Rabu, 28 Oktober 2020

Dunia damai: Saling Menghormati antar Agama dan Kepercayaan

Oleh: Abdurrahman Misno Abu Aisyah

 


Islam adalah agama yang penuh dengan kedamaian, mengajarkan umatnya untuk selalu berdamai dan menyebarkan kedamaian  kepada sleuruh umat manusia dan semesta. Kedamaian dalam bentuk saling menghormati atas agama dan kepercayaan dari masing-masing manusia. Hal ini lah yang akan mewujudkan kedamaian yang sebenarnya di dunia, yaitu saling menghormati antar sesama pemeluk agam adan kepercayaan.

Salah satu kepercayaan dalam Islam yang tidak boleh diganggu gugat adalah berkenaan dengan kenabian Nabi Muhammad  Shalallahu Alaihi Wassalam dan yang terkait dengannya. Salah satu yang sangat penting adalah larangan menggambar Nabi, apalagi dalam bentuk gambaran yang menghina beliau. Maka jika hal ini terjadi maka kemarahan umat Islam tentu tidak bisa disalahkan.

Inilah yang terjadi dalam pekan ini, di mana diawali dengan hukuman atas seorang guru yang menunjukan gambar kartun nabi dengan alasan kebebasan berekspresi , kemudian presiden Perancis membelanya dengan menyatakan bahwa negaranya tidak akan berhenti menerbitkan atau membicarakan kartun yang menggambarkan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam.

Pembelaaan  yang dilakukan Presidn Macron tentu saja merupakan dukungan secara langsung terhadap pembolehan  pembuatan kartun Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam, sebagai bentuk kebebasan berekspresi. Inilah yang kemudian menyulut kemarahan dari umat Islam yang diwakili oleh beberapa pemimpin negara Islam.  Pemboikotan produk Perancis menjadi cara yang dilakukan oleh umat Islam sebagai respon pembelaan presiden Perancis.

Melihat fenomena ini tentu saja seluruh pihak haruslah saling mawas diri, kedamaian dunia yang dicita-citakan haruslah dalam bingkai saling menghormati agama dan kepercayaan masing-masing. Islam sendiri mengajarkan umatnya agar tidak menghina agama dan Tuhan orang lain, karena hal tersebut bisa jadi akan berbalik dima na mereka akan menghina Allah Ta’ala. Ini menjadi pedoman utama bagi umat Islam, maka tidak ditemukan sejak awal ada umat Islam yang menghina agama atau tuhan dari kepercayaan lainnya. Kalaupun ada itu karena ketidakpahamannya secara Islam, bukan dengan sadar dan sungguh-sungguh.

Kembali kepada kasus presiden Peraancis maka sangat disayangkan sekali ketika seorang presiden di negara yang menjunjung tinggi demokrasi justru mmembela seorang yang menunjukan kartun Nabi. Tentu saja bukan asal menunjukan, tetapi unsur kebencian kepada Islam yang menjadi sebab utama perbuatan tersebut.

Maka, jika kedamaian dunia adalah harapan setiap manusia, maka sudah selayaknya kita memiliki skpa tenggang rasa, saling menghormati antar sesama umat beragama. Inilah yang diajarkan dalam Islam sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Kaafirun yang maknanya “Bagi kalian agama kalian dan bagi kami agama kami”.

 

Bogor, 28 Oktober 2020

My Opinion: My Flag – Merah Putih VS Radikalisme

(Realitas Kontras Komunitas Tertindas)

Oleh: Abdi Misno


 Sebuah film adalah hasil rasa, cipta dan karya, terkadang ia adalah gambaran dari realitas yang ada di masyarakat. Tentu saja sesuai dengan sudut pandang dari pembuatnya, apakah ia akan membuatnya seobyektif mungkin atau menambahnya dengan pesan-pesan yang diinginkannya.

Film dengan judul “My Flag – Merah Putih VS Radikalisme” adalah sebuah karya yang tercipta karena pembuatnya melihat realitas yang ada di masyarakat. Lepas dari prasangka dari mereka yang berniat memunculkan perseteruan yang semakin tajam di antara umat Islam maka film ini menurut saya memang mencerminkan keadaan umat Islam saat ini. Walaupun dalam sebuah film tentu saja harus dikasih “bumbu” lebih pedas agar lebih terasa konflik dan membuat penonton terkessan dengannya.

Sebelum menyaksikan film ini dengan hanya berbekal kepada bacaan di beberapa media sosial saya berfikir bahwa ini adalah ulah dari orang-orang yang benci dengan Islam dan ingin mengadu domba di antara mereka. Memanfaatkan “api dalam sekam” yang ada pada internal umat Islam adalah sejata paling ampuh untuk memantik api permusuhan itu tersulut dan membakar amarah umat.

Saya akhirnya penasaran dan membuka langsung kilasan dari film ini dari NU Channel pada 28 Oktober 2020. Jumlah penonton telah mencapai 615 ribu dan telah tanyang sejak 4 hari lalu. Jumlah ini bisa jadi akan bertambah karena kontroversi dari isinya, apalagi dengan blow upa dari media akan semakin ramailah film pendek ini.

Film didominasi oleh sekumpulan pemuda dan pemudi dengan atribut khas muslim Indonesia, memakai baju koko, peci hitam dan sarung. Sementara perempuannya memakai jubah dan jilbab biasa. Fokus perhatian pada kecintaan mereka kepada bendera, dari mulai membeli ke pasar, membagi-bagikan ke pengguna jalan dan menempatkan di beberapa tempat.

“Cinta tanah air sebagian dari iman” itulah pesan utamanya, dengan mencintai bendera murah putih maka itu adalah bukti kecintaan tersebut. Maka kata-kata yang kemudian muncul ketika kelompok pemuda dan pemudi ini bertemu dengan kelompok pemuda dan pemudi lainnya dengan tampilan celana cingkrang, pemudinya memakai cadar dan membawa bendera dua warna; merah dan putih.

Inilah fokus dari tulisan ini dan menjadi kontroversi di masyarakat, “Tidak boleh ada bendera lain selain merah putih” itulah ucapan seorang pemudi yang membawa merah putih ketika berhadapan dengan pemudi lain yang menggunakan jilbab panjang dan cadar. Adegan dilanjutkan dengan perkelahian antara mereka, oleh sutradara sepertinya dijadikan pesan yang sangat mendalam. Khususnya ketika dengan gerakan lambat seorang pemudi yang tadi berteriak membuka secara paksa cadar dari pemudi lawannya. Adegan ini terjadi dua kali, hingga sangat jelas pesan yang ada di dalamnya. Bahwa memakai cadar dan celana cingkrang adalah simbol dari radikalisme dan tidak cinta dengan tanah air dan bendera merah putih.

Apabila kita memperhatikan adegan dalam film ini, khususnya ketika dua kelompok pemuda tersebut berkelahi maka jelaslah bahwa inilah realitas umat Islam saat ini. Di mana kelompok “tradisional” dengan simbol peci hitam dan sarung berhadapan dengan kelompok celana cingkrang dan cadar bagi wanitanya. Sebuah adegan yang menggambarkan realitas dari masyarakat saat ini, di mana kelompok “tradisional” sangat khawatir dengan kehadiran kelompok “baru” yang membawa simbol dan “ideologi” yang menurut mereka berbeda. Realitas ini sudah terbaca oleh para pemerhati umat Islam khususnya di Indonesia dan beberapa negara Islam lainnya, di mana ada “api dalam sekam” di antara umat Islam.

Namun, tentu saja film ini dalam perspektif lain memberikan stigma yang tidak bagus tentang Islam apalagi bagi generasi muda yang masih harus banyak belajar tentang Islam. Perlunya tabayun (check and recheck) terhadap mereka yang menggunakan simbol-simbol yang berbeda dengan kita adalah sebuah keniscyaan. Apalagi jika hanya terkait dengan fiqh semisal celana cingkrang dan cadar. Jika berkaitan dengan “ideologi” pun itu perlu di-check kembali, karena sejatinya umat Islam di Indonesia sangat cinta dengan NKRI. Ketakutan munculnya gerakan radikalisme hanyalah ilusi dari orang-orang yang ingin mengadu domba Islam. Celana cingkrang dan cadar bukanlah simbol dari anti NKRI, bukan pula simbol dari tidak cinta dengan Bendera Merah Putih. Itu adalah manifestasi agama dan kepercayaan anak negeri, tidak mengurangi cinta pada NKRI.

Maka, hendaklah bagi kita semua terus mempelajari Islam ini, jangan mudah terprovokasi dan berikanlah pencerahan secara elegan kepada generasi muda kita. Perbedaan yang terjadi jangan diperuncing dengan kepentingan duniawi, berikan qudwah (contoh) yang terbaik bagi generasi muda kita. Jangan mudah menuduh saudara kita yang sedikit berbeda dengan cap radikalisme atau ekstrimisme, karena sejatinya itu menunjukan kurangnya ilmu pada diri kita.

Kepada teman-teman yang menggunakan simbol-simbol yang belum terbiasa ada di masyarakat khususnya celana cingkrang, cadar, bendera hitam dan putih dan yang lainnya maka teruslah belajar tentang agama ini. Islam bukan hanya berhenti pada simbol-simbol tersebut, banyak hal yang harus kita pelajari kembali. Bersyukurlah hidayah atas sunnah itu sudah anda dapatkan, berikutnya adalah berikan pencerahan kepada masyarakat tentang sunnah Nabi yang suci ini tentu saja dengan cara elegan. Jangan udah menyalahkan apalagi kita belum memiliki ilmu tentangnya, teruslah belajar karena di sanalah puncak dari kepahaman. Iman, amal dan akhlak adalah tiga hal yang tidak bisa dipisahkan. Jika anda ingin mengamalkan sunnah Nabi maka amalkanlah keseluruhannya, termasuk cinta beliau dengan sesama umat Islam, menghormati agama lain dan cinta dengan negeri sendiri.

Kepada pemuda dan pemudi Islam harapan bangsa, teruslah belajar... jangan mudah terprovokasi dengan film seperti ini. Jangan pula mudah diadu domba oleh skenario untuk menghancurkan Islam dan Indonesia. Kita semua adalah saudara, sesama muslim dan satu tanah air. Teruslah belajar, dengan itu kita akan tahu arti dari toleransi, arti dari Islam yang murni dan tidak mudah terprovokasi.

 

Pagi cerah di Kota Hujan, Bogor.

28 Oktober 2020.

 

Semangat Pagi...

Semangat Pagi...

Mentari
Telah menyinari bumi
Dari ujung Timur Negeri 
Tak ada lagi mimpi
Bangun dan berdiri 

Memberi makna insani
Sebagai hamba Ilahi
Kontribusi untuk Negeri 
Karena kedzaliman merajai

Lakukan yang mesti 
Ilmu diawali
RidhaNya Kita cari

Untuk Ilahi 
Kemudian Negeri 

#pagimenjelangsiang
#bogor28102020
❤️🌹❤️

Selasa, 20 Oktober 2020

MOTIVACINTA: Motivasi Cinta karena Allah Ta'ala

*MOTIVACINTA*: _Motivasi Cinta Karena Allah Ta'ala_

Cinta adalah anugerah dari Allah Ta’ala, ia adalah rasa kasih sayang yang muncul dalam diri setiap insan. Terkadang, rasa cinta datang tanpa diundang, tanpa memandang rupa dan juga harta benda, ia hadir membawa rasa nyaman, ketenteraman dan kebahagiaan tiada tara. 
Sebagai anugerah dari Dzat yang Maha Cinta, maka rasa ini haruslah didasarkan pada kecintaan hanya kepada Allah Ta’ala. Maknanya adalah bahwa cinta kita kepada manusia haruslah didasarkan kepada cinta kepadaNya. Kita mencintai seseorang karena Allah Ta’ala cinta kepadanya. 
Sayangnya, banyak cinta yang dilumuri oleh hawa dunia, terjerat oleh rupa dan perhiasan dunia lainnya. Cinta yang berkalang hawa selalu didasari oleh syahwat dunia hingga sifatnya hanya sementara. Ia akan runtuh bersama dengan berlalunya masa. Ia akan hilang bersama dengan musnahnya wajah yang rupawan. 
Cinta karena Allah Ta’ala adalah energi luar biasa untuk merasakan lezatnya cinta dengan sesama. MOTIVACINTA adalah motivasi cinta karena Allah Ta’ala. Mari merayakan cinta...

Judul Buku: *MOTIVACINTA*: _Motivasi Cinta karena Allah Ta'ala_

Info; 085885753838

Selasa, 06 Oktober 2020

Customize University: Perguruan Tinggi Berbasis Kebutuhan Mahasiswa

Abdurrahman Misno BP



 

“Pak sepertinya saya tidak nyaman dengan kelas dan program studi saya” demikian keluhan mahasiswa Program Studi Magister Ekonomi Syariah tempat saya mengajar. Ketidaknyamanan tersebut utamanya adalah karena beberpa mata kuliah yang dia rasa tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan, khususnya terkait dengan bidang konsentrasi yang akan diambilnya. Ya... dia memang berkeinginan untuk melanjutkan riset pada level degree yang telah dilakukannya yaitu terkait dengan pengobatan ala Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasalam.  

Saya sempat berfikir hal lain terkait dengan mata kuliah, cara mengajar dosen, teman-teman satu kelas dan mungkin fakor usia menjadi sebab ketidaknyamanan dari mahasiswa level master tersebut. Tetapi kemudian saya berfikir, bahwa ketidaknyamanan yang paling utama adalah bahwa beberapa mata kuliah memang tidak dia perlukan, karena ia ingin fokus pada satu bidang yang menurutnya itulah passionnya.

Menarik untuk dibincangkan, bahwa pada level master tentu saja pemikiran mahasiswa di level ini sudah sampai pada tingkat kematangan. Berbeda dengan mahasiswa level degree atau sarjana yang terkadang masih mencari jati dirinya. Pada level master mereka lebih memahami apa yang dibutuhkannya untuk dirinya, kariernya dan masa depannya. Sehingga sangat wajar jika mereka akan memilih dan memilah setiap program studi hingga mata kuliah yang diambilnya.

Padahal sejatinya sistem SKS yang telah lama diterapkan di perguruan tinggi sejatinya juga mengakomodir mahasiswa untuk bisa memilih mata kuliah yang dia butuhkan. Demikian juga penetapan mata kuliah dalam sebuah kurikullum prodi telah dirumuskan sedemikian rupa sehingga akan mewujudkan lulusan sesuai dengan kompetensinya. Sayangnya hal ini terkadang masih belum dipahami dengan baik oleh mahasiswa, sehingga sistem “berjama’ah” dalam artian dari awal sampai akhi dalam satu rombongan kelas masih menjadi hal lumrah. Bahkan kelihatan aneh kalau ada mahasiswa yang berpindah-pindah kelas karena mata kuliah yang diambilnya.

Demikian pula pola mengajar dosen yang masih terkesan gaya “kolonial” sehingga bukannya membimbing mahasiswa malah membebani mahasiswa. Masuk kelas, menjelaskan, memberika tugas dan kemudian pulang adalah kebiasaan dosen yang sudah tidak lagi sesuai dengan tuntutan zaman.

Customize University istilah ini muncul dalam pikiran saya untuk menaanggapi kasus mahasiswa master saya. Lebih tepatnya mungkin Customize Departement, yaitu program studi yang menyesuaikan kebutuhan dari mahasiswa. Sebagai contoh ketika Ahmad ingin menjadi Dewan Pengawas Syariah (DPS) maka ia harus mengambil mata kuliah yang akan mendukung profesi yang akan dijalaninya. Mata kuliah yang tidak mendukung secara langsung sebaiknya tidak perlu diambilnya. Bahkan sangat mungkin ia mengusulkan mata kuliah baru yang belum ada dalam kurikullum.

Demikian juga Aisyah yang ingin menjadi seorang Peneliti bidang Ekonomi Syariah, maka dia akan mengambil mata kuliah yang akan mendukung bagi harapannya tersebut. Dia tidak akan mengambil mata kuliah yang tidak dibutuhkannya serta tidak terkait langsung dengan profesi yang akan digelutinya nantinya. Ia juga berhak mengusulkan mata kuliah baru ke prodi. Bukankah ini juga fungsi dari rekonstruksi kurikullum? Ya... tepat sekali.

Gagasan ini mungkin hanya cocok untuk level magister dan doktoral, dengan pertimbangan mahasiswa pada level ini lebih dapat memahami kebutuhannya serta apa yang sebenarnya dia inginkan ketika akan masuk ke suatu program studi di level Pascasarjana. Apabila dihubungkan dengan konsep Kampus Merdeka atau Belajar Merdeka sepertinya ada korelasi yang kuat, di mana mahasiswa memilih mata kuliah yang memang dia butuhkan dan sukai. Mahasiswa tidak lagi dipaksa untuk mengambil mata kuliah yang tidak dia butuhkan atau tidak disukainya. Tentu saja peran dosen pembimbing juga menjadi sangat penting khususnya pada level sarjana. Mereka adalah konsultan dan pembimbing bagi mahasiswa dalam menentukan masa depannya.

Customize University menjadi solusi bagi mahasiswa yang memiliki latar belakang keilmuan yang berbeda atau bagi mahasiswa yang memang ingin fokus pada bidang yang akan ditekuninya. Program studi sendiri menjadi gawang bagi kreatifitas mahasiswa agar senantiasa selaras dengan rumpun keilmuan dari prodi tersebut. Namun, pilihan mahasiswa khususnya pada level magister menjadi pertimbangan utama.

Gagasan ini menjadi satu awal bagi pengembangan pembelajaran khususnya pada level Magister sehingga ke depan mahasiwa pada level ini betul-betul menjadi ahli dalam bidang yang memang dia sukai dan diharapkan menjadi ekspert di bidang tersebut. Maka bagi dosen dan tenaga kependidikan harus bersiap untuk terus menjadi lebih baik, berani berubah daalam menghadapi berbagai perkembangan yang ada di tengah masyarakat. Bogor, Waktu Dhuha, 06092020.

 

 

Rabu, 23 September 2020

Pengantar: Fiqh Muamalah

Dr. Abdurrahman Misno BP, MEI 


Pendahuluan

Perkembangan ekonomi dan bisnis syariah saat ini sangat pesat, terbukti dengan berbagai lembaga ekonomi dan bisnis yang bermunculan seperti jamur di musim hujan. Jika pada perkembangan awal ekonomi dan bisnis syariah hanya terbatas pada perbankan syariah dan asuransi saja, maka saat ini telah merambah ke berbagai sektor keuangan lainnya serta bisnis real di masyarakat.

Jumlah perbankan syariah di Indonesia hingga tahun 2020 mencapai 198 Bank Syariah dengan rincian 14 Bank Umum Syariah (BUS), 20 Unit Usaha Syariah (UUS), dan 164 Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS). Jumlah ini akan terus bertambah dengan adanya Bank Pembangunan Daerah (BPD) yang dikonversi serta membuka unit usaha syariah.

Sementara jumlah asuransi syariah di Indonesia hingga tahun 2020 sebanyak 62 perusahaan dengan perincian 7 perusahaan full syariah dan 23 unit syariah. Asuransi umum syariah yang full syariah sebanyak 5 perusahaan dan unit syariah 24 perusahaan. Sedangkan jumlah reasuransi full syariah masih satu perusahaan dan perusahaan reasuransi unit syariah yang sempat 3 pada 2015 turun menjadi 2 perusahaan. Secara total sampai tahun 2019, jumlah perusahaan asuransi dan reasuransi syariah mencapai 62 perusahaan.

Industri Keuangan Non Bank (IKNB) juga terus bertambah, hingga tahun 2020 tercatat jumlah entitas IKNB Syariah sebanyak 197 institusi, yang terdiri dari 105 perusahaan yang beroperasi dengan prinsip syariah secara penuh (full fledged) dan 92 unit usaha syariah. Penambahan jumlah entitas terbanyak pada industri LKM Syariah dari yang awalnya berjumlah 59 lembaga di tahun 2018 menjadi 75 lembaga di tahun 2020.  

Tidak hanya pada bisnis keuangan, ekonomi dan bisnis syariah kini telah memasuki sektor real bisnis di masyarakat. Munculnya Koperasi 212 menjadi titik awal bisnis syariah pada sektor real, kemudian dilanjutkan dengan berbagai perusahaan yang berbasis syariah, mulai dari hotel syariah, property syariah, rumah sakit syariah hingga pariwisata syariah. Tren halal lifestyle menjadi energi dalam perkembangan ekonomi dan bisnis syariah.

Peningkatan jumlah Lembaga Amil Zakat juga terlihat jelas, hingga tahun 2020 jumlah Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) sebanyak 17 lembaga, Lembaga Amil Zakat (Laz) tingkat Provinsi 7 lembaga dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) tingkat Kabupaten Kotamadya 16 lembaga. Tentu saja Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) sebagai lembaga zakat milik negara memiliki jumlah perwakilan di setiap level pemerintahan hingga ke desa dan Unit Pengelola Zakat (UPZ) di masjid dan lembaga pemerintahan serta swasta.

Geliat Islamic philantrophy semakin terasa dengan berkembangnya lembaga pengelola wakaf yang khusus memberdayakan dana wakaf. Badan Wakaf Indonesia sebagai regulator telah memberikan izin lembaga pengelola wakaf uang di Indonesia sejak 2010 hingga 2020 mencapai 224 lembaga. Jumlah ini akan terus bertambah dengan masih diprosesnya beberapa lembaga yang mengusulkan untuk menjadi pengelola wakaf. Trend wakaf uang memang menjadi bahan kajian di dunia akademisi, apalagi kemudian diluncurkan wakaf link sukuk sebagai program pemberdayaan wakaf.

Lembaga-lembaga sejenis juga kini bermunculan, misalnya Bank Infaq yang dibentuk oleh Sandiaqa Uno menunjukan geliat baru ekonomi syariah. Hingga tahun 2020 Bank Infaq telah memiliki cabang sebanyak 34 cabang Bank Infaq. Sebanyak 27 di antaranya sudah beroperasi dan menebar manfaat pinjaman ke 258 sahabat Infaq. Jumlah ini akan terus bertambah dengan masih diprosesnya cabang-cabang di seluruh Indonesia.

Melihat perkembangan ekonomi dan bisnis syariah yang sangat pesat, maka kajian dan pendalaman terhadap dasar dari aktifitas ini menjadi sebuah keniscayaan. Studi Fiqh Muamalah sebagai asas dalam aktifitas ekonomi dan bisnis syariah harus terus dilakukan, memahami teks-teks wahyu dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, mengkaji meyode ijtihad para cendekiawan muslim mengenai tema ini serta mengembangkan lebih lanjut ruang lingkup dari muamalah dalam Islam akan memandu ekonomi dan bisnis syariah agar selalu berada di atas syariah (aturan) yang lurus.

Inovasi dalam berbagai akad yang dikembangkan saat ini adalah jawaban bagi persoalan-persoalan yang dihadapi dalam implementasi ekonomi dan bisnis syariah. Tentu saja semua itu membutuhkan adanya pemahaman dasar terhadap fiqh muamalah dalam Islam. Memahami kaidah pokok, asas, prinsip dasar hingga tujuan dari syariah (maqashid syariah) dalam muamalah akan menjadikan fiqh muamalah senantiasa dapat menjawab berbagai permasalahan baru yang ada di tengah masyarakat.  

Prediksi bahwa ekonomi dan bisnis syariah akan semakin berkembang di masa-masa yang akan datang, haruslah diimbangi dengan kajian dari fiqh muamalah yang lebih memiliki pondasi kokoh dari sumber-sumber klasik (turats), pengembangan metode dalam penetapan hukum serta inovasi-inovasi yang menjadikan masyarakat terpenuhi segala kebutuhannya khususnya dalam aktivitas dan bisnis mereka.  


Info Muamalah: 085885753838

Rabu, 26 Agustus 2020

Membaca Hingga di Surga...

Oleh: Abdurrahman Misno BP



Membaca adalah salah satu cara untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, dalam perspektif Islam membaca menjadi bernilai ibadah apabila bacaannya adalah Kalamullah, sunnah Nabawiyah serta berbagai bacaan yang memberikan kemashlahatan bagi kehidupannya di dunia dan akhirat.

Membaca Al-Qur’an adalah salah satu dari ibadah yang sangat ditekankan dalam Islam, Allah Ta’ala berfirman “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”. “Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” QS. Fathir: 29-30. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Qatadah (wafat: 118 H) rahimahullah berkata, “Mutharrif bin Abdullah (Tabi’in, wafat 95H) jika membaca ayat ini beliau berkata: “Ini adalah ayat orang-orang yang suka membaca Al Quran”. Maksud dari ayat ini adalah bahwa orang-orang yang suka membaca Al-Qur’an maka mereka akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda.

Adapun hadits yang menunjukan anjuran untuk membaca Al-Qur’an adalah sabda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِه

Bacalah oleh kalian Al-Qur`an. Karena ia (Al-Qur`an) akan datang pada Hari Kiamat kelak sebagai pemberi syafa’at bagi orang-orang yang rajin membacanya.” HR. Muslim.

Riwayat yang lainnya adalah dari shahabat Abu Umamah Al-Bahili radhiallahu ‘anhu : Saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ : الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ؛ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا، اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلاَ تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ

Bacalah oleh kalian dua bunga, yaitu surat Al-Baqarah dan Surat Ali ‘Imran. Karena keduanya akan datang pada hari Kiamat seakan-akan keduanya dua awan besar atau dua kelompok besar dari burung yang akan membela orang-orang yang senantiasa rajin membacanya. Bacalah oleh kalian surat Al-Baqarah, karena sesungguhnya mengambilnya adalah barakah, meninggalkannya adalah kerugian, dan sihir tidak akan mampu menghadapinya.”. HR. Muslim.

Merujuk kepada dua riwayat ini maka menunjukan perintah Allah Ta’ala bagi setiap muslim untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an, karena hal tersebut merupakan ibadah kepadaNya.

Membaca Al-Qur’an menjadi hal utama yang dilakukan oleh setiap muslim dalam aktifitas membaca, kemudian dilanjutkan dengan membaca hadits-hadits Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam. Kemudian setelah itu membaca buku-buku para ulama yang menjelaskan keduanya, serta dilanjutkan dengan membaca buku dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.

Membahas Al-Qur’an tentu saja bukan hanya mampu mengeja huruf demi huruf dan kata demi kata serta merangkaianya dalam sebuah kalimat. Ia adalah proses memaknai setiap kalimat yang ada sehingga dapat dipahami. Setelah dipahami berikutnya adalah diamalkan, dan langkah terakhir adalah menyampaikannya kepada orang lain (dakwah). Inilah sejatinya tujuan dari membaca Al-Qur’an, proses menghafal sendiri hakikatnya adalah pembacaan yang dilakukan secara berulang-ulang secara terus-menerus sehingga mampu membaca tanpa melihat huruf-hurufnya.

Sebagaimana membaca maka menghafal Al-Qur’an sejatinya bukan hanya membaca di luar mushaf, namun lebih dari itu agar ia dapat memahami maknanya, mengamalka serta mendakwahkannya. Sehingga menghafal Al-Qur’an baru langkah awal untuk menjadi shahibul Qur’an.

Perintah membaca AL-Qur’an terjadi tidak hanya di dunia, namun ia juga berlaku di akhriat sana. Sebuah riwayat dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana beliau bersabda:

 يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

Dikatakan kepada orang yang membaca (menghafalkan) al-Qur’an nanti, ‘Bacalah dan naiklah serta tartillah sebagaimana engkau di dunia mentartilnya! Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal).” HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Hibbân.

Imam al-Khathabi rahimahullah dalam Ma’âlim as-Sunan (2/136) menjelaskan: Ada dalam atsar bahwa jumlah ayat al-Qur`an menentukan ukuran tangga surganya. Disampaikan kepada para penghafal al-Qur`an, ‘Naiklah ke tangga sesuai dengan yang kamu baca dari al-Qur`ân. Barangsiapa yang menyempurnakan bacaan seluruh al-Qur`ân maka ia mendapatkan tangga surga tertinggi dan siapa yang membaca satu juz darinya maka akan naik ke tangga sesuai ukuran tersebut. Sehingga ujungnya pahala berada pada ujungnya bacaan.”

Pernyataan imam al-Khatthabi ini disampaikan syaikh al-Albani rahimahullah dan dikomentari oleh beliau dengan pernyataan: “Ketahuilah bahwa yang dimaksudkan dengan Shâhibul Qur’ân (orang yang membaca al-Qur’an) di sini adalah orang yang menghafalkannya dari hati sanubari. Sebagaimana hal ini ditafsirkan berdasarkan sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain, ‘Suatu kaum akan diimami oleh orang yang paling menghafal Kitabullah (al Qur’an).’

Riwayat ini menunjukan kepada kita bahwa bacaan dan hafalan Al-Qur’an seseorang akan kembali diuji di akhirat sana, semakin banyak bacaan dan hafalannya maka semakin tinggi derajatnya di surga. Namun bukan yang hanya sekadar membaca atau menghafal tetapi yang mengamalkannya serta mendakwahkannya kepada orang lain.

Merujuk pada riwayat ini maka sejatinya perintah membaca bagi umat Islam bukan hanya berlaku di dunia namun ia akan terus membaca hingga di akhirat sana. Bahkan ketika telah masuk ke dalam surga, ia akan diperintahkan untuk membaca Al-Qur’an dari hafalannya sampai habis. Dan di sanalah derajatnya di surga sana.

Lebih dari itu adalah bahwa membaca dalam Islam bukan hanya sekadar memaknai kaata dan kalimat, akan tetapi mengamalkan apa yang menjadi bacaannya dari sumber-sumber yang positif sehingga akan bermanfaat bagi dirinya, tidak hanya di dunia akan tetapi juga di akhirat sana. Oleh karena itu, tidak ada alasan lagi bagi umat Islam untuk tidak membaca.

 

 

Membaca dalam Bingkai Agama

Abdurrahman Misno BP


 Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan sangat menstimulus umatnya untuk membaca. Firman Allah Ta’ala dalam QS. Al-‘Alaq ayat 1-5 menjadi landasan kuat bahwa membaca merupakan jalan menuju ilmu pengetahuan. Ayat ini juga secara teknis memberikan panduan bagaimana proses membaca haruslah diawali dengan dengan nama Rabb (Tuhan) yang telah menciptakan manusia dan seluruh alam semesta. Ini bermakna bahwa membaca itu haruslah diawali dengan keyakinan mendalam bahwasanya Sang Pencipta seluruh alam semesta ini adalah Dzat yang Tunggal (Esa) yaitu Allah Ta’ala, yang tidak ada sekutu baginya.

Dalam konteks aqidah maka hal ini adalah merupakan keyakinan atau tauhid Rububiyah, yaitu meyakini bahwasanya Allah Ta’ala adalah satu-satunya Pencipta alam semesta, tidak ada yang dapat menciptakan alam semesta kecuali hanya Dia. Allah adalah Sang Pencipta tunggal, pemilik tunggal, pemelihara tunggal dan Pengatur seluruh alama semesta. Dia memelihara semesta; memberikan rizki kepada seluruh makhluknya, termaasuk manusia, menetapkan takdirNya dan berkuasa atas segalanya. Maka buah pertama dari membaca adalah keyakinan bahwa Allah Ta’ala adalah satu-satunya Rabb (Pencipta), tidak ada selainnya. Demikian pula alam semesta ini bukan tercipta dengan sendirinya, seperti yang diungkapkan oleh orang-orang yang tidak percaya keberadaan Tuhan dari kalangan ateis.

Selanjutnya adalah perintah kembali untuk membaca yang diiringi dengan perintah untuk memuliakanNya. Makna memuliakannya adalah beribadah hanya kepadaNya, sehingga ayat ini terkait dengan tauhid uluhiyah atau ubudiyah, yaitu keyakinan bahwasanya hanya Allah Ta’ala satu-satunya Dzat yang berhak untuk diibadahi, tidak ada dzat lain yang benar untuk disembah, ditaati, dicintai dan tempat untuk bersandar. Hanya Allah Ta’ala satu-satunya Ilaah (sesembahan) yang berhak untuk disembah, sehingga jika ada orang yang beribadah kepada selainNya maka sejatinya ia telah terjatuh kepada kesalahan yang paling besar karena telah menyekutukannya.

Lanjutan dari ayat berikutnya adalah bagaimana Allah Ta’ala mengajarkan kepada umat manusia umumnya dengan perantaraan Qalam (pena). Dia telah mengajarkan semua hal kepada manusia seagala hal terkait dengan sendi-sendi kehidupan mereka di dunia dan juga di akhirat sana. Manusia lahir dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa, kemudian Allah Ta’ala mengajarkan berbagai hal tentang kehidupan. Allah Ta’ala menganugerahkan hati, akal pikiran dan jasad sebagai seperangkat alat untuk mempelajari pengetahuan yang akan menyampaikannya kepada bukti akan keberadaan dan keesaanNya.

Jasad yang terdiri dari panca indra khususnya mata adalah alat untuk dapat mentadaburi kalamNya serta mentafakuri alamNya. Inilah makna dari membaca, yaitu tadabur kalamNya yang berupa Al-Qur’an dan Al-Hadits serta tafakur alamNya di semesta raya. Proses membaca ini akan melahirkan ilmu pengetahuan yang nantinya akan menguatkan keberadaanNya.

Membaca dalam konteks yang lebih sempit adalah memaknai setiap kata dan kalimat yang tersusun, baik berupa kalimat pendek, artikel, makalah, buku serta kitab suci. Sebagai umat Islam tentu saja perintah membaca haruslah diawali dengan membaca Al-Qur’an yang merupakan kalam (firman) Allah yang mulia. Stimulus membaca Al-Qur’an tercermin dalam sabda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam bahwa setiap huruf yang dibaca akan mendapatkan pahala 10 kali, sehingga satu kata dalam ayat Alif Laam Miim itu akan mendapatkan 30 pahala. Demikian pula perintah membaca Al-Qur’an akan memberikan manfaat bagi para pembacanya di mana Al-Qur’an akan mendatanginya pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat (penolong)nya.

Analogi dari hal ini adalah bahwa proses membaca lainnya semisal hadits, ilmu dan pengetahuan lainnya juga akan memberikan manfaat yang besar bagi pembacanya.

Selanjutnya setelah Al-Qur’an adalah hadits Nabawi, yaitu seluruh ucapan, tindakan, dan taqrir Nabi Muhamamd Shalallahu Alaihi Wassalam yang terbukukan dalam hadits-hadits beliau adalah bahan bacaan yang harus dibaca dan ditelaah oleh umat Islam. Studi mengenai hadits yang begitu intens tentu saja dilakukan dengan membaca setiap sanad, rawi, tabaqat hingga matan dari hadits tersebut. Proses bacaan para ulama ini melahirkan berbagai maha karya yang menjadi bahan bacaan bagi umat Islam lainnya. Sehingga hadits Nabi Nabi Muhamamd Shalallahu Alaihi Wassalam adalah bacaan selanjutnya setelah Al-Qur’an.

Al-Qur’an dan hadits yang menjadi bacaan utama umat Islam kemudian dijelaskan oleh para ulama dalam buku-buku mereka, sehingga umat Islam harus membacanya. Inilah kemudian yang melahirkan ilmu pengetahuan, membaca buku-buku para ulama yang berisi berbagai macam ilmu pengetahuan menjadi warisan bagia umat Islam untuk dibaca. Sehingga jika ada umat yang masih enggan membaca atau tidak tahu apa yang akan dibaca maka sejatinya para ulama terdahulu telah mewariskan jutaan buku yang menjadi obyek bacaan umat Islam.

Merujuk pada fakta ini maka dapat disimpulkan bahwa membaca bagi umat Islam adalah sebuah keniscyaan, bahkan ia menjadi amal sholeh yang mendatangkan pahala yang besar. Membaca juga menjadi sarana dalam mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya pengetahuan terkait dengan masalah keyakinan atau aqidah yang akan membuktikan keberadaan Allah Ta’ala, keesaanNya serta mengetahui nama-nama dan sifat-sifatNya yang mulai. Selanjutnya membaca dalam konteks yang lebih luas untuk pengembangan ilmu pengetahuan, sehingga manusia akan mendapatkan kesejahteraan di dunia dan juga di akhirat sana.

Membaca dalam bingkai Agama bermakna membaca yang akan menguatkan keyakinan aqidahnya, menambah keshahihan dalam ibadahnya, serta kemanfaatan dalam muamalahnya. Oleh karena itu... Ayo membaca.

Minggu, 23 Agustus 2020

Clustering Pekerjaan Haram dalam Viral Pekerjaan Haram

 Oleh: Abd Misno Mohd Djahri

 

Islam sejatinya telah memberikan pedoman dalam bekerja, ia harus harus halal dan selaras dengan nilai-nilai rahmat Islam untuk seluruh alam (QS. Al-Baqarah: 172). Sehingga ketika ada yang berpendapat bahwa suatu pekerjaan masuk ke dalam kategori pekerjaan yang haram, maka haruslah didasarkan kepada dalil (argumentasi) yang valid. Kenapa? Karena dalam masalah keduniaan dan muamalah maka berlaku kaidah “Hukum asal dalam muamalah adalah mubah (boleh) sampai ada dalil yang mengharamkannya”. Sehingga semua jenis pekerjaan pada dasarnya halal, sampai ada dalil yang mengharamkannya dari Al-Qur’an, As-Sunnah dan juga Ijtihad Ulama.

Perlu dipahami bahwa ketika Islam mengharamkan sesuatu sejatinya itu adalah merusak dan tidak baik efeknya bagi manusia itu sendiri. Ketika Islam mengharamkan zina, karena zina itu akan merusak nasab dan menghancurkan tatanan keluarga. Ketika Islam mengharamkan judi, maka sejatinya judi akan membawa kepada kemiskinan individu dan ketidakstabilan ekonomi. Demikian juga ketika Islam mengharamkan makanan (daging babi, darah, bangkai dll.) dan minuman (khamr, narkoba, dll.) maka sejatinya semua itu akan merusak tubuh manusia (QS. Al-Maidah: 90-91).

Selain dari Al-Qur’an dan As-Sunnah keharaman suatu pekerjaan juga merupakan hasil ijtihad dari ulama yang bersumber dari esensi dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hasil ijtihad ini disebut dengan fiqh, yaitu penetapan hukum yang dilakukan oleh seorang mujtahid atas suatu hukum dalam Islam. Sifatnya yang ijtihadiyah masih membuka ruang untuk mujtahid lainnya untuk menentapkan hukum yang berbeda. Namun, jika sudah jelas nash-nya dari Al-Qur’an atau As-Sunnah, maka tidak ada di sana pilihan lain kecuali harus tunduk dan patuh (QS. Al-Ahzaab: 36).

Merujuk kepada hal ini maka berbagai pekerjaan yang disebutkan dalam berita viral tersebut dapat kita kluster kepada pekerjaan yang haram secara qath’i dan haram dzanni. Haram Qath’i adalah haram yang sudah jelas keharamannya dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah serta ijma’ ulama,  sedangkang haram dzanny adalah haram yang bersifat fiqhiyyah ijtihadiyyah di mana masih ada ruang untuk pendapat lainnya. Berikut adalah hasil analisisnya:

 

Haram secara Qath’i berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah

Pekerjaan-pekerjaan yang haram secara qath’i yaitu pekerjaan yang keharamannya tidak diragukan lagi karena telah disebutkan keharamannya dalam Al-Qur’an, As-Sunnah dan Ijma’ Ulama, diantaranya adalah:

Pertama, Berkaitan dengan aqidah: Peramal, Debus (dengan syarat ia betul-betul bekerjasama dengan jin atau syaithan dalam atraksinya, jika hanya ketrampilan yang dipelajari maka tidak dosa),  Tukang sulap (dalam hal ini berlaku juga seperti debus, jika dia bekerja sama dengan jin atau syaithan maka haram, namun jika hanya ketrampilan dan trik mata maka tidak haram).

Kedua, Berkaitan dengan Hukum Muamalah (Ekonomi dan Bisnis Islam): Fatwa Majelis Ulama Indonesia terkait dengan keharaman bunga bank membawa efek kepada hukum bekerja di sana, sehingga seluruh Pegawai Bank ribawi (Manajer, teller, security, sampai office boy) adalah haram. Demikian pula Leasing berbasis riba, Koperasi simpan pinjam dengan riba, Asuransi konvensional, Sales mobil/motor/elektronik yang tidak sesuai dengan syariah karena menerapkan adanya bunga, Debt Collector dari lembaga keuangan ribawi. Intinya adalah semua pegawai yang bekerja pada institusi yang mengandung unsur riba serta akad haram lainnya maka hukumnya juga haram.

Selain itu juga para karyawan yang bekerja di pub/diskotik, lokalisasi wanita tuna susila (WTS) atau pekerja seks komersial (PSK), tempat karaoke yang cenderung mesum, menjadi waria atau LGBT, serta tempat-tempat lain yang terindikasi kuat terdapat unsur perzinahan.

Ketiga, berkaitan dengan wanita dan pakaian, bahwa setiap muslim dan muslimah itu wajib untuk menutup auratnya sebagai dalam QS. An-Nur: 31 dan Al-Ahzab: 59, maka membuka aurat adalah haram secara qath’i. Sehingga pekerjaan berupa; Penjual majalah/tabloid porno, penjual pakaian yang membuka aurat (khususnya jika terindikasi kuat bahwa pakaian tersebut akan dipakai di luar rumah), Tukang pijat (jika yang dipijat bukan mahram), Salon kecantikan (yang dikhawatirkan hanya untuk pamer kecantikan kepada bukan mahram), Tukang rias make up/pengantin (yang tabaruj dan membuka aurat), Instruktur senam aerobik (yang berpakaian membuka aurat serta campur laki-laki dan perempuan), Pelatih (yang melatih suatu aktifitas yang diharamkan), Tukang pembuat tatto baik tato alis ataupun tato di bagian tubuh lainnya, Penjual rambut palsu atau jasa menyambungnya karena riwayat dari Nabi sangat jelas sekali keharaman menyambung rambut.

Selain itu ada beberapa pekerjaan lainnya yang disebutkan secara khusus oleh Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam dalam beberapa haditsnya dengan derajat yang shahih dan hasan. Termasuk hadits yang dipahami oleh para ulama dengan penafsiran yang berbeda, maka saya memasukannya ke dalam haram yang sifatnya fiqhiyyah ijtihadiyyah.

 

Haram secara Dzanny berdasarkan Ijtihad Ulama

Haram yang bersifat dzanny adalah keharaman yang ditetapkan oleh ulama dalam ijtihad mereka, biasnaya berkaitan dengan nash yang sifatnya tidak qath’i dalam Al-Qur’an ataupun As-Sunnah, demikian juga masalah-masalah baru yang belum ada sebelumnya, berikut adalah clusteringnya:

Pertama, terkait dengan muamalah yang bersifat kontemporer, misalnya Jasa penukaran uang (yang dibolehkan adalah sharf atau tukar menukar uang), MLM (Multi Level Marketing) yang tidak sesuai dengan syariah dari sisi produk dan sistem pemasarannya, Penjual barang black market, Penjual barang palsu/bajakan, Online shop dengan sistem dropship yang mengandung unsur penjualan barang yang belum dimilikinya. Karyawan pabrik rokok (bagi yang menganggap rokok itu haram) termasuk yang menjualnya, Pegawai Pajak (utamanya pajak yang mendzalimi rakyat).

Kedua, pekerjaan yang berkaitan dengan dunia entertain atau hiburan, misalnya; Artis: Penyanyi, Pelawak, Penari, Modeling, Atlit binaraga, dan balet. Demikian juga dalam industri musik seperti; Pemain Musik, Pembuat alat-alat musik, Penjual alat-alat musik, Penjual CD/kaset musik, Pengamen, Fotografer (yang memotret perempuan atau laki-laki yang tidak menutup aurat), dan Pramugari Wanita yang tidak berhijab,

Ketiga, pekerjaan yang terkait dengan hal-hal umum, misalnya; Pembuat/penjual boneka atau patung atau Pelukis (dalil larangan melukis mahkul bernyawa), Penjual kue ulang tahun (karena ulang tahun termasuk budaya non muslim, bagi yang melakukannya adalah tasyabuh), Penjual petasan/kembang api (karena kembang api itu mubadzir dan tidak bermanfaat),  Guru Filsafat (karena filsafat dianggap sebagai studi yang haram dipelajari oleh umat Islam).

Keharaman dalam kluster kedua ini tentu saja berbeda dengan keharaman yang sudah jelas dalilnya dalam AL-Qur’an dan As-Sunnah, artinya ia masih bisa didiskusikan. Walaupun tentu saja kita tidak boleh pula menganggapnya remeh, karena ketika para ulama menetapkan suatu hukum haram misalnya, mereka telah menggali berbagai nash dari Al-Qur’an dan As-Sunnah sehingga keputusan mereka menjadi fiqh yang merupakan bagian dari hukum Islam. Kalaupun ada ulama lain yang berbeda biasanya hanya sampai derajat makruh, misalnya masalah musik maka sebagian ulama menganggap haram sebagian lagi menganggap makruh saja. Selain itu dalam masalah rokok, melukis, artis dengan berbagai variasinya, serta pekerjaan lain yang belum ada sebelumnya atau tidak disebutkan nashnya secara qath’i. Apabila kemudian ternyata dalil keharaman akan suatu pekerjaan itu qath’i dan shahih maka sebagai orang beriman kita wajib untuk tunduk patuh terhadap hal tersebut.

Permasalahan lainnya adalah terkadang seseorang sudah tahu bahwa sesuatu itu haram, namun dia belum bisa untuk meninggalkannya. Kadang ia tidak mau terima dengan hal tersebut, berbagai alasan dikemukakan bahkan menganggap bahwa hal tersebut adalah dzanny, padahal sudah jelas ayat dan haditsnya. Maka dalam hal ini hendaknya kita terus belajar, dan berusaha meyakinkan diri kita bahwa yang haram itu jelas dan yang halal juga jelas. Apabila kita belum mampu meninggalkan pekerjaan yang haram, maka teruslah berdoa dan berusaha untuk mencari pekerjaan yang halal. Kalau ternyata kebutuhan keluarga itu memaksa kita untuk bekerja di tempat yang subhat atau yang haram, maka ambiah seperlunya dari pendapatan tersebut namun tetap berusaha untuk meninggalkannya sekuat tenaga.

Akhirnya saya bisa mengatakan bahwa viral pekerjaan haram yang banyak dilakukan oleh masyarakat sejatinya sebagiannya benar, namun digunakan oleh orang-orang yang jahat atau jahil dengan Islam karena tidak memahami mabadi’ (tahapan) dakwah. Karena sejatinya dakwah yang pertama kali dan harus terus dikuatkan adalah dalam masalah aqidah, apabila aqidahnya bagus maka ia akan dengan mudah mengikuti syariat Islam termasuk akan dengan penuh kesadaran meninggalkan setiap pekerjaan yang subhat apalagi yang haram.

Semoga Allah Ta’ala sentiasa memberikan kepada kita hidayah serta inayahnya sehingga kita mampu untuk melakukan seluruh aktifitas dan pekerjaan yang halal dan terhindar dari segala bentuk haram dalam kehidupan ini. Wallahu ‘alam. Bogor, menjelang tengah malam, 23082020.

Ketika Haram dan Halal menjadi “Senjata” Musuh Islam

Oleh: Abdurrahman MMD

Dunia internet kembali dihebohkan dengan berita mengenai Islam, ya... lebih tepatnya berkaitan dengan Daftar Pekerjaan “Haram” yang diunggah oleh akun FB bernama Abu Yahya Al Bustamy. Akun twitter dengan nama @narkosum membagikan foto tangkapan layar tentang daftar 50 pekerjaan haram tersebut pada Selasa (18/8/2020). Dia menguliskan dalam unggahannya, "Klo antum bekerja dengan profesi di salah satu list ini, resign dan segera bertobatlah. Karena pekerjaan ini KARAM. Eh haram!" tulis akun@narkosum.

Penelusuran yang sudah dilakukan oleh Tribunnewswiki, facebook dengan nama Abu Yahya Al Bustamy tidak ditemukan. Ini menunjukan bahwa lagi-lagi sumber dari berita viral tersebut tidak jelas, demikian juga apabila kita menganalisis perkataan dari akun @narkosum sangat jelas sekali bagaimana dia bermain-main dengan kata-kata “HARAM”. Penelusuran saya sendiri di twitter menemukan akun @narkosun yang tweet-tweet-nya berisi politik praktis yang mengadu domba. Bahkan di depan akun-nya tertulis perkataan dari Ali bin Abu Thalib yang ditulis dengan “Imam Ali”. Sangat kuat dugannya bahwa akun ini sengaja menyebarkannya sebagai bentuk “main-main” dengan haram dan halal, mengadu domba Islam dan ujungnya menghancurkan Islam. Maka saya berkesimpulan bahwa berita viral ini adalah berasal dari musuh-musuh Islam yang main-main dengan haram dan halal dalam Islam.

Bagaimana sebagai umat Islam menyikapi hal ini? Bersikap cerdas dan bijak dalam menyikapinya. Cerdas dalam makna tidak mudah terprovokasi dengan berbagai berita yang berasal dari mereka, bersikap lebih lembut dengan sesama muslim khususnya ketika terjadi perbedaan pendapat dalam masalah fiqh. Bijak bermakna dapat mengambil sikap dengan benar, lawan berita dengan berita, lawan tulisan dengan tulisan dan saatnya berkontribusi untuk Islam dan muslimin. Mencerdaskan umat dengan berbagai ide dan gagasan dalam tulisan atau disebarkan ke berbagai media sosial, terus mendidik umat agar mereka terus belajar agamanya. Serta kuatkan ukhuwah Islamiyah, karena di luar sana musuh-musuh Islam selalu siap menghancurkan kita. Waspadalah...