Rabu, 21 Oktober 2015

Adat-istiadat Marunda Pulo

A
Dr. Misno, MEI

      1.      Sejarah Asal-usul Marunda Pulo
Nama “Marunda” berdasarkan asal-usulnya memiliki beberapa versi, Pertama, berasal dari kata “menunda”. Istilah “menunda” untuk nama “Marunda” didasarkan pada beberapa cerita sejarah yang diceritakan turun-temurun mengenai persinggahan pasukan gabungan Demak dengan Cirebon yang akan menyerang Batavia.[1] Pada waktu itu mereka “menunda” untuk menyerangnya dengan terlebih dahulu mengatur strategi perang di sebuah tempat di bagian timur Batavia. Selain menunda penyerangan, mereka juga menjadikan tempat ini sebagai lokasi pengintaian. Sebagai pasukan yang semuanya beragama Islam maka mereka membangun masjid sebagai tempat ibadah, saat ini masjid tersebut dikenal dengan nama masjid al-Alam II atau Masjid Aulia. Tempat di sekitar masjid tersebut kemudian dikenal dengan nama Marunda.[2]
Penggunaan nama Marunda yang berasal dari kata “menunda” juga karena pada masa penjajahan Belanda wilayah ini adalah tempat pertahanan bagi para pejuang ketika berperang dengan Belanda. Ada salah satu dari mereka yang karena tertembak oleh Belanda dimakamkan hanya dengan kedalaman setengah meter, mereka juga menunda penguburan beberapa pahlawan lain yang meninggal dunia. Saat ini kuburan para pahlawan tersebut telah dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta Selatan.[3] Nama Marunda menurut versi lainnya berasal dari pesan ghaib yang terlontar dari seorang dukun setempat yang kesurupan. Pesan itu menyatakan bahwa orang yang mengangkut barang ketika melintasi suatu tempat harus menunda perjalanan. Tempat ini sekarang disebut Marunda.
Kedua, nama Marunda berasal dari istilah “merenda” yaitu merajut dan menyulam, karena di wilayah ini dahulu ada tempat khusus yang digunakan untuk merenda. Sehingga siapa saja yang datang ke wilayah ini mereka akan mengatakan hendak pergi ke tempat orang “merenda” sehingga lama-kelamaan kata “merenda” menjadi Marunda.[4]
Ketiga, nama Marunda berasal dari nama seorang jagoan silat Betawi yang bernama si “Ronda”. Ia adalah seorang bromocorah yang merampok orang-orang kaya untuk diberikan kepada orang-orang miskin pada zaman Belanda. Ia berasal dari wilayah yang kemudian disebut dengan Marunda. Selain itu, kata “Marunda” berasal dari kebiasaan penduduk untuk bersopan-santun, yaitu dengan bersikap merendah, kata “merendah” kemudian lama-lama menjadi Marunda. Berikutnya kata Marunda berasal dari “meronda” ada juga yang menyebutkan bahwa Marunda berasal dari nama seseorang yaitu Pak Marunda. Kebiasaan menyingkatnya sehingga ke rumah Pak Marunda menjadi ke Marunda.
Adapun Marunda Pulo adalah wilayah Marunda yang wilayahnya dikelilingi oleh air sebagaimana sebuah pulau. Kata “Pulo” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti daratan yang dikelilingi oleh air. Istilah “Pulo” dalam bahasa Sunda berarti Pulau, pulau sendiri berarti tanah (daratan) yang dikelilingi air (di laut, di sungai, atau di danau).[5]  Sehingga disebut Marunda Pulo karena lokasinya berada di daratan yang dikelilingi oleh lautan. Saat ini sudah ada sebuah jembatan yang menghubungkan dengan wilayah lainnya.
Pemukiman di Marunda Pulo bermula dari dua saudara yaitu H. Safiuddin dan H. Sajidin. Keduanya adalah tuan tanah dan juragan sero di wilayah ini. Sampai sekarang penduduk Marunda Pulo tidak memiliki tanah secara pribadi tetapi secara khusus menumpang atas izin H. Idup sebagai pewaris terakhir. Penelusuran yang Penulis lakukan mendapatkan beberapa penduduk yang telah mendaftarkan kepemilikan tanahnya dalam bentuk sertifikat hak milik.[6] Wawancara dengan beberapa tokoh juga diperoleh data bahwa sebagian mereka berasal dari wilayah lain di sekitar DKI Jakarta pada masa lalu selain segelintir orang dari wilayah lainnya yang beretnis selain Betawi.  
Sejarah Marunda Pulo tidak bisa dilepaskan dari sejarah kota Jakarta sebagai kota pelabuhan dagang internasional pada masa lalu. Sebagai wilayah yang sejak dahulu menjadi tempat bertemunya berbagai etnis dari seluruh dunia Sunda Kelapa sebagai cikal bakal kota Jakarta merupakan pelabuhan dagang internasional yang ramai. Bahkan jauh sebelum kedatangan kolonial Eropa wilayah ini telah menjadi pusat perdagangan dunia khususnya di wilayah Asia.[7] Ia menjadi tempat bagi para pedagang yang berasal dari berbagai suku bangsa dari seluruh Nusantara, India dan China. Banyaknya berbagai etnis yang ada di wilayah ini secara langsung ataupun tidak langsung berpengaruh kepada pola-pola sosial komunitas Betawi termasuk di Marunda Pulo. 
Berdasarkan Penelitian yang dilakukan oleh beberapa ahli sejarah menunjukan bahwa wilayah DKI Jakarta dahulu merupakan wilayah kekuasaan kerajaan Salakanagara. Kerajaan ini diperkirakan memiliki pusat pemerintahan di sekitar Ciondet (Condet) Jakarta Timur. Pendapat ini bertentangan dengan teori yang menyatakan bahwa kerajaan Salakanagara berada di Pandeglang seperti yang kenal saat ini.[8] Argumentasi yang memperkuat bahwa Salakanagara berada di wilayah Sunda Kelapa adalah bahwa di Pandeglang sejak dahulu tidak memiliki pelabuhan samudera, wilayah Labuhan yang ada di wilayah ini adalah pelabuhan nelayan bukan pelabuhan dagang internasional. Sehingga dipastikan bahwa wilayah Jakarta waktu itu telah didiami oleh masyarakat yang merupakan warga masyarakat kerajaan Salakanagara. Selain itu, hingga saat ini sungai yang mengalir yang melewati wilayah Marunda Pulo disebut juga sungai Tiram yang berasal dari istilah Aki Tirem sebagai penguasa Salakanagara waktu itu. Kerajaan ini berkuasa kurang lebih tahun 130 M, sebagian sejarawan pada tahun 150 M hingga 362 M.[9]
Terlepas dari perdebatan apakah kerajaan Salakanagara berada di Pandeglang atau di Sunda Kelapa dapat diambil satu kesimpulan bahwa Marunda Pulo dan wilayah DKI Jakarta saat ini adalah bagian dari kerajaan tersebut yang merupakan pelabuhan dagang internasional. Ia menjadi tempat bertemunya berbagai pedagang yang datang dari berbagai penjuru dunia, termasuk dari Eropa dan Arabia.[10] Maka suatu suku bangsa telah ada di wilayah ini walaupun belum bisa disebut suku Betawi, mereka lebih sebagai suku Sunda yang tinggal di wilayah-wilayah pesisir. Karena interaksi mereka dengan suku lainnya dan adanya pernikahan campuran mengakibatkan mereka menjadi satu suku tersendiri yang memiliki karakteristik berbeda dengan suku asalnya. 
Selanjutnya kerajaan Salakanagara digantikan oleh kerajaan Tarumanagara dengan raja pertamanya Jayasingawarman (358-382 M) dan raja terakhir Linggawarman (666-669 M). Kerajaan ini berkuasa sejak tahun 358 M, hingga 669 M selama kurang lebih tiga abad Tarumanagara mengembangkan wilayahnya hingga hampir ke seluruh wilayah Jawa bagian barat dan pelabuhan Sunda Kelapa adalah salah satu dari kekuasaanya yang menjadi pelabuhan perdagangan internasional. Kerajaan ini sendiri diperkirakan berpusat di wilayah sekitar Bekasi saat ini, sehingga wilayah Sunda Kelapa tercatat sebagai wilayah yang sangat dekat dengan pusat pemerintahan.
Maka, wilayah Sunda Kelapa bisa dipastikan telah ditempati penduduknya yang beretnis Sunda dan suku-suku campuran lainnya. Penemuan-penemuan arkeologi terkini menunjukan bahwa wilayah Marunda juga merupakan bagian dari wilayah kerajaan ini. Argumentasi yang menguatkannya adalah adanya Prasasti Toegoe yang menyebutkan bahwa di bawah kerajaan Hindu Tarumanegara, telah terdapat penduduk asli Betawi paling tidak berjumlah 100 ribu jiwa yang tinggal pada lokasi tepian kali Citarum perbatasan Bekasi dan Karawang.
Selanjutnya setelah Tarumanagara runtuh digantikan dengan kerajaan Pajajaran yang berpusat di Bogor. Kerajaan ini berkuasa sejak 1030 M hingga 1579 M yang merupakan kerajaan Hindu terakhir di pulau Jawa yang berkuasa kurang lebih lima abad. Wilayahnya membentang dari mulai ujung barat pulau Jawa hingga ke wilayah Banyumas Jawa Tengah. Puncak keemasannya terjadi pada saat dipimpin oleh seorang raja legendaris yaitu Prabu Jayadewata yang berkuasa dari tahun 1482-1521 M atau yang lebih dikenal dengan Prabu Siliwangi.[11]
Sebagaimana kerajaan sebelumnya Sunda Kelapa juga menjadi bagian wilayahnya yang menghubungkan kerajaan ini dengan wilayah manca negara dan kerajaan lainnya. Posisi Sunda Kelapa semakin istimewa setelah berdatangannya bangsa Eropa yang melakukan perdagangan rempah-rempah ke wilayah Indonesia di bagian barat dan timur. Masyarakat yang tinggal di wilayah ini juga semakin beraneka ragam dan semakin berbeda dengan induk budayanya di Sunda pedalaman. Banyaknya para pedagang yang singgah atau menetap di Sunda Kelapa serta menikah dengan penduduk lokal menjadikan Sunda Kelapa adalah kota pelabuhan metropolis yang berpenduduk beraneka suku bangsa dan etnis.
Posisi Pajajaran yang merasa terancam dengan kerajaan Islam yaitu Demak dan Banten memaksa mereka untuk mencari bala bantuan ke pihak asing. Maka Portugis di Malaka menjadi mitra mereka untuk membela kerajaannya dari serangan kerajaan Demak dan Banten, maka dibuatlah sebuah perjanjian antara Kerajaan Pajajaran dan Portugis pada tahun 1522 M. Isi perjanjian ini salah satunya adalah dibolehkannya pihak Portugis untuk membangun benteng pertahanan di pelabuhan Sunda Kelapa.[12] Namun sebelum mereka sampai di Sunda Kelapa, pasukan gabungan Islam dari kerajaan Demak, Cirebon dan Banten telah berhasil menguasai wilayah ini pada tahun 1527 M.
Sejenak wilayah Sunda Kelapa yang telah diganti nama menjadi Jayakarta berada di bawah kekuasaan Islam (Demak). Masyarakatnya dibina dengan nilai-nilai Islam dengan lebih intensif, sementara para pedagang muslim dan pendakwah Islam berdatangan dari India, China dan Timur Tengah. Pada masa ini bermunculan para pendakwah yang menyebarkan Islam hingga ke pusat kerajaan Pajajaran di Bogor Jawa Barat. Bahkan Raja Sri Baduga yang lebih dikenal dengan Prabu Siliwangi menikah dengan salah seorang santri Syaikh Quro yang telah mendirikan lembaga pendidikan Islam di Karawang Jawa Barat. Interaksi masyarakat yang tinggal di Jayakarta semakin intens dengan Islam sehingga mereka mulai menemukan jati diri muslimnya yang berbeda dengan saudara-saudaranya di wilayah pedalaman.
Pada tahun 1617 M, Jayakarta dikuasai oleh Belanda dan didirikanlah benteng besar milik pemerintah penjajah. Hari-hari berikutnya cengkeraman penjajah atas Jayakarta dan wilayah Indonesia semakin kuat, bahkan kota tersebut dirubah menjadi Batavia.[13] Nama ini berasal dari nenek moyang orang Belanda yaitu bangsa Batavieren sekaligus sebagai bentuk kenang-kenangan terhadap kampung halaman mereka: “Batavia is the Latin name for the land of the Batavians during Roman times. This was roughly the area around the city of Nijmegen, Netherlands, within the Roman Empire. The remainder of this land is nowadays known as Betuwe. During the Renaissance, Dutch historians tried to promote these Batavians to the status of "forefathers" of the Dutch people. They started to call themselves Batavians, later resulting in the Batavian Republic, and took the name "Batavia" to their colonies such as the Dutch East Indies, where they renamed the city of Jayakarta to become Batavia from 1619 until about 1942, when its name was changed to Djakarta (this is the short for the former name Jayakarta, later respelt Jakarta; see: History of Jakarta). The name was also used in Suriname, where they founded Batavia, Suriname, and in the United States where they founded the city and the town of Batavia, New York. This name spread further west in the United States to such places as Batavia, Illinois, near Chicago, and Batavia, Ohio. Batavia merupakan nama Latin untuk tanah Batavia pada zaman Romawi. Perkiraan kasarnya berada sekitar kota Nijmegen, Belanda, dalam Kekaisaran Romawi. Sisa lahan ini kini dikenal sebagai Betuwe. Selama Renaisans, sejarawan Belanda mencoba untuk mempromosikan Batavia menjadi sebuah status "nenek moyang" dari orang-orang Belanda. Kemudian mereka mulai menyebut diri orang-orang atau penduduk Batavia, kemudian hal tersebut mengakibatkan munculnya Republik Batavia, dan mengambil nama "Batavia" untuk koloni mereka seperti Hindia Belanda, dimana mereka mengganti nama menjadi dari Kota Jayakarta menjadi Batavia dari 1619 sampai sekitar 1942, ketika namanya diubah menjadi Djakarta (ini adalah kependekan dari nama mantan Jayakarta, kemudian diubah kembali ejaannya menjadi Jakarta). Nama itu (Batavia) juga digunakan di Suriname, di mana mereka mendirikan Batavia, Suriname, dan di Amerika Serikat di mana mereka mendirikan kota dan kota Batavia, New York. Nama ini menyebar lebih jauh ke barat di Amerika Serikat untuk tempat-tempat seperti Batavia, Illinois, dekat Chicago, dan Batavia, Ohio.
Sejak saat itulah kota Batavia dipenuhi dengan orang-orang Eropa serta beraneka suku bangsa yang didatangkan oleh Belanda sebagai budak-budak yang dipekerjakan untuk kebutuhan bangsa penjajah tersebut. Kedatangan berbagai suku bangsa yang berstatus sebagai budak inilah yang oleh Lance Castles disebut sebagai nenek moyang suku bangsa Betawi.[14]
Tentu saja pendapat ini harus diperiksa ulang, karena apabila kita melihat satu sisi maka bisa jadi benar bahwa sebagian besar masyarakat Betawi saat ini adalah keturunan dari mereka. Namun bisa juga salah jika melihatnya lebih luas lagi pada komunitas-komunitas di sekitar Batavia waktu itu. Penulis berkesimpulan bahwa asal-usul suku Betawi berasal dari pernikahan campuran antara berbagai etnis yang ada di Jakarta secara turun-temurun. Beberapa etnis yang dominan dalam pernikahan campuran tersebut adalah suku Sunda, Melayu, dan Jawa. 
Istilah Betawi muncul pertama kali dengan pendirian sebuah organisasi yang bernama Perkoempoelan Kaoem Betawi yang lahir pada tahun 1923 M yang digagas oleh Husni Thamrin (seorang putra Wedana Distrik Batavia 1908-1911 M). Organisasi ini adalah perkumpulan masyarakat di Jakarta waktu itu yang membawa ideologi etnis pertama. Sejak saat ini komunitas “asli” yang tinggal di wilayah Batavia baik yang berada di dalam benteng kota maupun di luarnya dikenal dengan suku Betawi. Tidak semua suku yang tinggal di Batavia mengaku dirinya sebagai etnis Betawi, beberapa kelompok dari imigran tersebut masih tetap menyebut diri mereka dengan asal etnis mereka, seperti Sunda, Jawa, China, Ambon, Bugis, Makasar, Batak dan lain sebagainya. Fakta ini bisa dijadikan argumentasi bahwa suku Betawi adalah mereka yang mendakwakan dirinya sebagai suku Betawi dan tentu saja mereka yang memiliki etnis tersendiri tidak akan mau mendakwakan dirinya sebagai etnis Betawi. Oleh karena itu etnis Betawi adalah mereka yang memang secara historis memiliki ikatan yang kuat dengan kebetawiannya.
Istilah Betawi sendiri terjadi beberapa penafsiran tentang asal-usul istilah ini. Jika selama ini istilah Betawi berasal dari kata “Batavia” maka perlu dikaji ulang. Beberapa pendapat tentang asal-usul istilah Betawi adalah sebagai berikut: Pertama, kata Betawi berasal dari kata “Batavia,” yaitu nama lama Jakarta yang diberikan oleh Belanda. Lidah masyarakat lokal dalam menyebut “Batavia” menjadi “Betawi”, sehingga lama-lama istilah Betawi lebih mudah diucapkan.
Kedua, berasal dari kata Pitawi (Bahasa Melayu Polynesia Purba) yang artinya larangan. Perkataan ini mengacu pada komplek bangunan yang dihormati di Batu Jaya. Sejarawan Ridwan Saidi mengaitkan bahwa kompleks bangunan di Batu Jaya, Karawang merupakan sebuah kota suci yang tertutup, sementara Karawang, merupakan kota yang terbuka.
Ketiga, kata Betawi dalam bahasa Melayu Brunei berarti giwang atau anting bagi perempuan. Nama ini mengacu pada ekskavasi di Babelan, Kabupaten Bekasi, yang banyak ditemukan giwang dari abad ke-11 M. Keempat, istilah Betawi merupakan nama dari Flora guling Betawi (cassia glauca), famili papilionaceae yang merupakan jenis tanaman perdu yang kayunya bulat seperti guling dan mudah diraut serta kokoh. Dahulu kala jenis batang pohon Betawi banyak digunakan untuk pembuatan gagang senjata keris atau gagang pisau. Tanaman guling Betawi banyak tumbuh di Nusa Kelapa dan beberapa daerah di pulau Jawa dan Kalimantan.
Kelima, istilah Betawi berasal dari kata “Bekawi” yang digunakan di wilayah Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, guling Betawi disebut Kayu Bekawi. Ada perbedaan pengucapan kata "Betawi" dan "Bekawi" pada penggunaan kosakata "k" dan "t" antara Kapuas Hulu dan Betawi Melayu, dan ini biasa terjadi dalam bahasa Melayu, seperti kata tanya apakah atau apatah yang memiliki persamaan makna atau arti. Kemungkinan nama Betawi yang berasal dari jenis tanaman pepohonan ada kemungkinan benar. Menurut Sejarawan Ridwan Saidi, beberapa nama jenis flora selama ini memang digunakan pada pemberian nama tempat atau daerah yang ada di Jakarta, seperti Gambir, Krekot, Bintaro, Grogol dan banyak lagi. Seperti Kecamatan Makasar, nama ini tak ada hubungannya dengan orang Makassar, melainkan diambil dari jenis rerumputan”.
Berdasarkan asal-usul istilah Betawi maka pendapat yang mendekati kebenaran adalah bahwa istilah ini berasal dari nama dari jenis pohon yang banyak tumbuh di wilayah ini. Pendapat ini mematahkan teori yang menyatakan bahwa istilah “Betawi” berasal dari “Batavia” yang menjadi nama kota yang dibangun oleh Belanda.
Istilah suku Betawi muncul dan berkembang secara merata ke seluruh wilayah yang memiliki asal historis sama. Ia muncul baik sebelum mereka menyebar dan setelah mereka menyebar ke seluruh wilayah Jakarta. Sehingga penamaan ini kemudian diterima oleh seluruh masyarakat yang memiliki pandangan yang sama. Istilah ini menghapuskan istilah-istilah lama yang menisbatkan kepada wilayah yang lebih sempit seperti orang kemayoran, orang Senen, orang Jatinegara, orang Marunda dan lain sebagainya.
Berdasarkan pemaparan tentang sejarah kota Jakarta dan penduduknya dapat disimpulkan bahwa komunitas Betawi telah ada sejak zaman kerajaan Salakanagara, Tarumanagara, Pajajaran, Jayakarta, Batavia hingga Jakarta. Mereka menyebar ke berbagai wilayah di sekitar Jakarta dan menempati setiap jengkal tanahnya. Termasuk mereka yang menempati bagian timur Jakarta yaitu wilayah Cilincing dan Marunda. Sehingga wilayah Marunda merupakan tempat bagi komunitas Betawi yang sebelumnya berada di wilayah-wilayah pusat kota Jakarta. Mengenai waktu awal mereka tinggal diperkirakan sejak penyerangan kerajaan Demak, Cirebon dan Banten yaitu tahun 1527 M.
Menurut catatan pemerintah Belanda pada tahun 1930 bahwa penduduk kota Batavia yang berada di luar kota khususnya di wilayah partikelir seperti Tjilintjing, Toegoe Oost, Toegoe West, Toegoe Batoe Bamboe berjumlah 2.412 Jiwa pribumi dan 352 Thionghoa.[15] Maka bisa diperkirakan bahwa wilayah Marunda yang berada di wilayah Cilincing sudah terdapat penduduk yang tinggal di sana namun dengan jumlah yang sangat terbatas. Mereka yang tinggal di sana adalah para nelayan yang sehari-hari memiliki mata pencaharian mencari ikan di laut. Beberapa di antara mereka adalah tuan tanah yang menjadi juragan untuk menjualkan ikan hasil tangkapan mereka, selain itu mereka juga telah memiliki sebuah masjid yang telah dibangun satu abad sebelumnya.
Pada zaman dahulu, ketika menyebut Marunda maka yang muncul dalam benak manusia adalah para jagoan, perampok dan pendekar-pendekar silat yang terkenal seantero Batavia. Sebuat saja Si Pitung yang menjadi legenda bagi tanah Betawi, ia menjadi simbol keberanian dan perlawanan terhadap kesewenang-wenangan penjajah Belanda. Kemudian ada si Ronda yang juga membela rakyat kecil dengan merampok orang-orang kaya di Batavia dan membagi-bagikan hasil rampokannya kepada orang miskin. Serta si Mirah yang bergelar Singa Betina dari Marunda adalah jagoan wanita yang memiliki ilmu silat tak tertandingi oleh jago-jago silat lainnya. Berdasarkan beberapa legenda tersebut maka Marunda adalah tempat bagi para jagoan yang di mata penjajah disebut perampok.
Cerita mengenai si Pitung telah menjadi bagian dari sejarah Marunda, hingga saat ini namanya masih terpatri di dada penduduk Marunda khususnya Marunda Pulo. Apalagi dijadikannya rumah bekas H. Safiuddin sebagai museum rumah si Pitung menjadikan namanya semakin dikenang tidak hanya oleh masyarakat sekitarnya namun juga oleh masyarakat yang berkunjung ke Marunda Pulo. Padahal sejarah membuktikan bahwa rumah tersebut adalah rumah juragan sero dan tuan tanah di Marunda Pulo yang pernah dijadikan tempat persembunyian bagi si pitung. Salah satu versi sejarah menyebutkan awalnya si pitung akan merampoknya, namun karena suatu hal akhirnya ia justru berada di sana beberapa saat.
Kisah tentang Marunda Pulo sebagai tempat para jawara dan jagoan ternyata bukan isapan jempol. Pada masa-masa berikutnya masyarakat ini terkenal dengan jurus-jurus silatnya sehingga sering terjadi tawuran dan perkelahian dengan kampung lainnya. Setiap perkelahian terjadi mereka selalu menang dengan mengandalkan kelihaian silat mereka.[16] Hingga saat ini sebagian besar laki-laki penduduk Marunda Pulo masih memiliki ilmu silat sebagai penjagaan diri apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Sejarah Marunda Pulo tidak bisa dilepaskan dari keberadaan masjid al-Alam II atau masjid al-Aulia. Menurut cerita turun-temurn masjid ini dibangun hanya dalam waktu satu malam. Orang yang membangunnya adalah seorang wali yang datang dari Timur Tengah (Arab Yaman).[17] Cerita tersebut menyatakan bahwa di pagi hari tiba-tiba masyarakat melihat ada sebuah masjid yang telah dibangun di tengah-tengah daratan yang dikelilingi oleh sungai besar. Terlepas dari benar tidaknya cerita tersebut saat ini masjid al-Alam II berdiri kokoh dengan arsitektur peninggalan abad ke-XVI sehingga bisa diperkirakan pembangunannya dilakukan pada masa kerajaan Demak, Cirebon dan Banten. Penulis berpendapat bahwa pembangunannya dilakukan oleh pasukan gabungan tiga kerajaan tersebut yang akan menyerang Sunda Kelapa. Maka tidak heran jika pembangunannya hanya memerlukan satu malam saja dikarenakan jumlah yang membangunnya banyak dan kebutuhan mendesak waktu itu jangan sampai ketahuan masyarakat di sekitarnya.
Pada zaman dahulu hingga sekitar tahun 1970-an lokasi masjid masih berada di daratan yang dikelilingi oleh sungai-sungai besar. Sehingga ketika akan ke sana harus menyeberang menggunakan perahu, selain itu tidak ada jalan lain. Menurut penuturan warga Marunda Pulo yang berumur 50 tahun ke atas, ketika mereka masih kecil jika akan shalat Jumat atau tarawih mereka naik perahu untuk menuju ke masjid tersebut. Kemudian dilakukan pengurukan sedikit demi sedikit dan dibuatlah jembatan dari bambu. Lama-kelamaan urugan tanah tersebut bersambung dan hingga saat ini jalan menuju masjid sudah bisa dilakukan dengan jalan darat.[18]
Masjid inilah yang menjadi pusat kegiatan keagamaan komunitas Marunda Pulo dan sekitarnya terutama pada perayaan hari-hari besar Islam. Selain itu di belakang masjid juga terdapat kuburan umum yang digunakan masyarakat untuk mengubur keluarga mereka yang meninggal dunia. Lokasinya yang terbatas memaksa mereka melakukan penumpukan kubur lebih dari satu ketika kubur yang lama dianggap sudah bisa dipakai kembali.
Sebagaimana lokasi masjid, Marunda Pulo juga adalah sebuah kampung yang dahulunya di kelilingi oleh laut, hingga tahun 1980-an untuk sampai ke kampung ini harus menggunakan perahu. Menurut cerita orang-orang yang tinggal di sekitar Marunda Pulo bahwa mereka harus menaikan motor ke atas perahu apabila ingin ke Marunda Pulo, demikian pula masyarakatnya yang dahulu memiliki motor. Jembatan yang menghubungkan secara darat Marunda Pulo dengan dunia luar dibangun sekitar tahun 1990-an oleh pemerintah setempat. Sejak saat itulah perubahan terjadi di Marunda Pulo dalam segala hal, dari mulai mata pencahariaan, kepemilikan kendaraan bermotor, pendidikan anak-anak hingga masalah sosial keagamaan yang mengalami erosi karena budaya luar perlahan masuk ke dalam gaya hidup mereka.


[1] Wawancara dengan H. Oji tokoh agama Marunda Pulo pada 16 Januari 2013. 
[2] Wawancara dengan H. Sambu tokoh Marunda Pulo dan sesepuh masjid Al-Alam II Marunda pada 08 Agustus 2013.   
[3] Wawancara dengan H. Hasan Ketua DKM Masjid al-Alam Marunda dan Tokoh agama Marunda Pulo pada 16 Januari 2013.
[4] Wawancara dengan H. Hasan pada 16 Januari 2013.
[5] Anonim, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008), hlm. 1227.
[6] Wawancara dengan H. Oji pada 17 Januari 2014.
[7] George Coedes, Asia Tenggara Masa Hindu-Budha, (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2010), hlm. 48.
[8] Yahya Andi Saputra, Upacara Daur Hidup Adat Betawi, (Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2008), hlm.3.
[9] Ayatrohaedi, Sundakala, Cuplikan Sejarah Sunda Berdasar Naskah-naskah "Panitia Wangsakerta, (Cirebon: Pustaka Jaya, 2005).
[10] Sanusi Pane, Sedjarah Indonesia, (Djakarta: Perpustakaan Perguruan Kementerian P. P. dan Kebudayaan, 1955), hlm. 27.
[11] Yoseph Iskandar, Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa), (Bandung: Geger Sunten, 2005), hlm. 35.
[12] Nina Herlina Lubis, Sejarah Kota-kota Lama di Jawa Barat, (Jatinangor: Alqa Print, 2000), hlm. 159.
[13] Perubahan nama dari Jayakarta menjadi Batavia secara resmi terjadi pada tahun 1921. Lihat Sanusi Pane, Sedjarah Indonesia, (Jakarta: Perpustakaan Perguruan Kementerian P.P. dan K, 1955), hlm. 190. 
[14] Lance Castles, Profil Etnik Jakarta, (Jakarta: Masup Jakarta, 2007).
[15] Lance Castles, Profil Etnik Jakarta, hlm. 22.
[16] Wawancara dengan H. Hasan ketua DKM Masjid al-Alam II pada 16 Januari 2014.
[17] Wawancara dengan H. Sambu pada Agustus 2013.
[18] Wawancara dengan H. Oji warga Marunda Pulo pada 17 Januari 2013. 

Kampung Marunda Pulo

Dr. Misno, MEI


            A.    Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada tiga lokasi, yaitu komunitas adat Baduy di Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak Provinsi Banten, Kampung Naga, Desa Neglasari Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat dan Kampung Marunda Pulo Kelurahan Marunda Kecamatan Cilincing Kotamadya Jakarta Utara Provinsi DKI Jakarta.
Ketiga lokasi Penelitian tersebut merupakan tempat tinggal bagi komunitas suku Betawi, Sunda dan Banten yang memiliki karakteristik budaya dan adat-istiadat yang berbeda-beda. Berikut adalah peta tiga lokasi Penelitian:
Gambar 1.
Peta lokasi Penelitian
Kampung Naga
Desa Kanekes
Marunda Pulo



















Sumber Gambar: www.google.com dengan tambahan lokasi Penelitian oleh Penulis.
1.      Lokasi Marunda Pulo
Kampung Marunda Pulo terletak di wilayah bagian timur laut Propinsi DKI Jakarta. Secara administrasi ia masuk ke wilayah Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Kotamadya Jakarta Utara Provinsi DKI Jakarta. Berikut adalah peta lokasi kampung Marunda Pulo:  
Gambar 5.
Peta Kelurahan Marunda
Marunda Pulo





















Sumber Peta: Dokumen Kelurahan Marunda Kec. Cilincing

Luas wilayah Kelurahan Marunda adalah ± 791.69 Ha dengan komposisi 50% pemukiman dan 50% lainnya adalah empang, kawasan industri dan garasi truk trailer. Hal ini selaras dengan pengembangan Marunda sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang merupakan kawasan industri, eksport import dan pengembangan ekonomi strategis lainnya.
Kelurahan Marunda merupakan hasil penggabungan sebagian wilayah Jawa Barat ke wilayah Provinsi DKI Jakata berdasarkan Surat Keputusan Gubernur KDKI Jakarta Nomor 1251 Tahun 1986 tentang Pemecahan, Penetapan Batas, Perubahan Nama Kelurahan yang Kembar, Penetapan Luas Wilayah Kelurahan-kelurahan di DKI Jakarta. Surat Keputusan ini diperbaharui dengan Surat Keputusan Gubernur KDKI Jakarta No, 1227 Tahun 1989 tentang Penyempurnaan Lampiran Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 1251 Tahun 1986.
Secara administratif Kelurahan Marunda memiliki batas wilayah sebagai berikut: Sebelah selatan berbatasan dengan kelurahan Rorotan, sebelah barat berbatasan dengan kelurahan Cilincing, sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa, dan sebelah timur berbatasan dengan Segera Makmur Kabupaten Bekasi. Secara keseluruhan wilayah kelurahan Marunda adalah rawa-rawa dan tepi laut.
Kelurahan Marunda terbagi dalam 10 RW dengan 97 RT. Dari 10 Rukun Warga tersebut 1 RW merupakan komplek pendidikan yaitu RW. 08 khusus mengurusi warga/lingkungan Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) yang terdiri dari 2 (dua) RT, Sedangkan RW.010 adalah Rumah Susun yang ditempati warga berasal dari Kolong Tol Penjaringan adapun 8 RW lainnya merupakan perkampungan biasa yang dikenal dengan Sungai Tirem, Bambu Kuning, Marunda Baru, Marunda Pulo, Marunda Besar, Marunda Kongsi, serta Bidara, yang dihuni oleh mayoritas etnis Betawi.[1]
Penelitian ini terfokus pada kampung Marunda Pulo yang berlokasi di RT. 001 dan 002 RW. 07 yang merupakan pemukiman komunitas Marunda Pulo yang berada di bagian utara wilayah kelurahan Marunda.  Jumlah penduduk Marunda Pulo berdasarkan sensus tahun 2013 sebanyak 621 jiwa dengan 204 Kepala Keluarga.
Tabel 6.
Jumlah Penduduk di Kampung Marunda Pulo
RT
Jumlah Penduduk
L
P
1
325/101 KK
85
240
2
296/103 KK
189
98
Jumlah
621/204 KK
264
338
Sumber: Dokumen Kelurahan Marunda
Wilayah Marunda Pulo terbagi menjadi dua Rukun Tetangga (RT) yaitu RT 001 RW 07 dan RT  002 RW 07. Saat ini yang menjadi Ketua RT 001 adalah Bapak H. Thirmidzi sedangkan yang menjadi Ketua RT 002 adalah Bapak Sugiyanto. Mayoritas penduduknya adalah masyarakat asli Marunda Pulo yang beretnis Betawi, sedangkan sebagian kecilnya adalah perantau yang mengontrak rumah di wilayah ini yang berjumlah tidak lebih 20 Kepala Keluarga. Sebagian mereka adalah pegawai yang bekerja di perusahaan-perusahaan pelabuhan di sekitar Marunda Pulo.
Kondisi wilayah Marunda Pulo berada pada pinggir pantai Teluk Jakarta dan Laut Jawa. Pada zaman dahulu, khususnya masa kolonial Belanda di mana kondisi pantainya masih bersih, ia dijadikan sebagai tempat wisata masyarakat yang tinggal di sekitarnya.[2] Saat ini kondisi pantainya telah mengalami abrasi bertahun-tahun lamanya sehingga untuk menahan ombak dan air pasang di bagian utara kampung dibangun tembok dam setinggi kurang lebih 2 meter.
Keadaan permukaan tanahnya berupa daratan yang dikelilingi oleh air payau dan sebagiannya berupa rawa-rawa yang ditumbuhi pohon bakau. Saat ini tumbuhan bakau ini hanya ada di bagian selatan dan barat dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Tinggi permukaan tanah yang berada di bawah permukaan air laut mengakibatkan wilayah ini akan tergenang air ketika laut mengalami pasang, bahkan tidak jarang memasuki rumah-rumah yang dibangun dengan tembok dan lantai yang tidak dibuat panggung.
Saat ini jalan-jalan di Marunda Pulo sudah disemen dengan pembangunan yang dilakukan berulang-ulang. Namun karena kondisi tanahnya yang mengalami penurunan terus-menerus maka tingginya terus berkurang.[3] Hal inilah yang mengakibatkan jalan-jalan tersebut selalu digenangi air ketika air laut pasang. Pada beberapa bagian kampung terutama pada ujung-ujung kampung jalan-jalan yang menghubungkan antara satu rumah dengan rumah lainnya menggunakan papan kayu yang ditopang dengan tiang-tiang di bawahnya sebagaimana rumah-rumah panggung mereka.   
Pada zaman dahulu seluruh model rumah mereka adalah panggung dengan tinggi antara1-2 meter.[4] Tiang-tiang panggung sebagian besar berada di atas air dengan bagian bawahnya terendam. Sebagian lainnya berada di tanah rawa yang datar seperti kita lihat saat ini yang menjadi lokasi rumah Si Pitung yang berada di depan pintu masuk kampung Marunda Pulo. Seiring perkembangan zaman rumah-rumah penduduk mengalami perubahan dengan pengurangan tinggi panggung dan penggunaan material pasir dan semen sebagai tembok dan pondasinya. Pada beberapa rumah menggunakan lantai semen pada bagian depannya sementara bagian tengah dan belakangnya tetap menggunakan panggung dengan tinggi kurang lebih 50 cm. 
Kondisi tanah di Marunda Pulo pada umumnya adalah tanah berwarna hitam yang didominasi oleh pasir laut. Saat ini kondisi tanah mengalami pencemaran yang cukup parah baik yang berada di daratan maupun di perairannya.[5] Hal ini menjadi salah satu sebab rusaknya ekosistem di wilayah ini, misalnya pohon bakau yang tinggal beberapa batang, daratan yang terus-menerus mengalami penurunan permukaan dan punahnya binatang-binatang yang tinggal di sekitar wilayah ini.
Kondisi airnya tidak lebih baik dari daratannya, banyaknya sampah yang mengotori perairan ditambah dengan limbah industri yang berada di wilayah ini mengakibatkan air yang berada di permukaan dan air tanah-nya sudah tidak layak untuk dikonsumsi. Kebutuhan akan air bersih warga untuk mencuci, dan kebutuhan rumah tangga lainnya disupply oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Jaya DKI Jakarta.
Kondisi lingkungan perkampungan Marunda Pulo kelihatan kumuh karena sampah terdapat hampir di setiap sudut kampung, apalagi pada bagian air yang tergenang. Pada bagian barat kampung yang merupakan dam (tembok pembatas air laut) menumpuk sampah yang berasal dari sisa-sisa rumah tangga warga. Upaya untuk menjaga kebersihan sudah dilakukan dengan menempatkan tempat sampah di beberapa sudut kampung. Namun sepertinya belum sesuai yang diharapkan di kampung tersebut. Beberapa rumah yang berada di barisan paling pinggir dan menghadapi pantai sering sekali kena luapan air pasang, demikian pula rumah yang tidak panggung dan berada di bawah permukaan air laut. Sementara rumah yang menggunakan panggung akan terbebas dari air pasang ini. Secara umum rumah-rumah di Marunda Pulo terbagi menjadi beberapa jenis yaitu rumah panggung, panggung dengan semen dan rumah semen.
Pemilihan tiga lokasi Penelitian yang berbeda didasarkan pada beberapa pertimbangan khususnya untuk mewakili tipe masyarakat di Indonesia dalam menerima hukum Islam, yaitu masyarakat pesisir (Marunda Pulo) dan pedalaman (Kampung Naga dan Baduy). Beberapa pertimbangan dalam menentukan lokasi Penelitian adalah:
Pertama, Marunda Pulo merupakan kampung nelayan di pesisir pulau Jawa yang telah menerima Islam terlebih dahulu dibandingkan dengan wilayah pedalaman. Interaksi masyarakatnya dengan Islam yang cukup lama diperkirakan akan memengaruhi penyerapan mereka terhadap hukum Islam. Kampung ini juga menjadi salah satu model dan mewakili tipe masyarakat pesisir dalam penyerapan hukum Islam. Walaupun berada di wilayah ibukota namun komposisi masyarakat asli masih dominan sehingga keaslian dari komunitas ini masih terlihat dengan jelas. Selain itu di Marunda Pulo terdapat Masjid al-Alam II yang dibangun oleh Sunan Gunung Djati serta menjadi base camp bagi prajurit Mataram yang akan menyerang Batavia.[6] Pada kampung ini juga masih berdiri rumah yang diyakini sebagai tempat persembunyian Si Pitung, seorang jagoan Betawi yang melakukan perlawanan terhadap Belanda.


[1] Profil Kelurahan Marunda Kecamatan Cilincing Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Utara Provinsi DKI Jakarta, Maret 2014.
[2] Jepri, Pengembangan Estuaria Marunda Sebagai Kawasan Tujuan Wisata, (Jakarta: Universitas Indonesia, 2011).
[3] Wawancara dengan Bapak Yanto Ketua RT 02/01 Marunda Pulo pada 17 Januari 2013.
[4] Serly Listiyanti, Transformasi Rumah Panggung pada Pemukiman Pesisir Jakarta Utara, (Jakarta: Universitas Indonesia, 2011), hlm 68.
[5] Lihat Mustaruddin, Model Penyebaran Logam Berat Akibat Cemaran Industri Pada  Erairan Umum Dan Pengaruhnya Terhadap Nilai Ekonomi Air (Studi Kasus Pada Kali Cakung Dalam Di Rorotan-Marunda, Jakarta Utara), (Bogor: Institut Pertanian Bogor, 2005). 
[6]  Wawancara dengan Bapak H. Hasan ketua DKM Masjid al-Alam II pada 28 Juni 2013 di rumahnya.