Rabu, 04 September 2013

Macam-macam Masyaqqah (Kesulitan)

Oleh: Abdurrahman MBP, MEI

A.      Pembahasan
Sebagaimana disebutkan pada pertemuan sebelumnya bahwa masyaqqah adalah kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh setiap manusia dalam pelaksanaan syariat Islam. Ia terjadi karena beberapa sebab yaitu sakit, dalam perjalanan, terpaksa, lupa, dan penyebab umum kesulitan lainnya. Penyebab ini berbeda-beda antara satu orang dengan orang lainnya atau satu masyarakat dengan masyarakat lainnya, dengan kata lain bahwa kesulitan terjadi pada waktu dan tempat tertentu tidak secara umum.
Para ulama membagi masyaqqah ini menjadi beberapa tingkatan sesuai dengan ukuran kesulitannya:
1.        Al-Masyaqqah Al-‘Adzhimmah yaitu kesulitan yang sangat berat dalam bentuk kemudharatan, seperti kekhawatiran akan hilangnya nyawa atau rusaknya anggota badan. Hilangnya jiwa dan /atau anggota badan mengakibatkan kita tidak bisa melaksanakan ibadah dengan sempurna. Masyaqqah semacam ini membawa keringanan.
2.      Al-Masyaqqah Al-Mutawasithah yaitu kesulitan yang pertengahan, ia tidak terlalu berat tapi juga tidak ringan. Masyaqqah semacam ini harus dipertimbangkan, apabila lebih dekat kepada masyaqqah yang sangat berat, maka ada kemudahan di situ. Apabila lebih dekat kepada masyaqqah yang ringan, maka tidak ada kemudahan disitu. Inilah yang penulis maksud bahwa masyaqqah itu bersifat individual.
3.      Al-Masyaqqah Al-Khafifah yaitu kesulitan ringan yang bisa diatasi tanpa mengurangi pelaksanaan ibadah tersebut. seperti terasa lapar waktu puasa, terasa capek waktu tawaf dan sa’i, terasa pening waktu rukuk dan sujud, dan lain sebagainya. Masyaqqah semacam ini dapat ditanggulangi dengan mudah yaitu dengan cara sabar dalam melaksanakan ibadah. Alasannya, kemaslahatan dunia dan akhirat yang tercermin dalam ibadah tadi lebih utama daripada masyaqqah yang ringan ini.
Berdasarkan ketiga jenis masyaqqah tersebut maka pada jenis pertama dan kedua mukallaf  diberikan keringanan dalam pelaksanaannya. Sementara pada jenis ketiga bisa dilakukan pertimbangan apakah bisa mendapatkan keringanan atau tidak dalam pelaksanaan suatu ibadah. Semuanya dikembalikan kepada akibat dari keadaan  masyaqqah tersebut.
Masyaqqah atau kesulitan yang dimaksud dalam kaidah ini adalah yang sudah melewati batas kebiasaan[1] dan kesulitan tersebut tidak bertentangan dengan nash syariat dan tidak pula lari dari kewajiban syariat sepert jihad, pedihnya hudud, hukuman bagi pezina zina, para pembuat kerusakan dan lain sebagainya. Untuk hal-hal yang demikian itu tidak berlaku keringanan.[2]
Wahbah Az-Zuhaily membagi masyaqqah menjadi dua bagian yaitu:
1.    Kesulitan Mu’tadah
Kesulitan Mu’tadah adalah kesulitan yang alami, dimana manusia mampu mencari jalan keluarnya sehingga ia belum masuk pada keterpaksaan. Karena itu Ibnu Abdus Salam mengatakan bahwa kesulitan semacam ini tidak mengugurkan ibadah dan ketaatan juga tidak meringankan, karena hal itu diberi keringanan berarti akan mengurangi kemaslahatan syariah itu sendiri. Sedang Ibnu Qayyim menyatakan bahwa bila kesulitan berkaitan dengan kepayahan, maka kemaslahatan dunia akhirat dapat mengikuti kadar kepayahan itu.[3]
2.    Kesulitan Ghairu Mu’tadah
Kesulitan Ghairu Mu’tadah adalah kesulitan yang tidak pada kebiasaan, dimana manusia tidak mampu memikul kesulitan itu, karena jika dia melakukannya niscaya akan merusak diri dan memberatkan kehidupannya, dan kesulitan-kesulitan itu dapat diukur oleh kriteria akal sehat, syariat sendiri serta kepentingan yang dicapainya. Kesulitan ini diperbolehkan menggunakan dispensasi (rukhshah). Seperti wanita yang selalu istihadlah, maka wudhunya cukup untuk shalat wajib serta untuk shalat sunah yang lainnya tidak diwajibkan, dan diperbolehkan shalat khauf bagi mereka yang sedang berperang, dan sebagainya.[4]
Imam As-Suyuti membagi masyaqah yang mengakibatkan gugurnya suatu kewajiban dalam Islam ke dalam tiga jenis, yaitu:
1.      Masyaqqah yang sangat berat dan umumnya sulit ditanggung (a’la). Seperti rasa khawatir akan keselamatan jiwa, harta, keturunan, organ tubuh, dan hal-hal mendasar lainnya. Pada taraf inilah syari’at memberlakukan keringanan hukum (rukhshah). Sebab, pemeliharaan jiwa dan raga untuk menjalankan kewajiban-kewajiban syari’at lebih diutamakan dari pada tidak melakukan sama sekali. Artinya, jika umat Islam masih ‘dipaksa’ melaksanakan kewajiban yang sebenarnya sudah tidak mampu dikerjakan, maka akan berakibat fatal pada keselamatan jiwa maupun raganya. Hal ini tentu akan membuat kewajiban itu sendiri menjadi terbengkalai. Dengan diberlakukannya rukhshah, maka kewajiban tersebut tetap bisa terlaksana.
2.      Masyaqqah yang sangat ringan (adna). Seperti pegal-pegal, pilek, pusing, dan lain sebagainya. Pada strata ini, tidak ada sama sekali legitimasi syari’at untuk memberi rukhshah. Sebab ke-maslahat-an ibadah masih lebih penting dari pada menghindari mafsadah (kerusakan) yang timbul dari masyaqqah kategori ini. Artinya, timbulnya mafsadah dari hal-hal seperti ini masih sangat minim, sehingga kemaslahatan ibadah (baca: pahala akhirat) yang nyata-nyata punya nilai lebih besar harus lebih diutamakan.
3.      Masyaqqah pertengahan (al-mutawassthah) yang berada pada titik interval di antara dua bagian sebelumnya. Jenis masyaqqah yang terakhir ini bisa mendapat rukhshah, jika telah mendekati kadar masyaqqah pada urutan yang tertinggi (a’la). Dan sebaliknya apabila lebih dekat pada kategori masyaqqah yang paling ringan (adna) maka ia tidak dapat menyebabkan rukhshah.
Dalam catatan akhirnya, al-Suyuthi menandaskan bahwa tidak ada ukuran pasti pada jenis masyaqqah yang mutawassithah ini. Satu-satunya cara mengetahuinya adalah melalui metode analisa-kualitatif (taqribi; mendekatkan). Masyaqqah. adalah sesuatu yang bersifat individual , abstrak dan relatif, dalam arti ukuran dan batasannya sangat sulit dibedakan (kadang si A merasa berat mengerjakan, tapi si B tidak, padahal pekerjaannya sama). Hal ini terjadi pada jenis masyaqqah mutawassithah. Karena itulah fuqaha mengajukan solusi metodologis berupa taqribi guna mengukur beragam jenis masyaqqah yang bisa memperoleh keringanan hukum.
Secara umum, taqribi dimaknai sebagai upaya pengukuran kadar masyaqqah apakah telah melewati batas minimal atau tidak. Jika kadar masyaqqah masih dalam taraf terendah (adna), maka tidak ada pemberlakuan rukhshah. Tapi jika telah melampaui taraf terendah, baik telah mencapai kategori mutawassithah ataupun sampai level tertinggi (a’la), maka ia akan mendapat rukhshah.
Setiap ibadah pasti mengandung masyaqqah (sekurang-kurangnya dipandang dari segi bahwa ia adalah taklif atau tuntutan). Jika kadar masyaqqah yang normal semakin bertambah tingkat kesulitannya karena ada masalah-masalah tertentu, maka di titik ini dia telah berada pada tingkat mutawassithah. Seseorang yang sedang berpuasa misalnya, pasti mengalami masyaqqah, baik berupa lapar, haus, dan seterusnya. Jika puasa itu dilakukan dalam keadaan sakit, maka secara otomatis masyaqqah-nya bertambah, yakni masyaqqah berpuasa ditambah masyaqqah sakit. Nah, pada kondisi inilah masyaqqah itu telah melewati batas minimal (adna) sehingga bisa mendapatkan rukhshah.

B.       Kesimpulan:
Kesimpulan dari Bab ini adalah:
1.      Masyaqqah  oleh beberapa sarjana muslim terbagi menjadi tiga bagian yaitu masyaqqah yang bersifat besar (al-adzimah), sedang (al-mutawasitha) dan ringan (khafifah).
2.      Masyaqqah al-‘adzimah adalah kesulitan yang mengancam nyawa dan anggota tubuh seseorang. Sehingga apabila tetap dilakukan maka bisa jadi nyawa orang tersebut hilang.
3.      Masyaqqah mutawasithah adalah kesulitan yang sifatnya sedang yang tidak mengancam jiwa namun apabila tetap dilakukan akan memberatkan manusia.
4.      Masyaqqah al-khafifah yaitu kesulitan yang ringan.
5.      Beberapa sarjana lainnya membagi masyaqqah menjadi dua macam yaitu masyaqqah mu’tadah dan ghairu mu’tadah.
6.      Metode untuk mengetahui suatu masyaqqah masuk ke dalam jenis tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan metode taqribi yaitu upaya pengukuran kadar masyaqqah apakah telah melewati batas minimal atau tidak. Jika kadar masyaqqah masih dalam taraf terendah (adna), maka tidak ada pemberlakuan rukhshah.

C.      Pertanyaan Latihan:
1.      Sebutkan jenis-jenis masyaqqah!
2.      Apa yang dimaksud dengan masyaqqah al-adzimah? Sebutkan contohnya!
3.      Apa yang dimaksud dengan masyaqqah al-mutawasitah? Sebutkan contohnya!
4.      Apa yang dimaksud dengan masyaqqah al-khafifah? Sebutkan contohnya!   
5.      Apa perbedaan antara ketiga jenis masyaqqah tersebut?
6.      Sebutkan cara untuk menggolongkan suatu jenis masyaqqah!

D.      Daftar Pustaka 
Shalih Ibn Ghanim as-Sadlan, Al-Qawaid Al-Fiqhiyyah al-Kubra, Riyadh: Dar al-Balansiyyah, 1417 H.
Abdurrahman bin Abu Bakr Ash-Shuyuti, Al-Ashbah Wa Nadzair, Beirut: Darul Fikr, tt.
Asy-Syatibi, Al-Muwafaqat fi Ushul al-Ahkam, jilid. 2, Kairo: Maktabat wa Matba’at Muhammad ‘Ali Sabih, 1969.
Ahmad bin Syaikh Muhammad az-Zarqa, Syarh al-Qawaid al-Fiqhiyah, cet. 2, Damaskus: Dar al-Qalam, 1989.
Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, Al-Umm
Abu Muhammad Al-Ghazali, Al-Mustasyfa
Izzat Ubaid ad-Di’as, al-Qawaid al-Fiqhiyah ma’a as-Syarh al-Mujaz, Beirut:Dar at-Tirmidzi, 1989.
Ahmad bin Syaikh Muhammad az-Zarqa, Syarh al-Qawaid al-Fiqhiyah, Damaskus: Dar al-Qalam, 1989.
Wahbah az-Zuhaili, 1982: 196-197.











A.      Referensi:
Jalaludin As-Suyuti, Al-Asybah Wa Nadzair, Beirut: Darul Fikr
Abdul Karim Zaidan, 100 Kaidah-kaidah Fiqh dalam Kehidupan Sehari-hari
Ahmad Sudirman Abbas, MA : Sejarah Qowa’id Fiqhiyyah
Ahmad Sabiq Abdul Lathif Abu Yusuf, Al-Qawa’id Al-Fiqhiyyah Kaedah-kaedah Praktis memahami Fiqh Islam.
Syarif Hidayatullah, Qawaid Fiqhiyyah dan penerapannya dalam transaksi Keuangan syariah Kontemporer
Mujib, Abdul. Kaidah-Kaidah Ilmu Fikih (Al-Qowaidul Fiqhiyyah), Kalam Mulya, Jakarta: 2008
Djazuli. A, Kaidah-Kaidah Fikih: Kaidah-Kaidah Hukum Islam Dalam Menyelesaikan Masalah-Masalah Praktis, Kencana Prenada Media Group, Jakarta: 2007
Muhammad Tahir Mansoori, Kaidah-Kaidah Fiqh Keuangan dan Transaksi Bisnis, Bogor: Ulul Albab Institut, 2010.


[1] Izzat Ubaid ad-Di’as, al-Qawaid al-Fiqhiyah  Ma’a as-Syarh al-Mujaz, cet. 3  (Beirut:Dar at-Tirmidzi, 1989) hal. 40
[2] Ahmad bin Syaikh Muhammad az-Zarqa, Syarh al-Qawaid al-Fiqhiyah, cet. 2 (Damaskus: Dar al-Qalam, 1989) hal. 157
[3] Wahbah az-Zuhaili, 1982: 196-197.
[4] Wahbah az-Zuhaili, 1982: 199-200.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Please Uktub Your Ro'yi Here...