Kamis, 29 Desember 2011

Rekonstruksi Sejarah Muslim Papua - Majelis Penulis

Rekonstruksi Sejarah Muslim Papua - Majelis Penulis

Kerajaan Islam yang Tenggelam di Tanah Papua


Oleh : Adi Satria


Siapa nyana, Papua pernah diterjang tsunami yang menenggelamkan sebuah Kerajaan besar Islam. Yang terselamatkan hanyalah mushaf tua. Kini, mushaf yang hilang itu telah kembali.

Ada hal yang menarik, saat Sabili melakukan perjalanan jurnalistik ke Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Dari sejumlah tokoh masyarakat yang dijumpai, ternyata, tak ada keseragaman pendapat saat mereka bercerita tentang sejarah masuknya Islam di Tanah Papua. Acapkali terjadi perdebatan panjang dari berbagai kalangan, baik masyarakat, agamawan maupun akademisi.

Pembentukan Panitia Seminar Penetapan Sejarah Masuknya Agama Islam di Bumi Papua, khususnya di Kabupaten Fakfak, nampaknya menemui jalan buntu. Hal tersebut disebabkan kurangnya dukungan data/fakta otentik, baik pada tataran penyebarannya maupun pada fase perkembangannya.

Sebagai sebuah kota yang mayoritas penduduknya beragama Islam, masyarakat Fakfak memerlukan sebuah dokumen sejarah untuk dapat mengungkapkan tentang masuknya agama Islam di Kabupaten Fakfak sehingga dapat memperkuat eksistensi serta peran Islam di Kabupaten Fakfak, sekarang dan masa yang akan datang.

Ketika bicara tentang wilayah manakah di Tanah Papua yang pertama kali mendapat sentuhan syiar Islam, banyak versi yang mengungkapnya, masing-masing wilayah punya cerita yang berbeda. Karena itu perlu di telusuri jejak historisnya dengan melakukan penelitian ilmiah dan studi-studi intensif, bukan berdasarkan pandangan masyarakat yang telah di pengaruhi oleh pemikiran mistik atau cerita-cerita rakyat (legenda) dan paham-paham (mitos) yang dapat mengaburkan Historiografi Islam di Tanah Papua.

Ketiadaan literatur tertentu tentang Historiografi Islam di Tanah Papua untuk memahami proses penyebaran dan perkembangannya, mendorong para peneliti menelusuri catatan-catatan sejarah yang ditulis oleh para ilmuwan Islam dan non-Muslim (Barat) ihwal penyebaran agama Islam di bumi cendrawasih ini. Setidaknya, catatan-catatan perjalanan itu dapat dijadikan referensi awal dalam penyusunan Historiografi Islam di Tanah Papua.


Perjalanan Mushaf Tua

Sebelum wafat, Syekh Iskandar Syah (Sultan Kerajaan Pasai) mengamanatkan kepada keturunannya agar mengembalikan mushaf (al-qur’an) kepada keturunan Raja Patipi di Papua (ketika itu disebut Kerajaan Mes). Seorang keturunan Iskandar Syah yang bernama Burhanudin, kemudian menyerahkan mushaf itu ke Jakarta melalui Ustadz Fadzlan Garamatan setelah menghilang selama kurang lebih 800 tahun. Kini mushaf tua itu disimpan oleh H Ahmad Iba di kediamannya di Fakfak. Ahmad Iba adalah Raja Patipi ke-XVI yang diamanahkan untuk menyimpan lima buah manuskrip berbentuk kitab dengan berbagai ukuran.

Yang terbesar berukuran sekitar 50x40 cm, berupa mushaf al-qur’an tulisan tangan. Mushaf itu ditulis di atas kulit kayu yang dirangkai menjadi seperti sebuah kitab di zaman sekarang. Empat lainnya, salah satunya bersampul kulit rusa, merupakan kitab hadits, ilmu tauhid dan kumpulan doa. Ada “tanda tangan” dalam kitab itu berupa gambar tapak tangan dengan jari terbuka. Tapak tangan yang sama juga dijumpai di Teluk Etna (Kaimana) dan Merauke.

Sedangkan tiga kitab berikutnya dimasukkan ke dalam buluh bambu dan ditulis di atas daun koba-koba, pohon asli Papua yang kini mulai punah. Ada pula manuskrip yang ditulis di atas pelepah kayu, mirip manuskrip daun lontar, di Fakfak disebut daun pokpok.

Berdasarkan cerita turun temurun, lima manuskrip pertama diyakini masuk ke Papua tahun 1214. Dalam rangka penyebaran agama Islam, kitab-kitab itu dibawa oleh Syekh Iskandar Syah dari Kerajaan Samudera Pasai di Aceh yang datang menyertai rombongan ekspedisi Kerajaannya ke wilayah timur. Mereka masuk lewat Mes yang berada di wilayah Kerajaan Teluk Patipi saat itu. Jika diperkirakan, al-qur’an itu sudah ada sejak 800 tahun yang lalu

Menurut Muhammad Sya’ban Garamatan (tokoh masyarakat Fakfak) yang didampingi oleh Ahmad Iba dan Fadzlan Garamatan, ketika Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7, Syekh Abdul Rauf yang merupakan putra ke-27 dari waliyullah Syekh Abdul Qadir Jailani dari Kerajaan Pasai mengutus Tuan Syekh Iskandar Syah untuk melakukan perjalanan dakwah ke Nuu War (Papua). Sekitar abad ke-12, 17 Juli 1224 , tibalah Syekh Iskandar Syah di Mesia atau Mes -- kini masuk wilayah Kabupaten Fakfak, tepatnya di distrik Kokas. Orang pertama yang diajarkan Iskandar Syah adalah seorang yang bernama Kriskris.

“Saat itu Syekh Iskandar Syah mengatakan, jika kamu maju, mau aman, mau berkembang, maka kamu harus mengenal Alif Lam Lam Ha (maksudnya Allah) dan Mim Ha Mim Dal (maksudnya Muhammad). Singkat cerita Kriskris mengucapkan dua kalimat syahadat. Tiga bulan kemudian, Kriskris diangkat menjadi imam pertama dan beliau sudah menjadi Raja di Patipi pertama.”

Jadi yang bawa mushaf ini, kata Sya’ban Garamatan, bukan Sultan Iskandar Syah. Tapi salah satu dari keturunannya, namanya sama, yakni Syekh Iskandar Syah. Sampai ke Teluk Patipi, mushaf ini sudah dalam bentuk seperti ini.

Beberapa tahun kemudian, masih abad ke-12, bencana alam tsunami menenggelamkan Mes, sehingga menyebabkan sebagian penduduk dan seluruh kerajaan Mes habis musnah, tak terkecuali masjid dan isinya tenggelam di dasar laut, kecuali mushaf al-qur’an dan sejumlah Kitab Fiqih-Tauhid. Yang menyelamatkan mushaf tersebut adalah Tuan Syekh Iskandar Syah.

Bagaimana al-qur’an ini bisa terselamatkan? “Kitab ini dibawa kembali ke Aceh oleh Iskandar Syah. Sebelum ke Aceh, konon, kitab ini sempat singgah di Maluku, tepatnya Kampung Sinisore. Menurut kepercayaan masyarakat kampung Sinisore, Islam masuk bukan dari Arab, tapi dari Papua. Bahkan, konon, mushaf ini juga sampai ke Kalimantan karena dianggap membawa berkah. Singkatnya, al-qur’an berikut dengan kitab tauhid dan fiqih terselamatkan, dan disimpan di Aceh oleh keturunan keluarga Syekh Iskandar Syah, bernama Burhanuddin.”

Menurut cerita, pasca bencana, Syekh Iskandar Syah kembali ke Mes tanpa membawa mushaf. Iskandar Syah kemudian wafat di sini, makamnya berada di Pulau Kokorap, Batu Kudus. Konon, ia sendiri yang menggali kuburnya, setelah itu wafat di tempat itu pula. Bahkan sebelum wafat, beredar cerita di masyarakat setempat, ia mandi dan mengkafani dirinya sendiri di dasar laut yang dalamnya mencapai 3 meter. Begitulah cara wafat pembawa al-qur’an pertama di Papua, tepatnya di Fakfak (distrik Kokas yang dulu bernama Mesia atau Mes).

“Pastinya, makam Syekh Iskandar Syah ada di dasar laut. Sebagai simbolik, dibuat makamnya di darat. Inilah bukti otentik Islam masuk ke Fakfak. Selama ini banyak daerah lain mengaku-ngaku Islam masuk ke wilayahnya, tapi tak punya bukti otentik,” tukas Sya’ban Garamatan.


Mushaf itu Telah Kembali

Setelah bencana, Kerajaan Mes kemudian terbentuk lagi, penduduk yang terselamatkan kemudian turun ke Teluk Patipi (awalnya disebut kampung Patupa, kini Patipi I). Seorang keturunan Syekh Iskandar Syah yang bernama Burhanuddin seperti mendapat petunjuk melalui mimpinya. Dalam mimpinya itu, Burhanudin didatangi leluhurnya dan memintanya agar mengembalikan mushaf itu ke Papua, tepatnya kepada anak keturunan Raja Kriskris, raja pertama yang menganut Islam di Papua dan kemudian menjadi imam di wilayahnya.

Kontak batin pun terjadi. Tanggal 17 Juli 2004, atau enam bulan sebelum musibah tsunami di Aceh (26 Desember 2004), Burhanudin bertemu dengan Ustadz Fadzlan Garamatan, dai asal Fakfak, yang menjadi wakil keluarga Raja Teluk Patipi. Saat itu, Jakarta disepakati sebagai tempat bertemu. Subhanallah, kedua keturunan raja itu pun seperti menemukan rangkaian yang selama ini mereka cari untuk melengkapi sejarah yang hilang.
Saat serah terima, Burhanudin menyatakan, ini amanat dari Tuan Syekh Iskandar Syah, sewaktu-waktu mushaf ini harus dikembalikan ke tempat asalnya. Selanjutnya, Ustadz Fadzlan menyerahkan mushaf ini kepada Ahmad Iba (Raja Teluk Patipi XVI) untuk disimpan dan dijaga dengan baik. “Kitab ini memang harus disimpan oleh keturunan Raja Patipi. Sebab, jika kitab ini dipegang dengan orang yang bukan ahli warisnya atau keturunannya, bisa-bisa orang itu jadi gila,” kata Ahmad Iba memperingati.

Siapa kira, mushaf itu kembali terselamatkan untuk kedua kalinya dari bencana alam tsunami Aceh. “Sejak tsunami menimpa Papua, tepatnya di wilayah Mes, kami sebagai masyarakat Muslim Papua sudah intropeksi diri sebelum bencana tsunami menimpa Aceh,” ujarnya. Wallahu a’lam bishshawab. 
(Adhes Satria/Sabili)

Masjid Patimburak : Saksi Bisu Islam di Papua

REPUBLIKA.CO.ID, FAK FAK--Islam diyakini telah ada di Papua jauh sebelum misionaris Nasrani masuk pulau paling timur Indonesia itu. Saksi bisu sejarah itu adalah Masjid Patimburak di Distrik Kokas, Fakfak. Masjid ini dibangun oleh Raja Wertuer I bernama kecil Semempe. 
Saat itu, tahun 1870, Islam dan Kristen sudah menjadi dua agama yang hidup berdampingan di Papua. Ketika dua agama ini akhirnya masuk ke wilayahnya, Wertuer sang raja tak ingin rakyatnya terbelah kepercayaannya. 
Maka ia membuat sayembara: misionaris Kristen dan imam Muslim ditantang untuk membuat masjid dan gereja. Masjid didirikan di Patumburak, gereja didirikan di Bahirkendik. Bila salah satu di antara keduanya bisa menyelesaikan bangunannya dalam waktu yang ditentukan, maka seluruh rakyat Wertuer akan memeluk agama itu. 
“Masjid lah yang berdiri pertama kali,” ujar juru kunci masjid itu, Ahmad Kuda. Maka raja dan seluruh rakyatnya pun memeluk Islam. Bahkan sang raja kemudian menjadi imam juga, dengan pakaian kebesarannya berupa jubah, sorban, dan tanda pangkat di bahunya. 
Arsitektur Masjid Patimburak sendiri tergolong unik. Dari kejauhan, masjid ini terlihat seperti gereja. Kubahnya mirip gereja-gereja di Eropa masa lampau. Namun ada empat tiang penyangganya di tengah masjid, menyerupai struktur bangunan Jawa. Interior dalamnya pun hampir sama dengan masjid-masjid di Pulau Jawa yang didirikan oleh para wali. 
asjid itu kini masih berdiri megah di pinggir teluk Kokas, setengah jam perjalanan dengan perahu bermotor dari dermaga Kokas. Lubang bekas peluru sisa-sisa serbuan pasukan Belanda dibiarkan utuh.
Kapan persisnya Islam masuk ke Papua memang tak pernah terekam dengan jelas. Pemerintah Kabupaten Fakfak pernah mengadakan beberapa kali seminar membahas tentang hal ini. Petunjuk hanya mengarah pada bahwa pada abad XV Islam sudah ada di Fakfak, namun kapan tepatnya dienullah itu menerangi warga Papua, tak ada catatan pasti. 
Fakta lain disodorkan Raja Teluk Patipi XVI yang bernama kecil H Ahmad Iba. Dari ruang pribadinya – rumahnya berdinding papan di sudut kota Fakfak, Papua Barat – dia mengeluarkan sebuah buntalan putih besar. Isinya: delapan manuskrip kuno berhuruf Arab. 
Lima manuskrip berbentuk kitab dengan berbagai ukuran. Yang terbesar berukuran sekitar 50 X 40 cm, berupa mushaf Alquran tulisan tangan di atas kulit kayu yang dirangkai. Empat lainnya, salah satunya bersampul kulit rusa, merupakan kitab hadis, ilmu tauhid, dan kumpulan doa. Ada “tanda tangan” dalam kitab itu, berupa gambar tapak tangan dengan jari terbuka. 
Sedang tiga kitab berikutnya, ini dia: dimasukkan ke dalam buluh bambu dan ditulis di atas daun koba-koba, pohon asli Papua yang kini mulai punah. Sekilas, mirip manuskrip daun lontar yang banyak dijumpai di berbagai wilayah Indonesia Timur. 
Lima manuskrip pertama diyakini masuk ke Papua tahun 1214-an, berdasar cerita turun-temurun. Kitab-kitab itu dibawa oleh Syekh Iskandarsyah dari Kerajaan Samudera Pasai di Aceh yang datang menyertai rombongan ekspedisi kerajaannya ke wilayah timur. Mereka masuk lewat Mes, ibukota Kerajaan Teluk Patipi saat itu. 
Kenapa yakin dengan tahun itu? “Di Mes di masa lalu pernah ditemukan gambar tapak tangan yang detilnya mirip dengan gambar yang sama di manuskrip Alquran kuno berangka tahun sama,” ujar Raja Teluk Patipi XVI. Tapak tangan yang sama juga dijumpai di Teluk Etna (Kaimana) dan Merauke. 
Ia mendapat cerita dari kakek buyutnya, lagi-lagi cerita turun-temurun, yang menyebut sebuah tsunami besar pernah menyapu bersih Mes – itu pula yang membuat ibu kota kerajaan itu dipindahkan ke Teluk Patipi. Dalam musibah itu, seluruh harta benda habis, “Termasuk kitab-kitab ajaran alif lam lam ha (maksudnya ejaan Allah, ajaran Islam adalah memerintahkan manusia menyembah Allah, red),” ujarnya.
Namun yang pasti Islam memang masuk pertama kali di bagian barat Papua. Di Fak Fak, jumlah Muslim hampir separuh populasi. Muslim-Kristen selama berabad-abad hidup berdampingan secara damai. "Semua agama mengajarkan kasih sayang dan perdamaian, sama dengan ajaran nenek moyang kami," ujar Iba. 
Saksi bisu sejarah Islam, Masjid Patimburak, hingga kini masih difungsikan sebagai tempat ibadah 36 kepala keluarga dengan 147 jiwa yang tinggal di sekitarnya. “Dulu di sini ramai, tapi satu-satu mereka pergi,” ujar Daud Iba, sekretaris kampung (desa) Patimburak. Saksi sejarah itu makin tua dan kesepian.
Redaktur: Siwi Tri Puji B

Sejarah Masuknya Islam Ke Papua

Oleh : Ali Atwa


Menurut HJ. de Graaf, seorang ahli sejarah asal Belanda, Islam hadir di Asia Tenggara melalui tiga cara:Pertama, melalui dakwah oleh para pedagang Muslim dalam alur perdagangan yang damai; kedua, melalui dakwah para dai dan orang-orang suci yang datang dari India atau Arab yang sengaja ingin mengislamkan orang-orang kafir; dan ketiga, melalui kekuasan atau peperangan dengan negara-negara penyembah berhala.
Dari catatan-catatan yang ada menunjukkan bahwa kedatangan Islam di tanah Papua, sesungguhnya sudah sangat lama. Islam datang ke sana melalui jalur-jalur perdagangan sebagaimana di kawasan lain di nusantara. 
Sayangnya hingga saat ini belum ditentukan secara persis kapan hal itu terjadi. Sejumlah seminar yang pernah digelar seperti di Aceh pada tahun 1994, termasuk yang dilangsungkan di ibukota provinsi Kabupaten Fakfak dan di Jayapura pada tahun 1997, belum menemukan kesepakatan itu. Namun yang pasti, jauh sebelum para misionaris menginjakkan kakinya di kawasan ini, berdasarkan data otentik yang diketemukan saat ini menunjukkan bahwa muballigh-muballigh Islam telah lebih dahulu berada di sana. 
Aktivitas dakwah Islam di Papua merupakan bagian dari rangkaian panjang syiar Islam di Nusantara. Menurut kesimpulan yang ditarik di dalam sebuah seminar tentang masuknya Islam ke Indonesia, Medan 1963, Islam masuk ke Indonesia sudah sejak abad ke-7 dan ke-8 Masehi. Di mana daerah pertama yang didatangi oleh Islam adalah pesisir Utara Sumatera, dan setelah berkembangnya para pemeluk Islam, maka kerajaan Islam yang pertama di Indonesia ialah Kerajaaan Perlak, tahun 840. 
Perkembangan agama Islam bertambah pesar pada masa Kerajaan Samudera Pasai, sehingga menjadi pusat kajian Agama Islam di Asia Tenggara. Saat itu dalam pengembangan pendidikan Islam mendapatkan dukungan dari pimpinan kerajaan, sultan, uleebalang, panglima sagi dan lain-lain. Setelah kerajaan Perlak, berturut-turut muncul Kerajaan Islam Samudera Pasai (1042), Kerajaan Islam Aceh (1025), Kerajaan Islam Benua Tamiah (1184), Kerajaan Islam Darussalam(1511).

Sebagian ahli sejarah berpendapat bahwa sebelum tahun 1416 Islam sudah masuk di Pulau Jawa. Penyiaran Islam pertama di tanah jawa dilakukan oleh Wali Songo (Wali Sembilan). Yang terkenal sebagai orang yang mula-mula memasukkan Islam ke Jawa ialah Maulana Malik Ibrahim yang meninggal tahun 1419. Ketika Portugis mendaratkan kakinya di pelabuhan Sunda Kelapa tahun 1526, Islam sudah berpengaruh di sini yang dipimpin oleh Falatehan. Putera Falatehan, Hasanuddin, pada tahun 1552 oleh ayahnya diserahi memimpin banten.
Di bawah pemerintahannya agama Islam terus berkembang. Dari Banten menjalar ke Sumatera Selatan, Lampung dan Bengkulu. Juga di pula Madura agama Islam berkembang.
Pada pertengahan abad ke-16 penduduk Minangkabau memeluk Islam begitu juga di Gayo Sumatera Utara. Ketika Sultan Malaka terakhir diusir oleh Portugis, ia menetap di Pulau Bintan, yang kala itu sudah menjadi negeri Islam (1511).
Pada tahun 1514, sebagian penduduk Brunai di Kalimantan sudah memeluk agama Islam. Bahkan pada tahun 1541, raja Brunai sendiri masuk Islam. Di Kalimantan Barat, Sambar, yang menjadi bawahan negeri johor, penduduknya sudah masuk Islam pada pertengahan abad ke-16. Di bagian selatan Kalimantan yang tadinya merupakan wilayah kekuasaan Kejaraan Majapahit, setelah Majapahit ditaklukan oleh Kerajaan Islam Demak. Masuknya Islam di Banjarmasin sekitar tahun 1550, dan pada tahun 1620 di Kotawaringin telah terdapat seorang raja yang memeluk agama Islam. 
Pada tahun 1600 Kerajaan Pasir dan Kutai telah menjadi daerah Islam. Seabad kemudian menyusul Kerajaan Berau dan Bulungan. Di Sulawesi raja Goa tahun 1603 masuk Islam. Selanjutnya raja Goa mengislamkan daerah-daerah di sekitarnya seperti Bone [1606], Soppeng [1609], Bima (1626), Sumbawa (1626) juga Luwu, Palopo, mandar, Majene menjadi daerah Islam.
Di wilayah Sulawesi Utara mulai dari Mandar sampai Manado pada pertengahan abad ke -16 menjadi bawahan Kerajaan Ternate yang rajanya adalah seorang Muslim. Atas ajakan raja Ternate, raja Bolaang Mongondow memeluk Islam. Terus ke timur di kepulauan Maluku pada mula abad ke-16 telah memiliki kerajaan Islam yakni Kerajaan Bacan. Muballigh dari kerajaan Ini terus mendakwahkan Islam ke kawasan tetangganya di Papua melalui jalur perdagangan. 

Sejak Zaman Kerajaan Majapahit
Seorang Guru Besar Bidang Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang, Dr. Moehammad Habib Mustofo, yang sekaligus Ketua Asosiasi Ahli Epigrafi Indonesia (AAEI) Jawa Timur menjelaskan bahwa dakwah Islam sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit.
Apalagi dengan diketemukanya data artefakt yang waktunya terentang antara 1368-1611M yang membuktikan adanya komunitas Muslim di sikitar Pusat Keraton Majapahit, di Troloyo, yakni sebuah daerah bagian selatan Pusat Keraton Majapahit yang waktu itu terdapat di Trowulan.

Situs Islam di Troloyo sudah dikenal sejak abad XIX, namun para ilmuwan meragukan kepentingan nisan-nisan itu sebagai salah satu sumber primer yang penting berkaitan dengan islamisasi di Jawa. 
L.W.C. van den Berg, pada laporannya tertanggal 1 Februari 1887 tentang data epigrafi Arab di Situs Troloyo meragukan keasliannya, karena tulisan Arabnya yang kasar dan banyak salah tulis. Selanjutnya ia berpendapat bahwa inskripsi Arabnya sengaja ditambahkan kemudian pada artefak yang berisi tahun saka itu (Damais, 1957:365).
Pendapat lain dikemukakan oleh Veth, yang memperkirakan bahwa nisan-nisan tersebut berasal dari bagu candi. N.J. Krom menyatakan sittus Troloyo tidak mempunyai nilai arkeologis(Krom, 1923:184).
Sikap para sarjana terhadap temuan di Troloyo tersebut mulai berubah sejak tahun 1942.W.F. Stuterheim yang menjabat sebagai kepala Oudheidkundig Diens, menjelang penduddukan Jepang di Indonesia mengajak L.C. Damais ke Situs Troloyo. Stuterhem mengharapkan temuan Damais, yang seorang antropolog berkebangsaan Perancis itu akan menambah pengetahuan baru dalam arkeologi Islam. Hasil penelitian Damais itu baru dipublikasikan pada tahun 1957.
Dari hasil penelitian Damais didapat pandangan yang menarik karena di sana didapati suatu interaksi antara komunitas Muslim saat itu dengan para penganut Hindu-Budha di bawah pemerintahan Majapahit.
Kesimpulan tersebut didasarkan atas studi huruf Jawa kuno dalam konteks makam Islam di daerah Troloyo tertulis tahun 1368-1611M. Kajian tentang huruf yang terdapat pada nisan Islam di Troloyo tersebut dapat disimpulkan bahwa bentuk angka Jawa kuno dipengaruhi oleh bentuk tulisan Arab yang serba tebal dan besar.
Kajian oleh L.C. Damais dan de Casparis dari sudut paleografi membuktikan bahwa telah terjadi saling pengaruh antara dua kebudayaan yang berbeda (yakni antara Hindu-Budha-Islam) pada awal perkembangan Islam di Jawa Timur. Melalui data-data tersebut, Habib ingin menjelaskan bahwa sesungguhnya dakwah Islam sudah terjadi terjadi jauh sebelum keruntuhan total kerajaan Majapahit yakni tahun 1527M. Dengan kata lain, ketika kerajaan Majapahit berada di puncak kejayaannya, syiar Islam juga terus menggeliat melalui jalur-jalur perdagangan di daerah-daerah yang menjadi kekuasaan Majapahit di delapan mandala (meliputi seluruh nusantara) hingga malaysia, Brunei Darussalam, hingga di seluruh kepulauan Papua. 
Masa antara abad XIV-XV memiliki arti penting dalam sejarah kebudayaan Nusantara, di mana pada saat itu ditandai hegemoni Majapahit sebagai Kerajaan Hindu-Budha mulai pudar. Se-zaman dengan itu, muncul jaman baru yang ditandai penyebaran Islam melalui jalar perdagangan Nusantara.
Melalui jalur damai perdagangan itulah, Islam kemudian semakin dikenal di tengah masyarakat Papua. Kala itu penyebaran Islam masih relatif terbatas di kota-kota pelabuhan. Para pedagang dan ulama menjadi guru-guru yang sangat besar pengaruhnya di tempat-tempat baru.
Sebagai kerajaan tangguh masa itu, kekuasaan Kerajaan Majapahit meliputi seluruh wilayah Nusantara, termasuk Papua. Beberapa daerah di kawasan tersebut bahkan disebut-sebut dalam kitab Negarakertagama, sebagai wilayah Yurisdiksinya. Keterangan mengenai hal itu antara disebutkan sebagai berikut: 
"Muwah tang i Gurun sanusanusa mangaram ri Lombok Mirah lawan tikang i Saksakadi nikalun kahaiyan kabeh nuwati tanah i bantayan pramuka Bantayan len luwuk teken Udamakatrayadhi nikang sanusapupul".
"Ikang sakasanusasanusa Makasar Butun Banggawai Kuni Ggaliyao mwang i [ng] Salaya Sumba Solot Muar muwah tigang i Wandan Ambwan Athawa maloko Ewanin ri Sran ini Timur ning angeka nusatutur".
Dari keterangan yang diperoleh dalam kitab klasik itu, menurut sejumlah ahli bahasa yang dimaksud "Ewanin" adalah nama lain untuk daerah "Onin" dan "Sran" adalah nama lain untuk "Kowiai". Semua tempat itu berada di Kaimana, Fak-Fak. Dari data tersebut menjelaskan bahwa pada zaman Kerajaan Majapahit sejumlah daerah di Papua sudah termasuk wilayah kekuasaan Majapahit.

Menurut Thomas W. Arnold : "The Preaching of Islam”, setelah kerajaan Majapahit runtuh, dikalahkan oleh kerajaan Islam Demak, pemegang kekuasan berikutnya adalah Demak Islam. Dapat dikatakan sejak zaman baru itu, pengaruh kerajaan Islam Demak juga menyebar ke Papua, baik langsung maupun tidak. 
Dari sumber-sumber Barat diperoleh catatan bahwa pada abad ke XVI sejumlah daerah di Papua bagian barat, yakni wilayah-wilayah Waigeo, Missool, Waigama, dan Salawati, tunduk kepada kekuasaan Sultan Bacan di Maluku. 
Catatan serupa tertuang dalam sebuah buku yang dikeluarkan oleh Periplus Edition, di buku “Irian Jaya”, hal 20 sebuah wadah sosial milik misionaris menyebutkan tentang daerah yang terpengaruh Islam. Dalam kitab Negarakertagama, di abad ke 14 di sana ditulis tentang kekuasaan kerajaan Majapahit di Jawa Timur, di mana di sana disebutkan dua wilayah di Irian yakni Onin dan Seran 
Bahkan lebih lanjut dijelaskan: Namun demikian armada-armada perdagangan yang berdatangan dari Maluku dan barangkali dari pulau Jawa di sebelah barat kawasan ini, telah memiliki pengaruh jauh sebelumnya. 
....Pengaruh ras austronesia dapat dilihat dari kepemimpinan raja di antara keempat suku, yang boleh jadi diadaptasi dari Kesultanan Ternate, Tidore dan Jailolo. Dengan politik kontrol yang ketat di bidang perdagangan pengaruh kekuasaan Kesultanan Ternate di temukan di raja Ampat di Sorong dan di seputar Fakfak dan diwilayah Kaimana. Sumber cerita rakyat mengisahkan bahwa daerah Biak Numfor telah menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Sultan Tidore.
Sejak abad ke-XV. Sejumlah tokoh lokal, bahkan diangkat oleh Sultan Tidore menjadi pemimpin-pemimpin di Biak. Mereka diberi berbagai macam gelar, yang merupakan jabatan suatu daerah. Sejumlah nama jabatan itu sekarang ini dapat ditemui dalam bentuk marga/fam penduduk Biak Numfor.
Kedatangan Orang Islam Pertama
Berdasarkan keterangan di atas jelaslah bahwa, masuknya Islam ke Papua, tidak bisa dilepaskan dengan jalur dan hubungan daerah ini dengan daerah lain di Indonesia. Selain faktor pengaruh kekuasaan Kerajaan Majapahit, masuknya Islam ke kawasan ini adalah lewat Maluku, di mana pada masa itu terdapat kerajaan Islam berpengaruh di kawasan Indonesia Timur, yakni kerajaan Bacan.

Bahkan keberadaan Islam Bacan di Maluku sejak tahun 1520 M dan telah menguasai beberapa daerah di Papua pada abad XVI telah tercatat dalam sejarah. Sejumlah daerah seperti Waigeo, Misool, Waigama dan Salawati pada abad XVI telah mendapat pengaruh dari ajaran Islam. Melalui pengaruh Sultan Bacan inilah maka sejumlah pemuka masyarakat di pulau-pulau tadi memeluk agama Islam, khususnya yang di wilayah pesisir. Sementara yang dipedalaman masih tetap menganut faham animisme. 
Thomas Arnold yang seorang orientalis berkebangsaan Inggris memberi catatan kaki dalam kaitannya dengan wilayah Islam tersebut: “…beberapa suku Papua di pulau Gebi antara Waigyu dan Halmahera telah diislamkan oleh kaum pendatang dari Maluku"

Tentang masuk dan berkembangnya syi'ar Islam di daerah Papua, lebih lanjut Arnold menjelaskan: “Di Irian sendiri, hanya sedikit penduduk yang memeluk Islam. Agama ini pertama kali dibawa masuk ke pesisir barat [mungkin semenanjung Onin] oleh para pedagang Muslim yang berusaha sambil berdakwah di kalangan penduduk, dan itu terjadi sejak tahun 1606. Tetapi nampaknya kemajuannya berjalan sangat lambat selama berabad-abad kemudian..."


Bila ditinjau dari laporan Arnold tersebut, maka berarti masuknya Islam ke daerah Papua terjadi pada awal abad ke XVII, atau dua abad lebih awal dari masuknya agama Kristen Protestan yang masuk pertama kali di daerah Manokwari pada tahun 1855, yaitu ketika dua orang missionaris Jerman bernama C.W. Ottow dan G.J. Geissler mendarat dan kemudian menjadi pelopor kegiatan missionaris di sana. (Ali Atwa, penulis buku “Islam Atau Kristen Agama Orang Irian (Papua). Sumber : 
http://www.papuabaratnews.com/index.php?option=com_content&view=article&id=1237:sejarah-masuknya-islam-di-papua&catid=43:unik&Itemid=403

Rekonstruksi Sejarah Muslim Papua


Oleh : Susiyanto

ISLAM MASUK PAPUA

Tidak mudah melacak jejak masuknya Islam ke Papua. Upaya penelusuran sejarah tersebut akan dihadapkan dengan berbagai temuan versi sejarah yang beragam. Bumi Papua sendiri telah sejak lama dikenal dalam rangkaian bumi nusantara. Dalam Kitab Negarakertagama pada masa Prabu Hayam Wuruk di Majapahit, misalnya Jazirah Onin (sekarang dikenal dengan nama Fakfak) disebutkan dengan nama Ewanim dan nama Sran digunakan untuk menyebut Beraur atau Bintuni. Beberapa teori dapat diketengahkan guna melihat secara pasti eksistensi Islam di Papua tersebut.
Teori pertama menjelaskan bahwa Islam telah masuk Papua dimulai abad XV atau bahkan sebelumnya. Buktinya, Islam telah hadir di Adijaya pada tahun 1420 dan hal tersebut diduga kuat memiliki hubungan erat dengan keberadaan Islam di Tunas Gain. Hal ini dapat dilihat bahwa seorang bernama Aria Way telah memeluk agama Islam pada tahun tersebut dan mengganti namanya menjadi Samay. Menurut FC Kama, seorang missionaris, berdasarkan sumber teks tertulis kerajaan Hindhu Majapahit, Islam bahkan telah berkembang sejak abad XIV dan XV sejaman dengan berkembangnya Islam di ternate dan Tidore. Bumi Papua, dalam teks Majapahit, dikenal sebagi wilayah surge bagi para budak dan sumber buah pala yang utama diantara pulau-pulau lainnya. Selain itu berdasarkan tradisi lesan ditemukan fakta tentang kehadiran mubaligh dari Aceh bernama Abdul Ghaffar di Fatagar Lama, Kampung Rumbati, Fakfak pada kurang lebih pada tanggal 8 Agustus 1360.
Teori kedua menyebutkan bahwa Islam masuk di Papua dimulai abad XVII dan XVIII. Hal ini berdasarkan dimulainya periode dakwah yang dilakukan oleh Sultan Iskandar Muda dari Aceh pada tahun 1618 di wilayah Teluk Beraur. Pada periode tahun 1746 sampai 1832 Raja Namatota dan Raja Komisi terjadi pembagian kampong terkait dengan penyebaran agama Islam dan Nashrani serta menumbuhkan nasionalisme lokal melawan intervensi asing.
Mengenai angka tahun persis masuknya Islam di Papua guna menyusun rekonstruksi sejarah tersebut direkomedasikan tahun 1360, 1420, 1608, dan 1618 sebagai awal masuknya Islam di Papua.

BUKTI PENINGGALAN SEJARAH

Bukti berupa tradisi lesan masih terjaga sampai hari ini berupa cerita dari mulut ke mulut tentang kehadiran Islam di Bumi Cendrawasih. Selain itu terdapat living monument yang lain berupa makanan Islam yang dikenal dimasa lampau yang masih bertahan sampai hari ini di Papua kuno di desa Saonek, Lapintol, dan Beo di distrik Waigeo. Belum lagi bukti-bukti tekstual berupa naskah dari masa Raja Ampat dan teks kuno lainnya di beberapa masjid kuno.
Sedangkan di Fakfak, Papua Barat masih dapat ditemukan delapan manuskrip kuno brhuruf Arab. Lima manuskrip berbentuk kitab dngan berbagai ukuran. Yang terbesar berukuran kurang lebih 50 x 40 cm, berupa mushaf Al Quran yang ditulis dengan tulisan tangan di atas kulit kayu dan dirangkai menjadi kitab. Sedangkan keempat kitab lainnya, salah satunya bersampul kulit rusa, merupakan kitab hadits, ilmu tauhid, dan kumpulan doa. Kelima kitab tersebut diyakini masuk pada tahun 1912 dibawea oleh Syekh Iskandarsyah dari kerajaan Samudra Pasai yang datang menyertai ekspedisi kerajaannya ke wilayah timur. Mereka masuk melalui Mes, ibukota Teluk Patipi saat itu.
Sedangkan ketiga kitab lainnya ditulis di atas daun koba-koba, Pohon khas Papua yang mulai langka saat ini. Tulisan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tabung yang terbuat dari bambu. Sekilas bentuknya mirip dengan manuskrip yang ditulis di atas daun lontar yang banyak dijumpai di wilayah Indonesia Timur.
Selain itu terdapat peninggalan berupa Masjid Patimburak yang didirikan di tepi teluk Kokas, distrik Kokas, Fakfak yang dibangun oleh Raja Wertuer I yang memiliki nama kecil Semempe. Pada masa itu, yaitu tahun 1870, Islam dan Kristen telah menjadi agama yang hidup berdampingan di Papua. Ketika kedua agama tersebut masuk ke wilayahnya, Raja Wertuer tidak ingin rakyatnya terpecah belah karena permasalahan kepercayaan. Maka beliau membuat sayembara menantang misionaris Kristen dan imam Muslim untuk mendirikan tempat ibadah masing-masing. Masjid didirikan di wilayah Patimburak, sedangkan gereja diwilayah Bahirkendik. Dalam sayembaranya Raja menetapkan tempat ibadah yang paling awal selesai dibangun akan diakui sebagai tempat ibadah dan agama resmi kerajaan beserta rakyat Wertuer. Akhir sayembra dapat diketahui, masjid lebih dahulu selesai sehingga sesuai janjinya Raja Wertuer I memeluk agama Islam diikuti oleh rakyatnya. Bahkan raja kemudian bertindak menjadi imam sholat dengan mengenakan pakaian kebesaran berupa jubah, sorban, dan tanda pangkat dibahunya. Masjid Patimburak, yang memiliki kubah mirip gereja Eropa pada masa lalu dan memiliki interior dalam mirip masjid yang didirikan para wali di Jawa tersebut, sampai saat ini masih dapat disaksikan di tepi Teluk Kokas, kurang lebih setengah jam perjalanan dengan perahu bermotor dari dermaga Kokas.

KEHIDUPAN SOSIAL

Dalam masyarakat Fakfak jarang terjadi pertentangan yang disebabkan permasalahan perbedaan keyakinan agama. Slogan adat ‘satu tungku tiga batu’ telah lama berkembang. Maksud slogan tersebut adalah kehidupan rakyat Fakfak ditopang oleh tiga agama yaitu Islam, Kristen, dan Katholik. Tiga batu yang dimaksud adalah ketiga agama tersebut yang bersatu sehingga menopang tungku agar tidak timpang.
Dalam masyarakat juga berkembang seni sawat yaitu orkes musik dengan tetabuhan yang terdiri dari rebana, tifa, seruling, dan gong kecil. Seni sawat tersebut pada masa lampau menjadi alat dakwah para da’i. Penduduk pribumi yang memutuskan menjadi muslim juga disambut dengan perayaan music sawat tersebt sampai hari ini. Tfa jelas music asli Papua, sedangkan rebana dan seruling para da’I muslim yang membawanya masuk ke Papua. Belakangan ini cara dakwah dengan sawat tersebut juga diadopsi oleh para missionaris Kristen asal Belanda di Fakfak. Namun kerukunan tetap terjaga di bumi Papua. Para da’i pun tidak berhenti berdakwah menjadi perantara rahmat Allah di Bumi Cendrawasih hingga hari ini. Catatan ini ditulis sebagai upaya mensitematisasi tulisan pada Tabloid Republika Dialog Jumat. 

Bukan Karena Tahun Baru



Oleh : Abu Aisyah

Majelis Penulis tampilan baru? tentu saja hal ini tidak ada kaitan sama sekali dengan Tahun Baru, kebetulan saja waktu liburan itu tiba dan ada sedikit waktu untuk mengganti theme dari Blog ini. Sebenarnya kami tidak mau mengganti theme dari Blog ini sebelumnya, karena kami tidak mau menghilangkan jasa dari Ikhwan yang telah dengan susah payah membuatkan theme dari Blog ini. Namun ternyata beberapa bagian dari Theme Blog ini mengalami corrupt dan tidak lagi nyaman untuk dipandang. Karena itu tanpa mengurangi rasa hormat untuk pembuat awal theme Blog ini kami mengganti dengan Theme baru yang dengan penuh perjuangan menggantikan theme sebelumnya. 
Ternyata mencari dan menentukan theme untuk sebuah blog tidak semudah yang dibayangkan, bukan karena susah dalam menerapkannya, namun lebih mencari theme yang cocok dengan misi dari Blog ini. Sebagaiimana diketahui Blog ini adalah milik siapa saja yang ingin menggoreskan pena dan menuliskan kebaikan dalam Islam yang akan bermanfaat bagi seluruh alam. Karena itu kami mencoba untuk mencari theme yang senafas dengan misi tersebut. Perjuangan lain dalam mengganti theme ini adalah karena salah satu dari Tim Majelis Penulis sedang sibuk-sibuknya melanjutkan kuliahnya di Strata 3 sehingga jumlah dari artikel ini agak sedikit berkurang. Beberapa anggota dari Majelis Penulis juga sedang sibuk menyelesaikan kuliah Strata 1 sehingga belum bisa kembali eksis di dunia penulisan. 
Mudah-mudahan Majelis Penulis tetap terus eksis dan memberikan yang terbaik bagi Islam dan Umat Islam, senantiasa menyebarkan kedamaian dan keselamatan serta nilai-nilai ukhuwah yang dibangun di atas Aqidah Islamiyah. Akhir kata semoga Blog ini menjadi media dalam beramal shaleh bagi seluruh Tim Majelis Penulis....  

Pendidikan Islam

Oleh : Husmiyati


Kita semua tahu bahwa manusia dilahirkan ke dunia untuk dididik, manusia didik adalah makhluk Tuhan yang ada dalam proses pertumbuhan rohaniah dan jasmaniah yang memerlukan bimbingan dan pengarahan melalui proses pendidikan. Anak sebagai generasi penerus adalah pewaris cita-cita perjuangan bangsa yang merupakan sumber daya manusia yang berkualitas. Sementara itu kita semua tahu bahwa anak-anak mempunyai hak dan kebutuhan hidup yang perlu dan harus dipenuhi yaitu hak kebutuhan makanan, gizi, kesehatan bermain, kebutuhan emosional, kebutuhan spiritual dan moral.
Dalam sebuah pendidikan juga perlu dilakukan proses belajar-mengajar, sementara itu pemerintah sudah menegaskan untuk wajib belajar bagi anak usia dini, setidaknya memperoleh pendidikan dasar sampai tamat atau yang biasa juga disebut dengan wajib belajar sembilan tahun. Akan tetapi karena krisis ekonomi yang melanda negara kita menyebabkan banyaknya anak-anak yang ekonominya kurang akhirnya putus sekolah, bahkan tidak sekolah sama sekali, terlebih lagi bagi anak-anak terlantar yang hidupnya di jalanan, anak-anak yatim dan anak yang kurang mampu. Bahkan pada usia mereka yang masih amat sangat muda sekali, mereka harus bekerja, memeras keringat, serta melawan panasnya matahari dan kejamnya dunia luar hanya untuk mendapatkan selsuap nasi sehingga mereka tak ada waktu untuk belajar ataupun bersekolah.
             Bagi mereka anak-anak yatim dan anak terlantar serta anak yang kurang mampu ekonominya, hidup adalah perjuangan melawan kemiskinan untuk mempertahankan hidup dan bisa memperoleh keempat dasar yang sesungguhnya harus ada pada diri mereka sejak dilahirkan yaitu:
1.      Kasih sayang
2.      Perlindungan
3.      Pendidikan, dan
4.      Hak-hak mereka yang lainnya.
Dengan keadaan mereka yang lemah dan fakir, maka negara kita wajib menyediakan dan menjamin pendidikan mereka serta mengurus dan memlindunginya sehingga dengan demikian mereka akan terhindar dari keberutalan, kerusakan moral, kemiskinan dan ketidakpedulian.
             Secara moral pemerintah juga telah mengambil sikap yang jelas terhadap persoalan ini. Hal ini jelas disebutkan dalam Undang-Undang Dasar 1945, yakni masalah hak warga negara dalam kelayakan hidup merupakan sub yang dapat perhatian serius, sebagaimana yang termaktub di dalam pasal 31, ayat 1 UUD 1945 yang berbunyi: “Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran”. Sedangkan bagi warga negara yang tergolong fakir miskin dipelihara oleh negara, hal ini juga dijelaskan dalam pasal 34 UUD 1945 yang berbunyi “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara” (UUD 1945, 1999: 9-10)
             Untuk merealisasikan isi dari UUD 1945, sebagaimana yang telah diuraikan di atas, pemerintah menyalurkan bantuan-bantuan sosial melalui Panti Asuhan, panti jompo, gerakan orang tua asuh, dan yang lainnya, yang berupa bantuan secara cuma-cuma untuk kesejahteraan hidup bagi warga negara yang kurang mampu. Sehingga seudah menjadi tanggung jawab kita terhadap generasi yang akan datang sebagaimana firman Allah SWT dalam lsurat An-Nisa ayat: 9, yang artinya:
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang meninggalkan mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatirkan akan kesejahteraan mereka, oleh karena itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah SWT, dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (Depag RI, 1993: 176)

             Takut di sini merupakan adanya rasa tanggung jawab kita terhadap generasi penerus yang akan datang. Islam merupakan syari’at Allah bagi manusia, sedangkan bekal bagi syari’at adalah manusia harus beribadah. Agar manusia mampu memikul dan merealisasikan amanat besar itu, syari’at itu membutuhkan pengalaman, pembinaan, dan pengembangan. Pembinaan dan pengembangan itulah yang dimaksudkan dengan pendidikan Islam.
             Melalui pendidikan Islam kita dapat menyelamatkan manusia dari penindasan dan pencampakan sistem materalisme. Lewat orang tua mereka, kita dapat menyelamatkan anak-anak yang kelaparan, kehinaan, ataupun yang dilanda bencana. Sedangkan bagi anak jalanan dan anak-anak terlantar mereka akan berlapang dada menerima apa yang ada dari jerih payah yang dilakukan di jalan-jalan supaya bisa mengenyam pendidikan dan untuk mendapatkan sesuap nasi, jika dibandingkan dengan anak-anak yang serba berkecukupan, baik dari segi pendidikan maupun kebutuhan yang lainnya dapat terpenuhi, lain halnya dengan mereka anak-anak yang hidup di jalanan dia akan merasa bangga dengan hasil keringatnya sendiri.
            Namun dalam menangani dan membina anak-anak terlantar dan anak jalanan bukanlah pekerjaan yang mudah dan sederhana seperti membina anak-anak di sekolah (siswa-siswi) pada umumnya, kita harus siap mental karena anak-anak yang akan dibina mempunyai latar belakang dan karakteristik yang berbeda.

Rabu, 28 Desember 2011

SURGA DAN KENIKMATANNYA

SURGA DAN KENIKMATANNYA
الجنــــــــــــــة و نعيمهـــــــــــــــــــــا

Surga adalah tempat hunian abadi orang-orang yang beriman dan beramal shalih yang didalamnya terdapat berbagai macam kenikmatan yang luar biasa yang belum pernah dilihat di dunia, belum pernah di dengar oleh telinga dan belum pernah dibayangkan oleh hati manusia. Mereka akan tinggal di istana-istana yang indah dan mereka kekal abadi di dalamnya. Itu adalah balasan Allah atas amal-amal shaleh yang pernah mereka kerjakan di dunia.
A. Tanahnya.
Rasulallah e bersabda: "Aku pernah masuk ke surga. Disana aku melihat cahaya mutiara dan tanahnya dari kesturi". (HR. Bukhari dan Muslim)
B. Sungai-sungainya.
Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa: di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khomr (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; …………..(QS.47:15)
C. Buah-buahan tidak mengenal musim dan dapat dipetik dari dekat.
“Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa ialah (seperti taman),, mengalir sungai-sungai didalamnya; buahnya tak henti-henti dan naungannya (demikian pula).Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertaqwa; sedang tempat kesudahan bagi orang-orang yang kafir ialah neraka”. (QS. 13:35)
D. Peralatan makan dan minum.
Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kaca, (yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari perak yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya. (QS. 76:15-16)
E. Pakaian dan perhiasan.
(Bagi mereka) surga 'Adn, mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya
mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera. (QS. 35:33)
F. Pembaringan mereka.
Di dalamnya ada pembaringan-pembaringan yang ditinggikan, gelas-gelas yang terletak (didekatnya), bantal-bantal sandaran yang tersusun, dan permadani-permadani yang terhampar. (QS. 88:13-16)
G. Bidadari.
Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik. (QS. 56:22-23)
H. Memandang wajah Allah I.
Rasulallah r bersabda: jika ahli surga telah masuk ke surga, maka Allah  berfirman: Apakah kalian suka aku tambahkan? Jawab mereka: bukankah telah Kau putihkan wajah – wajah  kami, bukankah telah Kau masukkan kami ke dalam surga, bukankah telah Kau selamatkan kami dari neraka?. Maka Allah pun membuka tirai hijabNya, hingga wajahnya terlihat oleh mereka. Maka tidak ada sesuatu yang lebih mereka sukai daripada memandang ke wajah Allah. (HR. Muslim)

Penghuni jannah kekal didalamnya, tidak pernah sakit dan tidak akam mati tidak beranjak usia mereka dari 33 tahun. Keringat mereka harum bak kesturi: tidak ada kesusahan sedikit pun juga. Mendapat kekuatan 100 orang dalam bersetubuh. Istri istri mereka selalu gadis. Wanita dunia yang masuk surga lebih cantik dari bidadari. Sangat cinta hanya kepada suaminya saja. Hati dan matanya tidak menoleh kepada laki – laki lain.
Penghuni jannah tidak ngantuk, tidak tidur, tidak berkotoran apapun dan tidak bersedih sedikitpun. Kenikmatan jannah tiadataranya,

Wahai kaum muslimin ingatlah bahwa jalan menuju ke surga itu penuh onak dan duri. Rasulallah e bersabda, "Neraka dikelilingi oleh syahwat (hawa nafsu) dan surga dikelilingi oleh kesulitan-kesulitan". (HR. Muslim).
Karena itu bersabarlah dalam meniti jalan Allah yang lurus, yang akan mengantarmu  ke surgaNya yang kekal abadi. Sabar dalam menjalankan perintahNya, menjauhi laranganNya dan menerima qodarNya

PERJALANAN KAFIR & FASIQ DI ALAM BARZAKH

PERJALANAN KAFIR & FASIQ
DI ALAM BARZAKH
رحلة الكافر في عالم البرزخ


Di makalah ini kita akan menyimak prihal orang kafir atau fasik dari sejak sakarat sampai kondisi terakhir dialam barzakh. Alam penantian datangnya hari kiamat, alam yang penuh kenikmatan dan penderitaan.
“Ketika seorang kafir sudah berada dipenghujung kehidupan dunia dan menyongsong akhirat, turunlah kepadanya malaikat – malaikat hitam wajah, dengan membawa masuh (pakaian dari bulu) dan duduklah mereka menghadapi nya sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut yang langsung duduk dekat kepalanya dan berkata: “wahai jiwa yang buruk, keluarlah kepada kemurkaandan kemarahan Allah”. Kemudian malaikat maut pun mencabut ruh itu seperti mencabut cakar besi yang bercabang cabang dari setumpuk kain wol yang basah.
Setelah ruh itu diambil oleh malaikat maut, malaikat – malaikat berwajah hitam itupun segera merebutnya dan meletakannya di dalam masuh. Keluarlah dari ruh itu bau busuk sebusuk bangkai terbusuk yang ada di bumi ini.
Para malaikat itu pun mengangkat ruh tsb menuju langit. Setiap meliwati sekumpulan malikat, yang dilewati berkata: “ruh busuk siapa ini.?” Merekapun menjawab: “fulan bin fulan” dengan menyebut nama terburuk yang pernah di sandangnya di dunia. Ketika mereka sampai kelangit dunia, merekapun minta dibukakan pintu, tetapi tidak dibukakan.
Kemudian Rasulullahpun membaca ayat:
“Tidak dibukakan untuk mereka pintu – pintu langit dan tidak akan mereka masuk surga sampai bisa seekor unta memasuki lubang jarum” ketika itu Allahpun berfirman: “tulislah buku catatan hambaku ini disijjin di bumi terbawah.” Kemudian dilemparkan ruh nya. Rasulullah pun membaca ayat: “barang siapa yang bersyirik (musyrik) kepada allah, seakan akan menukik dari langit dan disambar burung (besar) atau diterbangkan angin ketempat yang jauh”
Maka dikembalikanlah ruhnya ke jasadnya dan datanglah dua malaikat mendudukkan nya sambil bertanya: “siapa tuhanmu?” diapun menjawab: “Ha… Ha… aku tak tahu”. Kedua malaikat itu bertanya lagi: ”apa agamamu?” dia pun men jawab: “Ha… Ha… aku tak tahu” maka kedua malaikat itu pun lagi bertanya: “siapa pria yang diutus kepada kalian?” dia pun men jawab: “Ha… Ha… aku tak tahu”
Ketika itu terdengar seruan dari langit: “berdusta dia! Berilah dia pembaringan dari api neraka dan bukalah untuk nya pintu ke neraka” (Dari pintu itu) sampailah kepada nya panas neraka dan angin panasnya.  Kemudian disempitkan kuburnya sampai berantakan tulang rusuknya. Kemudian datang kepadanya seorang pria buruk wajahnya, buruk pakaiannya dan busuk baunya sambil berkata: “menderitalah engkau. Inilah hari yang engkau dijanjikan.” Maka si kafir pun berkata: “siapa engkau? Mukamu yang penuh dengan kejahatan” orang itu pun menjawab: “akulah amal burukmu” maka si kafirpun berkata: “wahai tuhan jangan kau jadikan hari ki amat.” (HR Ahmad, Abu Dawud, Al Hakim Dengan Syarat – Syarat Bukhori & Muslim)


Takhrij Hadits Pemungutan Zakat

Syarah dan Kritik dengan Metode Takhrij tentang Pungutan Zakat
(Hadis dari Abdullah bin ‘Amr)
الشرح و النقد علي طريقة التخريج  في الحديث عن اخذ الزكاة
( حديث عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو)


A.  TEKS HADITS
Syarah dan Kritik dengan metode takhrij (pembahasan) hadis tentang pungutan zakat bagi umat Islam Hadits dari Abdullah bin Amr,  dimulai dengan ditemukannya Hadits dalam kitab Takhrij Maudu’i Bulugh al-Maram Karya Ibn Hajar al-Asqalani, sebagai berikut :[1]
وَعَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ, عَنْ أَبِيهِ, عَنْ جَدِّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( تُؤْخَذُ صَدَقَاتُ اَلْمُسْلِمِينَ عَلَى مِيَاهِهِمْ )  رَوَاهُ أَحْمَد
Dari Amar Ibnu Syu`aib dari ayahnya, dari kakeknya Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Zakat kaum muslimin diambil di tempat-tempat sumber air mereka." Riwayat Ahmad.
Berdasarkan footnote di atas, maka Mashadir ashliyah nya adalah Musnad Ahmad.
Dilalah atau Tautsiq diawali dengan menggunakan Kitab Kamus Al-Jami’ al-Shagir susunan Al-Suyuti dengan menggunakan lafazh awal  تُؤْخَذُ صَدَقَاتُ diperoleh petunjuk sebagai berikut : [2]
Berdasarkan petunjuk diatas, maka Mashadir  Ashliyah nya adalah Musnad Ahmad dan Sunan ibnu Majah.
Dilalah dan Tautsiq selanjutnya memakai kitab kamus Al-Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-Hadis al-Nabawi karya A.J. Wensinck dengan menggunakan lafaz صَدَقَاتُ maka diperoleh petunjuk sebagai berikut[3] :
Berdasarkan petunjuk di atas maka  mashadir ashliyahnya adalah Sunan Ibnu Majah dan Musnad Ahmad.
Dilalah dan Tautsiq yang bersifat cek  ricek menggunakan CD Syamilah dengan proses :
1.      klik tab search (بحث) , kemudian muncul jendela شاشة البحث   
2.      selanjutnya pilih  بحث في النصوص   dan memasukan kalimat تُؤْخَذُ صَدَقَاتُ pada kolom ابحث عن حميع هذه العبارة  
3.      selanjutnya pilih kitab al-Mutun dan kitab al-Takhrij dan centang/klik pilihan المجموعة كلها  
4.      langkah selanjutnya adalah klik tab تنفيذ البحث   .
Dari proses tersebut maka diperoleh hasil pencarian bahwa Hadits tersebut terdapat dalam mashadir ashliyah sebagai berikut : Ibnu Majah, Musnad Ahmad, Sunan Al-Kubra dan Al-Munataqa Ibnu Jarud.

Rekapitulasi mashadirasliyah tertera pada daftar berikut :

NO
DILALAH
MASHADIR ASHLIYAH
1
Bulugh al-Maram
Musnad Ahmad
2
Al-Jami’ al-Shagir
Musnad Ahmad dan Sunan Ibnu Majah
3
Al-Mu’jam al-Mufahras
Musnad Ahmad dan Sunan Ibnu Majah
4
CD Maktabah Syamilah
Sunan Ibnu Majah, Musnad Ahmad, Sunan Al-Kubra dan Al-Al-Munataqa Al-Akhbar Ibnu Jarud.

Jadi Mashadir Ashliyah secara keseluruhan adalah :
1.      Musnad Ahmad  (164 H-241 H)
2.      Sunan Ibnu Majah Nasa’i (215-303 H)
3.      Shahih Ibn Khuzaimah (223-313 H)
4.      Sunan Al-Kubra   (W. 316 H)
5.      Al-Muntaqa Ibnu Jarud (W. 307 H)
Adapun hadis yang termaktub dalam mashadir ashliyah tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Sunan Ibnu Majah : Juz : 382  
حَدَّثَنَا أَبُو بَدْرٍ عَبَّادُ بْنُ الْوَلِيدِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُؤْخَذُ صَدَقَاتُ الْمُسْلِمِينَ عَلَى مِيَاهِهِمْ
2.                                                                               Musnad Ahmad 13:480
حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ حَدَّثَنَا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍوأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تُؤْخَذُ صَدَقَاتُ الْمُسْلِمِينَ عَلَى مِيَاهِهِمْ
3.                                                                              Sunan Al-Kubra Al-Baihaqi 4:110
(واخبرنا) أبو بكر بن فورك انبأ عبد الله بن جعفر ثنا يونس بن حبيب ثنا أبو داود حدثنا ابن المبارك عن اسامة بن زيد عن عمرو بن شعيب عن ابيه عن عبد الله بن عمرو ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال تؤخذ صدقات المسلمين عند مياههم أو عند افنيتهم
4.      Al-Muntaqa Al-Ahkam Abdul Hamid bin Jarud 1/399
حدثنا أبو حاتم الرازي محمد بن إدريس ، قال : ثنا عبد الله بن صالح بن مسلم العجلي ، قال : ثنا عبد الملك بن محمد بن أبي بكر ، عن عمه عبد الله بن أبي بكر ، عن عروة ، عن عائشة ، رضي الله عنها قالت : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « تؤخذ صدقات أهل البادية على مياههم وأفنيتهم »

B.     UNSUR HADITS, DAFTAR RAWI SANAD, DIAGRAM/SILSILAH SANAD
1.     Unsur Hadits
a.     Rawi Sanad
NO
MA
R1
R2
R3
R4
R5
R6
R7
R8
R9
1
Sunan Ibnu Majah
Ibnu Umar  

Ayahnya
Usamah bin Zaid
Ibnu Al-Mubarak
Muhammad bin Al-Fadhl
Abu Badr bin ‘Abad bin Walid
Ibnu Majah


2
Musnad Ahmad
Amr
Usamah bin Zaid
Abdullah bin Al-Mubarak
Abdushamad
Ahmad




3
Sunan Al-Kubra Al-Baihaqi
Abdullah bin ‘Amr
Ayahnya
Amr bin Syua’ib
Usamah bin Zaid
Ibnu Al-Mubarak
Abu Dawud
Yunus bin Habib
Abdullah bin Ja’far
Abu Bakar bin Furaq
4
Al-Muntaqa Al-Ahkam Abdul Hamid bin Jarud
Aisyah
Urwah
Abdullah bin Abu Bakar
Abdul Malik bin Muhammad Abu Bakar
Abdullah bin Sholeh bin Muslim Al-Ajjali
Abu Hatim Ar-Razi Muhammad bin Idris
Abdul hamid bin Jarud



b.    Matan
NO
MATAN
MASHADIR ASHLIYAH
1
تُؤْخَذُ صَدَقَاتُ الْمُسْلِمِينَ عَلَى مِيَاهِهِمْ
Sunan Ibnu Majah
2
تُؤْخَذُ صَدَقَاتُ الْمُسْلِمِينَ عَلَى مِيَاهِهِمْ
Musnad Ahmad
3
تؤخذ صدقات المسلمين عند مياههم أو عند افنيتهم
Sunan Al-Kubra Al-Baihaqi
4
تؤخذ صدقات أهل البادية على مياههم وأفنيتهم
Al-Muntaqa Al-Ahkam Abdul Hamid bin Jarud

Berdasarkan tabel di atas maka matan hadits tersebut bisa dikatakan lafdzi karena ada kesamaan dalam hampir semua mashadir ashliyah, kecuali dalam Sunan Al-Kubra Baihaqi menggunakan tambahan lafaz  عند مياههم أو عند افنيتهم dan Al-Muntaqa Al-Ahkam menggunakan lafadz أهل البادية على مياههم وأفنيتهم. Namun perbedaan tersebut tidak signifikan dan merubah substansi atau maksud dari hadits tersebut.
2.      Daftar Rawi Sanad
Untuk mengetahui kualitas rawi, lahir wafat dan tabaqahnya, dibuat daftar dengan menggunakan kitab Tahdzib al-Tahdzib karya al-Asqalani.[4]
NO
RAWI
LAHIR/WAFAT
JARH WA TA'DIL
TABAQAH
LAHIR
WAFAT
JARH
TA'DIL
TAHDZIB
ST
1.        
Ibnu Umar

73 H

Adil


2.        
Amr

118 H

ثقة


3.        
Abdullah bin Amr



Adil


4.        
Aisyah

57 H

Adil


5.        
Zaid

136 H

ثقة


6.        
Usamah bin Zaid
78 H
153 H
ضعيف الحديث
صدوق يهم كثيرا


7.        
Urwah

94 H

ثقة فقيه مشهور


8.        
Syu’aib



صدوق حسن الحديث


9.        
Abdullah bin Abu Bakar
65 H
135 H

ثقة ثبت


10.     
Abdullah Ibnu Al-Mubarak
118 H
181 H

ثقة ثبت فقيه عالم جواد مجاهد جمعت فيه خصال الخير


11.     
Abdushamad

206 H

ثقة


12.     
Abdul Malik bin Muhammad Abu Bakr

177 H

ثقة


13.     
Abdullah bin Shaleh bin Muslim Al-Ajjali
151 H
221 H

ثقة


14.     
Abu Hatim Ar-Razi Muhammad binIdris

275 H

أحد الحفاظ


15.     
Muhammad bin Al-Fadhl

224 H

ثقة ثبت تغير في آخر عمره


16.     
Abu Badr Abbad bin Al-Walid

258 H

صدوق حسن الحديث


17.     
Abu Dawud
131 H
203 H

ثقة حافظ غلط في أحاديث


18.     
Yunus bin Habib

267 H

ثقة


19.     
Abdullah bin Ja’far
248 H
346 H

ثقة


20.     
Abub Bakar bin Furaq

406 H

صدوق حسن الحديث





[1] Al-Asqalani, Bulug al-Maram min Adillat al-Ahkam (Riyadh : Dar al-Falaq, 1424 H), hlm. 173
[2] Jalaludin  Abdurahman Ibn Abi Bakr Al-Suyuti, Al-Jami’ al-Shagir fi Ahadits al-Basyir al-Nadzir, Juz IV, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th), hlm. 57
[3] AJ Wensinck, Al-Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-Hadits al-Nabawi, Juz III (Leiden: EJ Brill, 1962), hlm.  294
[4]  Al-Asqalani, Tahdzib al-Tahdzib (Beirut: Dar al-Fikr, 1995)