Jumat, 17 Februari 2023

Bahagia seumur Hidup

Oleh: Abu Aisyah

 


Kebahagiaan adalah sebuah kata yang begitu banyak diburu oleh manusia, ia menjadi semacam tujuan hidup setiap manusia. Bahkan manusia rela berkorban hanya untuk mencari kabahagiaan hidup.  Sebenarnya apa sih bahagia itu, dan bagaimana kita meraihnya? kemudian...  bagaimana pula dapat bahagia seumur hidup?

Mungkin kalau kita tanyakan kepada setiap orang tentang apa arti dari bahagia itu mereka akan menjawab bermacam-macam, ada yang bahagia karena baru menikah, bahagia karena punya anak, atau kata kakek bahagia karena punya cucu. Mungkin bahagia yang disebutkan hanya sebagian kecil dari makna bahagia padahal bahagia secara luas adalah perasaan damai, ringan dan tidak ada beban berat yang ditanggungnya.

Ada juga yang mendefinisikan bahwa bahagia adalah menunda sesuatu yang baik saat ini untuk sesuatu yang lebih baik di masa datang.

Terlepas dari semua itu mungkin setiap kita akan mendefinisikan bahagia sesuai dengan apa yang kita pahami. Terus bagaimana cara kita agar dapat menggapai bahagia tersebut? tulisan ini akan memberikan semacam jalan agar kita dapat bahagia seumur hidup bahkan sampai hidup lagi  di akhirat.

عَجَبٌ لِلْمُؤْمِنِ ، إِنْ أصَابَهُ خَيْرٌ حَمِدَ اللَّهَ وَشَكَرَ ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ مُصِيبَةٌ حَمِدَ اللَّهَ وَصَبَرَ ، فَالْمُؤْمِنُ يُؤْجَرُ فِي كُلِّ أَمْرِهِ حَتَّى يُؤْجَرَ فِي اللُّقْمَةِ يَرْفَعُهَا إِلَى فِي امْرَأَتِهِ

Sangat menakjubkan perkara seorang muslim, karena semuanya merupakan kebaikan (kebahagiaan) apa bila dia mendapat nikmat dia bersyukur dan itu terbaik baginya dan jika ditimpa musibah dia bersabar dan itu yang terbaik baginya, dan tidaklah perkara ini berkumpul kecuali pada diri seorang muslim“ HR. Al-Baghawi.

Sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam ini memberikan sebuah sinyalemen bahwa salah satu jalan menuju kebahagiaan adalah menjadi seorang muslim yang beriman dengan takdirNya, di mana setiap apa yang menimpa kita itu sudah ditentukan. Ada beberapa langkah agar kita dapat mencapai puncak kebahagiaan :


Kebahagiaan berhubungan dengan pilihan

Jika kita diberi dua pilihan yang satu baik dan yang satu buruk tentu kita akan memilih yang baik, namun jika dua pilihan tersebut adalah baik semua, apa yang anda pilih? Ya... seseorang yang ingin meraih kebahagiaan harus bisa memilih hal-hal yang bersifat prioritas yaitu hal-hal yang harus didahulukan. Itulah hubungan antara kebahagiaan dengan pilihan, jadi ketika seseorang telah mampu memilih apa-apa yang menjadi prioritasnya maka dia telah menuju kebahagiaan itu.


Kebahagiaan dan kebiasaan

Kita semua mungkin mengetahui apa itu bahagia tapi bahagia tersebut tidak akan mungkin kita raih jika kita tidak menjadikannya kebiasaan. Yup... bagaimana agar bahagia itu menjadi kebiasaan? ada tiga langkah yang harus kita tempuh yang :

Pertama pengetahuan (ilmu) yaitu mengetahui tentang apakah sesuatu itu mendatangkan kebahagiaan atau tidak.

Kedua motivasi (ghirah) yaitu keinginan kita untuk melakukan amalan yang mendatangkan kebahagiaan.

Ketiga Keterampilan (skill/kasb) yaitu cara kita dalam menuju kebahagiaan itu.

Langkah-langkah tersebut harus kita praktekkan untuk membuat sebuah kebiasaan baru yaitu kebiasaan untuk selalu hidup berbahagia. Nah... ketika kita sudah terbiasa dengan kebiasaan yang positif (bahagia) maka anti tesisnya adalah kebiasaan negatif kita (kesedihan dll) akan hilang dengan izin Allah ta’ala.

a.         Kebahagiaan bukan berarti membahagiakan semua orang. Tepat sekali... bahwa kebahagiaan bukanlah berarti harus membahagiakan semua orang, Bill Cosby pernah mengatakan “Saya tidak tahu bagaimana caranya sukses, yang saya tahu adalah kegagalan terjadi ketika anda berusaha menyenangkan semua orang“, itu kata orang Amrik bagaimana kata Islam? jelas ketika kita menyenangkan semua orang itu bukanlah sumber kebahagiaan bahkan bisa jadi itu adalah sumber malapetaka. Kebahagiaan adalah ketika anda dapat membahagiaan Pencipta anda yaitu Allah ta’ala, bagaimana caranya? dengan menjalankan syariat-Nya. Itulah sumber utama kebahagiaan.

Setelah kita tahu bagaimana agar hidup kita lebih berbahagia, maka tidak ada jawaban lain kecuali kita harus kembali kepada Islam karena itulah sumber kebahagiaan, sebagaimana firman-Nya :

اللهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللهِ ذَلِكَ هُدَى اللهِ يَهْدِي بِهِ مَن يَشَآءُ وَمَن يُضْلِلِ اللهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun. QS Az-Zumar : 23.

Nah.. dari sini cukup jelaskan kalau kita ingin bahagia seumur hidup berarti kita harus memilih kebiasaan untuk hidup bahagia. Sekarang saatnya kita membekali diri agar kita dapat menikmati hidup bahagia seumur hidup :

1.         Cerna Masalah. Hadapi masalah dengan bijak sesuai Syari’at

2.         Ikuti Fitrah Ilahi. Islam adalah Fitrah di mana manusia diciptakan

3.         Namai Emosi. Kendalikan hawa nafsu (emosi) anda, didik dengan Islam

4.         Tentukan Prioritas. Akhirat  adalah prioritas yang harus diutamakan

5.         Ambil Lembaran baru. Lupakan semua masa lalu, berhijrahlah.....

Menjadi Muslim yang Cerdas

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri



Dunia telah berubah ! itu adalah sebua fakta, sebenarnya bukan dunianya tapi penghuninya yang telah berubah, berubah dalam arti yang sangat luas, manusianya, pemikirannya,  akhlaknya, tingkah lakunya , dan secara luas gaya hidup mereka telah berubah. Lalu apakah kita akan ikut berubah ? sebagai seorang muslim kita tidaklah anti dengan perubahan, namun jika perubahan itu menyangkut tentang hal-hal yang sudah baku maka tidak ada dalam kamus Islam kata-kata perubahan itu. Lalu bagaimana sikap kita menghadapi perubahan itu ? ya.... tidak ada jalan lain kecuali kita harus lebih meningkatkan kecerdasan kita lebih khusus dalam bidang Dien ( keyakinan ) kita. 

Menjadi muslim yang cerdas itu adalah sebuah keniscayaan, cerdas dalam hal keduniaan dan cerdas dalam hal Akhirat, apakah bisa keduanya bersatu ? Bisa !!!  dan itulah tantangan kita yang hidup di abad XXI, generasi yang hidup diakhir zaman.  Ada beberapa metode agar kita tetap sanggup mengahdapi segala perubahan yang ada, satu diantaranya adalah kembali mempelajari Dien kita ini secara benar yaitu melihat bagaimana Islam itu diamalkan oleh generasi yang pertama kali menerima Islam. Ini bukan kemunduran justru akan mengajak kita menjadi musllim yang cerdas dan siap berperan di era global ini. Dengan merujuk kepada generasi terbaik ini kita tidak akan pusing ketika sebuah permasalahan datang menerpa kita. Berikut adalah bagaimana ciri-ciri agar kita menjadi Muslim yang cerdas :

  1. Seorang muslim yang cerdas tidak mungkin menjadikan sesuatu selain Dia sebagai tempat bersandar. Era mutakhir membawa manusia kepada pemikiran yang bersifat realistis, yaitu hanya melihat pada sesuatu yang nampak ( dhahir ) dan selalu menyandarkan segala sesuatunya kepada materi, kita mungkin sering mendengar seseorang yang mengeluh rezeqinya seret karena jualannya sepi, atau karena alat “ pengahsil “  uangnya macet, mereka hanya melihat kepada alat sementara permasalah rezqi telah diatur oleh Sang Pemberi rizqi. Muslim yang cerdas selalu menyandarkan semuanya kepada Rabbnya.
  2. Seorang Muslim yang cerdas tidak akan mau untuk membiarkan dirinya mengikuti pendapat orang lain yang tidak disertai dengan dalil lebih khusus dalam masalah agama, dia tidak mau menerima begitu saja sebuah amaln sebelum didatangkan kepadanya Hujjah yang shahih. Dalam masalah keduniaan ketika dia menerima sebuah berita maka dia tidak begitu saja menerima tapi dia akan mengeceknya secara ilmiyah. Itulah salah satu ciri dari muslim yang cerdas dia berdiri sendiri ( mandiri ) diatas dalil yang kuat.
  3. Tunduk dan Patuh. Sebenarnya tunduk dan patuh ini hanyalah kepada Alloh dan Rosul-Nya saja, hal sangat disadari oleh seorang muslim yang cerdas karena itu ketundukan kepada selain keduanya tidak akan pernah dia lakukan apa lagi menyangkut hal-hal yang bertentangan dengan syari’at Islam, misalnya aturan-aturan yang dibuat oleh manusia dll.
  4. Berfikir Kritis. Kritis dalam berfikir itu ciri dari muslim yang cerdas kritis dalam arti ketika ada sebuah amalan yang dikerjakan oleh manusia dan itu tidak ada dalam syari’at maka dia berusaha semaksimal mungkin untuk memberantasnya, hal berdasarkan firman Alloh ta’ala bahwa Islam itu sudah sempurna dan tidak perlu lagi adanya tambahan.
  5. Merasa diri Benar dalam Al-Haq. Mungkin kebanyakan dari kita tidak mau menyebutkan diri berada dalam kebenaran, tidak etis mungkin, namun ketika hal itu memang mempunyai pijakan yang kredibel maka tidak ada keraguan lagi tentang kebenaran itu. Dari sini juga jangan sampai ketika sebuah kebenaran dalail datang dari selain kelompok kita kita menolaknya. Muslim yang cerdas akan menerima setiap kebenaran walaupun datang dari se;lain golongannya atau bahkan dari musuhnya.

Sebenarnya masih banyak lagi cara bagaiman agar kita menjadi uslim yang cerdas namun karena waktu membatasi kita kami cukupkan sampai disini pembahasan kita. Dari pembahasan ini dapat kita simpulkan bahwa untuk mengahdapai era mutakhir ini maka tidak ada jalan lain kecuali kita mengamalkan Islam sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh generasi dimana Islam itu pertama kali uturun. Dengan mempedomaninya maka kita akanmampu untuk menjadi musllim yang cerdas yaitu muslim ang berpegang teguh kepada Islam yang mulia ini. 

Minggu, 12 Februari 2023

Implementasi Taqwa untuk Pribadi, Sosial dan Negara

Oleh: Dr. Abd Misno, SHI., SE., MEI



  1. Taqwa adalah mengoptimalkan seluruh potensi jiwa dan raga kita untuk mendapatkan Ridha dari Allah Azza wa Kalla.
  2. Fundamental Taqwa: Tauhid (keimanan) kepada Allah Ta'ala dalam Rububiyah, Uluhiyah dan Asma wa Sifat-Nya. 
  3. Implementasi Taqwa: Ucapan dengan Lisan dan Amal dengan Anggota Badan. 
  4. Taqwa dalam Kehidupan: Personal dan Sosial, Negara dan Kemanusiaan.
  5. Buah Taqwa: Negara: Berjuang mewujudkan Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur. Kemanusiaan: Menjadi muslim yang membawa Rahmat untuk semesta. 

Implementasi Taqwa secara pribadi adalah menjadi muslim kaafah, dan secara sosial, bangsa, negara dan kemanusiaan adalah menjadi rahmat untuk semesta. Wallahu a'lam, 10022023.

Kamis, 09 Februari 2023

Perfeksionis

By: https://chat.openai.com/

 


Perfeksionis adalah seseorang yang memiliki standar tinggi untuk diri mereka sendiri dan lingkungan mereka, dan bekerja keras untuk mencapai atau melebihi standar tersebut. Mereka biasanya memiliki tingkat kebiasaan dan dedikasi yang tinggi, dan sering menghabiskan waktu ekstra untuk memastikan pekerjaan mereka sempurna.

Perfeksionisme dapat menjadi sumber motivasi dan dapat membantu seseorang untuk mencapai prestasi yang luar biasa. Namun, jika tidak dikendalikan dengan baik, perfeksionisme dapat mempengaruhi kesehatan mental dan menyebabkan stres, kecemasan, dan depresi.

Untuk mengatasi perfeksionisme, beberapa cara yang dapat dilakukan adalah:

1. Menerima kesalahan: memperbolehkan diri untuk membuat kesalahan dan menerima mereka tanpa membebani diri dengan rasa sakit atau merasa gagal.

2. Menentukan prioritas: memfokuskan energi pada hal-hal yang paling penting dan mengurangi tekanan untuk melakukan semuanya dengan sempurna.

3. Mencari bantuan profesional: jika perfeksionisme mempengaruhi kesehatan mental, bantuan dari profesional seperti psikolog dapat membantu.

4. Menentukan standar yang realistis: memperkecil standar yang tidak realistis dan menentukan standar yang realistis dan dapat dicapai.

5. Menghargai diri sendiri: memperlakukan diri sendiri dengan belas kasih dan menghargai usaha dan upaya yang telah dicurahkan, meskipun hasilnya tidak sempurna.

Ingatlah bahwa perfeksionisme adalah sifat yang dapat dikendalikan dan dapat membantu seseorang untuk mencapai prestasi yang luar biasa, namun juga perlu dikendalikan dengan baik agar tidak mempengaruhi kesehatan mental.

 

Catatan by Misno

Perfeksionis sebagai satu sifat yang ada pada diri manusia dalam tataran tertentu diperbolehkan dalam Islam, sebagai contoh melakukan sesuatu dengan itqan yaitu sempurna dan professional. Namun sifat perfeksionis yang berlebihan akan mengakibatkan seseorang terlalu tinggi dalam berharap tanpa melihat kemampuan yang dimilikinya. Boleh saja memiliki visi yang jauh, akan tetapi tetap harus realistis dalam melihat keadaan. Sehingga kita tidak termasuk orang-orang yang Panjang angan-angan tanpa melihat kemampuan kita. Wallahua’lam, 09022023.

Cara Mengatasi “Baper”

By: https://chat.openai.com/

 


"Baper" adalah singkatan dari kata "terbawa perasaan". Baper sering terjadi ketika seseorang merasa sangat terlibat dan terpengaruh oleh perasaan dan situasi tertentu. Beberapa cara untuk mengatasi baper adalah:

1. Berkendara dari perasaan: berfokus pada hal-hal positif dan mencoba untuk memandang situasi dari sudut pandang yang berbeda.

2. Berbicara dengan teman atau keluarga: berbicara dengan orang yang dapat dipercayai tentang perasaan dan situasi yang sedang dialami dapat membantu mengatasi baper.

3. Melakukan kegiatan yang menyenangkan: melakukan kegiatan yang menyenangkan, seperti berkumpul dengan teman, membaca, atau berolahraga, dapat membantu memecahkan fokus dan mengatasi perasaan negatif.

4. Berkendara dari situasi: mencoba untuk menghindari situasi atau perasaan yang memicu baper dapat membantu mengatasi baper.

5. Bermeditasi atau berlatih relaksasi: bermeditasi atau berlatih relaksasi dapat membantu menenangkan pikiran dan memperbaiki mood.

Ingatlah bahwa baper adalah perasaan yang sementara dan dapat dikendalikan dengan mengambil tindakan yang tepat dan dukungan dari orang terdekat.

 

Catatan by Misno

Baper sebagai sifat dari manusia memang tidak bisa dihindari, khususnya mereka yang memiliki sifat lembut dan sensitif. Tidak selamanya baper itu negatif, banyak juga sisi positif yang menunjukan lembutnya hati seseorang.

Islam memandang bahwa boleh saja baper, tetapi tidak sampai kepada hal-hal yang melanggar agama, misalnya menangis dibolehkan karena ditinggal meninggal orang-orang terdekat. Hal yang tidak boleh adalah jika berduka secara berlebih-lebihan dengan menangis meraung-raung, memudharatkan diri hanya karena ada keluarga dekat yang meninggal. Demikian pula baper ketika membaca al-Qur’an atau mengetahui kebenaran sehingga dia menangis maka itu diperbolehkan.

Baper yang tidak diperbolehkan adalah ketika mengakibatkan dia terus berduka sehingga memudharatkan dirinya sendiri, demikian pula ketika kemudian melakukan hal-hal yang diharamkan dalam Islam karena baper-nya. Wallahua’lam, 09022023. 

Mengatasi Rasa Putus Asa

 By: https://chat.openai.com/

 


"Rasa putus asa" adalah perasaan kehilangan harapan dan keyakinan bahwa situasi akan membaik. Ini adalah perasaan yang umum dialami oleh banyak orang dan dapat mempengaruhi kesehatan mental dan fisik. 

Untuk mengatasi rasa putus asa, beberapa cara yang dapat dilakukan adalah:

1. Menjaga harapan realistis: berfokus pada hal-hal positif dan memperkecil harapan yang tidak realistis akan membantu mengatasi rasa putus asa.

2. Berkomunikasi dengan orang lain: berbicara dengan teman atau keluarga dapat membantu mengatasi perasaan dan memperoleh dukungan.

3. Mencari bantuan profesional: jika perasaan putus asa sulit dikendalikan, bantuan dari profesional seperti psikolog dapat membantu.

4. Menjaga kesehatan: menjaga pola hidup sehat, seperti berolahraga dan memiliki pola tidur yang baik, dapat membantu mengatasi rasa putus asa.

5. Melakukan kegiatan yang menyenangkan: melakukan kegiatan yang menyenangkan, seperti berkumpul dengan teman, membaca, atau berolahraga, dapat membantu mengatasi perasaan negatif.

Ingatlah bahwa rasa putus asa adalah perasaan yang sementara dan dapat dikendalikan dengan bantuan dan dukungan yang tepat.

 

Catatan oleh Misno

Islam memandang bahwa rasa putus asa adalah tabiat dari manusia, namun ia harus dilawan karena tidak sesuai dengan maqashid syariah (maksud dan tujuan syariah), salah satunya adalah menjaga akal manusia agar selalu berada pada posisi yang nyaman dan aman sebagaimana tujuan dari adanya agama Islam. Wallahua’lam, 09022023.

 

Selasa, 07 Februari 2023

Kontroversi Poligami 4.0

Assalamu’alaikum wr. wb.



Poligami selalu menjadi isu yang tidak pernah habis untuk dibahas, bahkan selalu mendatangkan kontroversi di tengah masyarakat.

Bagaimana sebenarnya poligami dalam timbahan Islam, hukum negara dan efek bagi keluarga dan masyarakat di dunia?

Temukan jawabannya dalam Webinar Internasional

 

Tema: Kontroversi Poligami 4.0

Pemateri:

1. Bpk. Mohamad Affendy Junaidi (Brunai Darussalam)

2. Bpk. Dr. Abdurrahman Misno, MEI (Indonesia)

3. Bpk. Nurhadi, S.Sos.I, M.H. (Indonesia)

Hari/Tgl: Selasa, 14 Februari 2023

Media: Zoom dan YouTube

 

Registrasi:

https://bit.ly/reg_poli-ga-mi

 

Karena poligami bukan sekadar mengikuti hawa insani, ia adalah aturan Ilahi, bukti betapa Islam memberi solusi bagi insani dan semesta ini…

 

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Sharia

Senin, 06 Februari 2023

Pernahkah Anda Merasa Hidup Terasa Hampa?

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri

 


Kehidupan manusia penuh dengan warna, terkadang suka cita menghampirnya, tidak jarang juga duka nestapa ada di depan mata. Sementara jiwa manusia juga terkadang merasakan bahagia tiada tara, namun tidak jarang juga hidup ini terasa hampa. Bagaimana kita menyikapinya?

Sebagian orang mencoba menutupi hampanya jiwa dengan bersenang-senang dengan berbagai kenikmatan dunia, padahal semua itu tidaklah menjadi jiwa tenang adanya. Bahkan akan cenderung semakin hampa, karena justru menjadi racun bagi jiwa manusia. Sebagian lainnya mencoba mendalami ilmu filsafat, dengan harapan fikirannya akan dipenuhi oleh kebijakan hidup yang diharapkannya. Sebagian lagi menghiasi diri dengan dzikir-dzikir atau menyendiri agar jiwa menjadi tenang dan tidak ada lagi hampa.

Faktanya, semua itu bukanlah jawaban dan solusi yang tepat bagi kehidupan manusia. Karena sejatinya, ketika jiwa dan hidup anda terasa hampa, maka ada sesuatu yang hilang dalam diri anda. Agama dan kepercayaan pada Sang Pencipta adalah obat bagi hampanya hidup manusia, karena ruang kosong dalam jiwa yang menjadi tempat bagi agama tidak terisi dengan selayaknya. Keyakinan dan kepercayaan akan adanya Allah Ta’ala sebagian Pencipta dan Sesembahan (Ilaah) adalah obat bagi hampanya jiwa.

Secara lebih spesifik lagi, hampanya jiwa adalah karena jiwa terkadang tidak yakin dengan kuasa dari Allah Ta’ala, tidak menerima qadha dan qadarNya hingga seringkali menyesali kuasa Allah Ta’ala atasnya. Kenyataan yang tidak sesuai dengan keinginan, atau kekhawatiran yang akhirnya menjadi kenyataan dan berbagai perasaan yang tidak diserahkan sepenuhnya kepada kuasa Allah Ta’ala adalah sebab utama hampanya jiwa. Demikian juga merasa diri paling sengsara di dunia, paling miskin di dunia, paling penuh dengan cobaan hingga penuh dengan segala kekurangan. Padahal Allah Ta’ala telah memberikan takdir yang terbaik bagi setiap manusia.

Allah Ta’ala tidak menginginkan hambaNya menjadi yang paling sengsara, paling miskin di dunia, paling jelek dibandingkan dengan lainnya. Tetapi Allah Ta’ala telah menciptakan manusia sesuai dengan proporsinya, takdirNya dan semua itu adalah baik adanya. Bagaimana jika ternyata sebabnya adalah orang lain yang ada di sekitar kita?

Jawabannya tidak jauh berbeda, bahwa semua yang menimpa kita adalah menjadi takdirNya, sehingga apapun yang terjadi itu sudah menjadi kuasaNya. Kita sebagai manusia tinggal menjalaninya, baik yang dzalim akan mendapatkan balasan adzab di dunia dan di akhirat serta bagi yang bersabar akan mendapatkan pahala yang besar di sisiNya. Inilah sejatinya ciri dari orang muslim, sebagaimana sabda dari Nabi Muhamamd Shalallahu alaihi wassalam:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” HR. Muslim.

Merujuk pada hadits ini, maka kita sebagai muslim mestinya tidak akan pernah merasa hampa karena ketika kenikmatan dan suka cita ada pada kita maka bersyukur kepada Allah Ta’ala adalah sumber pahala. Sedangkan apabila duka nestapa dan jiwa hampa maka bersabar dengannya dan berusaha untuk semakin dekat kepadaNya dengan menyerahkan sepenuh jiwa dan raga kepada Allah Ta’ala.

Sampai di sini, masihkan ada yang merasa hidupnya hampa? Solusinya adalah dengan meningkatkan keimanan kepada Allah Ta’ala, berdzikir dan berserah diri padaNya serta berusaha sekuat tenaga untuk menyikapi segala yang ada sesuai dengan syariahNya. Wallahu a’lam, 06022023.

Sabtu, 04 Februari 2023

Melawan Kekurangan Diri

 Oleh: Misno bin Mohamad Djahri

 


Salah satu dari hal yang selalu muncul dari kehidupan kita adalah kekhawatiran akan berbagai hal yang muncul dari kekurangan diri. Ya, banyak hal terjadi salah satu sebabnya adalah karena kekurangan diri yang mengakibatkan kita terkadang terpuruk atau berada dalam kesedihan yang mendalam. Banyak sekali kekurangan diri yang ada pada manusia, bahkan begitu banyaknya hingga terkadang seseorang lupa akan kekurangan diri yang ada. Bagaimana cara melawan kekurangan diri?

Setiap manusia diciptakan oleh Allah Ta’ala dengan segala kekurangannya, ada yang kekurangan dari sisi fisik dan penampilan ada juga yang terkait dengan perasaan dan kejiwaan. Kekurangan dari segi fisik biasanya akan terlihat jelas, anggota tubuh yang tidak sempurna atau memiliki kekurangan serta bentuk tubuh, muka dan perawakan yang “tidak sesuai” dengan apa yang dikehendaki oleh pemiliknya. sementara kekurangan dari sisi perasaan dan kejiwaan terkait dengan rasa mudah bersedih, mudah tersinggung, baperan atau malah mudah marah dan susah mengontrol emosi. Semua itu adalah kekurangan yang memang selalu ada pada diri manusia, betapapun di mata manusia ia seolah-olah sempurna.

Salah satu dari kekurangan diri yang nampak ringan tapi cukup berat apabila dirasakan adalah kekurangan dari sisi perasaan, yaitu baperan atau mudah tersentuh dan perasa. Ini terjadi pada perempuan dan laki-laki, baik muda ataupun tua. Bahkan seiring bertambahnya usia kadang perasaan mudah tersentuh, cepat sedih dan baperan serta lama melupakan hal-hal yang menggores perasaan. Sebagai contoh ketika ada orang lain yang berkata dengan nada tinggi hingga terasa menyakiti, maka perlu waktu lama untuk menyembuhkannya.

Sejatinya, apabila ada yang bertanya bagaimana mengatasi kekurangan diri ini? Maka jawabannya adalah pertama kuatkan keyakinan diri bahwa sudah tidak perlu lagi memikirkan hal-hal yang sejatinya belum tentu kebenarannya. Jangan pula terlalu memikirkan hal-hal terkait orang lain apalagi itu adalah masalah dunia saja. Yakinkan diri bahwa apapun yang dilakukan orang lain pada kita itu hanyalah ungkapan mereka saja, bisa jadi mereka memang karakternya seperti itu sehingga kita harus semakin mampu memahami karakter orang lain yang berbeda-beda. Selama kita berada dalam kebenaran maka kuatkan keyakinan kita. Kalaupun tanpa sengaja melakukan kesalahan maka hadapi dengan penuh tanggungjawab. Jangan pernah takut pada manusia, apalagi kalau kita benar atau tidak ada unsur kesengajaan ketika melakukan kesalahan. Biarkan semua berjalan seiring kuasa ar-Rahman.

Lawanlah kekurangan diri itu, dengan iman dan takwa serta keyakinan akan kuasa dari Allah Ta’ala, apabila sulit secara drastic dilakukan maka perlahan kekurangan-kekurangan itu kita minimalisir. Teruslah berusaha untuk memahami orang lain, menerima kekurangan mereka dan berusaha untuk selalu istiqamah di jalanNya. Mudah-mudahan Allah Ta’ala memberikan kepada kita inayahNya sehingga kita mampu melawan kekurangan diri kita, tentu saja semua itu atas kuasaNya. La Haula wa Laa Quwwata illa billah… 04022023.

Rabu, 01 Februari 2023

Jangan Cari Penyakit di Media Sosial

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri

 


Manusia dengan segala potensi yang ada selalu melakukan hal-hal yang dapat memenuhi kebutuhan dirinya, baik kebutuhan material dan spiritual. Upaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya terkadang tidak memedulikan aturan agama dan budaya, sehingga yang terjadi adalah kerusakan baik untuk dirinya sendiri ataupun orang lainnya. Bagaimana jika kerusakan yang terjadi karena pemenuhan kebutuhan terkait dengan hasrat dan gejolak raga manusia?

Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa manusia selalu berupaya memenuhi semua kebutuhannya, termasuk kebutuhan hasrat biologis yang begitu kuat bergejolak di raga. Ia akan mencari obyek yang dapat memenuhi kebutuhannya, dan agama telah memberikan solusi yang sangat mulia yaitu memiliki pasangan dari jenis manusia lainnya. Sayangnya ada seribu satu sebab yang menjadikan kadang-kadang  salah satu dari pasangan memenuhi kebutuhan biologisnya di luar yang sudah ditetapkan. Apalagi dengan media sosial yang menyediakan semaunya, maka dengan mudah setiap orang untuk mencari apa yang dia inginkan.

“Jangan Cari Penyakit”, adalah sebuah kata yang menggambarkan nasehat seorang teman yang memahami kekurangan kita karena terkadang masih mencari kepuasan lain di luar sana khususnya melalui media sosial. Sayangnya saat ini memang banyak manusia baik muda maupun tua yang telah terjerat ke dunia media sosial, sehingga mereka sangat betah berlama-lama di sana. Apalagi jika apa yang dia cari memang ada di sana, tersedia kapan saja, dan berbagai sajian yang memberikan kepuasan jiwa dan raga.

“Jangan Cari Penyakit”, bermakna mencari-cari hal-hal yang dapat memuaskan raga tanpa melihat efek negatif darinya. Berbagai penyakit lahir ataupun batin adalah sebab dari upaya yang dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhannya tanpa melihat etika agama dan budaya. Belum lagi candu yang mengakibatkan ia terjerat dengan kepuasan sementara padahal masih banyak hal lain yang bisa dilakukannya. Belum lagi membuang waktu sia-sia di depan media sekadar memuaskan segala keinginannya.

“Jangan Cari Penyakit”, gunakanlah media sosial sesuai dengan fungsinya, melandasinya dengan iman dan takwa serta menjadikannya sebagai media dalam menyebarkan kebaikan dan mencegah perbuatan yang mungkar secara agama dan budaya. Faktanya, walaupun kita tidak berniat mencari-cari sesuatu yang tidak baik di media sosial, faktanya ia juga datang tanpa diundang apalagi dengan rumus al-goritma setiap yang kita klik akan diperhitungkan dan menjadi analisis untuk menghadirkan berbagai tayangan yang diprediksi sesuai dengan selera kita. Maka berhati-hatilah dan menyukai (like) atau mengklik sesuatu karena akan menjadi boomerang bagi kita.

“Jangan Cari Penyakit”, karena tanpa dicaripun ia akan datang di media sosial kita. Maka solusinya adalah kuatkan iman dan takwa serta berdoa agar kita mampu menggunakan media sosial dengan bijak sehingga dapat menghantarkan kita ke dalam surgaNya. Wallahu a’lam, 01022023.