Selasa, 13 November 2012

Harmoni Agama, Darigama dan Adat Sunda : Studi Ritual Hajat Sasih di Kampung Naga


Abdurrahman Misno Bambang Prawiro
Fakultas Syariah STAI Al-Hidayah Bogor
Telp. 085885753838, email: ambp1979@yahoo.com

Abstracs
Manusia adalah makhluk sempurna, kesempurnaannya terletak pada akal yang dianugerahkan Tuhan kepadanya. Dengan akal ini manusia berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, baik kebutuhan lahir ataupun kebutuhan batin. Kebutuhan batin manusia terpenuhi dengan adanya kedamaian, kebahagiaan dan aktualisasi diri. Untuk mencapai hal tersebut manusia berusaha untuk mencari hakikat kehidupan, dalam agamalah manusia menemukan hakikat kehidupan tersebut. Selanjutnya manusia berusaha untuk mengaplikasikan keyakinan keagamaannya dalam bentuk berbagai ritual keagamaan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Di antara ritual yang dilakukan oleh manusia adalah Ritual Hajat Sasih yang dilaksanakan masyarakat adat Kampung Naga. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi dengan paradigma etnoscience dari James P. Spradley, fenomena Hajat Sasih direkam dengan metode etnografi. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa pelaksanaan Hajat Sasih dilakukan dengan prosedur sesuai dengan yang dilakukan para leluhur dengan memberikan pak hajat kepada Punduh dan Lebe pada satu hari sebelum pelaksanaan, sementara Punduh dan Lebe juga memberikan pak hajatnya kepada kuwu dan naib Desa Neglasari. Hajat Sasih merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan yang direpresentasikan dalam bentuk ziarah ke makam para leluhur yaitu Sembah Dalem Eyang Singaparna. Selain itu Hajat Sasih juga menjadi momen istimewa bagi warga Kampung Naga untuk bersilaturahmi dan mengharapkan barokah dari ziarah kubur dan dari tumpeng yang didoakan oleh sesepuh Kampung Naga. 
Humans are a perfect person, perfection lies in the sense that divine creation. With this perfection human being trying to necessities of life, both physical needs or mental needs. Human needs are the inner peace, happiness and self-actualization. To achieve this, people try to find the essence of life, It is religion humans find it. Furthermore, humans try to apply their religious beliefs in the form of various religious rituals as a means to closer God. Among ritual performed by humans is the ritual performed Hajat Sasih in Kampung Naga. This study used the paradigm etnoscience phenomenological approach of James P. Spradley, Hajat Sasih phenomena recorded by the method of ethnography. Results from this study is implementation Hajat Sasih  in accordance with the procedures undertaken by the pak hajat to Punduh and Lebe on the day before, while Punduh and Lebe also give pak hajat to kuwu and naib of Neglasari village. Hajat Sasih an expression of gratitude to God that is represented in the form of a pilgrimage to the tomb of the Sembah Dalem Eyang Singaparna. Besides Hajat Sasih also be a special moment for the residents of Kampung Naga to gathering and find barokah from the tomb and from tumpeng are prayed by Kampung Naga elders.

Key Word : Islam Lokal, Hajat Sasih, Kampung Naga dan Ziarah  

Minggu, 04 November 2012

Hajat Sasih di Kampung Naga

Oleh : Yogi Kusnendar dan Abdurrahman


1.    Pengertian Ritual Hajat Sasih
Tidak ada pengertian khusus mengenai Hajat Sasih yang dilaksanakan di Kampung Naga. Akan tetapi jika dilihat secara bahasa, hajat (dalam Bahasa Sunda) berarti perayaan, dan sasih berarti bulan. Hajat Sasih merupakan salah satu perayaan dalam bentuk ritual khusus yang dilaksanakan selama dua bulan sekali oleh masyarakat Kampung Naga. Ritual ini adalah ritual terbesar dan tersakral yang mereka laksanakan dibandingkan ritual-ritual lainnya. Ritual ini dilaksanakan dengan waktu dan tata cara tertentu yang telah ditetapkan oleh leluhur mereka. Hajat Sasih merupakan titik kulminasi dari rasa tunduk dan patuh kepada leluhur mereka. Masyarakat Kampung Naga mengaku berasal dari cikal bakal atau nenek moyang yang sama, yaitu seorang tokoh yang dikenal dengan nama Sembah Dalem Eyang Singaparana. Tokoh inilah yang menurunkan tata kehidupan dan tata kelakuan yang sampai saat ini dianut dan dilaksanakan oleh seluruh warga masyarakat Kampung Naga atau disebut juga Seuweu Putu Naga. Hajat Sasih hanya boleh diikuti oleh kaum pria. Dengan dipimpin oleh Kuncen Kampung Naga, acara ini dimulai sejak pagi hari, tepatnya sejak pukul 09.00 WIB. dan berakhir menjelang shalat dzuhur.
2.    Sejarah Pelaksanaan Ritual
Asal-usul atau sejarah masyarakat Kampung Naga khususnya ritual Hajat Sasih sangat boleh jadi akan terkuak jika sejarah nenek moyang mereka yang tertulis di atas daun lontar dan salah satu piagamnya yang terbuat dari tembaga masih utuh. Lempeng yang terbuat dari tembaga sebenarnya bukan lempeng yang asli. Lempeng asli milik masyarakat Kampung  Naga terbuat dari kuningan. Lempeng tersebut pada tahun 1922 dipinjam  oleh Pemerintah Hindia Belanda di Batavia (Jakarta) dan tidak dikembalikan. Yang dikembalikan hanya duplikatnya yang terbuat dari tembaga. 
Benda-benda pusaka dan keramat yang merupakan tulisan dan gambaran sejarah dari leluhur dan asal usulnya pada tahun 1956 habis tidak tersisa karena terbakar. Kampung  Naga dibumihaguskan oleh DI/TII pimpinan Kartosuwiryo. Pada saat itu, Tasikmalaya dan beberapa daerah lainnya di Priangan Timur pernah dijadikan basis DI/ TII di daerah JawaBarat. Termasuk yang dibakar oleh DI/TII tersebut adalah Bumi Ageung. Rumah yang notabenenya dipakai sebagai tempat penyimpanan benda- benda pusaka juga ikut musnah. Benda-benda pusaka yang saat ini masihada hanyalah beberapa benda yang tidak dapat terbakar dan beberapa tulisanyang pada waktu Kampung Naga dibumihanguskan disimpan oleh pemangku adat Sa-naga . Oleh karena itulah sangat sukar mengungkap bagaimana sejarah asli Kampung Naga khususnya sejarah pelaksanaan ritual Hajat Sasih
Akan tetapi, secara garis besar ritual Hajat Sasih merupakan titah langsung dari Sembah Dalem Eyang Singaparana. Sembah Dalem menuliskan segala aturan mengenai ritual ini. Hal ini dimaksudkan agar anak cucu keturunannya bisa mengingat dan senantiasa melaksanakan ritual tersebut. Selain itu, tatacara pelaksanaan ritual dituliskan agar tidak terjadi pelanggaran atau penyelewengan ajaran  adat yang diajarkan olehnya. Tidak diketahui sejak kapan ritual ini dilaksanakan akan tetapi masyarakat Kampung Naga meyakini bahwa ritual ini telah berlaku selama ratusan tahun sejak meninggalnya Sembah Dalem Eyang Singaparana.
3.    Waktu Pelaksanaan Ritual
Selain mengatur tatacara pelaksanaan ritual, Sembah Dalem Eyang  Singaparana juga mengatur waktu-waktu khusus pelaksanaan ritual ini. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat Kampung Naga dan Sa-naga tidak sembarangan dalam melaksanakanya. Hajat Sasih merupakan upacara ritualyang agenda pelaksanaannya diselenggarakan secara tetap. Upacara tersebut berlangsung sebanyak enam  kali dalam setahun, dengan waktu yang sudah ditetapkan dan tidak boleh diubah. Waktu-waktu tersebut antara lain:
1.    Bulan Muharam (Muharram) pada tanggal 26, 27 atau 28
2.    Bulan Maulud (Rabi’ul Awwal) pada tanggal 12, 13, atau 14.
3.    Bulan Rewah (Sya’ban) pada tanggal 16, 17 atau 18.
4.    Bulan Syawal (Syawal) pada tanggal 14, 15, atau 16.
5.    Bulan Rayagung (Dzulhijjah) pada tanggal 10, 11, atau 12. (Her Suganda, Kampung Naga Mempertahankan Tradisi, hal. 83)
Dalam satu tahun, enam kali ritual dilaksanakan. Tiga hari dalam setiap bulan di atas dimaksudkan sebagai alternatif. Mereka dapat memilih berdasarkan waktu yang lebih memungkinkan untuk melaksanakannya.
Hajat Sasih tidak boleh dilaksanakan bersamaan dengan ritual Menyepi, pada setiap hari selasa, rabu dan sabtu. Oleh karena itu, disediakan alternatif sehingga masyarakat Kampung Naga melaksanakan salah satu ritual dengan tidak melanggar ritual adat yang lainnya. Dalam kepercayaan masyarakat Kampung Naga, nyepi merupakanwaktu yang tepat untuk melakukan introspeksi diri. Oleh sebab itu, pelaksanaanya tidak boleh terganggu oleh ritual-ritual lain. Hal ini berlaku bahkan untuk pelaksanaan upacara ritual yang secara tetap diselenggarakan,termasuk didalamnya ritual Hajat Sasih.
Jika waktunya bersamaan denganwaktu melaksanakan ritual nyepi, maka pelaksanaan upacara ritual tersebut harus dimajukan atau dimundurkan agar tidak berbenturan. Dengan melakukan ritual ini, masyarakat Kampung Naga berusaha mengembalikan dan memusatkan kekuatan-kekuatan yang hilang dalamdirinya karena jiwa mereka sudah tercemar oleh anasir buruk atau pengaruh luar. Dengan cara ini pula mereka berusaha mengeluarkan isi jiwanya yang kotor dan berusaha mengisinya dengan kekuatan alam semesta yang baik. (Her Suganda, Kampung Naga Mempertahankan Tradisi, hal 23)
Berbeda dengan konsep nyepi yang dimiliki oleh kaum Hindu Bali, selama melakukan ritual nyepi, masyarakat Kampung Naga tetap melaksanakan rutinitas keseharian mereka termasuk bekerja. Selama menjalankan nyepi, mereka dilarang melakukan beberapa hal yang dianggap dapat mencemari niat. Salah satu dari pantangan tersebut adalah dilarang menceritakan sesuatu apapun yang berkenaan dengan adat istiadat mereka di waktu itu.
4.    Tatacara Ritual Hajat Sasih
Sebagai tahap awal pelaksanaan ritual Hajat Sasih, secara bergotong-royong masyarakat Kampung Naga membersihkan area perkampungan. Setiap pojok rumah atau belokan yang memungkinkan bertumpuknya sampah, dibuat dan dipasangkan tempat sampah yang terbuatdari bambu. Begitu pula di sepanjang perjalanan menuju perkampungan. Acara pembersihan kawasan perkampungan ini dilakukan sehari atau dua hari menjelang Hajat Sasih dilaksanakan. Selain sebagai bentuk kesadaran masyarakat Kampung Naga dalam menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal mereka, hal ini juga menjadi sebuah bentuk ketaatan mereka kepadaaturan adat yang mengharuskan mereka menjaga lingkungan.
Secara garis besar, upacara ritual Hajat Sasih diawali dengan ritual beberesih’ yang dilakukan dengan mandi bersama di Sungai Ciwulan, kemudian dilanjutkan dengan berziarah ke makam leluhur mereka. Selesai berziarah, acara diakhiri dengan melakukan do’a syukur bersama. Masyarakat Kampung Naga percaya bahwa yang akan mereka ziarahi merupakan makam leluhur mereka yaitu Sembah Dalem Eyang  Singaparana. Makam tersebut terdapat di Hutan Keramat yang tidak bisa sembarangan dimasuki oleh siapapun, kecuali atas seizin Kuncen. Selain makam Sembah Dalem Eyang Singaparna, di Hutan tersebut masih terdapat dua makam lain yang dipercaya mereka sebagai makam dari pengawal setia Sembah Dalem Eyang Singaparana.Untuk mengunjungi leluhur mereka (dengan melaksanakan Hajat Sasih), para peserta harus memenuhi beberapa ketentuan, diantaranyaadalah:
1.    Pertama, mendapatkan izin terlebih dahulu dari Kuncen sebagai pemangku adat di Kampung Naga (bagi masyarakat luar, yang bukanmasyarakat Naga dan Sanaga). Keputusan boleh atau tidaknya mengikutiritual ini ada di tangan Kuncen.
2.    Kedua, ziarah hanya boleh dilakukan oleh laki-laki dewasa dan belum pernah melaksanakan Ibadah Haji. Dalam hal ini, masyarakat Kampung Naga memiliki pemahaman bahwa orang yang pernah melaksanakan Ibadah Haji telah melaksanakan ziarah yang lebih utama dari segala ziarah. Oleh karena itu, terlarang melaksanakan ziarah kepada sesuatu yang lebih rendah dari ziarah ke Tanah Suci.
3.    Ketiga, fisik dan hati dari peserta ziarah haruslah bersih. Oleh karenaitu, sebelum melaksanakan ziarah, para peserta diharuskan beberesih terlebih dahulu dengan mandi di Sungai Ciwulan secara bersamaan.
Adapun secara rinci tahapan dari pelaksanaan ritual Hajat Sasih antara lain:
a.    Bebersih
Beberesih artinya membersihkan diri dengan media mandi. Pengertian ini mengandung makna bukan hanya membersihkan jasmani (fisik) tetapi termasuk didalamnya juga membersihkan rohani (jiwa) dari berbagai anasir yang menempel dan mengotori tubuh dan jiwa peserta ritual. Proses kegiatannya ditandai dengan isyarat melalui bunyi kentongan atau kohkol  di Masjid kampung.
Ritual beberesih diawali oleh Kuncen yang mendahului turun keSungai Ciwulan. Tangannya menggenggam sebuku bambu berisi cairan leuleueur. Pada salah satu sisi bagian atas buku bambu tersebut terdapat lubang kecil, tempat memasukkan dan mengeluarkan cairan leuleueur. Leuleueur secara harfiah berarti pelicin. Cairan leuleueur merupakan ramuan khusus yang terbuat dari akar pohon kapirit dan honje.
Air ramuan tersebut kemudian dibagikan kepada para peserta beberesih sebagai pengganti sabun dan shampo. Jika masih tersisa, air ramuan tersebutkemudian dibasuhkan ke tubuh masing-masing lalu dibilas dengan cara berendam selama beberapa saat di Sungai Ciwulan.
Selesai beberesih, para peserta lalu berwudu dan kembali ke rumahmasing-masing. Tubuh yang masih basah tidak boleh dikeringkan denganhanduk, akan tetapi harus dibiarkan mengering dengan sendirinya.
b.   Memakai pakaian adat
Dalam keadaan fisik dan jiwa yang sudah bersih, para peserta ritual kemudian menggunakan pakaian  khas atau pakaian adat warga Kampung Naga yang juga bersih. Pakaian adat yang ada di Kampung Naga terdiri dari dua, yaitu pakaian adat yang dipakai sehari-hari dan pakaian adat yang khusus dipakai saat ada upacara ritual. Pakaian adat ini memiliki empat unsur yang dapat dibedakan secara jelas dibandingkan dengan masyarakatumumnya. Diantaranya adalah baju kampret (mirip jubah) berwarna putihatau hitam, totopong atau ikat kepala dari kain batik, sarung poleng (pelekat) atau calana komprang (mirip dengan celana kolor panjang), berwarna putih, biru atau hitam. Bentuk pakaian yang dipakai ketika Hajat Sasih menyerupai jubah berlengan panjang. Jubah tersebut mirip dengan jubah yang dipakai oleh masyarakat Arab, hanya saja jubah Kampung Naga tidak memiliki kancing. Untuk merapatkannya, dalam jubah tersebut terdapat seutas tali dari kain. Sebagian besar warna pakaian tersebut adalah putih. Akan tetapi ada pula yang berwarna biru telur asin. Selain itu, mereka juga menggunakan tutup kepala yang disebut totopong, atau iket khas masyarakat Kampung Naga. Mereka juga memakai sarung poleng tanpa celana dalam, tanpa alas kaki dan tanpa perhiasan apapun terutama dari logam.
Setelah lengkap, mereka menuju Masjid dan  menunggu Kuncen. Sebelum masuk Masjid, mereka mencuci kaki terlebih dahulu dan masuk kedalamnya sembari menganggukkan kepala dan mengangkat kedua belah tangan. Hal ini dilakukan sebagai tanda penghormatan dan merendahkan diri, karena Masjid merupakan tempat beribadah dan suci. Lalu masing-masing peserta mengambil sapu lidi (nantinya akan digunakan para peserta ritual untuk membersihkan makam) yang telah tersedia di masjid dan duduk sambil memegangnya.
Untuk menjaga kesakralan, sebagian besar peserta berdiam diri tanpa berbicara. Namun jika dianggap perlu, mereka berbicaradengan sangat perlahan.Berbeda dengan Kuncen, Lebe dan Punduh adat. Selesai melakukan beberesih dan memakai pakaian adat, mereka tidak pergi ke Masjid melainkan ke Bumi Ageung. Kuncen amitan (minta restu) kepada penghuni Bumi Ageung. Di sana mereka menyiapkan lamareun (sesajen yang  telah diberi mantra) dan parupuyan (tempat membakar kemenyan) untuk dibawa ke makam. Lamareun terdiri atas kukus (dupa, kemenyan), daun sirih, buah pinang, kapur,  gambir, bako tampang (tembakau), dan daun saga atau daun cae.
Setelah semua siap, mereka kemudian keluar. Lebe membawa lamareun dan punduh membawa parupuyan menuju makam. Para peserta yang berada di dalam Masjid keluar dan mengikuti Kuncen, Lebe dan Punduh satu persatu. Mereka berjalan rapi secara beriringan sambil membawa sapu lidi. Sesampainya di pintu gerbang makam (yang ditandai oleh batu besar), masing-masing peserta menundukan kepala sebagai penghormatan kepada makam Sembah Dalem Eyang Singaparana. (M. Ahman Sya dan Awan Mutakin, Masyarakat Kampung Naga Tasikmalaya)
c.    “Unjuk-unjuk” dan membersihkan makam
Setibanya di gerbang  makam, selain Kuncen tidak ada yang masuk kedalamnya. Adapun Lebe dan Punduh setelah menyerahkan lamareun dan parupuyan kepada Kuncen,  mereka lalu keluar dan tinggal bersama para peserta ritual yang lain. Setelah itu, Kuncen lalu membakar kemenyan untuk unjuk-unjuk (meminta izin) kepada Sembah Dalem Eyang Singaparna. Di depan makam, dengan suara yang halus,  Kuncen melakukan unjuk-unjuk, memberitahu bahwa Seuweu-siwi Naga (anak cucu keturunan Kampung Naga) telah berkumpul dan menyampaikan maksud serta tujuannya menyelenggarakan ritual Hajat Sasih. Unjuk-unjuk dilakukan Kuncen sambil menghadap ke sebelah barat, ke arah makam. Arah barat artinya menunjuk ke arah kiblat. Selain menyampaikan niat ziarah,  Kuncen juga menyampaikan sembah hormat dan permohonan maaf jika seandainya terdapat adat istiadat yang terlupakan atau sudah dilanggar.
Selesai melakukan unjuk-unjuk, selanjutnya Kuncen mempersilahkan para peserta ritual untuk mulai membersihkan makam dan kawasan sekitarnya dengan menggunakan sapu lidi yang dibawa masing-masing peserta. Bukan hanya sampah kering dedaunan yang jatuh, rumput-rumput liar yang tumbuh bebas di kawasan makam juga ikut dibersihkan. Selesai membersihkan makam, Kuncen dan diikuti para peserta kemudian duduk bersila di atas tanah mengelilingi makam. Secara bergiliran, mereka menyampaikan do’a dan niat mereka masing-masing. Do’a disampaikan dalam hati  masing-masing untuk memohon keselamatan,  kesejahteraan,  berkah serta maksud dan kehendak masing-masing peserta.
Setelah para peserta selesai berdo’a dan menyampaikan niat masing-masing, Kuncen lalu mempersilahkan Lebe untuk memimpin pembacaan ayat-ayat suci Al Qur’an dan diakhiri dengan do’a bersama. Selesai berdo’a, para peserta secara bergiliran bersalaman dengan Kuncen. Mereka menghampiri Kuncen dengan cara berjalan ngengsod atau ngagesor (yakni menggunakan kekuatan tangan sebagai penyangga sebagai pengganti kekuatan kaki untuk bergerak). Setelah bersalaman para peserta keluar dari kawasan makam, diikuti oleh Punduh, Lebe dan terakhir Kuncen. Mereka berjalan rapi dan beriringan kembali ke perkampungan.
Parupuyan dan sapu lidi disimpan di para (langit-langit) Masjid. Sebelum disimpan, sapu lidi tersebut dicuci oleh masing-masing peserta upacara di Sungai Ciwulan. Sementara lamareun disimpan di Bumi Ageung.
d.   Membersihkan Depok (Tempat Shalat Pertama)
Setelah sebagian anggota masyarakat yang melaksanakan ritual Hajat Sasih selesai berdo’a, secara berangsur mereka menuruni bukit dan kembali ke perkampungan. Mereka tidak langsung pulang ke rumah masing-masing, akan tetapi mereka langsung menuju sebuah tempat berpagar di kawasan perumahan. Tempat ini diyakini oleh masyarakat Kampung Naga merupakan tempat dimana pertama kali shalat dilaksanakan. Ritual ditempat ini tidak dipimpin langsung oleh Kuncen. Hal ini dikarenakan Kuncen masih melaksanakan ritual di makam keramat. Yang memimpin ritual disini adalah wakil yang dipercaya Kuncen. Karena pagar tinggi yang mengelilingi tempat tersebut tidak memiliki pintu, cara masuk satu-satunya adalah dengan menggunakan tangga. Sikap tenang dan tidak gaduh masih terjaga di tempat ini. Sesampainya di depan batu, perwakilan Kuncen kembali melakukan unjuk-unjuk. Selesai melakukannya, barulah acara pembersihan  tempat tersebut dimulai. Yang bisa masuk ke tempat tersebut hanya sebanyak empat atau lima orang.
Mereka membersihkan bagian dalam tempat tersebut. Sementara masyarakat lain yang tidak masuk,  mereka membersihkan bagian luar baik dari ranting-ranting pohon yang telah kering dan patah, daun-daun kering maupun rumput-rumput kecil yang mulai bertumbuhan. Selesai membersihkan tempat tersebut, semua orang yang masuk kembali keluar melalui tangga yang telah disiapkan. Terakhir, wakil Kuncen kembali melakukan unjuk-unjuk dan berdo’a. Selesai itu, barulah dia keluar. Karena tidak semua peserta ritual mengikuti ritual ini, mereka yang ikut membersihkan tempat tersebut lalu menuju sungai Ciwulan dan membersihkan sapu lidi yang mereka bawa di sana. Barulah mereka menuju Masjid dan menunggu kehadiran Kuncen di sana.
e.    Ritual akhir
Setelah  selesai melaksanakan shalat dzuhur berjama’ah, para wanita Kampung Naga membawa  nasi  tumpeng  beserta lauk pauknya ke Masjid untuk kemudian dido’akan oleh Kuncen dalam prosesi Hajat Sasih selanjutnya. Prosesi ini diawali dengan kedatangan wanita patunggon. Wanita patunggon adalah wanita yang bertugas menjadi penunggu Bumi Ageung. Mereka berpakaian seperti para penari Bali, separuh tubuhnya mulai dari bagian atas dada dibalut kain. Kedua wanita tersebut mengantarkan air yang tersimpan di dalam kendi. Mereka bergerak dengan cara ngengsod atau ngagesor  menuju ke arah Kuncen. Setibanya di hadapan Kuncen dan Sesepuh masyarakat Kampung Naga, wanita patunggon menyampaikan sembah. Mereka pamit lalu kembali ke tempat semula dengan cara yang sama, seusai melakukan unjuk-unjuk kepada Kuncen.
Setelah kedua wanita tersebut keluar, barulah Kuncen berkumur-kumur dengan air kendi yang dibawa kedua wanita tadi. Setelah itu Kuncen membakar kemenyan, lalu ia mengucapkan ijab Kabul sebagai pembukaan. Selanjutnya Lebe membacakan do’anya setelah ia berkumur-kumur terlebih dahulu dengan air yang sama dari kendi. Pembacaan do’a diakhiri dengan ucapan amin dan pembacaan surat Al-Fatihah.
f.     Murak Tumpeng
Suasana khidmat yang menyelimuti semua peserta di dalam Masjid berlangsung untuk beberapa saat. Tetapi di luar, puluhan wanita telah bersiap menunggu upacara tersebut usai. Mereka menunggu boboko (tempat menyimpan nasi yang terbuat dari bambu) yang telah mereka simpan di dalam Masjid. Boboko tersebut berisi tumpeng (nasi kuning) beserta lauk  pauknya yang beragam tergantung selera dan kemampuan masing-masing keluarga. Ketika pembacaan do’a selesai, matahari telah tergelincir dari puncaknya. Boboko berisi nasi tumpeng dan lauk pauknya segera dibagikan kepada pemiliknya masing-masing. Setiap perempuan mengambilnya dengan tertib dan teratur, lalu membawanya pulang. Nasi tumpeng tersebut kemudian dijadikan santapan makan siang bersama seisi rumah. Mereka menyebutnya murak tumpeng. Berakhirlah runtutan upacara ritual Hajat Sasih.

Kamis, 01 November 2012

Road To Kampung Naga (Naga Village)

Oleh : Abdurrahman MBP


Perjalanan menuju Kampung Naga sangat mudah ditempuh, jika kita dari arah Bandung maka dapat menempuh dua arah yang berbeda, yaitu melalui Tasikmalaya atau melalui Garut. Jika melewati Tasikmalaya maka perjalanan berjarak kurang lebih 30 Km dari kota Tasikmalaya. Sedangkan perjalanan dari Bandung membutuhkan waktu sekitar 3 jam menujukota Tasikmalaya. Bagi yang menaiki kendaraan umum maka dari Bandung bisa naik bis umum atau mobil elf dengan trayek Bandung-Tasikmalaya dan turun di Terminal Indihiang. Dari sini perjalanan dilanjutkan dengan naik mobil elf dengan trayek Tasikmalaya-Garut. Sayangnya angkutan ini sering kali tidak sampai ke terminal Indihiang Tasikmalaya sehingga bagi yang ingin meneruskan perjalanan ke Garut harus mencari angkutan tersebut di Rancabango (kurang lebih 5 KM dari Terminal Indihiang Tasikmalaya. Perjalanan dari Tasikmalaya ke Garut membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam perjalanan normal, sedangkan bila banyak berhenti atau ngetem maka bisa membutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan. Jika ingin naik mobil elf Tasikmalaya-Garut maka turun tepat di depan pintu gerbang Kampung Naga.
Jika menggunakan jalur Bandung-Garut-Singaparna maka maka jarak tempuhnya kurang lebih 160 KM, sementara dari Kota Garut berjarak 26 KM. Jika berangkat dari bandung maka bisa menggunakan mobil “Diana” atau “Sony Putra” dengan trayek Bandung-Singaparna. Angkutan bis ini cukup praktis karena cukup naik satu kali kemudian turun di depan Kampung Naga dengan ongkos Rp. 20.000,-. Sayangnya mobil jenis ini tidak begitu banyak jumlahnya sehingga harus bersabar menunggunya. Bis AKAP (Antar Kota Antar Propinsi) juga bisa digunakan yaitu Bis dengan trayek Jakarta-Singaparna melalui Bandung dan Garut, bis ini juga melalui depan Kampung Naga, namun lagi-lagi bis ini hanya pada jam tertentu saja lewatnya. Untuk angkutan menuju Kampung Naga dari Bandung melalui jalur Garut dianjurkan untuk mencari angkutan bis “Diana” atau “Sony Putra” apabila tidak ada juga bisa menggunakan elf jurusan Bandung-Garut sampai ke Terminal Guntur Garut, setelah itu dilanjutkan dengan naik elf jurusan Garut-Tasikmalaya dan turun di depan pintu gerbang Kampung Naga.
Untuk mengetahui arah Kampung Naga maka terdapat sebuah plang yang menunjuk ke arah Kampung Naga. Jika perjalanan dari arah Tasikmalaya maka plang tersebut berada di sebelah kiri jalan, sedangkan jika perjalanan dari arah Garut maka plang tersebut berada di sebelah kanan. Ciri yang paling menonjol ketika hampir sampai ke Kampung Naga adalah tampak di kiri-kanan jalan raya lembah dan perbukitan yang menghijau dengan sawah model terasering yang tersusun rapi. Jika perjalanan dari arah Tasikmalaya maka kita harus menyeberang jalan terlebih dahulu, sedangkan jika dari arah Garut maka turun langsung menuju lokasi Kampung Naga.
Memasuki lokasi Kampung Naga pengunjung disambut oleh sebuah gapura[1] dengan atap terbuat dari injuk dengan tinggi kurang lebih 5 meter. Di bagian kanan gapura terdapat pohon Caringin (Beringin) besar yang memberikan kesan sejuk, menurut Bapak Abdul Majid salah seorang pemilik kios di depan gapura, pohon caringin  ini ditanam bersamaan dengan dibangunnya terminal tempat parkir Kampung Naga. Sementara di bagian kiri terdapat papan bertuliskan “Tanah ini milik Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya” tertulis luas tanah 2.635 M2, Nomor Sertifikat 10.
Melangkah masuk ke dalam tepatnya ke Terminal (tempat parkir kendaraan), tampak lokasi parkir yang cukup luas dengan model parkir serong sehingga memungkinkan hingga sepuluh bis besar terparkir di situ. Pada bagian sebelah kiri terdapat sebuah bangunan yang berfungsi sebagai tempat menyimpan drum-drum minyak tanah. Bangunan sebelahnya adalah Kantor Pusat Informasi dan Kantor Koperasi Warga Kampung Naga dengan nama “Sauyunan”. Bangunan ini juga menjadi Kantor Perhimpunan Pramuwisata Kampung Naga yang disingkat “Hipana”. Bersebelahan dengan kantor ini berjajar kios-kios cenderamata  yang menjual produk-produk masyarakat Kampung Naga dan sekitarnya. Sementara di sebelahnya lagi terdapat banguan yang digunakan untuk tempat pembakaran sampah. Maju ke depan lagi terdapat sebuah bangunan yang belum jadi yang akan digunakan untuk loket parkir dan kios cinderamata.
Beralih ke sebelah kanan, tampak kios cenderamata yang menjual berbagai souvenir khas Kampung Naga, ada toko kelontong, warnet dan penyewaan Play Station (PS). Di pojok jalan terdapat mini museum yang memamerkan berbagai senjata tradisional seperti kujang, keris, pedang, golok dan yang lainya. Mini museum ini juga menyedikan buku tentang Kampung Naga, Pin Khas Kampung Naga, baju, ikat kepala dan aksesoris khas Kampung Naga lainnya. Karena berada pada posisi tanah bagian atas, maka di sebelah kanan tempat parkir ini terdapat tangga menuju bagian bawah yang digunakan untuk tempat warga dan ada juga WC umum.
Pada bagian ujung kiri tempat parkir berdiri kokoh Tugu Kujang Pusaka[2] yang tampak megah dengan warna dominan hitam. Tugu ini dikelilingi pagar besi yang memiliki satu pintu di bagian muka. Pada kedua sisi pintu pagar bagian luar terdapat patung kepala harimau. Pada bagian kanan tugu terdapat tulisan mengenai keterangan detail pembangunan tugu ini. Tertulis bahwa tugu ini diresmikan oleh Gubernur Jawa barat pada 16 April 2009 atau 19 Maulud 1430 H. Pengagas utama pembuatan tugu ini adalah Drs. Anton Charliyan, MPKN yang pada waktu itu menjabat sebagai Kapolwil Priangan dan KRAT. H. Derajat Hadiningrat selaku Pimpian Graha Limau Kencana. Tugu ini dikelilingi oleh sebuah kolam kecil dengan ukurna kurang lebih 80 cm, serta dikelilingi pagar besi kecuali di bagian depan. Pada bagian belakang tugu terdapat tembok yang menjadi batas dengan warga Sa-naga.
Dari depan Tugu Kujang Pusaka ini perjalanan berbelok ke arah kiri dan menaiki anak tangga yang terbuat dari batu bercampur semen dengan jumlah 11 anak tangga. Pada bagian kanan tangga terdapat plang selamat datang dengan tulisan “Wilujeng Sumping” yang berarti “selamat Datang” di Kampung Naga Kabupaten Tasikmalaya. Pada bagian bawahnya terdapat tulisan dengan aksara sunda yang maknanya kurang lebih sama. Plang ini terlihat sudah sangat usang pada beberapa bagian yang mengalami karat dan catnya sudah mulai mengelupas.
Perjalanan selanjutnya dengan menyusuri jalanan datar kurang lebih 50 meter, di bagian kanan dan kiri jalan terdapat beberapa rumah warga dan toko-toko kelontong yang menjual makanan dan minuman ringan. Di ujung bagian kiri tepatnya di sisi tangga yang menuju ke bawah terdapat mushola kecil bercat putih, mushola ini digunakan untuk shalat dan mengaji beberapa warga yang berada di sekitar lokasi parkir tersebut.
Untuk menuju lokasi Kampung Naga maka hanya ada satu jalan menuju ke lokasi yaitu dengan menuruni anak tangga yang berjumlah kurang lebih 400 anak tangga.  Anak tangga pertama berjumlah 11 anak tangga yang menyampaikan saya ke perempatan tangga. Jika belok ke kiri maka tangga kembali naik dan menuju bagian lain dari pemukiman warga di sekitar Kampung Naga, demikian juga jika lurus maka terdapat beberapa rumah warga dengan gapura bertuliskan  “Mangga 4”, kumpulan rumah ini adalah warga Sa-naga yang tinggal di luar perkampungan inti Kampung Naga, sehingga bangunan rumah mereka terbuat dari semen dan beratap genteng dan asbes.
Untuk menuju Kampung Naga maka dari perempatan ini kita belok kanan dengan menyusuri anak tangga menurun. Susunan tangga kedua ini berjumlah 30 anak tangga yang berujung pada batas setiap tangga berupa semacam anak tangga dengan panjang kurang lebih 2 meter. Anak tangga berikutnya yang berjumlah 17 anak tangga. Sampai di sini tangga tersebut ditandai dengan batas anak tangga dengan panjang kurang lebih dua meter. Pada anak tangga ke-10 setelahnya terdapat pula tangga menanjak yang mengarah ke pemukiman warga di bagian kiri tangga menunju Kampung Naga. Jumlah anak tangga ini adalah 44 anak tangga. Anak tangga berikutnya berjumlah 25 kemudian diselingi dengan batas anak tangga dan selanjutnya berjumlah 10 anak tangga.
Selanjutnya jalan kurang lebih 25 meter dengan lantai terbuat dari batu kerikil berukuran sedang yang ditanam sepajang jalan. Akkhir dari jalan datar ini adalah sebuah kios cenderamata dan sebuah rumah etnik yang sedang dibangun untuk dijadikan semacam café. Beberapa rumah yang berada di sisi kiri dan kanan tangga ini telah menggunakan listrik dan alat-alat modern. Pada beberapa lahan kosong terdapat pepohonan rindang selain juga beberapa pohon enau (kawung).
Tangga berikutnya menurun cukup curam dengan sungai sungai kecil mengalir di bagian bawahnya, sungai ini kurang lebih lebarnya dua meter dan menjadi salah satu sumber air bersih warga di sekitar Kampung Naga. Di sebelah kanan jembatan kecil di tepi sungai terdapat rumah warga yang menjual minuman dan makanan ringan. Di bagian tepi sungai kecil ini terdapat jalan setapak yang menghubungkan perkampungan di luar Kampung Naga.
Selanjutnya menuruni tangga curam yang berjumlah 5 anak tangga dan 24 anak tangga yang menyampaikan ke sebuah mushola di sebelah kiri jalan, sangat disayangkan sepertinya mushola ini kurang terawat, sementara di bagian depannya digunakan oleh warga untuk menjual kelapa muda. Jika kita berjalan keluar tangga ke arah kiri dan melewati depan mushola maka dari ujung dataran tinggi ini kita akan bisa meyaksikan panorama Kampung Naga dari kejauhan yang sangat eksotik. Bagi yang ingin mengambil gambar tempat ini semestinya tidak disia-siakan.
Berikutnya menyusuri tangga yang berjumlah 140 anak tangga, kali ini tangga tersebut sangat curam dengan bentuk hurus “S” yang menikung tajam, di sebelah kanan tangga masih terdapat satu rumah warga yang juga menggunakan listrik sementara di bagian kiri terdapat sebuah kolam penampung air yang tidak terurus. Akhir dari tangga yang menurun curam ini adalah sebuah belokan ke kanan yang landai, pada ujung tikungan terdapat bekas bangunan berupa pos yang telah dibongkar. Dari keterangan Kang Entang bangunan “saung” tersebut sengaja dirobohkan karena sering disalahgunakan oleh pengunjung terutama untuk berpacaran. Pada tikungan ini juga terdapat sebuah anak tangga yang sudah tidak digunakan terbuat dari campuran pasir dan semen, anak tangga ini mengindikasikan bahwa dulu tangga yang ada melewati anak tangga tersebut, namun karena dirasa terlalu curam dan dekat dengan tebing maka akhirnya arah tangga dinaikan ke atas. Dari tikungan ini juga lokasi Kampung Naga sudah terlihat jelas dan siap menyambut saya dan seluruh pengunjung yang datang.
Selanjutnya dari tikungan ini perjalanan berbelok ke kanan menyusuri tangga dengan jumlah 16 anak tangga kemudian jeda lalu 42 anak tangga dan terakhir 56 anak tangga. Ini adalah anak tangga terakhir menuju Kampung Naga, selanjutnya perjalanan menyusuri jalan desa dengan lebar kurang lebih 2 meter dengan susunan batu kali ukuran sedang dan tanah liat. Bagi yang ingin refleksi kaki tempat ini sangat cocok, karena itu disarankan jika sudah sampai di sini alas kakinya boleh dibuka. Pada ujung tangga juga terdapat sebuah tanda bagi selesainya pembangunan tangga. Di sini terdapat pula jalan setapak ke arah kanan menuju bendungan air dan sungai Ciwulan. jika dilanjutkan maka terdapat jalan setapak menuju perbukitan dengan menyeberangi sungai Ciwulan dengan jembatan beton lalu menyusuri tangga yang terbuat dari semen menanjak tepat di samping Leuweng (Hutan Larangan). Tangga ini menanjak melewati beberapa rumah warga dan jika berada di ujungnya maka akan bertemu ke jalan menurun ke arah Kampung Naga dengan mentas (menyeberangi) sungai Ciwulan dari arah yang berbeda.
Perjalanan berikutnya adalah menyusuri pinggir sungai Ciwulan yang airnya mengalir dengan tenang, pada musim kemarau air di sungai ini mulai berkurang jumlahnya. Berbelok ke kanan mata saya dimanjakan oleh pemandangan sungai yang menghampar di sebelah kanan, gemericik air yang jatuh dari tebing di ujung sebelah kana saya membawa pesona yang berbeda dengan suasana di tempat lainnya. Sejauh mata memandang yang terlihat adalah hijau yang berpadu dengan warna dasar coklat tanah khas pedesaan. Sementara memandang ke depan tampak Kampung Naga dengan susunan rumah yang tertata rapi dengan warna dominan hitam. Perjalanan menyusuri jalan kampung di tepi sungai Ciwulan berjarak kurang lebih 500 meter dan berakhir pada sebuah belokan ke arah kiri menuju wilayah pemukiman Kampung Naga.   
Memasuki Kampung Naga kita disambut dengan sebuah tanah lapang dengan dua buah rumah di bagian kiri dan tiga buah rumah di bagian kanan. Rumah Kuncen sendiri berada di bagian kiri nomor dua dari arah pintu masuk. Pandangan pertama ketika masuk selain adanya tanah lapang juga berdiri kokoh sebuah Masjid dan Bale Patemon yang saling berdampingan. Di sebelah kiri masjid terdapat lokasi bekas Leuit yang dipagari dengan bambu welahan. Berjalan menaiki sebuah tangga batu dan berbelok sedikit ke kanan akan menyampaikan ke Bumi Ageung. Bangunan ini adalah salah satu dari empat bangunan yang dikeramatkan dan tidak boleh diambi fotonya serta tidak sembarang orang bisa memasukinya. Bahkan warga Kampung Naga sendiri tidak bisa memasukinya.
Berdampingan dengan Bumi Ageung yang dibatasi oleh pagar Kandang Jaga  terdapat rumah penduduk. Di sebelahnya lagi terdapat bangunan yang disebut katarajuan yaitu sebuah bangunan yang digunakan oleh perwakilan dari Desa Jahiyang yang akan mengikuti Hajat Sasih. Bangunan ini juga termasuk yang tidak dipotret dari dekat. Jalan setapak yang berada di samping bangunan ini merupakan jalan menuju makam Eyang Sembah Dalem. Pada lokasi ini tidak sembarang orang boleh memasukinya atau memotretnya.


[1] Gapura ini dibangun oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Tasikmalaya bersamaan dengan dibangunnya lahan parkir bagi pengunjung Kampung Naga.
[2] Disebut Tugu Kujang Pusaka karena tugu ini memiliki bagian atasnya berupa kujang yang terbuat dari kurang lebih 900 pusaka yang berasal dari seluruh wilayah Pasundan.  

Rabu, 31 Oktober 2012

Hajat Sasih di Kampung Naga

Oleh : AM. Bambang Prawiro, MEI



Islam adalah agama universal, ia tidak tersekat oleh ruang-ruang sempit kebudayaan Arab atau Persia. Syariat-syariatnya akan senantiasa selaras dengan kondisi sosial kebudayaan manusia kapan saja dan di mana saja. Maka, ketika Islam dihadapkan pada sistem budaya yang jauh berbeda dengan induk semangnya, ia memberikan tempat bagi budaya tersebut untuk mengisi ruang-ruang yang selaras dengan esensi dari ajarannya. Pemberian ruang gerak bagi budaya lain juga tercermin dari Kaidah Fiqhiyyah yang telah dirumuskan oleh cendekiawan muslim yang terkenal dengan asas “Al-Adah Muhakammah” yaitu Adat kebiasaan menjadi bagian dari hukum Islam. (As-Suyuti : 1989)
Hal inilah yang mendasari penyebaran Islam ke seluruh penjuru dunia disambut secara baik oleh berbagai sistem kebudayaan yang ada. Bukti-bukti yang menguatkan hal ini adalah manakala Islam masuk ke Indonesia dengan konsep ajaran yang ramah terhadap budaya local, Islam telah memesona masyarakat Indonesia hingga mereka berbondong-bondong menerimanya. Tanpa meninggalkan esensi dari ajarannya, Islam telah melebur ke dalam budaya Indonesia hingga munculah Islam dengan citarasa Indonesia (Islam Lokal). Lebih jauh lagi Islam telah masuk dan berdialog dengan suku-suku bangsa yang ada di Indonesia dari Sabang di bagian barat hingga Merauke di ujung timur, hamper tida ada satu suku-pun di Indonesia yang tidak mengenal, menerima dan membaurkan Islam dengan budaya lokal mereka. (Soerjanto Poespowardojo : 1986)
Di antara suku bangsa di Indonesia yang telah lama bersentuhan dengan Islam adalah suku Sunda di Jawa bagian barat. Suku Sunda adalah kelompok etnis yang berasal dari bagian barat pulau jawa yang mencakup wilayah administrasi provinsi Jawa Barat, Banten, sebagian DKI Jakarta, dan sebagian Jawa Tengah. Di provinsi ini hampir terdapat barbagai suku bangsa yang ada di Indonesia. Suku Sunda menempati prosentase 65% sebagai penduduk asli dari berbagai suku yang ada di provinsi ini.Berbagai pandangan mengatakan bahwa suku Sunda menganut beragam kepercayaan (agama) diantaranya : Agama Sunda Wiwitan, dan agama Mei Kartawinata, yang sangat memegang teguh ajaran leluhurnya. Seperti halnya mengagungkan Dewi Sri. Salah satu tradisi yang mencerminkan terhadap adanya kepercayaan dan penghormatan terhadap tokoh Dewi Sri, dapat dilihat dalam sikap dan perlakuan masyarakat agraris Jawa dan Sunda terhadap padi.
Dari beberapa literature yang ada menunjukan bahwa Islam telah masuk ke Tatar Sunda pada abad ke-14 dengan berdirinya pesantren Syeh Quro  di Karawang. Selanjutnya, Islamisasi dilakukan oleh, Kesultanan  Banten dan Cirebon.  Kerajaan/Kesultanan Cirebon didirikan pada tahun 1482 oleh Syarif Hidayatullah yang lebih dikenal dengan Sunan Gunung Jati. (Nina Lubis : 2003)
Pertemuan antara Islam dan budaya Sunda melahirkan satu corak keislaman lokal yang sangat unik. Keunikannya terletak pada harmoni antara Islam dan budaya lokal yang teraplikasikan dalam kehidupan sehari-hari mereka, khususnya pada perayaan-perayaan keagamaan. Terjadi proses saling menerima, mengisi dan melengkapi antara Islam dengan budaya Sunda hingga muncul istilah Sunda Islam yaitu Islam dengan citarasa kesundaan.   
Di antara komunitas sub-kultur Sunda yang memiliki keunikan Islam lokal adalah masyarakat yang tinggal di Kampung Naga Tasikmalaya, Jawa Barat. Sebuah gambaran harmoni Islam dan budaya lokal yang sangat unik, dimana hingga kini masih dapat kita saksikan mereka telah memeluk agama Islam namun tida meninggalkan jati diri mereka sebagai Urang Sunda. Berbagai perayaan dan upacara keagamaan oleh masyarakat Kampung Naga dijadikan ritual sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus ibadah kepada Tuhan. Bentuk perayaan tersebut sejatinya telah dilaksanakan secara turun-temurun sejak leluhur mereka dahulu, bahkan sebelum mereka mengenal agama Islam. Hingga ketika Islam masuk ke Kampung Naga mereka menjadikan Islam sebagai bagian tidak terpisahkan dengan Darigama dan Adat Sunda. (Wawancara Kuncen Kampung Naga Bapak Ade Suherlin : 2012)
Beberapa perayaan keagamaan yang syarat dengan harmoni Islam dan budaya Sunda yang ada di Kampung Naga diantaranya adalah :
1.      Menyepi setiap hari Selasa, Rabu dan Kamis
2.      Perayaan Kelahiran Anak
3.      Perayaan Khitanan
4.      Perayaan Pernikahan
5.      Perayaan Kematian
6.      Perayaan Hajat Sasih setiap dua bulan sekali
Perayaan Hajat Sasih merupakan perayaan terbesar di Kampung Naga yang hingga saat ini masih dilaksanakan secara rutin setiap dua bulan sekali.

Kampung Naga : Awal Perkenalan

Oleh : Abu Aisyah


Mendengar nama Kampung Naga, terpikir dalam benak saya adalah satu kampung yang dihuni oleh seekor Naga atau minimal memiliki dongeng tentang Naga, seekor ular raksasa dengan empat kaki berkuku tajam dan semburan api dari mulutnya. Namun dari beberapa literatur yang saya baca dan hasil bertanya dengan beberapa teman yang berasal dari wilayah Jawa Barat khususnya wilayah Bandung, Sumedang, Tasik, dan Garut diketahui ternyata Kampung Naga adalah sebuah kampung adat yang telah ada sejak ratusan tahun yang lalu dan hingga kini masih tetap eksis memegang teguh adat istiadatnya.
Dari berita-berita yang saya dapatkan dalam bentuk potongan-potongan yang tidak utuh menjadikan rasa penasaran saya muncul untuk mengetahui lebih jauh tentang Kampung Naga. Rasa penasaran ini semakin terpatri dalam hati ketika saya mulai terjun ke dunia penelitian kurang lebih lima tahun lalu. Kebetulan obyek penelitian saya berkenaan dengan akulturasi Islam dan budaya lokal. Penelitian pertama saya mengenai Akulturasi Islam dan Budaya Jawa, kemudian Seren Taun Guru Bumi : Harmoni Islam dan Budaya Sunda, Kampung Urug : Dialog Islam dan Sunda Wiwitan, Bedug sebagai Media Informasi dan Komunikasi Masyarakat Pasundan, dan beberapa penelitian yang berkenaan dengan hubungan Islam dengan budaya lokal khususnya Jawa dan Sunda.
Dari beberapa penelitian tersebut, saya memiliki azzam untuk dapat meneliti seluruh komunitas adat yang ada di Tatar Sunda pada khususnya dan wilayah lainnya di seluruh Indonesia pada umumnya. Tentu saja pertimbangan geografis menjadi alas an kenapa memilih wilayah Pasundan. Hal ini pulalah yang semakin menguatkan keinginan saya untuk datang ke Kampung Naga guna mengetahui keunikan adat istiadatnya.
Pucuk Dicinta Ulampun Tiba, sebuah pepatah yang sangat sesuai dengan keadaan saya saat itu. Kebetulan saya mengajukan proposal penelitian untuk mengikuti Short Course Metodologi Etnografi yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Agama Islam Kementerian Agama Republik Indonesia dan Alhamdulillah, Proposal tersebut diterima dan saya bisa mengikuti short course tersebut kemudian akhirnya bisa mengunjungi Kampung Naga.
Kunjungan saya untuk pertama kalinya ke Kampung Naga adalah dalam rangka survey lapangan sebagai persiapan tugas akhir short course. Berangkat dari Tasikmalaya dengan teman-teman peserta short course menjadikan kunjungan perdana ini membawa kesan sangat mendalam. Pertama kali menginjakkan kaki di area parkir Kampung Naga saya disambut oleh para pemandu wisata dengan pakaian dan ikat kepala khas Kampung Naga, mereka sangat ramah dan memiliki dialek khas yang menambah minat saya terhadap Kampung Naga. Baru berjalan beberapa langkah, sebuah Tugu Kujang Pusaka berdiri kokoh menyambut setiap tamu yang datang. Sempat terbersit dalam benak saya kenapa harus Tugu Kujang Pusaka? Pertanyaan itu saya simpan dan menjadi PR untuk ditanyakan kepada para pemangku adat di Kampung Naga.
Kesan pertama mengunjungi Kampung Naga begitu menggoda, oleh karena itu tanpa ragu-ragu saya memutuskan untuk mengambil tema penelitian tentang Perayaan Hari Raya Idhul Adha di Kampung Naga. Tema ini saya pilih karena dekatnya waktu penelitian dengan hari raya tersebut serta pertimbangan bahwa hari raya Idhul Adha adalah hari raya yang berasal dari khazanah budaya Islam. Pertanyaan yang akan menjadi fokus penelitian adalah bagaimana perayaan hari raya Idhul Adha di Kampung Naga? Apakah sama dengan perayaan di wilayah lainnya? Apakah terjadi akulturasi dalam perayaan ini? Namun setelah melakukan wawancara dengan para pemangku adat di Kampung Naga serta diskusi dengan teman-teman short course akhirnya saya menambahkan tema penelitian tersebut dengan perayaan ritual Hajat Sasih lengkapnya adalah Studi Etnografi Perayaan Hari Raya Idhul Adha dan Hajat Sasih di Kampung Naga.
Namun lagi-lagi setelah wawancara dan meminta pendapat dari Kuncen Kampung Naga serta masukan dari pembimbing penelitian Prof. DR. Heddy Shri Ahimsa, MA, akhirnya saya memutuskan untuk melakukan penelitian hanya pada Ritual Hajat Sasih di Kampung Naga. Beberapa pertimbangan kenapa saya mengambil tema ini adalah karena Ritual Hajat Sasih merupakan ritual kuno yang telah dilaksanakan oleh masyarakat Kampung Naga secara turun-temurun sejak awal berdirinya kampung ini.
Jika mengutip pendapat Bapak Ade Suherlin sebagai Kuncen Kampung Naga maka sesungguhnya ritual Hajat Sasih telah dilaksanakan jauh sebelum kedatangan Islam. Maka ketika Islam masuk ke Kampung Naga dan masyarakat Kampung Naga menerima Islam, ritual ini masih tetap dipertahankan. (Wawancara dengan Kuncen Kampug Naga Bapak Ade Suherlin)  Dari pertemuan antara Islam dan budaya lokal inilah kemudian terjadi dialog, akulturasi dalam bentuk saling memberi dan menerima sehingga terjadi satu harmoni di antara keduanya.
Harmoni yang terjadi antara Islam dan budaya lokal didasarkan pada sifat dari keduanya yang terbuka dalam menerima budaya asing. Islam sebagai agama universal memiliki sifat senantiasa adoptif dengan kondisi sosial kebudayaan manusia kapan saja dan di mana saja. Sehingga ketika Islam dihadapkan pada sistem budaya yang jauh berbeda dengan induk semangnya, ia memberikan tempat bagi budaya tersebut untuk mengisi ruang-ruang yang selaras dengan esensi dari ajarannya. Pemberian ruang gerak bagi budaya lain juga tercermin dalam Kaidah Fiqhiyyah yang telah dirumuskan oleh para ahli hukum Islam yang dikenal dengan asas “Al-Adah Muhakammah” yaitu Adat kebiasaan bisa dijadikan bagian dari hukum Islam. (As-Suyuti : 1989). Budaya lokal di Kampung Naga yang dalam hal ini adalah budaya Sunda juga memiliki sifat yang sama, ia dengan mudah menerima unsur kebudayaan lain selama selaras dengan nilai-nilai dasar yang dimiliknya.
Dari wawancara yang saya lakukan dengan Punduh Adat Kampung Naga diperoleh informasi bahwa Ritual Hajat Sasih dilaksanakan sebanyak enam kali dalam satu tahun. Di antaranya adalah setelah pelaksanaan shalat Idhul Fitri dan Idhul Adha, penetapan kedua hari raya tersebut di Kampung Naga didasarkan kepada keputusan yang dilakukan oleh pemerintah Republik Indonesia. Penetapan ini didasarkan pada nilai filosofi yang mereka anut yaitu Darigama, nilai filosofi ini adalah berupa ketaatan terhadap hukum-hukum yang dibuat oleh pemerintah. (Wawancara dengan Punduh Kampung Naga Bapak Maun). 

Bukan Sibuk Tapi Terjadwal


Oleh : Abdurrahman



Sudah hampir sebulan blog ini tidak diisi-isi, tentu saja bukan karena malas atau sudah mulai bosan dengan dunia blog. Alasan sibuk enggak terlalu juga sih, yang pasti lebih banyak hal lain yang tidak memungkinkan untuk memposting tulisan. Mau tahu? Ini alasan saya kenapa lama tidak posting tulisan :
1.       Jaringan internet di rumah sudah hampir sebulan ini tidak aktif
2.       Acasra Short Course Etnografi yang berlangsung kurang lebih dua bulan memaksa saya untuk keluar kota
3.       Note Book saya error sudah dua kali, sementara komputer di rumah baru saja diinstal itupun belum nemu software untuk sound-nya
4.       Kegiatan kampus yang cukup padat... (ini bukan alasan utama)
5.       Kalau on line paling di warnet jadi ribet banget kalau harus posting tulisan
Sepertinya lima alasan itu sudah cukup untuk membuktikan kalau saya bukan sok sibuk tapi terjadwal,...cie.... tapi yang pasti ke depan saya inginnya blog ini bisa menjadi tempat curha t saya. Ada banyak hal yang ingin saya sampaiakan, dari hal-hal paling menyenangkan dengan prestasi saya selama ini hingga saat-saat sedih ketika harus berpisah dengan seseorang...uhukuk...uhuk.... saya orangnya emang agak-agak melankolis githu jadi kadang cepet sedih... nah loh khan jadi curhat kaya gini....
Oke deh buat teman-teman semua saya harapkan tetap semangat untuk ngeblog and menulis, tulislah semua hal yang bisa bermanfaat untuk diri sendiri ataupun orang lain. Sampai tulisan ini dibuat note book saya masih error dan belum bias pulih... terakhir mohon doa restunya ya... rencana 05-08 November ini saya mau berangkat ke Malaysia ada kegiatan Konferensi Internasional tentang Dunia Islam Melayu.... semanta semoga semua teman-teman sehat wal afiat.... Keep Istiqamah.