Jumat, 16 Mei 2014

Seri Disertasi: Lokasi Kampung Marunda Pulo

Oleh: DR. Misno

Kondisi wilayah Marunda Pulo berada pada pinggir pantai Teluk Jakarta dan Laut Jawa. Pada zaman dahulu, khususnya masa kolonial Belanda di mana kondisi pantainya masih bersih, ia dijadikan sebagai tempat wisata masyarakat yang tinggal di sekitarnya.[1] Saat ini kondisi pantainya telah mengalami abrasi bertahun-tahun lamanya sehingga untuk menahan ombak dan air pasang di bagian utara kampung dibangun tembok dam setinggi kurang lebih 2 meter.
Keadaan permukaan tanahnya berupa daratan yang dikelilingi oleh air payau dan sebagiannya berupa rawa-rawa yang ditumbuhi pohon bakau. Saat ini tumbuhan bakau ini hanya ada di bagian selatan dan barat dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Tinggi permukaan tanah yang berada di bawah permukaan air laut mengakibatkan wilayah ini akan tergenang air ketika laut mengalami pasang, bahkan tidak jarang memasuki rumah-rumah yang dibangun dengan tembok dan lantai yang tidak dibuat panggung.
Saat ini jalan-jalan di Marunda Pulo sudah disemen dengan pembangunan yang dilakukan berulang-ulang. Namun karena kondisi tanahnya yang mengalami penurunan terus-menerus maka tingginya terus berkurang.[2] Hal inilah yang mengakibatkan jalan-jalan tersebut selalu digenangi air ketika air laut pasang. Pada beberapa bagian kampung terutama pada ujung-ujung kampung jalan-jalan yang menghubungkan antara satu rumah dengan rumah lainnya menggunakan papan kayu yang ditopang dengan tiang-tiang di bawahnya sebagaimana rumah-rumah panggung mereka.   
Pada zaman dahulu seluruh model rumah mereka adalah panggung dengan tinggi antara1-2 meter.[3] Tiang-tiang panggung sebagian besar berada di atas air dengan bagian bawahnya terendam. Sebagian lainnya berada di tanah rawa yang datar seperti kita lihat saat ini yang menjadi lokasi rumah Si Pitung yang berada di depan pintu masuk kampung Marunda Pulo. Seiring perkembangan zaman rumah-rumah penduduk mengalami perubahan dengan pengurangan tinggi panggung dan penggunaan material pasir dan semen sebagai tembok dan pondasinya. Pada beberapa rumah menggunakan lantai semen pada bagian depannya sementara bagian tengah dan belakangnya tetap menggunakan panggung dengan tinggi kurang lebih 50 cm. 
Rumah-rumah di Marunda Pulo saat ini sebagian masih menggunakan panggung dari kayu dengan tambahan pada bagian bawahnya berupa cor-coran batu dan semen. Sementara sebagian lainnya mengecor lantai dengan tiang-tiang cor yang berada di bawahnya. Saat penelitian ini berlangsung di ujung kampung bagian selatan terdapat sebuah rumah yang sedang dibangun dengan pondasi permanen berada di atas tanah rawa-rawa yang diurug. Secara umum model dari rumah di Marunda Pulo berupa rumah sederhana dengan pembagian rumah sebagaimana arsitektur rumah Betawi pada umumnya. Pembagian rumah didasarkan kepada kebutuhan penghuni rumah yaitu berupa area publik (teras dan ruang tamu, area privat (ruang tengah dan kamar tidur) dan area service (dapur dan kamar mandi).
Kebiasaan masyarakat yang memiliki jiwa sosial tinggi menjadikan mereka membagi rumah ke dalam beberapa ruang yang akan memudahkan bagi penghuninya untuk beraktifitas. Sebagai contoh untuk ruang amben atau ruang tamu dibuat lebih besar dan bersambung dengan ruang tengah karena mereka terbiasa melakukan acara syukuran dengan mengundang para tetangga untuk makan bersama di rumahnya. Sehingga untuk ruang tamu dan ruang tengah memiliki keluasan yang lebih dibandingkan dengan kamar dan ruang lainnya. Sementara bale-bale atau beranda yang berada di depan rumah sebagai tempat untuk berbincang-bincang di waktu senggang atau sekadar duduk-duduk bagi pemiliknya.
Kondisi tanah di Marunda Pulo pada umumnya adalah tanah berwarna hitam yang didominasi oleh pasir laut. Saat ini kondisi tanah mengalami pencemaran yang cukup parah baik yang berada di daratan maupun di perairannya.[4] Hal ini menjadi salah satu sebab rusaknya ekosistem di wilayah ini, misalnya pohon bakau yang tinggal beberapa batang, daratan yang terus-menerus mengalami penurunan permukaannya dan punahnya binatang-binatang yang tinggal di sekitar wilayah ini.
Kondisi airnya tidak lebih baik dari daratannya, banyaknya sampah yang mengotori perairan ditambah dengan limbah industry yang berada di wilayah ini mengakibatkan air yang berada di permukaan dan air tanah-nya sudah tidak layak untuk dikonsumsi. Kebutuhan akan air bersih warga untuk mencuci, dan kebutuhan rumah tangga lainnya disupply oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PAM) Jaya DKI Jakarta. Jumlah penduduk Marunda Pulo berdasarkan sensus tahun 2013 sebanyak 621 jiwa dengan 204 Kepala Keluarga.
Tabel: 13
Jumlah Penduduk di Kampung Marunda Pulo

RT
Jumlah Penduduk
L
P
1
325/101 KK
85
240
2
296/103 KK
189
98
Jumlah
621/204 KK
264
338

Wilayah Marunda Pulo terbagi menjadi dua Rukun Tetangga (RT) yaitu RT 001 RW 07 dan RT  002 RW 07. Saat ini yang menjadi Ketua RT 001 adalah Bapak H. Thirmidzi sedangkan yang menjadi Ketua RT 002 adalah Bapak Sugiyanto. Mayoritas penduduknya adalah masyarakat asli Marunda Pulo yang beretnis Betawi, sedangkan sebagian kecilnya adalah perantau yang mengontrak rumah di wilayah ini yang berjumlah tidak lebih 20 Kepala Keluarga. Sebagian mereka adalah pegawai yang bekerja di perusahaan-perusahaan pelabuhan di sekitar Marunda Pulo.
Terdapat satu mushala yang bernama mushala Nurul Jannah yang berada di RT 001 RW 002, ia dijadikan tempat untuk shalat berjamaah bagi warga yang berlokasi di sekitarnya. Pada sebelah kiri masjid terdapat Majelis Taklim Ibu-ibu yang dilaksanakan setiap hari selasa. Sebuah madrasah terdapat di seberang masjid yaitu TPQ A Saniyah, namun hingga saat ini tidak difungsikan, sementara satu buah TK berdiri di ujung kampung yang dikelola oleh warga secara swadaya. Kantor Markas Unit Ditpolair Marunda dibangun di ujung kampung sebelah barat.
Tabel: 13
Sarana keagamaan dan sosial di Marunda Pulo

RT
Mushola
MT
Sekolah
PKK
Posyandu
Kesehatan
1
Ada satu: Nurul Jannah
Ada satu: TPQ A Saniah
Tidak ada
Tidak ada
Ada satu
Tidak ada
2
Tidak ada
Tidak ada
Ada 2 TK dan PAUD
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Kondisi perkampungan kelihatan kumuh karena sampah terdapat hampir di setiap sudut kampung, apalagi pada bagian air yang tergenang. Pada bagian barat kampung yang merupakan Dam menumpuk sampah yang berasal dari sisa-sisa rumah tangga warga. Upaya untuk menjaga kebersihan sudah dilakukan dengan menempatkan tempat sampah di beberapa sudut kampung. Namun sepertinya belum sesuai yang diharapkan di kampung tersebut. Beberapa rumah yang berada di barisan paling pinggir dan menghadapi pantai sering sekali kena luapan air pasang, demikian pula rumah yang tidak panggung dan berada di bawah permukaan air laut. Sementara rumah yang menggunakan panggung akan terbebas dari air pasang ini. Secara umum rumah-rumah di Marunda Pulo terbagi menjadi beberapa jenis yaitu rumah panggung, panggung dengan semen dan rumah semen.




[1] Jepri, Pengembangan Estuaria Marunda Sebagai Kawasan Tujuan Wisata, (Jakarta: Universitas Indonesia, 2011).
[2] Wawancara dengan Bapak Yanto Ketua RT 02/01 Marunda Pulo pada 17 Januari 2013.
[3] Serly Listiyanti, Transformasi Rumah Panggung pada Pemukiman Pesisir Jakarta Utara, (Jakarta: Universitas Indonesia, 2011), hlm 68.
[4] Lihat Mustaruddin, Model Penyebaran Logam Berat Akibat Cemaran Industri Pada  Erairan Umum Dan Pengaruhnya Terhadap Nilai Ekonomi Air (Studi Kasus Pada Kali Cakung Dalam Di Rorotan-Marunda, Jakarta Utara), (Bogor: Institut Pertanian Bogor, 2005).  

Selasa, 13 Mei 2014

Kepala Negara Menurut Al-Mawardi dan Ibn Khaldun

ABSTRAKS

Munir Subarman (2010): Konsep Pengangkatan Kepala Negara Menurut Al-Mawardi, dan Ibn Ḣaldȗn Serta Relevansinya dengan Pemilihan Presiden di Indonesia:
Salah satu di antara problem krusial  umat Islam yang ada kaitannya dengan  ranah publik adalah pemikiran politik ketatanegaraan, fenomena sosial politik tersebut tidak saja terjadi pada era modern kontemporer seperti sekarang ini , namun jauh   sebelum para yuris Islam mengkonseptualisasikan teori-teori kenegaraan tepatnya setelah  Rasulullah SAW wafat  pada tahun 630 M, problem tersebut  telah menjadi issu publik yang  terus berjalan secara dinamis sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan pemikiran Umat itu sendiri, bahkan tidak jarang menumbuhkan kontroversi baik  di antara para yuris ataupun para akademisi Islam. Essennya satu yakni bagaimana cara mengkonstruksi sebuah pemikiran politik kenegaraan yang lebih viable untuk diimplementasikan dalam ranah kenegaraan secara fleksible agar nilai-nilai normativitas Islam terus teraplikasikan secara kongkrit dalam ekehidupan bermasyarakat dan bernegara. Hanya dengan cara  mengeksplorasi pemikiran politik para yuris islam  terdahulu itulah tingkat universalitas, konprehensivitas dan adaptabilitas syari’at Islam dapat direkonstruksi dan diimplementasikan dalam ranah publik
Al-Mawardi dalam kitabnya Al-Ahkam Al-Sulthaniyyah  dan Ibn Khaldun dalam kitabnya Muqaddimah merupakan  dua yuris Islam(Kaum Sunny), oleh sebagian Besar  akademisi Muslim dan Non-Muslim ditenggarai telah  memformulasikan  teori-teori ketatanegaraan secara  konprehensif dan modern pada zamannya. Kedua masterpiece sangat penting untuk diapresiasi, bukan saja kedua yuris tersebut telah mampu mencurahkan potensi intelektualitasnya yang brilliant, namun lebih disebabkan  belum adanya teori-teori politik ketatanegaraan yang tersistematisasikan secara baik sebagaimana telah dianggit oleh keduanya. Meski demikian, penulis berpendapat bahwa setiap teori dikonstruksi dan diadaptasi  atas dasar perkembangan social, artinya apabila Al-Mawardi dan Ibnu Khaldun telah mengkonstruksi teori hokum  ketatanegaraan ,sementara setting social serta jamannya relative berbeda perlu kiranya untuk diperbandingkan essensi di antara kedua teori tersebut baik dalam konteks pemikiran politik era klasik ataupun dengan pemikiran politik modern kontemporer. Al-Hasil tujuan  studi ini adalah untuk mencari titik persamaan dan perbedaan antara Teori Ketatanegaraan Al-Mawardi, Ibn Khaldun serta relevansinya dengan teori ketatanegaraan Indonesia.










صورة تجريدية
منير سوبارمان (2010): نظام تنصيب رئيس الدولة عند الماوردى وابن خلدون ومدى تناسبها بانتخاب رئيس الجمهورية بإندونيسيا.
يتطور نظام تنصيب رئيس الدولة تطورا دلاليا منذ عصور الإسلام القديمة حتى عصوره الحديثة. ففى الفترة المبكرة، يتشكل نظام تنصيب رئيس الدولة نظريا تحت مسؤولية مجلس "أهل الحال والعقد". و  مع مرور الزمان يتغير هذا النظام إلى نظام الانتخاب العام. فالنظام الأول يؤيده الماوردى وابن خلدون ودستور جمهورية إندونيسيا قبل الحركة الإصلاحية. أما النظام الثانى فيؤيده دستور جمهورية إندونيسيا فى الفترة الثانية من الحركة الإصلاحية سنة 2004.
تستهدف هذه الدراسة إلى الوصف والتحليل والمقارنة بين نظام تنصيب رئيس الدولة من وجهة نظر نظام الحكومة فى فترة عصور الإسلام القديمة و نظام دستور جمهورية إندونيسيا فى الفترة الثانية من الحركة الإصلاحية سنة 2004.
أما مناهج الدراسة التى يستخدمها الباحث فهى تحليل المحتوى والتحليل التاريخى وتحليل المقارنة. وذلك أن هذه الدراسة تركز على المباحث التى تتعلق بتطور مفهوم ونظام الدولة الإسلامية منذ العصور القديمة إلى العصور الحديثة فى القرن الحادى والعشرين.
أما المنطلقات التى يبنى عليها الباحث فى القيام بتحليل البيانات فهى النظريات المتعلقة بنظام الحكومة التى تبحث فى نظام تنصيب رئيس الدولة وهى: نظرية التيوقراطية ونظرية الدولة الدستورية ونظرية دولة مدينية ونظرية سياسة دستورية. ترى نظرية التيوقراطية أن رياسة الدولة تحت سيطرة الإلاهية؛ و ترى نظرية الدولة الدستورية أن صحة رياسة الدولة متعلقة بتناسبها مع الدستور؛ وترى نظرية دولة مدينية أن نظام تنصيب رئيس الدولة تتصور تطبيقيا فى المدينة الفاضلة؛ أما نظرية سياسة دستورية فترى أن حقيقة رياسة الدولة نوع من ولاية الإمامة التى ترتبط بمجلس أهل الحال والعقد.










ABSTRACT
Munir Subarman (2010): The Concept of Appointing Head of State of Al-Mawardi and Ibn Khaldun: Its Relevance  with Presidential Election in Indonesia.

The concept of head of state designation as a part of civics law has been developing significantly since classical Islam to the modern Islam. Conceptually, it was formulated in the first decades of classical Islam that, the mechanism of head of state appointment was under regulation of Ahlu al-hali wa al-‘aqdi (parliamentary institution). However, it has been changing to direct election by the people as sovereignty holder. The former, was developed by al-Mawardi and Ibn Khaldun as well as the rules of constitution of the Republic of Indonesia post reformation era. Whereas the later, was formulated in the rules of constitution of the Republic of Indonesia post reformation era of the 2nd episode, year 2004.
This study was conducted to describe, analyze and compare the concept appointing head of state in the perspective of classical Islam with the system of rules of constitution of the Republic of Indonesia from the first decades of its independence to the post reformation era of the 2nd episode, year 2004.
In this research, the writer used some research methods, for example: Content Analysis, Historical Analysis and Comparative Analysis. The use of the three research methods was mainly because this discussion focuses on the concept of statehood in Islam and the implementation of that concept in classical Islam which is related with the development of contemporary Islam of the twenty first century.
With regard to tool of analysis, the researcher employed some theories of state that are closely related to the mechanism of head of state appointment, such as the Theory of God’s Sovereignty, the Theory of Constitutional State, the Theory of Constitutional State in Medina, and the Theory of Siyasah Dusturiyah (Political Constitution). According to the  Theory of God’s Sovereignty that the true power belongs to God and that is God only deserves to appoint head of state. This means God’s command should become the regulation for state election. On the other hand, the theory of Constitutional State reveals that a head of state is legitimately elected when it was jurisdictionally abiding constitution. Moreover, the Theory of Constitutional State in Medina has shown that the mechanism of appointing head of state was implemented empirically in Medina state in the Caliphs period. Whereas the Theory of Siyasah Dusturiyah states that the existence of head of state is a part of executive authority of Imamah (a group of religious leader), and its relation with the member of  Ahlu al-hali wa al-‘aqdi, declaration and people’s consensus.

Wajibnya Mengagungkan Sunnah


Setiap mu`min dan mu`minah wajib untuk mentaati Rasulullah, mengagungkan Sunnahnya, mendahulukan perkataan, petunjuk dan jalan beliau di atas perkataan, petunjuk dan jalan selain beliau. Bahkan ini adalah syarat dari Syahadat "Muhammadur Rasuulullaah".
Allah Ta'ala Berfirman: "Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu`min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu`min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata." (Al-Ahzaab:36)
"Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah." (An-Nisaa`:80)
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (Al-Ahzaab:21)
"Dan jika kalian taat kepadanya, niscaya kalian mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang." (An-Nuur:54)
"Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul, takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa 'adzab yang pedih." (An-Nuur:63)
Berkata Al-Imam Ahmad: "Tahukah engkau, apakah fitnah itu? Fitnah itu adalah kesyirikan, barangkali apabila dia menolak sebagian saja dari sabda Rasulullah, akan muncul di hatinya penyimpangan lalu dia binasa." (Al-Ibaanatul Kubraa, Ibnu Baththah 1/260 no.97)
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suara kalian lebih dari suara Nabi dan janganlah kalian berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kalian terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalan kalian sedangkan kalian tidak menyadari." (Al-Hujuraat:2)
Berkata Ibnul Qayyim memberikan komentar terhadap ayat ini: "Maka Allah memperingatkan kaum mu`minin dari gugurnya amalan-amalan mereka dengan mengeraskan (suara) kepada Rasulullah, sebagaimana sebagian mereka mengeraskan (suara) terhadap sebagian yang lainnya. Dan bukanlah hal ini menunjukkan kemurtadan, akan tetapi (hanya) merupakan kemaksiatan yang dapat menggugurkan amalan sedangkan pelakunya tidak merasakan dengannya."
Ibnul Qayyim (juga) berkata: "Dan jika ditanyakan: "Bagaimana amalan-amalan akan gugur tanpa kemurtadan?" Jawabnya: "Ya", sesungguhnya Al-Qur`an dan As-Sunnah serta apa-apa yang dinukilkan dari para shahabat telah menunjukkan: Bahwa kejelekan dapat menghapuskan kebaikan, sebagaimana juga kebaikan dapat menghapuskan kejelekan. Allah Ta'ala berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menghilangkan (pahala) shadaqah kalian dengan menyebut-nyebutnya (mengungkit-ngungkitnya) dan menyakiti (perasaan si penerima)." (Al-Baqarah:264)
Allah (juga) berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suara kalian lebih dari suara Nabi dan janganlah kalian berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kalian terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalan kalian sedangkan kalian tidak menyadari." (Al-Hujuraat:2)
Dan berkata 'A`isyah kepada Ummu Zaid bin Arqam: "Kabarkan kepada Zaid bahwa dia telah membatalkan jihadnya (yang) bersama Rasulullah, kecuali kalau (dia) mau bertaubat." (Karena dia telah melakukan jual beli dengan cara 'iinah, yaitu seseorang menjual barang dengan harga di belakang (kredit), tetapi sebelum si pembeli melunasinya, si penjual membelinya kembali dengan harga yang lebih murah, pent.)."
Dan sungguh Al-Imam Ahmad telah menjelaskan atas perkara ini lalu beliau menyatakan: "Hendaklah bagi seorang hamba di zaman ini untuk berhutang kemudian menikah agar dia tidak melihat kepada apa yang tidak dihalalkan, sehingga dapat menggugurkan amalannya."
Subhaanallaah! Beliau menyatakan hal itu pada zaman yang mayoritas orang-orangnya menegakkan sunnah, baik dalam masalah hijab atau pun yang lainnya, maka bagaimana perkataan beliau kalau hidup pada zaman kita sekarang ini!!!
Dan ayat-ayat muwaazanah (yang menunjukkan adanya penimbangan atau pembandingan antara kebaikan dan kejelekan, pent.) di dalam Al-Qur`an, (juga) menunjukkan atas perkara ini, maka sebagaimana bahwasanya kejelekan akan terhapus dengan kebaikan yang lebih besar dari kejelekan (tersebut) maka kebaikan pun akan terhapus pahalanya dengan sebab kejelekan yang lebih besar dari kebaikan (tersebut)." (Kitaabush Shalaat, Ibnul Qayyim hal.65)
Maka bagaimana persangkaan (kita) terhadap orang yang mendahulukan perkataan, petunjuk dan jalan selain Rasul di atas perkataan, petunjuk dan jalannya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam?!?!
Bukankah hal ini sungguh telah menggugurkan amalannya, sedangkan dia tidak merasakannya?!! (Al-Waabilush Shayyib hal.24)
Berkata Abu Bakar Ash-Shiddiq: "Tidaklah aku meninggalkan sesuatu perbuatan yang Rasulullah telah melakukannya, melainkan aku selalu melakukannya. Dan sesungguhnya aku takut jika aku meninggalkan sesuatu dari perintahnya, aku akan menyimpang (sesat)."
Ibnu Baththah mengomentari hal ini dengan berkata: "Wahai saudarakuInilah Ash-Shiddiiqul Akbar, beliau merasa takut terhadap dirinya dari penyimpangan jika beliau menyelisihi sesuatu dari perintah Nabinya. Maka bagaimana pula terhadap suatu zaman yang masyarakatnya telah menjadi orang-orang yang memperolok-olok Nabi mereka dan perintah-perintahnya serta saling membanggakan diri dengan menyelisihinya dan bangga dengan memperolok-olok Sunnahnya?!! Kita meminta kepada Allah agar terjaga dari ketergelinciran dan memohon keselamatan dari amalan-amalan yang jelek." (Al-Ibaanah 1/246)
Berkata 'Umar bin 'Abdul 'Aziz: "Tidak ada pendapat bagi siapa pun di atas suatu Sunnah yang Rasulullah telah menjalaninya." (I'laamul Muwaqqi'iin 2/282)
Dari Abi Qilabah berkata: "Jika kamu mengajak berbicara kepada seseorang dengan Sunnah, kemudian orang tersebut berkata: "Tinggalkan ini dan berikan padaku Kitab Allah (saja)!", maka ketahuilah bahwasanya dia adalah orang yang sesat." (Thabaqaat Ibni Sa'ad 7/184)
Adz-Dzahabiy mengomentari hal ini dengan perkataannya: "Apabila kamu melihat seorang Ahlul Kalam dan Ahli bid'ah berkata: "Tinggalkan kami dari Al-Kitab dan Hadits-hadits Ahad dan berikanlah padaku (secara) akal!", maka ketahuilah bahwasanya dia adalah Abu Jahl. Dan apabila kamu melihat As-Saalikut Tauhiidiy (salah satu tingkatan dalam Shufi) berkata: "Tinggalkan kami dari nash-nash dan dari akal dan berikanlah padaku (secara) perasaan dan naluri!", maka ketahuilah bahwasanya Iblis sungguh telah menampakkan diri dalam bentuk manusia atau telah menyatu padanya, maka jika kamu takut darinya, maka larilah! Kalau tidak, ajak berkelahi dia dan dudukilah dadanya serta bacakan padanya Ayat Kursi dan cekiklah dia!!! (Siyar A'laamin Nubalaa` 4/472)
Berkata Al-Imam Asy-Syafi'i: "Telah mengkhabarkan kepadaku Abu Hanifah bin Sammak bin Al-Fadhl Asy-Syihabiy dia berkata: "Telah berkata kepadaku Ibnu Abi Dzi`b dari Al-Muqri dari Abi Syuraih Al-Ka'biy: Bahwasanya Nabi Shallallahu 'alai wasallam bersabda pada hari Fath (kemenangan): "Barangsiapa yang keluarganya dibunuh, maka baginya ada dua pilihan, jika dia mau dia boleh mengambil diyat dan jika dia mau maka baginya qishash."
Berkata Abu Hanifah: "Maka aku berkata kepada Ibnu Abi Dzi`b: Apakah kamu akan mengambil ini wahai Abul Harits? Maka dia memukul dadaku dan berteriak kepadaku dengan teriakan yang keras serta memegang aku lalu berkata: "Aku mengatakan kepadamu dari Rasulullah, sedangkan kamu mengatakan: Apakah kamu mengambil dengannya? Ya, aku mengambil dengannya dan yang demikian itu wajib atasku dan atas orang yang mendengarnya.
Sesungguhnya Allah telah memilih Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam dari kalangan manusia, lalu Allah memberikan hidayah kepada mereka melalui beliau dan melalui kedua tangannya serta melalui lisan beliau dan Allah telah memilih bagi mereka apa-apa yang telah Allah pilih baginya (Rasul). Maka wajib atas makhluk ini (jin dan manusia) untuk mengikutinya baik dalam keadaan taat maupun hina/rendah, yang seorang muslim tidak dapat keluar dari yang demikian."
Dia (Abu Hanifah) berkata: "Dan (dia terus marah) tidak mau berhenti/diam sampai aku berangan-angan supaya dia mau berhenti." (Ar-Risaalah, Asy-Syafi'iy hal.450 no.1234)
Berkata Al-Imam Asy-Syafi'iy: "Kaum muslimin telah bersepakat (ijma'), bahwa barangsiapa yang telah jelas baginya Sunnah Rasulullah, maka tidak dihalalkan baginya untuk meninggalkan Sunnah tersebut dikarenakan perkataan seseorang (siapa pun dia)." (I'laamul Muwaqqi'iin 2/282)
Berkata Al-Humaidiy: "Suatu hari Al-Imam Asy-Syafi'iy meriwayatkan suatu hadits, maka aku berkata: Apakah kamu mengambil dengannya (hadits tersebut)? Maka beliau menjawab: "Apakah kamu telah melihat aku keluar dari suatu gereja atau apakah terdapat padaku Zannaar (ikat pinggang orang Nashara, pent.), sehingga apabila aku telah mendengar suatu hadits dari Nabi aku tidak berkata (berpendapat) dengannya?!" (Hilyatul Ambiyaa` 9/106, Siyar A'laamin Nubalaa` 10/34)
Al-Imam Asy-Syafi'iy pernah ditanya tentang suatu permasalahan, maka beliau mengatakan: "Telah diriwayatkan tentang hal tersebut demikian dan demikian dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam. Maka orang yang bertanya tersebut berkata: Wahai Abu 'AbdillahApakah kamu berkata (berpendapat) dengannya (hadits tersebut)?! Maka Al-Imam Asy-Syafi'iy gemetar (karena marah) dan nampak urat lehernya, kemudian beliau berkata: Wahai kamuBumi manakah yang akan kupijak dan langit manakah yang akan menaungiku apabila aku telah meriwayatkan suatu hadits dari Nabi kemudian aku tidak berkata dengannya?! Ya (kata beliau), wajib bagiku (mengambil hadits tersebut, pent.) dengan pendengaran dan penglihatan." (Shifatush Shafwah 2/256)
Berkata Al-Imam Ahmad bin Hambal: "Barangsiapa yang menolak suatu hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia berada di pinggir jurang kehancuran." (Thabaqaatul Hanaabilah 2/15, Al-Ibaanah 1/260)
Berkata Al-Imam Al-Barbahariy: "Apabila kamu mendengar seseorang mencerca atsar atau menolak atsar atau menginginkan yang selain atsar, maka ragukanlah dia (tentang) keislamannya, dan janganlah kamu ragu bahwasanya dia adalah seorang pengikut hawa nafsu dan mubtadi' (ahli bid'ah)." (Syarhus Sunnah hal.51)
Berkata Abul Qasim Al-Ashbahaniy:
"Telah berkata Ahlus Sunnah: "Apabila seseorang telah mencela atsar, maka sudah pantas baginya untuk diragukan keislamannya." (Al-Hujjah fii Bayaanil Mahajjah 2/428). Wallaahu A'lam.

Diambil dari kitab "Ta'zhiimus Sunnah" karya 'Abdul Qayyum bin Muhammad bin Nashir As-Sahaibaniy dengan beberapa tambahan dan perubahan

Tauhid Rahasia Kebahagiaan Dunia dan Akhirat


Siapa yang tidak menginginkan kebahagiaan dunia dan akhirat? kita semua tentu menginginkannya. Hanya yang perlu untuk kita pertanyakan bagaimana cara untuk meraih keduanya. Sementara, kita yakini bersama bahwa Islam adalah agama yang ajarannya universal (menyeluruh). Islam satu-satunya agama yang mendapatkan legitimasi (pengakuan) dari Sang Pemiliknya Jalla Sya'nuhu. Islam adalah agama yang rahmatan lil alamiin. Tidak didapatkan satu ajaranpun dalam Islam yang merugikan para pemeluknya, tidak ditemukan satu prinsippun dalam Islam yang mencelakakan para penganutnya. Tetapi pada kenyataannya banyak kalangan yang hanya menitikberatkan perhatiannya pada dunia dan bagaimana cara untuk mendapatkannya. Padahal Allah telah mengingatkan kita dengan firman-Nya, "Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridloannya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (QS Al Hadid: 20). "Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang mereka telah usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan." (QS Huud: 15-16).
Para pembaca -yang semoga dirahmati Allah-, petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah sebaik-baik petunjuk. Siapa yang mengambilnya ia akan bahagia dan yang meninggalkannya akan celaka. Allah berfirman, "Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih." (QS An Nuur: 63). Terbukti generasi yang bersamanya, yakni generasi para sahabat meraih gelar terbaik umat ini, karena mereka mengambil petunjuknya. Itulah mereka para sahabat yang telah berhasil meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Bagaimana tidak, sedang mereka mendapatkan bimbingan tauhid selama kurang lebih 13 tahun hingga akhirnya mereka memiliki landasan yang kokoh dalam kehidupannya. Oleh karena itu, tauhid itulah sebagai landasan yang menghantarkan seseorang kepada kebahagiaan yang sebenarnya. Sebab mentauhidkan Allah adalah tujuan diciptakannya manusia. Allah berfirman, "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (QS Adz Dzariyaat: 56). Ibnu Katsir berkata: makna "ya'buduun" dalam ayat ini adalah "yuwahhiduun" (mentauhidkan Allah). Al Imam Al Baghowi menyebutkan dalam tafsirnya bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu mengatakan: "Setiap perintah beribadah dalam Al Qur'an maka maknanya adalah tauhid."
Para pembaca -yang semoga dirahmati Allah-, bagaimana tidak dikatakan bahwa tauhid sebagai landasan yang akan menghantarkan seseorang kepada kebahagiaan dunia dan akhirat, sedangkan Allah meridloi ahli tauhid. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah meridloi kalian tiga perkara: kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, berpegang teguh dengan tali Allah semuanya dan jangan bercerai berai, dan memberikan nasihat kepada orang yang Allah jadikan pemimpin atas urusan-urusan kalian." (HR Muslim dari Abu Hurairoh). Itulah tauhid, tauhid adalah sebagai jalan untuk mendapatkan dua kebahagiaan tersebut, sebab dengan menegakkan tauhid berarti menegakkan keadilan yang paling adil. Sementara tujuan Allah mengutus rasul-Nya dan menurunkan kitab-Nya adalah supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Allah berfirman, "Sesungguhnya kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan." (QS Al Hadiid: 25). Tauhid sebagai landasan meraih kebahagiaan dunia dan akhirat karena keamanan serta petunjuk di dunia dan akhirat hanya akan dicapai oleh para ahli tauhid. Allah berfirman, "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS Al An'aam: 82). Berkata Ibnu Katsir pada ayat ini: "Yaitu mereka yang memurnikan ibadahnya untuk Allah saja dan tidak berbuat kesyirikan dengan sesuatu apapun, mereka mendapatkan keamanan pada hari kiamat dan petunjuk di dunia dan akhirat." Jadi memang tauhidlah yang akan menghantarkan kepada kebahagiaan yang hakiki. Karena khilafah di muka bumi serta kehidupan yang damai, aman, dan sentosa berbangsa dan bernegara hanya akan diraih melalui tauhid. Allah berfirman, "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang sholih, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi. Sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridloinya untuk mereka. Dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka, semula mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang kafir sesudah janji itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS An Nuur: 55).
Para pembaca -yang semoga dirahmati Allah-, ahli tauhid mereka orang-orang yang akan mendapatkan jaminan surga dari Allah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang bertemu Allah dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, ia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Nya dalam keadaan menyekutukan-Nya, ia akan masuk neraka." (HR Muslim dari Jabir bin Abdillah). Ahli tauhid mereka orang-orang yang akan berbahagia dengan syafa'atnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Abu Hurairoh bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "Siapakah orang yang paling berbahagia dengan syafa'atmu?" Beliau menjawab, "Orang yang mengatakan 'laa ilaaha illallah' ikhlas dari lubuk hatinya." (HR Bukhori dari Abi Hurairoh). Ahli tauhid mereka orang-orang yang terjaga dan terpelihara darah dan hartanya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak untuk diibadahi secara benar kecuali Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah, menegakkan sholat, menunaikan zakat. Jika mereka melakukannya, mereka terjaga dariku darahnya dan hartanya kecuali dengan hak-hak Islam, dan perhitungannya atas Allah." (HR Bukhori dan Muslim dari Ibnu Umar).
Demikianlah para pembaca -kaum muslimin- tauhid adalah rahasia kebahagiaan dunia dan akhirat, karena yang pertama kali diwajibkan atas seorang hamba adalah tauhid. Allah berfirman, "Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada Ilah yang hak melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku." (QS Al Anbiyaa: 25). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada sahabat Muadz bin Jabal radhiyallahu 'anhu ketika beliau mengutusnya ke negeri Yaman, "Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari Ahli Kitab. Jika Engkau mendatanginya maka serukanlah kepada mereka supaya mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah -yang berhak untuk diibadahi- kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah..." (HR Bukhori Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu). Imam Al Hafizh Al Hakami mengatakan, "Kewajiban pertama atas hamba, mengenal Ar Rahmaan (Allah) dengan tauhid." Dan tauhid juga yang menjadi kewajiban terakhir atas seorang hamba, ketika menjelang kematiannya Abu Tholib, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam datang menemuinya dan berkata, "Wahai paman, ucapkanlah 'laa ilaaha illallah', kalimat yang menjadi hujjah untukmu di sisi Allah..." (HR Bukhori Muslim dari Sa'id ibnul Musayyab dari bapaknya (Musayyab)). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda, "Barangsiapa yang akhir ucapannya 'laa ilaaha illallah', ia akan masuk surga." Semoga Allah memberikan taufiq kepada yang dicintai dan diridloinya. Amin ya Mujibas sailiin.

Kembali pada Agama Allah


Setiap kita tahu dan menyaksikan betapa pesatnya dan canggihnya perkembangan teknologi, seiring dengan lajunya zaman yang kian modern -katanya-. Semua ini berkat semakin hebatnya akselerasi pemikiran manusia dalam hal ilmu duniawi, akibatnya fenomena seperti ini memotivasi para bapak-bapak bangsa untuk menerjunkan anak-anaknya berlaga di arena tandang modernisasi yang dikira akan dapat mengatasi persoalan hidup. Teramat banyak jumlah orang-orang yang gemar bermimpi walau sangat sedikit mimpi yang menjadi kenyataan, realita yang ada menunjukkan bahwa agilitas manusia dalam hal ilmu duniawi serta pesatnya teknologi tidak dapat mengatasi persoalan hidup, malah sebaliknya persoalan dan problematika kian menumpuk di keluarga, di masyarakat, di lingkungan, bahkan di negara, satu paradigma yang menyedihkan.
Para pembaca -semoga dirahmati Allah- sebagai seorang muslim tentu kita merasa prihatin, mengingat pemikiran banyak manusia ini menyebabkan jauhnya dari agama, terbukanya pintu kejahatan dan kemaksiatan yang mengundang kemarahan dan kebencian Allah jalla jalaaluhu. Allah berfirman, "Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di akhirat." (QS Asy Syuraa: 20). Allah juga berfirman, "Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami), kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya." (QS Al Israa: 16).
Kita mesti sadar bahwa syaithon adalah para fuqoha dalam bidang kejahatan, mereka selalu mengitimidasi kita dengan sesuatu yang menjadikan kita jauh dari agama Allah. Allah berfirman, "Syaithan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir) sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripadanya dan karunia. Dan Allah Maha Luas karuniaNya lagi Maha Mengetahui." (QS Al Baqoroh: 268). Begitu pula orang-orang kafir yang sebagai jelmaan para syaithon itu, menarik perhatian kaum muslimin agar menyibukkan diri dengan gemerlap ilmu duniawi guna menjauhkan aqidahnya, akhlaqnya, moralnya dari petunjuk ilmu Allah dengan menghinakan mereka dalam hal dunianya. Allah berfirman, "Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rizki kepada orang-orang yang dikehendakiNya tanpa batas." (QS Al Baqoroh: 212). Allah juga berfirman, "Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar melakukan tipu-daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya." (QS Al An'aam: 123).
Kita tidak boleh terlena dengan memandang sebelah mata kenyataan ini, agar kaum muslimin tahu bahwa tidak ada kemuliaan, tidak ada kebahagiaan di dunia dan akhirat kecuali dengan berpegang teguh terhadap agama Allah, kembali padaNya, dan membela agamaNya. Apa yang tengah kita rasakan dari semakin bejatnya moral, hilangnya kewibawaan bangsa, kehinaan serta eksploitasi orang-orang kuffar adalah dampak dari kurangnya perhatian kita sendiri terhadap agama dan mulai melemah dan terkikisnya semangat untuk membelanya. Allah berfirman, "Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepadaNya-lah kamu minta pertolongan." (QS An Nahl: 53). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Apabila kalian jual beli dengan 'inah (salah satu bentuk jual beli riba) dan kalian ridho dengan bercocok tanam (menyibukkan diri dengannya) dan menyibukkan diri dengan peternakan, kemudian kalian meninggalkan untuk berjihad di jalan Allah, Dia akan menimpakan kehinaan atas kalian, tidak akan mengangkatnya dari kalian hingga kalian kembali kepada agama kalian." (HR Abu Dawud no: 3462, Ahmad 2/84, dan yang lainnya dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma).
Wajib bagi segenap kaum muslimin untuk membangun kembali kehidupan yang baru dengan kembali kepada Allah, mendalami agama Allah dan membelanya sehingga mendapatkan petunjuk dalam mengarungi kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta dapat mengatasi persoalan-persoalan yang problematis. Allah berfirman, "Dan apakah orang yang sudah mati (hatinya) kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? ..." (QS Al An'aam: 122). Cahaya di sini adalah cahaya wahyu (Al Qur'an), sedang gelap gulita adalah kebodohan, kekufuran, dan kesesatan. (Tafsir Al Qur'anul Azhim 2/183). Allah juga berfirman, "Allah menganugerahkan al hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al Qur'an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)." (QS Al Baqoroh: 269).
Di akhir tulisan ini penulis akan nukilkan satu ayat yang semoga menjadi pelajaran dan bahan renungan bersama, yaitu firman Allah, "Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri..." (QS Al An'aam: 6). Ya Allah..., janganlah Engkau palingkan hati-hati kami setelah Engkau beri hidayah, dan curahkanlah kepada kami selalu rahmatMu, innaka Waliyyu dzaalik wal Qoodir 'alaih. Walhamdulillahi robbil 'alamin. Wal ilmu indallah. @Abu Hamzah

Prioritas Pembenahan Aqidah


Sungguh kita tengah berada dalam arena fitnah yang berkepanjangan. Negeri yang aman kini telah berubah bentuk menjadi negeri yang mencekam dan menakutkan. Kolusi, korupsi, dan nepotisme menjadi bagian penting dalam tubuh para penegak dan penduduknya. Krisis politik, sosial, dan perekonomian terus menggoyang keutuhan negeri ini, diwarnai dengan kerusuhan, keributan, dan demonstrasi yang tak henti-hentinya. Bersamaan dengan itu, semua dekadensi moral, akhlaq, dan aqidah anak-anak bangsa telah mencapai klimaksnya, kewibawaan bangsa dan umat Islam pun yang mayoritas penduduknya lenyap, kehilangan keseimbangannya di tengah-tengah gempuran tekanan orang-orang yang tidak suka dengan Islam. Quo Vadis bangsa Indonesia??
Para pembaca -semoga dirahmati Allah-, amat disayangkan fenomena yang seperti ini disikapi oleh sebagian kaum dengan penuh emosi, hawa nafsu, dan arogansi sehingga bukan menghentikan krisis dan memadamkan api fitnah tetapi justru membuka pintu krisis baru dan menyalakan api fitnah yang kian membara. Mulai dari orasi-orasi di atas mimbar dalam rangka agitasi politik dengan memakai label penjagaan Islam, memompa semangat nasionalisme dengan memakai cap proteksi akan degradasi bangsa dan umat Islam, melawan dan memberontak penguasa / pemerintah dengan judul amar ma'ruf nahi mungkar, bahkan mengkafirkan kaum muslimin dengan alasan al wala' wal bara', hingga aksi pengeboman di berbagai tempat secara serempak dengan mengatasnamakan jihad.
Hendaknya para pemimpin negara mengetahui kadar pemerintahan dan mengetahui akan tinggi kedudukannya, sesungguhnya pemerintahan itu adalah nikmat di antara nikmat-nikmat Allah ta'ala, barangsiapa yang menegakkannya dengan baik sesuai tuntutan-tuntutannya akan mendapatkan kebahagiaan yang tiada taranya, sebaliknya jika tidak mengerti ukuran nikmat ini kemudian menyibukkan diri dengan kezholiman dan hawa nafsunya, dikhawatirkan akan tergolong pada sebagian musuh-musuh Allah. Pemimpin negara semestinya untuk tidak mengharap keridhoan seorang manusia di atas kebencian Allah disebabkan karena penyelisihan terhadap syari'at, harus dimengerti bahwa baiknya rakyat tergantung pada baiknya perjalanan penguasa. Satu hal lagi yang mesti diingatkan di sini bahwa sudah seyogyanya bagi para pemimpin negara untuk menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar sesuai tuntunan syari'at, menutup pintu-pintu kejahatan dan kerusakan, serta melindungi negara dan rakyat dari kejahatan kaum kuffar dan orang-orang yang berniat jahat. Apabila ini semua telah terpenuhi maka kantong amalannya pemerintah sebanding dengan pahala seluruh ibadah rakyat negerinya. Ketika itu negeripun akan makmur dipenuhi dengan ketentraman dan keselamatan serta berkah dalam rizki dan kebutuhan-kebutuhan hidup.
Para pembaca -semoga dirahmati Allah-, adapun rakyat, maka hendaknya menunaikan hak-haknya terhadap pemerintah di antaranya berupa taat dan mendengar pada setiap apa yang diperintah dan dilarangnya kecuali yang bersifat maksiat, ini adalah hak dan kewajiban yang paling besar terhadap pemerintah. Sebab ketaatan merupakan landasan yang kokoh dalam me-manage urusan-urusan negara dan rakyat. Pemerintah dan para pejabat adalah manusia biasa dimana mereka masih membutuhkan nasehat orang-orang yang ikhlas dan bimbingan orang-orang yang bertaqwa. Tugas yang mulia ini dipikul di atas pundak para ulama, merekalah yang melaksanakannya, kepada para ulama Islam serta da'i-da'inya yang ikhlas agar menegakkan apa yang Allah telah wajibkan atas mereka dari menerangkan yang haq, mengingatkannya dan mengarahkan waliyul amri / pemerintah kepada yang ma'ruf serta membantu mereka akan hal itu, mencegah mereka dari yang munkar, memperingatkannya, serta menjelaskan akan keburukan akibatnya dan bahayanya pada umat cepat maupun lambat, bukan malah menjadi pemicu terjadinya fitnah dan kekacauan atau malah berpangku tangan pura-pura tidak tahu dan tidak ada kepedulian akan perbaikan umat, bangsa, dan negara. Kemungkaran yang merajalela dan kerusakan yang tak dapat dibendung serta carut-marutnya wajah bangsa adalah sebah-sebab datangnya musibah dan turunnya adzab. Allah berfirman, "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar." (QS Ar Rum: 41).
Sesungguhnya kehinaan dan malapetaka yang menimpa bangsa ini adalah ketika bangsa ini menghendaki kemuliaan bukan dari Islam, ketika para penguasa dan rakyatnya meninggalkan agama dan cinta yang berlebihan terhadap dunia, hingga akhirnya Allah menimpakan kehinaan yang tidak ada jalan keluarnya kecuali dengan kembali kepada agama. Sebagaimana hal itu telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnadnya dan Abu Dawud dalam Sunannya dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu. Jika masyarakat dilanda krisis aqidah, akhlaq, dan moral, dilanda krisis ekonomi dan krisis politik yang dilematis, maka pembenahan pertama yang mesti dilakukan ialah pembenahan aqidah dan moral dengan segala kemampuan, sebab memperbaiki masalah yang paling berbahaya adalah hal yang disepakati oleh setiap insan berakal. Ketahuilah bahwa kerusakan yang diakibatkan keyakinan / aqidah manusia dari kesyirikan, khurofat, dan kesesatan seribu kali jauh lebih berbahaya daripada kerusakan yang ditimbulkan dari rusaknya hukum / undang-undang dan yang lainnya. Terbukti, ketika Allah mengutus para rosul ke tengah-tengah kaum yang dipenuhi dengan penyimpangan-penyimpangan, aqidah yang rusak, moral yang bejat, pola pikir yang salah, dan sistem hukum yang tak beraturan dan menyalahi syari'at, Allah tidak membebani mereka (para rosul) -pada permulaannya- untuk segera mengadakan pembaharuan sistem dalam keadaan umat dikelilingi dengan penyimpangan moral dan aqidah, tetapi justru langkah awal yang ditempuh oleh para rosul adalah pembenahan aqidah dan moral. Para Nabi dan Rosul tidaklah datang dalam rangka menggulingkan negara dan menegakkan negara yang baru, tidak menginginkan kekuasaan, dan tidak pula membentuk organisasi untuk itu, tetapi mereka datang memberi hidayah kepada manusia dan menyelamatkannya dari kesesatan dan kesyirikan, serta mengeluarkannya dari kegelapan menuju cahaya. Inilah jalan lurus yang Allah telah syari'atkan seluruh para nabi dari yang paling awalnya hingga yang paling akhirnya, dan Dialah Allah Maha Pencipta, Maha Bijaksana, Maha Mengetahui akan tabiat manusia dan apa yang bermaslahat untuk mereka. Allah berfirman, "Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan) dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?" (QS Al Mulk: 14).
Para pembaca -semoga dirahmati Allah- Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendidik para sahabatnya di atas kitab dan hikmah / sunnah, di atas keimanan, kejujuran, serta tauhid, keikhlasan karena Allah dalam setiap amalan, jauh dari uslub-uslub politik dan dari larut dalam hal jabatan yang tinggi.
Dengan demikian jalan yang harus ditempuh dalam mengembalikan kemuliaan Islam, kaum muslimin, bangsa, dan negara ialah: Pertama: pembenahan dan pembentukan aqidah dan permuniannya dari kesalahan-kesalahannya. Kedua: mentarbiyah setiap individu-individu masyarakat dan membangun kepribadiannya di atas landasan hukum-hukum Islam dan adab-adabnya sesuai dengan apa yang telah diwariskan kepada kita dari tiga generasi pertama. Inilah jalan penyelamat dan dari sinilah permulaannya yakni mentarbiyah dengan Islam yang bersih dari khurofat dan bid'ah, dari kesyirikan dengan berbagai macam bentuknya dan dari pola pikir yang bertentangan dengan Kitab dan Sunnah serta metodologi salaful ummah. Wal ilmu indallah. @Abu Hamzah

Menggapai Kemenangan dengan Tauhid


Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada sahabat Mu'adz ibnu Jabal, "Maukah kuberitahukan padamu pokok amal, tiang, serta puncaknya?" Mu'adz menjawab, "Mau, ya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam." Beliau bersabda, "Pokok amal adalah Islam dan tiang-tiangnya adalah sholat, dan puncaknya adalah jihad." (HR Tirmidzi)
Para pembaca -yang semoga dirahmati Allah-, ketahuilah bahwa persiapan yang paling besar bagi orang-orang yang beriman dalam rangka membangun kekuatan atas musuh-musuhnya ialah hendaknya berhubungan dengan Allah melalui tauhid, kecintaan, pengharapan, takut, dan senantiasa kembali padanya, serta khusyu' dan tawakkal. Selalu berada di sisi-Nya dan mencukupkan dari selain-Nya. Allah berfirman, "Orang-orang kafir berkata kepada rasul-rasul mereka: Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami. Maka Tuhan mewahyukan kepada mereka: Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang zholim itu dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu sesudah mereka. Yang demikian itu adalah untuk orang-orang yang takut akan menghadap kehadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku." (QS Ibrohim: 13-14). Mereka adalah para ahli tauhid yang murni yang Allah telah menjanjikan atas mereka kemenangan, keamanan, dan khilafah. Allah berfirman, "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoi-Nya untuk mereka dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa, mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku." (QS An Nuur: 55). Apakah kita kaum muslimin telah benar-benar memperhatikan syarat yang agung ini: "... menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku"? Inilah yang mesti diketahui dan ditegakkan oleh orang-orang yang mempunyai kedua penglihatan.
Tatkala sekelompok kaum mu'minin dari para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam keluar menuju perang Hunain di mana sebagiannya mereka baru masuk Islam. Ketika sampai di sebuah pohon yang disebut Dzaatu Anwaath, mereka melihat kaum musyrikin menggantungkan senjata-senjatanya pada pohon itu dalam rangka meminta berkah. Mereka berkata, "Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzaatu Anwaath seperti halnya mereka." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Allahu Akbar!", dalam riwayat lain, "Subhanallah! Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh kalian telah mengatakan seperti perkataan kaum Musa padanya (Musa 'alaihis salam): Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala), sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)." (QS Al A'raaf: 138), (HR Ahmad).
Perhatikanlah hadits ini dimana keislaman mereka yang masih baru tidak menghalangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mengingkarinya dari satu kalimat yang akan menjerumuskan kepada kesyirikan. Jumlah mereka yang banyak, rapi siap untuk bertempur memerangi orang-orang kafir tidak menghalangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mencegah / meluruskan kesalahan mereka yang sifatnya aqidah. Jadi sama sekali tidak boleh mengesampingkan haq Allah untuk diibadahi dengan tauhid karena ini syarat yang paling agung. Jika tidak maka akan lenyaplah jihad itu.
Semoga para pembaca masih ingat, bagaimana kaum muslimin mendapatkan kemenangan yang gemilang atas kaum Tartar setelah mereka memperbaiki aqidahnya dan membuktikan tauhidnya kepada Allah 'azza wa jalla. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, "Dan ketika kaum muslimin mulai memperbaiki urusan-urusannya, benar dalam beristighotsah kepada Rabbnya, maka mereka mendapatkan kemenangan atas musuh-musuhnya dengan kemenangan yang mulia. Sebaliknya, kaum Tartar mengalami kekalahan dengan kekalahan yang tak pernah mereka alami sebelumnya. Ketika pembuktian tauhid yang benar kepada Allah dan taat kepada Rasul-Nya, sesungguhnya Allah akan menolong Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari didatangkannya saksi-saksi." Ini menunjukkan bahwa pertolongan dan kemenangan di muka bumi tidak akan dapat diraih kecuali setelah menancapkan agama yang benar di dalam jiwa. Dan Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku beserta kamu. Sesungguhnya jika kamu mendirikan sholat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik." (QS Al Maidah: 12). Dan Allah juga berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaannya yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia." (QS Ar Ra'd: 11).
Alangkah baiknya wasiatn Umar ibnu Abdil Aziz, sebagaimana diriwayatkan oleh Al Imam Abu Nu'aim dalam Al Hilyah (5/303) dari jalan Ibnul Mubarok dari Maslamah ibnu Abi Bakroh dari seorang laki-laki dari Quraisy, bahwa Umar ibnu Abdil Aziz berwasiat kepada sebagian pekerjanya, "Hendaklah engkau bertaqwa kepada Allah di tempat mana saja Engkau berada. Sesungguhnya taqwa kepada Allah adalah persiapan yang paling baik, makar yang paling sempurna, dan kekuatan yang paling dahsyat. Dan janganlah karena kebencian musuhmu kepadamu menjadikanmu dan orang-orang yang bersamamu menjadi lebih perhatian padanya daripada maksiat-maksiat kepada Allah. Sesungguhnya yang paling Aku takutkan atas manusia adalah dosa-dosanya daripada makar-makar musuhnya. Karena kita membenci musuh-musuh dan menang atas mereka disebabkan karena kemaksiatan-kemaksiatan mereka, jika bukan karena itu kita tak punya kekuatan karena jumlah mereka tak seperti jumlah kita, kekuatan mereka tak seperti kekuatan kita. Jika kita tidak dimenangkan atas mereka karena kebencian kita, kita takkan dapat mengalahkan mereka dengan kekuatan kita.
Janganlah karena permusuhan seseorang dari manusia menjadikan kalian lebih perhatian padanya daripada dosa-dosa kalian. Ketahuilah bahwa bersama kalian para malaikat Allah yang menjaga kalian, mengetahui apa yang kalian lakukan di rumah-rumah dan di perjalanan kalian, maka malulah dari mereka, perbaikilah kebersamaan kalian dengan mereka, janganlah kalian sakiti mereka dengan maksiat-maksiat kepada Allah sedang kalian mengira bahwa kalian fi sabilillah.
Janganlah kalian katakan bahwa musuh-musuh kita lebih jelek keadaannya daripada kita dan mereka takkan pernah menang atas kita sekalipun kita banyak dosa. Berapa banyak kaum yang dihinakan dengan sesuatu yang lebih jelek dari musuh-musuhnya karena dosa-dosanya. Mintalah kalian pertolongan kepada Allah atas diri-diri kalian, sebagaimana kalian minta pertolongan pada-Nya atas musuh-musuh kalian. Kita memohon yang demikian untuk kita dan kalian..."
Demikianlah sebagian dari wasiatnya Umar ibnu Abdil Aziz yang memacu kita kaum muslimin untuk senantiasa bermuhasabah atas diri-diri kita. Dan di akhir tulisan ini penulis ingin mengingatkan kembali bahwa Allah subhanahu wa ta'ala menggantungkan pertolongan-Nya atas taqwa, sabar, dan perbaikan hubungan dengan-Nya melalui tauhid. Allah berfirman, "Jika kamu bersabar dan bertaqwa niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudhorotan kepadamu." (QS Ali Imron: 120).
"Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertaqwa dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda." (QS Ali Imron: 125). "Jika kamu bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan." (QS Ali Imron: 186). Walhamdu lillahi rabbil 'alamin.