Rabu, 03 November 2021

SURAT UNTUK SAHABAT: SEMANGAT, SEMANGAT DAN SEMANGAT

 Oleh: Abd Misno



Saya menulis artikel ini untuk seorang sahabat di seberang samudera sana, sebuah surat yang menggambarkan sebuah persahabatan yang penuh dengan lika-liku dunia; suka dan duka, bahagia dan sengsara bahkan dosa dan pahala silih berganti mewarnai persahabatan ini. Sebuah persahabatan yang entah dari mana dimulai, media sosial, pertemanan atau memang takdir yang menentukan. Bisa jadi ini adalah persahabatan yang lillah, walaupun terkadang berubah menjadi toxic relationship karena sifat manusia yang selalu salah dan lupa. Waktu yang akan memberikan jawabannya dari persahabatan ini.

Sahabat, dunia ini memang penuh dengan pesona, seringkali ia hadir dan menjadi sebuah karunia. Namun tidak jarang menjadi bala dan nestapa bagi para penghuninya. Ketampanan rupa, kecantikan raga dan indahnya jasad manusia adalah satu di antara pesona dunia. Ia memang indah dalam pandangan manusia, karena fitrahnya memang menyukai semua hal yang nyaman di mata. Tentu saja, pesona raga ini tidak selamanya menjadi anugerah, bahkan banyak fakta menjadi bala dan musibah. Tidak hanya bagi yang salah dalam memaknainya, namun juga bagi para pemiliknya.

Banyak cerita dari kawan dan kolega, yang memiliki raga “sempurna” namun menjadi fitnah dan cobaan dalam hidupnya. Karena sebab pesonanya ia mengalami berbagai bencana yang biasanya karena hawa manusia. Kita memandang seolah-olah Bahagia Ketika memiliki raga memesona, padahal nyatanya mendatangkan bala dan ketidaknyamanan bagi yang empunya. Belum lagi sifat durjana pemiliknya yang lupa bahwa hakikatnya raga yang memesona itu adalah milik dari Sang Pencipta semesta. Maka bersyukurlah dengan raga “sempurna” yang ada, menggunakannya untuk selalu dalam lindungan syariahNya.

Setelah raga sempurna, keluarga menjadi karunia yang luar biasa. Pasangan yang sholeh atau sholehah, anak keturunan yang selalu berbakti pada orang tua hingga tetangga yang selalu melaksanakan hak-haknya dalam beragama. Semua itu adalah karunia yang tidak semua orang dapat merasakannya.

Pekerjaan yang layak dengan pendapatan yang cukup juga merupakan karunia tidak terhingga, rizki yang telah ditetapkanNya pada kita mengalir atas kehendakNya. Hingga kita tidak merasakan lagi kekurangan atau kesulitan dalam memenuhi kebutuhan, beryukur adalah kuncinya. Karena di luar sana banyak sekali orang yang dengan susah payah mencari pekerjaan, kekurangan pendapatan karena gaji yang tidak dapat mencukupi kebutuhan dirinya serta keluarganya. Banyak di luar sana orang-orang yang dengan terpaksa mengais makanan di tempat sampah, atau makan-makanan yang haram karena kurangnya pendapatan.

Sahabat, rupa yang memesona, keluarga sejahtera dan pendapatan yang ada adalah sebagian dari karunia Allah ta’ala yang harus kita syukuri. Tidak semua orang dapat merasakan ketiganya secara bersama, sehingga Kembali memikirkan atas segala nikmat tersebut adalah hal yang harus dilakukan selalunya. Jika kemudian muncul rasa gundah gulana, rasa tidak nyaman di dada atau rasa malas menghampiri di jiwa maka segeralah mengingat Kembali semua karunia yang ada, bersyukur atasnya dan memanfaatkan di jalanNya.

Jika rasa malas melanda, maka ingatlah banyak di luar sana orang yang akhirnya sengsara hidupnya karena kemalasannya. Mereka rugi, tidak hanya di dunia namun juga di akhirat sana. Penyakit malas telah menjadikan seseorang itu menajdi pencundang yang terkalahkan oleh para pemenang, bahkan oleh dirinya sendiri. Maka, Kembali luruskan niat kita, nikmati prosesnya dan fokus pada tujuan yang ada. Jika rasa malas karena lelahnya raga, maka beristirahatlah sejenak, kumpulkan tenaga untuk kembali membuat sebuah maha karya. Tapi bila malas itu karena hawa dan godaan sang durhaka, maka segeralah berdoa kepadaNya “Ya Allah.. aku berlindung dari sifat malas… “ kemudian kuatkan keinginan, bulatkan Azzam, melangkah ke depan dan yakin masa depan tidak akan diraih dengan kemalasan.

Sahabat, tetaplah bersemangat karena akhirat itu sangat dekat, bahkan dunia ini sudah mulai sekarat, hingga kita lihat begitu banyak menyebar dosa dan maksiat. Terus perbaiki diri, walau itu berat di hati, tapi teruslah berlari hingga sampai di ujung negeri, di sana menanti tempat abadi yaitu surga dan keridhaan Ilahi.

Aku bukan pemberi nasehat yang baik, karena mungkin aku juga sering lupa, tapi marilah bersama bergandengan tangan menuju negeri ampunan semoga di sana kebahagiaan akan menjelang. Sahabatmu, Bogor 03 Nopember 2021.  

MEMAKNA MODERASI BERAGAMA

Dr. Abd Misno, MEI

Direktur Program Pascasarjana INAIS Bogor


Saat ini kita sering sekali mendengar istilah moderasi beragama, kata ini menjadi semacam campaign (kampanye) dalam kehidupan beragama khususnya di Indonesia. Apabila kita menelisik lebih jauh sejatinya hakikat dari moderasi beragama dalam Islam sudah dijelaskan secara detail yaitu dalam QS. Al-Kaafirun: 6, Allah Ta’ala berfirman “Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku".  Lantas bagaimana sejatinya memakna moderasi beragama yang saat ini menjadi istilah yang banyak dijumpai di Indonesia?    

Istilah “moderasi” berasal dari Bahasa Inggris yaitu kata “moderation”, yang bermakna sikap sedang dan tidak berlebih-lebihan. Kita mengenal istilah “moderator”, yang bermakna ketua (of meeting), pelerai, penengah (of dispute). Secara lebih luas moderator dipahami sebagai orang yang bertindak sebagai penengah (hakim, wasit, dan sebagainya), pemimpin sidang (rapat, diskusi) yang menjadi pengarah pada acara pembicaraan atau pendiskusian masalah, alat pada mesin yang mengatur atau mengontrol aliran bahan bakar atau sumber tenaga. Kata moderation berasal dari bahasa Latin “moderatio”, yang berarti ke-sedang-an (tidak kelebihan dan tidak kekurangan). Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan kata “moderasi”  dengan penghindaran kekerasan atau penghindaran keekstreman.

Istilah untuk moderat atau moderasi dalam Bahasa Arab adalah washattiyah yang bermakna pertengahan. Ibnu Faris dalam karyanya Mu’jam Maqayis al-Lughah, memaknainya dengan sesuatu yang di tengah, adil, baik, dan seimbang. Dalam bahasa yang umum digunakan dalam keseharian kita hari ini, wasathiah seringkali diterjemahkan dengan istilah moderat atau bersikap netral dalam segala hal. Terminologi wasath -atau dalam bentuk Sifat musyabbahah-nya dibaca wasith ini- kemudian diadobsi oleh bahasa Indonesia dengan sebutan “wasit”, yaitu orang yang menengahi sebuah pertandingan antara dua kubu atau kelompok dalam sebuah pertandingan sepakbola, voli dan lain sebagainya.

Apabila istilah moderasi digabungkan dengan agama dan sikap dalam beragama maka menjadi moderasi beragama yang bermakna “Sikap mengurangi kekerasan, atau menghindari keekstreman dalam praktik beragama”. Istilah ini merujuk kepada sikap dan upaya menjadikan agama sebagai dasar dan prinsip untuk selalu menghindarkan perilaku atau pengungkapan yang ekstrem (radikalisme) dan selalu mencari jalan tengah yang menyatukan dan membersamakan semua elemen dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara, dan berbangsa Indonesia.

Istilah ini memang sangat indah untuk didengar, dan secara teoritis begitu elegan, yaitu dalam beragama kita tidak boleh terlalu “ekstrim” baik ke kiri ataupun ke kanan. Apalagi dalam konteks keindonesiaan yang multi kultur dan plural, moderasi menjadi sebuah keniscayaan menurut mereka. Namun, benarkah yang dimaksud moderasi beragama adalah demikian? Atau jangan-jangan juga terjebak ke dalam pluralism agama yang memunculkan keyakinan semua agama adalah sama?

Islam sejak awal kehadirannya telah memberikan pedoman dalam beragama, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam QS. Al-Baqarah: 143 “Dan demikian pula Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) sebagai umat pertengahan agar kalian bisa menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian”. Makna dari ummatan washatan adalah umat yang pertengahan, tidak condong kepada ekstrim kiri ataupun ekstrim kanan, yaitu berpegang teguh pada wahyu Allah ta’ala. Tentu saja makna ekstrim sendiri juga perlu didefinisikan dengan benar, karena banyak orang yang men-cap ektrim seseorang padahal sejatinya dia berpegang teguh kepada syariat Islam yang hanif.

Merujuk pada ayat dalam QS. Al-Baqarah: 143, dipahami bahwa Islam telah memberikan seperangkat aturan wahyu yang bersifat washatan (moderat) atau pertengahan, yaitu tidak berlebih-lebihan dan tidak pula menyepelekan. Konteks ayat ini tentu saja terkait dengan kisah Nabi Isa alaihisalaam, di mana kaum Yahudi berlebih-lebihan dengan menganggap Nabi Isa adalah anak hasil perzinahan, sementara kaum Nashrani berlebih-lebihan dengan menyatakan Nabi Isa adalah anak Tuhan. Maka, Islam berada di antara keduanya, yaitu Nabi Isa adalah anak dari perawan suci Maryam dan sebagai nabi dan rasulNya.

Selain ayat tersebut, masih banyak lagi ayat dan hadits yang memerintahkan kita untuk beragama dengan tidak berlebih-lebihan. Misalnya sabda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam Wahai manusia, jauhilah oleh kalian sikap terlalu berlebih-lebihan (melampaui batas) dalam beragama.! Karena sesungguhnya (hal) yang menghancurkan umat sebelum kalian adalah lantaran sikap terlalu berlebih-lebihan dalam beragama. H.R. Ibnu Majah. Hadits ini secara jelas memerintahkan kita untuk tidak berlebih-lebihan dalam beragam, dengan istilah lain hendaknya kita beragama sesuai denga napa yang telah Allah Ta’ala tetapkan di dalam kitabNya dan dalam sunnah Nabi-Nya yang mulia.

Kembali kepada makna moderasi beragama, sejatinya Islam telah sempurna dan lengkap sebagaimana firmanNya “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu”. QS. Al-Maidah: 3. Merujuk pada ayat ini maka Islam sudah sempurna, mengatur seluruh sendi kehidupan manusia termasuk dalam sikap beragama. Baik sikap beragama secara individual, komunal dan kemasyarakatan. Demikian pula sikap beragama dengan sesame Islam serta dengan pemeluk agama lainnya, Islam telah mengatur semuanya.

Moderasi beragama yang saat ini berkembang sejatinya hanya sebuah slogan untuk memperbaharui Syariah Islam yang sejatinya sudah sempurna. Semacam upaya mengingatkan Kembali kepada umat Islam bahwa Islam sudah sejak awal sudah toleran dengan semua agama. Tentu saja pedoman umat Islam dalam hal ini adalah firmanNya dalam QS. Al-Kaafirun: 6, Allah Ta’ala berfirman “Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku". Ayat ini sudah sangat jelas, toleransi beragama dalam Islam adalah membiarkan umat lain untuk beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaan mereka.

Jika moderasi beragama saat ini justru kebablasan atau memang disengaja dengan memaknainya dengan menghormati agama lain hingga menganggapnya sebagai sebuah kebenaran. Ini tentu sebuah kesalahan, karena bertentangan dengan ayat yang mulia “Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam.” Demikian pula jika moderasi beragama kemudian mencampuradukan antara Islam dengan agama dan kepercayaan lainnya maka ini adalah salah satu dari pemikrian pluralisme dan liberalisme agama di mana memaksakan satu agama dalam hal ini Islam untuk melebur dengan agama dan kepercayaan lainnya.

Maka, kesimpulannya adalah bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar tidak boleh setiap muslim meyakini ada kebenaran dalam agama lain. Namun, sebagai muslim kita juga harus menghormati agama dan kepercayaan orang lain dengan tidak mengganggu mereka untuk beribadah. Inilah sejatinya Islam, yang menjadi rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil’alamiin). Pagi cerah di Kota Hujan, 03112021

Jumat, 15 Oktober 2021

Makanlah dari Hasil Pekerjaan yang Halal

Oleh: Abd Misno


Tidak dapat dipungkiri bahwa zaman ini adalah zaman penuh dengan fitnah, beraneka ragam kemaksiatan bertebaran di berbagai Kawasan. Manusia sudah banyak yang tidak lagi memperhatikan agama, sehingga tidak lagi memedulikan sesuatu itu haram atau halal. Demikian pula dalam usaha mendapatkan uang, berbagai cara dilakukan untuk memenuhi kebutuhannya hingga tak lagi memperhatikan itu itu dari sumber yang halal atau yang halal. Adanya kebutuhan manusia yang mendesak memang sering menyebabkan mereka melakukan berbagai hal yang diharamkan, ada pula yang karena suatu ketidakpahamana hingga mereka terjebak dalam hal-hal yang haram. Berikutnya mereka yang memang tidak lagi peduli dengan segala sesuatu mau haram atau halal akan mereka lakukan.

Kejadian pada Ahad, 10 Oktober 2021 menjadi bukti dari hal ini. Awalnya kami membuat sebuah webinar dengan tema “Halal Haram Ekonomi Kontemporer: Hedging Syariah dan Hybrid Contract”, Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar dengan peserta melebih kuota Zoom yaitu 100 partisipan. Hingga acara selesai tidak ada kendala sama sekali, hingga Ketika sore hari pihak panitia menelepon saya dan mengkhabarkan ada seorang yang awalanya ingin menjadi peserta kemudian meminta pers release dari acara tersebut. Orang tersebut kemudian mempublish tulisannya di salah satu media online yaitu www.patriotnews.com . tanpa rsa bersalah kemudian orang tersebut mengirim pesan melalui Whatapps yang isinya meminta uang karena beritanya sudah dimuat di media online-nya.

Permasalahan utama adalah karena tidak ada kesepakatan awal, bahkan tidak ada pembicaraan sama sekali dengan orang tersebut. Awalnya ia hanya mendaftar untuk ikut acara, kemudian setelah selesai acara malah dia minta pers release dari panitia. Setelah dibuatkan dan dikirim kemudian dia muat di media-nya tanpa merubah sedikitipun dan menggunakan namanya. Tentu saja ini membuat panitia webinar serba salah, setelah berkomunikasi dengan saya kemudian saya meminta untuk menyelesaikan masalah ini.  Nomor telp (WA) saya kirimkan dan kemudian orng tersebut mengirim pesan ke saya. Saya hanya membiarkan tanpa menjawabnya, hingga beberapa kali, awalnya mau saya balas tapi ada rasa tidak nyaman. “mohon dikondisikan ya”, “ini rekening saya…. “, “Paham kan”, mohon kerjasamanya” dan “Kok gak dibalas” itulah beberapa isi dari pesan melalui Whatapps yang dikirimkan.

Saya save nomor orang tersebut dengan nama “Wartawan Pemalak”, tentu saja bukan untuk mendeskreditkan profesi wartawan, hanya oknum saja yang seringkali berbuat demikian. Ada yang tanpa perjanjian membuat berita dan meminta uang, Sebagian lagi mengancam dengan pemberitaannya. Sudah menjadi rahasia umum “wartawan” gadungan yang hanya mencari uang atas nama profesi yang mulia tersebut. Saya yakin Persatuan Wartawan Indonesia sudah sering sekali memberikan peringatan tentang oknum seperti ini, demikian pula hampir semua surat kabar dan media elektronik selalu mencantumkan tulisan yang intinya wartawan kami tidak boleh meminta uang.

Maka oknum ini adalah masalah utama, memalak pihak-pihak tertentu dengan mengatasnamakan wartawan, dia tidak membuat tulisan tapi meminta uang. Kami juga tidak terlalu memerlukan pemberitaan karena saya juga punya website sendiri dan pihak Lembaga memiliki website resmi yang memuat berita berbagai kegiatan. Sehingga tidak memerlukan pemberitaan tersebut, apalagi memang tidak ada perjanjian sebelumnya.

Maka intinya adalah bahwa “wartawan” gadungan yang memalak (meminta uang tanpa adanya usaha) telah melakukan perbuatan yang diharamkan dalam Islam, yaitu meminta uang dari orang lain dengan secara paksa dengan menggunakan profesi wartawan. “Wartawan” Pemalak saya selalu tulis dengan tanda kutip karena sejatinya dia bukan wartawan, ia hanya menggunakan profesi tersebut untuk mendapatkan uang dengan cara tidak halal. Tidak halal karena adanya unsur pemaksaan yang tidak diridhai dalam Islam pun juga secara kemanusiaan ia tidak jauh berbeda dengan penodong, atau perampok yang mengambil harta orang lain dengan jalan pemaksaan.

Maka, bertakwalah kepada Allah dan makanlah dari penghasilan yang halal. Jangan memaksa ornag lain untuk mengeluarkan uang, apalagi jika tanpa adanya usaha yang dilakukan. Karena sumber yang halal akan berdampak positif kepada diri dan keluarga serta kehidupan. Sebaliknya pendapatan yang tidak halal akan membawa kepada kesengsaraan di dunia dan juga di akhirat sana. Wallahu a’alam 151021.

Selasa, 12 Oktober 2021

PROBLEMATIKA EKONOMI SYARIAH KONTEMPORER: HEDGING SYARIAH DAN HYBRID CONTRACTS

Oleh: Holifurrahman dan Abdurrahman

 


Perbankan Syariah semakin tumbuh subur di Indonesia. Diakui atau tidak, kehadiran perbankan memudahkan sebagian dari urusan umat manusia. Karena kemudahan itulah, maka kemudian perbankan diminati oleh sebagian kalangan. Sebagian yang lain menolak, namun ada pula yang masih bisa menerima asal sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Inilah yang melatarbelakangi lahirnya perbankan syariah, yang sampai hari ini jumlahnya sangat banyak sekali.

Kehadiran perbankan syariah bukan berarti menutup pro dan kontra masyarakat, khususnya umat Islam. Salah satu yang menjadi perbincangan polemik belakangan ini menyangkut masalah Hedging Syariah dan Hybrid Cotract atau multiakad. Dua produk perbankan ini bisa dibilang produk ijtihadi, karena tidak ada dalil naqli yang secara spesifik berbicara secara muhkam (tegas) terkait keduanya. Sebagai produk ijtihadi, peluang untuk pro dan kontra sangat besar. Demikian itu terjadi, karena perbedaan pandangan masyarakat muslim terhadap, bisa jadi illatul hukmi (argumentasi hukum) atau interpretasi atas dalil yang dijadikan landasan hukum.

Untuk membuka wawasan terkait masalah ini, Program Pascasarjana Institut Agama Islam Sahid (INAIS), Bogor, bekerjasama dengan APPHEISI (Asosiasi Pengajar dan Peneliti Hukum Ekonomi Islam) dan Sharia Community menggelar webinar dengan tema “Halal Haram Ekonomi Syariah Kontemporer: Hedging Syariah dan Hybrid Contracts” pada hari Ahad, 10 Oktober 2021. Webinar ini menampilkan pembicara dari dua negara, yaitu Bapak Dr. Abdul Hadi Jusoh (Praktisi Perbankan Syariah Malaysia) dan Bapak Dr. Abdurrahman Misno BP, MEI (Direktur PPs INAIS, Bogor).

Dalam paparannya, Dr. Abdul Hadi Jusoh menyoroti persoalan hedging syariah. Menurutnya, hedging merupakan salah satu strategi manajemen risiko. Dalam bidang finansial dikenal empat risiko, yaitu: asset, liabilities, purchasing power, dan inflation. Hedging sangatlah diperlukan untuk menekan laju inflasi, apalagi di masa pandemi. Untuk mencapai tujuan dimaksud, diperlukan Instrument Syariah Compliance Derivatives guna memitigasi risiko, baik finansial maupun nonfinansial, untuk individu dan rumah tangga maupun intuk unstitusi.

Melengkapi paparan narasumber pertama, Bapak Dr. Abdurrahman Misno menjelaskan perihal hybrid contracts atau multiakad. Menurutnya, ada banyak bentuk multiakad, seperti: akad bersyarat (al-uqud al-musytarithah); akad kedua merespon akad pertama (al-uqud al-mutaqabbilah); akad terkumpul (al-uqud al-mujtami’ah); akad berlawanan (al-uqud al-mutanaqidhah); akad berbeda (al-uqud al-mukhtalifah); akad sejenis (al-uqud al-mutajanisah), dan sebagainya. Beberapa dihalalkan merujuk pada fatwa DSN MUI. Namun, beberapa jenis akad ada pula yang diharamkan, seperti: akad jual beli dalam satu jual beli (bay’atayni fi bay’atin); dua transaksi dalam satu akad (shafqatayni fi shafqah); dan jual beli dengan hutang. 

Minggu, 26 September 2021

Wahai Umat Islam... Cukuplah Allah Sebagai Pelindung

Oleh: Dr. Abd Misno, MEI

 


Fitnah terhadap Islam dan umatnya sejatinya telah, sedang dan akan terus terjadi. Stigma negatif tentang Islam menjadi dendam kesumat yang hingga saat ini masih nampak di berbagai belahan dunia, sementara untuk melampiaskannya umat dan para tokohnya menjadi sasaran mereka. Jika pada masa lalu Islam mendapatkan kejayaannya, maka masa-masa berikutnya fitnah kepada Islam dan umatnya silih berganti, datang dan pergi menghampiri hampir di setiap situasi. Berjalannya waktu maka fitnah itu bukan semakin berkurang justru semakin menderu dan menyelimuti setiap jengkal langkah Islam dan ummatnya.

Hari-hari ini pemberitaan pun dihiasi dengan fitnah kepada Islam dengan menjadikan tokoh-tokohnya sebagai sasaran. Pembegalan seorang ustadz di Bekasi, penembakan ustadz di Tangerang dan pembakaran mimbar di Makasar hanya bagian kecil dari fitnah yang terjadi saat ini. Lebih dari itu masih banyak lagi fitnah yang lebih besar berupa pembantaian dan tuduhan Islam dan umatnya sebagai sumber konflik dan kekerasan.

Berita-berita tersebut terkadang membuat umat Islam menjadi ciut nyali, kekhawatiran di hati dan ketakutan di dalam kehidupan. Banyaknya fitnah terhadap Islam serta para tokoh-tokohnya memunculkan ketidaknyamanan pada mereka hingga ketakutan akan peristiwa-peristiwa tersebut mengenai diri atau keluarga dekatnya. Kekhawatiran dan ketakutan seperti ini sejatinya tidak menjadi masalah, selama tidak sampai kepada sikap paranoid yaitu ketakutan berlebihan akan berbagai fitnah ini. karena sebagai umat Islam kita telah memiliki pedoman yang ahrus kita yakini, pedomani dan amalkan.

Al-Qur’an telah memberikan pedoman kepada kita secara jelas, yaitu kalamNya dalam QS. Ali Imran: 173: “...(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung." Ayat ini menjadi kekuatan utama umat Islam, bahwa walaupun banyaknya fitnah yang melanda, sejatinya kita punya Allah Ta’ala sebagai sebaik-baik Penolong dan Pelindung.

Kalaupun ternyata kita tertimpa fitnah tersebut, maka sejatinya itulah takdir Allah Ta’ala atas kita. Sebagaimana kalamNya “Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”, QS. Ath-Thaghabun: 11. Maka sebagai orang yang beriman kitapun harus yakin bahwa takdir Allah Ta’ala itu semuanya indah dan baik untuk umat manusia. Bahkan ketika seseorang itu meninggal karena membela dirinya maka jika ia meninggal maka sahid adanya. Demikian pula ketika dibunuh oleh orang lain maka baginya surga, apalagi jika dibunuh oleh orang-orang yang tidak suka dengan Islam. Sahid menjadi tujuan dari umat Islam, sehingga mereka tidak akan takut dengan berbagai fitnah bahkan kematian yang mengancam mereka.

Inilah sejatinya kekuatan dari umat Islam yang ditakuti oleh musuh-musuhnya, bagaimana tidak? Ketika orang lain ingin agar bisa hidup selamanya di dunia, justru umat Islam menginginkan meninggal dalam keadaan sahid. Sangat menakjubkan...

Maka, Wahai umat Islam... jangan pernah khawatir dan takut dengan berbagai fitnah yang melanda. Ikhtiar secara optimal dengan berjaga-jaga, jihad media dengan selalu menyampaikan kedamaian Islam harus selalu dilakukan. Selanjutnya adalah tawakal, kita serahkan semua kepadaNya, itulah yang terbaik bagi umat Islam. Jika sampai banyak kematian terjadi karena ulah orang-orang yang tidak suka dengan Islam? Maka itulah jalan terbaik bagi mereka, bahkan jalan mulia... sahid di jalanNya.

Maka, tugas kita adalah terus berusaha menyampaikan kebenaran dan kedamaian Islam, memberikan ketenangan bagi umat serta meyakinkan selalu untuk diri kita dan seluruh umat Islam.... Hasbunallah wa ni’mal wakil... Cukup Allah Ta’ala sebagai Sang Penolong dan Pelindung.

 Kota Hujan, 260921.

 

 

 

Kamis, 23 September 2021

Dicari: Pedagang Online yang Jujur dan Terpercaya

 Oleh: Dr. Misno, MEI


 

Dunia belanja online (daring) saat ini semakin ramai dengan hadirnya berbagai platform belanja yang menawarkan berbagai discount dan promo yang menarik. Pandemi Covid-19 yang masih ada mendorong terjadinya perubahan gaya belanja di masyarakat, online marketplace menjadi pilihan yang bisa diandalkan. Apalagi dengan berbagai program yang membuat para pengunjung di dunia belanja maya semakin terbawa dalam belanja yang menjadi trend baru dunia.

Pada umumnya para pedagang di pasar online akan menawarkan dagangannya melalui photo produk yang mereka jual. Maka tampilan dari barang dagangan yang menjadi penarik minat para pembeli menjadi hal yang sangat diperhatikan. Pilihan kamera yang harus bagus, posisi dagangan, pencahayaan hingga jenis barang yang diphoto harus sedemikian rupa diatur. Hingga photo dagangan yang dipajang nampak begitu sempurna di mata para peminatnya. Pada tahap ini mulailah muncul ketidakjujuran para pedagang, mulai dari barang yang dijual berbeda dengan photo produk yang ditampilkan hingga kualitas barang yang tidak sesuai dengan kenyataan.

Selanjutnya adalah sistem penjualan yang dilakukan dengan meletakan harga yang embuat orang penasaran, mulai dari merapatkan harga sehingga sulit dibaca, mengecilkan salah satu angka hingga pembeli salah baca bahkan yang terbaru adalah meletakan harga murah untuk dagangan yang sejatinya hanya bagian dari photo yang ada. Misalnya seseorang memajang gambar sarung, baju koko dan peci dengan harga Rp.37.500. tentu saja calon pembeli akan tertarik dengan hal ini. melalui mekanisme yang sedikit rumit dan tidak terlihat oleh mereka maka mereka langsung setuju untuk membelinya. Padahal seharga itu hanya untuk peci-nya saja, memang seolah-olah penjual tidak salah karena ia meletakan di klik pilihan harga. Namun tentu saja ini tidak sesuai dengan perdagangan dalam Islam.

Trik lainnya yang dilakukan pedagang adalah dengan menghapus komentar negatif yang ada di kolom komentar. Bahkan saya pernah beli satu barang dan di dalam kemasanya tertulis “Bagi Customer yang memberikan bintang di bawah tiga (artinya layanan dan produk buruk) akan diblacklist dan tidak boleh berbelanja lagi”. Ini adalah pedagang yang tidak beretika, karena ia memaksa pedagang untuk memuji barang dagangan atau layanannya padahal itu buruk. Hal ini tentu tidak boleh dibiarkan karena tidak sesuai dengan tuntunan agama Islam dan juga etika yang ada di masyarakat.

Selain itu masih banyak lagi trik para pedagang di pasar online yang tidak sesuai dengan aturan Islam dan etika berjualan. Penulis bisa memprediksi berdasarkan pengalaman pribadi bahwa hampir sebagian besar pedagang di pasar online tidak jujur dalam berdagang. Oleh karena itu hendaknya berhati-hati dalam berbelanja, apalagi yang masih baru dalam dunia perdagangan online. Semoga saja ini hanya awal saja, ke depan toko-toko yang berbuat curang akan hilang dan tidak lagi memiliki pelanggan.

Fenomena ini menyadarkan kita bahwa benarlah kalam Nabi yang mulia bahwasanya para pedagang yang terpercaya dan jujur akan bersama para nabi, syuhada dan shiddiqiin. jumlah mereka memang tidak banyak, dan kita berharap semoga ke hadapan para pedagang muslim yang jujur dan terpercaya dapat meramaikan pasar online kita sehingga apa yang diharapkan oleh para pembeli yang menjadi tuntunan dalam Islam dalam terlaksana dengen semestinya, yaitu perdagangan yang saling ridah di antara mereka.

 

Manusia: Tempat Salah dan Dosa

 Oleh: Dr. Misno, MEI



 

Allah Ta’ala menciptakan manusia dengan sempurna, dari jiwa mulia dan raga sempurna yang membalutnya. Kesempurnaan manusia bukan berarti tanpa cela, justru karena segalanya ada (amal mulia dan dosa) ia disebut manusia. Ketika imannya meningkat maka amal mulia dilakukannya, maka ia mendulang pahala dari Allah Azza wa Jalla. Namun ketika imannya turun dan berkurang adanya, ia terjatuh ke dalam lembah dosa, hingga kemaksiatan membelenggunya. Inilah hakikat dari manusia, tempat salah dan dosa, mahal al-khotho’ wa nisyan.

Pemahaman ini bukan berarti kita membiarkan dosa dan kesalahan ada pada diri manusia, tidak pula memberikan toleransi kepada diri ini untuk dimengerti. Sekadar berbagi cerita tentang hakikat manusia. Bahwa ianya adalah insan penuh dosa dan kesalahan, termasuk diri kita yang mungkin di mata manusia dianggap mulia.

Bukan alasan yang tepat untuk membela diri yang masih terjerat dalam maksiat, tidak pula menghibur jiwa ketika dosa masih terasa indah dirasa. Tapi memahami dari hakikat manusia itulah yang lebih utama. Bagaimana tidak? kita yang terus berusaha dan sekuat tenaga untuk menjadi manusia yang “sempurna tanpa dosa” namun seringkali kembali terjerembab ke dalam kesalahan serupa. Ya... mungkin ini adalah kelemahan kita.

Ketika dosa dilakukan dengan kesadaran nyata, diri kita tak mampu untuk melawannya. Bahkan terkadang menikmatinya dengan sepenuh jiwa dan raga, kita larut ke dalamnya hingga terlupa akan neraka di akhirat sana. Saat dosa terlaksana, penyesalan muncul di dalam jiwa hingga diri merasa tak ada lagi guna. Namun, ketika dosa itu berulang di berbagai masa maka hati mulai keras dan tak lagi merasa akan apa yang dilakukannya, hingga jiwa cenderung membelanya sekuat tenaga.

Kita sadar sepenuh rasa, bahwa apa yang kita lakukan itu adalah dosa. Namun jiwa ini masih belum bisa melepaskannya, mungkin terbebas sementara tapi kemudian kembali melakukannya. Sulit memang meninggalkannya, apalagi jika telah membalut jiwa, ia perlu perjuangan tiada tara agar bisa lepas daripadanya.

Bagi mereka yang melihat manusia berbuat dosa, pasti dengan mudah akan mengatakannya “Jangan dilakukan itu dosa”. Bagi sebagian yang lain akan berkata “Anda memang makhluk pendosa”, sambil menuduhkan telunjuknya ke muka kita. Lebih dari itu mereka akan mencela dan mengucilkan “para pendosa” karena jijik ketika bersamanya. Tentu saja tindakan mereka tidak salah, karena memang demikian adanya. Namun akan lebih bijak apabila mendatanginya dengan penuh kasih sayang, mengajak bicara dengan penuh adab dan kesopanan, membawanya dari tengah manusia dan menasehatinya dengan nita ikhlas karena Allah Ta’ala.

Para Pendosa memang makhluk durjana, tapi bukan berarti ia ahli neraka, selagi hayat masih di badannya maka pintu taubat dan hidayahNya akan selalu terbuka. Jangan mudah mencela para pendosa, bahkan kita pun tak lepas darinya. Karena kita adalah manusia tempat salah dan dosa...

Banyak manusia yang memang tidak bisa memahami jiwa para pelaku dosa, karena mereka hanya melihat dari sisi dhahirnya saja. Bahkan kalau perlu para pendosa itu segera diberi hukuman yang nyata, dipotong tangan atau dirajam di hadapan manusia. Tindakan ini tidak salah, tapi lagi-lagi memahami mereka yang melakukan dosa dan kesalahan itu dengan lebih mendalam mutla diperlukan. banyak orang yang melakukan dosa dan kesalahan, kemudian mereka bersenang-senang dengannya tanpa memperhatikan syariat agama. Mereka bangga dan bahkan menyiarkan dosa dan kesalahannya di hadapan manusia, mengajak manusia untuk menjadi teman-temannya dalam dosa. Mereka itulah para pendosa yang harus diberikan hukuman dan peringatan karena telah nyata dosa dan maksiat yang dilakukannya.

Namun, ada di antara manusia yang melakukan dosa bukan karena mereka suka dengan perbuatannya. Mereka hanya lalai dan alpa, terjatuh ke dalam dosa dan kemaksiatan karena kejahilan, ketidakpahaman dan ketidakkuasaan dalam membimbing dirinya. Mereka sadar itu dosa dan maksiat, namun mereka belum bisa untuk meninggalkannya. Keinginan itu terbebas dari perbuata dosa dan maksiatnya selalu ada, tapi seringkali ia terjatuh kembali dengannya. Maka bagi mereka kita harus lebih bijak, mendoakan dan selalu menasehatinya dengan kasih sayang itulah yang diharapkan. Karena bisa jadi suatu masa ia akan kuat dan dengan penuh kesadaran untuk kembali ke jalan yang benar dengan meninggalkan segala dosa dan kesalahan.

Kembali kepada hakikat dari manusia, maka teruslah kita belajar agama dan memahami hakikat manusia sebagai tempat salah dan dosa. Tapi bukan membiarkan saudara kita terlena dengannya, menasehatinya dengan penuh kasih sayang. Itulah yang menjadi tuntunan agama.

Semoga menjadi penghapus dosa

Bogor, 23092021.

 

Buku... Bukan Aku Tak Mau Menyentuhmu...

 Oleh: Dr. Misno, MEI



 

Buku...

Bukan aku tak mau menyentuhmu...

Karena aku sangat asing dengan hakikat dirimu

Keluargaku tidak familiar denganmu

Masyarakatku tidak terbiasa dengan dirimu

Kau hanya milik para KUTU BUKU

 

Buku...

Katanya kau lambang kemajuan peradaban

Kenapa di sekitarku tak banyak yang paham

Atau mereka sibuk dengan berbagai kegiatan

Hingga melupakan dirimu yang katanya penuh ilmu pengetahuan

 

Buku...

Kenapa aku belum mau menyentuhmu?

Mungkin karena aku tak terbiasa bersamamu

Sejak kecil memang Ibu dan Bapak Guru mengenalkanmumu

Membagikan kepada kami untuk bisa sekadar mengeja kata dalam dirimu

Namun, keluarga dan masyarakat menjauhkanmu

Dari diriku dan banyak anak seumuranku

Hingga membaca tak lagi menjadi kebiasaan baku.

 

Buku...

Mungkin ini salahku

Salah keluargaku

Atau salah masyarakatku

Yang tidak terbiasa denganmu

Hingga kebodohan dan kemadekan ilmu pengetahuan berkembang karena tanpamu

 

Buku...

Semoga generasiku nanti akan mau menyentuhmu

Bermesra denganmu, mendekapmu dan menjadikanmu teman sepanjang waktu

Akupun akan menguatkan azzam-ku untuk selalu bersamamu

Hingga akhir waktu

Karena kutahu, dirimu adalah pintu gerbang ilmu

Bahkan jalan untuk mengenal Rabb-ku...

 

Malam hening di Bogor, 23 September 2021

 

 

 

Tutup Telinga pada Waktunya

 Oleh: Dr. Misno, MEI


Berita viral terkait dengan santri (siswa) salah satu pondok pesantren yang menutup telinga mereka karena mendengar musik menjadi perbincangan hangat di media masa dan elektronik saat ini. Media sosial pun menyebarkan berita ini yang mendapatkan respon positif dan juga negatif. Bagaimana tidak? Di era di mana musik dan lagu menjadi bagian dari kehidupan manusia yang seolah-olah tidak bisa dipisahkan, tiba-tiba muncul sekelompok anak yang anti dan tidak suka dengan lagu dan musik. Hingga mereka harus menutup telinga agar tidak mendengarkan suara musik dan nyanyian.

Perbincangan mengenai lagu dan musik sejatinya sudah ada sejak dahulu kala, para imam madzhab telah membahasnya secara sempurna. Saat ini kita lihat satu pihak menyatakan bahwa musik itu bisa menghaluskan jiwa sebagai salah satu dari karya seni manusia. Pihak lain menyatakan bahwa musik dan lagu akan menumbuhkan kemunafikan dan berujung pada keingkaran kepada Ar-Rahman (Allah Ta’ala).

Dua perspektif yang berbeda memunculkan dua kutub yang saling bertentangan di tengah masyarakat. Demikian pula pada umat Islam, di mana banyak yang membolehkan lagu dan musik tanpa membatasinya, namun ada juga sebagian kecil yang mengharamkannya. Sementara di antara kedua kelompok tersebut ada yang mengharamkan hanya pada lagu dan musik yang memang mengandung unsur keharaman semisal; wanita yang membuka aurat, campur baur laki-laki dan perempuan tanpa batas, atau musik yang membawa kepada paham kesesatan.

Permasalahan musik dan lagu memang tidak akan pernah habisnya, masing-masing pihak akan berpegang teguh kepada argumentasinya. Sebagai bagian dari obyek yang dikaji oleh fiqh dalam Islam, lagu dan musik memang memiliki banyak kemudharatan, apalagi jika kita lihat fenomena lagu dan musik saat ini yang cenderung pada pemujaan terhadap dunia, harta, tahta, wanita dan kenikmatan dunia lainnya. Hanya sedikit dari penyanyi dan pemusik yang menyadari bahwa apa yang mereka lakukan sejatinya haruslah diselaraskan dengan nilai-nilai Islam.

Lagu dan musik yang ada saat ini memang lebih kepada perbuatan yang mengarahkan kepada keharaman, karena dari mulai penyanyinya, musiknya hingga lirik-nya cenderung menjauhkan diri dari ketaatan kepada Sang Pemilik Alam. Lebih dari itu ia membawa kepada kesenangan duniawi dan melupakan ukhrawi yang ujungnya adalah mengesampingkan urusan agama. Bahkan pada masyarakat yang belum paham tentang agama akan merasa aneh ketika ada yang menyatakan bahwa lagu dan musik itu haram.

Bagi para santri yang memang berkonsentrasi kepada hafalan Al-Qur’an tentu saja ini menjadi permasalahan tersendiri. Di mana alunan lagu dan musik memang sering kali membuai pendengarnya hingga dengan mudah dapat dihafalkan syairnya. Ini tentu sangat berbahaya bagi mereka yang sedang belajar untuk menghafal Al-Qur’an. Apalagi dalam beberapa hal seringkali memang lagu dan musik dapat menghilangkan hafalan Al-Qur’an karena menjadikan mereka lalai dan terbuai dengan musik dan nyanyian.

Maka, silahkan tutup telinga bagi mereka yang tidak suka dengan musik dan nyanyian, karena itu adalah haknya. Apalagi jika itu terbukti akan menghilangkan hafalan, tutuplah telingan pada waktunya, yaitu ketika musik dan lagu itu kian membelenggu hatimu. Bisa jadi itu adalah tindakan terbaik yang bisa dilakukan, di saat banyak manusia tidak lagi memperhatikan sesuatu yang haram walaupun menjadi sesuatu yang biasa di tengah manusia.

Bagi yang masih suka dengan mendengarkan musik dan nyanyian maka pilihlah yang bisa mendekatkan diri kepada Ar-Rahman, tidak melalaikan dan tidak mengandung hal-hal yang diharamkan oleh Islam. Saat ini banyak pilihan lagu dan musik yang mengarah kepada kebaikan, ambilah ia sekadar sebagai hiburan. Jangan pernah ia melalaikan dari membaca dan mentadaburi kalam Ar-Rahman. Karena itu memang yang membawa kepada ketenangan dan kedamaian sebenarnya.

Biarkan generasi Rabani tumbuh di bawah naungan Ilahi, nanti di suatu saat nanti mereka juga akan menyadari bahwa sejatinya hidup ini memang penuh dengan hal-hal yang diharamkan, namun kebanyakan manusia tidak sepemahaman. Maka, tetaplah belajar hingga sampai kepada kita pemahaman mendalam. Berlaku bijak menjadi sebuah ukuran, ketika ilmu itu terpatri di lubuk hati yang paling dalam. Wallahu’alam, menjelang malam di Kota Hujan. 230921.  

Rabu, 08 September 2021

Bahasa Arab: Bahasa Wahyu bukan Tanda Teroris

 Oleh: Dr. Misno, MEI


Islam sebagai agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam masih belum banyak dipahami oleh “alam” termasuk dunia yang ada di dalamnya. Bagaimana tidak? Keindahan Islam yang menebarkan kedamaian dan keselamatan seringkali tertutup atau sengaja ditutupi atau menutup diri dari rahmat Islam. Mereka adalah orang-orang yang di hatinya ada kebencian terhadap Islam, atau orang yang karena kepentingan dunia kemudian menganggap Islam sebagai agama yang membawa kepada kekerasan dan terorisme.

Mereka yang tidak suka dengan Islam memang beraneka ragam; dari mulai yang menjadikan Islam sebagai musuh karena doktrin yang diterimanya, karena kebodohan dan tidak pahamnya dia terhadap Islam, hingga karena bayaran yang murah kemudian berani untuk menghina Islam. Kelompok terakhir ini sepertinya yang saat banyak bergentayangan di dunia maya dan juga dunia nyata saat ini. Hanya karena dibayar dengan harga yang tidak sepadan dengan mulianya Islam, ia mau membuat statement yang menghina, mencela, memfitnah dan menebar fitnah bahwa Islam adalah agama kekerasan dan terorisme.

Jika Islam sulit difitnah karena sifatnya memang selalu membawa rahmah (kasih sayang) maka kemudian dicari hal lain yang terkait erat dengan Islam. Fitnah terhadap para ulama Islam sudah banyak dilakukan, pondok pesantren dan sekolah Islam dianggap sebagai sarang terorisme sudah juga terjadi, kelompok rohani Islam (rohis) dan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang dianggap sumber paham terorisme sudah terjadi, dan kini beredar fitnah bahwa bahasa Arab dianggap sebagai ciri-ciri terorisme.

Islam dan Arab memang tidak bisa dipisahkan, dalam makna bahwa Al-Qur’an turun di Jazirah Arab dan menggunakan bahasa Arab. Maka jika mereka tidak bisa menyerang Islam maka kini bahasa Arab diserang dianggap sebagai salah satu tanda dari paham terorisme.

Bahasa Arab adalah bahasa wahyu, kalamullah atau firman Allah Ta’ala yang disampaikan kepada para nabiNya khususnya Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam. Sebagai agama wahyu tentu bahasa Arab bukan bahasa sembarangan, apalagi dalam banyak ayat dan hadits menunjukan kedudukan dari bahasa Arab yang mulia. Tentu saja bukan berarti bahasa yang lainnya tidak bagus, sebagai media komunikasi yang digunakan oleh manusia maka setiap bahasa memiliki keistimewaan. Bedanya bahasa Arab dijadikan media komunikasi antara hamba dengan Sang Pencipta, yaitu Allah Ta’ala.  

Maka ketika bahasa Arab dianggap sebagai salah satu ciri-ciri dari terorisme, maka sejatinya statement  ini banyak memiliki penafsiran. Pertama, orang yang menyatakan itu adalah kelompok yang benci dengan Islam, sehingga semua hal yang berkaitan dengan Islam akan digugat. Misalnya, fitnah lama bahwa Jilbab adalah pakaian Arab adalah hal klasik yang hingga saat ini masih ada di beberapa masyarakat, demikian pula bahwa tindakan terorisme itu kebanyakan dilakukan orang Islam adalah propaganda yang sama sekali tidak terbukti. Karena cenderung muncul dari kebencian terhadap Islam yang terselubung karena banyak kepentingan keduniaan. Kedua, adalah orang-orang yang dibayar untuk menebarkan berbagai fitnah terhadap Islam, dan akhir-akhir ini semakin banyak terjadi. Berapa banyak mereka yang menebar fitnah tentang Islam karena mendapatkan bayaran dari orang-orang yang benci dengan Islam. Tentu saja sebagai umat Islam kita tak boleh tinggal diam, amar ma’ruf nahi mungkar adalah sebuah keniscayaan. Ketiga adalah fitnah yang sengaja ditebar untuk menutupi isu besar yang sengaja disembunyikan. Ini juga sering sekali terjadi, berbagai kasus pengeboman dan berita-berita tentang terorisme biasanya dibuat untuk menutupi berita besar yang jangan sampai terendus atau tersebar kepada publik. Ini memang syarat nuansa politik dan skenario global.  

Ketiga alasan ini tentu saja tidak dibenarkan, karena Islam tidak pernah mengajarkan terorisme, bahasa Arab yang digunakan Islam dalam teks wahyu pun tidak pernah mengajarkan kepada perbuatan yang mengundang kekerasan. Jangankan untuk melakukan terorisme, menumpahkan dari satu orang saja, baik muslim ataupun non muslim tanpa adanya sebab adalah sebuah dosa besar. Apalagi sampai melakukan kekerasan, kedzaliman dan segala bentuk terorisme di tengah masyarakat, faktanya justru umat Islam yang selalu menjadi korban.

Bahasa Arab adalah bahasa wahyu, maka ia adalah mulia dalam pandangan Islam, sebagaimana bahasa lain yang digunakan oleh kepercayaan lain yang dianggap sebagai bahasa suci. Maka menghina bahasa Arab sebagai tanda-tanda dari terorisme adalah penghinaan terhadap Islam, karena Islam dan bahasa Arab tidak bisa dipisahkan. Statement ini tentu saja mengundang kontroversi, tapi bagi umat Islam kita harus tetap bijak dan waspada, karena bisa jadi ini hanya permukaan karena sejatinya di bawah sana begitu banyak mereka yang belum memahami dengan baik Islam, atau yang karena kepentingan dunia mereka menyebarkan fitnah tentang Islam. Kita juga harus waspada karena bisa jadi ini hanya isu yang ditebar untuk mengalihkan perhatian umat Islam akan isu besar lainnya.

Bijak dalam menyikapi, sesuai dengan proporsi adalah pilihan terbaik saat ini, menanggapi dengan bijak serta membantah dengan hikmah itulah yang diperintahkan Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an yang berbahasa Arab pula. Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah kepada orang-orang yang belum paham dengan kedamaian dan keselamatan Islam, serta memberikan pelajaran kepada mereka yang benci dengan Islam dan Semoga Allah Ta’ala selalu menjaga umat Islam dari segala bala serta fitnah yang menimpanya. Wallahu’alam, 08092021.