Kamis, 10 Desember 2020
Pasca Pesta Demokrasi
Rabu, 09 Desember 2020
PILKADA di Era Covid 19
Senin, 30 November 2020
Islam di Indonesia: Dari Fitnah pada Ulama hingga Terorisme yang kembali mengemuka
Oleh: Misno
Akhir Nopember 2020 menjadi catatan kelam bagi umat Islam khususnya di Indonesia. Bagaimana tidak? Berbagai fitnah atas nama Islam berkembang dan menyebar di berbagai media sosial. Fitnah yang belum tentu kebenarannya, serta kebenaran yang diselimuti oleh sejuta dusta yang bertujuan untuk mendeskriditikan Islam. Dari mulai fitnah yang terjadi pada seorang tokoh terkemuka di Indonesia, hingga munculnya kembali kelompok teroris di Sulawesi sana.
Kebencian terhadap Islam yang termanifestasi dengan fitnah
yang terus dilancarkan kepada tokoh umat Islam menjadi bahan berita yang
mungkin akan terus ada entah sampai kapan berakhirnya. Sikap yang konsisten
terhadap perjuangan Islam, walaupun terkadang muncul sedikit kesalahan ucapan
menjadikan tokoh ini terus diburu dan menjadi obyek sasaran orang-orang yang
tidak suka dengan Islam. Ada yang memang karena kebenciannya terhadap Islam,
ada pula yang karena beda golongan, sementara sebagian lainnya adalah yang
karena kepentingan harta dan dunia hingga rela mengorbankan agamanya untuk
memfitnahnya. Sebagian lainnya terfitnah dan terbawa dalam berita-berita yang
tidak benar, hingga karena kebodohannya dengan mudah percaya dengannya. Semuanya
berujung pada kebencian yang berada di puncaknya, bahkan hingga ke ubun-ubun
kepala mereka.
Fitnah pada Islam berikutnya adalah dengan munculnya
kelompok bersenjata yang membuat kergaduhan di Sulawesi sana. Berdasarkan beberapa
berita yang beredar bahwa mereka adalah kelompok Islam yang merupakan aliansi
dari ISIS yang terus berjuang menegakan syariah Islam di Indonesia. Kelompok ini
kembali muncul dengan melakukan pembantaian terhadap keluarga dan merusak
beberapa rumah penduduk di sana.
Tentu saja Islam jauh dari sifat yang seperti itu, kalaupun
kelompok tersebut betul-betul ada maka sejatinya mereka adalah umat Islam yang
memiliki pemahaman yang salah. Membunuh dalam Islam adalah perbuatan dosa
besar, demikian pula membuat kerusakan di muka bumi dengan merampok atau
membakar rumah-rumah penduduk. Suasana politik yang cukup panas sepertinya
menjadi alasan kuat kelompok ini muncul atau dimunculkan kembali. Tentu saja
kita harus cerdas dalam menyikapi munculnya kelompok ini, seperti “teroris-teroris”
lainnya maka kemunculannya selalu tepat berkaitan dengan berbagai isu besar
yang muncul. Bukan buruk sangka, tetapi ini dengan mudah dapat dianalisa. Walaupun
kembali seperti tulisan saya sebelumnya bahwa kalaupun mereka benar ada,
sejatinya itu bukanlah ajaran Islam. Mereka yang memiliki pemahaman yang salah
tentang Islam hingga kemudian dengan tega membunuh dan membuat kerusakan di
masyarakat. Islam berlepas diri dari segala bentuk perbuatan ini, karena dalam
Islam perbuatan tersebut diharamkan.
Melihat dunia fenomena ini serta berbagai fitnah terhadap
Islam saat ini, maka penulis kembali merenung. Terlalu banyak fitnah yang
melanda Islam, terlalu banyak manusia yang benci dengan Islam dengan berbagai
kepentingannya. Bahkan muncul image bahwa setiap teroris itu Islam, sebagaimana
muncul pandangan bahwa kalau kita berpegang teguh dengan Islam berarti
menentangan Pancasila dan NKRI.
Tentu saja hal ini sangat tidak benar, Islam yang telah ada
di bumi pertiwi ini tidak bperah sekalipun membuat kerusakan. Tidak pernah...
kalaupun ada gerakan Islam di masa lalu maka kalau kita telaah lagi, mereka
bukan membuat kerusakan. Bahkan justru fitnah yang dilakukan kepada Islam dan
umatnya yang menjadikan nama Islam tercoreng di bumi pertiwi ini. Hingga Islam
seolah-olah selalu membawa kekerasan, bahkan fitnah ini masih ada hingga hari
ini.
Hari-hari ini dan mungkin ke depan kita akan disuguhkan
berbagai fitnah yang akan dilancarkan kepada para ulama dan Islam pada umumnya.
Para ulama yang mencoba konsisten perlahan akan menjadi obyek fitnah dari
orang-orang yang tidak suka dengan Islam dan mereka yang menginginkan
keuntungan duniawi. Islam juga akan terus difitnah hingga seolah-olah semua
kekerasan bersumber dari Islam.
Oleh karena itu, saudaraku dalam Islam (fiillah),
persiapkanlah perbekalan. Bukan persiapan untuk berjihad dengan senjata, tetapi
persiapan dengan iman dan takwa. Bersikap cerdas dan bijak dalam menyikapi
setiap berita dan fenomena yang ada, optimalkan seluruh potensi dirimu untuk izzul
islam wal muslimin. Karena itulah sejatinya tujuan dari hadirnya kita di
semesta ini... teruslah membela Islam hingga titik darah penghabisan. Wallahu
a’alam. 30 Nopember 2020. Menjelang tengah malam, gerimis manis di Bogor
Selatan.
Senin, 23 November 2020
Kebencian yang Menghinakan
Oleh Abdurrahman
Kebencian kepada seseorang muncul karena banyak hal, dari mulai dia pernah menyakiti kita hingga ide dan gagasannya yang tidak sama. Manusia dengan berjuta hawa nafsunya memang seringkali memiliki rasa benci kepada orang lainnya, namun tentu saja rasa ini harus dapat di-manage dengan benar. Kebencian karena syariat Allah Ta’ala dilecehkan atau dihinakan adalah sebuah keniscayaan. Bahkan tidak benci kepada kekufuran dan segala bentuk kemaksiatan adalah tanda dari kemunafikan. Oleh karena itu rasa benci dengan orang lain haruslah didasarkan kepada syariah Islam, bughdhu fiillah benci karena Allah Ta’ala.
Tentu saja benci karena Allah Ta’ala adalah kebencian yang
muncul atas perbuatan dari seseorang yang menghina Allah dan RasulNya atau
syariahNya, kebencian ini akan membawa kepada kebajikan karena sejatinya
seluruh syariahNya adalah baik dan untuk kebaikan manusia. Seseorang membenci
perbuatan maksiat, karena maksiat itu akan merusak kehidupan manusia, demikian
pula kita membenci perbuatan zina karena akan membawa kerusakan di tengah
masyarakat.
Sayangnya kebencian seseorang terhadap orang lain sering
sekali membabi buta, hingga semua yang ada pada orang yang dibenci menjadi
tercela semuanya. Bahkan ia tidak segan-segan untuk mencaci dan menghina orang
yang dibencinya. Ini adalah bentuk benci yang karena hawa nafsunya, karena
kepentingan dunianya serta kepentingan kelompok dan golongannya. Ada juga yang
benci karena terprovokasi atau dipengaruhi oleh orang lain, sehingga dengan
mudah ia mempercayai setiap yang sampai kepadanya tanpa tabayun terlebih
dahulu.
Kebencian inilah yang saat ini terjadi pada anak negeri,
karena bukan dari kelompoknya kemudian ia membenci orang lain yang ada di luar
golongannya. Ia tidak segan-segan untuk menghina dan menyebarkan keburukan dari
orang lain yang dibencinya. Jika dasarnya ia tidak mengetahui dan kebenciannya
karena terprovokasi atau karena membela golongannya mungkin agak lebih ringan
dibanding dengan mereka yang membenci dengen kebencian yang memuncak terhadap
orang lain yang berada di luar golongannya. Mereka sangat membenci lawan
politiknya, membenci orang lain yang berada di luar golongannya tanpa memahami
kenapa ia harus membencinya.
Menyebarnya photo Anis Baswedan yang sedang membaca buku “How
Democracies Die” menjadi viral di media sosial. Namun orang-orang yang
membencinya kemudian menggantinya buku yang dibacanya dengan majalah “Hidayah”
dengan tema “Bangkit Dari Kubur”. Tentu
saja ini secara jelas adalah bentuk dari penghinaan kepada seseorang sebagai
bentuk rasa kebenciannya. Kebencian yang memuncak, mungkin orang umum
mengatakan sudah sampai ubun-ubun sehingga semua yang dilakukan oleh orang yang
dibencinya akan terlihat buruk dan dibuat sedemkian rupa agar selalu buruk.
Inilah kebencian yang tidak diperbolehkan dalam Islam,
Al-Qur’an Surat Al Maidah ayat 8 memberikan pedoman kepada kita, firmanNya “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu
terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku
adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada
Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Maknanya adalah
bahwa sekalipun kita benci dengan seseorang atau sekelompok orang maka
janganlah kebencian kita menjadikan kita tidak adil. Makna tidak adil dalam
ayat ini adalah tidak jujur, tidak menerima sebuah kebenaran, berbuat curang dan selalu menjadikan mereka sebagai sumber
kesalahan.
Merujuk pada ayat ini serta dalil-dalil dalam Islam lainnya
maka haram bagi kita untuk tidak berbuat adil, misalnya karena kita tidak suka
deng seseorang kemudian kita berkata dan berbuat bohong atas namanya. Maka hal
ini adalah termasuk dosa besar. Apalagi sampai menyebarkannya di tengah
masyarakat, padahal dia sendiri tidak melakukannya. Kebencian ini hanya akan membawa kehinaan, ya... Kebencian yang menghinakan diri sang pembenci sendiri.
Oleh karena itu, hendaknya kita sebagai muslim, sebagai
warga negara Indonesia yang baik, janganlah karena beda pandangan politik atau
beda golongan kemudian kita begitu senang ketika orang atau kelompok yang kita
benci terhina. Apalagi jika kebencian itu
sengaja dilakukan, dengan cara membuat kebohongan dalam tulisan dan
ucapan kemudian menyebarkannya ke ditengah masyarakat, maka ini adalah termasuk
dosa besar. Semoga ke depan kita lebih
dewasa, lebih beretika dan lebih beradab sehingga akan menjadikan kita dan
seluruh bangsa Indoneisa diridhai oleh Allah Ta’ala.
Gerimis Senja di Bogor,
23 Nopember 2020.
Selasa, 10 November 2020
Selamat Datang di Indonesia Ya Imam...
Abdurrahman Misno BP
Tanggal 10 Nopember diperingati sebagai Hari Pahlawan oleh bangsa Indonesia, tahun 2020 ini memiliki terasa istimewa karena bertepatan dengan kembalinya seorang tokoh Islam yang memiliki banyak pengikut, yaitu Habib Rizieq Shihab atau yang biasa dikenal dengan HRS. Para pengikutnya menyebut sebagai Imam Besar Umat Islam Indonesia, karena ketokohan dan sepak terjangnya dalam dunia dakwah dan politik di Indonesia.
Rizieq Shihab memang terasa
istimewa bagi umat Islam di Indonesia, kiprahnya pada peristiwa 212 yang telah
menghadirkan lebih dari 7 Juta umat Islam di Monas adalah prestasi luar biasa. Magnet
dan karismanya telah mampu menarik begitu banyak umat Islam untuk menghadiri
peristiwa bersejarah tersebut.
Hari ini, Selasa 10 Nopember
2020 keistimewaan HRS terbukti kembali, ribuan orang menyambut kedatangannya
setelah sekian lama berada di Mekah, Saudi Arabia. Ya, sebuah kedatangan yang
juga istimewa karena beberapa kali kepulangannya disiarkan namun selalu
tertunda. Hingga akhirnya Sang Imam Besar hari ini menginjakkan kakinya di bumi
pertiwi.
Selamat Datang di Indonesia,
para simpatisannya mengucapkan “Ahlan Wa Sahlan Ya Habib, Ya Imam...” Sebuah
ungkapan sebagai bukti simpati dan memuliakan pemimpin mereka. Bukan hanya
dengan ucapan tetapi peristiwa penjemputan di Bandara yang belum pernah terjadi
sebelumnya telah membuktikan bagaimana magnet dari HRS begitu luar biasa.
Berbagai spekulasi dan prediksi
bermunculan seiring dengan kembalinya beliau ke negeri ini. Apalagi suasana
politik yang masih belum juga dingin walaupun pemilihan presiden sudah berlalu
beberapa tahun. Berbagai isu hangat masih saja menjadi pemantik bagi berbagai
golongan untuk menguatkan masing-masing kelompoknya.
Habib Rizieq Shihab sebagai
pelopor dari gerakan Islam yang berusaha untuk menjadikan Islam sebagai pedoman
hidup mendapatkan lawan dari kalangan nasionalis ektrim dan Islamophobia. Organisasi
yang dibentuknya selalu menjadi incaran dan obyek bagi fitnah radikalisme dan
anarkisme. Front Pembela Islam atau FPI selalu menjadi kambing hitam bagi
setiap peristiwa anarki dan tindakan teror oleh mereka yang berseberangan.
Kini Sang Imam sudah berada di
Indonesia, apa yang akan dilakukannya? Revolusi Akhlak tiba-tiba menyeruak
sebagai tandingan dari Revolusi Mental dari pihak yang berseberangan dengannya.
Sepertinya ia akan vis a vis dan menjadi episode panjang drama sosial politik
dan agama di Indonesia. Ya, kondisi saat ini yang memang masih cukup panas
eolah-olah mendapatkan moment terbaik dengan kehadiran HRS.
Selamat Datang di Indonesia,
inilah negeri yang saat ini penuh dengan fitnah dan cobaan. Belum lagi Corona
hilang dari persada, berbagai intrik politik yang tidak suka dengan Islam terus
berdatangan. Stigma Islam yang anti Pancasila, anti NKRI hingga para penjilat
penguasa yang selalu menebarkan kesan bahwa Islam radikal tersimbolkan dengan
celana cingkrang dan cadar.
Kehadiran HRS di Persada ini
akan membawa sejarah baru, kita lihat saja nanti apa yang akan dilakukannya.
Apakah akan berdakwah dengan cara lebih bijak atau semakin memosisikan diri
sebagai oposisi pemerintah yang lantang menyerukan berbagai kedzaliman yang
saat ini begitu nyat adi depan mata? Atau mungkin akan lebih lembek karena
banyaknya tekanan dari sana-sini yang terus merangsek?
Semoga saja kehadiran HRS membawa Islam kepada makna sejatinya, tidak keras tetapi tegas, tidak lembek tetapi penuh hikmah. Islam yang menjadi rahmat bagi seluruh alam. Wallahu a’lam.
Rabu, 28 Oktober 2020
Dunia damai: Saling Menghormati antar Agama dan Kepercayaan
Oleh: Abdurrahman Misno Abu Aisyah
Islam adalah agama yang penuh
dengan kedamaian, mengajarkan umatnya untuk selalu berdamai dan menyebarkan
kedamaian kepada sleuruh umat manusia
dan semesta. Kedamaian dalam bentuk saling menghormati atas agama dan
kepercayaan dari masing-masing manusia. Hal ini lah yang akan mewujudkan
kedamaian yang sebenarnya di dunia, yaitu saling menghormati antar sesama
pemeluk agam adan kepercayaan.
Salah satu kepercayaan dalam Islam
yang tidak boleh diganggu gugat adalah berkenaan dengan kenabian Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam dan yang
terkait dengannya. Salah satu yang sangat penting adalah larangan menggambar
Nabi, apalagi dalam bentuk gambaran yang menghina beliau. Maka jika hal ini
terjadi maka kemarahan umat Islam tentu tidak bisa disalahkan.
Inilah yang terjadi dalam pekan
ini, di mana diawali dengan hukuman atas seorang guru yang menunjukan gambar
kartun nabi dengan alasan kebebasan berekspresi , kemudian presiden Perancis
membelanya dengan menyatakan bahwa negaranya tidak akan berhenti menerbitkan
atau membicarakan kartun yang menggambarkan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam.
Pembelaaan yang dilakukan Presidn Macron tentu saja
merupakan dukungan secara langsung terhadap pembolehan pembuatan kartun Nabi Muhammad Shalallahu
Alaihi Wassalam, sebagai bentuk kebebasan berekspresi. Inilah yang kemudian
menyulut kemarahan dari umat Islam yang diwakili oleh beberapa pemimpin negara
Islam. Pemboikotan produk Perancis
menjadi cara yang dilakukan oleh umat Islam sebagai respon pembelaan presiden
Perancis.
Melihat fenomena ini tentu saja
seluruh pihak haruslah saling mawas diri, kedamaian dunia yang dicita-citakan
haruslah dalam bingkai saling menghormati agama dan kepercayaan masing-masing.
Islam sendiri mengajarkan umatnya agar tidak menghina agama dan Tuhan orang
lain, karena hal tersebut bisa jadi akan berbalik dima na mereka akan menghina
Allah Ta’ala. Ini menjadi pedoman utama bagi umat Islam, maka tidak ditemukan
sejak awal ada umat Islam yang menghina agama atau tuhan dari kepercayaan
lainnya. Kalaupun ada itu karena ketidakpahamannya secara Islam, bukan dengan
sadar dan sungguh-sungguh.
Kembali kepada kasus presiden
Peraancis maka sangat disayangkan sekali ketika seorang presiden di negara yang
menjunjung tinggi demokrasi justru mmembela seorang yang menunjukan kartun
Nabi. Tentu saja bukan asal menunjukan, tetapi unsur kebencian kepada Islam
yang menjadi sebab utama perbuatan tersebut.
Maka, jika kedamaian dunia adalah
harapan setiap manusia, maka sudah selayaknya kita memiliki skpa tenggang rasa,
saling menghormati antar sesama umat beragama. Inilah yang diajarkan dalam
Islam sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Kaafirun yang maknanya “Bagi kalian
agama kalian dan bagi kami agama kami”.
Bogor,
28 Oktober 2020
My Opinion: My Flag – Merah Putih VS Radikalisme
(Realitas Kontras Komunitas Tertindas)
Oleh: Abdi Misno
Sebuah film adalah hasil rasa, cipta dan karya, terkadang ia adalah gambaran dari realitas yang ada di masyarakat. Tentu saja sesuai dengan sudut pandang dari pembuatnya, apakah ia akan membuatnya seobyektif mungkin atau menambahnya dengan pesan-pesan yang diinginkannya.
Film dengan judul “My Flag – Merah Putih
VS Radikalisme” adalah sebuah karya yang tercipta karena pembuatnya melihat
realitas yang ada di masyarakat. Lepas dari prasangka dari mereka yang berniat
memunculkan perseteruan yang semakin tajam di antara umat Islam maka film ini
menurut saya memang mencerminkan keadaan umat Islam saat ini. Walaupun dalam
sebuah film tentu saja harus dikasih “bumbu” lebih pedas agar lebih terasa
konflik dan membuat penonton terkessan dengannya.
Sebelum menyaksikan film ini dengan
hanya berbekal kepada bacaan di beberapa media sosial saya berfikir bahwa ini
adalah ulah dari orang-orang yang benci dengan Islam dan ingin mengadu domba di
antara mereka. Memanfaatkan “api dalam sekam” yang ada pada internal umat Islam
adalah sejata paling ampuh untuk memantik api permusuhan itu tersulut dan
membakar amarah umat.
Saya akhirnya penasaran dan membuka
langsung kilasan dari film ini dari NU Channel pada 28 Oktober 2020. Jumlah
penonton telah mencapai 615 ribu dan telah tanyang sejak 4 hari lalu. Jumlah
ini bisa jadi akan bertambah karena kontroversi dari isinya, apalagi dengan
blow upa dari media akan semakin ramailah film pendek ini.
Film didominasi oleh sekumpulan
pemuda dan pemudi dengan atribut khas muslim Indonesia, memakai baju koko, peci
hitam dan sarung. Sementara perempuannya memakai jubah dan jilbab biasa. Fokus perhatian
pada kecintaan mereka kepada bendera, dari mulai membeli ke pasar,
membagi-bagikan ke pengguna jalan dan menempatkan di beberapa tempat.
“Cinta tanah air sebagian dari iman”
itulah pesan utamanya, dengan mencintai bendera murah putih maka itu adalah
bukti kecintaan tersebut. Maka kata-kata yang kemudian muncul ketika kelompok
pemuda dan pemudi ini bertemu dengan kelompok pemuda dan pemudi lainnya dengan
tampilan celana cingkrang, pemudinya memakai cadar dan membawa bendera dua
warna; merah dan putih.
Inilah fokus dari tulisan ini dan
menjadi kontroversi di masyarakat, “Tidak boleh ada bendera lain selain merah
putih” itulah ucapan seorang pemudi yang membawa merah putih ketika berhadapan
dengan pemudi lain yang menggunakan jilbab panjang dan cadar. Adegan dilanjutkan
dengan perkelahian antara mereka, oleh sutradara sepertinya dijadikan pesan
yang sangat mendalam. Khususnya ketika dengan gerakan lambat seorang pemudi
yang tadi berteriak membuka secara paksa cadar dari pemudi lawannya. Adegan ini
terjadi dua kali, hingga sangat jelas pesan yang ada di dalamnya. Bahwa memakai
cadar dan celana cingkrang adalah simbol dari radikalisme dan tidak cinta
dengan tanah air dan bendera merah putih.
Apabila kita memperhatikan adegan
dalam film ini, khususnya ketika dua kelompok pemuda tersebut berkelahi maka
jelaslah bahwa inilah realitas umat Islam saat ini. Di mana kelompok “tradisional”
dengan simbol peci hitam dan sarung berhadapan dengan kelompok celana cingkrang
dan cadar bagi wanitanya. Sebuah adegan yang menggambarkan realitas dari
masyarakat saat ini, di mana kelompok “tradisional” sangat khawatir dengan
kehadiran kelompok “baru” yang membawa simbol dan “ideologi” yang menurut
mereka berbeda. Realitas ini sudah terbaca oleh para pemerhati umat Islam
khususnya di Indonesia dan beberapa negara Islam lainnya, di mana ada “api
dalam sekam” di antara umat Islam.
Namun, tentu saja film ini dalam
perspektif lain memberikan stigma yang tidak bagus tentang Islam apalagi bagi
generasi muda yang masih harus banyak belajar tentang Islam. Perlunya tabayun
(check and recheck) terhadap mereka yang menggunakan simbol-simbol yang
berbeda dengan kita adalah sebuah keniscyaan. Apalagi jika hanya terkait dengan
fiqh semisal celana cingkrang dan cadar. Jika berkaitan dengan “ideologi” pun
itu perlu di-check kembali, karena sejatinya umat Islam di Indonesia
sangat cinta dengan NKRI. Ketakutan munculnya gerakan radikalisme hanyalah
ilusi dari orang-orang yang ingin mengadu domba Islam. Celana cingkrang dan
cadar bukanlah simbol dari anti NKRI, bukan pula simbol dari tidak cinta dengan
Bendera Merah Putih. Itu adalah manifestasi agama dan kepercayaan anak negeri,
tidak mengurangi cinta pada NKRI.
Maka, hendaklah bagi kita semua
terus mempelajari Islam ini, jangan mudah terprovokasi dan berikanlah
pencerahan secara elegan kepada generasi muda kita. Perbedaan yang terjadi
jangan diperuncing dengan kepentingan duniawi, berikan qudwah (contoh) yang
terbaik bagi generasi muda kita. Jangan mudah menuduh saudara kita yang sedikit
berbeda dengan cap radikalisme atau ekstrimisme, karena sejatinya itu
menunjukan kurangnya ilmu pada diri kita.
Kepada teman-teman yang menggunakan
simbol-simbol yang belum terbiasa ada di masyarakat khususnya celana cingkrang,
cadar, bendera hitam dan putih dan yang lainnya maka teruslah belajar tentang
agama ini. Islam bukan hanya berhenti pada simbol-simbol tersebut, banyak hal
yang harus kita pelajari kembali. Bersyukurlah hidayah atas sunnah itu sudah
anda dapatkan, berikutnya adalah berikan pencerahan kepada masyarakat tentang
sunnah Nabi yang suci ini tentu saja dengan cara elegan. Jangan udah
menyalahkan apalagi kita belum memiliki ilmu tentangnya, teruslah belajar
karena di sanalah puncak dari kepahaman. Iman, amal dan akhlak adalah tiga hal
yang tidak bisa dipisahkan. Jika anda ingin mengamalkan sunnah Nabi maka
amalkanlah keseluruhannya, termasuk cinta beliau dengan sesama umat Islam,
menghormati agama lain dan cinta dengan negeri sendiri.
Kepada pemuda dan pemudi Islam
harapan bangsa, teruslah belajar... jangan mudah terprovokasi dengan film
seperti ini. Jangan pula mudah diadu domba oleh skenario untuk menghancurkan
Islam dan Indonesia. Kita semua adalah saudara, sesama muslim dan satu tanah
air. Teruslah belajar, dengan itu kita akan tahu arti dari toleransi, arti dari
Islam yang murni dan tidak mudah terprovokasi.
Pagi
cerah di Kota Hujan, Bogor.
28
Oktober 2020.
Semangat Pagi...
Selasa, 20 Oktober 2020
MOTIVACINTA: Motivasi Cinta karena Allah Ta'ala
Selasa, 06 Oktober 2020
Customize University: Perguruan Tinggi Berbasis Kebutuhan Mahasiswa
Abdurrahman Misno BP
“Pak sepertinya saya tidak nyaman dengan kelas dan program studi saya” demikian keluhan mahasiswa Program Studi Magister Ekonomi Syariah tempat saya mengajar. Ketidaknyamanan tersebut utamanya adalah karena beberpa mata kuliah yang dia rasa tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan, khususnya terkait dengan bidang konsentrasi yang akan diambilnya. Ya... dia memang berkeinginan untuk melanjutkan riset pada level degree yang telah dilakukannya yaitu terkait dengan pengobatan ala Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasalam.
Saya sempat berfikir hal lain terkait dengan mata kuliah,
cara mengajar dosen, teman-teman satu kelas dan mungkin fakor usia menjadi
sebab ketidaknyamanan dari mahasiswa level master tersebut. Tetapi kemudian
saya berfikir, bahwa ketidaknyamanan yang paling utama adalah bahwa beberapa
mata kuliah memang tidak dia perlukan, karena ia ingin fokus pada satu bidang
yang menurutnya itulah passionnya.
Menarik untuk dibincangkan, bahwa pada level master tentu saja
pemikiran mahasiswa di level ini sudah sampai pada tingkat kematangan. Berbeda dengan
mahasiswa level degree atau sarjana yang terkadang masih mencari jati dirinya. Pada
level master mereka lebih memahami apa yang dibutuhkannya untuk dirinya, kariernya
dan masa depannya. Sehingga sangat wajar jika mereka akan memilih dan memilah
setiap program studi hingga mata kuliah yang diambilnya.
Padahal sejatinya sistem SKS yang telah lama diterapkan di
perguruan tinggi sejatinya juga mengakomodir mahasiswa untuk bisa memilih mata
kuliah yang dia butuhkan. Demikian juga penetapan mata kuliah dalam sebuah
kurikullum prodi telah dirumuskan sedemikian rupa sehingga akan mewujudkan
lulusan sesuai dengan kompetensinya. Sayangnya hal ini terkadang masih belum
dipahami dengan baik oleh mahasiswa, sehingga sistem “berjama’ah” dalam artian
dari awal sampai akhi dalam satu rombongan kelas masih menjadi hal lumrah. Bahkan
kelihatan aneh kalau ada mahasiswa yang berpindah-pindah kelas karena mata
kuliah yang diambilnya.
Demikian pula pola mengajar dosen yang masih terkesan gaya “kolonial”
sehingga bukannya membimbing mahasiswa malah membebani mahasiswa. Masuk kelas,
menjelaskan, memberika tugas dan kemudian pulang adalah kebiasaan dosen yang
sudah tidak lagi sesuai dengan tuntutan zaman.
Customize University istilah ini muncul dalam pikiran
saya untuk menaanggapi kasus mahasiswa master saya. Lebih tepatnya mungkin Customize
Departement, yaitu program studi yang menyesuaikan kebutuhan dari
mahasiswa. Sebagai contoh ketika Ahmad ingin menjadi Dewan Pengawas Syariah
(DPS) maka ia harus mengambil mata kuliah yang akan mendukung profesi yang akan
dijalaninya. Mata kuliah yang tidak mendukung secara langsung sebaiknya tidak
perlu diambilnya. Bahkan sangat mungkin ia mengusulkan mata kuliah baru yang
belum ada dalam kurikullum.
Demikian juga Aisyah yang ingin menjadi seorang Peneliti
bidang Ekonomi Syariah, maka dia akan mengambil mata kuliah yang akan mendukung
bagi harapannya tersebut. Dia tidak akan mengambil mata kuliah yang tidak
dibutuhkannya serta tidak terkait langsung dengan profesi yang akan digelutinya
nantinya. Ia juga berhak mengusulkan mata kuliah baru ke prodi. Bukankah ini
juga fungsi dari rekonstruksi kurikullum? Ya... tepat sekali.
Gagasan ini mungkin hanya cocok untuk level magister dan
doktoral, dengan pertimbangan mahasiswa pada level ini lebih dapat memahami
kebutuhannya serta apa yang sebenarnya dia inginkan ketika akan masuk ke suatu
program studi di level Pascasarjana. Apabila dihubungkan dengan konsep Kampus
Merdeka atau Belajar Merdeka sepertinya ada korelasi yang kuat, di mana
mahasiswa memilih mata kuliah yang memang dia butuhkan dan sukai. Mahasiswa tidak
lagi dipaksa untuk mengambil mata kuliah yang tidak dia butuhkan atau tidak
disukainya. Tentu saja peran dosen pembimbing juga menjadi sangat penting
khususnya pada level sarjana. Mereka adalah konsultan dan pembimbing bagi
mahasiswa dalam menentukan masa depannya.
Customize University menjadi solusi bagi mahasiswa
yang memiliki latar belakang keilmuan yang berbeda atau bagi mahasiswa yang
memang ingin fokus pada bidang yang akan ditekuninya. Program studi sendiri
menjadi gawang bagi kreatifitas mahasiswa agar senantiasa selaras dengan rumpun
keilmuan dari prodi tersebut. Namun, pilihan mahasiswa khususnya pada level
magister menjadi pertimbangan utama.
Gagasan ini menjadi satu awal bagi pengembangan pembelajaran
khususnya pada level Magister sehingga ke depan mahasiwa pada level ini
betul-betul menjadi ahli dalam bidang yang memang dia sukai dan diharapkan
menjadi ekspert di bidang tersebut. Maka bagi dosen dan tenaga kependidikan
harus bersiap untuk terus menjadi lebih baik, berani berubah daalam menghadapi
berbagai perkembangan yang ada di tengah masyarakat. Bogor, Waktu Dhuha,
06092020.





