sebagai salah satu tanda dari paham terorisme.

Bahasa Arab adalah bahasa wahyu, kalamullah atau firman Allah Ta’ala yang disampaikan kepada para nabiNya khususnya Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam. Sebagai agama wahyu tentu bahasa Arab bukan bahasa sembarangan, apalagi dalam banyak ayat dan hadits menunjukan kedudukan dari bahasa Arab yang mulia. Tentu saja bukan berarti bahasa yang lainnya tidak bagus, sebagai media komunikasi yang digunakan oleh manusia maka setiap bahasa memiliki keistimewaan. Bedanya bahasa Arab dijadikan media komunikasi antara hamba dengan Sang Pencipta, yaitu Allah Ta’ala.  

Maka ketika bahasa Arab dianggap sebagai salah satu ciri-ciri dari terorisme, maka sejatinya statement  ini banyak memiliki penafsiran. Pertama, orang yang menyatakan itu adalah kelompok yang benci dengan Islam, sehingga semua hal yang berkaitan dengan Islam akan digugat. Misalnya, fitnah lama bahwa Jilbab adalah pakaian Arab adalah hal klasik yang hingga saat ini masih ada di beberapa masyarakat, demikian pula bahwa tindakan terorisme itu kebanyakan dilakukan orang Islam adalah propaganda yang sama sekali tidak terbukti. Karena cenderung muncul dari kebencian terhadap Islam yang terselubung karena banyak kepentingan keduniaan. Kedua, adalah orang-orang yang dibayar untuk menebarkan berbagai fitnah terhadap Islam, dan akhir-akhir ini semakin banyak terjadi. Berapa banyak mereka yang menebar fitnah tentang Islam karena mendapatkan bayaran dari orang-orang yang benci dengan Islam. Tentu saja sebagai umat Islam kita tak boleh tinggal diam, amar ma’ruf nahi mungkar adalah sebuah keniscayaan. Ketiga adalah fitnah yang sengaja ditebar untuk menutupi isu besar yang sengaja disembunyikan. Ini juga sering sekali terjadi, berbagai kasus pengeboman dan berita-berita tentang terorisme biasanya dibuat untuk menutupi berita besar yang jangan sampai terendus atau tersebar kepada publik. Ini memang syarat nuansa politik dan skenario global.  

Ketiga alasan ini tentu saja tidak dibenarkan, karena Islam tidak pernah mengajarkan terorisme, bahasa Arab yang digunakan Islam dalam teks wahyu pun tidak pernah mengajarkan kepada perbuatan yang mengundang kekerasan. Jangankan untuk melakukan terorisme, menumpahkan dari satu orang saja, baik muslim ataupun non muslim tanpa adanya sebab adalah sebuah dosa besar. Apalagi sampai melakukan kekerasan, kedzaliman dan segala bentuk terorisme di tengah masyarakat, faktanya justru umat Islam yang selalu menjadi korban.

Bahasa Arab adalah bahasa wahyu, maka ia adalah mulia dalam pandangan Islam, sebagaimana bahasa lain yang digunakan oleh kepercayaan lain yang dianggap sebagai bahasa suci. Maka menghina bahasa Arab sebagai tanda-tanda dari terorisme adalah penghinaan terhadap Islam, karena Islam dan bahasa Arab tidak bisa dipisahkan. Statement ini tentu saja mengundang kontroversi, tapi bagi umat Islam kita harus tetap bijak dan waspada, karena bisa jadi ini hanya permukaan karena sejatinya di bawah sana begitu banyak mereka yang belum memahami dengan baik Islam, atau yang karena kepentingan dunia mereka menyebarkan fitnah tentang Islam. Kita juga harus waspada karena bisa jadi ini hanya isu yang ditebar untuk mengalihkan perhatian umat Islam akan isu besar lainnya.

Bijak dalam menyikapi, sesuai dengan proporsi adalah pilihan terbaik saat ini, menanggapi dengan bijak serta membantah dengan hikmah itulah yang diperintahkan Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an yang berbahasa Arab pula. Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah kepada orang-orang yang belum paham dengan kedamaian dan keselamatan Islam, serta memberikan pelajaran kepada mereka yang benci dengan Islam dan Semoga Allah Ta’ala selalu menjaga umat Islam dari segala bala serta fitnah yang menimpanya. Wallahu’alam, 08092021.