Abdurrahman
Misno, S.H.I.
I.
Abstrak
Proses
pembelajaran bagi siswa di tingkat SMP adalah sesuatu yang begitu menantang, menantang
karena usia mereka yang berada pada titik transisi perubahan dari anak-anak
menuju dewasa. Tantangan ini memerlukan adanya berbagai aspek professional dari
seorang guru. Di antara aspek profesional tersebut adalah adanya kemampuan
untuk menyajikan materi pelajaran dengan kreatif dan menyenangkan, namun juga tidak
keluar dari materi pembahasan. Dari sinilah diperlukan adanya sebuah metode
pembelajaran yang dapat menggairahkan minat belajar siswa.
Di
antara metode yang saya praktekkan di ruang kelas adalah mengajak mereka masuk
ke dalam materi dengan berimaginasi. Mata pelajaran IPS yang sering kali
membuat siswa mengantuk saya kemas dengan berbagai metode. Metode yang saya gunakan adalah kolaborasi dari
beberapa metode belajar yang telah ada sebelumnya. Teaching Mix (Bauran
Pengajaran) ini menghasilkan sebuah metode yang khas dan membuat siswa saya
menikmati mata pelajaran ini.
Maka tidak mengherankan jika pelajaran IPS menjadi mata
pelajaran favorit siswa, apalagi mata pelajaran ini tidak banyak membutuhkan
kerja otak dan logika. Inilah kelebihan pelajaran IPS. Nilai lebih lainnya, mereka lebih dapat mengendalikan perasaan
dan emosi. Di sini kita masuk pada pendidikan EQ (Emotional Question), terutama
ketika pembahasan tentang Sosiologi dan Geografi (termasuk Anthropologi).
Pada
mata pelajaran Ekonomi kita ajak mereka mengeksploitasi kemampuan mereka
mendeteksi berbagai kegiatan ekonomi di sekitanya. Hasilnya mereka semakin
terpacu untuk mengetahui tentang kegiatan ekonomi yang ada dan mereka saksikan
sendiri.
Sejarah
sebagai bagian dari mata pelajaran IPS terpadu adalah mata pelajaran yang
sangat disukai oleh siswa saya. Siswa-siswa paling bersemangat untuk mengikuti
pembelajaran ini, apalagi jika diadakan semacam studi tour saya menyebutnya Learning
by Exploring. Kebetulan sekolah kami dekat dengan beberapa situs bersejarah
seperti Batu Tulis dan sekali waktu ke Banten Lama.
Namun
karena dana yang kurang sering kali kegiatan tersebut diganti dengan melihatnya
hanya lewat layar kaca (Video). Beberapa software sebenarnya cukup membantu,
namun memerlukan adanya komputer untuk tiap siswa, sehingga cukup merepotkan
dan tidak dianjurkan.
II.
Pendahuluan
Pendidikan
adalah investasi yang tidak diragukan lagi urgensinya. Ia laksana sebuah rel
kereta api yang akan mengantarkan gerbong kereta ke tujuan. Rel kereta api yang
tidak sempurna seringkali membuat laju kereta api tersendat, sehingga
diperlukan adanya rel kereta api yang sempurna atau minimal mendekati sempurna.
Kesempurnaan
rel kereta api tidak mungkin akan terwujud tanpa adanya komponen-komponen rel
dari bahan besi dan baja yang kuat, selain itu cara merangkai dan menyusunnya
juga memiliki peranan penting. Dengan
komponen-komponen pilihan tersebut diharapkan laju gerbong kereta api akan
lancar.
Proses
pendidikan kurang lebih sama dengan rel kereta tersebut. Jika system pendidikan
tidak sempurna maka tujuan dari pendidikan tidak akan tercapai. System pendidikan sendiri terdiri dari unsur-unsur
yang saling terkait, di antaranya adalah guru, metode mengajar dan media
pembelajaran. Unsur guru dan metode mengajar menjadi inti dalam proses
KBM. Bagaimana seorang guru mempunyai kompetensi sebagai penunjang bagi
suksesnya pendidikan. Kompetensi guru meliputi
kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan
kompetensi sosial. Keempat kompetensi ini harus ada pada seorang guru sehingga
proses KBM akan berjalan sesuai yang diharapkan.
Metode penyampaian materi dalam pembelajaran memiliki
saham dalam mencapai tujuan pendidikan, ia akan sangat berdampak kepada
terserapnya materi oleh siswa. Perkembangan paling mutakhir menunjukan banyak
sekali metode-metode yang digunakan dan dikembangkan oleh para guru dan
praktisi pendidikan sebagai terobosan menuju pembelajran yang menyenangkan. Banyaknya
metode-metode mengajar tersebut memudahkan guru untuk mampu meramunya menjadi
sebuah metode mengajar yang khas tersendiri.
Siswa sebagai komponen dari system pendidikan juga
tidak bisa diabaikan. Karakteristik, sifat dan kondisi sosial budayanya harus
menjadi pertimbangan dalam proses KBM. Karena pengetahuan tentang siswa akan
turut mempengaruhi berhasil tidaknya proses KBM. Siswa dengan
karakteristiknya yang beraneka ragam mengharuskan setiap guru untuk
mengekspresikan dan meramu metode pengajarannya. Di antara ragam siswa tersebut
adalah anak yatim yang tinggal di asrama (boarding school). Ada anggapan di masyarakat bahwa mendidik
(mengajar) anak yatim lebih sulit dari mengajar anak biasa (non yatim).
Benarkah anggapan demikian ?
Karya
tulis ini mencoba untuk mengangkat masalah ini dengan pendekatan eksplorasi dan
experience (pengalaman) lapangan. Manfaat dari makalah ini diharapkan
dapat membantu rekan-rekan guru yang merasa kesulitan mengajar anak yatim,
terutama anak yatim yang tinggal di asrama (boarding school).
Metode
yang saya terapkan adalah "Pembelajaran Menembus Ruang" yang telah
dipraktekkan di depan siswa-siswa yatim pada Mts Ibnu Taimiyah yang merupakan
salah satu strata pendidikan di Ibnu Taimiyah Islamic Boarding School for
Orphan di Bogor.
III.
Metodologi
Metode
yang digunakan dalam karya tulis ini adalah field research sekaligus experience
research. Langkah-langkah yang digunakan di dalamnya meliputi :
- Meneliti
inti permasalahan
- Merumuskan
beberapa alternatif pemecahan
- Mempraktekkan metode pembelajaran di kelas
- Mengevaluasi
program
Penelitian
ini dilaksanakan di Mts Ibnu Taimiyah Pesantren Yatim Ibnu Taimiyah Bogor, selama kurang lebih
satu tahun. Metode ini telah
dipraktekkan dua semester dengan hasil yang memuaskan, baik dari ukuran nominal
nilai ataupun partisipasi siswa.
Selain itu, metode ini telah mampu mengubah persepsi
siswa bahwa pelajaran IPS itu adalah mata pelajaran yang kontekstual dan sebuah
sarana untuk mempelajari setiap aktifitas manusia di sekitar kita, dari mulai
pra sejarah hingga manusia modern dengan segala kemajuan tekhnologinya.
IV. Isi/Pembahasan
Proses pembelajaran sebagaimana berlangsung selama ini
dengan cara konvensional yaitu dengan metode siswa menulis di buku atau guru
memberikan ceramah. Menulis di buku dan mendengarkan ceramah guru adalah suatu
kegiatan yang sangat monoton dan tidak disukai oleh siswa. Ini
terbukti dari wawancara dengan siswa di lingkungan kami.
Menulis
biasanya sebatas melaksanakan tugas guru, setelah itu mereka enggan untuk mengulang
kembali membaca tulis tersebut di lain waktu. Apalagi kalau tulisan siswa tidak menarik dan susah
dibaca. Sementara mendengarkan ceramah membuat mengantuk karena komuniaksi
berjalan hanya satu arah. Apalagi metode ceramah yang digunakan adalah metode
ceramah lurus tanpa "nada sela".
Dari sini proses KBM tidak berjalan sesuai dengan yang
diharapkan, metode menulis dan ceramah sepertinya sudah tidak efektif lagi,
karena itu diperlukan adanya metode pembelajaran baru yang dapat membangkitkan
minat belajar siswa.
1. Meneliti inti
permasalahan.
Permasalahan yang cukup rumit ketika harus
mengidentifikasi sebuah permasalahan pada sebuah proses belajar-mengajar. Hal
ini mengingat bahwa proses ini melibatkan banyak komponen, dari siswa, guru,
metode dan media pembelajran. Namun permasalahan-permasalahan tersebut walaupun
tidak begitu jelas, dapat dilihat dari berbagai indikasi yang ada, berikut ini
adalah beberapa indikasi yang terlihat nyata ketika KBM berlangsung :
- Sikap para siswa yang tidak bersemangat untuk
belajar.
- Suasana di kelas yang terlihat membosankan
- Siswa seperti robot yang dipaksa untuk belajar
- Sebagian
siswa mengantuk ketika berlangsung KBM
- Sebagian
siswa ngobrol dengan temannya ketika KBM berlangsung
- Nilai ulangan yang tidak memuaskan dan tidak
mencapai standar kelululusan
- Metode mengajar guru yang masih monoton.
- Dan lain-lain
Semua indikasi tersebut menunjukan bahwa proses KBM
yang tengah berlangsung mengalami ketidakberesan atau ada trouble yang
tengah terjadi. Sehinggga dari indikasi tersebut kita dapat merumuskan permasalahan
yang ada, berikut ini adalah permasalahan yang ada dalam proses KBM :
- Minat
siswa yang kurang terhadap pelajaran
- Suasana yang "mati suri" di ruang
kelas.
- Metode
penyampaian materi yang monoton.
Permasalahan-permasalahan
tersebut haruslah dicarikan jalan keluar agar tercipta sebuah KBM yang dapat
menghidupkan suasana kelas dan berefek pada pembelajaran yang menyenangkan.
Barangkali bisa dirumuskan bahwa permasalahan inti yang dapat digali adalah
bagaimana metode penyampaian materi dirubah atau dikombinasikan sehingga bisa
mengaktifkan seluruh komponen kelas.
2. Merumuskan alternatif
pemecahan
Beberapa alternatif yang dapat dilakukan untuk
menghidupkan kembali suasana kelas adalah dengan merubah paradigma seluruh
komponen kelas bahwa belajar adalah proses untuk mendapatkan sesuatu yang baru,
sehingga proses ini haruslah menyenangkan dan membangkitkan minat siswa untuk
terus-menerus belajar. Secara umum ada beberapa alternatif pemecahan masalah
yang dapat kita laksanakan :
- Mengganti guru mata pelajaran
- Mengganti metode pembelajaran
- Mendisiplinkan siswa di kelas
Jalan keluar pertama akan sangat merepotkan karena
tidak menjawab permasalahan utama. Mengganti guru bisa saja dilakukan, tapi
harus ada kesepakatan dengan guru tersebut, jangan sampai merasa di singkirkan.
Karena bisa saja guru tersebut tetap mengajar dengan metode baru, tentunya
sebelumnya diberikan pelatihan atau training tentang metode ini.
Alternatif kedua sepertinya lebih cerdas karena bisa
jadi dengan mengubah metode belajar / pembelajaran, siswa juga juga akan
terkondisikan. Dan proses KBM ini tidak menjadi beban bagi guru, bahkan bisa
jadi guru akan turu merasakan dan menikmati proses ini. Metode yang kami
kembangkan adalah Metode "Pembelajaran Menembus Ruang"
Alternatif ketiga cukup efektif hanya saja hal ini
akan mengakibatkan siswa tertekan dengan adanya unsur pemaksaan manakala
pembelajaran berlangsung, padahal dalam proses KBM idealnya seorang siswa
merasa enjoy dengan belajarnya. Jika pendisiplinan siswa dilakuakn secara ketat
tentu akan membuat siswa tidak bisa menikmati pembelajaran, efeknya adalah
materi tidak terserap secara optimal.
Alternatif kedua menjadi keputusan akhir dengan beberapa
pertimbangan, diantaranya :
a. Tidak merubah proses KBM, walaupun gurunya berganti.
b. Siswa merasa nyaman dalam proses KBM
c. Guru lama dapat ditraining dengan metode ini.
d. Metode ini cukup mudah dilaksanakan.
Dengan
ditetapkannya satu solusi diharapkan akan dapat menjawab semua permasalahan
yang ada. Sehingga tujuan dari pendidikan dapat terlaksana.
3.
Mempraktekkan
metode di kelas
Ketika
pertama kali mengajar saya berfikir dan membuat penelitian kecil-kecilan pada
siswa Ibnu Taimiyah, pertanyaan saya sederhana saja "Kalian senangnya
belajar, seperti apa?" Mereka sebagian besar menjawab : "Saya
inginnya cerita", "Saya inginnya jangan banyak menulis",
"Saya inginnya tidak tegang", "Saya inginnya belajar santai tapi
serius".
Setelah mengumpulkan jawaban–jawaban dari beberapa
sampel, saya menerapkan metode bercerita, kebetulan mata pelajaran spesialis
saya adalah IPS. Hasilnya cukup mencengangkan, hampir sebagian besar bahkan
semua siswa begitu antusias.mendengarkan materi pelajaran yang saya buat
semacam cerita. Saya begitu puas melihat mata –mata mungil itu terpana ke arah
saya. Kebetulan waktu itu saya sedang menceritakan tantang pelajaran geografi,
pada bab bentuk muka bumi.
Pertemuan berikutnya saya pegang mata pelajaran
sejarah dengan metode yang sama saya sampaikan materi mengenai jalur
perdagangan kuno pada sub bab jalur sutra. Ternyata mereka sangat antusias.
Saya puas ketika mata-mata mungil itu menatap saya penuh arti.
"Nganga" itu ungkapan saya untuk mendeskripsikan keadaan mereka,
bukan dalam arti mulut mereka terbuka tapi kondisi mereka yang terpana seperti terkena
sihir cerita saya.
Namun setelah beberapa waktu berjalan dan saya
melakukan evaluasi, ada sedikit kekurangan di mana materi yang seharusnya
selesai dalam satu semester ternyata tidak memadai, sehingga saya memerlukan
tambahan waktu untuk memperbanyak jam belajar, walaupun sebenarnya ada faktor
lainnya yaitu jam perminggu yang memang kurang, namun sebagai sebuah evaluasi
sepertinya cukup untuk awal menuju metode yang lebih baik.
Tahun ajaran baru tepatnya tahun ajaran 2007-2008 metode cerita saya geser ke arah
yang lebih menekankan materi, sehingga dalam beberapa bulan ke depan materi dan
cerita saya ramu sekaligus, ditambah beberapa metode belajar semisal :
- Accelerated
learning (Lozanov)
- Multiple
intelligence (Gardner)
- Neurolinguistic
programming (Grinder & Bandler)
- Experiential
learning (Hahn)
- Cooperative
learning (Johnson & Johnson)
- Modality
preference, brain dominance (Anthony Gregorc
Materi
IQ, EQ dan ESQ juga semakin ditekankan ke dalam metode saya, sehingga
diharapkan akan mampu mengumpulkan seluruh metode yang ada dengan ciri khas
lingkungan sosial budaya pada sekolah saya.
Metode
mind mapping yang sangat popular saat ini menjadi bagian dari metode saya,
hanya saja, porsinya tidak banyak. Keberhasilan metode ini sepertinya tidak
terlalu cocok dengan social budaya di sekolah saya sehingga tidak begitu
berpengaruh dengan metode saya.
Gambar 01. Mind mapping
memanfaatkan kedua belahan
otak
Dalam pandangan saya teori mengenai belahan otak kiri
dan belahan otak kanan, belum sempurna untuk diaplikasikan kepada siswa tempat
saya, mereka lebih senang sesuaytu yang membawa kepada pengalaman baru dan
sesuatu yang menakjubkan. Walaupun begitu tetap saja sebagiannya saya ambil
sebagai pengaya matode saya.
Gambar 02. Roger Sperry
menemukan dua belahan otak manusia yang cara bekerjanya sangat berbeda. Otak
kiri “otak logis” (suka mengoreksi) dan otak kanan “otak imajinatif” (suka
mengacak). Sumber: Taufiq Pasiak, Revolusi IQ/EQ/SQ
Baik
metode mind mapping atau yang lainnya pada intinya adalah mengajak para guru
agar dalam mendidik siswa seimbang dengan menggunakan dua belahan otak, yaitu
belahan otak kiri dan belahan otak kanan.
Bauran
pengajaran (teaching mix) ini saya sebut sebagai metode
"Pembelajaran Menembus Ruang", metode ini adalah gabungan dari
beberapa metode yang saat ini berkembang plus penyesuaian dengan situasi dan
kondisi khas siswa saya. Kebetulan siswa yang saya hadapi adalah anak-anak
yatim, sehingga diperlukan tenaga dan kecerdasan ekstra.
Metode
ini sangat mudah dipraktekkan, semua guru bisa mempraktekannya. Yang diperlukan adalah kreatifitas guru dan pendekatan
guru terhadap siswa, teori menarik pengetahuan guru ke arah pengetahuan siswa
saya gunakan di sini yaitu minat apa saja yang siswa inginkan.
Gambar 03. Hubungan ideal proses KBM
Sebagai contoh misalnya di tempat saya siswa sangat
senang dengan kisah-kisah misteri (kismis). Maka saya akan memberikan sebuah
prolog tentang misteri bahannya saya ambil dari dari buku, majalah, koran atau
film-film terbaru, setelah mereka terpancing kita korelasikan dengan materi
yang akan kita ajarkan, dari sini kita mendapatkan satu poin yaitu "Kesan pertama
harus membangkitkan minat siswa".
Selanjutnya kita masuk ke materi dengan tetap
menyambungkan dengan cerita awal, dari sini guru dituntut untuk pandai
mengkorelasikan antara satu materi dengan sambungan cerita awal, kalaupun
cerita awal sudah habis maka dapat kita hubungkan dengan cerita lainnya asalkan
dengan tema yang serupa.
Sebagai contoh, sewaktu saya mengajarkan mata
pelajaran geografi tentang pengenalan peta saya awali dengan kisah misteri
Segitiga Bermuda, siswa langsung tertarik dan menajamkan pandangannya ke arah
saya. Dengan ini kita telah dapat menarik minat siswa. Dan jaga terus perhatian
itu agar kita dapat menarik perhatiannya, inilah poin kedua yaitu "Ambil
"hati" siswa".
Jika kita telah mendapatkan "hati"nya
berarti kita telah mendapatkan 50% sukses dalam mengajar, selanjutnya kita
harus bisa menjaga perhatian siswa tersebut. Ini yang cukup sulit. Bagaimanapun
bagusnya sebuah metode pembelajaran, akan kewalahan untuk menjaga agar siswa
tetap fokus terhadap materi kita, apalagi jika jumlah siswa dalam ruangan kelas
lebih dari 20 siswa maka akan sulit untuk mengendalikannya. Namun jika kurang
dari itu akan lebih mudah. Alternatif yang saya lakukan adalah melibatkan
mereka dalam cerita. Iniilah inti dari metode pembelajaran menembus ruang, yaitu
mengajak siswa untuk berimajinasi tentang materi yang sedang dibahas.
Sebagai contoh ketika saya mengajar sejarah pada sub
bab "Masuknya Islam Ke Indonesia" maka saya katakan kepada siswa
"Anak-anak, sekarang kita akan menembus ruang dan waktu menuju abad ke-VII
Masehi, di mana banyak terdapat perkampungan-perkampungan orang Islam di
pesisir-pesisir pantai, bayangkan kalian saat ini berada dalam lingkungan
tersebut" intonasi kita haruslah membawa siswa kepada imajinasi tersebut,
optimalkan seluruh panca indra siswa. Dari mulai kulit, mata, telinga, hidung
dan lidah. hal yang sangat menentukan dalam metode ini adalah penguasaan materi
oleh guru.
Point ketiga "Penguasaan materi oleh guru secara
total". Penguasaan ini agar cerita mengalir dengan lancar dan tidak
tersendat-sendat atau tidak bersambung dengan materi kita. Jadi antara cerita
dengan materi pelajaran harus selaras.
Pengembangan dari metode ini akan sangat menakjubkan,
dan saya yakin ini adalah sebuah revolusi pembelajaran "Revolusi
Pembelajaran Menembus Ruang" metode
ini membangkitkan imajinasi siswa tentang materi yang kita ajarkan. Dalam
beberapa kesempatan metode ini sebenarnya merujuk kepada keluarnya fikiran kita
dari ruang kelas dan dikombinasikan dengan keluarnya proses pembelajaran di
luar ruangan. Hanya saja dalam prakteknya tidak mungkin ke luar uruangan setiap
hari, maka alternatifnya adalah "Memindahkan" berbagai isi alam raya
ke ruang kelas. Inilah cara paling murah dan mudah.
Implementasinya saya membawa beberapa buku-buku yang
berhubungan dengan materi, benda-benda yang berkaitan dengan materi seperti keris,
badik dan lain-lain. Dalam eksplorasi yang saya lakukan kita bisa membawa
atribut-atribut yang sesuai dengan materi kita misalnya kita memakai pakaian
manusia zaman dahulu, menggunakan ikat kepala atau tutup kepala suku tertentu dan
cara-cara lainnya.
Pengembangan ke depan saya ingin
"menghadirkan" Borobudur, Tembok Besar China, Tajmahal, Pegunungan
Himalaya, Soekarno, gandi, Nielsen Mandela dan yang lainnya.
Gambar 04. Menghadirkan
kenampakan alam di kelas
Dalam
pembelajaran Sosiologi saya akan "menghadirkan" kelompok band Slank,
Dewa, Peterpan dan yang lainnya ke dalam kelas saya.
Dalam kenyataannya memang sangat sulit, sehingga saya
akan menghadirkannya dalam bentuk layar kaca di ruangan kelas. Ini adalah "Pembelajaran
Menembus Ruang" semua akan menikmati pembelajaran ini.
Mungkin ada yang berkomentar "Kenapa hal tersebut
dilakukan?" saya akan menjawab bahwa inilah pembelajran, proses belajar
mengajar yang sesuai dengan kontek dan melibatkan seluruh panca indra siswa.
Gambar 05. Optimalisasi dalam proses KBM adalah keharusan
Metode ini akan terus dikembangkan hingga menjadi
sebuah revolusi pembelajaran dalam bentuk hadirnya LCD layar lebar dalam kelas
yang mengganttikan papan tulis, lengkap dengan tekhnologi touch screennya
yang akan menemani saya dan murid-murid saya dalam menjelaskan dan
mengeksplorasi pelajaran IPS. Ketika kita berbicara tentang revolusi Perancis
maka tinggal menekan tombol dan akan tampil film dokumenter tentang revolusi
tersebut. Ketika saya ingin menjelaskan tentang keajaiban-keajaiban dunia
dengan satu kali sentuhan semuanya terpampang di depan siswa. Sebuah revolusi
pembelajaran bukan ?
Kembali ke metode "pembelajaran Menembus
Ruang" bahwasanya metode ini menggunakan kombinasi pembelajaran di luar
ruang kelas. Dalam agenda mengajar saya selalu terselip jadwal untuk ke luar
ruangan kelas dan belajar di tempat yang sesuai dengan materi pelajaran,
walaupun karena tidak adanya dana proses pembelajaran hanya dilakukan di bukit
di sebelah sekolahan.
Gambar 05. Proses belajar merasakan langsung
Sebagai contoh dalam pelajaran Ekonomi saya mengajak
siswa untuk datang ke pasar, para siswa dibiarkan memperhatikan dan menganalisa
aktifitas apa saja yang terjadi di pasar. Hal ini sangat menarik minat siswa
untuk belajar ekonomi, belum lagi kalau kita ajak ke Bursa Efek Indonesia
misalnya pengetahuan mereka akan bertambah dengan menggunakan panca indra
mereka.
Hal ini saya lakukan pula pada proses pembelajaran
Sosiologi, ketika membahas sub bab tentang Pranata Sosial, saya ajak siswa
untuk mengunjungi Penjara terdekat. Dari sini mereka akan belajar secara
langsung bagaimana kehidupan di penjara. Atau bisa juga mengajak mereka ke
lampu merah di mana banyak terdapat pengamen, pengemis dan gelandangan lainnya.
Inilah poin keempat "Optimalkan seluruh panca indra siswa".
Penelitian yang dilakukan oleh Vernon A. Magnesen,
1983 menunjukan bahwa Efektivitas
belajar terbagi menjadi beberapa tingkatan :
•
10% dari bacaan
•
20% dari pendengaran
•
30% dari pengamatan
•
50% dari pengamatan dan pendengaran
•
70% dari apa yang kita katakan
•
90% dari yang
kita katakan dan lakukan
Hasil tersebut menunjukan bahwa siswa dengan metode
pembelajaran melalui pengamatan dan mengoptimalkan panca indra akan lebih mudah
menyerap pelajaran dibadningkan hanya dengan metode menulis atau mendengarkan
ceramah.
4. Mengevaluasi program
Setelah berjalan satu semester dan dilaksanakn ujian
akhir semeter ternyata pencapaian nilai siwa yang menerapkan metode ini cukup
bagus, hal ini terlihat dari nilai rata-rata kelas yang mencapai 80. namun yang
lebih penting dari semua itu adalah bahwa mereka sangat menikmati proses
pembelajaran yang terjadi di kelas, akhirnya sampai pada tujuan pembelajaran
yaitu "Siswa paham dan mengerti
materi yang kita ajarkan" inilah tujuan dari pembelajaran. Sebagaimana
disebutkan dalam hukum positif "Pendidikan Nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa". Sebagai bentuk evaluasi maka pada setiap akhir
pembelajaran saya membuat semacam survey bagi siswa, terutama berkaitan dengan metode
yang saya gunakan, selain itu juga ada usul-usul sebagai perbaikan bagi
pengemabnagan metode-metode di masa yang akan datang, hal ini agar proses KBM
bisa terus ditingkatkan kualitasnya.
Hasil survey pada semester ganjil menunjukan bahwa
minat siswa terhadap mata pelajaran IPS cukup tinggi, terbukti dengan wawancara
yang saya lakukan langsung dengan mereka, serta qutioner yang saya berikan
kepada mereka.
V. Kesimpulan
Metode "Pembelajaran menembus Ruang" adalah
sebuah Teaching Mix (Bauran Pembelajaran) yang saya praktekan di
ruang-ruang kelas, metode ini mengabungkan seluruh potensi yang ada pada saya.
Beberapa langkah yang dapat kita lakukan dalam menggunakan metode ini adalah :
- Kesan pertama harus membangkitkan minat siswa
- Ambil "hati" siswa
- Penguasaan materi oleh guru secara total
- Optimalkan seluruh panca indra siswa
- Siswa paham dan
mengerti materi yang kita ajarkan.
Langkah-langkah
tersebut sebagai pedoman bagi guru untuk menggunakan metode ini. Adapun
kesimpulan yang bisa kita ambil dari keseluruhan pembahasan adalah :
- Hendaknya seorang guru harus mampu untuk
mengeksplorasi kemampuan siswa.
- Metode menulis bagi siswa dan ceramah oleh guru
dirasa sudah tidak efektif lagi.
- Diperlukan
adanya metode pengajaran yang berfokus kepada siswa (Student learning
centre( yaitu pembelajaran yang ditekankan kepada siswa sebagai pusat
pembelajaran.
- Tidak semua
metode pengajaran dapat diterapkan pada semua tempat, factor lingkungan
social budaya mempunyai pengaruh terhadap proses pembelajaran ini.
- Metode Menembus
Ruang adalah sebuah metode yang memberikan inspirasi kepada siswa untuk
memasukan jiwanya ke dalam proses KBM dalam bentuk imaginasi mengenai tema
yang diajarkan.
VI. Daftar Pustaka
Hernowo, Menjadi Guru yang mau dan mampu mengajar secara
kreatif, MLC : Bandung,
2006.
Bobbi Deporter dkk, Quantum Teaching : Mempraktikakan
quantum learning di ruang-ruang kelas, Kaifa : Bandung, 2007.
DR. Abdul Aziz Abdul Majid, Mendidik dengan Cerita, PT.
Remaja Rosda Karya : Bandung,
2002.
Abuddin Nata, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Penerbit
Angkasa : Bandung,
2003.
Muzayyin Arifin,
Kapita Selekta Pendidikan islam, Bumi Aksara : Jakarta, 2003.
Undang-undang Guru
dan Dosen, Departemen Pendidikan Nasional.