Sabtu, 31 Desember 2022

Perayaan Tahun Baru di Berbagai Peradaban Dunia

Oleh: Misno bin Mohammad Djahri


 

Perayaan Tahun Baru tidak hanya pada tahun baru masehi, berbagai peradaban dunia mengenal perayaan tahun baru sesuai dengan kepercayaan dan peradaban masing-masing. Tidak hanya peradaban besar dunia, namun juga peradaban lokal juga memiliki perayaan tahun baru sesuai dengan budaya yang mereka jalankan. Bagaimana sejarah dari perayaan tahun baru di berbagai peradaban?

 

Perayaan Tahun Baru di Timur Tengah

Sejak tahun 2000 Sebelum Masehi (SM) di Timur Tengah telah muncul perayaan tahun baru. Perayaan ini dilakukan oleh masyarakat Mesopotamia yang merayakan pergantian tahun saat matahari tepat berada di atas katulistiwa, yaitu 20 Maret. Hingga kini, para bangsa Persia masih merayakan tahun baru pada tanggal 20, 21, atau 22 Maret, yang disebut Nowruz. Hal ini menandakan dimulainya musim semi. Nowruz adalah tradisi 3.000 tahun yang unik dan tradisi festival tertua di dunia. Negara-negara yang merayakan Nowruz di antaranya yaitu Iran, Afghanistan, Azerbaijan, Kazakhstan, Pakistan, Turki, dan Uzbekistan.

 

Perayaan Tahun Baru di China

China sebagai peradaban besar dan tua merayakan tahun ketika matahari terbenam di bulan baru dalam tanda Aquarius (akhir Januari atau awal Februari). Perayaan tahun baru imlek dimulai pada hari pertama bulan pertama (Hanzi: 正月; pinyin: zhēng yuè) di penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh (十五暝 元宵節) pada tanggal ke-15 (pada saat bulan purnama). Malam tahun baru imlek dikenal sebagai Chúxī (除夕) yang berarti "malam pergantian tahun". Di Tiongkok, adat dan tradisi wilayah yang berkaitan dengan perayaan tahun baru Imlek sangat beragam. Namun, kesemuanya banyak berbagi tema umum seperti perjamuan makan malam pada malam tahun baru, serta penyulutan kembang api. Meskipun penanggalan Imlek secara tradisional tidak menggunakan nomor tahun malar, penanggalan Tionghoa di luar Tiongkok sering kali dinomori dari pemerintahan Huangdi. Setidaknya sekarang ada tiga tahun berangka 1 yang digunakan oleh berbagai ahli, sehingga pada tahun 2017 Masehi, "Tahun Tionghoa" dapat jadi tahun 4715, 4714, atau 4654.

Kalender suryacandra Tionghoa menentukan tanggal tahun baru Imlek. Kalender tersebut juga digunakan di negara-negara yang telah mengangkat atau telah dipengaruhi oleh budaya Han (terutama di Korea, Jepang, dan Vietnam) dan mungkin memiliki asal yang serupa dengan perayaan Tahun Baru di luar Asia Timur. Dalam kalender Gregorian, tahun baru Imlek jatuh pada tanggal yang berbeda setiap tahunnya, antara tanggal 21 Januari sampai 20 Februari. Dalam kalender Tionghoa, titik balik mentari musim dingin harus terjadi pada bulan 11, yang berarti tahun baru Imlek biasanya jatuh pada bulan baru kedua setelah titik balik mentari musim dingin (dan kadang yang ketiga jika pada tahun itu ada bulan kabisat). Di budaya tradisional di Tiongkok, lichun adalah waktu solar yang menandai dimulainya musim semi, yang terjadi sekitar 4 Februari.

 

Perayaan Tahun Baru Ibrani dan Yahudi

Menurut kalender Ibrani, tahun baru didasarkan pada 12 bulan lunar (13 dalam tahun-tahun tertentu) dari 29 atau 30 hari. Hari tahun baru Yahudi atau Rosh Hashanah dapat jatuh kapan saja dari 6 September hingga 5 Oktober dalam kalender Gregorian. Rosh Hashanah (bahasa Ibrani: ראש השנה) secara etimologis berarti "permulaan tahun". Hari raya ini adalah satu dari 4 perayaan tahun baru yang dilakukan oleh orang Yahudi. Hari raya ini juga sering kali disebut sebagai Yom Teruah (bahasa Ibrani: יום תרועה‎ Hari Meniup Serunai Shofar), Yom Hazikarom (Hari Mengingat), Yom Hadim (Hari Penghakiman), atau Ianim Nora'im (Hari Pertobatan Sepuluh Hari). Dirayakan setiap tanggal 1 dan 2 bulan Tishrei, bulan ke-7 dalam Kalender Yahudi (Bulan ke-1 adalah Nisan), mendahului hari raya Yom Kippur yang diperingati tanggal 10 Tishrei. Biasanya dalam kalender Masehi, jatuh sekitar bulan September-Oktober.

Perayaan ini adalah perayaan tahun baru yang dirayakan dengan meriah dan penuh khidmat. Selain memperingati mengenai hari penciptaan alam raya, pada hari ini juga diperingati hari kiamat. Rosh Hashanah dipercayai sebagai hari Sabat pertama pada saat penciptaan dunia iini dilakukan. Hari raya ini dilangsungkan selama dua hari. Pada perayaan ini, ada kebiasaan untuk memakan roti yang dicelupkan pada madu (biasanya dicelupkan pada garam). Hal ini melambangkan harapan untuk tahun baru yang baik dan "manis". Ciri khas lainnya dari perayaan ini adalah ditiupnya serunai yang disebut shofar sepanjang hari di sinagoge sebagai tanda perayaan.

 

Perayaan Tahun Baru Umat Islam

Kalender Islam (Hijr) lebih banyak digunakan didasarkan pada 12 bulan lunar yang terdiri dari 29 atau 30 hari; dengan demikian bahwa hari tahun baru Islam secara bertahap mundur melalui kalender Gregorian yang lebih panjang.  Maka, Bulan Muharam merupakan awal tahun yang diperingati oleh Sebagian umat Islam sebagai tahun baru Islam. Walaupun beberapa ulama menganggap sebagai sesuatu yang muhdats (sesuatu yang baru dalam agama yang tidak ada syariahnya dan dilarang untuk dilakukan) karena tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam dan para shahabatnya. Sebagian lainnya menganggap sebagai adat yang berkembang di masyarakat muslim, ada juga yang menganggapnya tasyabuh (menyerupai) dengan perayaan tahun baru lainnya.

Lepas dari semua itu, maka apabila perayaan tahun baru Islam diniatkan untuk meniru perayaan tahun baru agama lainnya maka hal ini tidak diperbolehkan. Adapun sekadar mengambil hikmah dari peristiwa hijrah nabi yang menjadi awal bagi tahun hijriyah maka tidak mengapa.

 

Perayaan tahun Baru dalam agama Hindu

Tahun baru Hindu dimulai pada hari setelah bulan baru pertama atau setelah ekuinoks musim semi. Hari Raya Nyepi merupakan perayaan Tahun Baru Hindu yang dihitung berdasarkan penanggalan kalender saka yang dimulai pada tahun 78 masehi. Nyepi adalah hari suci umat Hindu yang dirayakan setiap Tahun Baru Saka. Hari ini jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (IX) yang merupakan hari penyucian dewa-dewa yang berada di pusat samudera yang membawa intisari amerta air hidup. Untuk itu umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap mereka. Hari Raya Waisak, bersamaan dengan Hari Suci Nyepi, ditetapkan sebagai hari libur nasional berdasarkan Keputusan Presiden Indonesia Nomor 3 tahun 1983 tanggal 19 Januari 1983.

Bagi umat Hindu, Nyepi menjadi tonggak untuk insaf dan sadar diri. Perayaan hari raya Nyepi memberikan inspirasi kepada pemeluknya untuk selalu menjaga keharmonisan hidup sebagai jalan menuju kebahagiaan. Dalam Tri Hita Karana (tiga penyebab kebahagiaan), umat Hindu diajarkan bahwa sraddha bhakti pada Tuhan/ Hyang Widi Wasa, harus juga diwujudkan dengan menjaga keharmonisan dengan sesama, serta menjaga hubungan yang harmonis dengan alam lingkungan sekitar.  

 

Perayaan Tahun Baru Masehi

Perayaan Tahun Baru masehi pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah Mesir, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir kuno. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari.  Nama Januari diambil dari nama dewa dalam mitologi Romawi, yaitu Dewa Janus yang memiliki dua wajah yang menghadap ke depan dan belakang. Penduduk Romawi meyakini bahwa Dewa Janus adalah dewa permulaan sekaligus dewa penjaga pintu masuk. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh pada tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus. Tahun Masehi baru dihitung dan ditetapkan sejak kelahiran Isa Al-Masih dari Nazaret, yang mulai diadopsi di Eropa Barat pada sekitar abad ke-8. Sejak itu lah setiap tanggal 31 Desember malam akan dilakukan malam pergantian tahun baru dengan segala perayaan yang dilakukan negara-negara di seluruh belahan dunia.

 

Perayaan Tahun Baru Kebudayaan Lokal

Sebagaimana peradaban besar lainnya, maka kebudayaan lokal juga memiliki perhitungan kalemnder tersendiri sehingga memiliki tahun baru sendiri pula. Perayaan atas penyambutan tahun baru pada kebudayaan lokal dilakukan sesuai dengan budaya yang dilaksanakan oleh masyarakat yang menganutnya. Misalnya perayaan tahun baru di Jawa pada tanggal 1 Suro dilaksanakan dengan melakukan berbagia ritual persembahan yang sudah tarakulturasi dengan budaya Islam. Demikian pula perayaan tahun baru Sunda juga dirayakan oleh masyarakat sunda dengan berbagi budayanya. Kebudayaan lainnya di Indonesia dan dunia juga memiliki cara sendiri dalam merayakan tahun barunya masing-masing.

Maka kesimpulan dari tulisan ini adalah bahwa perayaan tahun baru merupakan budaya yang lahir dari peradaban yang diciptakan oleh masyarakat yang banyak dipengaruhi oleh agama dan kepercayaan mereka. Kalaupun ada perayaan tahun baru yang paling populer yaitu perayaann tahun baru masehi maka ini lebih kepada banyak bangsa dan negara yang menggunakan kalender Gregorian sehingga mereka ikut merayakannya. Wallahua’lam, 31122022.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Please Uktub Your Ro'yi Here...