Rabu, 28 Desember 2022

Begitu Syuulit, Lupakan Reihan: Antara Hati dan Hawa

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri

 


Sebuah video viral beredar di media sosial, seorang perempuan berwajah chubby dengan hijab warna krem sedang mengucapkan kata-kata “Begitu Syulit lupakan reihan, apalagi reihan baiiik”. Mimik muka yang begitu dekat dengan kamera dengan penggunaan kata-kata yang khas ketika mengucapkan kata “sulit” menjadi “syyuulit” justru menjadi kekhasan dari viralnya video pendek ini. Bagaimana dengan isi dari syair dalam lagunya ini?

Manusia sering sekali berada pada dua sisi yang saling berlawanan, antara hati dan juga hawa. Apalagi pada usia di mana seorang manusia sedang tumbuh dewasa, ini adalah fase untuk mencari jati diri dan menuju manusia seutuhnya. Pada fase inilah rasa ketertarikan kepada orang lain tumbuh, rasa suka atau cinta muncul dengan sendirinya. Tidak hanya pada lawan jenis bahkan pada sesame jenis juga muncul tidak terbendung. Menyukai, mencintai dan kagum dengan seseorang sejatinya adalah sesuatu yang wajar, masalah hati memang tidak bisa dibohongi. Namun, apakah ini adalah suara hati? atau hawa yang mulai merasuk ke dalam sukma menyebar ke seluruh sendi raga?

Rasa suka ini seringkali terjebak dalam tampilan fisik dan kilasan budi baik yang kemudian membius manusia. hal ini ditambah dengan taburan hawa yang memang selalu mengajak kepada hal-hal yang disukai oleh manusia namun dimurkai Sang Pencipta. Suka dengan seseorang seringkali karena fisiknya yang gagah rupawan atau cantik jelita, lagi-lagi fisik selalu menjadi ukuran utama. Kalaupun mengatakan baik itu sekadar sekilas mata memandang, yang juga ditaburi hawa manusia. Walaupun tidak menampik pula adanya cinta yang sebenarnya yang terjadi di antara manusia, namun jarang adanya.

Ketika rasa suka dan cinta ditambah dengan hawa ada pada manusia makai a akan selalu mengingat orang yang disukainya. Tiada hari tanpa mengingatnya, menyebutnya dan selalu ingin dekat dengannya hingga akan sulit untuk melupakannya. Semua kebaikannya akan selalu diingat, bahkan pertolongan kecil dan ucapannya akan selalu terlalu di telinga. Semua yang ada pada dirinya indah adanya, hingga menurut orang lain adalah cela, baginya anugerah luar biasa. Baginya semua yang ada pada orang yang disukainya adalah sempurna, tanpa cela dan akan selalu menjadi ingatan, pandangan dan rasa utama.

Apabila sudah sampai tahap ini, maka hendaknya mengatur diri, mengelola jiwa dan memperhatikan secara seksama, apakah ini cinta atau hawa yang membara? Sulit membedakan antara cinta dan hawa, karena keduanya memang seirng sekali datang secara bersama. Cinta adalah anugerah dari Allah ta’ala, mencintai orang lain dengan sepenuh jiwa dan raga menjadi fitrah dari manusia dan tidak ada salah untuk merasakannya. Hawa (nafsu) juga adalah fitrah manusia, yaitu rasa kepada seseorang untuk memiliki dan menikmatinya, ia cenderung negatif karena biasanya terjebak dengan pesona fisik dan raga. Hawa nafsu manusia selalu mengajak kepada keburukan, hingga kita harus mampu untuk mengelolanya.    

Rasa suka, cinta dan kagum kepada seseorang adalah fitrah manusia, namun ia harus selalu berada di jalanNya. Kecintaan yang didasari oleh syariah Allah Ta’ala kemudian dibina di atasnya serta memiliki tujuan utama yaitu mendapatkan ridha dari Allah azza wa jalla.  Hawa nafsu manusia juga merupakan kuasaNya, hingga kita sebagai manusia harus mampu untuk mengelolanya agar tidak liar membawa kepada jalan kebinasaan. Namun, kembali ke syair lagu di atas “Begitu Syuulliit" untuk melakukannya karena kita adalah manusia. Walaupun demikian, kita harus terus berusaha menjaga cinta dan mengelola raga agar selalu berada dalam naungan syariahNya. Semoga…. Pagi di Ujungmanik, 28122022.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Please Uktub Your Ro'yi Here...