Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Maret 2022

AKU MERASA ORANG TER-SENGSARA DI DUNIA

Oleh: Misno Mohd Djahri

 


Allah Ta’ala menciptakan semua makhlukNya bersamaan dengan takdir yang ada pada mereka, sehingga setiap makhluk termasuk manusia sudah memiliki takdirnya masing-masing. Namun bukan berarti manusia hanya mengikuti takdir tanpa adanya usaha, ia memiliki kehendak dan usaha agar kehidupannya menjadi terus lebih baik, tentunya usahanya itu tidak lepas dari takdir Allah Ta’ala. Jika dalam hidupnya manusia mendapatkan segala yang diinginkannya, kebahagiaan selalu ada hidup hidup terasa paling Bahagia di dunia. Namun bagaimana jika sebaliknya, hidup terasa termiskin sedunia, tersengsara di dunia, hingga merasa kehidupannya penuh dengan duka nestapa sejak awal lahirnya hingga akhir usia?

Inilah kisah seorang teman yang hidupnya penuh dengan penderitaan, sejak awal kelahiran hingga saat sekarang. Awal kisah hidupnya adalah ketika hadir ke alam dunia, di mana Sang Ayah yang seharusnya menimang-nimangnya ternyata sudah lebih dulu meninggal dunia. Bahkan tidak lama kemudian ibunda ternyata menyusul ke alam baka, hingga yatim piatu harus dirasakannya. Hidup diasuh oleh saudara dari orang tua yang tidak memiliki rasa sayang yang sebenarnya menyebabkannya harus selalu diexploitasi tenaganya. Membantu bekerja dari pagi hingga senja dengan jatah makanan seadanya menjadi kisah kehidupan kesehariannya. Hal ini semakin diperparah oleh musibah yang menimpanya ketika berusia 8 tahun, beberapa orang yang tidak dikenalnya menggagahinya hingga ia pingsan beberapa saat lamanya.

Usia anak yang seharusnya penuh dengan kebahagiaan bersama kedua orang tua tidak pernah dirasakannya, bahkan ia harus bekerja sebagai ganti rugi makanan dan tempat tinggal yang sejatinya tidak sepadan dengan tenaga yang dikeluarkannya. Usia sekolah yang juga semestinya diisi dengan kegiatan belajar dan mengulang pelajaran tidak pernah dirasakannya, bahkan terlambat masuk sekolah dan mengantuk di kelas menjadi kebiasaannya karena kerja hingga larut malam. Masih di lingkungan sekolah, dia berkali-kali mendapatkan cemoohan, bullying dan pelecehan dari teman-temannya. Hal yang lebih parah adalah harus mengalami derita dan trauma karena kembali digagahi oleh seorang guru yang tidak bisa digugu dan ditiru.

Penderitaan berkepanjangan sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas berakhir dengan berangkatnya ia ke Ibukota, mengharap kebahagiaan dapat dirasakannya. Kembali sebuah musibah terjadi, baru saja dia mau turun kapal setelah menyeberang Selat Sunda dan akan menginjakkan kakinya di tanah Jawa sebuah pukulan keras menghantam kepalanya hingga ia tidak sadar diri dalam waktu yang cukup lama. Sekitar lima tahun, di agila dan dirawat oleh seseorang yang menemukannya dalam keadaan tanpa pakaian di pinggir jalan antara Merak dan Jakarta.

Kesadarannya muncul ketika dia bertemu dengan kawan sekampungnya yang masih mengenalnya, namun apa hendak dikata? Semua keluarganya telah tiada dan tidak ada lagi yang dapat memberinya sekadar tumpangan hidup. Ia teringat dengan seorang saudara di Jakarta yang pernah memberikan alamat kepadanya lima tahun silam. Akhirnya ia dapat bertemu dan tinggal bersamanya, kembali penderitaan diterimanya. Saudara laki-lakinya yang memiliki istri ternyata tidak suka dengan kehadirannya hingga ia dianggap seperti pembantu yang setiap hari mengerjakan semua pekerjaan rumah, termasuk mencuci pakaiannya. Semua itu masih disembunyikan dari saudara laki-lakinya hingga air matanya sering menetes di antara cucian pakaian dalam saudaranya atau di bantal tidur kamar belakang yang telah menjadi lukisan peta karena air mata yang selalu mengenainya.

Mengharap penderitaan berakhir, ia pergi dari rumah itu dan mengembara ke selatan Jakarta, bertemu dengan seorang kenalannya yang kemudian membawanya ke sebuah diskotik dan menjadi pelayan di sana. Awalnya dia sangat rishi dengan tempat kerjanya, namun seiring berjalannya waktu dia mulai terbiasa dengan beberapa tamu yang memberikan uang dengan kompensasi pelayanan terhadapnya. Air matanya sudah mulai kering, bukan karena taka da lagi derita, tapi karena setiap hari mengalir hingga tak ada lagi yang dapat mengalir. Berbagai kejadian yang menyayat nuraninya dari para pelanggan dan beberapa teman dekat menjadikannya mulai berfikir untuk meninggalkan dunia penuh warna.

Akhirnya ia hijrah ke daerah Cileungsi, melamar di sebuah pabrik di sana dan mengontrak tidak jaug dari tempat kerjanya. Awal masuk kerja sudah ada tiga orang yang tidak suka dengan dia, pertama keluarga dari bossnya dan yang kedua adalah rekan kerja yang diam-diam memiliki rasa suka dengannya. Satu lagi, seorang manager yang beberapa kali mengajaknya makan siang dan mengajaknya jalan-jalan. Penderitaan di tempat kerja tidak begitu dirasakannya, mungkin karena sudah sering menghadapi orang-orang yang memfitnah, mengadu domba atau bahkan kekerasan fisik dengan memukulnya. Penderitaan terbesar adalah dari seorang atasannya yaitu seorang manajer yang ternyata meminta “sesuatu” dari dirinya. Walaupun mau tidak mau dia harus menurutinya namun menjadi penderitaan baru dalam hidupnya. Ya… akhirnya dia mulai sadar bahwa dia bukan manusia normal seperti biasa. Penderitaan fisik berpuncak ketika dua orang mendatangi tempat kost-nya dan mengancamnya jika dia tidak mau menuruti kemauannya, dia dikeroyok dan dipukul hingga pingsan lebih kurang 8 jam lamanya. Ia sadar dalam keadaannya bajunya robek dan darah mengalir segar dari tubuhnya.

Fase kehidupannya beralih ke wilayah Jagakarsa di Selatan Jakarta, bekerja di sebuah tempat yang cukup jauh memaksanya untuk naik kendaraan umum dan ojek yang menjadi langganannya. Ojek langgannya sangat baik sehingga selalu menjemput dan mengantarnya ke stasiun dalam beberapa waktu lamanya. Namun, kebaikan itu ada sesuatu di sebaliknya. Tukang ojek itu menyukainya dan diapun tidak bisa menolaknya, hingga beberapa kali kejadian serupa terjadi dalam hidupnya. Gundah-gulana kembali bergelayut dalam hidupnya, ia merasa menjadi manusia paling sengsara di dunia, namun ia coba terus bertahan.

Setelah tukang ojek itu hilang tanpa kabar ia pindah ke wilayah Bogor untuk melanjutkan kehidupannya. Lagi-lagi kesengsaraan hidup terus membuntutinya. Menumpang di rumah seorang kawan yang ternyata memiliki beberapa langganan memaksanya menyaksikan berbagai kemungkaran di depan mata. Bersyukur ia dapat kerja di sebuah kantor desa yang memberinya sedikit tempat di masyarakat. Masa lalunya hampir terlupakan ketika media sosial mulai dimasukinya. Media sosial yang memberikan ruang bagi siapa saja untuk mengupload photonya justru menjadi boomerang bagi dirinya. Kawan-kawan sesama yang dulu ada di dunia maya kini bertebaran di dunia maya, bahkan dengan mudah mengadakan pertemuan dengan janji bertemu di suatu tempat.

Media sosial inilah yang mempertemukannya dengan berbagai jenis manusia, sebagian besar memang adalah mereka yang terpesona dengan penampilan fisiknya. Photo-photo yang diunggah di media sosial inilah menjadi awal bencana bagi dirinya. Dari mulai mereka yang sekadar suka kemudian dapat bersua hingga yang suka dengan penuh hawa yang berusaha keras untuk memilikinya. Sayangnya hati tak dapat dipaksa, beberapa orang yang tergila-gila terhadapnya justru tidak disambut dengan semestinya hingga dendam penuh angkara menjadi bencana yang tidak ada habisnya. Photo-photonya disebarkan di beberapa media sosial dengan tulisan yang sangat menyakitkan. Menuduhnya sebagai manusia bayaran, hingga ancaman menaklukannya di atas dipan. Bukan hanya sekali namun sudah berkali-kali hal ini terjadi, hingga kemudian dia datang dan mencurahkan segala perasaan.

“Aku memang pencinta sesama, tapi aku bukan manusia bayaran”, ungkapnya dengan deraian air mata yang begitu deras mengalir. “Aku memang miskin, tapi aku tidak pernah morotin (meminta uang kepada orang)” lanjutan dari curhatannya. “Aku merasa menjadi orang yang paling sengsara di dunia, sejak lahir di dunia hingga sekarang adanya”. Itulah ucapan terakhirnya dengan deraian air mata yang terus mengalir di pipinya.

Merasa menjadi manusia paling sengsara, itulah yang sering juga menimpa manusia ketika ia berada di titik nadzir kehidupannya. Bagaimana menyikapinya? Islam sebagai pedoman hidup umat manusia telah memberikan bekalan bagaimana menyikapi setiap keadaan manusia. Merasa menjadi manusia paling sengsara adalah rasa di mana pengalaman hidup telah mengajarkannya tentang bagaimana pahit getir kehidupan. Tentu saja perasaan ini harus diselaraskan dengan syariah Islam yang mulia. Berikut adalah penjelasannya;

Pertama, sebagai seorang muslim kita harus meyakini bahwa semua hal yang menimpa manusia dan semesta sudah menjadi takdirNya. Sehingga semua kejadian yang ada dalam kehidupan kita sudah menjadi takdirNya, apalagi jika perkara tersebut sudah terjadi di masa yang sudah lama. Takdir ini bukan berarti buruk, tetapi menjadi pembelajaran bahkan penghapus kesalahan jika kita ridha dengan takdirNya. “Semua takdirNya adalah baik bagi manusia”, ini adalah kunci yang harus diyakini oleh semua muslim di dunia. Tidak boleh burung sangka dan menganggap Allah Ta’ala tidak adil atau menginginkannya hidup sengsara. Allah Maha Adil dan Maha Tahu tentang apa yang ada pada setiap hambaNya. Dia juga menginginkan agar semua manusia Bahagia, dengan berbagai keadaannya. Maka jika hidup kita sejak lama selalu dirundung duka, maka yakinlah bahwa itu semua adalah kuasaNya dan akan banyak hikmah di dalamnya.

Kedua, semua musibah yang menimpa kita sejatinya adalah satu sebab bagi terhapusnya dosa serta meninggikan derajat kita di sisiNya. Setiap musibah dengan berbagai keadaannya itu akan menghalus dosa dan kesalahan yang kita lakukan, tentu saja jika kita ikhlas dengannya. Misalnya seseorang yang tertusuk duri, jika dia yakin bahwa itu adalah takdirNya dan ridha dengannya maka itu adalah sebab pahala darinya. Demikian pula musibah yang melanda adalah sebab ditinggikannya derajat manusia di sisiNya. Misalnya seseorang yang tertimpa sakit yang parah, maka sakitnya itu akan menghapus dosa dan meninggikan derajatnya karena kesabaran atas sakit yang dideritanya. Semakin dia sakit maka semakin tinggi derajat di sisi Allah Ta’ala, inilah yang terjadi pada nabi dan hambaNya yang mulia.

Ketiga, yakin bahwa “kesengsaraan” yang kita rasa memiliki hikmah (pelajaran) luar biasa yang kita bisa rasakan di suatu masa. Misalnya seseorang yang kedua orang tuanya meninggal maka sejatinya dia terangkat dari berbuat baik kepada orang tua. Ia dapat lebih fokus kepada amal ibadah lainnya, ini terjadi pada Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam yang mulia. Jika itu berupa kejadian yang sangat menyakitkan dan membuat kita trauma, maka sejatinya hikmah itu akan kita dapatkan selagi yakin bahwa itu adalah kuasaNya. Bahkan sering kali musibah yang menimpa kita dibarengi dengan anugerah yang tidak dimiliki oleh orang lainnya. Seorang yang masa kecilnya pernah mengalami kekerasan, maka ketika dewasa ia akan lebih lemah lembut dan menghindari segala bentuk kekerasan kepada anak-anaknya.

Selain itu masih banyak lagi bimbingan Islam dalam menghadapi setiap sendi kehidupan, maka teruslah belajar Islam agar kita semakin mampu untuk menyikapi segala hal dalam kehidupan insan. Jangan pernah merasa paling sengsara di dunia, karena dunia ini juga fana dan kesengsaraan itu akan berakhir juga. Takutlah pada kesengsaraan di akhirat sana, di mana tiada akhirnya, yang disebabkan karena kufur dengan segala nikmatNya. Biarlah sengsara di dunia tapi Bahagia di akhirat sana… Wallahu a’lam, 06 Maret 2022.

Senin, 28 November 2016

Gema Adzan di Tatar Pakuan


Oleh: Abdurrahman Misno BP

Allahu Akbar, Allahu Akbar” kadenge suara nu aneh tina kajauhan, Sabda Prana, micingkeun mata, awakna masih keneh karasa lunges, nangkarak di bale-bale tengaheun imah. Dina hatena kapikiran, “Esuk-esuk kiyeu saha nu tos gogorowokan kitu, kakarak ayeuna aya sora kitu, ti baheula Dayeuh teuh tenang mun isuk-isuk. Teu aya suara nanaon iwal simeut jeung jangkrik ti arah sisi Ciliwung, mun tos lingsir mah sora kotok ti handapeun imah ngahudangkeun jelma.
Sabda Prana hudang, langsung ka sisi Cisadane mawa lodong bari culak-cilek neangan iketna rek sarawu.
“Laa ilaha Illallah…” sora eta masih keneh kadenge, malah jelas pisan arah na di lebah kaler leuweng Samida arah ka Bantarjati.  
Tos ti cai, sabda prana langsung langsung nyokot kujang nu aya di selipan sasag, manehna emut poe iyeu aya pagawean di huma nu kudu diberesan. Usum haludu iyeu rada panjang jadi kudu rajin nagduruk jeung ngabersihan sesa-sesa tatangkalan nu tos dituar kamari.   
Panon poe kakarak ketempo konengna di palih wetan, ketempo endah pisan di sela-sela tatangkalan sisi Cisadane. Di lebah wetan rada ka kidul jelas pisan Sri Bima Punta Narayana Sura Dipati tegep nangtung di luhureun pasir. Arah ka kidul, gunung Buleud ajeg dikurilingan ku halimun.
Teu aya sasaha di imahna, nu aya di sisi kali Cisadane, ngan Sabda Prana sorangan. Akina teu acan lila maot di Kalapa perang ngalawan pasukan ti wetan. Ayeuna Sabda Prana hirup sabatang kara, sapopoe pagaweanana ka huma nu jarakna kurang leuwih 5 KM ka arah kidul sisi gunung Buleud.
Saatos mentas kali Cisadane, Sabda Prana nurutan jalan satapak ka arah kidul, isuk masih rada poek ngan kusabab tos biasa, manehna jalan lempeung ngaliwatan pahumaan. Sababaraha kali manehna kapendak jeung urang dayeuh nu sarua rek arangkat ka huma.
Sanajan awak bari jalan ka huma, ngan pikiran teh masih keneh kaemutan sora nu isuk-isuk tadi kedenge ti arah belah kaler “Asa-asa teu jauh ti arah leuweng Samida, ka belah kaler”. Bari ngalamun mikiran eta sora, Sabda Prana neupi ka hujung lembur Nyalindung.
“Sampurasun, Jang Sabda, eh kunaon ngalamun kitu” ujug-ujug aya aki-aki di hareupen manehna.
“Ra….ra… rampes Ki” bari sasalaman jeung sungkem ka si Aki nu make acuk bodas jeung iket bodas mawa ietuk kai Kaboa.
“Nembe ti mana ki, isuk-isuk tos ti gunung” Sabda nanya ka aki-aki tadi.  
“Maneh teuh tos poho, pan biasa Kami mah ti karamat Gunung Buleud” ceuk aki tadi bari ngajakan Sabda Prana diuk di handapeun tangkal campaka di sisi jalan.
“Aki rek ngomong ka maneh Sabda” si Aki ngaluarkuen tangkal kawung nu biasa dihiseup.
“Kiyeu, jaman teh ayeuna tos mulai robah, maneh kudu sadar jeung ngarti” ceuk si Aki
“Meksadna naon Ki” baru ngageser diukna ngadeketan si Aki
“Maneh mah teu ngarti wae, mentak hirup teh tong di huma wae” suara si Aki rada tinggi bari ngalepus daun kawung.
“Esuk pageto Dayeuh Pakuan bakal robah, duka Aki ngalaman atanapi heunte ngan maneh mah bakal ngalaman, aya ageman anyar ti kulon anu ngajakan urang nyembah ka Sang Hyang Tunggal. Ngan maranehna nyebatna Allah”
Sabda Prana mikir dina jero hati “Allah…?, eta sarua jeung sora anu gogorowakan isuk tadi”.
“Sakalian Aki, kami ge rek nanya, ari sora nu ayeuna kadenge ti belah kaler eta sora naon?” panasaran pisan asa-asa Sabda Prana ngadagoan jawaban ti si Aki.
“Aki ge teu nyaho, ngan ceuk Rakeyan Jaya Antea nu tos asup kana eta ageman, eta tanda ekeur urang Islam tos asup waktu sembah Hyang”.
“Kitu nya Ki”  Sabda Prana pursa-pura ngarti kana eta omongan si Aki.
“Punten Aki, panon poe tos moncorong, kami rek ka huma engke nyambung deui mun kami balik ka Dayeuh.
“Sok lah Sabda Prana, ngan ku maneh emutan. Lamun eta agama tos sumembar di Tatar Sunda bakalan jadi jalan ekeur urang Sunda ngahontal kabagjaan anu saleresna” laju kaduana sasalaman, si Aki leumpang ka arah Dayeuh, samentara Sabda Prana ka arah huma sisi gunung Buleud.
Bari leumpang Sabda Prana mikiran deui sora nu esuk-esuk tadi jeung wasiat si Aki tadi. Kapikiran kumaha engke 100 taun atawa 1000 tahun deui Dayeuh Pakuan, ayeuna wae masyarakatna tos leuwih 50.000, kumaha 100 tahun deui. Teu kapikiran pisan ku Sabda Prana, kalanjutan carita dayeuh iyeu, nu kapikiran mah pesen ti Akina baheula “Maneh ulah pipiluen pulitik, cukup aki wae nu jadi prajurit. Maneh mah ayeuna gawe wae di huma, ulah kabawa-bawa pitnah nu aya di Tatar Sunda iyeu, komo kabawa kapentingan kakuasaan nu lobana ngabawa-bawa ageman.” Eta pesen ti Akina wektos uih ti Tarum sateacan ka Kalapa.
Dina umur 25 taun Sabda Prana rajin pisan ngahuma, lega humana ti sisi gunung Buleud lebah kaler neupi ka arah Cipinang Gading. Memang manehna teu mikiran naon kajadian nu aya di Kalapa, di Sumedang atanapi di Caruban. “Nu aya mah ngan pasea keur kapentingan pulitik kekuasaan. Laju, agama dibawa-bawa, padahal mah agama pan ngajaran kahadean ka jelma. Lamun aya agama nu ngaruksak ejeung musuhan batur eta mah lain agamana ngan jelmana hungkul” eta pesen Akina nu kaeinget jeung jadi cecekelan hirup. Sabda Prana yakin pisan, mun urang haying hirup bagja, kudu hade ka batur sanajan beda agama ge pan eta ge makhluk Sang Hyang. ambp


Jumat, 20 Juni 2014

Meraih Mimpi di Jalan Ilahi

Oleh: AM. Bambang Prawiro

Deburan ombak di laut Alur menyisakan riak-riak kecil di sepanjang pantainya, beberapa anak dengan kulit gelap berlarian di antara pasir putih yang meliuk hingga ke ujung pandangan. Burung-burung camar tampak beterbangan kian kemari di antara deburan ombak yang tak lelah menghempas pantai yang menerima dengan penuh keikhlasan. Angin semilir berhembus membawa aroma laut yang khas, beberapa nelayan masih terapung-apung di tengah lautan. Tampak kecil seperti titik-titik hitam yang terombang-ambing ombak di laut Alor. Aku masih sibuk dengan pekerjaanku, membersihkan perahu dan merapihkan alat-alat menangkap ikan. Cuaca tadi malam kurang bersahabat sehingga hasil tangkapan ikan kami hanya sedikit. Paman yang telah bertahun-tahun menjadi penangkap ikan pun hanya mendapatkan ikan tidak lebih dari 3 kg. apalagi aku yang baru belajar tidak lebih dari enam bulan.
Aku memutuskan untuk mengikuti jejak almarhum ayah menjadi nelayan penangkap ikan. Setelah lulus SD tahun lalu, aku tidak melanjutkan sekolah. Tiga bulan sebelum kelulusan kelas ayah hilang tanpa jejak, hanya perahu dan peralatan menangkap ikan yang ditemukan terdampar di tepi pantai pada pagi hari ketika malamnya ayah berangkat menangkap ikan. Seperti hari-hari biasanya ayah menangkap ikan dengan beberapa tetangga. Cuaca buruk malam itu memunculkan badai lautan yang sangat dahsyat hingga menenggelamkan para nelayan yang sedang menangkan ikan termasuk ayah. Lima orang tetangga yang bersama-sama menangkap ikan berhasil selamat setelah berenang melawan ombak laut yang menggulung perahu dan peralatan mereka. sementara ayah tidak ada kabar beritanya. “Ayahmu waktu itu berada paling depan ketika kami menangkap ikan” begitu kata Pak Surangkai tetangga belakang rumah.
Kepergian ayah meninggalkan luka yang begitu mendalam pada keluarga kami, sebagai satu-satunya tulang punggung keluarga ayah adalah kepala keluarga yang sangat bertanggungjawab hingga semua kebutuhan kaluarga kami dipenuhinya dengan baik. Hasil tangkapan ikan yang kian hari kian menurun memaksa ayah dan para nelayan di desa kami untuk lebih bersemangat dalam menangkap ikan hingga mereka memaksanakan diri menangkap ikan di perairan yang berbahaya. Kepergian ayah juga telah memupuskan harapanku untuk meraih hidup yang lebih baik. Harapan untuk bisa melanjutkan sekolah sirna sudah hilang bersama jasad ayah yang entah di mana. Setelah berjalan kurang lebih enam bulan tak ada lagi dalam pikiran untuk bisa melanjutkan sekolah lagi. Biarlah hanya mereka yang masih punya ayah dan memiliki uang yang bisa melanjutkan sekolah, biarlah aku di sini belajar dengan laut dengan ombaknya.
“Hai kawan sedang apa melamun” Hasan temanku satu kelas yang kini melanjutkan sekolah di kota menepuk pundakku. “Siapa yang melamun, orang sedang merapihkan alat menangka ikan” kataku pelan. Hasan, anak kepala desa yang dulu menjadi teman sebangku di sekolah dasar negeri Alor. Ia barnasib mujur karena orang tuanya berada hingga bisa melanjutkan sekolah di tingkat yang lebih tinggi. Padahal nilainya selalu berada di bawahku. Pada hari terakhir kelulusan ia sempat bilang kepadaku bahwa ia akan melanjutkan kuliah di kota, “Kamu harus lanjutkan sekolah karena nilai kamu selalu lebih bagus dariku” begitu katanya. Kata-kata nasehat yang menyayat-nyayat jantungku, seperti tamparan yang membuat pusing kepalaku hingga membuatku pingsan.
“Hai, kok melamunnya dilanjutkan” kembali Hasan memecahkan lamunanku. “Kamu tidak melanjutkan sekolah khan” katanya serius. “Seperti kamu tahu, sekarang aku jadi nelayan menggantikan ayah” kataku pelan. “Aku ada informasi kalau kamu mau melanjutkan sekolah gratis dan dikasih uang, mau? Hasan memandaku serius. Sekolah, sebuah kata yang telah hilang dari ingatanku. Kata-kata yang begitu indah namun terasa menyakitkan bila mengucapkannya. Kata-kata itu memang telah hilang darimemori di kepalaku. Ikan, ikan dan ikan itulah yang kini ada dalam otakku, bagaimana cara agar bisa mendapatkan ikan yang banyak agar bisa membeli beberapa kg beras dan sisanya membayar sekolah adik-adiku. Namun kini Hasan mengucapkan kata-kata itu lagi, “Benar kau Hasan, di mana?” aku mulai tertarik dengan pembicaraannya. “Di Bogor Jawa barat Ma’had Ibnu Taimiyah, kalau mau nanti saya antarkan ke ust. Rodi yang membawa anak-anak untuk sekolah di sana. Si Dzul dan Ramli juga sudah pergi ke sana, kemarin mereka kirim surat katanya di sana enak sekolah gratis dikasih uang setiap hari, makananya ayam dan tidurnya di kasur yang tebaal sekali” Hasan menjelaskan secara detail tentang keadaan di Bogor, nun jauh di ujung barat pulau Jawa.
Sekolah, kata-kata itu muncul lagi dalam benakku. Mungkin terlalu indah jika terus dipikirkan dan bisa menjadi kenyataan, aku bisa belajar lagi memiliki teman-teman yang bersemangat untuk menuntutut ilmu, mendapatkan motivasi dari para guru dan yang paling penting adalah bisa meraih cita-citaku. Benar, cita-cita yang telah lama hilang dalam hidupku menjadi Dosen yang bermanfaat bagi agama, bangsa dan negara. Namun, apakah aku harus menerima tawaran Hasan, bersekolah di Bogor, sementara ibu dan adik-adiku di sini? Siapa yang akan memenuhi kebutuhan hidup mereka. penghasilan Ibu yang menjadi buruh di pasar ikan tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan semua keluargaku, untuk makan, membayar sekolah adik-adiku dan membayar hutang yang hingga kini belum lunas. Haruskah aku mengorbankan mereka hanya untuk meraih cita-citaku? Ah… sepertinya terlalu berat untuk meninggalkan mereka. “Kamu berangkat saja nak, biarkan ibu di sini dengan adik-adikmu. Ibu akan bekerja lebih keras lagi agar bisa memenuhi kebutuhan adik-adikmu. Kamu harus sekolah dan bisa meraih cita-citamu” begitu kata ibu. “Tapi bu, bagaimana dengan hutang kepada Pak Dani” kataku pelan. “Nanti ibu yang urus, mudah-mudahan tanah peninggalan ayahmu segera ada yang beli sehingga bisa membayar hutang kita, pokoknya kamu haru sekolah ingat pesan ayahmu”
Kembali aku teringat dengan pesan ayah yang telah lama hilang dalam pikiranku “Kamu harus melanjutkan sekolah, agar tidak seperti ayah yang bodoh ini” itulah pesan terakhir ayah. Aku tahu, ayah bukanlah orang yang bodoh, walaupun ia tidak bisa membaca dan menulis namun otaknya cukup cerdas hingga dipercaya oleh teman-temannya ketika menangkap ikan menjadi ketua rombongan. Ayah tahu persis bagaimana keadaan laut dan waktu-waktu menangkap ikan yang baik. Tekhnik-tekhnik dalam menangkap ikan ayah pelajari sendiri dari alam, hingga hasil tangkapan ikan ayah selalu lebih banyak dibandingkan teman-temannya. Peristiwa badai lautan sejatinya telah diprediksi oleh ayah, namun karena kebutuhan keluarga khususnya aku yang akan melanjutkan sekolah memaksan ayah untuk tetap melaut agar bisa mendapatkan uang untukku.
Setelah mempertimbangkan segala sesuatunya akhirnya aku memutuskan untuk berangkat ke Bogor, melanjutkan sekolahku yang beberapa bulan terputus. Dengan diantar oleh ibu, adik-adik dan beberapa tetangga aku berangkat menuju rumah Ust. Rodi untuk berkumpul dengan beberapa teman yang akan berangkat bersama-sama. Setelah semuanya berkumpul kami segera naik mobil ke pelabuhan. Rupanya kapal yang akan menuju ke Jakarta datang lebih cepat sehingga kami segera naik ke atas kapal. Sebelum kaki ini melangkah ke tangga kapal kucium tangan ibu dan memeluknya erat-erat, tak ingin aku melepaskannya. “Lanjutkan sekolahmu, ingat pesan ayah” bisik ibu kepadaku. Tak terasa air mata ini mengalir, dan pelukan kami semakin erat. Ibu adalah wanita luar biasa bagiku, sama seperti ayah, ia adalah wanita cerdas yang luar biasa. Walaupun ia hanya wanita desa namun ia sangat menyadari bahwa pendidikan itu sangat penting. Beliau selalu mengajari kami setelah maghrib, rumus-rumus matematika yang terasa sulit dengan mudah dijelaskannya secara rinci. Demikian pula pelajaran IPA yang membutuhkan pemahaman lebih, beliau menjelaskannya dengan runtut seperti seorang guru professional yang telah berpengalaman mengajarkan murid-muridnya. Lebih dari itu, beliau adalah pekerja keras yang tidak pernah mengeluh. Walaupun pendapatan kelauarga kami kurang namun beliau tidak pernah sedikitpun mempermasalahkannya. Sebaliknya beliau membantu ayak dengan bekerja di pasar ikan.
“Anak-anak ayo siap-siap, kapal sudah mau berangkat” ucapan Ust. Rodi menyadarkaku, segera aku melepas ibu dan mencium adik-adiku. Terbersit dalam hati bahwa aku harus bisa membahagiakan mereka. Aku segera melangkah me tangga kapal, dengan tas di punggung dan kardus di tangan aku melangkah pasti. Langkah yang akan merubah kehidupanku dan kehidupan keluargaku. Kembali aku menengok ke belakang, ibu dan adik-adikku melambaikan tangannya, memberikan semangat kepadaku bahwa hidup adalah pilihan, dan aku memilih untuk merubah nasib. Perlahan kapal bergerak menjauhi pelabuhan, pandanganku masih tertuju ke pantai yang terasa kian menjauh ibu dan adik-adikku seolah mengecil hingga menjadi sebuah titik di tepi pantai Alor. Bismillah, itulah ucapan awal untuk meraih mimpi ini.
Bogor, sebuah kota kecil di sebelah selatan Jakarta kota ini pernah aku baca dari pelajaran IPS yang diajarkan oleh Pak Abdu. Kota ini terkenal karena dahulunya adalah bekas ibukota kerajaan Pajajaran, salah satu buktinya adalah adanya Batu Tulis yang hingga kini masih berdiri tegak di kota ini. Menurut penjelasan Ust. Rodi, lokasi yang akan kami tuju adalah Pesantren Yatim Ibnu Taimiyah yang berada di bagian selatan kota Bogor. Setelah sampai di pelabuhan Tanjung Priuk kami dijemput dengan mobil milik pesantren, sehingga tanpa menunggu lebih lama kami segera meluncur meninggalkan pelabuhan membelah kota Jakarta. Teman-teman yang baru pertama kali ke Jakarta dapat menikmati indahnya kota ini dari dalam mobil yang melewati jalan layang Tanjung Priuk-Bogor. Aku juga terkagum-kagum dengan gedung-gedung tinggi yang ada di Jakarta, sungguh sangat luar bisa, suara klakson mobil yang seolah tidak henti bercampur dengan kegembiraan kami bisa menikmati kota Jakarta.
Perjalanan dari Tanjung Priuk ke Bogor ditempuh dalam waktu kurang lebih 2 jam, kami segera turun dan masing-masing membawa barangnya. Udara di Bogor sangat dingin sekali, berbeda jauh dengan di Alor. Kami diarahkan oleh salah seorang satpam menuju ruang tamu. Sebelum masuk pesantren tadi saya melihat dengan jelas sebuah tulisan tergantung besar di pintu gerbang “Selamat Datang Para Penuntut Ilmu”, seperti cambuk yang memberikan semangat padaku untuk bisa belajar dengan sungguh-sungguh di pesantren ini.
Sampai di ruang tamu kami disuguhi makan dengan lauk ayam, “Sungguh makanan yang sangat lezat” pikirku dalam hati. Kami di kampung makan dengan ayam paling satu tahun sekali kalau lebaran, selain itu paling makan ikan atau nasi dengan sayuran. Setelah selesai makan kami di ajak berkeliling pesantren. Sungguh besar pesantren ini, “Di sini kalian bisa belajar pelajaran umum dan juga pelajaran agam, semuanya gratisbahkan kalian akan dikasih uang jajan setiapbulan” kata ust. Rodi kepada kami yang terkagum-kagum dengan bangunan pesantren dan segala fasilitasnya. Semoga saja kami bisa memanfaatkan pesantren ini dengan baik sehingga ia menjadi jalan untuk meraih cita-citaku, ya cita-citaku adalah menjadi dosen.
Nun jauh di bagian selatan pesantren berdiri kokoh Gunung Salak yang terlihat jelas dengan peohonan yang rindang. Seolah-olah ia memberikan semangat kepadaku, “Ayo, inilah tempat untuk belajar, buktikan bahwa kamu cerdas dan reguklah semua ilmu yang ada di pesantren ini” Ya… aku berjanji dalam hati akan bersungguh-sungguh untuk belajar, baying-bayang ayah, ibu dan adik-adikku menjadi penyemangat untukku. Semoga ini adalah jalan terbaik meraih cita-citaku.
Dua puluh tahun kemudian…. “Hari ini mata kuliah kita adalah Metodologi penelitian, silahkan buka Note book, I Pad dan Smartphone-nya, kita akan berdiskusi tentang Penelitian Kualitatif” Aku berdiri di depan kelas M program Studi Ekonomi Islam Jurusan Hukum Islam Universitas Tazkia Jakarta. Setelah meraih gelar Doktor saya diterima mengajar di universitas ini.  Mimpi itu telah menjadi kenyataan, seperti kejadian tadi sore yang belum lama terjadi… Siapa bersungguh-sungguh akan Berhasil.