Tampilkan postingan dengan label Resolusi Juara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resolusi Juara. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Februari 2023

Melawan Kekurangan Diri

 Oleh: Misno bin Mohamad Djahri

 


Salah satu dari hal yang selalu muncul dari kehidupan kita adalah kekhawatiran akan berbagai hal yang muncul dari kekurangan diri. Ya, banyak hal terjadi salah satu sebabnya adalah karena kekurangan diri yang mengakibatkan kita terkadang terpuruk atau berada dalam kesedihan yang mendalam. Banyak sekali kekurangan diri yang ada pada manusia, bahkan begitu banyaknya hingga terkadang seseorang lupa akan kekurangan diri yang ada. Bagaimana cara melawan kekurangan diri?

Setiap manusia diciptakan oleh Allah Ta’ala dengan segala kekurangannya, ada yang kekurangan dari sisi fisik dan penampilan ada juga yang terkait dengan perasaan dan kejiwaan. Kekurangan dari segi fisik biasanya akan terlihat jelas, anggota tubuh yang tidak sempurna atau memiliki kekurangan serta bentuk tubuh, muka dan perawakan yang “tidak sesuai” dengan apa yang dikehendaki oleh pemiliknya. sementara kekurangan dari sisi perasaan dan kejiwaan terkait dengan rasa mudah bersedih, mudah tersinggung, baperan atau malah mudah marah dan susah mengontrol emosi. Semua itu adalah kekurangan yang memang selalu ada pada diri manusia, betapapun di mata manusia ia seolah-olah sempurna.

Salah satu dari kekurangan diri yang nampak ringan tapi cukup berat apabila dirasakan adalah kekurangan dari sisi perasaan, yaitu baperan atau mudah tersentuh dan perasa. Ini terjadi pada perempuan dan laki-laki, baik muda ataupun tua. Bahkan seiring bertambahnya usia kadang perasaan mudah tersentuh, cepat sedih dan baperan serta lama melupakan hal-hal yang menggores perasaan. Sebagai contoh ketika ada orang lain yang berkata dengan nada tinggi hingga terasa menyakiti, maka perlu waktu lama untuk menyembuhkannya.

Sejatinya, apabila ada yang bertanya bagaimana mengatasi kekurangan diri ini? Maka jawabannya adalah pertama kuatkan keyakinan diri bahwa sudah tidak perlu lagi memikirkan hal-hal yang sejatinya belum tentu kebenarannya. Jangan pula terlalu memikirkan hal-hal terkait orang lain apalagi itu adalah masalah dunia saja. Yakinkan diri bahwa apapun yang dilakukan orang lain pada kita itu hanyalah ungkapan mereka saja, bisa jadi mereka memang karakternya seperti itu sehingga kita harus semakin mampu memahami karakter orang lain yang berbeda-beda. Selama kita berada dalam kebenaran maka kuatkan keyakinan kita. Kalaupun tanpa sengaja melakukan kesalahan maka hadapi dengan penuh tanggungjawab. Jangan pernah takut pada manusia, apalagi kalau kita benar atau tidak ada unsur kesengajaan ketika melakukan kesalahan. Biarkan semua berjalan seiring kuasa ar-Rahman.

Lawanlah kekurangan diri itu, dengan iman dan takwa serta keyakinan akan kuasa dari Allah Ta’ala, apabila sulit secara drastic dilakukan maka perlahan kekurangan-kekurangan itu kita minimalisir. Teruslah berusaha untuk memahami orang lain, menerima kekurangan mereka dan berusaha untuk selalu istiqamah di jalanNya. Mudah-mudahan Allah Ta’ala memberikan kepada kita inayahNya sehingga kita mampu melawan kekurangan diri kita, tentu saja semua itu atas kuasaNya. La Haula wa Laa Quwwata illa billah… 04022023.

Senin, 30 Januari 2023

Mari Menanam Kebajikan...

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri


 

Manusia di dunia pada hakikatnya berada dalam perjalanan, sebuah perjalanan panjang yang sudah melalui dua alam yaitu alam ruh (arwah) dan alam Rahim. Perjalanan selanjutnya manusia akan menuju alam barzakh yang kemudian sampai ke alam akhirat dengan ujungnya surga atau neraka. Maka perjalanan ini tentu saja membutuhkan perbekalan, dunia adalah tempat untuk menyiapkan perbekalan tersebut. Salah satu cara untuk menyiapkan perbekalan adalah dengan menanam segala bentuk kebajikan.

Sebuah perkataan yang penuh bijak menyebutkan “Dunia adalah Ladang Akhirat”, maka sebagai ladang mari kita menanam segala bentuk kebajikan. Langkah awal dalam menanam kebajikan adalah dengan memilih bibit unggul, maka dalam hal ini bibit itu adalah amal baik yang telah dihasilkan dari pendapat para ulama yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Sunnah. Selanjutnya bibit ini ditanam di ladang yang telah disiapkan dengan segala bentuk pengorbanan kerja keras. Dunia sebagai ladang harus disiapkan dengan penuh kesungguhan, tidak main-main dan memahami hakikatnya. Dengan ini diharapkan benih kebajikan yang disemai akan tumbuh, berkembang dan pada akhirnya menghasilkan sesuai dengan yang diharapkan.

Ketika benih kebajikan sudah mulai tumbuh, maka rumput dan segala bentuk hama bermunculan. Tugas kita adalah membersihkan rumput yang tumbuh disekitarnya tanpa kita kehendaki, ia harus dihilangkan karena akan mengganggu pertumbuhan amal kebajikan. Hama yang berasal dari hewan-hewan lainnya juga harus dikendalikan agar pertumbuhannya berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Banyak cara untuk membersihkan rumput dan gangguan hama, bisa dengan cara alami atau menggunakan obat-obatan kimia yang tidak mengganggu tumbuhan amal kebajikan.

Ketika amal kebajikan mulai berbunga atau berbuah, maka gangguan bisa jadi kembali datang. Burung-burung yang mengambil sebagai makanan, atau serangga yang membuat sarang di ladang adalah contoh gangguan yang harus dikendalikan. Belum lagi tangan-tangan nakal dari anak-anak jalang atau orang-orang yang kurang pemahaman keagamaan. Maka menjaganya dari segala bentuk gangguan adalah kewajiban dari pemilik ladang.

Jika semua gangguan sudah dilalui, maka bersiaplah hari panen raya tiba, di mana tanaman kebajikan kita akan memberikan hasilnya, bisa jadi ia dapat dinikmati dunia tetapi yang lebih utama adalah amal kebajikan yang akan diberikan pahala di akhirat sana, yaitu surgaNya serta dapat memandang agung wajahNya. Semoga Allah ta’ala mengabulkan kita semua memanen pahala sebagai hasil tanaman kebajikan kita di dunia. Aameen Ya Rabbal aalaameen 30012023.

Kamis, 19 Januari 2023

Sahabat Dunia Akhirat (Bag. 1)

Oleh: Ahmad Berhimin, SE., ME (Putra Lintang)

 


Pada saat kenal pertama kali dengan beliau sahabat baik saya ini seperti tidak disengaja dan tidak direncanakan. Beliau adalah teman atau sahabat yang saya kenal dari media sosial, sejak awal berteman di media sosial selalu komunikasi dan berbicara layaknya teman yang sudah kenal lama obrolan dan perbincangan di media sosial terkadang tidak nyambung. Mungkin bisa jadi karena sinyal internet atau mungkin bisa juga karena perbedaan cara pandang dan pemahaman.

Akhirnya seiring waktu karena perkenalan di media sosial tersebut tanpa disengaja saya kena musibah. Saya di tempat bekerja kena pemutusan kerja bahasa keren-nya anak muda sekarang RESIGN atau Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Dari sinilah awal saya bertemu langsung dengan sahabat saya ini, hingga saya bertemu langsung di suatu tempat beliau kerja. Saya datang dengan keadaan saya yang apa adanya, memakai pakaian seadanya yaitu kaos oblong dan celana pendek. Saya menuju ke tempat sahabat saya kerja ketika jam menunjukan waktu sudah selesainya jam kerja sekitar jam 16.00 WIB.

Tanpa basa-basi saya menanyakan kabarnya dan tidak menghiraukan rasa malu karena pakaian yang saya kenakan teramat sederhana. Akan tetapi saya melupakan hal tersebut dan tanpa memikirkan apa jadinya penilaian orang kepada saya dan penilaian sahabat saya juga, padahal ini adalah pertemuan saya untuk pertama kali setelah kenal lama di media sosial.

Sahabat saya ini mempersilakan saya duduk di kursi sofa kantor tempat di mana beliau kerja dengan ramah. Sahabat saya ini berbicara dan bertanya dengan saya langsung, Apa kabar?? Bagaimana keadaannya ?? dan lain sebagainya.

Saya menjawab dengan hati gembira pertanyaan dengan baik satu persatu, walaupun sebenarnya kondisi saya yang lagi bingung karena saya lagi nganggur alias tidak bekerja. Akan tetapi saya tepiskan dulu pikiran tersebut agar sahabat saya ini tidak menilai kesan pertama sudah tidak enak, sahabat saya ini ngobrol panjang lebar bercerita dan lain-lainya. Tanpa terasa sudah 1 jam kita ngobrol tiba saatnya saya pamitan ke sahabat saya ini sambil saya bilang tanpa malu-malu, minta tolong bantuin nyariin kerjaan buat saya.

Sahabat saya ini dengan baiknya langsung menjawab “Iya, nanti dicarikan dan diusahakan, siapkan saja berkasnya, insyaallah kalau rejeki pasti bisa dan keterima”. Begitu baiknya sahabat saya ini dan begitu perhatiannya sahabat saya ini karena itulah wajar kalau saya mengatakan dia orang yang baik.

Inilah kisah sahabat dunia akhirat, moga dia selalu menjadi sahabat baikku di dunia dan di akhirat nanti. Serta menjadi sahabat yang selalu memberikan arah yang positif. Aamin ya robbal alamin. Tersima kasih sabahabtku doaku semoga  sahabatku menjadi ahli surga Firdaus Allah ta’ala. @ ABEE 190123 @

Rabu, 18 Januari 2023

Pengalaman Belajar Teknis Menulis

Ahmad Berhimin, SE., ME (Putra Lintang)


Pengalaman Belajar Teknis Menulis

Ahmad Berhimin, SE., ME (Putra Lintang)

 

Perkenalan saya dengan dunia tulis-menulis seperti tidak direncanakan, seorang sahabat baik memperkenalkan tentang teknis tulis-menulis. Sahabat saya ini memberikan masukan dan juga bercerita tentang menulis mulai dari bagaimana indahnya menulis. Ia berkata dengan menulis kita bisa mencurahkan apa yang telah kita lalui, apa yang kita alami,  yang telah dipelajari dan bisa juga kita berbagi ilmu juga dengan menulis kita bisa menberikan manfaat atau motivasi kepada orang lain.

Awalnya saya tidak bisa sama sekali bagaimana menulis dan teknik menulis dikarenakan di dalam pikiran saya terpatri bahwa menulis itu sulit atau tidak gampang. Menulis itu butuh keterampilan bagaimana mengolah kata-kata yang baik dan benar juga harus sesuai kaidah Bahasa, khususnya bahasa Indonesia yang baik dan benar, atau merangkai kata-kata agar bahasa yang dituliskan tersambung secara baik dan benar.

Seiringnya waktu saya mulai menulis dalam bentuk artikel, hari demi hari saya jalani untuk belajar menulis, dari belajar bahasa untuk menulis yang mana yang baku atau tidak baku, belajar menempatkan kata kata agar tersambung dengan baik dan terstruktur. Penempatan huruf kecil dan huruf kapital dan juga tanda baca dalam penulisan.

Di dalam penulisan pun banyak sekali sahabatku ini berkomtar dan memberikan masukan, terkadang membuat saya yang baru belajar menulis ini menjadi serba salah dan bingung dan terkadang menbuat semangatku menghilang dan drop. Saya merasa tidak manpu dan juga dalam benak saya banyak sekali aturan dan kritikan yang harus saya hadapi dan lalui, sehingga tulisan tersebut menjadi baik, enak dibaca orang dan memberikan manfaat bagi orang lain.

Salah satu pemacu dari sahabtku ini adalah menulislah  apa yang mau kamu tulis dengan otak kirimu, keluarkan juga semua ide imajinasimu dengan bantuan otak kirimu setelah kamu tulis dan kamu jabarkan tulisanmu lalu rapikanlah dengan otak kananmu. Insya Allah akan ada hasilnya, tulisanmu akan semakin baik dan pada waktunya akan enak dibaca orang lain dan memberi manfaat bagi para pembacanya. Semoga… @ ABEE 180123

Jumat, 06 Januari 2023

Harapanku di Usia Kepala Empat

Oleh: Putra Lintang


 

Sejak usiaku masih muda dan belia tertanam harapan, impian dan cita cita dengan semangat juang yang sangat tinggi. Kugantungkan cita-citaku setinggi langit, kugantungkan asa dan harapanku setinggi dan seluas angkasa yang luar biasa luas. Perjalanan yang begitu indah mengenyam pendidikan yang baik dan juga punya teman dan sahabat yang baik.

Tetapi semua cita-cita, harapan dan asa-ku terbayang melayang, bagaikan mimpi di siang bolong dan tidak mungkin akan tercapai. Ini karena bapak yang selalu aku cintai dan diharapkan memberikan bimbingan dan wejangan juga memberikan support untuk anak-nya khususnya aku, pergi dan tidak akan kembali lagi untuk selamanya. Serasa berhenti detak jantungku, tidak terasa air mataku mengalir mengingat bapak yang aku cintai dan aku harapkan pergi meninggalkan aku yang masih butuh perlindungan dan dukungan. Aku yang hanya bisa menghela napas Panjang, oh Ya Allah Ya Robbb… kini tinggal ibu tumpuanku yang selalu menyayangiku dan memyemangatiku. Dalam pelukan ibu, air mata terus mengalir tanpa ada kata-kata yang terucap, duka nestapa menyelimuti setiap sendi raga.  

Hari demi hari aku lalui sampai akhirnya perjalanan panjang yang sangat menykitkan penuh liku penuh drama penuh kurasan air mata. Jatuh bangun aku lalui semua dengan keiklasan, aku tumbuh menjadi manusia yang pendiam dan penyendiri karena keadaanku, setelah selesai menamatkan pendidikan sekolah menengah atas, saya mencoba peruntungan merantau ke ibukota dengan harapan bisa merubah kehidupan dan bisa melanjutkan harapan serta cita-citaku dulu.

Ternyata harapanku untuk merubaha nasib di tempat perantuan bagaikan debu pasir yang ditiup angin, harapan dan tujuan masih jauh panggang dari api. Sekali lagi aku harus menghadapi kepahitan kembali dan malahan lebih menyakitkan, sekali lagi air mataku terkuras dengan semua yang aku hadapi. Aku berjuang terus, bekerja sambil menambah ilmu walaupun penuh hinaan dan cacian , semangat terus sampai titik darah penghabisan.

Kini, di usia yang sudah kepala 4,  aku tetap semangat dalam menjalankan kehidupan dengan tekad yang masih membara dan tetap mengejar harapan dan cita cita. Intinya satu hal yang aku harapkan, yaitu merasakan bahagia dalam menjalankan kehidupan ini. Sangat sederhana sekali permintaanku di usia kepala 4 ini, yaitu Bisa Hidup Bahagia. 06012023.

 

Minggu, 01 Januari 2023

Sebuah Resolusi di Tahun 2023: Dari Menulis 300 buku hingga Keliling Dunia

 Oleh: Misno bin Mohamad Djahri

 


Hari ini adalah tanggal 01 Januari 2023, banyak masyarakat yang mulai merencanakan harapan, cita-cita dan resolusi di tahun ini. Tentu bukan mengikuti trends apalagi semacam merayakan tahun baru, tapi sekadar menjadi sebuah ingatan dan panduan dalam menapaki hari-hari ke depan. Setiap kita tentu memiliki mimpi, harapan dan juga keinginan-keinginan di masa yang akan datang, maka awal tahun ini bisa menjadi Langkah awal untuk Menyusun harapan-harapan dalam satu tahun ke depan.

Sebagai contoh adalah resolusi saya di tahun 2023 ini, tentu saja sebelumnya flashback dulu di tahun 2022. Salah satu dari cita-cita saya adalah menulis buku 3 kali lipat dari umur saya, kemudian cita-cita ini bertambah menjadi 5 kali umur saya sehingga jika umur saya 60 tahun maka 5 x 60 = 300. Sehingga saya harus menulis sebanyak 300 judul buku, dan Alhamdulillah faktanya hingga Januari 2023 ini jumlah buku dalam folder di internet sudah mencapai 256 sehingga target ini yakin inshaallah biidznillah akan tercapai. Hanya menambah 44 buku sangat mudah inshaallah diselesaikan di tahun 2023. Ini adalah cita-cita saya di tahun 2023 ini, yaitu menulis buku hingga 300 judul buku, baru setelah itu peningkatan dari kualitas buku akan terus ditingkatkan hingga target maksimal 500 judul buku.

Masih terkait dengan tulis-menulis, maka menulis jurnal menjadi sebuah kewajiban sebagai seorang dosen, dalam hal ini tidak ada target khusus tapi minimal satu tahun bisa 2-5 artikel jurnal yang terbit dan dapat diakses para pengguna internet. Demikian pula tulisan di website dan blog akan terus berlangsung, dengan target minimal datu bulan antara 3-10 tulisan yang merupakan refleksi dari pemikiran pribadi. Pembuatan video juga tidak ditarget, tapi karena hobby akan terus berjalan dan minimal dalam sebulan 5-10 video bisa diupload di channel youtube pribadi.

Harapan selanjutnya di tahun ini adalah akan menjadi mbah (kakek) bagi cucu pertama saya, mungkin akan sangat Bahagia ketika cucu pertama lahir. Bisa menghabiskan hari-hari Bersama cucu tercinta, saat ini mungkin masih sekadar angan-angan dan harapan. Inshaallah pada akhir bulan Januari-Maret harapan ini akan segera terwujud, menjadi mbah bagi cucu pertama saya.

Berikutnya adalah harapan yang menjadi hobby atau mungkin ikut-ikutan trend orang lain, yaitu jalan-jalan ke seluruh penjuru Indonesia dan dunia. Semoga keadaan semakin membaik dan transportasi darat, laut dan udara aman sehingga saya bisa kembali berkeliling mentafakuri semesta sebagai ciptaan Allah ta’ala. Tentu saja akan lebih bermakna apabila ditemani oleh orang-orang tercinta yang memberi makna dalam kehidupan saya.

Harapan-harapan lainnya masih banyak, misalnya lebih serius dalam mengurus Yayasan, usaha, target bebas dari semua tanggungan hutang, dapat berinvestasi untuk masa depan hingga meninggalkan secara perlahan hal-hal buruk yang mungkin selama ini dilakukan. Intinya adalah berusaha untuk terus menjadi lebih baik dan memberi makna bagi semesta.

Semoga Allah Ta’ala memudahkan semua urusan kita, dan harapan-harapan tersebut dapat terwujud di tahun 2023 ini, ikhtiar dan doa akan selalu dilakukan dalam upaya mewujudkannya. Wallahu a’lam. 01012023.

Rabu, 28 Desember 2022

Begitu Syuulit, Lupakan Reihan: Antara Hati dan Hawa

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri

 


Sebuah video viral beredar di media sosial, seorang perempuan berwajah chubby dengan hijab warna krem sedang mengucapkan kata-kata “Begitu Syulit lupakan reihan, apalagi reihan baiiik”. Mimik muka yang begitu dekat dengan kamera dengan penggunaan kata-kata yang khas ketika mengucapkan kata “sulit” menjadi “syyuulit” justru menjadi kekhasan dari viralnya video pendek ini. Bagaimana dengan isi dari syair dalam lagunya ini?

Manusia sering sekali berada pada dua sisi yang saling berlawanan, antara hati dan juga hawa. Apalagi pada usia di mana seorang manusia sedang tumbuh dewasa, ini adalah fase untuk mencari jati diri dan menuju manusia seutuhnya. Pada fase inilah rasa ketertarikan kepada orang lain tumbuh, rasa suka atau cinta muncul dengan sendirinya. Tidak hanya pada lawan jenis bahkan pada sesame jenis juga muncul tidak terbendung. Menyukai, mencintai dan kagum dengan seseorang sejatinya adalah sesuatu yang wajar, masalah hati memang tidak bisa dibohongi. Namun, apakah ini adalah suara hati? atau hawa yang mulai merasuk ke dalam sukma menyebar ke seluruh sendi raga?

Rasa suka ini seringkali terjebak dalam tampilan fisik dan kilasan budi baik yang kemudian membius manusia. hal ini ditambah dengan taburan hawa yang memang selalu mengajak kepada hal-hal yang disukai oleh manusia namun dimurkai Sang Pencipta. Suka dengan seseorang seringkali karena fisiknya yang gagah rupawan atau cantik jelita, lagi-lagi fisik selalu menjadi ukuran utama. Kalaupun mengatakan baik itu sekadar sekilas mata memandang, yang juga ditaburi hawa manusia. Walaupun tidak menampik pula adanya cinta yang sebenarnya yang terjadi di antara manusia, namun jarang adanya.

Ketika rasa suka dan cinta ditambah dengan hawa ada pada manusia makai a akan selalu mengingat orang yang disukainya. Tiada hari tanpa mengingatnya, menyebutnya dan selalu ingin dekat dengannya hingga akan sulit untuk melupakannya. Semua kebaikannya akan selalu diingat, bahkan pertolongan kecil dan ucapannya akan selalu terlalu di telinga. Semua yang ada pada dirinya indah adanya, hingga menurut orang lain adalah cela, baginya anugerah luar biasa. Baginya semua yang ada pada orang yang disukainya adalah sempurna, tanpa cela dan akan selalu menjadi ingatan, pandangan dan rasa utama.

Apabila sudah sampai tahap ini, maka hendaknya mengatur diri, mengelola jiwa dan memperhatikan secara seksama, apakah ini cinta atau hawa yang membara? Sulit membedakan antara cinta dan hawa, karena keduanya memang seirng sekali datang secara bersama. Cinta adalah anugerah dari Allah ta’ala, mencintai orang lain dengan sepenuh jiwa dan raga menjadi fitrah dari manusia dan tidak ada salah untuk merasakannya. Hawa (nafsu) juga adalah fitrah manusia, yaitu rasa kepada seseorang untuk memiliki dan menikmatinya, ia cenderung negatif karena biasanya terjebak dengan pesona fisik dan raga. Hawa nafsu manusia selalu mengajak kepada keburukan, hingga kita harus mampu untuk mengelolanya.    

Rasa suka, cinta dan kagum kepada seseorang adalah fitrah manusia, namun ia harus selalu berada di jalanNya. Kecintaan yang didasari oleh syariah Allah Ta’ala kemudian dibina di atasnya serta memiliki tujuan utama yaitu mendapatkan ridha dari Allah azza wa jalla.  Hawa nafsu manusia juga merupakan kuasaNya, hingga kita sebagai manusia harus mampu untuk mengelolanya agar tidak liar membawa kepada jalan kebinasaan. Namun, kembali ke syair lagu di atas “Begitu Syuulliit" untuk melakukannya karena kita adalah manusia. Walaupun demikian, kita harus terus berusaha menjaga cinta dan mengelola raga agar selalu berada dalam naungan syariahNya. Semoga…. Pagi di Ujungmanik, 28122022.

Kamis, 22 Desember 2022

… karena kita adalah manusia

Oleh: Misno Mohd Djahri


 

Manusia adalah makhluk Allah ta’ala yang paling sempurna, sebagaimana firmanNya “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” QS. At-Tiin: 4. Namun bersama dengan kesempurnaan ini, manusia adalah tempatnya dosa dan kesalahan, ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shalllallahu ‘alaihi wa sallam :

كُلُّ بَنِى آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ

Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat. HR. Ahmad dan lainnya.

Merujuk pada riwayat ini maka setiap manusia pasti pernah melakukan dosa dan kesalahan, baik yang disengaja ataupun tidak. Kesalahan ini bisa jadi berupa dosa kecil, atau bahkan bisa jadi dosa besar yang dilakukan. Hal menarik adalah bahwa di akhir riwayat ini adalah bahwa yang terbaik adalah mereka yang telah berbuat dosa dan kesalahan kemudian segera bertaubat dan kembali ke jalan Allah Ta’ala.

Permasalahan yang sering muncul adalah bahwa ternyata sering sekali manusia terjatuh pada kesalahan yang sama. Dorongan hawa dan bujuk rayu Iblis dan bala tentaranya mengakibatkan seorang manusia kembali melakukan dosa dan kesalahan dalam hidupnya. Sebuah riwayat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan keadaan seperti ini:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ، وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ ، فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ

“Demi Dzat yang diriku berada ditanganNya, jika kalian tidak berbuat dosa Allah akan hilangkan kalian dan Allah akan datangkan kaum lain yang berdosa, lalu mereka pun minta ampun kepada Allah, Allah pun ampuni dosa mereka.” HR. Muslim.

Pemahaman dari riwayat ini bukanlah membolehkan manusia untuk berbuat dosa dan kesalahan, tetapi sebuah khabar bahwa manusia berbuat dosa baik disengaja ataupun tidak. Maka beristighfar dan memohon kepada Allah Ta’ala itulah yang utama.

Karena kita adalah manusia, sehingga selalu saja terjatuh ke dalam dosa dan kesalahan, namun bukan berarti kita pasrah dan terus melakukannya. Kembali kepada Allah Ta’ala ketika terjatuh ke dalam lembah dosa, jatuh lagi dan bangkit kembali, jatuh lagi dan bangkit kembali sehingga kembali kepada Allah Ta’ala dalam keadaan bermujahadah (bersungguh-sungguh) untuk selalu berada dalam naungan syariahNya.

Semoga Allah Ta’ala sentiasa memberikan hidayah dan inyahNya sehingga kita yang saat ini bergelimang dengan dosa dan kesalahan akan segera memperbaiki diri dan segera kembali kepadaNya, karena itulah sejatinya kebahagiaan dan kesuksesan yang sebenarnya.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ تُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ تَوْبَةًۭ نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّٰتٍۢ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ يَوْمَ لَا يُخْزِى ٱللَّهُ ٱلنَّبِىَّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ ۖ نُورُهُمْ يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَٰنِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَآ أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَٱغْفِرْ لَنَآ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌۭ

Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu". QS. Ath-Tahrim: 8.Wallahu a’lam, 22122022.

Jumat, 16 Desember 2022

Ini Balasan Orang Dzalim…

Oleh: Misno Mohd Djahri

 


Kedzaliman yang dilakukan oleh seseorang akan memperoleh balasan siksa di dunia dan akhirat, inilah kenapa Islam sangat mengharamkan umatnya untuk berbuat dzalim. Beberapa dalil yang menunjukan balasan bagi orang yang melakukan kedzaliman di antaranya adalah: 

Pertama, Perbuatan Dzalim akan di-qishash (balas) pada hari kiamat

Dasarnya adalah Riwayat dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya:

أتدرون ما المفلِسُ ؟ قالوا : المفلِسُ فينا من لا درهمَ له ولا متاعَ . فقال : إنَّ المفلسَ من أمَّتي ، يأتي يومَ القيامةِ بصلاةٍ وصيامٍ وزكاةٍ ، ويأتي قد شتم هذا ، وقذف هذا ، وأكل مالَ هذا ، وسفك دمَ هذا ، وضرب هذا . فيُعطَى هذا من حسناتِه وهذا من حسناتِه . فإن فَنِيَتْ حسناتُه ، قبل أن يقضيَ ما عليه ، أخذ من خطاياهم فطُرِحت عليه . ثمَّ طُرِح في النَّارِ

“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?”. Para shahabat pun menjawab, ”Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak memiliki uang dirham maupun harta benda”. Nabi bersabda, ”Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia juga datang membawa dosa berupa perbuatan mencela, menuduh, memakan harta, menumpahkan darah, dan memukul orang lain. Kelak kebaikan-kebaikannya akan diberikan kepada orang yang terzalimi. Apabila amalan kebaikannya sudah habis diberikan, sementara belum selesai pembalasan tindak kezalimannya, maka diambillah dosa-dosa orang yang terzalimi itu, lalu diberikan kepadanya. Kemudian dia pun dicampakkan ke dalam neraka.” HR. Muslim.

Maka kedzaliman yang dilakukan seseorang kepada orang lain akan menjadi penyesalan di hari kiamat karena akan mendapatkan balasan dari orang-orang yang didzalimi. Pada Riwayat lainnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

“Siapa yang pernah berbuat aniaya (zhalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak lakukan, maka (nanti pada hari kiamat) bila dia memiliki amal shalih akan diambil darinya sebanyak kezholimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi maka keburukan saudaranya yang dizhaliminya itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya”. HR. Al-Bukhari

Maka, sangat rugi sekali orang-orang yang berbuat dzalim di dunia, karena mereka akan mendapatkan balasan di akhirat sana karena kedzaliman yang dilakukannya di dunia kepada orang lain.

Kedua, Mendapatkan laknat dari Allah

Dasar hukumnya adalah firman Allah Ta’ala:

يَوْمَ لا يَنفَعُ الظَّالِمِينَ مَعْذِرَتُهُمْ وَلَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ

“(yaitu) hari yang tidak berguna bagi orang-orang zalim permintaan maafnya dan bagi merekalah laknat dan bagi merekalah tempat tinggal yang buruk” (QS. Ghafir: 52).

Orang yang berbuat dzalim akan dilaknat oleh Allah Ta’ala di dunia dan di akhirat, laknat di sini maknanya adalah dijauhkan dari rahmat Allah. Maknanya dijauhkan dari rahmat Allah di dunia adalah hidupnya tidak akan pernah tenang di dunia karena kedzaliman yang dilakukannya, sementara di akhirat sana tidak akan mendapatkan rahmat dari Allah Ta’ala.

Ketiga, Mendapatkan kegelapan di hari kiamat

Dasar hukumnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الظُّلْمُ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ القِيَامَةِ

“Kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat” HR. Al Bukhari dan Muslim.

Merujuk pada riwayat ini maka kedzaliman yang dilakukan oleh seseorang akan menjadi kegelapan di akhira sana, padahal kita sangat memerlukan cahaya yang terang khususnya ketika berada di padang mahsyar. Maka jauhkanlah segala bentuk kedzaliman, baik yang disengaja ataupun tidak, caranya dengan hidup dalam naungan syariahNya.

Keempat, Terancam oleh doa orang yang dizhalimi

Ini adalah bahaya terbesar bagi orang-orang yang telah berbuat dzalim, doa orang yang terzalimi dikabulkan oleh Allah, termasuk jika orang yang terzalimi mendoakan keburukan bagi yang menzaliminya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

“Dan berhati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” HR. Bukhari dan Muslim.

Hendaknya mereka yang berbuat dzalim kepada orang lain memperhatikan riwayat ini, jangan sampai ada orang lain yang mendoakan keburukan kepada kita karena kedzaliman yang telah dilakukan, na’udzubillah min dzalika.

Kelima, Jauh dari hidayah Allah

Dasarnya adalah firman Allah Ta’ala:

إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim” (QS. Al Maidah: 51).

Petunjuk yang dimaksud adalah jalan kebenaran yang akan membawa kepada ksejahteraan di dunia dan akhirat. Seseorang yang berbuat dzalim tidak akan diberikan hidayah oleh Allah Ta’ala baik di dunia maupun di akhirat.

Keenam, Dijauhkan dari kesuksesan dand kesejahteraan (al Falah)

Dasarnya adalah firman Allah Ta’ala:

إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang zalim tidak akan mendapatkan al falah” (QS. Al An’am: 21).

Makna al-falah dalam ayat ini adalah mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat, maka orang yang berbuat dzalim tidak akan mendapatkannya. 

Ketujuh, Kezaliman adalah sebab bencana dan petaka

Asarnya adalah firman Allah Ta’ala:

فَكَأَيِّن مِّن قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ فَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا وَبِئْرٍ مُّعَطَّلَةٍ وَقَصْرٍ مَّشِيدٍ

“Berapalah banyaknya kota yang Kami telah membinasakannya, yang penduduknya dalam keadaan zalim, maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya dan (berapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi” (QS. Al Hajj: 45).

Kedzaliman yang terjadi di tengah masyarakat adalah salah satu dari sebab datangnya bencana dan malapetaka. Mereka yang berbuat dzalim telah menjadikan Allah ta’ala murka sehingga memerintahkan kepada alam untuk memberikan pelajaran bagi orang-orang yang berlaku dzalim. Sehingga jika kita terjadi musibah hendaknya muhasabah, kedzaliman apa yang telah kita lakukan sehingga bencana ini datang?

Semoga Allah Ta’ala menghindarkan dari kita segala bentuk kedzaliman baik yang sengaja ataupun tidak sengaja dilakukan, Aamiin. 16122022.

Rabu, 07 Desember 2022

Kenapa Banyak Orang yang “Tidak Suka” dengan Kita?

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri


 

Sebagian makhluk sosial, manusia membutuhkan manusia lainnya untuk memenuhi segala kebutuhannya. Adanya kebutuhan dasar ini maka terjadilah interaksi di antara manusia, baik dalam ruang lingkup keluarga, komunitas dan masyarakat pada umumnya. Interaksi ini bisa bersifat positif dan tidak jarang juga negative dengan berbagai tingkatannya. Konflik yang terjadi antara individu atau komunitas tertentu adalah salah satu efek negatif dari interaksi ini, sebabnya bisa karena masalah individual, komunitas atau kepentingan masyarakat. Konflik ini memiliki level yang berbeda-beda dari yang paling ringan sebatas salah paham, hingga terjadi perseteruan untuk saling memusnahkan.

Konflik yang sering terjadi di antara manusia adalah terkait dengan berbagai kepentingan dunia, hawa nafsu yang diikuti hingga kepentingan yang harus dituruti menjadi sebab utama perselisihan dan konflik yang terjadi di masyarakat. Efek dari perselisihan dan konflik ini biasanya berupa perasaan tidak nyaman dan dalam tingakatan tertentu membuat seseorang merasa lebih banyak orang lain yang tidak suka dengan dirinya.

Beberapa kali mendengar dari orang tua serta orang-orang di sekitar kita sebuah nasehat “Lebih banyak orang yang tidak suka dengan kita dari pada yang suka”. Begitulah kata-kata itu begitu membekas dan perlahan terbukti kebenarannya. Benarkah banyak orang yang tidak suka dengan kita dibanding orang yang suka? Jawabannya bisa jadi benar dan bisa juga salah. Semuanya tergantung pada keimanan setiap individu yang ada di sekitar kita, apakah mereka memiliki hati yang baik dan amalan syariah yang baik? Atau hati mereka kotor sehingga selalu menginginkan orang lain jatuh dan menderita. Istilah orang sekarang adalah “Senang Melihat Orang lain Susah dan Susah Melihat Orang lain Senang”.

Memang kalau kita perhatikan, banyak sekali orang yang mengikuti hawa nafsunya sehingga susah (tidak senang) melihat orang lain senang, dan senang melihat orang lain susah (tidak senang). Ini banyak sekali terjadi di antara anggota keluarga, tetangga, tempat kerja, antar organisasi dan manusia pada umumnya. Mereka tidak mau kalau ada orang lain yang lebih senang, bahagia, maju, berkembang, sukses dan kelebihan lain yang diberikan oleh Allah Ta’ala. Manusia yang mengikuti hawa-nya akan selalu ingin orang lain berada di bawahnya, senang melihat orang lain susah dan ingin dirinyalah yang terbaik dan paling segalanya.

Kembali ke pertanyaan semula “Apakah benar lebih banyak orang lain yang tidak suka dengan kita?” jawabannya benar jika orang-orang tersebut adalah mereka yang memiliki hati kotor, jauh dari agama dan selalu keduniaan yang dikejarnya. Sementara jawabannya bisa salah jika kita dikelilingi oleh orang-orang yang ikhlas, bersih hatinya dan selalu menghiasi diri dengan syariah Allah Ta’ala. Tidak ada rasa dengki, iri, hasad, sirik dan berbagai perasaan negatif kepada orang lain. Mereka yang hatinya bersih dan selalu dalam naungan syariahNya akan menghindari segala sikap negatif kepada orang lain, bahkan ia akan bahagia ketika orang lain mendapatkan kebahagiaan.

Bagaimana sikap kita ketika melihat banyak orang lain di sekitar kita yang tidak baik ke kita? Maka jawabannya adalah tetap menjadi orang baik, berusaha selalu berbuat baik pada mereka, mendoakan mereka dan selalu istiqamah dalam naungan syariahNya. Jika banyak orang yang yang iri kepada kita, hasad dan dengki karena sifat keduniaan yang ada pada diri kita maka doakanlah agar mereka mendapatkannya juga. Jika sifat dengki mereka memuncak hingga ingin menghancurkan kehidupan kita maka, berilah ia nasehat dengan cara yang baik. Sampaikan bahwa semua yang ada pada diri kita yang bersifat keduniaan sejatinya adalah milik Allah Ta’ala, ini semua hanya titipan sehingga tidak perlu dijadikan obyek iri.

Semoga Allah Ta’ala sentiasa menjaga diri kita dari segala bentuk sifat negatif kepada orang lain, membersihkan hati kita dari sifat dengki, iri dan hasad kepada orang lain. Kita doakan orang-orang yang ada di sekitar kita yang memiliki sifat ini juga mendapatkan hidayah sehingga hilang sifat negatif ini dan kembali kepada syariah Allah Ta’ala. Aameen Ya Rabbal ‘alaameen. 07122022.  

Biarkan Semua Berjalan Seiring Nafas-Nafas Kehidupan

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri

 


Masa demi masa berjalan sesuai dengan takdir Allah ta’ala, hingga meninggalkan berbagai rasa dan mendatangkan asa di antara manusia. Masa lalu menjadi pelajaran berharga bagi setiap manusia, sedangkan masa depan memberikan harapan bagi semesta. Berbagai hal telah terjadi di semesta, termasuk manusia yang ada di dalamnya. Mulainya kehidupan, menjadi dewasa dan akhirnya meninggalkan dunia yang fana. Itu siklus kehidupan manusia, dan kita tengah berada di antara kuasaNya.

Pagi ini mendatkan kabar seorang kawan di Ngawi yang mengalami struk, Dr. TKh Namanya sebuah nama yang dalam Bahasa Arab berarti jalan yang baik. Saya mengenal beliau sewaktu mengikuti shortcourse metodologi penelitian etnografi di Institut Agama Islam Lathifah Mubarakiyah (IAILM) Tasikmalaya, Jawa Barat. Seseorang yang humble dengan pengetahuan yang ahli di bidang Pendidikan sekaligus alumni Universitas Negeri Yogyakarta. Semoga Allah Ta’ala menyembuhkannya, Syafakallah syifa’an aajilan.

Beberapa waktu sebelumnya saya menerima kabar juga seorang kawan ketika kuliah di strata sarjana mengalami sakit dan harus dirawat. Matanya harus dioperasi karena mengalami sakit namun tidak berhasil dan akhirnya harus kehilangan penglihatannya. Kini beliau hanya terbaring dan tinggal di rumahnya di bilangan Lenteng Agung Jakarta.

Banyak lagi kawan-kawan lain yang telah meninggal dunia, dari yang sudah lanjut usia hingga yang mud abelia. Semuanya pergi meninggalkan dunia dan kembali kepada Allah Ta’ala, pertanyaan yang harus dijawab adalah “Kapan giliran kita?”

Biarkan masa berjalan seiring nafas-nafas kehidupan, itulah sejatinya hakikat manusia ia hanya makhluk biasa yang mengikuti masa dan takdirNya. Lahir di dunia, tumbuh dewasa dan bila sudah masanya maka akan kembali kepada Allah Ta’ala. Semua kita mengikuti takdirNya, mau tidak mau harus siap menghadapinya. Semoga semua itu menjadi pelajaran yang sangat berharga, agar hidup kita lebih berharga dan dapat kembali kepadaNya dengan penuh rahmat dan cintaNya. Wallahu ‘alam, 07122022.

Minggu, 31 Juli 2022

Sebuah Harapan di Awal Tahun Hijriyah

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri

 


Satu hari melalui bulan Muharam 144 Hijriyah, ada banyak peristiwa yang harus dituliskan dalam lembaran kehidupan. Banyak juga peristiwa di luar sana yang harus diabadikan dalam setiap tulisan, agar menjadi sejarah dan tanggungjawab sosial sebagai sesama insan. Ya… begitu banyak permasalahan yang ada dalam internal diri dan eksternal yang akan menjadi sejarah dalam perjalanan insan. Harapan apa saja yang akan diwujudkan di masa-masa yang akan datang?

Menjadi lebih baik adalah hal mudah diucapkan dan dituliskan namun tentu saja tantangan di hadapan akan menghadang. Menjadi lebih baik dalam banyak hal, dari mulai perbaikan diri hingga lebih produktif lagi dalam menulis agar bermanfaat untuk umat. Minimal ada dua hal yang harus terus diperbaiki, perbaikan secara internal dan eksternal. Secara internal perbaikan diri dilakukan secara berkesinambungan, sedangkan secara ekternal adalah perbaikan terkait dengan muamalah (interaksi) dengan sesama insan.  

Menjadi lebih baik secara pribadi meliputi lebih mawas diri dan terus memperbaiki diri dari sisi aqidah, ibadah dan muamalah. Keyakinan yang harus terus ditanamkan dalam diri mengenai hakikat dari hadirnya kita di alam dunia, sehingga akan menjadikan ianya lebih bermakna. Terus merenungi segala kekuasaanNya yang selama ini begitu istimewa hingga semua hal bisa dirasa. Perbaikan ibadah yang selama ini masih terasa kurang khususnya amalan-amalan sunnah, harus terus ditingkatkan agar selaras antara ilmu dan amal. Bidang muamalah terkait dengan interkasi dengan sesama insan, di mana harus lebih memahami berbagai karakter dari manusia. Terlalu banyak manusia yang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, bahkan walaupun kita berbuat baik kepada mereka faktanya lebih banyak yang tidak suka, dengki dan merasa tersaingi oleh kita. Maka bersabar dan terus mendoakan mereka adalah jalan utama, serta berusaha sesuai kemampuan untuk memperbaik setiap penyimpangan yang ada.

Perbaikan secara eksternal akan dilakukan dengan secara perlahan memperbaiki hubungan dengan semua insan. Memahami keadaan setiap orang dan lebih peduli dengan setiap persoalan yang dihadapi oleh umat, masyarakat bangsa dan negara. Hal in bisa dilakukan melalui interkasi langsung atau secara digital. Membuat sebuah tulisan atau video yang berisi perjuangan menyampaikan kebaikan adalah salah satu cara yang bisa dilakukan. Bukan merasa lebih baik baik tapi berusaha untuk menjadi baik dan memberi manfaat kepada umat. Target penulisan 300 buku sudah ada di depan mata, jika ditingkatkan menjadi 500 buku tentu bukan hal sulit untuk dilakukan. Sementara artikel di website harus terus dituliskan, ia akan menjadi saksi sejarah yang semoga akan bernilai ibadah. Lebih dari itu adalah memberikan hal terbaik untuk agama, bangsa dan negara yang merupakan cita-cita sejak sekolah dasar.

Semoga memasuki tahun baru hijriyah ini kita semua akan terus lebih baik secara personal dan sosial sehingga akan memberikan manfaat yang lebih banyak bagi umat, masyarakat dan semesta raya. Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin. Ahad, 31 Juli 2022/02 Muharam 144 H.

Rabu, 25 Mei 2022

Ketika Hawa Membelenggu Raga

Oleh: Misno Mohammad Djahri

 


Salah satu dari tema utama yang terkait dengan manusia adalah hawa yang ada di dalam dirinya, sebagai sebuah keistimewaan yang juga bisa menjadi kekurangan maka hawa nafsu manusia memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupannya. Hawa yang dimaknai secara umum dengan keinginan dan jiwa adalah diri manusia itu sendiri menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Ia diciptakan bersama dengan lahirnya manusia ke dunia, banyak ayat AL-Qur’an yang mencela hawa ini karena memang selalu membawa kepada keburukan. Hawa Nafsu sendiri dipahami sebagai kaingin jiwa manusia yang cenderung kepada hal-hal yang tidak selaras dengan nilai-nilai Islam. Syahwat adalah salah satu dari hawa nafsu manusia yang telah banyak menyesatkan umat mulia ini.

Hawa nafsu dalam bentuk syahwat memang tidak bisa terpisahkan dari diri manusia, keinginan untuk menikmatinya begitu kuat dalam jiwa manusia. Hanya mereka yang mendapat rahmat dari Allah Ta’ala yang dapat mengendalikannya. Syahwa manusia seperti anak kecil yang bila dia menginginkan sesuatu dan dituruti maka akan terus menjadi kebiasaan. Syahwat yang terus duturuti memang membawa kepada kenikmatan, yang walaupun semu namun banyak manusia yang mati-matian untuk mendapatkannya. Syahwat dalam makna yang negatif selalu membawa kepada hal-hal yang memesona raga, memberi kenikmatan dan kenyamanan sementara yang kebanyakan manusia lalai dengannya.

Syahwat yang terkait dengan kenikmatan badani yang biasanya terkait dengan hubungan badan menjadi inti dan puncak dari syahwat manusia. Berjuta manusia terjebak dalam syahwat ini hingga mereka terbelenggu di dalamnya, ketika pernikahan menjadi solusi bahwa syahwat ini, ternyata banyak manusia yang mencari jalan lainnya. Jalan-jalan yang mereka tempuh hanya untuk memuaskan syahwatnya, memenuhi hawa liarnya hingga mengeluarkan setetes air yang semestinya ditempatkan sesuai dengan fitrah manusia. Namun banyak manusia yang yang membuangnya sia-sia atau bukan pada tempat yang telah diciptakan oleh Allah Ta’ala.

Ya, syahwat ini memang begitu kuat membelenggu sebagian manusia, hingga ia akan mengorbankan “segalanya” hanya sekadar menyalurkannya di tempat yang tidak semestinya. Sebagian bahkan menjadi candu dan pemuja hawa, hingga menjadi profesi dan kesenangannya, na’udzubillah. Tapi memang demikianlah adanya, berapa banyak lokalisasi prostitusi, juga prostitusi online yang merebak dan dapat diakses kapan saja dan di mana saja. Berapa banyak penjaja hawa yang secara sembunyi ataupun terang-terangan menjual jasa untuk memuaskan syahwat manusia. Belum puas dengan hal yang telah menjadi fitrah manusia, sebagian mereka terjebak ke dalam hubungan sesama bahkan banyak yang lebih hina berhubungan dengan binatang dan yang selainnya.

Sebagai manusia biasa, kita dapat merasakannya bagaimana hawa manusia memang begitu kuat membelenggu jiwa, bahkan memberi fantasi yang kadang kita tersesat di dalamnya. Ia begitu kuat dengan dorongan dari iblis dan bala tentaranya. Bahkan ketika ia telah membelenggu begitu kuat, maka ketika tidak dituruti maka manusia akan tersiksa dan hidup bagaikan di lama penuh siksa. Sangat berat terasa ketika hawa harus diarahkan di jalan fitrahNya. Berapa banyak manusia yang jiwa dan raganya menjadi lara karena hawa yang ditahannya. Mereka tersiksa hingga harus menahan rasa yang bergelora di dada, bahkan sebagiannya akan menjadi linglung dan akalnya hilang karena hawa yang tidak disalurkan.

Maka, wahai manusia… kuatkanlah pertahananmu untuk terus menjaga hawa dalam bentuk syahwat agar disalurkan di jalan fitrah manusia. Kuatkan terus pertahanan itu, karena jika jebol maka engkau akan terjatuh dalam kehinaan di dunia dan di akhirat sana. Berat memang terasa, tapi akan manis nanti buah dan hasilnya. Sesak memang di jiwa tapi akan menjadi kelapangan di akhirat sana. Semoga Allah Ta’ala sentiasa memberikan rahmatNya, sehingga kita akan mampu menjaga hawa dalam jiwa dan menyalurkan syahwat di tempat yang telah menjadi fitrah manusia. Beratnya menahan hawa, 25052022.

Selasa, 12 April 2022

Ramadhan dan Kepedulian Sesama Insan

Oleh: Abd Misno

 


Tujuan utama dari shaum (puasa) di bulan Ramadhan adalah agar orang-oang beriman (mukmin) bertakwa kepada Allah Ta’ala. Ketakwaan ini tentu saja bukan secara instan dilakukan, ia memerlukan proses dan tahapan agar tercapai apa yang menjadi tujuan dari ibadah di bulan Ramadhan ini.

Ketakwaan yang menjadi tujuan dari shaum sejatinya sangatlah luas, ia mencakup keyakinan mendalam akan rububiyah Allah Ta’ala, Uluhiyah-Nya serta semua yang terkait dengan keyakinan bahwasanya Allah Ta’ala menguasai segala sesuatu. Pada sisi lainnya, ketakwaan juga bermakna kemanfaatan untuk semesta, di mana orang yang bertakwa akan memberikan manfaat yang banyak kepada manusia, hewan, tumbuhan dan seluruh maklukNya di semesta raya.

Ibadah shaum (puasa) sejatinya memberikan tarbiyah (Pendidikan) kepada orang-orang beriman agar kepedulian dengan sesama insan dapat diasah dan dilatih. Rasa lapar dan haus yang dirasakannya selama menjalankan ibadah puasa, adalah sarana agar kepeduliannya dengan sesama insan dapat dioptimalkan. Demikian pula rasa lemah dan kurang tenaga ketika tidak ada masukan makanan dan minuman sepanjang siang juga mengajarkan kepada manusia bahwa banyak di luar sana orang lain yang kesulitan dalam mendapatkan makanan dan minuman.

Sudah selayaknya bahwa ketika rasa haus dan lapar mulai terasa, ruhaniyahnya akan meningkat dan sifat empati dalam dirinya juga akan memuncul dengan membayangkan orang lain yang bukan hanya di bulan Ramadhan, tapi hari-harinya yang dilanda kelaparan dan kekurangan. Tubuh manusia yang lapar akan terasa lemah hingga yang akan benyak berperan adalah akal, logika dan hati yang lebih terbuka dalam menerima segala sesuatu yang bersifat non-material semisal minuman dan makanan. Maknanya ia akan lebih peduli dengan sesama insan, dan terdorong untuk meringkan beban kehidupan yang mereka rasakan.

Shaum (puasa) mengajarkan setiap insan beriman untuk peduli dengan sesama insan, bukan hanya dari puasa yang dilakukan tapi motivasi besar tentang pahala bagi mereka yang memenuhi kebutuhan orang-orang yang kekurangan di bulan penuh keberkahan. Banyak sekali ayat dan hadits Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam yang memberikan motivasi agar banyak memberikan makan dan memunuhi kebutuhan orang-orang yang kekurangan selama Ramadhan. Bahkan di akhir bulan yang mulai ini kita diwajibkan untuk membayar zakat fitr, dengan tujuan agar orang-orang yang kekurangan dapat ikut merasakan hari raya yang penuh dengan kebahagiaan.

Jika shaum yang kita lakukan tidak memberikan peningkatan kepada kepedulian dengan insan, maka pertanyaan besar haruslah menjadi perhatian “Kenapa Shaum Ramadhan yang dilakukan tidak menumbuhkan kepedulian dengan sesama insan?” jawabannya bisa jadi karena shaum yang dilakukan hanya sebatas kewajiban, bukan untuk mengajarkan manusia agar bertakwa sebaliknya menjadi masa memperbanyak makanan dengan berbuka secara berlebihan.

Semoga kita terhindar dari sikap yang demikian, karena sejatinya shaum ini adalah untuk Ar-Rahmaan, yang bermakna memberikan dampak peningkatan keimanan serta kepedulian dengan sesama insan. Wallahu a’lam, pagi mendung di Bogor, 12 April 2022.  

Senin, 11 April 2022

Ramadhan dan Kemalasan Individual

Oleh: Abd Misno

 


Bulan Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan, kemuliaan dan dilipatgandakannya pahala amalan. Ibadah yang paling utama di bulan ini adalah shaum atau puasa selama sebulan penuh, yaitu menahan diri dari makan, minum, syahwat dan hal-hal lainnya yang dapat membatalkan puasa. Ibadah ini memang dianggap mudah oleh yang telah terbiasa, namun dirasa berat oleh yang tidak baru melakukannya. Ada juga faktor lainnya yang mengakibatkan ibadah ini menjadi tidak nyaman untuk dilakukan. Salah satunya adalah karena hawa nafsu, godaan syaithan hingga kelemahan dari insan (manusia).

Jasad manusia yang membutuhkan makanan, minuman dan yang lainnya memang ketika dalam keadaan puasa akan menjadi lemah dan kurang berdaya. Ini wajar, karena asupan yang dibutuhkan oleh tubuh selama seharian tidak didapatkan. Walaupun ditukar dengan makan sahur, namun tidak membantu secara keseluruhan dari lemahnya orang yang berpuasa. Apalagi jika ada faktor lainnya, semisal gaya hidup yang tidak sehat serta godaan syaithan yang selalu ada dalam kehidupan. Efek dari puasa bagi seseorang adalah rasa lemah, lapar, haus hingga kemudian penyakit malas menghampirinya.

Belum ada survey yang menunjukan apakah puasa membuat rasa malas itu muncul, tapi secara logis bahwa seseorang yang berpuasa akan kekurangan asupan untuk badannya sehingga sangat wajar ketika badannya melemah. Apalagi jika gaya hidupnya tidak sehat, semisal setelah makan sahur tidur lagi, atau makan minum yang berlebihan ketika berbuka puasa. Godaan syaithan juga ikut berperan dalam membuat sifat malas pada diri manusia, menggoda dengan berbagai alasan logis semisal “Kamu khan sedang puasa, jadi lemas karena itu santai-santai aja”. Godaan ini akan berbeda variasinya namun intinya sama yaitu agar orang-orang yang berpuasa menjadi malas dan tidak banyak melakukan akfititas yang bermanfaat untuk akhiratnya.

Tentu saja ini bukan menunjuk kepada orang lain, sekadar ingatan untuk diri sendiri dan renungan bagi yang membaca, bahwa ketika puasa dilaksanakan badan ini memang menjadi lemah hingga tubuh terasa lemas dan kurang tenaga. Akibatnya rasa malas untuk kemudian muncul, malas melakukan aktifitas berat, malas untuk beribadah, malas untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat. Terkadang karena sifat malas ini muncul, kemudian malah melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat atau malah tidak baik dengan alasan lemas, misalnya membuka media sosial, menonton TV atau Film, bermain game hingga kegiatan lainnya yang tidak bermanfaat bahkan cenderung pada Kesia-siaan.

Hal ini tentu tidak boleh dibiarkan, karena puasa yang kita lakukan semestinya tidak menghalangi kita untuk melakukan aktifitas seperti biasa. Kalaupun ada pengurangan itu wajar, karena memang badan kita sedang berpuasa sehingga tenaga akan berkurang. Namun bukan menjadi halangan untuk melakukan aktifitas seperti biasa, bisa saja dengan mengurangi porsinya agar bisa menghemat tenaga hingga berbuka. Jangan sampai kita terjatuh pada aktiftas yang melalaikan atau sia-sia yang bisa mengurangi nilai pahala puasa kita.

Kemalasan individual yang juga terjadi di level sosial adalah ketika puasa mereka lebih banyak santai, tiduran, rebahan dan kegiatan yang tidak bermanfaat. Setelah sahur dan shalat shubuh tidur kembali menjadi bukti kemalasan yang terjadi. Nyaman memang setelah sahur dan shalat shubuh tidur kembali, tapi ini tentu tidak dianjurkan. Kalaupun terpaksa tunggu hingga matahari terbit agar makanan yang dicerna bisa berjalan dengan baik. setelah bangun tentu saja harus kembali melakukan aktifitas yang lebih produktif.

Sejatinya kemalasan individual ataupun sosial tidak hanya terjadi di bulan Ramadhan, sifat malas memang menjadi penyakit yang harus dicari obatnya. Tidak bisa dibiarkan karena akan merugikan baik diri sendiri maupun masyarakat, malas mengakibatkan berbagai aktifitas yang semestinya dilakukan tidak terselesaikan dengan baik. Menunda pekerjaan bahkan hingga tidak terlaksana adalah dampak negatif dari sifat malas, padahal kalau ia bisa mengatasinya maka seharusnya ia juga akan mendapatkan manfaat yang juga dapat dirasakannya.

Berdasarkan teori dan pengalaman ada tiga obat untuk mengobati penyakit malas ini, Pertama: perbaiki kembali niat karena Allah Ta’ala, maknanya bahwa jadikan semua aktifitas itu adalah karena diniatkan untuk mendapatkan ridha dari Allah Ta’ala. Dengan memperbaiki niat ini diharapkan sifat malas ini berkurang, karena kita diingatkan bahwa semua yang dilakukan adalah karena mengharap ridhaNya. Kedua, menikmati prosesnya. Puasa memang membuat badan kita lemah dan kurang tenaga, namun tidak menjadi alasan untuk kita bermalas-malasan. Lakukan kegiatan yang tidak banyak menguras tenaga, bagi yang bekerja berat maka dapat dikurangi sedikit agar tetap kuat menjalankan puasa. Ketiga, fokus pada tujuan, baik itu jangka pendek ataupun jangka Panjang. Tujuan jangka pendek terkait dengan harapan-harapan yang segera didapatkan ketika melakukan berbagai kegiatan, sedangkan jangka Panjang adalah pahala dari Allah Ta’ala dan efek ke depan yang juga akan dirasakan dengan melakukan aktifitas tersebut. Harapan menjadikan hidup kita lebih bermakna, karena ada sesuatu yang dinanti sehingga hidup akan lebih berarti.

Maka Ramadhan yang mulia ini jangan dijadikan alasan untuk bermalas-malasan, bangun dan lakukanlah kegiatan seperti biasa, bila sedikit lelah maka beristirahatlah, jika rasa lapar itu datang maka segera ingat bahwa ini adalah ibadah kepadaNya. Demikian pula apabila rasa malas melanda maka ingatlah ada banyak hal positif yang bis akita dapatkan apabila mampu mengalahkan rasa malas ini, baik itu di dunia ini hingga di akhirat nanti. Wallahua’lam, berusaha melepas rasa malas, Senin 11 April 2022.

Rabu, 02 Februari 2022

Manusia dan Hawa Dunia

Oleh: Abd Misno

 


Manusia adalah makhluk ciptaan Allah Ta’ala yang berbeda dengan makhluk lainnya, perbedaan ini terletak pada kesempurnaan jiwa dan raga. Selain itu adanya hawa yang menghiasi setiap persendiannya, ketika binatang dengan tanpa aturan berbuat semaunya, maka manusia harus tunduk patuh pada aturanNya. Ketika tumbuhan tidak dimintai pertanggungjawaban, maka manusia akan mempertanggungjawabkan semuanya di akhirat sana. Pun demikian ketika Malaikat diciptakan tanpa adanya hawa, maka manusia tercipta berselimut hawa dunia. Makhluk yang agak dekat dengan manusia dalam hal dunia adalah jin dan teman-temannya, mereka adalah makhluk yang memiliki hawa dan tentu saja akan mempertanggungjawabkan semua yang dilakukannya.

Manusia dan hawa dunia, satu sisi memang menjadi hal yang istimewa namun di sisi lain menjadi cobaan sangat berat bagi manusia. Hawa untuk menikmati dunia, menikmati wanita, menikmati tahta, menikmati harta bahkan menikmati sesuatu yang sejatinya perbuatan maksiat kepadaNya. Hawa nafsu manusia selalu menyeretnya kepada perbuatan tercela, hingga jika ia terus mengikutinya maka adzab neraka menanti di sana. Sebagian manusia tidak paham dengan hal ini, sebagian lainnya mengetahui ilmunya namun masih terlena dengan hawa dunia.

Hawa untuk menikmati dunia bisa jadi telah membawa manusia pada “kebodohan”, yaitu memperturutkan hawa-nya. Bodoh karena akalnya telah tertutup dengan kenikmatan sesaat yang justru merugikannya, baik di dunia ataupun di akhirat sana. Ya… bisa jadi kita terlena dengan “kebodohan” itu hingga hanyut terbawa dalam gelombang hawa dunia. Apalagi jika hawa tersebut terkait dengan kenikmatan ragawi, menikmati sesuatu yang di matanya sangat menarik hati, menyentuh dan menikmati raga manusia sejenisnya, hanya sekadar mengikuti dorongan tabiatnya, mengeluarkan setetes dahaga dunia yang selalu menggelora.

Memang, dorongan ini begitu kuat terasa terutama bagi mereka yang masih berusia muda hingga menjelas separuh abad usia. Ada juga yang hingga menjelang enam puluh lima, masih terbawa dalam gelombang rasa yang berpuncak pada kenikmatan raga yang tiada tara. Candu terhadap nafsu dunia memang dalam beberapa keadaan tidak mengenal usia, kita bisa saksikan bersama orang tua yang masih mengejar kenikmatan raga, padahal alam kubur sudah menantinya. Nafsu kepada dunia, Wanita, sesama, harta dan tahta memang menjadikan manusia sering lalai dalam mengingatNya. Setetes rasa yang selalu memaksanya untuk menuruti hawanya, selalu menjadikannya buta dengan segala konsukensi yang ada. Sampai bila wahai manusia akan terus terlena dengan hawa?

Berbagai peringatan sudah datang bergantian: cobaan dan kemalangan berdatangan dalam kehidupan. Namun engkau masih belum berpaling dari jalan kehidupan yang diharamkan, masih menunda entah sampai kapan. Mungkin sampai ragamu layu dan tak lagi memiliki nafsu, atau hingga adzab Rabb-mu menyadarkanmu, hanya Dia yang Maha Tahu. Walaupun dalam hati kecil engkau juga sadar, bahwa perbuatanmu itu tidak sesuai dengan titah Ar-Rahman, terbelenggu nafsu hingga membuatmu ragu. Keraguan yang nampak dalam kehidupanmu, rasa gundah gulana sebagai tanda bahwa itu adalah perbuatan maksiat terhadap Rabbmu.

Wahai jiwa, sadarlah… wahai raga ingatlah. Jiwamu adalah inti dari kemuliaanmu, ragamu itu adalah amanah yang sejatinya bukan milikmu. Semua akan kembali kepadaNya, Allah Ta’ala sebagai Pemilik segalanya, sudahkah engkau bersiap menghadapNya? Kenapa engkau masih terlena dengan nafsu dunia, kenapa engkau mengorbankan surga dengan dunia yang sementara, kenapa hanya karena setetes rasa dunia engkau abaikan syariah Allah Yang Maha Mulia? Raga ini tidak akan pernah puas dengan setetes fitrah insani, ia akan terus merengek untuk menambah dan menambah lagi. Jiwa-mu itu akan selalu berfantasi, tentang kenikmatan ragawi yang sejatinya bukan kebahagiaan sejati.

Ya… manusia adalah tetap manusia, dorongan hawa begitu kuat di dada, bisikan syaithan dan bala tentaranya semakin menambah himpitan di jiwa. Bahkan keilmuwan yang dimilikinya terkadang terkubur dalam hawa dunia dengan setetes rasa dunia. Iman di dada pun sering terkalahkan dengan pesona raga manusia sesamanya, bukan hanya orang awamnya saja bahkan sekelas “ulama” pun terjerat dalam kenikmatan raga. Hanya mereka yang diberikan rahmat oleh Rabb-nya yang selalu menjaga dirinya (iffah) dari perbuatan nista, menguatkan raganya agar tidak menumpahkan tetes hawa dunia bukan pada tempatnya dan tentu saja kuasa (Takdir) yang Sang pemilik Jagat Raya ada di atas semuanya.

Tulisan ini sebagai ingatan, pertama untuk penulis sendiri sebagai manusia biasa yang penuh dengan dosa dan terjebak ke dalam hawa dunia. Bagi pembaca, ini sekadar ingatan dan ibrah nyata bahwa hawa dunia memang tidak dengan mudah dilepaskan dari makhluk yang bernama manusia. Sebagian akan mencela mereka yang terjerat dalam hawa, sebagian yang lebih bijaksana akan memahaminya dan selalu ingin menyadarkannya, sebagian lainnya malah terjebak dalam memahami tanpa adanya usaha untuk memperbaikinya. Semuanya terpulang kepada kita sebagai manusia… kita hanya berdoa semoga hawa dunia ini perlahan tunduk pada syariahNya, kembali kepada Rabb-nya dan dipanggil dengan ucapan mesra…. Ya ayyatuhanafsul muthmainnah… (Wahai jiwa yang tenaang…) irji’i ila rabbika radhiyatan mardhiyah (kembali-lah kepada Rabbmu dengan penuh keridhaan), fadkhuli fi ‘ibaadi wadkhuli jannatii… (masuklah bersama dengan hamba-hambaKu dan masuklah ke dalam surgaKu)…  Allahu Akbar. 02022022.