Kamis, 31 Agustus 2023
Hukum Mengemis...
Kamis, 03 Agustus 2023
MENJADI MUSLIM RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN
By: Abd Misno Mohd Djahri
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا،
مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ
أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً
عَبْدُهُ وَرَسُولُه. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَن اتَّبَعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.أَمَّا
بَعْدُ:
فَإِنَ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ،
وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
. وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ
مُحْدَثَةٍ فِي دِيْنِ اللهِ بِدْعَةٌ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ
فَاْزَ الْمُتَّقُوْنَ...فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرآنِ الْكَرِيْمِ: ﴿ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ
حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ﴾ وَقَالَ اللهُ
تَعَالَى أَيْضًا ﴿ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ
مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا
كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ
ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا ﴾ وَقَالَ اللهُ تَعَالَى أَيْضًا ﴿ يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا ﴾
Muqadimah…
Alhamdulillah, Syukur kepada Allah
Ta’ala yang telah memberikan kepada kita kenikmatan iman, Islam dan Ihsan. Shalawat
dan salam sama-sama kita panjatkan kepada junjungan alam, habibana wa
nabiyyana Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam, kepada seluruh ahli
baitnya, para shahabatnya hingga orang-orang yang mengikuti jejak sunnahnya
hingga akhir zaman.
Amma Ba’du, pertama-tama Khatib
berwasiat kepada diri khatib pribadi serta jamaah jum’ah rahimakumullah wasiat
taqwa yang bermakna “Mengoptimalkan seluruh potensi jiwa dan raga kita, untuk
mendapatkan Ridha dari Allah Azza wa Jalla”.
Syukur kepada Allah Ta’ala adalah
sebuah keniscayaan, ia adalah aalamah min alamatil iman (tanda dari
tanda-tanda keimanan seseorang). Syukur yang diawali dengan keyakinan dalam
hati (al-yaqin fil qalbi), ucapan dengan lisan (an-nitqu bil lisaan)
dan amal dengan seluruh anggota badan. Syukur kita juga secara khusus diberikan
hidayah serta inayahNya sehingga kita mampu melaksanakan salah satu dari
kewajiban kita sebagai seorang laki-laki muslim yaitu shalat jumat secara
berjama’ah, Alhamdulillah wa syukru lillah.
Hadirin Jama’ah
jum’ah rahimakumullah…
Salah satu dari kenikmatan dan
anugerah yang telah diberikan Allah Ta’ala kepada kita semua adalah kenikmatan
untuk dapat hidup di bawah naungan Islam. Ini adalah kenikmatan yang tiada
duanya, sebagaimana kalamNya:
فَمَن يُرِدِ اللَّهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ
لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا
يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ
لَا يُؤْمِنُونَ
“Maka siapa saja dikehendaki Allah
akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima)
Islam. Dan barangsiapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya
sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah
menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” [Al-An’aam/6: 125]
Kenikmatan yang telah Allah sampaikan
dalam kalamNya tersebut tentu bukan tanpa alasan, syariah Islam yang telah
sempurna menjadi pedoman satu-satunya dalam menjalani kehidupan di alam
semesta.
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ
نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Aku
sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah
Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” [Al-Maa-idah/5: 3].
Kesempurnaan Islam juga disebutkan
dalam sabda hadits Nabi Muhammad Shalallahu Alaih Wassalam:
عَنْ أَبِى ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: تَرَكَنَا
رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا طَائِرٌ يُقَلِّبُ جَنَاحَيْهِ
فِي الْهَوَاءِ إِلاَّ وَهُوَ يَذْكُرُنَا مِنْهُ عِلْمًا. قَالَ: فَقَالَ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ
النَّارِ إِلاَّ وَ قَدْ بُيِّنَ لَكُمْ.
Dari Shahabat Abu Dzarr Radhiyallahu
anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
pergi meninggalkan kami (wafat), dan tidaklah seekor burung yang terbang
membalik-balikkan kedua sayapnya di udara melainkan beliau Shallallahu
‘alaihi wa sallam telah menerangkan ilmunya kepada kami.” Berkata Abu Dzarr
Radhiyallahu anhu, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
telah bersabda, ‘Tidaklah tertinggal sesuatu pun yang mendekatkan ke Surga dan
menjauhkan dari Neraka melainkan telah dijelaskan semuanya kepada kalian.’” HR.
At-Thabrani.
Syariah Islam yang sempurna memberikan
pedoman kepada seluruh umat Islam dalam menjalani kehidupannya. Al-Qur’an dan As-Sunnah
adalah sumber pedoman utama, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu
‘alaihi wa sallam yang mulia:
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ
بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ
“Aku telah tinggalkan kepada kamu
dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu)
Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik; Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu
Nashr, Ibnu Hazm.
Maka, Al-Qur’an dan As-Sunnah atau
Al-Hadits menjadi pedoman umat Islam dalam menjalankan amanah Allah Ta’ala
sebagai penanggungjawab semesta raya. Pedoman ini sangat sempurna dan mengatur
seluruh sendi kehidupan manusia, dari seseorang bangun tidur sampai tidur lagi
bahkan ketika sedang tidur diberikan pedomannya dalam Islam. Demikian pula
permasalahan besar mulai dari Aqidah, Ibadah dan Muamalah telah lengkap
aturannya untuk dilaksanakan dengan penuh ketundukan.
Maka kewajiban bagi kita sebagai
seorang muslim untuk terus belajar, belajar dan belajar tentang Islam, kemudian
mengamalkannya dan menyampaikan kepada seluruh semesta tentang sifat Islam yang
membawa Rahmat bagi seluruh alam.
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ
Tidaklah Kami mengutusmu, melainkan
untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam. [Al-Anbiyâ’/21:107].
Hadirin Jama’ah
jum’ah rahimakumullah…
Rahmat Islam bagi seluruh alam
tercermin dari sifat-sifat yang menjadi karakter utamanya, diantaranya adalah
sifat menghargai dan menghormati agama dan kepercayaan orang lain. Sebagaimana firman
Allah Ta’ala:
وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ
فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ
عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Dan janganlah kalian mencela
sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allâh, karena mereka nanti akan
mencela Allâh dengan melampaui batas tanpa ilmu. Demikianlah Kami jadikan
setiap umat menganggap baik amalan mereka. Kemudian kepada Rabb merekalah tempat
kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka
kerjakan. [Al-An’âm/6:108]
Merujuk pada ayat ini maka tidak
boleh kita mencela agama, kepercayaan dan tuhan-tuhan yang disembah oleh orang
di luar Islam karena itu merupakan bentuk menjaga dari mereka membalas
mencela Allah dan agamaNya. Pedoman dalam Al-Qur’an sudah jelas yaitu;
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِىَ دِينِ
Bagi kalian agama kalian dan bagi
kami agama kami. QS. Al-Kafirun: 6.
Rahmat Islam juga nampak dari
konsep umatan wahidah yang terdapat di dalam Piagam Madinah,
yaitu sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
٢٥. وان يهود بني عوف امة مع المؤمنين لليهود دينهم وللمسلمين
دينهم مواليهم وانفسهم الا من ظلم واثم فانه لا يـوتخ الا نفسه واهل بيته.
Pasal 25: Kaum Yahudi dari Bani
‘Awf adalah satu umat dengan mukminin. Bagi kaum Yahudi agama mereka, dan bagi
kaum muslimin agama mereka. Juga (kebebasan ini berlaku) bagi sekutu-sekutu dan
diri mereka sendiri, kecuali bagi yang zalim dan jahat. Hal demikian akan
merusak diri dan keluarga.
Piagam Madinah menjadi pedoman bagi
umat Islam dalam berbangsa dan bernegara, tanpa melihat agama, ras dan suku
bangsa. Selama mereka memiliki visi dan misi yang sama maka mereka semua adalah
saudara satu bangsa (Ukhuwah wathaniyyah).
Rahmat Islam Islam untuk semesta
adalah menjaga lingkungan agar selalu memberikan yang terbaik kepada
manusia. misalnya dilarang untuk mengotori sungai, membuang sampah sembarangan
dan buang hajat sembarangan. Sebagaimana Sabda Nabi Muhammad Shalallahu
Alaih Wassalam:
عَنْ عَبْدِ
اللَّهِ بْنِ حُبْشِيٍّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
مَنْ قَطَعَ سِدْرَةً صَوَّبَ اللَّهُ رَأْسَهُ فِي النَّار(رواه ابو داود)
Dari ‘Abdullah bin Hubsyi ia
berkata: “Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa menebang pohon bidara, maka
Allah akan membenamkan kepalanya dalam api neraka.” HR. Abu Dawud
اتَّقُوا
الْمَلَاعِنَ الثَّلَاثَةَ الْبَرَازَ فِي الْمَوَارِدِ ، وَقَارِعَةِ الطَّرِيقِ
، وَالظِّلِّ
"Jauhilah tiga perilaku terlaknat; buang kotoran di sumber
air, di pinggir jalan, dan di bawah naungan pohon." HR Abu Daud, Ahmad dan
Ibnu Majah.
Sejatinya masih banyak lagi
bukti-bukti nyata bahwa Islam benar-benar menjadi Rahmat untuk semesta, bukan
hanya bagi manusia tetapi untuk hewan dan seluruh alam raya. Maka, tugas kita
sebagai seorang muslim adalah menyampaikan Islam kepada seluruh semesta, Islam
yang membawa kedamaian, ketenterama dan kesejahteraan di dunia dan akhirat
sana. Wallahu a’lam 0308 2023.
عِبَادَ
اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي
الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللهَ
الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاللهُ
يَعْلَمُ مَا تَعْمَلُوْنَ.وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَأَقِمِ
الصَّلَاْةَ
Senin, 31 Juli 2023
AKAD JUAL BELI ISTISHNA’ (PESANAN DENGAN MEMBUAT BARANG)
Bismillah
Assalamualaikum
Warahmatullah wa Baarakatuh
SYAHADAH:
Sajian Ayat dan Hadits Muamalah Ekonomi Syariah
Seri 034
AKAD JUAL BELI ISTISHNA’ (PESANAN DENGAN MEMBUAT BARANG)
Allah
Ta’ala berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟
إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَىٰٓ أَجَلٍۢ مُّسَمًّۭى فَٱكْتُبُوهُ ۚ
Wahai
orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu`amalah tidak secara tunai untuk
waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. QS. Al-Baqarah: 282.
Hadits
Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam:
عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه أَنَّ
نَبِىَّ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم كَانَ أَرَادَ أَنْ يَكْتُبَ إِلَى الْعَجَمِ
فَقِيلَ لَهُ إِنَّ الْعَجَمَ لاَ يَقْبَلُونَ إِلاَّ كِتَابًا عَلَيْهِ خَاتِمٌ. فَاصْطَنَعَ
خَاتَمًا مِنْ فِضَّةٍ. قَالَ كَأَنِّى أَنْظُرُ إِلَى بَيَاضِهِ فِى يَدِهِ. رواه
مسلم
Diriwayatkan
dari sahabat Anas bin Malik, pada suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam hendak menuliskan surat kepada seorang raja non-arab, lalu dikabarkan
kepada beliau: Sesungguhnya raja-raja non-arab tidak sudi menerima surat yang
tidak distempel, maka beliaupun memesan agar ia dibuatkan cincin stempel dari
bahan perak. Anas mengisahkan: Seakan-akan sekarang ini aku dapat menyaksikan
kemilau putih di tangan beliau.” HR. Muslim.
عَنْ سَهْلٍ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْسَلَ إِلَى امْرَأَةٍ
مِنْ الْمُهَاجِرِينَ وَكَانَ لَهَا غُلَامٌ نَجَّارٌ قَالَ لَهَا مُرِي عَبْدَكِ فَلْيَعْمَلْ
لَنَا أَعْوَادَ الْمِنْبَرِ فَأَمَرَتْ عَبْدَهَا فَذَهَبَ فَقَطَعَ مِنْ الطَّرْفَاءِ
فَصَنَعَ لَهُ مِنْبَرًا
“Dari
Sahal bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam menyuruh seorang wanita
Muhajirin yang memiliki seorang budak tukang kayu. Beliau berkata kepadanya;
"Perintahkanlah budakmu agar membuatkan mimbar untuk kami". Maka
wanita itu memerintahkan budaknya. Maka Ghulam (pemuda) itu pergi
mencari kayu di hutan lalu dia membuat mimbar untuk beliau. HR. Bukhari.
Faidah
Hukum Ayat dan Hadits:
1. Allah
Ta’ala membolehkan akad jual beli dengan secara tidak tunai, yaitu dengan
pembayaran diakhirkan (utang).
2. Boleh
memesan barang (istishna’) dengan pembayaran setelah barang itu selesai, baik
dengan uang muka ataupun tidak sesuai kesepakatan. Sebagaimana Nabi Muhammad Shalallahu
alaihi wassalam yang memesan cincin yang terbuat dari perak kepada
pembuatnya. Serta beliau yang memerintahkan kepada seorang shahabiyah untuk menyuruh
budaknya membuat mimbar dengan bayaran setelah selesai pembuatannya.
3. Akad
istishna’ adalah transaksi seseorang memesan (pemesan) kepada orang
lainnya untuk mengerjakan suatu pekerjaan khususnya membuat suatu barang,
kemudian pemesan akan membayarnya setelah pesanannya selesai, baik secara tunai
ataupun dicicil.
4. Aplikasi
akad istishna’ pada masa lalu misalnya membuat pakaian, membuat mimbar, membuat
alat-alat rumah tangga dan yang lainnya. Adapun saat ini dipraktikan di lembaga
keuangan dan bisnis syariah dengan jual beli pemesanan baik berupa rumah,
kantor, Gudang dan barang-barang lainnya yang memerlukan proses pembuatan.
5. Perbedaan
antara jual beli istishna’ dengan salam adalah bahwa jual beli istishna’
barangnya dibuat terlebih dahulu dengan spesifikasi yang jelas. Sedangkan jual
beli salam barangnya bisa dari mana saja selama spesifikasinya, kuantitas dan
kualitas serta waktu penyerahan juga jelas. Selain itu pembayaran jual beli
istishna’ di akhir setelah barang selesai, sedangkan jual beli salam pembayaran
di awal sedangkan barang di akhir.
Begitu
mudahnya aturan Islam termasuk dalam jual beli, sehingga memberikan kelonggaran
untuk melakukan jual beli yang belum ada barangnya yang akan dibuat atau masih
dalam proses pemesanan. Maka, hendaknya kita dapat mengamalkan syariat jual beli
ini agar kehidupan kita lebih berkah di dunia dan akhirat.
KONSULTASI
MUAMALAH DAN EKONOMI SYARIAH:
DIVISI
SOSIALISASI DAN ADVOKASI
ASOSIASI
PENGAJAR DAN PENELITI HUKUM EKONOMI ISLAM INDONESIA (APPHEISI)
HP:
085885753838 (Dr. Abd Misno, SHI., SE., MEI)
https://wa.me/message/DUBYSGGPPMDGH1
Kunjungi
situs kami di www.appheisi.or.id
Kamis, 06 Juli 2023
LARANGAN RIBA DALAM ISLAM
Bismillah
Assalamualaikum
Warahmatullah wa Baarakatuh
SYAHADAH:
Sajian Ayat dan Hadits Muamalah Ekonomi Syariah
Seri 003
ASOSIASI
PENGAJAR DAN PENELITI HUKUM EKONOMI ISLAM INDONESIA (APPHEISI)
LARANGAN RIBA DALAM ISLAM
Allah
Ta’ala berfirman:
ٱلَّذِينَ يَأْكُلُونَ ٱلرِّبَوٰا۟
لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِى يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيْطَٰنُ مِنَ ٱلْمَسِّ
ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوٓا۟ إِنَّمَا ٱلْبَيْعُ مِثْلُ ٱلرِّبَوٰا۟ ۗ وَأَحَلَّ
ٱللَّهُ ٱلْبَيْعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰا۟ ۚ فَمَن جَآءَهُۥ مَوْعِظَةٌۭ مِّن رَّبِّهِۦ
فَٱنتَهَىٰ فَلَهُۥ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ
أَصْحَٰبُ ٱلنَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ
Orang-orang
yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya
orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka
yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya
jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan
mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari
Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang
telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah)
kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah
penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. QS. Al-Baqarah: 275.
Hadits
Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam:
عَنْ جَابِرٍ قَالَ لَعَنَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ
وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ.
Dari
Jabir Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam
melaknat pemakan riba, pemberi makan riba, penulisnya dan dua saksinya”,
dan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mereka itu sama.” HR.
Muslim
Faidah
Hukum Ayat dan Hadits:
1. Orang
yang mengonsumsi riba di dunia hidupnya tidak tenang dan di akhirat seperti
orang yang kerasukan setan.
2. Allah
Ta’ala telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
3. Ampunan
Allah Ta’ala bagi orang-orang yang di masa lalu menggunakan akad riba dalam
transaksinya.
4. Ancaman
masuk neraka bagi mereka yang mengulangi transaksi yang mengandung riba, bahkan
kekal di dalamnya.
5. Rasulullah
Shalallahu Alaihi wassalam melaknat pemakan riba, pemberi makan riba,
penulisnya dan dua saksinya.
Mari
sama-sama kita meninggalkan transaksi yang mengandung uinsur riba dan
memperbanyak jual beli serta transaksi yang dihalalkan oleh Allah Ta’ala.
Konsultasi
Muamalah dan Ekonomi Syariah: HP: 085885753838 (Dr. Abd Misno, SHI., SE., MEI)
Kunjungi
situs kami di www.aphheisi.or.id
LARANGAN MEMAKAN HARTA SECARA BATIL
Bismillah
Assalamualaikum
Warahmatullah wa Baarakatuh
SYAHADAH:
Sajian Ayat dan Hadits Muamalah Ekonomi Syariah
Seri 002
ASOSIASI
PENGAJAR DAN PENELITI HUKUM EKONOMI ISLAM INDONESIA (APPHEISI)
LARANGAN MEMAKAN HARTA SECARA BATIL
Allah
Ta’ala berfirman:
وَلا
تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى
الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالإثْمِ وَأَنْتُمْ
تَعْلَمُونَ
Dan janganlah sebahagian kamu
memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan
(janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat
memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat)
dosa, padahal kamu mengetahui. QS. Al-Baqarah: 188.
Rasulullah Shalallahu Alaihi
Wassalam bersabda:
إِنَّ
دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي
شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا… » الحديث . رواه مسلم .
‘Sesungguhnya darah dan harta
kalian, haram bagi sesama kalian. Sebagaimana haramnya hari ini, haramnya bulan
ini di negeri kalian ini…‘ HR. Muslim.
Faidah
Hukum Ayat dan Hadits:
1. Larangan
mengonsumsi harta milik sendiri dan orang lain dengan cara batil.
2. Konsumsi
batil adalah; transaksi batil, bohong dalam jual beli, mencopet, mencuri,
merampok, korupsi dan melakukan transaksi yang diharamkan Islam lainnya.
3. Larangan
mengadukan sengketa kepada hakim (pengadilan) dengan tujuan mendapatkan harta
yang bukan haknya.
4. Termasuk
perbuatan dosa (haram) melakukan perbuatan yang melanggar hak orang lain baik
sebagian ataupun secara keseluruhan.
5. Kehormatan
dan harta seorang muslim haram untuk dilanggar, kecuali dengan izin dan
keridhaan.
Mari
bersama-sama kita menjaga diri kita jangan sampai mengonsumsi harta sendiri dan
harta orang lain dengan cara yang batil serta diharamkan oleh syariat Islam.
Konsultasi
Muamalah dan Ekonomi Syariah: HP: 085885753838 (Dr. Abd Misno, SHI., SE., MEI)
Kunjungi
situs kami di www.aphheisi.or.id
LARANGAN MEMAKAN HARTA SECARA BATIL
Bismillah
Assalamualaikum
Warahmatullah wa Baarakatuh
SYAHADAH:
Sajian Ayat dan Hadits Muamalah Ekonomi Syariah
Seri 001
ASOSIASI
PENGAJAR DAN PENELITI HUKUM EKONOMI ISLAM INDONESIA (APPHEISI)
LARANGAN MEMAKAN HARTA SECARA BATIL
Allah
Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً
عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
Wahai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan
jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka
sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya
Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. QS. An-Nisaa: 29.
Hadits
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam:
سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى الله
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ ؟ قَالَ عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ
بَيْعٍ مَبْرُوْرٍ – رواه االبزار والحاكم
“Nabi
saw pernah ditanya; Usaha (pekerjaan/profesi) apakah yang paling baik (paling
ideal) ?, Rasulullah saw bersabda; pekerjaan (usaha) seseorang dengan tangannya
dan setiap jual beli yang baik.” HR. Bazzar dan al-Hakim.
إِنَّمَا الْبَيْعُ عَنْ تَرَاضٍ
– رواه البيهقي
“Sesungguhnya
jual beli (harus) atas dasar saling ridha (suka sama suka).” HR. Al-Baihaqi.
Faidah
Hukum Ayat-Hadits:
1. Larangan
mengonsumsi harta milik sendiri dan orang lain dengan cara batil.
2. Konsumsi
batil adalah; bohong dalam jual beli, riba, mencopet, mencuri, merampok,
korupsi dan melakukan transaksi yang diharamkan Islam lainnya.
3. Jual
beli menjadi solusi agar terbebas dari konsumsi batil, dengan persyaratan
saling Ridha.
4. Larangan
membunuh diri sendiri dan orang lain, termasuk membunuh perekonomian saudara
muslim dengan tidak mendukung ekonomi mereka.
5. Salah
satu pekerjaan yang baik adalah dengan jual beli yang mabrur (baik).
Mari
bersama kita meninggalkan mengonsumsi harta sendiri dan orang lain dengan cara
yang batil yaitu yang tidak sesuai dengan syariah Islam. Serta menggalakan
untuk berniaga (bisnis) yang didasarkan kepada nilai-nilai Islam.
Konsultasi
Muamalah dan Ekonomi Syariah: HP: 085885753838 (Dr. Abd Misno, SHI., SE., MEI)
Kunjungi
situs kami di www.aphheisi.or.id
Rabu, 28 Juni 2023
Keutamaan dan Amalan Hari-hari Tasyriq
Oleh: Misno bin Mohamad Djahri
Setelah merayakan Hari raya Idhul
Adha, maka umat Islam merayakan rangkaian hari raya ini hingga tiga hari yaitu
11, 12 dan 13 Dzulhijjah. Hari-hari ini disebut dengan tasyriq yang diambil
dari kata [شرقت الشمش] yang artinya matahari terbit. Menjemur sesuatu, dalam
bahasa Arab dinyatakan: [شَرَّقَ الشَيْءَ لِلشَّمْشِ]. Menurut Imam Nawawi
dalam Al-Minhaj, hari-hari ini disebut dengan tasyriq karena orang-orang
menjemur daging kurban di waktu tersebut, yaitu mendendeng dan menghampar
daging pada terik matahari.
Abu Ubaid mengatakan “Ada dua
pendapat ulama tentang alasan penamaan hari-hari tersebut dengan hari tasyrik:
Pertama, dinamakan hari tasyrik karena kaum muslimin pada hari itu menjemur
daging kurban untuk dibuat dendeng. Kedua, karena kegiatan berqurban, tidak
dilakukan, kecuali setelah terbit matahari. (Lisanul Arab, 10:173)”.
Keutamaan Hari-hari Tasyriq
Hari-hari ini memiliki banyak
keutamaan sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ تَعَجَّلَ
فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ لِمَنِ
اتَّقَى وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
“Dan berzikirlah (dengan menyebut)
Allah dalam beberapa hari yang terbilang.” (QS. Al Baqarah: 203).
Ibnu ‘Umar dan ulama lainnya
mengatakan bahwa ayyamul ma’dudat adalah tiga hari tasyriq. Ini
menunjukkan adanya perintah berdzikir di hari-hari tasyriq. Namun Ibnu ‘Abbas
dan ‘Atho’ mengatakan bahwa hari yang terbilang di situ adalah empat hari yaitu
hari Idul Adha dan tiga hari sesudahnya. Hari-hari tersebut disebut hari
Tasyriq. Namun pendapat pertama yang menyatakan bahwa hari yang terbilang
adalah tiga hari sesudah Idul Adha adalah pendapat yang lebih tepat.
Maka, hari tasyriq adalah hari raya
bagi umat Islam, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam:
يَوْمُ عَرَفَةَ وَيَوْمُ النَّحْرِ وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا
أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَهِىَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ
“Hari Arofah, hari Idul Adha dan
hari-hari Tasyriq adalah ‘ied kami -kaum muslimin-. Hari tersebut (Idul Adha
dan hari Tasyriq) adalah hari menyantap makan dan minum.” HR. Abu Dawud,
Thirmidzi dan Nasai.
Riwayat lainnya menjelaskan:
إِنَّ أَعْظَمَ الأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى
يَوْمُ النَّحْرِ ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ
“Sesungguhnya hari yang paling
mulia di sisi Allah Tabaroka wa Ta’ala adalah hari Idul Adha dan yaumul qorr
(hari tasyriq).” HR. Abu Dawud.
Hari tasyriq disebut yaumul qorr
karena pada saat itu orang yang berhaji berdiam di Mina. Hari tasyriq yang
terbaik adalah hari tasyriq yang pertama, kemudian yang berikutnya dan
berikutnya lagi.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَّ
أَنَّهُ قَالَ مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلَ مِنْهَا فِي هَذِهِ
Artinya: “Dari sahabat Ibnu Abbas
ra., dari Nabi Muhammad saw, ia bersabda, ‘Tidak ada amal pada hari-hari ini
yang lebih utama daripadanya di hari-hari ini,’” (HR Bukhari).
Merujuk pada ayat dan hadits
tersebut maka dapat disimpulkan bahwa hari-hari tasyriq memiliki banyak
keutamaan karena mengandung syariah menyembelih kurban dan perintah untuk
berzikir dan memuji Allah Ta’ala.
Idul Adha dan Tasyriq: Hari
Bersenang-senang dan Menyantap Makanan
Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam mengatakan bahwa Idul Adha dan hari tasyriq adalah hari kaum
muslimin untuk menikmati makanan, beliau bersabda,
أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ
“Hari-hari tasyriq adalah hari
menikmati makanan dan minuman.” HR. Muslim
Dalam lafazh lainnya, beliau
bersabda,
وَأَيَّامُ مِنًى أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ
“Hari Mina (hari tasyriq) adalah
hari menikmati makanan dan minuman.” HR. Muslim.
عَنْ نُبَيْشَةَ الْهُذَلِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَزَادَ
فِي رواية وَذِكْرٍ لِلَّهِ
“Dari Nubaisyah Al-Hudzali, ia
berkata, Rasulullah saw. bersabda, Hari Tasyrik adalah hari makan, minum (pada
riwayat lain), dan hari zikir,’” (HR Muslim).
Ibnu Rajab mengatakan:
و إنما نهى عن صيام أيام التشريق
لأنها أعياد للمسلمين مع يوم النحر فلا تصام بمنى و لا غيرها عند جمهور العلماء، خلافا لعطاء
في قوله : إن النهي يختص بأهل منى
“Kita dilarang berpuasa pada hari
tasyrik karena hari tasyrik adalah hari raya kaum muslimin, disamping hari raya
qurban. Karena itu, tidak boleh puasa di Mina maupun di daerah lainnya, menurut
mayoritas ulama. Tidak sebagaimana pendapat Atha yang mengatakan, sesungguhnya
larangan puasa di hari tasyrik, khusus bagi orang yang tinggal di Mina.”
(Lathaiful Ma’arif, hlm. 509).
Merujuk pada riwayat tersebut maka
hari-hari tasyriq adalah hari untuk makan dan minum karena merupakan rangkaian
dari hari raya Idhul Adha serta dipotongnya hewan qurban yang dinikmati oleh
umat Islam.
Amalan Hari Tasyriq: Berdzikir
Amalan yang paling utama pada hari-hari
ini adalah berdzikir (mengingat) Allah Ta’al’la, sebagaimana firmanNya:
وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ تَعَجَّلَ
فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ لِمَنِ
اتَّقَى وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
“Dan berzikirlah (dengan menyebut)
Allah dalam beberapa hari yang terbilang.” (QS. Al Baqarah: 203).
Ayat ini secara jelas menunjukan
perintah untuk berdzikir di hari-hari tasyriq. Adapun dzikir-dzikir yang
disyariatkan adalah;
Pertama: berdzikir kepada
Allah dengan bertakbir setelah selesai menunaikan shalat wajib. Ini
disyariatkan hingga akhir hari tasyriq sebagaimana pendapat mayoritas ulama.
Hal ini juga diriwayatkan dari ‘Umar, ‘Ali dan Ibnu Abbas.
وكان أبو حنيفة يذهب بالتشريق في هذا إلى التكبير في دبر الصلاة
“Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa
amal pada Hari Tasyrik adalah takbir setelah shalat,” (Al-Asqalani, 2004 M/1424
H: II/525).
Kedua: membaca tasmiyah (bismillah)
dan takbir ketika menyembelih qurban. Waktu menyembelih qurban adalah sampai
akhir hari tasyriq (13 Dzulhijah) sebagaimana pendapat mayoritas ulama.
Pendapat ini juga menjadi pendapat Imam Asy Syafi’i dan salah satu pendapat
dari Imam Ahmad. Namun mayoritas sahabat berpendapat bahwa waktu menyembelih
qurban hanya tiga hari yaitu hari Idul Adha dan dua hari tasyriq setelahnya (11
dan 12 Dzulhijah). Pendapat kedua ini adalah pendapat yang masyhur dari Imam
Ahmad, juga termasuk pendapat Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan kebanyakan
ulama.
Ketiga: berdzikir memuji
Allah Ta’ala ketika makan dan minum. Yang disyari’atkan ketika memulai makan
dan minum adalah membaca basmallah dan mengakhirinya dengan hamdalah.
Keempat: berdzikir dengan
takbir ketika melempar jumroh di hari tasyriq. Dan amalan ini khusus untuk
orang yang berhaji.
Kelima: Berdzikir pada Allah
secara mutlak karena kita dianjurkan memperbanyak dzikir di hari-hari tasyriq.
Sebagaimana ‘Umar ketika itu pernah berdzikir di Mina di kemahnya, lalu manusia
mendengar. Mereka pun bertakbir dan Mina akhirnya penuh dengan takbir.
Memperbanyak Do’a Sapu Jagad
Amalan selanjutnya dalah berdoa
kepada Allah Ta’ala khususnya doa apu jagad. Ini sebagaimana firman Allah Ta’al:
فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ
آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي
الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ, وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا
آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Apabila kamu telah menyelesaikan
ibadah hajimu, maka berzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu
menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah
lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan
kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang
menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Robbana
aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” [Ya
Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan
peliharalah kami dari siksa neraka].” (QS. Al Baqarah: 200-201)
Berdasarkan ayat ini maka para ulama
menganjurkan membaca do’a “Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti
hasanah wa qina ‘adzaban naar” di hari-hari tasyriq. Sebagaimana hal ini
dikatakan oleh ‘Ikrimah dan ‘Atho’.
Do’a sapu jagad ini terkumpul di
dalamnya seluruh kebaikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam paling
sering membaca do’a sapu jagad ini. Anas
bin Malik mengatakan,
كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – « اللَّهُمَّ
رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ »
“Do’a yang paling banyak dibaca oleh
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Allahumma Robbana aatina fid dunya
hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” [Wahai Allah, Rabb
kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah
kami dari siksa neraka].” HR. Bukhari dan Muslim
Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Kebaikan di dunia adalah ilmu
dan ibadah. Kebaikan di akhirat adalah surga.” Sufyan Ats Tsauri mengatakan,
“Kebaikan di dunia adalah ilmu dan rizki yang thoyib. Sedangkan kebaikan di
akhirat adalah surga.”
Diriwayatkan dari Al Jashshosh,
dari Kinanah Al Qurosy, dia mendengar Abu Musa Al Asy’ariy berkata ketika
berkhutbah di hari An Nahr (Idul Adha), “Tiga hari setelah hari An Nahr (yaitu
hari-hari tasyriq), itulah yang disebut oleh Allah dengan ayyam ma’dudat
(hari yang terbilang). Do’a pada hari tersebut tidak akan tertolak (pasti
terkabul), maka segeralah berdo’a dengan berharap pada-Nya.”
Banyak Bersyukurlah pada Allah
di Hari Tasyriq
Pada hari tasyriq terkumpullah
berbagai macam nikmat badaniyah dengan makan dan minum, juga terdapat nikmat
qolbiyah (nikmat hati) dengan berdzikir kepada Allah. Dan sebaik-baik hati
adalah yang sering berdzikir dan bersyukur. Dengan demikian nikmat-nikmat
tersebut akan menjadi sempurna. Jika kita diberi taufik untuk mensyukuri
nikmat, maka syukur yang baru itu sendiri adalah nikmat. Sehingga perintah
syukur selamanya tidak akan usai.
Seorang penyair mengatakan:
Idza kana syukri ni’matallah
ni’matan, ‘alayya lahu fi mitsliha yajibusy syukr
Jika mensyukuri nikmat Allah adalah
nikmat, maka karena nikmat semisal inilah, kita wajib bersyukur pula.
Berdasarkan pembahasan sebelumnya
maka dapat disimpulkan bahwa hari-hari tasyriq memiliki banyak keutamaan, salah
satunya adalah sebagai hari raya bagi umat Islam. Pada hari-hari tersebut kita
disyariahkan untuk memotong hewan kurban, makan dan minum, berdzikir, berdo’a
serta bersyukur kepada Allah Ta’ala.
Minggu, 04 Juni 2023
Hawa yang Selalu Menggelora
Oleh: Misno Mohd Djahri
Salah satu unsur dari manusia yang
selalu membawa kepada hal-hal yang bersifat dunia adalah hawa yang ada di dada.
Ianya memang menjadi bagian tidak terpisahkan dari manusia, hingga manusia
lalai dan lupa akan tujuan kehidupannya di dunia. Bagaimana ketika hawa selalu
bergelora di jiwa?
Hawa nafsu manusia, secara bahasa
adalah keinginan dari jiwa manusia. Ia adalah unsur yang menjadikan manusia
memiliki rasa, asa dan cita-cita tentang dunia. Hawa manusia bisa berupa rasa
suka dengan manusia lainnya hingga suka dengan harta dan dunia. Hawa dari satu
sisi menjadikan kehidupan manusia lebih berwarna dengan gairah membara. Ini jika
diarahkan kepada hal-hal yang halal dan diperkenankan oleh agama. Namun kebanyakan
manusia terlena dengan hawanya hingga menjadikannya sebagai pendorong untuk melanggar
segala aturanNya.
Hawa yang selalu bergelora dalam
tulisan ini adalah hawa nafsu manusia yang selalu mengajak kepada keburukan,
cinta dengan dunia, harta dan wanita atau laki-laki lainnya. Pada batas yang
diperbolehkan syara’ tentu tidak mengapa, sayangnya seringkali hawa selalu membawa
pada hal-hal yang melanggara aturanNya. Mencintai dunia secara berlebihan
hingga lupa dengan alam setelahnya, mencintai harta secara berlebihan hingga
lupa pada pemilik mutlak harta yaitu Allah Ta’ala. Hawa juga yang menjadikan
seseorang cinta dengan wanita atau lelaki lainnya hingga membawanya pada jurang
penuh alpha.
Bertambahnya usia, terkadang tidak
mengurangi dari hawa-nya untuk melampiaskan semau hasratnya. Bahkan kita lihat
bagaimana seorang yang sudah usia di atas 50 tahun hingga tua renta masih
terlena dengan hawa-nya hingga melakukan berbagai hubungan yang tidak dibenarkan oleh agama. Hawa
itu semakin menggelora bahkan ketika menjelang renta, di mana ia memiliki harta
dan hawa-nya selalu mengajak pada dosa dan maksiat kepadaNya.
Maka, hawa yang terus menggelora
sejatinya adalah cobaan dari Sang kuasa, apakah kita mampu untuk menjaganya
agar sentiasa berada di jalanNya atau terbawa dalam rasa yang tidak dibenarkan
agama. Hawa yang selalu menggelora sejatinya adalah ujian bagi kita, apakah akan
membawa pada kebahagiaan di akhirat sana, atau terlena dengan kenikmatan
sementara di dunia yang fana.
Semoga Allag Ta’ala sentiasa
memberikan hidayah dan inayahNya, sehingga kita mampu untuk mengelola hawa yang
selalu menggelora… Aameen, Di tengah gelora jiwa 04062023.
Tiga Macam Ego yang Merusak Harmoni Organisasi
Oleh: Luqman Hidayat, M.Pd.
--------------
Salah satu fitrah manusia adalah berkumpul, berinteraksi, bersosialisasi, membentuk komunitas dan mendirikan organisasi dengan orang-orang yang dianggap mempunyai tujuan yang sama.
--
Seiring berjalannya waktu di dalam
berinteraksi/bermuamalah pada komunitas/organisasi biasanya akan muncul silang
pendapat, perbedaan persepsi yang hal ini tidak jarang dapat memicu terjadinya
konflik di dalam komunitas/organisasi tersebut.
--
Salah satu sebab yang dapat mengakibatkan
konflik terjadi berlarut-larut dan tak kunjung menemui titik temu adalah EGO
PRIBADI. Ada 3 macam ego yang bisa muncul:
--
1. Merasa Paling Pintar
Merasa diri paling pintar sehingga
selalu menganggap rendah orang-orang di sekelilingnya. Orang lain dianggap
awam, sedang diri sendiri dianggap ahli. Sehingga pendapat orang selalu
dikesampingkan tanpa melihat fakta dan dalil-dalil ilmiah. Pokoknya kalau bukan
pendapatnya yang dipakai kurang afdhol. Gengsi menerapkan konsep yang tidak
berasal dari gagasannya sendiri. Ego yang semacam ini sering terjadi pada
jajaran manager, baik itu top manager, middle manager atau pun lower manager.
Karena merasa memiliki otoritas, maka jajaran staf yang tidak memiliki otoritas
hanya pasrah walaupun pendapatnya benar tapi tidak dianggap. Paling hanya
menggerutu dalam hati.
--
2. Merasa Paling Sengsara
Sudah merasa berusaha sekuat
tenaga, all out, ikhlas menyumbangkan tenaga, waktu dan pikiran bahkan tak
jarang mengeluarkan uang dari kantong pribadi, tapi tak pernah diapresiasi, tak
pernah dianggap, seolah tak punya arti. Lho, bukannya bekerja itu harus ikhlas?
Iya, betul sekali. Tapi yang hati itu tidak bisa dibohongi, terkadang perlu
dihibur bahkan harus sering dimotivasi. Dalam situasi seperti ini, seorang
manager harus peka. Berikan apresiasi, berikan reward, berikan motivasi agar
yang bersangkutan tidak patah hati. Karena yang namanya hati kadang kuat,
kadang rapuh, kadang semangat, kadang layu,. Sebagaimana iman, bisa bertambah
dan bisa berkurang. Biasanya terjadi pada bawahan, anak buah atau jajaran
pelaksana di lapangan.
--
3. Merasa Paling Berjasa
Di dalam organisasi, kita harus
sama-sama menjaga hati. Hendaknya kita saling menghargai satu sama lain. Jika
ada seseorang yang kita anggap paling berjasa dalam organisasi kita, maka
rangkullah ia, jaga dengan baik, jangan sampai terlepas. Jika diri kita sendiri
yang ternyata Allah takdirkan sebagai orang yang mempunyai jasa besar di dalam
organisasi, maka kita harus pandai-pandai menjaga hati, agar tetap rendah hati
dan dijauhkan dari sifat sombong. Tetaplah bersikap sebagaimana biasa. Tanamkan
dalam hati kita bahwa di dalam organisasi ini tidak ada yang paling berjasa,
tetapi semuanya mempunyai jasa yang besar, mempunyai kontribusi, sesuai dengan
kemampuan masing-masing.
--
Terakhir, mari kita berdoa kepada
Allah Ta'ala agar Allah menyatukan hati kita dan semoga Allah senantiasa
memberikan taufik kepada kita semua agar dijauhkan dari sifat sombong dan
dijauhkan dari sifat egois.
--
Tulang Bawang,
13 Dzulqa'dah 1444 H/2 Juni 2023 M
Luqman Hidayat, M.Pd.



