Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 November 2023

Membaca Semesta di Negara Tetangga

 Oleh: Misno

 


Bermimpi tentu tidak ada salahnya, apalagi jika mimpi itu terpatri dalam hati dan menjadi azzam yang kuat hingga setiap langkah hidup fokus kepadanya. Mimpi untuk berkeliling dunia dengan menikmati beraneka ragam budaya dan alamnya menjadi mimpi dalam hati ini, bukan hanya sekadar jalan-jalan tetapi “membaca” yang tersurat dan tersirat hingga memberi hikmah serta kebijaksanaan hidup yang tiada tara.

Namun, apalah daya anak buruh tani ini harus berjuang luar biasa untuk mencapainya. Semangat membaca yang kuat, dengan berbagai buku bacaan yang dipinjam dari perpustakaan sekolah bahkan koran dan majalah bekas bungkus nasi menjadi penyemangat hidup. Bahkan ketika harus berjuang di Ibu Kota dengan bekerja dan melanjutkan studinya, hingga bersimbah darah dan air mata dalam menyelesaikan program sarjana, magister hingga Doktoral.

Semangat untuk melanjutkan kuliah sempat tersendat karena biaya dan kesempatan yang belum ada, namun ada hikmah terbesar karena akhirnya mampu menghasilkan maha karya (buku) yang diterbitkan di beberapa penerbit di Jakarta. Hingga membawanya keliling Asia Tenggara, sedangkan tulisannya telah mengembara di berbagai pelosok negara utamana di dunia maya. Buku yang berjudul “Menaklukan Asia” Pustaka Amma Alamia dan “Menggenggam Nusantara” penerbit Gramedia Pustaka Utama telah membawanya ke Singapura, Malaysia dan Brunai Darusalam.

Singapura menjadi negara pertama yang saya kunjungi, berbekal undangan untuk mengajar di sana hingga mampu berkeliling di setiap sudutnya serta berjumpa dan wawancara dengan penduduknya. Tentu saja wisata buku tidak dapat ditinggalkan, mengunjungi beberapa perpustakaan, universitas dan pameran buku di negeri Singa adalah hal yang menakjubkan. Negara kecil miskin sumber daya alam ini faktanya kaya dengan sumber daya manusia, salah satu faktor utamanya adalah tingkat membacanya. Bersyukur hingga saat ini masih diberi kepercayaan untuk mengajar di sana serta membimbing dan menguji tesis di salah satu college di sana. Selain itu beberapa buku dan penelitian yang diterbitkan berkenaan dengan Singapura menjadi kontribusi bagi negeri ini.

Selanjutnya Malaysia, negara jiraan ini sudah menjadi semacam negeri sendiri dengan berbagai pesonanya. Tentu saja buku dan ilmu pengetahuan di sana menjadi tujuan utama mengunjunginya. Berawal di tahun 2012 mengikuti Konverensi Internasional sebagai pembicara di University of Malaya, hingga berlanjut berkelana di sepanjang Malaysia. Mulai dari UiTM di Sabah Malaysia Timur, dilanjutkan dengan UTM di Johor Bharu, UTem di Melaka, UKM di Bangi, IIUM di Gombak hingga ke USM di Pulau Penang. Beberapa buku saya diterbitkan di UCYP Malaysia dan menulis bersama dengan beberapa dosen di sana adalah sebuah kebanggaan. Puncaknya mendapatkan penghargaan dari Kerajaan sebagai penulis Buku Nusantara Terbaik bersama Dr. Shabri bin Mohd Sharif dari UTeM Melaka.

Brunai Darusalam menajdi negara yang juga menginspirasi dalam membaca dan menulis, pasalnya kehadiran saya di sini juga dalam rangka mengikuti konverensi internasional sebagai pembicara. Ternyata tidak hanya sampai di situ, komunikasi yang intens juga telah memebrikan peluang untuk menerbitkan buku bersama dengan beberapa dosen di sana. Negara dengan penduduk sedikit ini menjadi inspirasi untuk terus membaca dan berkarya untuk semesta.

Tentu saja ini petualangan membaca semesta ini belum berakhir, Covid-19 yang mewabah membatalkan rencana kunjungan saya ke teman di Cambodia, Thailand dan Vietnam. Semoga setelah dunia ini membaik, petualangan untuk buku dan membaca semesta akan terus berlanjut mengelilingi dunia, hingga semakin mampu memahami jagad raya agar kebijaksanaan menjadi nyata dalam jiwa.

 

 

Kisah Anak Buruh Tani dari Selatan Jawa

Oleh: Misno

 


Buku menjadi bagian dari hidup saya, kebiasaan membaca telah ada sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), nun jauh di ujung selatan Pulau Jawa. Sedikit dari murid-murid di SDN Ujungmanik III yang datang ke perpustakaan, membaca buku dan meminjamnya untuk dibawa ke rumah.  Bukan hanya dibaca, bahkan karena terbatasnya bahan bacaan di rumah, karena keluarga hanya seorang buruh tani maka buku tersebut saya salin untuk dibaca kembali ketika buku yang dipinjam sudah dikembalikan ke perpustakaan sekolah.

Buku dan membaca isinya terus berlanjut, bahkan ketika terpaksa harus putus sekolah karena orang tua tidak ada lagi biaya. Berbekal semangat untuk membaca, beberapa buku yang dijual di loakan kaki lima saya beli untuk memuaskan dahaga membaca. Waktu itu saya ikut Bu De (Kakak Ibu) yang merantau ke Jakarta. Keinginan kuat untuk melanjutkan sekolah, akhirnya saya mengikuti kelas Paket C (Setara SMU), dengan tetap membaca dari berbagai sumber yang ada. Tentu saja, koran bekas pembungkus nasi atau majalah menjadi bahan bacaan saya, hingga mengantarkan saya ke bangku kuliah.

Bukan perkara yang mudah, ketika memasuki dunia kampus, dengan tetap bekerja untuk memenuhi kehidupan sendiri di sekitar ibukota Jakarta. Berbekal semangat membaca dan buku yang selalu ada di jiwa dunia kuliah di selesaikan dengan baik bahkan menjadi Lulusan Terbaik dengan Predikat Cumlaude. Setelah menyelesaikan Program Sarjana Hukum, kembali kegundahan itu muncul “Apakah hanya sampai di sini, atau harus kuliah lagi ke jenjang yang lebih tinggi?” Seorang anak buruh tani yang miskin kembali berfikir, hingga kecintaannya pada buku menyampaikannya pada level merangkai kata dan kalimat hingga menjadi sebuah maha karya.

Menulis buku menjadi pelampiasan semangat membaca dan meningkatkan kemampuan akademiknya, hingga akhirnya mengantarkan pula kuliah di jenjang pascasarjana. Sambil menulis buku dan membantu beberapa teman kelas menyelesaikan tugas-tugas kuliah akhirnya selesai juga kuliah di pascasarjana Program Studi Ekonomi dengan menyandang gelar Magister Ekonomi. Hal yang membanggakan adalah lulus sebagai mahasiswa terbaik dan nilai IPK “Dengan Pujian” alias cumlaude.

Mampukah anak petani buruh ini mencapai level akhir strata pendidikan di negeri ini? Program Doktoral menjadi mimpi banyak orang, namun sepertinya belum saatnya untuk dinikmati oleh anak buruh tani yang miskin ini. Namun, semangatnya untuk terus membaca dan menambah ilmu pengetahuan mengantarnya menghasilkan berbagai “maha karya”, yaitu berbagai buku yang diterbitkan di penerbit Indonesia. Masa berlaku hingga dua tahun lebih, ketika tawaran untuk kuliah lagi datang dari Universitas Negeri di Bandung. Akhirnya dengan modal nekat, petualangan akademik di Kota Kembang dimulai, tentu saja dengan perjuangan yang luar biasa karena harus pulang pergi seminggu sekali dari Bogor ke Bandung.

Kesungguhan dalam perjuangan tidak sia-sia, semangat membaca, buku, dan cinta ilmu pengetahuan mengantarnya lulus di jenjang Doktoral bahkan menjadi lulusan terbaik dengan predikat Cumlaude”. Alhamdulillah…

Buku dan membacanya menjadi bagian tidak terpisahkan dalam hidup saya, bahkan dengan target lima kali umru saya maka menghasilkan maha karya menjadi motivasi yang menjadikan hidup ini lebih bermakna. Semoga…

Sabtu, 04 Maret 2023

Pulang Kampung ke Kampung Jalan Jati Pendopo

By: Ahmad Berhimin


 

Ahmad Berhimin adalah seorang pria yang lahir dan besar di kampung Jalan Jati Pendopo, sebuah desa kecil yang terletak di Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan. Ahmad telah meninggalkan kampungnya selama lebih dari 40 tahun untuk mengejar karirnya di kota besar. Namun, akhir pekan lalu, ia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya untuk mengunjungi keluarganya.

Kampung Jalan Jati Pendopo adalah sebuah kampung kecil yang sepi, dengan sekitar 300 orang penduduk yang tinggal di sana. Mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani atau buruh tani, dan hidup mereka sangat sederhana. Namun, Ahmad selalu merasa bahwa kampung halamannya memiliki daya tarik tersendiri yang membuatnya ingin kembali berkunjung.

Ketika tiba di kampung halamannya, Ahmad langsung disambut hangat oleh keluarganya dan para tetangga. Mereka bersama-sama menyambut kedatangan Ahmad dengan menyiapkan berbagai hidangan lezat khas daerah tersebut, seperti nasi lemak, rendang, dan sate padang. Ahmad sangat senang bisa kembali menikmati makanan khas daerah tersebut yang telah lama tidak ia rasakan.

Setelah makan siang bersama keluarga, Ahmad memutuskan untuk jalan-jalan ke sekitar kampung. Ia mengunjungi ladang-ladang padi milik para petani di kampung tersebut dan berbicara dengan mereka tentang cara mereka menanam dan memanen padi. Ahmad sangat kagum dengan keuletan dan ketekunan para petani di kampungnya, meskipun hidup mereka sangat sederhana, namun mereka tetap bersemangat dan berusaha untuk hidup dengan cara yang baik dan benar.

Selain itu, Ahmad juga mengunjungi sebuah masjid di kampungnya. Masjid tersebut menjadi tempat berkumpul bagi para warga kampung Jalan Jati Pendopo untuk beribadah dan belajar tentang agama Islam. Ahmad bergabung dengan jamaah shalat berjamaah dan juga mengikuti kajian agama yang diadakan oleh para ulama setempat. Ia merasa sangat nyaman di lingkungan yang begitu dekat dengan agama tersebut.

Kampung Jalan Jati Pendopo memang kecil dan sederhana, tetapi Ahmad merasa begitu terikat dengan tempat tersebut. Ia merasa bahwa kampungnya adalah tempat yang penuh dengan keindahan alam dan keramahan dari para penduduknya. Ahmad berharap bisa kembali berkunjung ke kampung halamannya di masa depan dan merasakan kembali kedamaian dan kehangatan dari kampung Jalan Jati Pendopo.

Kampung Jalan Jati Pendopo adalah tempat yang sangat istimewa bagi Ahmad. Meskipun ia telah hidup di kota besar selama lebih dari 10 tahun, namun kampung halamannya masih menjadi tempat yang selalu ingin ia kunjungi dan ingat. Ahmad percaya bahwa kampungnya adalah tempat di mana ia dapat merasakan kedamaian dan kebahagiaan yang sejati, di mana ia dapat beristirahat dari kesibukan dan kepenatan kehidupan di kota besar. Di kampung halamannya, Ahmad juga dapat merasakan kehangatan dan kebersamaan dengan keluarga dan teman-teman lama yang telah ia tinggalkan selama ini.

Kampung halaman juga memberikan kesempatan bagi Ahmad untuk lebih mengenal dan memahami budaya dan adat-istiadat yang ada di daerahnya. Dari pertanian hingga kerajinan tangan, ada banyak hal menarik yang dapat dipelajari di kampung Jalan Jati Pendopo. Ahmad merasa bahwa ia dapat memperoleh pengalaman dan pengetahuan baru dari kampung halamannya yang dapat membantunya menghargai dan menghormati keanekaragaman budaya dan tradisi Indonesia.

Dalam kunjungannya ke kampung halamannya, Ahmad juga mengalami banyak momen bahagia yang tidak akan pernah ia lupakan. Ia menghabiskan waktu bersama keluarganya, memasak bersama, dan berkumpul di sekitar api unggun di malam hari. Ahmad juga mengunjungi beberapa tempat wisata yang ada di sekitar kampungnya, seperti air terjun dan gua batu kapur.

Secara keseluruhan, kunjungan Ahmad ke kampung halamannya adalah sebuah pengalaman yang berharga dan bermakna bagi dirinya. Ia merasakan kedamaian, kebahagiaan, dan kehangatan yang sejati di kampung Jalan Jati Pendopo. Ahmad berharap bisa kembali berkunjung ke kampung halamannya di masa depan dan terus merawat hubungan baik dengan keluarga dan teman-teman lama di sana.

Selain itu, Ahmad juga merasa bahwa kunjungannya ke kampung halaman memberikan kesempatan baginya untuk memberi kembali kepada masyarakat setempat. Ia berpartisipasi dalam kegiatan sosial di kampung Jalan Jati Pendopo, seperti memberikan bantuan kepada anak-anak yatim piatu dan mengajarkan anak-anak tentang pentingnya pendidikan.

Dalam perjalanannya, Ahmad juga menyadari bahwa penting untuk tetap terhubung dengan akar dan identitas asli kita. Terkadang, kesibukan dan kehidupan di kota besar dapat membuat kita lupa akan asal-usul dan budaya kita sendiri. Dengan berkunjung ke kampung halaman, Ahmad merasa terhubung kembali dengan akarnya dan memperkuat identitasnya sebagai orang Indonesia.

Kunjungan Ahmad ke kampung halamannya juga memberikan pengalaman yang berharga dalam menjaga kelestarian lingkungan dan alam sekitar. Ia menyadari bahwa kehidupan di kampung masih sangat tergantung pada alam sekitarnya, seperti pertanian dan perikanan. Oleh karena itu, menjaga kelestarian alam dan lingkungan menjadi sangat penting bagi masyarakat setempat.

Dalam akhir artikel ini, Ahmad mengimbau kepada pembaca untuk juga mengunjungi kampung halaman mereka sendiri. Meskipun terkadang terlihat sepele, kunjungan ke kampung halaman dapat memberikan banyak manfaat dan pengalaman yang berharga. Selain itu, kunjungan tersebut juga dapat membantu dalam menjaga dan melestarikan kebudayaan dan lingkungan di daerah tersebut. 04032023.

Perjuangan Anak Dari Desa Yang Selalu Dihina

By: Ahmad Berhimin

 


Anak-anak dari desa seringkali dihadapkan pada diskriminasi dan penghinaan dari orang-orang yang berasal dari kota atau daerah yang lebih maju secara ekonomi. Ini bisa sangat merugikan dan mempengaruhi kepercayaan diri mereka. Namun, sebagian besar anak-anak desa tetap berjuang dan berusaha meraih kesuksesan dalam hidup mereka. Berikut adalah artikel tentang perjuangan anak dari desa yang selalu dihina:

Setiap anak memiliki potensi untuk meraih impian mereka, tak peduli dari mana mereka berasal. Namun, kenyataannya adalah bahwa tidak semua anak memiliki akses yang sama ke sumber daya yang diperlukan untuk meraih tujuan mereka. Ini terutama berlaku untuk anak-anak dari desa yang seringkali dihina dan diremehkan oleh orang-orang dari kota.

Penghinaan dan diskriminasi yang dialami oleh anak-anak dari desa dapat sangat merugikan dan dapat mempengaruhi kepercayaan diri mereka. Namun, banyak anak-anak desa yang memilih untuk tidak menyerah pada penghinaan tersebut dan terus berjuang untuk meraih tujuan mereka.

Salah satu contoh adalah Siti, seorang anak dari desa kecil di pedesaan Indonesia. Siti sering dihina dan diremehkan oleh teman-temannya yang berasal dari kota, yang menganggap bahwa anak-anak dari desa tidak memiliki kemampuan yang sama seperti mereka.

Meski begitu, Siti tidak menyerah dan terus berusaha keras untuk meraih impian dan tujuannya. Dia mempelajari dengan giat di sekolah, membaca buku sebanyak yang dia bisa, dan mengambil bagian dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler.

Pada akhirnya, kerja keras dan dedikasi Siti terbayar. Dia berhasil meraih prestasi yang sangat baik di sekolahnya dan diterima di salah satu universitas terbaik di negara tersebut. Siti terus berjuang untuk meraih impian dan tujuannya, meskipun penghinaan dan diskriminasi yang dia hadapi dari teman-temannya.

Siti adalah contoh inspiratif bagi anak-anak dari desa yang sering dihina dan diremehkan. Dia menunjukkan bahwa dengan kerja keras dan tekad yang kuat, anak-anak dari desa juga dapat meraih impian dan tujuan mereka. Tidak ada batasan bagi siapa pun yang memiliki tekad dan semangat juang yang kuat.

Pesan yang ingin disampaikan di sini adalah bahwa diskriminasi dan penghinaan tidak boleh menghambat anak-anak dari desa untuk meraih impian dan tujuan mereka. Semua anak memiliki hak yang sama untuk meraih kesuksesan, tak peduli dari mana mereka berasal. Kita semua harus mendukung anak-anak dari desa untuk meraih impian mereka, bukan menghina atau meremehkan mereka. Aber

Rabu, 18 Januari 2023

Kisah Penting dari Orang-orang Penting

Oleh: Ahmad Berhimin, SE., ME (Putra Lintang)

 


Sudah beberapa hari ini terhitung dari Jumat tanggal 13 Januari 2023 Jam 09.00 WIB sampai selesai jam 16.00 WIB kemudian hari Senin tgl 16 Januari 2023 berarti pendistribusian surat pengantar sosialisasi beasiswa dalam acara IGT (INAIS GOES TO SCHOOL) sudah berjalan dua hari lamanya yaitu hari jumat dan hari senin. Hal ini arena jadwal Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolahan yang dituju hanya memberlakukan lima hari kerja yaitu senin sampai jumat sesuai dengan peraturan Kemedikbud yang berlaku.  

Dalam pendistribusian surat pengantar tersebut saya bertemu dan berjumpa dengan orang-orang yang penting dalam dunia pendidikan. Saya merasa tersanjung dan merasa bahagia, orang yang saya temui tersebut diantaranya adalah kepala sekolah, wakil kepala sekolah, kepala humas dan para guru-guru yang sangat berdedikasi di dunia pendidikan yang bagi saya sangat baik dan mulia dalam menjalankan amanah untuk berbagi ilmu sesuai disiplin ilmu yang mereka kuasai.

Pertemuan yang sangat berharga ini berbekas di dalam sanubariku, terekam di dalam memoriku betapa indahnya dan betapa megahnya seandainya apa yang saya temui ini berlangsung di dalam semua sendi kehidupan dan tidak hanya formalitas di lingkungan pendidikan akan tetapi bisa diterapakan di lingkungan lainya. Hal ini sesui dengan anjuran rasul dalam haditsnya:

وَخَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” HR. Al-Qadlaa’iy dalam Musnad Asy-Syihaab.

Alhamdulillah semoga apa yang kita harapkan dan kita doakan yang niat baik untuk kemaslahatan umat di kabulkan oleh Allah subhanahu wataallah,  amin dan apa yang kita harapkan jadi indah dan amanah di semua lini. Abee 170123

Rabu, 11 Januari 2023

Keberkahan dalam Perjalanan di sekitar Pamijahan

Ahmad Berhimin, SE., ME. (Putra Lintang)


 

Hari ini tepatnya Selasa tanggal 10 Januari 2023, saya berkeliling membagikan tugas dari wakil rektor untuk membagikan dan menyampaikan surat tagihan tunggakan UKT kuliah, dikarenakan Ujian Akhir Semester (UAS) akan segera diselenggarakan. Salah satu persyaratan mengikuti Ujian Akhir Semester adalah lunas uang pembayaran untuk semester berjalan.

Sebenarnya bukan tupoksi pekerjaan saya, akan tetapi tetap saya laksanakan sebagai toleransi dalam bekerja. Saya jalani pekerjaan ini dengan ikhlas dan senang hati dan dibawa enak aja. Jujur dalam menjalankan tugas ini saya dalam keadaan boke alias tidak punya uang sepeser pun, akan tetapi karena hati bersih tanpa embel-embel.

Allah sangat menyanyangi mahlukNya, dari pagi sekitar jam 09.00 WIB saya berjalan berkeliling dari pintu ke pintu rumah mahasiswa yang telah terdaftar didaftar tagihan dalam bentuk surat yang harus saya sampaikan menggunakan motor pribadiku. Dalam perjalananku aku bertanya ke siapa saja tanpa pandang bulu agar kutemukan alamat yang kucari.

Tidak terasa, tenggorokan ini terasa kering, rasa haus dan lapar aku rasakan. Akan tetapi rasa itu seperti hilang, aku dikasih minum setiap bertemu dengan orang tua yang kutemui dan juga aku bertemu dengan sahabat atau teman kuliahku dan di suguhi makan dan minum. Alhamdulillah… Ya Allah barokahnya perjalanan ini.

Aku berkeling dari kampung-kampung di sekitaran kampus, membuat aku mengerti bahwa apapun itu, jalani aja insyaallah akan barokah. Aameen… From ABEE  090123

Senin, 02 Januari 2023

Cinta Selamanya Indah

Cinta Tak Selamanya Indah

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri

 


Fajar Sadboy menjadi fenomena baru generasi muda saat ini, kesedihan mendalam karena diputus cinta menag sangat menyakitkan bagi generasi muda. Apalagi jika karakter awalnya adalah baper (bawa perasaan)-an, tidak percaya diri, minder dan sifat negative lainnya pada diri seseorang, maka semakin lengkap sudah penderitaannya hingga hidup serasa bagai neraka dan keinginannya hanya satu yaitu mengakhiri kehidupan di dunianya. Nama Fajar Sadboy semakin viral dengan lagu yang dinyanyikannya dengan judul “Cinta Tak Selamanya Indah”, sebuah lagu yang menggambarkan keadaan dirinya saat ini. Apakah ada yang salah dengan judul lagunya? Bagaimana Islam memberikan solusinya?

Cinta adalah anugerah dari Allah Ta’ala, ia berupa rasa suka, kagum, simpati, senang kepada orang lain. Rasa ini muncul bersamaan dengan tumbuh berkembangnya manusia, sejak masa kecil, anak-anak, remaja, dewasa bahkan orang yang sudah tua akan selalu merasakan rasa ini. Jika masa anak-anak dan remaja rasa cinta itu berupa sayang dan memerlukan orang-orang terdekatnya, maka pada usia remaja dan pemuda rasa cinta ini mengarah kepada lawan jenis yang menurutnya sesuai dengan perasaannya. Pada kasus penyimpangan lainnya, ia juga muncul pada sesame jenis yang dianggap cocok dan sesuai dengan “perasaannya”. Semakin bertambah usia maka kematangan cinta mencapai puncaknya, hingga cinta orang dewasa akan lebih sempurna, logis dan selalu membawa kepada keindahan dan kebahagiaan walaupun mungkin tidak saling memiliki.

Permasalahan utama khususnya bagi remaja dan pemuda, sebenarnya termasuk orang dewasa juga adalah membedakan antara cinta dan hawa nafsu. Ya… menyukai seseorang seringkali diawali dengan tampilan fisik yang menawan, cantik dan tampan selalu menjadi awal rasa suka itu. Selanjutnya mungkin ditambah dengan perilaku yang sopan dan baik, ramah, suka menolong dan peduli dengan orang lain. Tapi intinya tetap pada sesuatu yang terlihat oleh pandangan, terdengar oleh telinga dan pada tingkatan yang lebih tinggi seharusnya sampai di rasa di hati. Rasa cinta yang muncul memang seringkali dihiasi dengan hawa nafsu, apakah hal ini salah? Tentu saja tidak serratus persen salah, karena itu adalah fitrah manusia yaitu mencintai orang lain yang menurutnya sesuai dengan perasaannya. Kesalahannya adalah ketika hawa nafsu itu lebih mendominasi sehingga cinta yang selalu indah menjadi rusak karena hawa nafsu yang menguasai.

Membahas tentang cinta sejatinya Islam telah mengajarkannya, bagaimana cinta yang merupakan anugerah dari Allah Ta’ala haruslah dijaga dan dipelihara agar selalu sesuai dengan syariahNya. Cinta kepada Allah Ta’ala menjadi dasar dan pondasi bagi cinta kepada seluruh makhlukNya, sehingga cinta akan selalu indah. Tidak mengapa ketika cinta diawali dengan rasa suka dengan fisik, penampilan dan perilakunya, tetapi kemudian dikuatkan dan didasari lagi dengan cinta karena Allah Ta’ala dan rasulNya. Sebagai contoh, seseorang yang mencintai orang lain kemudian keduanya menikah maka kecintaan keduanya akan semakin abadi dengan dasar cinta karena Allah Ta’ala. Jika ada istilah “Cinta Tak Harus Memiliki” juga berlaku pada cinta sejati, karena kecintaan kepada Allah Ta’ala yang terimplementasi dalam cinta kepada orang lain akan menjadikannya tetap mencintai seseorang tanpa harus memiliki dalam sebuah ikatan.

Cinta Selalu Indah jika cinta itu didasari oleh cinta karena Allah Ta’ala, cinta yang tidak indah adalah ketika cinta itu didominasi oleh hawa nafsu, semisal hanya ingin menikmati fisiknya. Cinta seperti ini bahkan akan segera tiada seiring dengan berlakunya masa. Cinta karena hawa nafsu atas kecantikan atau kegagahan seseorang akan hilang ketika orang yang dicintai semakin tua atau memiliki sifat yang tidak kita sukai. Bahkan cinta yang hanya didasari hawa nafsu akan menyiksa pemiliknya ketika tidak disambut oleh orang yang dicintainya, “Bertepuk Sebelah Tangan” adalah cinta yang tidak diterima oleh orang yang dicintainya.

Cinta yang tidak diterima oleh orang yang dicintai pecintanya adalah cinta yang menurutnya tidak selamanya indah. Padahal cinta itu masih bisa tetap ada tanpa harus mendapatkan sambutan, karena cinta karena Allah Ta’ala tetap akan ada yaitu cinta pada seseorang karena orang tersebut melaksanakan seluruh syariah Allah Ta’ala dan mengikuti sunnah nabiNya. Menyadari bahwa cinta yang tidak diterima lebih kepada cinta karena hawa manusia akan menjadikan jiwa lapang dada untuk menerimanya. Karena cinta haruslah saling memberi dan menerima antara dua pihak yang saling mencinta, dan agar cinta itu abadi maka cinta karena Allah Ta’ala adalah pengikatnya.

Akhirnya, Cinta Selalu Indah ketika rasa cinta itu didasari kecintaan kepada Allah Ta’ala. Walaupun tidak harus memiliki tetapi rasa cinta itu akan selalu ada, cinta pada seseorang karena orang tersebut melaksanakan syariah Allah dan RasulNya. Semoga kita selalu mendapatkan cintaNya, Cinta yang Selamanya Indah, hingga di akhir masa… Pagi Penuh Cinta di Bogor, 02012023.

Jumat, 02 Desember 2022

Warna Dunia: Sepasang Manusia dalam Ikatan Hawa

Oleh: Misno Mohd Djahri

 


Dunia memang penuh dengan warna, bukan warna merah, putih dan yang lainnya, tetapi manusia dengan segala perilakunya. Hawa yang ada pada manusia telah membawa mereka kepada kembara rasa yang bahkan tidak terpikirkan oleh manusia-manusia sebelumnya. Mereka yang yang mengkuti hawa-nya hingga melakukan hal-hal yang tidak dilakukan oleh tumbuhan, hewan dan makhluk semesta. Tindakan yang membuat regenerasi manusia tidak akan terjadi selama ianya masih ada, bahkan hingga hari kiamat tiba.

Fenomena ini saya saksikan dengan mata kepala, ketika sepasang manusia hidup bersama, tanpa ikatan sempurna bahkan cenderung melanggar syariat Allah Ta’ala. Tulisan ini sekadar memberi sebuah gambaran nyata, bahwa beginilah warna dunia kita sekarang adanya. Dunia yang dipenuhi dengan banyak angkara murka hingga adzab Allah Ta’ala mengintai seluruh umat manusia. sekali lagi tulisan ini sekadar memberi sebuah gambaran, bagaimana manusia terbawa dengan hawanya, hingga menghalalkan segala cara bahkan melanggar syariatNya.

Sepasang anak manusia yang mengikat rasa dalam bingkai hawa, mungkin salah satunya karena kebutuhan harta hingga berada di bawah atap yang sama serta dalam satu ranjang berdua tanpa ikatan syariahNya. Suka sama suka, saling memiliki rasa dan merasa nyaman dengan pasangannya. Itulah alasan kenapa mereka berdua bisa bersama, walaupun semesta tidak mendukungnya. Latar belakang budaya yang berbeda, tingkat pendidikan tidak sama, hingga pemahaman keagamaan berlainan tidak lagi berpengaruh kepada keduanya. Mereka terbuai dalam rasa dunia, mengikuti hawa dan tenggelam dalam kenikmatan raga.

Sepasang manusia yang saya jumpa di selatan Jakarta bukanlah satu-satunya, ribuan bahkan jutaan manusia seperti keduanya. Mereka mengikat rasa dalam balutan hawa, kenikamatan raga serta tidak mengindahkan syariah Pemilik Semesta. Kebebasan orientasi rasa menjadi slogan perjuangan mereka, insting bercampur hawa menjadi pedoman utama, sementara sebagiannya hanya untuk mendapatkan harta sebagai penyambung hidup mereka. Jumlah mereka terus bertambah, karena perilaku ini terus merambah bukan hanya orang dewasa, tetapi generasi muda yang tidak mendapatkan Pendidikan agama.

Beginilah satu dari warna dunia sekarang ini adanya, sejatinya mereka ada dan terus bertambah jumlahnya. Ada yang terang-terangan memperjuangkan hak-haknya ada juga yang menyembunyikan hasratnya namun tetap terbelenggu hawa-nya. Sebagian hanya dalam ikatan rasa dalam rumah yang berbeda, tapi yang ada di depan mata dan berbagai cerita mereka dalam satu rumah bersama. Seperti pasangan dalam ikatan syariahNya, padahal ikatan rasa yang jelas tidak diridhaiNya.

Melihat ini adanya, maka sebagai manusia yang percaya akan keberadaan Allah Ta’ala dan yakin dengan syariahNya, maka amar ma’ruf nahi mungkar adalah solusi yang utama. tentu saja sesuai dengan kemampuan dan mempertimbangkan kemashlahatan yang ada. Tidak membabi buta yang mengakibatkan kemudharatan menimpa atau akan semakin banyak fenomena yang ada. Mengajak dengan penuh kebajikan dan melarang dengan penuh kebijakan adalah cara utama untuk memberikan kesadaran kepada mereka.

Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah kepada kita semua dan juga mereka yang masih terbelenggu dalam hawa dunia. Aammin Ya Rabal ‘aalamiin 02122022.  

Senin, 29 Agustus 2022

Lelaki Setengah Baya di Dunia Maya: Membaca Fenomena yang Ada

Oleh: Misno Mohd Djahri

 


Perkembangan dari media sosial memang sangat luar biasa, pengaruhnya sangat terasa dalam seluruh sendi kehidupan manusia. Tidak hanya pada usia remaja bahkan sangat terasa dalam seluruh level usia, dari anak bawah lima tahun (balita) hingga manusia tua renta. Bagaimana pengaruh media sosial terhadap lelaki setengah baya?

Setengah baya merupakan istilah untuk manusia yang telah memasuki usia 50 tahun, Kamus Besar Bahasa Indonesia mencatat bahwa makna “baya” bermakna umur, usia dan tua, sebagaimana perkataan “Usianya sudah setengah baya” atau “Ayahku sudah setengah baya”. Sehingga setengah baya bermakna setengah umur, yaitu usia antara 45-50 tahun. KBBI menggunakan istilah “paruh baya” untuk istilah “separuh baya”, sehingga ini adalah istiilah baku dalam Bahasa Indonesia.

Maka lelaki setengah baya bisa dipahami lelaki yang telah berusia antara 40-50 tahun, sementara dalam website https://sepakat.bappenas.go.id/ menjelaskan terkait dengan kelompok usia, bahwa paruh baya atau setengah baya adalah usia antara 35-44 tahun, sedangkan usia 45-54 tahun adalah usia pra pensiun. Istilah paruh baya dalam Bahasa Inggris dikenal dengan istilah midlife yaitu usia pertengahan, merujuk pada www.psycnet.apa.org ketika menjelaskan tentang krisis usia paruh baya menyebutkan rentang usia paruh baya adalah antara 45-65 tahun.

Bagaimana fenomena usia paruh baya di media sosial? Jawabannya dapat dilihat dengan kasat mata, di mana mereka mengekspresikan jiwa parih baya mereka sesuai dengan latar belakang agama, Pendidikan, politik, ekonomi, lingkungan dan semua terkait dengan pribadi mereka masing-masing. Ada yang memperlihatkan keshalehan dengan posting berbagai pesan agama dan nasehat-nasehat yang membawa kepada kebaikan dunia dan akhirat. Ada juga yang memperlihatkan prestasi, pencapaian, pekerjaan, makanan, kekayaan, keluarga dan semua hal yang terkait dengan kesuksesannya. Ada juga yang menjadikan media sosial sebagai ekspresi diri sesuai dengan apa yang dia rasa, bebas posting tanpa memperhatikan perkataan orang lain hingga kadang membawa pada hal negatif yang terkadang dilakukan karena kebutuhan dunia.

Berdasarkan banyaknya fenomena lelaki paruh baya di dunia maya, kita menemukan mereka yang menjadikan media sosial sebagai ajang untuk ekspresi diri yang selama ini terpendam, terkubur dan tertahan oleh adab dan etika di masyarakat. Mereka memposting photo-photo mereka dengan berbagai pose (selfi), juga hal-hal yang menunjukan kepribadian mereka. Sebagian mereka membuat komunitas yang memiliki kesamaan dalam minat, kesukaan dan berbagai terkait dengan kehidupan mereka. Media sosial bagi usia paruh baya memang sangat luar biasa, kehadirannya menjadi media baru yang mampu untuk mengekspresikan setiap apa yang ada di diri manusia, bahkan hingga hal-hal yang selama ini tabu atau tidak layak dipertontonkan di tengah masyarakat, di dunia maya semuanya ada dan seolah-olah tidak ada batasannya.

Berbagi media sosial berkembang, dari yang terbuka untuk semua golongan hingga tertutup karena kekhususan dalam minat tertentu. Manusia paruh baya terlihat di setiap media sosial yang ada, mereka hadir sebagai bukti bahwa mereka eksis dan “bebas” melakukan apa saja. Namun pada beberapa orang kebebasan ini justru digunakan untuk memposting Hasrat dan minat yang selama ini terpendam dan terkungkung oleh agama dan budaya di masyarakat.

Hal dapat kita saksikan bahwa beberapa lelaki paruh baya menggunakan media sosial untuk menyalurkan hasrat itu, dalam batasan agama dan budaya bangsa tentu tidak menjadi masalah namun ternyata fenomena yang ada sering kali melanggarnya. Hampir di semua media, dari mulai Facebook, twitter, Instagram, youtube, aplikasi gambar dan video banyak kita dapati para lelaki paruh baya yang hadir dan mengekspresikan diri mereka. Twitter misalnya, sebagai media sosial yang lebih bebas maka akan kita dapati banyak sekali photo dan video lelaki paruh baya yang tidak sesuai dengan norma agama. Tentu saja pada usia lainnya juga tidak sedikit di sana, termasuk di media lainnya seprti FB dan yang lainnya.

Fenomena ini mestinya menjadi perhatian kita, bisa jadi mereka menghadapi krisis paruh baya yang menjadikan mereka “bebas” untuk melakukan apa saja karena tersedianya dana, waktu dan kesempatan. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang terang-terangan menjual diri atau menjual jasa orang lain untuk memenuhi Hasrat sesama mereka. Sebuah fenomena yang sejatinya sejak dulu ada tapi dengan adanya media sosial semakin nyata fenomenanya dan dengan mudah diakses oleh siapa saja. Ini bukan isapan jempol belaka, tapi fakta dan realita yang memang ada di media sosial kita. Bagaimana beberapa lelaki paruh baya menggunakan media sosial untuk memuaskan hasratnya, kepentingan dunia dan mendapatkan keuntungan sementara.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan hidayah serta inayahNya sehingga kita akan mampu untuk menjalani masa paruh baya ini selalu dalam bingkai syariahNya. Jika kita sekali-kali terpeleset maka segera bangkit dan memperbaiki diri sesuai dengan kemammpuan kita. Wallahu a’lam. 29082022.  

 

 

 

 

 

Senin, 27 Juni 2022

Gusti Allah Mboten Sare (Allah Subhaanahu Wa Ta’ala Tidak Tidur)

Oleh: Misno

 


Manusia di dunia telah diciptakan oleh Allah Ta’ala dengan berbagai suku bangsa (QS. Al-Hujuraat: 13), Dia menciptakan manusia dengan berbagai warna kulit, dari yang hitam legam hingga yang putih bercahaya. Demikian pula Allah Ta’ala menciptakan manusia dengan berbagai perilaku dan wataknya, ada yang mulai lebih malaikat hingga ada yang durjana melebihi Iblis dan bala tentaranya. Berbagai perilaku manusia akan nampak dalam muamalah keseharian mereka, kita akan mendapatkan banyak manusia yang baiknya luar biasa, namun tidak jarang yang jahatnya di luar batas rasa manusia. Semua itu adalah cobaan dan bala bagi manusia, apakah mereka akan selalu mengingat Allah Ta’ala dan hidup di bawah syariahNya, atau durjana dan mendurhakaiNya hingga akan bersama Iblis di neraka.

Inilah fenomena yang ada di sekitar kita, berapa banyak manusia durhaka yang selalu berbuat nista, tidak hanya kepada Rabbnya, namun juga kepada manusia. Mereka mendzalimi manusia lainnya tanpa merasa atau karena hawa nafsunya yang membawa kepada perbuatan yang selalu merugikan orang lain di sekitarnya. Ada banyak penyebabnya, namun secara khusus adalah kotornya hati karena dipenuhi oleh sifat dengki kepada manusia di sekitarnya. Dari hari ke hari mereka mendzalimi orang lain, menindas, menghina, mengeksploitasi, memfitnah dan berbagai ucapan dan tindakan yang menyusahkan manusia lainnya. Seringnya ia melakukan perbuatan tersebut hingga tidak menyadari bahwa apa yang dilakukannya adalah dosa, yang sejatinya bukan hanya kepada manusia lainnya namun kepada pemilik semesta raya yaitu Allah Ta’ala.

Ya… ketika seseorang mendzalimi orang lain sejatinya ia tengah bermaksiat kepada Allah taa’ala. Ketika hatinya dipenuhi dengan kedengkian kepada manusia lainnya maka sejatinya ia telah durhaka kepada Sang Pencipta. Apalagi jika orang yang didzaliminya tidak melakukan kesalahan apa-apa. Ini terancam dalam firmanNya:

وَٱلَّذِينَ يُؤْذُونَ ٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ بِغَيْرِ مَا ٱكْتَسَبُوا۟ فَقَدِ ٱحْتَمَلُوا۟ بُهْتَٰنًۭا وَإِثْمًۭا مُّبِينًۭا

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. QS. Al-Ahzab: 58.

Merujuk pada ayat ini, maka merupakan dosa besar apabila seseorang menyakiti dan mendzalimi orang lain tanpa ada sebab yang dilakukan oleh orang yang didzalimi. Sehingga Allah Ta’ala serta rasulNya yang mulai selalu mewanti-wanti jangan sampai manusia menyakiti manusia lainnya.

Bagi mereka yang merasa disakiti, didzalimi, diperlakukan tidak sebagaimana mestinya maka mencegah kedzaliman tersebut adalah hal yang utama. Memberikan nasehat agar orang tersebut berhenti melakukan kedzaliman dan menyakiti orang lain, agar orang tersebut terhindar dari adzab Allah yang sangat pedih.

Namun, jika berbagai upaya telah dilakukan dan kedzaliman itu masih tetap ada maka ingatlah “Gusti Allah Mboten Sare”, Allah Ta’ala tidak pernah tidur dan lalai dari berbagai kedzaliman yang dilakukan oleh manusia kepada manusia lainnya. Ada dua kemungkinan, pertama orang yang berbuat dzalim tersebut akan segera diadzab di dunia dengan adzab yang dahsyat, atau ia akan diadzab di akhirat dengan adzab yang lebih dahsyat lagi. Seseorang yang mendzalimi orang lain di akhirat akan menjadi orang-orang yang muflis (bangkrut) karena amal baiknya diambil oleh orang-orang yang didzalimi. Tidak hanya itu, dosa-dosa yang dilakukan oleh orang yang didzalimi akan diberikan kepadanya dan dia harus menanggung siksaannya. Apalagi jika orang tersebut terus mendzalimi, menyakiti, memfitnah dan hatinya penuh dengan rasa dengki kepada manusia lainnya. Maka adzabnya akan diberikan dua kali lipat, di dunia dan juga di akhirat.

Jika demikian adanya, maka sudah selayaknya kita sebagai manusia untuk berhati-hati jangan sampai mendzalimi manusia, jangan sampai ada dalam diri kita rasa dengki dengan manusia lainnya hingga membuat kedzaliman kepada manusia lainnya.

Sedangkan bagi mereka yang didzalimi namun tidak bisa lagi dicegah dengan tangan dan kekuasaan maka serahkan semuanya pada Allah Ta’ala, Dia akan memberikan balasan di dunia dan juga di akhirat sana. Kedzaliman yang kita terima akan menjadi tabungan kita di akhirat sana karena sejatinya Allah Ta’ala memang tidak akan pernah alpha, selalu mencatat amal semua hambaNya dan akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat sana. Bogor, 27062022.

Rabu, 06 April 2022

Bucin (Buta Cinta) Tingkat Dewa Lelaki Paruh Baya

Oleh: Misno



Cinta memang sulit untuk dicerna, bukan hanya untuk kalangan muda usia tapi juga pada kalangan paruh baya. Rasa suka dengan sesama sering sekali diklaim sebagai cinta, ditambah lagi dengan pesona raga dan taburan bumbu hawa. Maka jadilah buat cinta (bucin) yang juga mendera lelaki paruh baya, mungkin orang menyebutnya dengan puber kedua atau kelima.

Inilah kisah seorang lelaki paruh baya yang sedang dimabuk rasa, untuk tidak menyebutnya dengan cinta. Karena sejujurnya mungkin memang bukan cinta, tapi rasa suka dengan sesama yang membuatnya merasa menemukan kembali rasa yang dulu pernah ada. Pesona raga yang membuatnya terlena ditambah dengan tanggapan yang sama (menurutnya) membuat keduanya lena dalam rasa berbalut hawa.

Lelaki ini begitu menyukainya, hingga merasa inilah cinta sejatinya, rasa yang ada di dada betul-betul membuatnya selalu ingin dekat dengannya. Berkomunikasi dengan media whattapps, telephon, video call hingga perjumpaan fisik yang berlanjut dengan sentuhan rasa di raga hingga ke sukma. Sulit diungkapkan dengan kata-kata, ketika dua insan ini terbawa dan hanyut dalam sungai hawa.

Apa hendak dikata, rasa itu telah membawa lelaki paruh baya dalam dunia penuh warna, walaun harus juga dikata bahwa ini adalah sebuah bencana. Karena apa yang dia rasa adalah sikap alpha terhadap syariatNya. Akan lebih bersahaja ketika lelaki ini menikah (kembali) untuk menyalurkan rasa cintanya, ah… tapi apa kata dunia ketika lelaki separuh baya harus menikah pula? Tentu saja tidak perlu didengarkan kata dunia, karena melaksanakan yang halal itulah yang lebih utama.

Hingga tulisan ini dibuat lelaki ini masih terbawa dalam rasa “cinta” itu, usianya sudah menjelang empat lima kurang dua, tapi hawa dalam dirinya betul-betul berada di puncaknya. Rasa itu begitu membelenggu sukma, hingga setiap masa; pagi, siang, sore dan malam bayangan pujaannya selalu ada di pelupuk mata. Bahkan beberapa kali hadir dalam mimpi yang memang sangat diharapkannya.

Lelaki paruh baya ini sejatinya sadar, bahwa ini bukan rasa biasa tapi sebuah rasa di masa lalu yang terus terbawa hingga paruh baya. Rasa yang sulit diungkapkan dengan kata-kata karena melibatkan raga dan sukma. Raga yang menemukan kehangatan dan rasa tiada tara, serta sukma yang menurutnya mendapatkan kenyamanan bersama orang yang disukainya. Setiap masa yang berlaku dalam hidupnya selalu mengingat orang yang dipuja, hingga buta cinta (bucin) yang biasa ada pada anak muda menghiasi hari-harinya. Entah sampai bila?

Mungkin rasa itu akan tetap ada, hingga di hujung nyawa, atau perlahan akan sirna bersamaan dengan bertambahnya usia. Jika memang demikian adanya, maka itu bukanlah cinta adanya, tapi hawa yang selalunya memuja pesona raga. Karena cinta haruslah didasarkan atas cinta karena Allah Ta’ala, bukan karena indahnya raga, atau rasa yang membuat manusia lupa. Mungkinkan lelaki separuh baya ini akan kuasa me-manaje rasanya? Atau hancur binasa bersama raga yang mulai tak berdaya.

Kita doakan bersama, semoga lelaki ini dapat menguasai rasanya, hingga dapat kembali ke jalan fitrahnya, atau mungkin akan mengarahkan rasa menjadi persahabatan dan persaudaraan yang diridhainya? Berat memang perjuangannya tapi Inshaallah akan diridhainya apabila ia bersunguh-sungguh dalam menahan rasa dengan menyalurkannya di jalan yang selaras dengan syariahNya. Semoga cinta lelaki paruh baya ini akan berakhir dengan bahagia, selalu dalam lindungan Allah Ta’ala hingga menyampaikannya ke dalam surgaNya… Semoga… pagi di Bogor, 06 April 2022. Ramadhan Mubaarok…

 

 

Kamis, 03 Maret 2022

BERDAMAI DENGAN MASA LALU

Oleh: Dr. Misno, MEI

 


Pada hakikatnya manusia memiliki tiga fase kehidupan, yaitu masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang. Masa lalu adalah masa yang telah terjadi di masa lalu, ia bukan berarti sudah benar-benar berlalu, namun akan selalu membayangi masa sekarang dan masa yang akan datang.

Inilah yang terjadi pada beberapa orang, di mana masa lalu sering sekali berpengaruh terhadap kehidupannya sekarang. Jika pengaruh itu positif (baik) maka akan memberikan dampak yang baik juga, misalnya seseorang yang bersungguh-sungguh dan berjuang sekuat tenaga dengan belajar dan bekerja di masa lalu maka ia akan dapat menikmati hasilnya di masa sekarang.

Sebaliknya jika masa lalu itu negatif, penuh dengan hal-hal yang tidak baik, dosa atau maksiat maka efek negatifnya akan terjadi pula di masa sekarang ini. Misalnya seseorang yang di masa lalu mendzalimi orang lain atau melakukan perbuatan yang merugikan pihak lain maka di masa sekarang atau di masa depan ia akan mendapatkan balasan dari perbuatan dzalimnya tersebut. Selain itu ketidaknyamanan dalam kehidupan juga akan terus membayangi hari-harinya di masa yang sekarang ini.

Bagaimana jika masa lalu yang kelam dan gelap ternyata bukan dilakukan dengan sengaja atau bukan karena kehendaknya? Misalnya seseorang yang mengalami trauma di masa lalu kemudian terus berlanjut di masa sekarang ini. Bisa juga seseorang yang mengalami bullyng atau kekerasan di masa lalu akan terus merasakannya di masa sekarang ini. Ada juga yang karena anugerah yang Allah ta’ala berikan di masa lalu, ternyata menjadi musibah di masa sekarang ini sebagaimana cerita seorang kawan yang ternyata anugerah fisik yang dia miliki di masa lalu justru menjadi fitnah di masa sekarang ini.

Berdamai dengan masa lalu adalah bagaimana kita dengan ikhlas menerima berbagai kejadian di masa lalu dengan keyakinan secara total kepada takdir (kehendak) Allah Ta’ala. Karena semua yang terjadi di dunia ini, baik di masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang sudah atas kehendakNya. Keyakinan secara mendalam bahwa semua yang terjadi pada kita baik itu sebuah kebaikan atau keburukan di masa lalu adalah sudah menjadi kehendakNya. Selanjutnya berdamai dengan masa lalu juga bermakna bahwa segala yang menjadi efek (akibat) dari masa lalu yang di masa sekarang ini masih berpengaruh dalam kehidupan hendaknya dijadikan kaca benggala (cermin diri) agar kita selalu menyadari bahwa Ilahi dengan keadilannya akan selalu memberikan hal yang terbaik itu setiap insani. Masa lalu yang terus membayangi juga menjadi semacam “lampu merah” atau rem yang dapat mengatur dan menahan diri ketika sesuatu terjadi. Misalnya kita ingat akan kedzaliman yang sudah kita lakukan kepada orang lain, maka ketika di masa sekarang kita didzalimi orang lain maka jadikan itu sebagai kafarat (penebus) kedzaliman kita di masa lalu. Demikian pula ketika kita difitnah oleh orang lain, maka jadikan ia sebagai penebus atas dosa dan kesalahan kita di masa lalu. Terakhir bahwa kegelapan di masa lalu menjadi energi bagi kita untuk dapat meraih terang-benderang di masa sekarang dan yang akan datang. Sebagai energi, maka hikmah dan pelajaran yang ada di masa lalu menjadi bekalan untuk dapat menghadapi masa sekarang dan yang akan datang. Kita tidak akan terjerumus ke dalam lubang lebih dari dua kali, demikian pula kita tidak akan terbawa pada lembah nestapa untuk yang ke sekian kalinya. Kalaupun sekali-kali tergelincir kita pun harus ingat bahwa kita adalah manusia.

Nasehat seperti ini memang mudah untuk dituliskan atau diucapkan, namun sangat berat untuk dilaksanakan dalam menjalani kehidupan. Maka kita jawab, “Betul sekali”, bahwa menulis atau berbicara itu lebih mudah daripada melakukannya, namun kita juga harus ingat ada Rabb di atas sana yang dapat berkehendak sesuai dengan kuasaNya. Sehingga berdamai dengan masa lalu akan mudah bagi yang dimudahkan oleh Allah Ta’ala. Tentu dengan doa dan terus berikhtiar dalam melakukaknnya. Selanjutnya jika masih sulit untuk berdamai dengan masa lalu maka hendaknya terus berjuang mujahadah (bersungguh-sungguh) secara terus menerus. Walaupun sering terjatuh, tersungkur dan terjerembab maka bangkitlah kembali, karena kita ini adalah insani, tempat salah dan lupa. Kembali menguatkan diri untuk berdiri, melangkah dan berlari dari masa lalu yang membawa kepada efek negative bagi diri. Terus berjuang, karena yang dinilai bukan akhir perjuangan, tapi bagaimana kesungguhan dan proses perjuangan itu.

Mari berdamai dengan masa lalu, karena ia adalah bagian tidak terpisahkan dari kehidupan yang kadang haru-biru. Tata qalbu (hati), perbaiki ikhtiarmu dan fokus pada tujuan akhir waktu. Semoga masa lalu menjadi ibrah untuk menghadi masa kini dan nanti ketika menghadap Rabbul Izzati. Wallahua’lam, 03032022.   

Minggu, 09 Januari 2022

Keajaiban pada Last Minute...

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri


Kehidupan memang penuh dengan keajaiban, baik itu yang tidak Kita inginkan atau yang sangat kita inginkan. Demikianlah Ar Rahman mengajarkan kita tentang makna kesabaran.

Ahad, 09 Januari 2022 adalah Hari yang juga membuktikan keajaiban itu, sederhana memang tapi menjadikan semakin kuatnya keyakinan, bahwa ada Ar Rahman Sang Pemilik keteraturan alam.

Agenda saya Hari ini adalah berangkat ke Pandeglang untuk mengisi acara besok di salah satu Pesantren di sekitar Batu Bantar Pandeglang. Lokasinya lebih kurang 1-2 KM sebelum wisata Batu Qur'an.

Keajaiban itu dimulai sejak mulai mempersiapkan diri untuk berangkat, pilihan transportasi online, membawa kendaraan sendiri hingga menelepon teman untuk mengantar ke terminal Baranang siang Bogor. Lebih dari 3 kali berusaha untuk memesan transportasi online baik bike ataupun car, hasilnya baru sekitar Jam 11.00 an mendapatkannya. Hingga mengantar saya ke terminal di Jalan Pajajaran Raya, Bogor.

Setelah sampai terminal, maka yang terfikirkan adalah mencari Bis jurusan Serang. Setelah berjalan cukup lumayan dari pintu keluar bis hingga ke dalam, melewati terminal yang becek di beberapa bagian, akhirnya sampai di tempat Bis trayek Bogor-Merak yang lewat Serang. Namun ternyata baru sekitar 15 menit bisa berangkat, saya hanya mendapatkan bis berikutnya yang masih kosong. Kata orang yang ada di situ akan berangkat Jam 12.30 WIB. Setelah berfikir sejenak, kemudian saya memutuskan untuk kembali berjalan berbalil arah menuju Bis lain jurusan Kampung Rambutan. Jalan balik ini lumayan juga membuat kaki pegal, maklum sudah lama sekali tidak berjalan kaki.

Barusan bis yang nampak tidak seramai dahulu membawa ingatan tentang Terminal Baranang siang yang dulu, tidak banyak yang berubah, warung-warung pinggir terminal yang nampak kumuh, ditambah dengan pedagang asongan yang berpeluh memberi warna terminal yang masih nampak lusuh.

Setelah berjalan beberapa menit, sampailah saya di depan terminal di mana Bis akan segera meluncur ke luar Kota Bogor. Satu bis yang cukup bagus 'Lorena" jurusan Bogor-Kampung Rambutan sudah standby di barisan paling depan. Melirik sekilas tulisan yang ada di depan bis, kemudian menaikinya dengan tenang. Bangku di barisan kedua bagian kanan menjadi pilihan, pandangan yang luas serta harapan agar dua bangku untuk seorang (egois dikit...).

Kesabaranku kembali diujicobakan, sudah lebih dari 30 menit ternyata bis belum juga berjalan. Kembali terfikirkan, "Kenapa tidak kembali ke bis Arimbi tadi?, Bukankah katanya juga akan berangkat 12.30" pikirku dalam hati. Namun Rasa kemanusiaan yang adil dan beradab (baca: gak enak sama bis yang sudah dinaiki lebih dari 30 menit, walau tidak berjalan tapi sudah memberi Rasa nyaman dengan pendingin ruangan yang cukup nyaman). Kesabaran itu masih dipertahankan, walau suara Pengamen sumbang sudah dua kali bergantian, suaranya cukup bagus. Tapi lebih bagus lagi kalau gak usah nyanyi, lagian hukumnya haram lagi. Ya... Kalau para pedagang dipersilahkan, mereka mencari makan dengan berdagang yang lebih halal. Walaupun saya tidak membeli, tapi saya doakan semoga rizki mengalir tiada henti dari Ilahi.

Akhirnya, sopir bis menduduki singgasananya, sedikit tenang walaupun dalam hati selalu muncul buruk sangkaan. "Biasanya sopir cuma bikin senang penumpang, yang sekian lama menunggu bis diberangkatkan tanpa adanya kepastian". Berdasarkan pengalaman yang tidak bisa dilupakan ketika naik angkutan penumpang, walaupun sopir sudah di tempat dudukan, tapi biasanya cuma memberi sedikit easa nyaman. Ujung-ujungnya 15 menit berlalu tanpa kepastian. Ini bukan curhatan, tapi mohon lah para sopir dan knek memberi jawaban yang sesuai dengan kenyataan, berangkat jam 12.30 ya on time. Itu jeritan para penumpang, yang kalau dipikir ulang memang harus lebih berkeadilan, karena sopir juga Cari penumpang, agar setoran sesuai yang ditargetkan.

Bis perlahan bergerak... Walaupun Masih ada pikiran untuk Naik Arimbi, dan ini sudah beberapa kali terjadi. Menengok ke sebelah kiri, berharap Sang Arimbi ada di belakang bis ini.

Perlahan bis bergerak, lebih kurang 10 senti, dan tiba-tiba Bis Arimbi Bogor-Merak datang menghampiri. Ia datang di saat hati ini gamang, memilih ke Kampung Rambutan atau langsung ke Serang, ia datang memberi harapan, tentang penghematan dan keefektifan yang selalu mengganggu pikiran. Tanpa berfikir panjang, hanya hitungan detik akhirnya saya memutuskan, turun dari Bis ini menuju Sang Arimbi yang dari tadi mengganggu hati (karena telah menjadi harapan sejak awal tadi).  Hanya hitungan detik, kaki ini dengan sigap, melangkah pasti meninggalkan bisa yang telah lebih dari 30 menit dinaiki.

Ya... Bis Arimbi datang di menit terakhir ketika seolah-olah sudah tidak ada lagi harapan, pasrah untuk naik bis ke Kampung Rambutan dan nanti disambung bis ke Serang. Ia datang di waktu yang telah ditentukan Ar Rahman, ketika harapan itu hanya dipasrahkan hanya kepadaNya.

Inilah kehidupan, pertolonganNya terkadang hadir di ujung harapan, ketika diri sudah memasrahkan semuanya kepada Ar Rahman. Itu lah apa yang nampak dan dipikirkan oleh manusia, padahal sejatinya di sisiNya semua adalah yang terbaik untuk semua hambaNya. Harapan itu akan selalu ada, pertolongan Allah akan selalu ada, dan waktunya bukan pada apa yang dipikirkan oleh manusia, tapi semua adalah kuasaNya. Karena Dia Maha Segalanya...

Jangan pernah berputus asa, karena janji Allah itu pasti adanya, dan harapan itu akan selalu ada. Jika harapan datang menjelang, makan jangan disia-siakan, karena di sanalah keputusan harus dilaksanakan.

 

NB: Mohon maaf kepada sopir dan bis Lorena Trayek Bogor-Kampung Rambutan, Jazakallahu Khairan, terimakasih atas tumpangan dan AC-nya semoga Allah membalasnya dengan rizki yang melimpah. Maafkan calon penumpang mu yang kurang tahu malu, sehingga turun tanpa seizinmu, langsung naik bis di sebelahmu. Semoga jeuleus-mu tak ada untukku ... karena rizki itu mungkin bukan milikmu....

Semoga perjalanan ini mendapat ridha-Mu, Bismilllah majreeha wa mursaaha...

Bogor-Serang, 09 Januari 2022 di atas bis yang terus bergoyang...


Senin, 20 Desember 2021

SAMPAI KAPAN BERGELIMANG KEMAKSIATAN?

Oleh: Abdurrahman

 


Manusia memang tempat salah dan kealpaan, dosa dan kemaksiatan selalu ada dalam kehidupan insan. Namun, hal itu bukan menjadikan alasan untuk terus bergelimang dalam dosa dan kemaksiatan. Berbagai alasan mungkin akan dilontarkan, sebagai jawaban atas dosa dan kemaksiatan yang tengah berjalan. Sampai kapan bergelimang kemaksiatan?

Pesona dosa memang selalu menggugah jiwa, kenikmatan kemaksiatan memang menjadikan raga terpuaskan. Imaginasi di luar nalar seringkali liar menjerat jiwa dan raga lapar, hingga sejatinya sesuatu yang menjijikan menjadi indah dalam khayalan. Itulah dosa dan kemaksiatan, yang bersumber dari hawa dalam diri manusia, serta godaan dari syaithan dan bala tentaranya.

Seseorang yang yang tenggelam dalam dosa dan maksiat, akan merasa nikmat hingga terlupa dengan akhirat. Manusia yang terlena dengan dosa akan merasa selesa (nyaman) dengan apa yang dilakukan. Banyak godaan yang menyebabkan ia masih tenggelam dalam kemaksiatan, dari mulai perputaran zaman hingga takdir yang tengah berjalan. Ada juga yang jahil (bodoh) dan menganggap apa yang dilakukan bukanlah kesalahan, sementara yang lainnya memahami bahwa itu adalah kesalahan, namun belum bisa meninggalkan. Entah sampai kapan…

Bisikan hawa memang begitu terasa, memberi “angin surga” tentang pesona dosa. Berbagai khayalan dihembuskan; dari mulai menganggap ringan kesalahan hingga menunda pertaubatan. Ada juga yang telah tenggelam di dalam kemaksiatan, hingga sulit untuk melepaskan bahkan akhirnya menikmati dosa dan kemaksiatan. Na’udzubillah, kita berlindung dari sifat yang demikian. Tapi ini memang fakta adanya, dan banyak terjadi di kalangan manusia. Mereka yang tengah tenggelam dalam dosa, sulit untuk melepaskannya, berjuta alasan selalu diungkapkan padahal sejatinya itu adalah sumber kelemahan.

Sebab selanjutnya adalah godaan syaithan yang begitu memabukkan, memberi harapan tentang kenikmatan kemaksiatan. Menghiasi kemaksiatan di setiap sendi badan, hingga kepuasan keduniaan boleh didapatkan. Iblis, syaithan dan bala tentaranya akan selalu menggoda manusia dengan memberikan rasa kenikmatan dalam melakukan dosa dan kemaksiatan. Godaan ini tidak ada Batasan hingga bersama masuk ke dalam kutukan, neraka yang penuh adzab keabadian. Syaithan menggoda manusia dengan memberikan kenikmatan keduniaan, menjerat sukma dan memperdaya raga, hingga kebanyakan manusia akhirnya terlupa, akan larangan syariat Allah Yang Maha Mulia.

Sampai kapan bergelimang kemaksiatan? Apakah menunggu tua hingga jasadmu renta, atau menunggu malaikat pencabut nyawa yang menarik ruh mu dengan penuh murka? Sampai bila terlena dengan dosa? Menunggu hidayah yang seharusnya engkau berusaha? atau menunggu adzab karena selalu lalai dan melupakan laranganNya?

Bagi mereka yang terbawa dengan hawa yang ada di jiwa, maka teruslah mendidiknya agar selalu patuh pada syariatNya. Teruslah berusaha untuk mengajarkan kepada raga, tentang kenikmatan yang sejatinya yaitu masuk surga dan memandang wajah Rabbnya. Teruslah ber-mujahadah (bersungguh-sungguh) fi sabilillah (di jalan Allah) untuk meninggalkan dosa, karena nilai mujahadah-mu akan menjadi dinding dari adzab Rabbmu. Terus tahan hawa-mu, jaga ragamu bahkan hingga hancur tubuhmu itu lebih baik daripada harus terus terbelenggu dalam nafsu yang terus memburu.

Adapun untuk menghindari godaan dari syaithan, maka selalu berdo’a dan bermohon kepada Ar-Rahman, membiasakan berdzikir dan membaca doa dalam setiap kesempatan. Karena sejatinya syaithan itu lemah, jika kita berlindung kepada Allah yang Maha Rahmah. Teruslah berjuang untuk mengalahkan godaan syaithan, jadikan mereka musuh karena memang permusuhan itu telah mereka kumandangkan sejak masa Nabi Adam hingga akhir zaman. Jangan tergoda dengan semua bisikannya, walau terasa nikmat di raga, tapi merusak jiwa sejatinya.

Inilah sedikit coretan, sebagai introspeksi diri (muhasabah bi nafsi) dan sekadar ingatan untuk insan sekalian. Memang berat meninggalkan dosa dan kemaksiatan, apalagi yang telah lama tenggelam dan terpenjara di dalam kubangan kesalahan. Tapi yakinlah bahwa Allah Ta’ala Maha Pengasih dan Penyayang, segeralah kembali kepadaNya karena ampunanNya seluas samudera. Teruslah berjuang, kuatkan dan terus kuatkan untuk meninggalkan segala bentuk dosa dan kemaksiatan, hingga jasad ini tak ada lagi nafas kehidupan, proses pertaubatan itulah yang diharapkan. Hingga kita bersama masuk ke dalam surgaNya, serta memandang wajahNya Yang Maha Mulia, itulah sejatinya kenikmatan yang tiada tara. Semoga… Isnin, Siang Menjelang. 20122021.

Jumat, 26 November 2021

Duhai Putriku…

 

Oleh: Abu Aisyah As-Salafiyah




Duhai putriku

Waktu terus berlalu

Membawa syahdu yang terus menderu.

Ada banyak kenangan bersamamu,

Sejak hadirmu mengisi hidupku,

Hingga hari ini yang mengharu biru.

 

Dua puluh tiga tahun sudah berlalu,

Sejak kehadiranmu itu,

Memberi warna sedu sendu

Penuh mahabah dan rindu

Tanpa ragu

 

Semua prestasi telah di genggaman

Kini saatnya melanjutkan perjalanan

Menyongsong masa depan penuh harapan

Semoga ar-Rahman selalu menjadi perlindungan.

 

Siapkan diri untuk menghadapi segala cobaan

Hitam putih kehidupan pasti di hadapan

Kuatkan iman, ikhtiar dengan penuh pengharapan, yakin semua akan terlewatkan.

 

Tak banyak yang ingin aku pesankan,

Bersama meraih harapan, kebahagiaan dan keberkahan

 

Dunia dan akhirat semoga kita dapatkan. Bahagia selamanya dalam lindungan ar-Rahman.

 

Baarakallahu fi umriki…

Bogor, 26 Nopember 2021.