Rekonstruksi Sejarah Muslim Papua

on Kamis, 29 Desember 2011

Oleh : Susiyanto

ISLAM MASUK PAPUA

Tidak mudah melacak jejak masuknya Islam ke Papua. Upaya penelusuran sejarah tersebut akan dihadapkan dengan berbagai temuan versi sejarah yang beragam. Bumi Papua sendiri telah sejak lama dikenal dalam rangkaian bumi nusantara. Dalam Kitab Negarakertagama pada masa Prabu Hayam Wuruk di Majapahit, misalnya Jazirah Onin (sekarang dikenal dengan nama Fakfak) disebutkan dengan nama Ewanim dan nama Sran digunakan untuk menyebut Beraur atau Bintuni. Beberapa teori dapat diketengahkan guna melihat secara pasti eksistensi Islam di Papua tersebut.
Teori pertama menjelaskan bahwa Islam telah masuk Papua dimulai abad XV atau bahkan sebelumnya. Buktinya, Islam telah hadir di Adijaya pada tahun 1420 dan hal tersebut diduga kuat memiliki hubungan erat dengan keberadaan Islam di Tunas Gain. Hal ini dapat dilihat bahwa seorang bernama Aria Way telah memeluk agama Islam pada tahun tersebut dan mengganti namanya menjadi Samay. Menurut FC Kama, seorang missionaris, berdasarkan sumber teks tertulis kerajaan Hindhu Majapahit, Islam bahkan telah berkembang sejak abad XIV dan XV sejaman dengan berkembangnya Islam di ternate dan Tidore. Bumi Papua, dalam teks Majapahit, dikenal sebagi wilayah surge bagi para budak dan sumber buah pala yang utama diantara pulau-pulau lainnya. Selain itu berdasarkan tradisi lesan ditemukan fakta tentang kehadiran mubaligh dari Aceh bernama Abdul Ghaffar di Fatagar Lama, Kampung Rumbati, Fakfak pada kurang lebih pada tanggal 8 Agustus 1360.
Teori kedua menyebutkan bahwa Islam masuk di Papua dimulai abad XVII dan XVIII. Hal ini berdasarkan dimulainya periode dakwah yang dilakukan oleh Sultan Iskandar Muda dari Aceh pada tahun 1618 di wilayah Teluk Beraur. Pada periode tahun 1746 sampai 1832 Raja Namatota dan Raja Komisi terjadi pembagian kampong terkait dengan penyebaran agama Islam dan Nashrani serta menumbuhkan nasionalisme lokal melawan intervensi asing.
Mengenai angka tahun persis masuknya Islam di Papua guna menyusun rekonstruksi sejarah tersebut direkomedasikan tahun 1360, 1420, 1608, dan 1618 sebagai awal masuknya Islam di Papua.

BUKTI PENINGGALAN SEJARAH

Bukti berupa tradisi lesan masih terjaga sampai hari ini berupa cerita dari mulut ke mulut tentang kehadiran Islam di Bumi Cendrawasih. Selain itu terdapat living monument yang lain berupa makanan Islam yang dikenal dimasa lampau yang masih bertahan sampai hari ini di Papua kuno di desa Saonek, Lapintol, dan Beo di distrik Waigeo. Belum lagi bukti-bukti tekstual berupa naskah dari masa Raja Ampat dan teks kuno lainnya di beberapa masjid kuno.
Sedangkan di Fakfak, Papua Barat masih dapat ditemukan delapan manuskrip kuno brhuruf Arab. Lima manuskrip berbentuk kitab dngan berbagai ukuran. Yang terbesar berukuran kurang lebih 50 x 40 cm, berupa mushaf Al Quran yang ditulis dengan tulisan tangan di atas kulit kayu dan dirangkai menjadi kitab. Sedangkan keempat kitab lainnya, salah satunya bersampul kulit rusa, merupakan kitab hadits, ilmu tauhid, dan kumpulan doa. Kelima kitab tersebut diyakini masuk pada tahun 1912 dibawea oleh Syekh Iskandarsyah dari kerajaan Samudra Pasai yang datang menyertai ekspedisi kerajaannya ke wilayah timur. Mereka masuk melalui Mes, ibukota Teluk Patipi saat itu.
Sedangkan ketiga kitab lainnya ditulis di atas daun koba-koba, Pohon khas Papua yang mulai langka saat ini. Tulisan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tabung yang terbuat dari bambu. Sekilas bentuknya mirip dengan manuskrip yang ditulis di atas daun lontar yang banyak dijumpai di wilayah Indonesia Timur.
Selain itu terdapat peninggalan berupa Masjid Patimburak yang didirikan di tepi teluk Kokas, distrik Kokas, Fakfak yang dibangun oleh Raja Wertuer I yang memiliki nama kecil Semempe. Pada masa itu, yaitu tahun 1870, Islam dan Kristen telah menjadi agama yang hidup berdampingan di Papua. Ketika kedua agama tersebut masuk ke wilayahnya, Raja Wertuer tidak ingin rakyatnya terpecah belah karena permasalahan kepercayaan. Maka beliau membuat sayembara menantang misionaris Kristen dan imam Muslim untuk mendirikan tempat ibadah masing-masing. Masjid didirikan di wilayah Patimburak, sedangkan gereja diwilayah Bahirkendik. Dalam sayembaranya Raja menetapkan tempat ibadah yang paling awal selesai dibangun akan diakui sebagai tempat ibadah dan agama resmi kerajaan beserta rakyat Wertuer. Akhir sayembra dapat diketahui, masjid lebih dahulu selesai sehingga sesuai janjinya Raja Wertuer I memeluk agama Islam diikuti oleh rakyatnya. Bahkan raja kemudian bertindak menjadi imam sholat dengan mengenakan pakaian kebesaran berupa jubah, sorban, dan tanda pangkat dibahunya. Masjid Patimburak, yang memiliki kubah mirip gereja Eropa pada masa lalu dan memiliki interior dalam mirip masjid yang didirikan para wali di Jawa tersebut, sampai saat ini masih dapat disaksikan di tepi Teluk Kokas, kurang lebih setengah jam perjalanan dengan perahu bermotor dari dermaga Kokas.

KEHIDUPAN SOSIAL

Dalam masyarakat Fakfak jarang terjadi pertentangan yang disebabkan permasalahan perbedaan keyakinan agama. Slogan adat ‘satu tungku tiga batu’ telah lama berkembang. Maksud slogan tersebut adalah kehidupan rakyat Fakfak ditopang oleh tiga agama yaitu Islam, Kristen, dan Katholik. Tiga batu yang dimaksud adalah ketiga agama tersebut yang bersatu sehingga menopang tungku agar tidak timpang.
Dalam masyarakat juga berkembang seni sawat yaitu orkes musik dengan tetabuhan yang terdiri dari rebana, tifa, seruling, dan gong kecil. Seni sawat tersebut pada masa lampau menjadi alat dakwah para da’i. Penduduk pribumi yang memutuskan menjadi muslim juga disambut dengan perayaan music sawat tersebt sampai hari ini. Tfa jelas music asli Papua, sedangkan rebana dan seruling para da’I muslim yang membawanya masuk ke Papua. Belakangan ini cara dakwah dengan sawat tersebut juga diadopsi oleh para missionaris Kristen asal Belanda di Fakfak. Namun kerukunan tetap terjaga di bumi Papua. Para da’i pun tidak berhenti berdakwah menjadi perantara rahmat Allah di Bumi Cendrawasih hingga hari ini. Catatan ini ditulis sebagai upaya mensitematisasi tulisan pada Tabloid Republika Dialog Jumat. 

1 comments:

Anonim mengatakan...

Interesting, Menarik....

Poskan Komentar

Please Uktub Your Ro'yi Here...