Tampilkan postingan dengan label Adab Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adab Islami. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Januari 2024

Anugrah dan Angkara pada Hawa dan Cinta

Oleh: Bambang Sahaja


Manusia adalah mahkul ciptaan Allah Ta’ala yang dihiasi dengan cinta dan hawa, keduanya memiliki sisi positif dan negatif. Hawa menjadi media untuk mengembangbiakan manusia, selain kesenangan yang menjadi anugerah dari Allah Ta’ala. Sementara cinta adalah rasa suka yang biasanya terkait pula dengan hawa. Jika ia dikelola sesuai dengan syariahNya maka kebahagiaan tiada tara akan didapatkan oleh yang empunya. Namun, apabila tidak kuasa mengelolanya, maka bisa jadi keduanya membawa pada kesengsaraan dunia dan di alam sana.

Hawa yang biasanya menempel dalam jiwa dan menguasai raga adalah keinginan untuk memenuhi apa yang diinginkannya, kebutuhan seksual, makan, minum, dan kenikmatan duniawi lainnya menjadi tujuan utama dari hawa yang senantiasa harus didapatkan. Kepuasan makan dan minum, pemenuhan kebutuhan seksual hingga kesenangan terhadap dunia lainnya selalu dibumbuhi dengan hawa.

Sementara cinta adalah rasa suka pada sesuatu, termasuk seseorang yang dirasa sesuai dengan keinginannya, baik dari segi fisiknya (ganteng atau cantik) serta perilaku dan berbagi sendi kehidupannya. Rasa ini kadang tidak logis, karena bisa muncul kapan saja, di mana saja dan dengan siapa saja. Cinta adalah anugerah darinya, yang tentu saja tidak bisa lepas dari hawa yang ada pada diri manusia. Bagi saya, sangat tidak mungkin seseorang cinta pada orang lain tanpa ada “apa-apa-nya”. Maksudnya adalah seseorang uang cinta pada orang lain pasti ada sebab fisik yang nampak darinya, entah itu fisik atau tubuhnya, keluarganya, hartanya, kekuasaannya dan urusan dunia lainnya. Pendapat ini mungkin akan dikritik banyak orang, karena cinta yang tulus katanya tidak pernah memandang fisik, saya jawab “ya betul” tapi pasti ada sisi lainnya yang memunculkan rasa itu.

Perdebatan tentang cinta dan hawa memang tidak ada habisnya, karena ia terkadang saling berkaitan dan tidak terpisahkan. Hawa pada dunia akan memunculkan rasa suka, dan bisa jadi cinta itu muncul karena melihat fisik manusia lainnya. Sementara cinta muncul karena melihat fisik, dan sisi yang nampak lainnya, ada juga yang melihat dari sisi spiritualnya. Tapi intinya tetap saja “Cinta terkadang diawali dengan hawa, sementara hawa akan memunculkan cinta”.

Hawa dan Cinta sejatinya bisa saling menguatkan, di mana hawa yang selalu berada dalam naungan syariahNya akan memunculkan rasa cinta yang bukan hanya melihat fisik saja namun juga sisi spiritual yang akan membawa kepada kebahagiaan selamanya, di dunia dan di akhirat sana. Semoga kita semua mampu untuk mengelola hawa dan cinta kita sehingga ianya akan membawa kita kepada keridhaan Allah Ta’ala. Wallahu a’alam, 02012024.

Rabu, 06 Desember 2023

Dosen STIT Sirojul Falah Mengikuti Wisuda Akbar Standardisasi Dai MUI 2023

 


 

Dosen adalah insan pembelajar yang harus terus meningkatkan kemampuannya khususnya terkait dengan tugas utamanya yaitu Tridharma Perguruan Tinggi yang meliputi Pengajaran, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Upaya peningkatan kemampuan dilakukan melalui berbagai aktifitas; mulai dari belajar dari berbagai sumber, mengikuti pelatihan serta sertifikasi dan standardisasi dari lembaga yang kredibel.

Standardisasi yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) adalah kegiatan dalam Upaya menstandarkan Da’i sehingga mampu berdakwah kepada masyarakat sesuai dengan karakter masyarakat saat ini. Dosen yang da’i adalah sosok unik yang pada satu sisi dia adalah seorang dosen yang harus professional, sementara di sisi lain dia adalah muslim yang memiliki kewajiban untuk berdakwah mengajak kepada Rahmat Islam bagi seluruh alam.

Korelasi keduanya terlihat dari Dharma yang ketiga yaitu pengabdian kepada masyarakat, di mana seorang dosen harus membaktikan ilmunya kepada masyarakat khususnya terkait dengan disiplin ilmu yang menjadi kepakarannya. Berdasarkan hal ini maka dosen yang mengajar i sudah selayaknya untuk memiliki standar yang berasal dari lembaga kredibel semisal MUI. Perguruan Tinggi Islam juga harus mendukung hal ini sehingga disiplin ilmu menjadi core-nya harus bermanfaat untuk masyarakat.

Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Sirojul Falah adalah salah satu perguruan tinggi keagamaan Islam yang berada di Bogor. Fokus Pendidikan agama Islam didukung oleh dosen-dosen yang berkompeten dan memiliki semangat untuk terus meningkatkan kualitasnya melalui berbagai kegiatan termasuk standardisasi yang diselenggarakan oleh MUI.

Salah satu dosen STIT Sirojul Falah yaitu Dr. Misno, SHI., SE., MEI., MH yang mengikuti Standardisasi Dai MUI serta mengikuti WISUDA AKBAR STANDARDISASI DA'I MUI ANGKATAN 11 s/d 28 pada Selasa, 05 Desember 2023 di Mercure Hotel, Ancol – Jakarta.

“Menjadi Da’i MUI adalah da’i memahami teks dan konteks saat ini” ucap K.H. Muhammad Cholil Nafis, Lc., S.Ag., M.A., Ph.D. dalam sambutannya dalam acara wisuda akbar tersebut. Sementara Dr. Misno menyampaikan “Alhamdulillah, saya bersyukur bisa mengikuti wisuda ini dengan sebelumnya mengikuti Standardisasi Angakatan Ke-18”. Semoga Wisuda Standardisasi DAI MUI dan Wisuda Akbar ini memberikan kontribusi bagi Umat, STIT Sirojul Falah dan Masyarakat serta Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (06122023).

Kamis, 03 Agustus 2023

MENJADI MUSLIM RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN

By: Abd Misno Mohd Djahri


 

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَن اتَّبَعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.أَمَّا بَعْدُ:

فَإِنَ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .  وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ فِي دِيْنِ اللهِ بِدْعَةٌ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَاْزَ الْمُتَّقُوْنَ...فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرآنِ الْكَرِيْمِ:  ﴿ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ﴾ وَقَالَ اللهُ تَعَالَى أَيْضًا ﴿ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا ﴾ وَقَالَ اللهُ تَعَالَى أَيْضًا ﴿ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ  يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا 

Muqadimah…

Alhamdulillah, Syukur kepada Allah Ta’ala yang telah memberikan kepada kita kenikmatan iman, Islam dan Ihsan. Shalawat dan salam sama-sama kita panjatkan kepada junjungan alam, habibana wa nabiyyana Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam, kepada seluruh ahli baitnya, para shahabatnya hingga orang-orang yang mengikuti jejak sunnahnya hingga akhir zaman.

Amma Ba’du, pertama-tama Khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi serta jamaah jum’ah rahimakumullah wasiat taqwa yang bermakna “Mengoptimalkan seluruh potensi jiwa dan raga kita, untuk mendapatkan Ridha dari Allah Azza wa Jalla”.

Syukur kepada Allah Ta’ala adalah sebuah keniscayaan, ia adalah aalamah min alamatil iman (tanda dari tanda-tanda keimanan seseorang). Syukur yang diawali dengan keyakinan dalam hati (al-yaqin fil qalbi), ucapan dengan lisan (an-nitqu bil lisaan) dan amal dengan seluruh anggota badan. Syukur kita juga secara khusus diberikan hidayah serta inayahNya sehingga kita mampu melaksanakan salah satu dari kewajiban kita sebagai seorang laki-laki muslim yaitu shalat jumat secara berjama’ah, Alhamdulillah wa syukru lillah.

 

Hadirin Jama’ah jum’ah rahimakumullah…

Salah satu dari kenikmatan dan anugerah yang telah diberikan Allah Ta’ala kepada kita semua adalah kenikmatan untuk dapat hidup di bawah naungan Islam. Ini adalah kenikmatan yang tiada duanya, sebagaimana kalamNya:  

فَمَن يُرِدِ اللَّهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

“Maka siapa saja dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barangsiapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” [Al-An’aam/6: 125]

Kenikmatan yang telah Allah sampaikan dalam kalamNya tersebut tentu bukan tanpa alasan, syariah Islam yang telah sempurna menjadi pedoman satu-satunya dalam menjalani kehidupan di alam semesta.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” [Al-Maa-idah/5: 3].

Kesempurnaan Islam juga disebutkan dalam sabda hadits Nabi Muhammad Shalallahu Alaih Wassalam:

عَنْ أَبِى ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: تَرَكَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا طَائِرٌ يُقَلِّبُ جَنَاحَيْهِ فِي الْهَوَاءِ إِلاَّ وَهُوَ يَذْكُرُنَا مِنْهُ عِلْمًا. قَالَ: فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ وَ قَدْ بُيِّنَ لَكُمْ.

Dari Shahabat Abu Dzarr Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah pergi meninggalkan kami (wafat), dan tidaklah seekor burung yang terbang membalik-balikkan kedua sayapnya di udara melainkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan ilmunya kepada kami.” Berkata Abu Dzarr Radhiyallahu anhu, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Tidaklah tertinggal sesuatu pun yang mendekatkan ke Surga dan menjauhkan dari Neraka melainkan telah dijelaskan semuanya kepada kalian.’” HR. At-Thabrani.

Syariah Islam yang sempurna memberikan pedoman kepada seluruh umat Islam dalam menjalani kehidupannya. Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah sumber pedoman utama, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

“Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik; Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm.

Maka, Al-Qur’an dan As-Sunnah atau Al-Hadits menjadi pedoman umat Islam dalam menjalankan amanah Allah Ta’ala sebagai penanggungjawab semesta raya. Pedoman ini sangat sempurna dan mengatur seluruh sendi kehidupan manusia, dari seseorang bangun tidur sampai tidur lagi bahkan ketika sedang tidur diberikan pedomannya dalam Islam. Demikian pula permasalahan besar mulai dari Aqidah, Ibadah dan Muamalah telah lengkap aturannya untuk dilaksanakan dengan penuh ketundukan.

Maka kewajiban bagi kita sebagai seorang muslim untuk terus belajar, belajar dan belajar tentang Islam, kemudian mengamalkannya dan menyampaikan kepada seluruh semesta tentang sifat Islam yang membawa Rahmat bagi seluruh alam.

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

Tidaklah Kami mengutusmu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam. [Al-Anbiyâ’/21:107].

 

Hadirin Jama’ah jum’ah rahimakumullah…

Rahmat Islam bagi seluruh alam tercermin dari sifat-sifat yang menjadi karakter utamanya, diantaranya adalah sifat menghargai dan menghormati agama dan kepercayaan orang lain. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan janganlah kalian mencela sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allâh, karena mereka nanti akan mencela Allâh dengan melampaui batas tanpa ilmu. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik amalan mereka. Kemudian kepada Rabb merekalah tempat kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan. [Al-An’âm/6:108]

Merujuk pada ayat ini maka tidak boleh kita mencela agama, kepercayaan dan tuhan-tuhan yang disembah oleh orang di luar Islam karena itu merupakan bentuk menjaga dari mereka membalas mencela Allah dan agamaNya. Pedoman dalam Al-Qur’an sudah jelas yaitu;

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِىَ دِينِ

Bagi kalian agama kalian dan bagi kami agama kami. QS. Al-Kafirun: 6.

Rahmat Islam juga nampak dari konsep umatan wahidah yang terdapat di dalam Piagam Madinah, yaitu sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

٢٥. وان يهود بني عوف امة مع المؤمنين لليهود دينهم وللمسلمين دينهم مواليهم وانفسهم الا من ظلم واثم فانه لا يـوتخ الا نفسه واهل بيته.

Pasal 25: Kaum Yahudi dari Bani ‘Awf adalah satu umat dengan mukminin. Bagi kaum Yahudi agama mereka, dan bagi kaum muslimin agama mereka. Juga (kebebasan ini berlaku) bagi sekutu-sekutu dan diri mereka sendiri, kecuali bagi yang zalim dan jahat. Hal demikian akan merusak diri dan keluarga.

Piagam Madinah menjadi pedoman bagi umat Islam dalam berbangsa dan bernegara, tanpa melihat agama, ras dan suku bangsa. Selama mereka memiliki visi dan misi yang sama maka mereka semua adalah saudara satu bangsa (Ukhuwah wathaniyyah).

Rahmat Islam Islam untuk semesta adalah menjaga lingkungan agar selalu memberikan yang terbaik kepada manusia. misalnya dilarang untuk mengotori sungai, membuang sampah sembarangan dan buang hajat sembarangan. Sebagaimana Sabda Nabi Muhammad Shalallahu Alaih Wassalam:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حُبْشِيٍّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ قَطَعَ سِدْرَةً صَوَّبَ اللَّهُ رَأْسَهُ فِي النَّار(رواه ابو داود)

Dari ‘Abdullah bin Hubsyi ia berkata: “Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa menebang pohon bidara, maka Allah akan membenamkan kepalanya dalam api neraka.” HR. Abu Dawud

اتَّقُوا الْمَلَاعِنَ الثَّلَاثَةَ الْبَرَازَ فِي الْمَوَارِدِ ، وَقَارِعَةِ الطَّرِيقِ ، وَالظِّلِّ

"Jauhilah tiga perilaku terlaknat; buang kotoran di sumber air, di pinggir jalan, dan di bawah naungan pohon." HR Abu Daud, Ahmad dan Ibnu Majah.

Sejatinya masih banyak lagi bukti-bukti nyata bahwa Islam benar-benar menjadi Rahmat untuk semesta, bukan hanya bagi manusia tetapi untuk hewan dan seluruh alam raya. Maka, tugas kita sebagai seorang muslim adalah menyampaikan Islam kepada seluruh semesta, Islam yang membawa kedamaian, ketenterama dan kesejahteraan di dunia dan akhirat sana. Wallahu a’lam 0308 2023.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللهَ  الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَعْمَلُوْنَ.وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَأَقِمِ الصَّلَاْةَ

Rabu, 28 Juni 2023

Keutamaan dan Amalan Hari-hari Tasyriq

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri

 

Setelah merayakan Hari raya Idhul Adha, maka umat Islam merayakan rangkaian hari raya ini hingga tiga hari yaitu 11, 12 dan 13 Dzulhijjah. Hari-hari ini disebut dengan tasyriq yang diambil dari kata [شرقت الشمش] yang artinya matahari terbit. Menjemur sesuatu, dalam bahasa Arab dinyatakan: [شَرَّقَ الشَيْءَ لِلشَّمْشِ]. Menurut Imam Nawawi dalam Al-Minhaj, hari-hari ini disebut dengan tasyriq karena orang-orang menjemur daging kurban di waktu tersebut, yaitu mendendeng dan menghampar daging pada terik matahari.

Abu Ubaid mengatakan “Ada dua pendapat ulama tentang alasan penamaan hari-hari tersebut dengan hari tasyrik: Pertama, dinamakan hari tasyrik karena kaum muslimin pada hari itu menjemur daging kurban untuk dibuat dendeng. Kedua, karena kegiatan berqurban, tidak dilakukan, kecuali setelah terbit matahari. (Lisanul Arab, 10:173)”.

 

Keutamaan Hari-hari Tasyriq

Hari-hari ini memiliki banyak keutamaan sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ لِمَنِ اتَّقَى وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang terbilang.” (QS. Al Baqarah: 203).

Ibnu ‘Umar dan ulama lainnya mengatakan bahwa ayyamul ma’dudat adalah tiga hari tasyriq. Ini menunjukkan adanya perintah berdzikir di hari-hari tasyriq. Namun Ibnu ‘Abbas dan ‘Atho’ mengatakan bahwa hari yang terbilang di situ adalah empat hari yaitu hari Idul Adha dan tiga hari sesudahnya. Hari-hari tersebut disebut hari Tasyriq. Namun pendapat pertama yang menyatakan bahwa hari yang terbilang adalah tiga hari sesudah Idul Adha adalah pendapat yang lebih tepat.

Maka, hari tasyriq adalah hari raya bagi umat Islam, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam:

يَوْمُ عَرَفَةَ وَيَوْمُ النَّحْرِ وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَهِىَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Hari Arofah, hari Idul Adha dan hari-hari Tasyriq adalah ‘ied kami -kaum muslimin-. Hari tersebut (Idul Adha dan hari Tasyriq) adalah hari menyantap makan dan minum.” HR. Abu Dawud, Thirmidzi dan Nasai.

Riwayat lainnya menjelaskan:

إِنَّ أَعْظَمَ الأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَوْمُ النَّحْرِ ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ

“Sesungguhnya hari yang paling mulia di sisi Allah Tabaroka wa Ta’ala adalah hari Idul Adha dan yaumul qorr (hari tasyriq).” HR. Abu Dawud.

Hari tasyriq disebut yaumul qorr karena pada saat itu orang yang berhaji berdiam di Mina. Hari tasyriq yang terbaik adalah hari tasyriq yang pertama, kemudian yang berikutnya dan berikutnya lagi.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَّ أَنَّهُ قَالَ مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلَ مِنْهَا فِي هَذِهِ

Artinya: “Dari sahabat Ibnu Abbas ra., dari Nabi Muhammad saw, ia bersabda, ‘Tidak ada amal pada hari-hari ini yang lebih utama daripadanya di hari-hari ini,’” (HR Bukhari).

Merujuk pada ayat dan hadits tersebut maka dapat disimpulkan bahwa hari-hari tasyriq memiliki banyak keutamaan karena mengandung syariah menyembelih kurban dan perintah untuk berzikir dan memuji Allah Ta’ala.

 

Idul Adha dan Tasyriq: Hari Bersenang-senang dan Menyantap Makanan

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa Idul Adha dan hari tasyriq adalah hari kaum muslimin untuk menikmati makanan, beliau bersabda,

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Hari-hari tasyriq adalah hari menikmati makanan dan minuman.” HR. Muslim

Dalam lafazh lainnya, beliau bersabda,

وَأَيَّامُ مِنًى أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Hari Mina (hari tasyriq) adalah hari menikmati makanan dan minuman.” HR. Muslim.

عَنْ نُبَيْشَةَ الْهُذَلِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَزَادَ فِي رواية وَذِكْرٍ لِلَّهِ

“Dari Nubaisyah Al-Hudzali, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, Hari Tasyrik adalah hari makan, minum (pada riwayat lain), dan hari zikir,’” (HR Muslim).

Ibnu Rajab mengatakan:

و إنما نهى عن صيام أيام التشريق لأنها أعياد للمسلمين مع يوم النحر فلا تصام بمنى و لا غيرها عند جمهور العلماء، خلافا لعطاء في قوله : إن النهي يختص بأهل منى

 

“Kita dilarang berpuasa pada hari tasyrik karena hari tasyrik adalah hari raya kaum muslimin, disamping hari raya qurban. Karena itu, tidak boleh puasa di Mina maupun di daerah lainnya, menurut mayoritas ulama. Tidak sebagaimana pendapat Atha yang mengatakan, sesungguhnya larangan puasa di hari tasyrik, khusus bagi orang yang tinggal di Mina.” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 509).

Merujuk pada riwayat tersebut maka hari-hari tasyriq adalah hari untuk makan dan minum karena merupakan rangkaian dari hari raya Idhul Adha serta dipotongnya hewan qurban yang dinikmati oleh umat Islam.

 

Amalan Hari Tasyriq: Berdzikir

Amalan yang paling utama pada hari-hari ini adalah berdzikir (mengingat) Allah Ta’al’la, sebagaimana firmanNya:

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ لِمَنِ اتَّقَى وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang terbilang.” (QS. Al Baqarah: 203).

Ayat ini secara jelas menunjukan perintah untuk berdzikir di hari-hari tasyriq. Adapun dzikir-dzikir yang disyariatkan adalah;

Pertama: berdzikir kepada Allah dengan bertakbir setelah selesai menunaikan shalat wajib. Ini disyariatkan hingga akhir hari tasyriq sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Hal ini juga diriwayatkan dari ‘Umar, ‘Ali dan Ibnu Abbas.

وكان أبو حنيفة يذهب بالتشريق في هذا إلى التكبير في دبر الصلاة

“Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa amal pada Hari Tasyrik adalah takbir setelah shalat,” (Al-Asqalani, 2004 M/1424 H: II/525).

Kedua: membaca tasmiyah (bismillah) dan takbir ketika menyembelih qurban. Waktu menyembelih qurban adalah sampai akhir hari tasyriq (13 Dzulhijah) sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Pendapat ini juga menjadi pendapat Imam Asy Syafi’i dan salah satu pendapat dari Imam Ahmad. Namun mayoritas sahabat berpendapat bahwa waktu menyembelih qurban hanya tiga hari yaitu hari Idul Adha dan dua hari tasyriq setelahnya (11 dan 12 Dzulhijah). Pendapat kedua ini adalah pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad, juga termasuk pendapat Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan kebanyakan ulama.

Ketiga: berdzikir memuji Allah Ta’ala ketika makan dan minum. Yang disyari’atkan ketika memulai makan dan minum adalah membaca basmallah dan mengakhirinya dengan hamdalah.

Keempat: berdzikir dengan takbir ketika melempar jumroh di hari tasyriq. Dan amalan ini khusus untuk orang yang berhaji.

Kelima: Berdzikir pada Allah secara mutlak karena kita dianjurkan memperbanyak dzikir di hari-hari tasyriq. Sebagaimana ‘Umar ketika itu pernah berdzikir di Mina di kemahnya, lalu manusia mendengar. Mereka pun bertakbir dan Mina akhirnya penuh dengan takbir.

 

Memperbanyak Do’a Sapu Jagad

Amalan selanjutnya dalah berdoa kepada Allah Ta’ala khususnya doa apu jagad. Ini sebagaimana firman Allah Ta’al:

فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ, وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” [Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka].” (QS. Al Baqarah: 200-201)

Berdasarkan ayat ini maka para ulama menganjurkan membaca do’a “Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” di hari-hari tasyriq. Sebagaimana hal ini dikatakan oleh ‘Ikrimah dan ‘Atho’.

Do’a sapu jagad ini terkumpul di dalamnya seluruh kebaikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam paling sering membaca do’a sapu jagad ini.  Anas bin Malik mengatakan,

كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – « اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ »

“Do’a yang paling banyak dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Allahumma Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” [Wahai Allah, Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka].” HR. Bukhari dan Muslim

Al Hasan Al Bashri  mengatakan, “Kebaikan di dunia adalah ilmu dan ibadah. Kebaikan di akhirat adalah surga.” Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Kebaikan di dunia adalah ilmu dan rizki yang thoyib. Sedangkan kebaikan di akhirat adalah surga.”

Diriwayatkan dari Al Jashshosh, dari Kinanah Al Qurosy, dia mendengar Abu Musa Al Asy’ariy berkata ketika berkhutbah di hari An Nahr (Idul Adha), “Tiga hari setelah hari An Nahr (yaitu hari-hari tasyriq), itulah yang disebut oleh Allah dengan ayyam ma’dudat (hari yang terbilang). Do’a pada hari tersebut tidak akan tertolak (pasti terkabul), maka segeralah berdo’a dengan berharap pada-Nya.”

 

Banyak Bersyukurlah pada Allah di Hari Tasyriq

Pada hari tasyriq terkumpullah berbagai macam nikmat badaniyah dengan makan dan minum, juga terdapat nikmat qolbiyah (nikmat hati) dengan berdzikir kepada Allah. Dan sebaik-baik hati adalah yang sering berdzikir dan bersyukur. Dengan demikian nikmat-nikmat tersebut akan menjadi sempurna. Jika kita diberi taufik untuk mensyukuri nikmat, maka syukur yang baru itu sendiri adalah nikmat. Sehingga perintah syukur selamanya tidak akan usai.

Seorang penyair mengatakan:

Idza kana syukri ni’matallah ni’matan, ‘alayya lahu fi mitsliha yajibusy syukr

Jika mensyukuri nikmat Allah adalah nikmat, maka karena nikmat semisal inilah, kita wajib bersyukur pula.

Berdasarkan pembahasan sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa hari-hari tasyriq memiliki banyak keutamaan, salah satunya adalah sebagai hari raya bagi umat Islam. Pada hari-hari tersebut kita disyariahkan untuk memotong hewan kurban, makan dan minum, berdzikir, berdo’a serta bersyukur kepada Allah Ta’ala.

Rabu, 22 Maret 2023

Trend Saling Meminta Maaf di Awal Ramadhan

Oleh: Misno Mohamad Djahri

 


Salah satu fenomena yang terjadi di awal Ramadhan adalah sebagian masyarakat yang meminta maaf atas segala kesalahan baik yang disengaja atau tidak. Trend ini semakin meluas seiring dengan perkembangan media sosial, sehingga menjadi semcam keharusan bagi umat Islam untuk saling meminta maaf ketika akan memasuki bulan mulia ini.

Sejatinya tidak jauh berbeda dengan tradisi lainnya yaitu saling bermaaf-maafan di hari Raya Idhul Fitri dan terkadang ada juga di Idhul Adha. Sebagai sebuah trend yang berkembang di masyarakata tentu saja kita sebagai muslim tidak dengan mudah mengikutinya tanpa adanya ilmu. Ini sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًۭا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. QS. Al-Isra: 36.

Merujuk pada ayat ini maka kita sebagai muslim tidak boleh sembarangan mengikuti suatu amalan yang belum kita ketahui ilmunya. Apalagi itu terkait dengan syiar-syiar agama yang telah dijelaskan secara sempurna oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dan dilaksanakan oleh para shahabatnya.

Terkait dengan saling meminta maaf di awal Ramadhan, maka ini didasarkan pada salah satu riwayat yang banyak beredar di masyarakat, yaitu riwayat “Ketika Rasullullah sedang berkhutbah pada Shalat Jum’at (dalam bulan Sya’ban), beliau mengatakan Amin sampai tiga kali, dan para sahabat begitu mendengar Rasullullah mengatakan Amin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan Amin. Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasullullah berkata Amin sampai tiga kali. Ketika selesai shalat Jum’at, para sahabat bertanya kepada Rasullullah, kemudian beliau menjelaskan: “ketika aku sedang berkhutbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, hai Rasullullah Amin-kan do’a ku ini,” jawab Rasullullah. Do’a Malaikat Jibril itu adalah “Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut: pertama, Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada). Kedua, Tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami istri; ketiga, Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.

Sayangnya riwayat ini tidak ada sumbernya sama sekali, khususnya lafadz ““Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut: pertama, Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada). Kedua, Tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami istri; ketiga, Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya”. Sehingga tidak bisa dijadikan dasar untuk saling meminta maaf di awal Ramadhan, apalagi meyakini riwayat tersebut dan mengamalkannya serta menjadikan seolah-olah menjadi syiar agama Islam.

Riwayat yang shahih terkait dengan hadits tersebut adalah:

عن أبي هريرة  أن رسول الله صلى الله عليه و سلم رقي المنبر فقال : آمين آمين آمين فقيل له : يارسول الله ما كنت تصنع هذا ؟ ! فقال : قال لي جبريل : أرغم الله أنف عبد أو بعد دخل رمضان فلم يغفر له فقلت : آمين ثم قال : رغم أنف عبد أو بعد أدرك و الديه أو أحدهما لم يدخله الجنة فقلت : آمين ثم قال : رغم أنف عبد أو بعد ذكرت عنده فلم يصل عليك فقلت : آمين  قال الأعظمي : إسناده جيد

“Dari Abu Hurairah: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam naik mimbar lalu bersabda: ‘Amin, Amin, Amin’. Para sahabat bertanya: “Kenapa engkau berkata demikian, wahai Rasulullah?” Kemudian beliau bersabda, “Baru saja Jibril berkata kepadaku: ‘Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan’, maka kukatakan, ‘Amin’, kemudian Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang mengetahui kedua orang tuanya masih hidup, namun tidak membuatnya masuk Jannah (karena tidak berbakti kepada mereka berdua)’, maka aku berkata: ‘Amin’. Kemudian Jibril berkata lagi. ‘Allah melaknat seorang hambar yang tidak bershalawat ketika disebut namamu’, maka kukatakan, ‘Amin”.” Al A’zhami berkata: “Sanad hadits ini jayyid”. HR. Al Mundziri, Adz Dzahabi dan Ibnu Hajar Al Asqalani.

Riwayat ini berbeda dengan riwayat sebelumnya yang menambahkan lafadz saling meminta maaf, sehingga saling meminta maaf di awal Ramadhan merupakan sesuatu yang tidak ada sandarannya dan tidak pernah dilaksanakan oleh Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam, para shahabat dan generasi Islam terdahulu.

Adapun apabila kita melakukan kesalahan, baik yang disengaja atau tidak maka hendaknya segera untuk meinta maaf tanpa menunggu awal Ramadhan atau hari raya Idhul Fitri. Sebagaimana dasar yang sudah jelas dari al-Qur’an dan as-Sunnah.

خُذِ ٱلْعَفْوَ وَأْمُرْ بِٱلْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْجَٰهِلِينَ

"Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh". (QS. Al-A'raf: 199)

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda "Barangsiapa yang pernah berbuat aniaya (zhalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak lakukan, maka (nanti pada hari kiamat) bila dia memiliki amal shalih akan diambil darinya sebanyak kezhalimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi maka keburukan saudaranya yang dizhaliminya itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya". HR. Bukhari.

Oleh karena itu mari sebagai muslim kita beramal dalam agama sesuai dengan apa yang ada di dalam al-Qur’an dan al-Hadits yang shahih serta dilaskanakan oleh para shahabat. Karena hanya dengan beragama menghikuti manhaj merekalah keselamatan dan kebahagiaan akan didapatkan. Wallahu a’lam. Malam Awal Ramadhan 1444 H (22032023).

Sabtu, 18 Maret 2023

Menjadi Muslim yang Kuat

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri

 


Islam adalah agama yang menginginkan para pemeluknya kuat dari sisi Aqidah, ibadah, muamalah dan dalam berbagai kegiatannya. Rasulullah Shalallahu alaihi Wassalam bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِـيْ كُـلٍّ خَـيْـرٌ ، اِحْـرِصْ عَـلَـى مَا يَـنْـفَـعُـكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَـعْجَـزْ ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَـيْءٌ فَـلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِـّيْ فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَـذَا ، وَلَـكِنْ قُلْ: قَـدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَـفْـتَـحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , beliau berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allâh (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah. Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah engkau berkata, Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan begitu, tetapi katakanlah, Ini telah ditakdirkan Allâh, dan Allâh berbuat apa saja yang Dia kehendaki, karena ucapan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan syaitan. HR. Muslim.

Hadits ini mengandung beberapa perkara besar dan kata-kata yang memiliki arti luas. Di antaranya yaitu menetapkan adanya sifat mahabbah bagi Allâh Azza wa Jalla . Sifat ini terkait dengan orang-orang yang dicintai-Nya dan yang mencintai-Nya. Hadits ini juga menunjukkan bahwa mahabbah Allâh tergantung keinginan dan kehendak-Nya. Kecintaan Allâh kepada makhluk-Nya berbeda-beda, seperti kecintaan-Nya kepada Mukmin yang kuat lebih besar dari kecintaan-Nya kepada Mukmin yang lemah.

Namun, menjadi seorang muslim yang kuat tidaklah mudah. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak hal yang dapat menggoyahkan keyakinan seseorang. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk menjadi muslim yang kuat.

Pertama, belajar dan memahami ajaran Islam dengan baik. Hal ini dapat dilakukan dengan membaca dan mempelajari Al-Quran serta hadits Nabi Muhammad Shalallahu alaihi Wassalam. Selain itu, bergabung dengan kelompok atau komunitas muslim yang aktif juga dapat membantu untuk meningkatkan pemahaman tentang ajaran Islam.

Kedua, menjaga shalat dan ibadah lainnya dengan konsisten. Shalat adalah salah satu rukun Islam yang sangat penting. Melakukan shalat secara konsisten dapat membantu seseorang untuk terus mengingat Tuhan dan memperkuat keyakinannya.

Ketiga, menjaga hubungan dengan Allah Ta’ala melalui dzikir dan doa. Dzikir dan doa adalah cara yang baik untuk membantu seseorang tetap dekat dengan Allah Ta’ala. Melakukan dzikir dan doa setiap hari dapat membantu untuk menjaga kekuatan iman dan keyakinan.

Keempat, memperbaiki diri dan berusaha menjadi muslim yang lebih baik setiap harinya. Salah satu tujuan hidup sebagai muslim adalah untuk terus memperbaiki diri dan berusaha menjadi lebih baik. Dalam hal ini, membaca literatur dan buku-buku tentang Islam dapat membantu seseorang untuk meningkatkan pemahaman tentang dirinya sendiri serta mencari cara untuk meningkatkan kualitas hidupnya.

Kelima, memberikan dampak positif kepada masyarakat sekitar. Salah satu cara untuk memperkuat keyakinan dan iman adalah dengan memberikan dampak positif kepada masyarakat sekitar. Dengan membantu orang lain dan berkontribusi pada masyarakat, seseorang dapat merasa lebih terhubung dengan nilai-nilai Islam dan menjadi lebih kuat dalam keyakinannya.

Menjadi muslim yang kuat bukanlah sesuatu yang instan, melainkan butuh waktu dan usaha yang konsisten. Dengan memperkuat keyakinan dan memperbaiki diri setiap harinya, seseorang dapat menjadi muslim yang lebih baik dan kuat. 18032023.

Kamis, 16 Maret 2023

Balasan Bagi Orang yang Menyebarkan Fitnah serta Menghasut

Ahmad Berhimin, SE., ME

 


Pertama-tama, penting untuk diketahui bahwa tindakan kekerasan dan penghasutan orang lain untuk melakukan kekerasan adalah perilaku yang tidak dapat diterima dan melanggar hukum di banyak negara. Selain itu, tindakan fitnah dan penghasutan seringkali membahayakan keselamatan dan kesejahteraan orang lain, serta dapat menyebabkan trauma psikologis yang berkepanjangan.

Tindakan Fitnaf, juga dikenal sebagai kekerasan fisik atau kekerasan domestik, terjadi ketika seseorang menggunakan kekuatan fisik atau ancaman kekerasan untuk memaksa atau mengendalikan pasangan atau anggota keluarga lainnya. Tindakan ini dapat meliputi pukulan, tendangan, cekikan, atau bentuk kekerasan lainnya.

Sementara itu, penghasutan terjadi ketika seseorang mempengaruhi atau mendorong orang lain untuk melakukan tindakan kekerasan atau melanggar hukum. Ini bisa berupa memberikan instruksi, menawarkan insentif, atau mengancam untuk membuat orang lain melakukan tindakan tersebut.

Pembahasan orang yang melakukan tindakan Fitnah dan penghasutan sangat penting dalam rangka melindungi korban dan menghentikan perilaku yang tidak dapat diterima ini. Korban kekerasan dan penghasutan seringkali merasa takut atau malu untuk melaporkan tindakan tersebut, sehingga dibutuhkan dukungan dari orang-orang di sekitar mereka, termasuk keluarga, teman, dan masyarakat.

Selain itu, lembaga pemerintah, seperti kepolisian dan sistem peradilan pidana, juga memiliki peran penting dalam memerangi tindakan kekerasan dan penghasutan. Mereka dapat membantu korban untuk mendapatkan perlindungan dan mengambil tindakan hukum terhadap pelaku.

Penting juga untuk menyadari bahwa tindakan fitnah dan penghasutan bukanlah masalah pribadi, tetapi masalah sosial yang membutuhkan respons dan dukungan dari seluruh masyarakat. Kita semua dapat berperan dalam menghentikan tindakan kekerasan dan penghasutan dengan menolak perilaku tersebut dan memberikan dukungan kepada korban.

Dalam hal ini, edukasi dan kesadaran publik juga sangat penting. Pendidikan tentang tindakan kekerasan dan penghasutan harus dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah dan masyarakat perlu diberi informasi yang cukup tentang konsekuensi dari tindakan tersebut.

Dengan tindakan bersama dan dukungan yang kuat dari masyarakat, kita dapat mencegah tindakan fitna dan penghasutan, serta melindungi mereka yang menjadi korban dari perilaku tersebut.

 

Bagaimana respon kita melihat orang yang melakukan tindakan fitnah dan menghasut orang?

Ketika kita melihat seseorang melakukan tindakan fitnah atau menghasut orang lain untuk melakukan kekerasan, kita harus segera mengambil tindakan untuk melindungi korban dan mencegah terjadinya tindakan lebih lanjut. Berikut beberapa respon yang dapat dilakukan:

1.     Hubungi kepolisian: Jika kita melihat tindakan pitna atau penghasutan, kita harus segera menghubungi kepolisian agar mereka dapat mengambil tindakan yang diperlukan. Kita harus memberikan informasi yang lengkap tentang apa yang kita lihat agar kepolisian dapat menangani situasi tersebut.

2.     Dukung korban: Jika kita melihat seseorang menjadi korban kekerasan atau penghasutan, kita harus segera membantu mereka. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan dukungan moral dan psikologis, serta membantu mereka untuk mendapatkan bantuan dari lembaga pemerintah atau LSM yang dapat memberikan perlindungan dan pendampingan.

3.     Ajak orang untuk tidak bertindak kekerasan: Kita juga dapat melakukan tindakan pencegahan dengan mengajak orang untuk tidak bertindak kekerasan atau menghasut orang lain untuk melakukan kekerasan. Kita dapat memberikan pemahaman tentang dampak negatif dari tindakan tersebut dan mengajak mereka untuk berperan aktif dalam mencegah tindakan kekerasan.

4.     Laporkan perilaku kekerasan: Jika kita menyadari adanya perilaku kekerasan di lingkungan sekitar kita, kita dapat melaporkannya ke pihak berwenang. Dengan melaporkan tindakan tersebut, kita dapat membantu mencegah terjadinya tindakan lebih lanjut dan membantu korban untuk mendapatkan bantuan.

5.     Edukasi tentang tindakan kekerasan: Kita juga dapat berperan dalam membantu mencegah tindakan pitna dan penghasutan dengan memberikan edukasi tentang dampak buruk dari tindakan tersebut. Kita dapat berbagi informasi dan mengajak orang untuk berperan aktif dalam mencegah tindakan kekerasan.

Kita semua harus berperan aktif dalam mencegah tindakan Fitna dan penghasutan. Dengan tindakan bersama dan dukungan yang kuat dari masyarakat, kita dapat menciptakan lingkungan yang aman dan damai untuk semua orang.

 

Solusi terbaik agar terhindar dari orang orang yang suka menebar fitnah dan menghasut orang

Berikut beberapa solusi terbaik agar terhindar dari orang-orang yang suka menebar Fitnah dan menghasut orang:

1.     Hindari bergaul dengan orang yang suka menebar Fitnah dan menghasut: Jika kita mengetahui bahwa ada orang yang suka menebar pitnah dan menghasut di sekitar kita, maka sebaiknya kita hindari bergaul dengan orang tersebut. Hal ini dapat membantu kita terhindar dari dampak negatif yang dapat ditimbulkan oleh perilaku mereka.

2.     Jangan ikut terlibat dalam gosip atau rumor: Kita harus berhati-hati agar tidak ikut terlibat dalam gosip atau rumor yang dibuat oleh orang-orang yang suka menebar Pitnah dan menghasut. Kita harus selalu berpegang pada fakta dan tidak memberikan komentar atau pandangan yang tidak jelas.

3.     Kuatkan moralitas dan etika: Kita harus memperkuat moralitas dan etika dalam diri kita sendiri. Dengan memiliki moralitas dan etika yang kuat, kita akan lebih mudah untuk menolak tindakan menebar Fitnah dan menghasut orang lain.

4.     Cari teman yang positif dan memiliki etika yang baik: Cari teman yang memiliki etika yang baik dan bersikap positif. Dengan bergaul dengan teman yang positif, kita akan lebih mudah terhindar dari lingkungan yang negatif dan mengurangi risiko terkena pengaruh dari orang-orang yang suka menebar Fitnah dan menghasut.

5.     Perkuat pengetahuan dan wawasan: Perkuat pengetahuan dan wawasan kita tentang hal-hal yang penting. Dengan memiliki pengetahuan yang kuat, kita akan lebih mudah untuk membedakan antara fakta dan opini, sehingga kita tidak akan mudah terpengaruh oleh orang-orang yang suka menebar Fitnah dan menghasut.

Dengan menerapkan beberapa solusi di atas, kita dapat terhindar dari orang-orang yang suka menebar pitnah dan menghasut. Hal ini juga dapat membantu kita memperkuat moralitas dan etika dalam diri kita sendiri dan meningkatkan kualitas lingkungan sekitar kita.

 

Ayat al-Quran yang membahas tentang prilaku memfitna dan menghasut orang

Berikut adalah beberapa ayat Al-Quran yang membahas tentang perilaku memfitnah dan menghasut orang:

1.     "Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu." (QS. Al-Baqarah: 168). Ayat ini menegaskan agar kita tidak mengikuti langkah-langkah syaitan yang memfitnah dan menghasut orang, karena syaitan merupakan musuh yang nyata bagi manusia.

2.     "Sesungguhnya orang-orang yang suka menyebarkan fitnah di antara orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS. An-Nur: 19). Ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang yang suka menyebarkan fitnah di antara orang-orang yang beriman akan mendapatkan azab yang pedih di dunia dan di akhirat, karena tindakan tersebut merupakan perbuatan yang sangat dilarang dan dosa besar di hadapan Allah SWT.

3.     "Dan janganlah kamu mengikuti orang yang banyak bersumpah palsu, yang banyak mengumpat, yang suka mencela orang lain dengan lidahnya, yang menghalangi kebaikan, yang berbuat dosa, yang selalu berbuat dosa." (QS. Al-Qalam: 10-12). Ayat ini menekankan agar kita tidak mengikuti orang yang banyak bersumpah palsu, mengumpat, mencela, menghalangi kebaikan, berbuat dosa, dan selalu berbuat dosa, karena tindakan tersebut merupakan bentuk memfitnah dan menghasut orang.

Berdasarkan ketiga ayat tersebut, dapat kita ambil pelajaran bahwa memfitnah dan menghasut orang merupakan tindakan yang sangat dilarang dan dosa besar di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu, kita harus senantiasa berhati-hati dan selalu menjaga diri dari tindakan yang merugikan orang lain dan tidak bermanfaat bagi kehidupan kita di dunia maupun akhirat.

Merujuk pada pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa perilaku memfitnah dan menghasut orang merupakan tindakan yang sangat dilarang dan dosa besar di hadapan Allah SWT. Tindakan tersebut dapat menimbulkan dampak buruk bagi individu maupun masyarakat, seperti kerusakan hubungan sosial, terjadinya konflik, dan penyebaran kebencian. Oleh karena itu, kita harus senantiasa berhati-hati dan menjaga diri dari tindakan yang merugikan orang lain dan tidak bermanfaat bagi kehidupan kita di dunia maupun akhirat. Salah satu solusinya adalah dengan memperkuat moralitas dan etika dalam diri kita sendiri, serta menghindari pergaulan dengan orang-orang yang suka menebar pitnah dan menghasut. Kita juga dapat mengambil pelajaran dari ayat-ayat Al-Quran yang membahas tentang perilaku tersebut, sehingga dapat menjadi pedoman bagi kita dalam menjalani kehidupan. berhiminahmad11@gmail.com  @ Putra lintang 14032023

Senin, 13 Maret 2023

Cara Menumbuhkan Empati dalam Islam

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri


Empati adalah kemampuan untuk merasakan dan memahami perasaan serta pengalaman orang lain. Dalam Islam, empati dianggap sebagai salah satu sifat terpuji yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Menumbuhkan empati dalam diri seseorang tidak hanya membuatnya lebih baik sebagai manusia, tetapi juga sebagai muslim yang taat. Berikut adalah beberapa cara menumbuhkan empati dalam Islam:

1.     Membiasakan diri untuk mendengarkan dengan teliti

Salah satu cara untuk menumbuhkan empati dalam Islam adalah dengan membiasakan diri untuk mendengarkan dengan teliti. Dalam konteks ini, teliti berarti memberikan perhatian penuh kepada orang yang sedang berbicara dan mencoba untuk memahami perasaan dan pikirannya dengan sungguh-sungguh. Dalam Al-Qur'an, Allah Ta’ala berpesan agar manusia mendengarkan dengan seksama dan berbicara dengan cara yang baik.

 

2.     Belajar merasakan emosi orang lain

Menumbuhkan empati juga berarti belajar merasakan emosi orang lain. Dalam Islam, kita diajarkan untuk menghormati perasaan dan emosi orang lain. Kita harus menghargai perasaan orang lain dan memperlakukan mereka dengan hormat. Dalam Al-Qur'an, Allah Ta’ala juga menegaskan bahwa kita harus saling mengasihi dan saling merahmati.

 

3.     Berempati pada orang yang sedang menderita

Sebagai muslim, kita harus mampu berempati pada orang yang sedang menderita. Dalam Islam, kita diingatkan untuk membantu orang yang membutuhkan, seperti orang miskin, yatim piatu, dan janda. Kita harus memahami penderitaan mereka dan memberikan dukungan yang diperlukan. Dalam Al-Qur'an, Allah Ta’ala menyatakan bahwa orang yang memberikan kebaikan kepada orang lain akan mendapat pahala yang besar di akhirat.

 

4.     Mengembangkan rasa kebersamaan

Mengembangkan rasa kebersamaan juga dapat membantu menumbuhkan empati dalam diri seseorang. Sebagai muslim, kita harus merasa sebagai satu umat yang sama dan saling membantu dalam kebaikan. Kita harus bersikap peduli dan memperhatikan kondisi sesama muslim. Dalam Al-Qur'an, Allah Ta’ala menyatakan bahwa kita harus saling membantu dalam kebaikan dan melawan kejahatan.

Menumbuhkan empati dalam Islam dianggap sebagai hal yang sangat penting. Dengan menumbuhkan empati dalam diri seseorang, kita dapat menjadi manusia yang lebih baik dan muslim yang taat. Oleh karena itu, mari kita berusaha untuk selalu menumbuhkan sifat empati dalam diri kita dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. 13032023.

Mengeluh dalam Islam, Salahkah?

Oleh: Ahmad Berhimin, SE., ME

 


Mengeluh adalah kebiasaan yang sering dilakukan oleh banyak orang. Namun, terlalu sering mengeluh dapat memiliki dampak negatif pada kesehatan mental dan hubungan sosial seseorang.

Salah satu masalah utama dari terlalu sering mengeluh adalah bahwa hal itu dapat memperkuat pola pikir negatif. Saat seseorang terus-menerus mengeluh tentang masalah atau situasi yang buruk, hal itu dapat membuat mereka lebih cenderung melihat sisi buruk dari segala hal dan kurang bisa melihat sisi positif. Akibatnya, mereka menjadi kurang bersyukur dan lebih pesimis terhadap kehidupan.

Terlalu sering mengeluh juga dapat berdampak pada hubungan sosial. Orang yang terus-menerus mengeluh sering dianggap sebagai orang yang negatif dan kurang menyenangkan untuk diajak berinteraksi. Hal ini dapat memengaruhi hubungan mereka dengan teman, keluarga, dan rekan kerja. Selain itu, terlalu sering mengeluh juga dapat memperparah masalah yang ada. Daripada mengeluh tentang masalah yang ada, lebih baik mencari solusi untuk mengatasinya. Jika seseorang terus-menerus mengeluh tentang pekerjaan mereka, misalnya, mereka mungkin merasa lebih baik jika mencari cara untuk meningkatkan kinerja mereka atau mencari pekerjaan baru yang lebih sesuai dengan keinginan dan kemampuan mereka.

Untuk menghindari kebiasaan mengeluh yang berlebihan, penting untuk memperhatikan pola pikir dan bahasa yang digunakan. Saat merasa tidak nyaman atau tidak puas dengan sesuatu, cobalah untuk mencari solusi daripada hanya mengeluh. Jika ada masalah yang tidak bisa diatasi, cobalah untuk melihat sisi positif dari situasi dan bersyukur atas hal-hal baik yang masih ada. Dengan begitu, kita dapat menghindari dampak negatif dari kebiasaan mengeluh yang berlebihan dan menjalani hidup dengan lebih positif dan bersyukur.

Selain itu, penting juga untuk memperhatikan kualitas komunikasi dengan orang lain. Saat berbicara dengan orang lain, cobalah untuk memilih kata-kata yang positif dan menghindari mengeluh secara berlebihan. Jika ingin membagikan keluhan atau masalah, cobalah untuk meminta saran atau dukungan daripada hanya sekadar mengeluh.

Selain itu, penting juga untuk memperhatikan keadaan emosi dan pikiran kita sendiri. Jika merasa terlalu stres atau terbebani dengan masalah, cobalah untuk mencari cara untuk meredakan stres seperti olahraga, meditasi, atau kegiatan lain yang bisa membantu menghilangkan rasa cemas atau tegang.

Penting juga untuk menghindari membandingkan diri dengan orang lain atau melihat kekurangan yang ada di dalam diri kita. Fokus pada kelebihan yang ada dan mencoba untuk meningkatkan diri sendiri dengan cara yang positif.

Dalam situasi tertentu, terkadang mengeluh memang merupakan hal yang wajar. Namun, terlalu sering mengeluh dapat membawa dampak negatif pada kesehatan mental dan hubungan sosial kita. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan pola pikir, bahasa, dan emosi kita sendiri serta memperbaiki kualitas komunikasi dengan orang lain. Dengan cara tersebut, kita dapat menghindari kebiasaan mengeluh yang berlebihan dan hidup dengan lebih positif dan bersyukur.

 

Ayat tentang Mengeluh dalam Al Quran

Al-Quran membahas mengenai sifat mengeluh yang menunjukkan bahwa mengeluh atau mengadu domba terlalu sering dapat membawa dampak negatif pada kehidupan seseorang. Misalnya, dalam Surah Al-Ma’arij ayat 19-21 disebutkan: "Dan sesungguhnya manusia itu sangat senang melihat kebaikan yang datang kepada dirinya; jika mendapat cobaan, ia menjadi putus asa dan berkeluh kesah. Dan jika mendapat kebaikan dari kami, ia berkata: “Ini adalah hak saya” dan jika ia mendapat bencana, ia menganggap itu sebagai kesengsaraan yang menimpa dirinya sendiri."

Berdasarkan ayat tersebut, Allah Ta’ala menyatakan bahwa manusia cenderung menjadi putus asa dan berkeluh kesah saat mendapat cobaan. Namun, Allah Ta’ala juga menyebutkan bahwa jika manusia mendapat kebaikan dari-Nya, manusia tidak menganggapnya sebagai suatu karunia dan berkata bahwa itu adalah haknya, sedangkan jika mendapat bencana, ia menganggap itu sebagai kesengsaraan yang hanya menimpa dirinya sendiri.

Hal ini menunjukkan bahwa manusia terkadang kurang bersyukur atas kebaikan yang telah diberikan dan seringkali lebih mudah mengeluh daripada mengucapkan rasa syukur. Selain itu, Allah juga mengingatkan bahwa manusia seharusnya bersabar dalam menghadapi cobaan dan bencana yang datang, dan menghindari berkeluh kesah yang berlebihan.

Oleh karena itu, dari keterangan dalam Al-Quran, terlalu sering mengeluh dapat memperkuat pola pikir negatif dan mengurangi rasa syukur seseorang. Allah Ta’ala juga mengajarkan agar manusia bersabar dalam menghadapi cobaan dan menghindari berkeluh kesah yang berlebihan.

 

Allah Ta’ala dalam Al-Quran mengajarkan agar kita tidak banyak mengeluh dan bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. Salah satu ayat yang berkaitan dengan hal ini adalah Surah Ar-Rahman ayat 78: "Berapa banyaknya nikmat yang diberikan oleh Tuhanmu kepadamu, maka sebutlah nikmat-nikmat itu. Dan janganlah engkau termasuk orang-orang yang mengabaikannya."

Ayat ini mengajarkan kita untuk selalu mengingat nikmat-nikmat yang telah diberikan oleh Allah Ta’ala kepada kita dan mengucapkan rasa syukur atasnya. Dengan bersyukur, kita dapat menghindari sikap mengeluh dan merasa kurang puas dengan apa yang telah diberikan.

Selain itu, dalam Surah Al-Baqarah ayat 152 juga disebutkan: "Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan ingat (pula) kepadamu. Dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku."

Ayat ini menegaskan pentingnya bersyukur kepada Allah Ta’ala dan menghindari mengingkari nikmat yang telah diberikan-Nya. Dalam hal ini, bersyukur tidak hanya dilakukan dengan ucapan, tetapi juga dengan tindakan yang baik dan menjalankan kewajiban sebagai hamba Allah Ta’ala dengan baik.

Dari keterangan dalam ayat-ayat Al-Quran tersebut, dapat disimpulkan bahwa Allah Ta’ala mengajarkan kita untuk senantiasa mengingat nikmat yang telah diberikan-Nya dan bersyukur atasnya, sehingga dapat menghindari sikap mengeluh dan mengabaikan nikmat yang telah diberikan-Nya. berhiminahmad11@gmail.com @ Putra Lintang 13032023

Cara Menumbuhkan Empati dalam Islam

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri

 


Empati adalah kemampuan untuk merasakan dan memahami perasaan serta pengalaman orang lain. Dalam Islam, empati dianggap sebagai salah satu sifat terpuji yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Menumbuhkan empati dalam diri seseorang tidak hanya membuatnya lebih baik sebagai manusia, tetapi juga sebagai muslim yang taat. Berikut adalah beberapa cara menumbuhkan empati dalam Islam:

1.     Membiasakan diri untuk mendengarkan dengan teliti

Salah satu cara untuk menumbuhkan empati dalam Islam adalah dengan membiasakan diri untuk mendengarkan dengan teliti. Dalam konteks ini, teliti berarti memberikan perhatian penuh kepada orang yang sedang berbicara dan mencoba untuk memahami perasaan dan pikirannya dengan sungguh-sungguh. Dalam Al-Qur'an, Allah Ta’ala berpesan agar manusia mendengarkan dengan seksama dan berbicara dengan cara yang baik.

 

2.     Belajar merasakan emosi orang lain

Menumbuhkan empati juga berarti belajar merasakan emosi orang lain. Dalam Islam, kita diajarkan untuk menghormati perasaan dan emosi orang lain. Kita harus menghargai perasaan orang lain dan memperlakukan mereka dengan hormat. Dalam Al-Qur'an, Allah Ta’ala juga menegaskan bahwa kita harus saling mengasihi dan saling merahmati.

 

3.     Berempati pada orang yang sedang menderita

Sebagai muslim, kita harus mampu berempati pada orang yang sedang menderita. Dalam Islam, kita diingatkan untuk membantu orang yang membutuhkan, seperti orang miskin, yatim piatu, dan janda. Kita harus memahami penderitaan mereka dan memberikan dukungan yang diperlukan. Dalam Al-Qur'an, Allah Ta’ala menyatakan bahwa orang yang memberikan kebaikan kepada orang lain akan mendapat pahala yang besar di akhirat.

 

4.     Mengembangkan rasa kebersamaan

Mengembangkan rasa kebersamaan juga dapat membantu menumbuhkan empati dalam diri seseorang. Sebagai muslim, kita harus merasa sebagai satu umat yang sama dan saling membantu dalam kebaikan. Kita harus bersikap peduli dan memperhatikan kondisi sesama muslim. Dalam Al-Qur'an, Allah Ta’ala menyatakan bahwa kita harus saling membantu dalam kebaikan dan melawan kejahatan.

Menumbuhkan empati dalam Islam dianggap sebagai hal yang sangat penting. Dengan menumbuhkan empati dalam diri seseorang, kita dapat menjadi manusia yang lebih baik dan muslim yang taat. Oleh karena itu, mari kita berusaha untuk selalu menumbuhkan sifat empati dalam diri kita dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. 13032023.

Menjadi Manusia Seutuhnya: Baik, Bijaksana dan Teladan

Oleh: Ahmad Berhimin. SE., ME

Email; berhiminahmad11@gmail.com

 


Menjadi manusia yang baik, bijaksana, dan menjadi teladan bagi orang lain membutuhkan proses yang panjang dan konsisten. Berikut ini adalah beberapa tahapan yang dapat membantu Anda menjadi manusia yang baik dan bijaksana:

1.     Mengenali diri sendiri

Mengenali diri sendiri adalah langkah awal untuk menjadi manusia yang baik. Anda perlu mengenali kelebihan dan kekurangan Anda, apa yang Anda sukai dan tidak sukai, dan apa yang menjadi tujuan hidup Anda. Dengan mengenali diri sendiri, Anda akan lebih mudah menentukan arah hidup dan memilih tindakan yang tepat.

2.     Meningkatkan empati

Empati adalah kemampuan untuk memahami dan merasakan perasaan orang lain. Dengan meningkatkan empati, Anda akan lebih mampu merespons kebutuhan dan keinginan orang lain, sehingga Anda dapat memberikan dukungan dan membantu mereka dalam menjalani hidup. Anda dapat meningkatkan empati dengan mendengarkan dan memahami orang lain, dan mempraktikkan perspektif yang berbeda.

3.     Mengembangkan kebiasaan positif

Kebiasaan positif adalah kunci untuk menjadi manusia yang baik dan bijaksana. Anda perlu mengembangkan kebiasaan yang baik seperti rajin berolahraga, membaca buku, menjaga kesehatan, dan belajar hal baru. Dengan memiliki kebiasaan yang positif, Anda akan lebih mudah menjalani hidup dengan baik dan memberikan contoh yang baik bagi orang lain.

4.     Menjaga hubungan yang baik dengan orang lain

Menjaga hubungan yang baik dengan orang lain adalah penting dalam menjadi manusia yang baik. Anda perlu menghargai orang lain, mendengarkan dan memahami perasaan mereka, serta memberikan dukungan dan bantuan ketika dibutuhkan. Dengan menjaga hubungan yang baik dengan orang lain, Anda akan lebih mudah memberikan pengaruh positif dan menjadi teladan bagi orang lain.

5.     Belajar dari pengalaman

Pengalaman hidup adalah guru terbaik dalam menjalani hidup. Anda perlu belajar dari pengalaman hidup Anda dan mengambil hikmahnya. Dengan belajar dari pengalaman, Anda akan lebih mudah menjalani hidup dengan bijaksana dan memberikan teladan bagi orang lain.

6.     Mengembangkan sikap positif

Sikap positif adalah kunci untuk menjadi manusia yang baik dan bijaksana. Anda perlu mengembangkan sikap yang positif seperti bersyukur, sabar, tulus, dan rendah hati. Dengan memiliki sikap yang positif, Anda akan lebih mudah menjalani hidup dengan baik dan memberikan contoh yang baik bagi orang lain.

7.     Menjadi diri sendiri

Terakhir, menjadi diri sendiri adalah kunci utama dalam menjadi manusia yang baik dan bijaksana. Anda perlu menerima diri sendiri apa adanya dan mengembangkan potensi yang dimiliki. Dengan menjadi diri sendiri, Anda akan lebih mudah menemukan arah hidup dan menjadi teladan bagi orang lain.

Secara keseluruhan, menjadi manusia yang baik, bijaksana, dan menjadi teladan bagi orang lain membutuhkan proses yang panjang dan konsisten. Dengan mengenali diri sendiri, meningkatkan empati, mengembangkan kebiasaan positif, menjaga hubungan yang baik dengan orang lain, belajar dari pengalaman, mengembangkan sikap positif, dan menjadi diri sendiri, Anda dapat memperbaiki diri Anda dan memberikan pengaruh positif bagi orang lain. Namun, proses ini tidak akan berjalan lancar jika tidak disertai dengan niat yang baik dan tekad yang kuat. Oleh karena itu, pastikan bahwa niat Anda adalah untuk memperbaiki diri dan memberikan dampak positif bagi orang lain, bukan untuk mendapatkan pengakuan atau pujian.

Selain itu, penting juga untuk selalu belajar dan berusaha menjadi lebih baik setiap harinya. Teruslah mencari informasi baru dan belajar dari orang lain yang lebih berpengalaman. Jangan takut untuk melakukan kesalahan karena kesalahan adalah bagian dari proses pembelajaran.

Terakhir, ingatlah bahwa menjadi manusia yang baik, bijaksana, dan menjadi teladan bagi orang lain bukanlah suatu tujuan akhir. Hal ini adalah suatu proses yang berkelanjutan sepanjang hidup. Oleh karena itu, tetaplah konsisten dan teruslah berusaha untuk menjadi lebih baik setiap harinya. Semoga artikel ini dapat memberikan inspirasi bagi Anda untuk menjadi manusia yang lebih baik dan memberikan dampak positif bagi orang lain.

 

harapan dan solusi dalam proses yang harus di lalui agar menjadi manusia yang baik, bijaksana dan menjadi tauladan antar sesama manusia

Harapan utama dalam proses menjadi manusia yang baik, bijaksana, dan menjadi tauladan bagi orang lain adalah terciptanya masyarakat yang lebih baik dan harmonis. Dalam masyarakat yang baik dan harmonis, orang-orang saling menghargai, saling membantu, dan saling mendukung. Dengan menjadi manusia yang baik, bijaksana, dan menjadi teladan bagi orang lain, kita dapat memberikan dampak positif dalam masyarakat dan membantu menciptakan masyarakat yang lebih baik.

Untuk mencapai harapan tersebut, ada beberapa solusi yang dapat dilakukan dalam proses menjadi manusia yang baik, bijaksana, dan menjadi tauladan bagi orang lain, antara lain:

1.     Meningkatkan kesadaran diri

Meningkatkan kesadaran diri tentang kelebihan dan kekurangan diri sendiri dapat membantu kita memperbaiki diri. Dengan menyadari kelebihan kita, kita dapat memperkuatnya, dan dengan menyadari kekurangan kita, kita dapat memperbaikinya.

2.     Meningkatkan empati

Meningkatkan empati kita terhadap orang lain dapat membantu kita menjadi lebih peduli dan memahami perasaan orang lain. Dengan empati yang tinggi, kita akan lebih mudah membantu orang lain dan memperbaiki hubungan antarmanusia.

3.     Meningkatkan kualitas diri

Meningkatkan kualitas diri melalui pembelajaran dan pengalaman hidup dapat membantu kita menjadi manusia yang lebih baik dan bijaksana. Dengan memiliki pengetahuan dan keterampilan yang lebih baik, kita dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.

4.     Menjaga hubungan yang baik dengan orang lain

Menjaga hubungan yang baik dengan orang lain, terutama dengan keluarga dan teman dekat, dapat membantu kita tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang lebih baik. Dalam hubungan yang baik, kita dapat belajar dari pengalaman orang lain dan mendapatkan dukungan serta motivasi dari mereka.

5.     Menjadi teladan bagi orang lain

Menjadi teladan bagi orang lain dengan perilaku dan tindakan yang baik dapat membantu memperbaiki lingkungan sekitar kita. Dengan menjadi teladan, kita dapat memotivasi orang lain untuk menjadi lebih baik dan membantu menciptakan masyarakat yang lebih baik.

Dalam proses menjadi manusia yang baik, bijaksana, dan menjadi tauladan bagi orang lain, tidak ada jaminan bahwa semuanya akan berjalan mulus dan mudah. Namun, dengan niat yang baik, tekad yang kuat, dan konsistensi dalam mengambil langkah-langkah positif, kita dapat mencapai tujuan tersebut. Oleh karena itu, mari kita terus berusaha dan memperbaiki diri agar dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan sekitar kita.

 

Anjuran dalam ayat alquran dalam proses yang harus di lalui agar menjadi manusia yang baik, bijaksana dan menjadi tauladan antar sesama manusia

Ayat-ayat Al-Quran memberikan banyak anjuran yang dapat menjadi pedoman dalam proses menjadi manusia yang baik, bijaksana, dan menjadi tauladan bagi orang lain. Berikut ini adalah beberapa ayat Al-Quran yang relevan:

1.     "Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS. Luqman: 18) Ayat ini mengajarkan pentingnya sikap rendah hati dan tidak sombong. Manusia yang baik dan bijaksana harus memiliki sikap yang rendah hati dan menghargai orang lain, tanpa memandang status sosial atau kekayaan.

2.     "Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang yang berbuat baik." (QS. Al-Baqarah: 195). Ayat ini mengajarkan pentingnya berbuat baik kepada orang lain. Dalam proses menjadi manusia yang baik dan menjadi tauladan bagi orang lain, kita harus selalu berusaha untuk berbuat baik dan membantu orang lain.

3.     "Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. Al-Qalam: 4). Ayat ini mengajarkan pentingnya memiliki budi pekerti yang baik dan mulia. Manusia yang bijaksana dan menjadi tauladan bagi orang lain harus memiliki budi pekerti yang baik dan menghormati orang lain.

4.     "Dan janganlah kamu memakan harta sesamamu secara batil, dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu." (QS. An-Nisa: 29). Ayat ini mengajarkan pentingnya menjaga hubungan yang baik dengan orang lain dan tidak merugikan orang lain. Dalam proses menjadi manusia yang baik dan menjadi tauladan bagi orang lain, kita harus selalu menghargai orang lain dan tidak merugikan mereka.

5.     "Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan beramal saleh, maka Allah akan memberikan kepadanya kebaikan yang lebih baik dari apa yang diperbuatnya dan Allah akan memberikan pahala yang lebih besar." (QS. At-Talaq: 7). Ayat ini mengajarkan pentingnya memiliki iman yang kuat dan melakukan amal yang baik. Dalam proses menjadi manusia yang baik dan menjadi tauladan bagi orang lain, kita harus selalu memperkuat iman kita dan melakukan amal yang baik untuk mendapatkan pahala dari Allah Ta’ala.

Dalam rangka mencapai tujuan menjadi manusia yang baik, bijaksana, dan menjadi tauladan bagi orang lain, ayat-ayat Al-Quran memberikan pedoman yang sangat penting. Oleh karena itu, kita harus selalu mempelajari dan mengamalkan ajaran Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari.

 

Kesimpulan

Kesimpulan dari pembahasan di atas adalah menjadi manusia yang baik, bijaksana, dan menjadi tauladan bagi orang lain merupakan proses yang panjang dan memerlukan kesabaran, usaha, dan tekad yang kuat. Proses ini melibatkan banyak aspek seperti moral, etika, spiritual, sosial, dan intelektual. Selain itu, ajaran agama juga memberikan panduan dan pedoman yang penting dalam proses tersebut.

Solusi untuk mencapai tujuan menjadi manusia yang baik, bijaksana, dan menjadi tauladan bagi orang lain adalah dengan melakukan tindakan konkret dan terus-menerus dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan antara lain:

1.     Meningkatkan kesadaran akan pentingnya moral dan etika dalam kehidupan.

2.     Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam bidang yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain.

3.     Membangun hubungan yang baik dan saling menghargai dengan orang lain.

4.     Berusaha untuk berbuat baik dan membantu orang lain.

5.     Menjalin hubungan yang baik dengan Tuhan melalui ibadah dan memperkuat iman.

6.     Selalu memperbaiki diri dan belajar dari kesalahan.

7.     Mengamalkan nilai-nilai agama yang diajarkan untuk menjadi manusia yang baik dan berbudi pekerti mulia.

8.     Mempraktekkan nilai-nilai kejujuran, integritas, dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan melakukan tindakan konkret seperti di atas, kita dapat membantu proses menjadi manusia yang baik, bijaksana, dan menjadi tauladan bagi orang lain. Selain itu, kita juga dapat membantu menciptakan lingkungan yang positif dan harmonis bagi diri sendiri dan orang lain. @ Putra Lintang 13032023