Rabu, 14 Februari 2024

Teori Manajemen Syariah

Oleh: Misno dan AI


 

Manajemen Syariah adalah pendekatan dalam pengelolaan organisasi yang didasarkan pada prinsip-prinsip dan nilai-nilai Islam serta berlandaskan pada hukum-hukum syariah. Pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan bisnis yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam, termasuk dalam hal etika bisnis, keadilan, tanggung jawab sosial, dan transparansi.

Penerapan Manajemen Syariah dapat mencakup berbagai aspek dalam pengelolaan organisasi, seperti manajemen keuangan, manajemen operasional, manajemen sumber daya manusia, dan lain-lain. Beberapa prinsip utama dalam Manajemen Syariah antara lain:

1. **Ketaatan pada Ajaran Islam**: Organisasi yang menerapkan Manajemen Syariah harus menjalankan operasinya sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Islam yang terdapat dalam Al-Qur'an dan Sunnah.

2. **Keadilan dan Transparansi**: Manajemen Syariah menekankan pentingnya keadilan dan transparansi dalam segala aspek operasional, termasuk dalam hal keputusan bisnis, pembagian keuntungan, dan pengelolaan aset perusahaan.

3. **Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan**: Organisasi yang menerapkan Manajemen Syariah diharapkan memiliki kesadaran sosial yang tinggi dan peduli terhadap lingkungan sekitar. Mereka diharapkan untuk berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat dan menjaga kelestarian lingkungan hidup.

4. **Pencegahan Ribawi (Riba)**: Manajemen Syariah menolak praktik riba atau bunga dalam transaksi keuangan dan investasi. Sebagai gantinya, mereka mendorong praktik-praktik keuangan yang sesuai dengan prinsip syariah, seperti profit-sharing (mudharabah) dan jual-beli dengan sistem bagi hasil (musharakah).

5. **Pembinaan Etika Bisnis Islam**: Organisasi yang menerapkan Manajemen Syariah diharapkan mempromosikan etika bisnis Islam yang mencakup jujur, adil, dan berintegritas dalam semua interaksi bisnis.

Penerapan Manajemen Syariah tidak hanya terbatas pada lembaga keuangan Islam, tetapi juga dapat diterapkan dalam berbagai jenis organisasi, termasuk perusahaan, lembaga amal, dan lembaga pendidikan. Tujuannya adalah untuk menciptakan lingkungan bisnis yang sesuai dengan nilai-nilai Islam dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat secara keseluruhan. Bogor 1402024.

Kewajiban Muslim dalam Memilih Calon Presiden Muslim yang Taat

By: Misno and AI

 


Demokrasi modern meniscayakan setiap warga negara untuk menggunakan hak pilihnya, hak untuk memilih pemimpin negara merupakan salah satu keistimewaan yang dipegang oleh setiap warga negara. Bagi umat Muslim, tanggung jawab ini menjadi lebih kompleks karena selain mempertimbangkan kualifikasi dan program kerja, mereka juga memiliki pertimbangan agama dalam memilih calon presiden. Pemilihan seorang pemimpin yang memegang teguh prinsip-prinsip Islam dan taat pada ajaran agamanya merupakan kewajiban moral dan spiritual bagi umat Muslim. Bagaimana umat Islam memilih calon presiden dan wakilnya? Jawabannya adalah dengan memilih calon presiden dan wakil presiden yang memiliki ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Adapun beberapa pertimbangan yang dapat dilakukan adalah:

 

1. Konsep Kepemimpinan dalam Islam.

Dalam ajaran Islam, konsep kepemimpinan sangatlah penting. Seorang pemimpin dianggap sebagai khalifah, yang bertanggung jawab atas keadilan, kesejahteraan umat, dan penegakan nilai-nilai agama. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an, "Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung" (Q.S. Ali Imran [3]: 104). Oleh karena itu, memilih pemimpin yang taat pada ajaran Islam merupakan bagian integral dari prinsip-prinsip agama.

 

2. Tanggung Jawab Umat Muslim dalam Pemilihan Pemimpin

Umat Muslim memiliki tanggung jawab moral dan agama untuk memilih pemimpin yang memenuhi kriteria keislaman. Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda, "Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian bertanggung jawab atas pengawasannya" (HR. Bukhari). Hal ini menegaskan bahwa pemilihan pemimpin bukanlah sekadar hak, tetapi juga sebuah amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala.

 

3. Kriteria Calon Presiden Muslim yang Taat

Dalam memilih calon presiden, umat Muslim perlu mempertimbangkan beberapa kriteria penting, antara lain:

a.     Ketaatan pada Ajaran Islam: Calon presiden harus memiliki rekam jejak yang menunjukkan ketaatan dan komitmen pada ajaran Islam dalam kehidupan pribadi dan publiknya.

b.     Keadilan dan Kesetaraan: Seorang pemimpin Muslim harus mengedepankan keadilan dan kesetaraan dalam memimpin, sesuai dengan prinsip-prinsip yang terdapat dalam Al-Qur'an dan Sunnah.

c.     Integritas dan Kepemimpinan yang Berkualitas: Calon presiden harus memiliki integritas yang tinggi dan kemampuan kepemimpinan yang berkualitas untuk memimpin negara dengan baik.

 

4. Peran Masyarakat dalam Memilih Calon Presiden Muslim yang Taat

Masyarakat Muslim memiliki peran yang sangat penting dalam memilih calon presiden yang taat pada ajaran Islam. Mereka perlu melakukan penelitian yang cermat tentang calon-calon yang tersedia, mengkaji program kerja dan visi-misi mereka, serta menilai konsistensi mereka dalam menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

 

Kesimpulan

Memilih pemimpin merupakan hak yang diberikan kepada setiap warga negara, termasuk umat Muslim. Namun demikian, bagi umat Islam, pemilihan pemimpin tidak sekadar masalah politik, tetapi juga merupakan bagian dari kewajiban agama. Memilih calon presiden Muslim yang taat pada ajaran Islam merupakan manifestasi dari tanggung jawab moral dan spiritual yang harus dipenuhi oleh setiap Muslim. Oleh karena itu, penting bagi umat Muslim untuk memilih pemimpin yang mampu memimpin dengan baik sesuai dengan prinsip-prinsip agama dan memiliki komitmen yang kuat terhadap kesejahteraan umat dan penegakan nilai-nilai Islam. Bogor, 14022024.

Pentingnya Memilih Pemimpin Muslim yang Taat bagi Umat Islam

Oleh: Misno dan Bing


Sebagai umat Islam, memilih pemimpin memiliki signifikansi yang mendalam. Berdasarkan Al-Qur'an dan hadits, berikut adalah beberapa sikap yang perlu dipahami oleh umat Muslim ketika memilih pemimpin:

1. Kewajiban Menaati Ulil Amri: Dalam surat An-Nisa ayat 59, Allah memerintahkan umat Muslim untuk menaati aturan yang dibuat oleh ulil amri (pemimpin). Ulil amri ini akan memegang peran penting dalam masyarakat dan wilayah tertentu. Oleh karena itu, memilih pemimpin yang memiliki kualitas moral dan etika yang baik adalah tanggung jawab kita sebagai Muslim.

2. Kriteria Memilih Pemimpin: Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa ada empat kriteria utama dalam memilih pemimpin:

   - Najdat: Pemimpin harus memiliki cukup kekuatan dan berwibawa.

   - Kifayah: Pemimpin mampu menyelesaikan segala persoalan.

   - Wara': Pemimpin memiliki sikap hidup yang baik.

   - Ilmu: Pemimpin memiliki ilmu pengetahuan yang bermakna.

3. Hindari Memilih Pemimpin yang Lemah: Rasulullah SAW juga mewanti-wanti agar umat Muslim tidak memilih pemimpin yang lemah. Pemimpin harus mengemban tugas dengan baik dan melaksanakan amanah dengan benar.

4. Kesadaran Batin: Ketika memilih pemimpin, kita harus menunaikan tanggung jawab kepada Allah SWT. Pilihan harus didasarkan pada keikhlasan dan bukan pengaruh ancaman atau suap.

5. Tanggung Jawab Moral dan Etika: Memilih pemimpin yang baik dan adil bukan hanya masalah politik, tetapi juga bagian integral dari tanggung jawab moral dan etika setiap Muslim.

6. Bertanggung Jawab dalam Penggunaan Hak Pilih: Setiap Muslim yang memiliki hak pilih wajib menggunakannya secara bertanggung jawab. Pilihlah pemimpin yang memenuhi syarat ideal kepemimpinan agar dapat mengemban tugas dengan amanah.

7. Kepemimpinan dalam Perspektif Islam: Pemimpin yang baik harus bertanggung jawab, adil, tulus, dan berusaha untuk kepentingan terbaik rakyatnya.

Bagaimana jika semua calon pemimpin adalah seorang muslim? Maka jawabannya adalah pilih muslim yang lebih taat dan memiliki track record yang baik di masa lalu. Mereka yang komitmen dan memiliki loyalitas dengan Islam sejak awal, hingga saat ini adalah pilihan yang tepat. Jangan terpedaya dengan penampilan, atau janji-janji dan program yang baru dibuat yang seolah-olah memiliki komitmen tinggi kepada Islam. Tapi Pilihlah mereka yang memiliki perjalanan hidup yang jelas yaitu memiliki loyalitas kuat terhadap Islam.

Ingatlah bahwa memilih pemimpin bukan hanya hak, tetapi juga amanah yang harus kita laksanakan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Semoga kita selalu diberikan petunjuk dalam memilih pemimpin yang terbaik bagi umat Islam. Amin, 14022024.

Hari Memilih Nasional

Oleh: Misno


Hari ini, Rabu 14 Februari 2024 warga negara Indonesia menggunakan hak pilihnya untuk menentukan presiden dan wakil presiden untuk lima tahun ke depan. Hiruk-pikuk kampanye dan berbagai terkait dengan pemilihan ini begitu terasa di seanteor Indonesia. Faktanya bukan hanya presiden dan wakil presiden yang dipilih, namun juga anggota dewan dari mulai Dewan Perwakilan rakyat (DPR) Pusat hingga DPR Daerah Tingkat Kabupaten dan Kota Madya. Tak ayal, gegap-gempita Pemilihan Umum ini begitu membahana.

Calon Presiden dan Wakil Presiden yang terdiri dari tiga calon telah berkampanye, bahkan sejak awal deklarasi, dengan berbagai janji-janji dan program-program unggulan mereka berusaha mendapatkan simpati warga dengan harapan mau memilih mereka. Tentu saja bukan hanya yang terucap, tetapi berbagai media digunakan untuk menyukseskan tujuan mereka. Bahkan tidak jarang permainan kotor dilakukan untuk memenangkan pemilu ini. Salah satu contoh nya adalah berbagai berita hoax serta trik-trik yang tidak kasat mata, dilakukan oleh beberapa pasangan calon.

Sebagai warga negara yang baik tentu saja penulis juga akan menggunakan hak pilihnya, dengan berbagai pertimbangan yang ada dan beberapa informasi yang menyebar di berbagai media, maka penulis yakin dengan pilihan sendiri, yaitu calon presiden dan wakil presiden yang memiliki kelebihan khususnya dalam hal loyalitas kepada Islam dan keadilan serta kesejahteraan untuk rakyat Indonesia. Tentu saja pilihan saya adalah rahasia saya, sehingga tidak perlu dituliskan di sini, namun kata kunci yang sebenarnya sudah sangat jelas, bahwa sebagai muslim kita wajib untuk memilih presiden dan calon presiden yang memiliki track record yang jelas yaitu membela Islam dan kemanusiaan.

Banyaknya berita yang beredar terkadang memang membuat masyarakat bingung, namun perjalanan Panjang dari calon presiden dan wakil presiden serta partai yang mengusungnya sudah sangat jelas memberikan gambaran kepada kita bagaimana dan siapa yang akan kita pilih. Kita memilih calon presiden yang memiliki loyalitas kepada Islam dan Indonesia tanpa mengesampingkan agama dan kepercayaan lainnya. Walaupun bisa jadi ujungnya calon yang kita pilih tidak menjadi, tapi kita sudah berusaha untuk menyokong. Apabila menjadi kenyataan pilihan kita menjadi presiden maka tentu itu yang diharapkan.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan hidayah, inayah dan keberkahannya untuk negara Indonesia, para pemimpinnya dan masyarakat pada umumnya, Aameen ya Rabbal Aa’lameen… Bogor, 14020224.

Sabtu, 20 Januari 2024

Cara Memulai Menulis yang Baik

 Oleh: Misno


Bagaimana cara memulia tulisan yang baik? Anda perlu melakukan beberapa langkah berikut:

  • Tentukan tujuan dan sasaran tulisan Anda. Apa yang ingin Anda sampaikan kepada pembaca? Siapa pembaca yang Anda targetkan? Bagaimana gaya bahasa dan struktur tulisan yang sesuai dengan tujuan dan sasaran Anda?
  • Lakukan riset dan kumpulkan data yang relevan dengan topik tulisan Anda. Anda bisa mencari sumber dari buku, jurnal, internet, atau wawancara. Pastikan Anda memilih sumber yang kredibel dan akurat. Jangan lupa untuk mencatat sumber-sumber yang Anda gunakan sebagai referensi1.
  • Susun kerangka tulisan Anda. Kerangka tulisan adalah rangkaian poin-poin utama yang akan Anda bahas dalam tulisan Anda. Kerangka tulisan akan membantu Anda mengatur alur dan logika tulisan Anda. Anda bisa menggunakan metode peta pikiran, diagram alir, atau daftar2.
  • Tulislah draf pertama Anda. Dalam tahap ini, Anda bisa menuangkan semua ide dan data yang telah Anda kumpulkan ke dalam bentuk kalimat dan paragraf. Jangan terlalu khawatir dengan kesalahan ejaan, tata bahasa, atau format. Yang penting, Anda bisa mengekspresikan pikiran Anda dengan jelas dan runtut.
  • Revisi dan perbaiki tulisan Anda. Setelah menulis draf pertama, Anda perlu membaca kembali tulisan Anda dan memeriksa apakah ada bagian yang perlu diperbaiki, ditambah, atau dikurangi. Anda bisa meminta bantuan teman, guru, atau editor untuk memberi masukan dan kritik. Perhatikan juga aspek-aspek seperti ejaan, tata bahasa, tanda baca, dan format.

Saya harap tips ini dapat membantu Anda memulai tulisan yang baik. Selamat menulis! 😊

Manfaat Menulis bagi Dosen

Oleh: Misno


Menulis adalah salah satu kewajiban dan tanggung jawab moral bagi dosen di Indonesia. Menulis bukan hanya bermanfaat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga untuk menunjang karir dan reputasi dosen sebagai ilmuwan dan pengajar. Berikut adalah beberapa keuntungan menulis bagi dosen di Indonesia:

Semoga bermanfaat... 

Pelantikan Pengurus STIT Sirojul Falah Bogor Masa Bhakti 2024-2027



Yayasan Sirojul Falah Bogor melantik para pengurus pejabat struktural Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Sirojul Falah Bogor pada Sabtu 20 Januari 2024. Acara yang diselenggarakan di Aula STIT Sirojul Falah berlangsung dengan khidmat dengan dihadiri oleh Pimpinan Yayasan Sirojul Falah dan unit-unit yang dikelolanya. Beberapa mahasiswa program sarjana dan Pascasarjana juga hadir dalam pelantikan ini. Bapak Kaimudin, M.Si kembali menerima Amanah sebagai Ketua STIT Sirojul Falah untuk periode masa bhakti 2024-2027. Maknanya beliau memasukan masa jabatan kedua, Ketua Yayasan Sirojul Falah Bapak M. Amin, M.Pd menjelaskan bahwa STIT Sirojul Falah mengalami kemajuan pesat pada masa kepemimpinan Bapak Kaimudin, M.Si, oleh karena itu Yayasan Sirojul Falah Kembali memberikan amanah kepada beliau untuk melanjutkan kembali memimpin STIT Sirojul Falah.

Pada sambutannya, Bapak Kaimudin, M.Si selaku Ketua terpilih menyampaikan bahwa pada masa jabatan pertama beliau berperan sebagai striker, maka di masa kepemimpinan kedua beliau memilih memosisikan diri di tengah untuk mendorong seluruh pengurus untuk maju dan mengembangkan STIT Sifa. Saat ini STIT Sifa telah memiliki dua program studi yaitu Program Sarjana Pendidikan Agama Islam dan Program Pascasarjana Pendidikan Agama Islam. “Saat ini STIT juga telah mengajukan izin prodi baru yaitu Program Studi Ekonomi Syariah dan Hukum Keluarga Islam (HKI/Ahwal asy-Syakhsiyah), dan sudah selesai assement di Ban-PT sehingga tinggal menunggu SK Pendirian jadi” ungkap Ketua STIT Sifa. Beliau juga menyampaikan bahwa setelah dua program studi ini keluar, maka selanjutnya akan mengajukan alih jenjang dari sekolah tinggi ilmu tarbiyah menjadi institut agama Islam. Semoga harapan menjadikan STIT Sirojul Falah sebagai Institut Agama Islam Sirojul Falah segera terwujud.

Para pejabat baru yang mengurus STIT SirojuL Falah Bogor saat ini adalah: Ketua Bapak Kaimudin M.Si., Wakil Ketua 1 Dr. Edy, M.Pd, Wakil Ketua 2 Bapak Alek Maulana, M.Ag, Wakil Ketua 3 Bapak Ahmad Sofyan, M.Si, Kepala P2MI Bapak Nurhasan, M.Pd dan Kepala P3M Bapak Dr. Misno, SHI., SE, MEI., MH.  Selamat kepada sleuruh pengurus STIT Sirojul Falah Masa Bhakti 2023-2027, semoga STIT Sirojul Falah semakin maju dan berkembang serta memberikan manfaat bagi agama, bangsa, negara dan semesta. (mbmd).

Selasa, 02 Januari 2024

Anugrah dan Angkara pada Hawa dan Cinta

Oleh: Bambang Sahaja


Manusia adalah mahkul ciptaan Allah Ta’ala yang dihiasi dengan cinta dan hawa, keduanya memiliki sisi positif dan negatif. Hawa menjadi media untuk mengembangbiakan manusia, selain kesenangan yang menjadi anugerah dari Allah Ta’ala. Sementara cinta adalah rasa suka yang biasanya terkait pula dengan hawa. Jika ia dikelola sesuai dengan syariahNya maka kebahagiaan tiada tara akan didapatkan oleh yang empunya. Namun, apabila tidak kuasa mengelolanya, maka bisa jadi keduanya membawa pada kesengsaraan dunia dan di alam sana.

Hawa yang biasanya menempel dalam jiwa dan menguasai raga adalah keinginan untuk memenuhi apa yang diinginkannya, kebutuhan seksual, makan, minum, dan kenikmatan duniawi lainnya menjadi tujuan utama dari hawa yang senantiasa harus didapatkan. Kepuasan makan dan minum, pemenuhan kebutuhan seksual hingga kesenangan terhadap dunia lainnya selalu dibumbuhi dengan hawa.

Sementara cinta adalah rasa suka pada sesuatu, termasuk seseorang yang dirasa sesuai dengan keinginannya, baik dari segi fisiknya (ganteng atau cantik) serta perilaku dan berbagi sendi kehidupannya. Rasa ini kadang tidak logis, karena bisa muncul kapan saja, di mana saja dan dengan siapa saja. Cinta adalah anugerah darinya, yang tentu saja tidak bisa lepas dari hawa yang ada pada diri manusia. Bagi saya, sangat tidak mungkin seseorang cinta pada orang lain tanpa ada “apa-apa-nya”. Maksudnya adalah seseorang uang cinta pada orang lain pasti ada sebab fisik yang nampak darinya, entah itu fisik atau tubuhnya, keluarganya, hartanya, kekuasaannya dan urusan dunia lainnya. Pendapat ini mungkin akan dikritik banyak orang, karena cinta yang tulus katanya tidak pernah memandang fisik, saya jawab “ya betul” tapi pasti ada sisi lainnya yang memunculkan rasa itu.

Perdebatan tentang cinta dan hawa memang tidak ada habisnya, karena ia terkadang saling berkaitan dan tidak terpisahkan. Hawa pada dunia akan memunculkan rasa suka, dan bisa jadi cinta itu muncul karena melihat fisik manusia lainnya. Sementara cinta muncul karena melihat fisik, dan sisi yang nampak lainnya, ada juga yang melihat dari sisi spiritualnya. Tapi intinya tetap saja “Cinta terkadang diawali dengan hawa, sementara hawa akan memunculkan cinta”.

Hawa dan Cinta sejatinya bisa saling menguatkan, di mana hawa yang selalu berada dalam naungan syariahNya akan memunculkan rasa cinta yang bukan hanya melihat fisik saja namun juga sisi spiritual yang akan membawa kepada kebahagiaan selamanya, di dunia dan di akhirat sana. Semoga kita semua mampu untuk mengelola hawa dan cinta kita sehingga ianya akan membawa kita kepada keridhaan Allah Ta’ala. Wallahu a’alam, 02012024.

Minggu, 31 Desember 2023

Selamat Tinggal Tahun 2023: Semoga Keberkahan di Tahun 2024

By Misno bin Mohamad Djahri


Tulisan ini saya ketik pada Ahad, 31 Desember 2023 Jam 22.58. Tentu saja bukan untuk merayakan pergantian tahun yang sudah menjadi budaya di masyarakat, sekadar refleksi yang bisa jadi ada pengaruh dari perayaan tahun masehi ini. Bagaimanapun memang saat ini kita tidak bisa terpisahkan dari berbagai budaya di masyarakat yang berasal dari berbagai keyakinan dan peradaban. Termasuk mungkin tulisan ini, kenapa harus selamat tinggal 2023? Kenapa harus tahun baru? Dan pertanyaan lainnya yang silahkan disimpulkan sendiri. Tapi intinya, tulisan ini adalah refleksi saya selama tahun 2023.

Tahun 2023, dalam kehidupan saya penuh dengan berbagai peristiwa. Mulai dari perpindahan tempat bekerja, luka lama yang masih menganga karena disakiti dan difitnah di tempat kerja sebelumnya hingga “sakit” masih menyesakkan dada. Semua itu mewarnai kehidupan saya di tahun dua ribu dua puluh tiga. Ya, tahun ini memang “sangat Istimewa” karena berbagai rasa kehidupan terasa hingga ke sekujur badan. Itulah kenapa tulisan ini harus ada di akhir tahun masehi ini. Mungkin rasa ini masih berlanjut hingga beberapa bulan ke depan, atau bahkan menjadi bagian kehidupan yang tidak akan pernah terlupakan.

Fitnah yang terjadi di tempat kerja sebelumnya memang membawa luka di jiwa, tuduhan menggelapkan uang perkuliahan hingga dibuat tidak nyaman dengan keadaan adalah hal yang benar-benar menjadikan alasan untuk keluar dari pekerjaan. Berkali-kali aku sampaikan ke beberapa orang tentang fitnah ini, bahwa aku berlepas diri dari segala fitnah itu, tidak pernah sepeserpun aku memakan harta yang subhat apalagi yang haram. Bahkan kebijakan yang aku lakukan sejatinya adalah untuk memudahkan para mahasiswa agar mendapatkan layanan yang menyenangkan. Tapi berbeda di mata para pejabat yang sedang berkuasa, hingga menganggap aku adalah bagian yang harus dikeluarkan. Tapi biarlah, sudah berlalu lebih kurang 6 bulan dan perlahan aku mulai mengikhlaskan. Itu semua menjadi bagian Sejarah dalam kehidupan dan semakin memahami bagaimana hakikat manusia dan segala tingkah lakunya.

Masuk ke tempat kerja baru tentu tidak mudah, penyesuaian diri dan lingkungan baru harus kujalani. Walaupun masih satu profesi tapi orang-orang dengan karakter berbeda harus kuhadapi, tentu saja beberapa hal harus disesuaikan, mulai dari penampilan hingga toleransi dalam hal-hal yang sifatnya ritual keagamaan. Memang cukup berat, dengan keberagamaan yang berbeda dengan apa yang aku dapatkan tentu memerlukan adanya kelapangan dada dalam menyikapi perbedaan. Sebenarnya ini tidaklah masalah, karena sejak awal memang sudah disampaikan dan secara pribadi dan keilmuan sudah disiapkan. Walaupun hingga enam bulan berjalan rasa “tidak nyaman” dengan pola keberagamaan di tempat baru masih dirasakan. Tapi biarlah, semoga ke depan akan semakin mengalami perbaikan.

Satu hal di tahun 2023 yang masih berjalan adalah “rasa” yang dulu pernah ada masih menggelayuti jiwa. Angkara jiwa yang menggoda hingga raga menikmati pesona dunia yang terasa begitu menggelora. Entah sampai bila “rasa” ini ada, mungkin hingga ajal menjemput nyawa. Ada keinginan untuk menghilangkan minimal mengurangi di usia 45, semoga saja bisa dengan sekuat jiwa dan raga. Namun hingga akhir 2023 ini, sepertinya “rasa” itu masih saja ada dalam dada, bahkan godaannya begitu kuat terasa hingga masih “sulit” untuk melepaskannya. Semoga saja ke hadapan ianya mulai tunduk patuh pada syariahNya.

Semoga di tahun 2024 esok, menjadi tahun yang penuh dengan kegemilangan, kesukesan dan tentu saja keberkahan dalam kehidupan. Cucu yang sudah menginjak 9 bulan, keluarga yang selalu menemani hingga pekerjaan dan lingkungan yang ada menjadi wasilah dalam menghadapai kehidupan ini. Ya Allah, berkahilah kehidupan kami. Aameen, 31122023 Pukul 23.15 WIB.

Rabu, 06 Desember 2023

Dosen STIT Sirojul Falah Mengikuti Wisuda Akbar Standardisasi Dai MUI 2023

 


 

Dosen adalah insan pembelajar yang harus terus meningkatkan kemampuannya khususnya terkait dengan tugas utamanya yaitu Tridharma Perguruan Tinggi yang meliputi Pengajaran, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Upaya peningkatan kemampuan dilakukan melalui berbagai aktifitas; mulai dari belajar dari berbagai sumber, mengikuti pelatihan serta sertifikasi dan standardisasi dari lembaga yang kredibel.

Standardisasi yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) adalah kegiatan dalam Upaya menstandarkan Da’i sehingga mampu berdakwah kepada masyarakat sesuai dengan karakter masyarakat saat ini. Dosen yang da’i adalah sosok unik yang pada satu sisi dia adalah seorang dosen yang harus professional, sementara di sisi lain dia adalah muslim yang memiliki kewajiban untuk berdakwah mengajak kepada Rahmat Islam bagi seluruh alam.

Korelasi keduanya terlihat dari Dharma yang ketiga yaitu pengabdian kepada masyarakat, di mana seorang dosen harus membaktikan ilmunya kepada masyarakat khususnya terkait dengan disiplin ilmu yang menjadi kepakarannya. Berdasarkan hal ini maka dosen yang mengajar i sudah selayaknya untuk memiliki standar yang berasal dari lembaga kredibel semisal MUI. Perguruan Tinggi Islam juga harus mendukung hal ini sehingga disiplin ilmu menjadi core-nya harus bermanfaat untuk masyarakat.

Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Sirojul Falah adalah salah satu perguruan tinggi keagamaan Islam yang berada di Bogor. Fokus Pendidikan agama Islam didukung oleh dosen-dosen yang berkompeten dan memiliki semangat untuk terus meningkatkan kualitasnya melalui berbagai kegiatan termasuk standardisasi yang diselenggarakan oleh MUI.

Salah satu dosen STIT Sirojul Falah yaitu Dr. Misno, SHI., SE., MEI., MH yang mengikuti Standardisasi Dai MUI serta mengikuti WISUDA AKBAR STANDARDISASI DA'I MUI ANGKATAN 11 s/d 28 pada Selasa, 05 Desember 2023 di Mercure Hotel, Ancol – Jakarta.

“Menjadi Da’i MUI adalah da’i memahami teks dan konteks saat ini” ucap K.H. Muhammad Cholil Nafis, Lc., S.Ag., M.A., Ph.D. dalam sambutannya dalam acara wisuda akbar tersebut. Sementara Dr. Misno menyampaikan “Alhamdulillah, saya bersyukur bisa mengikuti wisuda ini dengan sebelumnya mengikuti Standardisasi Angakatan Ke-18”. Semoga Wisuda Standardisasi DAI MUI dan Wisuda Akbar ini memberikan kontribusi bagi Umat, STIT Sirojul Falah dan Masyarakat serta Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (06122023).