Rabu, 12 Mei 2021

Meraih Kemenangan dengan Tashfiyah Keimanan dan Tarbiyah Ar Rahman

Khutbah Idhul Fitri 1442 H
Oleh: Abdurrahman Misno


Bismillahirarahmaanirrahiim 
Assalamualaikum Warhmatullahi wa barakatuh

ﺍﻟْﺤَﻤْﺪَ ﻟِﻠَّﻪِ ﻧَﺤْﻤَﺪُﻩُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻌِﻴْﻨُﻪُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻩْ ﻭَﻧَﻌُﻮﺫُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻣِﻦْ ﺷُﺮُﻭْﺭِ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻨَﺎ ﻭَﻣِﻦْ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺕِ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟِﻨَﺎ، ﻣَﻦْ ﻳَﻬْﺪِﻩِ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓَﻼَ ﻣُﻀِﻞَّ ﻟَﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻞْ ﻓَﻼَ ﻫَﺎﺩِﻱَ ﻟَﻪُ. ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ. 
ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬﺎَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺣَﻖَّ ﺗُﻘَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻻَ ﺗَﻤُﻮْﺗُﻦَّ ﺇِﻻَّ ﻭَﺃَﻧﺘُﻢْ ﻣُّﺴْﻠِﻤُﻮْﻥَ. 
ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺍﺗَّﻘُﻮْﺍ ﺭَﺑَّﻜُﻢُ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﺧَﻠَﻘَﻜُﻢْ ﻣِّﻦْ ﻧَﻔْﺲٍ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ ﻭَﺧَﻠَﻖَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺯَﻭْﺟَﻬَﺎ ﻭَﺑَﺚَّ ﻣِﻨْﻬُﻤَﺎ ﺭِﺟَﺎﻻً ﻛَﺜِﻴْﺮًﺍ ﻭَﻧِﺴَﺂﺀً ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﺗَﺴَﺂﺀَﻟُﻮْﻥَ ﺑِﻪِ ﻭَﺍْﻷَﺭْﺣَﺎﻡَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺭَﻗِﻴْﺒًﺎ. 
ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﻗُﻮْﻟُﻮْﺍ ﻗَﻮْﻻً ﺳَﺪِﻳْﺪًﺍ. ﻳُﺼْﻠِﺢْ ﻟَﻜُﻢْ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟَﻜُﻢْ ﻭَﻳَﻐْﻔِﺮْ ﻟَﻜُﻢْ ﺫُﻧُﻮْﺑَﻜُﻢْ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻄِﻊِ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟَﻪُ ﻓَﻘَﺪْ ﻓَﺎﺯَ ﻓَﻮْﺯًﺍ ﻋَﻈِﻴْﻤًﺎ.   
ﺃَﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ؛ ﻓَﺈِﻥَّ ﺃَﺻْﺪَﻕَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳْﺚِ ﻛِﺘَﺎﺏُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺧَﻴْﺮَ ﺍﻟْﻬَﺪﻱِ ﻫَﺪْﻱُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺻَﻞَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Allahu Akbar, Allahu Akbar, La ilaha Illallahu Huwaallahu akbar 
Allahu Akbar Wa lillahilhamd

Alhamdulillah, syukur kepada Allah Ta’ala adalah sebuah keniscayaan, ia menjadi salah satu tanda dari tanda-tanda keimanan seseorang. Syukur yang diawali dengan keyakinan dalam hati (bahwa seluruh nikmat berasal dari Sang Maha Pemberi Rizki), ucapan dengan lisan (alhamdulillah) dan amal ketaatan dengan seluruh anggota badan. Syukur atas segaa kenikmatan, khususnya nikmat iman, Islam dan ikhsan. Bersyukur pula pada hari ini kita telah menyelesaikan kewajiabn berpuasa, menunaikan zakat dan hari ini merayakan hari raya, bersama dengan keluarga dan sanak saudara. Alhamdulillah, wa syukru lillah... 
Shalawat dan salaam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan alam habibana wa nabiyyana Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam, kepada seluruh ahli baitnya, para shahabatnya serta orang-orang yang senantiasa mengikuti jejak sunnahnya hingga akhir masa. Allahumma shalli wa sallim wa baarik alaihi... 

Hadiri Jamaah Shalat Idhul Fitri Rahimakumullah
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Allahu Akbar, Allahu Akbar, La ilaha Illallahu Huwaallahu akbar 
Allahu Akbar Wa lillahilhamd

Pada hari ini kita bersama-sama berkumpul di masjid Al-Muhajirin yang inshaallah diberkahi ini dalam rangka merayakan salah satu dari hari raya dalam Islam yaitu Idhul Fitri. Hari ini adalah hari raya yang tellah menjadi sunnah dari Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam: 
قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَلأَهْلِ الْمَدِينَةِ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ « قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْراً مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ
“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr)”. HR. An Nasai dan Ahmad. 

Hari raya adalah hari di mana kita diperintahkan untuk bersyukur, dengan bertakbir, bertasbih dan bertahmid kepada Allah Azza wa Jalla. Allah Ta’ala berfirman: 
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur. QS. Al-Baqarah: 185. 
Bertakbir, bertasbih dan bertahmid adalah amalan yang sangat dianjurkan pada hari raya ini, selain itu diperbolehkan pula kita bersenang-senang, makan dan minum serta merayakannya dengan keluarga dan masyarakat pada umumnya. Takbir, tasbih, tahmid dan seluruh aktifitas yang kita lakukan hendaknya diniatkan dalam rangka untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala sebagai jalan untuk mendapatkan kemenangan. 
Kemenangan yang tidak hanya bersifat keduniaan, namun juga abadi selamanya, bahkan hingga ke jannahNya. Pertanyaan besarnya adalah, bagaimana cara meraih kemenangan yang sebenarnya? Apakah merayakannya dengan berbagai acara yang justru menjauhkan diri dari keridhaan Allah Azza wa jalla? Tentu saja tidak demikian, karena hakikat hari kemenangan adalah diraihnya ridha dari Ar-Rahman.   

Jama’ah Shalat Idhul Fitri yang berbahagia... 
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Allahu Akbar, Allahu Akbar, La ilaha Illallahu Huwaallahu akbar 
Allahu Akbar Wa lillahilhamd
Kemenangan di hari raya dapat diraih dengan kembali memurnikan keyakinan kita kepada Allah Azza Wa Jalla. Meyakini hanya Allah sebagai satu-satunya Rabb; Pencipta, Pemilik dan Pengatur alam semesta. Inilah yang selalu dibaca minimal 17 kali dalam shalat kita: 
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. QS. Al-Fatihah: 2. 
Merujuk pada ayat ini maka kita harus meyakini bahwa hanya Allah Ta’ala Pencipta, Pemilik dan Pengatur alam semesta, tidak ada selainNya. Sehingga hanya Dia yang layak untuk diibadahi dan tidak boleh kita menyekutukanNya: 
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. QS. An-Nisa: 36. 
Memurnikan keyakinan bermakna kita menyembah Allah Ta’ala karena hanya Dia Dzat yang berhak untuk disembah, dia adalah pemilik nama-nama yang baik dan sifat-sifat yang mulia. Sebagaimana firmanNya: 
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ
Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu. QS. Al-A’raf: 180. 
Maka, jika masih ada keyakinan-keyakinan yang tidak sesuai dengan Islam, misalnya; meyakini bahwa semesta ini tercipta dengan sendirinya, bahwa ada sesembahan yang haq selain Allah Ta’ala atau meyakini Allah itu abstrak dan keberadaannya tidak penting, haruslah keyakinan-keyakinan tersebut dihilangkan. Keimanan kita harus di tashfiyah yaitu dibersihkan dari semua keyakinan yang bertentangan dengan aqidah Islam. Keyakinan-keyakinan tersebut telah mengotori tujuan utama diciptakannya kita di alam dunia. Sebagaimana firmanNya:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
... dan tidaklah Aku (Allah Ta’ala) menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. QS. Adz-Dzariyat: 56. 
Ibadah dalam makna yang luas adalah seluruh aktifitas yang dicintai dan diridhai oleh Allah ta’ala. Sebagaimana definisi yang disebutkan oleh Syaikhul Islam: 
” الْعِبَادَةُ ” هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَيَرْضَاهُ : مِنْ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ
Ibadah adalah istilah yang mencakup segala yang Allah cintai dan ridai berupa perkataan dan perbuatan yang batin maupun lahir.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:149). 
Maka langkah awal mendapatkan kemenangan di hari raya adalah dengan men-tashfiyah aqidah kita dari keyakinan dan kepercayaan yag tidak sesuai dengan Islam. Kemenangan akan kita dapatkan jika aqidah, tauhid dan kepercayaan kita total hanya kepada Allah Ta’ala. Memurnikan seluruh peribadahan dan ketundukan hanya kepadaNya saja.  

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah Ta’ala
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Allahu Akbar, Allahu Akbar, La ilaha Illallahu Huwaallahu akbar 
Allahu Akbar Wa lillahilhamd

Setelah aqidah kita di-tashfiyah atau dimurnikan dari segala hal yang merusak kemurniannya, selanjutnya untuk meraih kemenangan di hari raya dan setelahnya adalah dengan melaksanakan ibadah dan muamalah agar selalu selaras dengan syariahNya. Upaya untuk menyeleraskan diri dengan aturan Ar-Rahman adalah dengan terus-menerus men-tarbiyah diri kita. Tarbiyah dalam makna mendidik diri kita, keluarga kita dan masyarakat kita agar sentiasa berada di dalam naungan syariahNya. Bukankah kita sebagai seorang muslim diperintahkan untuk masuk ke dalam Islam sejarah kaafah (keseluruhan)? Hal ini sebagaimana kalamNya: 
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu. QS. Al-Baqarah: 208. 
Kemenangan yang diharapkan  hanya didapatkan dengan terus-menerus mentarbiyah diri kita, mendidik jiwa kita dan menghiasi kehidupan kita dengan amal yang telah diperintahkan oleh Allah dan rasulNya. Inilah kemenangan yang besar, sebagaimana kalamNya: 
وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. QS. Al-Ahzab: 71. 
Hanya dengan ketaatan kepada Allah dan rasulNya kemenangan itu akan kita dapatkan, sebuah kemenangan yang besar karena bukan hanya berlaku di dunia tetapi juga di akhriat sana. Syaratnya adalah dengan terus-menerus men-tarbiyah diri kita yaitu terus mempelajari, mengkaji dan mendidik diri kita untuk tunduk patu secara total kepadanya. Inilah makna dari Islam yang sebenarnya:
الاسْتِسْلامُ للهِ بِالتَّوْحِيدِ، وَالانْقِيَادُ لَهُ بِالطَّاعَةِ، وَالْبَرَاءَةُ مِنَ الشِّرْكِ وَأَهْلِهِ
“(Islam adalah) berserah diri kepada Allah dengan tauhid, tunduk patuh kepada-Nya dengan ketaatan, dan berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya

Kaum Muslimin Hafidzakumullah... 
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Allahu Akbar, Allahu Akbar, La ilaha Illallahu Huwaallahu akbar 
Allahu Akbar Wa lillahilhamd

Pandemi Covid-19 yang masih membayang-bayangi kita, tidaklah menyurutkan untuk dapat meraih kemenangan di hari raya dan hari-hari setelahnya. Karena pada hakikatnya, seluruh yang ada di semesta raya sejatinya telah menjadi takdir dan kuasaNya. Sebagai orang-orang yang beriman, adanya wabah ini semakin menguatkan keimanan kita bahwasanya Allah itu Maha Kuasa, tidak ada yang selainnya. Allah Maha Tahu keadaan hambaNya, dan kita pun harus meyakini bahwa semua takdirNya adalah baik bagi hambaNya, maka teruslah men-tashfiyah aqidah kita dan men-tarbiyah diri kita agar senantiasa kita ridha dengan seluruh syariatNya, hingga keridhaanNya akan kita dapatkan selamanya. Itulah sejatinya kemenangan yang nyata. 
Semoga hari raya ini, kita mampu mendapatkan kemenangan yang sebenarnya. Kemenangan yang membawa kita kepada kebahagiaan hidup di dunia dan juga di akhirat sana. 
Mari kita akhiri khutbah Idhul Fitri ini dengan membaca doa, semoga Allah ta’ala memberikan kepada kita hidayah serta inayahNya: 

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْدًا شَاكِرِيْنَ حَمْدًا نَاعِمِيْنَ حَمْدًا يُوَافِىْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ. يَارَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ كَمَا يَنْبَغِىْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا
رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلََى اّلذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين.

Bogor, Menjelang Tengah Malam 11 05 2021
28 Ramadhan 1442 H


Senin, 10 Mei 2021

Inilah Hakikat Kehidupan dan Insan

 Abd Misno Mohd Djahri

 


Kehidupan ini memang penuh dengan misteri, ada banyak hal yang tidak dapat dinalar dengan akal insani. Lebih dari itu adalah manusia yang penuh dengan hal-hal di luar prediksi, seringkali antara apa yang terlihat tidak sama dengan yang tidak terlihat. Seseorang itu nampak tersenyum, namun hakikatnya hatinya menangis sebaliknya ia menangis tapi hakikatnya ia bahagia dalam hatinya. Inilah kehidupan dunia yang penuh dengan apa yang hakikatnya tidak hanya dilihat oleh mata, tapi perlu ada rasa yang mampu untuk melihatnya.

Manusia memiliki dua unsur yang luar biasa yaitu jiwa dan raga, sukma (roh) dan jasad dirinya. Keduanya seringkali berbeda dalam pandangan mata, misalnya seseorang yang jiwanya halus dan penuh dengan kebaikan tapi raga dan jasadnya penuh dengan kekurangan. Sebaliknya seseorang yang nampak sempurna jasadnya tapi faktanya jiwanya penuh dengan kejahatan dan kekurangan. Inilah hakikat manusia, terkadang apa yang terlihat dari jasadnya tidak mencerminkan apa yang ada dalam hati dan jiwanya.

Keimanan manusia pun terkadang sulit untuk diterka, seseorang berpakaian apa adanya, profesinya terlalu biasa bahkan di mata manusia tidak bernilai apa-apa namun hakikatnya di sisi Rabbnya ia adalah hamba yang paling mulia. Bisa jadi juga seseorang berpakaian layaknya ulama, memakai sorban dan berjubah putih panjang dan apa yang ada dalam jasadnya adalah simbol-simbol keimanan. Namun hakikatnya hati dan jiwanya lebih jahat dari iblis karena ia banyak menyesatkan manusia dari jalan Sang Pencipta.

Inilah hakikat dunia, apa yang kita lihat dengan mata seringkali tidak sesuai dengan apa hakikatnya. Sehingga berlaku bijak atas apa yang terlihat adalah sikap utama dalam menghadapinya. Bagaimana jika melihat seseorang yang nampak sholeh dan baik tapi ternyata ia pelaku kesyirikan atau dosa dan kesalahan? Kembali pada pemahaman tentang dunia, bahwa manusia dicipta penuh dengan kekurangan dan kelebihan. Banyak orang yang nampak biasa saja, sejatinya ia adalah hamba Allah Ta’ala yang mulia. Namun ada juga yang luarnya nampak seperti ulama tapi hatinya jahat dan penuh dengan angkara murka. Bagaimana kita menyikapinya?

Dosa dengan segala bentuknya dari yang paling besar berupa kesyirikan, dosa besar hingga dosa-dosa yang dianggap biasa sejatinya selalu ada pada diri manusia dengan akdar yang berbeda-beda. Bahkan dalam haditsnya yang mulia bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam bersabda bahwa setiap manusia pernah berbuat dosa, maka sebaik-baik yang berbuat dosa adalah yag segera bertaubat kepadaNya. Merujuk pada riwayat ini maka pemahaman kita bahwa manusia itu tanpa cela adalah salah adanya, setiap manusia pernah melakukan dosa. Tentu saja ini bukan berarti kita bertoleransi dengan dosa dan kesalahan manusia.

Maka, jika kita melihat ada seorang yang nampak alim tapi dia adalah pelaku dosa hendaknya kita bijak lebih bijak dalam menyikapinya. Selama ia tidak mendzahirkan perbuatan maksiatnya tersebut, karena ia “jahil” dalam arti masih terbelenggu hawa nafsunya di sisi ini. Walaupun pasti manusia akan mengatakan “Dia tahu ilmunya tapi kenapa melakukan dosa?”. Inilah yang ada di masyarakat kita, dan sejatinya itu benar adanya tetapi jika kita merujuk kepada riwayat semula bahwa dia juga manusia sehingga “wajar” kalau dia juga melakukan dosa.

Sekali lagi bukan membela mereka yang paham ilmunya tapi kemudian melanggarnya, bukan pula mengatakan itu harus mentolerir perbuatan dosa dan kesalahannya. Tapi menyikapinya dengan bijak dan tidak menghakimi sebelah pihak, apalagi jika dia juga tidak secara terang-terangan melakukannya. Bijak dalam hal ini adalah mengajaknya dengan mauidzah hasanah serta nasehat-nasehat yang baik. Bukan dengan menyalahkannya, apalagi di depan umum sehingga manusia banyak mengetahuinya. Sebuah riwayat menyatakan salah satu dari hak seorang muslim adalah merahasiakan aib (kekurangan/dosa/maksita) muslim lainnya.

Akhirnya kita memahami hakikat dari kehidupan adalah terkadang tidak sesuai antara apa yang terlihat dan tidak terlihat. Kita juga memahami hakikat dari manusia yang diciptakan pernah melakukan dosa dan kesalahan, namun segera kembali kepadaNya. Tinggal tugas kita sebagai hambaNya menyikapinya dengan bijak, selalu berintrospeksi dengan diri sendiri dan berlaku bijak ketika melihat kekurangan dari orang lain. Semoga Allah Ta’ala sentiasa memberkahi kita... Aamiin.

Bogor, 10 Mei 2021

          

Hawa yang Membara

 Misno Mohd Djahri




 Ini adalah catatan anak manusia yang sedang terlena dengan hawa dan kenikmatan dunia sementara. Fasilitas hidup yang sudah ada, kesempatan di depan mata hingga angan-angan dan khayalan untuk menikmati dunia dan segala isinya. Ya... sulit memang diungkapkan dengan kata-kata, ketika hawa merasuk ke sukma dan memberi rasa pada setiap sendi raga. Maka semua aturan agama terasa ringan dan dengan mudah tidak diindahkannya.

Kenikmatan yang memang semua orang dewasa telah merasakannya, ia penuh dengan rasa menggelora, membara dalam jiwa ketika tetes-tetesnya mengalir membasahi dunia. Seluruh raga dibuat terlena, membara dalam dekapan hawa penuh pesona. Hawa liar yang memang sudah ada sejak dulu kala, ia menjelma dalam suasana dan masa yang berbeda tapi dalam satu rasa yang sama.

Hawa yang membara itu diawali oleh pengalaman manusia di masa lalu yang sudah lama, ketika untuk pertama kalinya di usia belia merasakan kenikmatan yang luar biasa. Ia mencoba untuk menahannya, hingga ketika kesempatan itu ada kembali menyeruak dan menguasai jiwa yang lara. Kini, ianya telah membelit jiwa dan raga yang telah merasakan kembali rasa yang luar biasa. Bahkan hingga menjelang usia separuh abad lamanya...  

Mungkin ini bukan cinta, karena sejatinya cinta selalu membawa kepada pendekatan diri kepadaNya jika itu cinta sejati adanya. Rasa suka dengan sesama yang memang muncul dari dalam jiwa yang diawali dengan pesona raga. Beberapa orang berkata bahwa ini adalah anugerahNya, tapi kenapa dalam kalamNya jelas nyata larangannya. Sebagian lagi pasrah dengan keadaannya, karena ia tidak bisa lepas dari belitannya. Katanya “Rasa ini tidak bisa lepas dari jiwa”, bisa jadi itu alasan saja walaupun apa yang dirasa memang betul adanya.

Sulit diterima dengan akal sehat serta rasa yang ada pada umumnya, karena ia hadir terkadang tanpa sebab musababnya. Seperti angin yang membelai sukma, memberi rasa nyama di jiwa hingga sebagian besar dari mereka kemudian pasrah dan terbawa dalam desiran penuh pesona. Inilah kenyataannya, bahwa rasa itu sulit sekali untuk dihilangkan dari jiwa, walaupun terkadang menyiksa jiwa tapi menjadikan hidup semakin berwarna.

Catatan anak manusia ini menjadi saksi, bahwa hidup ini penuh dengan cobaan dari Ilahi. Bahkan setiap insan memang telah diberi, cobaan dan fitnah dalam hidup sehari-hari. Ia adalah satu dari seleksi duniawi, untuk menjadikan kita memiliki derajat yang tinggi di sisi Rabbul Izzati.

Kepada teman-teman yang memiliki rasa yang sama, teruslah berjuang untuk memperbaiki diri. Rasa ini mungkin akan ada hingga kita mati, tapi yakinlah bahwa ia bisa menjadi kekuatan kita untuk terus lebih baik di kemudian hari. Kita tidak tahu kapan kita mati, tapi menyiapkan diri itulah yang terpuji.

Mungkin hari ini kita masih belum bisa melepaskan diri, dari rasa yang ada di hati tapi yakinlah suatu masa kita akan kembali menjadi insan sejati tanpa mengorbankan rasa ini. Allah sayang dengan diri ini, hingga rasa itupun bagian dari “anugerah Ilahi” tinggal bagaimana kita bisa menyikapi. Jadikan “anugerah” itu sebagai berkah serta wasilah untuk sampai kepada mardhatillah (keridhaan dari Allah) serta meraih jannahNya di akhirat nanti.

Bogor, 10 Mei 2021

 

 

Ramadhan yang Terdzalimi

 Abd Misno Mohd Djahri


 
Ramadhan tahun ini akan segera berlalu pergi, banyak ucapan dan tulisan dari umat muslim yang menyesali begitu cepatnya bulan mulia ini. Tapi inilah kuasa Ilahi, ia akan terus berlari tanpa memedulikan rasa insani. Hari akan terus berganti, bersama dengan mentari yang sentiasa terbit di pagi hari dan tenggelam di sore hari. Semua tak akan kembali, tetapi catatan amal insani akan abadi di sisi Rabbul Izzati.

Ramadhan yang Terdzalimi adalah bulan mulia yang tidak kita manfaatkan dengan seoptimal mungkin untuk mendekatkan diri kepada Ilahi. Keberkahan bulan mulia ternyata hanya ada di bibir saja atau di media sosial yang sangat nyata riuh-rendahnya. Tapi faktanya ia miskin dengan amal khairi, bahkan cenderung hanya ritual tanpa adanya ruh peribadahan.

Keberkahan Ramadhan sudah sering sekali kita dengar, kita baca dalam berbagai media dan telah menjadi bagian dari keyakinan setiap umat Islam. Tapi, keimanan di masa ini yang penuh dengan cobaan, wabah yang masih bersemayam, kesyirikan yang semakin merajalela, kemaksiatan di depan mata hingga hawa yang dipertaruhkan oleh jiwa. Intinya kepentingan dunia telah mengaburkan keberkahan dari bulan mulia, hingga kedzaliman terhadapnya begitu nyata.

Jangan banyak menyalahkan manusia yang mungkin lupa akan kemuliannya, jangan salah mereka yang alpha karena kejahilannya, jangan pula mudah menyalahkan mereka yang hanyut dalam hawa. Mulailah merenungi diri kita, bagaimana mungkin bisa terjadi? Kenapa seperti ini? kita yang telah mengetahui kemuliaan dan keberkahan Ramadhan tapi justru lalai atau melalaikannya. Kita sendiri yang mendzalimi Ramadhan ini...

Mereka yang lupa akan kemulian Ramadhan harus kita ingatkan dengan penuh kebijakan, mereka yang alpha karena kejahilan harus diajarkan dan diberi pemahaman akan kemuliannya dan mereka yang terbawa dalam hawa harus terus disampaikan tentang hakikat hawa dan juga dunia. Bagaimana dengan diri kita? Ya... kita adalah manusia yang penuh salah dan dosa tapi tentu saja itu bukan alasan karena sejatinya kemuliaan Ramadhan akan terus berjalan. Apakah kita masih mampu untuk mendapatkan keutamaannya?

Ramadhan yang mulia sejatinya tidak boleh didzalimi, ia adalah bulan penuh dengan ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepadanya. Jika kita merasa kurang optimal dalam mengisinya maka menyesal boleh adanya. Tetapi yang lebih utama adalah terus memperbaiki diri di masa-masa setelahnya, bisa jadi kita tidak akan bertemu dengan Ramadhan tahun depan. Tapi masih ada hari-hari ke depan utnuk terus memperbaikinya. Karena sejatinya ibadah dengan segala bentuknya tidak hanya pada bulan Ramadhan, tapi ada sepanjang masa.

Maka jika Ramdhan tahun ini terdzalimi, mohon maaflah pada pemilikNya berjanjilah untuk dapat memanfaatkan hari-hari setelahnya dengan ibadah dan mendekatkan diri kepadaNya. Semoga ianya menjadi satu jalan agar kita semakin baik di masa hadapan... Ramadhan, maafkan kami yang sering mendzalimi... Bogor, Akhir Ramadahan 1442 H/ 10 Mei 2021.

 

RENUNGAN HARI KELAHIRAN

 Abd Misno Mohd Djahri

 


Hari ini, Senin 10 Mei 2021 tepat usiaku menginjak 42 tahun. Waktu yang cukup panjang untuk menikmati pahit getir kehidupan. Tidak banyak yang ingin aku torehkan dalam tulisan ini, hanya menyadarkan diri bahwa kehidupan ini harus terus dilanjutkan. Terlalu banyak dosa dan kesalahan yang bahkan sampai hari ini masih dilakukan, ya... sejak akhir 2016 maksiat ini masih saja terjadi, itu itu kekhilafan insani, atau sengaja menceburkan diri dan menikmati. Astaghfirullah... Aku memohon ampun kepada Allah.

Dua tahun terakhir menjadi bagian kelam dalam hidupku, bagaimana tidak hawa yang terus membelenggu jiwa karena ianya hadir di setiap masa menjadikan seolah-olah ia harus dinikmati adanya. Ya... “mumpung ada” itu alasan utamanya. “Puas-puaskan selagi masih bisa” selalu itu yang terbersit di dalam jiwa. Sulit untuk melepaskannya walaupun bukan berarti tidak bisa. Kehadirannya memang membawa bahagia, walaupun mungkin semu adanya. tapi dia yang menjadikan kehidupan ini semakin berwarna.

Hingga hari ini, aku masih terlena dalam hawa. Entah sampai bila, hanya Allah Ta’ala yang mengetahui, usaha untuk meninggalkannya itu ada tapi godaan itu memang kuat sekali adanya. Bukan menikmati sejatinya, bukan pula sengaja menyeburkan jiwa dalam bermaksiat kepadaNya. Bukan pula membiarkan hawa membelenggu sukma, tapi entahlah... sulit diungkapkan dengan kata-kata. Mungkin ini adalah perjalanan hidup yang harus aku lalui, sejarah kelam yang harus dilewati.

Bisa jadi ini bukan cinta sebenarnya, ini bukan sayang sesungguhnya tapi betul-betul jiwa ini seperti menikmatinya. Bersama dalam suka dan duka, salah paham dan saling curiga selalu ada hingga berkali-kali tidak ada komunikasi yang kemudian akan kembali bersama lagi. Sulit memahami hubungan ini, ayat dan haditsnya sudah jelas demikian pula pendapat para ahlinya, tapi seolah-olah hati ini buta karena hawa yang meliputinya.

Aku hanya berharap, semoga esok nanti fase kelam kehidupan ini akan berakhir dan beralih kepada kehidupan yang lebih baik. Semoga... Pagi cerah, Bogor, 10 Mei 2021.

 

Sabtu, 01 Mei 2021

USHUL FIQH: Metode Penetapan Hukum Islam

*Info Buku Baru*

🎊📔📒📕📗📓📘📙📚🎊

*USHUL FIQH:* 
_Metode Penetapan Hukum Islam_


🍂🍂🍂🌱🌿☘️🎍🪴🍃🍃🍃
Ilmu Ushul Fiqh sebagai dasar dari fiqh Islam telah menjadi kajian utama umat Islam dalam memahami dimensi hukum dalam Islam. Perkembangannya yang fenomenal telah menarik perhatian berbagai kalangan untuk mengetahui lebih mendalam mengenai ilmu ini. Sebagai ilmu alat yang menjadi dasar bagi penetapan hukum dalam Islam sangat wajar ia adalah ilmu yang sangat mulia dalam Islam.

Perubahan di tengah masyarakat yang terus terjadi meniscayakan adanya kajian lebih mendalam mengenai ilmu ini untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi.

Sebagai contoh, perkembangan ekonomi Islam tidak mungkin terjadi tanpa adanya studi hukum Islam, oleh karena itu kajian mengenai Ushul Fiqh menjadi hal yang sangat urgen saat ini.

Problematika kontemporer Hukum Islam akan dijawab secara tuntas oleh Ushul Fiqh sebagai alat dalam penetapan hukum Islam.

Buku ini akan membahas mengenai Ilmu ushul fiqh sejak awal perkembangannya di Jazirah Arabia hingga ke Nusantara. Harapannya adalah umat Islam mampu memahami berbagai persoalan fiqh yang terjadi di masyarakat. 

Semoga kehadiran buku ini menjadi pelengkap bagi buku-buku tentang Ushul Fiqh yang sudah ada.

📗 Judul Buku: 
*Ushul Fiqh: Metode Penetapan Hukum Islam* 

🎓 Penulis: 
*Dr. Sutisna, MA*
*Dr. Abdurrahman Misno BP, MEI*

🏡 Penerbit: 
*Penerbit UIKA Press*

📆 Terbit Tahun: 
*Januari, 2021*

📖 Jumlah Halaman: 
vi + 279

Info: 
Abdurrahman: 
📲 *085885753838*

Jumat, 23 April 2021

ANTARA TAQWA DAN HAWA DUNIA

 Oleh: Abd Misno Mohd Djahri


Alhamdulillah, syukur kepada Allah Ta’ala adalah sebuah keniscayaan. Ia menjadi salah satu dari tanda-tanda keimanan seseorang, syukur yang diawali dengan keyakinan dalam hati, ucapan dengan lisan dan amal dengan anggota badan. Tentu saja syukur yang paling utama adalah atas nikmat Iman, Islam dan Ikhsan. Alhamdulilla wa syukru lillah.

Shalawat dan salaam mudah-mudahan senantiasa tercurahkan kepada junjungan alam, habibana wa sayyidana Muhammad Shalallahu alaihi wassalam, kepada seluruh ahli baitnya, para shahabatnya serta orang-orang yang mengikuti jejak sunnahnya hingga akhir zaman, Allahumma shalli wa sallim wa baarik ala rasulillah.

 Dunia adalah tempat di mana kita dilahirkan, ia adalah alam yang dijadikan oleh Allah Ta’ala sebagai tempat tinggal. Padanya terdapat berbagai pesona yang menjadikan dunia itu semakin penuh warna. Allah Ta’ala berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). QS. Ali Imran: 14.

Dunia memang indah adanya, pesonanya membuat manusia lupa bahwa ada alam nyata setelahnya. Kebanyakan manusia terlena dengan dunia: sibuk dengan keluarga, pekerjaan, sanak saudara hingga urusan dunia telah melalaikan dari ibadah kepadaNya. Memang dunia ini begitu memesona, hingga Rasul kita pernah bersabda:

يَا حَكِيمُ إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ ، فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ كَالَّذِى يَأْكُلُ وَلاَ يَشْبَعُ ، الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى

“Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu hijau lagi manis. Barangsiapa yang mencarinya untuk kedermawanan dirinya (tidak tamak dan tidak mengemis), maka harta itu akan memberkahinya. Namun barangsiapa yang mencarinya untuk keserakahan, maka harta itu tidak akan memberkahinya, seperti orang yang makan namun tidak kenyang. Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah” (HR. Bukhari no. 1472 dan Muslim no. 1035).

Riwayat lainnya menyebutkan:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

Dari Abu Sa'īd al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu- dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau, dan sesungguhnya Allah -'Azza wa Jalla- menjadikan kalian khalifah untuk mengelola apa yang ada di dalamnya, lalu Dia melihat bagaimana kalian berbuat. Oleh karena itu, berhati-hatilah kalian terhadap dunia dan berhati-hatilah terhadap wanita, karena sesungguhnya fitnah pertama terjadi pada Bani Israel adalah karena wanita!"  HR. Muslim

Pesona dunia terkadang membawa manusia pada tujuan lain hadirnya ia di dunia: hanya bersenang-senang saja seolah-olah akan hidup untuk selamanya. Padahal tidaklah kita hadir di dunia kecuali untuk beribadah kepadaNya, sebagaimana firmanNya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. QS. Adz-Dzariat: 56. 

 Tentu saja bukan berarti karena ibadah kemudian kita meninggal dunia, karena sejatinya segala aktifitas yang diniatkan untuk mendapatkan ridha dari Allah Ta’ala akan bermakna ibadah. Karena ibadah sendiri adalah:

العبادة اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَيَرْضَاهُ : مِنْ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ

Ibadah adalah satu kata yang mencakup segala hal yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, baik itu perkataan maupun perbuatan, perkara batin maupun zahir. (Majmu’ Fatawa: 10/49).

Maka, segala aktifitas yang kita lakukan haruslah tertuju hanya kepadaNya. Ianya bukan berarti meninggalkan dunia, bahkan Allah Ta’ala mengingatkan kepada kita dalam firmanNya:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. QS. Al-Qashass: 77.

Ayat ini mengajarkan kepada kita mengenai bolehnya kita mengambil bagian kita dunia, boleh kaya raya tapi ingat ada hak dari mereka yang miskin papa. Boleh menguasai dunia, tapi jadikan sebagai wasilah untuk mendapatkan ridha dari Dzat Yang Maha Rahmah.

 

Taqwa yang selalu diwasiatkan oleh para khatib setiap Jumat, adalah bekalan dalam menghadapi dunia. Karena dengan taqwa seseorang akan mampu untuk menahan hawa dunianya. Ia tidak akan lupa daratan, walaupun ia di tengah lautan tak bertepian. Ia juga tidak akan hanyut walaupun digulung oleh gelombang laksana selimut, dengan takwa seseorang akan selamat dari hawa dunia.

Allah Ta’ala memberikan pedoman kepada kita dalam firmanNya:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di ahirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allâh serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu. QS. al-Hadîd/57:20.

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :

 بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ﴿١٦﴾ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi, sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. [al-A’la/87:16-17].

Rasulullah Shalallahu AlaihI Wassalam bersabda:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda, “Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau, dan sesungguhnya Allâh menjadikan kamu sebagai khalifah di dunia ini, lalu Dia akan melihat bagaimana kamu berbuat. Maka jagalah dirimu dari (keburukan) dunia, dan jagalah dirimu dari (keburukan) wanita, karena sesungguhnya penyimpangan pertama kali pada Bani Isrâil terjadi berkaitan dengan wanita. HR Muslim, no. 2742.

Maka, bertaqwalah dengan dunia, jaga diri dari keburukan dunia yang melalaikan hadapi semua dengan ketakwaan karena hanya dengannya kehidupan kita akan bahagia di dunia dan di akhirat sana.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. QS. Al-‘Araf: 96.

Hanya dengan takwa seseorang akan mampu untuk menghadapi seluruh pesona dunia, hawanya akan tunduk terhadap syariatNya ketika takwa menjadi bekalan utama. Maka, bertaqwalah dengan sebenar-benarnya...

Akhirnya mari kita berdo’a sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam:

اللَّهُمَّ إنِّي أَسألُكَ الهُدَى ، وَالتُّقَى ، وَالعَفَافَ ، وَالغِنَى

Ya Allâh; sungguh aku meminta kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, ‘iffah (terjaga dari hal-hal yang buruk) dan kecukupan (merasa cukup dan tidak mengharap apa yang ada pada manusia). HR. Muslim.


Rabu, 14 April 2021

Dosen PPs INAIS Bogor Mendapatkan Anugerah Buku Negara di Malaysia

Oleh: Abu Aisyah

 

Prestasi membanggakan diukir oleh seorang dosen dari Program Pascasarjana Institut Agama Islam Sahid (INAIS) Bogor. Dr. Abd Misno, MEI meraih penghargaan bergengsi pada “Anugerah Buku Negara 2020-2021” di Malaysia. Penghargaan ini diraih atas buku yang ditulisnya dengan judul “Menggenggam Nusantara Raya: Pasca Covid-19: Resesi Ekonomi atau Kebangkitan?” yang diterbitkan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama tahun 2020. Penghargaan buku ini dengan Kategori Anugerah Khas UNESCO-KUALA LUMPUR World Book Capital 2020 Ekonomi dan Masa Depan Nusantara, anugerah disampaikan oleh YB Mustapa Mohamed, Menteri di Jabatan Perdana Menteri (Ekonomi) yang bertempat di Dewan Tun Hussein Onn PTWC Kuala Lumpur pada 07 April 2021.

“Alhamdulillah, ini adalah pencapaian yang menjadi stimulus bagi saya untuk terus berprestasi pada tingkat intenasional” ujar Dr. Misno yang saat ini juga menjabat sebagai Direktur Program Pascasarjana INAIS Bogor. Dosen yang telah menulis lebih dari 100 buku ini telah memiliki lebih dari 200 rancangan buku di laptopnya dan memiliki target minimal 300 buku untuk tahun 2021 ini. Menulis baginya bukan sekadar hobby atau mencari penghargaan, lebih dari itu menulis adalah ibadah, sehingga harus diniatkan karena Allah Ta’ala.

Berkenaan dengan isi buku Menggenggam Nusantara, Dr. Misno menyebutkan bahwa buku ini adalah motivasi positif bagi bangsa-bangsa rumpun Nusantara bahwa walaupun saat ini kita masih berada dalam bayang-bayang Corona, namun pengalaman di masa lalu telah membuktikan bahwa Nusantara adalah bangsa besar yang mampu untuk menghadapi dan mengatasi berbagai permasalahan yang ada. “Yakin, Inshaallah Nusantara Raya akan berjaya” ungkapnya dengan penuh keyakinan.

Sejatinya buku Dr. Misno ini bukanlah buku pertama yang dihasilkan berkaitan dengan negara jiran Malaysia, sudah ada tiga buku sebelumnya yang telah diterbitkan di Malaysia. Jika buku ini ditulis bersama dengan Dr. Sabri Mohd Sharif, M.Si, maka sebelumnya ditulis bersama dengan Dr. Azhaar Jaafar, M. Ushul dari UCYP, Pahang. Semuanya berkaitan dengan motivasi dan upaya agar menjadikan hidup lebih bermakna, sehingga kualitas hidup akan terus meningkat. Semoga ke depan akan semakin banyak buku-buku yang dapat dihasilkan dan memberikan kontribusi bagi masyarakat atau yang dikenal dengan literasi yang memberdayakan. Ambp14042021.

 

 

 


Minggu, 21 Maret 2021

Kejahilan atau Mencari Keuntungan dunia?

Oleh: Abd Misno Mohd Djahri

 


Tulisan ini terinspirasi dari sebuah kejadian kemarin, setelah saya membawakan materi mengenai skema ponzi dalam sebuah webinar yang diadakan oleh sebuah perguruan tinggi di Makasar. Hasil rekaman live acara tersebut kemudian saya share di salah satu group whattapps, hasilnya adalah salah satu anggota group yang kemudian merasa tersinggung dan menyebutkan bahwa bisnis yang dia ikuti yaitu bisnis dengan sistem Ponzi Scheme diperbolehkan. Kemudian dia membagikan pula sebuah video yang menyatakan bahwa bisnis yang dia ikuti adalah boleh dan halal.

Saya kemudian membuka video tersebut, awalnya hanya tersenyum saja ketika menyaksikan video tersebut karena penjelasannya sangat tidak ilmiah, bahkan tidak sesuai dengan sistem ekonomi syariah yang selama ini saya pelajari. Contohnya adalah, dia berpendapat bahwa model bisnis Ponzi Scheme adalah mudharabah, padahal jelas sekali bahwa itu bukan mudharabah karena mudharabah meniscayakan adanya shahibul maal (pemilik harta) dan mudharib (pengelola usaha).

Rasa penasaran muncul, yang kemudian membawa saya untuk membuka youtube dan melihat beberapa penjelasan dari video mengenai model bisnis tersebut. Saya tercengang melihat banyak sekali video yang membahas tentang bisnis model ini, bukan karena jumlahnya yang banyak namun banyaknya orang-orang yang mengaku ustadz dengan pakaian ala ustadz, berpeci dan sebagian memakai jubah dan sorban menjelaskan tentang bisnis ini.

Tipe pertama dari mereka adalah orang-orang yang berpakaian ala ustadz yang kemudian menjelaskan tentang sistem bisnis ini tanpa ilmu, karena terlihat dari penjelasannya yang sangat tidak berkualitas dan terkesan pakaian yang digunakan hanya sekadar untuk meyakinkan para penontonnya. Ini bukan buruk sangka, karena dari sisi pendidikan serta pembahasan yang disampaikan tidak menunjukan dia seorang ustadz atau orang yang berilmu.

Tipe kedua adalah beberapa orang ustadz yang entah alasan apa kemudian membolehkan sistem bisnis ini. Ada dua kemungkinan; pertama pertanyaan atau pengetahuan dari ustadz tersebut mengenai bisnis ini belum komprehensif sehingga kemudian dia menjawab atau membahas sesuai dengan pemahamannya saja. Hingga dia kemudian membolehkan sistem bisnis ini, padahal sudah banyak ustadz yang lebih pandai yang sudah membahasnya.

Tipe ketiga adalah “ustadz” yang karena kurangnya pemahaman tentang bisnis ini kemudian ditambah dengan kepentingan mencari dunia entah karena dia ikut sistem bisnis ini atau dibayar untuk menjelaskan dengan tujuan utama membolehkannya. Beberapa video “ustadz” tipe ini ternyata memang mereka ikut bisnis ini, sementara sebagian yang lainnya direkrut oleh agen dan pengelola agar membolehkan sistem bisnis ini. ini menjadi kekhasan dari sisitem Ponzi Scheme yang biasanya merekrut tokoh masyarakat untuk meyakinkan para anggotanya.

Inilah yang kemudian menjadi alasan saya harus menuliskannya, sistem bisnis skema ponzi yang jelas-jelas haram dalam Islam dan dilarang oleh hukum positif hanya karena modifikasi dan tertutupi oleh sedikit bisnis lainnya kemudian dengan mudah banyak masyarakat tertipu. Kurangnya literasi keuangan menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjadi sebab utama menyebarnya sistem bisnis dengan skema ponzi dan banyak masyarakat yang bergabung.

Tentu saja yang lebih bersalah adalah orang-orang yang berpenampilan seperti ustadz atau mengaku ustadz yang kemudian berbicara tanpa ilmu tentang bisnis tersebut. Kejahilan (kebodohan) terhadap sistem bisnis tersebut serta aturan dalam muamalah menjadi sebab orang tersebut dengan mudah membolehkannya. Maka belajar lagi dan lebih komprehensif dalam memahami suatu model bisnis adalah solusinya.

Sementara ustadz yang kedua bisa jadi karena penjelasan yang tidak komprehensif kemudian membolehkannya, sehingga memahami suatu masalah dengan lebih menyeluruh serta tidak mudah memberikan suatu keputusan hukum sebelum jelas hakikat dari bisnis yang ditanyakan oleh masyarakat.

Tipe ketiga adalah “ustadz” yang bisa jadi dia memahami dari sistem bisnis ini adalah haram, namun karena kepentingan dunia dan mendapatkan sepotong dari harta dunia kemudia dia memberikan fatwa dan keputusan hukum dengan boleh. Maka bagi mereka hendaknya tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala, takutlah kepada Allah Ta’ala. Jangan sampai hanya karena mendapatkan sedikit dari harta dunia kemudian mengorbankan akhiratnya. Karena ucapan kita akan dimintai pertanggungjawaban, bayangkan ketika ternyata sistem bisnis ini ternyata haram dan masyarakat dirugikan di mana tanggungjawab kita. Hanya karena ini mendapatkan keuntungan dunia kemudian memberikan fatwa hukum boleh pada sebuah sistem bisnis yang mengandung unsur Ponzi Scheme.

Semoga Allah Ta’ala menghindarkan segala bentuk bisnis yang diharamkan dalam Islam, dan menjaga kita dari segala bentuk harta yang diperoleh dari bisnis yang haram. Jalan untuk mencapai ke sana adalah dengan terus belajar, belajar dan belajar mengenai muamalah dan bisnis Islam. Jangan mudah terpesona dengan bisnis yang memberikan keuntungan yang banyak dalam waktu yang singkat, padahal kita tidak tahu bagaimana hakikat sebenarnya dari bisnis tersebut. Demikian pula kita harus memeriksa terlebih dahulu sistem bisnis yang akan kita ikuti, jangan sampai kita terbawa dalam bisnis yang jelas keharamannya. Wallahua’lam bishawab...

 

Kamis, 25 Februari 2021

Makna sebuah Ikhtiar...

 Oleh: Ibnu Mohd Djahri

 

Manusia adalah makhluk yang lemah, salah satu buktinya adalah terbatasnya panca indra yang dimilikinya. Mata hanya mampu memandang sejauh mata memandang, ia juga tidak bisa melihat sesuatu yang lebih kecil dari jangkauan matanya hingga diperlukan alat semacam mikroskop untuk melihatnya. Pendengaran manusia juga sangat terbatas hingga tidak mampu mendengar suara yang kurang atau lebih dari standar pendengaran manusia. Bahkan tubuh manusia itu sangat lemah, hingga dengan sangat mudah terserang berbagai bakteri dan virus tanpa diketahui cara masuk ke tubuh manusia.

Kelemahan manusia juga terlihat dari terbatasnya ilmu pengetahuan yang dimilikinya, sehingga tidak semua orang mampu untuk menguasai semuanya. Ilmu kedokteran misalnya, hanya para dokter yang mengetahuinya. Lebih spesifik lagi, tidak semua dokter juga memahami penyakit dalam (semisal jantung dan paru-paru). Hanya mereka yang ahli dan spesialisasi di bidang itu yang memahami, itupun masih terus mengalami perkembangan karena semakin banyaknya penyakit yang ada pada diri manusia.

Sebagai manusia biasa yang tidak paham dengan ilmu kedokteran tentu kita lebih tidak mengetahui lagi berbagai penyakit yang ada dalam tubuh kita. Hanya hasil pengalaman sendiri atau pengalamana orang lain yang sedikit membantu kita, bahkan dokter pun selalu mengatakan ini adalah diagnosis yang bisa jadi benar atau salah. Sehingga ketika tertimpa suatu penyakit kita akan berupaya untuk mengobatinya dengan berbagai obat yang direkomendasikan oleh dokter atau orang-orang di sekeliling kita.

Masalahnya adalah obat yang kita jadikan penawar belum tentu sesuai dengan penyakit kita, karena bisa jadi diagnosa salah atau obat tersebut tidak sesuai dengan kondisi tubuh kita. Tidak semua obat cocok untuk semua orang, banyak orang yang memiliki alergi atau kekhususan yang ada dalam tubuhnya. Maka, ketika kita sakit dan minum obat sejatinya itulah ikhtiar (usaha) dari manusia. Kita tidak tahu apakah diagnosis penyakit itu benar, atau obat tersebut cocok dengan kita apalagi dengan dosis yang kadang karena ingin cepat sembuh kemudian ditambahkan dosisnya.

Ya... inilah hakikat dan makna dari ikhtiar, karena sejatinya yang menyembuhkan itu adalah Allah Ta’ala Sang Pencipta manusia dan alam semesta. Obat itu hanya perantara yang dijadikan oleh Allah Ta’ala sebagai wasilah bagi sembuhnya penyakit kita. Sebagai seorang muslim kita harus meyakini hal tersebut, termaktub secara jelas dalam Kalam-Nya Surat Asy-Syu’ara ayat 80 “dan Apabila aku sakit, Dialah (Allah) yang menyembuhkan aku”. Keyakinan ini haruslah terpatri dalam hati setiap muslim, bahwa Allah Ta’ala yang menyembuhkan semua penyakit, kita manusia hanya berikhtiar yang dibarengi pula dengan do’a.

Ikhtiar untuk berobat dengan berbagai penawar yang kita tidak ketahui penyakit dan kecocokannya menunjukan ikhtiar yang tinggi. Karena sebagai manusia kita diperintahkan untuk berusaha, tentu saja harus didasari oleh keyakinan bahwa Allah Ta’ala yang menyembuhkan. Sebagaimana do’a yang kita panjatkan, kita tidak tahu kapan ia dikabulkan tapi yakin bahwa Allah akan mengabulkan doa kita. Jika demikian adanya, teruslah berikhtiar dengan dasar keyakinan bahwa Allah Ta’ala yang menyembuhkan kita, bukan obat-obatan itu. Wallahua’lam bishawab.

Kota Hujan, Capek Mendalam Selepas Maghrib

25022021