Rabu, 12 Mei 2021
Meraih Kemenangan dengan Tashfiyah Keimanan dan Tarbiyah Ar Rahman
Senin, 10 Mei 2021
Inilah Hakikat Kehidupan dan Insan
Abd Misno Mohd Djahri
Kehidupan ini memang penuh dengan
misteri, ada banyak hal yang tidak dapat dinalar dengan akal insani. Lebih dari
itu adalah manusia yang penuh dengan hal-hal di luar prediksi, seringkali
antara apa yang terlihat tidak sama dengan yang tidak terlihat. Seseorang itu
nampak tersenyum, namun hakikatnya hatinya menangis sebaliknya ia menangis tapi
hakikatnya ia bahagia dalam hatinya. Inilah kehidupan dunia yang penuh dengan
apa yang hakikatnya tidak hanya dilihat oleh mata, tapi perlu ada rasa yang
mampu untuk melihatnya.
Manusia memiliki dua unsur yang
luar biasa yaitu jiwa dan raga, sukma (roh) dan jasad dirinya. Keduanya seringkali
berbeda dalam pandangan mata, misalnya seseorang yang jiwanya halus dan penuh
dengan kebaikan tapi raga dan jasadnya penuh dengan kekurangan. Sebaliknya
seseorang yang nampak sempurna jasadnya tapi faktanya jiwanya penuh dengan
kejahatan dan kekurangan. Inilah hakikat manusia, terkadang apa yang terlihat
dari jasadnya tidak mencerminkan apa yang ada dalam hati dan jiwanya.
Keimanan manusia pun terkadang
sulit untuk diterka, seseorang berpakaian apa adanya, profesinya terlalu biasa
bahkan di mata manusia tidak bernilai apa-apa namun hakikatnya di sisi Rabbnya
ia adalah hamba yang paling mulia. Bisa jadi juga seseorang berpakaian layaknya
ulama, memakai sorban dan berjubah putih panjang dan apa yang ada dalam
jasadnya adalah simbol-simbol keimanan. Namun hakikatnya hati dan jiwanya lebih
jahat dari iblis karena ia banyak menyesatkan manusia dari jalan Sang Pencipta.
Inilah hakikat dunia, apa yang kita
lihat dengan mata seringkali tidak sesuai dengan apa hakikatnya. Sehingga
berlaku bijak atas apa yang terlihat adalah sikap utama dalam menghadapinya. Bagaimana
jika melihat seseorang yang nampak sholeh dan baik tapi ternyata ia pelaku
kesyirikan atau dosa dan kesalahan? Kembali pada pemahaman tentang dunia, bahwa
manusia dicipta penuh dengan kekurangan dan kelebihan. Banyak orang yang nampak
biasa saja, sejatinya ia adalah hamba Allah Ta’ala yang mulia. Namun ada juga
yang luarnya nampak seperti ulama tapi hatinya jahat dan penuh dengan angkara
murka. Bagaimana kita menyikapinya?
Dosa dengan segala bentuknya dari
yang paling besar berupa kesyirikan, dosa besar hingga dosa-dosa yang dianggap
biasa sejatinya selalu ada pada diri manusia dengan akdar yang berbeda-beda. Bahkan
dalam haditsnya yang mulia bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam bersabda
bahwa setiap manusia pernah berbuat dosa, maka sebaik-baik yang berbuat dosa
adalah yag segera bertaubat kepadaNya. Merujuk pada riwayat ini maka pemahaman
kita bahwa manusia itu tanpa cela adalah salah adanya, setiap manusia pernah
melakukan dosa. Tentu saja ini bukan berarti kita bertoleransi dengan dosa dan
kesalahan manusia.
Maka, jika kita melihat ada seorang
yang nampak alim tapi dia adalah pelaku dosa hendaknya kita bijak lebih bijak
dalam menyikapinya. Selama ia tidak mendzahirkan perbuatan maksiatnya tersebut,
karena ia “jahil” dalam arti masih terbelenggu hawa nafsunya di sisi ini.
Walaupun pasti manusia akan mengatakan “Dia tahu ilmunya tapi kenapa melakukan
dosa?”. Inilah yang ada di masyarakat kita, dan sejatinya itu benar adanya
tetapi jika kita merujuk kepada riwayat semula bahwa dia juga manusia sehingga “wajar”
kalau dia juga melakukan dosa.
Sekali lagi bukan membela mereka
yang paham ilmunya tapi kemudian melanggarnya, bukan pula mengatakan itu harus
mentolerir perbuatan dosa dan kesalahannya. Tapi menyikapinya dengan bijak dan
tidak menghakimi sebelah pihak, apalagi jika dia juga tidak secara
terang-terangan melakukannya. Bijak dalam hal ini adalah mengajaknya dengan mauidzah
hasanah serta nasehat-nasehat yang baik. Bukan dengan menyalahkannya,
apalagi di depan umum sehingga manusia banyak mengetahuinya. Sebuah riwayat
menyatakan salah satu dari hak seorang muslim adalah merahasiakan aib
(kekurangan/dosa/maksita) muslim lainnya.
Akhirnya kita memahami hakikat dari
kehidupan adalah terkadang tidak sesuai antara apa yang terlihat dan tidak
terlihat. Kita juga memahami hakikat dari manusia yang diciptakan pernah
melakukan dosa dan kesalahan, namun segera kembali kepadaNya. Tinggal tugas
kita sebagai hambaNya menyikapinya dengan bijak, selalu berintrospeksi dengan
diri sendiri dan berlaku bijak ketika melihat kekurangan dari orang lain.
Semoga Allah Ta’ala sentiasa memberkahi kita... Aamiin.
Bogor,
10 Mei 2021
Hawa yang Membara
Misno Mohd Djahri
Kenikmatan yang memang semua orang
dewasa telah merasakannya, ia penuh dengan rasa menggelora, membara dalam jiwa
ketika tetes-tetesnya mengalir membasahi dunia. Seluruh raga dibuat terlena,
membara dalam dekapan hawa penuh pesona. Hawa liar yang memang sudah ada sejak
dulu kala, ia menjelma dalam suasana dan masa yang berbeda tapi dalam satu rasa
yang sama.
Hawa yang membara itu diawali oleh
pengalaman manusia di masa lalu yang sudah lama, ketika untuk pertama kalinya
di usia belia merasakan kenikmatan yang luar biasa. Ia mencoba untuk
menahannya, hingga ketika kesempatan itu ada kembali menyeruak dan menguasai
jiwa yang lara. Kini, ianya telah membelit jiwa dan raga yang telah merasakan
kembali rasa yang luar biasa. Bahkan hingga menjelang usia separuh abad
lamanya...
Mungkin ini bukan cinta, karena
sejatinya cinta selalu membawa kepada pendekatan diri kepadaNya jika itu cinta
sejati adanya. Rasa suka dengan sesama yang memang muncul dari dalam jiwa yang
diawali dengan pesona raga. Beberapa orang berkata bahwa ini adalah
anugerahNya, tapi kenapa dalam kalamNya jelas nyata larangannya. Sebagian lagi
pasrah dengan keadaannya, karena ia tidak bisa lepas dari belitannya. Katanya “Rasa
ini tidak bisa lepas dari jiwa”, bisa jadi itu alasan saja walaupun apa yang
dirasa memang betul adanya.
Sulit diterima dengan akal sehat
serta rasa yang ada pada umumnya, karena ia hadir terkadang tanpa sebab
musababnya. Seperti angin yang membelai sukma, memberi rasa nyama di jiwa
hingga sebagian besar dari mereka kemudian pasrah dan terbawa dalam desiran
penuh pesona. Inilah kenyataannya, bahwa rasa itu sulit sekali untuk
dihilangkan dari jiwa, walaupun terkadang menyiksa jiwa tapi menjadikan hidup
semakin berwarna.
Catatan anak manusia ini menjadi
saksi, bahwa hidup ini penuh dengan cobaan dari Ilahi. Bahkan setiap insan
memang telah diberi, cobaan dan fitnah dalam hidup sehari-hari. Ia adalah satu
dari seleksi duniawi, untuk menjadikan kita memiliki derajat yang tinggi di
sisi Rabbul Izzati.
Kepada teman-teman yang memiliki
rasa yang sama, teruslah berjuang untuk memperbaiki diri. Rasa ini mungkin akan
ada hingga kita mati, tapi yakinlah bahwa ia bisa menjadi kekuatan kita untuk
terus lebih baik di kemudian hari. Kita tidak tahu kapan kita mati, tapi
menyiapkan diri itulah yang terpuji.
Mungkin hari ini kita masih belum
bisa melepaskan diri, dari rasa yang ada di hati tapi yakinlah suatu masa kita
akan kembali menjadi insan sejati tanpa mengorbankan rasa ini. Allah sayang
dengan diri ini, hingga rasa itupun bagian dari “anugerah Ilahi” tinggal
bagaimana kita bisa menyikapi. Jadikan “anugerah” itu sebagai berkah serta
wasilah untuk sampai kepada mardhatillah (keridhaan dari Allah) serta meraih
jannahNya di akhirat nanti.
Bogor, 10 Mei 2021
Ramadhan yang Terdzalimi
Abd Misno Mohd Djahri
Ramadhan yang Terdzalimi adalah
bulan mulia yang tidak kita manfaatkan dengan seoptimal mungkin untuk
mendekatkan diri kepada Ilahi. Keberkahan bulan mulia ternyata hanya ada di
bibir saja atau di media sosial yang sangat nyata riuh-rendahnya. Tapi faktanya
ia miskin dengan amal khairi, bahkan cenderung hanya ritual tanpa adanya ruh
peribadahan.
Keberkahan Ramadhan sudah sering
sekali kita dengar, kita baca dalam berbagai media dan telah menjadi bagian
dari keyakinan setiap umat Islam. Tapi, keimanan di masa ini yang penuh dengan
cobaan, wabah yang masih bersemayam, kesyirikan yang semakin merajalela, kemaksiatan
di depan mata hingga hawa yang dipertaruhkan oleh jiwa. Intinya kepentingan
dunia telah mengaburkan keberkahan dari bulan mulia, hingga kedzaliman
terhadapnya begitu nyata.
Jangan banyak menyalahkan manusia
yang mungkin lupa akan kemuliannya, jangan salah mereka yang alpha karena
kejahilannya, jangan pula mudah menyalahkan mereka yang hanyut dalam hawa.
Mulailah merenungi diri kita, bagaimana mungkin bisa terjadi? Kenapa seperti
ini? kita yang telah mengetahui kemuliaan dan keberkahan Ramadhan tapi justru
lalai atau melalaikannya. Kita sendiri yang mendzalimi Ramadhan ini...
Mereka yang lupa akan kemulian
Ramadhan harus kita ingatkan dengan penuh kebijakan, mereka yang alpha karena
kejahilan harus diajarkan dan diberi pemahaman akan kemuliannya dan mereka yang
terbawa dalam hawa harus terus disampaikan tentang hakikat hawa dan juga dunia.
Bagaimana dengan diri kita? Ya... kita adalah manusia yang penuh salah dan dosa
tapi tentu saja itu bukan alasan karena sejatinya kemuliaan Ramadhan akan terus
berjalan. Apakah kita masih mampu untuk mendapatkan keutamaannya?
Ramadhan yang mulia sejatinya tidak
boleh didzalimi, ia adalah bulan penuh dengan ibadah dalam rangka mendekatkan
diri kepadanya. Jika kita merasa kurang optimal dalam mengisinya maka menyesal
boleh adanya. Tetapi yang lebih utama adalah terus memperbaiki diri di
masa-masa setelahnya, bisa jadi kita tidak akan bertemu dengan Ramadhan tahun
depan. Tapi masih ada hari-hari ke depan utnuk terus memperbaikinya. Karena
sejatinya ibadah dengan segala bentuknya tidak hanya pada bulan Ramadhan, tapi
ada sepanjang masa.
Maka jika Ramdhan tahun ini
terdzalimi, mohon maaflah pada pemilikNya berjanjilah untuk dapat memanfaatkan
hari-hari setelahnya dengan ibadah dan mendekatkan diri kepadaNya. Semoga ianya
menjadi satu jalan agar kita semakin baik di masa hadapan... Ramadhan, maafkan
kami yang sering mendzalimi... Bogor, Akhir Ramadahan 1442 H/ 10 Mei 2021.
RENUNGAN HARI KELAHIRAN
Abd Misno Mohd Djahri
Hari ini, Senin 10 Mei 2021 tepat
usiaku menginjak 42 tahun. Waktu yang cukup panjang untuk menikmati pahit getir
kehidupan. Tidak banyak yang ingin aku torehkan dalam tulisan ini, hanya
menyadarkan diri bahwa kehidupan ini harus terus dilanjutkan. Terlalu banyak
dosa dan kesalahan yang bahkan sampai hari ini masih dilakukan, ya... sejak
akhir 2016 maksiat ini masih saja terjadi, itu itu kekhilafan insani, atau
sengaja menceburkan diri dan menikmati. Astaghfirullah... Aku memohon ampun
kepada Allah.
Dua tahun terakhir menjadi bagian
kelam dalam hidupku, bagaimana tidak hawa yang terus membelenggu jiwa karena
ianya hadir di setiap masa menjadikan seolah-olah ia harus dinikmati adanya.
Ya... “mumpung ada” itu alasan utamanya. “Puas-puaskan selagi masih bisa”
selalu itu yang terbersit di dalam jiwa. Sulit untuk melepaskannya walaupun
bukan berarti tidak bisa. Kehadirannya memang membawa bahagia, walaupun mungkin
semu adanya. tapi dia yang menjadikan kehidupan ini semakin berwarna.
Hingga hari ini, aku masih terlena
dalam hawa. Entah sampai bila, hanya Allah Ta’ala yang mengetahui, usaha untuk
meninggalkannya itu ada tapi godaan itu memang kuat sekali adanya. Bukan
menikmati sejatinya, bukan pula sengaja menyeburkan jiwa dalam bermaksiat
kepadaNya. Bukan pula membiarkan hawa membelenggu sukma, tapi entahlah... sulit
diungkapkan dengan kata-kata. Mungkin ini adalah perjalanan hidup yang harus
aku lalui, sejarah kelam yang harus dilewati.
Bisa jadi ini bukan cinta
sebenarnya, ini bukan sayang sesungguhnya tapi betul-betul jiwa ini seperti
menikmatinya. Bersama dalam suka dan duka, salah paham dan saling curiga selalu
ada hingga berkali-kali tidak ada komunikasi yang kemudian akan kembali bersama
lagi. Sulit memahami hubungan ini, ayat dan haditsnya sudah jelas demikian pula
pendapat para ahlinya, tapi seolah-olah hati ini buta karena hawa yang
meliputinya.
Aku hanya berharap, semoga esok
nanti fase kelam kehidupan ini akan berakhir dan beralih kepada kehidupan yang
lebih baik. Semoga... Pagi cerah, Bogor, 10 Mei 2021.
Sabtu, 01 Mei 2021
USHUL FIQH: Metode Penetapan Hukum Islam
Jumat, 23 April 2021
ANTARA TAQWA DAN HAWA DUNIA
Oleh: Abd Misno Mohd Djahri
Alhamdulillah, syukur kepada Allah Ta’ala adalah sebuah keniscayaan. Ia menjadi salah satu dari tanda-tanda keimanan seseorang, syukur yang diawali dengan keyakinan dalam hati, ucapan dengan lisan dan amal dengan anggota badan. Tentu saja syukur yang paling utama adalah atas nikmat Iman, Islam dan Ikhsan. Alhamdulilla wa syukru lillah.
Shalawat dan salaam mudah-mudahan
senantiasa tercurahkan kepada junjungan alam, habibana wa sayyidana Muhammad
Shalallahu alaihi wassalam, kepada seluruh ahli baitnya, para
shahabatnya serta orang-orang yang mengikuti jejak sunnahnya hingga akhir
zaman, Allahumma shalli wa sallim wa baarik ala rasulillah.
زُيِّنَ
لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ
الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأنْعَامِ
وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ
الْمَآبِ
Dijadikan indah pada (pandangan)
manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita,
anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan,
binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan
di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). QS. Ali Imran: 14.
Dunia memang indah adanya,
pesonanya membuat manusia lupa bahwa ada alam nyata setelahnya. Kebanyakan
manusia terlena dengan dunia: sibuk dengan keluarga, pekerjaan, sanak saudara
hingga urusan dunia telah melalaikan dari ibadah kepadaNya. Memang dunia ini
begitu memesona, hingga Rasul kita pernah bersabda:
يَا حَكِيمُ إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ ، فَمَنْ
أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ
نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ كَالَّذِى يَأْكُلُ وَلاَ يَشْبَعُ ، الْيَدُ
الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى
“Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu hijau
lagi manis. Barangsiapa yang mencarinya untuk kedermawanan dirinya (tidak tamak
dan tidak mengemis), maka harta itu akan memberkahinya. Namun barangsiapa yang
mencarinya untuk keserakahan, maka harta itu tidak akan memberkahinya, seperti
orang yang makan namun tidak kenyang. Tangan yang di atas lebih baik daripada
tangan yang di bawah” (HR. Bukhari no. 1472 dan Muslim no. 1035).
Riwayat lainnya menyebutkan:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ
الْخُدْرِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ
مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا
الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ
كَانَتْ فِي النِّسَاءِ
Dari Abu Sa'īd al-Khudri -raḍiyallāhu
'anhu- dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda,
"Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau, dan sesungguhnya Allah -'Azza wa
Jalla- menjadikan kalian khalifah untuk mengelola apa yang ada di dalamnya,
lalu Dia melihat bagaimana kalian berbuat. Oleh karena itu, berhati-hatilah
kalian terhadap dunia dan berhati-hatilah terhadap wanita, karena sesungguhnya
fitnah pertama terjadi pada Bani Israel adalah karena wanita!" HR. Muslim
Pesona dunia terkadang membawa
manusia pada tujuan lain hadirnya ia di dunia: hanya bersenang-senang saja
seolah-olah akan hidup untuk selamanya. Padahal tidaklah kita hadir di dunia
kecuali untuk beribadah kepadaNya, sebagaimana firmanNya:
وَمَا
خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan
manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. QS. Adz-Dzariat: 56.
العبادة اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَيَرْضَاهُ :
مِنْ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ
Ibadah adalah
satu kata yang mencakup segala hal yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, baik
itu perkataan maupun perbuatan, perkara batin maupun zahir. (Majmu’ Fatawa:
10/49).
Maka, segala aktifitas yang kita
lakukan haruslah tertuju hanya kepadaNya. Ianya bukan berarti meninggalkan
dunia, bahkan Allah Ta’ala mengingatkan kepada kita dalam firmanNya:
وَابْتَغِ
فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ
إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Dan carilah pada apa yang telah
dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu
melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada
orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu
berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang berbuat kerusakan. QS. Al-Qashass: 77.
Ayat ini mengajarkan kepada kita
mengenai bolehnya kita mengambil bagian kita dunia, boleh kaya raya tapi ingat
ada hak dari mereka yang miskin papa. Boleh menguasai dunia, tapi jadikan
sebagai wasilah untuk mendapatkan ridha dari Dzat Yang Maha Rahmah.
Taqwa yang selalu diwasiatkan oleh
para khatib setiap Jumat, adalah bekalan dalam menghadapi dunia. Karena dengan
taqwa seseorang akan mampu untuk menahan hawa dunianya. Ia tidak akan lupa
daratan, walaupun ia di tengah lautan tak bertepian. Ia juga tidak akan hanyut
walaupun digulung oleh gelombang laksana selimut, dengan takwa seseorang akan
selamat dari hawa dunia.
Allah Ta’ala memberikan pedoman
kepada kita dalam firmanNya:
اعْلَمُوا
أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ
وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ
الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا
ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan
dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan
bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan
anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian
tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi
hancur. Dan di ahirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allâh serta
keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang
palsu. QS. al-Hadîd/57:20.
Allâh Azza wa Jalla juga berfirman
:
بَلْ
تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ﴿١٦﴾ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
Tetapi kamu (orang-orang kafir)
memilih kehidupan duniawi, sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih
kekal. [al-A’la/87:16-17].
Rasulullah Shalallahu AlaihI
Wassalam bersabda:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ
الْخُدْرِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ
الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ
كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا
النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ
Dari Abu Sa’id al-Khudri
Radhiyallahu anhu , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda,
“Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau, dan sesungguhnya Allâh menjadikan
kamu sebagai khalifah di dunia ini, lalu Dia akan melihat bagaimana kamu
berbuat. Maka jagalah dirimu dari (keburukan) dunia, dan jagalah dirimu dari
(keburukan) wanita, karena sesungguhnya penyimpangan pertama kali pada Bani
Isrâil terjadi berkaitan dengan wanita. HR Muslim, no. 2742.
Maka, bertaqwalah dengan dunia,
jaga diri dari keburukan dunia yang melalaikan hadapi semua dengan ketakwaan
karena hanya dengannya kehidupan kita akan bahagia di dunia dan di akhirat
sana.
وَلَوْ
أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ
السَّمَاءِ وَالأرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا
يَكْسِبُونَ
Jika sekiranya penduduk
negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada
mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami)
itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. QS. Al-‘Araf: 96.
Hanya dengan takwa seseorang akan
mampu untuk menghadapi seluruh pesona dunia, hawanya akan tunduk terhadap
syariatNya ketika takwa menjadi bekalan utama. Maka, bertaqwalah dengan
sebenar-benarnya...
Akhirnya mari kita berdo’a
sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam:
اللَّهُمَّ
إنِّي أَسألُكَ الهُدَى ، وَالتُّقَى ، وَالعَفَافَ ، وَالغِنَى
Ya Allâh; sungguh aku meminta
kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, ‘iffah (terjaga dari hal-hal yang buruk) dan
kecukupan (merasa cukup dan tidak mengharap apa yang ada pada manusia). HR.
Muslim.
Rabu, 14 April 2021
Dosen PPs INAIS Bogor Mendapatkan Anugerah Buku Negara di Malaysia
Oleh: Abu Aisyah
Prestasi membanggakan diukir oleh
seorang dosen dari Program Pascasarjana Institut Agama Islam Sahid (INAIS)
Bogor. Dr. Abd Misno, MEI meraih penghargaan bergengsi pada “Anugerah Buku
Negara 2020-2021” di Malaysia. Penghargaan ini diraih atas buku yang
ditulisnya dengan judul “Menggenggam Nusantara Raya: Pasca Covid-19: Resesi
Ekonomi atau Kebangkitan?” yang diterbitkan oleh Penerbit Gramedia Pustaka
Utama tahun 2020. Penghargaan buku ini dengan Kategori Anugerah Khas
UNESCO-KUALA LUMPUR World Book Capital 2020 Ekonomi dan Masa Depan Nusantara,
anugerah disampaikan oleh YB Mustapa Mohamed, Menteri di Jabatan Perdana
Menteri (Ekonomi) yang bertempat di Dewan Tun Hussein Onn PTWC Kuala Lumpur
pada 07 April 2021.
“Alhamdulillah, ini adalah
pencapaian yang menjadi stimulus bagi saya untuk terus berprestasi pada tingkat
intenasional” ujar Dr. Misno yang saat ini juga menjabat sebagai Direktur
Program Pascasarjana INAIS Bogor. Dosen yang telah menulis lebih dari 100 buku
ini telah memiliki lebih dari 200 rancangan buku di laptopnya dan memiliki
target minimal 300 buku untuk tahun 2021 ini. Menulis baginya bukan sekadar
hobby atau mencari penghargaan, lebih dari itu menulis adalah ibadah, sehingga
harus diniatkan karena Allah Ta’ala.
Berkenaan dengan isi buku
Menggenggam Nusantara, Dr. Misno menyebutkan bahwa buku ini adalah motivasi
positif bagi bangsa-bangsa rumpun Nusantara bahwa walaupun saat ini kita masih
berada dalam bayang-bayang Corona, namun pengalaman di masa lalu telah
membuktikan bahwa Nusantara adalah bangsa besar yang mampu untuk menghadapi dan
mengatasi berbagai permasalahan yang ada. “Yakin, Inshaallah Nusantara Raya
akan berjaya” ungkapnya dengan penuh keyakinan.
Sejatinya buku Dr. Misno ini
bukanlah buku pertama yang dihasilkan berkaitan dengan negara jiran Malaysia,
sudah ada tiga buku sebelumnya yang telah diterbitkan di Malaysia. Jika buku
ini ditulis bersama dengan Dr. Sabri Mohd Sharif, M.Si, maka sebelumnya ditulis
bersama dengan Dr. Azhaar Jaafar, M. Ushul dari UCYP, Pahang. Semuanya
berkaitan dengan motivasi dan upaya agar menjadikan hidup lebih bermakna,
sehingga kualitas hidup akan terus meningkat. Semoga ke depan akan semakin
banyak buku-buku yang dapat dihasilkan dan memberikan kontribusi bagi
masyarakat atau yang dikenal dengan literasi yang memberdayakan. Ambp14042021.
Minggu, 21 Maret 2021
Kejahilan atau Mencari Keuntungan dunia?
Oleh: Abd Misno Mohd Djahri
Tulisan ini
terinspirasi dari sebuah kejadian kemarin, setelah saya membawakan materi
mengenai skema ponzi dalam sebuah webinar yang diadakan oleh sebuah perguruan
tinggi di Makasar. Hasil rekaman live acara tersebut kemudian saya share
di salah satu group whattapps, hasilnya adalah salah satu anggota group
yang kemudian merasa tersinggung dan menyebutkan bahwa bisnis yang dia ikuti yaitu
bisnis dengan sistem Ponzi Scheme diperbolehkan. Kemudian dia membagikan
pula sebuah video yang menyatakan bahwa bisnis yang dia ikuti adalah boleh dan
halal.
Saya kemudian
membuka video tersebut, awalnya hanya tersenyum saja ketika menyaksikan video
tersebut karena penjelasannya sangat tidak ilmiah, bahkan tidak sesuai dengan
sistem ekonomi syariah yang selama ini saya pelajari. Contohnya adalah, dia
berpendapat bahwa model bisnis Ponzi Scheme adalah mudharabah, padahal
jelas sekali bahwa itu bukan mudharabah karena mudharabah meniscayakan adanya shahibul
maal (pemilik harta) dan mudharib (pengelola usaha).
Rasa penasaran
muncul, yang kemudian membawa saya untuk membuka youtube dan melihat beberapa
penjelasan dari video mengenai model bisnis tersebut. Saya tercengang melihat
banyak sekali video yang membahas tentang bisnis model ini, bukan karena
jumlahnya yang banyak namun banyaknya orang-orang yang mengaku ustadz dengan
pakaian ala ustadz, berpeci dan sebagian memakai jubah dan sorban menjelaskan
tentang bisnis ini.
Tipe pertama dari
mereka adalah orang-orang yang berpakaian ala ustadz yang kemudian menjelaskan
tentang sistem bisnis ini tanpa ilmu, karena terlihat dari penjelasannya yang
sangat tidak berkualitas dan terkesan pakaian yang digunakan hanya sekadar untuk
meyakinkan para penontonnya. Ini bukan buruk sangka, karena dari sisi
pendidikan serta pembahasan yang disampaikan tidak menunjukan dia seorang
ustadz atau orang yang berilmu.
Tipe kedua adalah
beberapa orang ustadz yang entah alasan apa kemudian membolehkan sistem bisnis
ini. Ada dua kemungkinan; pertama pertanyaan atau pengetahuan dari ustadz
tersebut mengenai bisnis ini belum komprehensif sehingga kemudian dia menjawab
atau membahas sesuai dengan pemahamannya saja. Hingga dia kemudian membolehkan
sistem bisnis ini, padahal sudah banyak ustadz yang lebih pandai yang sudah
membahasnya.
Tipe ketiga adalah
“ustadz” yang karena kurangnya pemahaman tentang bisnis ini kemudian ditambah
dengan kepentingan mencari dunia entah karena dia ikut sistem bisnis ini atau
dibayar untuk menjelaskan dengan tujuan utama membolehkannya. Beberapa video “ustadz”
tipe ini ternyata memang mereka ikut bisnis ini, sementara sebagian yang
lainnya direkrut oleh agen dan pengelola agar membolehkan sistem bisnis ini. ini
menjadi kekhasan dari sisitem Ponzi Scheme yang biasanya merekrut tokoh
masyarakat untuk meyakinkan para anggotanya.
Inilah yang
kemudian menjadi alasan saya harus menuliskannya, sistem bisnis skema ponzi
yang jelas-jelas haram dalam Islam dan dilarang oleh hukum positif hanya karena
modifikasi dan tertutupi oleh sedikit bisnis lainnya kemudian dengan mudah
banyak masyarakat tertipu. Kurangnya literasi keuangan menurut Otoritas Jasa
Keuangan (OJK) menjadi sebab utama menyebarnya sistem bisnis dengan skema ponzi
dan banyak masyarakat yang bergabung.
Tentu saja yang
lebih bersalah adalah orang-orang yang berpenampilan seperti ustadz atau
mengaku ustadz yang kemudian berbicara tanpa ilmu tentang bisnis tersebut. Kejahilan
(kebodohan) terhadap sistem bisnis tersebut serta aturan dalam muamalah menjadi
sebab orang tersebut dengan mudah membolehkannya. Maka belajar lagi dan lebih
komprehensif dalam memahami suatu model bisnis adalah solusinya.
Sementara ustadz
yang kedua bisa jadi karena penjelasan yang tidak komprehensif kemudian
membolehkannya, sehingga memahami suatu masalah dengan lebih menyeluruh serta
tidak mudah memberikan suatu keputusan hukum sebelum jelas hakikat dari bisnis
yang ditanyakan oleh masyarakat.
Tipe ketiga
adalah “ustadz” yang bisa jadi dia memahami dari sistem bisnis ini adalah
haram, namun karena kepentingan dunia dan mendapatkan sepotong dari harta dunia
kemudia dia memberikan fatwa dan keputusan hukum dengan boleh. Maka bagi mereka
hendaknya tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala, takutlah kepada Allah
Ta’ala. Jangan sampai hanya karena mendapatkan sedikit dari harta dunia kemudian
mengorbankan akhiratnya. Karena ucapan kita akan dimintai pertanggungjawaban,
bayangkan ketika ternyata sistem bisnis ini ternyata haram dan masyarakat
dirugikan di mana tanggungjawab kita. Hanya karena ini mendapatkan keuntungan
dunia kemudian memberikan fatwa hukum boleh pada sebuah sistem bisnis yang
mengandung unsur Ponzi Scheme.
Semoga Allah Ta’ala
menghindarkan segala bentuk bisnis yang diharamkan dalam Islam, dan menjaga
kita dari segala bentuk harta yang diperoleh dari bisnis yang haram. Jalan
untuk mencapai ke sana adalah dengan terus belajar, belajar dan belajar mengenai
muamalah dan bisnis Islam. Jangan mudah terpesona dengan bisnis yang memberikan
keuntungan yang banyak dalam waktu yang singkat, padahal kita tidak tahu
bagaimana hakikat sebenarnya dari bisnis tersebut. Demikian pula kita harus
memeriksa terlebih dahulu sistem bisnis yang akan kita ikuti, jangan sampai
kita terbawa dalam bisnis yang jelas keharamannya. Wallahua’lam bishawab...
Kamis, 25 Februari 2021
Makna sebuah Ikhtiar...
Oleh: Ibnu Mohd Djahri
Manusia adalah
makhluk yang lemah, salah satu buktinya adalah terbatasnya panca indra yang
dimilikinya. Mata hanya mampu memandang sejauh mata memandang, ia juga tidak
bisa melihat sesuatu yang lebih kecil dari jangkauan matanya hingga diperlukan
alat semacam mikroskop untuk melihatnya. Pendengaran manusia juga sangat
terbatas hingga tidak mampu mendengar suara yang kurang atau lebih dari standar
pendengaran manusia. Bahkan tubuh manusia itu sangat lemah, hingga dengan
sangat mudah terserang berbagai bakteri dan virus tanpa diketahui cara masuk ke
tubuh manusia.
Kelemahan
manusia juga terlihat dari terbatasnya ilmu pengetahuan yang dimilikinya,
sehingga tidak semua orang mampu untuk menguasai semuanya. Ilmu kedokteran
misalnya, hanya para dokter yang mengetahuinya. Lebih spesifik lagi, tidak
semua dokter juga memahami penyakit dalam (semisal jantung dan paru-paru).
Hanya mereka yang ahli dan spesialisasi di bidang itu yang memahami, itupun
masih terus mengalami perkembangan karena semakin banyaknya penyakit yang ada
pada diri manusia.
Sebagai manusia
biasa yang tidak paham dengan ilmu kedokteran tentu kita lebih tidak mengetahui
lagi berbagai penyakit yang ada dalam tubuh kita. Hanya hasil pengalaman
sendiri atau pengalamana orang lain yang sedikit membantu kita, bahkan dokter
pun selalu mengatakan ini adalah diagnosis yang bisa jadi benar atau salah.
Sehingga ketika tertimpa suatu penyakit kita akan berupaya untuk mengobatinya
dengan berbagai obat yang direkomendasikan oleh dokter atau orang-orang di
sekeliling kita.
Masalahnya
adalah obat yang kita jadikan penawar belum tentu sesuai dengan penyakit kita,
karena bisa jadi diagnosa salah atau obat tersebut tidak sesuai dengan kondisi
tubuh kita. Tidak semua obat cocok untuk semua orang, banyak orang yang
memiliki alergi atau kekhususan yang ada dalam tubuhnya. Maka, ketika kita
sakit dan minum obat sejatinya itulah ikhtiar (usaha) dari manusia. Kita tidak
tahu apakah diagnosis penyakit itu benar, atau obat tersebut cocok dengan kita
apalagi dengan dosis yang kadang karena ingin cepat sembuh kemudian ditambahkan
dosisnya.
Ya... inilah
hakikat dan makna dari ikhtiar, karena sejatinya yang menyembuhkan itu adalah
Allah Ta’ala Sang Pencipta manusia dan alam semesta. Obat itu hanya perantara
yang dijadikan oleh Allah Ta’ala sebagai wasilah bagi sembuhnya penyakit
kita. Sebagai seorang muslim kita harus meyakini hal tersebut, termaktub secara
jelas dalam Kalam-Nya Surat Asy-Syu’ara ayat 80 “dan Apabila aku sakit, Dialah
(Allah) yang menyembuhkan aku”. Keyakinan ini haruslah terpatri dalam hati
setiap muslim, bahwa Allah Ta’ala yang menyembuhkan semua penyakit, kita
manusia hanya berikhtiar yang dibarengi pula dengan do’a.
Ikhtiar untuk
berobat dengan berbagai penawar yang kita tidak ketahui penyakit dan
kecocokannya menunjukan ikhtiar yang tinggi. Karena sebagai manusia kita
diperintahkan untuk berusaha, tentu saja harus didasari oleh keyakinan bahwa
Allah Ta’ala yang menyembuhkan. Sebagaimana do’a yang kita panjatkan, kita
tidak tahu kapan ia dikabulkan tapi yakin bahwa Allah akan mengabulkan doa
kita. Jika demikian adanya, teruslah berikhtiar dengan dasar keyakinan bahwa
Allah Ta’ala yang menyembuhkan kita, bukan obat-obatan itu. Wallahua’lam
bishawab.
Kota Hujan,
Capek Mendalam Selepas Maghrib
25022021



