Minggu, 28 Juli 2013

Menyibak Misteri kehidupan

Oleh: Abdurrahman


Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk melakukan muhasabah (introspeksi diri). Tentang kehidupan yang penuh dengan berjuta rasa: ada suka ada duka, ada bahagia ada sengasara, air mata lara dan cita mengalir silih berganti. Kehidupan adalah perjalanan panjang yang mengharuskan setiap insan untuk berbekal. Bekal keimanan dan pengetahuan kehidupan menjadi hal wajib yang harus dipersiapkan. Jika tidak dipersiapkan maka kehiduan ini akan terasa menekan, menyakitkan dan berujung kepada ketidakpercayaan kepada Ar-Rahman.
Sebuah perjalanan panjang akan kaya dengan warna, ada putih bersih hingga hitam pekat serta di antara keduanya. Lembaran-lembaran hitam berselangan dengan lembaran-lembaran putih yang harus kita isi dengan amal-amal kebaikan. Jika lembaran-lembaran itu hitam, maka sudah selayaknya kita segera beristighfar dan memohon ampunanNya. Jika lembaran itu putih maka isilah dengan tahmid dan pujian bagiNya.   
Perjalanan panjang memiliki seninya tersendiri, sesuatu yang sangat kita harapkan seringkali terluput dari kehidupan. Sementara hal-hal yang tidak diinginkan menyapa tanpa bisa dihindarkan. Itulah kehidupan, ia adalah misteri yang tidak ada seorangpun bisa mengetahui. Tidak para malaikat tidak pula seorang Nabi, bahkan syaithan yang suka mencuri berita dari langitpun tidak bisa mengetahui apalagi para dukun yang hanya mengutip dari para pembisik alam syaithani.
Menyibak misteri kehidupan berarti mengungkap bagaimana hidup ini bisa dinikmati. Bukan sekadar mengeluh ketika musibah menyentuh, bukan pula dipenuhi gelak tawa ketika bahagia menyapa. Menikmati kehidupan berarti menyerahkan sepenuhnya “musibah” dan anugerah dalam kehidupan kepada Allah Ar-Rahman. Meyakini kuasaNya dan mengimani segala kebaikan yang ada di balik semuanya.
Mungkin terlalu teoritis kedengarannya, tapi yakinlah bahwa semua yang menimpa kita itu adalah baik adanya. Allah ta’ala tidak akan mebiarkan hambaNya sengsara, sudut pandang manusia-lah yang yang menyangka bahwa musibah adalah bencana. Jika demikian adanya kenapa harus berduka apabila bencana melanda? Inilah misteri kehidupan yang harus kita sibak, semua ada hikmahnya dan semua adalah yang terbaik untuk manusia dan alam semesta.  

Ramadhanku, Ramadhan Anda dan Ramadhan Kita

Oleh: Bambang Sahaja

Jika selama ini Ramadhan identik dengan umat Islam dan tidak berkaitan dengan umat lainnya maka hal ini perlu direvisi. Ramadhan sejatinya adalah bukti bahwa Islam memiliki satu mekanisme dalam memberikan kontribusi bagi masyarakat di luar Islam. Karena Ramadhan adalah bulan untuk berpuasa bagi umat Islam, maka sudah selayaknya bulan ini memberikan nuansa kekhusyu’an dalam beribadah. Efeknya adalah keimanan umat Islam bertambah sehingga akan memberikan dampak positif bagi seluruh umat manusia. Sebagai contoh, apabila pada bulan lainnya umat Islam seolah-olah tidak peduli dengan sesama maka pada bulan Ramadhan, umat Islam berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan kepada sesama manusia.
Nuansa Ramadhan semakin terasa ketika menjelang akhir bulan, umat Islam yang penuh kebahagiaan akan semakin meningkatkan kualitas ibadahnya karena menyambut hari Raya Idhul Fitri. Pada momen ini keberkahan Ramadhan tidak hanya terasa oleh umat Islam, bahkan secara financial akan memberikan kontribusi signifikan bagi para pelaku ekonomi. Tentu saja para pelaku ekonomi tersebut tidak hanya umat Islam namun juga penganut agama lainnya. Pada bulan ramadhan dan menjelang hari raya Idhul Fitri omset para pelaku ekonomi tersebut akan naik berlipat-lipat dari hari-hari biasanya. Hal ini mungkin kurang disadari oleh umat Islam sendiri, padahal bagi para pelaku ekonomi ramadhan adalah momen untuk “cuci gudang” dan mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya.
Secara sosial keberkahan Ramadhan juga akan terasa dengan meningkatnya aktifitas keimanan umat Islam maka berbanding lurus dengan perilaku mereka dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Jika pada bulan lain umat Islam terkesan anarkis dan saling mempertahankan kepentingannya sendiri-sendiri maka pada bulan ini ego tersebut semakin terkikis sehingga Ramadhan menjadi momen persatuan bagi seluruh umat di negeri ini.
Apabila demikian adanya, maka sudah selayaknya Ramadhan bukanlah hanya milik umat Islam. Bulan ini begitu dinantikan oleh seluruh umat manusia di dunia, mereka menanti kembali datangnya bulan Ramadhan karena di dalamnya terdapat keberkahan baik yang bersifat duniawi ataupun ukhrawi. Karena itu Ramadhan ini adalah miliku, milik anda dan Ramadhan kita semua.   

Sabtu, 27 Juli 2013

Ramadhan dan Hakikat kehidupan

Oleh: Abdurrahman


Tidak terasa Ramadhan tahun 1434 H ini telah memasuki paruh ke tiga. Ada banyak hal yang sudah kita lakukan untuk mengisi bulan mulia ini, namun lebih banyak hal yang belum kita lakukan untuk mendapatkan ampunan di bulan penuh keberkahan ini. Tidaklah berlebihan ketika euphoria ramadhan begitu terasa di setiap media. Tradisi masyarakat untuk mengisi Ramadhan di negeri ini memang begitu meriah, dari yang syar’i hingga yang menyelisihi bulan mulia ini.
Ramadhan sebagai bulan penuh keberkahan akan semakin bermakna ketika digunakan untuk introspeksi diri tentang hakikat kehidupan ini. Hidup yang kita rasakan ini pada hakikatnya adalah sebuah perjalanan panjang yang penuh dengan rona suka dan duka. Ada senang ada sengsara, terkadang bahagia menyapa namun tidak jarang duka menimpa. Sesuatu yang sangat kita harapkan seringkali terluput dari kehidupan, sementara hal-hal yang tidak diinginkan menyapa tanpa bisa dihindarkan. Itulah kehidupan, ia adalah misteri yang tidak ada seorangpun bisa mengetahui. Tidak para malaikat tidak pula seorang Nabi, bahkan syaithan yang suka mencuri berita dari langitpun tidak bisa mengetahui apalagi para dukun yang hanya mengutip dari para pembisik alam syaithani.
Silih bergantinya rona kehidupan menjadikan kehidupan kita semakin kaya dengan pengalaman. Ia ibarat guru yang memberikan pelajaran tanpa kenal bosan, bahkan ia mendidik kita untuk bisa memahami apa sebenarnya pelajaran yang bisa kita cerna hari ini. Kehidupan mengajarkan kepada kita bahwa manusia itu sangat lemah, penuh kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Semua orang termasuk diri kita berada di ranah kekurangan ini. Jika selama ini penilaian hanya diarahkan pada hal-hal yang tampak oleh penglihatan, maka sejatinya penglihatan itu penuh dengan tipuan.
Memahami hakikat hidup berarti mengetahui kenapa ada kehidupan ini? Kenapa kita hadir di dunia ini? Kenapa suka dan duka silih berganti mewarnai hidup ini? Semua terjawab dengan satu kata Iman (percaya) dengan takdir Ilahi. Itulah kunci ketika ingin mendapatkan kehidupan ini. Takdir Ilahi adalah seperangkat narasi kehidupan yang harus kita laksanakan dan kita alami, tanpa ada seorangpun yang mengetahui. Kunci mendapatkan hakikat ini adalah yakin bahwa Allah ta’ala telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik penciptaan dan sebaik-baik kehidupan. Sehingga semua yang ada dalam kehidupan ini adalah baik dan untuk kebaikan kita bersama. Wallahu a’lam. 

Selasa, 23 Juli 2013

Menjadi Pemimpin Berbangsa yang Berkarakter Islami dan Berwawasan Global

Oleh: Misno


Indonesia adalah negara dengan banyak suku, setiap suku memiliki adat-istiadat yang berbeda-beda. Walaupun demikian mereka memiliki ikatan dalam bentuk semboyan negara yaitu Bhineka Tunggal Ika. Semboyan ini didasarkan pada filosofi yang dianut oleh setiap suku bangsa dalam bentuk kepercayaan lokal. Selain adanya beraneka suku bangsa, Indonesia juga mengakui berbagai agama sebagai kepercayaan masyarakatnya.
Beranekaragamnya suku bangsa dan agama di Indonesia memiliki nilai positif dan negatif. Sisi positifnya adalah masyarakat Indonesia kaya dengan budaya bangsa yang akan mempererat persaudaraan di antara mereka. selain itu mereka juga memiliki sikap tenggang rasa yang tinggi terhadap agama dan kepercayaan orang lain. Pluralitas budaya dan agama sebagai sebuah realitas berkembang pada masyarakat yang memiliki budaya yang berbeda-beda. Sisi negatifnya adalah bahwa beranekaragamnya budaya dan agama menjadi ancaman bagi konfik horizontal apabila tidak bisa me-manage-nya. Berbagai kasus kekerasan dan konflik yang terjadi di Indonesia salah satunya adalah karena perbedaan budaya dan agama masyarakatnya. Sehingga peran pemerintah dan seluruh warga negara Indonesia sangat diharapkan dalam rangka menyikapi perbedaan-perbedaan tersebut.
Sebagai calon pemimpin bangsa sudah selayaknya kita (calon penerima beasiswa) untuk bisa menjadi pelopor bagi pengembangan sikap tenggang rasa tersebut. memiliki pengetahuan luas yang integral dan komprehensif menjadi modal utama dalam mengembangkan pluralitas di tengah masyarakat. Demikian pula pemahaman agama yang inklusif menjadi syarat bagi calon pemimpin bangsa Indonesia. Inklusif dalam arti terbuka terhadap perbedaan dengan tetap berpegang teguh kepada keyakinan agama dan budayanya.
Islam sebagai sebuah agama yang komprehensif dan integral telah memberikan rambu-rambu sebagai pedoman dalam kehidupan. Ia memberikan sikap tenggang rasa yang tinggi terhadap penganut budaya dan agama lainnya. Al-Qur’an telah menyebutkan secara jelas bahwa “lakum diinukum wa liyadiin” bagi kalian agama kalian dan bagi kami agama kami. Tidak hanya sampai di sini, Islam juga melarang setiap umatnya menghina dan mencela Tuhan orang lain. Begitu tinggi penghormatan Islam terhadap agama lainnya sehingga ia bisa menjadi pioneer dalam proses perdamaian antar budaya dan agama di Indonesia.
Selain itu Islam juga memiliki system hukum yang elastis dan fleksibel dalam arti terbuka terhadap system hukum lainnya. Ia memberikan ruang terhadap adat kebiasaan, budaya dan tradisi di masyarakat selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai dasar Islam. Hal inilah yang menjadi motivasi saya untuk mendalami lebih jauh tentang prinsip-prinsip hukum Islam dalam kaitannya dengan budaya bangsa Indonesia. Adanya kaidah hukum “al-‘adah muhkamah” adat kebiasaan bisa dijadikan pedoman hukum Islam menjadi dasar kokoh bagi inklusifitas Islam terhadap budaya lokal. 
Beberapa tulisan berbasis penelitian yang saya lakukan menunjukan bahwa hukum Islam bisa berdampingan dengan system hukum lainnya. Prinsip keadilan yang menjadi dasar bagi pondasi hukum Islam adalah nilai universal dari sebuah keadilan sosial bagi seluruh manusia. Disertasi saya mengenai hubungan adat dan hukum Islam juga ingin membuktikan bahwa Islam bersifat universal yang bisa diterima oleh seluruh system budaya dunia. Hal ini terjadi karena hukum Islam bersifat universal yang bisa menjadi pedoman di segala masa dan tempat (ashlah fi kulli zaman wa makan). Penerimaan hukum Islam oleh masyarakat adat merupakan bukti konkrit bahwa Islam akan menyesuaikan diri dengan masyarakat di mana Islam berkembang. Ia tidak kaku dan stagnan, melainkan dinamis dan berkembang mengikuti perkembangan masyarakat.
Hal inilah yang saat ini tampak di tengah masyarakat Indonesia yang plural, Islam hadir tanpa tersekat oleh budaya Arab, Persia atau India. Islam hadir dengan cita rasa Indonesia yang selaras dengan budaya dan nilai-nilai adiluhung bangsa Indonesia.
Berangkat dari sini maka saya akan mengharmonikan antara hukum Islam dengan adat dan kepercayaan lokal di Indonesi, sehingga diharapkan akan tercipta suatu tatanan masyarakat yang berdiri di atas nilai-nilai Ilahi tanpa meninggalkan jati diri bangsa sendiri. Salah satu langkah yang dilakukan adalah melakukan berbagai penelitian, pengkajian dan sosialisasi ke tengah masyarakat Indonesia tercinta.

Senin, 22 Juli 2013

Ladang Berpindah Baduy


Ade Makmur K. dan Adi Purwanto
Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lemlit Unpad, Staf pengajarpada Jurusan Antropologi Sosial FISIP – Unpad.


Abstrak

Masyarakat Baduy cenderung bertahan dari sistem pertanian berladang berpindah. Untuk bertahan mereka diikat oleh sistem pemerintahan yang mengatur kehidupan sosio-politik dan keagamaan. Pengaturan kehidupan keseharian warga masyarakat sepenuhnya di bawah kendali sistem pemerintahan yang bersandar pada pikukuh karuhun yang dikenal sebagai pamarentahan Baduy dengan ketiga puun sebagai pucuk rujukan mereka yang berkedudukan di tiga daerah tangtu, yaitu Cibeo, Cikartawana dan Cikeusik. Penelitian ini dilakukan sebagai upaya untuk mendeskripsi dan menerangkan bagaimana pranata kepemimpinan yang disimpulkan melalui pamarentahan Baduy berperan mengendalikan warga masyarakatnya bertahan dari pelbagai pengaruh. Pendekatan kekerabatan digunakan untuk menggambarkan penelitian ini yang dilakukan melalui pengumpulan data etnografi. Praktek kepemimpinan ketiga puun masing-masing mempunyai fungsi yang berbeda sesuai dengan kedudukan dan perannya dalam hirarki kekerabatan. Puun Cibeo yang dihubungkan oleh garis keturunan yang paling muda bertindak sebagai pemimpin politik yang berperan mengatur warga masyarakat untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup duniawi dan Puun Cikeusik yang ditentukan oleh garis keturunan yang paling tua berperan memimpin agama dalam rangka  mewujudkan dan mempertahankan identitas budaya, sedangkan Puun Cikartawana kedudukannya di antara kepemimpinan agama dan politik.

kata kunci: Pamarentahan Baduy, Kekerabatan


PAMARENTAHAN  BADUY IN KANEKES: KINSHIP PERSPECTIVE


Abstract

The Baduy people nowadays still uphold the slash and burn agriculture besides their folk believes to survive amongs the modern life They were managed by such tradition like sociopolitical management that controls their attitudes. Every single daily life has been controlled by pikukuh karuhun tradition that already known as well as pamarentahan Baduy with three chiefdomains : Cibeo, Cikartawana and Cikeusik. The research has developed to describe and explained how the institution leader through pamarentahan objective that Baduy’s roles in controlling on community. It is believed that situation could contrains outside world influence. Ethnographic approach was used for this research to collect data. Those three puun leaderships have different function to control the community with its characteristics in their hierarchical kinship. Puun Cibeo is related to be highest kin line relation and roles as political leader to suit daily activities. Puun Cikeusik roles as the highest leader on folk believes to protect cultural identity. On the other hand, Puun Cikartawana roles as mediator of both Puuns as well as political and religious leader.

Keywords : Pamarentahan Baduy, Kinship

Jumat, 19 Juli 2013

Kapan Islam Masuk Nusantara?

Masih ingatkah kita semua tatkala masih duduk di bangku sekolah, saat mendengar bapak atau ibu guru bercerita tentang sejarah masuknya Islam di Nusantara? “Agama Islam,” kata mereka, “… masuk ke Nusantara lewat para pedagang dari Gujarat, India.” Kini, puluhan tahun kemudian, coba buka buku sejarah anak-anak kita. Lihat bab mengenai masuknya Islam di Nusantara. Ternyata, masih banyak buku teks sejarah di sekolah-sekolah kita yang juga menuliskan jika Islam masuk di Nusantara lewat Gujarat di abad ke-13 Masehi. Hal ini diyakini berdasarkan catatan Marco Polo yang pada 1292 pernah singgah di Sumatera Utara dan menemukan sebuah kampung di mana warganya Muslim, lalu juga nisan makam Sultan Malik al-Shaleh yang berangka 1297 M.
Teori yang menyebutkan Islam masuk di Nusantara berasal dari Gujarat secara populer disebut sebagai Teori Gujarat. Teori ini berasal dari seorang orientalis Belanda yang mengaku-aku masuk Islam bernama Snouck Hurgronje. Ironisnya, oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan Nasional, teori yang sesunguhnya penuh racun ini seolah dijadikan pembenaran tunggal bagi sejarah masuknya Islam di Nusantara.
Padahal, teori Gujarat tersebut banyak mendapat tentangan, bukan saja dari para intelektual Muslim, seperti HAMKA dan juga sejarawan Mansyur Suryanegara, namun juga dari intelektual Barat, dengan segala fakta-fakta arkeologis dan literatur kuno yang ditemukan.
Salah seorang penentang Teori Gujarat van Hurgronje adalah Prof. Dr. HAMKA yang menegaskan jika seorang pencatat sejarah Tiongkok yang mengembara pada 674 M telah menemukan satu kelompok bangsa Arab yang berdiam di pesisir Barat Sumatera. HAMKA juga menambahkan bahwa temuan ini telah diyakini kebenarannya oleh para pencatat sejarah dunia Islam di Princetown University di Amerika.(1)
Temuan HAMKA diamini oleh Peter Bellwood(2), seorang Reader in Archaeology di Australia National University, yang telah melakukan banyak penelitian arkeologis di Polynesia dan Asia Tenggara. Bellwood menemukan bukti-bukti jika sebelum abad kelima masehi, yang berarti Rasulullah SAW belum lahir, beberapa jalur perdagangan utama telah berkembang menghubungkan kepulauan Nusantara dengan Cina. Temuan beberapa tembikar Cina serta benda-benda perunggu dari zaman Dinasti Han dan zaman-zaman sesudahnya di selatan Sumatera dan di Jawa Timur membuktikan hal ini. Bellwood dalam catatan kakinya3 menulis, “Museum Nasional di Jakarta memiliki beberapa bejana keramik dari beberapa situs di Sumatera Utara. Selain itu, banyak barang perunggu Cina, yang beberapa di antaranya mungkin bertarikh akhir masa Dinasti Zhou (sebelum 221 SM), berada dalam koleksi pribadi di London. Benda-benda ini dilaporkan berasal dari kuburan di Lumajang, Jawa Timur, yang sudah sering dijarah…” Bellwood dengan ini hendak menyatakan bahwa sebelum tahun 221 SM, para pedagang pribumi diketahui telah melakukan hubungan dagang dengan para pedagang dari Cina. Menurutnya, perdagangan pada zaman itu di Nusantara dilakukan antar sesama pedagang, tanpa ikut campurnya kerajaan, jika yang dimaksudkan kerajaan adalah pemerintahan dengan seorang raja dengan wilayah yang luas. Sebab kerajaan Budha Sriwijaya yang berpusat di selatan Sumatera baru berdiri pada 607 Masehi (Wolters 1967; Hall 1967, 1985).
Adanya jalur perdagangan utama dari Nusantara-terutama Sumatera dan Jawadengan Cina juga diakui oleh sejarahwan G.R. Tibbetts. Tibbetts meneliti hubungan perniagaan yang terjadi antara para pedagang dari Jazirah Arab dengan para pedagang dari wilayah Asia Tenggara pada zaman pra-Islam. Tibbetts menemukan bukti-bukti adanya kontak dagang antara negeri Arab dengan Nusantara saat itu. “Keadaan ini terjadi karena kepulauan Nusantara telah menjadi tempat persinggahan kapal-kapal pedagang Arab yang berlayar ke negeri Cina sejak abad kelima Masehi.(4) Bahkan peneliti sejarah kuno dari London University, Robert Dick-Read, lebih berani lagi dengan menyatakan jika pada masa awal Masehi, pelaut-pelaut Nusantara telah menjadi pioner bagi jalur perdagangan dunia hingga ke benua Afrika. Bahkan perdagangan bangsa Cina sangat tergantung pada jasa pelaut-pelaut Nusantara dalam mengarungi samudera luas.(5)
Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa menjelang seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M-hanya berbeda 15 tahun setelah Rasulullah menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah berdakwah terang-terangan kepada bangsa Arab-di sebuah pesisir pantai Sumatera sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam kekuasaan wilayah Kerajaan Budha Sriwijaya.
Disebutkan pula bahwa di perkampungan-perkampungan ini, orang-orang Arab bermukim dan telah melakukan asimilasi dengan penduduk pribumi dengan jalan menikahi perempuan-perempuan lokal secara damai. Mereka sudah beranak–pinak di sana. Dari perkampungan-perkampungan ini mulai didirikan tempat-tempat pengajian al-Qur’an dan pengajaran tentang Islam sebagai cikal bakal madrasah dan pesantren, umumnya juga merupakan tempat beribadah (masjid).(6) Dari berbagai literatur, diyakini bahwa kampung Islam di daerah pesisir Barat Pulau Sumatera itu bernama Barus atau yang juga disebut Fansur. Kampung kecil ini merupakan sebuah kampung kuno yang berada di antara kota Singkil dan Sibolga, sekitar 414 kilometer selatan Medan. Di zaman Sriwijaya, kota Barus masuk dalam wilayahnya. Namun ketika Sriwijaya mengalami kemunduran dan digantikan oleh Kerajaan Aceh Darussalam, Barus pun masuk dalam wilayah Aceh. Amat mungkin Barus merupakan kota tertua di Indonesia mengingat dari seluruh kota di Nusantara, hanya Barus yang namanya sudah disebut-sebut sejak awal Masehi oleh literatur-literatur Arab, India, Tamil, Yunani, Syiria, Armenia, China, dan sebagainya. Sebuah peta kuno yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus, salah seorang Gubernur Kerajaan Yunani yang berpusat di Aleksandria Mesir, pada abad ke-2 Masehi, juga telah menyebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang dikenal menghasilkan wewangian dari kapur barus. Di masa sebelum masehi, sangat sulit menemukan catatan tua di Jawa yang bisa membuka selubung gelap sejarah awalnya. Pangeran Aji Saka sendiri baru “diketahui” memulai sistem penulisan huruf Jawi kuno yang berdasarkan pada tipologi huruf Hindustan pada masa antara 0 sampai 100 Masehi. Dalam periode ini di Kalimantan telah berdiri Kerajaan Hindu Kutai dan Kerajaan Langasuka di Kedah, Malaya. Tarumanegara di Jawa Barat baru berdiri tahun 400-an Masehi. Di Sumatera, agama Budha baru menyebar pada tahun 425 Masehi dan mencapai kejayaan pada masa Kerajaan Sriwijaya.
Sejarahwan T.W. Arnold menguatkan temuan bahwa agama Islam telah dibawa oleh mubaligh-mubaligh Islam langsung dari jazirah Arab ke Nusantara sejak awal abad ke-7 M.(7) Setelah abad ke-7 M, Islam mulai berkembang di kawasan ini; misal, menurut laporan sejarah negeri Tiongkok bahwa pada tahun 977 M, seorang duta Islam bernama Pu Ali (Abu Ali)m diketahui telah mengunjungi negeri Tiongkok mewakili sebuah negeri di Nusantara.(8) Bukti lainnya, di daerah Leran, Gresik, Jawa Timur, sebuah batu nisan kepunyaan seorang Muslimah bernama Fatimah binti Maimun bertanggal tahun 1082 telah ditemukan. Penemuan ini setidaknya menyatakan jika Islam telah merambah Jawa Timur di abad ke-11 M.(9)
Sejarawan asal Bandung, Mansyur Suryanegara, berpegangan pada banyak literatur kuno dan berbagai penelitian yang ada meyakini jika Islam telah masuk ke Nusantara pada masa Rasulullah masih hidup. Bahkan Mansyur berani menyatakan jika pedagang-pedagang dari Nusantara jauh sebelum Rasulullah diangkat menjadi Rasul SAW telah melakukan perdagangan sampai di Syam. “Bukan hal yang mustahil jika sesungguhnya para pedagang asal Nusantara telah melakukan kontak dengan Rasulullah di Syam, mengingat Rasulullah SAW juga seorang kepala kabilah dagang di Syam saat mudanya, yaitu membawa barang-barang dagangan dari Khadijah,” ujar Mansyur Suryanegara.(10) Secara ringkas dapat dipaparkan sebagai berikut: Rasululah menerima wahyu pertama di tahun 610 M, dua setengah tahun kemudian menerima wahyu kedua (kuartal pertama tahun 613 M), lalu tiga tahun lamanya berdakwah secara diam-diam—periode Arqam bin Abil Arqam (sampai sekitar kuartal pertama tahun 616 M), setelah itu baru melakukan dakwah secara terbuka dari Mekkah ke seluruh Jazirah Arab. Menurut literatur kuno Tiongkok, sekitar tahun 625 M telah ada sebuah perkampungan Arab Islam di pesisir Sumatera (Barus). Jadi hanya 9 tahun sejak Rasulullah SAW memproklamirkan dakwah Islam secara terbuka, di pesisir Sumatera sudah terdapat sebuah perkampungan Islam.
Menengok catatan sejarah, pada seperempat abad ke-7 M, kerajaan Budha Sriwijaya tengah berkuasa atas Sumatera. Untuk bisa mendirikan sebuah perkampungan yang berbeda dari agama resmi kerajaan—perkampungan Arab Islam—tentu membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum diizinkan penguasa atau raja. Harus bersosialisasi dengan baik dulu kepada penguasa, hingga akrab dan dipercaya oleh kalangan kerajaan maupun rakyat sekitar, menambah populasi Muslim di wilayah yang sama yang berarti para pedagang Arab ini melakukan pembauran dengan jalan menikahi perempuan-perempuan pribumi dan memiliki anak, setelah semua syarat itu terpenuhi baru mereka—para pedagang Arab Islam ini—bisa mendirikan sebuah kampung di mana nilai-nilai Islam bisa hidup di bawah kekuasaan kerajaan Budha Sriwijaya.
Perjalanan dari Sumatera sampai ke Mekkah pada abad itu, dengan mempergunakan kapal laut dan transit dulu di Tanjung Comorin, India, konon memakan waktu dua setengah sampai hampir tiga tahun. Jika tahun 625 dikurangi 2,5 tahun, maka yang didapat adalah tahun 622 Masehi lebih enam bulan. Untuk melengkapi semua syarat mendirikan sebuah perkampungan Islam seperti yang telah disinggung di atas, setidaknya memerlukan waktu selama 5 hingga 10 tahun. Jika ini yang terjadi, maka sesungguhnya para pedagang Arab yang mula-mula membawa Islam masuk ke Nusantara adalah orang- orang Arab Islam generasi pertama para shahabat Rasulullah, segenerasi dengan Ali bin Abi Thalib r.a. Inilah yang membuat seorang Ahmad Mansyur Suryanegara sangat yakin bahwa Islam masuk ke Nusantara pada saat Rasulullah masih hidup di Mekkah dan Madinah.
Dalam literatur kuno asal Tiongkok, orang-orang Arab disebut sebagai orang-orang Ta Shih, sedang Amirul Mukminin disebut sebagai Tan mi mo ni’. Disebutkan bahwa duta Tan mi mo ni’, utusan Khalifah, telah hadir di Nusantara pada tahun 651 Masehi atau 31 Hijriah dan menceritakan bahwa mereka telah mendirikan Daulah Islamiyah dengan telah tiga kali berganti kepemimpinan. Dengan demikian, duta Muslim itu datang ke Nusantara di perkampungan Islam di pesisir pantai Sumatera pada saat kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan (644-656 M). Hanya berselang duapuluh tahun setelah Rasulullah SAW wafat (632 M).
Catatan-catatan kuno itu juga memaparkan bahwa para peziarah Budha dari Cina sering menumpang kapal-kapal ekspedisi milik orang-orang Arab sejak menjelang abad ke-7 Masehi untuk mengunjungi India dengan singgah di Malaka yang menjadi wilayah kerajaan Budha Sriwijaya.
Gujarat Sekadar Tempat Transit
Islam masuk di Nusantara dibawa oleh generasi Islam pertama, para shahabat. Islam di Nusantara bukan berasal dari para pedagang India (Gujarat) atau yang dikenal sebagai Teori Gujarat yang berasal dari Snouck Hurgronje, karena para pedagang yang datang dari India, mereka ini sebenarnya berasal dari Jazirah Arab, lalu dalam perjalanan melayari lautan menuju Sumatera (Kutaraja atau Banda Aceh sekarang ini) mereka singgah dulu di India yang daratannya merupakan sebuah tanjung besar (Tanjung Comorin) yang menjorok ke tengah Samudera Hindia dan nyaris tepat berada di tengah antara Jazirah Arab dengan Sumatera.
Bukalah atlas Asia Selatan, kita akan bisa memahami mengapa para pedagang dari Jazirah Arab menjadikan India sebagai tempat transit yang sangat strategis sebelum meneruskan perjalanan ke Sumatera maupun yang meneruskan ekspedisi ke Kanton di Cina. Setelah singgah di India beberapa lama, pedagang Arab ini terus berlayar ke Banda Aceh, Barus, terus menyusuri pesisir Barat Sumatera, atau juga ada yang ke Malaka dan terus ke berbagai pusat-pusat perdagangan di daerah ini hingga pusat Kerajaan Budha Sriwijaya di selatan Sumatera (sekitar Palembang), lalu mereka ada pula yang melanjutkan ekspedisi ke Cina atau Jawa.
(Footnotes)
1 Prof. Dr. HAMKA; Dari Perbendaharaan Lama; Pustaka Panjimas; cet.III; Jakarta; 1996; Hal.4-5.
2 Peter Bellwood, Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia, Gramedia, 2000. Judul asli “Prehistoriy of the Indo-Malaysian
Archipelago”, Academic Press, Sidney, 1985.
Buku ini menjadi pegangan peneliti dunia mengenai catatan arkelogis Polynesia dan Asia Tenggara.
3 Ibid, hal.455.
4 G.R. Tibbetts, Pre Islamic Arabia and South East Asia, JMBRAS, 19 pt.3, 1956, hal.207. Penulis Malaysia, Dr.
Ismail Hamid dalam “Kesusastraan Indonesia Lama Bercorak Islam” terbitan Pustaka Al-Husna, Jakarta, cet.1,
1989, hal.11 juga mengutip Tibbetts.
5 Robert Dick-Read; Penjelajah Bahari, Pengaruh Peradaban Nusantara di Afriika; Mizan; Juni 2008. Dick-Read bisa
dihubungi di robet.dread@ntworld.com atau
thurlton.publishing@ntworld.com. Kunjungi pula www.phantomvoyagers.com.
6 Kitab Chiu Thang Shu, tanpa tahun.
7 R.W. Arnold, The Preaching of Islam (Lahore: Ashraf 1968), hal.367
8 F. Hirth dan W.W. Rockhill (terj), Chau Ju Kua, His Work On Chinese and Ar ab Trade in XII Centur ies (St.Petersburg:
Paragon Book, 1966) hal. 159.
9 S.Q. Fatini, Islam Comes to Malaysia (Singapura: M.S.R.I., 1963), hal.39
10 Wawancara langsung penulis dengan Mansyur Suryanegara di Bandung, tahun 2002.
sumber : era muslim

Rizqi itu sudah dibagi-bagi

Oleh: Abdurrahman


Iman kepada takdir baik dan buruk adalah salah satu dari rukun iman dalam Islam, sehingga setiap muslim wajib meyakini takdir tersebut. Keimanan ini tercermin dalam kehidupan sehari-hari yaitu perilaku dalam menyikapi setiap hal yang menimpa dirinya dan juga menimpa orang lain di sekitarnya. Jika hal-hal yang baik itu yang menimpa kita tentu kita akan berbahagia, namun jika ada hal yang terasa berat berubah musibah, atau ketidakberuntungan maka rasa sesak seringkali muncul dalam dada. Maksudnya adalah seolah-olahmusibah atau ketidakberuntngan itu adalah bencana yang menyusahkan manusia.
Demikian pula jika dalam sebuah kesempatan yang sama ternyata orang lain mendapatkan sesuatu yang lebih dari kita, atau seseorang mendapatkan sesuatu sementara kita yang memiliki kesempatan yang sama dengan orang tersebut ternyata tidak bisa mendapatkannya. Sebagai contoh konkrit jika kita dan seorang teman sedang berjalan ke suatu tempat untuk mendapatkan sesuatu. Dengan kompetensi yang sama dan kesempatan yang sama ternyata kita tidak bisa mendapatkan sesuatu tersebut sementara teman itu mendapatkannya. Maka apa yang ada dalam diri kita? Jawaban normatifnya adalah itu sudah menjadi rizqinya. Terlalu sederhana jika hal tersebut adalah jawabannya, tentu saja jika tidak ada hal lain yang mempengaruhinya. Berikutnya terindikasi bahwa teman kita tersebut melakukan hal-hal yang sifatnya curang dalam mendapatkan sesuatu tersebut. Apa yang ada dalam pikiran kita? Tidak suka padanya? Meyakini bahwa itu adalah juga rizqinya? Atau kita menyalahkan diri kita yang tidak bisa mendapatkan sesuatu tersebut?
Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa rizqi Allah itu sudah dibagi-bagikan kepada semua hambaNya tanpa sedikitpun salah. Hal ini berarti bahwa walaupun teman yang mendapatkan sesuatu tersebut dengan cara yang curang, berbohong dan hal-hal lainnya maka tetap saja itu memang sudah menjadi takdirnya. Kecurangan, tindakan dia yang berbohong dan segala hal salah yang ia lakukan akan menjadi “dosa” baginya. Demikian pula karena kita tidak bisa mendapatkan sesuatu itu maka itu adalah bukan rizqi kita. Keyakinan ini harus terpatri dalam jiwa sehingga kita tidak lagi merasa bahwa Allah tidak memberikan sesuatu pada kita. Karena ada banyak sesuatu lain yang telah ditetapkan bagi kita. Lantas, bagaimana dengan usaha manusia, Apakah ia berkontirbusi dengan rizqi yang ia dapatkan? Wallahu a’lam. 

Rabu, 17 Juli 2013

“Hormatilah” Orang yang Tidak Berpuasa

Oleh: Abdurrahman

Salah satu dari hikmah puasa adalah agar manusia memiliki sikap empati kepada orang lain. Sikap empati bisa dalam bentuk turut merasakan kesusahan orang lain atau sekadar memiliki sikap tenggang rasa dan menghormati orang lain. Oleh karena itu jika seseorang yang sedang dan telah menjalankan puasa namun tidak memiliki rasa empati dan menghormati orang lain maka bisa jadi kualitas puasanya dipertanyakan. Jika tujuan dari puasa adalah agar manusia itu bertakwa, maka menghormati orang lain dan merasakan sebagaimana perasaan orang lain adalah salah satu dari aplikasi ketakwaan tersebut.
Kemudian, jika ada seseorang yang berpuasa namun tidak menghormati orang yang tidak berpuasa maka bisa jadi orang tersebut belum memahami hakikat dari puasanya tersebut atau mungkin belum tahu penyebab dari orang yang tidak berpuasa tersebut. Saya mencatat bahwa orang yang tidak berpuasa itu ada beberapa jenis:
1.      Orang kafir
2.      Orang muslim zindiq
3.      Orang muslim fasiq
4.      Orang muslim jahil (bodoh)
5.      Orang gila atau mabuk
6.      Orang yang dalam perjalanan (safar)
7.      Orang yang sakit
8.      Perempuan yang haidh atau nifas
9.      Anak kecil yang belum baligh

Orang-orang yang tidak puasa tersebut baru sebagian, pastinya masih banyak alasan lain yang menjadikan seseorang tidak berpuasa.
Nah, sebagai orang yang sedang berpuasa maka sudah selayaknya kita “menghormati” mereka yang tidak berpuasa saja. Tentu saja kadar penghormatannya sesuai dengan ukuran yang menjadi alasan mereka tidak berpuasa. Sebagai contoh orang kafir yang tidak berpuasa tentu harus kita hormati, dengan timbal balik bahwa mereka juga harus menghormati orang yang berpuasa. Saling hormat-menghormati adalah hal yang sangat dianjurkan dalam Islam sehingga baik yang berpuasa ataupun yang tidak berpuasa harus saling menghormati. Menghormati orang kafir yang tidak berpuasa bisa dilakukan dengan memberikan waktu dan kesempatan kepada mereka untuk makan siang sesuai dengan kebutuhan mereka. Sebaliknya mereka juga memiliki kewajiban untuk menghormati orang yang berpuasa dengan cara tidak makan di tempat umum yang mudah nampak oleh orang yang sedang berpuasa. Walaupun secara pribadi saya sendiri mempersilahkan kalau mau makan di mana saja walaupun di depan saya. Hanya saja etika dan rasa empati kepada orang yang sedang berpuasa tentu harus diperhatikan sebagaimana kita yang berpuasa menghormati orang kafir yang tidak berpuasa.
Selanjutnya “menghormati” orang yang tidak berpuasa dari kalangan orang Islam yang zindiq dan fasiq, tentu saja memiliki “cara” tersendiri dalam menyikapinya. Jika orang muslim tersebut tidak berpuasa karena ia meyakini bahwa puasa itu tidak wajib maka kewajiban dari pemerintah dan para tokoh untuk memberikan nasehat kepadanya. Jika ia tetap tidak mau berpuasa maka sudah selayaknya ia diberikan “punishment” atas kezindiqannya tersebut. jika ia adalah fasiq maka haruslah ada iqamatul hujjah (memberikan dalil tentang wajibnya puasa padanya) kepada orang tersebut. jika ia juga tetap tidak mau berpuasa maka urusannya dikembalikan kepada pihak yang berwenang dalam system pemerintahan Islam adalah qadhi atau hakim untuk diadili karena telah menodai agama Islam.
Apabila orang yang tidak berpuasa tersebut adalah orang muslim yang karena kemalasannya tidak berpuasa, maka cara “menghormatinya” adalah dengan memberikan pengajaran tentang kewajiban puasa tersebut. mungkin kita berfikir di zaman sekarang apakah masih ada orang yang tidak tahu bahwa puasa itu wajib? Hal ini bisa saja terjadi, saya sempat beberapa kali bertanya kepada seorang muslim yang tidak puasa mereka menyatakan bahwa mereka tidak puasa karena malas, tidak kuat, kerja keras dan lain sebagainya. Tentu saja semua itu adalah alasan yang dibuat-buat, cara mengobatinya juga tidak langsung menyatakan bahwa mereka salah. Namun lebih bijak ketika mereka diberikan nasehat dan pengajaran secara kontinyu agar bisa memahami bahwa puasa itu adalah wajib. Sementara alasan-alasan mereka berupa malas, karena tidak kuat, karena bekerja keras atau karena takut sakit dan lain sebagainya tidak bisa menjadi alasan.
Realitas di masyarakat memang saat ini banyak orang Islam yang tidak berpuasa, maka menghormati mereka bukan membiarkan mereka tetap dalam kesesatannya, namun lebih bijak ketika bisa memberikan suatu pengajaran yang bisa menyadarkan mereka bahwa puasa itu adalah bagian dari Islam sehingga seseorang yang tidak berpuasa termasuk orang-orang yang merobohkan bangunan Islam sebagaimana seorang muslim yang tidak shalat. Usaha ini tentu saja harus dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan, selain dibutuhkan berbagai cara agar orang yang tidak puasa tersebut mau berpuasa sesuai dengan kesadaran dirinya.
Pada orang-orang yang tidak berpuasa karena udzur syar’i seperti dalam safar, anak kecil atau perempuan yang haidh dan nifas maka menghormati mereka adalah dengan memberikan kesempatan bagi mereka untuk makan dan memenuhi kebutuhannya. Namun mereka juga memiliki kewajiban untuk menghormati orang yang berpuasa. Oleh karena itu hormatilah orang yang tidak berpuasa sesuai dengan alasan mereka masing-masing tidak berpuasa.

Selasa, 16 Juli 2013

Model Pendidikan Tinggi Masa Depan

Oleh: Muhammad Zain

Ada banyak hal yang menarik selama saya mengikuti Summer Institut, Hong Kong University dari tanggal 17 s.d 27 juni 2013, antara lain:
1. Revolusi informasi berdampak luar biasa terhadap reformasi pembelajaran. Dari pembelajaran yang terpusat pada teacher menjadi pembelajaran yang berbasis IT. Seorang guru dan dosen hanya sebagai fasilitator. Dan kalau mereka kurang tanggap, mahasiswanya dapat meninggalkannya. Mereka membutuhkan perubahan, bukan seorang guru. Pembelajaran juga harus berbasis riset. Seorang guru terutama dosen harus mengajarkan sesuatu berdasarkan hasil riset yang dilakukannya. Dosen tidak boleh hanya mengandalkan pengetahuan ’common sense’ kepada mahasiswanya.

2. Dunia sekarang sudah terkonek dengan dunia lain. World is flat, kata Thomas Friedman. Kita tidak hidup sendirian. Mahasiswa harus dari awal dibekali dengan sejumlah kompetensi dan kesadaran akan global citizenship. Bahwa kita hidup dan sadar akan komunitas dunia. Bahasa Inggeris merupakan keniscayaan untuk memasuki persaingan global. Orang China termasuk sangat ekspansif dalam hal ini. Mereka membuat perkampungan China di mana-mana. China Town. Cirinya, mereka menyediakan berbagai makanan yang bercita rasa Asia, menjual sovenir dengan harga murah, dan kebutuhan lainnya yang lebih murah dari harga rata-rata. Dengan fenomena ini sesungguhnya bangsa China sedang menaklukan dunia.

3. Pentingnya rekruitmen global/ international student. HKU science and technology—perguruan tinggi terbaik satu Hong Kong dan baru berumur 20 tahunan-- menargetkan 20% global studentnya dari total jumlah mahasiswa. Untuk mencapai ini mereka sangat serius dalam promosi untuk merekrut global student. Media komunikasi sosial seperti face book, twitter, para alumni, dan tesmoni para mahasiswanya yang telah mengalami nikmatnya kuliah di Hong Kong, semua dimanfaatkannya. Keuntungan global student ini yakni dengan sendirinya program ini mendukung internasionalisasi HKU. Para mahasiswa sjdah terbiasa dengan kehidupan multikultural. Mereka dengan sendirinya terbuka wawasannya dengan dunia lain.

4. Revolusi Pembelajaran.

Dr Jamil Salmi (seorang nara sumber inti dalam Summer Institut) membahas masa depan pendidikan tinggi. Pokok bahasannya dihubungkan dengan perubahan teknologi informasi yang demikian cepatnya. Penguasaan dan pemanfataan teknologi dalam proses pembelajaran adalah suatu kemestian. Informasi menyebar demikian cepatnya. Di dunia medis demikian pula halnya. Bahkan robot akan menggantikan posisi dokter yang sesungguhnya. Sekarang sudah era paper less culture. Penggunaan kertas sudah berkurang atau tidak sama sekali. Face booker society. Masyarakat pengguna face book. Semua informasi biasanya sudah ramai dibicarakan di face book. Demikian pula twitter. Seseorang lebih senang "berkicau" di Twitter. Bahkan ujian mahasiswa sudah bisa lewat internet. Kurikulum berubah dalam dua tahun. E-lab dan e-library sudah hal yang sangat biasa. Sekarang mahasiswanya pun sudah "new student". Mahasiswa di era baru. Tidak seperti mahasiswa dulu. Datang duduk, dan siap menerima materi pelajaran atau kuliah dari seorang dosen. Sekarang, dosen tak lebih sebagai "fasilitator". Sebab, informasi sudah demikian masifnya. Apa yang akan disampaikan oleh seorang dosen di kelas, mungkin sudah diketahui oleh para mahasiswanya. pendidikan di masa depan, sangat boleh jadi dalam hal pendanaan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kucuran dana pemerintah. Ada banyak donatur yang siap menginvestasikan dana untuk kepentingan pendidikan dan dunia usaha. lalu, pertanyaannya kemudian, apakah pendidikan tinggi sudah siap dengan situasi ini? Perkembangan ilmu pengetahuan dan penyebarannya juga sudah demikian cepat dan massif. tercatat sudah 1,5 juta artikel mengenai sain dan teknologi. How can we update our knowledge? Learning for life. Knowledge for safety, tandas Dr Jamil. Dalam pembelajaran,kita membutuhkan new pedagogical approaches.

5. Revolusi IT

What are our students expectations? Have less "respect" for the teacher, more willing to challenge. Demikian sepenggalan kalimat dari Prof. Nicholls, HKU. Berkat revolusi IT, informasi sangat cepat beredar. Kejadian di suatu daerah terpencil, dalam waktu yang sangat singkat dapat diketahui di belahan dunia lainnya. Globalisasi. Hampir tidak ada infromasi yang dapat ditutup-tutupi sekarang. Dulu, guru, Kyai sangat dihormati karena merekalah satu-satunya sumber informasi. Sekarang, zaman sudah berubah. Google dan media sosial lainnya sudah menyiapkan lebih dari 70% infromasi yang dibutuhkan manusia. Dalam hitungan detik, informasi apa pun yang kita butuhkan, dapat dijelaskan oleh Google. Dengan demikian, para pendidik, guru, Kyai, dosen harus mengerti perubahan ini. Materi, metode pembelajaran harus diubah. Kita seharusnya menekakan pada penttingnya critical analysis. Bagaimana menganalisis "tumpukan" atau bahkan "sampah" informasi itu. Demikian pula dengan orang tua. Perlu perubahan pola komunikasi dalam mendidik putra-puteri kita. Hampir semua anak usia muda sudah memegang hand phone. Itu berarti, aspek finansial dalam keluarga harus diperhatikan. Seorang orang tua tidak bisa lagi mengandalkan konsep "birr al-walidain", berbakti kepada kedua orang tua untuk menakut-nakuti anaknya agar mereka dihormati. Zaman sudah berubah. Seorang anak remaja sudah demikian "gaul". Mereka sudah sangat terkonek dengan seusianya dari selruh belahan dunia. Anak-anak juga semakin cepat dewasa. Bagaimana menanamkan nilai-nilai kebaikan di tengah revolusi teknologi informasi yang demikian ini? jangan-jangan suatu waktu, anak-anak kita hanya menghormati orang tuanya karena kebetulan merekalah yang melahirkannya. Anak-anak hormat kepada orang tua karena "numpang" lewat lahir ke dunia fana ini. Gawat! Demikian pula dalam hal kepemimpinan. Seorang top manajer yang kurang menguasai informasi mengenai bidangnya pasti kehilangan kontrol dan kekuasaan.The end of leardership,kata Barbara. Kita harus berpikir keras untuk "memenangkan" pertarungan di era digital ini. akankah kehidupan ini akan lebih baik dengan semua ini? Atau sebaliknya. Kita harus optimis. Ini adalah sunnatullah. Daripada menentang arus, lebih baik mengalir bersamanya. (Muhammad Zain)
- See more at: http://diktis.kemenag.go.id/index.php?artikel=lihat&id=72#.UeVbbtIqyzk

Bahagia itu Sederhana: Syukuri apa yang ada

Oleh: Bambang Sahaja



Seluruh manusia di dunia ini mendambakan hidup sejahtera dan bahagia. Sejahtera berarti tercukupinya kebutuhan lahiriyah atau fisiknya, sementara bahagia adalah tercukupinya kebutuhan batinnya. Jika kesejahteraan berkaitan dengan kebutuhan fisik maka kebahagiaan adalah berkaitan dengan kebutuhan mental spiritual. Jika demikian maka kesejahteraan sering kali tidak berbanding lurus dengan kebahagiaan. Namun apakah orang yang bahagia itu harus sejahtera? Jawabannya bisa iya bisa juga tidak. Karena bahagia itu sebenarnya sederhana, jika banyak manusia mencari kebahagiaan dengan berbagai cara maka resepnya adalah mensyukuri apa yang ada, itu saja.
Mensyukuri apa yang ada berarti setiap yang ada dalam diri kita dan yang diberikan oleh Sang maha Pecipta adalah sesuatu yang harus disyukuri. Tubuh dan fisik kita dengan segala “kekuranga” dan kelebihannya adalah amanah yang harus dijaga, diberikan hak-haknya dan disyukuri. Bagaimanapun “jeleknya” tubuh dan fisik kita semua itu adalah kenikmatan yang harus disyukuri dan tidak boleh dikufuri. Kenapa kenikmatan tubuh ini harus disyukuri? Karena tidak ada seorangpun yang bisa “memesan” model tubuh ketika dia akan lahir. Tidak ada seorangpun yang sewaktu lahir memesan untuk berkulit putih, berhidung mancung, keturunan bangsawan, dari keluarga kaya dan lain sebagainya. Sehingga tubuh dan fisik kita adalah kenikmatan yang harus disyukuri, dengan syukur tersebut maka kebahagiaan akan diraih.
Selanjutnya adalah mensyukuri setiap yang Allah ta’ala berikan kepada kita, entah itu bersifat kenikmatan dan anugerah berupa rizqi, anak, kesehatan dan lain sebagainya. Atau sesuatu itu berupa bala dan cobaan semisal sakit, musibah, kecelakaan dan hal-hal lain yang di mata manusia disebut musibah. Maka sejatinya “musibah” yang menimpa kita adalah anugerah yang harus pula kita syukuri. Saya ingat sekali bagaimana ternyata “musibah” yang menimpa saya merupakan jalan lebar menuju anugerah yang sangat luar biasa. Seseorang yang kehilangan harta bendanya bisa jadi hal tersebut adalah yang terbaik untuk dirinya. Karena bisa jadi ketika harta benda tersebut masih ada akan menjadikannya sombong, takabur dan berbuat kufur kepada Allah ta’ala. Demikian pula ketika seseorang tertimpa sakit, maka sakit itu sejatinya adalah baik untuk dia.
Jadi bahagia itu sederhana, caranya adalah mensyukuri semua yang ada walaupun di mata manusia adalah sesuatu yang tidak mengenakan atau terasa menyakitkan kita. Mudah bukan?