Tampilkan postingan dengan label Pakuan Pajajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pakuan Pajajaran. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Mei 2020

SEBA BADUY (Bagian 03)





Panitia SEBA sedang  mengatur hasil Tanen untuk SEBA
 



Oleh: Asep Kurnia


Ayah Mursid menandaskan dalam bahasa Sundanya sebagai berikut : “ Munceuk sunda na mah kieu : Seba teh salah sahiji rangkain kagiatan kaagamaan anu dipusti-pusti saenggeus ngalaksanakeun Upacara Ngalaksa sebagai panutup tahun. Eta Seba dilaksanakeun satahun sakali satiap awal tahun saminggu geus Ngalaksa, waktuna antara tanggal 1 nepika tanggal 9 bulan Safar pananggalan baduy. Eusina Seba diantarana nepikeun kawajiban berupa amanat-amanat sacara langsung ka Ratu jeung Menak oge pamarentah khususna nu jadi Kabeubeurat Adat, Keluhan Adat , negeskeun jeung mere pepeling mana nu kudu ditegaskeun mana nu kudu diperenahkeun jeung mana nu kudu laksanakeun ku Menak atawa pamarentah supaya ieu Alam jeung lingkungan tetep ayem tentrem sabab jalma mah ngan bisana ngaruksak alam .. nyieun jeung ngabebenahma can puguh bisa? Lamun ieu acara Seba teu digubris maka pamarentah kudu siap nanggung risiko jeung akibatna mun aya mamala. Kusabab datang langsung piraku lengoh makana mawa hasi bumi atawa hasil tatanen keur nyukuran kana kabahagian .. makana ku urang luar mah sok di sebut seba teh pestana urang Baduy “. Artinya Menurut bahasa sundanya begini : Seba itu salah satu rangkaian kegiatan Keagamaan yang benar-benar di agungkan setelah melaksanakan Upacara Adat Ngalaksa sebagai kegiatan penutup tahun. Yang namanya Seba dilaksanakan setahun sekali setiap awal tahun satu minggu setelah Ngalaksa waktunya antara tanggal 1 sampai dengan tanggal 9 bulan Safar penanggalan Baduy. Isi Seba diantaranya menyampaikan kawajiban berupa amanat-amanat secara langsung kepada Ratu dan Bangsawan juga Pemerintah khususnya yang menjadi beban tanggungjawab Adat, Keluhan Adat, kemudian menegaskan dan memberi nasehat mana yang harus dipertegas, mana yang harus dibereskan dan mana yang harus dilaksanakan oleh Pemimpin atau pemerintah agar supaya Alam dan Lingkungan ini tetap aman tentram karena manusia itu bisanya merusak ... membuat dan membenahinya belum tentu bisa? Bila Acara Seba ini tidak diperhatikan maka pemerintah harus menanggung risiko dan akibat bila terjadi berbagai bencana. Karena datang langsung masa iyah tidak membawa apa-apa.. makanya warga membawa hasil bumi atau hasil panen untuk diserahkan pada pemerintah sebagai ungkapan mensyukuri dan kebahagian oleh karenanya pihak luar menyebut Seba sebagai Pestanya warga Baduy.

SEBA BADUY (Bagian 02)



Oleh: Asep Kurnia 

Saripati dari sekian banyak penjeleasan yang saya gali dari para Tokoh Adat utama Suku Baduy tentang Urgensi dan Esensi SEBA, maka berbicara tentang SEBA BADUY  paling tidak ada 11 hal yang harus dipahami, yaitu :


1.    SEBA adalah merupakan kegiatan Keagaman yang wajib dilaksanakan oleh Seluruh Warga Baduy baik warga Baduy Luar maupun warga Baduy Dalam.
2.    SEBA merupakan Kegiatan baku atau Acara Adat yang rutin atau tradisi wajib tahunan yang harus dilaksanakan setiap tahun yang sudah turun temurun sejak kesukuan mereka lahir.
3.    Tugas ritual SEBA setiap tahun diwajibkan karena merupakan satu rangkaian adat yang tidak dapat ditunda atau dipisahkan dari Kawalu, Ngalaksa yang diakhiri oleh acara SEBA.
4.    SEBA memiiki makna bathiniah sebagai menjunjung tinggi amanat leluhur dan secara lahiriyah adalah datang kepada pejabat pemerintah untuk menyampaikan kondisi masyarakat adat.
5.    SEBA untuk temu wicara , mana-mana yang perlu disampaikan nanti disesuaikan dengan apa yang disepakati, kondisi masa depan adat baduy itu di forum seba.
6.    SEBA pada intinya adalah silaturahmi Suku Baduy pada para Ratu dan Menak ( para pemimpin Daerah ) dengan didasari kesadaran dan keikhlasan.
7.   

 
SEBA memiliki aturan-aturan khusus sehingga pada pelaksanaannya tidak sembarangan harus melalui perhitungan,  musyawarah dan kesepakatan Lembaga Adat dengan pihak Pemerintah sehingga sifatnya resmi.
8.    SEBA bukan penyerahan Upeti atau tanda tunduknya baduy pada pemerintahan karena baduy tidak pernah melakukan peperangan dengan siapapun tapi SEBA dipandang sebagai suatu rasa penghormatan dan penghargaan dari Baduy pada pemerintah atau syukuran atas kebahagian telah selesai melaksanakan rukun wiwitan sehingga pada acara tersebut membawa dan menyerahkan kumpulan sebagian hasil panen warga Baduy dan itu dilakukan atas kesadaran warga tanpa paksaan.
9.    SEBA sesungguhnya merupakan kegiatan yang dititipkan dari leluhur untuk menyampaikan amanat-amanat pinisepuh wiwitan pada pemerintah berupa sikap saling menitipkan, mengingatkan, melaporkan dan mendoakan secara lahirnya dan secara bathinnya agar manusia, bangsa dan negara tetap aman tentram terhindar dari bencana serta kerusakan, sesungguhnya kegiatan seba ini adalah sebagai aplikasi dari salah satu dari 9 tugas pokok kesukuan baduy yaitu point Ngasuh Ratu Nyayak Menak

10.  Pada kekinian , SEBA juga dijadikan ajang untuk menyampaikan berbagai hal yang berkaitan dengan keluhan adat, Kejadian-kejadian yang menimpa Adat serta harapan-harapan Adat. Maka setiap acara seba Tema atau misi berbeda-beda disesuaikan dengan situasi dan kondisi pada saat itu.

11.  Dan titik pokus pelaksanaan SEBA sebenarnya adalah membacakan doa doa atau bait bait mantera dengan bahasa asli Sunda Buhun yang dibacakan oleh Jaro Warega yang isinya mengingatkan sekaligus menitipkan agar Gunung tidak dilebur, lembah tidak ruksak oleh manusia dan pemerintah sehingga Alam tetap seimbang terhindar dari segala macam bencana.



SEBA BADUY (Bagian 01)


KETIKA S E B A BADUY
DIJADIKAN ASET BUDAYA & WISATA UNGGULAN  LEBAK-BANTEN DIHADAPKAN DENGAN PANDEMI COVID-19

(Sebuah Kajian Efek Domino Program Destinasi Pariwisata terhadap Kesakralan & Kemurnian Ritual Adat SEBA BADUY  & Prediksi Seba Baduy Tahun 2020 Di saat Wabah Covid-19 sedang Merajalela)

OLEH : ASEP KURNIA
( Pendamping 15 tahun Seba )
19 Mei  2020




Hari ini, Selasa 19 Mei 2020 bertepatan dengan tanggal 25 bulan Katiga tahun “Wau” Windu Kadua 4 Maragasana 1 Sareat Wiwitan  2082 Pananggalan Kalender Adat Suku Baduy , tepatnya lagi hari ini hari kelima dari 7 hari pelaksaanaan ritual Ngalaksa bagi masyarakat baduy sebagai ujung atau penutup pelaksanaan Bulan Kawalu Tutug untuk menghadapi tahun baru mereka. Acara ngalaksa ini merupakan ritual adat penyempurna dari kawalu yang wajib dilakukan oleh seluruh warga baduy tak terkecuali warga Baduy Luar maupun Baduy Dalam , karena salah satu isi kegiatannya adalah mencacah jiwa untuk didoakan dan disetorkan kepada Guriang leluhur mereka agar pada tahun berikutnya seluruh warga yang tercatat mendapat kebaikan dan keselamatan. setalah beres kawalu (tutup tahun kalender adat ) , maka pada bulan Safar awal tahun baru suku baduy mereka melaksanakan Ritual Adat yang disebut “SEBA BADUY “.


A.     APA DAN SIAPAKAH  SEBA BADUY  ITU ?

Persiapan SEBA di Pendopo Kabbupaten  Serang . Tanda panah menunjukan pada Laksa
 
Berbagai ulasan, tanggapan serta penjelasan tentang SEBA BADUY begitu menjamur baik yang disajikan di media cetak maupun di media elektronik ( Internet ), hal itu menunjukan bahwa Acara RITUAL SEBA BADUY adalah suatu acara Adat yang penting dan memungkinkan menjadi Primadona / Aset Wisata Budaya bagi Pemerintahan Daerah Lebak Maupun Propinsi Banten dan kenyataannya masih menjadi pilihan berita yang cukup diminati oleh kalangan masyarakat baik para jurnalist, pemerhati , Budayawan dan atau para Peneliti tentang Komunitas Adat. Keragaman tanggapan dan ulasan tersebut merangsang SAYA  yang selalu setia mendampingi, mengawal serta membantu pelaksanaan SEBA  ( tahun 2003 – sekarang ) beserta Tokdat Baduy lainnya untuk memberikan penjelasan lebih runtut tentang pengertian dan essensi Acara Adat SEBA agar kedepan siapapun mereka dalam memberitakan terhindar dari ketimpangan, kerancuan atau pembiasan berita dari aslinya.
Jaro Saidi sedang membacakan Do’a  SEBA di Pendopo Kabupaten Lebak  9 Mei 2008
 
Saya merasa perihatin pada ulasan yang masih menuliskan bahwa SEBA dipandang sebagai kegiatan penyerahan Upeti, SEBA suatu pertanda Tunduknya Suku Baduy pada Pemerintah, SEBA adalah Menyerahkan hasil panen kepada Pemerintah dan ulasan lain yang kurang tepat dengan urgensi SEBA. Saya sangat mengharapkan adanya keseragaman pemahaman tentang Acara Adat SEBA sesuai dengan pengakuan dan keyakinan mereka bahwa SEBA  bukan hanya sekedar Ritual tapi lebih pada satu Kewajiban atau Rukun Adat yang harus dilaksanakan setiap tahun di awal bulan Safar tahun Penanggalan Adat mereka sebagai bukti tugas mulia dari Pikukuh Karuhun untuk melaksanakan Ngasuh Ratu Ngajayak Menak.

Demi pelurusan imformasi, almarhum Jaro Dainah ( 2015 ) sebagai Jaro Pamarentah beserta Tokdat lainnya selalu memberikan penjelasan, laporan bahkan menyampaikan aspirasi dan harapan pada pemerintah tentang isi dan essensi SEBA. Menurut Jaro Dainah SEBA adalah kegiatan rutin masyarakat Adat Baduy dan merupakan tradisi yang diwariskan secara turun temurun untuk menghadap pemerintah ( Ratu dan Menak ) secara resmi dengan tujuan utama menjalin mempererat silaturahmi, melaporkan situasi dan kondisi baduy secara khusus dan lingkungan lain secara umum serta penyampaian aspirasi dan harapan sehingga terjalin kerjasama untuk saling mendoakan dan saling melindungi . Lebih lanjut Jaro Dainah berkomentar Seba juga bisa diartikan sebagai suatu sikap penghormatan dan penghargaan pada pemerintah dengan menyampaikan sebagian hasil panen warga dengan harapan dapat  dinikmati oleh para pejabat pemerintah. SEBA sifatnya wajib dilaksanakan setahun sekali pada bulan Safar awal tahun baru sesuai dengan  KALENDER PENANGGALAN ADAT BADUY.  Pelaksanaannya seminggu setelah Acara Ngalaksa sekitar tanggal 1 sampai tanggal 9 Safar dengan waktu yang baik dari tanggal 1 – 6 safar dan tidak boleh melebihi dari tanggal 10 bulan safar ( biasanya berkisar pada minggu akhir bulan April sampai awal bulan Mei ).  Mengingat  SEBA sifatnya wajib dilaksanakan Jaro Warega dan Kokolotan Kaduketug mengatakan kata-kata amanat leluhurnya sebagai berikut : “ Bisi engke dina hiji waktu  atawa jaman Seba euwueh nu narima, poma tetep kudu dilaksanakeun sanajan ngan aya  tunggul jeung dahan sapapan nu nyaksian  artinya Jika suatu waktu nanti atau jaman tertentu acara SEBA tidak ada yang mau menerima, dimohon tetap dilaksanakan walaupun hanya ada sebatang kayu yang menyaksikan .

Rabu, 01 November 2017

Mapay Laratan Dayeuh Pakuan

Mapay Laratan Dayeuh Pakuan



⛰⛰⛰⛰⛰⛰⛰⛰⛰
Sebuah Kota yang hilang, penuh dengan misteri dan intrik tingkat tinggi, lokasi pergumulan anak negeri dengan para pengembara sejati. 
🏯 Sebuah kota dengan arsitektur vernakular, inspirasi para bangsawan... 
🏜🏕🏞 Harmoni insan, hewan dan alam tercermin sebagai Kaca Benggala bagi generasi setelahnya...
🌇 Sebuah kota penuh kedamaian, di mana proporsi agung diciptakan. 
💎Menghasilkan Maha Karya Sempurna, sebagai karya cipta dan karsa manusia. 
🏞 Dayeuh Pakuan... 
Kota yang telah membawa Scipio mengarungi samudera untuk bisa merasakan kebesarannya... 
Kota yang menjadi magnet bagi Abraham Van Rieebek untuk selalu mengunjungi setiap jengkal tanahnya. 
Kota yang menjadi negeri leluhur bagi Tanujiwa dan bangsawan Sunda lainnya... 
❓❔❓ Bagaimana kemegahan Dayeuh Pakuan? 
📜 📚📠 Mari eksplorasi melalui catatan naskah tua, catatan perjalanan dan warisan tiada tara dari para pendahulu Kita...
🎊 Rasakan aroma nirwana dalam memaknai setiap kalimatnya...
💠💠💠 Silahkan terpesona dalam kedamaian... 
Dayeuh Pakuan
💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎
☎ Informasi; Abdurrahman; 085885753838

Senin, 28 November 2016

Gema Adzan di Tatar Pakuan


Oleh: Abdurrahman Misno BP

Allahu Akbar, Allahu Akbar” kadenge suara nu aneh tina kajauhan, Sabda Prana, micingkeun mata, awakna masih keneh karasa lunges, nangkarak di bale-bale tengaheun imah. Dina hatena kapikiran, “Esuk-esuk kiyeu saha nu tos gogorowokan kitu, kakarak ayeuna aya sora kitu, ti baheula Dayeuh teuh tenang mun isuk-isuk. Teu aya suara nanaon iwal simeut jeung jangkrik ti arah sisi Ciliwung, mun tos lingsir mah sora kotok ti handapeun imah ngahudangkeun jelma.
Sabda Prana hudang, langsung ka sisi Cisadane mawa lodong bari culak-cilek neangan iketna rek sarawu.
“Laa ilaha Illallah…” sora eta masih keneh kadenge, malah jelas pisan arah na di lebah kaler leuweng Samida arah ka Bantarjati.  
Tos ti cai, sabda prana langsung langsung nyokot kujang nu aya di selipan sasag, manehna emut poe iyeu aya pagawean di huma nu kudu diberesan. Usum haludu iyeu rada panjang jadi kudu rajin nagduruk jeung ngabersihan sesa-sesa tatangkalan nu tos dituar kamari.   
Panon poe kakarak ketempo konengna di palih wetan, ketempo endah pisan di sela-sela tatangkalan sisi Cisadane. Di lebah wetan rada ka kidul jelas pisan Sri Bima Punta Narayana Sura Dipati tegep nangtung di luhureun pasir. Arah ka kidul, gunung Buleud ajeg dikurilingan ku halimun.
Teu aya sasaha di imahna, nu aya di sisi kali Cisadane, ngan Sabda Prana sorangan. Akina teu acan lila maot di Kalapa perang ngalawan pasukan ti wetan. Ayeuna Sabda Prana hirup sabatang kara, sapopoe pagaweanana ka huma nu jarakna kurang leuwih 5 KM ka arah kidul sisi gunung Buleud.
Saatos mentas kali Cisadane, Sabda Prana nurutan jalan satapak ka arah kidul, isuk masih rada poek ngan kusabab tos biasa, manehna jalan lempeung ngaliwatan pahumaan. Sababaraha kali manehna kapendak jeung urang dayeuh nu sarua rek arangkat ka huma.
Sanajan awak bari jalan ka huma, ngan pikiran teh masih keneh kaemutan sora nu isuk-isuk tadi kedenge ti arah belah kaler “Asa-asa teu jauh ti arah leuweng Samida, ka belah kaler”. Bari ngalamun mikiran eta sora, Sabda Prana neupi ka hujung lembur Nyalindung.
“Sampurasun, Jang Sabda, eh kunaon ngalamun kitu” ujug-ujug aya aki-aki di hareupen manehna.
“Ra….ra… rampes Ki” bari sasalaman jeung sungkem ka si Aki nu make acuk bodas jeung iket bodas mawa ietuk kai Kaboa.
“Nembe ti mana ki, isuk-isuk tos ti gunung” Sabda nanya ka aki-aki tadi.  
“Maneh teuh tos poho, pan biasa Kami mah ti karamat Gunung Buleud” ceuk aki tadi bari ngajakan Sabda Prana diuk di handapeun tangkal campaka di sisi jalan.
“Aki rek ngomong ka maneh Sabda” si Aki ngaluarkuen tangkal kawung nu biasa dihiseup.
“Kiyeu, jaman teh ayeuna tos mulai robah, maneh kudu sadar jeung ngarti” ceuk si Aki
“Meksadna naon Ki” baru ngageser diukna ngadeketan si Aki
“Maneh mah teu ngarti wae, mentak hirup teh tong di huma wae” suara si Aki rada tinggi bari ngalepus daun kawung.
“Esuk pageto Dayeuh Pakuan bakal robah, duka Aki ngalaman atanapi heunte ngan maneh mah bakal ngalaman, aya ageman anyar ti kulon anu ngajakan urang nyembah ka Sang Hyang Tunggal. Ngan maranehna nyebatna Allah”
Sabda Prana mikir dina jero hati “Allah…?, eta sarua jeung sora anu gogorowakan isuk tadi”.
“Sakalian Aki, kami ge rek nanya, ari sora nu ayeuna kadenge ti belah kaler eta sora naon?” panasaran pisan asa-asa Sabda Prana ngadagoan jawaban ti si Aki.
“Aki ge teu nyaho, ngan ceuk Rakeyan Jaya Antea nu tos asup kana eta ageman, eta tanda ekeur urang Islam tos asup waktu sembah Hyang”.
“Kitu nya Ki”  Sabda Prana pursa-pura ngarti kana eta omongan si Aki.
“Punten Aki, panon poe tos moncorong, kami rek ka huma engke nyambung deui mun kami balik ka Dayeuh.
“Sok lah Sabda Prana, ngan ku maneh emutan. Lamun eta agama tos sumembar di Tatar Sunda bakalan jadi jalan ekeur urang Sunda ngahontal kabagjaan anu saleresna” laju kaduana sasalaman, si Aki leumpang ka arah Dayeuh, samentara Sabda Prana ka arah huma sisi gunung Buleud.
Bari leumpang Sabda Prana mikiran deui sora nu esuk-esuk tadi jeung wasiat si Aki tadi. Kapikiran kumaha engke 100 taun atawa 1000 tahun deui Dayeuh Pakuan, ayeuna wae masyarakatna tos leuwih 50.000, kumaha 100 tahun deui. Teu kapikiran pisan ku Sabda Prana, kalanjutan carita dayeuh iyeu, nu kapikiran mah pesen ti Akina baheula “Maneh ulah pipiluen pulitik, cukup aki wae nu jadi prajurit. Maneh mah ayeuna gawe wae di huma, ulah kabawa-bawa pitnah nu aya di Tatar Sunda iyeu, komo kabawa kapentingan kakuasaan nu lobana ngabawa-bawa ageman.” Eta pesen ti Akina wektos uih ti Tarum sateacan ka Kalapa.
Dina umur 25 taun Sabda Prana rajin pisan ngahuma, lega humana ti sisi gunung Buleud lebah kaler neupi ka arah Cipinang Gading. Memang manehna teu mikiran naon kajadian nu aya di Kalapa, di Sumedang atanapi di Caruban. “Nu aya mah ngan pasea keur kapentingan pulitik kekuasaan. Laju, agama dibawa-bawa, padahal mah agama pan ngajaran kahadean ka jelma. Lamun aya agama nu ngaruksak ejeung musuhan batur eta mah lain agamana ngan jelmana hungkul” eta pesen Akina nu kaeinget jeung jadi cecekelan hirup. Sabda Prana yakin pisan, mun urang haying hirup bagja, kudu hade ka batur sanajan beda agama ge pan eta ge makhluk Sang Hyang. ambp


Kamis, 28 April 2016

Ya N Nyusuk Na Pakuan



Judul Buku: 
Ya Nu Nyusuk Na Pakuan

Penulis: 
Saleh Danasasmita

Harga: 
Rp. 30.000

Informasi: 
085885753838