Kamis, 12 September 2013

Kemudharatan Harus Dihilangkan

اَلضَّرَرُ يُزَالُ
Disusun Oleh: Abdurrahman Abu Aisyah

A.      Definisi
Menurut etimologi, kata ضرر (dharar) berarti kekurangan yang terdapat pada sesuatu, batasan ضرر adalah keadaan yang membahayakan yang dialami manusia atau masyaqqah yang parah yang tak mungkin mampu dipikul olehnya. [1] Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa kemudaratan adalah sesuatu yang tidak menguntungkan, rugi atau kerugian secara adjectiva ia berarti merugikan dan tidak berguna.[2] Maka kemudharatan dapat dipahami sebagai sesuatu yang membahayakan dan tidak memiliki kegunaan bagi manusia.
Kata ضرر dhirar menurut bahasa adalah balasan yang sengaja dilakukan sebagai balasan atas kemudharatan yang menimpanya. Dengan kata lain dia membalas atau menimpakan kemudharatan kepada orang lain sesuai dengan kemudharatan yang menimpa dirinya. Sedangkan kita semua mengetahui bahwa kata mudharat itu sendiri menurut bahasa adalah kebalikan dari manfaat, atau dapat juga dikatakan bahaya.[3] Shalih Ibn Ghanim as-Sadlan mencatat makna dari ضرر dharar dalam kaidah ini adalah tidak bolehnya menimpakan mudharat kepada orang lain, baik hal tersebut menyebabkan kemudaharatan atau tidak.[4]   
Kata يُزَالُ (yuzaal) berasal dari kata zaala-yaziilu-zaalatan kata ini dalam bentuk majhul dengan wazan fu’al yang berarti dihilangkan.[5] Maka setiap kemudharatan yang ada harus dihilangkan. Jadi secara garis besar kaidah fikih ini melarang segala sesuatu perbuatan yang mendatangkan mudharat/bahaya tanpa alasan yang benar serta tidak boleh membalas kemudharatan/bahaya dengan kemudharatan yang serupa juga, apalagi dengan yang lebih besar dari kemudharatan yang menimpanya.
B.  Dasar Kaidah
Ayat-ayat Al-Qur’an dan Al-Hadits yang mengandung kata adh-dharurat serta derivasinya sangat banyak. Ayat-ayat tersebut sekaligus menjadi dasar bagi kaidah ini diantaranya adalah:
وَلَا تُمْسِكُوهُنَّ ضِرَارًۭا لِّتَعْتَدُوا۟
Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudharatan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka. QS. Al-Baqarah: 231.
وَلَا تُضَآرُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا۟ عَلَيْهِنَّ
….dan janganlah kamu menyusahkan (memudharatkan) mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. QS. Ath-Thalaaq: 6.
لَا تُضَآرَّ وَٰلِدَةٌۢ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌۭ لَّهُۥ بِوَلَدِهِۦ
Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya. QS. Al-Baqarah: 233.
فَمَنِ ٱضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍۢ وَلَا عَادٍۢ فَلَآ إِثْمَ عَلَيْهِ
Barangsiapa dalam Keadaan terpaksa (memakannya) sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. QS. Al-Baqarah : 173.
لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا ٱهْتَدَيْتُمْ
Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. QS. Al-Maaidah: 105.
Istilah mudharat dalam ayat-ayat tersebut bermakna kemudharatan, kesempitan, kesengsaraan dan setiap hal yang mendatangkan bahaya. Ayat-ayat tersebut juga menjadi sumber hukum yang menunjukan bahwasanya kemudharatan itu harus dihindari dan dihilangkan dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi jika kemudharatan tersebut mengancam kehidupan manusia maka ia harus dihilangkan.
Dalam ayat yang lainnya Allah ta’ala telah memberikan batasan-batasan yang harus diikuti oleh umat Islam, namun jika dalam keadaan darurat atau terpaksa maka hal tersebut boleh saja dilakukan sebagaimana firmanNya:
وَقَدْ فَصَّلَ لَكُم مَّا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا ٱضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ
Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. QS. Al-An’am: 119.
Adapun hadits Nabi yang menjadi dasar kaidah ini diantaranya :
حَرَّمَ اللهُ مِنَ المُؤ مِنِيْنَ دَمَهُ وَمَالَهُ وَعِرضَهُ وَاَنْ لايَظُنَّ الا الخَيْرَ
Allah mengharamkan dari orang mukmin, darahnya, hartanya dan kehormatannya, dan tidak menyangka kecuali dengan sangkaan yang baik. HR. Muslim.
Dalam riwayat lainnya Rasulullah bersabda:
اِنَّ دِمَاءَكُمْ وَاَمْوَالَكُمْ وَاعرَاضَكُم حَرَمٌ
Sesungguhnya darah-darah kamu semua, harta-harta kamu semua, dan kehormatan kamu semua adalah haram di antara kamu semua. HR. Muslim.
Kedua hadits tersebut menunjukan bahwasanya harta, darah dan kehormatan seorang muslim itu tidak boleh untuk dilanggar sehingga memunculkan kemudharatan kepada seorang muslim sangat dilarang dalam Islam. Sebagaimana disebutkan pula dalam sebuah hadits beliau bersabda:
لاضَرَرَ وَلاضِرَارَ
Tidak boleh memudharatkan dan tidak boleh dimudharatkan. HR. Hakim dan lainnya dari Abu Sa’id Al-Khudri, HR. Ibnu Majjah dari Ibnu ‘Abbas.
Hadits-hadits tersebut menunjukan bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam telah memberikan pedoman mengenai sifat kemudharatan yang harus dihindari dan dihilangkan. Apalagi jika kemudharatan tersebut mengancam nyawa, harta, kehormatan dan darah seorang muslim.[6]  


[1] Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia, cet. 14, Surabaya: Penerbit Pustaka Progressif, 1997, hal. 819.
[2] Poerwadarminta, W.J.S. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. 
[3] Ibnu Mandzur, Lisaan Al-‘Arab Jilid I, Kairo: Darul Ma’arif, tt, hal. 2573.
[4] Shalih Ibn Ghanim as-Sadlan, Al-Qawaid Al-Fiqhiyyah al-Kubra, Riyadh: Dar al-Balansiyyah, 1417 H, hal. 498.
[5] Ibnu Mandzur, Lisaan Al-‘Arab, hal. 1901.
[6] Abdurrahman bin Abu Bakr Ash-Shuyuti, Al-Asybah Wa Nadzair Fi  Qawa’id Wal Furu’ Fiqh Syafi’iyyah, hal. 83. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Please Uktub Your Ro'yi Here...