Selasa, 24 Januari 2012

Sejarah dan Dasar Hukum Wakaf

Secara bahasa “wakaf” berasal dari bahasa Arab yaitu kata الوقف (al-waqfu) yang merupakan bentuk masdar dari kata kerja وقف (waqafa). Kata kerja ini dalam bahasa Indonesia berarti lawan dari duduk yaitu berdiri. Jika dikatakan “waqfu al-syai’” maka artinya adalah “menahan sesuatu”. Kata الوقف (al-waqfu) bermakna juga الحبس من التصرف yaitu menahan dari menggunakannya. Kata الحبس (al-Habs) adalah bentuk masdar (infinitive noun) yang bermakna menahan, berhenti, atau diam. Apabila kata tersebut dihubungkan dengan harta seperti tanah, binatang dan yang lain, ia berarti pembekuan hak milik untuk faedah tertentu.  Dalam Kamus Al-Munawwir disebutkan bahwa kata وقف berarti berhenti, berdiri dan mencegah. Sedangkan kata yang semakna adalah الحبس (al-Habs)  juga berarti pemenjaraan dan penahanan. Dengan demikian, pengertian wakaf secara bahasa memiliki dua kata yaitu الوقف (al-waqfu) dan الحبس (al-Habsu) di mana kedua kata tersebut memiliki makna yang sama yaitu berdiri, mencegah dan menahan sesuatu. 
Secara istilah wakaf bermakna penahanan hak milik atas materi benda (al-‘ain) untuk tujuan menyedekahkan manfaat atau faedahnya. Inilah pendapat yang dipegang oleh jumhur ulama. Madzhab Hanafiyah mengartikan wakaf dengan :
حبس العين على حكم ملك الواقف، والتصدق بالمنفعة على جهة الخير
Menahan materi benda (al-‘ain) milik Wakif dan menyedekahkan atau mewakafkan manfaatnya kepada siapapun yang diinginkan untuk tujuan kebajikan.
Definisi wakaf tersebut menjelaskan bahawa kedudukan harta wakaf masih tetap tertahan atau terhenti di tangan Wakif itu sendiri. Dengan artian, Wakif masih menjadi pemilik harta yang diwakafkannya, manakala perwakafan hanya terjadi ke atas manfaat harta tersebut, bukan termasuk asset hartanya.
Ulama madzhab Malikiyah berpendapat, wakaf adalah :
إعطاء منفعة شيء مدة وجوده لازماً بقاؤه في ملك معطيها ولو تقديراً
Menjadikan manfaat suatu harta yang dimiliki (walaupun pemilikannya dengan cara sewa) untuk diberikan kepada orang yang berhak dengan satu akad (shighat) dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan keinginan Wakif. 
Definisi wakaf tersebut hanya menentukan pemberian wakaf kepada orang atau tempat yang berhak saja. Sementara ulama Madzhab Syafi‘iyah mengartikan wakaf dengan:
حبس مال يمكن الإنتفاع به، مع بقاء عينه، بقطع التصرف في رقبته على مصرف مباح موجود
Menahan harta yang bisa memberi manfaat serta kekal materi bendanya (al-‘ain) dengan cara memutuskan hak pengelolaan yang dimiliki oleh Wakif untuk diserahkan kepada Nazhir yang dibolehkan oleh syariah. Golongan ini mensyaratkan harta yang diwakafkan harus harta yang kekal materi bendanya (al-‘ain) dengan artian harta yang tidak mudah rusak atau musnah serta dapat diambil manfaatnya secara terus-menerus. 
Pengertian berikutnya disebutkan oleh ulama dari madzhab Hanabilah, mereka  mendefinisikan bahwa wakaf adalah:
تحبيس الأصل وتسبيل المنفعة
Menahan asal harta dan menyedekahkan manfaat yang dihasilkan.[1] 
Kamus Besar bahasa Indonesia mendefinisikan wakaf dengan “Tanah negara yg tidak dapat diserahkan kpd siapa pun dan digunakan untuk tujuan amal”, “Benda bergerak atau tidak bergerak yg disediakan untuk kepentingan umum (Islam) sbg pemberian yg ikhlas: tanah -- ini disediakan untuk madrasah atau masjid” dan “Hadiah atau pemberian yg bersifat suci”.[2]
Dalam Undang-undang nomor 41 tahun 2004, wakaf diartikan dengan “Perbuatan hukum Wakif untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut syariah”.[3]
Dari beberapa definisi wakaf tersebut, dapat disimpulkan bahwa wakaf adalah akad tabaru’ yaitu menahan pokok harta dan memberikan manfaat dari harta tersebut untuk kepentingan umat Islam. Wakaf bertujuan untuk memberikan manfaat atau faedah harta yang diwakafkan kepada orang yang berhak dan kemaslahatan umat Islam dan dipergunakan sesuai dengan ajaran syariah Islam.

1.      Dasar Hukum
Wakaf dalam Islam didasarkan pada sumber-sumber hukum Islam yaitu Al-Qur’an, Al-Hadits dan Ijma’ umat Islam. Di dalam Al-Qur’an wakaf masuk ke dalam infaq fi sabilillah, di antara ayat-ayat yang memeirntahkan hal ini adalah firman Allah ta’ala :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَنفِقُوا۟ مِن طَيِّبَٰتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّآ أَخْرَجْنَا لَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا۟ ٱلْخَبِيثَ مِنْهُ تُنفِقُونَ وَلَسْتُم بِـَٔاخِذِيهِ إِلَّآ أَن تُغْمِضُوا۟ فِيهِ ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ حَمِيدٌ
Hai orang-orang yang beriman! Nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usaha kamu yang baik-baik, dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu.” Q.S. al-Baqarah : 267
 لَن تَنَالُوا۟ ٱلْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا۟ مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِن شَىْءٍۢ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌۭ
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian dari apa yang kamu cintai. Q.S. Ali Imran: 92.
 مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ سُنۢبُلَةٍۢ مِّا۟ئَةُ حَبَّةٍۢ ۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir. Pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi sesiapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” Q.S. al-Baqarah: 261.
Ayat-ayat tersebut menunjukan tentang perintah untuk menginfakkan harta yang kita miliki dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah ta’ala agar mendapatkan pahala dan kebaikan. Infaq sendiri dalam Islam berupa zakat, shadaqah, hibah dan wakaf.
Sumber hukum selanjutnya yaitu dari hadits Nabi, di antara hadis yang menjadi dasar dan dalil wakaf adalah hadis yang menceritakan tentang kisah Umar bin al-Khaththab  ketika memperoleh tanah di Khaibar. Setelah ia meminta petunjuk Nabi tentang tanah tersebut,  Nabi menganjurkan  untuk menahan asal tanah dan menyedekahkan hasilnya. Hadis tentang hal ini secara lengkap adalah;
وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ : ( أَصَابَ عُمَرُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ , فَأَتَى اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَسْتَأْمِرُهُ فِيهَا, فَقَالَ : يَا رَسُولَ اَللَّهِ ! إِنِّي أَصَبْتُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ لَمْ أُصِبْ مَالًا قَطُّ هُوَ أَنْفَسُ عِنْدِي مِنْه ُ قَالَ : إِنْ شِئْتَ حَبَسْتَ أَصْلَهَا, وَتَصَدَّقْتَ بِهَا قَالَ : فَتَصَدَّقَ بِهَا عُمَرُ, ]غَيْرَ] أَنَّهُ لَا يُبَاعُ أَصْلُهَا, وَلَا يُورَثُ , وَلَا يُوهَبُ , فَتَصَدَّقَ بِهَا فِي اَلْفُقَرَاءِ, وَفِي اَلْقُرْبَى, وَفِي اَلرِّقَابِ, وَفِي سَبِيلِ اَللَّهِ, وَابْنِ اَلسَّبِيلِ, وَالضَّيْفِ, لَا جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ , وَيُطْعِمَ صَدِيقاً ) غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ مَالًا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ وَفِي رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِيِّ : ( تَصَدَّقْ بِأَصْلِهِ, لَا يُبَاعُ وَلَا يُوهَبُ, وَلَكِنْ يُنْفَقُ ثَمَرُهُ )
Dari Ibnu umar Radhiyallahu ‘anhu ia berkata “Umar bin Khattab memperoleh tanah di Khaibar, lalu dia bertanya kepada Nabi dengan berkata, “Wahai Rasulullah, saya telah memperoleh tanah di Khaibar yang nilainya tinggi dan tidak pernah saya peroleh yang lebih tinggi nilainya dari padanya. Apa yang baginda perintahkan kepada saya untuk melakukannya?” maka Rasulullah bersabda “Kalau kamu mau, tahan sumbernya dan sedekahkan manfaat atau faedahnya.” Lalu Umar menyedekahkannya, ia tidak boleh dijual, diberikan, atau dijadikan wariskan. Umar menyedekahkan kepada fakir miskin, untuk keluarga, untuk memerdekakan budak, untuk orang yang berperang di jalan Allah, orang musafir dan para tamu. Bagaimanapun ia boleh digunakan dengan cara yang sesuai oleh pihak yang mengurusnya, seperti memakan atau memberi makan kawan tanpa menjadikannya sebagai sumber pendapatan.
Hadis lain yang menjelaskan wakaf adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah:  
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( إِذَا مَاتَ اَلْإِنْسَانُ اِنْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالَحٍ يَدْعُو لَهُ )  رَوَاهُ مُسْلِم
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah bersabda “Apabila seorang manusia itu meninggal dunia, maka terputuslah amal perbuatannya kecuali dari tiga sumber, yaitu sedekah jariah (wakaf), ilmu pengetahuan yang bisa diambil manfaatnya,  dan anak soleh yang mendoakannya.”
Selain dasar dari al-Quran dan Hadis di atas, para ulama sepakat (ijma’) menerima wakaf sebagai satu amal jariah yang disyariatkan dalam Islam. Tidak ada orang yang dapat menafikan dan menolak amalan wakaf dalam Islam karena wakaf telah menjadi amalan yang senantiasa dijalankan dan diamalkan oleh para sahabat Nabi dan kaum Muslimim sejak masa awal Islam hingga sekarang.
Dalam konteks negara Indonesia, amalan wakaf sudah dilaksanakan oleh masyarakat Muslim Indonesia sejak sebelum merdeka. Oleh karena itu pihak pemerintah telah menetapkan Undang-undang khusus yang mengatur tentang perwakafan di Indonesia, yaitu Undang-undang nomor 41 tahun 2004 tentang Wakaf. Untuk melengkapi Undang-undang tersebut, pemerintah juga telah menetapkan Peraturan Pemerintah nomor 42 tahun 2006 tentang Pelaksanaan Undang-undang nomor 41 tahun 2004


[1] Ibnu Qudamah Al-Maqdisy, Al-Mughni
[2] Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat, Kementerian Pendidikan Nasional
[3] Undang-undang No. 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf. 

Wakaf VS Kemiskinan

Kemiskinan menjadi isu global umat Islam saat ini, ia semacam lingkaran setan yang belum diketahui harus dari mana menyelesaikannya. Bank Dunia mempublikasikan hasil penelitiannya bahwa lokasi kemiskinan berada di wilayah negara miskin dan berkembang. Indonesia misalnya, menurut data Bank Dunia adalah negara dengan penduduk miskin lebih dari 100 juta jiwa.[1] Data ini berbeda dengan yang dikeluarkan Biro Pusat Statistik yang mencatat bahwa tahun 2011 orang miskin di Indonesia adalah 30 juta jiwa.[2] Terlepas dari jumlah yang berbeda tersebut, kemiskinan adalah masalah serius yang saat ini dihadapi oleh umat Islam di Indonesia khususnya dan dunia pada umumnya.
Melihat kemiskinan yang menimpa saudara-saudara kita sesama muslim tentu kita akan tergerak untuk memberikan sumbangsih bagi mereka untuk keluar dari jeratan kemiskinan, atau minimal mengurangi kemiskinan tersebut. Rasa empati kita kepada saudara muslim lainnya adalah bukti dari keimanan, hal ini sebagaimana disebutkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasalam :

Tidaklah disebut mukmin orang yang kenyang sedangkan tetangga di sampingnya kelaparan. HR Bukhari dalam Adab Al-Mufrad.
Rasa empati inilah dalam dunia barat dikenal dengan gerakan filanthropi, yaitu sebuah gaya hidup yang menginginkan orang dapat hidup berbahagia. Maka filantropi dalam Islam didasarkan pada satu keyakinan bahwa sesama muslim adalah bersaudara. Sehingga ketika ada saudara sesame muslim yang kelaparan dan hidup dalam kemiskinan sudah selayaknya kita ikut merasakannya.
Dan sikap seperti inilah yang menjadi dasar berbagai hukum-hukum yang terkadung dalam syariat Islam, yaitu menginginkan adanya kebahagiaan yang dapat dirasakan secara bersama-sama, Rasulullah bersabda:

Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain adalah seperti sebuah bangunan di mana bagiannya saling menguatkan bagian yang lain. HR Muslim No.4684
Di antara syariat Islam yang menjadi wasilah (sarana) untuk membantu meringankan penderitaan saudara-saudara sesama muslim karena kemiskinan adalah syariat Wakaf.  Wakaf adalah bentuk dari kepedulian seorang muslim kepada muslim lainnya dan kepada seluruh umat Islam pada umumnya. Wakaf sebagai salah satu instrument philanthropy dalam Islam menjadi satu solusi ampuh dalam rangka mengurangi kemiskinan yang diderita umat Islam. Sebenarnya solusi Islam untuk mengurangi permasalahan kemiskinan bukan hanya waqaf, ada zakat, infaq, hibah dan shadaqah. Semua syariat tersebut adalah seperangkat aturan yang memiliki satu tujuan yaitu menciptakan kesejahteraan bagi umat, tentu saja dalam hal ini ia memiliki fungsi ganda yaitu fungsi ibadah dan sekaligus fungsi sosial.
Pada awal Islam wakaf dilakukan sebagai bukti keimanan seorang muslim, seiring berjalannya waktu wakaf menjadi satu asset yang sangat berharga bagi kesejahteraan umat Islam. Hingga munculah berbagai lembaga khusus yang mengurusi masalah wakaf. Di era modern ini lembaga-lembaga wakaf telah bermetamorfosis dalam bentuk lembaga nirlaba dengan manajemen professional yang mengurus masalah wakaf. Diharapkan dengan adanya lembaga-lembaga ini potensi wakaf yang selama ini belum ter-manage secara optimal dapat dikembangkan, sehingga manfaat dari harta wakaf tersebut dapat dirasakan oleh umat Islam. Sehingga dengan adanya wakaf ini minimal dapat mengurangi angka kemiskinan yang selalu mengintai umat Islam.

Minggu, 22 Januari 2012

Sakit Gigi, Sungguh Gak Enak di Hati


Oleh: Ibnu Muhammad



Pernah ngerasain sakit gigi? Wah kalo sama pertanyaan ini ditanyai sama ane, dijamin deh bakalan angkat dua tangan plus kaki kalo perlu. Soalnya kayaknya ini penyakit warisan keluarga ane, gak percaya? Menurut sejarah, kakek ane pernah sakit gigi, ibu ane juga terus ternyata ane harus menanggung “dosa” sakit gigi yang turun temurun ini. And tenryata ane termasuk orang yang setia pada tradisi leluhur, khususnya dalam rangka mewariskan kepada anak cucu ane, jadinya anak ane juga kebagian sakit giginya. Istri ane juga gak mau ketinggalan, jadi anggep aja keluarga penderita sakit gigi.
Kalo ngomongin soal sakit gigi, anelah orangya nya’. Maksudnya ane paling berpengalaman dalam hal ini, mau bukti? Segala bentuk pengobatan sudah ane jalanin, dari pengobatan yang bersifat normal dan wajar sampe pengobatan yang abnormal dan kurang ajar. Bayangin aja sekian lama sakit gigi, pengoatan yang paling sederhana dan sangat memalukan dunia persalafan adalah salonpas, ditempel di pipi gede khan? Syukur aja udah ga zaman lagi layar tancap, kalo masih ada dijamin deh dibilang film apa yang diputar. Kalo sekarang paling cuman dibilangin wuih… layar sentuh baru euy….enggak ding, tapi jaman sekarang kalo pake salonpas kayaknya jadul banget ya… kaya nenek bawa bakul…. Ke pasar bawa ayam bekisar trus nyasar. Selain pake salonpas ane juga udah pakai garam, untung aja gak pakai gula merah plus cabe tinggal masukin kedongdong jadi deh rujak di mulut. Ya enggak lah, maksudnya pake garam dimasukin ke gigi yang bolong githu… padahal kata orang tua (tau tuh orang tua siapa…) kalo gigi dikasih garam bisa-bisa tuh gigi bisa rontok kaya kejedot tembok, muka bonyok gigi ya.. rontok. Tapi Alhamdulillah dengan segala firmanNya.. gigi ane masih kuat wal afiat plus tidak berkarat. Walaupun ada yang bilang katanya gigi ane juga agak berkarat, yah wajar aja gigi ane termasuk jenis logam yang belum ditentukan kode ilmiahnya, karat dikit boleh dong…
Nah pengobatan berikutnya adalah dengan cara yang super sadis, tragis, plus kismis (kisah misteri…). Waktu itu karena menahan sakit gigi yang begitu ruuuuaaaar biasa, mau pake obat udah keseringan takutnya kecanduan, akhirnya ane putusin untuk menggunakan sumber daya alam yang ada. Dan…. SDA yang ada adalah minyak tanah, mudah-mudahan ini bisa meningkatkan stamina yang loyo… maksudnya mengurangi rasa sakit di gigi ini. Tanpa pikir panjang ane langsung ambil tuh minyak di dapur, tentu saja gak langsung nyruput di kompor (kuda keausan kale…). Sesuai dengan adab minum, maka minyak tanah itu ane minum dengan menggunakan gelas putih, seputih hatiku terbebas dari sakit gigi. Dengan penuh perasaan dan tanpa dosa saya tenggak perlahan minyak tanah tersebut tentu saja gak ditelan, emang dajjal minumnya minyak tanah. Hanya dikumur-kumur saja, walaupun beberapa tetes minyak tersebut memaksa masuk ke perut ane, dengan ikhlas ane biarkan. Lagian nggak mungkin juga ngelarang khan? Hasilnya…….? Dahsyat men…, hanya hitungan detik setelah minum minyak tanah itu mulut terasa terbakar dan cita rasa kerosene itu bener-bener membuat kuman-kuman yang ada di mulut tiarap, sebagian sekarat dan sebagian lagi bersembunyi di beneteng-benteng karang gigi ane.
Sayang sekali…. Efek itu tidak abadi, emang Tak Ada Yang Abadi… akhirnya sakit gigi itu kembali lagi di kemudian hari hix…hix…hix… kunti kale.. langkah terakhir yang ane tempuh adalah menggunakan benda-benda keras yang dapat mengurangi atau mengobati sakit gigi ini… ada beberapa pilihansesuai dengan persediaan di rumah, ada tusuk gigi, sumpit, garpu, tang, gergaji, palu, cangkul dan golok. Tanpa melakukan istikharah lagi aku pilih tang… soalnya kalo milik cangkul nggak muat khan di mulut.. gergaji? Susah makenya. Tang engkau datang sakit gigi hilang… karena yang sakit it u dalah gigi geraham maka saya coba putar-putar tuh gigi pake tang… tentu saja nggak kayak komedi putar. Cuman digoyang-goyang lah dikit, itu juga nggak pake tenaga dalam, maksudnya sih biar ngurangin senut-senut yang ada di gigi. Hasilnya ternyata tidak seindah yang dibayangkan… emang lidah tidak bertulang dan gigi tidak berdaging. Akhirnya yang aku rasakan hanya sakit… sakit tau…
Namun rasa sakit itu terus aku bawa, hingga ajal menjemput raga…. Ha…ha… ha… (33X). ah… hanya cita-cita akhirnya pada liburan semester 1 tepatnya tanggal 3 hari selasa bulan Januari 2012 dengan sepenuh jiwa dan separuh nyawa… agak ragu-ragu sih… Sang Gigi Geraham harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan… (silahkan teruskan) maksudnya ane pergi ke dokter gigi buat ngecabut tuh geraham…geeeerrrram.
Sebenarnya sih agak males, selama ini penderitaan sakit gigi harus ane tanggung sendiri… (Iyyalah masa ditanggung se-RT) dalam sepi, hanya kuman yang selalu menemani di lubang gigi. Inilah proses pencaubtan gigi yang masih terasa sampai kini… baunga gak mau pergi… jarang gosok gigi kali…? Inilah kronologi pencabutan gigi itu….
Pagi-pagi sekitar pukul 10.00 dengan mengendarai si kuda besi ane langsung meluncur ke puskesmas. Tempat pencabutan ini ane pilih karena berbagai pertimbangan dan 1001 alasan yang sulit untuk diungkapkan, intinya murah meriah and berkah… berdekatan dengan rumah. Setelah mendaftar ke bagian pendaftaran… bukan bagian karcis emang mau mudik. Akhirnya ane langsung menuju ke ruang tunggu dokter gigi. Waktu itu sih santai aja … nggak kebayang kalo ternyata cabut gigi itu…. (belum sakit, khan belum terjadi) setelah menunggu hamper jam 11.00 akhirnya giliran ane masuk. Ternyata dikternya adalah seorang perempuan syukurnya dia pake masker jadi gak kelihatan jelas mukanya kalau gak pake masker ane pasti malu banget. Bayangin aja kalo pas ketemu di jalan… oh mas ini yang duluu saya cabut giginya dan hamper pingsan ya…? Wuih mau dikenakan coba muka ane, dilipat susah ngantonginnya…
Kembali ke topik, sebenarnya awalnya ane pengin disuntik or diimpus total waktu pas cabut gigi biar nggak kerasa pas lagi nyabutnya kayak rambut diambil dari tumpukan tepung… mudah banget khan. Tapi ternyata…. Oh no… pelayanan yang ane dapatkan adalah standard pelayanan puskesmas sesuai SOP yang ditentukan. Tidak ada kompromi dan komunikasi, setelah memastikan gigi yang akan dicabut akhirnya dokter memtuskan untuk menyuntik gusi Sang Geraham bersemayam… suntikan…. Oh.. sesuatu yang sekian lama tidak pernah menyentuh gusi ini, kulit ini dan raga ini, ternyata semua itu harus terjadi.
Awalnya na pikir dengan disuntik bebal pas nyabutnya gak sakit, ternyata…. (belum… nanti ya…) inter mezzo.. pas lagi nulis tulisan ini salah satu keluarga ane juga lagi merasakan sakit gigi seorang diri…). Sang dokter menyuruh saya membuka mulut lebar-lebar, sebenarnya melanggar aturan, perasaan nggak pernah seumur-umur ane disuruh ngebuka mulut lebar-lebar kayak githu, malu banget kalau si dia tau. Mulut ane jadi lahan percobaan, mencong kanan, mencong kiri… Tabahkan hatimu nak….
Sebuah jarum dengan panjang kurang lebih lima centi mendekati mulutku.. dan ah…. Sakit banget tau… sang jarum dengan tanpa perasaan menusuk gusiku yang lemah lembut. Kini ia tidak berdaya menghadapi jarum yang runcing itu. Dengan mata terpejam dan menahan sakit yang tidak bisa dibatangkan namun bisa dituliskan… seperti digigit kuda githu deh… akhirnya suntikan itu selesai… ah lega. Namun kelegaan itu tidak berlangsung lama, satu suntikan tidak cukup…. Mau lagi? Nggak mau sih.. tapi mau apalagi akhirnya dua suntikan sekaligus menghujam di gusiku… awal penderitaan yang hanya ane dan Allah-ku yang tau.
Selanjutnya ane disuruh keluar sebentar untuk menunggu reaksi dari obat tersebut, hanya butuh kurang lebih sepuluh menit untuk merasakan efek dari semacam obat bius itu, akhirnya mulut bagian kiri dan khususnya gusi sebelah kiri sudah tidak merasakan apa-apa lagi, hanya bebal dan seperti membesar. Kalau gusi kanan bisa ngomong kayaknya mesem-mesem deh ke gusi kiri ane “Ente kenape si… (gusi) kayak orang lagi frustasi?” iyyalah bayangin aja dua suntikan menjadikan gusi kiri ane semakin tidak punya nyali. Sepuluh menit untuk menunggu serasa sewindu… itulah gak enaknya menunggu. Namun kesabaran itu akhirnya mendapatkan hasil ketika dokter memanggil saya masuk ruangan, setelah dia bertanya tentang efek dari suntikan itu dan memastikan sudah siap dicabut akhirnya ane merebahkan diri di kursi pesakitan. Mulut dibuka, mata terpejam dan tangan berpegangan. Siap… ? belum. Setelah ditest apakah masih terasa sakit, ane bilang sedikit. Maksudnya sedikit sakit dan sedikit tidak sakit, tapi pemahaman dokter menyatakan kalo saya sudah siap, akhirnya….
Sang dokter mengambil sebuah alat terbuat dari logam terbuat dari logam semacam stainless steel dengan ujung agak tajam tanpa peri kepasienan ia mulai menusuk bagian gigi yang akan dicabut…. Aaaarrrrgghhhh sakitnya. Ane memjamkan mata dan mencoba untuk menahan sakit itu… masya Allah sakit banget, selanjutnya dokter mengambil alat semacam tang yang kepalanya agak bengkok dan memasukannya ke mulut saya…. Setelah menjepit bagian atas gigi dengan full tenaga dokter menarik bagian gigi yang dicabut…. Lagi-lagi Masya Allah sakit banget. Sepertinya Sang geraham tidak mau berpisah dengan saudar-saudaranya segusi. Namun kekuatan tangan dokter itu ternyata sudah terlatih… tidak bisa dengan hanya tarikan gigi itu digiyang kiri goyang kanan, sakit yang aku rasakan sungguh menyayat hati…  
Alhamdulillah dengan mata terpejam dan menahan sakit yang luar biasa gigi itupun tercabut dengan berlumuran darah, tak kuasa menutup mulut darah itu mengalir di pinggir mulut saya. Oh… sungguh kejam dokter itu (ini pikiran negatifku waktu itu…) lega rasanya, tadi saya sempat melihat sekilas gigi yang keluar dari mulut saya itu ternyata tidak seperti yang saya bayangkan, ia tampak panjang ke bawah…. (jangan-jangan ane keturunan drakula? Enggak lah..) tapi gigi itu benar-benar panjang dan berlumuran darah… seperti bayi yang baru lahir. Lagi-lagi seandainya gigi itu bisa bicara pasti dia akan menangis dan meronta karena harus dipisahkan dengan keluarga. Namun biarlah… semoga ada hikmahnya.
Ternyata gigi yang tercabut tadi barus separuh dari gigi geraham yang harus dicabut, maka sang dokter kembali beraksi dan memaksa bagian gigi sebelahnya untuk keluar dari gusi. Tidak ada perlawanan berarti selain rasa sakit yag tidak terperi di gusi ini, walaupun hati ini tidak sakit tapi gusi ini sungguh bagai digigit kuda besi. Lagi… sang dokter mengambil logam agak runcing dan menusukannya ke gigi, sepertinya alat ini untuk mencongkel dari bagian tenga gigi yang sudah bolong…., krak…. Ah… benar saja ternyata alat itu untuk mencongkel gigi. Selanjutnya sang dokter mengambil alat semacam tang untuk kembali menarik gigi itu lagi… Sungguh terlalu… sakit sekali ketika tang itu menjepit gigi dan menariknya ke luar, maka darah bersimbah membasahi gigi, gusi, bibir dan dagu. Detik-detik pencabutan gigi itu telah berakhir dengan penderitaan yang sulit untuk dilupakan.
Selanjutnya saya diperintahkan untuk menggigit kapas yang menempel di gusi bekas gigi yang dicabut, saya gigit kuat-kuat. Ternyata… efek obat itu mulai terasa, gusi, bibir dan mulut sebelah kiri (kalo saya yang bilang, kalau dilihat dari depan berarti sebelah kanan) terasa mengembang dan bertambah besar… (bengkak githu..) dan inilah akhir dari penderitaanku. Mata berkunang-kunang, kepala pusing dan tentu saja pandangan kabur… gak kabur ke mana-mana sih cuman badan terasa bergetar dan gigi seperti hilang semua, padahal yang hilang cuman satu. Inilah bentuk solidaritas gigiku. Antara sadar dan tidak ane merebahkan badan di bangku depan puskesmas… ah.. benar-benar sempurna penderitaanku, badannya menjadi panas dingin dan sulit untuk digerakan. Saya melihat ke sekeliling sungguh sangat mengerikan, orang-orang yang lewat sepertinya mereka punya mata empat dan mulut dua… inikah yang namanya sekarat, sungguh di luar dugaan, ane hanya bisa pasrah dan menahan tubuh yang mengalami degradasi karena gusi yang tak lagi bergigi…  Ya Ilahi… Inna lillahi (bukan mati lho…) Sesungguhnya kami adalah milikMu…  
Akhirnya ane memaksakan diri pulang dengan badan masih setengah sadar… sampai di rumah tubun ane sudah tidak bisa diajak kompromi, hanya sakit di gusi ini yang menjalar ke seluruh sendi-sendi jasad ini. Ternyata sakit gigi itu sama dengan sakit hati…. Jadi lebih baik nggak sakit lah dari pada sakit hati apalagi sakit gigi. Alhamdulillah walau berakhir tanpa happy ending tapi ane bersyukur tidak sampai bertemu Ilahi… alias is death, karena waktu itu benar-benar seperti separu nyawa ini telah pergi. Syukurlah ia kembali lagi dan setelah itu saya setengah pingsan setengah tidur dari jam 12.00 siang sampai jam 05.00 pagi terkapar di tempat tidur. Shalatnya ya sambil tidur and jama’ lagi.
Setelah beberapa hari, keadaan gusi ane mulai pulih dan tidak terasa sakit lagi. Namun tiba-tiba…….ternyata…. Gusi ane yang bagian atas kanan juga mulai merengek lagi… minta dicabut? Haruskan penderitaan itu terulang lagi?  

Wakaf : Harta Sebenarnya...

Oleh : Abdul Malik Al-Qashim

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، وبعد:
فإن الدنيا مزرعة الآخرة وهي دار التكليف والعمل، ومن فضل الله ومنته أن أعمال المسلم لا تنقطع بموته وخروجه من الدنيا بل هناك أعمالاً تجري حسناتها له بعد وفاته. ولقد علم سلف هذه الأمة هذا الخير فسابقوا إليه وتنافسوا فيه. وقد كان الصحابة رضوان الله عليهم في بداية فجر الاسلام يعانون من قلة ذات اليد وضيق العيش. ولما فتح الله عز وجل لهم خزائن الأرض وأتتهم الأموال كان همهم منصرفاً إلى كيفية استثمارها في آخرتهم. فجهز كثير منهم الجيوش، وأكثروا من الصدقات والعطف على الفقراء، وقضاء حوائج الأيتام، والقيام على الأرامل، وتطلعت أنفسهم لعمل يجري به الثواب بعد الموت امتثالاً لقول النبي http://www.kalemat.org/gfx/article_salla.gif: { إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له } [رواه مسلم].
وقد شرع الله الوقف والندب إليه وجعله قربة من القرب التي يتقرب بها إليه؛ ففي الحديث أن رسول الله http://www.kalemat.org/gfx/article_salla.gif قال: { إن مما يلحق المؤمن من عمله وحسناته، بعد موته، علماً نشره، وولداً صالحاً تركه، ومصحفاً ورّثه، ومسجداً بناه، أو بيتاً لابن السبيل بناه أو نهراً أجراه، أو صدقة أخرجها من ماله في صحته وحياته، تلحقه من بعد موته } [رواه ابن ماجه وحسنه الألباني].
فكان الوقف من أعمالهم التي سارعوا إليها فقد كان لأبي بكر http://www.kalemat.org/gfx/article_ratheya.gif دور بمكة فأوقفها على أولاده، وعمر http://www.kalemat.org/gfx/article_ratheya.gif أصاب أرضاً بخيبر فأتى النبي http://www.kalemat.org/gfx/article_salla.gifيستأمره فيها فقال: يا رسول الله إني أصبت أرضاً بخيبر لم أصب مالاً قط هو أنفس عندي منه. فقال http://www.kalemat.org/gfx/article_salla.gif: { إن شئت حبست أصلها وتصدقت بها }. فتصدق بها عمر http://www.kalemat.org/gfx/article_ratheya.gif في الفقراء، وفي ذي القربى، وفي الرقاب، وفي سبيل الله، وابن السبيل والضيف.. [رواه مسلم]. وفي خلافته http://www.kalemat.org/gfx/article_ratheya.gif أعلن صدقته ودعا نفراً من المهاجرين والأنصار فأخبرهم بذلك وأشهدهم عليه فانتشر خبرها. وتسابق الصحابة في وقف كثير من أموالهم وحبسها في أوجه الخير والبر. قال جابر رضي الله عنه: ( فما أعلم أحداً كان له مال من المهاجرين والأنصار إلا حبس مالاً من ماله صدقة مؤبّدة لا تشترى أبداً، ولا توهب، ولا تورث ).
وقد أوقف عثمان بن عفان http://www.kalemat.org/gfx/article_ratheya.gif أملاكه بخيبر على أولاده، كما سبّل بئر رومه لوجه الله تعالى. وأوقف علي بن أبي طالب http://www.kalemat.org/gfx/article_ratheya.gif عيوناً من الماء في ينبع. كما أوقف ضيعتين تسمى إحداهما عين أبي نيزر، والثانية تسمى البغيبة، وجاء في وقفها: ( بسم الله الرحمن الرحيم هذا ما تصدق به عبد الله علي أمير المؤمنين، تصدق بالضيعتين المعروفتين بعين أبي نيرز، والبغيبة، على فقراء المدينة وابن السبيل ليقي الله بهما وجهه حر النار يوم القيامة، لا تباعا ولا تورثا، حتى يرث الله الأرض وهو خير الوارثين، إلا أن يحتاج إليهما الحسن أو الحسين فهما طلق لهما وليس لأحد غيرهما.. ).
ولقد أوقفت أسماء بنت أبي بكر http://www.kalemat.org/gfx/article_ratheya.gif دارها صدقة حبس لا توهب ولا تورث.
وتصدقت أم المؤمنين أم حبيبة بنت أبي سفيان رضي الله عنها بأرضها في الغابة صدقة على مواليها وعلى أعقابها حبساً لا تباع ولا توهب ولا تورث.
وروى البخاري ومسلم عن أنس بن مالك http://www.kalemat.org/gfx/article_ratheya.gif قال: كان أبو طلحة أكثر أنصاري بالمدينة نخلاً. وكان أحب أمواله إليه بيرحاً، وكانت مستقبلة المسجد، وكان النبي http://www.kalemat.org/gfx/article_salla.gif يدخلها ليشرب من ماء فيها طيب، فلما نزلت هذه الآية قال أبو طلحة: يا رسول الله إن الله يقول:http://www.kalemat.org/gfx/braket_r.gif لَن تَنَالُواْ الْبِرَّ حَتَّى تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ http://www.kalemat.org/gfx/braket_l.gif[آل عمران:92]. وإن أحب أموالي إليّ بيرحاء، وإنها صدقة لله أرجو برّها وذخرها عند الله، فضعها يا رسول الله حيث أراك الله، فقال رسول الله http://www.kalemat.org/gfx/article_salla.gif: { بخ ذلك مالٌ رابح، ذلك مالٌ رابح، وقد سمعت ما قلت، وإني أرى أن تجعلها في الأقربين }، فقال أبو طلحة: أفعل ذلك يا رسول الله، فقسمها أبو طلحة في أقاربه وبني عمه.
وقد احتبس خالد بن الوليد http://www.kalemat.org/gfx/article_ratheya.gif أدراعه وأعتاده في سبيل الله.
والوقف: هو تحبيس الأصل وتسبيل المنفعة، وهو صدقة جارية يقفها المرء ويسبّلها في حياته لوجوه الخير والبر، فيستمر أجرها مادامت باقية. وفي هذا عظيم المنفعة للواقف بإجراء حسنات له في حياته وبعد مماته، لما في ذلك من فضائل الوقف النافعة التي تعين على الخير والأعمال الصالحة، وتعين أهل العلم والعبادة، وتسد حاجات الفقراء والمساكين، والمرضى والمعوزين، وترفع راية الدين بنشر العلم النافع، وبناء المدارس ودور الأيتام.
ويجوز وقف كل ما جاز بيعه وجاز الانتفاع به مع بقاء عينه، سواء كان ثابتاً كالعقار، أو منقولاً كالسلاح، والثياب والسيوف.
ويصح وقف الحلي للبس والإعارة، فعن نافع قال: ( ابتاعت حفصة حلياً بعشرين ألفاً فحبسته على نساء آل الخطاب فكانت لا تخرج زكاته ).
وأفضل أنواع الصدقات أنفعها وأدومها، ولا يتأتى هذا إلا إذا كانت الصدقة مضمونة البقاء، تقوم على أساس، وتنشأ من أجل هدف محدد، وترمي إلى غاية شرعية خيرة. فأغراض الوقف ليست قاصرة على الفقراء والمساكين وحدهم، أو دور العبادة والعناية بها فحسب، بل تتعدى ذلك إلى أغراض أخرى مثل: دور العلم، والمعاهد الشرعية، وطلبة العلوم الإسلامية القائمين على شريعة الله. والمستشفيات، والمجالات كثير ة متعددة، وقد أوقف صلاح الدين الأيوبي بلده بلبيس لفك أسرى المسلمين من أيدي الأعداء.
أخي المسلم:
تتنوع حاجات الناس العامة للوقف بحسب المكان والزمان، وأول وقف في الإسلام هو مسجد قباء، قال ابن كثير رحمه الله: ( لبث رسول الله http://www.kalemat.org/gfx/article_salla.gif في بني عمرو بن عوف بضع عشرة ليلة، وأسس المسجد الذي أسس على التقوى وصلى فيه، ثم انتقل إلى منازل بني النجار من الأنصار ). وإليك أنواعاً من الوقف لا تغيب عن بالك.
أنواع الوقف:
1- الوقف بإنشاء المساجد ورعايتها والقيام بئؤونها امتثالاً لقول الله تعالى: http://www.kalemat.org/gfx/braket_r.gif إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللّهِ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاَةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللّهَ فَعَسَى أُوْلَـئِكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ الْمُهْتَدِينَ http://www.kalemat.org/gfx/braket_l.gif [التوبة:18].
وقول النبي http://www.kalemat.org/gfx/article_salla.gif: { من بنى مسجداً لله تعالى يبتغي به وجه الله بنى الله له بيتاً في الجنة } [رواه البخاري ومسلم]. ورواه ابن ماجه بلفظ: { من بنى مسجداً لله، ولو كان كمفحص قطاة أو أصغر، بنى الله له بيتاً في الجنة } والمفحص: عش الطير، والقطاة: طائر يشبه الحمام.
ومن أجل أن يقوم الإمام بواجبه على أفضل وأكمل وجه؛ يلحق بالمسجد سكن خاص بالإمام، ويعتبر من ضمن مرافق الوقف وملحقاته.
2- الوقف على الجهاد في سبيل الله. قال http://www.kalemat.org/gfx/article_salla.gif: { من احتبس فرساً في سبيل الله إيماناً بالله وتصديقاً بوعده، فإن شبعه وريّه وبوله في ميزانه يوم القيامة } [رواه البخاري]. وقد مرّ بنا أن خالد بن الوليد http://www.kalemat.org/gfx/article_ratheya.gif حبس دروعه وكراعه في سبيل الله، كما أن طلحة http://www.kalemat.org/gfx/article_ratheya.gif حبس سلاحه وكراعه في سبيل الله.
3- الوقف على توزيع الكسوة للفقراء والأرامل والمحتاجين. وبعض المسلمين والمسلمات اليوم لا يجد ما يستر به عورته.
4- الوقف على المكتبات العامة كإنشائها وإيقاف الكتب الشرعية بها. وكانت الأمة الإسلامية تزخر بمثل هذه المكتبات في الشام والعراق والمدينة وغيرها.
5- إنشاء المدارس العلمية التي تكفل مجانية التعليم لأبناء المسلمين.
6- إنشاء المراكز الطبية؛ خاصة ما دعت إليه الحاجة في هذه الأزمنة: كمصحات الأمراض النفسية، وعلاج أمراض الكلى والأورام الخبيثة، وإنشاء المستشفيات والمستوصفات، فكم من مريض يأنّ، وكم من صغير يموت، وهو في حاجة إلى دواء لا تتجاوز قيمته عشر ريالات، وهذا نراه في دول إسلامية فقيرة. 7- تعبيد الطرق وشقها وإنشاء القناطر عل الأنهار.
8- حفر الآبار وإجراء الماء وقد قال http://www.kalemat.org/gfx/article_salla.gif: { من يشتري بئر رومة وأضمن له الجنة }؛ فاشتراها عثمان http://www.kalemat.org/gfx/article_ratheya.gif وجعلها وقفا دائماً على المسلمين، وقرى المسملين اليوم تحتاج إلى حفر الآبار، ومد الأنابيب، وتركيب المضخات.
9- الأوقاف على الدعاة والوعاظ؛ بما في ذلك توفير الرواتب والمواصلات والوسائل الأخرى التي تعينهم على أداء أعمالهم.
10- الأوقاف للمشاركة في الإعلام الإسلامي. ومن ذلك دعم المجلات الإسلامية بأموال وقفية مثل المجلات العلمية والدعوية التي ترفع لواء التوحيد.
11- إنشاء الأربطة والملاجئ للعاجزين.
12- الوقف على نشر دعوة التوحيد وتبليغ الإسلام؛ وذلك بطبع الكتب والأشرطة وتوزيعها.
13- إقامة مراكز للمهتدين الجدد في أفريقيا مثلاً.
14- بناء مراكز الأيتام ورعايتهم والعناية بهم.
15- الوقف على تطوير البحوث المفيدة والنافعة.
16 الوقف على جماعات تحفيظ القرآن الكريم التي نفع الله بها أبناء المسلمين.
17- الوقف على مدارس تحفيظ القرآن النسائية، التي بدأت والله الحمد تنمو وتكبر.
18- الوقف على رواتب المعلمين والمعلمات محفظي كتاب الله عز وجل.
19- إطعام الجائعين، وقد رأينا بعضهم في حال المجاعة يسقط ميتاً وهو ينتظر في الطابور ليأخذ وجبته من المؤسسات الخيرية. وفي منطقة واحدة حينما ضربت المجاعة الصومال، كان يسقط ميتاً أمام أعين المؤسسات الخيرية ما يزيد على أربعين مسلماً كل يوم.
20- هداية ضال. فكم من أبناء المسلمين من يعيش في ظلمات الشرك والبدع والخرافات، وكم من كافر يتلمس طريق الحق ولا يجده! ألا ندعم مكاتب الجاليات بأوقات تعينهم على أداء رسالتهم: { لئن يهدي الله بك رجلاً واحداً خيرٌ لك من حُمر النعم }.
21- الوقف على تفريج الكرب. فكم من مسلم لا ينام الليل من الهموم والغموم والديون التي لحقته، وكم من مسلمة تحتاج إلى ريالات لتسافر لزيارة أبنائها ولا تجد، قال http://www.kalemat.org/gfx/article_salla.gif: {.. ومن فرج عن مسلم كربة فرج الله عنه بها كربة من كرب يوم القيامة.. } [متفق عليه].
22- الأوقاف على الدعوة على شبكة المعلومات (الإنترنت) وقد رأينا ثمرة الأعمال الدعوية عير هذه الوسيلة العجيبة.
23- إقامة مصانع لتدريب المسلمين وتعليمهم مهن صناعية وإنتاجية تنفعهم.
24- الوقف على فك الرقاب، وإعتاق المسجونين الغارمين.. http://www.kalemat.org/gfx/braket_r.gif فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ (11) وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ (12) فَكُّ رَقَبَةٍ http://www.kalemat.org/gfx/braket_l.gif [البلد:11- 13].
25- إيقاف الأراضي على المقابر لدفن المسلمين بها.
26- شراء المصاحف وإيقافها في المساجد، خاصة خارج المملكة. وقد رأيت بعيني مسجداً كبيراً ولا يوجد به مصحفاً واحداً، إنما رأيت بعض ورقات من المصحف متناثرة.
أخي المسلم:
غالب هذه المصارف متوفرة لدى المؤسسات الخيرية ومدارس تحفيظ القرآن الكريم ولها أوقاف خاصة بها. وقد اتفق العلماء على أن وقف المشاع جائز.
أخي المسلم:
لا يزال العمل الإسلامي ضعيفاً ويعاني من قلة الموارد. والأوقاف بإذن الله تجعله ينطلق بثبات وقوة. وقد عرف الصليبيون أن المادة عصب الحياة فأوقفوا مليارات الدولارات على الكنائس والمعابد الوثنية للصد عن سبيل الله، وقل أن تجد مكاناً لا توجد به كنيسة أو معبد هندوسي أو دار أيتام يُنصّر فيه الناس ويًضلون عن الطريق المستقيم.
ألسنا أولى بهذا منهم؟! إن الجنة سلعة الله الغالية. وما وهبنا الله من أموال هي أمانة في أيدينا فإن أنفقنا وقدمنا لأنفسنا وإلا رحلنا عنها. وتأمل في حال قارون وكيف أردته أمواله: http://www.kalemat.org/gfx/braket_r.gif فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ http://www.kalemat.org/gfx/braket_l.gif [القصص:81].
والمال الذي في أيدينا على قسمين: قسم لنا وهو الذي نقدمه للآخرة وندخره عند الله عز وجل، وقسم عندنا وهو أمانة ينتظر أصحابه تسليمه إليهم بعد الموت، وهم الورثة وأصحاب الحقوق.
وكم من مسكين جمع الملايين وكدّ وكدح في جمعها، ولم يوقف شيئاً منها في حياته ولما توفي رفض أبناءه بناء مسجد واحد له من هذه الملايين! وكم من مدرسة يأتيها مرتب جيد كل شهر ولها سنوات طويلة تعمل ولم توقف لنفسها شيئاً! بل جُل أموالها في الطعام والشراب والفساتين والحُلي!.
أخي المسلم:
إن من شكر نعم الله عز وجل أن نتذكر حال آبائنا وأجدادنا قبل سنوات قريبة حيث أصابهم الجوع، ولازمهم ضيق ذات اليد وقلة الموارد، وقلّ منهم من يأكل وجبتين في اليوم الواحد. ولقد منّ الله عز وجل علينا بنعم عظيمة: من سعة في الأرزاق، كثرة في الأموال، ورغد من لعيش، فيا ترى كيف الحال وقد أبدل الله الفقر بالغنى، والجوع بالشبع، والخوف بالأمن.
فيامن خلقك الله للعبادة وابتلاك بالمال.. لا تزال تسير في هذه الحياة حتى يأتيك هادم اللذات شئت أم أبيت عاجلاً أم آجلاً. إما في سن الشباب أو عند الهرم والشيخوخة.. وكلها سنوات قليلة وترحل من فوق الأرض إلى تحت الأرض. فمن أين لك بالحسنات تجري عليك؟! إنها الأوقاف التي تدفع إليك الحسنات في وقت أنت أحوج ما تكون.. عليك بدريهمات قليلة فاجعلها لك ذخراً: إما مصحفاً تقفه، أو كتاباً نافعاً تنشره، أو لبنة في بناء، أو إسهاماً في مشروع ينفع الإسلام والمسلمين. إنه عمل من أعمالك في الدنيا تجري عليك حسناته وأنت في قبرك، وهذه منّة من الله وفضل أن جعل العبد يسعى فيما لا ينقطع فيه أجره بعد مماته.
ويا من أوقفت من مالك لوجه الله تعالى.. أبشر بانشراح الصدر، وسعة في الرزق، ونماء في الأموال، وطمأنينة في الدنيا. فإنك تعمل وتقدم لآخرتك وسوف تسر بما تقدم.
اللهم أحينا على التوحيد سعداء، وأمتنا على التوحيد شهداء. ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب. ربنا اغفر لنا ولوالدينا ولجميع المسلمين.
وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعي