Tampilkan postingan dengan label Motivasi Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi Islami. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Mei 2025

Menyikapi Kekurangan Insan

 


Video pendek berjudul "Menyikapi Kekurangan Insan" menyoroti pentingnya sikap bijak dalam menghadapi kekurangan diri sendiri dan orang lain. Pesan ini disampaikan melalui wawancara antara Dr. Misno, MEI., MH., M.Pd., dan Ustadz Taopik Hidayat, M.Pd., yang menekankan bahwa setiap individu memiliki kekurangan, namun hal tersebut seharusnya menjadi motivasi untuk terus memperbaiki diri.

Dalam wawancara tersebut, Dr. Misno dan Ustadz Taopik Hidayat membahas bagaimana kekurangan bukanlah alasan untuk merendahkan diri sendiri atau orang lain, melainkan sebagai peluang untuk belajar dan berkembang. Mereka menekankan pentingnya empati, kesabaran, dan dukungan dalam membantu sesama menghadapi kekurangan mereka.

Salah satu poin penting yang dibahas adalah bagaimana dalam Islam, kita diajarkan untuk saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran. Hal ini mencerminkan nilai-nilai keislaman yang menekankan kasih sayang, pengertian, dan dukungan terhadap sesama.

Selain itu, mereka juga menyoroti bahwa menyikapi kekurangan dengan bijak dapat memperkuat hubungan sosial dan menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan pribadi. Dengan memahami bahwa tidak ada manusia yang sempurna, kita dapat lebih mudah menerima kekurangan orang lain dan membantu mereka dalam perjalanan perbaikan diri.

Secara keseluruhan, wawancara ini mengajarkan kita bahwa menghadapi kekurangan dengan sikap positif dan penuh kasih adalah kunci untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan membantu orang lain dalam perjalanan mereka menuju perbaikan diri. Dengan pendekatan yang penuh pengertian, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih harmonis dan sesuai dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya saling mengingatkan dalam kebaikan.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menonton video wawancara tersebut melalui tautan berikut: https://www.youtube.com/shorts/l-6cvrfcfJE

 

Selasa, 02 Januari 2024

Anugrah dan Angkara pada Hawa dan Cinta

Oleh: Bambang Sahaja


Manusia adalah mahkul ciptaan Allah Ta’ala yang dihiasi dengan cinta dan hawa, keduanya memiliki sisi positif dan negatif. Hawa menjadi media untuk mengembangbiakan manusia, selain kesenangan yang menjadi anugerah dari Allah Ta’ala. Sementara cinta adalah rasa suka yang biasanya terkait pula dengan hawa. Jika ia dikelola sesuai dengan syariahNya maka kebahagiaan tiada tara akan didapatkan oleh yang empunya. Namun, apabila tidak kuasa mengelolanya, maka bisa jadi keduanya membawa pada kesengsaraan dunia dan di alam sana.

Hawa yang biasanya menempel dalam jiwa dan menguasai raga adalah keinginan untuk memenuhi apa yang diinginkannya, kebutuhan seksual, makan, minum, dan kenikmatan duniawi lainnya menjadi tujuan utama dari hawa yang senantiasa harus didapatkan. Kepuasan makan dan minum, pemenuhan kebutuhan seksual hingga kesenangan terhadap dunia lainnya selalu dibumbuhi dengan hawa.

Sementara cinta adalah rasa suka pada sesuatu, termasuk seseorang yang dirasa sesuai dengan keinginannya, baik dari segi fisiknya (ganteng atau cantik) serta perilaku dan berbagi sendi kehidupannya. Rasa ini kadang tidak logis, karena bisa muncul kapan saja, di mana saja dan dengan siapa saja. Cinta adalah anugerah darinya, yang tentu saja tidak bisa lepas dari hawa yang ada pada diri manusia. Bagi saya, sangat tidak mungkin seseorang cinta pada orang lain tanpa ada “apa-apa-nya”. Maksudnya adalah seseorang uang cinta pada orang lain pasti ada sebab fisik yang nampak darinya, entah itu fisik atau tubuhnya, keluarganya, hartanya, kekuasaannya dan urusan dunia lainnya. Pendapat ini mungkin akan dikritik banyak orang, karena cinta yang tulus katanya tidak pernah memandang fisik, saya jawab “ya betul” tapi pasti ada sisi lainnya yang memunculkan rasa itu.

Perdebatan tentang cinta dan hawa memang tidak ada habisnya, karena ia terkadang saling berkaitan dan tidak terpisahkan. Hawa pada dunia akan memunculkan rasa suka, dan bisa jadi cinta itu muncul karena melihat fisik manusia lainnya. Sementara cinta muncul karena melihat fisik, dan sisi yang nampak lainnya, ada juga yang melihat dari sisi spiritualnya. Tapi intinya tetap saja “Cinta terkadang diawali dengan hawa, sementara hawa akan memunculkan cinta”.

Hawa dan Cinta sejatinya bisa saling menguatkan, di mana hawa yang selalu berada dalam naungan syariahNya akan memunculkan rasa cinta yang bukan hanya melihat fisik saja namun juga sisi spiritual yang akan membawa kepada kebahagiaan selamanya, di dunia dan di akhirat sana. Semoga kita semua mampu untuk mengelola hawa dan cinta kita sehingga ianya akan membawa kita kepada keridhaan Allah Ta’ala. Wallahu a’alam, 02012024.

Minggu, 31 Desember 2023

Selamat Tinggal Tahun 2023: Semoga Keberkahan di Tahun 2024

By Misno bin Mohamad Djahri


Tulisan ini saya ketik pada Ahad, 31 Desember 2023 Jam 22.58. Tentu saja bukan untuk merayakan pergantian tahun yang sudah menjadi budaya di masyarakat, sekadar refleksi yang bisa jadi ada pengaruh dari perayaan tahun masehi ini. Bagaimanapun memang saat ini kita tidak bisa terpisahkan dari berbagai budaya di masyarakat yang berasal dari berbagai keyakinan dan peradaban. Termasuk mungkin tulisan ini, kenapa harus selamat tinggal 2023? Kenapa harus tahun baru? Dan pertanyaan lainnya yang silahkan disimpulkan sendiri. Tapi intinya, tulisan ini adalah refleksi saya selama tahun 2023.

Tahun 2023, dalam kehidupan saya penuh dengan berbagai peristiwa. Mulai dari perpindahan tempat bekerja, luka lama yang masih menganga karena disakiti dan difitnah di tempat kerja sebelumnya hingga “sakit” masih menyesakkan dada. Semua itu mewarnai kehidupan saya di tahun dua ribu dua puluh tiga. Ya, tahun ini memang “sangat Istimewa” karena berbagai rasa kehidupan terasa hingga ke sekujur badan. Itulah kenapa tulisan ini harus ada di akhir tahun masehi ini. Mungkin rasa ini masih berlanjut hingga beberapa bulan ke depan, atau bahkan menjadi bagian kehidupan yang tidak akan pernah terlupakan.

Fitnah yang terjadi di tempat kerja sebelumnya memang membawa luka di jiwa, tuduhan menggelapkan uang perkuliahan hingga dibuat tidak nyaman dengan keadaan adalah hal yang benar-benar menjadikan alasan untuk keluar dari pekerjaan. Berkali-kali aku sampaikan ke beberapa orang tentang fitnah ini, bahwa aku berlepas diri dari segala fitnah itu, tidak pernah sepeserpun aku memakan harta yang subhat apalagi yang haram. Bahkan kebijakan yang aku lakukan sejatinya adalah untuk memudahkan para mahasiswa agar mendapatkan layanan yang menyenangkan. Tapi berbeda di mata para pejabat yang sedang berkuasa, hingga menganggap aku adalah bagian yang harus dikeluarkan. Tapi biarlah, sudah berlalu lebih kurang 6 bulan dan perlahan aku mulai mengikhlaskan. Itu semua menjadi bagian Sejarah dalam kehidupan dan semakin memahami bagaimana hakikat manusia dan segala tingkah lakunya.

Masuk ke tempat kerja baru tentu tidak mudah, penyesuaian diri dan lingkungan baru harus kujalani. Walaupun masih satu profesi tapi orang-orang dengan karakter berbeda harus kuhadapi, tentu saja beberapa hal harus disesuaikan, mulai dari penampilan hingga toleransi dalam hal-hal yang sifatnya ritual keagamaan. Memang cukup berat, dengan keberagamaan yang berbeda dengan apa yang aku dapatkan tentu memerlukan adanya kelapangan dada dalam menyikapi perbedaan. Sebenarnya ini tidaklah masalah, karena sejak awal memang sudah disampaikan dan secara pribadi dan keilmuan sudah disiapkan. Walaupun hingga enam bulan berjalan rasa “tidak nyaman” dengan pola keberagamaan di tempat baru masih dirasakan. Tapi biarlah, semoga ke depan akan semakin mengalami perbaikan.

Satu hal di tahun 2023 yang masih berjalan adalah “rasa” yang dulu pernah ada masih menggelayuti jiwa. Angkara jiwa yang menggoda hingga raga menikmati pesona dunia yang terasa begitu menggelora. Entah sampai bila “rasa” ini ada, mungkin hingga ajal menjemput nyawa. Ada keinginan untuk menghilangkan minimal mengurangi di usia 45, semoga saja bisa dengan sekuat jiwa dan raga. Namun hingga akhir 2023 ini, sepertinya “rasa” itu masih saja ada dalam dada, bahkan godaannya begitu kuat terasa hingga masih “sulit” untuk melepaskannya. Semoga saja ke hadapan ianya mulai tunduk patuh pada syariahNya.

Semoga di tahun 2024 esok, menjadi tahun yang penuh dengan kegemilangan, kesukesan dan tentu saja keberkahan dalam kehidupan. Cucu yang sudah menginjak 9 bulan, keluarga yang selalu menemani hingga pekerjaan dan lingkungan yang ada menjadi wasilah dalam menghadapai kehidupan ini. Ya Allah, berkahilah kehidupan kami. Aameen, 31122023 Pukul 23.15 WIB.

Senin, 20 November 2023

Membaca Semesta di Negara Tetangga

 Oleh: Misno

 


Bermimpi tentu tidak ada salahnya, apalagi jika mimpi itu terpatri dalam hati dan menjadi azzam yang kuat hingga setiap langkah hidup fokus kepadanya. Mimpi untuk berkeliling dunia dengan menikmati beraneka ragam budaya dan alamnya menjadi mimpi dalam hati ini, bukan hanya sekadar jalan-jalan tetapi “membaca” yang tersurat dan tersirat hingga memberi hikmah serta kebijaksanaan hidup yang tiada tara.

Namun, apalah daya anak buruh tani ini harus berjuang luar biasa untuk mencapainya. Semangat membaca yang kuat, dengan berbagai buku bacaan yang dipinjam dari perpustakaan sekolah bahkan koran dan majalah bekas bungkus nasi menjadi penyemangat hidup. Bahkan ketika harus berjuang di Ibu Kota dengan bekerja dan melanjutkan studinya, hingga bersimbah darah dan air mata dalam menyelesaikan program sarjana, magister hingga Doktoral.

Semangat untuk melanjutkan kuliah sempat tersendat karena biaya dan kesempatan yang belum ada, namun ada hikmah terbesar karena akhirnya mampu menghasilkan maha karya (buku) yang diterbitkan di beberapa penerbit di Jakarta. Hingga membawanya keliling Asia Tenggara, sedangkan tulisannya telah mengembara di berbagai pelosok negara utamana di dunia maya. Buku yang berjudul “Menaklukan Asia” Pustaka Amma Alamia dan “Menggenggam Nusantara” penerbit Gramedia Pustaka Utama telah membawanya ke Singapura, Malaysia dan Brunai Darusalam.

Singapura menjadi negara pertama yang saya kunjungi, berbekal undangan untuk mengajar di sana hingga mampu berkeliling di setiap sudutnya serta berjumpa dan wawancara dengan penduduknya. Tentu saja wisata buku tidak dapat ditinggalkan, mengunjungi beberapa perpustakaan, universitas dan pameran buku di negeri Singa adalah hal yang menakjubkan. Negara kecil miskin sumber daya alam ini faktanya kaya dengan sumber daya manusia, salah satu faktor utamanya adalah tingkat membacanya. Bersyukur hingga saat ini masih diberi kepercayaan untuk mengajar di sana serta membimbing dan menguji tesis di salah satu college di sana. Selain itu beberapa buku dan penelitian yang diterbitkan berkenaan dengan Singapura menjadi kontribusi bagi negeri ini.

Selanjutnya Malaysia, negara jiraan ini sudah menjadi semacam negeri sendiri dengan berbagai pesonanya. Tentu saja buku dan ilmu pengetahuan di sana menjadi tujuan utama mengunjunginya. Berawal di tahun 2012 mengikuti Konverensi Internasional sebagai pembicara di University of Malaya, hingga berlanjut berkelana di sepanjang Malaysia. Mulai dari UiTM di Sabah Malaysia Timur, dilanjutkan dengan UTM di Johor Bharu, UTem di Melaka, UKM di Bangi, IIUM di Gombak hingga ke USM di Pulau Penang. Beberapa buku saya diterbitkan di UCYP Malaysia dan menulis bersama dengan beberapa dosen di sana adalah sebuah kebanggaan. Puncaknya mendapatkan penghargaan dari Kerajaan sebagai penulis Buku Nusantara Terbaik bersama Dr. Shabri bin Mohd Sharif dari UTeM Melaka.

Brunai Darusalam menajdi negara yang juga menginspirasi dalam membaca dan menulis, pasalnya kehadiran saya di sini juga dalam rangka mengikuti konverensi internasional sebagai pembicara. Ternyata tidak hanya sampai di situ, komunikasi yang intens juga telah memebrikan peluang untuk menerbitkan buku bersama dengan beberapa dosen di sana. Negara dengan penduduk sedikit ini menjadi inspirasi untuk terus membaca dan berkarya untuk semesta.

Tentu saja ini petualangan membaca semesta ini belum berakhir, Covid-19 yang mewabah membatalkan rencana kunjungan saya ke teman di Cambodia, Thailand dan Vietnam. Semoga setelah dunia ini membaik, petualangan untuk buku dan membaca semesta akan terus berlanjut mengelilingi dunia, hingga semakin mampu memahami jagad raya agar kebijaksanaan menjadi nyata dalam jiwa.

 

 

Kisah Anak Buruh Tani dari Selatan Jawa

Oleh: Misno

 


Buku menjadi bagian dari hidup saya, kebiasaan membaca telah ada sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), nun jauh di ujung selatan Pulau Jawa. Sedikit dari murid-murid di SDN Ujungmanik III yang datang ke perpustakaan, membaca buku dan meminjamnya untuk dibawa ke rumah.  Bukan hanya dibaca, bahkan karena terbatasnya bahan bacaan di rumah, karena keluarga hanya seorang buruh tani maka buku tersebut saya salin untuk dibaca kembali ketika buku yang dipinjam sudah dikembalikan ke perpustakaan sekolah.

Buku dan membaca isinya terus berlanjut, bahkan ketika terpaksa harus putus sekolah karena orang tua tidak ada lagi biaya. Berbekal semangat untuk membaca, beberapa buku yang dijual di loakan kaki lima saya beli untuk memuaskan dahaga membaca. Waktu itu saya ikut Bu De (Kakak Ibu) yang merantau ke Jakarta. Keinginan kuat untuk melanjutkan sekolah, akhirnya saya mengikuti kelas Paket C (Setara SMU), dengan tetap membaca dari berbagai sumber yang ada. Tentu saja, koran bekas pembungkus nasi atau majalah menjadi bahan bacaan saya, hingga mengantarkan saya ke bangku kuliah.

Bukan perkara yang mudah, ketika memasuki dunia kampus, dengan tetap bekerja untuk memenuhi kehidupan sendiri di sekitar ibukota Jakarta. Berbekal semangat membaca dan buku yang selalu ada di jiwa dunia kuliah di selesaikan dengan baik bahkan menjadi Lulusan Terbaik dengan Predikat Cumlaude. Setelah menyelesaikan Program Sarjana Hukum, kembali kegundahan itu muncul “Apakah hanya sampai di sini, atau harus kuliah lagi ke jenjang yang lebih tinggi?” Seorang anak buruh tani yang miskin kembali berfikir, hingga kecintaannya pada buku menyampaikannya pada level merangkai kata dan kalimat hingga menjadi sebuah maha karya.

Menulis buku menjadi pelampiasan semangat membaca dan meningkatkan kemampuan akademiknya, hingga akhirnya mengantarkan pula kuliah di jenjang pascasarjana. Sambil menulis buku dan membantu beberapa teman kelas menyelesaikan tugas-tugas kuliah akhirnya selesai juga kuliah di pascasarjana Program Studi Ekonomi dengan menyandang gelar Magister Ekonomi. Hal yang membanggakan adalah lulus sebagai mahasiswa terbaik dan nilai IPK “Dengan Pujian” alias cumlaude.

Mampukah anak petani buruh ini mencapai level akhir strata pendidikan di negeri ini? Program Doktoral menjadi mimpi banyak orang, namun sepertinya belum saatnya untuk dinikmati oleh anak buruh tani yang miskin ini. Namun, semangatnya untuk terus membaca dan menambah ilmu pengetahuan mengantarnya menghasilkan berbagai “maha karya”, yaitu berbagai buku yang diterbitkan di penerbit Indonesia. Masa berlaku hingga dua tahun lebih, ketika tawaran untuk kuliah lagi datang dari Universitas Negeri di Bandung. Akhirnya dengan modal nekat, petualangan akademik di Kota Kembang dimulai, tentu saja dengan perjuangan yang luar biasa karena harus pulang pergi seminggu sekali dari Bogor ke Bandung.

Kesungguhan dalam perjuangan tidak sia-sia, semangat membaca, buku, dan cinta ilmu pengetahuan mengantarnya lulus di jenjang Doktoral bahkan menjadi lulusan terbaik dengan predikat Cumlaude”. Alhamdulillah…

Buku dan membacanya menjadi bagian tidak terpisahkan dalam hidup saya, bahkan dengan target lima kali umru saya maka menghasilkan maha karya menjadi motivasi yang menjadikan hidup ini lebih bermakna. Semoga…

Kamis, 18 Mei 2023

Ciri Muslim Cerdas: Belajar, Belajar dan Belajar

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri



Syukur kepada Allah Ta’ala yang telah memberikan kepada kita akan kenikmatan iman Islam dan juga Ihsan. Shalawat dan salam sama-sama kita panjatkan kepada junjungan alam Habibana wa nabiyana Muhammadin Shallallahu Alaihi Wasallam kepada seluruh ahli baitnya para sahabatnya serta orang-orang yang senantiasa mengikuti jejak sunnahnya hingga akhir zaman.

Salah satu dari ciri seorang muslim yang memiliki ghirah atau semangat intelektual dan juga pembelajar adalah dia selalu ingin untuk menambah ilmu pengetahuannya, ingin untuk menambahkan pemahamannya terhadap ilmu pengetahuan baik ilmu pengetahuan yang sifatnya duniawi ataupun yang sifatnya ukhrawi atau kedua-duanya.

Oleh karena itu salah satu dari ciri dari muslim yang memiliki intelektual dan semangat pembelajaran tinggi adalah selalu dia belajar, belajar dan belajar, baik itu dia dengan membaca kemudian juga dengan mungkin juga menulis mungkin juga dia dengan belajar kepada seorang ilmuwan seorang tokoh seorang ustadz ajengan ataupun juga dia mengikuti berbagai kegiatan yang sifatnya ilmiah baik itu conference kemudian seminar webinar dan lain sebagainya.

Apalagi sebagai seorang akademisi, dosen misalnya maka dia memiliki kewajiban lebih untuk bisa melihat bagaimana perkembangan dari ilmu pengetahuan itu sendiri. Ya perkembangan dari berbagai munculnya perubahan yang ada sehingga kemudian mau tidak mau ilmu pengetahuan itu terus harus berkembang dan harus terus kita update ya agar sesuai dengan perkembangan zaman. Sehingga mudah-mudahan dengan kita belajar, belajar dan belajar melalui membaca baik itu membaca teks ataupun membaca alam semesta ini kemudian juga menuliskannya mempublikasikannya kemudian juga hadir di berbagai pertemuan ilmiah itu menjadi salah satu sarana kita untuk bisa menambah dari ilmu pengetahuan mengembangkan dan yang pasti memberikan manfaat bagi umat dan juga masyarakat bangsa dan juga negara.  Wallahualam, 18052023 transkrip dari video Youtube di Surabaya.

Kekurangan anda Adalah Kelebihan Anda

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri

 


Bismillahirrahmaanirohim 

Setiap manusia memiliki kekurangan dan juga kelemahan, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu Alaihi WasallamKullu Bani Adam Khattha’un” artinya setiap manusia itu pasti pernah berbuat salah. Bahkan dalam beberapa ayat Alquran menunjukkan bahwasanya manusia itu adalah dzaluumun kaffaar dan lain sebagainya.

Oleh karena itu kita sebagai manusia harus siap untuk berdamai dengan kekurangan kita, ini memang cukup berat, banyak kekurangan yang ada pada diri kita sendiri, bahkan ada beberapa orang yang mungkin tidak pede atau minder dengan kekurangan dirinya. Berdamai dengan kelemahan atau kekurangan kita berarti kita memahami dari kelemahan dan juga kekurangan terus memperbaikinya sehingga akan lebih baik ke ke hadapannya. Karena pada manusia itu pasti tidak ada yang yang sempurna, sehingga setiap manusia itu pasti memiliki kekurangan, pasti memiliki kelemahan dan lain sebagainya.

Kemudian kelemahan dan kekurangan itu kita harus mampu untuk menerimanya, akan di level yang lebih tinggi jika kita mampu menjadikan kelemahan kita itu jadi kekuatan kita setiap kekurangan kita pun menjadi kelebihan kita asal caranya kita mampu untuk mengelola dari keuangan atau dari kekurangan tersebut. Anda bisa mengelola dari kelemahan dan kekurangan kita dan menjadikan yang kelemahan kita menjadi kekuatan kita jadikan kekurangan kita menjadi sebuah kelebihan untuk kita.

Tentu saja Ini melalui proses dan proses itu tentu saja tidak instan tetapi bertahap, mudah-mudahan Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberikan kepada kita hidayah serta inayah-nya sehingga kita mampu untuk memahami diri kita mengetahui kelemahan dan kekurangan kita menjadikan itu sebagai media untuk introspeksi dan menjadikannya pula kita itu untuk maju dan berkembang kembang menjadikan kekurangan kita sebagai kelebihan kita, kelemahan kita sebagai kekuatan dari diri kita. Wallahu A'lam Bishawab 18052023 dari transkrip video di Surabaya.

Kunci Hidup Sukses

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri

 


Bismillahirrahmanirrahim

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah sholatu wassalamu ala rasulillah wa ala alihi wa ashabihi  

 

Salah saru dari kunci sukses untuk kita meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat itu diawali dengan believe atau keyakinan. Apa itu yaitu keyakinan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala bahwasanya setiap manusia itu sudah ditetapkan takdirnya dan kita diberikan kehendak untuk bisa berikhtiar atau berusaha ya untuk bagaimana meraih kebahagiaan tersebut.

Berarti keyakinan itu terkait dengan bagaimana sebenarnya manusia itu meyakini bahwasanya kita itu memiliki kehendak untuk bisa meraih kebahagiaan atau kesuksesan tersebut itu yang pertama jadi kalau kita ingin sukses bahagia dunia dan akhirat maka awali dengan believe dengan keyakinan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala Bahwasanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala adalah pencipta kita Allah Subhanahu Wa Ta'ala adalah satu-satunya Ilah dan juga Allah subhanahu wa ta'ala itu adalah Dzat yang menciptakan kita yang memberikan rezeki kepada kita yang juga memberikan kepada kita kehendak untuk kita bisa meraih sebuah kesuksesan.

Kemudian yang kedua adalah terkait dengan bagaimana kita itu betul-betul menikmati memahami dari proses itu sendiri. Ya proses di dalam kehidupan di mana banyak orang mungkin kecewa dengan keadaan dari kehidupannya padahal kita sebagai seorang muslim tentu saja harus meyakini bahwasanya kehidupan yang kita jalani ini adalah salah satu dari skenario dari Allah subhanahu wa ta'ala sehingga bisa diuji apakah kita mampu untuk bersabar ketika ada musibah bersyukur ketika kita mendapatkan anugerah.

Kemudian yang ketiga adalah kita bisa fokus kepada tujuan hidup kita yaitu kita itu adalah apa kebahagiaan baik itu di dunia ataupun di akhirat. Kebahagiaan itu bukan sesuatu yang harus dicari tetapi kebahagiaan itu kita ciptakan. Bagaimana kita misalnya mensyukuri dengan apa yang ada saat ini ya kemudian juga dengan syukur itu tentu nanti akan bertambah dari kenikmatan itu dan yang tentunya adalah dengan bersyukur itu kita akan semakin yakin bahwa ada tujuan dari utama atau tujuan utama dari hidup kita yaitu mendapatkan Ridho dari Allah Azza wa Jalla.

Mudah-mudahan Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa memberikan hidayah serta inyahNya sehingga kita mampu untuk menguatkan kita keyakinan kita kemudian mampu juga untuk menikmati proses kehidupan ini dan juga kita akan mampu untuk fokus kepada tujuan kita yaitu kebahagiaan di dunia dan akhirat serta Ridho dari Allah Azza wa Jalla, Wallahualam Bishawab Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. 18052023 dari transkrip video menggunakan anthiago.

Senin, 13 Maret 2023

Persiapkan Diri Menghadapi Bulan Suci (Ramadhan 144 H./ 2023 M.)

Oleh: Ahmad Berhimin, SE., ME

 


Bulan suci Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa bagi umat Muslim di seluruh dunia. Selain sebagai bulan yang penuh berkah, Ramadhan juga menjadi momentum untuk memperkuat iman, memperbaiki diri, dan meningkatkan keberkahan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, sebagai umat Muslim, kita perlu melakukan persiapan yang matang untuk menjalankan dan melaksanakan ibadah di bulan suci Ramadhan.

Berikut adalah beberapa persiapan yang perlu dilakukan dalam menjalankan dan melaksanakan ibadah di bulan suci Ramadhan 1444 Hijriah:

1.     Meningkatkan Ketaqwaan

Ketaqwaan adalah kunci utama dalam melaksanakan ibadah di bulan suci Ramadhan. Oleh karena itu, persiapkan diri dengan meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Salah satu cara untuk meningkatkan ketaqwaan adalah dengan memperbanyak ibadah di luar bulan suci Ramadhan seperti shalat, membaca Al-Qur'an, dan lain-lain.

2.     Mengatur Waktu

Mengatur waktu menjadi sangat penting dalam menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan. Mulai dari waktu sahur, waktu berbuka, waktu shalat Tarawih, dan waktu-waktu penting lainnya harus diperhatikan dengan baik. Hal ini dapat membantu kita menjaga kesehatan dan stamina selama menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan.

3.     Menjaga Kesehatan

Menjaga kesehatan juga menjadi persiapan penting dalam menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan. Kita perlu memperhatikan pola makan, hindari makanan yang tidak sehat, dan berolahraga secara teratur. Kondisi kesehatan yang baik akan membantu kita lebih mudah melaksanakan ibadah di bulan suci Ramadhan.

4.     Menyempurnakan Pahala

Bulan suci Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk menyempurnakan pahala. Selain menjalankan ibadah wajib seperti shalat, puasa, dan zakat, kita juga bisa melaksanakan amal-amal lain seperti sedekah, membantu orang lain, dan lain-lain. Dengan menyempurnakan pahala, kita bisa mendapatkan keberkahan dan balasan dari Allah Ta’ala.

5.     Menjalin Hubungan yang Baik dengan Sesama

Menjalin hubungan yang baik dengan sesama juga menjadi persiapan penting dalam menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan. Kita perlu menjaga kerukunan dengan keluarga, sahabat, dan tetangga. Kita juga perlu memaafkan kesalahan orang lain dan berusaha untuk saling membantu.

Dalam kesempatan yang istimewa ini, marilah kita mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk menjalankan dan melaksanakan ibadah di bulan suci Ramadhan 1444 Hijriah. Dengan melakukan persiapan yang matang, kita akan lebih mudah melaksanakan ibadah dan mendapatkan keberkahan dari Allah Ta’ala.

Dalam menjalankan dan melaksanakan ibadah di bulan suci Ramadhan, persiapan yang matang sangatlah penting. Dalam artikel ini, telah disebutkan beberapa persiapan yang perlu dilakukan seperti meningkatkan ketaqwaan, mengatur waktu dengan baik, menjaga kesehatan, menyempurnakan pahala, dan menjalin hubungan yang baik dengan sesama.

Melakukan persiapan yang matang tersebut akan membantu kita dalam menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan dengan lebih mudah dan lancar. Selain itu, persiapan tersebut juga akan membantu kita memperoleh keberkahan dan pahala yang lebih banyak dari Allah SWT.

Namun, tidak hanya itu saja, dalam menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan juga diperlukan kesabaran, ketekunan, dan keteguhan hati untuk tetap konsisten menjalankan ibadah meskipun mungkin terasa sulit atau melelahkan. Kita juga harus selalu mengingat tujuan dari berpuasa dan beribadah di bulan suci Ramadhan, yaitu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meningkatkan kualitas diri sebagai hamba yang lebih baik.

Oleh karena itu, selain melakukan persiapan yang matang, marilah kita juga mempersiapkan diri secara mental dan spiritual dalam menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan. Dengan demikian, kita akan lebih siap dan mampu menjalankan ibadah dengan baik, serta mendapatkan manfaat dan keberkahan yang lebih besar dari bulan suci Ramadhan.

 

Manfaat yang didapat dalam Menpersiapkan menjalankan dan melaksanakan ibadah bulan suci ramadhan 1444 Hijriah

Terdapat banyak manfaat yang dapat diperoleh dalam menyiapkan diri untuk menjalankan dan melaksanakan ibadah di bulan suci Ramadhan. Beberapa manfaat tersebut di antaranya adalah:

1.     Meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT: Dalam melakukan persiapan untuk menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan, kita akan lebih memfokuskan diri pada ibadah dan menghindari hal-hal yang dapat mengganggu ibadah, sehingga dapat membantu meningkatkan ketaqwaan kepada Allah Ta’ala.

2.     Meningkatkan kualitas ibadah: Dengan melakukan persiapan yang matang, kita akan lebih siap dan mampu untuk menjalankan ibadah dengan baik, sehingga dapat meningkatkan kualitas ibadah yang kita lakukan.

3.     Memperoleh pahala yang lebih banyak: Dalam bulan suci Ramadhan, pahala yang diberikan oleh Allah SWT untuk setiap ibadah yang dilakukan akan dilipatgandakan. Dengan melakukan persiapan yang matang, kita akan lebih mudah untuk memperoleh pahala yang lebih banyak dari Allah SWT.

4.     Menjaga kesehatan: Dalam persiapan untuk menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan, kita juga perlu memperhatikan kesehatan tubuh kita. Dengan menjaga kesehatan, kita dapat menjalankan ibadah dengan lebih lancar dan mudah.

5.     Menjalin hubungan yang baik dengan sesama: Dalam bulan suci Ramadhan, kita juga perlu menjalin hubungan yang baik dengan sesama muslim. Dengan melakukan persiapan yang matang, kita dapat memperoleh kesempatan untuk memperbaiki hubungan yang kurang baik dengan sesama muslim, sehingga dapat menjalin hubungan yang lebih baik dan harmonis.

6.     Menjadi pribadi yang lebih baik: Dalam persiapan untuk menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan, kita perlu meningkatkan kualitas diri dan memperbaiki kekurangan yang ada dalam diri kita. Dengan demikian, kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih dekat dengan Allah SWT.

Anjuran dalam Alqur’an yang membahas tentang Menpersiapkan menjalankan dan melaksanakan ibadah bulan suci ramadhan 1444 Hijriah

Dalam Al-Quran, terdapat banyak ayat yang memberikan anjuran dan panduan dalam menyiapkan dan menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan. Beberapa ayat tersebut di antaranya adalah:

1.     "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183). Ayat ini menunjukkan bahwa berpuasa di bulan suci Ramadhan merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang mampu melakukannya. Puasa tersebut harus dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

2.     "Dan janganlah kamu mencampuradukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu menyembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 42). Ayat ini mengajarkan kepada kita untuk selalu berpegang pada kebenaran dan tidak mencampuradukkan antara yang benar dengan yang salah. Dalam menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan, kita harus berusaha untuk memperbaiki diri dan menjauhi perbuatan-perbuatan yang dianggap tidak baik.

3.     "Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 153). Ayat ini mengajarkan kepada kita untuk bersabar dalam menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan. Puasa yang dilakukan selama sebulan penuh bukanlah hal yang mudah, namun dengan kesabaran dan keteguhan hati, kita dapat menjalankan ibadah tersebut dengan lancar dan mudah.

4.     "Dan apabila hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS. Al-Baqarah: 186). Ayat ini mengajarkan kepada kita untuk senantiasa berdoa kepada Allah SWT dalam menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan. Dalam berdoa, kita harus memenuhi segala perintah-Nya dan beriman dengan sepenuh hati agar doa kita dikabulkan dan kita selalu berada dalam kebenaran.

Dengan memperhatikan anjuran-anjuran dalam Al-Quran, kita dapat menyiapkan dan menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan dengan baik dan penuh keberkahan.

 

Kesimpulan

Kesimpulannya, menyiapkan dan menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan adalah kewajiban bagi setiap muslim yang mampu melakukannya. Dalam Al-Quran, terdapat banyak anjuran dan panduan yang dapat dijadikan acuan untuk menjalankan ibadah tersebut. Beberapa di antaranya adalah untuk selalu berpegang pada kebenaran, menjauhi perbuatan-perbuatan yang buruk, bersabar, dan senantiasa berdoa kepada Allah SWT.

Dalam menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan, kita akan merasakan banyak manfaat, seperti meningkatkan ketakwaan, memperbaiki diri, membiasakan diri untuk mengendalikan nafsu, mendapat pahala dari Allah SWT, dan merasakan kebahagiaan dan kedamaian dalam diri. Selain itu, melalui ibadah di bulan suci Ramadhan, kita juga dapat mempererat tali persaudaraan dan solidaritas antar sesama muslim. berhiminahmad11@gmail.com  @ Putra Lintang 13032023

Selasa, 07 Maret 2023

Menikmati Hidup dalam Islam

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri

 


Menikmati hidup dalam Islam merupakan hal yang penting dalam kehidupan setiap muslim. Islam mengajarkan agar manusia dapat menjalani hidup dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab, serta menikmati semua nikmat yang diberikan oleh Allah Ta’ala  dengan cara yang baik dan benar. Berikut adalah 25 hal tentang menikmati hidup dalam Islam:

1.     Manusia diciptakan Allah Ta’ala untuk menikmati hidup di dunia ini, namun dengan batasan dan tanggung jawab yang harus dipenuhi.

2.     Dalam Islam, menikmati hidup tidak berarti melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama, seperti berfoya-foya dan berbuat dosa.

3.     Sebaliknya, menikmati hidup dalam Islam adalah dengan memanfaatkan semua nikmat yang diberikan Allah Allah Ta’ala  secara seimbang dan bijak.

4.     Salah satu cara menikmati hidup dalam Islam adalah dengan menjalani kehidupan yang sehat dan aktif, seperti dengan berolahraga dan menjaga pola makan yang sehat.

5.     Islam juga mengajarkan agar manusia senantiasa bersyukur atas semua nikmat yang diberikan Allah Ta’ala, baik itu nikmat yang besar maupun kecil.

6.     Selain itu, menikmati hidup dalam Islam juga berarti menghargai waktu yang diberikan Allah Ta’ala dan menggunakan waktu tersebut dengan sebaik-baiknya.

7.     Islam mengajarkan agar manusia memanfaatkan waktu untuk melakukan kebaikan dan hal-hal yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.

8.     Menikmati hidup dalam Islam juga melibatkan hubungan yang baik dengan orang lain, seperti dengan menjalin hubungan yang harmonis dengan keluarga, teman, dan masyarakat sekitar.

9.     Dalam Islam, menikmati hidup juga berarti memperkaya diri dengan pengetahuan dan keterampilan yang berguna dalam kehidupan sehari-hari.

10.  Islam juga mengajarkan agar manusia memiliki sikap rendah hati dan tidak sombong, serta selalu menghormati dan menghargai orang lain.

11.  Menikmati hidup dalam Islam juga berarti menyeimbangkan antara kehidupan duniawi dan akhirat, dengan memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan dunia dan kebutuhan akhirat.

12.  Islam juga mengajarkan agar manusia dapat menghargai alam sekitar dan menjaga kelestariannya, dengan cara menjaga lingkungan hidup dan memanfaatkan sumber daya alam secara bijak.

13.  Menikmati hidup dalam Islam juga melibatkan pengendalian diri dan menghindari segala bentuk kegiatan yang merusak diri sendiri maupun orang lain.

14.  Islam mengajarkan agar manusia senantiasa memperbaiki diri dan mencari kesempurnaan dalam kehidupan, dengan cara selalu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Ta’ala.

15.  Dalam Islam, menikmati hidup juga berarti memiliki keyakinan bahwa semua hal yang terjadi di kehidupan ini adalah rencana Allah Ta’ala, sehingga manusia harus selalu bersabar dan ikhlas dalam menghadapi segala cobaan dan ujian yang diberikan-Nya.

16.  Dengan menjalankan ajaran Islam secara konsisten dan benar, maka manusia dapat menikmati hidup dengan penuh kebahagiaan dan kedamaian, serta mendapatkan keberkahan dan rahmat dari Allah Ta’ala.

17.  Sebagai seorang muslim, kita juga harus selalu mengingat bahwa hidup di dunia hanyalah sementara, dan akhirat adalah tujuan utama dari kehidupan manusia.

18.  Oleh karena itu, menikmati hidup dalam Islam juga berarti mempersiapkan diri untuk kehidupan di akhirat dengan melakukan amal sholeh dan beribadah kepada Allah Ta’ala dengan sepenuh hati.

19.  Dalam Islam, menikmati hidup juga berarti menjaga nilai-nilai moral yang tinggi dan menghindari segala bentuk perbuatan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

20.  Sebagai seorang muslim, kita harus selalu mengingat bahwa setiap perbuatan yang dilakukan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Ta’ala , dan oleh karena itu kita harus bertanggung jawab atas segala tindakan yang dilakukan.

21.  Selain itu, menikmati hidup dalam Islam juga berarti menjalani kehidupan dengan penuh rasa syukur dan keikhlasan, serta selalu mengingat bahwa segala nikmat yang diberikan Allah Ta’ala adalah karunia-Nya yang patut kita syukuri.

22.  Dalam Islam, menikmati hidup juga berarti menghindari segala bentuk perilaku yang berlebihan, seperti konsumsi makanan dan minuman yang berlebihan, serta menghindari kegiatan yang dapat merusak kesehatan fisik dan mental.

23.  Sebagai seorang muslim, kita juga harus selalu mengingat bahwa hidup di dunia hanyalah sebagai sarana untuk meraih kebahagiaan di akhirat, dan oleh karena itu kita harus selalu berusaha untuk menjalankan ajaran Islam dengan sepenuh hati.

24.  Dalam Islam, menikmati hidup juga berarti menjalani kehidupan dengan penuh kesederhanaan dan menghindari segala bentuk kemewahan yang berlebihan.

25.  Sebagai seorang muslim, kita harus selalu mengingat bahwa kebahagiaan sejati hanya dapat diperoleh dengan mengikuti ajaran Islam dengan benar, serta menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab kepada Allah Allah Ta’ala  dan sesama manusia. 07032023 by ChatGPT.

Indahnya Hidup dalam Islam

By: Misno bin Mohamad Djahri



Indahnya hidup dalam Islam adalah ketika kita memahami bahwa tujuan hidup kita adalah untuk beribadah kepada Allah Ta’ala dan berbuat kebajikan kepada sesama manusia. Hidup dalam islam tidak hanya tentang mencari kesenangan materi dan hiburan semata, tetapi juga tentang mencari kebahagiaan yang sejati melalui hubungan yang baik dengan Allah Ta’ala dan sesama.

Indahnya hidup dalam Islam juga terlihat dalam nilai-nilai seperti kasih sayang, kejujuran, dan keadilan yang ditanamkan dalam ajaran agama. Dengan mengikuti nilai-nilai ini, kita dapat menciptakan masyarakat yang damai dan harmonis, di mana setiap orang dihargai dan dihormati.

Selain itu, Islam juga mengajarkan pentingnya berusaha dan bekerja keras untuk mencapai tujuan hidup kita, sambil selalu mengandalkan Allah Ta’ala sebagai sumber kekuatan dan pertolongan. Dalam hal ini, hidup kita menjadi penuh makna dan tujuan yang jelas, sehingga kita tidak mudah terjerumus dalam kesesatan dan kebingungan.

Islam memandang bahwa hidup juga dihargai sebagai anugerah dari Allah, dan kita diminta untuk memelihara dan menjaganya dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, kita diajarkan untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh dan pikiran, serta memperlakukan lingkungan dengan baik. Dengan menghayati dan mengamalkan ajaran Islam dengan baik, hidup kita akan menjadi lebih indah dan berarti. Kita akan hidup dalam damai dan harmoni dengan Allah, sesama manusia, dan alam sekitar, serta merasakan kebahagiaan yang sejati di dunia dan akhirat.

Hidup dalam Islam juga dianggap sebagai kesempatan untuk mengembangkan diri dan meningkatkan kualitas kehidupan kita. Hal ini dapat dicapai dengan berusaha untuk mempelajari dan mempraktikkan ajaran agama, serta terus berusaha untuk meningkatkan kemampuan dan keahlian kita dalam bidang-bidang yang berguna bagi masyarakat.

Indahnya hidup dalam Islam juga tercermin dalam hubungan yang baik antara manusia dan Allah Ta’ala. Ketika kita mempercayai bahwa Allah Ta’ala selalu ada untuk kita dan senantiasa memberikan bimbingan dan pertolongan, hidup kita akan terasa lebih tenang dan tenteram. Selain itu, kita juga diajarkan untuk selalu bersyukur atas segala nikmat yang diberikan oleh Allah Ta’ala, dan menghadapi cobaan dan ujian dengan sabar dan ikhlas. 

Dalam kesimpulannya, indahnya hidup dalam Islam terletak pada kesadaran kita bahwa tujuan hidup kita adalah untuk beribadah kepada Allah Ta'ala dan berbuat kebajikan kepada sesama manusia. Dengan mengikuti ajaran agama dan nilai-nilai yang diajarkan oleh Islam, kita dapat menciptakan kehidupan yang bermakna, penuh kebahagiaan, dan memberikan manfaat bagi diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar. 07032023.

Sabtu, 04 Maret 2023

Cara Mengatasi Rendah Diri dalam Islam

 By: Ahmad Berhimin and ChatGPT

 



Rendah diri adalah perasaan yang muncul ketika seseorang merasa tidak memiliki nilai atau tidak layak di hadapan orang lain. Hal ini bisa menjadi masalah yang serius karena dapat mempengaruhi kepercayaan diri dan kemampuan seseorang untuk mencapai tujuannya dalam hidup. Dalam Islam, rendah diri adalah perilaku yang dianggap buruk, karena Islam mengajarkan kita untuk percaya pada diri sendiri dan memiliki kepercayaan pada kemampuan kita yang diberikan oleh Allah SWT. Berikut ini adalah beberapa cara untuk mengatasi rendah diri dalam Islam:

1.     Meningkatkan Ketaqwaan kepada Allah SWT

Menurut Islam, keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT adalah dasar dari kebahagiaan dan kepercayaan diri seseorang. Dengan meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT, kita akan merasa lebih percaya diri dan yakin bahwa Allah SWT akan membantu kita dalam mengatasi setiap masalah dan tantangan dalam hidup.

2.     Mengingatkan Diri Sendiri tentang Nilai Diri

Dalam Islam, setiap manusia adalah makhluk Allah yang berharga dan memiliki potensi yang luar biasa. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengingatkan diri sendiri tentang nilai diri kita dan menghargai diri sendiri sebagai ciptaan Allah SWT yang istimewa.

3.     Membaca dan Memahami Al-Quran

Al-Quran adalah sumber kebijaksanaan dan petunjuk bagi umat manusia. Dalam Al-Quran, Allah SWT memberikan banyak petunjuk dan nasihat untuk mengatasi masalah rendah diri dan membangun kepercayaan diri yang kuat. Dengan membaca dan memahami Al-Quran, kita dapat menemukan kekuatan dan inspirasi untuk mengatasi rasa rendah diri.

4.     Berdoa dan Meminta Pertolongan kepada Allah SWT

Dalam Islam, doa adalah salah satu cara terbaik untuk memohon pertolongan dari Allah SWT. Dengan berdoa dan meminta pertolongan kepada Allah SWT, kita dapat mengatasi perasaan rendah diri dan memperoleh kepercayaan diri yang lebih kuat.

5.     Berinteraksi dengan Orang-orang yang Positif dan Mendukung

Orang-orang yang positif dan mendukung dapat menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi kita. Dengan berinteraksi dengan orang-orang yang positif dan mendukung, kita dapat memperoleh kepercayaan diri yang lebih kuat dan mengatasi rasa rendah diri.

Dalam Islam, rendah diri dapat diatasi dengan meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT, mengingatkan diri sendiri tentang nilai diri, membaca dan memahami Al-Quran, berdoa dan meminta pertolongan kepada Allah SWT, serta berinteraksi dengan orang-orang yang positif dan mendukung. Dengan cara-cara ini, kita dapat membangun kepercayaan diri yang kuat dan mencapai tujuan hidup kita dengan lebih mudah dan efektif.

Selasa, 28 Februari 2023

Kecerdasan Bermanhaj dalam Islam

By: ChatGPT and Misno

 


Pendahuluan

Kecerdasan bermanhaj dalam Islam mengacu pada kemampuan seseorang untuk memahami ajaran Islam dengan benar dan mengambil tindakan yang tepat berdasarkan pemahaman tersebut. Hal ini mencakup pemahaman tentang akidah, hukum, akhlak, dan tata cara beribadah dalam Islam. Dalam artikel ini, kita akan membahas tentang kecerdasan bermanhaj dalam Islam secara rinci, serta bagaimana meningkatkan kemampuan kita untuk menjadi Muslim yang cerdas dalam beragama.

 

Definisi Kecerdasan Bermanhaj dalam Islam

Kecerdasan bermanhaj dalam Islam dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk memahami dan menerapkan ajaran Islam dengan benar. Kecerdasan bermanhaj ini mencakup kemampuan untuk memahami ajaran agama secara mendalam, menghindari pemahaman yang keliru, serta mampu mempraktikkan ajaran Islam dengan baik.

Dalam Islam, kecerdasan bermanhaj meliputi pemahaman tentang akidah Islam, pemahaman tentang hukum-hukum Islam, tata cara beribadah, serta etika dan akhlak yang diharapkan dari seorang Muslim. Kecerdasan bermanhaj juga mencakup kemampuan untuk memperdalam pemahaman tentang Al-Quran dan hadis, serta mengambil hikmah dari kisah-kisah para nabi dan rasul dalam Islam.

 

Pentingnya Kecerdasan Bermanhaj dalam Islam

Kecerdasan bermanhaj dalam Islam sangat penting karena dapat membantu seseorang untuk memperoleh keselamatan di dunia dan akhirat. Sebagai seorang Muslim, kita harus memahami dan mempraktikkan ajaran Islam dengan benar, karena hal ini akan mempengaruhi akhirat kita kelak. Selain itu, kecerdasan bermanhaj juga dapat membantu kita dalam menjalankan tugas-tugas dan kewajiban-kewajiban sebagai seorang Muslim.

Kecerdasan bermanhaj juga penting untuk menjaga kesatuan dan persatuan umat Muslim. Dalam masyarakat Muslim, terdapat banyak perbedaan dalam pemahaman tentang ajaran Islam. Kecerdasan bermanhaj dapat membantu menghindari perbedaan pemahaman yang keliru dan menghindari perpecahan di antara umat Muslim.

 

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan Bermanhaj dalam Islam

Beberapa faktor yang mempengaruhi kecerdasan bermanhaj dalam Islam antara lain:

1.     Pendidikan: Pendidikan yang baik dan berkualitas dapat membantu meningkatkan kecerdasan bermanhaj seseorang. Pendidikan Islam yang benar dan tepat dapat membantu seseorang untuk memahami ajaran Islam dengan benar dan dapat mempraktikkan ajaran tersebut dengan baik.

2.     Lingkungan: Lingkungan di sekitar kita juga dapat mempengaruhi kecerdasan bermanhaj kita. Lingkungan yang baik dan mendukung dapat membantu seseorang untuk mempelajari ajaran Islam dengan lebih baik. Sebaliknya, lingkungan yang buruk dapat mempengaruhi seseorang untuk mengambil pemahaman yang keliru tentang ajaran Islam.

3.     Keterlibatan dalam kegiatan keagamaan: Keterlibatan dalam kegiatan keagamaan seperti shalat berjamaah, kajian agama, dan mengikuti pengajian dapat membantu meningkatkan kecerdasan bermanhaj seseorang. Hal ini karena kegiatan-kegiatan tersebut dapat membantu seseorang memperdalam pemahaman tentang ajaran Islam dan mengembangkan akhlak yang baik.

4.     Pembinaan dari orang tua dan guru: Orang tua dan guru memainkan peran penting dalam membentuk kecerdasan bermanhaj seseorang. Mereka dapat membantu menyampaikan ajaran Islam dengan benar dan memberikan teladan yang baik dalam mempraktikkan ajaran tersebut.

 

Cara Meningkatkan Kecerdasan Bermanhaj dalam Islam

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kecerdasan bermanhaj dalam Islam, antara lain:

1.     Membaca Al-Quran dan Hadis: Membaca Al-Quran dan hadis dapat membantu memperdalam pemahaman tentang ajaran Islam. Dalam membaca Al-Quran dan hadis, sebaiknya kita tidak hanya memahami makna secara harfiah, tetapi juga memahami makna yang terkandung di dalamnya.

2.     Mengikuti kajian agama: Mengikuti kajian agama dapat membantu memperdalam pemahaman tentang ajaran Islam dan menghindari pemahaman yang keliru. Kajian agama juga dapat membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul tentang ajaran Islam.

3.     Berdiskusi dengan orang yang lebih berpengalaman: Berdiskusi dengan orang yang lebih berpengalaman dalam memahami ajaran Islam dapat membantu memperdalam pemahaman kita tentang ajaran Islam. Orang yang lebih berpengalaman dapat memberikan pandangan yang berbeda dan membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul.

4.     Menjadi relawan di lembaga keagamaan: Menjadi relawan di lembaga keagamaan seperti masjid atau pesantren dapat membantu meningkatkan kecerdasan bermanhaj seseorang. Dalam lembaga keagamaan, kita dapat terlibat dalam kegiatan keagamaan dan belajar dari para ustadz dan kiai.

5.     Menghindari pemahaman yang keliru: Menghindari pemahaman yang keliru tentang ajaran Islam dapat membantu meningkatkan kecerdasan bermanhaj kita. Hal ini dapat dilakukan dengan memperdalam pemahaman tentang ajaran Islam dan menghindari pemahaman yang didasarkan pada prasangka atau informasi yang keliru.

 

Kesimpulan

Kecerdasan bermanhaj dalam Islam sangat penting bagi setiap Muslim. Kecerdasan bermanhaj mencakup pemahaman tentang akidah, hukum, akhlak, dan tata cara beribadah dalam Islam. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kecerdasan bermanhaj, seperti pendidikan, lingkungan, keterlibatan dalam kegiatan keagamaan, dan pembinaan dari orang tua dan guru. Namun, kita juga perlu melakukan upaya untuk meningkatkan kecerdasan bermanhaj kita, seperti membaca Al-Quran dan Hadis, mengikuti kajian agama, berdiskusi dengan orang yang lebih berpengalaman, menjadi relawan di lembaga keagamaan, dan menghindari pemahaman yang keliru tentang ajaran Islam.

Sebagai Muslim yang cerdas, kita tidak hanya perlu memahami ajaran Islam secara teoretis, tetapi juga mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kecerdasan bermanhaj dapat membantu kita memperoleh keberkahan dari Allah SWT dan memberikan manfaat bagi diri kita sendiri, keluarga, dan masyarakat.

Oleh karena itu, mari kita tingkatkan kecerdasan bermanhaj kita dengan belajar dan mempraktikkan ajaran Islam secara konsisten dan benar. Kita juga perlu berusaha untuk memperdalam pemahaman kita tentang ajaran Islam dan menghindari pemahaman yang keliru. Dengan demikian, kita dapat menjadi Muslim yang cerdas dan berakhlak mulia, serta memberikan manfaat bagi diri kita sendiri dan orang lain. 28022023.

Kamis, 23 Februari 2023

Motivasi Islami ala Artificial Intellegence (AI)

Oleh: https://chat.openai.com dan modified by Misno

 


Kemajuan tekhnologi menghadirkan Artificial Intelligence yang memudahkan bagi manusia, bahkan ia mampu memberikan nasehat sesuai yang kita harapkan. Berikut ini ketika saya mengetikan “Tulis Motivasi Islami” maka yang ia mengetik seperti ini:


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

 

Motivasi Islami yang kuat dan inspiratif dapat membantu kita untuk terus berjuang dan menjalani kehidupan dengan penuh semangat serta tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip agama. Berikut adalah beberapa kutipan motivasi Islami yang mungkin dapat memberikan inspirasi:

 

"Allah tidak pernah memberikan ujian yang melebihi kemampuan hamba-Nya. Jangan menyerah pada keadaan, karena di balik kesulitan pasti ada kemudahan." - (Al-Baqarah: 286)

 

"Jangan biarkan kegagalanmu membatasi kesuksesanmu. Berusahalah dengan sungguh-sungguh, dan percayalah bahwa Allah akan memberikan hasil yang terbaik bagi kita." - (Q.S. Al-Baqarah: 197)

 

"Ingatlah bahwa Allah senantiasa bersama dengan hamba-Nya yang sabar. Tetaplah sabar dan tegar dalam menghadapi cobaan, karena Allah selalu memberikan jalan keluar bagi hamba-Nya yang beriman." - (Q.S. Al-Baqarah: 153)

 

"Jangan terlalu memikirkan apa yang akan terjadi besok, karena Allah telah menjamin bahwa Dia akan memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya yang taat." - (Q.S. Al-Baqarah: 201)

 

"Jangan terlalu fokus pada kesalahanmu di masa lalu, karena Allah senantiasa memberikan kesempatan bagi hamba-Nya untuk bertaubat dan memperbaiki diri." - (Q.S. Al-Baqarah: 222)

 

Semoga kutipan-kutipan motivasi Islami ini dapat memberikan semangat dan inspirasi bagi kita semua dalam menjalani kehidupan yang penuh berkah dan keberkahan. Amin.

 

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Kata-kata yang diambil dari berbagai sumber ini memang memberikan motivasi bagi yang membacanya, sayangnya ia hanya mesin yang dibuat oleh manusia. Sebagai mesin ia bebas nilai dan tidak ada catatan kebaikan dan keburukan, sehingga sebagus apapun tulisannya ia adalah mesin yang hanya mengambil dari kecerdasan manusia.

Selanjutnya sebagai mesin yang dibuat oleh manusia maka pembuatnya yang memiliki nilai-nilai yang nampak dari karyanya tersebut. Maksudnya adalah bahwa tekhnologi ini dikontrol oleh pembuatnya dan sesuai dengan norma, kepercayaan dan ideologinya sehingga ketika ia diminta pendapat pada hal-hal yang sensitive maka ia akan menjawab sesuai dengan nilai yang dimiliki pembuatnya. Sebagai contoh, ketika saya mengetik tentang L*BT, maka jawabannya adalah bahwa orientasi seksual adalah masalah pribadi yang harus dihormati. Maka, jelas sekali ia tidak bebas nilai karena dikuasai oleh pembuatnya.

Sehingga kita sebagai muslim harus bijak dalam menyikapinya, ambil yang sesuai dengan syariah Islam dan tinggalkan yang bertentangan dengannya. Wallahua’lam, 23022023