Senin, 05 Desember 2022

Khutbah Jumat: Tiga Warisan Rasulullah Kepada Ummat

Oleh: Ust. Nurhadi, S.Sos.I., M.H.

 


Ma`asyiral Muslimin Rahimakumullah

Sebagai wujud rasa syukur kita kepada Allah Subhanahu Wata’ala, marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu Wata’ala dengan sebenar-benar keimanan dan sebaik-baik ketakwaan, dengan berserah diri, tunduk dan patuh terhadap syariahnya, dengan menjalankan apa pun yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala dan berupaya dengan sungguh-sungguh untuk menjauhi apa pun yang dilarang- Nya, sebab dengan jalan takwa inilah Allah menjanjikan kemuliaan bagi hamba-hamba-Nya sebagaimana terfirman dalam Al-Qur’an.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍۢ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًۭا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۭ

Artinya, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu” (QS Al- Hujurat: 13).

 

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Pada khutbah jum’at ini akan menyampaikan tentang “Tiga Warisan Rasulullah kepada Ummat”.

Diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabrani bahwa pada suatu pagi, Abu Hurairah pergi ke sebuah pasar. Di situ beliau melihat sebagian orang tenggelam dalam aktivitas bisnis. Mereka asyik melakukan transaksi jual-beli. Abu Hurairah ingin mengingatkan mereka agar tidak sibuk dalam masalah duniawi saja dengan melupakan urusan akhirat. “Wahai penghuni pasar, alangkah lemahnya kalian.” Mereka            bertanya            penasaran,       “Apa    maksudmu,     wahai  Abu Hurairah?” “Itu, warisan Rasulullah sedang dibagikan sementara kalian masih di sini. Mengapa kalian tidak pergi ke sana untuk mengambil jatah kalian?” “Di mana?” Abu Hurairah menjawab: “Di masjid.” Maka mereka keluar dengan cepat. Abu Hurairah berdiri menjaga barang mereka sampai mereka kembali. Setelah para penghuni kembali dari masjid, Abu Hurairah bertanya, “Ada apa dengan kalian?” Mereka menjawab, “Wahai Abu Hurairah, kami telah datang ke masjid, kami masuk ke dalamnya tapi tidak ada yang dibagi.”

Abu Hurairah bertanya, “Apa kalian tidak melihat seseorang di masjid?” Mereka menjawab, “Kami melihat orang-orang yang shalat, membaca Al-Qur’an, dan orang yang mempelajari halal- haram.” Abu Hurairah berkata, “Celaka kalian, itulah warisan Nabiyullah Muhammad Salallahu Alaihi Wassalam.

 

Hadirin Rahimakumullah

Riwayat di atas memberi banyak pelajaran berharga tentang pentingnya memburu warisan yang telah diwariskan oleh Nabi Muhammad. Bukan harta, uang, kendaraan, rumah, atau dinar yang menjadi warisan. Tapi warisan itu berupa mengerjakan shalat, membaca Al-Qur`an, dan mempelajari halal-haram.

 

Warisan pertama adalah shalat.

Shalat merupakan tiang agama. Shalat menjadi amal yang pertama kali dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Rasul menggambarkan seorang mukmin yang menunaikan shalat wajib seperti orang yang mandi sebanyak lima kali dalam satu hari. Ia akan selalu berada dalam keadaan bersih, bersih dari noda dan kotoran, dosa-dosanya rontok seiring bacaan dan gerakan shalatnya. Dalam shalat ada komunikasi dan dialog dengan Tuhan, momentum untuk menumpahkan segala asa dan perasaan, bersimpuh sujud, memohon petunjuk, dan hidayah-Nya. Dinamakan shalat, kata Habib Alwi bin Shahab, karena ia adalah shilah (penghubung) antara seorang hamba dengan Tuhannya. Jika shalatnya terputus, maka hubungan seorang hamba dengan Tuhannya menjadi terputus juga.

Sayangnya, tidak sedikit umat Islam yang meremehkan waktu- waktu shalat, ada yang menunda dalam melaksanakannya, tidak bersungguh-sungguh, hanya sekadar menggugurkan kewajiban, dan bahkan sampai pada taraf meninggalkannya. Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad mengatakan, “Di antara perbuatan yang bisa menyebabkan kematian yang buruk (su`ul khatimah) adalah meninggalkan shalat.”

 

Hadirin Rahimakumullah

Warisan kedua dari Rasulullah Salallhhu alaihi wasallam adalah membaca Al-Qur`an. Al-Qur`an merupakan kitab rujukan utama. Tidak ada satu kitab pun di dunia ini yang lebih indah susunan kata- katanya, Tidak ada satu kitab pun di dunia ini yang jelas dalam memberikan keterangan, Tidak ada satu kitab pun di dunia ini yang mencakup segala aspek kehidupan, Tidak ada satu kitab pun di dunia ini yang bersih dari tangan-tangan jahil, kecuali Al-Qur`an

yang terjaga dan di jamin kebenrannya.

ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًۭى لِّلْمُتَّقِينَ

Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (QS. Al Baqarah : 2)

 

Ma’ashiral muslimin rahimakumullah

Sangat di sayangkan, saat ini, seiring dengan perkembangan dunia digital, saat gadged sudah menjamur di tangan-tangan manusia, membaca Al Qur`an semakin terpinggirkan, kalah riuh oleh asyiknya bermain game online atau mendengarkan musik. Anak- anak kita lebih pandai melantunkan lirik-lirik lagu dan lincah menggerakkan jari-jemari untuk bermain game di abdningakn dengan mebuka al Qur’an dan membacanya.

Di sisi lain, orang tua lebih sibuk untuk membuat putra-putri mereka sukses di dunia daripada memikirkan kehidupan mereka selepas mereka hidup dunia ini. Al-Qur`an menjadi perhatian hanya di masa bangku sekolah dasar, itupun cukup di TPQ. Sementara itu, para orang tua tidak merasa bersalah ketika mereka tidak memberi contoh membaca Qur`an karena ketidakmampuannya.

Selepas sekolah dasar, anak-anak tak lagi berhasrat atau tidak dimotivasi untuk memperdalam Al Qur`an. Mereka dikondisikan untuk lebih fokus dengan materi pelajaran yang tidak seimbang antara kebutuhan spiritual dan intelektual. Sayidina Abdulah bin Mas`ud pernah berkata, “Jika kalian menginginkan ilmu, maka sebarluaskan Al-Qur`an sebab di dalamnya tersimpan ilmu orang- orang terdahulu dan yang akan datang.”

 

Ma’ashiral muslimin rahimakumullah

Warisan ketiga adalah mengetahui status halal-haram. Warisan terakhir ini memberi hikmah kepada kita tentang pentingnya mengenal status halal-haramnya suatu barang, makanan, atau perbuatan yang akan kita lakukan. Sikap kehati-hatian dalam halal- haram tampak dari sikap Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Suatu hari, usai kembali dari pasar beliau meminum segelas susu. Beliau meminum susu tersebut tanpa curiga sedikit pun tentang asal-usul segelas susu tersebut. Saat itu, pembantu beliau masuk rumah dan menyaksikan tuannya telah menghabiskan segelas susu yang dia letakkan di atas meja, selanjutnya ia berkata, “Ya Tuanku, biasanya sebelum engkau memakan dan meminum sesuatu pasti menanyakan lebih dulu asal makanan dan minuman tersebut, mengapa sewaktu meminum susu tadi engkau tidak bertanya sedikit pun tapi langsung meminumnya? Dengan rasa kaget Abu Bakar bertanya, “Memangnya susu ini dari mana?” Pembantunya menjawab, “’Begini, ya Tuanku, pada zaman jahiliyah dulu dan sebelum masuk Islam, saya adalah kahin (dukun) yang menebak nasib seseorang. Suatu kali setelah saya ramal nasib seorang pelanggan, dia tidak sanggup membayar karena tidak punya uang, tapi dia berjanji suatu saat akan membayar. Tadi pagi saya bertemu di pasar dan dia memberikan susu itu sebagai bayaran untuk utang yang dulu belum sempat dia bayar.”

Mendengar itu, Abu Bakar memasukkan jari telunjuknya ke dalam mulut agar muntah. Beliau berusaha untuk mengeluarkan susu tersebut dari perutnya tanpa tersisa sedikit pun. Beliau sampai pingsan karena berusaha memuntahkan seluruh susu yang telanjur beliau minum, lalu berkata, “Walaupun saya harus mati karena mengeluarkan susu ini dari perut saya, saya rela. Saya mendengar Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam bersabda, “Setiap daging yang tumbuh dari sumber yang haram maka neraka adalah tempat yang pantas baginya.”

 

Saudara-saudaraku seiman seagama rahimakumullah

Baik makanan, pakaian atau apaun yag kita manfaatkan untuk kehidupan kita jika dari sumber maupun jenisnya haram, itu dapat menjadikan kita celaka, menjadikan doa-doakita tertolak bahkan yang lebih bahayanya lagi dapat menjadi perantara manusia ke neraka.

 

Kaum Muslimin yang Dimuliakan Allah

Ketiga warisan Nabi yaitu menunaikan shalat, membaca Al-Qur`an, dan mengetahui hal-hal yang halal dan haram, merupakan warisan yang harus kita jaga dengan sungguh-sungguh. Shalat tepat pada waktunya dengan berjama`ah, membaca Al Qur`an sesuai ilmu tajwidnya lalu berusaha memahami dan mengamalkannya, dan mengetahui status halal-haram pada suatu barang dengan tepat dan teliti.

Jika warisan duniawi begitu disukai meski bersifat sementara, yang akan sirna seiring berlalunya waktu, maka tiga warisan di atas harus lebih kita utamakan dari masa ke masa, karena ketiga warisan ini akan mendatangkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Semoga kitab bisa menjaga warisan Rasulullah ini dan tidak meninggalkannya, menjadikan warisan ini sebagi amaliayah kita di dunia ini sebagi bekal kehidupab kita kelak di akhirat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Please Uktub Your Ro'yi Here...