Selasa, 26 April 2022

Tangis di Akhir Finish

Oleh: Abd Misno, MEI

 


Ramadhan sebentar lagi akan berpamitan, bulan yang penuh dengan kemuliaan akan menjadi kenangan sepanjang zaman. Setiap orang berbeda-beda dalam melepas bulan penuh keberkahan, adanya berurai air mata karena bulan mulia sudah tiada di hapan mata. Sebulan penuh berpuasa dan beramal sholeh di dalamnya membawa kebiasaan mulia dan semakin mendekatkan diri kepadaNya. Ia betul-betul menikmati Ramadhan, hingga tak rela bila harus segera meninggalkan. Semoga Allah Ta’ala merahmati mereka yang memang bersungguh-sungguh dalam mengisi Ramadhan, air mata yang mengalir karena berpisah dengan bulan ini menjadi saksi di akhirat nanti, bahwa ia telah mengisi bulan ini dengan sepenuh hati.

Tangis di akhir finish adalah bukti keimanan seseorang, air mata yang mengalir karena Ramadhan akan berakhir. Ia khawatir jika nanti tidak dapat berjumpa lagi dengan bulan yang penuh dengan berjuta pahala dalam ibadah dan dzikir. Kekhawatiran yang muncul dari hati yang paling dalam, karena usia insan adalah rahasia Ar-Rahman. Rasa kekhawatiran inilah yang kemudian membawa syahdu di ujung bulan yang selalu dirindu, bahkan hingga di ujung usiamu. Semoga Allah Ta’ala selalu memberi keberkahan bagi mereka yang dapat menikmati Ramadhan ini, hingga di akhir usia nanti.

Sebagian manusia juga menangis, walau tangis bahagia karena Ramadhan telah berlalu darinya, mereka adalah orang-orang yang tidak percaya, para pendosa mereka yang tidak bisa menikmati Ramadhan mulia. Mereka menangis bahagia karena mereka kembali bebas dari berbuat maksiat dan dosa, mereka bahagia karena mereka kembali kepada lingkungannya yang penuh dengan alpha. Sebagian kaum muslimin juga berada pada posisi ini, di mana mereka juga terbawa dengan orang-orang yang tidak bisa menikmati Ramadhan yang mulia. Semoga kita semua terhindar dari orang-orang yang memang tidak terbiasa dengan hadirnya Ramadhan mulia.

Ada juga sebagian manusia yang biasa saja dengan berakhirnya Ramadhan, sedih tidak bahagia juga tidak. Biasa saja, menjalani hari-hari tanpa makna, bahkan tidak merasa bahwa Ramadhan ini adalah bulan mulia yang memiliki banyak keutamaan di dalamnya. Mereka biasanya yang belum memahami keutamaan Ramadhan, atau yang terlalu sibuk dengan urusan dunia hingga Ramadhan yang tiba disikapi dengan biasa saja. Bahkan hingga akhir Ramadhan sikapnya masih biasa saja, acuh tak acuh dan seperti tidak ada apa apa yang terjadi. Bagi yang merasa seperti ini sepertinya harus banyak belajar kembali Islam yang telah memberikan keutamaan di beberapa bulan khususnya bulan Ramadhan.

Sekadar ingatan, Ramadhan yang akan berpamitan semestinya menjadi banyak pelajaran bahwa ianya memiliki banyak keutamaan. Maka jika kita tidak dapat melaksanakan berbagai peribadahan di dalamnya maka sungguh kita rugi adanya, demikian pula jika kita merasa biasa dengan datangnya maka berarti ada sesuatu dalam diri kita, yaitu keimanan yang mungkin tereduksi dengan dosa dan kesalahan yang menutupi hati kita. Solusi untuk ini semua adalah dengan kembali mempelajari agama kita, karena dengan ilmu kita akan dapat mengetahui banyak syariah Islam yang mulia.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan kepada kita hidayah serta inayahnya sehingga di akhir Ramadhan ini kita masih bisa mengisinya dengan amal mulia, dan ketika ia telah meninggalkan kita maka selayaknya untuk kita berharap untuk dapat berjumpa kembali dengannya. Karena bulan ini benar-benar membawa keberkahan dan memiliki banyak keutamaan serta dilipatgandakannya pahala amal di dalamnya. Aameen Ya Rabbal aalameen… 26042022.     


Minggu, 24 April 2022

Hari-hari Akhir Ramadhan

Oleh: Abd Misno

 


Ramadhan tinggal beberapa hari lagi ke depan, sebagian kaum muslimin telah larut ke dalam ibadah khas di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ini. Sebagian lainnya mulai sibuk dengan persiapan hari rayanya; berbelanja, membuat beraneka makanan dan pulang kampung bagi yang merantau ke berbagai kota di seantero Indonesia. Sementara sebagian lainnya masih tenggelam dalam kesibukan hariannya, bekerja, berdagang dan aktifitas harian yang biasa dilakukan di luar dan hingga di hari-hari akhir Ramadhan. Fenomena hari-hari akhir Ramadhan memang disikapi dengan berbagai pandangan oleh berbagai kelompok umat Islam.

Mereka yang melaksanakan ibadah khas di akhir bulan yaitu i’tikaf adalah orang-orang yang berusaha untuk menjalankan syariah Islam dengan istiqamah. Kebangkitan Islam dan semangat umatnya untuk kembali kepada Islam memang sangat kelihatan khususnya di perkotaan dan anggota dari pergerakan Islam. I’tikaf menjadi ibadah tahunan yang mengalami banyak perkembangan, dari mulai dilakukan secara sendiri-sendiri hingga dibuat program khusus dengan panitia yang menyiapkan segala sesuatunya. Program ini yang yang gratis namun ada juga yang berbayar, untuk sekadar makan dan minuman selama ber’itikaf. Sebagai ibadah yang memerlukan persiapan khusus karena harus berdiam diri di masjid dan tidak boleh keluar hingga pagi hari raya, maka i’tikaf dilakukan oleh mereka yang tidak banyak kegiatan di luar atau yang sejak awal sudah mempersiapkan dirinya.

I’tikaf sangat dianjurkan dalam Islam, Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam juga melaksanakan ibadah ini dan dilanjutkan pula oleh istri-istrinya setelah beliau wafat. Ibadah ini juga dilakukan oleh para shahabat dan umat Islam setelahnya. Salah satu dari tujuan utama dari I’tikaf adalah mengisi hari-hari akhir bulan Ramadhan guna memperoleh lailatul qadar yang ibadah di dalamnya lebih baik dari seribu bulan. Selain itu tentu saja menjadi satu ibadah yang melatih pelakunya untuk semakin dekat kepada Allah Ta’ala, sehinga diharapkan energi I’tikaf ini akan dilanjutkan di masa-masa berikutnya.

Hari-hari akhi Ramadhan juga diwarnai dengan meningkatnya konsumsi umat Islam, membeli pakaian untuk lebaran, membuat beraneka makanan hingga mempersiapkan diri untuk pulang kampung (mudik) guna bertemu dengan kerabat dan keluarganya. Tradisi ini hukumnya mubah saja, karena bergembira di hari raya juga hal yang dibolehkan dalam syariah, demikian pula membuat beranekaragam makanan. Mudik untuk bertemu dengan keluarga khususnya orang tua menjadi hal yang wajib dalam konteks berbuat baik kepada kedua orang tua, serta menyambung silaturahmi dengan kerabat dan keluarga. Hal yang tidak tepat adalah ketika berlebih-lebihan dalam menyiapkan ahri raya, membeli pakaian secara berlebihan, demikian pula menyiapkan makanan dan minuman yang berlebihan. Lebih dari itu adalah jika dalam menyiapkan hal yang mubah ini ternyata melalaikan dari kewajiban agama atau melalaikan berbagai syariah yang ada di akhir bulan mulia. Sehinga boleh membeli pakaian baru, membuat makanan dan minuman serta pulang kampung untuk bertemu dengan keluarga, namun tidak boleh melalaikan dari kewajiban agama, serta hal-hal yang disyariahkan lainnya.

Ada sebagian umat Islam yang ketika berada di akhir-akhir Ramadhan namun acuh tak acuh dengannnya. Ia masih sibuk dengan urusan dunianya hingga terlupa akan keutamaan (fadhilah) hari-hari akhir Ramadhan dan malam lailatul qadar. Mungkin ia tak paham dengan agama dan berbagai syariahNya, tidak mengetahui akan Ramadhan sebagai bulan mulia serta banyak keutamaan di dalamnya. Bagi mereka yang keadaannya seperti ini maka hendaknya kembali belajar agama dan kita yang telah mengetahui untuk mengajaknya mengisi bulan mulia. Bila ada yang acuh tak acuh karena memang kesibukannya, maka mengingatkannya dengan baik adalah cara utama, mungkin hatinya belum terbuka untuk menerima Islam sebagai pedoman hidupnya. Mungkin hidayah belum sampai kepadanya, atau mungkin memang dia sedang terlena dengan hawa dunianya. Maka mengingatkan mereka akan keutamaan Ramadhan dan hari-hari akhirnya harus terus dilakukan, karena inilah tugas kita bersama.

Umat Islam memang berbeda-beda dalam menyikapi hari-hari akhir Ramadhan, setiap mereka memiliki keperluan, kebutuhan dan pemikiran yang berbeda-beda sesuai dengan pemahaman keagamaan mereka. Maka selama tidak melanggar syariahNya, kitab oleh melakukannya dengan tidak berlebih-lebihan di dalamnya. Apabila kita ada kelonggaran dan keimanan semakin bertambah maka laksanakan sunnah-sunnahNya yang membawa kepada peningkatan iman dan keyakinan yang mendalam semisal I’tikaf di sepuluh akhir Ramadhan.

Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah kepada kita, hingga secara bertahap kita akan dapat mengisi hari-hari akhir Ramadhan ini. Wallahua’alam bishawab, 24042022.

 

 

Sebab-sebab Datangnya Rizki

Ayat-ayat yang berkaitan dengan rizki sangat banyak sekali, diantaranya adalah terkait dengan sebab-sebab datangnya rizki bagi manusia. Beberapa ayat terkait dengan rizki adalah sebagai berikut:

 

1.      Rezeki Yang Telah Dijamin.

وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ.

 "Tidak ada satu makhluk melatapun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin Allah Ta'ala rezekinya." (QS. Hud: 6)

 

2.      Rezeki Karena Usaha.

وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَى...

"Tidaklah manusia mendapatkan apa-apa kecuali apa yang dikerjakannya." (QS. An-Najm : 39).

 

3.      Rezeki Karena Bersyukur.

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ...

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu." (QS. Ibrahim: 7)

 

4.      Rezeki Tak Terduga.

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ.

"Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah Ta'ala niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya."  (QS. At-Thalaq : 2-3).

 

5.      Rezeki Karena Istighfar.

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا.

"Beristighfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, pasti Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta.” (QS. Nuh: 10-11).

 

6.      Rezeki Karena Menikah.

وَأَنكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ.

"Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak dari hamba sahayamu baik laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, maka Allah Ta'ala akan memberikan kecukupan kepada mereka dengan kurnia-Nya." (QS. An-Nur : 32).

 

7.      Rezeki Karena Anak.

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ.

"Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu kerana takut miskin. Kamilah yang akan menanggung rezeki mereka dan juga (rezeki) bagimu.” (QS. Al-Israa' : 31).

 

8.      Rezeki Karena Sedekah.

مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً.

"Siapakah yang mahu memberi pinjaman kepada Allah Ta'ala, pinjaman yang baik (infak & sedekah), maka Allah Ta’ala akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipatan yang banyak." (QS. Al-Baqarah: 245).


Demikian beberapa ayat terkait dengan rizki, semoga Allah Ta'ala memberikan kepada kita rizki yang berkah dan melimpah. Wallahu a'lam. 24042022.

Jumat, 22 April 2022

RAMADHAN YANG TERNODA

 Oleh: Abd Misno

 


Bulan Ramadhan yang penuh dengan kemuliaan tidak selamanya diagungkan oleh sebagian umat Islam, beberapa mereka masih terlena dengan hawa dunia hingga puasa yang bertujuan untuk mencapai takwa sering sekali ternoda dengan dosa yang dilakukannya. Apakah puasa tidak bisa mencegahnya dari sifat alpha? Kenapa Ramadhan yang katanya Iblis, syaithan dan balatentaranya dibelenggu masih saja ada dosa yang dilakukan oleh manusia?

Riwayat mengenai dibelenggunya syaithan adalah shahih (benar) datang dari Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam, beliau bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu. HR. Bukhari dan Muslim.

Riwayat lainnya menjelaskan:

إِذَا كَانَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ

Jika masuk bulan Ramadhan, pintu-pintu rahmat dibukan, pintu-pintu Jahannam ditutup dan setan-setan pun diikat dengan rantai. HR. Bukhari dan Muslim.

Al-Qadhi ‘Iyadh menyatakan dalam Fath Al-Bari dan Syarh Shahih Muslim bahwa yang dimaksud adalah makna secara tekstual dan hakiki. Terbukanya pintu surga, tertutupnya pintu neraka dan terikatnya setan adalah tanda masuknya bulan Ramadhan, mulianya bulan tersebut dan setan pun terhalang mengganggu orang beriman. Ini isyarat pula bahwa pahala dan pemaafan dari Allah begitu banyak pada bulan Ramadhan. Tingkah setan dalam menggoda manusia pun berkurang karena mereka bagaikan para tahanan ketika itu. Beliau juga menyatakan “Juga dapat bermakna terbukanya pintu surga karena Allah memudahkan berbagai ketaatan pada hamba-Nya di bulan Ramadhan seperti puasa dan shalat malam. Hal ini berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Di bulan Ramadhan, orang akan lebih sibuk melakukan kebaikan daripada melakukan maksiat. Inilah sebab mereka dapat memasuki surga dan pintunya. Sedangkan tertutupnya pintu neraka dan terbelenggunya setan, inilah yang mengakibatkan seseorang mudah menjauhi maksiat ketika itu.

Berdasarkan dua riwayat ini sangat jelas sekali bahwa syaithan diikat atau dibelenggu di bulan Ramadhan, tapi kenapa dosa dan maksiat masih ada di bulan mulia ini? Abul ‘Abbas Al-Qurthubi menafsirkan makna dari “syaithan dibelenggu” dengan beberapa perincian; pertama, Setan diikat dari orang yang menjalankan puasa yang memperhatikan syarat dan adab saat berpuasa. Adapun yang tidak menjalankan puasa dengan benar, maka setan tidaklah terbelenggu darinya. Kedua, Seandainya pun kita katakan bahwa setan tidak mengganggu orang yang berpuasa, tetap saja maksiat bisa terjadi dengan sebab lain yaitu dorongan hawa nafsu yang selalu mengajak pada kejelekan, adat kebiasaan dan gangguan dari setan manusia. Ketiga, Bisa juga maksudnya bahwa setan yang diikat adalah umumnya setan dan yang memiliki pasukan sedangkan yang tidak memiliki pasukan tidaklah dibelenggu. Intinya maksudnya adalah kejelekan itu berkurang di bulan Ramadhan. Ini nyata terjadi dibandingkan dengan bulan lainnya.

Penjelasan yang lebih komprehensif disebutkan oleh Ibnu Taimiyah dalam kitab Majmu’ fatawa  beliau menjelaskan bahwa pada bulan Ramadhan, jiwa lebih condong pada kebaikan dan amalan shalih, yang dengan kebaikan ini sebagai jalan terbukanya pintu surga. Begitu pula kejelekan pun berkurang ketika itu yang akibatnya pintu neraka itu tertutup. Sedangkan setan itu diikat berarti mereka tidaklah mampu melakukan maksiat sebagaimana ketika tidak berpuasa. Namun maksiat masih bisa terjadi karena syahwat. Ketika syahwat itu ditahan, maka setan-setan pun terbelenggu.

Menurut Ad-Dawudi dan Al-Mahlab, maksudnya adalah Allah menjaga kaum muslimin atau mayoritas dari mereka dari kemaksiatan dan kecenderungan untuk menuruti bisikan setan. Bahkan Al-Mahlab memberikan argumentasi bagi kalangan yang memahami dibelenggunya setan dalam pengertian hakiki. Menurutnya, masuknya para pendurhaka (ahlul ma’ashi) pada bulan Ramadhan dalam ketataan sehingga mereka mengabaikan hawa nafsunya menunjukkan terbelenggunya setan.

Abu Hasan Ali bin Khalaf bin Abdul Malik bin Baththal Al-Bakri Al-Qurthubi atau yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Baththal, menurutnya “Setidaknya ada dua penjelasan yang diajukan para ulama tentang makna sabda Rasulullah saw di atas. Pertama, ulama yang memahami secara literalis atau sesuai bunyi teks haditsnya. Pintu surga dibuka, dan setan dibelenggu dipahami dalam pengertian yang sebenarnya (al-haqiqi) sehingga intensitasnya dalam menggoda manusia berkurang pada bulan Ramadhan dibanding dengan bulan lainnya.”

Merujuk pada penjelasan tersebut sangat jelas abgi kita bahwa ada dua pendapat mengenai makna dari syaithan yang dibelenggu: Pertama, makna hakiki bahwa syaithan betul-betul dibelenggu sehingga tidak mampu untuk menggoda manusia. Kedua, makna majazi yaitu diikatnya syaithan adalah symbol berkurangnya maksiat karena pembatasan syaithan untuk menggoda manusia. Jika demikian adanya kenapa masih ada dosa di bulan mulia? Kenapa Ramadhan mulia ternoda dengan dosa manusia di dalamnya?

Jawabannya adalah bahwa manusia yang melakukan dosa disebabkan oleh dua hal, faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah sebab-sebab terjadinya dosa karena dirinya, hawa nafsunya dan keinginannya sebagai manusia untuk berbuat dosa. Sedangkan faktor eksternal adalah karena godaan iblis, syaithan dan balatentaranya termasuk dari manusia lainnya agar seorang manusia berbuat dosa. Apabila faktor ekternal ini sangat mendominasi di bulan-bulan selain Ramadhan, maka di bulan mulia ini faktor internal yang menjadi penyebab utama.

Manusia dengan hawa nafsunya selalu mengajak kepada keburukan, dosa dan kesalahan, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

إِنَّ ٱلنَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ

…karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. QS. Yusuf: 53.

Maka, di bulan yang mulia ini yang seharusnya hawa nafsu ini melemah bersamaan dengan jasad yag melemah ternyata tidak semuanya sama pada manusia. Ada beberapa dari mereka, walaupun sedang berpuasa tetapi hawa nafsunya begitu kuat menguasai raganya hingga ia memberontak dan mengajak raga untuk bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Hawa nafsu yang telah membelenggu memang sering sekali susah untuk dilepaskan, bahkan hingga bulan Ramadhan datang. Hingga walaupun Ramadhan tiba, tapi para pengikut hawa ini masih saja tergoda dengan hawanya hingga akhirnya dosa dilakukannya.

Mungkin sedikit perbedaan, bahwa betul ketika dia berpuasa seseorang akan berusaha untuk tidak melakukan perbuatan dosa, tapi bila waktu berbuka maka mereka kemudian membebaskan hawa nafsunya hingga dosa pun dilakukannya. Orang seperti ini di level atas dari orang-orang yang ketika siang hari Ramadhan di saat orang-orang berpuasa mereka tetap melakukan dosa. Kedua-duanya tentu saja tidak baik di mata Allah Ta’ala. Ada level di atasnya yaitu seseorang yang menahan hawa nafsunya selama Ramadhan namun ketika sudah di luar Ramadhan ia kembali bermaksiat dosa kepada Rabb-nya. Pada level ini berarti puasa yang dilakukannya tidak secara signifikan memberikan efek pada peningkatan ketakwaan pada dirinya.

Ramadhan yang ternoda, adalah ketika bulan mulia ini ternyata dinodai dengan berbagai dosa yang dilakukan oleh umat manusia. Mungkin kita juga baik sengaja atau tidak sengaja telah menodainya, maka memohon ampun padaNya (istighfar) dan selalu bertaubat atas semua dosa dan maksiat yang diperbuat adalah jalan keluar yang utama. Walau terasa berat sejatinya inilah perjuangan melawan hawa nafsu yang ada dalam diri manusia, rasa susah dan berat ini akan dibalas dengan rasa ringan dan kebahagiaan di masa yang akan datang serta di negeri penuh keabadian.

Nasihat untuk diri sendiri dan mereka yang masih terjerat maksiat dan terbawa dosa di bulan mulia, maka segeralah tahan diri jangan sampai melakukannya lagi. Mumpun Ramadhan masih di sepuluh akhir, maka perbanyaklah ibadah, bertaubat kepadanya dan jangan lupa iringi dengan doa semoga Allah Ta’ala menundukan hawa nafsu kita.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ ، وَالأَعْمَالِ ، وَالأَهْوَاءِ

Allohumma Inni A’udzu Bika Min Munkarootil Akhlaaqi Wal A’maali Wal Ahwaa’

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari akhlak, amal, dan hawa nafsu yang jelek. HR. Tirmidzi.

Semoga Allah Ta’ala selalu menjaga diri kita dari berbuat dosa di bulan mulia, kalaupun terjatuh maka seger beristighfar, bertaubat dan jangan mengulanginya di bulan mulia dan bulan-bulan berikutnya. Aameen Ya Rabbal’alameen. Tulisan ini adalah pengingat diri, semoga bukan lilin yang terbakar ketika menerangi… Jumat berkah, 22042022.  

 

Jumat, 15 April 2022

Ramadhan di Persimpangan Jalan: Antara Syariah Mulia hingga Fenomena Kenaikan Harga

Oleh: Abd Misno

 


Bulan Ramadhan yang hadir setiap tahun memberikan fenomena tersendiri bagi umat Islam, ia juga mewarnai budaya di seluruh semesta. Kehadirannya disambut dengan suka cita oleh seluruh umat Islam di berbagai penjuru dunia, dari gempita Eropa hingga pedalaman Afrika dan belantara Asia. Semua umat Islam merayakan Ramadhan dengan suka cita, hingga perayaannya menghiasi berbagai media.

Shaum (puasa) di bulan Ramadhan merubah beberapa sendi kehidupan umat Islam di seluruh penjuru dunia. Dari mulai tidak makan dan minum di siang hari, sehingga banyak warung makan dan restaurant yang tutup karena tidak ada pembeli, tradisi berbuka puasa yang selalu dibarengi dengan ta’jil, buka puasa bersama dan berbagai sajian khas yang mengiringinya. Selain itu banyak lagi tradisi yang menjadi kekhasan dari Ramadhan di berbagai penjuru dunia.

Berbagai tradisi yang mengiringi Ramadhan memunculkan berbagai gaya hidup, khususnya terkait dengan konsumsi yang mengalami peningkatan. Jika hari biasa makan “seadanya” maka di bulan Ramadhan akan lebih “istimewa” karena ketika berbuka akan bertambah hidangan khas di dalamnya semisal kurma atau Kolak di Indonesia. Pada tingkat yang masih ditoleransi tentu tidak masalah, sebagai bentuk suka cita di bulan mulia. Menyediakan makanan yang lebih dari hari-hari biasa serta kegiatan lainnya yang membawa pada peningkatan ketakwaan kepada Allah Ta’ala.

Namun yang tidak tepat adalah ketika konsumsi di bulan ini mengalami peningkatan signifikan, hingga memunculkan sifat pemborosan dan mubadzir dalam makanan dan minuman. Ini tentu tidak sesuai dengan syariah Islam yang menganjurkan untuk sederhana dan tidak berlebih-lebihan. Standar suatu hidangan dianggap berlebihan atau mubadzir adalah ketika makanan yang dihidangkan melebihi apa yang dibutuhkan, hingga makanan itu berlebihan dibuang atau menjadi basi. Apalagi jika konsumsi yang berlebihan akan memudharatkan kesehatan bagi umat Islam, karena setelah seharian berpuasa, kemudian ketika berbuka makan sebanyak-banyaknya.

Tingkat konsumsi yang meningkat seringkali dimanfaatkan oleh para produsen, distributor dan pedagang untuk meraih keuntungan sebanyak-banyaknya. Hingga umat Islam dibuat susah karena harga barang-barang dan jasa naik berlipat ganda, padahal seharusnya Ramadhan menjadi bulan mulia justru dinodai dengan kesusahan dari umat karena naiknya harga-harga sehingga membuat susah dalam mendapatkan keuntungannya.

Kenaikan harga adalah hal wajar ketika terjadi mekanisme pasar yang benar, meningkatnya demand (permintaan) tentu akan menaikan harga, apalagi jika supply (persediaan) mengalami pengurangan. Namun jika kenaikan harga bukan karena mekanisme pasar tapi ada hal lain semisal ihtikar (penimbunan) atau kesewenang-wenangan dalam menentukan harga maka hal ini haruslah ditindak oleh pihak berwenang. Pemerintah tentu saja hal ini harus hadir untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan benar.

Ramadhan di persimpangan jalan, di mana bulan suci yang penuh dengan kemuliaan ini di mana umat Islam disyariahkan untuk beribadah di dalamnya justru seringkali diwarnai dengan tingkat konsumsi yang berlebihan serta harga-harga di pasar meningkat hingga membuat susah umat. Sebagai umat Islam kita harus sadar dan dapat mengambil jalan yang benar dalam menyikapo Ramadhan, tidak berlebih-lebihan dalam konsumsi di bulan ini serta ketika menjadi produsen, distributor atau pedagang tidak menaikan harga tanpa adanya mekanisme pasar yang benar. Demikian pula tidak melakukan berbagai hal yang bertentangan dengan syariah Islam, utamanya dalam aktifitas di bulan Ramadhan ini.

Mari mengisi Ramadhan dengan penuh peribadahan, apabila melakukan aktifitas ekonomi semisal konsumsi maka sesuaikanlah dengan kemampuan dan selalu bersifat sederhana dan tidak berlebih-lebihan. Apabila kita sebagai produsen, distributor atau pedagang makan hendaknya tidak berbuat curang atau karena kepentingan dunia kemudian menaikan harga semaunya. Kebijakan pemerintah yang meningkatkan beberapa komidtas dan jasa mencapai 30% masih bisa dilakukan dengan syarat tidak memberatkan masyakarat. Wallahua’lam, Jumat 15 April 2022.

 

 

Rabu, 13 April 2022

Ramadhan; Bulan Dilipatgandakan Pahala Amal Kebaikan

Oleh: Abd Misno



Bulan Ramadhan adalah bulan mulia, karena pada bulan ini amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya. Sebagaimana banyak sekali riwayat yang telah sampai kepada kita dari Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam.

Pertama, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151)

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengatakan, “Sebagaimana pahala amalan puasa akan berlipat-lipat dibanding amalan lainnya, maka puasa di bulan Ramadhan lebih berlipat pahalanya dibanding puasa di bulan lainnya. Ini semua bisa terjadi karena mulianya bulan Ramadhan dan puasa yang dilakukan adalah puasa yang diwajibkan oleh Allah pada hamba-Nya. Allah pun menjadikan puasa di bulan Ramadhan sebagai bagian dari rukun Islam, tiang penegak Islam.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 271)

Sebuah riwayat yang dhaif menjelaskan mengenai dilipatgandakannya amalan di bulan ini, yaitu:

يا أيها الناس قد أظلكم شهر عظيم ، شهر فيه ليلة خير من ألف شهر ، جعل الله صيامه فريضة، وقيام ليله تطوعا ، من تقرب فيه بخصلة من الخير كان كمن أدى فريضة فيما سواه، ومن أدى فيه فريضة كان كمن أدى سبعين فريضة فيما سواه

“Wahai sekalian manusia, telah datang pada kalian bulan yang mulia. Di bulan tersebut terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Puasanya dijadikan sebagai suatu kewajiban. Shalat malamnya adalah suatu amalan sunnah. Siapa yang melakukan kebaikan pada bulan tersebut seperti ia melakukan kewajiban di waktu lainnya. Siapa yang melaksanakan kewajiban pada bulan tersebut seperti menunaikan tujuh puluh kewajiban di waktu lainnya.” (HR. Al-Mahamili dalam Al-Amali 5: 50 dan Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya 1887. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini munkar seperti dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah no. 870)

Walaupun Riwayat ini lemah, namun secara umum bahwa pahala seseorang akan berlipatganda di bulan ini walaupun tidak spesifik 70 kali lipat, karena akan bisa lebih dari itu.

Adapun beberapa atsar dari ulama diantaranya adalah yang dikatakan oleh guru-guru dari Abu Bakr bin Maryam rahimahumullah, “Jika tiba bulan Ramadhan, bersemangatlah untuk bersedekah. Karena bersedekah di bulan tersebut lebih berlipat pahalanya seperti seseorang sedekah di jalan Allah (fii sabilillah). Pahala bacaaan tasbih (berdzikir “subhanallah”) lebih afdhal dari seribu bacaan tasbih di bulan lainnya.” Imam An-Nakha’i rahimahullah mengatakan, “Puasa sehari di bulan Ramadhan lebih afdhal dari puasa di seribu hari lainnya. Begitu pula satu bacaan tasbih (berdzikir “subhanallah”) di bulan Ramadhan lebih afdhal dari seribu bacaan tasbih di hari lainnya. Begitu juga pahala satu raka’at shalat di bulan Ramadhan lebih baik dari seribu raka’at di bulan lainnya.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 270).

Dilipatgandakannya pahala di bulan ini bukan hanya ucapan Nabi, namun juga amalan beliau, sebagaiaman hadits dalam shahihain, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar bersedekah. Semangat beliau dalam bersedekah lebih membara lagi ketika bulan Ramadhan tatkala itu Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan. Jibril mengajarkan Al-Qur’an kala itu. Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup.” (HR. Bukhari no. 3554 dan Muslim no. 2307)

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Al juud berarti rajin dan banyak memberi (berderma)” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 291). Jadi maksud hadits adalah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– rajin memberi sedekah pada orang lain di bulan Ramadhan. Ibnu Rajab juga menyebutkan, “Pada diri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkumpul berbagai macam sifat dermawan. Beliau gemar berderma dengan ilmu dan harta beliau. Beliau juga mengorbankan jiwa untuk memperjuangkan agamanya. Beliau juga memberikan manfaat pada umat dengan menempuh berbagai macam cara. Bentuk kemanfaatan yang beliau berikan adalah dengan memberi makan pada orang yang lapar, menasihati orang yang bodoh, memenuhi hajat dan mengangkat kesulitan orang yang butuh.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 293).

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, “Siapa yang tidak bisa menggapai derajat itsar (mendahulukan orang lain dari diri sendiri, pen.), maka jangan sampai ia tidak mencapai derajat orang yang rajin membantu orang lain (muwasah).” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 300)

Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku sangat senang ketika melihat ada yang bertambah semangat mengulurkan tangan membantu orang lain di bulan Ramadhan karena meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga karena manusia saat puasa sangat-sangat membutuhkan bantuan di mana mereka telah tersibukkan dengan puasa dan shalat sehingga sulit untuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan mereka. Contoh ulama yang seperti itu adalah Al-Qadhi Abu Ya’la dan ulama Hambali lainnya.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 301)

Bukti lain bahwa bulan Ramadhan pahala amal ibadah itu dilipatgandaan adalah riwayat dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya pada seorang wanita,

مَا مَنَعَكِ أَنْ تَحُجِّى مَعَنَا

“Apa alasanmu sehingga tidak ikut berhaji bersama kami?”.

Wanita itu menjawab, “Aku punya tugas untuk memberi minum pada seekor unta di mana unta tersebut ditunggangi oleh ayah fulan dan anaknya –ditunggangi suami dan anaknya-. Ia meninggalkan unta tadi tanpa diberi minum, lantas kamilah yang bertugas membawakan air pada unta tersebut. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِذَا كَانَ رَمَضَانُ اعْتَمِرِى فِيهِ فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ حَجَّةٌ

“Jika Ramadhan tiba, berumrahlah saat itu karena umrah Ramadhan senilai dengan haji.” (HR. Bukhari no. 1782 dan Muslim no. 1256).

Dalam lafazh Muslim disebutkan,

فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً

“Umrah pada bulan Ramadhan senilai dengan haji.” (HR. Muslim no. 1256)

Dalam lafazh Bukhari yang lain disebutkan,

فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ تَقْضِى حَجَّةً مَعِى

“Sesungguhnya umrah di bulan Ramadhan seperti berhaji bersamaku.” (HR. Bukhari no. 1863)

Al-Qari dalam Mirqah Al-Mafatih (8: 442) berkata, “Maksud senilai dengan haji adalah sama dan semisal dalam pahala.” Akan tetapi yang sebenarnya terjadi pahala haji lebih berlipat-lipat daripada pahala umrah. Karena haji adalah salah satu rukun Islam.  Haji adalah rukun dalam Islam sedangkan umrah tetap hukumnya sunnah, persamaannya adalah pada pahala yang akan diterima karena terkait dengan Ramadhan yang mulia.

Merujuk kepada Riwayat-riwayat tersebut makan dapat disimpulkan bahwa Ramadhan adalah bulan yang mulia dan penuh keberkahan karena salah satunya adalah pahala di bulan ini dilipatgandakan pahalanya. Semoga kitab isa mengisi bulan mulia ini dengan amal kebaikan… Wallahu’alam. 13 April 2022.

Jika Ramadhan Tak Seindah yang Kita Bayangkan

Oleh: Abd Misno

 


Ramadhan adalah bulan penuh dengan kemuliaan dan keberkahan, karena pada bulan ini rahmat dan pahala Allah Ta’ala dilipatgandakan. Ia juga menjadi bulan dimana diturunkan ayat alQur’an yang menjadi petunjuk bagi kehidupan insan. Namun tidak semua orang dapat merasakan kemuliaannnya, tidak semua orang merasakan manisnya beribadah di bulan ini yang mulia, tidak semua orang merasakah keindahan Ramadhan. Apa yang harus kita lakukan bila Ramadhan tidak seindah yang kita bayangkan?

Setiap muslim wajib meyakini bahwa Allah Ta’ala telah memberikan berbagai kemudahan dalam melaksanakan kewajiban beribadah kepadaNya. Termasuk memberikan waktu-waktu khusus untuk beribadah yang pahalanya akan berlipat ganda. Demikian juga Dia menciptkan bulan Ramadhan yang didalamnya terdapat malam yang lebih baik daripada seribu bulan, yaitu malam Lailatul Qadar. Maka semua itu adalah sarana agar manusia semakin dekat kepadaNya. Bulan Ramadhan yang penuh dengan kemuliaan menjadi masa di mana kita dapat lebih dekat kepadaNya dengan melaksanakan ibadah yang disyariatkan. Ibadah dan amal kebaikan di bulan ini dilipatgandakan pahalanya sehingga sudah selayaknya setiap muslim dapat menjalankannya.

Tentang ibadah yang pahalanya dilipatgandakan, maka telah datang sebuah hadits kepada kita dari Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151)

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengatakan, “Sebagaimana pahala amalan puasa akan berlipat-lipat dibanding amalan lainnya, maka puasa di bulan Ramadhan lebih berlipat pahalanya dibanding puasa di bulan lainnya. Ini semua bisa terjadi karena mulianya bulan Ramadhan dan puasa yang dilakukan adalah puasa yang diwajibkan oleh Allah pada hamba-Nya. Allah pun menjadikan puasa di bulan Ramadhan sebagai bagian dari rukun Islam, tiang penegak Islam.”

Adapun beberapa atsar dari ulama diantaranya adalah yang dikatakan oleh guru-guru dari Abu Bakr bin Maryam rahimahumullah, “Jika tiba bulan Ramadhan, bersemangatlah untuk bersedekah. Karena bersedekah di bulan tersebut lebih berlipat pahalanya seperti seseorang sedekah di jalan Allah (fii sabilillah). Pahala bacaaan tasbih (berdzikir “subhanallah”) lebih afdhal dari seribu bacaan tasbih di bulan lainnya.” Imam An-Nakha’i rahimahullah mengatakan, “Puasa sehari di bulan Ramadhan lebih afdhal dari puasa di seribu hari lainnya. Begitu pula satu bacaan tasbih (berdzikir “subhanallah”) di bulan Ramadhan lebih afdhal dari seribu bacaan tasbih di hari lainnya. Begitu juga pahala satu raka’at shalat di bulan Ramadhan lebih baik dari seribu raka’at di bulan lainnya.

Bukti lain bahwa bulan Ramadhan pahala amal ibadah itu dilipatgandaan adalah riwayat dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً

“Umrah pada bulan Ramadhan senilai dengan haji.” HR. Muslim.

Lafazh yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari adalah sabdanya:

فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ تَقْضِى حَجَّةً مَعِى

“Sesungguhnya umrah di bulan Ramadhan seperti berhaji bersamaku.” (HR. Bukhari no. 1863)

Riwayat-riwayat tersebut memberikan pembelajaran kepada kita bahwa bulan Ramadhan memang sangat luar bisa, begitu banyak pahala yang dapat kita raih dan keberkahan yang berlipatganda. Sehingga hanya mereka yang tidak beriman dengan Allah dan rasulNya yang tidak bisa merasakan indahnya Ramadhan.

Kekufuran kepada Allah dan rasulNya menjadi penyebab utama seseorang tidak bisa merasakan indahnya Ramadhan, hatinya telah tertutup sehingga melihat bulan mulia ini tidak jaug berbeda dengan bulan-bulan yang lainnya, bahkan dianggap membosankan dan membuatnya tidak nyaman, karena umat Islam bersukacita menyambutnya.

Berikutnya adalah karena dosa dan kemaksiatan yang biasa dilakukan oleh seseorang, di bulan yang penuh keberkahan ini ia merasa dikekang dan dipaksa untuk berhenti dari dosa dan kemaksiatannya. Ia tidak bisa berpesat pora dan makan-makan di siang hari, tempat-tempat hiburan sebagian besar ditutup juga sarana untuk berbuah kemaksiatan terasa berkurang. Hatinya sempit dan merasa susah dengan datangnya Ramadhan. Itu semua karena dosa dan kemaksiatan yang biasa dilakukannya, hingga tidak bisa menikmati indahnya Ramadhan.

Keindahan Ramadhan juga tidak dapat dinikmati oleh mereka yang lemah iman, walaupun ia ikut bersama manusia menjalankan ibadah di bulan ini namun hatinya belum yakin akan kemuliannya. Hingga kadang muncul dalam dirinya ketidaknyamanan ketika Ramadhan datang. Siang hari yang ia rasakan adalah rasa hasu dan lapar, badannya terasa lemah hingga malas melakukan berbagai aktifitas. Banyak pekerjaan tertunda karena puasa membuatnya tidak berdaya, hanya bermalas-malasan dan bersantai ria di atas tempat tidurnya atau seharian di rumah tanpa melakukan amal ibadah.

Sementara pada malam harinya ia sangat susah untuk beribadah, shalat tarawih berjamaah yang memang hukumnya sunnah membuatnya susah. Makan dan minum ketika berbuka ia jadikan sarana “balas dendam”, semua makana dihabiskan bahkan sebelumnya ia telah memburu berbagai jenis makanan dan mengumpulkan berbagai hidangan yang dia lahap habis ketika berbuka puasa. Akibatnya dapat dilihat secara nyata, ketika shalat tarawih tiba, ia kekenyangan sehingga ruku’ dan sujudnya membuatnya kesusahan. Ia tidak bisa menikmati ibadah di bulan mulia, hingga tidak bisa merasakan keindahannya.

Ada juga sebagian manusia yang merasa tidak selesa (nyaman) ketika Ramadhan tiba, karena ia tidak bisa jualan di siang harinya atau karena kepentingan duniawi yang ada padanya. Ramadhan menurut mereka menjadi penghalang atas rizki mereka, hingga kehadirannya tidak begitu diinginkan, dan ketika sudah tidak masanya mereka sangat berharap agar segera berlalu ke bulan berikutnya.

Maka, keindahan Ramadhan sejatinya hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang beriman, yakin dengan ketentuan Ar-Rahman dan percaya dengan seluruh syariahNya, termasuk Ramadhan yang memiliki kemuliaan luar biasa. Jika Ramadhan tidak seindah yang kita bayangkan maka hendaknya perbaiki diri kita, perbaiki keyakinan (tauhid) kita, jangan-jangan ianya hanya sebatas pengakuan belaka tanpa terpatri di jiwa. Ibadah yang kita lakukan bukan karena Allah ta’ala’ masih menjadikannya sebatas kewajiban sahaja juga menjadi sebab terhalangnya kita merasakan indahnya Ramadhan. Demikian pula kepentingan dunia yang seringkali membuat lupa, hingga menghalangi kita merasakan nikmatnya beribadah di bulan mulia dan terhalang untuk merasakan keindahannya.

Semoga Allah Ta’ala memberikan kepada kita hidayah serta inayahNya, sehingga dapat beribadah dengan sempurna di bulan yang mulia. Jika masih ada rasa susah di jiwa karena Ramadhan tiba, maka perangilah rasa itu, karena ianya adalah hawa durjana yang ditambah dengan godaan syaithan dan bala tentaranya. Bagi yang belum sepenuhnya merasakan keindahan Ramadhan maka hendaknya terus tingkatkan keyakinan dan ibadah yang tidak putus, semoga itu menjadi sebab bagi kita agar dapat merasakan keindahan Ramadhan, sebagaimana yang disabdakan oleh manusia terbaik di alam yang merupakan utusan dari Ar-Rahman. Wallahu’alam, Rabu, 13 April 2022.

 

Selasa, 12 April 2022

Puasa Jalan… Dosa Tak Terhentikan

Oleh: Abd Misno

 


Ibadah shaum (puasa) sejatinya memiliki tujuan yang sangat mulia, yaitu agar manusia semakin bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla. Sebagaimana kalamNya yang mulia “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. Ketakwaan dalam dalam hal ini adalah bermakna melaksanakan seluruh syariatNya dan menjauhikan segala bentuk laranganNya. Apa jadinya jika seseorang yang telah berpuasa namun ternyata tidak menjadikannya meninggalkan kesalahan dan dosa selama Ramadhan yang mulia?

Shaum (puasa) yang kita lakukan selama bulan Ramdhan sudah seharusnya memberikan dampak positif ke dalam diri kita, khususnya peningkatan iman dan takwa. Implementasi dari iman dan takwa tersebut adalah dalam bentuk melaksanakan seluruh syariahNya dengan penuh suka cita dan menjauhi segala bentuk laranganNya. Namun fenomena yang terjadi banyak di antara kita yang masih saja belum bisa mencapai tujuan setiap ibadah yang disyariatkan. Puasa yang kita lakukan terkadang tidak membuat dosa dan kemaksiatan terhentikan, bahkan fenomena yang terjadi di sebagian orang mereka berpuasa tapi mereka juga berbuat dosa. Puasa jalan… dosa tidak terhentikan.

Bukan menuduh orang lain tentu saja, sekadar ingatan untuk diri kita dan pembaca semuanya bahwa kenyataan ini kadang terjadi juga pada diri kita, di mana kita berpuasa tapi dosa tetap ada baik yang disengaja ataupun tidak disengaja. Tidak boleh juga kita menyalahkan karena manusia adalah tempat salah, lupa dan dosa, karena terkadang itu hanya menjadi alasan agar dosa yang dilakukan bisa dimaklumkan. Lantas bagaimana sebenarnya yang terjadi? Kenapa shaum (puasa) yang dilakukan tidak mencegah dari dosa dan kemaksiatan?.

Kembali ke tujuan dari shaum (puasa), yaitu agar orang-orang beriman dapat mencapai derajat takwa. Kata-kata yang digunakan oleh Allah Ta’ala adalah “la’alakum” yang bermakna “mudah-mudahan atau semoga”, sehingga derajat takwa yang menjadi tujuan utama shaum (puasa) adalah hasil akhir dari sebuah perjalanan Panjang seorang insan ketika sedang berpuasa di bulan Ramadhan. Sebagai sebuah perjalanan, maka bisa jadi dia akan terpeleset, terjatuh bahkan kadang tersesat hingga memilih jalan dosa dan maksiat yang keluar dari jalur ketakwaan. Maka kemudian  shaum (puasa) yang dilakukan membimbing kembali untuk berjalan menuju tujuan yang diharapkan yaitu ketakwaan kepada Ar-Rahman.

Perjalanan menuju ketakwaan memang sangat panjang, penuh dengan tantangan, godaan dan berjuta penghalang. Dosa, maksiat dan kesalahan yang dilakukan oleh orang yang sedang berpuasa pada hakikatnya adalah godaan dan tantangan tersebut, sehingga jika ia berhasil melawannya itulah yang utama. Namun jika ia kemudian terjatuh ke dalam lembah dosa ketika sedang berpuasa, maka puasa yang dilakukan akan menyadarkan kembali bahwa ia dalam perjalanan menuju ketakwaan.

Sehingga bagi mereka yang berpuasa, namun masih melakukan dosa hendaknya terus menjalankan puasanya. Bisa jadi ia akan segera sadar dengan dosa yang dilakukan, atau mungkin di suatu masa puasa yang dilakukan juga menyadarkan akan dosa yang dilakukan. Minimal ia akan berusaha sekuat tenaga untuk tidak melakukannya kembali ketika dia sedang berpuasa, tapi menunggu sesaat hingga masa berbuka. Itu memang bukan solusi, tapi minimal puasa yang dilakukan di siang hari menahannya untuk tidak bermaksiat kepada Ilahi.

Semoga puasa yang kita lakukan menjadi bekal dalam perjalanan menuju ketakwaan, nikmatilah perjalanan ini. Jika sesekali terjatuh, bangkit kembali dan terus perbaiki diri karena proses ini juga akan dinilai oleh Ilahi hingga akhirnya takwa yang menjadi harapan insani dapat diraih sebagaiman tujuan utama bagi shaum (puasa) ini. Wallahu a’lam, Pagi di Bogor, 12 April 2022.