Tampilkan postingan dengan label Islamic Lifestyle. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islamic Lifestyle. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Mei 2025

Visiting Lecturer: Problematika Pengelolaan Wakaf di Indonesia


Bogor, 7 Mei 2025 – Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sirojul Falah Bogor kembali menghadirkan program Visiting Lecturer dengan tema “Problematika Pengelolaan Wakaf di Indonesia”. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Rabu malam, 7 Mei 2025, pukul 20.00–21.30 WIB.

Acara ini menghadirkan narasumber utama Ust. Eris Munandar, S.E.I., M.E.K., dosen STAI Al-Hidayah Tasikmalaya, yang membawakan materi tentang tantangan dan dinamika dalam pengelolaan wakaf di Indonesia dari perspektif ekonomi dan hukum Islam. Dalam pemaparannya, Ust. Eris menyoroti pentingnya sinergi antara lembaga wakaf, masyarakat, dan pemerintah dalam menciptakan tata kelola wakaf yang profesional dan berkelanjutan.

Diskusi ini dipandu oleh Dr. Misno, M.E.I., M.H., M.Pd., selaku Direktur P3M STAI Sirojul Falah, yang sekaligus menjadi host dalam acara tersebut. Dalam sambutannya, Dr. Misno menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya kampus untuk memperkaya wawasan civitas akademika terhadap isu-isu aktual dalam dunia keislaman dan ekonomi syariah.

“Wakaf bukan hanya ibadah, tetapi juga instrumen pembangunan ekonomi umat. Maka, penting bagi kita untuk memahami tata kelola wakaf secara lebih mendalam dan kontekstual,” ujar Dr. Misno.

Acara ini diikuti oleh mahasiswa, dosen, serta peserta umum dari berbagai daerah, yang antusias mengikuti jalannya diskusi hingga sesi tanya jawab.

Kegiatan Visiting Lecturer ini merupakan salah satu agenda rutin P3M STAI Sirojul Falah dalam rangka memperluas jejaring keilmuan dan menghadirkan perspektif baru dari para akademisi dan praktisi di berbagai bidang keislaman.


Untuk informasi lebih lanjut:
📞 0858-8575-3838
🌐 www.staisifabogor.ac.id
📧 p3mstaisifa@staisifabogor.ac.id


 

Minggu, 02 Maret 2025

Ramadhan dan Islamic Wealth Management

Oleh: Dr. Misno, MEI., MH., M.Pd

 


Alhamdulillah, Ramadhan sudah kita lalui beberapa hari. Maknanya bulan yang penuh dengan keberkahan ini telah kita isi dengan amal-amal kebajikan, berpuasa (shaum), shalat tarawih, membaca Al-Qur’an dan amal sholeh lainnya baik yang wajib, sunnah ataupun yang mubah. Semangat beribadah di bulan Ramadhan semakin terasa karena Sebagian Masyarakat juga antusias dalam mengisinya dengan amal-amal jama’i sehingga nuansa Ramadhan semakin terasa di berbagai tempat di penjuru dunia.

Namun, ada yang sedikit terlupa atau menjadi sebuah budaya, di mana Ketika Ramadhan tiba maka tingkat konsumsi masyarakat meningkat hal ini terlihat dengan jumlah belanja bertambah pada setiap keluarga. Jika pada bulan-bulan biasa makan cukup dengan nasi dan lauk saja, maka di saat berbuka puasa ada yang Istimewa dari menunya, ditambah dengan ada kolak, es, bubur dan makanan kecil lainnya. Menjelang Hari Raya Idhul Fitri pasar semakin ramai, baik pasar tradisional, pasar modern dan pasar di dunia maya (marketplace). Membeli barang-barang untuk hari raya semisal baju, celana, sarung, mukena dan berbagai aksesoris untuk merayakan hari raya.

Tidak salah untuk memberikan nuansa Istimewa di bulan Ramadhan dengan hidangan yang special, demikian pula tidak salah membeli beraneka kebutuhan untuk hari raya. Tapi, jika hal tersebut menjadikan kondisi keuangan kita mengalami defisit (berkurang atau bahkan nombok) maka ini perlu diantisipasi. Salah satunya adalah dengan mengelola keuangan keluarga secara Islami, atau yang disebut dengan istilah Islamic Wealth Management.

Pengelolaan Harta Secara Islami (Islamic Wealth Management) sejatinya adalah mengelola harta yang dititipkan oleh Allah Ta’ala kepada kita sebagai manusia. Maka ada tiga tahapan utama yang harus dipahami, yaitu; Pertama, wealth creation yaitu mengelola sumber pendapatan (keuangan) harus dari sumber yang halal dan thayiib. Kedua, Wealth Purification and Protection yaitu mengeluarkan hak harta dalam bentuk zakat, infaq, sedekah atau wakaf. Kemudian berupaya menjagga harta tersebut agar bisa dimanfaatkan untuk masa yang akan datang dan keturunan. Ketiga, Wealth Ditribustion and Accumulation yaitu mendistribusikan harta (uang) untuk hal-hal utama yaitu; menabung, konsumsi, Listrik dan kebutuhan pokok lainnya. Setelah itu baru kebutuhan yang tidak mendesak tapi masih diperlukan, hingga menimbang-nimbang kebutuhan yang tidak mendesak dan tidak diperlukan. Selain itu memerhatikan pula tabungan, investasi atau usaha yang dapat menambah pendapatan keluarga.

Implementasi Islamic Wealth Management di bulan Ramadhan ini adalah dengan memerhatikan kembali distribusi dari uang dalam keluarga; apakah kita sudah menunaikan zakat, baik itu zakat fitrah di akhir Ramadhan atau zakat maal yang menjadi kewajiban apabila sudah mencapai nishab (ukuran standar seharga 84 Gram emas) dan haul (satu tahun). Setelah itu memeriksa kembali apakah pola konsumsi kita masih wajar sehingga masih dalam ambang batas ukuran konsumsi bulanan. Jangan lupa untuk tetap menabung dan menambah pendapatan melalu cara-cara yang sesuai dengan syariah Islam. Semoga Ramadhan ini kita dapat meraih keberkahannya sehingga dapat mengakhirinya dengan suka cita dengan keadaan keuangan juga tetap terjaga. 02032025

Kamis, 15 Februari 2024

Kewajiban Taat kepada Pemerintah dalam Hal Ma’ruf

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri

 


Islam adalah agama yang paripurna, bukti dari kesempurnaannya adalah mengatur seluruh sendi kehidupan manusia, dari mulai manusia bangun tidur, sampai tidur lagi bahkan Ketika sedang tidur. Permasalahan yang kecil seperti cara bersih, hingga masalah besar semisal politk dan kenegaraan juga diatur oleh Islam.

Negara Kesatuan Republik Indonesia yang baru saja menyelsaikan Pemilihan Umum (Pemilu), Inshaallah akan memiliki pemimpin yang baru, siapapun yang menjadi Presiden dan wakil Presiden maka kita sebagai umat Islam wajib taat. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا

"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (QS. An-Nisa' 4: Ayat 59)

Ibnu Abbas mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abdullah ibnu Huzafah ibnu Qais ibnu Addi ketika ia diutus oleh Rasulullah Saw. untuk memimpin suatu pasukan khusus. Mereka yang bersamanya wajib untuk taat dengan perintah dan larangan yang ditetapkan, dalam makna harus satu komando dalam hal yang ma’ruf.  

Imam Ibnu Katsir menyatakan “Nas-nas tersebut di atas merupakan dalil-dalil yang memerintahkan agar taat kepada ulama dan pemerintah. Karena itulah dalam surat ini disebutkan: Taatilah Allah. (An-Nisa: 59) Yakni ikutilah ajaran Kitab (Al-Qur'an)-Nya. dan taatilah Rasul-(Nya). (An-Nisa: 59) Maksudnya, amalkanlah sunnah-sunnahnya. Dan ulil amri di antara kalian. (An-Nisa: 59) Yaitu dalam semua perintahnya kepada kalian menyangkut masalah taat kepada Allah, bukan durhaka kepada Allah; karena sesungguhnya tidak ada ketaatan kepada makhluk bila menganjurkan untuk berbuat durhaka terhadap Tuhan Yang Maha Pencipta.

Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata, “Para fuqaha bersepakat atas wajibnya taat kepada imam yang mutaghallib (berkuasa melalui perang , kudeta, atau cara represif lainnya).

Kewajiban taat kepada pemerintah, dikuatkan dengan sabda dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

…أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ آمَرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ…

“…Aku wasiatkan kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah Yang Mahamulia lagi Mahatinggi, tetaplah mendengar dan mentaati, walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak hitam…“ HR. Ahmad, Abu Dawud dan Thirmidzi.

Ketaatan kepada Ulil Amri, atau pemerintah yang sah tentu saja bukan secara mutlak, tetapi ketaatan yang membawa kepada kebajikan dan kebaikan dunia dan akhirat. Jika pemerintah memerintahkan untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan Syariah Allah Ta’ala maka tentu saja tidak ada kewajiban dalam hal ini. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لاَطاَعَةَ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوْفِ.

“Tidak (boleh) taat (terhadap perintah) yang di dalamnya terdapat maksiyat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam kebajikan” HR. Bukhari dan Muslim.

Imam al-Qadhi ‘Ali bin ‘Ali bin Muhammad bin Abi al-‘Izz ad-Dimasqy (terkenal dengan Ibnu Abil ‘Izz wafat th. 792 H rahimahullah berkata: “Hukum mentaati ulil amri adalah wajib (selama tidak dalam kemaksiatan) meskipun mereka berbuat zhalim, karena kalau keluar dari ketaatan kepada mereka akan menimbulkan kerusakan yang berlipat ganda dibanding dengan kezhaliman penguasa itu sendiri. Bahkan bersabar terhadap kezhaliman mereka dapat melebur dosa-dosa dan dapat melipatgandakan pahala. Karena Allah Azza wa Jalla tak akan menguasakan mereka atas diri kita melainkan disebabkan kerusakan amal perbuatan kita juga. Ganjaran itu bergantung pada amal perbuatan. Maka hendaklah kita bersungguh-sungguh memohon ampunan, bertaubat dan memperbaiki amal perbuatan.

Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya di antara hikmah Allah Ta’ala dalam keputusan-Nya memilih para raja, pemimpin dan pelindung umat manusia adalah sama dengan amalan rakyatnya bahkan perbuatan rakyat seakan-akan adalah cerminan dari pemimpin dan penguasa mereka. Jika rakyat lurus, maka akan lurus juga penguasa mereka. Jika rakyat adil, maka akan adil pula penguasa mereka. Namun, jika rakyat berbuat zholim, maka penguasa mereka akan ikut berbuat zholim. Jika tampak tindak penipuan di tengah-tengah rakyat, maka demikian pula hal ini akan terjadi pada pemimpin mereka. Jika rakyat menolak hak-hak Allah dan enggan memenuhinya, maka para pemimpin juga enggan melaksanakan hak-hak rakyat dan enggan menerapkannya. Jika dalam muamalah rakyat mengambil sesuatu dari orang-orang lemah, maka pemimpin mereka akan mengambil hak yang bukan haknya dari rakyatnya serta akan membebani mereka dengan tugas yang berat. Setiap yang rakyat ambil dari orang-orang lemah maka akan diambil pula oleh pemimpin mereka dari mereka dengan paksaan.

Maka sebagai seorang muslim wajib kita taat kepada ulil amri atau pemerintah yang sah, khususnya pada hal-hal yang membawa kepada kemashlahatan dunia dan akhirat. Adapun jika pemerintah memerintahkan untuk melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah Ta’ala, maka tidak ada ketaatan. Namun bukan berarti kita melawan pemerintah, tetapi berusaha untuk menasehatinya dengan baik dan menyampaikan aspirasi bahwa hal tersebut dilarang dalam Islam. Wallahu a’alam, 15022024.

Rabu, 14 Februari 2024

Manajemen SDM Syariah

By: Misno and AI


Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) Syariah adalah pendekatan dalam pengelolaan SDM yang menggabungkan prinsip-prinsip manajemen SDM dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam. Tujuannya adalah untuk menciptakan lingkungan kerja yang sesuai dengan ajaran Islam, mempromosikan keadilan, kejujuran, dan kesejahteraan bagi karyawan, serta memastikan bahwa kebijakan dan praktik SDM yang diterapkan sesuai dengan hukum-hukum Syariah.

Berikut adalah beberapa aspek penting dari Manajemen SDM Syariah:

Rekrutmen dan Seleksi: Dalam Manajemen SDM Syariah, rekrutmen dan seleksi karyawan dilakukan dengan mempertimbangkan nilai-nilai Islam. Proses ini harus mengutamakan kualifikasi dan kompetensi, serta memperhatikan integritas, keadilan, dan akhlak calon karyawan.

Pengembangan Karyawan: Organisasi yang menerapkan Manajemen SDM Syariah memberikan perhatian khusus pada pengembangan karyawan dalam aspek keagamaan, moral, dan profesional. Ini dapat mencakup penyediaan pelatihan yang mendukung pengembangan pribadi dan profesional yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.

Pengelolaan Kinerja: Penilaian kinerja karyawan dalam Manajemen SDM Syariah mencakup aspek etika dan moral, selain dari kinerja kerja yang lebih teknis. Karyawan dinilai berdasarkan kontribusi mereka terhadap nilai-nilai Islam, seperti kejujuran, kerja keras, dan tanggung jawab.

Kompensasi dan Manfaat: Sistem kompensasi dan manfaat dalam Manajemen SDM Syariah harus mematuhi prinsip-prinsip syariah, termasuk dalam hal pengelolaan dana pensiun, asuransi kesehatan, dan pembagian keuntungan.

Keseimbangan Kerja-Hidup: Organisasi yang menerapkan Manajemen SDM Syariah juga memperhatikan keseimbangan antara kegiatan kerja dan kehidupan pribadi karyawan. Mereka mendorong fleksibilitas kerja dan memberikan perhatian pada kebutuhan karyawan untuk beribadah dan berinteraksi dengan keluarga.

Manajemen SDM Syariah bertujuan untuk menciptakan lingkungan kerja yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, memberikan kesejahteraan bagi karyawan, serta meningkatkan kinerja dan produktivitas organisasi secara keseluruhan. Ini juga memastikan bahwa praktik-praktik SDM yang diterapkan di dalam organisasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Bogor, 14022024.

Teori Manajemen Syariah

Oleh: Misno dan AI


 

Manajemen Syariah adalah pendekatan dalam pengelolaan organisasi yang didasarkan pada prinsip-prinsip dan nilai-nilai Islam serta berlandaskan pada hukum-hukum syariah. Pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan bisnis yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam, termasuk dalam hal etika bisnis, keadilan, tanggung jawab sosial, dan transparansi.

Penerapan Manajemen Syariah dapat mencakup berbagai aspek dalam pengelolaan organisasi, seperti manajemen keuangan, manajemen operasional, manajemen sumber daya manusia, dan lain-lain. Beberapa prinsip utama dalam Manajemen Syariah antara lain:

1. **Ketaatan pada Ajaran Islam**: Organisasi yang menerapkan Manajemen Syariah harus menjalankan operasinya sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Islam yang terdapat dalam Al-Qur'an dan Sunnah.

2. **Keadilan dan Transparansi**: Manajemen Syariah menekankan pentingnya keadilan dan transparansi dalam segala aspek operasional, termasuk dalam hal keputusan bisnis, pembagian keuntungan, dan pengelolaan aset perusahaan.

3. **Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan**: Organisasi yang menerapkan Manajemen Syariah diharapkan memiliki kesadaran sosial yang tinggi dan peduli terhadap lingkungan sekitar. Mereka diharapkan untuk berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat dan menjaga kelestarian lingkungan hidup.

4. **Pencegahan Ribawi (Riba)**: Manajemen Syariah menolak praktik riba atau bunga dalam transaksi keuangan dan investasi. Sebagai gantinya, mereka mendorong praktik-praktik keuangan yang sesuai dengan prinsip syariah, seperti profit-sharing (mudharabah) dan jual-beli dengan sistem bagi hasil (musharakah).

5. **Pembinaan Etika Bisnis Islam**: Organisasi yang menerapkan Manajemen Syariah diharapkan mempromosikan etika bisnis Islam yang mencakup jujur, adil, dan berintegritas dalam semua interaksi bisnis.

Penerapan Manajemen Syariah tidak hanya terbatas pada lembaga keuangan Islam, tetapi juga dapat diterapkan dalam berbagai jenis organisasi, termasuk perusahaan, lembaga amal, dan lembaga pendidikan. Tujuannya adalah untuk menciptakan lingkungan bisnis yang sesuai dengan nilai-nilai Islam dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat secara keseluruhan. Bogor 1402024.

Rabu, 28 Juni 2023

Keutamaan dan Amalan Hari-hari Tasyriq

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri

 

Setelah merayakan Hari raya Idhul Adha, maka umat Islam merayakan rangkaian hari raya ini hingga tiga hari yaitu 11, 12 dan 13 Dzulhijjah. Hari-hari ini disebut dengan tasyriq yang diambil dari kata [شرقت الشمش] yang artinya matahari terbit. Menjemur sesuatu, dalam bahasa Arab dinyatakan: [شَرَّقَ الشَيْءَ لِلشَّمْشِ]. Menurut Imam Nawawi dalam Al-Minhaj, hari-hari ini disebut dengan tasyriq karena orang-orang menjemur daging kurban di waktu tersebut, yaitu mendendeng dan menghampar daging pada terik matahari.

Abu Ubaid mengatakan “Ada dua pendapat ulama tentang alasan penamaan hari-hari tersebut dengan hari tasyrik: Pertama, dinamakan hari tasyrik karena kaum muslimin pada hari itu menjemur daging kurban untuk dibuat dendeng. Kedua, karena kegiatan berqurban, tidak dilakukan, kecuali setelah terbit matahari. (Lisanul Arab, 10:173)”.

 

Keutamaan Hari-hari Tasyriq

Hari-hari ini memiliki banyak keutamaan sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ لِمَنِ اتَّقَى وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang terbilang.” (QS. Al Baqarah: 203).

Ibnu ‘Umar dan ulama lainnya mengatakan bahwa ayyamul ma’dudat adalah tiga hari tasyriq. Ini menunjukkan adanya perintah berdzikir di hari-hari tasyriq. Namun Ibnu ‘Abbas dan ‘Atho’ mengatakan bahwa hari yang terbilang di situ adalah empat hari yaitu hari Idul Adha dan tiga hari sesudahnya. Hari-hari tersebut disebut hari Tasyriq. Namun pendapat pertama yang menyatakan bahwa hari yang terbilang adalah tiga hari sesudah Idul Adha adalah pendapat yang lebih tepat.

Maka, hari tasyriq adalah hari raya bagi umat Islam, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam:

يَوْمُ عَرَفَةَ وَيَوْمُ النَّحْرِ وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَهِىَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Hari Arofah, hari Idul Adha dan hari-hari Tasyriq adalah ‘ied kami -kaum muslimin-. Hari tersebut (Idul Adha dan hari Tasyriq) adalah hari menyantap makan dan minum.” HR. Abu Dawud, Thirmidzi dan Nasai.

Riwayat lainnya menjelaskan:

إِنَّ أَعْظَمَ الأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَوْمُ النَّحْرِ ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ

“Sesungguhnya hari yang paling mulia di sisi Allah Tabaroka wa Ta’ala adalah hari Idul Adha dan yaumul qorr (hari tasyriq).” HR. Abu Dawud.

Hari tasyriq disebut yaumul qorr karena pada saat itu orang yang berhaji berdiam di Mina. Hari tasyriq yang terbaik adalah hari tasyriq yang pertama, kemudian yang berikutnya dan berikutnya lagi.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَّ أَنَّهُ قَالَ مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلَ مِنْهَا فِي هَذِهِ

Artinya: “Dari sahabat Ibnu Abbas ra., dari Nabi Muhammad saw, ia bersabda, ‘Tidak ada amal pada hari-hari ini yang lebih utama daripadanya di hari-hari ini,’” (HR Bukhari).

Merujuk pada ayat dan hadits tersebut maka dapat disimpulkan bahwa hari-hari tasyriq memiliki banyak keutamaan karena mengandung syariah menyembelih kurban dan perintah untuk berzikir dan memuji Allah Ta’ala.

 

Idul Adha dan Tasyriq: Hari Bersenang-senang dan Menyantap Makanan

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa Idul Adha dan hari tasyriq adalah hari kaum muslimin untuk menikmati makanan, beliau bersabda,

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Hari-hari tasyriq adalah hari menikmati makanan dan minuman.” HR. Muslim

Dalam lafazh lainnya, beliau bersabda,

وَأَيَّامُ مِنًى أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Hari Mina (hari tasyriq) adalah hari menikmati makanan dan minuman.” HR. Muslim.

عَنْ نُبَيْشَةَ الْهُذَلِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَزَادَ فِي رواية وَذِكْرٍ لِلَّهِ

“Dari Nubaisyah Al-Hudzali, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, Hari Tasyrik adalah hari makan, minum (pada riwayat lain), dan hari zikir,’” (HR Muslim).

Ibnu Rajab mengatakan:

و إنما نهى عن صيام أيام التشريق لأنها أعياد للمسلمين مع يوم النحر فلا تصام بمنى و لا غيرها عند جمهور العلماء، خلافا لعطاء في قوله : إن النهي يختص بأهل منى

 

“Kita dilarang berpuasa pada hari tasyrik karena hari tasyrik adalah hari raya kaum muslimin, disamping hari raya qurban. Karena itu, tidak boleh puasa di Mina maupun di daerah lainnya, menurut mayoritas ulama. Tidak sebagaimana pendapat Atha yang mengatakan, sesungguhnya larangan puasa di hari tasyrik, khusus bagi orang yang tinggal di Mina.” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 509).

Merujuk pada riwayat tersebut maka hari-hari tasyriq adalah hari untuk makan dan minum karena merupakan rangkaian dari hari raya Idhul Adha serta dipotongnya hewan qurban yang dinikmati oleh umat Islam.

 

Amalan Hari Tasyriq: Berdzikir

Amalan yang paling utama pada hari-hari ini adalah berdzikir (mengingat) Allah Ta’al’la, sebagaimana firmanNya:

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ لِمَنِ اتَّقَى وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang terbilang.” (QS. Al Baqarah: 203).

Ayat ini secara jelas menunjukan perintah untuk berdzikir di hari-hari tasyriq. Adapun dzikir-dzikir yang disyariatkan adalah;

Pertama: berdzikir kepada Allah dengan bertakbir setelah selesai menunaikan shalat wajib. Ini disyariatkan hingga akhir hari tasyriq sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Hal ini juga diriwayatkan dari ‘Umar, ‘Ali dan Ibnu Abbas.

وكان أبو حنيفة يذهب بالتشريق في هذا إلى التكبير في دبر الصلاة

“Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa amal pada Hari Tasyrik adalah takbir setelah shalat,” (Al-Asqalani, 2004 M/1424 H: II/525).

Kedua: membaca tasmiyah (bismillah) dan takbir ketika menyembelih qurban. Waktu menyembelih qurban adalah sampai akhir hari tasyriq (13 Dzulhijah) sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Pendapat ini juga menjadi pendapat Imam Asy Syafi’i dan salah satu pendapat dari Imam Ahmad. Namun mayoritas sahabat berpendapat bahwa waktu menyembelih qurban hanya tiga hari yaitu hari Idul Adha dan dua hari tasyriq setelahnya (11 dan 12 Dzulhijah). Pendapat kedua ini adalah pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad, juga termasuk pendapat Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan kebanyakan ulama.

Ketiga: berdzikir memuji Allah Ta’ala ketika makan dan minum. Yang disyari’atkan ketika memulai makan dan minum adalah membaca basmallah dan mengakhirinya dengan hamdalah.

Keempat: berdzikir dengan takbir ketika melempar jumroh di hari tasyriq. Dan amalan ini khusus untuk orang yang berhaji.

Kelima: Berdzikir pada Allah secara mutlak karena kita dianjurkan memperbanyak dzikir di hari-hari tasyriq. Sebagaimana ‘Umar ketika itu pernah berdzikir di Mina di kemahnya, lalu manusia mendengar. Mereka pun bertakbir dan Mina akhirnya penuh dengan takbir.

 

Memperbanyak Do’a Sapu Jagad

Amalan selanjutnya dalah berdoa kepada Allah Ta’ala khususnya doa apu jagad. Ini sebagaimana firman Allah Ta’al:

فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ, وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” [Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka].” (QS. Al Baqarah: 200-201)

Berdasarkan ayat ini maka para ulama menganjurkan membaca do’a “Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” di hari-hari tasyriq. Sebagaimana hal ini dikatakan oleh ‘Ikrimah dan ‘Atho’.

Do’a sapu jagad ini terkumpul di dalamnya seluruh kebaikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam paling sering membaca do’a sapu jagad ini.  Anas bin Malik mengatakan,

كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – « اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ »

“Do’a yang paling banyak dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Allahumma Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” [Wahai Allah, Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka].” HR. Bukhari dan Muslim

Al Hasan Al Bashri  mengatakan, “Kebaikan di dunia adalah ilmu dan ibadah. Kebaikan di akhirat adalah surga.” Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Kebaikan di dunia adalah ilmu dan rizki yang thoyib. Sedangkan kebaikan di akhirat adalah surga.”

Diriwayatkan dari Al Jashshosh, dari Kinanah Al Qurosy, dia mendengar Abu Musa Al Asy’ariy berkata ketika berkhutbah di hari An Nahr (Idul Adha), “Tiga hari setelah hari An Nahr (yaitu hari-hari tasyriq), itulah yang disebut oleh Allah dengan ayyam ma’dudat (hari yang terbilang). Do’a pada hari tersebut tidak akan tertolak (pasti terkabul), maka segeralah berdo’a dengan berharap pada-Nya.”

 

Banyak Bersyukurlah pada Allah di Hari Tasyriq

Pada hari tasyriq terkumpullah berbagai macam nikmat badaniyah dengan makan dan minum, juga terdapat nikmat qolbiyah (nikmat hati) dengan berdzikir kepada Allah. Dan sebaik-baik hati adalah yang sering berdzikir dan bersyukur. Dengan demikian nikmat-nikmat tersebut akan menjadi sempurna. Jika kita diberi taufik untuk mensyukuri nikmat, maka syukur yang baru itu sendiri adalah nikmat. Sehingga perintah syukur selamanya tidak akan usai.

Seorang penyair mengatakan:

Idza kana syukri ni’matallah ni’matan, ‘alayya lahu fi mitsliha yajibusy syukr

Jika mensyukuri nikmat Allah adalah nikmat, maka karena nikmat semisal inilah, kita wajib bersyukur pula.

Berdasarkan pembahasan sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa hari-hari tasyriq memiliki banyak keutamaan, salah satunya adalah sebagai hari raya bagi umat Islam. Pada hari-hari tersebut kita disyariahkan untuk memotong hewan kurban, makan dan minum, berdzikir, berdo’a serta bersyukur kepada Allah Ta’ala.

Minggu, 04 Juni 2023

Hawa yang Selalu Menggelora

Oleh: Misno Mohd Djahri


 

Salah satu unsur dari manusia yang selalu membawa kepada hal-hal yang bersifat dunia adalah hawa yang ada di dada. Ianya memang menjadi bagian tidak terpisahkan dari manusia, hingga manusia lalai dan lupa akan tujuan kehidupannya di dunia. Bagaimana ketika hawa selalu bergelora di jiwa?

Hawa nafsu manusia, secara bahasa adalah keinginan dari jiwa manusia. Ia adalah unsur yang menjadikan manusia memiliki rasa, asa dan cita-cita tentang dunia. Hawa manusia bisa berupa rasa suka dengan manusia lainnya hingga suka dengan harta dan dunia. Hawa dari satu sisi menjadikan kehidupan manusia lebih berwarna dengan gairah membara. Ini jika diarahkan kepada hal-hal yang halal dan diperkenankan oleh agama. Namun kebanyakan manusia terlena dengan hawanya hingga menjadikannya sebagai pendorong untuk melanggar segala aturanNya.

Hawa yang selalu bergelora dalam tulisan ini adalah hawa nafsu manusia yang selalu mengajak kepada keburukan, cinta dengan dunia, harta dan wanita atau laki-laki lainnya. Pada batas yang diperbolehkan syara’ tentu tidak mengapa, sayangnya seringkali hawa selalu membawa pada hal-hal yang melanggara aturanNya. Mencintai dunia secara berlebihan hingga lupa dengan alam setelahnya, mencintai harta secara berlebihan hingga lupa pada pemilik mutlak harta yaitu Allah Ta’ala. Hawa juga yang menjadikan seseorang cinta dengan wanita atau lelaki lainnya hingga membawanya pada jurang penuh alpha.

Bertambahnya usia, terkadang tidak mengurangi dari hawa-nya untuk melampiaskan semau hasratnya. Bahkan kita lihat bagaimana seorang yang sudah usia di atas 50 tahun hingga tua renta masih terlena dengan hawa-nya hingga melakukan berbagai  hubungan yang tidak dibenarkan oleh agama. Hawa itu semakin menggelora bahkan ketika menjelang renta, di mana ia memiliki harta dan hawa-nya selalu mengajak pada dosa dan maksiat kepadaNya.

Maka, hawa yang terus menggelora sejatinya adalah cobaan dari Sang kuasa, apakah kita mampu untuk menjaganya agar sentiasa berada di jalanNya atau terbawa dalam rasa yang tidak dibenarkan agama. Hawa yang selalu menggelora sejatinya adalah ujian bagi kita, apakah akan membawa pada kebahagiaan di akhirat sana, atau terlena dengan kenikmatan sementara di dunia yang fana.

Semoga Allag Ta’ala sentiasa memberikan hidayah dan inayahNya, sehingga kita mampu untuk mengelola hawa yang selalu menggelora… Aameen, Di tengah gelora jiwa 04062023.

 

Kamis, 18 Mei 2023

Ciri Muslim Cerdas: Belajar, Belajar dan Belajar

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri



Syukur kepada Allah Ta’ala yang telah memberikan kepada kita akan kenikmatan iman Islam dan juga Ihsan. Shalawat dan salam sama-sama kita panjatkan kepada junjungan alam Habibana wa nabiyana Muhammadin Shallallahu Alaihi Wasallam kepada seluruh ahli baitnya para sahabatnya serta orang-orang yang senantiasa mengikuti jejak sunnahnya hingga akhir zaman.

Salah satu dari ciri seorang muslim yang memiliki ghirah atau semangat intelektual dan juga pembelajar adalah dia selalu ingin untuk menambah ilmu pengetahuannya, ingin untuk menambahkan pemahamannya terhadap ilmu pengetahuan baik ilmu pengetahuan yang sifatnya duniawi ataupun yang sifatnya ukhrawi atau kedua-duanya.

Oleh karena itu salah satu dari ciri dari muslim yang memiliki intelektual dan semangat pembelajaran tinggi adalah selalu dia belajar, belajar dan belajar, baik itu dia dengan membaca kemudian juga dengan mungkin juga menulis mungkin juga dia dengan belajar kepada seorang ilmuwan seorang tokoh seorang ustadz ajengan ataupun juga dia mengikuti berbagai kegiatan yang sifatnya ilmiah baik itu conference kemudian seminar webinar dan lain sebagainya.

Apalagi sebagai seorang akademisi, dosen misalnya maka dia memiliki kewajiban lebih untuk bisa melihat bagaimana perkembangan dari ilmu pengetahuan itu sendiri. Ya perkembangan dari berbagai munculnya perubahan yang ada sehingga kemudian mau tidak mau ilmu pengetahuan itu terus harus berkembang dan harus terus kita update ya agar sesuai dengan perkembangan zaman. Sehingga mudah-mudahan dengan kita belajar, belajar dan belajar melalui membaca baik itu membaca teks ataupun membaca alam semesta ini kemudian juga menuliskannya mempublikasikannya kemudian juga hadir di berbagai pertemuan ilmiah itu menjadi salah satu sarana kita untuk bisa menambah dari ilmu pengetahuan mengembangkan dan yang pasti memberikan manfaat bagi umat dan juga masyarakat bangsa dan juga negara.  Wallahualam, 18052023 transkrip dari video Youtube di Surabaya.

Rabu, 22 Maret 2023

Trend Saling Meminta Maaf di Awal Ramadhan

Oleh: Misno Mohamad Djahri

 


Salah satu fenomena yang terjadi di awal Ramadhan adalah sebagian masyarakat yang meminta maaf atas segala kesalahan baik yang disengaja atau tidak. Trend ini semakin meluas seiring dengan perkembangan media sosial, sehingga menjadi semcam keharusan bagi umat Islam untuk saling meminta maaf ketika akan memasuki bulan mulia ini.

Sejatinya tidak jauh berbeda dengan tradisi lainnya yaitu saling bermaaf-maafan di hari Raya Idhul Fitri dan terkadang ada juga di Idhul Adha. Sebagai sebuah trend yang berkembang di masyarakata tentu saja kita sebagai muslim tidak dengan mudah mengikutinya tanpa adanya ilmu. Ini sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًۭا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. QS. Al-Isra: 36.

Merujuk pada ayat ini maka kita sebagai muslim tidak boleh sembarangan mengikuti suatu amalan yang belum kita ketahui ilmunya. Apalagi itu terkait dengan syiar-syiar agama yang telah dijelaskan secara sempurna oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dan dilaksanakan oleh para shahabatnya.

Terkait dengan saling meminta maaf di awal Ramadhan, maka ini didasarkan pada salah satu riwayat yang banyak beredar di masyarakat, yaitu riwayat “Ketika Rasullullah sedang berkhutbah pada Shalat Jum’at (dalam bulan Sya’ban), beliau mengatakan Amin sampai tiga kali, dan para sahabat begitu mendengar Rasullullah mengatakan Amin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan Amin. Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasullullah berkata Amin sampai tiga kali. Ketika selesai shalat Jum’at, para sahabat bertanya kepada Rasullullah, kemudian beliau menjelaskan: “ketika aku sedang berkhutbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, hai Rasullullah Amin-kan do’a ku ini,” jawab Rasullullah. Do’a Malaikat Jibril itu adalah “Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut: pertama, Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada). Kedua, Tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami istri; ketiga, Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.

Sayangnya riwayat ini tidak ada sumbernya sama sekali, khususnya lafadz ““Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut: pertama, Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada). Kedua, Tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami istri; ketiga, Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya”. Sehingga tidak bisa dijadikan dasar untuk saling meminta maaf di awal Ramadhan, apalagi meyakini riwayat tersebut dan mengamalkannya serta menjadikan seolah-olah menjadi syiar agama Islam.

Riwayat yang shahih terkait dengan hadits tersebut adalah:

عن أبي هريرة  أن رسول الله صلى الله عليه و سلم رقي المنبر فقال : آمين آمين آمين فقيل له : يارسول الله ما كنت تصنع هذا ؟ ! فقال : قال لي جبريل : أرغم الله أنف عبد أو بعد دخل رمضان فلم يغفر له فقلت : آمين ثم قال : رغم أنف عبد أو بعد أدرك و الديه أو أحدهما لم يدخله الجنة فقلت : آمين ثم قال : رغم أنف عبد أو بعد ذكرت عنده فلم يصل عليك فقلت : آمين  قال الأعظمي : إسناده جيد

“Dari Abu Hurairah: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam naik mimbar lalu bersabda: ‘Amin, Amin, Amin’. Para sahabat bertanya: “Kenapa engkau berkata demikian, wahai Rasulullah?” Kemudian beliau bersabda, “Baru saja Jibril berkata kepadaku: ‘Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan’, maka kukatakan, ‘Amin’, kemudian Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang mengetahui kedua orang tuanya masih hidup, namun tidak membuatnya masuk Jannah (karena tidak berbakti kepada mereka berdua)’, maka aku berkata: ‘Amin’. Kemudian Jibril berkata lagi. ‘Allah melaknat seorang hambar yang tidak bershalawat ketika disebut namamu’, maka kukatakan, ‘Amin”.” Al A’zhami berkata: “Sanad hadits ini jayyid”. HR. Al Mundziri, Adz Dzahabi dan Ibnu Hajar Al Asqalani.

Riwayat ini berbeda dengan riwayat sebelumnya yang menambahkan lafadz saling meminta maaf, sehingga saling meminta maaf di awal Ramadhan merupakan sesuatu yang tidak ada sandarannya dan tidak pernah dilaksanakan oleh Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam, para shahabat dan generasi Islam terdahulu.

Adapun apabila kita melakukan kesalahan, baik yang disengaja atau tidak maka hendaknya segera untuk meinta maaf tanpa menunggu awal Ramadhan atau hari raya Idhul Fitri. Sebagaimana dasar yang sudah jelas dari al-Qur’an dan as-Sunnah.

خُذِ ٱلْعَفْوَ وَأْمُرْ بِٱلْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْجَٰهِلِينَ

"Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh". (QS. Al-A'raf: 199)

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda "Barangsiapa yang pernah berbuat aniaya (zhalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak lakukan, maka (nanti pada hari kiamat) bila dia memiliki amal shalih akan diambil darinya sebanyak kezhalimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi maka keburukan saudaranya yang dizhaliminya itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya". HR. Bukhari.

Oleh karena itu mari sebagai muslim kita beramal dalam agama sesuai dengan apa yang ada di dalam al-Qur’an dan al-Hadits yang shahih serta dilaskanakan oleh para shahabat. Karena hanya dengan beragama menghikuti manhaj merekalah keselamatan dan kebahagiaan akan didapatkan. Wallahu a’lam. Malam Awal Ramadhan 1444 H (22032023).

Sabtu, 18 Maret 2023

Menjadi Muslim yang Kuat

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri

 


Islam adalah agama yang menginginkan para pemeluknya kuat dari sisi Aqidah, ibadah, muamalah dan dalam berbagai kegiatannya. Rasulullah Shalallahu alaihi Wassalam bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِـيْ كُـلٍّ خَـيْـرٌ ، اِحْـرِصْ عَـلَـى مَا يَـنْـفَـعُـكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَـعْجَـزْ ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَـيْءٌ فَـلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِـّيْ فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَـذَا ، وَلَـكِنْ قُلْ: قَـدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَـفْـتَـحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , beliau berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allâh (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah. Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah engkau berkata, Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan begitu, tetapi katakanlah, Ini telah ditakdirkan Allâh, dan Allâh berbuat apa saja yang Dia kehendaki, karena ucapan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan syaitan. HR. Muslim.

Hadits ini mengandung beberapa perkara besar dan kata-kata yang memiliki arti luas. Di antaranya yaitu menetapkan adanya sifat mahabbah bagi Allâh Azza wa Jalla . Sifat ini terkait dengan orang-orang yang dicintai-Nya dan yang mencintai-Nya. Hadits ini juga menunjukkan bahwa mahabbah Allâh tergantung keinginan dan kehendak-Nya. Kecintaan Allâh kepada makhluk-Nya berbeda-beda, seperti kecintaan-Nya kepada Mukmin yang kuat lebih besar dari kecintaan-Nya kepada Mukmin yang lemah.

Namun, menjadi seorang muslim yang kuat tidaklah mudah. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak hal yang dapat menggoyahkan keyakinan seseorang. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk menjadi muslim yang kuat.

Pertama, belajar dan memahami ajaran Islam dengan baik. Hal ini dapat dilakukan dengan membaca dan mempelajari Al-Quran serta hadits Nabi Muhammad Shalallahu alaihi Wassalam. Selain itu, bergabung dengan kelompok atau komunitas muslim yang aktif juga dapat membantu untuk meningkatkan pemahaman tentang ajaran Islam.

Kedua, menjaga shalat dan ibadah lainnya dengan konsisten. Shalat adalah salah satu rukun Islam yang sangat penting. Melakukan shalat secara konsisten dapat membantu seseorang untuk terus mengingat Tuhan dan memperkuat keyakinannya.

Ketiga, menjaga hubungan dengan Allah Ta’ala melalui dzikir dan doa. Dzikir dan doa adalah cara yang baik untuk membantu seseorang tetap dekat dengan Allah Ta’ala. Melakukan dzikir dan doa setiap hari dapat membantu untuk menjaga kekuatan iman dan keyakinan.

Keempat, memperbaiki diri dan berusaha menjadi muslim yang lebih baik setiap harinya. Salah satu tujuan hidup sebagai muslim adalah untuk terus memperbaiki diri dan berusaha menjadi lebih baik. Dalam hal ini, membaca literatur dan buku-buku tentang Islam dapat membantu seseorang untuk meningkatkan pemahaman tentang dirinya sendiri serta mencari cara untuk meningkatkan kualitas hidupnya.

Kelima, memberikan dampak positif kepada masyarakat sekitar. Salah satu cara untuk memperkuat keyakinan dan iman adalah dengan memberikan dampak positif kepada masyarakat sekitar. Dengan membantu orang lain dan berkontribusi pada masyarakat, seseorang dapat merasa lebih terhubung dengan nilai-nilai Islam dan menjadi lebih kuat dalam keyakinannya.

Menjadi muslim yang kuat bukanlah sesuatu yang instan, melainkan butuh waktu dan usaha yang konsisten. Dengan memperkuat keyakinan dan memperbaiki diri setiap harinya, seseorang dapat menjadi muslim yang lebih baik dan kuat. 18032023.

Urgensi Introspeksi Diri (Muhasabah) dalam Islam

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri

 


Introspeksi diri atau muhasabah dalam Islam merupakan suatu konsep penting yang mendorong umat Muslim untuk melakukan refleksi pada diri mereka sendiri. Hal ini penting karena dengan melakukan introspeksi diri, seseorang dapat mengevaluasi diri mereka sendiri dan mengidentifikasi kekurangan yang perlu diperbaiki.

Allah Ta’ala berfirman dalam kalamNya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌۭ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۢ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. QS. al-Hasyr: 18.

Ayat ini mengajarkan kepada kita agar memperhatikan dengan introspeksi diri mengenai apa yang telah disiapkan untuk hari esok khususnya di akhirat. Artikel ini akan dibahas tentang pentingnya introspeksi diri (muhasabah) dalam Islam secara lebih rinci.

1.     Introspeksi diri (muhasabah) adalah suatu konsep penting dalam Islam yang mengajarkan umat Muslim untuk mengambil tanggung jawab atas tindakan mereka dan melakukan refleksi pada diri mereka sendiri.

2.     Tujuan utama dari muhasabah adalah untuk membantu umat Muslim memperbaiki kekurangan dalam diri mereka dan meningkatkan keimanan mereka kepada Allah Ta’ala.

3.     Muhasabah juga membantu umat Muslim untuk memahami tujuan hidup mereka dan memberikan pengarahan tentang arah yang seharusnya diambil dalam kehidupan.

4.     Muhasabah juga membantu umat Muslim untuk memahami hakikat dosa dan menghindari perbuatan dosa di masa depan.

5.     Salah satu contoh dari muhasabah adalah ketika seseorang mengambil waktu untuk merenungkan tindakan mereka dalam sehari-hari dan memikirkan bagaimana tindakan tersebut dapat ditingkatkan atau diperbaiki.

6.     Muhasabah juga mengajarkan umat Muslim untuk mengevaluasi diri mereka sendiri dalam hal kepatuhan terhadap hukum-hukum Allah Ta’ala dan Sunnah Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam.

7.     Muhasabah mengajarkan bahwa setiap tindakan yang dilakukan oleh seseorang memiliki dampak pada diri mereka sendiri dan pada orang lain di sekitar mereka.

8.     Muhasabah dalam Islam juga mencakup evaluasi terhadap amal perbuatan yang dilakukan selama hidup, baik yang sudah terjadi maupun yang akan datang.

9.     Muhasabah membantu umat Muslim untuk memahami pentingnya akhirat dan kesadaran bahwa setiap tindakan yang dilakukan selama hidup akan mempengaruhi kehidupan di akhirat.

10.  Salah satu cara yang dianjurkan dalam Islam untuk melakukan muhasabah adalah dengan membaca Al-Qur'an secara teratur dan merenungkan ayat-ayatnya.

11.  Allah Ta’ala dalam Al-Qur'an sering kali meminta umat Muslim untuk melakukan muhasabah dan memperbaiki diri mereka.

12.  Muhasabah juga membantu umat Muslim untuk memperbaiki hubungan mereka dengan Allah Ta’ala dan dengan orang lain di sekitar mereka.

13.  Muhasabah dalam Islam, juga mencakup evaluasi terhadap diri sendiri dalam hal kemampuan untuk memberikan kebaikan kepada orang lain dan berkontribusi pada masyarakat.

14.  Muhasabah juga dapat membantu umat Muslim untuk mengatasi kecemasan dan stres yang mungkin mereka alami dalam kehidupan sehari-hari.

15.  Muhasabah dalam Islam juga dianjurkan sebagai bagian dari proses pembelajaran sepanjang hidup.

16.  Melakukan muhasabah secara teratur juga dapat membantu umat Islam untuk terus memperbaiki diri

17.  Muhasabah dalam Islam juga dianggap sebagai bagian dari ibadah karena seseorang yang melakukan muhasabah dianggap sebagai orang yang berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

18.  Muhasabah juga dapat membantu umat Muslim untuk memperbaiki kesalahan yang mereka lakukan dan menghindari kesalahan yang sama di masa depan.

19.  Selain itu, muhasabah juga membantu umat Muslim untuk memperkuat ikatan mereka dengan keluarga dan teman-teman mereka dengan menghindari konflik dan meningkatkan komunikasi yang baik.

20.  Muhasabah juga memungkinkan seseorang untuk belajar dari pengalaman hidup mereka dan menggunakan pengalaman tersebut untuk membuat keputusan yang lebih bijaksana di masa depan.

21.  Selain itu, muhasabah juga membantu umat Muslim untuk memperkuat kesadaran mereka terhadap keadilan dan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari.

22.  Melakukan muhasabah secara teratur juga dapat membantu umat Muslim untuk menjaga kesehatan mental dan mengurangi stres dan kecemasan dalam hidup.

23.  Muhasabah dalam Islam juga dapat membantu umat Muslim untuk memperbaiki hubungan mereka dengan lingkungan sekitar dan alam.

24.  Muhasabah juga dapat membantu umat Muslim untuk menemukan makna dan tujuan hidup mereka yang sebenarnya.

25.  Dengan melakukan muhasabah secara teratur, umat Muslim dapat menjadi lebih baik dalam berbagai aspek kehidupan dan meningkatkan hubungan mereka dengan Allah Ta’ala serta dengan sesama manusia.

Introspeksi diri atau muhasabah merupakan konsep penting dalam Islam yang dapat membantu umat Muslim untuk memperbaiki diri mereka dan meningkatkan keimanan mereka kepada Allah Ta’ala. Dengan melakukan muhasabah secara teratur, seseorang dapat mengevaluasi diri mereka sendiri dan mengidentifikasi kekurangan yang perlu diperbaiki, serta meningkatkan hubungan mereka dengan Allah Ta’ala dan dengan sesama manusia. Oleh karena itu, muhasabah harus menjadi bagian dari kehidupan umat Muslim sehingga mereka dapat mencapai kebahagiaan dan kesuksesan di dunia dan akhirat. 18032023.

Kamis, 16 Maret 2023

Balasan Bagi Orang yang Menyebarkan Fitnah serta Menghasut

Ahmad Berhimin, SE., ME

 


Pertama-tama, penting untuk diketahui bahwa tindakan kekerasan dan penghasutan orang lain untuk melakukan kekerasan adalah perilaku yang tidak dapat diterima dan melanggar hukum di banyak negara. Selain itu, tindakan fitnah dan penghasutan seringkali membahayakan keselamatan dan kesejahteraan orang lain, serta dapat menyebabkan trauma psikologis yang berkepanjangan.

Tindakan Fitnaf, juga dikenal sebagai kekerasan fisik atau kekerasan domestik, terjadi ketika seseorang menggunakan kekuatan fisik atau ancaman kekerasan untuk memaksa atau mengendalikan pasangan atau anggota keluarga lainnya. Tindakan ini dapat meliputi pukulan, tendangan, cekikan, atau bentuk kekerasan lainnya.

Sementara itu, penghasutan terjadi ketika seseorang mempengaruhi atau mendorong orang lain untuk melakukan tindakan kekerasan atau melanggar hukum. Ini bisa berupa memberikan instruksi, menawarkan insentif, atau mengancam untuk membuat orang lain melakukan tindakan tersebut.

Pembahasan orang yang melakukan tindakan Fitnah dan penghasutan sangat penting dalam rangka melindungi korban dan menghentikan perilaku yang tidak dapat diterima ini. Korban kekerasan dan penghasutan seringkali merasa takut atau malu untuk melaporkan tindakan tersebut, sehingga dibutuhkan dukungan dari orang-orang di sekitar mereka, termasuk keluarga, teman, dan masyarakat.

Selain itu, lembaga pemerintah, seperti kepolisian dan sistem peradilan pidana, juga memiliki peran penting dalam memerangi tindakan kekerasan dan penghasutan. Mereka dapat membantu korban untuk mendapatkan perlindungan dan mengambil tindakan hukum terhadap pelaku.

Penting juga untuk menyadari bahwa tindakan fitnah dan penghasutan bukanlah masalah pribadi, tetapi masalah sosial yang membutuhkan respons dan dukungan dari seluruh masyarakat. Kita semua dapat berperan dalam menghentikan tindakan kekerasan dan penghasutan dengan menolak perilaku tersebut dan memberikan dukungan kepada korban.

Dalam hal ini, edukasi dan kesadaran publik juga sangat penting. Pendidikan tentang tindakan kekerasan dan penghasutan harus dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah dan masyarakat perlu diberi informasi yang cukup tentang konsekuensi dari tindakan tersebut.

Dengan tindakan bersama dan dukungan yang kuat dari masyarakat, kita dapat mencegah tindakan fitna dan penghasutan, serta melindungi mereka yang menjadi korban dari perilaku tersebut.

 

Bagaimana respon kita melihat orang yang melakukan tindakan fitnah dan menghasut orang?

Ketika kita melihat seseorang melakukan tindakan fitnah atau menghasut orang lain untuk melakukan kekerasan, kita harus segera mengambil tindakan untuk melindungi korban dan mencegah terjadinya tindakan lebih lanjut. Berikut beberapa respon yang dapat dilakukan:

1.     Hubungi kepolisian: Jika kita melihat tindakan pitna atau penghasutan, kita harus segera menghubungi kepolisian agar mereka dapat mengambil tindakan yang diperlukan. Kita harus memberikan informasi yang lengkap tentang apa yang kita lihat agar kepolisian dapat menangani situasi tersebut.

2.     Dukung korban: Jika kita melihat seseorang menjadi korban kekerasan atau penghasutan, kita harus segera membantu mereka. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan dukungan moral dan psikologis, serta membantu mereka untuk mendapatkan bantuan dari lembaga pemerintah atau LSM yang dapat memberikan perlindungan dan pendampingan.

3.     Ajak orang untuk tidak bertindak kekerasan: Kita juga dapat melakukan tindakan pencegahan dengan mengajak orang untuk tidak bertindak kekerasan atau menghasut orang lain untuk melakukan kekerasan. Kita dapat memberikan pemahaman tentang dampak negatif dari tindakan tersebut dan mengajak mereka untuk berperan aktif dalam mencegah tindakan kekerasan.

4.     Laporkan perilaku kekerasan: Jika kita menyadari adanya perilaku kekerasan di lingkungan sekitar kita, kita dapat melaporkannya ke pihak berwenang. Dengan melaporkan tindakan tersebut, kita dapat membantu mencegah terjadinya tindakan lebih lanjut dan membantu korban untuk mendapatkan bantuan.

5.     Edukasi tentang tindakan kekerasan: Kita juga dapat berperan dalam membantu mencegah tindakan pitna dan penghasutan dengan memberikan edukasi tentang dampak buruk dari tindakan tersebut. Kita dapat berbagi informasi dan mengajak orang untuk berperan aktif dalam mencegah tindakan kekerasan.

Kita semua harus berperan aktif dalam mencegah tindakan Fitna dan penghasutan. Dengan tindakan bersama dan dukungan yang kuat dari masyarakat, kita dapat menciptakan lingkungan yang aman dan damai untuk semua orang.

 

Solusi terbaik agar terhindar dari orang orang yang suka menebar fitnah dan menghasut orang

Berikut beberapa solusi terbaik agar terhindar dari orang-orang yang suka menebar Fitnah dan menghasut orang:

1.     Hindari bergaul dengan orang yang suka menebar Fitnah dan menghasut: Jika kita mengetahui bahwa ada orang yang suka menebar pitnah dan menghasut di sekitar kita, maka sebaiknya kita hindari bergaul dengan orang tersebut. Hal ini dapat membantu kita terhindar dari dampak negatif yang dapat ditimbulkan oleh perilaku mereka.

2.     Jangan ikut terlibat dalam gosip atau rumor: Kita harus berhati-hati agar tidak ikut terlibat dalam gosip atau rumor yang dibuat oleh orang-orang yang suka menebar Pitnah dan menghasut. Kita harus selalu berpegang pada fakta dan tidak memberikan komentar atau pandangan yang tidak jelas.

3.     Kuatkan moralitas dan etika: Kita harus memperkuat moralitas dan etika dalam diri kita sendiri. Dengan memiliki moralitas dan etika yang kuat, kita akan lebih mudah untuk menolak tindakan menebar Fitnah dan menghasut orang lain.

4.     Cari teman yang positif dan memiliki etika yang baik: Cari teman yang memiliki etika yang baik dan bersikap positif. Dengan bergaul dengan teman yang positif, kita akan lebih mudah terhindar dari lingkungan yang negatif dan mengurangi risiko terkena pengaruh dari orang-orang yang suka menebar Fitnah dan menghasut.

5.     Perkuat pengetahuan dan wawasan: Perkuat pengetahuan dan wawasan kita tentang hal-hal yang penting. Dengan memiliki pengetahuan yang kuat, kita akan lebih mudah untuk membedakan antara fakta dan opini, sehingga kita tidak akan mudah terpengaruh oleh orang-orang yang suka menebar Fitnah dan menghasut.

Dengan menerapkan beberapa solusi di atas, kita dapat terhindar dari orang-orang yang suka menebar pitnah dan menghasut. Hal ini juga dapat membantu kita memperkuat moralitas dan etika dalam diri kita sendiri dan meningkatkan kualitas lingkungan sekitar kita.

 

Ayat al-Quran yang membahas tentang prilaku memfitna dan menghasut orang

Berikut adalah beberapa ayat Al-Quran yang membahas tentang perilaku memfitnah dan menghasut orang:

1.     "Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu." (QS. Al-Baqarah: 168). Ayat ini menegaskan agar kita tidak mengikuti langkah-langkah syaitan yang memfitnah dan menghasut orang, karena syaitan merupakan musuh yang nyata bagi manusia.

2.     "Sesungguhnya orang-orang yang suka menyebarkan fitnah di antara orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS. An-Nur: 19). Ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang yang suka menyebarkan fitnah di antara orang-orang yang beriman akan mendapatkan azab yang pedih di dunia dan di akhirat, karena tindakan tersebut merupakan perbuatan yang sangat dilarang dan dosa besar di hadapan Allah SWT.

3.     "Dan janganlah kamu mengikuti orang yang banyak bersumpah palsu, yang banyak mengumpat, yang suka mencela orang lain dengan lidahnya, yang menghalangi kebaikan, yang berbuat dosa, yang selalu berbuat dosa." (QS. Al-Qalam: 10-12). Ayat ini menekankan agar kita tidak mengikuti orang yang banyak bersumpah palsu, mengumpat, mencela, menghalangi kebaikan, berbuat dosa, dan selalu berbuat dosa, karena tindakan tersebut merupakan bentuk memfitnah dan menghasut orang.

Berdasarkan ketiga ayat tersebut, dapat kita ambil pelajaran bahwa memfitnah dan menghasut orang merupakan tindakan yang sangat dilarang dan dosa besar di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu, kita harus senantiasa berhati-hati dan selalu menjaga diri dari tindakan yang merugikan orang lain dan tidak bermanfaat bagi kehidupan kita di dunia maupun akhirat.

Merujuk pada pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa perilaku memfitnah dan menghasut orang merupakan tindakan yang sangat dilarang dan dosa besar di hadapan Allah SWT. Tindakan tersebut dapat menimbulkan dampak buruk bagi individu maupun masyarakat, seperti kerusakan hubungan sosial, terjadinya konflik, dan penyebaran kebencian. Oleh karena itu, kita harus senantiasa berhati-hati dan menjaga diri dari tindakan yang merugikan orang lain dan tidak bermanfaat bagi kehidupan kita di dunia maupun akhirat. Salah satu solusinya adalah dengan memperkuat moralitas dan etika dalam diri kita sendiri, serta menghindari pergaulan dengan orang-orang yang suka menebar pitnah dan menghasut. Kita juga dapat mengambil pelajaran dari ayat-ayat Al-Quran yang membahas tentang perilaku tersebut, sehingga dapat menjadi pedoman bagi kita dalam menjalani kehidupan. berhiminahmad11@gmail.com  @ Putra lintang 14032023