Tampilkan postingan dengan label Akademika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akademika. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Februari 2024

Manajemen SDM Syariah

By: Misno and AI


Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) Syariah adalah pendekatan dalam pengelolaan SDM yang menggabungkan prinsip-prinsip manajemen SDM dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam. Tujuannya adalah untuk menciptakan lingkungan kerja yang sesuai dengan ajaran Islam, mempromosikan keadilan, kejujuran, dan kesejahteraan bagi karyawan, serta memastikan bahwa kebijakan dan praktik SDM yang diterapkan sesuai dengan hukum-hukum Syariah.

Berikut adalah beberapa aspek penting dari Manajemen SDM Syariah:

Rekrutmen dan Seleksi: Dalam Manajemen SDM Syariah, rekrutmen dan seleksi karyawan dilakukan dengan mempertimbangkan nilai-nilai Islam. Proses ini harus mengutamakan kualifikasi dan kompetensi, serta memperhatikan integritas, keadilan, dan akhlak calon karyawan.

Pengembangan Karyawan: Organisasi yang menerapkan Manajemen SDM Syariah memberikan perhatian khusus pada pengembangan karyawan dalam aspek keagamaan, moral, dan profesional. Ini dapat mencakup penyediaan pelatihan yang mendukung pengembangan pribadi dan profesional yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.

Pengelolaan Kinerja: Penilaian kinerja karyawan dalam Manajemen SDM Syariah mencakup aspek etika dan moral, selain dari kinerja kerja yang lebih teknis. Karyawan dinilai berdasarkan kontribusi mereka terhadap nilai-nilai Islam, seperti kejujuran, kerja keras, dan tanggung jawab.

Kompensasi dan Manfaat: Sistem kompensasi dan manfaat dalam Manajemen SDM Syariah harus mematuhi prinsip-prinsip syariah, termasuk dalam hal pengelolaan dana pensiun, asuransi kesehatan, dan pembagian keuntungan.

Keseimbangan Kerja-Hidup: Organisasi yang menerapkan Manajemen SDM Syariah juga memperhatikan keseimbangan antara kegiatan kerja dan kehidupan pribadi karyawan. Mereka mendorong fleksibilitas kerja dan memberikan perhatian pada kebutuhan karyawan untuk beribadah dan berinteraksi dengan keluarga.

Manajemen SDM Syariah bertujuan untuk menciptakan lingkungan kerja yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, memberikan kesejahteraan bagi karyawan, serta meningkatkan kinerja dan produktivitas organisasi secara keseluruhan. Ini juga memastikan bahwa praktik-praktik SDM yang diterapkan di dalam organisasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Bogor, 14022024.

Teori Manajemen Syariah

Oleh: Misno dan AI


 

Manajemen Syariah adalah pendekatan dalam pengelolaan organisasi yang didasarkan pada prinsip-prinsip dan nilai-nilai Islam serta berlandaskan pada hukum-hukum syariah. Pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan bisnis yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam, termasuk dalam hal etika bisnis, keadilan, tanggung jawab sosial, dan transparansi.

Penerapan Manajemen Syariah dapat mencakup berbagai aspek dalam pengelolaan organisasi, seperti manajemen keuangan, manajemen operasional, manajemen sumber daya manusia, dan lain-lain. Beberapa prinsip utama dalam Manajemen Syariah antara lain:

1. **Ketaatan pada Ajaran Islam**: Organisasi yang menerapkan Manajemen Syariah harus menjalankan operasinya sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Islam yang terdapat dalam Al-Qur'an dan Sunnah.

2. **Keadilan dan Transparansi**: Manajemen Syariah menekankan pentingnya keadilan dan transparansi dalam segala aspek operasional, termasuk dalam hal keputusan bisnis, pembagian keuntungan, dan pengelolaan aset perusahaan.

3. **Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan**: Organisasi yang menerapkan Manajemen Syariah diharapkan memiliki kesadaran sosial yang tinggi dan peduli terhadap lingkungan sekitar. Mereka diharapkan untuk berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat dan menjaga kelestarian lingkungan hidup.

4. **Pencegahan Ribawi (Riba)**: Manajemen Syariah menolak praktik riba atau bunga dalam transaksi keuangan dan investasi. Sebagai gantinya, mereka mendorong praktik-praktik keuangan yang sesuai dengan prinsip syariah, seperti profit-sharing (mudharabah) dan jual-beli dengan sistem bagi hasil (musharakah).

5. **Pembinaan Etika Bisnis Islam**: Organisasi yang menerapkan Manajemen Syariah diharapkan mempromosikan etika bisnis Islam yang mencakup jujur, adil, dan berintegritas dalam semua interaksi bisnis.

Penerapan Manajemen Syariah tidak hanya terbatas pada lembaga keuangan Islam, tetapi juga dapat diterapkan dalam berbagai jenis organisasi, termasuk perusahaan, lembaga amal, dan lembaga pendidikan. Tujuannya adalah untuk menciptakan lingkungan bisnis yang sesuai dengan nilai-nilai Islam dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat secara keseluruhan. Bogor 1402024.

Sabtu, 20 Januari 2024

Cara Memulai Menulis yang Baik

 Oleh: Misno


Bagaimana cara memulia tulisan yang baik? Anda perlu melakukan beberapa langkah berikut:

  • Tentukan tujuan dan sasaran tulisan Anda. Apa yang ingin Anda sampaikan kepada pembaca? Siapa pembaca yang Anda targetkan? Bagaimana gaya bahasa dan struktur tulisan yang sesuai dengan tujuan dan sasaran Anda?
  • Lakukan riset dan kumpulkan data yang relevan dengan topik tulisan Anda. Anda bisa mencari sumber dari buku, jurnal, internet, atau wawancara. Pastikan Anda memilih sumber yang kredibel dan akurat. Jangan lupa untuk mencatat sumber-sumber yang Anda gunakan sebagai referensi1.
  • Susun kerangka tulisan Anda. Kerangka tulisan adalah rangkaian poin-poin utama yang akan Anda bahas dalam tulisan Anda. Kerangka tulisan akan membantu Anda mengatur alur dan logika tulisan Anda. Anda bisa menggunakan metode peta pikiran, diagram alir, atau daftar2.
  • Tulislah draf pertama Anda. Dalam tahap ini, Anda bisa menuangkan semua ide dan data yang telah Anda kumpulkan ke dalam bentuk kalimat dan paragraf. Jangan terlalu khawatir dengan kesalahan ejaan, tata bahasa, atau format. Yang penting, Anda bisa mengekspresikan pikiran Anda dengan jelas dan runtut.
  • Revisi dan perbaiki tulisan Anda. Setelah menulis draf pertama, Anda perlu membaca kembali tulisan Anda dan memeriksa apakah ada bagian yang perlu diperbaiki, ditambah, atau dikurangi. Anda bisa meminta bantuan teman, guru, atau editor untuk memberi masukan dan kritik. Perhatikan juga aspek-aspek seperti ejaan, tata bahasa, tanda baca, dan format.

Saya harap tips ini dapat membantu Anda memulai tulisan yang baik. Selamat menulis! 😊

Rabu, 06 Desember 2023

Dosen STIT Sirojul Falah Mengikuti Wisuda Akbar Standardisasi Dai MUI 2023

 


 

Dosen adalah insan pembelajar yang harus terus meningkatkan kemampuannya khususnya terkait dengan tugas utamanya yaitu Tridharma Perguruan Tinggi yang meliputi Pengajaran, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Upaya peningkatan kemampuan dilakukan melalui berbagai aktifitas; mulai dari belajar dari berbagai sumber, mengikuti pelatihan serta sertifikasi dan standardisasi dari lembaga yang kredibel.

Standardisasi yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) adalah kegiatan dalam Upaya menstandarkan Da’i sehingga mampu berdakwah kepada masyarakat sesuai dengan karakter masyarakat saat ini. Dosen yang da’i adalah sosok unik yang pada satu sisi dia adalah seorang dosen yang harus professional, sementara di sisi lain dia adalah muslim yang memiliki kewajiban untuk berdakwah mengajak kepada Rahmat Islam bagi seluruh alam.

Korelasi keduanya terlihat dari Dharma yang ketiga yaitu pengabdian kepada masyarakat, di mana seorang dosen harus membaktikan ilmunya kepada masyarakat khususnya terkait dengan disiplin ilmu yang menjadi kepakarannya. Berdasarkan hal ini maka dosen yang mengajar i sudah selayaknya untuk memiliki standar yang berasal dari lembaga kredibel semisal MUI. Perguruan Tinggi Islam juga harus mendukung hal ini sehingga disiplin ilmu menjadi core-nya harus bermanfaat untuk masyarakat.

Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Sirojul Falah adalah salah satu perguruan tinggi keagamaan Islam yang berada di Bogor. Fokus Pendidikan agama Islam didukung oleh dosen-dosen yang berkompeten dan memiliki semangat untuk terus meningkatkan kualitasnya melalui berbagai kegiatan termasuk standardisasi yang diselenggarakan oleh MUI.

Salah satu dosen STIT Sirojul Falah yaitu Dr. Misno, SHI., SE., MEI., MH yang mengikuti Standardisasi Dai MUI serta mengikuti WISUDA AKBAR STANDARDISASI DA'I MUI ANGKATAN 11 s/d 28 pada Selasa, 05 Desember 2023 di Mercure Hotel, Ancol – Jakarta.

“Menjadi Da’i MUI adalah da’i memahami teks dan konteks saat ini” ucap K.H. Muhammad Cholil Nafis, Lc., S.Ag., M.A., Ph.D. dalam sambutannya dalam acara wisuda akbar tersebut. Sementara Dr. Misno menyampaikan “Alhamdulillah, saya bersyukur bisa mengikuti wisuda ini dengan sebelumnya mengikuti Standardisasi Angakatan Ke-18”. Semoga Wisuda Standardisasi DAI MUI dan Wisuda Akbar ini memberikan kontribusi bagi Umat, STIT Sirojul Falah dan Masyarakat serta Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (06122023).

Kamis, 18 Mei 2023

Ciri Muslim Cerdas: Belajar, Belajar dan Belajar

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri



Syukur kepada Allah Ta’ala yang telah memberikan kepada kita akan kenikmatan iman Islam dan juga Ihsan. Shalawat dan salam sama-sama kita panjatkan kepada junjungan alam Habibana wa nabiyana Muhammadin Shallallahu Alaihi Wasallam kepada seluruh ahli baitnya para sahabatnya serta orang-orang yang senantiasa mengikuti jejak sunnahnya hingga akhir zaman.

Salah satu dari ciri seorang muslim yang memiliki ghirah atau semangat intelektual dan juga pembelajar adalah dia selalu ingin untuk menambah ilmu pengetahuannya, ingin untuk menambahkan pemahamannya terhadap ilmu pengetahuan baik ilmu pengetahuan yang sifatnya duniawi ataupun yang sifatnya ukhrawi atau kedua-duanya.

Oleh karena itu salah satu dari ciri dari muslim yang memiliki intelektual dan semangat pembelajaran tinggi adalah selalu dia belajar, belajar dan belajar, baik itu dia dengan membaca kemudian juga dengan mungkin juga menulis mungkin juga dia dengan belajar kepada seorang ilmuwan seorang tokoh seorang ustadz ajengan ataupun juga dia mengikuti berbagai kegiatan yang sifatnya ilmiah baik itu conference kemudian seminar webinar dan lain sebagainya.

Apalagi sebagai seorang akademisi, dosen misalnya maka dia memiliki kewajiban lebih untuk bisa melihat bagaimana perkembangan dari ilmu pengetahuan itu sendiri. Ya perkembangan dari berbagai munculnya perubahan yang ada sehingga kemudian mau tidak mau ilmu pengetahuan itu terus harus berkembang dan harus terus kita update ya agar sesuai dengan perkembangan zaman. Sehingga mudah-mudahan dengan kita belajar, belajar dan belajar melalui membaca baik itu membaca teks ataupun membaca alam semesta ini kemudian juga menuliskannya mempublikasikannya kemudian juga hadir di berbagai pertemuan ilmiah itu menjadi salah satu sarana kita untuk bisa menambah dari ilmu pengetahuan mengembangkan dan yang pasti memberikan manfaat bagi umat dan juga masyarakat bangsa dan juga negara.  Wallahualam, 18052023 transkrip dari video Youtube di Surabaya.

Rabu, 11 Januari 2023

Dunia Akademisi yang Aku Pahami

Ahmad Berhimin, SE., ME. (Putra Lintang)



 

Perjalanan yang aku lalui dari pertama aku kenal dengan namanya dunia akademis tidak seindah dan semulus yang aku bayangkan. Dahulu bayanganku bekerja di dunia akademisi sangat indah, penuh dengan orang-orang yang berpendidikan, penuh dengan orang yang sangat baik akhlaknya, penuh dengan  orang yang beretika dan sopan santun yang sangat berbudi luhur.

Bayangan dan imajinasi tentang dunia akademisi tersebut sangat bertolak belakang dan sangat menakutkan setelah aku kenal dan aku jalani. Terasa sesak dada melihat kenyataan yang saya hadapi setelah berkecimpung dengan dunia akademisi; penuh dengan kemunafikan, penuh dengan kehasutan, penuh dengan oknum yang tidak punya hati nurani, dan penuh dengan oknum yang hanya mementingkan urusan pribadi dan golongannya sendiri. Tidak ada keindahan dalam bertutur dan bertingkah laku  padahal Allah sudah memerintahkan dalam kalamNya:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Wa innaka la'alā khuluqin 'aẓīm
"Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur." Surat Al Qalam Ayat 4.

Berkenaan dengan akhlak mulia Rasulullah SAW, istrinya, Aisyah RA pernah ditanya oleh Qatadah mengenai gambaran akhlak dari beliau. Aisyah menyebut bahwa akhlak Rasulullah SAW adalah Al Quran, artinya seluruh aspek perilakunya termaktub di dalam Al Quran.

Kenapa hal ini bisa terjadi? padahal seharusnya dunia akademisi harus memberikan contoh dan tauladan kepada pihak yang lain, dan seharusnya dunia akademisi menjadi barometer agar output yang dihasilkan menjadi banchmark yang sangat terbaik dan efeknya bisa memberikan tren yang baik buat lingkungan yang lainnya.

Pada akhirnya, dunia akademisi sebagaimana dunia lainnya, akan kembali kepada para individu yang ada di dalamnya. Jika mereka adalah orang-orang yang bertakwa dan berakhlak seperti Rasulullah SAW dan para shahabatnya, niscaya dunia akademik akan indah dan menjadi taman-taman surga. Jika sebaliknya, maka dunia akademik juga akan nampak jahat dan dipenuhi oleh orang-orang yang hanya mementingkan diri sendiri, golongan dan keduniaan lainnya. ABE 120123.

Minggu, 08 Januari 2023

Perjalanan Mendapatkan Ilmu: Kunjungan ke LazisMU Kabupaten Bogor

Ahmad Berhimin, SE


Aktivitasku sehari-hari adalah bekerja di suatu institusi yang bergerak di bidang edukasi atau Pendidikan.  Sejak awal bekerja saya sebagai admin Program Pascasarjana, namun ketika terjadi pergantian rektor semuanya dirombak terkecuali orang yang memang dekat dengan rektor atau wakil rector. Sekitar bulan Mei 2022 saya dipindahkan menjadi staf perpustakaan. Saya menjalaninya dengan penuh keikhlasan, tidak bertahan lama hanya lebih kurang 3 bulan kemudian saya dipindahkan kembali ke bagian lain yaitu staf protokoler. Namun di posisi ini saya juga tidak lama bertahan karena adanya satu dan lain hal yang kadang tidak bisa dilogikakan.

Sekarang saya ditempatkan sebagai staf marketing, saya harus berlari mengejar ketertinggalan, saya fokus dengan mencari mahasiswa untuk kuliah di institusi Pendidikan tersebut, baik untuk program sarjana dan program pascasarjana.

Bersama itu juga saya menambah ilmu dengan kuliah di Program Studi Magister Ekonomi Syariah. Guna mendukung kegiatan perkuliahan, saya melakukan  penelitian sesuai judul yang saya ajukan yaitu pendayagunaan zakat produktif LazisMu di Kabupaten Bogor.

Perjalananku ke kantor LazisMu Kabupaten Bogor dalam rangka memenuhi tugas dan kewajiban saya untuk keperluan data penulisan artikel dan jurnal.  Dikarenakan program pascasarjana ini berbeda pola perkuliahan dibandingkan program sarjana, Alhamdulilah saya merasa bahagia dan bangga ada kesempatan saya datang ke tempat dimana bisa menambah ilmu, karena sesuai dengan perintah Allah Swt  berikut :

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya. QS. al-Taubah: 122.

Dengan berkunjungnya saya ke kantor LazizMu Kabupaten Bogor yang berlokasi di Leuwiliang, maka bertambah ilmu saya tentang bagaimana pengolahan zakat infaq dan sedakah di lingkungan Kabupaten Bogor untuk usaha produktif. Zakat produktif adalah salahg satu cara untuk mengurangi kemiskinan masyarakat yang menjadi konsen lembaga ini, sebagai bentuk kontribusi untuk Ibu Pertiwi (Indonesia). Abe, 07012023.

Jumat, 01 April 2022

Antara Kelangkaan Minyak Goreng dan Ekonomi Syariah

Oleh: Dr. Abd Misno, MEI

 


Salah satu dari permasalahan di masyarakat yang belum lama terjadi adalah mengenai kelangkaan minyak goreng di masyarakat. Masalah ini diawali dengan pengaturan dari pemerintah yang berlaku sejak mulai 1 Februari 2022, di mana harga minyak goreng curah sebesar Rp 11.500 per liter. Harga minyak goreng kemasan sederhana sebesar Rp 13.500 per liter. Harga minyak goreng kemasan premium sebesar Rp 14.000 per liter. Walaupun kebijakan ini bukan satu-satunya, karena masih banyak pemicu lainnya yang memperparah keadaan ini, di mana masyarakat khususnya ibu-ibu sampai antri untuk mendapatkan minyak goreng.

Alhamdulillah, akhirnya pemerintah menetapkan harga minyak goreng dalam kemasan dilepas ke mekanisme pasar. Yang diharapkan bisa memacu kelancaran pasokan minyak goreng di pasar. Dengan demikian, ketentuan harga eceran tertinggi (HET) Rp14.000 per liter untuk minyak goreng kemasan premium dan Rp13.500 per liter untuk minyak goreng kemasan sederhana tidak lagi berlaku. Masalah belum selesai karena tiba-tiba bersamaan dengan beredarnya kembali minyak goreng ternyata harganya membumbung tinggi, walaupun akhirnya dalam beberapa hari kembali normal.

Bagaimana ekonomi syariah menanggapi hal ini? Apakah hanya diam saja atau tidak peduli dengan permasalahan yang dihadapi oleh bangs aini? Jawabannya adalah bahwa ekonomi syariah adalah sistem ekonomi yang memberikan kemashlahatan untuk semua. Sehingga semua permasalahan dibahas secara detail dalam ekonomi syariah, termasuk dalam masalah minyak goreng di negeri ini. Bagaimana solusi ekonomi syariah dalam menghadapi permasalah seperti ini?

Pertama, pemahaman terhadap ekonomi syariah yang benar menjadi sebuah keniscyaan. Ekonomi syariah adalah sistem ekononomi yang datang dari Allah Ta’ala, sehingga ia akan sesuai dengan seluruh sendi kehidupan manusia. Maka, ekonomi syariah mengatur mengenai etika produksi, distribusi dan konsumsi yaitu harus menjunjung tinggi kemashlahatan untuk umat manusia. Maka dalam konteks ini adalah bahwa produsen, distributor dan pedagang ritel haruslah merujuk pada etika ekonomi syariah ini. Mereka tidak boleh memudharatkan masyarakat hanya karena mengejar keuntungan semata, sebagaimana haramnya ihtikar (menimbun) dalam Islam. Analisis saya adalah bahwa kelangkaan ini terjadi karena adanya penimbunan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab sehingga mengakibatkan kelangkaan minyak goreng, salah satu pemicunya adalah karena penetapan harga oleh pemerintah yang dianggap sangat rendah dan merugikan para pengusaha minyak goreng.

Kedua, peran pemerintah dalam menetapkan harga sejatinya sudah benar, yaitu untuk memberikan kemashlahatan untuk masyarakat. Namun sayangnya tidak diantisipasi dengan kebijakan lebih detail dan mengikutsertakan para pengusaha minyak goreng dalam kebijakan ini. Maka kebijakan ini terkesan hanya lipsservices untuk menyenangkan masyarakat sesaat. Namun efeknya justru sebaliknya, menyengsarakan rakyat banyak. Maka dalam hal ini pemerintah hendaknya dalam mengeluarkan berbagai kebijakan haruslah didasarkan kepada kemashlahatan yang sebenarnya, bukan hanya untuk pencitraan saja.

Ketiga, perang pemerintah dalam hal ini sangat penting khususnya terkait dengan penegakan hukum terhadap para pelaku usaha yang hanya mementingkan keuntungan semata. Faktanya bahwa ternyata para pengusaha minyak telah menjadi penentu dalam penetapan harga minyak goreng di pasar. Pemerintah bahkan harus memebrikan subsidi yang sangat banyak untuk menekan harga di pasar, tentu saja ini bukan kebijakan yang membawa mashlahat karena faktanya justru menyengsarakan masyarakat. Maka dalam hal ini, pemerintah harus kembali melihat setiap kebijakan yang ada haruslah didasarkan kepada kemashlahatan, buka sekadar pencitraan atau menarik hati masyarakat. Demikian pula pemerintah harus berani bertindak tegas kepada para pengusaha yang hanya mengeruk keuntungan tanpa memperhatikan kemashlahatan untuk masyarakat.

Merujuk pada tiga solusi yang diberikan oleh ekonomi syariah, maka sangat jelas sekali bahwa ekonomi syariah memberikan jalan kelaur yang komprehensif bukan hanya penyelesaian sementara tapi menyeluruh dalam memberikan kemashlahatan kepada masyarakat. Ekonomi syariah memberikan aturan dan etika dalam produksi, distribusi dan konsumsi. Demikian pula ekonomi syariah menempatkan pemerintah sebagai pengayom dalam setiap aktifitas ekonomi yang dilakukan oleh masyarakat. Sehingga kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah hendaknya merujuk kepada kemashlahatan untuk masyarakat.

Selain itu bahwa ekonomi syariah bukan hanya aturan yang sifatnya duniawi, tapi juga ukhrawi yang berarti setiap Tindakan kejahatan akan mendapatkan hukuman tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat sana. Maksudnya adalah bahwa penimbungan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertangggungjawab akan mendapat hukuman di dunia dan juga di akhriat. Hal ini sebagaimana pemerintah yang akan mendapatkan pahala ketika mengeluarkan berbagai kebijakan dan sebaliknya berdosa ketika justru memudharatkan warga negaranya. Walahu’alam. 01 April 2022.

 

Rabu, 22 Desember 2021

LOGIKA ISLAMOPHOBIA

Oleh: Abd Misno

 


Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia, sebagaimana firmanNya "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." QS. ar-Rum: 30.  Maka seluruh syariat Allah Ta’ala akan sesuai dengan manusia kapan saja, di mana saja dan dalam keadaan bagaimanapun juga. Lantas, bagaimana logika Islamophobia sehingga mereka selalu menghina, mencela dan mendeskriditkan syariat Islam?

Hari-hari yang terus berganti membawa kepada berbagai fitnah di tengah ummah, fitnah yang selalu merendahkan dan menghina syariat Islam yang datang dari orang-orang yang tidak suka dengan Islam bahkan phobia dengan syariatNya (Islamophobia). Belum lama ini beredar video yang menggambarkan seseorang yang duduk di depan seorang perempuan memakai bikini yang sedang rebahan. Laki-laki tersebut menyatakan “Jadi jangan ngatur wanita berpakaian tapi atur otak Anda supaya tidak ngeres,”. Semoga pembaca sudah paham laki-laki tersebut tanpa perlu disebutkan di sini. Perkataan ini diawali dengan beredarnya berita seorang pengasuh boarding school di wilayah Bandung yang menggauli murid-muridnya hingga puluhan orang dan sebagian bahkan hamil dan melahirkan anak.  Logika dari laki-laki dalam video dan kelompok islamophobia adalah bahwa perempuan yang digauli pengasuh tersebut memakai pakaian islami, namun tetap menjadi “korban” dari pengasuh tersebut. Maka kemudian yang diserang adalah “Jangan mengatur urusan pakaian Wanita”.

Tentu saja, kasus di Bandung tersebut hanya sebagai alasan untuk kembali eksis di dunia, entah karena dibayar oleh atasannya atau memang sudah menjadi ideologinya, yang pasti ini adlah serangan dan fitnah dari mereka yang tidak suka dengan Islam dan selalu mencari celah untuk menghina Islam dan syariatnya. Memang sejak awal, kelompok islamophobia terus menyerang Islam, dari mulai istilah “kafir”, hijab, syariah, khilafah, bendera dan atribut Islam selalu diserang dan difitnah. Tidak kalah kejinya juga mereka memfitnah para tokoh Islam yang konsisten dengan agamanya, tentu saja ujungnya adalah memberikan statement di tengah masyarakat bahwa Islam ketinggalan zaman, agama Islam sudah using tidak sesuai dengan kemajuan zaman, tidak sesuai dengan hak asasi manusia, melanggar kebebasan Wanita dan lain sebagainya. Jangan lupa, kelompok ini juga yang selalu menyebarkan bahwa Islam adalah agama radikal yang menyebarkan kekerasan. Padahal jelas sekali bahwa Islam adalah agama yang damai, tidak suka kekerasan, sesuai dengan fitrah manusia dan tidak pernah menyakiti pemeluk agama lainnya.

Islam melarang untuk menghina tuhan dan sesembahan agama lain, sebagaimana kalamNya “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan”. Mengenai ayat tersebut, Allah Ta’ala memerintahkan umat Islam dalam Al-Qur’an untuk selalu menunjukkan akhlak yang baik, yang mana salah satunya adalah tidak mencaci maki agama lain. Dalam menafsirkan ayat tersebut, Az-Zamakhsyari dalam tafsirnya Al-Kasyaf memahaminya bahwa alasan dilarang untuk mencaci agama lain adalah karena perbuatan tersebut dapat merugikan bagi umat Islam sendiri, yang mana tentu mereka akan membalasnya dengan mencaci maki agama Islam.

Sejatinya logika Islamophobia dibangun atas dasar kebencian kepada Islam, berdasarkan penelusuran sejarah memiliki akar sejak awal kehadiran Islam, kalahnya umat lain oleh kekuatan Islam, perang salib yang terjadi puluhan tahun lamanya, penaklukan Konstaninopel hingga berkembangnya Islam di Amerika dan Eropa saat ini. Maka kebencian mereka terhadap Islam dilakukan dengan berbagai cara, dari mulai menghina Islam secara langsung, hingga secara tersembunyi melalui tangan-tangan umat Islam sendiri.

Maka bermunculanlah pemikiran yang menyebar fitnah atas Islam, dari mulai perguruan tinggi yang memberikan beasiswa kepada umat Islam yang kemudian memasukan pemikiran Islamophobia kepada mereka hingga umat Islam yang memiliki iman lemah yang menukarkan akidah dengan harga dunia yang sangat murah. Akhirnya fitnah dari kalangan islamophobia terus berjalan, dan bisa jadi ke depan setiap sendi syariat Islam akan mereka serang.

Sebagai umat Islam kita harus sadar, terus menambah ilmu pengetahuan tentang Islam, melaksanakannya dan mendakwahkan sesuai dengan kemampuan kita. Pelajari terus agama Islam agar semakin paham bahwa Islam memang menjadi rahmat bagi seluruh alam, selanjutnya melaksanakan seluruh syariat Islam secara kaafah. Terakhir mendakwahkan, menyampaikan kepada seluruh umat manusia bahwa logika yang dibangun oleh islamophobia adalah didasari oleh kebencian terhadap Islam. Sampaikan kepada dunia bahwa Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan, Islam tidak pernah mengajarkan tindak terorisme, Islam sangat menghormati hak asasi manusia apapun agama dan kepercayaannya dan Islam menjunjung tinggi derajat Wanita karena mereka adalah ibu yang melahirkan kita semua. Dengan dakwah yang terus-menerus, mudah-mudahan fitnah itu menjadi hilang atau minimal berkurang serta masyarakat dapat tercerahkan dan semakin membuktikan bahwa Islam adalah agama kedamaian yang membawa kepada kesejahteraan (rahmat) seluruh umat manusia dan semesta. Wallahu’alam. 22122021.

Senin, 06 Desember 2021

JANGAN TERLALU DALAM BELAJAR AGAMA, KENAPA?

Oleh: Abd Misno 



Agama adalah satu-satunya solusi dalam menghadapi berbagai problema dalam kehidupan umat manusia. Sifatnya yang mengatur seluruh sendi kehidupan manusia, menjadi agama memberikan jalan keluar yang komprehensif dan tuntas bagi setiap permasalahan. Tidak hanya masalah-masalah yang bersifat lahiriyah, bahkan yang bersifat batiniyah akan diberikan jalan keluarnya oleh agama. Dari permasalahan kecil sekitar keributan dalam rumah tangga, hingga permasalahan besar yang dihadapi oleh bangsa dan negara, semua ada aturan dan solusinya.

Sehingga, mempelajari agama menjadi sebuah keniscayaan bagi umat manusia, Islam sebagai agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam sejak awal telah menstimulus umatnya untuk terus belajar. Bahkan dalam surat At-Taubah: 122 disebutkan tentang keharusan bagi sebagian orang untuk tetap belajar, sementara Sebagian yang lain berjuang dalam membela kemuliaan. Demikian juga dalam banyak hadits nabi menunjukan bahwa belajar agama (thalibul ilmi) adalah sebuah kewajiban baik bagi muslim ataupun Muslimah.

Tentu saja dalam belajar dan memahami agama ini tidak boleh setengah-setengah, harus menyeluruh. Sebagaimana kita diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk masuk ke dalam Islam secara keseluruhan (QS. Al-Baqarah: 208). Maka mempelajari agama juga harus secara keseluruhan, inilah ciri dari seorang muslim yang berilmu. Pendalaman terhadap agama juga harus terus dilakukan oleh semua umat Islam, karena dengan ilmu inilah seseorang akan dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dengan ilmu yang mendalam maka ia akan dapat memberikan solusi terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi, dengan ilmu yang mendalam ia akan mampu menyikapi berbagai persoalan dalam kehidupan.

Maka, jika ada yang menyatakan “JANGAN TERLALU DALAM BELAJAR AGAMA” maka sejatinya ini menunjukan kejahilannya tentang agama. Karena agama mengajarkan kita untuk mempelajarinya agar dapat berbicara dan bertindak sesuai dengan aturanNya. Semakin seseorang belajar agama dengan mendalam maka semakin ia bijak dalam menghadapi berbagai persoalan. Sebaliknya, orang-orang yang sering sekali terjebak pada kesalahan, paham kesyirikan, kebaharuan hingga tindakan kekerasan seperti terorisme adalah mereka yang belajar agama tidak mendalam sehingga tidak memahami Islam yang membawa kepada keselamatan.

Oleh karena itu, mari sebagai umat Islam kita terus belajar dan mendalami ilmu agama, bahkan para ulama kita yang mulia telah memberikan wasiat yang sangat luar biasa “thalibul ilmi minal mahdi ila lahdi, menuntut ilmu dari sejak buaian hingga liang lahad”. Dengan ilmu kita akan mampu untuk bersikap lebih bijak, sehingga dapat mengambil sikap yang sesuai dengan aturan dari Allah Ta’ala. Mari memperdalam agama, agar kita bisa selamat di dunia dan juga di akhirat sana… Bogor, 061221.

Selasa, 30 November 2021

PESAN UNTUK WISUDAWAN

Oleh: Abdurrahman

Perjalanan sepanjang perkuliahan membawa kenangan tak terlupakan, susahnya memahami ide dan gagasan dosen dalam bimbingan, hingga pembiayaan yang tidak jarang mengganggu siklus keuangan. Niat yang seringkali mengalami perubahan, juga memberi warna tentang makna sebuah keberhasilan. Hal yang tidak bisa dilupakan adalah ketika harus berkelindan dengan tesis yang penuh coretan, dan perbaikan yang menyita masa serta pemahaman. Belum lagi, tagihan yang bertubi dilayangkan dari bagian keuangan, yang membuat kepala tak lagi bisa memikirkan intisari dari tesis yang selalu dipersalahkan, khususnya dari dosen pembimbing yang seperti tidak memahami perasaan. Ah… mungkin yang terakhir ini hanya sangkaan.

Perjuangan menyelesaikan kuliah dan karya ilmiah benar-benar bersimbah darah dan air mata yang memerah. Keluh kesah sering kali menghampiri dari berbagai arah, yang akhirnya membawa pada satu kata untuk menyerah. Tapi, perjuangan tak boleh patah di tengah, semuanya pasti memiliki hikmah, entah sampai kapan ianya berakhir renyah, hanya keyakinan yang membuat semangat ini terus mereunah.

Kini, perjuangan itu telah berakhir, dengan sebuah nama yang telah terukir, pada selembar kertas hasil olah pikir, ijazah yang menjadi hasil perjuangan akhir. Wisudapun telah berakhir, gegap gempita dan riuh rendahnya diiringi dengan dzikir. Tak perlu lagi berfikir, karena semuanya telah berakhir dan gelar sudah tersemat di nama akhir.

Namun, teringat dengan pesan dari dosen terhormat, bahwa wisuda bukanlah akhir sebuah matlamat, justru ini adalah awal menuju akhir tingkat, memberi manfaat bagi umat, serta dapat selamat di dunia dan akhirat. Ya, bahwa wisuda memang sebuah awal penuh nikmat, tapi setelahnya cobaan akan segera mendarat membuktikan apakah kita betul-betul belajar dan memiliki kebaikan niat, atau sekadar ingin mendapatkan ijazah serta gelar sesaat.

Wisuda menjadi awal dalam sebuah perjalanan, tentang kelimuan yang sudah didapatkan, apakah memberi manfaat dalam kehidupan, atau sekadar bangga dan penuh kesombongan, ada gelar di belakang nama yang dibanggakan. Masa yang akan membuktikan, bahwa anda sebagai wisudawan bukan hanya jago di kandangan, tapi memang memiliki keistimewaan, berpandangan luas dan siap menghadapi berbagai perubahan. Memberi solusi bagi problematikan kehidupan, yang banyak dihadapi oleh setiap insan.

Menjadi wisudawan hanya sehari, setelah itu sudah tak ada lagi, mungkin masih ada gelar di nama diri, tapi hakikatnya ianya akan terbukti. Apakah memiliki kualitas tinggi, atau berhenti dan tidak mau belajar lagi?. Inilah yang banyak terjadi, di mana menjadi wisudawan sehari, kemudian tak mau lagi membuka ayat-ayat Ilahi untuk ditafakuri, tak mau lagi membaca ayat-Nya di semesta ini, hingga akhirnya tenggelam dalam kesibukan yang tak ada lagi korelasi dengan ilmu dan pengetahuan hakiki.

Jadilah wisudawan sepanjang hidupmu, karena itulah ciri sejati para penuntun ilmu, semakin digali semakin terpaku, seperti padi yang tertunduk malu, karena ilmu yang menjadikannya semakin tawadhu. Setelah hari wisuda itu, kembali bersemangat untuk membuka setiap lembar buku, jurnal yang berbahasa baku hingga karya para ulama kini dan terdahulu. Bila ilmu telah mulai ada di kalbu, maka mengamalkannya menjadi sesuatu yang harus berlaku, jangan seperti perdu yang tumbuh di sela-sela batu, nampak syahdu namun tanpa memiliki bunga ataupun buah yang bermutu. Apalagi setelah itu? Mendakwahkan ilmu dan memberikan pengajaran kepada seluruh manusia di berbagai penjuru, tentu dengan meluruskan niatmu dan hanya mengharap keridhaan dari Rabb-Mu.

Itulah pesan bagi para wisudawan yang telah dilantik, ini adalah sebuah amanah akademik, yang harus dipertanggungjawabkan hingga akhir titik, ketika manusia berdiri di hadapan al-Maalik. Ilmu yang telah didapatkan menjadi pemantik, bahwa setiap kita memiliki kepribadian dan keistimewaan yang unik.  Menjadi mahkluk terbaik, ketika mampu memahami dan mengamalkan aturan dari Sang Pemilik, tak ada kata tidak apalagi menampik. Syariat terbaik dari Yang Maha Baik, pasti memberi manfaat dan mashlahat terbaik.  

Akhirnya adalah bahwa hendaknya setelah wisuda, setiap kita terus memperbaiki keyakinan di dada, niat yang harus terus diperhatikan adanya, agar apa yang lakukan memiliki makna di sisi-Nya. Setelah itu nikmati setiap prosesnya, niatkan semuanya sebagai bentuk ibadah kepada-Nya inilah yang membuat jiwa kita akan selalu bahagia, baik ketika anugerah ada ataupun musibah melanda. Selanjutnya fokus pada akhir tujuan hidup di dunia, keridhaan Allah Ta’ala dan masuk ke dalam surga, itulah sejatinya kesuksesan yang sebenarnya. Semoga kita mampu untuk mencapainya… Semoga. Bogor, 301121.

 

Senin, 30 Agustus 2021

Membahagiakan Diri, Orang Lain dan Negara

Oleh: Misno bin Mohd Djahri 



Bahagia adalah dambaan setiap manusia, segala cara dilakukan untuk mendapatkannya. Seseorang pergi untuk bekerja pada pagi dan pulang malam hari hanya untuk mendapatkan kebahagiaan. Sebagian lainnya mengkuti semua jejang pendidikan dari mulai sekolah dasar sampai program doktoral untuk mendapatkan kebahagiaan. Sementara yang lainnya bersusah-payah mencari pasangan hidup yang sesuai dengan kriteria ideal dengan harapan mendapatkan kebahagiaan. Segala cara dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan kebahagiaan, bahkan ada yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang mereka pahami sebagai kebahagiaan.

Setiap orang memahami bahagia dengan perspektif yang berbeda, sebagian menganggap bahwa bahagia itu adalah ketika memiliki harta kekayan yang banyak. Sebagian lainnya berpendapat bahwa kebahagiaan adalah ketika jabatan dan kekuasaan ada di tangannya. Sebagian yang lain lagi berpendapat bahwa memiliki pasangan hidup idaman dan anak-anak yang baik adalah sebuah kebahagiaan sebenarnya. Intinya ukuran kebahagiaan akan berbeda antara satu orang dengan orang lainnya.

World Happiness Report yang disusun Sustainable Development Solutions Network untuk PBB, melaporkan daftar terbaru negara-negara paling bahagia di dunia untuk memperingati Hari Kebahagiaan Internasional yang jatuh pada 20 Maret setiap tahun. Pada tahun 2019 negara yang terpilih sebagai negara paling bahagia adalah Finlandia.

Masyarakat Finlandia bisa mendapatkan kebahagiaan seutuhnya dengan cara berbuat baik terhadap sesama. Mereka bisa menemukan makna hidup dan kepuasan melalui kesetaraan yang lebih tinggi dan dukungan sosial. Tak ada kesenjangan sosial di negara tersebut.

Hal itu dapat diartikan bahwa masyarakat Finlandia mampu mendapatkan kebahagiaan melalui usaha minimal, tidak dengan berusaha keras untuk bahagia. Selain itu, masyarakat Finlandia juga punya kesadaran yang tinggi dalam membayar pajak, karena mereka paham kalau hasil pajak akan digunakan kembali untuk mereka.

Finlandia sebagai negara paling bahagia di dunia memiliki masyarakat yang menerapkan gaya hidup minimalis. Perlu diketahui bahwa masyarakat di negara kawasan Eropa itu dikenal dengan gaya hidupnya yang minimalis. Mereka hanya menggunakan barang-barang bermanfaat saja.

Dalam kehidupan sehar-harinya, mereka juga menerapkan budaya “Sisu”, yakni budaya hidup bahagia meski berada di masa-masa sulit, mereka tetap semangat dan tabah. Selain itu, masyarakatnya juga sangat dekat dengan alam. Mereka begitu menggemari tradisi ‘terapi hutan’, yaitu menjelajah hutan hingga ke pinggiran sungai dan danau.

Peringkat kedua dari negara paling bahagia adalah Denmark. Masyarakat di negara tersebut menerapkan konsep Hygge, yakni cara hidup bahagia, menenangkan jiwa, dan nyaman. Untuk memulai menerapkan konsep Hygge, masyarakat Denmark menciptakan astmosfer yang tenang dan nyaman supaya betah di rumah. Biasanya rumah mereka didesain dengan konsep super cozy yang mengusung interior kayu dan gelas keramik. Selain itu, masyarakat Denmark juga selalu bersyukur sehingga menjadikan mereka lebih gemar menolong, lebih pemaaf dan tidak materialistis.

Peringkat ketiga diduduki oleh Islandia yang menjunjung tinggi kesetaraan, pajak rendah, pendidikan berkualitas, dan kesehatan gratis diterapkan pemerintah Islandia. Kesetaraan menjadi prioritas utama bagi pemerintah di negara yang memiliki pemandangan alam memukau itu. Bahkan, di tahun 2018, pemerintah Islandia telah menyetarakan upah antara pekerja pria dan wanita.Faktor terbesar itulah yang membuat Islandia menempati posisi keempat negara paling bahagia di dunia.

Peringkat selanjutnya Belanda yang terkenal dengan gaya hidupnya yang santai dan ramah. Untuk menciptakan hidup bahagia, mereka menerapkan konsep mendukung sepenuhnya dan kontrol seperlunya. Bagi kalangan dewasa seperti orang tua maupun guru menciptakan suasana yang setara antara satu sama lainnya. Hal itu membuat para remaja di Belanda tidak merasakan perundungan dan bisa berkomunikasi secara leluasa dan terbuka dengan guru maupun orangtuanya.

Swiss dinobatkan sebagai negara paling bahagia di dunia karena masyarakatnya sangat konsisten dalam urusan ketepatan waktu.Tepat waktu sudah mendarah-daging bagi DNA Swiss. Negara ini juga dikenal dengan berbagai brand jam tangan berkelas.

Budaya tepat waktu membuat Swiss sangat bisa diandalkan. Bila janji bertemu pukul 15.00, pertemuan pun akan terjadi tepat pada pukul 15.00. Letak geografis negara Swiss yang berada di kawasan pegunungan itulah yang membentuk karakter masyarakatnya selalu tepat waktu.

Selandia Baru, selain terkenal dengan keindahan alamnya yang luar biasa, Selandia Baru juga menjadi negara terbersih dari korupsi sehingga masuk sebagai negara paling bahagia di dunia. Kebijakan dan sistem penanganan korupsi yang diterapkan pemerintah Selandia Baru patut diacungi jempol. Tak ada lagi ruang bagi siapa pun juga untuk korupsi, sehingga birokrasi di negara ini sangat mudah. Misalnya, untuk mengurus izin-izin usaha, masyarakat Selandia Baru hanya butuh waktu sehari saja.Bahkan, Selandia Baru menempati posisi negara tercepat di dunia dalam urusan birokrasi. Maka tak heran, negara tersebut dijuluki sebagai negara bisnis tercepat di dunia.

Norwegia pernah menempati peringkat pertama sebagai negara paling bahagia di dunia pada tahun 2017 silam. Masyarakat di negara tersebut cenderung dekat dengan keluarga dan punya keinginan membina hubungan hangat dengan sesama.Keamanan finansial juga jadi faktor pendorong negara ini menjadi negara yang paling berbahagia di dunia ini. Di Norwegia, untuk biaya kesehatan, iuran yang harus dibayarkan maksimal US$ 300 per tahunnya.

Dengan begitu, masyarakatnya akan memperoleh fri korti (kartu bebas) sehingga mereka tak perlu lagi bayar biaya kesehatan sepanjang tahun.Karena kebutuhan medisnya terjamin membuat poin Norwegia menjadi terdongkrak dalam variabel penentu kebahagiaan.

Austria menjadi salah satu negara paling bahagia di dunia. Bahkan, Wina, ibu kota Austria menjadi salah satu kota yang memiliki kualitas hidup terbaik di dunia.Meski dikenal sebagai negara yang rendah sumber daya alam, namun pada kenyataannya Austria mampu membuat masyarakatnya lebih bahagia.Hal itu karena kejujuran menjadi budaya bagi masyarakatnya. Semua warga, mulai dari kalangan anak-anak hingga dewasa diajarkan kejujuran.Di semua tingkatan, pelajaran utama di sekolah Austria adalah menanamkan kejujuran.

Bagi pemerintah Austria, pintar penting, tapi kepintaran tanpa kejujuran bisa berujung malapetaka.Pemerintah Austria juga menjamin keamanan, kesehatan, dan pendidikan. Bahkan, jarang sekali ada polisi berseragam yang lalu-lalang di sepanjang kota.

Bagaimana dengan Indonesia? ia menempati urutan ke-92 dari 159 negara di dunia yang paling bahagia. Peringkat ini setidaknya lebih baik dibanding tahun sebelumnya yang berada di posisi ke-96.Selain itu, Indeks kebahagiaan Indonesia juga mengalami peningkatan dari 5,093 menjadi 5,192. Namun, kebahagiaan Indonesia masih tetap kalah dibandingkan beberapa negara di Asia Tenggara lain, seperti Singapura menempati peringkat ke-35, Filipina peringkat ke-69, dan Malaysia peringkat ke-80.

Membahas tentang kebahagiaan tidak akan lengkap tanpa memahami definisi kebahagiaan yang disebutkan oleh para ahli. Kebahagiaan menurut Aristoteles (Adler, 2003) menyatakan bahwa happiness atau kebahagiaan berasal dari kata “happy” atau bahagia yang berarti feeling good, having fun, having a good time, atau sesuatu yang membuat pengalaman yang menyenangkan. Sedangkan orang yang bahagia menurut Aristoteles (Rusydi, 2007) adalah orang yang mempunyai good birth, good health, good look, goodluck, good reputation, good friends, good money and goodnes

Kebahagiaan merupakan sebongkahan perasaan yang dapat dirasakan berupaperasaan senang, tentram, dan memiliki kedamaian (Rusydi, 2007). Sedangkan happiness atau kebahagiaan menurut Biswas, Diener & Dean (2007) merupakan kualitas dari keseluruhan hidup manusia apa yang membuat kehidupan menjadi baik secara keseluruhan seperti kesehatan yang lebih baik, kreativitas yang tinggi ataupun pendapatan yang lebih tinggi.

Fumham (2008) juga menyatakan bahwa kebahagiaan merupakan bagian dari kesejahteraan, contentment, to do your life satisfaction or equally the absence of psychology distress. Ditambahkan pula bahwa konsep kebahagiaan adalah merupakan sinonim dari kepuasan hidup atau satisfaction with life (Veenhoven, 2000). Diener (2007) juga menyatakan bahwa satisfaction with life merupakan bentuk nyata dari happiness atau kebahagiaan di mana kebahagiaan tersebut merupakan sesuatu yang lebih dari suatu pencapaian tujuan dikarenakan pada kenyataannya kebahagiaan selalu dihubungkan dengan kesehatan yang lebih baik, kreativitas yang lebih tinggi sertatempat kerja yang lebih baik.

Sumner (Veenhoven, 2006) menggambarkan kebahagiaan sebagai “memiliki sejenis sikap positif terhadap kehidupan, dimana sepenuhnya merupakanbentuk dari kepemilikan komponen kognitif dan afektif. Aspek kognitif dari kebahagiaanterdiri dari suatu evaluasi positif terhadap kehidupan, yang diukur baik melalui standardatau harapan, dari segi afektif kebahagiaan terdiri dari apa yang kita sebut secaraumum sebagai suatu rasa kesejahteraan (sense of well being), menemukan kekayaanhidup atau menguntungkan atau perasaan puas atau dipenuhi oleh hal-hal tersebut.

Diener (1985) menyatakan bahwa happiness atau kebahagiaan mempunyaimakna yang sama dengan subjective wellbeing dimana subjective wellbeing terbagiatas dua komponen didalamnya. Kedua komponen tersebut adalah komponen afektif dan komponen kognitif.

Dengan demikian, dapat disimpulkan pengertian kebahagiaan adalah perasaan positif yang berasal dari kualitas keseluruhan hidup manusia yang ditandai denganadanya kesenangan yang dirasakan oleh seorang individu ketika melakukan sesuatu hal yang disenangi di dalam hidupnya dengan tidak adanya perasaan menderita.

Kebahagiaan sebagai sebuah perasaan dapat muncul dengan adanya beberapa indikator yang ada, misalnya terpenuhinya kebutuhan pokoknya, keamanan yang terjamin, kesejahteraan dan fasilitas hidup yang cukup. Dalam skala negara, maka negara yang bahagia dapat dilihat dari; Pendidikan gratis, perawatan kesehatan, tingkat kejahatan rendah, jaminan sosial yang nyaman, populasi yang relatif homogen dan makmur.

Selain itu ada juga standar untuk mengukur kebahagiaan sebuah negara dilakukan berdasarkan usia harapan hidup, pendapatan per kapita, kebebasan untuk menentukan pilihan, dukungan sosial, hingga kemurahan hati.

Indonesia menempati posisi ke-92 dari 159 negara di dunia dalam tingkat kebahagiaan, maknanya bahwa warga negara Indonesia belum bisa merasakan kebahagiaan dengan sepenuhnya. Salah satu dari penyebabnya adalah karena mereka belum bisa menjadi pembelajar, ya... belajar adalah kunci utama dalam meraih bahagia.

Bukankah di Indonesia sudah ada wajib belajar minimal 9 (sembilan) tahun, yaitu dari tingkat sekolah dasar sampai sekolah menengah. Ini permasalahannya, bahwa ternyata pembelajaran yang dilaksanakan saat ini masih jauh dari tujuan pendidikan itu sendiri.

Metode belajar yang ada saat ini masih cenderung menempatkan anak sebagai obyek,  sehingga mereka dipaksa untuk menghafl berbagai rumus, teori dan berbagai ilmu pengetahuan. Bahkan sejak tingkat dasar mereka sudah diberikan mata pelajaran yang begitu bayak sehingga bukannya mereka merasa senang belajar, yang muncul adalah belajar itu menjadi beban sehingga mereka tertekan dan stress dengan belajar.

Selain itu pembelajaran yang diberikan tidak sesuai dengan perkembangan anak sehingga kita lihat anak sekolah menengah sudah belajar ilmu untuk perguruan tinggi. Akibatnya lagi-lagi anak tidak suka dengan yang namanya belajar.

Maka bagaimana caranya agar meraih bahagia? Jawabannya adalah dengan memahami makna bahagia, mengetahui kunci-kunci utama kebahagiaan dan menghilangkan segala penghambat dalam meraih kebahagiaan.

 

Selasa, 06 Oktober 2020

Customize University: Perguruan Tinggi Berbasis Kebutuhan Mahasiswa

Abdurrahman Misno BP



 

“Pak sepertinya saya tidak nyaman dengan kelas dan program studi saya” demikian keluhan mahasiswa Program Studi Magister Ekonomi Syariah tempat saya mengajar. Ketidaknyamanan tersebut utamanya adalah karena beberpa mata kuliah yang dia rasa tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan, khususnya terkait dengan bidang konsentrasi yang akan diambilnya. Ya... dia memang berkeinginan untuk melanjutkan riset pada level degree yang telah dilakukannya yaitu terkait dengan pengobatan ala Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasalam.  

Saya sempat berfikir hal lain terkait dengan mata kuliah, cara mengajar dosen, teman-teman satu kelas dan mungkin fakor usia menjadi sebab ketidaknyamanan dari mahasiswa level master tersebut. Tetapi kemudian saya berfikir, bahwa ketidaknyamanan yang paling utama adalah bahwa beberapa mata kuliah memang tidak dia perlukan, karena ia ingin fokus pada satu bidang yang menurutnya itulah passionnya.

Menarik untuk dibincangkan, bahwa pada level master tentu saja pemikiran mahasiswa di level ini sudah sampai pada tingkat kematangan. Berbeda dengan mahasiswa level degree atau sarjana yang terkadang masih mencari jati dirinya. Pada level master mereka lebih memahami apa yang dibutuhkannya untuk dirinya, kariernya dan masa depannya. Sehingga sangat wajar jika mereka akan memilih dan memilah setiap program studi hingga mata kuliah yang diambilnya.

Padahal sejatinya sistem SKS yang telah lama diterapkan di perguruan tinggi sejatinya juga mengakomodir mahasiswa untuk bisa memilih mata kuliah yang dia butuhkan. Demikian juga penetapan mata kuliah dalam sebuah kurikullum prodi telah dirumuskan sedemikian rupa sehingga akan mewujudkan lulusan sesuai dengan kompetensinya. Sayangnya hal ini terkadang masih belum dipahami dengan baik oleh mahasiswa, sehingga sistem “berjama’ah” dalam artian dari awal sampai akhi dalam satu rombongan kelas masih menjadi hal lumrah. Bahkan kelihatan aneh kalau ada mahasiswa yang berpindah-pindah kelas karena mata kuliah yang diambilnya.

Demikian pula pola mengajar dosen yang masih terkesan gaya “kolonial” sehingga bukannya membimbing mahasiswa malah membebani mahasiswa. Masuk kelas, menjelaskan, memberika tugas dan kemudian pulang adalah kebiasaan dosen yang sudah tidak lagi sesuai dengan tuntutan zaman.

Customize University istilah ini muncul dalam pikiran saya untuk menaanggapi kasus mahasiswa master saya. Lebih tepatnya mungkin Customize Departement, yaitu program studi yang menyesuaikan kebutuhan dari mahasiswa. Sebagai contoh ketika Ahmad ingin menjadi Dewan Pengawas Syariah (DPS) maka ia harus mengambil mata kuliah yang akan mendukung profesi yang akan dijalaninya. Mata kuliah yang tidak mendukung secara langsung sebaiknya tidak perlu diambilnya. Bahkan sangat mungkin ia mengusulkan mata kuliah baru yang belum ada dalam kurikullum.

Demikian juga Aisyah yang ingin menjadi seorang Peneliti bidang Ekonomi Syariah, maka dia akan mengambil mata kuliah yang akan mendukung bagi harapannya tersebut. Dia tidak akan mengambil mata kuliah yang tidak dibutuhkannya serta tidak terkait langsung dengan profesi yang akan digelutinya nantinya. Ia juga berhak mengusulkan mata kuliah baru ke prodi. Bukankah ini juga fungsi dari rekonstruksi kurikullum? Ya... tepat sekali.

Gagasan ini mungkin hanya cocok untuk level magister dan doktoral, dengan pertimbangan mahasiswa pada level ini lebih dapat memahami kebutuhannya serta apa yang sebenarnya dia inginkan ketika akan masuk ke suatu program studi di level Pascasarjana. Apabila dihubungkan dengan konsep Kampus Merdeka atau Belajar Merdeka sepertinya ada korelasi yang kuat, di mana mahasiswa memilih mata kuliah yang memang dia butuhkan dan sukai. Mahasiswa tidak lagi dipaksa untuk mengambil mata kuliah yang tidak dia butuhkan atau tidak disukainya. Tentu saja peran dosen pembimbing juga menjadi sangat penting khususnya pada level sarjana. Mereka adalah konsultan dan pembimbing bagi mahasiswa dalam menentukan masa depannya.

Customize University menjadi solusi bagi mahasiswa yang memiliki latar belakang keilmuan yang berbeda atau bagi mahasiswa yang memang ingin fokus pada bidang yang akan ditekuninya. Program studi sendiri menjadi gawang bagi kreatifitas mahasiswa agar senantiasa selaras dengan rumpun keilmuan dari prodi tersebut. Namun, pilihan mahasiswa khususnya pada level magister menjadi pertimbangan utama.

Gagasan ini menjadi satu awal bagi pengembangan pembelajaran khususnya pada level Magister sehingga ke depan mahasiwa pada level ini betul-betul menjadi ahli dalam bidang yang memang dia sukai dan diharapkan menjadi ekspert di bidang tersebut. Maka bagi dosen dan tenaga kependidikan harus bersiap untuk terus menjadi lebih baik, berani berubah daalam menghadapi berbagai perkembangan yang ada di tengah masyarakat. Bogor, Waktu Dhuha, 06092020.