Tampilkan postingan dengan label Dunia Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Islam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Maret 2023

Dunia Memerlukan Islam

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri

 


Islam, agama yang didirikan oleh Nabi Muhammad di Makkah pada abad ke-7, telah menjadi agama global yang tersebar di seluruh dunia. Berdasarkan data dari Pew Research Center, sekitar 1,8 miliar orang di seluruh dunia mengidentifikasi diri mereka sebagai Muslim. Oleh karena itu, urgensi Islam bagi dunia tidak dapat diabaikan.

Pertama-tama, Islam memiliki kontribusi besar dalam mengembangkan peradaban manusia. Selama Abad Kejayaan Islam, yang dimulai pada abad ke-7 dan berlangsung hingga abad ke-13, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat. Muslim terkenal sebagai penemu dan pencipta berbagai penemuan, seperti kertas, bedak, aljabar, dan banyak lagi.

Kedua, Islam memiliki peran penting dalam menjaga perdamaian dan harmoni antar umat manusia. Islam mengajarkan nilai-nilai seperti kesederhanaan, toleransi, dan kasih sayang. Dalam banyak konflik di seluruh dunia, pemimpin Muslim telah berperan aktif untuk memediasi dan mencari solusi damai.

Ketiga, Islam juga memiliki peran penting dalam membentuk identitas dan kesadaran umat manusia. Islam adalah agama yang sangat terorganisir dan mempunyai aturan dan norma yang jelas. Oleh karena itu, Islam dapat menjadi penghubung antara umat manusia yang berbeda budaya dan latar belakang.

Keempat, Islam memiliki peran penting dalam mempromosikan keadilan sosial. Konsep zakat dalam Islam, yaitu memberikan sedekah kepada orang yang membutuhkan, dapat membantu mengurangi kesenjangan sosial dan memastikan bahwa kebutuhan dasar setiap individu terpenuhi.

Kelima, Islam juga memberikan perhatian khusus pada kesehatan fisik dan spiritual. Islam mengajarkan nilai-nilai seperti menjaga kesehatan, menghindari perilaku merusak, dan melakukan kegiatan fisik. Selain itu, Islam juga mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan spiritual, seperti melalui shalat dan berpuasa.

Keenam, Islam juga memiliki kontribusi besar dalam bidang seni dan budaya. Seni Islam memiliki karakteristik yang unik dan dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, seperti arsitektur, kaligrafi, dan seni rupa. Seni dan budaya Islam telah mempengaruhi seni dan budaya di seluruh dunia.

Ketujuh, Islam mengajarkan nilai-nilai seperti rasa hormat dan penghargaan terhadap orang tua dan keluarga. Keluarga merupakan unit dasar dalam Islam, dan Islam mengajarkan pentingnya membentuk keluarga yang harmonis dan stabil.

Kedelapan, Islam juga memberikan perhatian khusus pada hak-hak perempuan. Islam mengajarkan bahwa perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama dalam segala hal, termasuk hak atas pendidikan dan pekerjaan. Selain itu, Islam juga mengajarkan perlunya menjaga martabat dan kehormatan perempuan.

Kesembilan, Islam juga memiliki peran penting dalam memperkuat moral dan etika dalam kehidupan manusia. Islam mengajarkan nilai-nilai moral seperti kejujuran, kepercayaan, kesabaran, dan belas kasih. Dalam kehidupan sehari-hari, nilai-nilai tersebut dapat membantu individu untuk menjadi pribadi yang baik dan bertanggung jawab.

Kesepuluh, Islam juga mengajarkan pentingnya menjaga lingkungan hidup. Muslim diwajibkan untuk menjaga lingkungan dan hewan, serta menghindari perilaku yang merusak lingkungan. Hal ini sesuai dengan kebutuhan dunia saat ini yang semakin sadar akan pentingnya menjaga lingkungan hidup.

Kesebelas, Islam juga memiliki peran penting dalam bidang pendidikan. Muslim di seluruh dunia menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama, dan banyak lembaga pendidikan Islam terkenal di seluruh dunia. Islam juga mengajarkan nilai-nilai seperti kecintaan pada ilmu pengetahuan dan pembelajaran seumur hidup.

Keduabelas, Islam juga memiliki peran penting dalam mempromosikan perdamaian dan mengurangi konflik di dunia. Muslim di seluruh dunia telah berperan aktif dalam upaya perdamaian, seperti yang terlihat dalam upaya penyelesaian konflik Israel-Palestina.

Ketigabelas, Islam juga mengajarkan pentingnya menjaga hubungan yang baik dengan tetangga. Islam mengajarkan bahwa tetangga harus diperlakukan dengan baik dan harus membantu mereka dalam waktu kesulitan. Hal ini dapat membantu dalam membangun hubungan yang baik antara umat manusia.

Keempatbelas, Islam juga memiliki peran penting dalam mempromosikan perdamaian antar agama. Islam mengajarkan bahwa semua agama memiliki nilai-nilai yang sama dan harus saling menghormati. Hal ini dapat membantu mengurangi konflik antar agama di seluruh dunia.

Kelima belas, Islam juga memiliki kontribusi besar dalam bidang ekonomi. Islam mengajarkan nilai-nilai seperti keadilan dan kesetaraan dalam perdagangan, serta memberikan pedoman tentang cara mengelola uang secara bijaksana.

Keenambelas, Islam juga mengajarkan pentingnya berkontribusi pada masyarakat. Muslim di seluruh dunia telah berperan aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan, seperti memberikan bantuan kemanusiaan dalam bencana alam dan membantu orang yang membutuhkan.

Ketujuhbelas, Islam juga mengajarkan pentingnya menjaga perdamaian dalam keluarga dan masyarakat. Islam mengajarkan bahwa konflik dalam keluarga dan masyarakat dapat dihindari dengan cara berkomunikasi yang baik dan mencari solusi bersama.

Kedelapanbelas, Islam juga memberikan perhatian khusus pada hak asasi manusia. Islam mengajarkan bahwa semua manusia memiliki hak yang sama dan harus diperlakukan dengan adil dan setara, tanpa memandang latar belakang atau agama mereka.

Kesembilanbelas, Islam juga memberikan perhatian khusus pada kebahagiaan dan kesejahteraan individu. Islam mengajarkan bahwa individu harus mencari kebahagiaan dan kesejahteraan dalam hidup mereka, dan memastikan bahwa kebahagiaan tersebut tidak merugikan orang lain atau masyarakat.

Keduapuluh, Islam juga memiliki peran penting dalam membentuk sistem pemerintahan yang adil dan demokratis. Islam mengajarkan bahwa pemerintah harus dipimpin oleh orang yang adil dan jujur, serta mengutamakan kepentingan masyarakat.

Dalam kesimpulannya, Islam memiliki urgensi yang besar bagi dunia. Islam mengajarkan nilai-nilai moral yang dapat membantu individu menjadi pribadi yang baik dan bertanggung jawab. Islam juga memiliki peran penting dalam mempromosikan perdamaian dan menjaga hubungan yang baik antara umat manusia. Selain itu, Islam juga memberikan perhatian khusus pada pendidikan, ekonomi, hak asasi manusia, dan sistem pemerintahan yang adil dan demokratis.

Dalam era globalisasi dan modernisasi seperti saat ini, penting bagi kita untuk memahami urgensi Islam bagi dunia. Dalam menghadapi tantangan dan masalah dunia saat ini, nilai-nilai Islam dapat membantu kita menemukan solusi yang tepat dan mengatasi masalah dengan cara yang benar dan bijaksana.

Oleh karena itu, kita harus mempelajari Islam dengan baik dan mempraktekkan nilai-nilai yang diajarkan oleh agama ini. Dengan cara ini, kita dapat berkontribusi pada perdamaian dan kemajuan dunia, serta menciptakan dunia yang lebih baik dan lebih damai untuk kita semua. Wallahua’lam, ChatGPT03122023.

Selasa, 07 Maret 2023

Islam Membuat Hidup lebih Mudah dan Indah

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri

 


Islam, sebagai satu-satunya agama yang diterima oleh Allah Ta’ala memiliki dampak yang sangat besar pada kehidupan pada pemeluknya. Sebagai muslim kita harus percaya bahwa Islam dapat membuat hidup menjadi lebih indah dan bermakna. Berikut adalah beberapa cara bagaimana Islam dapat mempengaruhi hidup seseorang:

1.     Memberikan Tujuan Hidup yang Jelas

Islam memberikan pandangan tentang tujuan hidup manusia, yaitu untuk menyembah Allah Ta’ala dan mencapai kebahagiaan di dunia dan juga kebahagiaan abadi di akhirat. Tujuan ini memberikan arti yang lebih besar pada hidup seseorang dan membantu mereka menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.

2.     Meningkatkan Kualitas Kehidupan

Islam mendorong umatnya untuk hidup dengan cara yang baik dan benar. Hal ini termasuk menjaga kesehatan, menjalin hubungan yang sehat dengan orang lain, dan menghindari perilaku yang merugikan diri sendiri dan orang lain.

3.     Memberikan Panduan Moral yang Jelas (Akhlak)

Islam memberikan panduan moral yang jelas dalam segala aspek kehidupan. Hal ini membantu seseorang untuk berperilaku dengan baik dan berbuat kebaikan kepada orang lain. Panduan moral dalam Islam termasuk hal-hal seperti menghormati orang tua, menolong sesama manusia, menghindari kekerasan, dan berbicara dengan kata-kata yang baik.

4.     Memberikan Rasa Ketenangan dan Ketenangan Batin

Islam mendorong umatnya untuk berdoa dan beribadah secara teratur. Hal ini membantu seseorang untuk mencari ketenangan dan ketenangan batin dalam kehidupan sehari-hari. Berdoa dan beribadah juga membantu seseorang untuk memfokuskan perhatiannya pada hal-hal yang penting dan menghindari kecemasan dan stres.

5.     Memberikan Perasaan Komunitas dan Persatuan

Islam merupakan agama yang menghargai nilai-nilai persatuan dan kebersamaan. Hal ini membantu umat Muslim untuk merasa terikat dengan sesama Muslim dan merasa memiliki peran penting dalam masyarakat. Kehadiran komunitas Muslim juga memberikan dukungan dan bantuan bagi individu ketika mereka menghadapi kesulitan.

 

Maka keismpulannya adalah bahwa Islam memiliki dampak yang sangat besar pada kehidupan manusia, memberikan panduan moral, nilai-nilai etika, dan tujuan hidup yang jelas. Hal ini dapat membuat hidup seseorang lebih indah dan bermakna.

Kamis, 09 Februari 2023

Mengatasi Rasa Putus Asa

 By: https://chat.openai.com/

 


"Rasa putus asa" adalah perasaan kehilangan harapan dan keyakinan bahwa situasi akan membaik. Ini adalah perasaan yang umum dialami oleh banyak orang dan dapat mempengaruhi kesehatan mental dan fisik. 

Untuk mengatasi rasa putus asa, beberapa cara yang dapat dilakukan adalah:

1. Menjaga harapan realistis: berfokus pada hal-hal positif dan memperkecil harapan yang tidak realistis akan membantu mengatasi rasa putus asa.

2. Berkomunikasi dengan orang lain: berbicara dengan teman atau keluarga dapat membantu mengatasi perasaan dan memperoleh dukungan.

3. Mencari bantuan profesional: jika perasaan putus asa sulit dikendalikan, bantuan dari profesional seperti psikolog dapat membantu.

4. Menjaga kesehatan: menjaga pola hidup sehat, seperti berolahraga dan memiliki pola tidur yang baik, dapat membantu mengatasi rasa putus asa.

5. Melakukan kegiatan yang menyenangkan: melakukan kegiatan yang menyenangkan, seperti berkumpul dengan teman, membaca, atau berolahraga, dapat membantu mengatasi perasaan negatif.

Ingatlah bahwa rasa putus asa adalah perasaan yang sementara dan dapat dikendalikan dengan bantuan dan dukungan yang tepat.

 

Catatan oleh Misno

Islam memandang bahwa rasa putus asa adalah tabiat dari manusia, namun ia harus dilawan karena tidak sesuai dengan maqashid syariah (maksud dan tujuan syariah), salah satunya adalah menjaga akal manusia agar selalu berada pada posisi yang nyaman dan aman sebagaimana tujuan dari adanya agama Islam. Wallahua’lam, 09022023.

 

Rabu, 01 Februari 2023

Jangan Cari Penyakit di Media Sosial

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri

 


Manusia dengan segala potensi yang ada selalu melakukan hal-hal yang dapat memenuhi kebutuhan dirinya, baik kebutuhan material dan spiritual. Upaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya terkadang tidak memedulikan aturan agama dan budaya, sehingga yang terjadi adalah kerusakan baik untuk dirinya sendiri ataupun orang lainnya. Bagaimana jika kerusakan yang terjadi karena pemenuhan kebutuhan terkait dengan hasrat dan gejolak raga manusia?

Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa manusia selalu berupaya memenuhi semua kebutuhannya, termasuk kebutuhan hasrat biologis yang begitu kuat bergejolak di raga. Ia akan mencari obyek yang dapat memenuhi kebutuhannya, dan agama telah memberikan solusi yang sangat mulia yaitu memiliki pasangan dari jenis manusia lainnya. Sayangnya ada seribu satu sebab yang menjadikan kadang-kadang  salah satu dari pasangan memenuhi kebutuhan biologisnya di luar yang sudah ditetapkan. Apalagi dengan media sosial yang menyediakan semaunya, maka dengan mudah setiap orang untuk mencari apa yang dia inginkan.

“Jangan Cari Penyakit”, adalah sebuah kata yang menggambarkan nasehat seorang teman yang memahami kekurangan kita karena terkadang masih mencari kepuasan lain di luar sana khususnya melalui media sosial. Sayangnya saat ini memang banyak manusia baik muda maupun tua yang telah terjerat ke dunia media sosial, sehingga mereka sangat betah berlama-lama di sana. Apalagi jika apa yang dia cari memang ada di sana, tersedia kapan saja, dan berbagai sajian yang memberikan kepuasan jiwa dan raga.

“Jangan Cari Penyakit”, bermakna mencari-cari hal-hal yang dapat memuaskan raga tanpa melihat efek negatif darinya. Berbagai penyakit lahir ataupun batin adalah sebab dari upaya yang dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhannya tanpa melihat etika agama dan budaya. Belum lagi candu yang mengakibatkan ia terjerat dengan kepuasan sementara padahal masih banyak hal lain yang bisa dilakukannya. Belum lagi membuang waktu sia-sia di depan media sekadar memuaskan segala keinginannya.

“Jangan Cari Penyakit”, gunakanlah media sosial sesuai dengan fungsinya, melandasinya dengan iman dan takwa serta menjadikannya sebagai media dalam menyebarkan kebaikan dan mencegah perbuatan yang mungkar secara agama dan budaya. Faktanya, walaupun kita tidak berniat mencari-cari sesuatu yang tidak baik di media sosial, faktanya ia juga datang tanpa diundang apalagi dengan rumus al-goritma setiap yang kita klik akan diperhitungkan dan menjadi analisis untuk menghadirkan berbagai tayangan yang diprediksi sesuai dengan selera kita. Maka berhati-hatilah dan menyukai (like) atau mengklik sesuatu karena akan menjadi boomerang bagi kita.

“Jangan Cari Penyakit”, karena tanpa dicaripun ia akan datang di media sosial kita. Maka solusinya adalah kuatkan iman dan takwa serta berdoa agar kita mampu menggunakan media sosial dengan bijak sehingga dapat menghantarkan kita ke dalam surgaNya. Wallahu a’lam, 01022023.

Selasa, 31 Januari 2023

Bukan Burung Beo yang Bisa Membaca Al-Qur’an

Oleh: Misno Mohd Djahri

 


Allah Ta’ala telah menciptakan alam semesta dan segala yang ada di dalamnya tidaklah sia-sia, ada hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dari mereka oleh manusia sebagai makluk paling mulia. Salah satu dari ciptaan Allah Ta’ala yang memiliki keistimewaan adalah burung yang mampu “berbicara” atau meniru suara manusia, diantaranya ada burung beo, parkit, nuri kepala hitam, beo amazon (amazon parrot), bayan quaker a.k.a parkit, parkit bergaris merah (rose-ringed parkeet), Parrot (Kakatua) abu-abu Afrika, blu front amazon, yellow-cromned amazon, yellow-naped amazon serta beberapa burung lainnya. Burung yang paling populer adalah burung beo yang mampu menirukan kata-kata yang diucapkan oleh manusia. Bahkan beberapa dari burung itu mampu menirukan bacaan al-Qur’an.

Namun tentu saja ucapan kata, kalimat hingga bacaan yang dikeluarkan oleh burung beo tidaklah sejelas yang diucapkan oleh manusia. Lebih dari itu adalah burung-burung itu tidak memahami apa yang diucapkannya baik dari kata, kalimat juga ayat al-Qur’an. Mereka dan mengeluarkan kata-kata yang baik seperti al-Qur’an, tetapi tidak mengetahui dan memahami arti dan maknanya.

Inilah yang terjadi pada sebagian umat Islam, di mana mereka membaca al-Qur’an ataupun hadits Nabi tetapi tidak mengetahui arti dan maknanya. Tidak jauh berbeda dengan burung beo dan yang sejenisnya di mana burung-burung itu mampu melafadzkan sebuah kata dan ucapan tetapi tidak mengetahui arti dan maknanya. Maka, umat Islam bukan burung beo yang bisa menirukan ayat-al-Qur’an tetapi tidak tahu arti dan maknanya. Bukan pula muslim yang mampu membaca al-Qur’an tetapi juga tidak tahu makna yang dibacanya.

Padahal jelas sekali Allah Ta’ala telah berfirman:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” QS. Shad: 29.

Pelajaran dari ayat-ayat al-Qur’an yang dibaca adalah dengan mengetahui artinya serta memahami maknanya. Bukan hanya membaca tapi tidak paham maknanya, sehingga bagaimana mungkin seorang muslim mendapatkan pelajaran jika ketika membaca al-Qur’an tidak paham maknanya.

Faktanya masih banyak umat Islam yang membaca al-Qur’an baik di dalam shalat dan di luarnya yang tidak paham apa yang dibacanya. Padahal ini menjadi hal penting agar seorang muslim yang membaca al-Qur’an mendapatkan pelajaran dari apa yang dibacanya. Bagaimana solusinya?

Pertama, pastikan dulu bahwa setiap muslim mampu membaca al-Qur’an dalam makna mengeja huruf-huruf yang ada di dalam mushaf. Keutamaannya sangat banyak, sebagaimana riwayat dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Siapa yang membaca satu huruf dari al-Quran maka dia mendapat satu pahala. Dan setiap pahala itu dilipatkan menjadi 10 kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf, tapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf. HR. Turmudzi.

Setelah mampu untuk membaca al-Qur’an dalam Bahasa Arab, selanjutnya adalah belajar Bahasa Arab sebagai Bahasa al-Qur’an, agar ia dapat memahami secara langsung ayat-ayat di dalam al-Qur’an. Apabila ia belum mampu maka dapat membaca terjemahannya sehingga tahu artinya secara Bahasa, walaupun hal ini juga harus berhati-hati jangan sampai terjemahan yang digunakan tidak tepat. Apabila ingin lebih mendalam maka bacalah tafsir dari ayat-ayat al-Qur’an tersebut dari buku-buku (kitab) tafsir yang mu’tabar dan bisa dipertanggungjawabkan. Tentu saja bimbingan dari seorang guru menjadi sebuah keniscayaan dalam memahami ayat-ayat al-Qur’an.

Walaupun demikian, Imam As-Shan’ani pernah menyatakan,

إن فهم كثير من الآيات والأحاديث بمجرد قرعها الأسماع لا يحتاج إلى علم النحو ولا الأصول، فترى العامة يسمعون القرآن فيفهمونه بل ربما كان أثره في قلوبهم أعظم من المجتهدين

Memahami kandungan umum dari ayat al-Quran dan hadis ketika pertama mendengar, tidak butuh ilmu nahwu dan ushul fiqh. Anda bisa lihat, masyarakat awam mendengar al-Quran dan mereka bisa memahaminya. Bahkan bisa jadi pengaruh dalam hatinya lebih besar dibandingkan yang terjadi para ulama mujtahid.

Maka, bagi umat Islam janganlah seperti burung beo yang mampu menirukan atau membaca ayat-ayat al-Qur’an tetapi tidak memahami arti dan maknanya. Wallahua’lam, 31012023.

Kamis, 19 Januari 2023

Hanya Orang Kerdil yang Tidak Mensyukuri Nikmat Bisa Buang Air Kecil

Oleh: Misno Mohamad Djahri


 

Hari ini saya berkunjung ke seorang kawan yang diberikan cobaan oleh Allah Ta’ala berupa sakit gagal ginjal. Bukan hanya satu tetapi dua ginjalnya sekaligus sudah tidak bisa berfungsi, sehingga tiga kali dalam sepekan harus cuci darah di rumah sakit. Syukurnya kawan ini adalah orang yang mengerti dan paham agama, lulusan dari univesitas al-Azhar Mesir yang saat juga menjadi pembina sebuah pesantren di Kawasan Bogor Barat. Sejatinya sudah hampir satu tahun beliau sakit dan harus melakukan cuci darah yang awalnya hanya dua kali dalam sepekan, kini harus menjalani tiga kali ditambah satu penyakit lagi yaitu Hepatitis C yang beliau derita.

Berbincang dengan beliau maka mengingatkan pada satu nikmat yang kelihatannya sepele yaitu buang air kecil atau pipis. Beliau sempat menjawab “Ya, saat ini sudah tidak bisa buang air kecil (pipis) secara normal lagi”, “Cairan air seni itu menyerap ke dalam tubuh apabila tidak segera dikeluarkan melalui bantuan dari tenaga medis” terang beliau Panjang lebar. Ya… nikmat dalam bentuk bisa buar air kecil adalah nikmat yang kelihatannya kecil, padahal itu adalah sebuah kenikmayan yang tidak bisa dinilai dengan uang. Cairan air seni yang berupa kotoran apabila tidak bisa dikeluarkan akan menjadi penyakit dan tentu saja kemudharatan yang akan terjadi pada orang tersebut.

Belajar dari kisah beliau ini maka kita diingatkan dengan nikmat masih bisa buang air kecil dengan normal sesuai dengan penciptaan manusia. Ia masuk ke dalam nikmat kesehatan yang memang kebanyakan manusia tidak lalai (sering lupa) darinya. Sebagaimana riwayat dari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam di mana beliau bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. HR. Bukhari.

Ibnu Baththal menyatakan, ”Seseorang tidaklah dikatakan memiliki waktu luang hingga badannya juga sehat. Barangsiapa yang memiliki dua nikmat ini (yaitu waktu senggang dan nikmat sehat), hendaklah ia bersemangat, jangan sampai ia tertipu dengan meninggalkan syukur pada Allah atas nikmat yang diberikan. Bersyukur adalah dengan melaksanakan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan Allah. Barangsiapa yang luput dari syukur semacam ini, maka dialah yang tertipu.”

Ibnul Jauzi menyatakan, ”Terkadang manusia berada dalam kondisi sehat, namun ia tidak memiliki waktu luang karena sibuk dengan urusan dunianya. Dan terkadang pula seseorang memiliki waktu luang, namun ia dalam kondisi tidak sehat. Apabila terkumpul pada manusia waktu luang dan nikmat sehat, sungguh akan datang rasa malas dalam melakukan amalan ketaatan. Itulah manusia yang telah tertipu (terperdaya).”

Merujuk pada riwayat dan pendapat para ulama tersebut maka dapat dipahami bahwa sudah selayaknya kita bersyukur dengan segala kenikmatan yang telah Allah Ta’ala berikan kepada kita. Termasuk nikmat yang kelihatannya sangat kecil yaitu nikmat bisa buang air kecil (pipis) dengan normal. Karena banyak sekali orang di luar sana yang menderita sakit ginjal sehingga ginjalnya tidak bisa digunakan dan efeknya adalah tidak bisa buang air kecil (pipis) secara normal.

Cara untuk mensyukuri nikmat ini adalah dengan meyakini bahwa kenikmatan tersebut datang dari Allah Ta’ala yang telah menciptakan setiap bagian tubuh manusia yang berguna. Kemudian mengucapkan rasa syukur dengan hamdalah yaitu Alhamdulillah wa syukru lillah serta menggunakan kenikmatan tersebut di jalan Allah Ta’ala.

Semoga kita termasuk orang-orang yang bersyukur dalam seluruh kenikmatan, termasuk kenikmatan yang kelihatannya kecil seperti nikmat dapat buang air kecil (pipis). Wallahu a’alam. 19012023.


Jumat, 13 Januari 2023

“Alhamdulillah” Saya Tertimpa Musibah

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri

 


Membaca judul tulisan ini mungkin pembaca akan langsung berkomentar “Masa tertimpa musibah kok mengucapkan Alhamdulillah (Segala Puji Bagi Allah)?”. Tunggu dulu, boleh saja berpendapat seperti itu karena pada hakikatnya musibah di mata manusia adalah sesuatu yang sangat menyakitkan, dari tertusuk duri kecil di jalan hingga kehilangan harta benda atau sanak saudara untuk selamanya. Namun, tahukah anda bahwa sejatinya ada pahala di setiap musibah yang ada?

Kita awalai dengan tadabur firman Allah Ta’ala:

وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِين

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah ingin memberi bukti kebenaran kepada beriman (dengan orang-orang kafir) dan menjadikan sebagian di antara kalian sebagai syuhada’. Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim” QS. Ali Imran: 140.

Sebab turunnya ayat ini adalah dalam peristiwa perang Uhud di mana umat Islam pada waktu itu mengalami kekalahan dan kehancuran, bahkan dalam salah satu riwayat Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam juga terluka dan gigi beliau patah. Makna lebih luas dari ayat ini adalah bahwa kejayaan dan kehancuran itu adalah sunatullah yang dipergilirkan di antara manusia agar membuktikan keimanannya kepada Allah Ta’ala.

Kesenangan dan kesedihan, anugerah dan musibah dipergilirkan di antara manusia sebagai sebuah fitnah, apakah mereka akan bersyukur ketika anugerah datang atau malah berlaku sombong. Demikian pula apakah manusia akan bersabar ketika musibah datang menerpa atau malah berkeluh kesah dan menyalahkan takdir Allah Ta’ala?. Jawabannya adalah bahwa musibah yang menimpa manusia adalah kuasaNya untuk melihat apakah manusia akan bersabar atau kufur dengan segala nikmatNya.

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Wahai manusia, Kami akan menguji kalian dengan kesempitan dan kenikmatan, untuk menguji iman kalian. Dan hanya kepada Kamilah kalian akan kembali” QS. Al-Anbiya: 35.

Seorang muslim harus meyakini, bahwa musibah yang menimpa kita bisa jadi itu adalah baik bagi kita, dan ianya akan menjadi ladang pahala ketika kita sabar dengannya. Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:

ليس أحد إلا وهو يفرح ويحزن، ولكن اجعلوا الفرح شكراً والحزن صبر

“Setiap insan pasti pernah merasakan suka dan duka. Oleh karena itu, jadikanlah sukamu adalah syukur dan dukamu adalah sabar.”

Tentu saja kesabaran ini akan berbuah kepada kebaikan, sebagaimana sabda beliau selanjutnya:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا ، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu keletihan dan penyakit (yang terus menimpa), kehawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya. HR. Bukhari.

Merujuk pada riwayat ini maka jelas sekali bahwa musibah yang menimpa kita adalah sarana untuk menghapus segala dosa dan kesalahan yang telah dilakukan. Ketika dosa dan kesalahan sudah terhapuskan dan musibah itu masih ada maka akan mengangkat derajatnya di sisi Allah Ta’ala dan mendapatkan kebahagiaan luar biasa dari musibah yang menimpa.

Jika demikian adanya, maka perspektif kita mengenai musibah haruslah dirubah yaitu bahwa musibah itu adalah fitnah (cobaan) dari Allah Ta’ala agar kita bersabar dan dengan kesabaran itu kita akan mendapatkan banyak sekali pahala dan kebaikan. Sampai di sini masih mengeluh dengan musibah yang menimpa? Wallahu’alam. 13012023.

Senin, 09 Januari 2023

Bolehkah Laki-laki Memakai Pakaian Perempuan untuk Hiburan?

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri




Era media sosial ditandai dengan pelibatan masyarakat dalam setiap isi materi dari media sosial itu sendiri, sehingga ramai-ramai masyarakat membuat berbagai konten (materi) yang mereka unggah (upload) ke media sosialnya masing-masing. Kreatifitas dan keunikan sebuah foto atau audioa video akan menarik banyak orang sehingga diharapkan akan viral. Namun sayangnya, konten yang mereka buat seringkali tidak sesuai dengan kaidah-kaidah dalam agama Islam. Salah satunya adalah laki-laki yang memakai pakaian perempuan dan perempuan yang memakai pakaian laki-laki. Fenomena ini banyak sekali terjadi, di mana dalam banyak video laki-laki memakai pakaian dan bergaya seperti perempuan. Demikian pula ada seorang perempuan yang berdandan, bergaya dan berpakaian laki-laki. Bagaimana sebenarnya hal ini dalam Islam? Apakah dibolehkan kalau sekadar untuk lucu-lucuan atau hiburan?

Sejatinya Islam telah memberikan pedoman bagi laki-laki dan perempuan dalam berpakaian, berdandan dan berperilaku. Laki-laki berneda dengan perempuan, demikian pula perempuan berbeda dengan laki-laki sehingga pakaian merekapun berbeda. Kecuali pada pakaian umum yang bisa digunakan oleh keduanya semisal sarung. Larangan bagi laki-laki untuk memakai pakaian perempuan atau perempuan yang memakai pakaian laki-laki didasarkan kepada Riwayat dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

لَعَنَ اللَّهُ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ

Allah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita, begitu pula wanita yang menyerupai laki-laki”. HR. Ahmad.

Riwayat lainnya menggunakan lafadz:

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki. HR. Bukhari.

Riwayat lainnya yaitu hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَعَنَ اللهُ الْمُخَنَّثِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ.

Allah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita-wanita yang menyerupai laki-laki. HR. Bukhari dan Abu Dawud

Riwayat lainnya adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya:

لَعَنَ اللهُ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَ الْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ.

Allah melaknat laki-laki yang mengenakan busana wanita dan wanita yang menggunakan busana laki-laki.” HR. Abu Dawud

لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُخَنَّثِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ وَ الْمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita-wanita yang menyerupai laki-laki. HR. Al-Bukhari dan Abu Dawud

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَ الْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang mengenakan busana wanita dan wanita yang menggunakan busana laki-laki. HR. Abu Dawud.

Merujuk pada sabda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam tersebut maka jelas sekali bahwa laki-laki yang menyerupai perempuan dengan berdandan, berpakaian dan bergaya seperti perempuan akan dilaknat oleh Allah ta’ala dan rasulNya. Makna laknat di sini adalah dijauhkan dari segala bentuk kebaikan dan termasuk ke dalam dosa besar. Tentu saja pelakunya diancam dengan siksa di akhirat sana.

Maka, janganlah hanya karena ingin viral (terkenal) atau lucu-lucuan dan hiburan kemudian seorang laki-laki memakai pakaian dan bergaya seperti perempuan, atau sebaliknya seorang perempuan berpakaian dan bergaya seperti laki-laki. Hal ini karena hukumnya sudah jelas yaitu haram menurut para ulama didasarkan kepada ayat al-Qur’an, hadits dan pendapat para ulama. Bagi yang belum tahu maka segeralah bertaubat dan berhenti untuk membuat konten video yang mengandung unsur tersebut dan hal lainnya yang diharamkan dalam Islam. Demikian pula bagi kita yang melihatnya segera meninggalkannya dan mencari video-video yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat kita.

Banyak sekali hikmah dari keharaman laki-laki memakai pakaian perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki. Salah satunya adalah agar fitrah mereka terjaga sehingga terbina kehidupan yang sesuai dengan fitrahNya. Wallahu a’alam, 09012023.

Selasa, 03 Januari 2023

… karena aku sayang kamu: Menyikapi Fenomena Buka Pakaian di Media Sosial

Oleh: Misno Mohamad Djahri

 


Media sosial telah mengambil banyak waktu kita, hingga tiada hari tanpa membukanya. Berbagai berita, fakta, dan fenomena tersaji dalam bentuk tulisan, gambar dan video bergantian muncul tenggelam di media sosial. Adanya Facebook, Instagram, Twitter, Youtube, Tik-tok dan berbagai media sosial lainnya menyajikan berbagai tontonan yang mengundang rasa penasaran untuk menikmatinya. Tahap berikutnya, media sosial bukan hanya menyajikan audio visual kepada penikmatnya tetapi mengajaknya untuk turut serta dalam menghasilkan sebuah karya yang dikenal dengan istilah content atau materi. Maka, berbondong-bondong pengguna media sosial membuat content dan meng-upload-nya di media sosial dari mulai suara, gambar, video dan berbagai materi yang diharapkan mengundang simpati atau sekadar “like” dari yang menyaksikannya.

Salah satu dari fenomena yang ada adalah banyaknya pengguna media sosial yang memosting photo dan video dirinya dengan berbagai pose, dari yang memiliki manfaat hingga content bejat yang mengundang syahwat. Sajian laki-laki atau perempuan yang tertutup rapi dengan pakaiannya hingga yang membuka auratnya bahkan tidak ada lagi selembar benang yang menempel di badannya.

Wahai saudariku, khususnya mereka yang sering memposting photo atau video dirinya yang membuka auratnya… berhentilah melakukan hal itu karena justru menjadi dosa jariah yang akan membelitmu. Wanita-wanita yang memposting photo atau videonya dengan aurat terbuka, bertakwalah kepada Allah Ta’ala, karena kecantikanmu adalah hanya untuk suamimu atau pasanganmu nanti di surga yang dirindu Bertaubatlah kepada Allah Ta’ala dengan berhenti memposting photo atau video seperti itu, hapuslah semua yang mungkin masih ada di dunia maya. Karena semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya, dosanya berlipat ganda karena selain dosa membuka aurat kemudian engkau menyebarkannya dan mengundang syahwat orang lainnya.

Wahai saudaraku, khususnya para laki-laki yang juga memposting photo atau video yang membuka aurat, (ingat… aurat laki-laki adalah antara pusar dan lututnya) juga photo yang membuka dada dan perutnya, agar nampak memesona dan dilihat oleh laki-laki dan perempuan lainnya. Ini adalah sebuah kesalahan besar, ketika engkau menebar photo atau video yang dengan sengaja memamerkan lekuk-lekuk tubuhmu. Karena begitu banyak saat ini laki-laki yang terbius dan terpesona oleh laki-laki lainnya, salah satunya adalah karena photo atau video yang engkau posting. Bertakwalah kepada Allah Ta’ala, berhentilah memposting photo atau video yang mengundang syahwat laki-laki atau perempuannya lainnya. Itu adalah sebuah dosa, dan akan terus ditulis dosa selama photo atau video itu masih ada. Naudzubillah min dzalika.

Tulisan ini aku buat karena aku sayang kamu, ya… kamu yang sering memosting photo atau video dengan membuak aurat atau mengundang syahwat yang melihatnya. Mungkin engkau akan menudingkan dengan ungkapan “Sok suci, sok alim, gak usah usil urusan orang lain, begitu saja tergoda” dan ungkapan-ungkapan lainnya. Tapi ingatlah, bahwa manusia yang beriman pasti juga akan enggan melihat photo atau video-mu yang membuka aurat atau pose yang mengundang syahwat. Sekali lagi bukan hanya perempuan, tetapi banyak laki-laki saat ini yang memosting photo atau video yang memamerkan bagian-bagian tubuhnya yang sengaja untuk mengundang hawa laki-laki lainnya.

… karena aku sayang kamu. Ingatlah bahwa selama phot atau video itu ada, maka dosa itu akan selalu tertulis untuk mereka yang memostingnya. Bagaimana jadinya ketika kita meninggal, namun photo atau video itu masih ada di media? Tentu penyesalan yang tiada guna adanya.

… karena aku sayang kamu. Jangan hanya memikirkan kesenangan sendiri, tapi pikirkan juga orang lain yang terfitnah dengan photo atau videomu. Bahkan yang lebih dahsyat lagi ketika anak-anak dan mereka yang masih remaja dan pemuda membuka photo atau video itu kemudian terbawa dengan hawa nafsu hingga membawa kepada kemaksiatan yang terus berlaku.

… karena aku sayang kamu. Berhentilah dari sekarang memosting photo atau video seperti itu, gantilah dengan photo atau video yang positif yang mengajak kepada kebaikan dan memberik kontribusi positif bagi generasi baru. Karena kita tidak tahu, kapan ajal akan menjemputmu…

… karena aku sayang kamu. Aku bukan sok suci, karena aku juga merasa memiliki banyak dosa dan kesalahan yang bisa jadi lebih besar dari dosa-dosamu. Tapi aku terus memperbaiki diri, saling nasehat-menasehati agar kehidupan hakiki dapat terealisasi. Nasehati aku bila melakukan dosa dan kesalahan, aku akan menerimanya dengan penuh keikhlasan. Semoga kita selalu bersama dalam kebajikan, hingga ajal berada di kerongkongan dan menuju ke surgaNya dengan penuh ampunan, itulah sejatinya tujuan hidup orang beriman. Wallahu a’lam. 03012023.

Senin, 02 Januari 2023

Cinta Selamanya Indah

Cinta Tak Selamanya Indah

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri

 


Fajar Sadboy menjadi fenomena baru generasi muda saat ini, kesedihan mendalam karena diputus cinta menag sangat menyakitkan bagi generasi muda. Apalagi jika karakter awalnya adalah baper (bawa perasaan)-an, tidak percaya diri, minder dan sifat negative lainnya pada diri seseorang, maka semakin lengkap sudah penderitaannya hingga hidup serasa bagai neraka dan keinginannya hanya satu yaitu mengakhiri kehidupan di dunianya. Nama Fajar Sadboy semakin viral dengan lagu yang dinyanyikannya dengan judul “Cinta Tak Selamanya Indah”, sebuah lagu yang menggambarkan keadaan dirinya saat ini. Apakah ada yang salah dengan judul lagunya? Bagaimana Islam memberikan solusinya?

Cinta adalah anugerah dari Allah Ta’ala, ia berupa rasa suka, kagum, simpati, senang kepada orang lain. Rasa ini muncul bersamaan dengan tumbuh berkembangnya manusia, sejak masa kecil, anak-anak, remaja, dewasa bahkan orang yang sudah tua akan selalu merasakan rasa ini. Jika masa anak-anak dan remaja rasa cinta itu berupa sayang dan memerlukan orang-orang terdekatnya, maka pada usia remaja dan pemuda rasa cinta ini mengarah kepada lawan jenis yang menurutnya sesuai dengan perasaannya. Pada kasus penyimpangan lainnya, ia juga muncul pada sesame jenis yang dianggap cocok dan sesuai dengan “perasaannya”. Semakin bertambah usia maka kematangan cinta mencapai puncaknya, hingga cinta orang dewasa akan lebih sempurna, logis dan selalu membawa kepada keindahan dan kebahagiaan walaupun mungkin tidak saling memiliki.

Permasalahan utama khususnya bagi remaja dan pemuda, sebenarnya termasuk orang dewasa juga adalah membedakan antara cinta dan hawa nafsu. Ya… menyukai seseorang seringkali diawali dengan tampilan fisik yang menawan, cantik dan tampan selalu menjadi awal rasa suka itu. Selanjutnya mungkin ditambah dengan perilaku yang sopan dan baik, ramah, suka menolong dan peduli dengan orang lain. Tapi intinya tetap pada sesuatu yang terlihat oleh pandangan, terdengar oleh telinga dan pada tingkatan yang lebih tinggi seharusnya sampai di rasa di hati. Rasa cinta yang muncul memang seringkali dihiasi dengan hawa nafsu, apakah hal ini salah? Tentu saja tidak serratus persen salah, karena itu adalah fitrah manusia yaitu mencintai orang lain yang menurutnya sesuai dengan perasaannya. Kesalahannya adalah ketika hawa nafsu itu lebih mendominasi sehingga cinta yang selalu indah menjadi rusak karena hawa nafsu yang menguasai.

Membahas tentang cinta sejatinya Islam telah mengajarkannya, bagaimana cinta yang merupakan anugerah dari Allah Ta’ala haruslah dijaga dan dipelihara agar selalu sesuai dengan syariahNya. Cinta kepada Allah Ta’ala menjadi dasar dan pondasi bagi cinta kepada seluruh makhlukNya, sehingga cinta akan selalu indah. Tidak mengapa ketika cinta diawali dengan rasa suka dengan fisik, penampilan dan perilakunya, tetapi kemudian dikuatkan dan didasari lagi dengan cinta karena Allah Ta’ala dan rasulNya. Sebagai contoh, seseorang yang mencintai orang lain kemudian keduanya menikah maka kecintaan keduanya akan semakin abadi dengan dasar cinta karena Allah Ta’ala. Jika ada istilah “Cinta Tak Harus Memiliki” juga berlaku pada cinta sejati, karena kecintaan kepada Allah Ta’ala yang terimplementasi dalam cinta kepada orang lain akan menjadikannya tetap mencintai seseorang tanpa harus memiliki dalam sebuah ikatan.

Cinta Selalu Indah jika cinta itu didasari oleh cinta karena Allah Ta’ala, cinta yang tidak indah adalah ketika cinta itu didominasi oleh hawa nafsu, semisal hanya ingin menikmati fisiknya. Cinta seperti ini bahkan akan segera tiada seiring dengan berlakunya masa. Cinta karena hawa nafsu atas kecantikan atau kegagahan seseorang akan hilang ketika orang yang dicintai semakin tua atau memiliki sifat yang tidak kita sukai. Bahkan cinta yang hanya didasari hawa nafsu akan menyiksa pemiliknya ketika tidak disambut oleh orang yang dicintainya, “Bertepuk Sebelah Tangan” adalah cinta yang tidak diterima oleh orang yang dicintainya.

Cinta yang tidak diterima oleh orang yang dicintai pecintanya adalah cinta yang menurutnya tidak selamanya indah. Padahal cinta itu masih bisa tetap ada tanpa harus mendapatkan sambutan, karena cinta karena Allah Ta’ala tetap akan ada yaitu cinta pada seseorang karena orang tersebut melaksanakan seluruh syariah Allah Ta’ala dan mengikuti sunnah nabiNya. Menyadari bahwa cinta yang tidak diterima lebih kepada cinta karena hawa manusia akan menjadikan jiwa lapang dada untuk menerimanya. Karena cinta haruslah saling memberi dan menerima antara dua pihak yang saling mencinta, dan agar cinta itu abadi maka cinta karena Allah Ta’ala adalah pengikatnya.

Akhirnya, Cinta Selalu Indah ketika rasa cinta itu didasari kecintaan kepada Allah Ta’ala. Walaupun tidak harus memiliki tetapi rasa cinta itu akan selalu ada, cinta pada seseorang karena orang tersebut melaksanakan syariah Allah dan RasulNya. Semoga kita selalu mendapatkan cintaNya, Cinta yang Selamanya Indah, hingga di akhir masa… Pagi Penuh Cinta di Bogor, 02012023.

Minggu, 01 Januari 2023

Sebuah Resolusi di Tahun 2023: Dari Menulis 300 buku hingga Keliling Dunia

 Oleh: Misno bin Mohamad Djahri

 


Hari ini adalah tanggal 01 Januari 2023, banyak masyarakat yang mulai merencanakan harapan, cita-cita dan resolusi di tahun ini. Tentu bukan mengikuti trends apalagi semacam merayakan tahun baru, tapi sekadar menjadi sebuah ingatan dan panduan dalam menapaki hari-hari ke depan. Setiap kita tentu memiliki mimpi, harapan dan juga keinginan-keinginan di masa yang akan datang, maka awal tahun ini bisa menjadi Langkah awal untuk Menyusun harapan-harapan dalam satu tahun ke depan.

Sebagai contoh adalah resolusi saya di tahun 2023 ini, tentu saja sebelumnya flashback dulu di tahun 2022. Salah satu dari cita-cita saya adalah menulis buku 3 kali lipat dari umur saya, kemudian cita-cita ini bertambah menjadi 5 kali umur saya sehingga jika umur saya 60 tahun maka 5 x 60 = 300. Sehingga saya harus menulis sebanyak 300 judul buku, dan Alhamdulillah faktanya hingga Januari 2023 ini jumlah buku dalam folder di internet sudah mencapai 256 sehingga target ini yakin inshaallah biidznillah akan tercapai. Hanya menambah 44 buku sangat mudah inshaallah diselesaikan di tahun 2023. Ini adalah cita-cita saya di tahun 2023 ini, yaitu menulis buku hingga 300 judul buku, baru setelah itu peningkatan dari kualitas buku akan terus ditingkatkan hingga target maksimal 500 judul buku.

Masih terkait dengan tulis-menulis, maka menulis jurnal menjadi sebuah kewajiban sebagai seorang dosen, dalam hal ini tidak ada target khusus tapi minimal satu tahun bisa 2-5 artikel jurnal yang terbit dan dapat diakses para pengguna internet. Demikian pula tulisan di website dan blog akan terus berlangsung, dengan target minimal datu bulan antara 3-10 tulisan yang merupakan refleksi dari pemikiran pribadi. Pembuatan video juga tidak ditarget, tapi karena hobby akan terus berjalan dan minimal dalam sebulan 5-10 video bisa diupload di channel youtube pribadi.

Harapan selanjutnya di tahun ini adalah akan menjadi mbah (kakek) bagi cucu pertama saya, mungkin akan sangat Bahagia ketika cucu pertama lahir. Bisa menghabiskan hari-hari Bersama cucu tercinta, saat ini mungkin masih sekadar angan-angan dan harapan. Inshaallah pada akhir bulan Januari-Maret harapan ini akan segera terwujud, menjadi mbah bagi cucu pertama saya.

Berikutnya adalah harapan yang menjadi hobby atau mungkin ikut-ikutan trend orang lain, yaitu jalan-jalan ke seluruh penjuru Indonesia dan dunia. Semoga keadaan semakin membaik dan transportasi darat, laut dan udara aman sehingga saya bisa kembali berkeliling mentafakuri semesta sebagai ciptaan Allah ta’ala. Tentu saja akan lebih bermakna apabila ditemani oleh orang-orang tercinta yang memberi makna dalam kehidupan saya.

Harapan-harapan lainnya masih banyak, misalnya lebih serius dalam mengurus Yayasan, usaha, target bebas dari semua tanggungan hutang, dapat berinvestasi untuk masa depan hingga meninggalkan secara perlahan hal-hal buruk yang mungkin selama ini dilakukan. Intinya adalah berusaha untuk terus menjadi lebih baik dan memberi makna bagi semesta.

Semoga Allah Ta’ala memudahkan semua urusan kita, dan harapan-harapan tersebut dapat terwujud di tahun 2023 ini, ikhtiar dan doa akan selalu dilakukan dalam upaya mewujudkannya. Wallahu a’lam. 01012023.

Sabtu, 31 Desember 2022

Perayaan Tahun Baru: Antara Keyakinan, Hegemoni Peradaban, Hingga Budaya Populer Masyarakat Perkotaan

Oleh: Misno Mohamad Djahri

 

Hari ini Sabtu, 31 Desember 2022 adalah hari terakhir dari tahun 2022 masehi, maknanya esok adalah tanggal 01 Januari 2023. Sebagaimana masyarakat di berbagai penjuru dunia yang menggunakan penanggalan Gregorian maka sebagian masyarakat di Indonesia juga ikut merayakan malam tahun baru ini. Tentu saja perayaan tahun baru masehi ini sudah sejak lama dilakukan oleh masyarakat yang memiliki budaya ini dan yang mengikutinya. Tahukah anda bagaimana sebenarnya sejarah dari perayaan tahun baru ini? Apakah ia berkaitan dengan akidah? Atau hegemoni budaya “barat” ada di setiap penjuru dunia? Atau sekadar budaya populer yang berkembang di masyarakat moder?

Faktanya bahwa perayaan tahun baru tidak hanya dalam pergantian tahun masehi, pergantian tahun baru China dirayakan di berbagai wilayah Asia lainnya. Demikian pula tahun baru di India, Mesir, Persia, Arab, dan wilayah-wilayah lainnya. Pada tingkat yang lebih sempit di Jawa dan Sunda memiliki tahun baru sendiri yang pada masa lalu juga diperingati. Penganut agama Islam juga “ikut-ikutan” merayakan tahun baru hijriah setiap 01 Muharam setiap tahunnya. Maka, perayaan tahun baru tidak hanya miliki masehi tetapi juga berbagai peradaban yang ada di dunia, sebab kenapa perayaan tahun baru masehi begitu meriah adalah karena hegemoni dari berbagai bangsa di dunia yang mengikuti kalender Gregorian sehingga kemudian lebih banyak yang merayakannya dan menjadi budaya populer di tengah masyarakat dunia.

Perayaan tahun baru masehi tidak lepas dari keyakinan dan kepercayaan dari bangsa Yunani di masa lalu, di mana setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah Mesir, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir kuno. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Nama Januari diambil dari nama dewa dalam mitologi Romawi, yaitu Dewa Janus yang memiliki dua wajah yang menghadap ke depan dan belakang. Penduduk Romawi meyakini bahwa Dewa Janus adalah dewa permulaan sekaligus dewa penjaga pintu masuk.

Maka perayaan tanggal 01 Januari adalah berkaitan dengan keyakinan dan kepercayaan akan adanya Dewa Janus dalam mitologi Yunani yang dipercaya sebagai dewa penjaga pintu masuk. Merujuk pada fakta ini maka perayaan tahun baru masehi adalah bagian dari keyakinan dan kepercayaan di luar Islam sehingga kita sebagai umat Islam tidak boleh untuk ikut merayakannya. Termasuk bentuk perayaan adalah membuat kegiatan yang dikaitkan dengan pergantian tahun ini, karena merupakan bentuk dukungan dari pengkultusan terhadap Dewa Janus.

Selanjutnya perayaan tahun baru juga merupakan bentuk hegemoni budaya barat yang menyebar ke seluruh penjuru dunia. Hal ini diawali dengan penggunaan istilah Tahun Masehi yang baru dihitung dan ditetapkan sejak kelahiran Isa Al-Masih dari Nazaret, yang mulai diadopsi di Eropa Barat pada sekitar abad ke-8. Sejak itu lah setiap tanggal 31 Desember malam akan dilakukan malam pergantian tahun baru dengan segala perayaan yang dilakukan negara-negara di seluruh belahan dunia. Penjajahan fisik dan budaya Eropa dan sekutunya Amerika telah membawa budaya perayaan tahun baru ini ke sleuruh wilayah jajahannya dan kemudian diadopsi menjadi budaya populer di hampir seluruh penjuru dunia.

Perayaan tahun baru masehi saat ini telah menjadi budaya populer yang ada di berbagai negara di seluruh penjuru dunia. Berdasarkan keyakinan maka merupakan perayaan terhadap Dewa Janus, berdasarkan hegemoni budaya ini merupakan bentuk “penjajahan” budaya terhadap budaya yang merasa di bawah dan menganggap budaya Eropa lebih tinggi dan layak untuk diikuti. Biasanya ini terkait dengan mental bangsa terjajah yang tidak percaya diri dengan kepercayaan dan budayanya bangsa sendiri.

Selanjutnya perayaan ini juga telah menjadi budaya populer, di tengah masyarakat yang semakin terbuka dan menerima berbagai budaya peradaban lainnya. Pada masyarakat perkotaan maka momen akhir tahun ada libur akhir dan awal tahun dan jika bertepatan dengan akhir pekan maka ada libur pekanan, inilah yang kemudian banyak digunakan oleh masyarakat perkotaan untuk liburan atau melakukan berbagai kegiatan yang kebetulan bersamaan dengan tahun baru. Maka dalam hal ini tidak menjadi masalah karena memang tidak ada niat untuk merayakannya tetapi karena memang adanya libur tahunan atau pekanan bagi karyawan yang bekerja.

Merujuk pada pembahasan sebelumnya maka perayaan ini jelas terkait dengan pemujaan terhadap dewa Janus, hegemoni budaya serta budaya populer yang tidak sesuai dengan syariah Islam. Maka hendaknya umat Islam tidak ikut merayakannya, kalaupun ada kegiatan di akhir tahun maka jangan dikaitkan dengan tahun baru tapi lebih kepada hari libur yang memang terjadi setiap pekan atau ada libur di awal dan akhir tahun. Wallahua’alam, 31122022.

 

 

Selasa, 27 Desember 2022

Fenomena mainan Tek-tek dan Prediksi Indonesia 2023-2024

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri



Banyak hal yang terjadi di dunia ini selalu saling berkaitan, bahkan dari hal-hal yang dianggap oleh manusia sepele, namun pada dasarnya mengandung makna yang sangat mendalam bagi kehidupan umat manusia. Salah satu dari fenomena sepele yang saat ini berkembang adalah mainan tek-tek yang sedang viral dan banyak dimainkan oleh anak-anak. Mainan yang berupa dua buah bola dalam bentuk “bandul” yang saling ditabrakan dan akan mengeluarkan bunya “tek” ketika bertabrakan. Pada level yang lebih tinggi maka mainan tersebut tidak hanya dibenturkan dengan lembut di bagian bawah ketika kduanya menggantung, namun juga dengan hentakan keras ka atas akan bertabrakan sehingga menghasilkan suara “tek” yang lebih keras.

Bagaimana hubungan antara mainan tek-tek dengan kondisi Indonesia di tahun 2023 hingga 2024? Bukan ramalan atau cocokologi, tapi sekadar prediksi berdasarkan pengalaman-pengalaman di masa lalu khususnya ketika akan berlangsung pesta demokrasi dengan memiliki wakil-wakil rakyat dan puncaknya adalah pemilihan presiden dan wakil presiden tahun 2024-2029. Agenda besar ini akan menjadi moment bagi bangsa Indonesia apakah mereka telah dewasa dengan sistem demokrasinya atau malah kembali terpecah belah dalam permusuhan yang tidak berkesudahan antara sesame negeri. Munculnya istilah cebong dan kampret atau kadrun adalah fakta nyata bahwa anak bangsa masih dengan ego sentrisnya sehingga dengan mudah diadudomba.

Prediksi Indonesia tahun 2023-2024 adalah munculnya pergesekan politik dan persaingan politik baik dalam tahap yang sehat hingga tahapan “gila” karena melakukan berbagai kecurangan, manipulasi, agitasi, fitnah kanan-kiri hingga memunculkan kubu-kubu yang saling bertentangan. Sejatinya apabila dipetakan kita akan menemukan tiga golongan besar dalam pesta demokrasi di Indonesia yang merupakan manifestasi dari masyarakat yang ada di Indonesia. Pertama adalah kalangan islamis yang memperjuangkan Islam dengan berbagai syariahNya, kelompok ini terdiri dari kalangan Islam reformis yang kebanyakan tinggal di perkotaan. Kedua, golongan nasionalis murni yang dengan slogan cinta NKRI akan menggunakan istilah-istilah beraroma nasionalis dengan segala bumbu-bumbunya. Pihak ketiga adalah mereka yang mencoba mengambilkedua karakter pihak-pihak sebelumnya, mereka nasionalis namun juga memiliki sikap religius. Satu sisi mereka terlihat berada di poros tengah karena memiliki dua sifat pihak sebelumnya, namun di sisi lain mereka juga nampak “abu-abu” karena hanya mencari aman dengan mencoba mengakomodir semua golongan.

Ketiga golongan ini yang akan mewarnai Indonesia di tahun 2023 hingga 2024 khususnya dalam hajat besar bangsa Indonesia. Gesekan politik yang terjadi di antara mereka akan semakin memanas khususnya menjelang pemilihan presiden, dari mulai saling mencari kesalahan hingga berita-berita hoax yang disebarkan untuk menjatuhkan lawan. Pihak islamis akan menuduh kaum nasionalis cenderung mengarah pada nasionalisme ekstrim dan bekerjasama dengan komunias, Yahudi dan golongan kiri lainnya. Sementara golongan nasionalis akan menuduh kelompok Islamis sebagai ekstrimis, fundamentalis, tidak cinta NKRI dan akan mengganti Demokrasi Pancasila dengan Khilafah Islam. Ini adalah isu yang saat ini berkembang dan akan mencapai puncaknya dua tahun ke depan, hal ini ditambah dengan pihak-pihak yang dengan sengaja “memancing di air keruh” serta “ketidaktahuan” dan fanatik buta masyarakat terhadap setiap golongannya hingga memunculkan rasa saling curiga, menuduh dan muncullah istilah-istilah yang berupa stigma negatif kepada lawan-lawannya.

Bagaimana cara menghadapi masa-masa ini? Jawabannya adalah dengan kembali menguatkan keyakinan kita masing-masing tanpa perlu menaruh curiga kepada pihak lainnya. Menempatkan kepentingan agama, bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan dengan tetap bersikap adil dengan segala keadaannya. Menyaring (check and recheck) setiap berita yang beredar khususnya terkait dengan pilihan politik, kebaikan atau keburuhkan pihak lawan apalagi yang belum jelas kebenarannya. Tidak menyebarkan berita yang belum bisa dipertanggungjawabkan, dan berusaha untuk tidak mudah terbawa emosi atau menuduh pihak lain yang menyebarkan berita hoax. Hati-hati juga dengan berbagai isu yang seolah-olah membela golongannya padahal itu adalah jebakan dan upaya untuk memancing ego golongan hingga kemudian mengurangi rasa simpati kepada pihak lainnya. Intinya adalah tidak mudah mengelola akal dan fikiran kita dalam menerima berbagai berita agar setiap yang kita terima adalah sebuah kebenaran nyata. Kelola emosi dan tidak fanatik terhadap golongannya sehingga dengan mudah menyalahkan pihak lainnya apalagi bersumber dari berita yang belum benar adanya.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga Indonesia tercinta sehingga gesekan politik ini tidak terjadi hingga pesta demokrasi yang akan dilakukan akan berjalan dengan aman. Kepada seluruh pihak hendaknya menahan diri dan selalu memeriksa setiap berita yang ada, sehingga “fitnah” yang ada tidak menyebar dengan liarnya. Kita smeua sudah dewasa bahwa tidak ada pertentangan antara Islam dan Indonesia, Islam bukan musuh bangsa bahkan faktanya ia adalah energi bagi kemerdekaan Indonesia. Cinta NKRI juga tidak dilarang dalam Islam karena itu adalah fitrah manusia, sebagaimana Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam mencintai Mekkah yang menjadi tanah ari beliau. Bersikap adil sesuai dengan proporsinya, itulah yang menjadi kunci bagi keamanan bangsa dan negara. Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberkahi Indonesia, dan seluruh umatNya di persada raya. Aameen… 27122022.  

Rabu, 19 Oktober 2022

Risau Resesi? Ikhtiar Insani Percaya Ilahi

Oleh: Dr. Misno, SHI., SE., MEI


 Akhir dari Pandemi Covid-19 adalah awal baru bagi kehidupan umat manusia di berbagai penjuru dunia. Setelah lebih kurang 2,5 tahun mereka berada dalam ancaman virus corona, kini saatnya manusia menata kembali kehidupan menuju era New Normal. Era di mana kehidupan mengalami banyak perubahan menuju dunia digital dengan berbagai peluang dan tantangannya. Akhir pandemic memberi angin segar untuk kembali bangkit dari berbagai keterpurukan menatap masa depan yang lebih baik.

Namun, harapan itu mendapatkan hambatan yang cukup berat pandemic yang telah meluluhlantahkan berbagai bidang ekonomi akhirnya berhadapan dengan resesi yang banyak diprediksi akan mencapai puncaknya pada 2023-2025. Berita ancaman resesi ini beredar di berbagia media, bahkan pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai strategi untuk menyiapkan bangsa dan negara menghadapi dan mengatasinya. Bagaimana dengan kita sebagai orang Islam dan beriman? Apakah resesi adalah sesuatu yang menakutkan atau hanya berita hoax yang tidak perlu dipikirkan.

Sebagai orang beriman, kita harus yakin bahwa setiap manusia telah ditentukan rizkinya, bahkan binatang melata di muka bumi juga telah ditetapkan rizkinya. Hal ini sebagaimana firmanNya;

وَمَا مِن دَآبَّةٍۢ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّۭ فِى كِتَٰبٍۢ مُّبِينٍۢ

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh al-mahfuz). QS. Hud: 6.

Keyakinan bahwa seluruh makluk telah ditetapkan rizkinya adalah wajib bagi orang beriman, maka setiap manusia juga telah ditentukan rizkinya. Sehingga tidak perlu ada kekhawatiran dalam rizki, termasuk berbagai peristiwa yang mungkin terjadi. Resesi yang diprediksi oleh para ahli sejatinya adalah keadaan di mana susahnya ekonomi, namun sebagai orang beriman kita harus yakin, berikhtiar semaksimal mungkin kemudian tawakal. Allah ta’ala berfirman:

{وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ، وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ}

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan ke luar (bagi semua urusannya). Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (segala keperluan)nya”. QS. ath-Thalaaq: 2-3.

Tentu saja konteks tawakal dalam ayat ini adalah setelah berikhtiar dan berusaha semaksimal mungkin, bukan pasrah menerima keadaan atau hanya menunggu tanpa adanya kegiatan. Tawakal dalam Islam adalah setelah seseorang berusaha semaksimal mungkin, diiringi dengan doa dan menyerahkan semuanya kepada Allah Ta’ala.

Maka, ketika resesi menjadi ancaman di tahun-tahun ke depan sebagai orang beriman kita harus yakin dengan segala kuasaNya. Setelah berusaha sekuat tenaga untuk terus berusaha mencari maisya (kerja atau niaga) selanjutnya adalah tawakal kepada Allah Ta’ala serta mengiringinya dengan doa yang dipanjatkan penuh khauf dan raja hanya kepadaNya.

Semoga Allah Ta’ala sentiasa menjaga umat Islam, bangsa dan negara Indonesia dari segala bentuk kemudharatan khususnya resesi ekonomi yang diprediksi oleh para ahli. Aameen… 19102022.

Senin, 26 September 2022

Menanti Pelanjut Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi

Misno Mohd Djahri


Umat Islam kembali berduka dengan meninggalnya salah satu dari tokoh cendekiawan muslim dunia yaitu Yusuf Al Qaradhawi. Beliau kembali menghadap Allah Tta’ala pada Senin 26 September 2022 dalam usia 96 tahun. Sebagai seorang cendekiawan musliam, beliau saat ini menjabat sebagai Presiden Pendiri Persatuan Cendekiawan Muslim Internasional (IUMS). Beliau adalah ulama yang moderat yang banyak diikuti oleh banyak ulama dunia, walaupun Riwayat organisasiny aberawal dari Ikhwanul Muslimin namun banyak karyanya bersikap lebih moderat dan dapat diterima oleh banyak golongan.

Syaikh Yusuf Al Qaradawi lahir di Shafth Turaab, Kairo, Mesir pada 9 September 1926, menyelesaikan Pendidikan dasar dan menengah di Ma’had Thantha dan Ma’had Tsanawi, kemudia melanjutkan studi di Universitas Al Azhar Fakultas Ushuludin dan selesai pada tahun 1952. Beliau meraih gelar Doktor pada tahun 1972 dengan disertasi yang berjudul “Zakat dan Damapknya dalam Penanggulangan Kemiskinan”. Maha karya inilah yang kemudian membawa beliau Menyusun buku Fiqh Zakat yang menyebar ke hampir seluruh penjuru dunia. Tentu saja nilai kebaruan dari buku tersebut adalah upaya penulis dalam mengkorelasikan antara zakat dengan kemiskinan.

Pada awal tahun 1960, beliau diangkat menjadi Dekan Fakultas Syariah di Universitas Qatar yang baru didirikan dan diberikan kewarganegaraan Qatar pada 1968. Selama tinggal di Qatar, Al Qaradawi menjadi terkenal sebagai seorang sarjana atas bukunya Fiqh al-Zakat (The Fikih Zakat) pada 1973. Salah satu pemikiran menarik dalam buku tersebut tersebut adalah kemungkinan diberikannya zakat kepada non muslim selama mereka tidak memerangi umat Islam. Hal ini sebagai bentuk pengembangan dari ashnaf zakat mualafa, yaitu mereka yang dilembutkan hatinya agar masuk Islam.

Salah satu pemikiran beliau yang cukup penting di bidang ilmu pengetahuan adalah sikapnya yang menolak dikotomi ilmu, menurut beliau ilmu itu bisa islami atau tidak islami tergantung siapa yang memandang dan menggunakannya. Apabil umat Islam berpandangan bahwa ilmu agama terpisah dari ilmu dunia (dikotomi) maka umat Islam akan mengalami kemunduran. Karena hal ini yang menjadikan umat Islam selalu terbelakang sampai sekarang. Walaupun demikian beliau memiliki pemikiran yang selalu menampilkan Islam secara ramah, santun dan washatiyyah sehingga mudah diterima oleh banyak kalangan.

Selain banyak yang simpati kepada beliau ada juga beberapa pihak yang tidak suka dengan Yusuf Al Qaradhawi, yang pertama orang-orang non muslim yang tidak suka dengan background beliau sebagai aktifis Ikhwanul Muslimin. Hingga banyak yang menganggap beliau memiliki pemikiran fundamentalis yang diwariskan dari Muhamad Abduh, Jamaludin Al-Afghani, Rasyid Ridha dan yang lainnya. Sebenarnya hal ini sangat wajar jika melihat latar belakang kehidupan beliau di mana pada saat beliau tumbuh negara-negara Islam khususnya di Afrika Utara dan Mesir dikuasai oleh Perancis dan penjajahan barat. Maka kebangkitan Pan Islamisme jelas sangat kentara pada sikap dan pemikiran beliau. Karena tergabung dalam Ikhwanul Muslimin ini pula kalangan Salafi (Wahabi) juga tidak menyukainya dengan alasan memiliki akidah yang tidak sesuai dengan salafu shaleh. Tentu saja kita memahami hal ini sebagai sebuah dinamika pemikiran umat Islam yang harus bijak dalam menyikapinya.

Terlepas dari hal positif yang ada pada diri beliau serta beberapa kekurangan sebagai manusia maka kontribusi beliau kepada Islam dan umatnya tidak diragukan lagi. Semoga Allah Ta’ala mengampuni semua kesalahannya dan mengangkat derajat di sisiNya. Sekarang tinggal kita yang ditinggalkan, siapa yang akan melanjutkan perjuangan beliau dalam mendakwahkan Islam yang penuh rahmat kepada seluruh umat manusia? Maka jawabannya tidak perlu menunggu dan menanti orang lain yang akan melanjutkan perjuangan dakwah beliau. Kita semua adalah pelanjut beliau, untuk terus mempelajari Islam, mengamalkan dan mendakwahkan kepada seluruh umat manusia.

Kita semua adalah pelanjut dari perjuangan dakwah Syaikh Yusuf Al Qaradhawi, sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Beliau telah tiada dan inshaallah telah memperoleh ganjaran atas semua amal baiknya. Tinggal kita yang masih ada di dunia, akankah kita memiliki semangat juang Islam seperti beliau? Atau selalu sibuk dengan dunia hingga lupa bahwa setiap kita adalah muslim dan setiap muslim menanggung beban untuk belajar, mengamalkan dan mendakwahkan Islam. Tujuan utamanya adalah untuk mencapai keridhaan Allah Ta’ala, kemudian manusia mengetahui dan memahami bahwa Islam adalah agama yang membawa kedamaian untuk semua. Wallahu a’lam, 26092022.

Jumat, 09 September 2022

Keutamaan Menanam Pohon dalam Islam

Oleh: Misno Mohd Djahri

 


Islam agama yang paripurna, kesempurnaannya terletak pada sendi-sendi syariahnya yang mengatur seluruh sendi kehidupan manusia. Dari mulai sendi-sendi internal manusia, sampai masalah eksternal terkait dengan manusia lainnya dan alam semesta.

Menanam adalah salah satu dari bagian kehidupan manusia yang dianjurkan dalam Islam, hal ini karena manusia sebagai khalifah di muka bumi dalam makna menjadi penanggungjawab semesta bertanggungjawab untuk seluruh kehidupan semesta. Namun faktanya, banyak sekali kerusakan di muka bumi yang terjadi adalah karena manusia. Mengenai hal ini Allah Ta’ala berfirman:

ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ

Telah nampak jelas kerusakan di darat 6dan di laut yang disebabkan oleh perbuatan tangan Manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar… QS. Ar-Ruum: 41.

Kerusakan baik secara fisik ataupun sistem ekosistem yang sudah berjalan sesuai dengan kehendakNya adalah karena ulah manusia. Sehingga sudah selayaknya manusia bertanggungjawab atas segala kerusakan yang ada, termasuk harus berupaya untuk memperbaiki kerusakan semesta.

Salah satu cara untuk memperbaiki kerusakan alam adalah dengan menanam pohon, sebagai bentuk memperbaiki kerusakan yang di muka bumi.

Islam memandang bahwa menanam pohon bukanlah sekadar memperbaiki kerusakan lingkungan, lebih dari itu adalah sebagai ibadah dan sarana mendapatkan pahala dari Allah Ta’ala. Rasulullah Shalallahu walaihi wassalam dalam banyak hadits telah bersabda:   

  يَغْرِسُ غَرْسًا إِلاَّ كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً وَ مَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً وَ مَا أَكَلَتِ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةً وَ لاَ يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةً

Tidaklah seorang Muslim menanam pohon, melainkan apa yang dimakan dari tanaman itu sebagai sedekah dan pahalanya untuknya, dan apa yang dicuri dari tanaman tersebut sebagai sedekah dan pahalanya untuknya, dan tidaklah kepunyaan seorang itu berkurang melainkan menjadi sedekah dan pahala baginya, HR. Muslim.

Hadits ini menunjukan bahwa ketika seseorang menanam pohon, maka ia akan mendapatkan pahala dari proses menanamnya. Bahkan ketika hasil dari pohon tersebut dicuri orang, dimakan oleh manusia atau hewan, maka ia akan mendapatkan pahala. Sebagaimana sabda beliau:  

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا, أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلَ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيْمَة إِلاَّ كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

Tidaklah seorang Muslim menanam pohon, tidak pula menanam tanaman kemudian tanaman itu dimakan oleh burung, manusia atau hewan, melainkan menjadi sedekah dan pahalanya untuk yang menanam,” HR. Bukhari

Secara lebih detail dalam Riwayat lainnya dijelaskan:

إن قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا

Jikapun akan terjadi hari Kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada bibit, jika ia mampu sebelum terjadi hari Kiamat, maka tanamlah. HR. Bukhari dan Ahmad.

Merujuk pada hadits-hadits tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Islam sangat menganjurkan untuk bercocok tanam, khususnya tanaman yang dapat memenuhi kebutuhan pokok umat manusia. Karena ia adalah salah satu usaha untuk menghidupkan tanah mata, sebagaimana firmanNya:

وَءَايَةٌۭ لَّهُمُ ٱلْأَرْضُ ٱلْمَيْتَةُ أَحْيَيْنَٰهَا وَأَخْرَجْنَا مِنْهَا حَبًّۭا فَمِنْهُ يَأْكُلُونَ

Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan. QS. Yaasin: 33.

Imam Al-Qurthubi menafsirkan ayat tentang bercocok tanam, “Bercocok tanam termasuk fardhu kifâyah. Imam (penguasa) berkewajiban mendesak rakyatnya untuk bercocok tanam dan yang semakna dengan itu, seperti menanam pohon”. Bahkan untuk memotivasi umat beliau agar gemar menanam pohon beliau mengatakan “Muslim mana saja yang menanam sebuah pohon lalu ada orang atau hewan yang memakan dari pohon tersebut, niscaya akan dituliskan baginya sebagai pahala sedekah dan amal jariah yang tiada putusnya”.

Demikian pula Abu Hayyan al-Andalusi (w 745 H) dalam Tafsir al-Bahr al-Muhith menyatakan “Bumi yang mati adalah bumi yang tidak ada pohon-pohonnya. Sedangkan Ibn ‘Asyur (Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir): bumi yang mati adalah bumi yang kering dan patah karena tak ada kehidupan tumbuhan di dalamnya. Cara menghidupkannya adalah dengan menanam tanaman, rumput, dan pepohonan.

Merujuk pada pendapat para ulama tersebut, maka jelas sekali bagaimana Islam sangat menganjurkan umatnya untuk menanam pohon dan bercocok tanam sebagai sarana untuk memakmurkan bumi, memperbaiki kerusakan yang ada dan sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia.

Lebih dari itu adalah bahwa menanam pohon akan bernilai ibadah apabila diniatkan untuk mendapatkan ridha dari Allah Ta’ala (QS. Al-Bayyinah: 5) dan mengikuti petunjuk dari Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam (QS. Al-Ahzab: 21). Dari sini tidak ada alasan bagi kita untuk merusak alam semesta, bahkan sebaliknya harus menjaga kelestariannya. Salah satu caranya adalah dengan menanam pohon dan menjaga kelestarian hutan dan bumi ini. Wallahu’alam, 09092022.