Tampilkan postingan dengan label Khutbah Jumat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khutbah Jumat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Agustus 2023

MENJADI MUSLIM RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN

By: Abd Misno Mohd Djahri


 

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَن اتَّبَعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.أَمَّا بَعْدُ:

فَإِنَ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .  وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ فِي دِيْنِ اللهِ بِدْعَةٌ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَاْزَ الْمُتَّقُوْنَ...فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرآنِ الْكَرِيْمِ:  ﴿ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ﴾ وَقَالَ اللهُ تَعَالَى أَيْضًا ﴿ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا ﴾ وَقَالَ اللهُ تَعَالَى أَيْضًا ﴿ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ  يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا 

Muqadimah…

Alhamdulillah, Syukur kepada Allah Ta’ala yang telah memberikan kepada kita kenikmatan iman, Islam dan Ihsan. Shalawat dan salam sama-sama kita panjatkan kepada junjungan alam, habibana wa nabiyyana Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam, kepada seluruh ahli baitnya, para shahabatnya hingga orang-orang yang mengikuti jejak sunnahnya hingga akhir zaman.

Amma Ba’du, pertama-tama Khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi serta jamaah jum’ah rahimakumullah wasiat taqwa yang bermakna “Mengoptimalkan seluruh potensi jiwa dan raga kita, untuk mendapatkan Ridha dari Allah Azza wa Jalla”.

Syukur kepada Allah Ta’ala adalah sebuah keniscayaan, ia adalah aalamah min alamatil iman (tanda dari tanda-tanda keimanan seseorang). Syukur yang diawali dengan keyakinan dalam hati (al-yaqin fil qalbi), ucapan dengan lisan (an-nitqu bil lisaan) dan amal dengan seluruh anggota badan. Syukur kita juga secara khusus diberikan hidayah serta inayahNya sehingga kita mampu melaksanakan salah satu dari kewajiban kita sebagai seorang laki-laki muslim yaitu shalat jumat secara berjama’ah, Alhamdulillah wa syukru lillah.

 

Hadirin Jama’ah jum’ah rahimakumullah…

Salah satu dari kenikmatan dan anugerah yang telah diberikan Allah Ta’ala kepada kita semua adalah kenikmatan untuk dapat hidup di bawah naungan Islam. Ini adalah kenikmatan yang tiada duanya, sebagaimana kalamNya:  

فَمَن يُرِدِ اللَّهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

“Maka siapa saja dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barangsiapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” [Al-An’aam/6: 125]

Kenikmatan yang telah Allah sampaikan dalam kalamNya tersebut tentu bukan tanpa alasan, syariah Islam yang telah sempurna menjadi pedoman satu-satunya dalam menjalani kehidupan di alam semesta.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” [Al-Maa-idah/5: 3].

Kesempurnaan Islam juga disebutkan dalam sabda hadits Nabi Muhammad Shalallahu Alaih Wassalam:

عَنْ أَبِى ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: تَرَكَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا طَائِرٌ يُقَلِّبُ جَنَاحَيْهِ فِي الْهَوَاءِ إِلاَّ وَهُوَ يَذْكُرُنَا مِنْهُ عِلْمًا. قَالَ: فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ وَ قَدْ بُيِّنَ لَكُمْ.

Dari Shahabat Abu Dzarr Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah pergi meninggalkan kami (wafat), dan tidaklah seekor burung yang terbang membalik-balikkan kedua sayapnya di udara melainkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan ilmunya kepada kami.” Berkata Abu Dzarr Radhiyallahu anhu, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Tidaklah tertinggal sesuatu pun yang mendekatkan ke Surga dan menjauhkan dari Neraka melainkan telah dijelaskan semuanya kepada kalian.’” HR. At-Thabrani.

Syariah Islam yang sempurna memberikan pedoman kepada seluruh umat Islam dalam menjalani kehidupannya. Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah sumber pedoman utama, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

“Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik; Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm.

Maka, Al-Qur’an dan As-Sunnah atau Al-Hadits menjadi pedoman umat Islam dalam menjalankan amanah Allah Ta’ala sebagai penanggungjawab semesta raya. Pedoman ini sangat sempurna dan mengatur seluruh sendi kehidupan manusia, dari seseorang bangun tidur sampai tidur lagi bahkan ketika sedang tidur diberikan pedomannya dalam Islam. Demikian pula permasalahan besar mulai dari Aqidah, Ibadah dan Muamalah telah lengkap aturannya untuk dilaksanakan dengan penuh ketundukan.

Maka kewajiban bagi kita sebagai seorang muslim untuk terus belajar, belajar dan belajar tentang Islam, kemudian mengamalkannya dan menyampaikan kepada seluruh semesta tentang sifat Islam yang membawa Rahmat bagi seluruh alam.

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

Tidaklah Kami mengutusmu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam. [Al-Anbiyâ’/21:107].

 

Hadirin Jama’ah jum’ah rahimakumullah…

Rahmat Islam bagi seluruh alam tercermin dari sifat-sifat yang menjadi karakter utamanya, diantaranya adalah sifat menghargai dan menghormati agama dan kepercayaan orang lain. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan janganlah kalian mencela sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allâh, karena mereka nanti akan mencela Allâh dengan melampaui batas tanpa ilmu. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik amalan mereka. Kemudian kepada Rabb merekalah tempat kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan. [Al-An’âm/6:108]

Merujuk pada ayat ini maka tidak boleh kita mencela agama, kepercayaan dan tuhan-tuhan yang disembah oleh orang di luar Islam karena itu merupakan bentuk menjaga dari mereka membalas mencela Allah dan agamaNya. Pedoman dalam Al-Qur’an sudah jelas yaitu;

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِىَ دِينِ

Bagi kalian agama kalian dan bagi kami agama kami. QS. Al-Kafirun: 6.

Rahmat Islam juga nampak dari konsep umatan wahidah yang terdapat di dalam Piagam Madinah, yaitu sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

٢٥. وان يهود بني عوف امة مع المؤمنين لليهود دينهم وللمسلمين دينهم مواليهم وانفسهم الا من ظلم واثم فانه لا يـوتخ الا نفسه واهل بيته.

Pasal 25: Kaum Yahudi dari Bani ‘Awf adalah satu umat dengan mukminin. Bagi kaum Yahudi agama mereka, dan bagi kaum muslimin agama mereka. Juga (kebebasan ini berlaku) bagi sekutu-sekutu dan diri mereka sendiri, kecuali bagi yang zalim dan jahat. Hal demikian akan merusak diri dan keluarga.

Piagam Madinah menjadi pedoman bagi umat Islam dalam berbangsa dan bernegara, tanpa melihat agama, ras dan suku bangsa. Selama mereka memiliki visi dan misi yang sama maka mereka semua adalah saudara satu bangsa (Ukhuwah wathaniyyah).

Rahmat Islam Islam untuk semesta adalah menjaga lingkungan agar selalu memberikan yang terbaik kepada manusia. misalnya dilarang untuk mengotori sungai, membuang sampah sembarangan dan buang hajat sembarangan. Sebagaimana Sabda Nabi Muhammad Shalallahu Alaih Wassalam:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حُبْشِيٍّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ قَطَعَ سِدْرَةً صَوَّبَ اللَّهُ رَأْسَهُ فِي النَّار(رواه ابو داود)

Dari ‘Abdullah bin Hubsyi ia berkata: “Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa menebang pohon bidara, maka Allah akan membenamkan kepalanya dalam api neraka.” HR. Abu Dawud

اتَّقُوا الْمَلَاعِنَ الثَّلَاثَةَ الْبَرَازَ فِي الْمَوَارِدِ ، وَقَارِعَةِ الطَّرِيقِ ، وَالظِّلِّ

"Jauhilah tiga perilaku terlaknat; buang kotoran di sumber air, di pinggir jalan, dan di bawah naungan pohon." HR Abu Daud, Ahmad dan Ibnu Majah.

Sejatinya masih banyak lagi bukti-bukti nyata bahwa Islam benar-benar menjadi Rahmat untuk semesta, bukan hanya bagi manusia tetapi untuk hewan dan seluruh alam raya. Maka, tugas kita sebagai seorang muslim adalah menyampaikan Islam kepada seluruh semesta, Islam yang membawa kedamaian, ketenterama dan kesejahteraan di dunia dan akhirat sana. Wallahu a’lam 0308 2023.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللهَ  الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَعْمَلُوْنَ.وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَأَقِمِ الصَّلَاْةَ

Rabu, 28 Juni 2023

Keutamaan dan Amalan Hari-hari Tasyriq

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri

 

Setelah merayakan Hari raya Idhul Adha, maka umat Islam merayakan rangkaian hari raya ini hingga tiga hari yaitu 11, 12 dan 13 Dzulhijjah. Hari-hari ini disebut dengan tasyriq yang diambil dari kata [شرقت الشمش] yang artinya matahari terbit. Menjemur sesuatu, dalam bahasa Arab dinyatakan: [شَرَّقَ الشَيْءَ لِلشَّمْشِ]. Menurut Imam Nawawi dalam Al-Minhaj, hari-hari ini disebut dengan tasyriq karena orang-orang menjemur daging kurban di waktu tersebut, yaitu mendendeng dan menghampar daging pada terik matahari.

Abu Ubaid mengatakan “Ada dua pendapat ulama tentang alasan penamaan hari-hari tersebut dengan hari tasyrik: Pertama, dinamakan hari tasyrik karena kaum muslimin pada hari itu menjemur daging kurban untuk dibuat dendeng. Kedua, karena kegiatan berqurban, tidak dilakukan, kecuali setelah terbit matahari. (Lisanul Arab, 10:173)”.

 

Keutamaan Hari-hari Tasyriq

Hari-hari ini memiliki banyak keutamaan sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ لِمَنِ اتَّقَى وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang terbilang.” (QS. Al Baqarah: 203).

Ibnu ‘Umar dan ulama lainnya mengatakan bahwa ayyamul ma’dudat adalah tiga hari tasyriq. Ini menunjukkan adanya perintah berdzikir di hari-hari tasyriq. Namun Ibnu ‘Abbas dan ‘Atho’ mengatakan bahwa hari yang terbilang di situ adalah empat hari yaitu hari Idul Adha dan tiga hari sesudahnya. Hari-hari tersebut disebut hari Tasyriq. Namun pendapat pertama yang menyatakan bahwa hari yang terbilang adalah tiga hari sesudah Idul Adha adalah pendapat yang lebih tepat.

Maka, hari tasyriq adalah hari raya bagi umat Islam, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam:

يَوْمُ عَرَفَةَ وَيَوْمُ النَّحْرِ وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَهِىَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Hari Arofah, hari Idul Adha dan hari-hari Tasyriq adalah ‘ied kami -kaum muslimin-. Hari tersebut (Idul Adha dan hari Tasyriq) adalah hari menyantap makan dan minum.” HR. Abu Dawud, Thirmidzi dan Nasai.

Riwayat lainnya menjelaskan:

إِنَّ أَعْظَمَ الأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَوْمُ النَّحْرِ ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ

“Sesungguhnya hari yang paling mulia di sisi Allah Tabaroka wa Ta’ala adalah hari Idul Adha dan yaumul qorr (hari tasyriq).” HR. Abu Dawud.

Hari tasyriq disebut yaumul qorr karena pada saat itu orang yang berhaji berdiam di Mina. Hari tasyriq yang terbaik adalah hari tasyriq yang pertama, kemudian yang berikutnya dan berikutnya lagi.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَّ أَنَّهُ قَالَ مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلَ مِنْهَا فِي هَذِهِ

Artinya: “Dari sahabat Ibnu Abbas ra., dari Nabi Muhammad saw, ia bersabda, ‘Tidak ada amal pada hari-hari ini yang lebih utama daripadanya di hari-hari ini,’” (HR Bukhari).

Merujuk pada ayat dan hadits tersebut maka dapat disimpulkan bahwa hari-hari tasyriq memiliki banyak keutamaan karena mengandung syariah menyembelih kurban dan perintah untuk berzikir dan memuji Allah Ta’ala.

 

Idul Adha dan Tasyriq: Hari Bersenang-senang dan Menyantap Makanan

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa Idul Adha dan hari tasyriq adalah hari kaum muslimin untuk menikmati makanan, beliau bersabda,

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Hari-hari tasyriq adalah hari menikmati makanan dan minuman.” HR. Muslim

Dalam lafazh lainnya, beliau bersabda,

وَأَيَّامُ مِنًى أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Hari Mina (hari tasyriq) adalah hari menikmati makanan dan minuman.” HR. Muslim.

عَنْ نُبَيْشَةَ الْهُذَلِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَزَادَ فِي رواية وَذِكْرٍ لِلَّهِ

“Dari Nubaisyah Al-Hudzali, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, Hari Tasyrik adalah hari makan, minum (pada riwayat lain), dan hari zikir,’” (HR Muslim).

Ibnu Rajab mengatakan:

و إنما نهى عن صيام أيام التشريق لأنها أعياد للمسلمين مع يوم النحر فلا تصام بمنى و لا غيرها عند جمهور العلماء، خلافا لعطاء في قوله : إن النهي يختص بأهل منى

 

“Kita dilarang berpuasa pada hari tasyrik karena hari tasyrik adalah hari raya kaum muslimin, disamping hari raya qurban. Karena itu, tidak boleh puasa di Mina maupun di daerah lainnya, menurut mayoritas ulama. Tidak sebagaimana pendapat Atha yang mengatakan, sesungguhnya larangan puasa di hari tasyrik, khusus bagi orang yang tinggal di Mina.” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 509).

Merujuk pada riwayat tersebut maka hari-hari tasyriq adalah hari untuk makan dan minum karena merupakan rangkaian dari hari raya Idhul Adha serta dipotongnya hewan qurban yang dinikmati oleh umat Islam.

 

Amalan Hari Tasyriq: Berdzikir

Amalan yang paling utama pada hari-hari ini adalah berdzikir (mengingat) Allah Ta’al’la, sebagaimana firmanNya:

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ لِمَنِ اتَّقَى وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang terbilang.” (QS. Al Baqarah: 203).

Ayat ini secara jelas menunjukan perintah untuk berdzikir di hari-hari tasyriq. Adapun dzikir-dzikir yang disyariatkan adalah;

Pertama: berdzikir kepada Allah dengan bertakbir setelah selesai menunaikan shalat wajib. Ini disyariatkan hingga akhir hari tasyriq sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Hal ini juga diriwayatkan dari ‘Umar, ‘Ali dan Ibnu Abbas.

وكان أبو حنيفة يذهب بالتشريق في هذا إلى التكبير في دبر الصلاة

“Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa amal pada Hari Tasyrik adalah takbir setelah shalat,” (Al-Asqalani, 2004 M/1424 H: II/525).

Kedua: membaca tasmiyah (bismillah) dan takbir ketika menyembelih qurban. Waktu menyembelih qurban adalah sampai akhir hari tasyriq (13 Dzulhijah) sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Pendapat ini juga menjadi pendapat Imam Asy Syafi’i dan salah satu pendapat dari Imam Ahmad. Namun mayoritas sahabat berpendapat bahwa waktu menyembelih qurban hanya tiga hari yaitu hari Idul Adha dan dua hari tasyriq setelahnya (11 dan 12 Dzulhijah). Pendapat kedua ini adalah pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad, juga termasuk pendapat Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan kebanyakan ulama.

Ketiga: berdzikir memuji Allah Ta’ala ketika makan dan minum. Yang disyari’atkan ketika memulai makan dan minum adalah membaca basmallah dan mengakhirinya dengan hamdalah.

Keempat: berdzikir dengan takbir ketika melempar jumroh di hari tasyriq. Dan amalan ini khusus untuk orang yang berhaji.

Kelima: Berdzikir pada Allah secara mutlak karena kita dianjurkan memperbanyak dzikir di hari-hari tasyriq. Sebagaimana ‘Umar ketika itu pernah berdzikir di Mina di kemahnya, lalu manusia mendengar. Mereka pun bertakbir dan Mina akhirnya penuh dengan takbir.

 

Memperbanyak Do’a Sapu Jagad

Amalan selanjutnya dalah berdoa kepada Allah Ta’ala khususnya doa apu jagad. Ini sebagaimana firman Allah Ta’al:

فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ, وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” [Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka].” (QS. Al Baqarah: 200-201)

Berdasarkan ayat ini maka para ulama menganjurkan membaca do’a “Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” di hari-hari tasyriq. Sebagaimana hal ini dikatakan oleh ‘Ikrimah dan ‘Atho’.

Do’a sapu jagad ini terkumpul di dalamnya seluruh kebaikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam paling sering membaca do’a sapu jagad ini.  Anas bin Malik mengatakan,

كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – « اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ »

“Do’a yang paling banyak dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Allahumma Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” [Wahai Allah, Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka].” HR. Bukhari dan Muslim

Al Hasan Al Bashri  mengatakan, “Kebaikan di dunia adalah ilmu dan ibadah. Kebaikan di akhirat adalah surga.” Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Kebaikan di dunia adalah ilmu dan rizki yang thoyib. Sedangkan kebaikan di akhirat adalah surga.”

Diriwayatkan dari Al Jashshosh, dari Kinanah Al Qurosy, dia mendengar Abu Musa Al Asy’ariy berkata ketika berkhutbah di hari An Nahr (Idul Adha), “Tiga hari setelah hari An Nahr (yaitu hari-hari tasyriq), itulah yang disebut oleh Allah dengan ayyam ma’dudat (hari yang terbilang). Do’a pada hari tersebut tidak akan tertolak (pasti terkabul), maka segeralah berdo’a dengan berharap pada-Nya.”

 

Banyak Bersyukurlah pada Allah di Hari Tasyriq

Pada hari tasyriq terkumpullah berbagai macam nikmat badaniyah dengan makan dan minum, juga terdapat nikmat qolbiyah (nikmat hati) dengan berdzikir kepada Allah. Dan sebaik-baik hati adalah yang sering berdzikir dan bersyukur. Dengan demikian nikmat-nikmat tersebut akan menjadi sempurna. Jika kita diberi taufik untuk mensyukuri nikmat, maka syukur yang baru itu sendiri adalah nikmat. Sehingga perintah syukur selamanya tidak akan usai.

Seorang penyair mengatakan:

Idza kana syukri ni’matallah ni’matan, ‘alayya lahu fi mitsliha yajibusy syukr

Jika mensyukuri nikmat Allah adalah nikmat, maka karena nikmat semisal inilah, kita wajib bersyukur pula.

Berdasarkan pembahasan sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa hari-hari tasyriq memiliki banyak keutamaan, salah satunya adalah sebagai hari raya bagi umat Islam. Pada hari-hari tersebut kita disyariahkan untuk memotong hewan kurban, makan dan minum, berdzikir, berdo’a serta bersyukur kepada Allah Ta’ala.

Jumat, 13 Januari 2023

Menghadapi Masa Depan (2023-2024) dalam Perspektif Islam

Oleh: Dr. Misno, SHI., SE., MEI


Alhamdulillah, syukur kepada Allah ta’ala yang masih memberikan kepada kita untuk menghirup udara dan menikmati kehidupan di dunia yang fana. Belum lima belas hari kita memasuki tahun 2023, namun banyak prediksi, isu dan berita yang akan mewarnai hari-hari ke depan di tahun ini. Mulai dari isu resesi ekonomi, hingga suhu politik yang meningkat menjelang pemilihan presiden dan wakil presiden di tahun 2024.

Masalah ekonomi akan muncul dengan terjadinya inflasi yaitu kenaikan harga secara terus-menerus, ini akan menyusahkan masyarakat. Sementara resesi dunia yang akan berdampak kepada Indonesia akan menjadikan aktifitas ekonomi menurun dan berdampak signifikan kepada pendapatan masyarakat. Perang politik dan dagang antara Amerika dan China juga menjadi permasalahan bagi negara-negara lainnya.

Isu keamanan juga menjadi permasalahan yang terus berlangsung hingga 2023, radikalisme, terorisme dan fundamentalisme yang mengancam keamanan nasional dan internasional mesti disikapi dengan bijak. Apalagi jika isunya membawa nama agama Islam yang sejatinya membawa pada rahmat untuk semua. Tidak kalah menakutkannya yaitu isu politik menghadapi 2023 di mana gesekan-gesekan politik yang dibumbui dengan isu sara (suku, agama, ras dan antar golongan) menjadi semakin tajam. Bagaimana seorang muslim menghadapi ancaman-ancaman tersebut?

 

Islam telah memberikan pedoman hidup berupa keyakinan mendalam bahwa rizki telah diatur ooleh Allah ta’ala, sebagaimana firmanNya:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

“Dan tidak ada satupun makhluk yang berjalan di muka bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya” (Huud: 6).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِىٌّ أَوْ سَعِيدٌ

”Kemudian diutuslah Malaikat kepadanya (janin, pent.). Malaikat itu meniupkan ruh kepadanya dan diperintahkan untuk menuliskan empat kalimat (ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah baginya), yaitu: (1) rizki, (2) ajal, (3) amal perbuatan dan (4) (apakah nantinya dia termasuk) orang yang celaka (masuk neraka) atau orang yang berbahagia (masuk surga).” HR. Muslim.

Merujuk pada ayat dan hadits tersebut maka jelas sekali sebagai muslim kita harus meyakini bahwa rizki itu sudah ditetapkan oleh Allah Ta’ala, tugas kita adalah berikhtiar dan berusaha menjemput rizki tersebut. Sehingga jangan takut dengan resesi ekonomi dengan segala macamnya, selama kita yakin dan percaya kemudian berusaha inshaallah aka nada rizki kita.

Selanjutnya adalah isu kemanan, maka sejatinya ini perlu disikapi dengan kembali menguatkan keimanan kita, belajar kembali tentang Islam yang benar agar tidak terjatuh kepada pemahaman yang mudah mengkafirkan orang atau melakukan kerusakan dengan alasan agama. Padahal jelas sekali bahwa Islam selalu menyebarkan kedamaian, keamanan dan kebaikan untuk seluruh semesta. Allah ta’ala berfirman:

وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ

“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107)

يا أيُّها النَّاسُ إنَّما أنا رحمةٌ مُهداةٌ

Sesungguhnya aku adalah rahmat yang dihadiahkan (oleh Allah). HR. Al Bukhari dalam Al ‘Ilal Al Kabir.

Selanjutnya adalah isu gesekan politik yang diprediksi terjadi di tahun 2024, maka dalam hal ini umat Islam juga harus dewasa, jangan sampai terbawa dalam konflik horizontal antar anak bangsa hanya karena pilihan yang berbeda. Utamakan akhlak, karena ia adalah hiasan bagi orang beriman dan tujuan diutusnya Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam:

إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ.

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” HR. Bukkhari.

Semoga Allah Ta’ala memberikan kepada kita hidayah serta inayahnya sehingga mampu untuk menjalani hari-hari ke depan dengan penuh keimanan dan selalu menyandarkan kepadaNya dan dalam naungan syariahNya. Wallahua’lam, 13012023.

Jumat, 16 Desember 2022

KHUTBAH JUMAT: MANUSIA YANG DICINTAI ALLAH (2)

 Oleh: Nurhadi, S.Sos.I, M.H.



 الْحَمْدُ لِلّٰهِ الْاَحَدِ الصَّمَدِ الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْإِتِّحَادِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ دَعَانَا بِحُبِّ الْبِلَادِ. الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ أَرْسَلَ لِلْعَالَمِيْنَ اِلَى يَوْمِ الْمَعَادِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَاأَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ, اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Ma’ashiram muslimin jamaah jum’ah rahimakumullah

Mari kita awali ibadah jumat kita kali ini dengan bersyukur atas segala nikmat Allah yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Hari ini, di tengah kehidupan dengan ilmu pengetahun, teknologi dan niformasi yang samakin berkembang kita harus semakin dekat dengan Allah swt, karena sedikit saja kita berpaling dari nikmat-nikmat Allah sudah pasti kitan akan masuk kedalam golongan orang-orang yang merugi bahkan bisa jadi termasuk dalam golongan orang yang celaka. Maka mari kita gunakan kesehatan, kesempatan dan segala anugerah Allah ini untuk beribadah kepada Allah sebagai sarana mendekatkan diri kepada-Nya.

Sholawat dan salam selalu kita sanjung agungkan kepada Nabi Agung kita Rasulullah Muhammad saw semoga kita akan diakui sebagai ummatnya yang akan mendapatkan syafaatnya di yaumil kiamah.

 

Hadirin rahimakumullah

Tak lupa sebagai wasiat dalam khutbah jumat ini, mari sama-sama kita meningkatkan kuwalitas takwa kita kepada Allah swt. dengan cara tunduk dan patuh terhadap sayariahnya, mejalankan semua perintah-Nya yang meninggalkan semua larangan-Nya.

Kaum Muslimin, Sidang Jum'at Yang Berbahagia. Pada kesempatan khutbah yang lalu, telah dibahas empat kelompok manusia yang dicintai Allah yang disebutkan di dalam Al-Qur'an, yakni orang yang bertaqwa, orang yang mengikuti pola hidup Rasulullah Saw, orang yang beriman secara benar, dan orang yang berbuat baik.

Dalam kesempatan khutbah hari ini, akan kita lanjutkan bahasan tentang manusia yang dicintai Allah, karena masih ada empat kelompok lagi yang harus kita bahas.

Yang Pertama adalah orang yang memiliki sifat shabar. Hal ini karena, keimanan seseorang sudah pasti akan diuji oleh Allah Swt; baik ujian itu berupa kenikmatan atau sesuatu yang menyenangkan maupun berupa keburukan atau sesuatu yang tidak menyenangkan apabila hal itu kita lihat dari sisi duniawi. Apapun ujian yang dihadapi, kalau seorang muslim ingin termasuk generasi yang dicintai Allah, maka dia harus memiliki kesabaran yang kuat. Sabar dalam arti tetap bertahan sebagai seorang muslim yang selalu dalam kebenaran, dimanapun dia berada dan bagaimanapun situasi dan kondisinya, Allah Swt memang sangat cinta kepada orang yang memiliki sifat shabar sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

وَكَأَيِّن مِّن نَّبِيّٖ قَٰتَلَ مَعَهُۥ رِبِّيُّونَ كَثِيرٞ فَمَا وَهَنُواْ لِمَآ أَصَابَهُمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَمَا ضَعُفُواْ وَمَا ٱسۡتَكَانُواْۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلصَّٰبِرِينَ

‘Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikutnya yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah mencintai orang yang sabar”. (QS Al Imran:146).

Kemudia yang Kedua yang termasuk manusia yang dicintai Allah adalah orang yang bertawakkal atau berserah diri kepada-Nya. Dalam hidup ini, tugas manusia adalah berbuat dan berusaha dengan penuh perencanaan yang matang. Berhasil atau gagalnya suatu usaha, semua itu diserahkan kepada Allah Swt, karena Allah-lah sebaik-baik pengambil keputusan. Meskipun demikian, seorang muslim yang telah berbuat dan berusaha secara maksimal tapi tidak mencapai hasil seperti yang diinginkannya, tetap saja harus melakukan koreksi, evaluasi atau muhasabah dari apa yang sudah dikerjakannya itu.

 

Ma’ashoral muslimin rahimakumullah

Apabila seseorang sudah bertawakkal kepada Allah, maka bila mencapai hasil dia akan mensyukurinya dan bila gagal dia tidak akan berputus asa. Dengan demikian, orang yang bertawakkal itu tidak lupa diri dikala senang dan tidak putus asa dikala susah. Karena itu Allah sangat cinta kepada orang-orang yang bertawakkal, Allah berfirman:

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ 

“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya”. (QS Al Imran: 159).


Sidang Jum'at Rahimakumullah.

Selanjutnya, manusia yang di cintai Allah yang ketiga adalah orang yang bertaubat dan membersihkan dirinya dari kesalahan-kesalan atau dosa-dosa yang telah ia lakukan. Kita tahu bahwa dosa merupakan sesuatu yang sulit dihindari oleh manusia. Karena itu, seringkali dikemukakan bahwa manusia yang baik memang bukan manusia yang tidak pernah berbuat dosa, akan tetapi apabila dia berbuat dosa, dia tidak segan-segan mengakui kesalahannya itu lalu menyesal telah berbuat salah dan memohon ampun kepada Allah swt. Inilah yang disebut dengan taubat untuk selanjutnya berusaha untuk tidak mengulangi lagi kesalahan atau perbuatan-perbuatan dosa, ini yang dimaksud dengan orang yang membersihkan dirinya. Di dalam Al-Qur'an, Allah Swt menyatakan bahwa Allah swt amat mencintai siapa saja yang bertaubat dan selalu berusaha menjaga kebersihan dirinya, Allah berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلۡمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri”. (QS 2:222).

 

Sidang Jumat rahimakumullah

Agar taubat kita diterima Allah Swt, maka taubat harus memenuhi syarat-syaratnya, yakni menyadari bahwa kita memang melakukan kesalahan, menyesalinya bukan malah bangga dengan dosa yang kita lakukan lalu bertekad untuk tidak mengulanginya lagi, bahkan kalau perbuatan dosa itu ada jenis hukumannya di dunia ini, maka kita tidak ragu-ragu untuk menyatakan kesalahan kita agar dihukum, sedangkan bila dosa yang kita lakukan itu merugikan orang lain misalnya mencuri, menipu dan sejenisnya, maka kita bukan hanya minta maaf kepadanya tapi juga mengganti kerugian orang tersebut.

 

Ma’ashiral muslimin rahimakumullah

Kemudian yang keempat yang merupakan manuisa yang dicintai Allah Swt adalah orang yang berjuang di jalan Allah secara teroganisir rapi hingga diumpamakan seperti bangunan yang berdiri kokoh yang antara satu dengan lainnya saling kuat menguatkan. Hal ini karena Islam merupakan agama yang harus diperjuangkan agar nilai-nilainya tegak di atas semua agama sehingga membawa kedamaian, ketentraman dan kebahagiaan bagi umat manusia. Karena itu setiap muslim wajib berjuang di jalan Allah meskipun Nabi Muhammmad saw sendiri menyadari sepenuhnya bahwa perjuangan menegakkkan Al Islam itu merupakan sesuatu yang sangat berat, karena itu beliau tidak berjuang sendirian, tapi melibatkan para sahabatnya dalam satu barisan perjuangan yang teratur rapi, meskipun beliau seorang Nabi dan Rasul yang diberi mu'jizat bila menghadapi kesulitan yang berat, beliau tetap merencanakan da'wah secara matang.

Kalau Nabi saja berjuang tidak sendirian, apalagi kita yang memiliki banyak sekali kekurangan, karena itu Allah sangat cinta kepada orang yang berjuang di jalan-Nya secara jama'i atau bersama-sama dengan kerjasama yang baik sebagaimana terdapat dalam firman-Nya:

إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلَّذِينَ يُقَٰتِلُونَ فِي سَبِيلِهِۦ صَفّٗا كَأَنَّهُم بُنۡيَٰنٞ مَّرۡصُوصٞ

“Sesunggguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”.(QS 61:4).

Dengan demikian, untuk menjadi generasi kecintaan Allah. perjuangan kita masih panjang dan berliku. Karena itu, diperlukan kesungguhan kita untuk bisa mencapainya. Apabila kita telah dicintai Allah, maka apa yang kita lakukan, niscaya akan memperoleh ridha-Nya, sesuatu yang memang amat kita dambakan.

Demikian khutbah Jum'at hari ini, semoga Allah selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua, dan semoga kita selalu berada di jalan Allah, jalan orang-orang yang dicintai-Nya. Aamiin ya Rabbal alamiin

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْأَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ، وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Jumat, 09 Desember 2022

MANUSIA YANG DICINTAI ALLAH

Oleh: Ust. Nurhadi, S.Sos.I, M.H.

 


الْحَمْدُ لِلّٰهِ الْاَحَدِ الصَّمَدِ الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْإِتِّحَادِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ دَعَانَا بِحُبِّ الْبِلَادِ. الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ أَرْسَلَ لِلْعَالَمِيْنَ اِلَى يَوْمِ الْمَعَادِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَاأَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ, اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

 

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Puji syukur kita panjatkan kepada Allah swt, karena begitu banyak nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kita, nikmat umur Panjang, nikmat sehat dzohit dan bati kita terlih nikmat iman, Islam dan ikhsan sehingga dengan nikmat-nikmat itu kita dapat melaksankan kewajiban kita beribadah, sebagi bentuk penghambaan diri kita kepada Sang Pencipta, Allah swt.

Teringin doa, solawat serta salam kita sanjung agungkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad saw yang menyampaikan risalah Allah skaligus membing ummatnya untuk selalu berada dalam jalan yang benar, jalan yang lurus, jalan yang diridhoi Allah swt yaitu Addinul Islam.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Sebagai wasiat khotib kepada diri sendiri dan untuk kita semua, mari sama-sama kita mneingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala dengan cara berusahan semaksimal mungkin untuk melaksankan perintah-Nya dan meninglkan laranga-Nya. Taqwa yang dapat mendorong kita kepada diri yang di cintai Ilahi Rabbi.

 

Hadirin…

Sudah menjadi kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa umat manusia terbagi menjadi dua, ada yang baik dan ada yang buruk. Kita semua tahu bahwa pada dasarnya setiap manusia mempunyai potensi yang sama untuk menjadi baik atau tidak, semuanya terpulang kepada dirinya sendiri, apakah mau menjadi baik atau justru sebaliknya, Allah Swt berfirman:

فَالْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوَاهَا قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا.

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang-orang yang mengotorinya”. (QS Asy-Syam:8-10).

 

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Allah Swt akan ridha kepada orang-orang yang dicintai-Nya. Itu sebabnya, di dalam Al-Qur'an Allah menyebutkan beberapa kelompok manusia yang termasuk dalam generasi yang dicintai-Nya.

Manakala manuisa ingin termasuk pada golongan yang dicintai Allah, maka sifat- sifat yang menyebabkan mereka dicintai Allah itu harus kita miliki. Ada beberpa hal yanag harus ada dalam diri kita agar kita akan masuk kedalam golongan manusia yang di cintai Allah swt.

Pertama, golongan manusia yang dicintai Allah dan kita harus masuk kedalamnya adalah orang memiliki ketaqwaan Kepada Allah. Hal ini karena dihadapan Allah, taqwa merupakan derajat yang paling tinggi dan mulia, ini karena mencapai derajat taqwa itu bukanlah urusan yang mudah. apalagi syaithan selalu menggoda manusia dengan berbagai cara agar manusia tidak mentaati Allah Swt. Taqwa seperti yang sudah kita pahami adalah melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya dimanapun kita berada dan bagaimanapun situasi dan kondisinya. Orang yang berhasil mencapai kedudukan taqwa berarti orang yang betul-betul telah berjuang dalam hidupnya sehingga Allah mencintainya. Orang yang demikian sebagaimana firman-Nya:

بَلَى مَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ وَاتَّقَى فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ.

“Barangsiapa yang menepati janji dan bertaqwa, maka sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaqwa”.  (QS 3:76).

Kemudian yang ke kedua adalah mengikuti pola hidup Rasul. Rasulullah Saw adalah uswatun hasanah atau contoh yang baik bagi umat manusia, baik dalam masalah yang sifatnya ubudiyah maupun muamalah. Bila kita ingin masuk ke dalam kelompok manusia yang dicintai Allah, maka pola hidup rasul harus kita ikuti, Allah berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ.

“Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS Al Imran:31).

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Untuk bisa mengikuti pola hidup Rasul, tentu saja kita harus ma'rifah atau mengenalnya terlebih dahulu, baik melalui Al-Qur'an yang memang merupakan akhlak Nabi, melalui hadits-hadits yang mengungkap kesehariannya, maupun dari sirah nabawiyah atau sejarah nabi yang menjabarkan secara ilmiyah riwayat hidupnya. Ini dapat kita pejari dari guru-guru kita, para alim ulama yang telah mengajarkan kepada kita tentang prilaku dan akhlak Nabi secara rinci yang dengannya kita dapat mencontoh dan meneladani akhlak nabi dalam keseharian hidup kita.

Sidang Jum'at Yang Dimuliakan Allah.

Yang ke Ketiga yang merupakan manuisa yang dicintai Allah adalah orang yang beriman secara benar. Hal ini karena, iman kepada Allah Swt merupakan nilai yang amat mahal, sebab iman yang benar itulah yang menjadi pembeda antara muslim yang dicinta Allah dengan orang yang tidak disukai-Nya.

 

Ma’ashiral Muslimin Rahimakumullah.

Kecintaan Allah kepada orang yang beriman membuat mereka akan memperoleh balasan berupa rahmat Allah dan mengeluarkan mereka dari kegelapan hidup kepada kehidupan yang terang benderang, yang penuh dengan hidayah-Nya, Allah berfirman:

هُوَ ٱلَّذِي يُصَلِّي عَلَيۡكُمۡ وَمَلَٰٓئِكَتُهُۥ لِيُخۡرِجَكُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِۚ وَكَانَ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَحِيما.

Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampun untukmu) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman (QS 33:43).

 

Ma'asyiral Muslimin

Kemudian manusia yang dicintai Allah yang ke Empat adalah orang yang berbuat baik. Hal ini karena kehidupan di dunia ini akan terasa jauh lebih indah, membahagiakan dan menyenangkan, manakala penduduk- nya senang dengan perbuatan baik, kesenangan manusia akan kebaikan membuat dunia ini akan dihiasi dengan berbagai macam bentuk kebaikan. Di dalam Al-Qur'an, diantara perbuatan baik yang disebutkan adalah suka menginfaqkan harta di jalan kebaikan, tidak menjatuhkan dirinya sendiri dalam satu kebinasaan, senang memohon ampun kepada Allah bila berbuat dosa, istiqamah dalam kebenaran, tidak membuat kerusakan di muka bumi dan sebagainya.

Karena perbuatan baik merupakan suatu kemuliaan, maka Allah sangat cinta kepada siapa saja yang berbuat baik, sebagaimana firman- Nya:

وَأَنفِقُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا تُلۡقُواْ بِأَيۡدِيكُمۡ إِلَى ٱلتَّهۡلُكَةِ وَأَحۡسِنُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ.

Dan belanjakanlah (harta bendamu, di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik”. (QS 2:195).

 

Ma'asyiral Muslimin

Itulah beberapa hal atau beberapa sifat  yang harus kita miliki jika kita ingin dicintai oleh Allah swt. Menjadi orang yang bertaqwa, meneladani kehidupan Nabi, beriman kepada Allah serta selalu berbuat baik dalam hidup kita.

Semoga kita berada dalam golongan manusia yang di cintai Allah sehingga kebahagiaan akan kita dapatkan fiddunya wal akhirah. Aamiin ya robbal alamiin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْأَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ، وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Senin, 05 Desember 2022

KHUTBAH JUMAT: MENJAGA AMANAH ALLAH

 Oleh: Ust. Nurhadi, S.Sos.I., M.H.

 


Maasyiral muslimin rakhimakumullah

Tidak ada kata yang indah untuk diucapkan pada hari ini, selain rasa syukur kepada Allah swt atas segala nikmat, serta kasih sayangnya yang telah Allah anugerahkan kepada seluruh manusia. sehingga sampai saat ini. Kita semua masih diberikan berkah kehidupan di muka bumi ini, mampu menjalankan kewajiban kita sebagai seorang hamba, bekerja dan beribadah kepada Allah tuhan pencipta alam semesta. Semoga kita semua tergolong manusia yang mendapatkan berkah hidayah serta ridhoNya. Amin ya Rabbal alamiin.

Shalawat beserta salam tak lupa kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw. Meneladaninya adalah kunci sukses dalam menjalani hidup, sukses dunia maupun sukses akhirat. Semoga kelak kita akan menjadi bagian dari ummatnya yang mendapatkan syafaatnya di hari akhir nanti.

Selanjutnya, sebagai khatib kami mengajak kepada seluruh jamaah untuk senantiasa menjaga dan memelihara iman dan taqwa. Yaitu iman dalam pengertian yang sebenar-benarnya dan taqwa dalam pengertian yang sebenar-benarnya, tunduk dan patuh terhadap syari’atnya, berusaha semaksimal mungkin untuk menjalankan perintah-perintah Allah dan menjaihi lararanganNya. Juga takwa yang menjadikan diri semakin kuat menjaga dan menjalankan amanah Allah swt.

 

Hadirin siding jamah jum’at yang dirahmati Allah

Manusia sebagai mahkluk ciptaan Allah SwT telah menerima amanah dari Allah swt walaupun Amanah itu sangatlah berat untuk di jaga dan dilaksanakan. Allah swt telah berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Ahzab ayat 72.

إِنَّا عَرَضْنَا ٱلْأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱلْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا ٱلْإِنسَٰنُ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ ظَلُومًۭا جَهُولًۭا

Artinya: Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh (Q.S. Al-Ahzab:72).

 

Maasyiral muslimin rakhimakumullah

Pada ayat ini mejelaskan bahwa manusialah satu-satunya mahluk Allah yang siap memikul amanah Allah swt. Sementara langit, bumi, dan gunung-gunung enngan untuk memikul amanah itu karena tau tidak akan mampu memikul amah Allah swt itu.

Lalu seberapa berat Amanah itu? Sehingga langit. Buni dan gunug tidak mampu dan tdak sanggup untuk memikulnya.

Dalam khutbah jumat ini akan khatib uraikan sedikt tentang Amanah Allah yang di berikan kepada manusia. Pertama, ialah amanah sebagai khalifah. Dalam kehidupan ini Allah menjadikan manusia sebagai wakilnya di muka bumi untuk mengelolah seluruh alam raya ini. Menjadi pemimpin bagi umat manusia, menjadi pemimpin bagi Negara, pemimpin bagi keluarga dan diri sendiri.

Allah berfirman kepada Nabi Daud yang abadikan dalam Alqur’an surah As Shad ayat 26.

يَٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلْنَٰكَ خَلِيفَةًۭ فِى ٱلْأَرْضِ فَٱحْكُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ بِٱلْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ ٱلْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌۭ شَدِيدٌۢ بِمَا نَسُوا۟ يَوْمَ ٱلْحِسَابِ

“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan” (Qs As-Shad ayat 26).

Dari ayat ini menjelaskan kata khalifah adalah ia yang diberikan kekuasaan untuk mengelolah wilayah masing-masing, dan diharapkan agar berbuat kebajikan jangan sampai terpengaruh oleh hawa nafsu yang bisa mencelakai diri sendiri. Maka sebagai khalifah sudah semestinya manusia menjaga bumi seisinya serta bertanggung jawab penuh terhadapnya.

 

Maasyiral muslimin rakhimakumullah

Kemudian yang Kedua, amanah sebagai hamba. Selain sebagai khalifah, manusia juga memiliki tugas sebagai hamba kepada Allah. Hamba dalam artian bahwa merendahkan diri serta mengabdikan diri kepada sang pencipta yang mengusai seluruh kerajaan alam jagat raya ini, yakni Allah swt.

Perintah sebagai hamba ini Allah pertegas dalam Qs Adz-Dzariyat ayat 56.

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”

Kata menyembah dalam ayat ini diartikan sebagai beribadah kepada Allah. Selain mengerjakan ibadah yang wajib, ibadah yang berhubungan langsung dengan Allah swt (ibadah Mahdah), manusia juga harus melaksanakan ibadah yang sifatnya Gairuh Mahdah yaitu kegiatan sebagai makhluk sosial. Salah satunya mengerjakan kegiatan bermuamalah yang sifaatnya keduniawian dalam rangka mendapatkan ridha dari Allah SwT. Bantu membantu, tolong menolong, saling memberi, saling mengingatkan dan lain sebagimana yang kesemuanya itu dilakukan hanya samara untuk mendapar ridho Allah swt.

Kemudia Amanah  yang  ke  Ketiga adalah  amanah  sebagai  wadiah (titipan). Wadiah atau titipan Allah harus di jaga dan dikerjakan dengan sebaik mungkin. Contoh dari Amanah wadiah adalah jabatan, kekayaan, rumah yang mewah, umur yang panjang, istri yang shalih, anak-anak yang salih shalihah dan lain sebagainya. Itu semua adalah titipan Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah swt. Seperti dalam firmannya Qs Al-Isra ayat 36:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًۭا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”

 

Maasyiral muslimin rakhimakumullah

Itulah beberapa Amanah Allah yang di percayakan kepada kita sebagi makhlukuknya. Semoga kita semua diberika kekuatan iman Islam sehingga mampu menjadi manusia yang kuat dalam menjalankan dan menjaga amanah yang telah dititipkan oleh Allah SwT terutama adalah bumi tempat kita hidup sekarang. Menjaganya dan melestarikannya adalah bentuk pertanggung jawaban terbaik hamba kepada Allah atas bumi yang sudah dihadiahkan untuk manusia.

Khutbah Jumat: Tiga Warisan Rasulullah Kepada Ummat

Oleh: Ust. Nurhadi, S.Sos.I., M.H.

 


Ma`asyiral Muslimin Rahimakumullah

Sebagai wujud rasa syukur kita kepada Allah Subhanahu Wata’ala, marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu Wata’ala dengan sebenar-benar keimanan dan sebaik-baik ketakwaan, dengan berserah diri, tunduk dan patuh terhadap syariahnya, dengan menjalankan apa pun yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala dan berupaya dengan sungguh-sungguh untuk menjauhi apa pun yang dilarang- Nya, sebab dengan jalan takwa inilah Allah menjanjikan kemuliaan bagi hamba-hamba-Nya sebagaimana terfirman dalam Al-Qur’an.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍۢ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًۭا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۭ

Artinya, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu” (QS Al- Hujurat: 13).

 

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Pada khutbah jum’at ini akan menyampaikan tentang “Tiga Warisan Rasulullah kepada Ummat”.

Diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabrani bahwa pada suatu pagi, Abu Hurairah pergi ke sebuah pasar. Di situ beliau melihat sebagian orang tenggelam dalam aktivitas bisnis. Mereka asyik melakukan transaksi jual-beli. Abu Hurairah ingin mengingatkan mereka agar tidak sibuk dalam masalah duniawi saja dengan melupakan urusan akhirat. “Wahai penghuni pasar, alangkah lemahnya kalian.” Mereka            bertanya            penasaran,       “Apa    maksudmu,     wahai  Abu Hurairah?” “Itu, warisan Rasulullah sedang dibagikan sementara kalian masih di sini. Mengapa kalian tidak pergi ke sana untuk mengambil jatah kalian?” “Di mana?” Abu Hurairah menjawab: “Di masjid.” Maka mereka keluar dengan cepat. Abu Hurairah berdiri menjaga barang mereka sampai mereka kembali. Setelah para penghuni kembali dari masjid, Abu Hurairah bertanya, “Ada apa dengan kalian?” Mereka menjawab, “Wahai Abu Hurairah, kami telah datang ke masjid, kami masuk ke dalamnya tapi tidak ada yang dibagi.”

Abu Hurairah bertanya, “Apa kalian tidak melihat seseorang di masjid?” Mereka menjawab, “Kami melihat orang-orang yang shalat, membaca Al-Qur’an, dan orang yang mempelajari halal- haram.” Abu Hurairah berkata, “Celaka kalian, itulah warisan Nabiyullah Muhammad Salallahu Alaihi Wassalam.

 

Hadirin Rahimakumullah

Riwayat di atas memberi banyak pelajaran berharga tentang pentingnya memburu warisan yang telah diwariskan oleh Nabi Muhammad. Bukan harta, uang, kendaraan, rumah, atau dinar yang menjadi warisan. Tapi warisan itu berupa mengerjakan shalat, membaca Al-Qur`an, dan mempelajari halal-haram.

 

Warisan pertama adalah shalat.

Shalat merupakan tiang agama. Shalat menjadi amal yang pertama kali dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Rasul menggambarkan seorang mukmin yang menunaikan shalat wajib seperti orang yang mandi sebanyak lima kali dalam satu hari. Ia akan selalu berada dalam keadaan bersih, bersih dari noda dan kotoran, dosa-dosanya rontok seiring bacaan dan gerakan shalatnya. Dalam shalat ada komunikasi dan dialog dengan Tuhan, momentum untuk menumpahkan segala asa dan perasaan, bersimpuh sujud, memohon petunjuk, dan hidayah-Nya. Dinamakan shalat, kata Habib Alwi bin Shahab, karena ia adalah shilah (penghubung) antara seorang hamba dengan Tuhannya. Jika shalatnya terputus, maka hubungan seorang hamba dengan Tuhannya menjadi terputus juga.

Sayangnya, tidak sedikit umat Islam yang meremehkan waktu- waktu shalat, ada yang menunda dalam melaksanakannya, tidak bersungguh-sungguh, hanya sekadar menggugurkan kewajiban, dan bahkan sampai pada taraf meninggalkannya. Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad mengatakan, “Di antara perbuatan yang bisa menyebabkan kematian yang buruk (su`ul khatimah) adalah meninggalkan shalat.”

 

Hadirin Rahimakumullah

Warisan kedua dari Rasulullah Salallhhu alaihi wasallam adalah membaca Al-Qur`an. Al-Qur`an merupakan kitab rujukan utama. Tidak ada satu kitab pun di dunia ini yang lebih indah susunan kata- katanya, Tidak ada satu kitab pun di dunia ini yang jelas dalam memberikan keterangan, Tidak ada satu kitab pun di dunia ini yang mencakup segala aspek kehidupan, Tidak ada satu kitab pun di dunia ini yang bersih dari tangan-tangan jahil, kecuali Al-Qur`an

yang terjaga dan di jamin kebenrannya.

ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًۭى لِّلْمُتَّقِينَ

Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (QS. Al Baqarah : 2)

 

Ma’ashiral muslimin rahimakumullah

Sangat di sayangkan, saat ini, seiring dengan perkembangan dunia digital, saat gadged sudah menjamur di tangan-tangan manusia, membaca Al Qur`an semakin terpinggirkan, kalah riuh oleh asyiknya bermain game online atau mendengarkan musik. Anak- anak kita lebih pandai melantunkan lirik-lirik lagu dan lincah menggerakkan jari-jemari untuk bermain game di abdningakn dengan mebuka al Qur’an dan membacanya.

Di sisi lain, orang tua lebih sibuk untuk membuat putra-putri mereka sukses di dunia daripada memikirkan kehidupan mereka selepas mereka hidup dunia ini. Al-Qur`an menjadi perhatian hanya di masa bangku sekolah dasar, itupun cukup di TPQ. Sementara itu, para orang tua tidak merasa bersalah ketika mereka tidak memberi contoh membaca Qur`an karena ketidakmampuannya.

Selepas sekolah dasar, anak-anak tak lagi berhasrat atau tidak dimotivasi untuk memperdalam Al Qur`an. Mereka dikondisikan untuk lebih fokus dengan materi pelajaran yang tidak seimbang antara kebutuhan spiritual dan intelektual. Sayidina Abdulah bin Mas`ud pernah berkata, “Jika kalian menginginkan ilmu, maka sebarluaskan Al-Qur`an sebab di dalamnya tersimpan ilmu orang- orang terdahulu dan yang akan datang.”

 

Ma’ashiral muslimin rahimakumullah

Warisan ketiga adalah mengetahui status halal-haram. Warisan terakhir ini memberi hikmah kepada kita tentang pentingnya mengenal status halal-haramnya suatu barang, makanan, atau perbuatan yang akan kita lakukan. Sikap kehati-hatian dalam halal- haram tampak dari sikap Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Suatu hari, usai kembali dari pasar beliau meminum segelas susu. Beliau meminum susu tersebut tanpa curiga sedikit pun tentang asal-usul segelas susu tersebut. Saat itu, pembantu beliau masuk rumah dan menyaksikan tuannya telah menghabiskan segelas susu yang dia letakkan di atas meja, selanjutnya ia berkata, “Ya Tuanku, biasanya sebelum engkau memakan dan meminum sesuatu pasti menanyakan lebih dulu asal makanan dan minuman tersebut, mengapa sewaktu meminum susu tadi engkau tidak bertanya sedikit pun tapi langsung meminumnya? Dengan rasa kaget Abu Bakar bertanya, “Memangnya susu ini dari mana?” Pembantunya menjawab, “’Begini, ya Tuanku, pada zaman jahiliyah dulu dan sebelum masuk Islam, saya adalah kahin (dukun) yang menebak nasib seseorang. Suatu kali setelah saya ramal nasib seorang pelanggan, dia tidak sanggup membayar karena tidak punya uang, tapi dia berjanji suatu saat akan membayar. Tadi pagi saya bertemu di pasar dan dia memberikan susu itu sebagai bayaran untuk utang yang dulu belum sempat dia bayar.”

Mendengar itu, Abu Bakar memasukkan jari telunjuknya ke dalam mulut agar muntah. Beliau berusaha untuk mengeluarkan susu tersebut dari perutnya tanpa tersisa sedikit pun. Beliau sampai pingsan karena berusaha memuntahkan seluruh susu yang telanjur beliau minum, lalu berkata, “Walaupun saya harus mati karena mengeluarkan susu ini dari perut saya, saya rela. Saya mendengar Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam bersabda, “Setiap daging yang tumbuh dari sumber yang haram maka neraka adalah tempat yang pantas baginya.”

 

Saudara-saudaraku seiman seagama rahimakumullah

Baik makanan, pakaian atau apaun yag kita manfaatkan untuk kehidupan kita jika dari sumber maupun jenisnya haram, itu dapat menjadikan kita celaka, menjadikan doa-doakita tertolak bahkan yang lebih bahayanya lagi dapat menjadi perantara manusia ke neraka.

 

Kaum Muslimin yang Dimuliakan Allah

Ketiga warisan Nabi yaitu menunaikan shalat, membaca Al-Qur`an, dan mengetahui hal-hal yang halal dan haram, merupakan warisan yang harus kita jaga dengan sungguh-sungguh. Shalat tepat pada waktunya dengan berjama`ah, membaca Al Qur`an sesuai ilmu tajwidnya lalu berusaha memahami dan mengamalkannya, dan mengetahui status halal-haram pada suatu barang dengan tepat dan teliti.

Jika warisan duniawi begitu disukai meski bersifat sementara, yang akan sirna seiring berlalunya waktu, maka tiga warisan di atas harus lebih kita utamakan dari masa ke masa, karena ketiga warisan ini akan mendatangkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Semoga kitab bisa menjaga warisan Rasulullah ini dan tidak meninggalkannya, menjadikan warisan ini sebagi amaliayah kita di dunia ini sebagi bekal kehidupab kita kelak di akhirat.