Oleh: Abu Aisyah


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ



اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ ٱلْوَهَّابُ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وصلى الله على نبينا محمد وعلى اله وصحبه أجمعين سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ



Oleh: Abdurrahman 

Kemerdekaan Hidup
Supaya manusia leluasa menjalankan hidupnya di dunia ini, Islam memberi aturan yang keras berupa larangan membunuh, baik bunuh diri (QS. An-Nisa : 29) atau membunuh orang lain (QS. Al-Isra : 33). Rasulullah mengkampanyekan pembebasan budak, kesetaraan laki-laki dan perempuan, dan kesederajatan bangsa-bangsa. Dalam khutbah terakhirnya di Arafah, saat haji wadaí, beliau menegaskan bahwa tak ada perbedaan antara hitam dan putih, antara Arab dan non-Arab. Semuanya sama di mata Tuhan. Tidak ada celah yang membedakan manusia satu dengan manusia lainnya, kecuali tingkat ketakwaan mereka kepada Tuhan-Nya (QS Al-Hujuraat:13).

Kemerdekaan Beragama
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 256)
Dalam ayat lain disebutkan: “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (QS. Yunus : 99)

Kemerdekaan Ekonomi
Al-Baqarah ayat 188 : “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” Penindasan ekonomi itu dilukiskan Alquran sebagai sesuatu yang membuat kekayaan hanya berputar pada kelompok-kelompok tertentu saja (QS Al-Hasyr: 7). Rasulullah mengkritik orang-orang yang mengumpulkan dan menghitung-hitung harta tanpa memedulikan kesejahteraan sosial dan keadilan ekonomi (QS Al-Humazah:1-4; Al-Maa’uun:2-3).

Kemerdekaan Berpendapat
Hal ini berdasar dalil Al-Quran, ”Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Maidah : 49).

Kemerdekaan Bertempat Tinggal
Dalam Islam setiap orang memiliki kemerdekaan bertempat tinggal dan menjadikan tempat tinggalnya itu sebagai kawasan privatnya. Allah SWT berfirman, ”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah yang bukan rumah kalian sehingga kalian minta ijin dan mengucapkan salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian agar kalian menjadi ingat. Apabila kalian tidak mendapatkan satu orang pun didalam rumah itu, maka janganlah kalian memasukinya sampai kalian diijinkan. Dan apabila dikatakan kepada kalian,’Kembalilah!’ maka kembalilah kalian. Yang demikian itu lebih suci bagi kalian. Dan Allah Maha Mengetahui atas segala yang kalian perbuat.” (QS. Al-Nur: 27-28).
Kesimpulannya adalah bahwa sebagai umat Islam sekaligus warga negara Indonesia maka kita patut bersyukur dengan kemerdekaan ini. Syukur oleh sebagian ulama didefinisikan dengan:
استعمال النعمة في الطاعة لزيادة النعمة
Memanfaatkan ni’mat di jalan ketaatan sehingga ni’mat tersebut bertambah.

Dengan syukur atas kemerdekaan ini mudah-mudahan Allah ta’ala akan menambah nikmat kemerdekaan. Implementasi rasa syukur atas kemerdekaan adalah dengan semkin mendekatkan diri kepada Sang Pemberi Nikmat yaitu Allah ta’ala, melaksankana semua yang diperintahkanNya dan menjauhi laranganNya. Kita juga berhati-hati, jangan sampai muncul dalam diri kita rasa kufur (mengingkari) dari kemerdekaan ini. Kufur di sini adalah sikap seseorang yang sudah mengetahui bahwa kemerdekaan itu datang dari Allah ta’ala, namun justru ia malah bermaksiat kepadaNya. 

Abdurrahman Misno BP


وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلا
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. QS. Al-Isra: 70.
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim ayat 7).
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu” (QS An-Nahl ayat 36)
كُلُّ مَوْلُوْدٌ يُوْلَدُ عَلَى فِتْرَهُ فَاَبَوَّاهُ يُهَوِّدَانِهِ اَوْ يُنَصِّرَانِهِ اَوْ يُمَجِسَا نِهِ
Setiap anak terlahir dalam keadaan fitnah, maka orang tuanya yang menjadikannya seorang Yahudi, Nashrani, atau majusi” (HR. Muslim).

Jamaah Jum’ah Rahimakumullah
Syukur kepada Allah ta’ala yang senantiasa memberikan curahan nikmatnya kepada kita semua. Kenikmatan terbesar yang harus senantiasa kita syukuri adalah nikmat iman dan nikmat Islam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan alam nabiyyina Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam kepada ahli baitnya, para shahabatnya dan orang-orang yang senantiasa mengikuti jejak sunnahnya hingga hari kiamat tiba.
Hari-hari ini masyarakat Indonesia sedang bergembira karena menyambut Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sudah 71 tahun Indonesia merdeka, terbebas dari penjajahan dan kedzaliman dari bangsa lainnya. Sebagai orang yang beriman, kita patut bersyukur dengan kemerdekaan ini, ya… kemerdekaan adalah salah satu dari kenikmatan dari Allah ta’ala yang patut kita syukuri. Maka muncul pertanyaan, “Bagaimana Islam memandang kemerdekaan?” atau “Bagaimana kita sebagai umat Islam mengisi kemerdekaan ini”?

Hadirin yang berbahagia
Allah ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلا
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. QS. Al-Isra: 70.
Imam Az-Zamakhsyari menafsirkan ayat ini dengan menyatakan:
كرّمه الله بالعقل ، والنطق ، والتمييز ، والخط ، والصورة الحسنة
Allah ta’ala telah memuliakan manusia dengan diberikannya anugerah akal, lisan, mampu membedakan yang baik dan buruk serta jasmani yang sempurna.
Allah ta’ala juga telah memuliakan manusia hingga ia memiliki kebebasan untuk berbuat di muka bumi tanpa adanya paksaan dan penjajahan. Segala bentuk diskriminasi dan pemaksaan adalah bertentangan dengan nilai-nilai Islam dan kemanusiaan. Perjuangan para syuhada Nusantara dalam membela tanah air tercinta adalah menjaga kedaulatan agama dan negara tanpa ada campur-tangan bangsa asing lainnya.

Sidang Jum’ah rahimakumullah  
Sejenak marilah kita membuka sejarah Indonesia, bagaimana mereka berjihad mempertahankan agama dan negara agar terbebas dari penjajahan. Ranah Minang menjadi saksi perjuangan Kaum Padri dalam membela agama dan negeri. Kehadiran mereka terus bertambah walau ditumpas oleh penjajah. Inilah kesaksian dari Steyn Parve, salah seorang mantan residen Padangsche Bovenlanden: Tetapi sekte Paderi tidak muncul sebentar saja. Sebaliknya, sekte ini laksana cahaya yang muncul dan bertahan lama, terus menerus memperlihatkan sinarnya kepada kita.
Inilah kekuatan ideology Islam yang terus bersinar menjadi mercusuar semangat kemerdekaan. Hal ini terjadi pula di tanah Selebes (Sulawesi), Sultan Alauddin Makasar menyatakan “Allah ta’ala telah menciptakan bumi dan lautan, (dan telah) membagikan bumi di antara manusia, (begitu pun) Dia memberi lautan sebagai milik bersama. Tidak pernah kami mendengar bahwa pelayaran di lautan dilarang bagi seseorang. Jika engkau melakukan larangan itu, berarti engkau seolah-olah mengambil roti dari mulut orang (lain)”. Ini adalah ucapan beliau ketika VOC melarang perdagangan Makassar ke Maluku. Dengarkan pula kisah dalam Syair Perang Mengkasar yang dipimpin oleh Sultan Hasanudin: “Lima tahun lamanya perang, Sedikit pun tidak hatinya bimbang, Sukacita hati segala hulubalang, Melihat musuh hendak berperang. Mengkasar sedikit tidak gentar, Ia berperang dengan si Kuffar, Jikalau tidak ra’yatnya lapar, Tambahi lagi Welanda kuffar.
Kembali ke Tanah Sumatera, dengarlah kisah dalam Syair Perang Menteng Palembang; Haji berteriak Allahu Akbar, Datang mengamuk tak lagi sabar, Dengan tolong Tuhan Malik Al-Jabbar, Serdadu Menteng habislah bubar. Jika demikian adanya maka perjuangan dalam membebaskan negara didasarkan pada keinginan untuk merdeka dari segala bentuk penjajahan dalam bidang agama dan negara.
Ini pula yang telah disampaikan oleh sahabat Rib’iy bin Aamer radhiyallahu ‘anhu saat beliau diutus khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu untuk bernegosiasi bilateral dengan negara adidaya Persia. Rib’iy berkata kepada Panglima Persia Rustum:
ابتعثنا الله لنخرج الناس من عبادة العباد لعبادة الله وحده
Kami (umat Islam) diutus Allah untuk mengeluarkan manusia dari penghambaan sesama hamba untuk menghamba kepada Allah semata.”

Hadirin yang berbahagia
Kemerdekaan dalam Islam adalah terbebasnya manusia dari segala bentuk penghambaan kepada manusia lainnya. Allah ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu” QS An-Nahl: 36.
Imam Al-Baghawi menafsirkan ayat ini dengan menyatakan bahwa Allah ta’ala telah mengutus pada tiap umat sebagaimana bagi kalian umat Islam, agar menyembah Allah ta’ala dan menjauhi taghut (Segala sesuatu yang diibadahi dan ditaati selain Allah ta’ala). Maka ayat ini juga menunjukan bahwasanya kemerdekaan dalam Islam adalah kemerdekaan dan terbebas dari segala penyembahan kepada selain Allah ta’ala.
Inilah makna kemerdekaan yang tercatat dalam Al-Qur’an, padanya terdapat kisah Nabi Ibrahim yang mencari Allah ta’ala sebagai satu-satunya Rabb (Pencipta) dan membebaskan diri dari segala sesembahan selainNya:
فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لا أُحِبُّ الآفِلِينَ  فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لأكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku" Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam". Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat". Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar", maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. QS. Al-An’am: 76-79.
Kemerdekaan dalam Islam selanjutnya adalah pembebasan umat manusia dari kesewenang-wenangan penguasa. Hal ini terdapat dalam kisah Nabi Musa ketika membebaskan bangsanya dari penindasan Firaun. Kekejaman Fir’aun merupakan representasi penguasa yang menyombongkan diri dan sok berkuasa di muka bumi (mustakbirun fi al-ardh).  
وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ أَنْجَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ وَيُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ وَفِي ذَلِكُمْ بَلاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dari (Firaun dan) pengikut-pengikutnya, mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak-anak perempuanmu; dan pada yang demikian itu ada cobaan yang besar dari Tuhanmu". QS. Ibrahim: 6.
Hal yang menarik dari ayat ini adalah pada ayat berikutnya yaitu:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim ayat 7)
Maka ayat tentang bersyukur atas segala kenikmatan dalam ayat ini berdasarkan asbab an-nuzulnya adalah kenikmatan pada Bani Israil atas kemerdekaannya terbebas dari penjajahan Fir’aun. Namun, sayangnya Bani Israil tidak bisa bersyukur dengan kemerdekaan tersebut hingga akhirnya mereka mendapatkan adzab yang pedih yaitu terusir dari negerinya dan menjadi pengungsi selama lebih dari 40 tahun.
Kisah kemerdekaan paling fenomenal dalam Islam adalah kisah sukses Nabi Muhammad dalam mengemban misi profetiknya di muka bumi untuk membebaskan manusia dari penjajahan agama dan hegemoni berhala:
الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لإثْمٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS. Al-Maa’idah: 3.

Kehadiran Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam adalah untuk membebaskan manusia dari segala bentuk penjajahan dan hegemoni, baik dari sisi agama ataupun dalam mengangkat derajat umat manusia. Memanusiakan manusia yang diperjuangkan oleh beliau adalah menjadikan manusia terbebas dari kedzaliman manusia lainnya. 



a.      Pendahuluan
Ushul fikh dalam kajian hukum Islam secara etimologis dapat diartikan sebagai dasar-dasar pemahaman ajaran Islam. Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa ushul fikh merupakan satu ilmu yang mempelajari dasar-dasar, metode-metode, pendekatan-pendekatan, dan teori-teori yang digunakan dalam memahami ajaran Islam.[1]
Sementara itu, penelitian hukum Islam sebagaimana pendapat Abu Yasid pada hakekatnya secara definisi sama dengan penelitian hukum secara umum yakni: proses untuk menemukan aturan hukum, prinsip-prinsip hukum, maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi. Dengan begitu, penelitian dapat dimaknai sebagai proses epistimologi untuk mencapai kebenaran empirik. Capaian-capaian ini bisa juga disebut ilmu pengetahuan dalam pengertiannya yang sangat substantif. Pada prinsipnya ilmu pengetahuan dapat dicapai dengan membingkai tiga unsur yang saling berkaitan yaitu substansi, informasi dan metodologi.[2]
Selanjutnya, tulisan ini akan sedikit membahas tentang keterkaitan antara ushul fikh yang merupakan dasar-dasar untuk memahami hukum Islam dengan kegiatan penelitian dalam ranah kajian hukum Islam. tulisan ini juga akan memuat tentang posisi ushul fikh dalam sebuah penelitian hukum Islam.

b.      Tipologi Penelitian Hukum Islam
Berbicara tentang peneltian hukum Islam, Syamsul Anwar membagi menjadi dua yakni:
1)      penelitian hukum Islam deskriptif
Adalah penelitian yang tidak mempertanyakan apa hukumnya, dengan kata lain tidak mencari norma hukum terbaik yang harus dipegangi untuk diterapkan kepada suatu kasus, melainkan mendeskripsikan fenomena hukum dengan mencari hubungan variabel-variabel hukum dan variabel-variabel non hukum. Dalam penelitian hukum Islam deskriptif, terdapat dua pembagian lagi yakni hukum sebagai variabel independen dan hukum sebagai variabel dependen.[3]
Penelitian hukum deskriptif meneropong hukum Islam sebagai suatu fenomena sosial yang berinteraksi dengan gejala-gejala sosial lainnya. Dalam kaitan ini hukum Islam dilihat baik sebagai variabel independen yang mempengaruhi masyarakat maupun sebagai variabel dependen yang dipengaruhi oleh masyarakat. Dalam penelitian model ini biasanyadigunakan berbagai pendekatan yang dikembangkan dalam ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan seperti pendekatan sejarah, pendekatan sosiologi, pendekatan politik, pendekatan antropologi dan seterusnya.[4]
Penelitian hukum deskriptif ini telah banyak dikembangkan oleh para pemikir serta cendekiawan baik dalam maupun luar Indonesia. Sebagai contoh palik banyak ditemukan ialah pelitian hukum Islam dengan pendekatan sosiologi. Pendekatan sosiologis ini bermula pada hubungan antara fikh dengan kehidupan sosial masyarakat. Hal ini sebagaimana yang ditulis Ali Yafie dalam bukunya, yang berusaha menjelaskan keterkaitan antara Islam yang berasal dari wahyu dengan alam beserta isinya yang meliputi manusia dan kehidupan masyarakat.[5]
Pengembang penelitian hukum Islam dengan pendekatan sosial lain ialah Cik Hasan Bisri. Dalam ideologinya, beliau menggagas istilah Hukum Islam dan Pranata Sosial. Gagasan ini bermula pada asumsi bahwa hukum Islam mencakup berbagai dimensi. Dimensi abstrak, dalam wujud segala perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya; dan dimensi konkret, dalam wujud perilaku mempola yang bersifat ajeg dikalangan orang Islam sebagai upaya untuk melaksanakan titah Allah dan Rasul-Nya itu. Lebih konkret lagi, dalam wujud perilaku manusia (amaliah), baik individual maupun kolektif. Hukum Islam juga mencangkup subtansi yang terinternalisasi kedalam berbagai pranata sosial.dimensi dan substansi hukum itu dapat disilang yang kemudian disebut Hukum Islam dan Pranata Sosial.[6]
2)      penelitian hukum normatif,
Ialah penelitian hukum Islam yang bertujuan menyelidiki norma-norma hukum Islam untuk menemukan kaidah tingkah laku yang dipandang terbaik dan yang dapat diterapkan untuk memberi ketentuan hukum terhadap suatu kasus. Penelitian hukum islam normatif terbagi menjadi tiga yakni: penelitian filosofis, ialah kajian mengenai nilai-nilai dasar hukum Islam;[7] penelitian doktrinal, yaitu kajian untuk menemukan doktrin-doktrin atau asas-asas umum hukum Islam; dan penelitian klinis, disebut juga sebagai penemuan hukum syar’i untuk menemukan hukum in concrito guna menjawab suatu kasus tertentu.[8]
Kiranya penelitian hukum Islam normatif ini merupakan penelitian yang sebagaimana telah disampaikan pada bagian pendahuluan, bahwa penelitian hukum Islam sama dengan penelitian hukum secara umum yakni: proses untuk menemukan aturan hukum, prinsip-prinsip hukum, maupun doktrin-doktrin hukum. Dalam praktiknya, penelitian hukum identik dengan kajian limu hukum. Ilmu hukum sendiri merupakan ilmu yang bersifat normatif dimana ilmu yang merefleksikan kepada norma dasar yang diberi bentuk konkret dalam norma-norma yang ditentukan dalam bidang-bidang tertentu. Misalkan bagaimana pola hidup ideal antar sesama manusia yang didasarkan pada norma keadilan. Norma-norma tersebut pada gilirannya akan dijelmakan dalam peraturan-peraturan konkret bagi suatu masyarakat tertentu.[9]


c.       Ushul Fikh dalam Penelitian Hukum Islam
Dalam kajian ushul fikh, objek yang dikaji adalah: dalil-dalil atau sumber-sumber huhkum syara’, hukum-hukum syara’ yang terkandung dalam dalil-dalil itu, dan kaidah-kaidah tentang usaha dan cara mengeluarkan hukum syara’ dari dalil atau sumber yang mengandungnya.[10] Merujuk pada objek kajian ushul fikh tersebut, maka dapat dikatakan bahwa secara garis besar ushul fikh merupakan salah satu metode dalam kegiatan penelitian hukum Islam, atau dalam beberapa literatur dikatakan bahwa ushul fikh merupakan metodologi hukum Islam.[11]
Ushul fikh mengenal dua model pendekatan: doktriner-normatif-deduktif dan empiris-historis-induktif. Model pendekatan yang pertama adalah secara doktriner normatif, setiap individu muslim harus mendasarkan segala aktifitas hidupnya pada al-Qur’an dan hadits yang dikenal sebagai sumber ajaran yang disepakati. Biasanya pembahasan yang ada dimulai mengutip satu ayat atau sunnah dan dikelaskan arti, makna, dan maksudnya dan ilustrasi lain yang terkait. Model pendekatan ini meupkan pendekatan pertama dalam ushul fikh.[12]
Model yang kedua yakni empiris-historis-induktif, model kedua ini memaksa si pemikir untuk melihat realitas sosial yang berkembang di tengah-tengah masyarakat dilanjukan dengan mengidentifkasi masalah sekaligus menawarkan alternatif solusi yang dibutuhkan. Model berfikir induktif ini sebagaimana dikenal dalam penelitian-penelitian sosial.[13]
Pada model pendekatan yang pertama, dilnilai oleh segenap pemikir kontemporer telah out of date, karena banyaknya permasalahn baru yang muncul sedangkan model seperti itu sudah tidak mampu untuk memberikan sosuli yang cukup. Maka disitu menuai berbagai kritik terhadap ushul fikh.[14] Menanggapi kritikan tersebut, Akh. Minhaji menawarkan perpaduan antara model pertama dan kedua sebagai solusi untuk menjadikan ushul fikh tetap sebagai metode penemuan hukum Islam yang tidak tenggelam oleh perkembangan jaman.[15]
Terkait dengan penelitian hukum Islam, ushul fikh memiliki posisi khusus. Meskipun secara umum ushul fikh merupakan metode pengkajian Islam pada umumnya dan dalam sejarah kebudayaan Islam, inilah satu-satunya metode khas Islam yang berkembang, namun dalam pengertian khusus, ushul fikh adalah suatu metode penemuan hukum syari’ah. Sebagai metode penemuan hukum, ushul fikh merupakan bagian dari metode penelitian hukum secara umum.[16]
Penggunaan ushul fikh dalam penelitian hukum Islam dapat dilihat dari penerapannya. Dalam penelitian hukum Islam, sangat perlu adanya penggunaan logika berpikir. Penggunaan logika ini merupakan konsep berpikir yang ada dalam kajian ushlu fikh, seperti analogi, istihsan, maslahah mursalah, ‘urf dan istishhab. Semua itu diperlukan dalam penerapan metode penelitian hukum Islam.[17]
d.      Penutup
Demikian kiranya dari apa yang telah dipaparkan dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa ushul fikh dalam penelitian hukum Islam tidak lain adalah bagian metode penelitian hukum Islam itu sendiri. Dalam penggolongan penelitian hukum Islam baik penelitian hukum normatif maupun deskriptif, ushul fikh merupakan satu-satunya metode telah lama dilakukan oleh para ulama’ dan cendekiawan muslim. Hanya dengan adanya perubahan dan perkembangan zaman, ushul fikhpun mengalami transformasi dalam metode penggunaannya. Semua itu tidak lain bertujuan untuk kemaslahatan umat Islam sendiri.





Daftar Pustaka
Abdullah Amin dkk., Re-strukturisasi Metodologi Islamic Studies Mazhab Yogyakarta, Yogyakarta: UIN Suka Press, 2007.
Anwar Syamsul, Metodologi Hukum Islam.
------------------, Studi Hukum Islam Kontemporer, Jakarta: RM Book, 2007.
Bisri Cik Hasan, Pilar-pilar Hukum Islam dan Pranata Sosial, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2004..
Fanani Muhyar, Fikh Madani: Konstruksi Hukum Islam di Dunia Modern, Yogyakarta: LkiS, 2010.
Syarifuddin Amir, Ushul Fikh 1, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009.
Yafie Ali, Menggagas Fikh Sosial, Bandung: Mizan, 1994.
Yasid Abu, Aspek-aspek Penelitian Hukum: Hukum Islam – Hukum Barat, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2010.



a)      Teori Korespondensi
Teori kebenaran korespondensi adalah teori yang berpandangan bahwa pernyataan-pernyataan adalah benar jika berkorespondensi (berhubungan) terhadap fakta yang ada. Kebenaran atau suatu keadaan dikatakan benar jika ada kesesuaian antara arti yang dimaksud oleh suatu pendapat dengan fakta. Suatu proposisi (ungkapan atau keputusan) adalah benar apabila terdapat suatu fakta yang sesuai dan menyatakan apa adanya. Teori ini sering diasosiasikan dengan teori-teori empiris pengetahuan.
Ujian kebenaran yang di dasarkan atas teori korespondensi paling diterima secara luas oleh kelompok realis. Menurut teori ini, kebenaran adalah kesetiaan kepada realita obyektif (fidelity to objective reality). Kebenaran adalah persesuaianantara pernyataan tentang fakta dan fakta itu sendiri, atau antara pertimbangan (judgement) dan situasi yang dijadikan pertimbangan itu, serta berusaha untuk melukiskannya, karena kebenaran mempunyai hubungan erat dengan pernyataan atau pemberitaan yang kita lakukan tentang sesuatu (Titus, 1987:237).
Jadi, secara sederhana dapat disimpulkan bahwa berdasarkan teori korespondensi suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dan sesuai dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut (Suriasumantri, 1990:57). Misalnya jika seorang mahasiswa mengatakan “matahari terbit dari timur” maka pernyataan itu adalah benar sebab pernyataan tersebut bersifat faktual, atau sesuai dengan fakta yang ada bahwa matahari terbit dari timur dan tenggelam di ufuk barat.
Menurut teori korespondensi, ada atau tidaknya keyakinan tidak mempunyai hubungan langsung terhadap kebenaran atau kekeliruan. Jika sesuatu pertimbangan sesuai dengan fakta, maka pertimbangan ini benar, jika tidak, maka pertimbangan itusalah (Jujun, 1990: 237).

b)     Teori Koherensi atau Konsistensi
Teori kebenaran koherensi adalah teori kebenaran yang didasarkan kepada kriteria koheren atau konsistensi. Pernyataan-pernyataan ini mengikuti atau membawakepada pernyataan yang lain. Berdasarkan teori ini suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten denganpernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar (Jujun, 1990:55)., artinyapertimbangan adalah benar jika pertimbangan itu bersifat konsisten dengan pertimbangan lain yang telah diterima kebenarannya, yaitu yang koheren menurut logika.
Suatu kebenaran tidak hanya terbentuk karena adanya koherensi atau kensistensi antara pernyataan dan realitas saja, akan tetapi juga karena adanya pernyataan yangkonsisten dengan pernyataan sebelumnya. Dengan kata lain suatu proposisidilahirkan untuk menyikapi dan menanggapi proposisi sebelumnya secara konsisten serta adanya interkoneksi dan tidak adanya kontradiksi antara keduanya.
Misalnya, bila kita menganggap bahwa “maksiat adalah perbuatan yang dilarang oleh Allah” adalah suatu pernyataan yang benar, maka pernyataan bahwa “mencuri adalah perbuatan maksiat, maka mencuri dilarang oleh Allah” adalah benar pula, sebab pernyataan kedua adalah konsisten dengan pernyataan yang pertama.
Kelompok idealis, seperti Plato juga filosof-filosof modern seperti Hegel, Bradley dan Royce memperluas prinsip koherensi sehingga meliputi dunia; dengan begitu maka tiap-tiap pertimbangan yang benar  dan tiap-tiap sistem kebenaran yang parsial bersifat terus menerus dengan keseluruhan realitas dan memperolah arti dari keseluruhan tersebut (Titus,1987:239)

Teori Pragmatik
Teori pragmatik dicetuskan oleh Charles S. Peirce (1839-1914) dalam sebuah makalah yang terbit pada tahun 1878 yang berjudul “How to Make Ideals Clear”. Teori inikemudian dikembangkan oleh beberapa ahli filsafat yang kebanyakan adalahberkebangsaan Amerika yang menyebabkan filsafat ini sering dikaitkan dengan filsafat Amerika. Ahli-ahli filasafat ini di antaranya adalah William James (1842-1910), John Dewey (1859-1952), George Hobart Mead (1863-1931) dan C.I.Lewis (Jujun, 1990:57).
Teori kebenaran pragmatis adalah teori yang berpandangan bahwa arti dari ide dibatasi oleh referensi pada konsekuensi ilmiah, personal atau sosial. Benar tidaknya suatu dalil atau teori tergantung kepada peran fungsi dalil atau teori tersebut bagi manusia untuk kehidupannya dalam lingkup ruang dan waktu tertentu. Teori ini juga dikenal dengan teori problem solving, artinya teori yang dengan itu dapat memecahkan segala aspek permasalahan.
Kebenaran suatu pernyataan harus bersifat fungsional dalam kehidupan praktis. Menurut teori ini proposisi dikatakan benar sepanjang proposisi itu berlaku atau memuaskan. Apa yang diartikan dengan benar adalah yang berguna (useful) dan yang diartikan salah adalah yang tidak berguna (useless). Bagi para pragmatis, batu ujian kebenaran adalah kegunaan (utility), dapat dikerjakan (workability) dan akibat atau pengaruhnya yang memuaskan (satisfactory consequences). Teori ini tidak mengakui adanya kebenaran yang tetap atau mutlak.
Francis Bacon pernah menyatakan bahwa ilmu pengetahuan harus mencari keuntungan-keuntungan untuk memperkuat kemampuan manusia di bumi. Ilmupengetahuan manusia hanya berarti jika nampak dalam kekuasaan manusia. Dengankata lain ilmu pengetahuan manusia adalah kekuasaan manusia. Hal ini membawajiwa bersifat eksploitatif terhadap alam karena tujuan ilmu adalah mencarimanfaat sebesar mungkin bagi manusia.

d)     Teori Performatif
Teori ini menyatakan bahwa kebenaran diputuskan atau dikemukakan oleh pemegang otoritas tertentu. Contohnya mengenai penetapan 1 Syawal. Sebagian muslim diIndonesia mengikuti fatwa atau keputusan MUI atau pemerintah, sedangkan sebagian yang lain mengikuti fatwa ulama tertentu atau organisasi tertentu. Masyarakat menganggap hal yang benar adalah apa-apa yang diputuskan oleh pemegang otoritas tertentu walaupun tak jarang keputusan tersebut bertentangan dengan bukti-bukti empiris.
Dalam fase hidupnya, manusia kadang kala harus mengikuti kebenaran performatif. Pemegang otoritas yang menjadi rujukan bisa pemerintah, pemimpin agama,pemimpin adat, pemimpin masyarakat, dan sebagainya. Kebenaran performatif dapatmembawa kepada kehidupan sosial yang rukun, kehidupan beragama yang tertib,adat yang stabil dan sebagainya.
Masyarakat yang mengikuti kebenaran performatif tidak terbiasa berpikir kritis danrasional. Mereka kurang inisiatif dan inovatif, karena terbiasa mengikuti kebenaran dari pemegang otoritas. Pada beberapa daerah yang masyarakatnya masih sangat patuh pada adat, kebenaran ini seakan-akan kebenaran mutlak. Merekatidak berani melanggar keputusan pemimpin adat dan tidak terbiasa menggunakanrasio untuk mencari kebenaran.
e)      Teori Konsensus
Suatu teori dinyatakan benar jika teori itu berdasarkan pada paradigma atau perspektif tertentu dan ada komunitas ilmuwan yang mengakui atau mendukung paradigma tersebut. Masyarakat sains bisa mencapai konsensus yang kokoh karena adanya paradigma. Sebagai komitmen kelompok, paradigma merupakan nilai-nilai bersama yang bisa menjadi determinan penting dari perilaku kelompok meskipun tidak semua anggota kelompok menerapkannya dengan cara yang sama. Paradigma juga menunjukkan keanekaragaman individual dalam penerapan nilai-nilai bersama yang bisa melayani fungsi-fungsi esensial ilmu pengetahuan. Paradigma berfungsi sebagai keputusan yuridiktif yang diterima dalam hukum tak tertulis. Adanya perdebatan antar paradigma bukan mengenai kemampuan relatif suatu paradigm dalam memecahkan masalah, tetapi paradigma mana yang pada masa mendatang dapat menjadi pedoman riset untuk memecahkan berbagai masalah secara tuntas.


METODE PENELITIAN HUKUM ISLAM
Oleh: Dr. Abdurrahman Misno BP, MEI

BAB I
TEORI ILMU PENGETAHUAN

A.  Pengertian Pengetahuan dan Ilmu
Pengertian ilmu Menurut Van Poelje adalah tiap kesatuan pengetahuan, di mana dari masing-masing bagian bergantung satu sama lain yang teratur secara pasti menurut asas-asas tertentu.
Menurut Muhammad Hatta, Pengertian ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum kausal dalam suatu golongan masalah yang sama tabiatnya, juga menurut kedudukannya tampak dari luar, maupun menurut bangunnya dari dalam.
The Liang Gie mengatakan, Pengertian ilmu yaitu sebagai sekelompok pengetahuan teratur yang membahas sesuatu sasaran tertentu dengan pemusatan perhatian kepada satu atau segolongan masalah yang terdapat pada sasaran itu untuk memperoleh keterangan-keterangan yang mengandung kebenaran.
Pengertian ilmu Menurut Abu Bakar adalah suatu pendapat atau buah pikiran, yang memenuhi persyaratan dalam ilmu pengetahuan terhadap suatu bidang masalah tertentu.
Berikutnya kita membahas mengenai Pengertian ilmu Pengetahuan dalam tulisan ini. Pengertian ilmu Pengetahuan Menurut Para Pakar, Sebagai berikut :
Pengertian ilmu Pengetahuan Menurut Soerjono Soekanto adalah Pengetahuan (knowledge) yang tersusun sitematis dengan menggunakan kekuatan pemikiran, pengetahuan dimana selalu dapat diperiksa dan ditelaah (dikontrol) dengan kritis oleh setiap orang lain yang mengetahuinya.
Menurut Sutrisno Hadi, Pengertian ilmu Pengetahuan ialah kumpulan dari pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang yang dipadukan secara harmonis dalam suatu bangunan yang teratur.
Sondang Siagian Mengungkapkan, Pengertian ilmu Pengetahuan merupakan suatu objek, ilmiah yang memiliki sekelompok prinsipil, dalil, rumus, yang melalui percobaan yang sistematis dilakukan berulang kali telah teruji kebenarannya, dalil-dalil, prinsip-prinsip dan rumus-rumus mana dapat diajarkan dan dipelajari.
Jadi dari berbagai Pengertian Ilmu Pengetahuan di atas, terlihat bahwa ilmu pengetahuan itu konkrit, sehingga dapat diamati, dipelajari dan diajarkan serta teruji kebenarannya, teratur, bersifat khas atau khusus dalam arti mempunyai metolodologi, objek, sistematika dan teori tersendiri.


Susunan Proposal Penelitian
By: Dr. Misno, MEI



1.    HALAMAN SAMPUL
Halaman judul memiliki susunan yang sudah ditetapkan yakni sebagai berikut :
a.       Judul ulasan penelitian, sebaiknya dipilih judul yang singkat dan jelas yang merupakan gambaran dari keseluruhan penelitian, memiliki keterkaitan antara variabel, lokasi penelitian, sampel dan tahun penelitian.
b.      Jenis laporan
c.       Lambing Instusi perguruan tinggi
d.      Nama mahasiswa dan NIM
e.       Nama jurusan
f.       Nama program studi
g.      Nama perguruan tinggi
h.      Tahun pengajuan proposal

2.    HALAMAN PERSETUJUAN
Secara umum, halaman ini berisi usulan penelitian, persetujuan dosen pembimbing beserta tanda tangan dan waktu persetujuan.

3.    KEASLIAN PENELITIAN
Bagian ini merupakan pernyataan peneliti tentang keaslian peneliti. Baik itu merupakan replikasi penelitian sebelumnya.

4.    DAFTAR ISI
Secara umum halaman ini berisikan seluruh daftar proposal, baik bagian isi, sub dan lampiran-lampiran.

5.    ISI
Bagian ini merupakan alasan kenapa penelitian diadakan, teori yang mendukung penelitian berikut penyelesaiannya. Berikut ini bagian yang terdapat pada isi proposal.
a.      BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah. Latar belakang masalah pada proposal harus bisa menjawab alasan memilih judul penelitian. Dijelaskan secara mengerucut dari garis besar hingga spesifik.
Perumusan Masalah. Rumusan masalah harus berupa pertanyaan yang berhubungan dengan dua variabel atau lebih.
Batasan masalah. Sub bab ini membahas batasan masalah baik melalui ruang lingkup tempat penelitian, informasi penelitian, dan waktu penelitian.
Tujuan Penelitian. Tujuan penelitian dibagi atas 2 bagian, yakni tujuan  penelitian umum dan tujuan penelitian khusus. Pertama, Tujuan Umum : berisikan tujuan secara keseluruhan atau secara garis besar. Kedua, Tujuan Khusus : berisiskan tujuan secara khusus ditujukan.
Manfaat Penelitian. Ada 3 manfaat penelitian; Pertama, Manfaat bagi peneliti. Kedua, Manfaat bagi masyarakat. Ketiga, Manfaat bagi pengembang keilmuan.

b.      BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Landasan Teori. Landasan teori sebaiknya mendukung hipotesis penelitian yang mengurai kerangka teori berdasarkan pendapat para ahli.
Kerangka Teori. Kerangka teori berisikan isu atau fakta penelitian.
Kerangka Konsep Penelitian. Kerangka konsep adalah gambaran dari kerangka teori yang dipilih.
Hipotesis. Hipotesis adalah jawaban sementara dari masalah yang dipilih dan mampu dipertanggung jawabkan kebenarannya. Hipotesis dinyatakan dalam bentuk pertanyaan.

c.       BAB III METODE PENELITIAN
Jenis penelitian. Jenis penelitian merupakan langkah yang akan diambil untuk membuktikan kebenaran hipotesis.
Populasi dan sampel. Populasi merupakan keseluruhan subjek peneliti dan sampel adalah sebagaian dari jumlah populasi.
Lokasi dan waktu penelitian. Menjelaskan tempat dan waktu penelitian.
Variabel. Menjelaskan keterangan variabel dan faktor yang diteliti dalam penelitian.
Teknik pengumpulan data. Teknik pengumpulan data boleh berupa observasi, wawancara langsung, angket, dan pengukuran.
Instrumen penelitian. Instrument penelitian merupakan alat ukur berupa kuisioner dan cek list sebagai pedoman observasi, wawancara dan angket.
Tehnik pengolahan data. Berisi cara pengolahan data yang dapat digunakan untuk menarik kesimpulan penelitian
Metode analisis data. Menjelaskan seluruh data yang diperoleh menjadi sebuah informasi.

6.    DAFTAR PUSTAKA
Berisiskan daftar rujukan pembuatan proposal yang diperoleh dari segala aspek.

7.    LAMPIRAN

Lampiran merupakan bahan pendukung sebuah proposal yang digunakan selama proses penelitian berlangsung


Hal pertama yang harus dilakukan ketika akan berkebun adalah memilih benih unggul. Setelah itu siapkan ladang subur yang memungkinkan benih tumbuh dengan baik dan makmur.
Selanjutnya rawatlah ia dengan ketekunan, bersihkan dari berbagai hal yang mengganggu pertumbuhannya. Jika diperlukan gunakan pupuk ramah lingkungan serta nutrisi tumbuhan. Insya Allah tumbuhan tersebut akan memberikan panen raya yang menyenangkan.
Demikianlah tamsil kehidupan di dunia, jika kita ingin memperoleh panen yang memuaskan di akhirat sana, maka dunia adalah tempat untuk beramal kebajikan. Pilihlah amal-amal utama yang sesuai dengan petunjuk Allah dan rasulNya. Setelah itu iringi dengan istighfar, hilangkan semua hal yang membatalkan amal kebajikan seperti kesyirikan, riya, sum’ah dan pembatal lainnya. Tambahkan nutrisi berupa  amalan sunnah yang akan menambah kekhusu’an dalam beribadah. Insya Allah di akhirat sana kita akan memanen semua amal kebajikan.
Mari Berkebun Kebajikan...
Harga: Rp 45.000
Informasi: 085885753838
Reception of Islamic Law On Indigenous Communities: Study of Legal Anthropology in Baduy and Kampung Naga
Abdurrahman Misno Bambang Prawiro*


Abstract

The first community to accept Islam was the tenant at the coastal areas of Sumatra, Java, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Nusa Tenggara and Papua. After that Islam disseminated to rural areas throughout the country as the consequence of their reception of Islamic law. However, the fact was not all Islamic law accepted and implemented, because they already have customs practiced continuously by hereditary generations long before the arrival of Islam. Indigenous community, such as Baduy and Kampung Naga, still practiced some customs in Indonesia.
This research examines the reception of Islamic law by those indigenous communities. The focus of this study is the elements of Islamic law, the reception pattern of Islamic law, and the factors that influence the reception. The purpose and usefulness of this study was to answer the research questions and describe the two customary of communities as well as bad correlation with the Islamic legal system. The method used is empirical legal study. The data used in this study were the primary data source derived from observation, deep interviews and library research.
Research shows that the reception of Islamic law by the community of Baduy in the implementation of Islamic law marriage that is reading the creed of the Prophet Muhammad PBUH records by KUA, especially on the community of Outer Baduy. Reception in the field of inheritance was limited to the mention of the terms in Islamic inheritance, while the division still follow their customs that divide the estate equally both boys and girls. While the community of Kampung Naga reception occurs in the majority of law and worship in particular muamalah especially in wedding. Islamic law reception process occurs due to internal factors (custom character and creed) and external (social interaction and the power of the state).
The researcher formulated the theory of Islamic law reception by the indigenous communities is Reception through Selection-modification, reception of Islamic law by indigenous communities with the selection and modification. If Islamic law is in accordance with the accepted custom, when it conflicts then modified to align with traditional values.

Keywords: Reception of Law, Legal Anthropology, Indigenous Community, Adat, Islamic Law, Baduy, Kampung Naga and Theory Reception through Selection-modification.


A. Introduction
There are four theories of Islam entered into the archipelago of Indonesia, namely; Theory of India, Persia, Arab, and Theory of China.[1] Based on those theories Islam entered this archipelago through not only a pathway coming, but through several channels, such as India, Persia, Arab, and China. Azyumardi Azra argues that the coming of Islam to this archipelago in complexity, that is not derived from a single place, the role of a single group, and not at the same time. Islamic characteristics of each region influence on the characteristics of Islam in this archipelago.[2] Similarly, the messengers give the typical Islamic style in each region in this archipelago.
The messengers of Islam in this archipelago is divided into three types; traders, preachers, and kingdom messengers.[3] The traders who introduced Islam to the archipelago comes from Arab, Persia (Iran), and India. They originally stopped in this archipelago wait for the monsoon time and then continue their trade to China or vice versa. But others deliberately trade in the archipelago with the first stop in India, after which they headed archipelago.[4] Most of them married local women, and then their descendants built the beginning Muslim community.
Furthermore, Islam spread by the preachers; some of them are descendants of the people of the archipelago who were studying in the Middle East country. The other comes from Arab who had come to this archipelago to preach Islam. In addition they do not only preach Islam but also do business and do other jobs as a source of income.[5] The preachers spread Islam to every corner of the archipelago with a variety of approaches, ranging from cultural approach to politics, and power. Wali Sanga council is the result of an agreement such propagators in order to spread Islam. The council work successfully spreading Islam by rapidly throughout some archipelagos and the population influx into Islam has increased significantly.
The third group is kingdom messenger who went on goodwill mission to this archipelago. They are Chinese kingdom messengers who lead by Cheng Ho; he came many times and left a trail of Islam in this archipelago, especially on the north coast of the Java Island, such as Cirebon, Semarang, and Surabaya.[6] In addition this goodwill visit is not only proposed to the introduction to Islam to the local authorities, but also been instrumental in the spread of Islam in society, especially in coastal areas. Evidenced by the presence of some followers of Cheng Ho who settled in the archipelago are married to locals and spread Islam to the surrounding population.
The characteristic of propagators of Islam influences on the style of Islamic society in this archipelago. In the early stages of Islam spread by traders from India, Persia, and Arab. Their Islamic characteristic is characterized by a mystical aspect of Islam (Sufism), especially the traders from India and Persia. The Islamic Characteristics of India and Persia became one of the causes of receipt of Islam easily, especially because of the culture in the archipelago much influenced by Hindu and Buddhist culture. This stage lasted until the collapse of the Majapahit kingdom in the 15th century AD and several centuries thereafter.[7]  
Entering the 19th century the reformation patterns grew in this archipelago.[8] The one that was influencing the dynamics of thought and Islamic movements in the Middle East in particular was happening in Kingdom of Saudi Arabia and Egypt.[9] Wave of reforms spearheaded by Muhammad bin Abdul Wahab, Muhammad Abduh, and Rashid Rida in the 18th century AD up to the archipelago with the appearance of the Padri movement in West Sumatra in the early 19th century AD.[10]
Based on Islamic pattern in community of this archipelago that is influenced by the carrier, and then there are three shades of Islam i.e. shade of India, Persia, and Arab. The style of Islamic India has Islamic character acculturated to Indian culture, so that the spiritual values and Sufism are very dominating. It is seen from the propagator of Islam Sufism approach in preaching Islam. The second pattern is Persia; Shia traders brought religious complexion from Persia. It spread in Indonesia growing the influence in the form of culture that goes into some parts of the archipelago. For example Tabuik celebrations in West Sumatra and Tabot in Bengkulu, both of them are the influence of the preachers of Islam from Persia with Shia sect. Similarly, the respect for the Shura month (Muharram) is the local form of Islam in Persia as a tribute to the killing of Husain Ibn Ali in Karbala.[11]
While the Arab religious complexion looks of the pattern of religious communities in Sumatra, Java, and Sulawesi. This pattern appears in the pattern of Padri religious people in West Sumatra that is more exclusive than other communities because many are affected by the reform movement in the Middle East, especially Egypt. This pattern continues to evolve into multiple regions simultaneously with the wave of change that is happening in the Islamic world. In addition, the roles of reformist religious organizations are contributing to the spread of it.
Although there are various shades of Islam, but Islam in general entering and growing in this archipelago is Sunni. This was evident from the beginning of the entry of the existence of diplomatic relations between the kingdom of Sriwijaya and Umayyad caliphate in Damascus was Sunni. Beside the reality that people in Indonesia now is showing it. This means that although the Muslims in the archipelago have various shades of Islam but not out of the understanding of Sunni, Ahlu Sunnah Wal Jama'ah. As agreed by the largest group of Muslims around the world.
Based on religious complexion that entered this archipelago then each region has a various-religious complexion. In coastal areas their Islamic hue is more inclusive than the inland area. The reason is the intensity of their interactions with traders and preachers who stopped and settled around them. Coastal conditions at the center of trade between nations have contributed to the community to be more permissive and cosmopolitan.[12]
The Coastal is the initial area entered by the preachers of Islam based on the argument that the only path that allows the drive to connect between one region to other regions at that time was the sea. The next argument is that the rule of Islam in the form of the first kingdom in the coastal areas, such as the kingdom of Samudera Pasai, Aceh, Demak, Cirebon, Banten, Gowa, Ternate, Buton, and others. So it is a necessity when Islam using the sea route as the entrance to the archipelago.
Starting from coastal areas then Islam growsin every inch of this archipelago. It entered the inland area of Sumatra, Java, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, and Nusa Tenggara. The establishment of the kingdom of Mataram in Central Java characterizes the development of Islam in the rural areas of the archipelago with its own territory to the East Java and West Java. The spread of Islam into the inland area is done in a more systematic and focused, for example in Java, Wali Sanga, it is a propaganda agency of nine kind trustees as a propagator of Islam in Central Java, West Java, and East Java. The approach propaganda carried out by the council of Wali Sanga based on the cultural propaganda in which local culture is not removed at once but tinged with Islamic values.[13]
The development of Islam in this archipelago greeted variously bythe diverse communities. Based on acceptance, there are three types of archipelago community in accepting Islam; First type, The Symbolic-Substantive Reception that is the type of people who accepted Islam as his religion and leave the customs that they have carried out. Secondly, The Selective-Modified Reception that accepted Islam with custom-tailored to the traditions. If there is a conflict, the Islamic law will be modified to accord with local values. Third, Symbolic Reception that receives Islamic values only limited to symbols and terms. They use Islamic terms but still adhere to previous beliefs that have not accepted Islam as his religion.[14]
The first type looks at the communities who live on the coast, they accept Islam and become a Muslim and used Islamic symbols and implement in everyday life formally. The second and third types are generally people who are in the inland area; they accepted Islam with customized and modified based on the character of their customs. Until now the color characteristics of the three types of Islam in Indonesian society.
The cause of the emergence of various types of this Reception is due before Islam arrived, people had belief or confidence in this archipelago (religion) that inherited from his ancestors. So when Islam came, he did not fit into society devoid of religion. Islam dealing with people who have got the moral guidance of various religions and beliefs that existed before that is the local trust archipelago, Hinduism and Buddhist. They accepted Islam by maintaining the customs and beliefs until there was a reciprocal relationship between the two.[15]
Reciprocal relationship between Islam and local customs reflected religious patterns carried by society archipelago, especially those in the inland area. They accept Islamic law on the condition does not interfere with the stability of the previous customs. Islamic Law according to the customs will be accepted, while the contrary will be rejected or modified in its implementation.[16] This Reception process led to assimilation, acculturation and harmonization between Islam and local customs. The results of the Reception process in its various forms is not necessarily seen as negative, otherwise it is a process that must be passed by Islam to be received well by the people of the archipelago. In addition, an attempt to make Islam the universal will find its territory in the process of Indonesianization of Islam.
Islamic law[17] as an integral part of Islamic law has been absorbed also by the community of the archipelago since they interact with Muslims and accept Islam. When Islamic law entered, the diverse community absorbed it. The rate of Reception of Islamic law in society archipelago varies according to the level of understanding. There was also the influence of social factors, economics, politics, and culture that exist in the community.
The society in this archipelago which absorbs Islamic law includes Sundanese and Banten ethnic. All two of these tribes inhabit the western part of Java Island. They absorb the diverse Islamic law, than the use of terms in Islam to implement them consistently. Generally they reconcile Islamic law with local custom, to bring Islamic law with custom colors of Sundanese and Banten.
Some communities of ethnic Sundanese and Banten who live in the western part of Java island is customary community of Baduy and Kampung Naga. The two communities have varied characteristic customs inherited from his ancestors. Referring to the theory made by Nur Shams on Islam Pesisir, Baduy communities have a lower Reception rate than Kampung Naga community, as well as Kampung Naga community has Islamic law Reception rate is lower than traditional community in coastal area.[18]
Based on previous exposure to the study of the Reception of Islamic law by the Indonesian people, especially the indigenous communities of Baduy and Kampung Naga are very interesting to do. This study aims to answer the research questions posed, namely the Reception of Islamic law by two indigenous communities in West Java and Banten Province.

B. Reception of Islamic law by Indigenous Communities; Baduy and Kampung Naga
The Reception of Islamic law by the two communities begins with the uptake and acceptance of the Islamic faith. Reception and acceptance of Islamic faith occurred in Kampung Naga community, while the Baduy community then it does not happen. Customs system Baduy community is defensive to be one of the causes of the absence of Reception by their Islamic faith. However their uptake by Islamic law happened.[19] Reception  of the Islamic faith in the form of pillars of faith by the two various communities according to the level of trust that existed at the beginning before Islam. Baduy community does not absorb the Islamic faith because they have had a strong belief of Sunda Wiwitan. Kampung Naga community also has a local trust but has undergone a change with the adoption of Islam as their religion.


Baduy community absorbs some elements of Islamic law; the reading of syahadat, circumcision, and some other elements of Islamic law. In addition to the field they also know muamalah, ban their money, as well as strongly encourage activity among Baduy philanthropy. They knew jekat term that given the treasure to others in need such as orphans, widows and people cannot afford. Islamic terms in the field of muamalah absorbed by them such as wasiat and riba.
Kampung Naga community absorbs Islamic law while maintaining the implementation of customs and traditions. The Reception  of Islamic law that they do not eliminate customs that have been carried out. In some traditions the second law by side in its implementation. While in other parts of the Reception  does not occur so that they remain consistent with their customary. Reception that occurs in Kampung Naga community is in the field of religious law while the Reception field muamalah not occur evenly.
 The process of Reception of Islamic law by Baduy and Kampung Naga occur through several processes. In Baduy community this process occurs because of their interaction to Moslems. Referring to their origin which is a group that "lost" the war with Moslems whether intentional or not, they are influenced by Islam and its legal system. In the past they called Moslems by the term "Baduy Karang" as a form of homage to the Baduys who had converted to Islam. Until now, they still think that Islam is the younger brother of Baduy Muslims because Prophet Muhammad, which is the “young brother” of the prophet Adam, was a Prophet of Baduy people.
The process of Reception is also influenced by the hegemonic power of Sultan Hasanuddin. Agreement between the kingdoms of Banten and Baduy community consequences on their obligation to comply with the agreement that the contents of which contain an obligation for every person read syahadat for Baduys who are getting married. The existence of Cicakal Girang village which is a region inhabited by Muslims is not indisputable evidence about the power of the state to force Baduys to accept Islamic laws. The hegemony appears on the obligation to circumcision, reading syahadat when getting married, give seba to the ruler of Banten and obligations for ngasuh ratu nyayak menak.[20]
The hegemony state continues until the UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, in which one of the articles mentioned that the marriage would be valid when performed in front of the marriage registrar employees. Guided by this law, the marriage of Baduy community must be registered even without getting a marriage certificate. The marriage officers who exist only in the village Cicakal Girang now increased by officers from the KUA District Leuwidamar placed in villages of Kaduketug, and several other regions. The officers in charge of recording the entire wedding of Baduys by first teaching reading syahadat for groom of Baduys.
The interaction between Baduy community and Moslems who live around them became the process of the Reception of subsequent Islamic law. Although traditionally they are defensive, but they open the social and adopted some elements of Islamic law. The Motivation of Reception occurs because of intentional and unintentional. The intentional factor closely related to the deliberate effort to harmonize their beliefs with Islamic beliefs. While unintentional factor occursto next generation who only follows the rules of custom without asking the reasons.
The process of Reception of Islamic law cannot be separated from the propaganda carried out by Islamic organizations around the Beduions. Recorded some Baduy community members had converted to Islam; some of them have now become a preacher who spread Islam in the Baduy community in a way that is polite. Muhammad Kasja is one of the grandchildren Pu'un that had converted to Islam and became Dai. He and several other propagators teams perform a variety of routine visits to the Baduy area. This visit is usually just a talk about the informal religious. If among them there are interested and want to convert to Islam.
The problem factor for the Reception of Islam and Islamic law in their legal statutes in Baduy is hard for anyone who is out of the Sunda Wiwitan religion. The law to convert to Islam or other religions entry is removed from Baduy customary land. Based on this law Bedouion community members who do not dare to Islam for fear of not getting home and livelihood when it was converted to Islam. Even if there are Beduion community members who converted to Islam usually have the ability to fulfill their needs in the outside community.
Marriage between Baduy tribes with Muslims was not prohibited by them. It's just for those who marry Muslims then have to get out of the Baduy area. If the actual wedding process considered being a means for Reception of Islam and Islamic law in the Baduy community, but the number of such marriages is very little. So it cannot be said as one of the Reception process of Islamic law there.
The conclusion is that the process of reception of Islamic law in the Baduy community begins with the power of the state at that time to this community. Interaction with Muslims into the next process, as well as propaganda carried out by Islamic propagators smooth the process of reception of Islamic law on them. Although they have not formally accepted Islam as their religion, but the recognition of the Jaro Sami, Jaro Dainah, Ayah Murshid, Jaro Alim and several other figures who claim that their religion is Slam Sunda Wiwitan. It is an indisputable fact of Islam's influence on this community.
The process of reception of Islamic law by the community of Kampung Naga is running slow, it is proved by practice of Islamic law by those who are still confined to the issue of worship mahdhah alone. Even then, still faces obstacles in its implementation, in which most of them if only want to run. For example, shalat is not implemented with full confidence that it is mandatory, so that sometimes they do and often deny it. One of the main causes of the slow process of Reception is tight in carrying out their ancestral customs. They prefer the customs rather than religious duty, for example when implementing Hajat Sasih on Friday they left Friday prayers obligation is simply because its implementation has not been completed yet.
Islamic law reception process occurs through the process of their reception against Islam. Shahadah which they say brings consequences for implementing Islamic law. However, because they already have their own custom rules that they inherited from their ancestors so when Islam came with its legal system are not all accepted and implemented. Only the laws of worship they receive, while the laws of inheritance and muamalah generally are not used. They assume that their customary law is fairer than the Islamic law, for example, the distinction of heir between male and female.[21]
Some customs in Kampung Naga are a harmony between Islam and local culture, for example, the process of marriage according to the custom in the past considered valid when performed in front of sesepuh lembur, but due to the influence of Islamic marriages performed in front of a marriage officer from KUA and implemented in the mosque. Similarly, in the tradition of sawer is colored with Islamic values is the result of dialogue between Islam and local customs.
Indeed the process to harmonize the laws of Islam with local custom has been running for hundreds of years until the current generation considers that it is an inseparable part. They believe that this rule is as package that cannot be separated anymore between Islamic law and local customs. Based on this belief came the term Tatali Kumawula Agama Sareng Darigama is the harmony between religion and darigama as a series of custom in Kampung Naga. The essence of this term is that the Kampung Naga community has an obligation to obey the commands of religion and custom.
Nowadays the authors found that the latest in Kampung Naga are the more intense Reception of Islamic law. This is evidenced by the implementation of mahdhah worship by this community experiencing growth when compared to previous periods. The younger generation is also now starting to learn and study outside the village that has interacted with the community at large. The process of Islamization of indigenous emerging as Kampung Naga is now becoming part of the favorite tourist destinations in Tasikmalaya. The form is to reinterpret the customs are held there by connecting with Islamic values. For example, the ban on leg stretched westward understood as a courtesy should not be degrading the Kaaba in the west. Prohibition wear footwear when Hajat  Sasih based on the manners in Islam to remove footwear when pilgrimage grave. Ban the entry of electricity to the village interpreted by their desire to enjoy the dark of night that will remind the Lord. In conclusion, although the process is running slow Reception  of Islamic law in Kampung Naga, but it kept walking along with its intense interactions with other Muslims who visit their village. Role of Religious Affairs Office (KUA), more specifically the Ministry of Religious Affairs as the agent of change to be back after so long encouraged vacuum. Certainly requires a special method in fostering religious to them.
Reception factor of Islamic law by Indigenous Baduy and Kampung Naga varies according to each character. Baduy community; as a community that has not accepted Islam as their religion, the Baduy community does not implement Islamic law as a whole. However, their interaction with the Muslim community has made them accept Islamic law. The history records how early they started the interaction of the spread of Islam by Sultan Hasanuddin from Banten and Sunan Gunung Djati from Cirebon. The earliest evidence of such interaction is the presence of a penghulu who resides in Cicakal Girang village.
Baduy legal system, which is permissive, allowing the elements in it has evolved. These developments can be addition or subtraction. Although they have a ban to embroider in their traditions but in practice still occurs despite the addition of slowly and imperceptibly. As an example of the use of drugs were not allowed at all, but when Pu'un of Baduy village Cibeo ill and had to be treated then later he injected. Injecting which initially was buyut then acceptable even with the strict requirements. Radically change occurred at the beginning of the formation of this community, some literatures and folklores around Leuwidamar mention that existing restrictions on them are actually the execution of an agreement between them to the Sultanate of Banten. For example, to maintain a ban to have four-legged animals, using household appliances, using body hygiene kits, clothes, and else are the contents of the agreement which must be obeyed.
The internal factors that cause Reception of Islamic law by the Baduy community is their belief system such are Selam Sunda Wiwitan which recognizes "Adam" as their prophet. They also believe that Prophet Muhammad is a prophet of God, just that he was sent to other than the Baduy, Islam as a religion they believe not to the Baduy. Based on this belief, their "religion" justifies the implementation of Islamic law that according to them is also part of a religion such as circumcision, declaring syahadah, etc.
The external factors that cause Reception of Islamic law by the Baduy community is their intensive interaction with the Muslim community. In addition the pressure from the ruling factors also causes their Reception by the Islamic law. As an example of their obligation to declare shahadah is due to their agreement with the Sultan Hasanuddin. The contents of the agreement are still a mystery as strictly maintained at a place that should not be a single person came to him. But in the current agreement is an obligation to declare syahadah for every bride man of Baduy community in the presence of a penghulu who is from a Moslem. First declaring shahadah is done in the Cicakal Girang village which is the home of Muslims in tanah ulayat of Baduy.
The declaring of this shahadah is stronger after Indonesian independence with the issuance of UU No. 1 Tahun 1974 tentan Perkawinan. One of the contents of this law is a must for every wedding ceremony conducted in front of the official of marriage registrar. So to this day every member of the Baduy community who wants to get married then have to declare shahadah in front of penghulu and listed his name along with his bride. The hegemony of state in the field of Islamic law looks of building a mosque in Cicakal Girang. All people are not brave and it is not allowed to build a mosque in the village with a huge size although they are entirely Muslim. But with the help of a military policeman from Bandung finally stood a Jami` mosque in their village which is part of the communal land of Baduy. Indeed the presence of Islamic village in communal land settlement of Baduy also shows how the pressure that time ruler against their existence, so that the hegemony of the state into one of the external factors for Reception  of Islamic law. Now when we look Islamic symbols are used also by the Baduy community, such as the writer witnessed the activities of residents in Baduy Kompol where Jaro Dainah before starting the conversation first say Salam. Tayyibah sentences such as hamdalah and insha Allah; they are also used in everyday life. Not only in the Outer Baduy but also in inner Baduy who are already familiar with these sayings.
Syahadat as the Reception factor of Islamic law does not apply to the Baduy community because of syahadat which they declare is not based on their uptake of Islam. Until now they have not accepted Islam as their religion. Syahadah factors prevail at Kampung Naga community and ??. They accept it as a consequence of his syahadah. Social interaction factors on Baduy communities become the dominant factor of their Reception by the Islamic law. An exclusive property of their culture, which makes interaction with other communities, is very limited, especially when they decided to accept an element of culture outside of their culture. The Baduy community that known as nomadic tribes, but their culture system defenses from the influence of other cultures. Including they keep the influence of Islamic law, the Reception that occurs in this community over state power due to factors in the past where they have an agreement with the sultanate of Banten to declare the syahadat when married and fulfill its conditions.
The community of Kampung Naga; as indigenous communities since the beginning is Islam religion, the Islamic law by their Reception is reasonableness. Their legal system that has been influenced by Islamic law to make any joint that is on them is always based on Islamic values. Nevertheless, customary law system they still appear in some sections, even the two into a single circuit can no longer be separated. Acculturation law that occurred in Kampung Naga is unique so that the Islamic law in force has its own characteristics that are different from other communities. Referring to some of the existing literatures that the customarylaw is prevailing in Kampung Naga is an ancient Sundanese law. This is evident from the pattern of government consisting of Kuncen, Punduh and Lebe. This pattern as mentioned in the manuscript of Naskah Siksa Kandang Karesian that the power is divided into three Resi, Rama, and Ratu. Based on these facts, the factors that affect the Reception of Islamic law by the community of Kampung Naga is the existence of internal factors and external factors.
The internal factors that cause Reception of Islamic law by the community of Kampung Naga are a consequence of Islam by their Reception. Their customs are based on Sundanese beliefs with monotheism that understand the basis of their Reception against Islam. In addition, they also see the tradition of Islam is not a religion that threatens the existence of their belief that such Reception easier. Although running slow but recent developments show their uptake of Islamic law should be appreciated.
The external factors by their Reception of Islamic law are the nature of Islam that has high tolerance to the existing customs on them. Islam that came to them was Islam that adoptive and gives space to the customs which they have carried out. They are still allowed to celebrate ngaruwat lembur, visit the tomb of the ancestors, make offerings in the agricultural tradition, burn some incense in ritual is the nature of Islam that they receive that paved their uptake of Islam and its legal system. More than that is a factor that figures to bring Islam itself is the key in this Reception process. Islamic preachers who have a high understanding of Islam has been set Islam in a way that can be accepted by the community that has customs that have survived for generations. The propaganda that built by the preachers makes room for indigenous communities to continue their customs. In fact, they have incorporated Islamic values into the tradition without damaging considered a traditional community customs.
The hegemony of state provide insignificant factor in the process of Reception of Islamic law in Kampung Naga community. Instead it Kampung Naga community which has much influence local and national government policies. When seeing their customs, then we find things that affect it are the duty of obedience to the formal leaders. This obedience does not conflict with the traditional values which they profess, in practice they still provide some sorts of "gift" to the Kuwu and amil in every celebration of Hajat Sasih. Similarly, during the celebration of Indonesian Independence Day in every August 17 they always make Jampana containing crops submitted to the head of the village to the Tasikmalaya regency. The factors of social interaction and the power of the state in Kampung Naga community are their interaction with other communities very limited. In addition, they are maintaining the cultural system of the influence of other cultures. The power of state in this community looks weak even looks at ritual pahajat administration and delivery of the jampana in the Independence Day events. In addition they also have a rule "tatali kumawula ti agama sareng darigama" which means the obligation to adhere to the religious orders and the government.
Based on the exposure it can be concluded under the factors that affect the Reception of Islamic law by the two communities include internal and external factors. The internal factors occur due to the decision of each individual to accept Islamic law, as well as deal with all members of the community. While the external factors are the influence of the other party as the interaction effects, the natural environment, social environment, and the laws of the country that became an agent of change for the two communities.

C. Conclusion
This study found three types of Reception of Islamic law by indigenous communities in Indonesia, namely: The Reception Symbolic Type is Reception of Islamic law on the limits of the symbols of Islam with the implementation of different substances with which to understand Islam. This type makes the terms of Islamic law as part of their customs, in observance of the Islamic terms replaces the terms of the past that exist in their customs. This type of Reception is in Baduy communities, in which are found the terms of Islamic law but different substantially with Islamic law itself. For example syahadat term used is essentially not a syahadat in Islam. The term fasting they do is actually different from the fasting undertaken by Muslims. Similarly Jekat near term zakat in Islamic law was merely giving the property to someone else without pillars and conditions that have been determined by Islamic law. In addition, the term of mahar, iddah, hibah, wasiat and other is merely a symbol is not understood terms in Islam.
Selective-Modified Reception Type is Reception of Islamic law by selecting them according to each individual's interests and communities. If the Islamic law in accordance with their customs it will be accepted, if it does not fit then it will be rejected. The examples of this type is a phenomenon in Kampung Naga, they receive some Islamic law but rejected in part. On the issue of marriage they took it well, but in the matter of inheritance and other muamalah Kampung Naga community rejected and still use custom-traditions. In addition, the laws of Islam that they take will also be aligned (modified) with local values that appear acculturation Islamic law and local customs. This type of Reception is in Kampung Naga community in which they accept Islamic law but in practice be modified and adapted to local values. As an example of the implementation of the wedding in addition must comply with the requirements in harmony and marriage in Islam it must be approved by the local customs so that the implementation is done alternately. Similarly, in the implementation of circumcision, pilgrimage grave, and other life cycle rituals. This type is actually the type more commonly found in Indonesia.
Reception Symbolic-Substantive Type that Islamic law is the total Reception both in terms of its symbols and content. The community that was close to this type resided in coastal area in which they accept and implement Islamic law not only the content but also the term (substance) that implemented. In addition they do not only receive a marriage laws but also implement Islamic law of inheritance and other muamalah. Only on jinayah that they cannot implement because they are not permitted by government regulations.
Based on the three types of Reception of Islamic law by indigenous communities in the three study sites and generally in Indonesia, the writer formulates the theory of Reception Through Selection-Modification is the Reception of Islamic law through the selection and modification. This theory is based on the reality that Islamic law Reception occurs with the selection and modification, indigenous communities will absorb through the selection of Islamic law that is aligned with their customs. If Islamic law is appropriate it will be accepted, if the contrary will be modified and adapted to the implementation of their custom.


References
Abdul Rozak, 2005. Teologi Kebatinan Sunda, Bandung: Kiblat Buku Utama.
Abdullah, Taufik (ed.). 1991. Sejarah Umat Islam Indonesia. Jakarta: Majelis Ulama Indonesia.
Abdullah, Taufik. 1966. Adat dan Islam: an examination of conflict in Minangkabau, Indonesia, No.2, 1-24. 
Adil. 2011. Simboer Tjahaya: Studi Tentang Pergumulan Hukum Islam dan Hukum Adat dalam Kesultanan Palembang Darussalam. Jakarta: Kementerian Agama RI Badan Litbang dan Diklat Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan.
Al-Attas, Naquib. 1997. Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu. Bandung: Mizan.
Ali, Muhammad Daud. 2006. Hukum Islam; Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Islam di Indonesia. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Amrullah, Haji Abdul Karim. 1994. Dari Perbendaharaan Lama, Jakarta: Pustaka Panjimas.
Anderson, J..N.D. 1959. Islamic Law in The Modern World. New York: New York University Press.
Arnold, TW. 1935. The Preaching of Islam, A History of the Propogation of the Muslim Faith. London: Luzac & Company.
Azra, Azyumardi. 2013. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Akar Pembaharuan Islam Indonesia, Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Berthe, Louis. 2006. Aines et cadets L’alliance et la Hierarvhie chez les baduj (Java Occidentale, terj. Judistira K. Garna, Kakak Sulung Adik Bungsu: Kerabat Perkawinan dan Hirarki Pada orang Baduy Jawa Barat. Bandung: Primaco Akademika dan Judistira Garna Foundation.
Broom, Leonard dan Philip Selznick. 1961. Sociology: A Text with adaptive reading, Evenston, Illionis: Row Peterson and Company.
C.M. Pleyte. 2006. Arca Domas: Tanah Persemayaman Roh Orang Baduy, terj. Judistira K. Garna. Bandung: Primaco Akademika dan Judistira Garna Foundation. 
Coedes, George. 2010. Asia Tenggara Masa Hindu-Budha, penerjemah: Winarsih Partaningrat Arifin. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Ekadjati, Edi S, 2009. Kebudayaan Sunda: Suatu Pendekatan Sejarah, Jakarta: Pustaka Jaya.
Garna, Judistira K. 1987. Orang Baduy, Malaysia: Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia.
Garna, Judistira K. 1988. “Tangtu Telu Jaro Tujuh: Kajian Struktural Masyarakat Baduy di Banten Selatan Jawa Barat Indonesia”, Disertasi Ph.D. Malaysia: Universiti Kebangsaan Malaysia. 
Geise, NJ. 1952. Baduys en Moslems in Lebak Parahiangan, Zuid Banten, Belanda: Leiden  University.  Draft terjemah oleh Judistira K. Garna. 1989. Baduy dan Muslim di Lebak Parahiang, Bandung: Fakultas Pascasarjana Universitas Pajajaran.
George Ritzer, 2010. Sociological Theory, New York: The Mcgraw-Hill Companies, Inc.
Gibb, H.A.R. 1950. The Modern Trends in Islam. Chicago: The University of Chicago Press.
Al-Haddad, Alwi Ibnu Thahir. 2001. Sejarah Masuknya Islam di Timur Jauh, Jakarta: Lentera.
Hazairin, 1985. Tujuh Serangkai tentang Hukum. Jakarta: Bina Aksara.
Iskandar, Johan dan Budiawati S. Iskandar. 2011. Agroekosistem Orang Sunda. Bandung: PT. Kiblat Buku Utama.
Jacobs, Julius. 2012, De Badoej’s, terj. Judistira K. Garna, Orang Baduy dari Banten. Bandung: Primaco Akademika dan Judistira Garna Foundation.
Jones, Pip. 2010. Pengantar Teori-teori Sosial. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Kahmad, Dadang. 2009. Sosiologi Agama. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. 
Koentjaraningrat. 2007. Sejarah Teori Antropologi II. Jakarta: UI Press.
Kong, Yuanzhi. 2000. Muslim Tionghoa Cheng Ho: Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Kurnia, Asep dan Ahmad Syihabudin. 2010. Saatnya Baduy Bicara. Jakarta: Bumi Aksara dan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Lubis, Nina H. Tradisi dan Transformasi Sejarah Sunda. Bandung: Humaniora Utama Press.
Lukito, Ratno. 1998. Pergumulan Antar Hukum Islam dan Adat di Indonesia. Jakarta: Indonesian-Netherlands Cooperation in Islamic Studies.
M.C. Ricklefs, A History of Modern Indonesia Since C. 1300, California: Stanford. 
Malise Ruthven, Azim Nanji, 2004. Historical Atlas of Islam, USA: Harvard University Press.
Miles, Matthew B. dan A. Michael Huberman. 2009. Analisis Data Kualitatif. Jakarta:  UI Press.
Mulyani, Sri. 2006. Tasawuf Nusantara. Jakarta: Kencana.
Mustapa, H. Hasan. 2010. Adat Istiadat Sunda. Bandung: Penerbit Alumni.
Nasution, Harun. 2009. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya Jilid I dan II. Jakarta: UI Press.
Neuman, Lawrence W. 2003. Social Research Methods Qualitative and Quantitative Approach. United States of America: A&B.
Permana, R. Cecep Eka. 2010. Kearifan Lokal Masyarakat Baduy dalam Mitigasi Bencana. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.
Peter Connolly (edit). 2011. Aneka Pendekatan Studi Agama. Yogyakarta: LKiS.
Praja, Juhaya S. 2011. Teori Hukum dan Aplikasinya. Bandung: Pustaka Setia.
Pujiono. 2012. Hukum Islam dan Dinamika Perkembangan Masyarakat: Menguak Pergeseran Perilaku Kaum Santri. Yogyakarta: Mitra Pustaka dan STAIN Jember,
Al-Qurtuby, Sumanto. 2003. Arus China-Islam-Jawa: Bongkar Sejarah atas Peranan Tionghoa dalam Penyebaran Agama Islam di Nusantara Abad XV dan XVI. Yogyakarta: Inspeal Ahimsa karya Press. 
Rahmat Subagya, 1981. Agama Asli Indonesia, Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka.
Rosidi, Ajip. 2011. Kearifan Lokal dalam Perspektif Budaya Sunda, Bandung: Kiblat Buku Utama.
Ruthven, Malise dan Azim Nanji. 2004. Historical Atlas of Islam. USA: Harvard University Press.
Schacht, Joseph. 1982. An Introduction To Islamic Law, Clarendon Press Oxford University.
Shabana, Ayman. 2010, Custom in Islamic Law and Legal Theory: The Development of the Concepts of Urf and ‘Adah in the Islamic Legal Tradition. New York: Palgrave Macmillan of St. Martin’s Press.
Sodiqin, Ali. 2008. Anthropologi Al-Quran: Model Dialektika Wahyu dan Budaya. Jogjakarta: Ar-Ruzz.
Soekanto, Soerjono. 2003. Hukum Adat Indonesia. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.
Soepomo, R. 2000. Bab-bab Tentang Hukum Adat. Jakarta: Pradnya Paramitha. 
Sunyoto, Agus. Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan, Jakarta: Trans Media.
Suprayogo, Imam dan Tobroni. 2001. Metodologi Penelitian Sosial Agama. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.. 
Suryani, Elis. 2008. Merumat Warisan Karuhun Orang Sunda. Bandung: Alqa Print
Syam, Nur. 2005. Islam Pesisir. Yogyakarta:  LKIS.
Thalib, Sajuti. 1985. Receptio a Contrario: Hubungan Hukum Adat dengan Hukum Islam. Jakarta: Bina Aksara.
Turner, Jonathan H. 1974. The Structure of Sociological Theory, Illinois: The Dorsey Press.
Uways, Abdul Halim. 1998. Al-Fiqh Al-Islami Baina Tathawur wal Itsbat, terjemah: Fiqh Statis Fiqh Dinamis. Bandung: Pustaka Hidayah.
Van Leur, J. C. 1960. Indonesian Trade and Society. Bandung: Sumur Bandung.
Zulkifi. 2009. The Struggle of the Shi’is in Indonesia. Belanda: Leiden University.
Interview with Jaro Dainah (52) from Outer Baduy
Interview with Jaro Sami (55) from Inner Baduy
Interview with Ayah Mursyid (45) from Kampung Cibeo Inner Baduy
Interview with Kuncen Ade Suherlin (50) The Leader of Kampung Naga
Interview with Punduh Maun (65) The older village of Kampung Naga




Catatan Penulis

1.      Nama disingkat saja juga boleh yaitu: Abdurrahman Misno BP
2.      Terjemahan sudah bagus, jadi sudah cukup
3.      Saya tidak keberatan dengan pembacaan dari editor bahkan bagi saya sangat membantu.
4.      Silahkan diterbitkan di Jurnal
5.      Ini kontak saya 085885753838


* Lecturer at Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Hidayah Bogor and Tazkia University College of Islamic Economic, lecturing in Antropologi Hukum Islam and History of Islamic Civilization.
[1] M.C. Ricklefs, A History of Modern Indonesia Since C. 1300, (California: Stanford University Press, 1993), p. 3
[2] Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad XVII dan XVIII, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013), p. 2-3.
[3] TW Arnold, The Preaching of Islam, A History of the Propogation of the Muslim Faith, (London: Luzac & Company, 1935).  p. 363.
[4] Malise Ruthven, Azim Nanji, Historical Atlas of Islam, (USA: Harvard University Press, 2004), p. 106-107
[5] J. C. Van Leur, Indonesian Trade and Society, (Bandung: Sumur Bandung, 1960), p. 91.
[6] Yuanzhi Kong, Muslim Tionghoa Cheng Ho: Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia), p. 230.
[7] Azyumardi Azra, “Islam di Asia Tenggara: Pengantar Pemikiran” dalam Azyumardi Azra (peny.) Perspektif Islam di Asia Tenggara, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1989), p. xiv.
[8] Fazlur Rahman dan Ebrahim Moosa, Gelombang Perubahan dalam Islam: Studi tentang Fundamentalisme Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000), p. 5.  
[9] Taufik Abdullah, Adat dan Islam: an examination of conflict in Minangkabau, Indonesia, No.2, 1-24. Lihat pula Taufik Abdullah (editor), Sejarah dan Masyarakat (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1987), p. 117.  
[10] Sartono Kartodirjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900 Dari Emperium Sampai Imperium, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1988), p. 377.
[11] Zulkifi, The Struggle of the Shi’is in Indonesia, (Belanda: Leiden University, 2009).
[12] Nur Syam, Islam Pesisir, (Yogyakarta:  LKIS, 2005), p. 10.
[13] Agus Sunyoto, Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan, (Jakarta: Trans Pustaka, 2011). 
[14] Adil, Simboer Tjahaya: Studi tentang Pergumulan Hukum Islam dan Hukum Adat dalam Kesultanan Palembang Darussalam (Jakarta: Puslitbang Lektur Khazanah Keagamaan Kemenag RI, 2011), p. 89.
[15] Redfield, Robert. 1956. Peasant Society and Culture: An Anthropological Approach to Civilization. (Chicago and London: The University of Chicago Press).
[16] Daniel S. Lev. Islamic Courts in Indonesia terjemah oleh Zaini Ahmad Noeh Peradilan Agama Islam di Indonesia (Jakarta: Penerbit Intermasa, 1986) cet. II, p. 20-21.
[17] Look at devinition of Islamic Law; Muhammad Daud Ali, Hukum Islam: Pengantar Ilmu Hukum dan Hukum Tata Islam di Indonesia  (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2006), p. 42.
[18] Nursyams, Islam Pesisir, p. 15.
[19] Interview with Hasan Alaidrus on March 2013.
[20] Interview with Jaro Dainah, The Head tribe of Baduy at December 2013.
[21] Interview with Punduh Maun, The Older of Kampung Naga at August 2013.