Senin, 05 Desember 2022

Khutbah Jumat: Tiga Warisan Rasulullah Kepada Ummat

Oleh: Ust. Nurhadi, S.Sos.I., M.H.

 


Ma`asyiral Muslimin Rahimakumullah

Sebagai wujud rasa syukur kita kepada Allah Subhanahu Wata’ala, marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu Wata’ala dengan sebenar-benar keimanan dan sebaik-baik ketakwaan, dengan berserah diri, tunduk dan patuh terhadap syariahnya, dengan menjalankan apa pun yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala dan berupaya dengan sungguh-sungguh untuk menjauhi apa pun yang dilarang- Nya, sebab dengan jalan takwa inilah Allah menjanjikan kemuliaan bagi hamba-hamba-Nya sebagaimana terfirman dalam Al-Qur’an.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍۢ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًۭا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۭ

Artinya, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu” (QS Al- Hujurat: 13).

 

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Pada khutbah jum’at ini akan menyampaikan tentang “Tiga Warisan Rasulullah kepada Ummat”.

Diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabrani bahwa pada suatu pagi, Abu Hurairah pergi ke sebuah pasar. Di situ beliau melihat sebagian orang tenggelam dalam aktivitas bisnis. Mereka asyik melakukan transaksi jual-beli. Abu Hurairah ingin mengingatkan mereka agar tidak sibuk dalam masalah duniawi saja dengan melupakan urusan akhirat. “Wahai penghuni pasar, alangkah lemahnya kalian.” Mereka            bertanya            penasaran,       “Apa    maksudmu,     wahai  Abu Hurairah?” “Itu, warisan Rasulullah sedang dibagikan sementara kalian masih di sini. Mengapa kalian tidak pergi ke sana untuk mengambil jatah kalian?” “Di mana?” Abu Hurairah menjawab: “Di masjid.” Maka mereka keluar dengan cepat. Abu Hurairah berdiri menjaga barang mereka sampai mereka kembali. Setelah para penghuni kembali dari masjid, Abu Hurairah bertanya, “Ada apa dengan kalian?” Mereka menjawab, “Wahai Abu Hurairah, kami telah datang ke masjid, kami masuk ke dalamnya tapi tidak ada yang dibagi.”

Abu Hurairah bertanya, “Apa kalian tidak melihat seseorang di masjid?” Mereka menjawab, “Kami melihat orang-orang yang shalat, membaca Al-Qur’an, dan orang yang mempelajari halal- haram.” Abu Hurairah berkata, “Celaka kalian, itulah warisan Nabiyullah Muhammad Salallahu Alaihi Wassalam.

 

Hadirin Rahimakumullah

Riwayat di atas memberi banyak pelajaran berharga tentang pentingnya memburu warisan yang telah diwariskan oleh Nabi Muhammad. Bukan harta, uang, kendaraan, rumah, atau dinar yang menjadi warisan. Tapi warisan itu berupa mengerjakan shalat, membaca Al-Qur`an, dan mempelajari halal-haram.

 

Warisan pertama adalah shalat.

Shalat merupakan tiang agama. Shalat menjadi amal yang pertama kali dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Rasul menggambarkan seorang mukmin yang menunaikan shalat wajib seperti orang yang mandi sebanyak lima kali dalam satu hari. Ia akan selalu berada dalam keadaan bersih, bersih dari noda dan kotoran, dosa-dosanya rontok seiring bacaan dan gerakan shalatnya. Dalam shalat ada komunikasi dan dialog dengan Tuhan, momentum untuk menumpahkan segala asa dan perasaan, bersimpuh sujud, memohon petunjuk, dan hidayah-Nya. Dinamakan shalat, kata Habib Alwi bin Shahab, karena ia adalah shilah (penghubung) antara seorang hamba dengan Tuhannya. Jika shalatnya terputus, maka hubungan seorang hamba dengan Tuhannya menjadi terputus juga.

Sayangnya, tidak sedikit umat Islam yang meremehkan waktu- waktu shalat, ada yang menunda dalam melaksanakannya, tidak bersungguh-sungguh, hanya sekadar menggugurkan kewajiban, dan bahkan sampai pada taraf meninggalkannya. Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad mengatakan, “Di antara perbuatan yang bisa menyebabkan kematian yang buruk (su`ul khatimah) adalah meninggalkan shalat.”

 

Hadirin Rahimakumullah

Warisan kedua dari Rasulullah Salallhhu alaihi wasallam adalah membaca Al-Qur`an. Al-Qur`an merupakan kitab rujukan utama. Tidak ada satu kitab pun di dunia ini yang lebih indah susunan kata- katanya, Tidak ada satu kitab pun di dunia ini yang jelas dalam memberikan keterangan, Tidak ada satu kitab pun di dunia ini yang mencakup segala aspek kehidupan, Tidak ada satu kitab pun di dunia ini yang bersih dari tangan-tangan jahil, kecuali Al-Qur`an

yang terjaga dan di jamin kebenrannya.

ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًۭى لِّلْمُتَّقِينَ

Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (QS. Al Baqarah : 2)

 

Ma’ashiral muslimin rahimakumullah

Sangat di sayangkan, saat ini, seiring dengan perkembangan dunia digital, saat gadged sudah menjamur di tangan-tangan manusia, membaca Al Qur`an semakin terpinggirkan, kalah riuh oleh asyiknya bermain game online atau mendengarkan musik. Anak- anak kita lebih pandai melantunkan lirik-lirik lagu dan lincah menggerakkan jari-jemari untuk bermain game di abdningakn dengan mebuka al Qur’an dan membacanya.

Di sisi lain, orang tua lebih sibuk untuk membuat putra-putri mereka sukses di dunia daripada memikirkan kehidupan mereka selepas mereka hidup dunia ini. Al-Qur`an menjadi perhatian hanya di masa bangku sekolah dasar, itupun cukup di TPQ. Sementara itu, para orang tua tidak merasa bersalah ketika mereka tidak memberi contoh membaca Qur`an karena ketidakmampuannya.

Selepas sekolah dasar, anak-anak tak lagi berhasrat atau tidak dimotivasi untuk memperdalam Al Qur`an. Mereka dikondisikan untuk lebih fokus dengan materi pelajaran yang tidak seimbang antara kebutuhan spiritual dan intelektual. Sayidina Abdulah bin Mas`ud pernah berkata, “Jika kalian menginginkan ilmu, maka sebarluaskan Al-Qur`an sebab di dalamnya tersimpan ilmu orang- orang terdahulu dan yang akan datang.”

 

Ma’ashiral muslimin rahimakumullah

Warisan ketiga adalah mengetahui status halal-haram. Warisan terakhir ini memberi hikmah kepada kita tentang pentingnya mengenal status halal-haramnya suatu barang, makanan, atau perbuatan yang akan kita lakukan. Sikap kehati-hatian dalam halal- haram tampak dari sikap Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Suatu hari, usai kembali dari pasar beliau meminum segelas susu. Beliau meminum susu tersebut tanpa curiga sedikit pun tentang asal-usul segelas susu tersebut. Saat itu, pembantu beliau masuk rumah dan menyaksikan tuannya telah menghabiskan segelas susu yang dia letakkan di atas meja, selanjutnya ia berkata, “Ya Tuanku, biasanya sebelum engkau memakan dan meminum sesuatu pasti menanyakan lebih dulu asal makanan dan minuman tersebut, mengapa sewaktu meminum susu tadi engkau tidak bertanya sedikit pun tapi langsung meminumnya? Dengan rasa kaget Abu Bakar bertanya, “Memangnya susu ini dari mana?” Pembantunya menjawab, “’Begini, ya Tuanku, pada zaman jahiliyah dulu dan sebelum masuk Islam, saya adalah kahin (dukun) yang menebak nasib seseorang. Suatu kali setelah saya ramal nasib seorang pelanggan, dia tidak sanggup membayar karena tidak punya uang, tapi dia berjanji suatu saat akan membayar. Tadi pagi saya bertemu di pasar dan dia memberikan susu itu sebagai bayaran untuk utang yang dulu belum sempat dia bayar.”

Mendengar itu, Abu Bakar memasukkan jari telunjuknya ke dalam mulut agar muntah. Beliau berusaha untuk mengeluarkan susu tersebut dari perutnya tanpa tersisa sedikit pun. Beliau sampai pingsan karena berusaha memuntahkan seluruh susu yang telanjur beliau minum, lalu berkata, “Walaupun saya harus mati karena mengeluarkan susu ini dari perut saya, saya rela. Saya mendengar Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam bersabda, “Setiap daging yang tumbuh dari sumber yang haram maka neraka adalah tempat yang pantas baginya.”

 

Saudara-saudaraku seiman seagama rahimakumullah

Baik makanan, pakaian atau apaun yag kita manfaatkan untuk kehidupan kita jika dari sumber maupun jenisnya haram, itu dapat menjadikan kita celaka, menjadikan doa-doakita tertolak bahkan yang lebih bahayanya lagi dapat menjadi perantara manusia ke neraka.

 

Kaum Muslimin yang Dimuliakan Allah

Ketiga warisan Nabi yaitu menunaikan shalat, membaca Al-Qur`an, dan mengetahui hal-hal yang halal dan haram, merupakan warisan yang harus kita jaga dengan sungguh-sungguh. Shalat tepat pada waktunya dengan berjama`ah, membaca Al Qur`an sesuai ilmu tajwidnya lalu berusaha memahami dan mengamalkannya, dan mengetahui status halal-haram pada suatu barang dengan tepat dan teliti.

Jika warisan duniawi begitu disukai meski bersifat sementara, yang akan sirna seiring berlalunya waktu, maka tiga warisan di atas harus lebih kita utamakan dari masa ke masa, karena ketiga warisan ini akan mendatangkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Semoga kitab bisa menjaga warisan Rasulullah ini dan tidak meninggalkannya, menjadikan warisan ini sebagi amaliayah kita di dunia ini sebagi bekal kehidupab kita kelak di akhirat.

KHUTBAH JUMAT: DAHSYATNYA ISTIGHFAR

Oleh: Ust. Nurhadi, S.Sos.I, M.H.

 


Pada hari yang mulia ini, hari Jum’at yang penuh nikmat, tiada kalimat yang patut kita ucapkan melainkan kalimat syukur sebagai ungkapan termulya kepada Allah Subhānahū wa Ta’ālā yang telah melimpahkan nikmat hidup yang tak terhingga dengan rahmat dan karuniaNya yang juga tak terbatas, sehingga nikmat, rahmat dan karuniaNya itu kita dapat menjalani kehidupan ini dengan penuh keridhaan-Nya.

Tidak lupa pula shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah-tercurah kepada baginda nabi Muhammad SAW yang merupakan contoh terbaik dalam menampilkan sikap syukur dan sabar. Kalaulah tidak dengan kesabaran dan kegigihan beliau dalam memperjuangkan agama Allah ini, sudah barang tentu kita tidak bisa mengecap indah dan lezatnya nikmat Iman dan Islam.

 

Jama’ah Shalat Jum’at yang Berbahagia

Oleh karena itu mengawali ibadah jumat ini, mari sama-sama kita meningatakan keimana dan ketakwaan kita kepada Allah, iman yang yang tak ada sedikitpun keraguan atas kebesaran dan kekuasaanNya, dan takwa dengan selalu berusaha mentaati syariahnya, dibuktikan dengan berusaha menjalankan semua perinathNya dan menjauhkan diri dari semua larangan-laranganNYa.

 

Ma’ashral muslimin rahimakumullah

Dalam Islam, salah satu cara yang biasanya dilakukan oleh seseorang ketika melakukan kesalahan adalah membaca istighfar, yaitu memohon ampunan kepada Allah swt atas degala kesalahan yang telah dilakukannnya.

Kata istighfar berasal dari kata ghofaro, yaghfiru yang bermakna mengampuni atau memaafkan. Di dalam kamus Al-Munawwir Istighfar diartikan (4 artian) yaitu mengampuni, menutupi, memperbaiki, dan mendoakan. Kemudian menurut Imam Ar- Raghib Al-Asfahani, istighfar adalah meminta ampun kepada Allah Swt dari segi ucapan dan juga perbuatan.

Istighfar dapat berarti juga memohon ampunan, bertaubat atas perbuatan buruk yang telah dilakukan sebagai hamba, karena manusia sangat membutuhkan ampunan Allah, sehingga sangat dianjurkan untuk beristighfar atau bertaubat kepada Allah.

 

Jama’ah Shalat Jum’at yang berbahagia

Lebih luas lagi tetang makna dan keutamaan istighfar, ada sebuah kisah dari perjalanan kehidupan Imam Ahmad bin Hanbal. Imam Ahmad bin Hanbal adalah murid dari Imam Syafi’I yang dikenal juga sebagai Imam Hanbali. Di usia tua, ia bercerita, suatu waktu tanpa tahu alasannya tiba-tiba beliau ini ingin sekali pergi ke kota di Irak. Padahal tidak ada janji ataupun hajat di sana.

Akhirnya Imam Ahmad pergi sendiri menuju ke kota Bashrah, Irak. Ia bercerita saat tiba di sana waktu Isya, kemudian ikut shalat berjamaah Isya di masjid. Hatinya terasa tenang, kemudian istirahat di masjid.

Begitu selesai shalat dan jamaah bubar, Imam Ahmad ingin tidur di masjid. Tiba-tiba marbut masjid datang menemui Imam Ahmad sambil bertanya, “Mengapa syekh (panggilan untuk orang tua), mau apa di sini?” Marbut tidak tahu kalau yang ditegurnya adalah Imam Ahmad. Imam Ahmad pun tidak memperkenalkan dirinya. Di Irak semua orang kenal Imam Ahmad sebagai seorang ulama besar dan ahli hadits. Sosok ulama yang sangat saleh dan zuhud. Zaman itu tidak ada foto sehingga orang tidak tahu wajahnya, hanya tahu namanya sudah terkenal.

Imam Ahmad menjawab, “Saya ingin istirahat, saya musafir.” Marbut berkata, “Tidak boleh, tidak boleh tidur di masjid.” Imam Ahmad melanjutkan ceritanya, “(Di masjid itu) saya didorong-dorong oleh orang (marbut) itu, disuruh keluar dari masjid, setelah keluar masjid, maka dikuncilah pintu masjid.”

Setelah diusir dari dalam masjid, Imam Ahmad ingin tidur di teras masjid. Ketika sudah berbaring di teras masjid, marbutnya datang lagi dan marah-marah kepada Imam Ahmad.

Marbut itu mengatakan, “Mau apa lagi syekh?” Imam Ahmad menjawab, “mau tidur, saya musafir.” Marbut masjid menimpali, “di dalam masjid tidak boleh, di teras masjid juga tidak boleh.”

Setelah itu Imam Ahmad diusir bahkan didorong dari teras masjid sampai ke jalanan. Di samping masjid ada penjual roti yang rumahnya kecil, di rumah itu ia membuat dan menjual roti. Penjual roti itu sedang membuat adonan, sambil melihat kejadian Imam Ahmad didorong-dorong oleh marbut ke jalan.

Saat Imam Ahmad sampai di jalanan, penjual roti itu memanggil dari jauh dan mengajaknya menginap di rumahnya. Imam Ahmad bersedia dengan ajak menginap itu.

 

Imam Ahmad masuk ke rumah penjual roti, duduk di belakangnya yang sedang membuat roti. Imam Ahmad masih tidak memperkenalkan dirinya, ia layaknya seorang musafir.

Penjual roti ini perilakunya lain daripada umumnya, kalau Imam Ahmad tidak mengajak berbicara, ia terus membuat adonan roti sambil membaca istighfar. Kalau diajak bicara baru menjawab seperlunya.

Saat meletakkan garam membaca Astaghfirullah, memecahkan telur membaca Astaghfirullah, mencampur gandum membaca Aastaghfirullah. Ia selalu mengucap istighfar.

Imam Ahmad memperhatikan terus, lalu bertanya, “Sudah berapa lama kamu lakukan ini (membaca istighfar setiap saat)?” Penjual roti menjawab, “Sudah lama sekali syekh, saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu saya lakukan ini.”

Imam Ahmad bertanya lagi, “Apa hasil dari perbuatanmu ini?” Penjual roti menjawab, “Hajat yang saya minta pasti dikabulkan Allah, semua yang saya minta kepada Allah langsung diterima.”

Penjual roti menambahkan, “Semua dikabulkan Allah kecuali satu, masih satu yang belum Allah kabulkan.” Imam Ahmad penasaran kemudian bertanya, “Apa itu? Penjual roti menjawab, “Saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan Imam Ahmad.”

Seketika itu juga Imam Ahmad bertakbir. Kemudian berkata, “Allah telah mendatangkan saya jauh dari Baghdad ke Bashrah, bahkan sampai didorong-dorong marbut masjid itu sampai ke jalanan karena istighfar yang kamu lakukan.”

 

Jama’ah Shalat Jum’at yang Berbahagia Inilah kedahsyatan istighfar.

Dalam al Qur’an surat Nuh Ayat 10-12 Allah berfirman “Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu’, sesunguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai”. [Nuh/71 : 10-12]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Wahai sekalian manusia. Taubatlah (beristigfar) kepada Allah karena aku selalu bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim)

 

Jama’ah Shalat Jum’at yang berbahagia

Rasulullah saw saja yang kedudukannya jelas di sisi Allah mutlak masuk surga. Masih beristighfar 100 kali dalam sehari, apalagi kita orang biasa yang tak pernah luput dari kesalahan dan dosa.

Oleh karena itu Allah memberikan kesempatan kepada kita (hamba-hambaNya), Jika seorang hamba mampu menjaga dan memperbanyak amalan istighfar, Allah akan ampuni dosa-dosanya, Allah akan limpahkan rizkinya, Allah akan kabulkan doa- doanya, dan Allah akan dekatkan apa yang ia inginkan yang jauh darinya.

Betapa agung, besar dan banyak buah dari istighfar. Oleh karena itu mari kita terus beristighfar kepada Allah. Semoga Allah jadikan kita termasuk hamba-hamba yang pandai ber-istighfar. Dan semoga Allah mengkaruniakan kepada kita buah dari istighfar, di dunia maupun di akhirat. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan. Amin Ya Rabbal Alamaiin..

Jumat, 02 Desember 2022

Menjaga Lisan

Oleh: Nurhadi, S.Sos.I., M.H.

 


الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ اَحْسَنَهٗ ۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ هَدٰىهُمُ اللّٰهُ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمْ اُولُوا الْاَلْبَابِ

Ma’ashiral muslimin Rahimakumullah

Mari sama-sama kita bersyukur atas nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kita, sebab hanya dangan nikmat-nikmat Allah, baik itu nikmat kesehatan jasmani terlebih nikmat iman,islam dan ikhsan kita bisa bersama melaksanakan ibadah jumat di masjid yang mulia ini  sebagi bentuk penghambaan kita kepada Sang Khaliq, Allah swt. Dan tak lupa kita bersolawat atas junjungan kita Nabi Besar  Muhammad saw. Semoga di hari akhir nanti kita akan menjadi salah satu yang akan mendapatkan syafaatnya.

 

Jamaah jumat rahimakumullah

Mari sama-sama kita meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah dengan cara laksanakanlah perintah-perintah-Nya dan menjauhkan diri dari larang-laranganNya. Taqwa yang dapat mendorong kita untuk terus berusaha berbat kebaikan dengan seluruh anggota tubuh kita.

Salah satu kewajiban kita sebagi hamba Allah dan Ummat Rasululluh Muhammad saw . adalah menjaga semua anggota tubuh kita ini dari dosa. Maka Allah memerintahkan kita agar menjaga telinga, mata, lidah dan semua anggota tubuh lainnya, jangan sampai dipergunakan untuk melakukan segala yang diharamkan Allah swt.

Dan perlu kita ketahui bahwa anggota tubuh yang paling berbahaya dan paling besar resikonya serta paling dasyat bahayanya terhadap agama dan kehidupan adalah "Lidah". Lidah bisa berbicara dengan kebaikan, kebenaran dan keridhaan, lalu pemiliknya memperoleh kecinta- an, kemaafan dan ampunan. Akan tetapi lidah pula bisa mengatakan kalimat-kalimat kejahatan, kesesatan dan kedurhakaan, lalu pemiliknya terjerumus ke dalam kejahatan, kesengsaraan dan kemurkaan.

Oleh karena itu kita harus mampu mejaga lisan kita dari kemaksiatan dan dosa-dosa lisan. Diantara dosa-dosa lisan itu adalah, berkata kotor, berkata bohong, menhadi domba, ghibah, fitnah dan lain sebaginya yang kesemua itu dapat merusak hati kita, merusak jiwa kita, bahkan dapat merusak lingkungan kita.

Rasulullah saw. bersabda:

علَيْكُم بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الْصِدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبَرِ وَإِنَّ البريهدي إلى الجنَّةِ : وَلَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحرى الصّدقَ حَتَّى يَكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقًا وَايَّاكُمْ وَالكَذِبَ فَإِنَّ الكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ ، وَلَا يَزَالُ الرَّجُلُ يكذب ويتحرى الكَذِبَ حَتَّى يَكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كذابا

“Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran me- nunjukkan ke arah kebagusan, dan kebagusan menunjukkan ke arah surga. Seorang laki-laki berlaku jujur dan ia senantiasa mencari kejujuran, sehingga ia ditulis di sisi Allah orang yang suka kejujuran. Dan jauhilah kebohongan, karena kebohongan menunjukkan ke arah kemaksiatan, dan kemaksiatan menunjukkan ke arah neraka. Seorang laki-laki berlaku bohong dan ia senantiasa mencari kebohongan, sehingga ia ditulis di sisi Allah orang yang suka kebohongan”.

 

Saudara-suadara kaum Muslimin Rahimakumullah.

Salah satu tanda iman yang kuat adalah menjauhi sifat, fasik, cacian dan makian. Dan salah satu bencana lidah yang sangat berbahaya ialah "Adu Domba" yaitu memindah omongan dari satu kaum ke kaum yang lain dengan jalan membikin onar antara mereka. Adu domba adalah menanam kedengkian, memecah belah antara sesama, menarik permusuhan dan saling membenci di dalam kehidupan bermasyarakat.

Banyak sudah, adu domba memecah belah antara orang-orang yang hidup berbahagia. Banyak sudah, adu domba memutuskan hubungan antara sanak dan famili, sahabat dan kerabat. Tidak sedikit pula adu domba menjadi penyebab porak porandanya tali kekeluargaan dan persahabatan di masyarakat

Bagi orang yang suka mengadu domba ini, Rasulullah saw. mensifatinya dengan "Al Haliqah" yaitu 'pekerti yang bisa mencukur halus setiap kebaikan, dan menarik kejahatan, yang dampaknya adalah perbuatan dosa. melenyapkan jiwa dan memporak-porandakan keluarga dan golongan.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang bersumber dari Abu Hurairah bahwasannya Rasulullah saw. bersabda:

تَجِدُونَ شَرَّالنَّاسِ ذَالْوَجْهَيْنِ الَّذِي يَأْتِي هؤُلَاءِ بِوَجْه وَهَؤُلَاءِ بِوَجْه.

“Kalian akan menjumpai manusia yang paling jelek, yang mempunyai dua muka, di mana ia datang kepada satu golongan dengan wajah yang satu, dan datang kepada golongan yang lain dengan wajah yang lain pula”.

Diceritakan bahwa ada seorang laki-laki datang menghadap Umar bin Abdul Aziz, lalu kepada beliau laki-laki ini menyebut- nyebut sesuatu tentang kelakuan laki-laki lain. Selanjutnya Umar bin Abdul Aziz bertanya kepadanya : Bila kamu setuju, kami akan melihat dulu perkaramu ini. Jika sekiranya kamu seorang pendusta, maka kamu akan termasuk orang-orang yang dimaksud di dalam ayat ini :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya”,.. (QS. Al Hujarat: 6)

dan jika sekiranya kamu seorang yang tidak  jujur, maka kamu akan termasuk orang-orang yang dimaksud di dalam ayat ini:

هَمَّازٍ مَّشَّآءٍۭ بِنَمِيمٍ

“Yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah” (QS. Al Qalam: 11).

Ummar bin Abdul Aziz melanjutkan; Dan apabila kamu minta ma'af, kami akan memaafkanmu. Laki-laki itupun menjawab: "Maafkanlah, wahai mirul muk-minin, tidak akan aku ulangi lagi peristiwa seperti ini selamanya.

Imam Bukhari meriwayatkan hadits yang bersumber dari sahabat Ibnu Abbas bahwasannya Rasulullah saw. lewat bertemu dengan dua kuburan, lalu beliau bersabda :

 إِنَّهُمَا يُعذَبَانِ وَمَا يُعَذِّبَانِ فِي كَبِيرٍ، بَلَى إِنَّهُ كبير : أمَّا اَحَدُهُمَا يَمْشِي بِالنّميمَةِ وَامَّا الْآخَرُفَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِن بَولِهِ .

“Sesungguhnya kedua penghuni kuburan ini mendapat siksa namun tidak disiksa karena dosa besar. Adapun salah satu di antara keduanya karena ia mengadu domba sedangkan yang lain, karena ia kencing tidak menggunakan tabir”.

Hadits ini mengisayaratkan kita untuk menjauhi kemaksiatan- kemaksiatan dan dosa-dosa, terlebih kemaksiatan dan dosa-dosa dari lisan kita. Karena sesungguhnya apa yang kita lakukan dan kita ucapkan dari lisan kita semua ada konsekuensinya.

Allah telah berfirman dalam surat Al Isra' ayat 36 seperti berikut:

إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا

“... Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya”

 

Maashiral muslimin rahimakumullah

Mari sama-sama kita berusaha menjaga semua anggota tubuh kita dari kemaksiatan dan dosa.  Kita jaga pendengaran kita, penglihatan kita, mulut kita, tangan kita, dan kaki kita agar terjaga dari segala hal yang di larang oleh Allah, agar kita hidup dalam lindungan dan ridho Allah swt. Aamiin ya robbal alamiin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْأَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ، وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Kamu naenyaaa? Model rambut yang dilarang dalam Islam? Kamu bertanya-tanya...

Oleh: Misno Mohd Djahri


Cepmek adalah singkatan dari Cepak Mekar yang merupakan model rambut viral karena content kreatif dari Alif “Dilan”. Model rambut ini adalah pendeka di bagian kiri dan kanan serta Panjang dan mekar di bagian depan dan atas. Sebagai sebuah model rambut tentu sah-sah saja, namun Islam sebagai agama yang mengatur seluruh sendi kehidupan manusia termasuk potongan rambut yang dilarang dalam Islam, yaitu model Qaza’.

Larangan ini didasarkan kepada sabda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – نَهَى عَنِ الْقَزَعِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang qaza’.” HR. Bukhari dan Muslim.

Riwayat lainnya dari Ibnu ‘Umar mengatakan yang mengatakan:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنِ الْقَزَعِ. قَالَ قُلْتُ لِنَافِعٍ وَمَا الْقَزَعُ قَالَ يُحْلَقُ بَعْضُ رَأْسِ الصَّبِىِّ وَيُتْرَكُ بَعْضٌ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang qaza’.” Aku (Umar bin Nafi’) berkata pada Nafi’, “Apa itu qaza’?” Nafi’ menjawab, “Qaza’ adalah menggundul sebagian kepala anak kecil dan meninggalkan sebagian lainnya.” HR. Muslim.

Imam Nawawi dalam kita Syarh al-Muslim menjelaskan bahwa para ulama berijma’ (sepakat) bahwa qaza’ itu dimakruhkan jika rambut yang digundul tempatnya berbeda-beda (misalnya: depan dan belakang gundul, bagian samping tidak gundul) kecuali jika dalam kondisi penyembuhan penyakit dan semacamnya. Yang dimaksud makruh di sini adalah makruh tanzih (sebaiknya ditinggalkan). … Ulama madzhab Syafi’iyah melarang qaza’ secara mutlak termasuk laki-laki dan perempuan.”.

Imam Nawawi dalam kitab Al Majmu’ menjelaskan bahwa “Qaza’ dihukumi makruh. Yang dimaksud qaza’ adalah model rambut yang hanya menggundul sebagian rambut saja. Hal ini terlarang berdasarkan hadits sebelumnya.

Maksud dari qaza’ adalah menggundul sebagian rambut kepala (sebagian rambut kepala habis) dan membiarkan rambut yang lain. Ini sama persis dengan model rambut ‘mohawk’ saat ini. Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin menjelaskan bahwa qaza’ adalah menggundul (mencukur habis) sebagian rambut kepala dan membiar sebagian rambut yang lain. Di sini ada beberapa model:

1.     Mencukur habis secara berurutan, yaitu mencukur bagian samping kanan, lalu bagian samping kiri, bagian depan kepala dan tengkuknya.

2.     Mencukur habis bagian tengah dan membiarkan bagian sampingnya.

3.     Mencukur bagian sampingnya lalu membiarkan bagian tengahnya. Ibnul Qayyim menyatakan bahwa model ini seperti yang dilakukan oleh orang rendahan.

4.     Mencukur bagian depan dan membiarkan yang lain.

Hukum qaza’ adalah makruh, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat seseorang dalam keadaan rambutnya sebagian gundul, sebagian lainnya dibiarkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melarangnya. Beliau bersabda pada orang yang model rambutnya seperti itu, “Cukurlah seluruhnya. Atau biarkanlah seluruhnya.” Namun jika untuk mengikuti model orang kafir, berarti dihukumi haram. Karena tasyabbuh (mengikuti gaya) orang kafir adalah haram. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.”

Apabila kita melihat ada orang yang model rambutnya adalah qaza’, hendaknya kita perintahkan agar ia menggundul seluruh rambut kepalanya. Kemudian beri saran setelah itu, jika ingin mencukur rambut lagi, hendaklah mencukur seluruhnya atau membiarkan seluruhnya.

Adapun terkait dengan Model Cepmek atau Cepak Mekar maka dalam hal ini sebaiknya dihindari agar tidak terjatuh kepada larangan tersebut. Wallahu a’lam. 02122022.

Kamu naenyaaak? Kenapa harus Ekonomi Syariah?

Oleh: Bambang Sahaja


 

Kamu Naenyaak? Kenapa setiap muslim harus melaksanakan ekonomi syariah? Kamu bertanya-tanya kenapa riba tidak boleh dalam Islam? Aku jawab ya…

Seorang muslim adalah mereka yang tunduk patuh kepada seluruh aturan Allah Ta’ala, termasuk dalam melaksanakan aktifitas ekonomi. Kewajiban tunduk patuh ini didasarkan kepada pengertian dari Islam itu sendiri yaitu:

اْلإِسْلاَمُ: َاْلإِسْتِسْلاَمُ ِللهِ بِالتَّوْحِيْدِ وَاْلإِنْقِيَادُ لَهُ باِلطَّاعَةِ وَالْبَرَاءَةُ مِنَ الشِّرْكِ وَأَهْلِه

“Islam adalah berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, tunduk dan patuh kepada-Nya dengan ketaatan, dan berlepas diri dari perbuatan syirik dan para pelakunya.”.

Maka kalau kita mengaku sebagai muslim maka wajib tunduk patuh kepada seluruh aturannya, termasuk dalam aktifitas ekonomi sehari-hari.

Selanjutnya adalah bahwa sebagai muslim kita juga diperintahkan untuk masuk ke dalam Islam secara kaafah, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208).

Masuk Islam secara kaafah maknanya adalah melaksanakan seleuruh syariat Islam termasuk dalam kegiatan ekonomi. Pelaksanaan ini menjadi bukti ketaatan kita kepada Allah dan rasulNya, sebagaimmana firmanNya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍۢ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌۭ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. QS. An-Nisaa: 59.

Merujuk pada pengertian, ayat-ayat tersebut maka jawabannya sangat jelas bahwa kita sebagai seorang muslim wajib untuk tunduk patuh kepada syariat Allah Ta’ala, termasuk dalam aktifitas ekonomi yang telah diatur dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits Nabi serta dijelaskan oleh para ulama. Wallahu a’alam, 02122022.

Warna Dunia: Sepasang Manusia dalam Ikatan Hawa

Oleh: Misno Mohd Djahri

 


Dunia memang penuh dengan warna, bukan warna merah, putih dan yang lainnya, tetapi manusia dengan segala perilakunya. Hawa yang ada pada manusia telah membawa mereka kepada kembara rasa yang bahkan tidak terpikirkan oleh manusia-manusia sebelumnya. Mereka yang yang mengkuti hawa-nya hingga melakukan hal-hal yang tidak dilakukan oleh tumbuhan, hewan dan makhluk semesta. Tindakan yang membuat regenerasi manusia tidak akan terjadi selama ianya masih ada, bahkan hingga hari kiamat tiba.

Fenomena ini saya saksikan dengan mata kepala, ketika sepasang manusia hidup bersama, tanpa ikatan sempurna bahkan cenderung melanggar syariat Allah Ta’ala. Tulisan ini sekadar memberi sebuah gambaran nyata, bahwa beginilah warna dunia kita sekarang adanya. Dunia yang dipenuhi dengan banyak angkara murka hingga adzab Allah Ta’ala mengintai seluruh umat manusia. sekali lagi tulisan ini sekadar memberi sebuah gambaran, bagaimana manusia terbawa dengan hawanya, hingga menghalalkan segala cara bahkan melanggar syariatNya.

Sepasang anak manusia yang mengikat rasa dalam bingkai hawa, mungkin salah satunya karena kebutuhan harta hingga berada di bawah atap yang sama serta dalam satu ranjang berdua tanpa ikatan syariahNya. Suka sama suka, saling memiliki rasa dan merasa nyaman dengan pasangannya. Itulah alasan kenapa mereka berdua bisa bersama, walaupun semesta tidak mendukungnya. Latar belakang budaya yang berbeda, tingkat pendidikan tidak sama, hingga pemahaman keagamaan berlainan tidak lagi berpengaruh kepada keduanya. Mereka terbuai dalam rasa dunia, mengikuti hawa dan tenggelam dalam kenikmatan raga.

Sepasang manusia yang saya jumpa di selatan Jakarta bukanlah satu-satunya, ribuan bahkan jutaan manusia seperti keduanya. Mereka mengikat rasa dalam balutan hawa, kenikamatan raga serta tidak mengindahkan syariah Pemilik Semesta. Kebebasan orientasi rasa menjadi slogan perjuangan mereka, insting bercampur hawa menjadi pedoman utama, sementara sebagiannya hanya untuk mendapatkan harta sebagai penyambung hidup mereka. Jumlah mereka terus bertambah, karena perilaku ini terus merambah bukan hanya orang dewasa, tetapi generasi muda yang tidak mendapatkan Pendidikan agama.

Beginilah satu dari warna dunia sekarang ini adanya, sejatinya mereka ada dan terus bertambah jumlahnya. Ada yang terang-terangan memperjuangkan hak-haknya ada juga yang menyembunyikan hasratnya namun tetap terbelenggu hawa-nya. Sebagian hanya dalam ikatan rasa dalam rumah yang berbeda, tapi yang ada di depan mata dan berbagai cerita mereka dalam satu rumah bersama. Seperti pasangan dalam ikatan syariahNya, padahal ikatan rasa yang jelas tidak diridhaiNya.

Melihat ini adanya, maka sebagai manusia yang percaya akan keberadaan Allah Ta’ala dan yakin dengan syariahNya, maka amar ma’ruf nahi mungkar adalah solusi yang utama. tentu saja sesuai dengan kemampuan dan mempertimbangkan kemashlahatan yang ada. Tidak membabi buta yang mengakibatkan kemudharatan menimpa atau akan semakin banyak fenomena yang ada. Mengajak dengan penuh kebajikan dan melarang dengan penuh kebijakan adalah cara utama untuk memberikan kesadaran kepada mereka.

Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah kepada kita semua dan juga mereka yang masih terbelenggu dalam hawa dunia. Aammin Ya Rabal ‘aalamiin 02122022.  

Sahabat, Bilakah akan Taubat?

Oleh: Misno Mohd Djahri



Sahabat…

Kita sudah terlalu jauh melangkah di dunia penuh laknat

Sudah terlalu banyak kesalahan yang dituliskan oleh malaikat pencatat

Sudah tidak terkira bumi dan semesta yang ikut melaknat

Bahkan catatatan amal telah didominasi maksiat

 

Sahabat…

Hawa ini memang membelenggu begitu kuat

Hingga kealphaan terasa begitu nikmat

Jiwa dan raga tak kuasa menggeliat

Luluh dan rapuh bersaat-saat

 

Sahabat…

Bilakah masanya untuk bertaubat?

Menunggu raga tak lagi berurat

Atau jiwa tak lagi semangat

Jangan menjawab bila kiamat makin mendekat

 

Sahabat….

Aku sangat paham, ini begitu berat

Karena aku pun terlilit-lilat

Melanggar taat  

Tanpa derajat di sisi syariat

 

Sahabat…

Sejatinya pertanyaa ini adalah untuk diri yang masih sesat

Diriku dan dirimu yang masih belum menepat

Syariah Ar Rahman yang penuh rahmat

Buat hati karena jerat

 

Sahabat…

Kuatkan hati dan juga niat

Untuk mengakhiri perilaku yang lewat

Kuatkan terus dan terus perkuat

Hingga ajal datang mendekat

 

Sahabat…

Semoga akhir kehidupan kita penuh dengan taat

Hidup di bawah lindungan syariat

Mendapat ridha dan juga rahmat

Hingga akhir hayat.

 

Saat Jumat Tamat, 02122022.  

Senin, 21 November 2022

Gempa dan Ujian Keimanan Hamba

Oleh: Misno


 

Senin, 21 Nopember 2022 Pukul 13.21 WIB telah terjadi gempa dengan pusat gempa di wilayah Cianjur Jawa Barat. Getarannya terasa hingga ke beberapa wilayah di sekitarnya, yaitu; Bandung, Sukabumi, dan wilayah Jabodetabek. Bogor sebagai wilayah yang bersebelahan dengan Cianjur merasakan getaran yang sangat kuat, bahkan pintu dan lampu ruang tamu di rumah penulis bergerak-gerak. Tidak lama berselang berita tentang gempa ini mewarnai media yang melaporkan kejadian dan korban yang mulai berjatuhan.

Sebagai orang beriman kita harus meyakini bahwa gempa dan gejala alam lainnya adalah kuasa dari Allah Ta’ala. Ia bisa menjadi teguran, peringatan, cobaan dan hukuman bagi umat manusia, sehingga kehadirannya menjadi salah satu alat ukur keimanan seorang hamba.

Ketika bumi di mana kita berpijak bergerak karena gempa, di sanalah sejatinya fitrah seorang hamba muncul dengan kekuataan dari Allah Ta’ala sebagai Sang Pencipta dan Penguasa alam semesta. Seorang hamba sama sekali tidak memiliki kuasa untuk menahan atau sekadar bertahan dari getaran karena gempa. Bahkan manusia begitu lemah ketika tanah ini bergerak sesuai dengan kuasaNya. Bahkan ilmu pengetahuan hingga saat ini belum bisa memprediksi kapan gempa itu terjadi. Akibatnya, manusia harus pasrah dengan segala kuasaNya, khususnya ketika berbagai gejala alam menimpa.

Gempa menjadi satu ujian bagi keimanan hamba, karena dengannya manusia akan tersadar bahwa ia adalah makluk yang lemah yang tidak memiliki kekuatan sama sekali. Bahkan untuk berpijak saja ia harus berusaha sekuat tenaga ketika getaran gempa melanda. Apalagi jika getaran itu begitu kuat hingga mencapai 8-10 skala richter, tentu manusia akan banyak yang menjadi korbannya.

Maka, adanya gempa memberikan banyak pelajaran kepada hamba tentang keberadaan dari Allah Ta’ala sebagai Pencipta, Pemilik dan Pengatur alam semesta. KuasaNya atas makhlukNya tidak bisa ditandingi oleh apapun jua, Dia-lah Sang Pemilik Mutlak dan satu-satunya Sesembahan (Ilaah) yang berhak untuk disembah dan diibadahi. Dia berkehendak sesuai dengan keagunganNya dan semua kehendaknya adalah baik (mashlahat) bagi semua makhlukNya.

Jika demikian adanya, maka gempa ini menjadi salah satu ukuran bagi keimanan hamba, agar senantiasa untuk tunduk patuh di bawah syariahNya. Jangan pernah sombong dengan segala ilmu pengetahuan dan kekuatan yang ada pada manusia, karena semua itu tidak ada apa-apanya di sisi kuasaNya. Semoga Allah Ta’ala sentiasa memberikan kekuatan iman kita sehingga apapun yang terjadi di alam semesta menjadi sarana dalam mendekatkan diri kepadaNya. Kepada para korban yang mengalami gempa ini semoga diterima amal ibadah dan Islamnya bagi yang meninggal dunia dan kekuatan keluarga yang ditinggalkan. Bagi yang mengalami kerugian harta semoga diganti oleh Allah Ta’ala dengan ganti yang lebih baik dan berlipat ganda… Aamiin… 21112022.  

 

 

Kamis, 17 November 2022

Sahabat Dunia Akhirat

Oleh: Abu Aisyah


Sahabat... 

Izinkan aku mengungkapkan segala rasa

Rasa yang selalu menyelimuti jiwa

Jiwa yang terbelenggu oleh awa

Hawa dunia dan segala kenikmatannya. 

 

Sahabat... 

Sudah sekian lama kita bersama

Bersama dalam suka dan duka

Duka dan suka mewarnai masa-masa penuh bahagia

Bahagia dalam ikatan rasa

Rasa yang terkadang membawa murkaNya. 

 

Sahabat... 

Berbagai peristiwa telah kita lewati

Dari canda ria hingga saling buruk sangka

Dari saling mengasihi hingga terkadang saling membenci

Dari kata kata berbunga-bunga hingga kata-kata penuh hujatan adanya

 

Sahabat... 

Mungkin sekarang sudah masanya

Untuk mengembalikan makna persahabatan

Bukan hanya karena munculnya kata-kata yang menyakitkan

Tapi lebih pada harapan yang dulu pernah aku ungkapkan

 

Sahabat... 

Tentu masih ingat

Ketika aku berucap penuh semangat

Akan segera meninggalkan perilaku terlaknat

Yang membawa nikmat sesaat tapi penyesalan sepanjang hayat

 

Sahabat... 

Mungkin sekarang saatnya

Memperbaiki hubungan kita

Agar selalu mendapat ridhaNya

Meninggalkan semua rasa 

Yang membawa kemurkaan Sang Pencipta. 

Melawan rasa yang selalu bergejolak di dada

Rasa yang selalu bertaburbl hawa manusia

 

Sahabat... 

Berat memang terasa

Menahan hawa yang selama ini ada

Mungkin hingga akhir masa

Ketika jiwa terpisah dari raga

Semoga aku kuat menjaganya

 

Sahabat

Mari perbaiki hubungan kita

Hubungan yang diridhaiNya

Bersama saling berwasiat dalam ketaatan

Saling memberi nasehat dalam kebajikan

Semoga menjadi akhir kehidupan

Akhir yang indah di bawah syariahNya

Hingga menutup mata 

Kemudian dibangkitkan tanpa alpha

dan bersama di surgaNya

Aamiin... 

 

Cipali, Shubuh Pagi 17112022.


Selasa, 08 November 2022

Kukira Purnama Satu Adanya…

Oleh: Misno Abu Aisyah

 


Hawa begitu kuat memengaruhi setiap aliran darah dan persendian manusia, hingga menjadikan segala yang ada indah adanya. Keindahan yang sangat relatif yang dipengaruhi oleh masa lalu dan preferensi yang dibangun dalam dada setiap manusia. Keindahan yang nampak oleh setiap manusia akan berbeda-beda, hingga tidak ada kata sepakat dalam melihat cantik atau gagah-nya seorang manusia. Dorongan hawa-nya semakin menghiasi diri manusia hingga tanpa sadar dia mengucapkan “Betapa sempurna makluk ciptaanNya” bahkan ketika melihat muka yang bulat laksanan rembulan ia berbisik “Kukira Purnama satu adanya, ternyata ada dua dengan wajah tuan yang bercahaya melebihi purnama”.

Kata-kata yang penuh dengan pujian, yang ditujukan pada sang pujaan yang begitu menawan. Ini bukan hegemoni muda-mudi, tapi selalu hadir dalam diri setiap insani. Bahkan pada mereka yang telah setengah baya atau yang kain kafannya telah dilipat di pabriknya. Ya… pesona manusia bagi manusia lainnya memang membawa rasa luar biasa, hingga sulit dipisahkan antara cinta dan hawa. Bercampur saling memberi rasa, pesona raga yang dibumbui dengan “cinta” ala kadarnya, selalu ada bersama dengan eksistensi manusia.

Tentu tidak munafik ketika kita mengakuinya, melihat wajah bulat bercahaya yang penuh dengan pesona, atau melihat tampang rupawan yang menggoda iman dalam jiwa dan raga. Bahkan diri kita sering takluk di bawahnya, hingga mengorbankan segalanya untuk sekadar merasakan pesonanya. Sekali lagi, ini buka hanya mereka yang usia muda tapi jiwa-jiwa muda yang terperangkap dalam jasad yang sudah renta. Karena sejatinya jiwa manusia tidak pernah berubah, hanya jasad yang takluk dengan hukum alam di dunia.

Jika demikian adanya, bagaimana sejatinya kita menyikapinya? Apakah terus terpesona dengan cahaya di wajahnya, atau menunduk malu dengan waktu yang terus memburu? Atau berlari meninggalkan semua itu dan bersujud dalam mihrab keharibaanMu? Dunia dan segala isinya adalah karunia Allah Ta’ala, termasuk wajah-wajah penuh pesona yang selalu menggetarkan jiwa  dan raga. Memandangnya dengan penuh hawa tentu bukan hal utama, tetapi sejenak menatap kemudian menunduk malu dengan Sang pemilik Waktu, itulah yang seharusnya dilakukan manusia. Jangan kotori pandangan ini dengan hal-hal yang membuat mata hati menjadi buta, hingga tidak tahu mana yang boleh dilihat dan mana yang membawa mudharat.

Maka, “Kukira Purnama satu adanya, semoga purnama yang kedua bisa menyinari di akhirat sana”. Purnama yang abadi dan menjadi milik pribadi tanpa batas masa. Wahai pemilik wajah bak purnama, bersabarlah karena engkau akan menjadi milik, ketika kita mampu mengelola pandangan ini. Semoga kita bisa berjumpa di surgaNya, di mana setiap wajah bercahaya dan akan banyak purnama di sana… Semoga. 08112022.