Senin, 09 September 2013

Selamat Tinggal Ust. Saepuddin Mamad

Oleh: Abdurrahman



Matahari belum lagi muncul dari peraduannya ketika suara HP saya berdering, suara seorang perempuan terdengar mengucapkan salam “Assalamualaikum, afwan ustadz saya mau mengabarkan bahwa Ustadz Saepudin Mamad meninggal dunia”. Suara itu tampak berat, mungkin menahan kesedihan yang sangat. “Ya, Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un” jawab saya turut terbawa nuansa kesedihan wanita itu. Setelah beberapa saat berbincang kemudian wanita itu menutup telfon-nya. Saya berjanji tadi akan memberitahu teman-teman yang lain tentang berita duka ini.
Tanpa membuang waktu lagi saya segera mengirim beberapa SMS ke teman-teman yang saya pikir kenal dan dekat dengan beliau, staff Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Hidayah dan Staff Pesantren Yatim Ibnu Taimiyah. Beberapa teman memberikan respon yang kurang lebih sama, sebagian menanyakan dulu mengenai sumber berita ini. Kebetulan saya menggunakan nomor HP Simpati jadi beberapa teman tidak tahu kalau saya yang mengirimkan berita tersebut. ada dua orang yang merespon dengan cepat yaitu Bapak Ust. M. Hidayat Ginanjar sebagai Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Hidayah dan Ust. Kusmana Abu Fauzan.
Pak Ginanajar langsung menelepon saya dan menanyakan kebenaran berita tersebut, “ya Ust. Saya tadi ditelfon oleh seorang wanita, mungkin istrinya” begitu jawab saya ringkas. Sementara Ust. Kusmana sempat membalas SMS saya dan bertanya tentang siapa pengirim SMS tersebut, setelah saya balas bahwa saya yang mengirimkan SMS, akhirnya beliau datang ke rumah. Setelah berbincang sejenak dengan beliau akhirnya kami sepakat untuk menghadiri pemakaman Ust. Saepuddin Mamad.
Sebelum berangkat mengajar ke MTs Ibnu Taimiyah, saya masih sempat mengirim SMS ke beberapa teman lagi untuk menyebarkan berita duka tersebut. lebih dari 50 orang saya kirim, sebagian mereka merespon dengan baik walaupun lagi-lagi ada yang bertanya tentang identitas pengirimnya. Setelah mengajar tiga jam pelajaran akhirnya saya memutuskan untuk memberikan tugas untuk siswa saya. Saya berangkat bersama Ust. Kusama ke rumah duka dengan membawa motor Revo milik Ust. Kusamana.
Sedikit terburu-buru karena menurut kabar jenazah sudah dibawa ke masjid Ar-Rayyan Taman Cimanggu Bogor untuk dishalatkan. “Yang penting kita sudah berusaha untuk datang, nanti sudah selesai atau belum kalau sudah sampai sana itu tidak masalah” begitu pikir kami berdua. Tujuan utama kami adalah ke Masjid Ar-Rayyan, dan itu memang arah yang saya ketahui. Setelah melewati Kota Bogor dan memasuki wilayah Taman Cimanggu Bogor kami menyusuri Jalan Johar. Saya sempat ingat bahwa masjid Ar-Rayyan itu berada di belokan ke kanan di Jalam Johar yang banyak pohon di pinggirnya. Sempat kelewat beberapa meter akhirnya saya yakin bahwa di perempatan itu seharusnya kami belok ke kanan. Kami mundur dan membelokan motor ke arah kanan. Saya ingat dulu sekitar tahun 1998-an saya ke Masjid Ar-Rayyan di dekat jalan yang menurun. Lagi-lagi saya kelewatan jalan dan bertanya ke seorang penjual di jalan. “Oh ya meninggal, dari sini bapak balik lagi, kalau ke masid Ar-Rayyan belok kanan kalau ke rumahnya belok kiri” begitu kata seorang penjual yang kami Tanya. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali sesuai petunjuk pedagang tersebut.
Sempat ragu apakah mau ke masjid atau ke rumah, akhirnya kami memutuskan belok kiri dan menuju rumah duka. Baru beberapa meter rupanya jalan tersebut buntu dan hanya tersisa jalan setapak dengan pavling blok. Syukurlah ada seorang ibu dari dalam rumah yang keluar dan memberitahu bahwa jenazah sudah dishalatkan dan sudah dibawa ke rumah. Tanpa membuang waktu kami segera menyusuri jalan kecil itu dan menuju ke rumah duka.
Tampak di depan rumah duka, beberapa motor diparkir, setelah tanya kepada seorang ibu yang ada akhirnya kami memutuskan untuk langsung ke kuburan. Ditemani dua orang anak kecil kami diantar menuju pemakaman. Alhamdulillah, acara pemakaman belum selesai, beberapa laki-laki baru saja mengubur liang lahad, sementara beberapa perempuan berdiri menghadap ke kuburan. Beberapa dari mereka memakai kerudung berwarna gelap, sementara beberapa laki-laki berjenggot dan tidak isbal juga berada di sekitar pemakaman.
Saya sempat berbincang dengan seorang tua yang duduk di sudut makam, “Pak Saepuddin itu keponakan saya, jadi saya ya mamangnya” begitu kata laki-laki tersebut membuka pembiacaraan. Tidak menyia-nyiakan kesempatan saya segera bertanya mengenai penyebab kematian Ust. Saepuddin. “Awalnya dia sedang naik motor, terus melihat seorang anak yang menyeberang, karena khawatir menabrak anak tersebut akhirnya dia membanting setang motornya ke arah kanan dan ternyata terjatuh dan kepalanya terbentur benda keras. Walapun terjatuh tapi kemudian dia melanjutkan perjalana ke toko” begitu ceritanya. “Istrinya sempat nanya apakah luka-luka atau merasa sakit, dia menjawab “nggak apa-apa” akhirnya dibiarkan” lanjut lelaki itu serius. “Namun tidak begitu lama dia muntah darah…., hingga akhirnya pagi-pagi sekali sekitar pukul 04.00 dibawa ke rumah sakit, namun beberapa rumah sakit seperti PMI menolaknya sehingga terpaksa dibawa ke Rumah Sakit Daerah Cibinong, namun ternyata setelah sampai di sana nyawanya tidak tertolong” lelaki itu mengakhiri ceritanya.
Kami sempat ngobrol beberapa hal lainnya hingga acara pemakaman selesai, terdengar seorang Ust. Mengucapkan salam dan memberikan nasehat-nasehat tentang kematian. Suara ust. Itu khas suara orang timur (mungkin Makasar, Sulawesi atau Lombok) terdengar menarik dan ingin mengambil hikmah dari tausiahnya, saya melangkah mendekati makam dan mendengarkan dengan khusyu’. Sebuah nasehat yang luar biasa tentang kematian bahwa ternyata kata “Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi raji’un” memiliki makna yang berkesinambungan. Seseorang tidak akan meyakini “Inna Ilaihi raji’un” tanpa terlebih dulu meyakini “Inna lillahi” artinya bahwa seseorang yang yakin bahwa ia akan kembali kepada Allah ta’ala harus yakin bahwa ia adalah milik Allah ta’ala. Untaian nasehat dari ust. Tersebut betul-betul menyentuh jiwa saya, slama ini saya terlalu mengikuti hawa nafsu saya dan cenderung memuaskan setiap keinginan yang ada. Padahal belum tentu hal tersebut bermanfaat bagi akhirat, karena semua kita akan kembali kepadaNya. Sehingga setiap aktifitas kita yang tidak bermanfaat bagi akhirat sudah selayaknya untuk ditinggalkan atau minimal dikurangi. Saya juga sadar bahwa selama ini mungiin saya lalai dari kematian sehingga seolah-olah kematian itu jauh, padahal ia dekat bahkan terlalu dekat dengan diri kita.
Nasehat ustadz tersebut yang mengena kepada saya juga bahwa ternyata musibah itu harus dihadapi dengan iman, bukan dengan perasaan atau akal pikiran. Jika kita menghadapi segala sesuatu dengan iman niscaya semuanya akan terasa mudah dan indah. Saya jadi teringat dengan diri saya sendiri yang selama ini selalu mengedepankan perasaan dan hawa nafsu. Saya terlalu perasa dan selalu mengikuti perasaan itu, padahal belum tentu perasaan itu baik dan membawa kebaikan. Perasaan yang hanya ingin bertemu dengan seseorang padahal belum tentu hal tersebut membawa kebaikan adalah satu hal yang selama ini mengganggu perasaan saya, padahal jika hal tersebut disikapi dengan iman niscaya rasa itu tidak akan datang.
Kematian Ustadz Saepuddin Mamad memberikan begitu banyak pelajaran buat saya bahwa ternyata hidup itu memamg harus dihadapi dengan iman, bukan dengan perasaan atau akal pikiran, jika iman dikedepankan niscaya semua kejadian yang kita alami akan terasa mudah, indah dan penuh berkah. Mari kita mengambi hikmah dari setiap kejadian yang ada di sekitar kita….

Sabtu, 07 September 2013

Mood-nya Nulis

Oleh: Bambang Prawiro



Menulis emang bukan cuma nyusun huruf dan angka, lebih dari itu ia adalah suatu kerja otak yang memerlukan ketrampilan dan “keinginan” atau mood. Mungkin banyak yang gak setuju kalau saya bilang bahwa menulis itu berkaitan dengan mood. Ini pengalaman pribadi saya untuk menulis biasanya butuh waktu beberapa saat, mencari waktu yang tepat, pikiran yang lagi mood, banyak pekerjaan lain yang lebih penting sampai ga ada banget ide untuk dituliskan. Jujur saja kalau kadang ide-ide saya itu muncul tiba-tiba, sehingga kalau ngikutin buku-buku penulisan biasanya kalau pas ide itu muncul katanya harus langsung dituangkan. Emang bener sih harusnya seperti itu, walaupun dalam praktek saya sih masih ingat ide-ide itu dan biasanya dalam beberapa hari baru dituliskan.
Ngomongin masalah mood menulis memang gampang-gampang susah, soalnya realitanya saya tuh sering banget “mending” nulis gara-gara gak mood. Biasanya sih kalau pas lagi nulis yang sifatnya serius plus akademis. Kalau cuman nulis masalah-masalah ringakn kayak gini sih emang kayaknya gak usah pakai mood-mood segala. Tinggal duduk di depan note book, tulis aja yang sesuai dengan perasaan jadi deh tulisan ini. Cuma kendala saya kalau nulis hal-hal yang ringan kayak gini biasanya emang terbentur dengan tugas kuliah dan nulis buku-buku serius, jadi ya sering keganggu juga. Akhirnya gak bisa tiap hari menulis.
Coba kalau ada software yang bisa nulis sendiri ketika saya ngomong, enak kali ya? Atau jangan-jangan emang udah ada? Gap tek banget kali kalau emang sudah ada saya gak tau. Masalahnya emang masalah mood itu biasanya berkaitan dengan kalau pas lagi nulis masalah-masalah yang sifatnya serius. Kalau masalah yang ringan-ringan aja sih santai tinggal ngadep note book dijamin tulisan lancar…. Jadi gimana dong? Ya udah nikmatin aja deh, kalau nulis serius berarti kudu mood, kalau gak datang juga ya paksa aja denh biar moodnya datang kalau gak mau datang juga ya paksa. Tapi bener emang beberapa kali mood itu saya paksa datang eh.. ditanya mau juga datang… akhirnya
Nah buat teman-teman yang mau nulis ternyata moodnya ga datang-datang, panggil aja deng mood itu, kalau ga mau datang juga paksa aja. Cara maksanya ya dengan baik-baik tentunya…. Yaitu dengan mencari cara agar keinginan nulis itu muncul dan cari bacaan-bacaan yang ada hubungannya dengan tema yang akan kita tulis… oke? Ditunggu deh tulisan-tulisannya buat ngeramein alam maya ini… 

Jumat, 06 September 2013

Kerajaan Sunda dalam Suma Oriental

Oleh : Mochamad Hadiyana


Suma Oriental adalah catatan yang ditulis oleh Tome Pires pada tahun 1512-1515 yang berisi informasi tentang kehidupan di wilayah Asia timur dan Asia Tenggara pada abad ke-16. Catatan ini sebenarnya merupakan laporan resmi yang ditulis Tomé Pires kepada Raja Portugis tentang potensi peluang ekonomi di wilayah yang baru dikenal oleh Portugis saat itu sehingga tidak pernah diterbitkan. Catatan ini terdiri dari enam jilid, dua jilid pertama berisi informasi tentang wilayah antara Mesir dan Malabar, dan sisanya berisi informasi tentang wilayah Bengali, Indocina, Indonesia, Cina, dan Jepang. Tentang Indonesia, Suma Oriental memuat informasi terutama tentang Pulau Jawa dan Pulau Sumatera.

Setelah sempat "menghilang" berabad-abad, pada tahun 1944 Armando Z. Cortesão menerbitkan terjemahan Suma Oriental ke dalam bahasa Inggris, berdasarkan versi salinannya yang ditemukan di Perpustakaan Chambre des Deputes di Paris.
Tentang Kerajaan Sunda, Tome Pires menggambarkan bahwa, menurut berita lokal, Kerajaan Sunda luasnya setengah pulau Jawa dan ada juga yang menyebut luasnya sepertiga ditambah seperdelapan luas pulau Jawa. Kerajaan Sunda sangat kaya. Kerajaan ini memiliki empat ribu kuda yang didatangkan dari Pariaman dan pulau-pulau lain. Raja memiliki empat puluh gajah. Emas enam karat juga ditemukan di kerajaan ini. Asam berlimpah yang berguna untuk dibuat cuka oleh penduduk. Kota tempat raja berada disebut kota besar atau dayeuh. Kota tersebut memiliki bangunan-bangunan yang dibuat dengan baik dari kayu dan daun palem. Rumah raja memiliki 330 tiang kayu setebal drum anggur yang tingginya 8 meter. Kota tersebut dapat ditempuh selama 2 hari dari pelabuhan utama. Raja Sunda merupakan olahragawan dan pemburu ulung. Tahta kerajaan turun dari ayah kepada anak laki-laki. Orang Sunda sangat jujur. Perempuan bangsawannya cantik-cantik. Penduduknya ramah (tidak garang). Mereka gemar akan senjata yang dihias. Kerisnya mengkilat. Orang Sunda di pantai bergaul denga para pedagang dari pedalaman. Mereka terbiasa berdagang, Orang Sunda sangat sering datang ke Malaka. Mereka membawa lancara (kapal kargo yang beratnya seratus lima puluh ton). Kerajaan Sunda memiliki 6 kapal jung dan banyak lancara.

Sunda Kelapa merupakan salah satu pelabuhan yang dimiliki Kerajaan Sunda selain pelabuhan Banten, Pontang, Cigede, Tanara dan Cimanuk. Pelabuhan Sunda Kalapa ramai disinggahi pedagang-pedagang dan pelaut dari luar seperti dari Sumatra, Malaka, Sulawesi Selatan, Jawa dan Madura. Di Sunda Kelapa banyak diperdagangkan lada, beras, asam, hewan potong, emas, sayuran serta buah-buahan. Ketika Malaka direbut Portugis pada tahun 1511, maka pada tahun 1522 Gubernur d’Albuquerque yang berkedudukan di Malaka mengutus Henrique Leme untuk mengadakan hubungan persahabatan dengan Kerajaan Sunda, guna mendapatkan izin mendirikan benteng di Sunda Kelapa. Maksud Portugis itu mendapat sambutan baik dari Kerajaan Sunda. Pada tanggal 21 Agustus 1522 dibuatlah suatu perjanjian yang menyebutkan bahwa orang Portugis akan membuat benteng di Sunda Kelapa, sedangkan Sunda Kelapa akan menerima barang-barang yang diperlukan. Raja Sunda akan memberikan kepada pihak Portugis 1.000 keranjang lada sebagai tanda persahabatan. Sebuah batu peringatan atau padrau (baca : Padrong) dibuat untuk memperingati peristiwa itu.

Kamis, 05 September 2013

Peran Orang Tua dalam Pendidikan Islam

Oleh: Muhammad Saefudiin

Tujuan yang hendak dicapai ajaran-ajaran Islam bagi manusia adalah kebaikan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akherat. Baik buruknya kehidupan seseorang di akherat bergantung pada baik buruknya kehidupan di dunia ini. Dan kebalikanya kehidupan yang tidak baik di dunia akan membawa kehidupan sengsara di akherat. Karena secara mendasar dapat dikatakan bahwa lingkungan pendidikan Agama dapat diklasifikasikan menjadi lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Setiap lingkungan tersebut sebaiknya harus memberikan pengaruh pada proses pembentukan individu melalui Pendidikan Agama yang diterimanya, baik langsung maupun tidak langsung.[1]
Sehingga inter relasi di antara ketiga lingkungan di atas mengarah pada tujuan Pendidikan Agama Islam sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang 45 pasal 31 ayat 3 adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan Bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Proses Pendidikan Agama ketiga miliew diatas idealnya memang harus ada kerja sama yang baik, koordinasi dan interrelasi yang harmonis demi tercapainya tujuan Pendidikan Nasional di Indonesia. Tujuan Pendidikan Agama pada dasarnya adalah membentuk manusia yang berakhlaq mulia sebagaimana selaras dengan tujuan Pendidikan Agama Islam, yaitu mendidik akhlaq dan jiwa mereka, menanamkan rasa fadhilah, membiasakan mereka dengan kesopanan yang tinggi, mempersiapkan menuju suatu kehidupan yang suci seluruhnya ikhlas dan jujur.[2] Untuk mencapai tujuan ini maka Pendidikan Agama Islam dilakukan di dalam maupun di luar sekolah, sedang salah satu lembaga pendidikan di sekolah tingkat pertama adalah (SD/MI) yang memberikan pelajaran bidang studi Pendidikan Agama Islam dan yang berada di luar sekolah adalah diadakannya TPQ. Namun demikian, pendidikan Agama Islam pada prakteknya harus diselenggarakan secara terpadu antara pendidikan di keluarga, sekolah dan masyarakat.
Menarik untuk dijadikan obyek penelitian karena banyak kalangan ahli berpendapat bahwa pendidikan keluarga adalah awal pendidikan yang akan menenetukan berhasil tidaknya Pendidikan Agama di sekolah.[3] Sementara itu, seorang ahli mengemukakan bahwa betapa pentingnya pendidikan keluarga bagi anak-anaknya yang sedang berkembang. Pendapat diatas menunjukkan bahwa keluarga atau orang tua adalah fundamen dari pendidikan anak yang sangat menentukan pendidikan anak itu dimasa akan datang, baik di sekolah maupun di masyarakat.
Dengan demikian nyatalah bahwa perkembangan fase anak baik dalam perkembangan jasmani, intelektual, fantasi maupun perasaan dan Akhlaq sangat
berpengaruh terhadap perkembangan anak pada fase-fase berikutnya.[4]
Keluarga adalah sebagai pendidikan pertama, utama dan tertua, yang fungsinya sebagai peletak dasar atau landasan bagi pendidikan akhlaq dan agama (pendidikan sosial dan moral). Dasar yang dipakai adalah kasih sayang, yang dapat terbentuk : kasih sayang dan penjelasan tentang status kedudukan anak. Pendidikan di keluarga ini, biasanya bersifat kodrati atau informal. Akan tetapi apabila usaha pendidikan dalam keluarga itu gagal, akan terbentuk seorang anak yang cenderung untuk menjadi anak yang malas untuk belajar, sehingga prestasi anak tersebut tidak akan pernah sesuai dengan harapan.[5] Dari pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa peranan keluarga atau orang tua sangat penting dalam membimbing anaknya melalui pendidikan agama. Terutama bimbingan yang yang lebih intensif pada anak usia berkembang yang sedang belajar di SD/MI. Oleh sebab itu bimbingan, pengawasan dan keteladanan orang tua sangatlah berarti bagi perkembangan anak untuk memperoleh perkembangan yang optimal mencapai tujuan pendidikan yang diharapkannya.


[1] 1 Drs. A. Muri Yusuf, Pengantar Ilmu Pendidikan, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1986, hal 25
[2] 2 Dep. P&K, Sistem Pendidikan Nasional, Menara Wiyata, Semarang, 1989, hal 14
[3] 3 Drs. M. Ngalim Purwanto, MP, Ilmu Pendidikan Teoritis&Praktis, Remaja Karya CV, Bandung, 1988, hal 86
[4] 4 Asnelly ilyas, Mendabakan Anak Saleh (Jakarta : al-bayan, 2000 ), hal. 63.
[5] 5 Drs. H. Fuad Ikhsan, Dasar-dasar Kependidikan, Rinaka Cipta, 1996, hal 86

Rabu, 04 September 2013

Macam-macam Masyaqqah (Kesulitan)

Oleh: Abdurrahman MBP, MEI

A.      Pembahasan
Sebagaimana disebutkan pada pertemuan sebelumnya bahwa masyaqqah adalah kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh setiap manusia dalam pelaksanaan syariat Islam. Ia terjadi karena beberapa sebab yaitu sakit, dalam perjalanan, terpaksa, lupa, dan penyebab umum kesulitan lainnya. Penyebab ini berbeda-beda antara satu orang dengan orang lainnya atau satu masyarakat dengan masyarakat lainnya, dengan kata lain bahwa kesulitan terjadi pada waktu dan tempat tertentu tidak secara umum.
Para ulama membagi masyaqqah ini menjadi beberapa tingkatan sesuai dengan ukuran kesulitannya:
1.        Al-Masyaqqah Al-‘Adzhimmah yaitu kesulitan yang sangat berat dalam bentuk kemudharatan, seperti kekhawatiran akan hilangnya nyawa atau rusaknya anggota badan. Hilangnya jiwa dan /atau anggota badan mengakibatkan kita tidak bisa melaksanakan ibadah dengan sempurna. Masyaqqah semacam ini membawa keringanan.
2.      Al-Masyaqqah Al-Mutawasithah yaitu kesulitan yang pertengahan, ia tidak terlalu berat tapi juga tidak ringan. Masyaqqah semacam ini harus dipertimbangkan, apabila lebih dekat kepada masyaqqah yang sangat berat, maka ada kemudahan di situ. Apabila lebih dekat kepada masyaqqah yang ringan, maka tidak ada kemudahan disitu. Inilah yang penulis maksud bahwa masyaqqah itu bersifat individual.
3.      Al-Masyaqqah Al-Khafifah yaitu kesulitan ringan yang bisa diatasi tanpa mengurangi pelaksanaan ibadah tersebut. seperti terasa lapar waktu puasa, terasa capek waktu tawaf dan sa’i, terasa pening waktu rukuk dan sujud, dan lain sebagainya. Masyaqqah semacam ini dapat ditanggulangi dengan mudah yaitu dengan cara sabar dalam melaksanakan ibadah. Alasannya, kemaslahatan dunia dan akhirat yang tercermin dalam ibadah tadi lebih utama daripada masyaqqah yang ringan ini.
Berdasarkan ketiga jenis masyaqqah tersebut maka pada jenis pertama dan kedua mukallaf  diberikan keringanan dalam pelaksanaannya. Sementara pada jenis ketiga bisa dilakukan pertimbangan apakah bisa mendapatkan keringanan atau tidak dalam pelaksanaan suatu ibadah. Semuanya dikembalikan kepada akibat dari keadaan  masyaqqah tersebut.
Masyaqqah atau kesulitan yang dimaksud dalam kaidah ini adalah yang sudah melewati batas kebiasaan[1] dan kesulitan tersebut tidak bertentangan dengan nash syariat dan tidak pula lari dari kewajiban syariat sepert jihad, pedihnya hudud, hukuman bagi pezina zina, para pembuat kerusakan dan lain sebagainya. Untuk hal-hal yang demikian itu tidak berlaku keringanan.[2]
Wahbah Az-Zuhaily membagi masyaqqah menjadi dua bagian yaitu:
1.    Kesulitan Mu’tadah
Kesulitan Mu’tadah adalah kesulitan yang alami, dimana manusia mampu mencari jalan keluarnya sehingga ia belum masuk pada keterpaksaan. Karena itu Ibnu Abdus Salam mengatakan bahwa kesulitan semacam ini tidak mengugurkan ibadah dan ketaatan juga tidak meringankan, karena hal itu diberi keringanan berarti akan mengurangi kemaslahatan syariah itu sendiri. Sedang Ibnu Qayyim menyatakan bahwa bila kesulitan berkaitan dengan kepayahan, maka kemaslahatan dunia akhirat dapat mengikuti kadar kepayahan itu.[3]
2.    Kesulitan Ghairu Mu’tadah
Kesulitan Ghairu Mu’tadah adalah kesulitan yang tidak pada kebiasaan, dimana manusia tidak mampu memikul kesulitan itu, karena jika dia melakukannya niscaya akan merusak diri dan memberatkan kehidupannya, dan kesulitan-kesulitan itu dapat diukur oleh kriteria akal sehat, syariat sendiri serta kepentingan yang dicapainya. Kesulitan ini diperbolehkan menggunakan dispensasi (rukhshah). Seperti wanita yang selalu istihadlah, maka wudhunya cukup untuk shalat wajib serta untuk shalat sunah yang lainnya tidak diwajibkan, dan diperbolehkan shalat khauf bagi mereka yang sedang berperang, dan sebagainya.[4]
Imam As-Suyuti membagi masyaqah yang mengakibatkan gugurnya suatu kewajiban dalam Islam ke dalam tiga jenis, yaitu:
1.      Masyaqqah yang sangat berat dan umumnya sulit ditanggung (a’la). Seperti rasa khawatir akan keselamatan jiwa, harta, keturunan, organ tubuh, dan hal-hal mendasar lainnya. Pada taraf inilah syari’at memberlakukan keringanan hukum (rukhshah). Sebab, pemeliharaan jiwa dan raga untuk menjalankan kewajiban-kewajiban syari’at lebih diutamakan dari pada tidak melakukan sama sekali. Artinya, jika umat Islam masih ‘dipaksa’ melaksanakan kewajiban yang sebenarnya sudah tidak mampu dikerjakan, maka akan berakibat fatal pada keselamatan jiwa maupun raganya. Hal ini tentu akan membuat kewajiban itu sendiri menjadi terbengkalai. Dengan diberlakukannya rukhshah, maka kewajiban tersebut tetap bisa terlaksana.
2.      Masyaqqah yang sangat ringan (adna). Seperti pegal-pegal, pilek, pusing, dan lain sebagainya. Pada strata ini, tidak ada sama sekali legitimasi syari’at untuk memberi rukhshah. Sebab ke-maslahat-an ibadah masih lebih penting dari pada menghindari mafsadah (kerusakan) yang timbul dari masyaqqah kategori ini. Artinya, timbulnya mafsadah dari hal-hal seperti ini masih sangat minim, sehingga kemaslahatan ibadah (baca: pahala akhirat) yang nyata-nyata punya nilai lebih besar harus lebih diutamakan.
3.      Masyaqqah pertengahan (al-mutawassthah) yang berada pada titik interval di antara dua bagian sebelumnya. Jenis masyaqqah yang terakhir ini bisa mendapat rukhshah, jika telah mendekati kadar masyaqqah pada urutan yang tertinggi (a’la). Dan sebaliknya apabila lebih dekat pada kategori masyaqqah yang paling ringan (adna) maka ia tidak dapat menyebabkan rukhshah.
Dalam catatan akhirnya, al-Suyuthi menandaskan bahwa tidak ada ukuran pasti pada jenis masyaqqah yang mutawassithah ini. Satu-satunya cara mengetahuinya adalah melalui metode analisa-kualitatif (taqribi; mendekatkan). Masyaqqah. adalah sesuatu yang bersifat individual , abstrak dan relatif, dalam arti ukuran dan batasannya sangat sulit dibedakan (kadang si A merasa berat mengerjakan, tapi si B tidak, padahal pekerjaannya sama). Hal ini terjadi pada jenis masyaqqah mutawassithah. Karena itulah fuqaha mengajukan solusi metodologis berupa taqribi guna mengukur beragam jenis masyaqqah yang bisa memperoleh keringanan hukum.
Secara umum, taqribi dimaknai sebagai upaya pengukuran kadar masyaqqah apakah telah melewati batas minimal atau tidak. Jika kadar masyaqqah masih dalam taraf terendah (adna), maka tidak ada pemberlakuan rukhshah. Tapi jika telah melampaui taraf terendah, baik telah mencapai kategori mutawassithah ataupun sampai level tertinggi (a’la), maka ia akan mendapat rukhshah.
Setiap ibadah pasti mengandung masyaqqah (sekurang-kurangnya dipandang dari segi bahwa ia adalah taklif atau tuntutan). Jika kadar masyaqqah yang normal semakin bertambah tingkat kesulitannya karena ada masalah-masalah tertentu, maka di titik ini dia telah berada pada tingkat mutawassithah. Seseorang yang sedang berpuasa misalnya, pasti mengalami masyaqqah, baik berupa lapar, haus, dan seterusnya. Jika puasa itu dilakukan dalam keadaan sakit, maka secara otomatis masyaqqah-nya bertambah, yakni masyaqqah berpuasa ditambah masyaqqah sakit. Nah, pada kondisi inilah masyaqqah itu telah melewati batas minimal (adna) sehingga bisa mendapatkan rukhshah.

B.       Kesimpulan:
Kesimpulan dari Bab ini adalah:
1.      Masyaqqah  oleh beberapa sarjana muslim terbagi menjadi tiga bagian yaitu masyaqqah yang bersifat besar (al-adzimah), sedang (al-mutawasitha) dan ringan (khafifah).
2.      Masyaqqah al-‘adzimah adalah kesulitan yang mengancam nyawa dan anggota tubuh seseorang. Sehingga apabila tetap dilakukan maka bisa jadi nyawa orang tersebut hilang.
3.      Masyaqqah mutawasithah adalah kesulitan yang sifatnya sedang yang tidak mengancam jiwa namun apabila tetap dilakukan akan memberatkan manusia.
4.      Masyaqqah al-khafifah yaitu kesulitan yang ringan.
5.      Beberapa sarjana lainnya membagi masyaqqah menjadi dua macam yaitu masyaqqah mu’tadah dan ghairu mu’tadah.
6.      Metode untuk mengetahui suatu masyaqqah masuk ke dalam jenis tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan metode taqribi yaitu upaya pengukuran kadar masyaqqah apakah telah melewati batas minimal atau tidak. Jika kadar masyaqqah masih dalam taraf terendah (adna), maka tidak ada pemberlakuan rukhshah.

C.      Pertanyaan Latihan:
1.      Sebutkan jenis-jenis masyaqqah!
2.      Apa yang dimaksud dengan masyaqqah al-adzimah? Sebutkan contohnya!
3.      Apa yang dimaksud dengan masyaqqah al-mutawasitah? Sebutkan contohnya!
4.      Apa yang dimaksud dengan masyaqqah al-khafifah? Sebutkan contohnya!   
5.      Apa perbedaan antara ketiga jenis masyaqqah tersebut?
6.      Sebutkan cara untuk menggolongkan suatu jenis masyaqqah!

D.      Daftar Pustaka 
Shalih Ibn Ghanim as-Sadlan, Al-Qawaid Al-Fiqhiyyah al-Kubra, Riyadh: Dar al-Balansiyyah, 1417 H.
Abdurrahman bin Abu Bakr Ash-Shuyuti, Al-Ashbah Wa Nadzair, Beirut: Darul Fikr, tt.
Asy-Syatibi, Al-Muwafaqat fi Ushul al-Ahkam, jilid. 2, Kairo: Maktabat wa Matba’at Muhammad ‘Ali Sabih, 1969.
Ahmad bin Syaikh Muhammad az-Zarqa, Syarh al-Qawaid al-Fiqhiyah, cet. 2, Damaskus: Dar al-Qalam, 1989.
Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, Al-Umm
Abu Muhammad Al-Ghazali, Al-Mustasyfa
Izzat Ubaid ad-Di’as, al-Qawaid al-Fiqhiyah ma’a as-Syarh al-Mujaz, Beirut:Dar at-Tirmidzi, 1989.
Ahmad bin Syaikh Muhammad az-Zarqa, Syarh al-Qawaid al-Fiqhiyah, Damaskus: Dar al-Qalam, 1989.
Wahbah az-Zuhaili, 1982: 196-197.











A.      Referensi:
Jalaludin As-Suyuti, Al-Asybah Wa Nadzair, Beirut: Darul Fikr
Abdul Karim Zaidan, 100 Kaidah-kaidah Fiqh dalam Kehidupan Sehari-hari
Ahmad Sudirman Abbas, MA : Sejarah Qowa’id Fiqhiyyah
Ahmad Sabiq Abdul Lathif Abu Yusuf, Al-Qawa’id Al-Fiqhiyyah Kaedah-kaedah Praktis memahami Fiqh Islam.
Syarif Hidayatullah, Qawaid Fiqhiyyah dan penerapannya dalam transaksi Keuangan syariah Kontemporer
Mujib, Abdul. Kaidah-Kaidah Ilmu Fikih (Al-Qowaidul Fiqhiyyah), Kalam Mulya, Jakarta: 2008
Djazuli. A, Kaidah-Kaidah Fikih: Kaidah-Kaidah Hukum Islam Dalam Menyelesaikan Masalah-Masalah Praktis, Kencana Prenada Media Group, Jakarta: 2007
Muhammad Tahir Mansoori, Kaidah-Kaidah Fiqh Keuangan dan Transaksi Bisnis, Bogor: Ulul Albab Institut, 2010.


[1] Izzat Ubaid ad-Di’as, al-Qawaid al-Fiqhiyah  Ma’a as-Syarh al-Mujaz, cet. 3  (Beirut:Dar at-Tirmidzi, 1989) hal. 40
[2] Ahmad bin Syaikh Muhammad az-Zarqa, Syarh al-Qawaid al-Fiqhiyah, cet. 2 (Damaskus: Dar al-Qalam, 1989) hal. 157
[3] Wahbah az-Zuhaili, 1982: 196-197.
[4] Wahbah az-Zuhaili, 1982: 199-200.

Senin, 02 September 2013

Hubungan Sunda, Melayu dan China

"SUNDA-MELAYU-CINA"
Prof. Undang A Darsa

Nama sunda pertama kali ditemukan tercatat hingga kini terdapat pada prasasti masa pemerintahan Suryawarman (535-561 M) raja Tarumanagara ke-7 yang ditemukan dari tepi sawah di kampung Pasirmuara (Cibungbulang) desa Kebonkopi distrik Leuwiliang Bogor. Lokasi itu sekitar satu kilometer dari tempat prasasti Ciaruteun peninggalan Purnawarman (395-434 M) raja Tarumanagara ke-3 (band. Danasasmita, 1984: 24). Para arkeolog dan filolog umumnya sepakat bahwa batu bertulis itu berbahasa Melayu Kuno dan disebut sebagai prasasti Juru Pangambat atau Kebonkopi II, namun sayangnya prasasti tersebut kini telah hilang?! F.D.K. Bosch (1941: 49-53) mempelajarinya melalui lembar foto yang dimuat dalam laporan kepurbakalaan (0.V. 1923, halaman 18 nomor 6888). Prasasti itu dipahatkan pada sebongkah batu yang bentuknya tidak beraturan, terdiri atas 4 baris tulisan yang transliterasinya (band. Atja, 1986; Ayatrohaédi, 1988; Hasan Djafar, 1991) sebagai berikut.

// ini sabdakalanda rakryan juru panga-
mbat i kawihaji panca pasagi marsa-
n desa barpulihkan haji su-
nda //

Sebelum memberi terjemahan, Bosch terlebih dulu mengemukakan catatan, antara lain sebagai berikut.
1) sabdakalnda adalah kata majemuk-tatpurusa: sabda ‘bunyi, kata, perintah’; kala dalam cakakala atau sakakala ‘waktu, saat yang pantas untuk diperingati, sesuatu untuk diperingati’; akhiran -nda menunjukkan prefiks honorifik orang ketiga. Akhiran orang ketiga yang demikian ditemukan pula pada prasasti, antara lain, Talang tuwo: pranidhananda; dan pada prasasti Gandasuli: namanda dan ayanda;
2) pangambat dengan didahului gelar ‘rakryan juru’ menunjukkan bahwa ia seorang pembesar istana.

Candrasangkala kawihaji sepadan dengan kata bujangga yang bernilai angka = 8; panca bernilai angka = 5; dan pasagi ‘bujur sangkar’ bernilai angka = 4. Namun, berlainan dengan kaidah candrasangkala yang selazimnya, Bosch ternyata menetapkan untuk tidak membaca urutannya dari kanan ke kiri [(yang semestinya tersusun urutan angka 458 Saka, yang bila dokonversi pada kalender Gregorian mesti ditambah angka 78 menjadi tahun 536 Masehi)]. Menurut anggapannya, bentuk aksara di situ “terlalu muda” sehingga Bosch menetapkan dengan tanpa ragu-ragu bacaan susunan angkanya adalah 854 Saka (=932 M). Akan tetapi biarpun demikian, ia masih membuat kekeliruan pula dalam pengkonversiannya ke dalam siklus Masehi menjadi angka tahun 942 M, padahal bila ditambah angka 78 seharusnya menjadi 932 M, sebagaima yang juga pernah dikritisi oleh Setyawati Suleiman (1985). Setelah menyimak terjemahan yang dikerjakan oleh Bosch maka terjemahan dalam bahasa Indonesia adalah demikian:

‘Ini tanda peringatan dari Rakryan Juru Panga-
mbat pada tahun 854 Saka (932 Masehi) menetap-
kan bahwa, Raja Sunda dikembalikan kepada
kedudukannya yang dahulu’.

Bunyi redaksi prasasti itu dianggap oleh Bosch berisi surat perintah dalam bahasa Melayu Kuno sehingga ia mengajukan dugaan bahwa, Sunda pada awal abad ke-10 Masehi secara kultural dan juga rupa-rupanya dari segi politik sudah berada dalam pengaruh kerajaan di Sumatera, Sriwijaya. Berkenaan dengan masalah ini telah terlebih dahulu diperbincangkan oleh N.J. Krom (1931: 211) dan kemudian dibicarakan pula oleh Moens (1937: 362). Dalam keterangan tersebut, Moens mengajukan dugaan dengan merujuk kepada tarikh Wangsa Leang dan Dinasti T’ang yang telah mencatat mengenai kedatangan duta-duta To-lo-mo yang berkunjung ke Cina pada tahun 528 Masehi dan 533 Masehi, juga antara tahun 666 Masehi dan 669 Masehi. Moens menduga To-lo-mo adalah transkripsi bunyi dari tulisan Cina untuk kata ‘Taruma’. Pendapat Moens itu ditentang oleh L.C. Damais (1957: 611), akan tetapi Wolters (1974: 205) tetap menyetujuinya.

Jadi dalam kaitan itu, duta-duta To-lo-mo ‘Taruma’ yang terdapat pada berita Cina tersebut berasal dari kerajaan yang sama, yaitu Kerajaan Tarumanagara dari keturunan raja Purnawarman. Dengan demikian, duta-duta yang tercatat pernah hadir di Kekaisaran Negeri Cina dari To-lo-mo itu terjadi pada masa pemerintahan: (1) Candrawarman (515-535 M) raja Taruma ke-6; (2) Suryawarman (535-561 M) raja Taruma ke-7; dan (3) Linggawarman (666-669 M) raja Taruma ke-12 atau raja Taruma yang terakhir.

Setahun setelah yang disebutkan paling akhir, perutusan itu tidak pernah datang lagi di Istana Kekaisaran Cina. Hal ini disebabkan Sriwijaya yang berdasarkan kesaksian dari prasasti Kedukan Bukit (683 M), telah merebut Palembang-Melayu. Pada waktu tidak terlalu lama kemudian di samping Palembang, Sriwijaya telah melebarkan pengaruhnya pula di wilayah Sunda (Jawa Kulon). Bosch berkesimpulan bahwa, prasasti yang ditemukan di Kebonkopi itu merupakan bukti yang kuat untuk mendukung pendiriannya itu, sekalipun ia tetap bertahan pada angka tahun 932 M...

Minggu, 01 September 2013

Pendapat Dunia Tentang Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam

What Non-Muslims Say About Muhammad, The Prophet of Islam

What Non-Muslims Say About …Muhammad, The Prophet of Islam  (Peace and Blessings be Upon Him and His Family)

Muhammad is not the father of any of your men, but he is the Messenger of God and the Last of the Prophets. (Holy Qur'an 33:40)


This is a collection of short quotations from a wide variety of Non-Muslim notables, including academics, writers, philosophers, poets, politicians, and activists belonging to the East and the West.

To our knowledge none of them ever became Muslims.  These words, therefore, reflect their personal views on various aspects of the life of the Prophet.


Michael H. Hart (1932- ) Professor of astronomy, physics and the history of science.

q       "My choice of Muhammad to lead the list of the world's most influential persons may surprise some readers and may be questioned by others, but he was the only man in history who was supremely successful on both the religious and secular level." [The 100: A Ranking Of The Most Influential Persons In History, New York, 1978, p. 33]



William Montgomery Watt (1909- ) Professor (Emeritus) of Arabic and Islamic Studies at the University of Edinburgh.

q       "His readiness to undergo  persecutions  for his beliefs, the high moral character of the men who believed in him and looked up to him as leader, and the  greatness  of  his  ultimate achievement - all argue his fundamental integrity.  To suppose Muhammad an  impostor  raises more problems than it solves. Moreover, none  of the great figures of history is so poorly appreciated in the West as Muhammad." [Mohammad At Mecca, Oxford, 1953, p. 52]



Alphonse de Lamartine (1790-1869) French poet and statesman.

q       "Philosopher, orator, apostle, legislator, warrior, conqueror of ideas, restorer of rational dogmas, of a cult without images; the founder of twenty terrestrial empires and of one spiritual empire, that is Muhammad. As regards all standards by which human greatness may be measured, we may well ask, is there any man greater than he?"[Translated from Histoire De La Turquie, Paris, 1854, vol. II, pp. 276-277]



Reverend Bosworth Smith (1794-1884) Late Fellow of Trinity College, Oxford.

q       "… he was Caesar and Pope in one; but he was Pope without the Pope's pretensions, and Caesar without the legions of Caesar.  Without a standing army, without a bodyguard, without a palace, without a fixed revenue, if ever any man had the right to say that he ruled by a right Divine, it was Mohammed; for he had all the power without its instruments and without its supports." Mohammed and Mohammedanism, London, 1874, p. 235]


Mohandas KaramchandGandhi (1869-1948) Indian thinker, statesman, and nationalist leader.

q       "....I became more than ever convinced that it was not the sword that won a place for  Islam in those days in the scheme of life. It was the rigid simplicity, the utter self-effacement of the prophet, the scrupulous regard for his pledges, his intense devotion to his friends and followers, his intrepidity, his fearlessness, his absolute trust in God and in his own mission. These, and not the sword carried everything before them and surmounted every trouble."  [Young India (periodical), 1928, Volume X]



Edward Gibbon (1737-1794) Considered the greatest British historian of his time.

q       "The greatest success of Mohammad's life was effected by sheer moral force without  the stroke of a sword."
[History Of The Saracen Empire, London, 1870]



John William Draper (1811-1882) American scientist, philosopher, and historian.

q       "Four years after the death of Justinian, A.D. 569, was born at Mecca, in Arabia the man who, of all men exercised the greatest influence upon the human race . . . Mohammed." [A History of the Intellectual Development of Europe, London, 1875, vol.1, pp. 329-330]


David George Hogarth (1862-1927) English archaeologist, author, and keeper of the Ashmolean Museum, Oxford.

q       “Serious or trivial, his daily behaviour has instituted a canon which millions observe this day with conscious mimicry.  No one regarded by any section of the human race as Perfect Man has been imitated so minutely. The conduct of the Founder of Christianity has not so governed the ordinary life of His followers. Moreover, no Founder of a religion has been left on so solitary an eminence as the Muslim Apostle.” [Arabia, Oxford, 1922, p. 52]


Washington Irving (1783-1859) Well-known as the “first American man of letters".

q       “He was sober and abstemious in his diet, and a rigorous observer of fasts. He indulged in no magnificence of apparel, the ostentation of a petty mind; neither was his simplicity in dress affected, but the result of a real disregard to distinction from so trivial a source ... In his private dealings he was just. He treated friends and strangers, the rich and poor, the powerful and the weak, with equity, and was beloved by the common people for the affability with which he received them, and listened to their complaints ... His military triumphs awakened no pride nor vain glory, as they would have done had they been effected for selfish purposes. In the time of his greatest power he maintained the same simplicity of manners and appearance as in the days of his adversity. So far from affecting regal state, he was displeased if, on entering a room, any unusual testimonial of respect were shown to him." [Life of Mahomet, London, 1889, pp. 192-3, 199]



Annie Besant (1847-1933) British theosophist and nationalist leader in India. President of the Indian National Congress in 1917.

q       "It is impossible for anyone who studies the life and character of the great Prophet of Arabia, who knows how he taught and how he lived, to feel anything but reverence for that mighty Prophet, one of the great messengers of the Supreme. And although in what I put to you I shall say many things which may be familiar to many, yet I myself feel whenever I re-read them, a new way of admiration, a new sense of reverence for that mighty Arabian teacher." [The Life And Teachings Of Muhammad, Madras, 1932, p. 4]


Edward Gibbon (1737-1794) Considered the greatest British historian of his time.

q       "His (i.e., Muhammad's) memory was capacious and retentive, his wit easy and social, his imagination sublime, his judgment clear, rapid and decisive. He possessed the courage of both thought and action."[History of the Decline and Fall of the Roman Empire, London, 1838, vol.5, p.335]