Selasa, 30 Mei 2017

Bara 212: Refleksi Jiwa Mengharap RidhaNya Bag. 02

Oleh: 
Abu Aisyah As-Silasafi... 

Sesampai di Stasiun Bogor, semakin membara semangat untuk memperjuangkan Islam ini, ternyata sudah banyak sekali berbagai elemen dari umat Islam yang akan menuju ke Jakarta. Sempat bersalaman dengan beberapa orang yang saya kenal, saya bersama dengan Abu Hani langsung menuju kereta. Saya terpisah dengan teman-teman karena mengikuti arah perjalanan Abu Hani yang akan bekerja di wilayah Jakarta Utara. Rencananya ia akan turun di Stasiun Tebet, sehingga saya berpikir keras untuk mencari jalan bagaimana cara menuju Stasiun Juanda agar mudah menuju Monas.  
Namun perbincangan yang kami lakukan di dalam kereta memunculkan solusi baru yaitu saya tetap turun di Stasiun Tebet dan ikut kendaraannya menuju Jl. Matraman Jakarta. Saya akan turun di perempatan Matraman atau Perpustakaan Nasional dan mencari mobil menuju ke Monas.
Sampai di Stasiun Tebet, saya mengikuti Abu Hani dan naik kendaraannya menuju Sunter, Jakarta Utara. Masih sempat terpikir untuk turun di Matraman karena saya anggap itu adalah hal yang paling mudah untk menuju Monas. Di tengah perjalanan saya terfikir untuk menghubungi seorang teman di Jakarta, Pak Harry namanya, ia pada aksi sebelumnya ikut serta. Alhamdulillah, beliau menjawab dan menyatakan juga dalam perjalanan menuju ke Monas. Rencana awal untuk turun di Jl. Matraman saya batalkan, karena perjalanan Pak Harry kebetulan lewat Jl. Pramuka.
Saya turun di depan Hotel Sentral Jl. Pramuka Jakarta Timur, setelah mengucapkan terima kasih, Abu Hani segera meluncur ke tempat kerjanya. Saya berhenti sejenak untuk melihat sekeliling, ternyata spirit hari ini benar-benar telah tampak di seluruh sudut Jakarta. Beberapa kelompok kecil dari umat Islam mulai bergerak dari arah Jl. Pemuda menuju Monas. Sekelompok anak usia sekolah berjalan dengan tertib menuju arah Monas, suara takbir mereka memberikan tambahan spirit 212 ke dalam jiwa saya.

Posisi saya berada di seberang jalan yang menuju ke Monas mengharuskan saya menyeberang jalan melalui jembatan penyeberangan. Saya sempat berdiri sejenak di atas jembatan penyeberangan. Lagi-lagi sekelompok kecil umat Islam dari arah Jl. Pemuda bergerak dengan penuh semangat melalui Jl. Pramuka, menuju arah Jl. Matraman dan wilayah Senen untuk menuju Monas. Kembali semangat ini menyala, beberapa kali saya menghubungi Pak Harry, beliau mengatakan bahwa sedang di perjalanan menuju Jl. Pramuka. Sambil mengabadikan beberapa kelompok umat Islam yang berjalan di sepanjang Jl. Pramuka saya berdiri di atas jembatan penyeberangan. 

Bara 212: Refleksi Jiwa Mengharap RidhaNya... Bag. 01

Bara 212: Refleksi Jiwa Mengharap RidhaNya
Oleh: Abu Aisyah As-Silasafi



Bara 212, Jum’at 02 Desember 2016. hari bersejarah untuk saya, sebuah hari yang penuh dengan cerita semangat dan perjuangan. Bagaimana tidak? Sebuah hari yang penuh dengan keistimewaan, dan momen untuk menge-charge kembali rasa keimanan, keislaman dan ukhuwah antar umat Islam. Sebuah hari yang saya yakin sekali akan menjadi sejarah besar khususnya bagi umat Islam di Indonesia dan juga dunia. Hari yang akan menjadi saksi di akhi nanti, tentang apa yang telah kita lakukan untuk kemuliaan Islam dan umatnya.
Kisah ini saya mulai dari cerita sehari sebelumnya, kordinasi dengan beberapa komunitas mahasiswa menghasilkan satu kesepakatan bahwa saya akan ikut rombongan kampus, saya sudah terdaftar sebagai peserta dan siap untuk berangkat. Namun menjelang malam muncul rencana lain, saya akan ikut dengan komunitas Asatidzah dari kampus atau dengan para pengajar di Yayasan. Kembali kordinasi dengan beberapa pihak itu saya lakukan, namun hingga menjelang malam tiba belum ada kesepakatan yang dijadikan pegangan. Saya berpindah ke rencana lainnya, berangkat sendiri dengan kereta dan turun di Stasiun Juanda Jakarta. Inilah pilihan terakhir setelah tidak ada titik temu berangkat dengan asatidzah di kampus dan membatalkan berangkat bersama dengan mahasiswa.
Bersama dengan Abu Hani, seorang teman yang bekerja di Astra Internasional Jakarta Utara, kami berangkat sebelum shubuh, tepat pukul 04.00 kami meluncur dari kaki gunung Salak Bogor. Dinginnya udara Bogor yang menusuk tulang tak menggetarkan saya untuk melangkahkan kaki menuju Jakarta. Sebuah awal perjalanan yang sangat bersejarah untuk saya.   

Saya dan Abu Hani shalat berjamaah masjid di Masjid Baitussalam wilayah Kota Batu, Kec. Ciomas, Bogor. Selesai shalat kami langsung meluncur ke arah stasiun Bogor. Satu rencana saya mengikuti aksi dan menjadi bagian dari sejarah umat Islam untuk memperjuangkan Izzul Islam wal Muslimin

Sabtu, 11 Februari 2017

Praktik Imbal Jasa Pada Masa Nabi Muhammad SAW dan Sahabat


Oleh: Abdurrahman Misno BP

Imbal Jasa dalam Islam
Islam adalah agama yang sempurna, ia telah mengatur seluruh sendi kehidupan manusia, termasuk dalam masalah Imbal Jasa. Ayat-ayat Al-Qur’an memberikan pedoman dasar dalam melaksanakan praktik imbal jasa, sementara hadits-hadits Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam yang mulia memberikan contoh nyata praktik pelaksanaan imbal jasa yang sesuai dengan Islam.
Sebelum membahas lebih mendalam mengenai imbal jasa dalam Islam, maka marilah kita perhatikan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi yang menunjukan kesempurnaan Islam dalam mengatur seluruh sendi kehidupan manusia. Allah ta’ala berfirman: 
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ
Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. QS. An-Nahl: 89.
Ayat ini menunjukan bahwa Al-Qur’an telah diturunkan dengan membawa penjelasan dalam semua hal, baik yang bersifat aqidah, ibadah ataupun Muamalah. Termasuk dalam masalah imbal jasa. hal ini dikuatkan kembali oleh sabda dari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam:
عَنْ أَبِى ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: تَرَكَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا طَائِرٌ يَطِيْرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلاَّ عِنْدَنَا مِنْهُ عِلْمٌ
Dari Abu Dzarr ra., beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah pergi meninggalkan kami (wafat) dan tidaklah seekor burung pun yang terbang dengan kedua sayapnya melainkan kami memiliki ilmunya. HR. At-Thabrani dan Ibnu Hibban.
Merujuk pada ayat dan hadits-hadits yang berkaitan dengan kesempurnaan Islam, maka dapat disimpulkan bahwa Islam mengatur seluruh sendi kehidupan manusia. Termasuk dalam managemen imbal jasa. Maka tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk berpaling dan menolak aturan Islam dalam masalah ini.



Soal Ekonomi Islam


Oleh: Abdurrahman Misno BP

1.    Islam adalah agama yang sempurna, kesempurnaannya mencakup seluruh sendi kehidupan manusia termasuk dalam masalah ekonomi. Apa saja sumber hukum ekonomi dalam Islam?
2.    Ekonomi Islam adalah ekonomi yang adil karena datang dari Alah Ta’ala, apa saja karakteristik dari ekonomi Islam?
3.    Salah satu dari jual beli yang diharamkan dalam Islam adalah bai’ najasy, apa yang dimaksud dengan bai’ najasy berikan contohnya!
4.    Islam mengharamkan riba secara jelas dalam QS. Al-Baqarah: 273, Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa mengenai haramnya bunga bank sebagai riba. Kenapa Bungan bank termasuk riba yang diharamkan?

5.    Bapak Ahmad memberikan iuran pada perusahaan asuransi sebesar Rp. 250.000,- . Pihak asuransi akan memberikan klaim sebesar Rp. 100.000.000,- jika Pak Ahmad meninggal dunia. Bagaimana hukum asuransi ini dalam Islam? 

Tugas Pemimpin dalam Islam



Pada prinsipnya menurut Islam setiap orang adalah pemimpin. Ini sejalan dengan fungsi dan peran manusia di muka bumi sebagai khalifahtullah, yang diberi tugas untuk senantiasa mengabdi dan beribadah kepada-Nya

"Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah". (Al-Anbiya’: 73)

"Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami". (As-Sajdah: 24)

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau bapak ibu dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau miskin, Allah lebih mengetahui kemaslahatan keduanya”. (Qs. An-Nisa; 4: 135)

“Hai orang-orang yang beriman! Tegakkanlah keadilan sebagai saksi karena Allah. Dan janganlah rasa benci mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena itu lebih dekat dengan taqwa…” (Q.s. Al-Maidah 5: 8)

"Sesungguhnya Allah 

Minggu, 05 Februari 2017

PERPSKETIF ISLAM ATAS LAYANAN PRIORITY BANKING PADA PT. BANK SYARIAH MANDIRI CABANG BOGOR


Abdurahman Misno Bambang Prawiro
Ketua Program Studi Muamalah STEI TAZKIA Bogor
drmisnomei@tazkia.ac.id
Yaser Taufik Syamlan
STEI Tazkia Bogor


Abstrak
Kebutuhan akan layanan perbankan syariah yang lebih fleksibel menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi oleh perbankan syariah di Indonesia. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menerbitkan produk priority banking bagi nasabah yang memiliki dana lebih rata-rata diatas Rp. 500.000.000- (lima ratus juta rupiah). Data yang dikumpulkan menunjukan bahwa persentasi nasabah prioritas mendominasi Dana Pihak Ketiga di perbankan di Indonesia. Layanan ini ditawarkan baik oleh Bank Konvensional maupun Bank Syariah yang mencakup layanan dasar, wealth management dan special gift. Layanan priority banking yang ada pada perbankan syariah terindikasi merupakan intifa’ yang merupakan riba dalam Islam. Metode penelitian yang digunakan dalam peneilitan ini adalah normative legal studies dengan analisis menggunakan ushul fiqh untuk mengidentifikasi ada tidaknya riba dalam layanan priority banking pada Bank Syariah Mandiri (BSM) cabang Bogor. Data diperoleh melalui teknik wawancara dan interview langsung. Hasil penelitian ini adalah bahwa terdapat 3 jenis layanan Priority Banking yang ditawarkan kepada Nasabah baik dari simpanan dengan akad wadiah ataupun mudharabah yaitu Layanan Keuangan, Layanan Non Keuangan, dan Program Spesial bagi Nasabah Priority Banking. Ketiga layanan tersebut dibiayai sendiri dari kas internal BSM. Dalam hal ini, penelitian ini menyimpulkan bahwa bagi layanan yang menghasilkan manfaat dengan sifat materiil yang mempunyai akad Wadiah maka itu merupakan riba. Namun apabila yang menghasilkan manfaat dengan tersebut immaterial maka ia bukan riba dana dapat diteruskan. Rekomendasi dari penelitian ini adalah hendaknya pihak BSM merubah jenis akad yang digunakan sehingga terbebas dari riba dalam hutang-piutang dan memperbanyak produk investasi karena itu lebih dibutuhkan oleh Nasabah.


Key Word: Priority Banking, Bank Syariah Mandiri, riba, intifa’ dan layanan tambahan.

Senin, 28 November 2016

Gema Adzan di Tatar Pakuan


Oleh: Abdurrahman Misno BP

Allahu Akbar, Allahu Akbar” kadenge suara nu aneh tina kajauhan, Sabda Prana, micingkeun mata, awakna masih keneh karasa lunges, nangkarak di bale-bale tengaheun imah. Dina hatena kapikiran, “Esuk-esuk kiyeu saha nu tos gogorowokan kitu, kakarak ayeuna aya sora kitu, ti baheula Dayeuh teuh tenang mun isuk-isuk. Teu aya suara nanaon iwal simeut jeung jangkrik ti arah sisi Ciliwung, mun tos lingsir mah sora kotok ti handapeun imah ngahudangkeun jelma.
Sabda Prana hudang, langsung ka sisi Cisadane mawa lodong bari culak-cilek neangan iketna rek sarawu.
“Laa ilaha Illallah…” sora eta masih keneh kadenge, malah jelas pisan arah na di lebah kaler leuweng Samida arah ka Bantarjati.  
Tos ti cai, sabda prana langsung langsung nyokot kujang nu aya di selipan sasag, manehna emut poe iyeu aya pagawean di huma nu kudu diberesan. Usum haludu iyeu rada panjang jadi kudu rajin nagduruk jeung ngabersihan sesa-sesa tatangkalan nu tos dituar kamari.   
Panon poe kakarak ketempo konengna di palih wetan, ketempo endah pisan di sela-sela tatangkalan sisi Cisadane. Di lebah wetan rada ka kidul jelas pisan Sri Bima Punta Narayana Sura Dipati tegep nangtung di luhureun pasir. Arah ka kidul, gunung Buleud ajeg dikurilingan ku halimun.
Teu aya sasaha di imahna, nu aya di sisi kali Cisadane, ngan Sabda Prana sorangan. Akina teu acan lila maot di Kalapa perang ngalawan pasukan ti wetan. Ayeuna Sabda Prana hirup sabatang kara, sapopoe pagaweanana ka huma nu jarakna kurang leuwih 5 KM ka arah kidul sisi gunung Buleud.
Saatos mentas kali Cisadane, Sabda Prana nurutan jalan satapak ka arah kidul, isuk masih rada poek ngan kusabab tos biasa, manehna jalan lempeung ngaliwatan pahumaan. Sababaraha kali manehna kapendak jeung urang dayeuh nu sarua rek arangkat ka huma.
Sanajan awak bari jalan ka huma, ngan pikiran teh masih keneh kaemutan sora nu isuk-isuk tadi kedenge ti arah belah kaler “Asa-asa teu jauh ti arah leuweng Samida, ka belah kaler”. Bari ngalamun mikiran eta sora, Sabda Prana neupi ka hujung lembur Nyalindung.
“Sampurasun, Jang Sabda, eh kunaon ngalamun kitu” ujug-ujug aya aki-aki di hareupen manehna.
“Ra….ra… rampes Ki” bari sasalaman jeung sungkem ka si Aki nu make acuk bodas jeung iket bodas mawa ietuk kai Kaboa.
“Nembe ti mana ki, isuk-isuk tos ti gunung” Sabda nanya ka aki-aki tadi.  
“Maneh teuh tos poho, pan biasa Kami mah ti karamat Gunung Buleud” ceuk aki tadi bari ngajakan Sabda Prana diuk di handapeun tangkal campaka di sisi jalan.
“Aki rek ngomong ka maneh Sabda” si Aki ngaluarkuen tangkal kawung nu biasa dihiseup.
“Kiyeu, jaman teh ayeuna tos mulai robah, maneh kudu sadar jeung ngarti” ceuk si Aki
“Meksadna naon Ki” baru ngageser diukna ngadeketan si Aki
“Maneh mah teu ngarti wae, mentak hirup teh tong di huma wae” suara si Aki rada tinggi bari ngalepus daun kawung.
“Esuk pageto Dayeuh Pakuan bakal robah, duka Aki ngalaman atanapi heunte ngan maneh mah bakal ngalaman, aya ageman anyar ti kulon anu ngajakan urang nyembah ka Sang Hyang Tunggal. Ngan maranehna nyebatna Allah”
Sabda Prana mikir dina jero hati “Allah…?, eta sarua jeung sora anu gogorowakan isuk tadi”.
“Sakalian Aki, kami ge rek nanya, ari sora nu ayeuna kadenge ti belah kaler eta sora naon?” panasaran pisan asa-asa Sabda Prana ngadagoan jawaban ti si Aki.
“Aki ge teu nyaho, ngan ceuk Rakeyan Jaya Antea nu tos asup kana eta ageman, eta tanda ekeur urang Islam tos asup waktu sembah Hyang”.
“Kitu nya Ki”  Sabda Prana pursa-pura ngarti kana eta omongan si Aki.
“Punten Aki, panon poe tos moncorong, kami rek ka huma engke nyambung deui mun kami balik ka Dayeuh.
“Sok lah Sabda Prana, ngan ku maneh emutan. Lamun eta agama tos sumembar di Tatar Sunda bakalan jadi jalan ekeur urang Sunda ngahontal kabagjaan anu saleresna” laju kaduana sasalaman, si Aki leumpang ka arah Dayeuh, samentara Sabda Prana ka arah huma sisi gunung Buleud.
Bari leumpang Sabda Prana mikiran deui sora nu esuk-esuk tadi jeung wasiat si Aki tadi. Kapikiran kumaha engke 100 taun atawa 1000 tahun deui Dayeuh Pakuan, ayeuna wae masyarakatna tos leuwih 50.000, kumaha 100 tahun deui. Teu kapikiran pisan ku Sabda Prana, kalanjutan carita dayeuh iyeu, nu kapikiran mah pesen ti Akina baheula “Maneh ulah pipiluen pulitik, cukup aki wae nu jadi prajurit. Maneh mah ayeuna gawe wae di huma, ulah kabawa-bawa pitnah nu aya di Tatar Sunda iyeu, komo kabawa kapentingan kakuasaan nu lobana ngabawa-bawa ageman.” Eta pesen ti Akina wektos uih ti Tarum sateacan ka Kalapa.
Dina umur 25 taun Sabda Prana rajin pisan ngahuma, lega humana ti sisi gunung Buleud lebah kaler neupi ka arah Cipinang Gading. Memang manehna teu mikiran naon kajadian nu aya di Kalapa, di Sumedang atanapi di Caruban. “Nu aya mah ngan pasea keur kapentingan pulitik kekuasaan. Laju, agama dibawa-bawa, padahal mah agama pan ngajaran kahadean ka jelma. Lamun aya agama nu ngaruksak ejeung musuhan batur eta mah lain agamana ngan jelmana hungkul” eta pesen Akina nu kaeinget jeung jadi cecekelan hirup. Sabda Prana yakin pisan, mun urang haying hirup bagja, kudu hade ka batur sanajan beda agama ge pan eta ge makhluk Sang Hyang. ambp


Gue Ga Galau…


Oleh: Misno Sahaja

Loe pasti udah sering banget denger istilah ini, atau jangan-jangan loe yang baca tulisan ini juga lagi galau? Yup…  take it easy… santai aja. Emang yang namanya hidup pasti banyak banget cobaannya, apalagi kalau masih jomblo kaya’ gue (ngaku…). Oke Bro’ gue mau ngomongin tentang galau, sebenarnya udah bosen banget gue ngomongin makhluk yang satu ini, tapi ya gimana lagi virus ini cepat menyebar dan terus berulang kali datang. Bahkan datang tidak diundang, terus kagak mau pulang-pulang. Gue juga harus jujur sama loe kalo gue juga beberapa kali ngalamin yang namanya galau, ga sampai tingkat dewa sih, cuman tingkat 101 aja. Tapi sempet bikin gue nelangsa… (sad bro…), kok jadi curhat gene sih….? Sorry lagi baper,…

Kembali ke taufik…. (topik maksudnye…) loe yang pernah ngalamin galau, atau emang yang lagi galau pasti deh perasaannya ga enak banget khan? Dada sesek, hidup terasa hampa  

Galau??? Aktivis juga manusia Bro…


Oleh: Ibnu Mohammad


Matahari yang bersinar mendekati ubun-ubun kepala benar-benar membakar wilayah Bogor bagian pojokan. Dua orang mahasiswa tampak sedang serius ngobrol, mereka duduk di teras masjid bagian timur. “Loe yang aktifis dakwah aja bisa galau mad, apalagi gue”, kata si Bimo sama Ahmad di depan sebuah masjid mewah di kawasan Sentul City. “Gue juga manusia Bro…, masih Jomblo lagi“ jawab Ahmad pelan sambal duduk di rerumputan depan masjid itu. Mereka berdua ngobrol ngalor-ngidul, biasa masalah anak muda semester awal.
Tapi bener ga seeh, kalau aktivis juga bisa galau?, sampai tingkat dewa segala lagi. Yoi bro… gue mau ngomongin penyakit kronis nyang satu ini  Galau, walaupun gue juga udah sempet nulis di blog gue www.majelispenulis.blogspot.com judulnya “Galaulogi” liat yee…
Oke kite balik lagi ke masalah galau, perasaan di Ahmad tu sebenarnya wajar aje, namanya juga manusia pasti dong ga mungkin hepi terus. Lagian kalo hepi terus enak banget dunia ya… ? kagak ada sengsara, dunia milik berdua yang lain ke laut aja. Kaga ada lah ya…. Namanya idup pasti deh banyakan ga enaknye. Ga percaya? Coba aja tanya diri loe sendiri. Emang enak hidup di dunia? Susah bro… hidup itu pitnah…
And then… ternyata neeh loe kudu pada tau yang namenye galau tuh bukan cuman diderita sama orang-orang yang kagak punya iman. Justru neeh yang paling banyak dari orang-orang yeng beriman dan bertakwa kepada Allah ta’ala. Benar ga? Kagak percaya coba aja baca kalamNya yang mulia, loe bakalan paham ternyata neeh semakin beriman seseorang cobaannye semakin kenceng Bray… ibarat kalau iman kita pas-pasan paling yang datang setan kelas teri, yah digoda ama yang cetek-cetek aja udah klenger. So… buat yang merasa imannye udah pada tinggi-tinggi, loe kudu siap-siap. Kalau kata pepatah sih semakin pohon itu tinggi, semakin kencang hembusan angina. Ya gak? Kalau gak gue paksa aja ya…
So… kalau ada orang yang beriman kaya aktifis dakwah atau ustadz sekalipun galau itu wajar, itu adalah cobaan dan ujian. Semua itu buat nguji loe apakah bener iman loe apa cuman ikut-ikutan… nah, bedanya neeh, kalau orang beriman tu pas lag galau bisa menyikapi dengan bijaksana dan bijaksini. Artinya ia paham banget kalau perasaan galau itu adalah cobaan dari Allah ta’ala, sehingga menyerahkan semuanya hanya kepadaNya… beda banget khan sama orang yang ga beriman atau imannya kurang, galau dikit mereka jalan-jalan ke tempat yang ga bener, karaoke lah, pantai lah atau na’udzubillah ke tempat-tempat maksiat lainnya. So, buat loe yang aktifis dakwah, kudu smart dalam menyikapi kegalauan ini., Si Ahmad sendiri juga cuman sebatas curhat sama temennya, setelah itu mengembalikan semuanya kepada Allah ta’ala. Hanya dengan mengingat Allah ta’ala hati ini akan tenang, hidup jadi mudah dan galau…. Ma’asalamah.

Kaki Gunung Salak, 28 Nopember 2016

Ibnu Mohamad