Jumat, 29 Juli 2016

Susunan Proposal Penelitian

Susunan Proposal Penelitian
By: Dr. Misno, MEI



1.    HALAMAN SAMPUL
Halaman judul memiliki susunan yang sudah ditetapkan yakni sebagai berikut :
a.       Judul ulasan penelitian, sebaiknya dipilih judul yang singkat dan jelas yang merupakan gambaran dari keseluruhan penelitian, memiliki keterkaitan antara variabel, lokasi penelitian, sampel dan tahun penelitian.
b.      Jenis laporan
c.       Lambing Instusi perguruan tinggi
d.      Nama mahasiswa dan NIM
e.       Nama jurusan
f.       Nama program studi
g.      Nama perguruan tinggi
h.      Tahun pengajuan proposal

2.    HALAMAN PERSETUJUAN
Secara umum, halaman ini berisi usulan penelitian, persetujuan dosen pembimbing beserta tanda tangan dan waktu persetujuan.

3.    KEASLIAN PENELITIAN
Bagian ini merupakan pernyataan peneliti tentang keaslian peneliti. Baik itu merupakan replikasi penelitian sebelumnya.

4.    DAFTAR ISI
Secara umum halaman ini berisikan seluruh daftar proposal, baik bagian isi, sub dan lampiran-lampiran.

5.    ISI
Bagian ini merupakan alasan kenapa penelitian diadakan, teori yang mendukung penelitian berikut penyelesaiannya. Berikut ini bagian yang terdapat pada isi proposal.
a.      BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah. Latar belakang masalah pada proposal harus bisa menjawab alasan memilih judul penelitian. Dijelaskan secara mengerucut dari garis besar hingga spesifik.
Perumusan Masalah. Rumusan masalah harus berupa pertanyaan yang berhubungan dengan dua variabel atau lebih.
Batasan masalah. Sub bab ini membahas batasan masalah baik melalui ruang lingkup tempat penelitian, informasi penelitian, dan waktu penelitian.
Tujuan Penelitian. Tujuan penelitian dibagi atas 2 bagian, yakni tujuan  penelitian umum dan tujuan penelitian khusus. Pertama, Tujuan Umum : berisikan tujuan secara keseluruhan atau secara garis besar. Kedua, Tujuan Khusus : berisiskan tujuan secara khusus ditujukan.
Manfaat Penelitian. Ada 3 manfaat penelitian; Pertama, Manfaat bagi peneliti. Kedua, Manfaat bagi masyarakat. Ketiga, Manfaat bagi pengembang keilmuan.

b.      BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Landasan Teori. Landasan teori sebaiknya mendukung hipotesis penelitian yang mengurai kerangka teori berdasarkan pendapat para ahli.
Kerangka Teori. Kerangka teori berisikan isu atau fakta penelitian.
Kerangka Konsep Penelitian. Kerangka konsep adalah gambaran dari kerangka teori yang dipilih.
Hipotesis. Hipotesis adalah jawaban sementara dari masalah yang dipilih dan mampu dipertanggung jawabkan kebenarannya. Hipotesis dinyatakan dalam bentuk pertanyaan.

c.       BAB III METODE PENELITIAN
Jenis penelitian. Jenis penelitian merupakan langkah yang akan diambil untuk membuktikan kebenaran hipotesis.
Populasi dan sampel. Populasi merupakan keseluruhan subjek peneliti dan sampel adalah sebagaian dari jumlah populasi.
Lokasi dan waktu penelitian. Menjelaskan tempat dan waktu penelitian.
Variabel. Menjelaskan keterangan variabel dan faktor yang diteliti dalam penelitian.
Teknik pengumpulan data. Teknik pengumpulan data boleh berupa observasi, wawancara langsung, angket, dan pengukuran.
Instrumen penelitian. Instrument penelitian merupakan alat ukur berupa kuisioner dan cek list sebagai pedoman observasi, wawancara dan angket.
Tehnik pengolahan data. Berisi cara pengolahan data yang dapat digunakan untuk menarik kesimpulan penelitian
Metode analisis data. Menjelaskan seluruh data yang diperoleh menjadi sebuah informasi.

6.    DAFTAR PUSTAKA
Berisiskan daftar rujukan pembuatan proposal yang diperoleh dari segala aspek.

7.    LAMPIRAN

Lampiran merupakan bahan pendukung sebuah proposal yang digunakan selama proses penelitian berlangsung

Kamis, 14 Juli 2016

Mari Berkebun Kebaikan



Hal pertama yang harus dilakukan ketika akan berkebun adalah memilih benih unggul. Setelah itu siapkan ladang subur yang memungkinkan benih tumbuh dengan baik dan makmur.
Selanjutnya rawatlah ia dengan ketekunan, bersihkan dari berbagai hal yang mengganggu pertumbuhannya. Jika diperlukan gunakan pupuk ramah lingkungan serta nutrisi tumbuhan. Insya Allah tumbuhan tersebut akan memberikan panen raya yang menyenangkan.
Demikianlah tamsil kehidupan di dunia, jika kita ingin memperoleh panen yang memuaskan di akhirat sana, maka dunia adalah tempat untuk beramal kebajikan. Pilihlah amal-amal utama yang sesuai dengan petunjuk Allah dan rasulNya. Setelah itu iringi dengan istighfar, hilangkan semua hal yang membatalkan amal kebajikan seperti kesyirikan, riya, sum’ah dan pembatal lainnya. Tambahkan nutrisi berupa  amalan sunnah yang akan menambah kekhusu’an dalam beribadah. Insya Allah di akhirat sana kita akan memanen semua amal kebajikan.
Mari Berkebun Kebajikan...
Harga: Rp 45.000
Informasi: 085885753838

Selasa, 12 Juli 2016

Muhasabah Ramadhaniyyah

Muhasabah Ramadhaniyyah
Abdurrahman Misno BP



Ramadhan sebagai bulan penuh ampunan menjadi momen istimewa bagi umat Islam untuk kembali memperbaiki diri dan melakukan muhasabah diri (introspeksi). Ketika tujuan utama dari shaum (puasa) pada bulan ini adalah menjadi manusia bertakwa, maka ketakwaan akan muncul dengan kesadaran diri tentang hakikat dari kehidupan yang dijalaninya. Salah satu cara untuk memahami hakikat kehidupan adalah muhasabah, yaitu menghitung, memperhatikan dan menyiapkan perbekalan untuk masa yang akan datang. Allah ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. QS. Al-Hasyr: 18.
Ayat ini diawali dengan seruan kepada orang-orang beriman يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا  (Wahai orang-orang yang beriman), sama seperti seruan dalam perintah berpuasa:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, QS. Al-Baqarah: 183.
Maka bukan kebetulan ketika perintah untuk menyiapkan perbekalan untuk hari esok setara dengan perintah untuk berpuasa. Ketakwaan sebagai tujuan dari Ramadhan akan semakin mudah didapatkan ketika mampu untuk memulainya dengan pemahaman terhadap diri sendiri dan hakikat dari kehidupan. Ayat dalam QS. Al-Hasyr: 18 secara jelas menunjukan perintah bagi orang-orang yang beriman untuk bermuhasabah, memperhatikan dan menyiapkan perbekalan untuk hari esok.
Umar bin Al-Khattab pernah berkata “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiapsiaplah menghadapi hari kiamat.” Artinya bahwa sebelum diri kita dihisab di akhirat maka hendaklah kita memperhatikan apa yang telah kita perbuat, dana pa yang telah kita persiapkan untuk hari kiamat.
Muhasabah Ramadhaniyyah, introspeksi diri pada bulan Ramadhan menjadi hal yang sangat urgen untuk dilakukan oleh setiap muslim. Muhasabah, introspeksi diri tentang hal-hal yang telah kita lakukan di masa lalu serta di bulan Ramadhan tahun lalu. Apakah Ramadhan tahun ini lebih baik dari tahun lalu? Atau jangan-jangan malah mengalami penurunan. Jika ini terjadi maka hendaklah kita segera memperbaiki diri.
Demikian pula jika dalam melewati Ramadhan yang mulia ini kita tidak memiliki persiapan dan target ibadah yang akan dicapai, maka bisa jadi Ramadhan kali ini tidak memiliki makna sama sekali. Hanya sebatas melaksanakan kewajiban puasa, tidak bisa memahami hakikat dari puasa yang sebenarnya. Rasulullah bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengerjakannya serta berlaku bodoh, maka tidak ada keperluan bagi Allah untuk meninggalkan makanan dan minumannya." HR. Bukhary dan Abu Dawud.
Inilah salah satu dari hakikat berpuasa, yaitu meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi dirinya, bukan hanya menahan lapar dan haus saja. Pada riwayat yang lainnya Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam juga bersabda bahwa berapa banyak manusia yang berpuasa itu hanya mendapatkan haus dan lapar saja tanpa mendapatkan pahala berpuasanya. Sehingga sudah selayaknya, kita kembali bermuhasabah apa yang telah, sedang dan akan dilakukan pada bulan yang mulia ini.
Bagaimana cara bermuhasabah? beberapa pertanyaan di bawah ini menjadi bahan muhasabah diri di bulan suci ini, silahkan jawab dengan hati:

No
Pertanyaan Muhasabah
Ya
Tidak
1
Apakah anda merasa bahagia menghadapi bulan Ramadhan?


2
Apakah anda sudah mempersiapkan lahir batin dan memiliki target dalam menghadapi bulan Ramadhan?


3
Apa yang sudah kita lakukan di hari-hari yang sudah dilalui pada bulan Ramadhan? Apakah amalan wajib saja?


4
Apakah amalan kita berbeda dengan bulan-bulan lainnya?


5
Apakah kuantitas dan kualitas amal pada bulan Ramadhan ini lebih baik dari Ramadhan kemarin?


6
Apakah anda memiliki semangat tinggi dalam beribadah pada bulan Ramadhan?


7
Bagaimana perasaan anda ketika melewati bulan Ramadhan? Apakah bahagia?



Jika anda berbahagia menghadapi Ramadhan maka bagus, namun jika biasa saja maka anda dalam bahaya karena tidak memahami mulianya bulan ini. Jika pada Ramadhan ini tidak ada target, maka berhati-hatilah karena kemalasan akan selalu menghampiri anda. Jika pada hari-hari kemarin kita hanya mengamalkan hal-hal yang wajib saja maka perlu ditingkatkan, karena kita tidak memiliki nilai lebih selain mengugurkan kewajiban.
Jika amal pada Bulan Ramadhan sama dengan bulan-bulan yang lainnya selain puasa, maka merugilah anda karena betapa besar kemuliaan Ramadhan. Jika Ramadhan tahun ini sama dengan Ramadhan pada tahun-tahun yang lalu maka anda tidak naik kelas. Jika dalam beramal dalam Ramadhan ini tidak ada semangat atau biasa saja maka introspeksi dirilah. Jika melewati Ramadhan dengan perasaan bahagia maka bersedihlah, karena tidak ada yang bisa menjamin anda akan mendapatinya di tahun lain. Wallahu A’lam.

Memaknai Nuzulul Qur’an

Memaknai Nuzulul Qur’an
Abdurrahman Misno BP

Bulan Ramadhan yang sedang kita jalani, sejatinya adalah bulan yang penuh anugerah melimpah. Ia menjadi bulan istimewa karena banyaknya keberkahan di setiap hari-harinya. Allah ta’ala berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). QS. Al-Baqarah: 185.
Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adhim membawakan sebuah riwayat dari Imam Ahmad bin Hambal yang menyatakan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang diturunkan di dalamnya seluruh kitab-kitab Allah ta’ala, termasuk di dalamnya adalah Al-Qur’an. Inilah salah satu dari keberkahan bulan Ramadhan, yaitu diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia. Maka, tidak salah apabila bulan ini disebut juga disebut dengan Syahrul Qur’an (bulannya Al-Qur’an).
Sebagai mukjizat terbesar yang diwahyukan Allah ta’ala kepada Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam maka Al-Qur’an adalah pedoman umat Islam dalam setiap tindakan. Ia menjadi rujukan bagi segala permasalahan yang ada, serta hakim bagi setiap perkara yang ada. Allah ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. QS. An-Nisaa: 59.
Al-Qur’an adalah tempat kembali ketika terjadi berbagai aneka perbedaan, maka keberadaannya tidak diragukan lagi. Sehingga perintah untuk membacanya juga sebagai awal dari mentadaburinya. Rasulullah bersabda:
اقرأوا القرآن، فإنه يأتي شفيعًا لأصحابه يوم القيامة
Bacalah Al-Qur’an karena ia akan datang menjadi pemberi syafa’at bagi para pembacanya pada hari kiamat. HR. Muslim.
Berkaitan dengan Nuzulul Qur’an, maka memaknainya haruslah dipahami dengan kembali mempelajari dan memahami ayat-ayatnya yang mulia, mentadaburinya dan mengamalkan setiap apa yang ada padanya. Keutamaan membaca dan mempelajari Al-Qur’an terkumpul dalam bulan yang mulia ini, jika Al-Qur’an akan menjadi pemberi syafa’at, maka Ramadhan pun akan memberikan syafaatnya kepada mereka yang berpuasa. Dua pemberi syafa’at itu telah hadir saat ini dan di bulan mulia ini. Apakah kita masih menyia-nyiakannya? Hanya menjadikan Al-Qur’an sebagai pajangan dalam figura, atau hanya memperingatinya tanpa memahami hakikat dari makna-makna mulia didalamnya.
Beberapa hal yang bisa dilakukan dalam memaknai Nuzulul Qur’an diantaranya adalah dengan memperbanyak membacanya khususnya pada bulan Ramadhan, karena Rasulullah melakukan muraja’ah  pembacaan ulang dengan Malaikat Jibril Alaihi Salam pada bulan ini. Selanjutnya mentadaburi ayat-ayatnya sehingga akan memberikan tambahan energy dalam keimanan. Allah ta’ala berfirman:
أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرًا
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. QS. An-Nisaa: 82.
Ayat ini menunjukan perintah bagi umat Islam untuk mentadaburi ayat-ayat Al-Qur’an, karena dengannya kita akan mampu memahami secara lebih mendalam. Mentadaburi ayat-ayat Al-Qur’an adalah memahami maknanya melalui penafsiran yang dilakukan oleh para shahabat Nabi serta para ulama. Dengan bimbingan mereka maka kita akan mampu menyibak hikmah yang ada di dalamnya. Tentu saja setelah memahaminya kita diperintahkan untuk mengamalkannya serta mendakwahkan isi dari Al-Qur’an tersebut.
Berikutnya yang tidak kalah penting adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai gaya hidup sehari-hari. Caranya adalah dengan lebih intens berinteraksi dengan Al-Qur’an, membacanya setiap hari, mempelajari makna-maknanya dan mengamalkan seluruh perintah yang ada didalamnya. Jika terdapat pembahasan yang membutuhkan adanya penjelasan maka As-Sunnah atau Al-Hadits adalah penjelasnya. Hadits adalah seluruh perbuatan, perkataan dan taqrir Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam yang merupakan wahy dari Allah ta’ala. Dengan adanya Al-Qur’an dan As-Sunnah ini maka umat Islam akan menjadi umat yang kuat sekaligus memiliki pedoman yang sempurna bagi kehidupannya.
Masih berkorelasi dengan bulan Ramadhan, maka hendaknya kita memperbanyak membaca Al-Qur’an, mentadaburinya dan mengamalkan seluruh isinya. Karena akan sangat merugi, jika kita tidak bisa mengoptimalkan Ramadhan ini. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam:
ورغم أنف رجل دخل عليه شهر رمضان ثم انسلخ قبل ان يغفر له
Sangat merugi seseorang yang memasuki bulan Ramadhan kemudian melewatinya sebelum ia diampuni dosa-dosanya. HR. Thirmidzi.



Kasih Tak Sampai






Cinta dan Kasih Sayang adalah anugerah dari Allah ta’ala bagi seluruh makhlukNya. Cinta menjadikan dunia ini indah dan penuh warna, dengannya manusia merasakan kedamaian dalam kehidupan. Namun, Kasih Sayang ini terkadang tidak sampai tujuan, bertepuk sebelah tangan.
Bagaimana jika kasih sayang dan cinta itu tidak sampai? Biasanya yang muncul adalah rasa sakit hati, marah dan benci dengan orang yang ingin dikasihi. Pada level yang lebih ekstrim akan memunculkan rasa putus asa, hingga terkadang bunuh diri menjadi jalan pintasnya.
Buku “Kasih Tak Sampai” membahas tentang rasa sayang yang seringkali tidak tersalurkan, atau kasih yang bertepuk sebelah tangan. Ketika seseorang mencintai orang lain, namun ternyata ada banyak hal yang menjadikan kasihnya tersebut tidak terbalaskan. Tidak harus ia berputus asa, atau membenci dia yang dicintainya. Ikhlaskan semua karena Allah, arahkan kasih itu dalam ridhaNya. Insya Allah kasih itu akan berbuah surga, walaupun di dunia tak bisa memilikinya.
Buku ini juga memberikan panduan untuk menghadirkan kasih dan cinta karenaNya. Inilah sejatinya kasih sayang abadi yang tetap ada hingga di akhirat sana.

Harga: 50.000 
Pemesanan: 085885753838

Jumat, 29 April 2016

The Power of Islamic Entrepreunership


Judul Buku: 
The Power of Islamic Entrepreunership

Penulis: 
Agus Siswanto

Editor: 
Dr. Abdurrahman MBP, MEI

Harga: 
Rp. 45.000



Kamis, 28 April 2016

Ya N Nyusuk Na Pakuan



Judul Buku: 
Ya Nu Nyusuk Na Pakuan

Penulis: 
Saleh Danasasmita

Harga: 
Rp. 30.000

Informasi: 
085885753838




Penelusuran Sejarah Pakuan Pajajaran

Judul Buku: 
Penelusuran Sejarah Pakuan Pajajaran 

Editor: 
Abdurrahman Misno BP

Penerbit: 
Pustaka Amma Bogor 
 
Harga: 
Rp. 30.000
 
Informasi: 
085885753838 
 
 


Rabu, 09 Maret 2016

Hari Libur: Waktu akan Membunuhmu

Hari Libur: Waktu akan Membunuhmu
Oleh Abdurrahman Misno


Hari libur adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh banyak orang, ia menjadi momen untuk mengistirahatkan badan dan pikiran. Hari libur juga menjadi hari berkumpul dengan keluarga atau handai taulan. Sayangnya banyak dari kita yang justru terjebak dengan hari libur, hingga tidak bisa mengoptimalkan libur ini sebaik-baiknya. Bahkan mungkin bisa jadi menggunakan hari libur ini untuk sesuatu yang sia-sia dan tidak ada manfaatnya.
Sebagaimana hari-hari yang lain, hari libur seharusnya digunakan sesuai dengan fungsinya tanpa menghilangkan esensi dari liburnya. Maksud saya adalah, bahwa libur sebagai waktu untuk beristirahat atau kumpul dengan keluarga jangan sampai menjadikan kita lupa dengan hal-hal yang seharusnya sudah disiapkan untuk esok harinya. Jika hari libur adalah hari yang sangat langka dalam hidup, karena pekerjaan yang terus menumpuk setiap hari, maka bolehlah ia menjadi hari untuk beristirahat total. Tapi jika hari libur terjadi pada hari yang memang tidak pada hari-hari padat, maka sudah selayaknya untuk menggunakannya untuk hal-hal yang lebih bermanfaat.
Tulisan ini mengingatkan saya sendiri dan pembaca sekalian untuk mengisi hari libur dengan hal-hal yang positif. Bukan berarti hari libur harus tetap bekerja atau tetap melakukan aktifitas seperti hari kerja. Tapi, memanfaatkan hari libur dengan sebaik-baiknya itulah pesan dalam tulisan ini. Hal ini karena banyak di antara kita justru terlena dengan hari libur, padahal masih banyak aktifitas lain yang juga bisa dilakukan pada hari libur tanpa mengurangai “kekhusyu’an”-nya.
Mengisi hari libur dengan hal-hal yang positif, bersama keluarga melakukan aktifitas yang positif, membantu anggota keluarga lain atau menyiapkan untuk kegiatan di hari berikutnya. Intinya adalah jangan jadikan hari libur sebagai hari untuk bermalas-malasan, melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat dan na’udzubillah melakukan hal-hal yang dibenci oleh Allah ta’ala.

Bogor, 09 Maret 2016