Sabtu, 19 Februari 2011

Fakta Pembajakan Buku di Bogor


Oleh : Abdurrahman Ar-Rasyid


Bogor sebagai kota hujan yang sejuk dan damai ternyata tidak berlaku bagi para penerbit, penulis dan pihak-pihak yang berkecimpung dalam dunia penerbitan. Pasalnya kota seribu angkot ini juga tidak luput dari incaran pasar para pengedar buku bajakan. Sebenarnya sesuatu yang wajar mengingat Bogor walaupun hanya sebuah kota keci, namun memiliki universitas negeri yang sudah masyhur yaitu IPB, selain itujuga ada Akademi Kimia Anlisis dan beberapa Sekolah Tinggi Peternakan dan Pertanian. Selain itu lebih dari lima puluh perguruan tinggi swasta juga memadati kota Bogor ini. Maka potensi pasar yang cukup besar tersebut tidak disia-siakan oleh para pengedar buku bajakan.
Sebagai penyangga metropolitan, wilayah Bogor merupakan akses yang mudah bagi para pengedar buku bajakan. Walaupun untuk tempat penjualan hanya berada di sekitar stasiun Bogor. Itupun hanya beberapa kios saja, namun walaupun hanya satu tempat omset yang dihasilkan cukup menjanjikan.
Harga yang ditawarkan di sini cukup bersaing dengan buku bajakan serupa yang dipasarkan di daerah Senen Jakarta, atau di sekitar stasiun Pondok Cina Depok. Novel Tetralogi Laskar Pelangi ditawarkan hanya Rp. 60.000 sebanyak empat buah, padahal kita ketahui bahwa Novel terakhir Andrea Hirata yaitu Maryamah Karpov saja di toko buku dijual dengan harga Rp. 79.000.  Buku Ekonomi Mikro karya dijual hanya dengan harga Rp. 25.000 padahal harga buku aslinya kurang lebih tiga kali lipat. Hal inilah yang menjadi salah satu sebab kenapa konsumen buku di Bogor lebih memilih membeli di sini dari pada jauh-jauh beli di Jakarta, tentunya lagi-lagi dengan pertimbangan ekonomis.      
Sejatinya kalau kita berbicara pembajakan maka tidak hanya buku-buku bajakan yang diterbitkan oleh percetakan-percetakan buku saja, melainkan pembajakan yang dilakukan secara manual dan kecil-kecilan semisal di tempat-tempat layanan phto kopi. Hal ini juga terjadi hampir di setiap kampus yang ada di kota ini. Cara klasik yang dilakukan adalah dengan memphoto kopi buku asli, hal ini bisa dilakukan oleh satu pihak yang berkepentingan dengan buku itu, baik sebagian ataupun secara keseluruhan atau photo kopi dilakukan oleh pemilik tempat photo kopi sendiri. Dari sini gambaran bahwa Bogor ternyata telah menjadi pasar dari buku-buku bajakan, setali tiga uang dengan kota-kota pendidikan lainnya.  
Hal ini bukan mengindikasikan tidak adanya usaha pencegahan dari pihak-pihak berwajib untuk melakukan razia buku bajakan. Maka, walaupun letaknya dekat dengan Jakarta, namun sosialisasi terhadap kejahatan pembajakan sepertinya tidak digubris, bahkan belum pernah terdengar kabar pihak yang berwenang di wilayah Bogor menggerebek kios-kios buku tersebut, apalagi sampai ke pusat-pusat pelayanan photo kopi  yang berada di sekitar perguruan-perguruan tinggi di Bogor. Maka sebagai pecinta buku dan penentang aksi pembajakan kita harapkan semoga segera dilakukan langkah-langkah strategis bagi penegakan kejahatan pembajakan buku ini.    


Perjuangan Menuju Pembebasan



    Kata orang-orang yang paham dengan agama “Setiap jalan menuju ke arah kebaikan biasanya dipenuhi oleh hal-hal yang merepotkan, menyulitkan bahkan terkadang memerlukan adanya pengorbanan” mungkin pengalamanku menggunakan operating sistem Linux sejalan dengan kata-kata bijak tersebut. Bagaimana tidak komputer yang sudah bertahun-tahun digunakan untuk keperluan sehari-hari, dari mulai keperluan menulis makalah tugas kuliah, menulis cerpen hingga menonton bareng dengan keluarga kini harus dioprek kembali untuk dapat menggunakan software yang gratis dan tidak ada hak cipta di dalamnya.
    Sebenarnya perkenalanku dengan Linux sudah cukup lama, bahkan bisa dikatakan dimulai sejak aku mulai mengenal komputer untuk tugas-tugas kuliah di awal-awal semester  satu. ketika itu aku sepertinya tidak peduli dengan Linux dan sebangsanya dari komunitas open sourche, hanya kebiasaan membacaku dari berbagai sumber berkenaan dengan ilmu komputer yang memaksaku untuk membaca semua hal yang termasuk ththek bengek tentang Linux, walaupun hanya sepintas lalu dibaca.
    Akhir dari sebuah keputusanku untuk menggunakan Linux terjadi bulan Juni 2007 yang lalu, mungkin sudah cukup terlambat, karena dari awal kuliah hingga pembuatan skripsi aku masih tetap terlena dengan OS bajakan. Awal dari keputusan ini adalah ketika aku mendapatkan tugas Metodologi Penelitian di kampusku, waktu itu dosen tersebut memberikan tugas mata kuliah tersebut sekalian sebagai proposal tesis. Agar tesisku nanti sukses maka aku mempersiapkan deng sungguh-sungguh. dengan beberapa ide dari teman-teman dan juga dosen akhirnya aku mengambil judul “Hak Cipta dalam Hukum Islam” namun masalah utama muncul yaitu masa menulis tentang hak cipta tapi mengetiknya dengan software bajakan , mengatasnamakan Islam lagi. Akhirnya tekad sudah bulat segera aku mencari lebih detail lagi tentang keberadaan Linux, majalah-majalah komputerku ku acak-acak untuk mendapatkan informasi, demikian juga teman-teman yang sudah pernah memakainya, tidak ketinggalan aku cari informasi di internet walaupun hasilnya belum memuaskan aku nekat untuk menginstal linux di komputerku. Dengan modal sebuah OS Linux  Centos 5.0 aku nekat menginstalnya ke komputer, namun keterbatsan memory mengakibatkan software ini tidak bisa berjalan normal, awalnya aku hanya ingin membuat partisi baru untuk Linux dengan tetap menggunakan Windows bajakan, namun setelah dua kali instal gagal, aku nekat menghapus seluruh partisi yang ada di komputer, hasilnya seluruh data di windowsku hilang, syukur sebulan yang lalu aku sudah memback up data-dataku ke dalam keping DVD, walaupun ada beberapa data terkini yang hilang aku tidak merasa sedih kalau nanti hasilnya dapat dinikmati. setelah semua data terhapus ternyata Centos versi 5.0 tidak bisa terinstal secara sempurna, akhirnya terpaksa aku menginstal kembali windows versi Egiptian Hak dalam komputerku lagi. aku tidak menyerah, setelah windows terinstal kembali aku menginstal Linux Red Hat versi 9, namun lagi-lagi memory 128-ku tidak bisa menginstal dengan sempurna redhat tersebut walaupun sudah dibantu dengan memory virtual (swap), dengan terpaksa aku hentikan proses intstalasi, walaupun belakangan aku ketahui sebenarnya memory sebesar itu masih mampu digunakan.
kesempatan ke Harco Mangga Dua mengantarkan adik ipar membeli komputer baru tidak aku sia-siakan untuk membeli software Linux “bajakan”, aku membeli xandros versi 2.0 dan Fedora Rescue, namun nama yang terakhir ternyata bukan sebuah distro, melauinkan hanya software pemback up data, sebenarnya ada keinginan untuk membeli Igos Nusantara namun jumlah cd yang 3 keping menyurutkan niatku demikian juga distro-distro yang lainnya semisal Mandriva, Xandros edisi enterprises dan yang lainnya. setelah sampai di rumah segera distri xandros kuinstalkan dalam komputerku dengan kecepatan instal yang belum terbayang sebelumnya, hanya dengan waktu tidak sampai satu jam xandros versi 2.0 sudah “nangkring” di komputerku, setelah selesai penginstalan segera  file-file yang berserakan kurapihkan, keinginan untuk mengguntakan secara keseluruhan fasilitas yang ada dalam distro ini tidak kusia-siakan beberapa aplikasi yang biasa dipakai kucoba, multi media oke......, pengolah kata oke...., spread seet oke juga. Ada perasaan puas mengalir perlahan, kini saatnya menginstal aplikasi lain yang biasa kugunakan. Namun masalah timbul ketika proses penginstalan software-software Arabic, bahkan komputerku sempat hang, beberapa software seperti Maktabah Syamilah dengan Hadist Syarif kuinstalkan ke komputer namun dengan segala keterbtasanku komputer tersebut justru not responding, hingga akhirnya hang. sku tidak putus asa, aku mencoba menginstal windows lagi, setalh selesai kucoba menginstal distro xandros lagi namun sayang komputerku tidak bisa meneruskan proses instalasi, akhirnya aku menyerah tidak bisa menggunakan distro ini.
tekadku untuk menggunakan Linux masih menyala, dengan persediaan uang yang pas-pasan aku nekad pergi ke toko buku dan mencari buku-buku yang berkaitan dengan berbagai distro linux, dengan beberapa pertimbangan akhirnya ku beli buku dengan bonus sebuah DVD yang beristri distro SuseOpen Sourche, ada terbesit dalam pikiran untuk menggunakan Live CD saja namun niat itu kurungkan. tanpa menunda waktu lagi setelah sampai di rumah distro suse versi 10.1 kuinstalkan dalam komputer dengan membaca spesifikasi yang disebutkan aku yakin komputerku masih mampu untuk menjalankan distro ini, proses instalasi berlangsung, tidak disangka ternyata waktu yang diperlukan cukup lama, hampir tiga jam lebih porses ini berjalan, ditambah pada awal-awal instalasi ada sedikit kesalahan tekhnis, hingga akhirnya proses selesai dan dapat digunakan. Namun sayang seribu sayang distro ini berjalan sangat lambat, apalagi ketika membuka OpenOffice versi 2.0 sama seperti ketika dulu mengunakan Windows versi 95 dengan komputer renta, rasa kecewa ini ditambah lagi dengan porses instalasi multi media yang cukup njlimet, hingga akhirnya aku menyerah proses instalasi untuk multimedia khsusnya Xine-ui untuk memutar DVD tidak bisa dijalankan. dengan kekecewaan distro ini tetap digunakan, dalam hati masih terhibur distro in masih bisa memutar MP3 sehingga masih bisa mendengarkan murattal kesukaan. Saat-saat jalan-jalan ke toko buku kukhususkan untuk mencari buku-buku tentang linux bahkan kali ini hanya itu tujuannya, setelah melihat kantong yang pas-pasan dan beberapa spesifikasi yang terlalu tinggi untuk komputerku akhirnya niat untuk membeli Igos Nusantara kubatalkan, untunglah ada seorang teman yang membelinya sehingga aku bisa meminjamnya, setelah “membajak” distro ini dalam sebuah keping CD akhirnya aku mencoba untuk menginstalnya di komputer. Sebenarnya aku masih sayang dengan Suse-ku walau[pun masih tidak bisa memutar DVD , namn ada rasa nasionalisme yang memaksaku untuk menggunakan “distro RI” ini. namun seribu kali sayang, ternyata distro ini tidak bisa terinstal dalam komputer, merasa tidak bisa menginstal akhirnya seorang teman yang sudah cukup mengenal tenatng linux datang kerumah untuk membantu, setelah otak-atik dan mencoba menginstalnya namun tetap gagal, degan alasan kurang memory akhirnya diapun menyerah, akhirnya suse yang tadi adapun kini terhapus hingga berakhirlah kisah komputerku kini menjadi komputer”baru” lagi alias tidak ada satupun OS yang ada di dalamnya. Akhirnya dengan terpaksa kuinstal kembali windows XP edisi Egiptian Hak bajakan yang diperoleh dari seorang teman di Mesir. namun keinginanku untuk menggunakan linux juga masih ada lalu dengan segala keterbatasan distro susepun terinstal lagi dengan segala kekuaranagnnya, dari lamanya proses instalasi hingga njlimetnya proses penambahan fitur multimedianya yang terpaksa lagilagi tidak bisa memutar DVD.     Sebenarnya ingin segera aku memmbuang distro linux ini karena lamanya loading utnuk pengolah kata, namun dengan investasi Rp 40.000 membuatku sayang untuk menghapusnya, namun aku belum menyerah segera kuhapus lagi seluruh OS yang ada, setelah format ulang hard disk lalu menginstal windows yang dulu, akhirnya kucoba lagi menginstal distro xandros versi 2.0 dan dengan disaksikan seorang teman proses instalasi berjalan cukup cepat, syukurlah tidak ada halangan yang berarti hingga selesai setelah dicoba semua berjalan normal, multi media bisa, pengolah kata bisa walaupun hanya Open Oficce versi 1.1 demikian juga spread seet dan aksesorisnya, walaupun koleksi gamenya kurang menarik namun semua itu kuterima dengan lapang dada. Sekarang dalam komputerku terpasang dua operating system yaitu windows XP edisi Mesir dan Xandros versi 2.0, namun aku bertekad dalam hati untuk menggunakan Linux kecuali dalam keadaan darurat ketika sebuah program tidak bisa dijalankan semisal Al-Qur'an Digital dan islamic Software lainnya. walaupun di XP sendiri untuk office-nya aku gunakan open Office versi 2.0 untuk mengetik dan keperluan spread seet.  
Kini aku hanya bisa berharap semoga kedepannya linux dengan komunitasnya terutama Open Office-nya bisa sebanding dengan dengan OS lainnya, teutama kebutuhan saya semisal untuk mengistal berbagai Islamic Software dan mengetik bahsa Arab. Walaupun sebanrnya saya pernah mendengar bahwa linux juga bisa digunakan untuk mengetik Arab, aku sendiri pernah mencobanya namun langkah-langakhnya sangat sulit, dari muali mensetting key board menjadi arabic, hal ini mengakibatkan semua menjadi arabic hingga password pada screen saverpun menjadi arab yaitu dari kanan ke kiri, hal ini tentu sangat merepotkan. kemudian saya penah dengar juga ada linux yang edisi Arabic cuma saya belum mendapatkannya. sekarang saya harus puas dengan yang ada, untuk sementara semoga kedepannya linux semakin maju, dan menjadi satu-satunya OS di komputer saya.

     

Curhat Pengantin Baru

Oleh : Bambang Sahaja


Ini cerita tentang pengantin baru yang lucu, haru dan bikin tergagu. waktu itu akad nikah sudah selesai, walimahanpun dilaksanakan dengan cukup meriah. waktu menunjukan pukul 13.30. inilah masa-masa bahagia bagi pasangan pengantin baru. Sebut saja Akhi Abdullah yang beruntung mendapatkan istri seorang akhwat kajian, walaupun baru kenal satu bulan namun setelah ta'aruf dan nadzar hatinya sudah mantep untuk memilih Ukhti Jenny. 
Waktu nadzar dulu dia sempat melihat istri barunya tersebut, dengan jilbab warna biru tua yang panjang melambai dia yakin bahwa Ukhti Jenny akan menjadi seorang wanita shalihah. 
Detik terus berlalu mengejar menit, namun seperti pengantin baru lainnya Akhi Abdullah gemetar ketika akan masuk ke kamar. hatinya deg-degan nggak karuan. Perasaan malu, takut, surprise, bahagia, penasaran dan lain sebagainya menyatu dalam dadanya. kakinya juga terasa kaku ketika mendekati pintu kamar. Namanya juga pengantin baru yang akan bertemu istri baru, di hari dengan pakaian baru, suasana baru dan pengalaman baru. 
hatinya sudah tidak sabar untuk melihat lebih jelas bagaimana raut muka istrinya tersebut. maklum saja waktu dulu nadzar dia juga agak malu-malu melihat muka istri barunya tersebut. Dalam hati sih dia bilang "Cukup lah untuk selera saya". 
akhirnya dengan penuh ketegangan luar dalam Akhi Abdullah melangkahkan kaki ke kamar, tidak lupa ia mengucapkan salam. Dari dalam suara jawaban salam terdengar lembut. Segera ia melangkah masuk kamar dan....... "Astaghfirullah....." sebuah ucapan yang hanya ia dan Allah yang tahu. Apa yang terjadi ternyata setelah ia melihat istri barunya tersebut terkejut luar biasa. Tampak di depan matanya seorang perempuan dengan pakaian apa adanya, berambut keriting dan bermuka apa adanya. Ternyata kesan pertama ketika melihat muka dan postur tubuh istri barunya tersebut tidak sesuai dengan apa yang selama ini dibayangkan. Dari segi raut muka menurut seleranya istri barunya tersebut jelek banget, item pendek lagi. Pokoknya kesan pertama sangat kecewa..... selanjutnya..... kembalikan semua pada Sang Pencipta. 
Setelah kesan pertama ini ia mencoba untuk tetap tenang, sabar dan bertawakal. Ia memasrahkan kepada Allah ta'ala. mudah-mudahan walaupun muka istrinya tidak secantik yang ia lihat pertama semoga hatinya tidak seputih permata. 
Ikhwan sekalian cerita di atas benar-benar terjadi dan sering terjadi. Mungkin ada yang bertanya kenapa terjadi demikian? Ingat Syaithan dan bala tentaranya selalu menggoda manusia untuk kufur kepadaNya. Maka tidak heran jika pandangan pada yang haram sering kali lebih indah daripada pandangan kepada yang halal. Bisa jadi ketika kita melihat pacara kita sepertinya dia cantik luar biasa, giliran sudah menjadi istri kita kaya'nya jelek luar biasa. 
Inilah yang terjadi pada Akhi Abdullah bisa jadi ketika awal melihat waktu nadzar ia merasa cukup. Tapi ketika sudah halal ia merasa muka dari istrinya tersebut jelek sekali.... ini adalah godaan syaithan yang harus dilawan oleh insan. Jadi bersabarlah, bertawakallah serahkan semua pada Allah ta'ala jangan tergoda dengan keindahan dunia yang hanya sementara walaupun istri kita cantik justru itu adalah fitnah (cobaan). Semoga kisah Akhi Abdullah dan Ukhti Jenny menjadi ibrah bagi kita, sebenarnya masih ada lanjutannya di Curhat pengantin Baru II...... tunggu ya....            

Seri Menikmati Hidup 009 : Menikmati Masa Tua


 Oleh : Abu Aisyah


Siklus kehidupan telah mengantarkan seorang anak, remaja dan dewasa menjadi seorang yang tua. Tua yang dimaksud adalah dengan bertambahnya umur atau usia. Masa tua adalah mas di mana raga  mulai mengalami penurunan fungsinya. Jika dulu ketika muda kita mampu mengangkat beban berat, melakukan perjalanan jauh dan aktifitas lainnya kini dengan memasuki masa tua semua aktifitas yang memerlukan tenaga ekstra sudah tidak mampu lagi dilakukan. Bahkan pada usia melebihi 65 tahun fungsi dari otakpun mulai berkurang dan cenderung mengalami pikun.
Masa tua adalah masa di mana kenikmatan dari Allah ta'ala mulai dikurangi. Tak ada yang bisa menahannya, kulit yang mulai keriput tidak bisa lagi dikencangkan, badan yang dulu tegap kini sudah mulai sulit untuk melangkah dan otak yang dulu dapat berpikir cemerlang kini mulai kehilangan kecerdasannya. Itulah masa tua dan setiap kita pasti akan merasakannya, saya, anda dan semua pembaca akan mengalami yang namanya tua. Bagaimana kita mempersiapkan kehidupan di masa tua? Atau bagaimana kita menikmati masa tua?
Jika kita masih muda tentu dari sekarang hendaknya kita sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi masa tua. Menyiapkan perbekalan bagi masa-masa tidak berdaya. Perbekalan yang dimaksud bukan hanya dengan mengumpulkan harta dan kekayaan. Barangkali selama ini kita berpikir bahwa untuk menghadapi masa tua kita harus mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya agar di masa tua bisa menikmatinya. Kita menyisihkan pendapat kita sebagai tabungan di hari tua, kita juga membeli rumah, tanah dan kendaraan untuk persiapan di hari tua. Benarkah demikian?
Tidak ada salahnya mengumpulkan kekayaan untuk bekal di masa tua selama itu adalah dari penghasilan yang halal. Yang menjadi permasalahan adalah ketika kita hanya terfokus mengumpulkan harta benda untuk bekal di masa tua, padahal kebutuhan kita di masa tua bukan hanya harta. Ada perbekalan yang lebih utama dan lebih mulia serta akan lebih bermanfaat di masa tua, perbekalan itu adalah ilmu sebagai pondasi iman dan takwa.
Dengan ilmu inilah kita dapat menikmati masa tua dengan bahagia, harta tidak menjamin masa tua akan sejahtera. Bisa jadi ketika harta kita melimpah justru menjadi ajang rebutan keturunan kita. Ketika rumah kita banyak sulit bagi kita untuk memelihara semuanya. Kendaraan yang mewah belum tentu bisa kita naiki di masa tua. Hanya dengan ilmu kita bisa menikmati masa tua, ilmu yang menjadi dasar bagi iman dan takwa yang akan membuat seseorang menjadi bijaksana di akhir kehidupannya.
Bagi yang sudah tua tentu akan merasakan bagaimana ilmu itu akan bermanfaat di masa tuanya. Pemahaman yang mendalam tentang agama akan menjadikan masa tua begitu mulia, penuh tawa bahagia dan mudah dalam menikmatinya. Menikmati masa tua berarti menjadikan masa tua sebagai persiapan untuk masa berikutnya yaitu masa penuh suka atau di duka di alam sana. Bersyukurlah bagi kita yang dapat menikmati masa tua, karena dengan anugerah masa tua berarti kita telah diberikan kesempatan untuk bertaubat dan mempersiapkan lebih banyak perbekalan untuk menghadapi kematian.
Tidak semua orang dapat mengalami masa tua dengan bahagia, sebagian masa tua justru menjadi bala' (cobaan). Ada orang tua yang semakin pikun sehingga menjadi beban bagi anak-anaknya, yang lainnya semakin tua penyakitnya yang dirasa semakin banyak. Ternyata masa tua menjadi semacam sesuatu yang mengerikan dan menakutkan.
Pada beberapa wanita, masa tua menjadai momok yang menakutkan karena akan melunturkan kecantikannya. Ketika masa tua mulai menjelang kecantikannya memudar. Maka ia dengan berbagai usaha mencoba mengembalikan masa mudanya walaupun harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.  Pada pria sebenarnya juga tidak jauh berbeda, hanya mereka cenderung lebh dapat berpikir logis sehingga bisa menerima kenyataan masa tua tersebut.
Banyak bersyukur adalah salah satu dari seni dalam menikmati masa tua, dengan bersyukur akan tampak kepada begitu banyak kenikmatan Allah ta'ala yang telah kita nikmati selama ini. Masa tua bukan hanya masa memanen namun ia juga masih dalam masa menanam, ketika masa tua berakhir dan kita dihadapkan pada kematian itulah awal masa panen kita.
Karena itu menikmati masa tua berarti mempersiapkannya dengan ilmu dan iman sebagai perbekalan yang utama dan mulia. Ketika masa tua di depan mata nikmatilah ia sebagai sebuah anugerah yang harus kita manfaatkan untuk kembali mempersiapkan bekal menuju kematian. Berdoa agar terbebas dari masa tua yang tidak berguna adalah solusi dalam mengadapinya. Inilah seni dalam menghadapi masa tua. Anda siap menjadi tua? Wallahu a'lam.

Seri Menikmati Hidup 008 : Menikmati Rumah Tangga


 Oleh : Abu Aisyah

“Menikah adalah sunnahku, barang siapa yang tidak suka dengan sunnahku maka ia bukan dari golonganku” demikianlah sabda Nabi yang mulia mengenai menikah dan berumah tangga. Ini menunjukan bagaimana urgensi menikah dalam kehidupan setiap insan. Ikatan rumah tangga sendiri dalam Al-Qur'an disebut sebagai mitsaqan ghalidha (ikatan yang kokoh) sebagaimana firmnaNya :
وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَىٰ بَعْضُكُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا
Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat. QS An-Nisaa : 21.
Menikah adalah sebuah ibadah yang merupakan sunnah Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasalam sehingga menjadi sebuah syariat dalam Islam yang mesti dijalankan oleh umat Islam. Ini tentunya dalam keadaan yang memungkinkan ia melakukan pernikahan tersebut.  Jika dalam keadaan tertentu maka ia menjadi sesuatu yang wajib, sunnah, mubah atau haram tergantung keadaan masing-masing individu.
Namun membahas tentang pernikahan hampir seluruh manusia ingin melakukan pernikahan. Ia addalah sebuah sunnah yang selaras dengan fitrah manusia, maka jika ada suatu keyakinan yang melarang atau membatasi pernikahan ini berarti telah menentang fitrah (naluri) manusia.  Karena manusia bagaimanapun keadaannya tentu menginginkan keturunan dan menyalkurkan hasrat kemanusiaannya dan jalan untuk itu adalah dengan menikah.
Dalam Islam ternyata menikah bukan hanya proses penyaluran sifat alamiah manusia, ia di atur agar kebaikan (hikmah) dalam pernikahan dapat dirasakan.  Beberapa peraturan dalam Islam menyangkut beberapa hal yang menjadi pondasi dalam berumah tangga :
Pertama, niat awal dalam menikah adalah karena Allah ta'ala. Maksudnya adalah pernikahan yang kita lakukan bukan sekadar hanya menyalurkan hasrat insa saja, ia adalah salah satu dari syariat Islam yang sedari awal harus didasarkan pada keikhlasan dan sesuai dengan petunjuk NabiNya. Ini berarti pernikahan adalah salah satu wasilah untuk mendapatkan keridhaanNya.
Kedua, dalam pernikahan diperlukan adanya ilmu. Ilmu yang dimaksud adalah pemahaman terhadap Islam terutama yang berkenaan dengan pernikahan tersebut. Dengan ilmu tersebut kita akan dapat menikmati pernikahan tersebut.
Dengan dua pedoman tersebut diharapkan kita akan dapat menikmati pernikahan. Bukan hanya menikmati sebatas kesenangan fisik, namun lebih dari itu bagiamana kita menikmati setiap detik kehidupan kita dalam bingkai pernikahan. Karena pernikahan bukanlah sebuah ikatan yang hanya beralngsung beberapa bulan, dengan niat yang ikhlas ia akan terus berlangsung selama kita dapat menikmatinya.
Bagaimana menikmati pernikahan? Bagi yang belum menikah tentu akan berpikir bahwa pernikahan adalah seuatu yang indah dan penuh dengan kebahagiaan. Ini bisanya dibayangkan oleh mereka yang sedang berpacaran atau belum merasakan pernikahan. Padahal ibarat kapal yang sedang berlayar ia akan menghadapi berbagai ombak ganas, badai laut dan serangan dari para bajak laut. Demikian pula pernikahan, ia tidak sepi dari berbagai gangguan dan cobaan. Berapa banyak rumah tangga yang berantakan hanya karena amsalah-masalah kecil.
Kurangnya pengertian, pola pikir yang berbeda, selera yang berbeda, ekonomi hingga keyakinan yang berbeda menjadi pemicu perpecahan dalam rumah tangga. Tingkat perceraian sendiri semakin meningkat dari tahun ke tahun. Tetapi ini tentu tidak menyurutkan bagi kita yang akan melangkah ke pernikahan.
Nah... agar kita siap untuk melangkah ke jenjang pernikahan serta bagi yang sudah menikah dapat menikmati pernikahannya dua pedoman pernikahan yaitu ikhlas dan ilmu menjadi sesuatu yang harus ada dalam setiap pernikahan. Ikhlas berarti juga menyandarkan segala sesuatu karena Allah ta'ala. Kita menikah karena Allah ta'ala, kita mencintai pasangan kita juga karena Allah ta'ala. Dari sini bagaimanapun keadaan pasangan kita akan kita terima dengan ikhlas, “Tidak ada manusia sempurna” kalimat ini sering kita dengar. Maka jika kita kaitkan dengan niat ikhlas dalam menikah kita tidak akan melihat lagi bagaimana rupa seseorang, keadaan ekonomi seseorang asalkan ia beriman dan mau berjuang bersama-sama untuk Islam maka dialah pasangan kita. Sedangkan ilmu berarti pemahaman kita kepada Islam menjadi pondasi dalam berumah tangga. Dengan ilmu kita akan mampu memahami bahwa berumah tangga sesuai dengan petunjuk Nabi yang mulia. Tidak ada lagi rasa curiga, meras terisksa dalam rumah tangga dan perasaan negatif lainnya da;am berumah tangga.
Sebagai kesimpulan bahwa menikmati rumah tangga berarti menikmati indahnya syariah Islam dalam bingkai pernikahan sebagai wasilah mendapatkan ridha Ar-Rahman.  Wallahu a'lam.            

Jumat, 18 Februari 2011

Ngorok : Ngomong Jorok


Oleh : Bambang Sahaja

Ana heran sama seorang teman, sebut saja Fulan kalau lagi ngobrol pasti deh ngomongnya nggak jauh-jauh dari yang kaya' githuan (jorok). Nggak tau kenapa dia kaya' githu, sepertinya nggak afdhol kalau nggak disambungin sama omongan jorok. Ana sendiri terus terang rada-rada jenga (apa ya terjemahan bahasa Indonesianya?) kalau ngomongin githuan. Bener, perasaan gak enak banget kalu ngobrol yang menjurus-jurus ke arah itu. 

Tidak ada dikotomi ilmu dalam Spiritual Writing


Oleh : Abdurrahman Misno Bambang Prawiro

Spiritual Writing adalah menulis dengan dasar keimanan, sehingga semua yang dihasilkan adalah berkaitan dengan masalah keagamaan. Bagaimana dengan permasalahan keduniaan? Dalam Spiritual Writing tidak dikenal adanya pemisahan keilmuan, artinya semua ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi manusia maka itu adalah bagian dari cakupan Spiritual Writing. Sehingga Spiritual Writing  bukan hanya menuliskan tentang masalah-masalah keagamaan saja. Ia dapat saja menuliskan hal-hal yang secara tidak langsung tidak berakiatn dengan permasalahan agama. Misalnya menulis tentang resep-resep masakan, membuat aneka ketrampilan, pertanian dan lain sebagainya.
Dari sini kita mengetahui bahwa Spiritual Writing adalah menulis semua hal yang bermanfaat bagi manusia, entah itu urusan keagamaan atau urusan keduniaan. Sebenarnya pemisahan ini juga tidak tepat, semua permasalahan termasuk dalam dunia penulisan juga terkait erat dengan masalah keagamaan. Islam dalam hal ini telah membahas seluruh sendi dan aspek kehidupan, dari masalah yang kecil semisal letak closet sampai masalah yang besar mengenai pemerintahan. Islam telah mengatur semuanya, sehingga kalau ada seseorang yang menulis masalah “keduniaan” dan tidak mengkaitkan dengan Islam berarti ia telah menjadi seorang sekuler yang berkeyakinan bahwa agama hanya mengatur masalah peribadahan antara Tuhan dengan para hambaNya saja. Pemahaman ini jelas salah dan tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Karena itu ruang lingkup Spiritual Writing bukanlah hanya sebatas masalah agama, namun lebih luas dari itu yaitu semua permasalahan yang berkaitan dengan kemasalahatan umat manusia. Selama sebuah tulisan bermanfaat bagi manusia maka di sana pasti terkandung nilai-nilia Islam itulah yang disebut Spiritual Writing.
Apakah ada batasan dalam Spiritual Writing? Karena iman menjadi dasar dan pondasi tulisan maka Spiritual Writing memiliki aturan-aturan sebagaimana iman tersebut. Dalam Spiritual Writing diharamkan menulis hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam, bentuk-bentuk kemesuman, tulisan-tulisan yang mengandung ucapan dan perkataan kesyirikan, kemaksiatan, umpatan, makian dan bentuk kemaksiatan lainnya. Demikian pula tidak diperkenankan menuliskan hal-hal yang melecehkan dan menghina syiar-syiar Islam.
Spiritual Writing adalah setiap tulisan yang mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah ta'ala , ia menjadikan tulisan sebagai wasilah (sarana) dalam mendekatkan diri kepadaNya. Upaya pendekatan itu sendiri dapat berupa menelaah dan menghayati ayat-ayat Qauliyyah dan ayat-ayat Kauniyyah. Ayat-ayat Qauliyyah Allah ta'ala adalah wahyuNya yang berupa Al-Qur'an dan As-Sunnah. Kedunya menjadi sumber inspirasi utama dalam Spiritual Writing. Selanjutnya ayat-ayat Kauniyyah berarti mempelajari seluruh makhluk ciptaanNya, dari mulai bakteri yang sangat kecil hingga galaksi yang maha besar. Dengan mempelajari ayat-ayat kauinyyah keimanan kita tentu akan bertambah melihat Maha KuasaNya Allah ta'ala.          

Petunjuk Nabi dalam Penulisan


Oleh : Abdurrahman Misno Bambang Prawiro

Dunia penulisan adalah dunia dengan ide-ide brilian dan imaginasi-imaginasi tanpa batas. Maka mereka yang konsen di dunia ini adalah para kreator yang berdiri di garda depan menghasilkan berbagai inovasi dalam bentuk tulisan. Tulisan sendiri adalah sebuah pondasi dasar bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Sementara ilmu pengetahuan adalah saran untuk memudahkan manusia dalam kehidupannya.
Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan sangat memahami bagaimana ilmu pengetahuan itu harus dikembangkan. Perkembangan ilmu pengetahuan tidak bisa lepas dari dunia penulisan. Karena itu Islam sangat memperhatikan bagaimana dunia tulis menulis menjadi sesuatu yang harus diperhatikan.
Kalau Islam memang memperhatikan dunia tulis menulis kenapa justru Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wasalam tidak bisa membaca dan menulis? Sebuah pertanyaan yang telah dijawab oleh amal perbuatan beliau Shalallahu 'Alaihi Wasalam. Bila kita menelaah siroah nabawiah (kisah kehidupan nabi) terutama masa-masa beliau menerima wahyu, ternyata kita dapati dunia penulisan menjadi sesuatu yang tidak bisa dipisahkan darinya. Pengangkatan Zaid bin Tsabit oleh beliau sebagai penulis wahyu dan beberapa shahabat yang juga menuliskannya adalah bukti bahwa beliau sangat memperhatikan dunia penulisan.  Demikian pula ketika dakwah (menyeru kepada Islam) yang disampaikan kepada para raja di sekitar Jazirah Arab beliau menggunakan wasilah penulisan (surat/risalah) sebagai media dakwahnya.
Pada peritiwa Fathu Makkah (Pembukaan Kota Makkah) ketika beliau berkhutbah di depan penduduknya salah seorang dari mereka (Abu Syah), dengan keterbatasan pendengaran dan ingatannya ia meminta kepada Nabi agar menuliskan semua yang beliau ucapkan. Maka Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wasalam  menyuruh para sekretarisnya untuk menuliskanny dengan sabdanya “Tuliskanlah (oleh kalian) untukNya (Abu Syah)”
Peristiwa selanjutnya adalah bagaimana tindakan beliau kepada para tawanan pada saat perang Badr. Beliau memberikan kebebasan kepada mereka dengan syarat mengajarkan tulis-baca kepada anak-anak umat Islam pada waktu itu. Sebuah keputusan ke depan yang menjadi dasar bagi perkembangan intelektual umat Islam khususnya dalam bidang penulisan.
Menulis menjadi sebuah keniscayaan terutama bagi mereka yang telah lanjut usia atau mereka yang khawatir dengan batas umurnya. Maksudnya adalah mereka yang dalam keadaan sakit keras dan dikhawatirkan umurnya tidak lagi panjang, maka mereka diperintahkan untuk menuliskan wasiat-wasiatnya.
Pada bidang muamalah beliau memerintahkan bagi mereka yang melakukan akad secara tidak tunai hendaknya menuliskannya sebagai bukti di masa yang akan datang. Penulisan dalam akad itu sendiri berisi lafadz akad dan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh kedua belah pihak.
Kesimpulannya adalah bahwa Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wasalam  sangat memperhatikan dunia tulis menulis, walaupun beliau adalah seorang yang ummi (tidak bisa baca tulis) namun perhatian beliau terhadapnya adalah bukti kejeniusan beliau. Mengenai beliau yang ummi sebenarnya itu adalah hikmah dari Allah ta'ala agar jangan sampai Wahyu (Al-Qur'an dan Al-Hadits) itu dianggap oleh manusia adalah buatan beliau atau hasil tulisan beliau. Kalau Allah berkehendak tentu Dia akan mengajarkan dunia tulis menulis kepada NabiNya, Sosok sejenius Nabi tentu akan sangat mudah untuk belajar membaca dan menulis, namun Allah berkehendak lain, Dia ingin agar seluruh manusia meyakini bahwa wahyu (Islam) ini adalah datang dari Sang Maha Pencipta. Wallahu a'lam.            

Bosan Menulis, Kenapa terjadi?


Oleh Abdurrahman Misno Bambang Prawiro



Menulis adalah sebuah aktiftas yang banyak menyerap energi, baik energi badan ataupun energi pikiran. Sehingga diperlukan energi ekstra dalam melakukannya. Energi itu sendiri bisa berasal dari dalam diri penulis atau dari luar dirinya. Motivasi menulis menjadikan seorang penulis akan memiliki bahan bakar guna memproduksi hasil karyanya. Bagaimana jika tiba-tiba semangat untuk menulis mulai melemah?
Kejenuhan adalah sesuatu yang biasa dalam sebuah kegiatan yang dilakukan secara rutin, hanya saja kejenuhan ini tidak harus terjadi jika kita memiliki motivasi tinggi. Atau ada suatu tujuan yang harus kita capai dalam aktifitas tersebut. Kejenuhan menulis kerap terjadi pada para penulis. Khususnya para penulis pemula yang baru melangkah dalam menghasilkan suatu karya cipta. Kejenuhan ini bisa terjadi karena beberapa hal, semisal bingung menentukan tema apa yang akan ditulis, bingung memulai tulisan hingga merasa tulisannya tidak layak baca. Sebab-sebab tersebut jika dibiarkan akan mengakibatkan pada rasa putus asa untuk kembali melanjutkan hasil karyanya. Bagaimana cara mengatasinya?
Hal pertama yang harus dilakukan adalah memompa kembali semangat untuk menulis. Dengan apa? Dengan mengingat kembali untuk apa kita menulis, apakah untuk mencari uang? Mendapatkan ketenaran? Sekadar menyalurkan hobby? Atau ada tujuan lain yang mulia dari itu yaitu menulis untuk mengajak kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran. Jika tujuan itu kembali kita ingat maka insya Allah semangat kita untuk menulis kembali muncul.
Kedua, jangan jadikan aktiftas menulis sebagai beban. Walaupun pada awalnya menulis seperti sebuah kewajiban, atau kegiatan menulis kita targetkan. Maka dengan berlalunya waktu “keterpaksaan” itu akan berubah menjadi sebuah sesuatu yang menyenangkan. Ketika kegiatan menulis menjadi sesuatu yang menyenangkan maka menulis bukan lagi sebuah beban melainkan sebuah kebutuhan untuk menyalurkan berbagai ide dan pemikiran.
Ketiga, menulis adalah sebuah amanah. Yaitu amanah yang dibebankan bagi semua insan, amanah untuk menyebarkan kebajikan dan mencegah dari kemungkaran. Jika amanah ini kita laksanakan maka berarti kita telah melaksanakan salah satu dari syiar Islam yaitu amar ma'ruf dan nahi mungkar.
Dengan ketiga tips tersebut diharapkan setiap kita akan terus memiliki energi untuk terus menulis. Karena dengan menulislah pemikiran dan ide-ide kita akan terabadikan. Jika gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang dan manusia mati meninggalkan amal perbuatan. Di antara amal perbuatan yang abadi adalah tulisan..... maka menulislah sebagai sebuah warisan sepanjang zaman. Wallahu a'lam.


  

Obat Hati Kala Hasad Menghampiri

Oleh Ummu Afif

Hasad adalah sifat iri atau dengki ketika melihat orang lain mendapat nikmat. Penyakit hati ini sering menghinggapi manusia dan terkadang manusia teramat sulit menghindarinya, tidak terkecuali saya. Betapa meruginya orang yang hasad, karena hasad akan menghanguskan kebaikkan kita, seperti api yang membakar kayu bakar. Lalu apa yang kita lakukan saat hasad itu datang. Beberapa ulama memberikan solusi saat hasad datang pada diri kita adalah dengan mengajak orang lain yang kita hasadkan itu untuk berlomba-lomba dalam urusan agama.