Kamis, 23 September 2021

Manusia: Tempat Salah dan Dosa

 Oleh: Dr. Misno, MEI



 

Allah Ta’ala menciptakan manusia dengan sempurna, dari jiwa mulia dan raga sempurna yang membalutnya. Kesempurnaan manusia bukan berarti tanpa cela, justru karena segalanya ada (amal mulia dan dosa) ia disebut manusia. Ketika imannya meningkat maka amal mulia dilakukannya, maka ia mendulang pahala dari Allah Azza wa Jalla. Namun ketika imannya turun dan berkurang adanya, ia terjatuh ke dalam lembah dosa, hingga kemaksiatan membelenggunya. Inilah hakikat dari manusia, tempat salah dan dosa, mahal al-khotho’ wa nisyan.

Pemahaman ini bukan berarti kita membiarkan dosa dan kesalahan ada pada diri manusia, tidak pula memberikan toleransi kepada diri ini untuk dimengerti. Sekadar berbagi cerita tentang hakikat manusia. Bahwa ianya adalah insan penuh dosa dan kesalahan, termasuk diri kita yang mungkin di mata manusia dianggap mulia.

Bukan alasan yang tepat untuk membela diri yang masih terjerat dalam maksiat, tidak pula menghibur jiwa ketika dosa masih terasa indah dirasa. Tapi memahami dari hakikat manusia itulah yang lebih utama. Bagaimana tidak? kita yang terus berusaha dan sekuat tenaga untuk menjadi manusia yang “sempurna tanpa dosa” namun seringkali kembali terjerembab ke dalam kesalahan serupa. Ya... mungkin ini adalah kelemahan kita.

Ketika dosa dilakukan dengan kesadaran nyata, diri kita tak mampu untuk melawannya. Bahkan terkadang menikmatinya dengan sepenuh jiwa dan raga, kita larut ke dalamnya hingga terlupa akan neraka di akhirat sana. Saat dosa terlaksana, penyesalan muncul di dalam jiwa hingga diri merasa tak ada lagi guna. Namun, ketika dosa itu berulang di berbagai masa maka hati mulai keras dan tak lagi merasa akan apa yang dilakukannya, hingga jiwa cenderung membelanya sekuat tenaga.

Kita sadar sepenuh rasa, bahwa apa yang kita lakukan itu adalah dosa. Namun jiwa ini masih belum bisa melepaskannya, mungkin terbebas sementara tapi kemudian kembali melakukannya. Sulit memang meninggalkannya, apalagi jika telah membalut jiwa, ia perlu perjuangan tiada tara agar bisa lepas daripadanya.

Bagi mereka yang melihat manusia berbuat dosa, pasti dengan mudah akan mengatakannya “Jangan dilakukan itu dosa”. Bagi sebagian yang lain akan berkata “Anda memang makhluk pendosa”, sambil menuduhkan telunjuknya ke muka kita. Lebih dari itu mereka akan mencela dan mengucilkan “para pendosa” karena jijik ketika bersamanya. Tentu saja tindakan mereka tidak salah, karena memang demikian adanya. Namun akan lebih bijak apabila mendatanginya dengan penuh kasih sayang, mengajak bicara dengan penuh adab dan kesopanan, membawanya dari tengah manusia dan menasehatinya dengan nita ikhlas karena Allah Ta’ala.

Para Pendosa memang makhluk durjana, tapi bukan berarti ia ahli neraka, selagi hayat masih di badannya maka pintu taubat dan hidayahNya akan selalu terbuka. Jangan mudah mencela para pendosa, bahkan kita pun tak lepas darinya. Karena kita adalah manusia tempat salah dan dosa...

Banyak manusia yang memang tidak bisa memahami jiwa para pelaku dosa, karena mereka hanya melihat dari sisi dhahirnya saja. Bahkan kalau perlu para pendosa itu segera diberi hukuman yang nyata, dipotong tangan atau dirajam di hadapan manusia. Tindakan ini tidak salah, tapi lagi-lagi memahami mereka yang melakukan dosa dan kesalahan itu dengan lebih mendalam mutla diperlukan. banyak orang yang melakukan dosa dan kesalahan, kemudian mereka bersenang-senang dengannya tanpa memperhatikan syariat agama. Mereka bangga dan bahkan menyiarkan dosa dan kesalahannya di hadapan manusia, mengajak manusia untuk menjadi teman-temannya dalam dosa. Mereka itulah para pendosa yang harus diberikan hukuman dan peringatan karena telah nyata dosa dan maksiat yang dilakukannya.

Namun, ada di antara manusia yang melakukan dosa bukan karena mereka suka dengan perbuatannya. Mereka hanya lalai dan alpa, terjatuh ke dalam dosa dan kemaksiatan karena kejahilan, ketidakpahaman dan ketidakkuasaan dalam membimbing dirinya. Mereka sadar itu dosa dan maksiat, namun mereka belum bisa untuk meninggalkannya. Keinginan itu terbebas dari perbuata dosa dan maksiatnya selalu ada, tapi seringkali ia terjatuh kembali dengannya. Maka bagi mereka kita harus lebih bijak, mendoakan dan selalu menasehatinya dengan kasih sayang itulah yang diharapkan. Karena bisa jadi suatu masa ia akan kuat dan dengan penuh kesadaran untuk kembali ke jalan yang benar dengan meninggalkan segala dosa dan kesalahan.

Kembali kepada hakikat dari manusia, maka teruslah kita belajar agama dan memahami hakikat manusia sebagai tempat salah dan dosa. Tapi bukan membiarkan saudara kita terlena dengannya, menasehatinya dengan penuh kasih sayang. Itulah yang menjadi tuntunan agama.

Semoga menjadi penghapus dosa

Bogor, 23092021.

 

Buku... Bukan Aku Tak Mau Menyentuhmu...

 Oleh: Dr. Misno, MEI



 

Buku...

Bukan aku tak mau menyentuhmu...

Karena aku sangat asing dengan hakikat dirimu

Keluargaku tidak familiar denganmu

Masyarakatku tidak terbiasa dengan dirimu

Kau hanya milik para KUTU BUKU

 

Buku...

Katanya kau lambang kemajuan peradaban

Kenapa di sekitarku tak banyak yang paham

Atau mereka sibuk dengan berbagai kegiatan

Hingga melupakan dirimu yang katanya penuh ilmu pengetahuan

 

Buku...

Kenapa aku belum mau menyentuhmu?

Mungkin karena aku tak terbiasa bersamamu

Sejak kecil memang Ibu dan Bapak Guru mengenalkanmumu

Membagikan kepada kami untuk bisa sekadar mengeja kata dalam dirimu

Namun, keluarga dan masyarakat menjauhkanmu

Dari diriku dan banyak anak seumuranku

Hingga membaca tak lagi menjadi kebiasaan baku.

 

Buku...

Mungkin ini salahku

Salah keluargaku

Atau salah masyarakatku

Yang tidak terbiasa denganmu

Hingga kebodohan dan kemadekan ilmu pengetahuan berkembang karena tanpamu

 

Buku...

Semoga generasiku nanti akan mau menyentuhmu

Bermesra denganmu, mendekapmu dan menjadikanmu teman sepanjang waktu

Akupun akan menguatkan azzam-ku untuk selalu bersamamu

Hingga akhir waktu

Karena kutahu, dirimu adalah pintu gerbang ilmu

Bahkan jalan untuk mengenal Rabb-ku...

 

Malam hening di Bogor, 23 September 2021

 

 

 

Tutup Telinga pada Waktunya

 Oleh: Dr. Misno, MEI


Berita viral terkait dengan santri (siswa) salah satu pondok pesantren yang menutup telinga mereka karena mendengar musik menjadi perbincangan hangat di media masa dan elektronik saat ini. Media sosial pun menyebarkan berita ini yang mendapatkan respon positif dan juga negatif. Bagaimana tidak? Di era di mana musik dan lagu menjadi bagian dari kehidupan manusia yang seolah-olah tidak bisa dipisahkan, tiba-tiba muncul sekelompok anak yang anti dan tidak suka dengan lagu dan musik. Hingga mereka harus menutup telinga agar tidak mendengarkan suara musik dan nyanyian.

Perbincangan mengenai lagu dan musik sejatinya sudah ada sejak dahulu kala, para imam madzhab telah membahasnya secara sempurna. Saat ini kita lihat satu pihak menyatakan bahwa musik itu bisa menghaluskan jiwa sebagai salah satu dari karya seni manusia. Pihak lain menyatakan bahwa musik dan lagu akan menumbuhkan kemunafikan dan berujung pada keingkaran kepada Ar-Rahman (Allah Ta’ala).

Dua perspektif yang berbeda memunculkan dua kutub yang saling bertentangan di tengah masyarakat. Demikian pula pada umat Islam, di mana banyak yang membolehkan lagu dan musik tanpa membatasinya, namun ada juga sebagian kecil yang mengharamkannya. Sementara di antara kedua kelompok tersebut ada yang mengharamkan hanya pada lagu dan musik yang memang mengandung unsur keharaman semisal; wanita yang membuka aurat, campur baur laki-laki dan perempuan tanpa batas, atau musik yang membawa kepada paham kesesatan.

Permasalahan musik dan lagu memang tidak akan pernah habisnya, masing-masing pihak akan berpegang teguh kepada argumentasinya. Sebagai bagian dari obyek yang dikaji oleh fiqh dalam Islam, lagu dan musik memang memiliki banyak kemudharatan, apalagi jika kita lihat fenomena lagu dan musik saat ini yang cenderung pada pemujaan terhadap dunia, harta, tahta, wanita dan kenikmatan dunia lainnya. Hanya sedikit dari penyanyi dan pemusik yang menyadari bahwa apa yang mereka lakukan sejatinya haruslah diselaraskan dengan nilai-nilai Islam.

Lagu dan musik yang ada saat ini memang lebih kepada perbuatan yang mengarahkan kepada keharaman, karena dari mulai penyanyinya, musiknya hingga lirik-nya cenderung menjauhkan diri dari ketaatan kepada Sang Pemilik Alam. Lebih dari itu ia membawa kepada kesenangan duniawi dan melupakan ukhrawi yang ujungnya adalah mengesampingkan urusan agama. Bahkan pada masyarakat yang belum paham tentang agama akan merasa aneh ketika ada yang menyatakan bahwa lagu dan musik itu haram.

Bagi para santri yang memang berkonsentrasi kepada hafalan Al-Qur’an tentu saja ini menjadi permasalahan tersendiri. Di mana alunan lagu dan musik memang sering kali membuai pendengarnya hingga dengan mudah dapat dihafalkan syairnya. Ini tentu sangat berbahaya bagi mereka yang sedang belajar untuk menghafal Al-Qur’an. Apalagi dalam beberapa hal seringkali memang lagu dan musik dapat menghilangkan hafalan Al-Qur’an karena menjadikan mereka lalai dan terbuai dengan musik dan nyanyian.

Maka, silahkan tutup telinga bagi mereka yang tidak suka dengan musik dan nyanyian, karena itu adalah haknya. Apalagi jika itu terbukti akan menghilangkan hafalan, tutuplah telingan pada waktunya, yaitu ketika musik dan lagu itu kian membelenggu hatimu. Bisa jadi itu adalah tindakan terbaik yang bisa dilakukan, di saat banyak manusia tidak lagi memperhatikan sesuatu yang haram walaupun menjadi sesuatu yang biasa di tengah manusia.

Bagi yang masih suka dengan mendengarkan musik dan nyanyian maka pilihlah yang bisa mendekatkan diri kepada Ar-Rahman, tidak melalaikan dan tidak mengandung hal-hal yang diharamkan oleh Islam. Saat ini banyak pilihan lagu dan musik yang mengarah kepada kebaikan, ambilah ia sekadar sebagai hiburan. Jangan pernah ia melalaikan dari membaca dan mentadaburi kalam Ar-Rahman. Karena itu memang yang membawa kepada ketenangan dan kedamaian sebenarnya.

Biarkan generasi Rabani tumbuh di bawah naungan Ilahi, nanti di suatu saat nanti mereka juga akan menyadari bahwa sejatinya hidup ini memang penuh dengan hal-hal yang diharamkan, namun kebanyakan manusia tidak sepemahaman. Maka, tetaplah belajar hingga sampai kepada kita pemahaman mendalam. Berlaku bijak menjadi sebuah ukuran, ketika ilmu itu terpatri di lubuk hati yang paling dalam. Wallahu’alam, menjelang malam di Kota Hujan. 230921.  

Rabu, 08 September 2021

Bahasa Arab: Bahasa Wahyu bukan Tanda Teroris

 Oleh: Dr. Misno, MEI


Islam sebagai agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam masih belum banyak dipahami oleh “alam” termasuk dunia yang ada di dalamnya. Bagaimana tidak? Keindahan Islam yang menebarkan kedamaian dan keselamatan seringkali tertutup atau sengaja ditutupi atau menutup diri dari rahmat Islam. Mereka adalah orang-orang yang di hatinya ada kebencian terhadap Islam, atau orang yang karena kepentingan dunia kemudian menganggap Islam sebagai agama yang membawa kepada kekerasan dan terorisme.

Mereka yang tidak suka dengan Islam memang beraneka ragam; dari mulai yang menjadikan Islam sebagai musuh karena doktrin yang diterimanya, karena kebodohan dan tidak pahamnya dia terhadap Islam, hingga karena bayaran yang murah kemudian berani untuk menghina Islam. Kelompok terakhir ini sepertinya yang saat banyak bergentayangan di dunia maya dan juga dunia nyata saat ini. Hanya karena dibayar dengan harga yang tidak sepadan dengan mulianya Islam, ia mau membuat statement yang menghina, mencela, memfitnah dan menebar fitnah bahwa Islam adalah agama kekerasan dan terorisme.

Jika Islam sulit difitnah karena sifatnya memang selalu membawa rahmah (kasih sayang) maka kemudian dicari hal lain yang terkait erat dengan Islam. Fitnah terhadap para ulama Islam sudah banyak dilakukan, pondok pesantren dan sekolah Islam dianggap sebagai sarang terorisme sudah juga terjadi, kelompok rohani Islam (rohis) dan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang dianggap sumber paham terorisme sudah terjadi, dan kini beredar fitnah bahwa bahasa Arab dianggap sebagai ciri-ciri terorisme.

Islam dan Arab memang tidak bisa dipisahkan, dalam makna bahwa Al-Qur’an turun di Jazirah Arab dan menggunakan bahasa Arab. Maka jika mereka tidak bisa menyerang Islam maka kini bahasa Arab diserang dianggap sebagai salah satu tanda dari paham terorisme.

Bahasa Arab adalah bahasa wahyu, kalamullah atau firman Allah Ta’ala yang disampaikan kepada para nabiNya khususnya Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam. Sebagai agama wahyu tentu bahasa Arab bukan bahasa sembarangan, apalagi dalam banyak ayat dan hadits menunjukan kedudukan dari bahasa Arab yang mulia. Tentu saja bukan berarti bahasa yang lainnya tidak bagus, sebagai media komunikasi yang digunakan oleh manusia maka setiap bahasa memiliki keistimewaan. Bedanya bahasa Arab dijadikan media komunikasi antara hamba dengan Sang Pencipta, yaitu Allah Ta’ala.  

Maka ketika bahasa Arab dianggap sebagai salah satu ciri-ciri dari terorisme, maka sejatinya statement  ini banyak memiliki penafsiran. Pertama, orang yang menyatakan itu adalah kelompok yang benci dengan Islam, sehingga semua hal yang berkaitan dengan Islam akan digugat. Misalnya, fitnah lama bahwa Jilbab adalah pakaian Arab adalah hal klasik yang hingga saat ini masih ada di beberapa masyarakat, demikian pula bahwa tindakan terorisme itu kebanyakan dilakukan orang Islam adalah propaganda yang sama sekali tidak terbukti. Karena cenderung muncul dari kebencian terhadap Islam yang terselubung karena banyak kepentingan keduniaan. Kedua, adalah orang-orang yang dibayar untuk menebarkan berbagai fitnah terhadap Islam, dan akhir-akhir ini semakin banyak terjadi. Berapa banyak mereka yang menebar fitnah tentang Islam karena mendapatkan bayaran dari orang-orang yang benci dengan Islam. Tentu saja sebagai umat Islam kita tak boleh tinggal diam, amar ma’ruf nahi mungkar adalah sebuah keniscayaan. Ketiga adalah fitnah yang sengaja ditebar untuk menutupi isu besar yang sengaja disembunyikan. Ini juga sering sekali terjadi, berbagai kasus pengeboman dan berita-berita tentang terorisme biasanya dibuat untuk menutupi berita besar yang jangan sampai terendus atau tersebar kepada publik. Ini memang syarat nuansa politik dan skenario global.  

Ketiga alasan ini tentu saja tidak dibenarkan, karena Islam tidak pernah mengajarkan terorisme, bahasa Arab yang digunakan Islam dalam teks wahyu pun tidak pernah mengajarkan kepada perbuatan yang mengundang kekerasan. Jangankan untuk melakukan terorisme, menumpahkan dari satu orang saja, baik muslim ataupun non muslim tanpa adanya sebab adalah sebuah dosa besar. Apalagi sampai melakukan kekerasan, kedzaliman dan segala bentuk terorisme di tengah masyarakat, faktanya justru umat Islam yang selalu menjadi korban.

Bahasa Arab adalah bahasa wahyu, maka ia adalah mulia dalam pandangan Islam, sebagaimana bahasa lain yang digunakan oleh kepercayaan lain yang dianggap sebagai bahasa suci. Maka menghina bahasa Arab sebagai tanda-tanda dari terorisme adalah penghinaan terhadap Islam, karena Islam dan bahasa Arab tidak bisa dipisahkan. Statement ini tentu saja mengundang kontroversi, tapi bagi umat Islam kita harus tetap bijak dan waspada, karena bisa jadi ini hanya permukaan karena sejatinya di bawah sana begitu banyak mereka yang belum memahami dengan baik Islam, atau yang karena kepentingan dunia mereka menyebarkan fitnah tentang Islam. Kita juga harus waspada karena bisa jadi ini hanya isu yang ditebar untuk mengalihkan perhatian umat Islam akan isu besar lainnya.

Bijak dalam menyikapi, sesuai dengan proporsi adalah pilihan terbaik saat ini, menanggapi dengan bijak serta membantah dengan hikmah itulah yang diperintahkan Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an yang berbahasa Arab pula. Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah kepada orang-orang yang belum paham dengan kedamaian dan keselamatan Islam, serta memberikan pelajaran kepada mereka yang benci dengan Islam dan Semoga Allah Ta’ala selalu menjaga umat Islam dari segala bala serta fitnah yang menimpanya. Wallahu’alam, 08092021.

Senin, 30 Agustus 2021

Membahagiakan Diri, Orang Lain dan Negara

Oleh: Misno bin Mohd Djahri 



Bahagia adalah dambaan setiap manusia, segala cara dilakukan untuk mendapatkannya. Seseorang pergi untuk bekerja pada pagi dan pulang malam hari hanya untuk mendapatkan kebahagiaan. Sebagian lainnya mengkuti semua jejang pendidikan dari mulai sekolah dasar sampai program doktoral untuk mendapatkan kebahagiaan. Sementara yang lainnya bersusah-payah mencari pasangan hidup yang sesuai dengan kriteria ideal dengan harapan mendapatkan kebahagiaan. Segala cara dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan kebahagiaan, bahkan ada yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang mereka pahami sebagai kebahagiaan.

Setiap orang memahami bahagia dengan perspektif yang berbeda, sebagian menganggap bahwa bahagia itu adalah ketika memiliki harta kekayan yang banyak. Sebagian lainnya berpendapat bahwa kebahagiaan adalah ketika jabatan dan kekuasaan ada di tangannya. Sebagian yang lain lagi berpendapat bahwa memiliki pasangan hidup idaman dan anak-anak yang baik adalah sebuah kebahagiaan sebenarnya. Intinya ukuran kebahagiaan akan berbeda antara satu orang dengan orang lainnya.

World Happiness Report yang disusun Sustainable Development Solutions Network untuk PBB, melaporkan daftar terbaru negara-negara paling bahagia di dunia untuk memperingati Hari Kebahagiaan Internasional yang jatuh pada 20 Maret setiap tahun. Pada tahun 2019 negara yang terpilih sebagai negara paling bahagia adalah Finlandia.

Masyarakat Finlandia bisa mendapatkan kebahagiaan seutuhnya dengan cara berbuat baik terhadap sesama. Mereka bisa menemukan makna hidup dan kepuasan melalui kesetaraan yang lebih tinggi dan dukungan sosial. Tak ada kesenjangan sosial di negara tersebut.

Hal itu dapat diartikan bahwa masyarakat Finlandia mampu mendapatkan kebahagiaan melalui usaha minimal, tidak dengan berusaha keras untuk bahagia. Selain itu, masyarakat Finlandia juga punya kesadaran yang tinggi dalam membayar pajak, karena mereka paham kalau hasil pajak akan digunakan kembali untuk mereka.

Finlandia sebagai negara paling bahagia di dunia memiliki masyarakat yang menerapkan gaya hidup minimalis. Perlu diketahui bahwa masyarakat di negara kawasan Eropa itu dikenal dengan gaya hidupnya yang minimalis. Mereka hanya menggunakan barang-barang bermanfaat saja.

Dalam kehidupan sehar-harinya, mereka juga menerapkan budaya “Sisu”, yakni budaya hidup bahagia meski berada di masa-masa sulit, mereka tetap semangat dan tabah. Selain itu, masyarakatnya juga sangat dekat dengan alam. Mereka begitu menggemari tradisi ‘terapi hutan’, yaitu menjelajah hutan hingga ke pinggiran sungai dan danau.

Peringkat kedua dari negara paling bahagia adalah Denmark. Masyarakat di negara tersebut menerapkan konsep Hygge, yakni cara hidup bahagia, menenangkan jiwa, dan nyaman. Untuk memulai menerapkan konsep Hygge, masyarakat Denmark menciptakan astmosfer yang tenang dan nyaman supaya betah di rumah. Biasanya rumah mereka didesain dengan konsep super cozy yang mengusung interior kayu dan gelas keramik. Selain itu, masyarakat Denmark juga selalu bersyukur sehingga menjadikan mereka lebih gemar menolong, lebih pemaaf dan tidak materialistis.

Peringkat ketiga diduduki oleh Islandia yang menjunjung tinggi kesetaraan, pajak rendah, pendidikan berkualitas, dan kesehatan gratis diterapkan pemerintah Islandia. Kesetaraan menjadi prioritas utama bagi pemerintah di negara yang memiliki pemandangan alam memukau itu. Bahkan, di tahun 2018, pemerintah Islandia telah menyetarakan upah antara pekerja pria dan wanita.Faktor terbesar itulah yang membuat Islandia menempati posisi keempat negara paling bahagia di dunia.

Peringkat selanjutnya Belanda yang terkenal dengan gaya hidupnya yang santai dan ramah. Untuk menciptakan hidup bahagia, mereka menerapkan konsep mendukung sepenuhnya dan kontrol seperlunya. Bagi kalangan dewasa seperti orang tua maupun guru menciptakan suasana yang setara antara satu sama lainnya. Hal itu membuat para remaja di Belanda tidak merasakan perundungan dan bisa berkomunikasi secara leluasa dan terbuka dengan guru maupun orangtuanya.

Swiss dinobatkan sebagai negara paling bahagia di dunia karena masyarakatnya sangat konsisten dalam urusan ketepatan waktu.Tepat waktu sudah mendarah-daging bagi DNA Swiss. Negara ini juga dikenal dengan berbagai brand jam tangan berkelas.

Budaya tepat waktu membuat Swiss sangat bisa diandalkan. Bila janji bertemu pukul 15.00, pertemuan pun akan terjadi tepat pada pukul 15.00. Letak geografis negara Swiss yang berada di kawasan pegunungan itulah yang membentuk karakter masyarakatnya selalu tepat waktu.

Selandia Baru, selain terkenal dengan keindahan alamnya yang luar biasa, Selandia Baru juga menjadi negara terbersih dari korupsi sehingga masuk sebagai negara paling bahagia di dunia. Kebijakan dan sistem penanganan korupsi yang diterapkan pemerintah Selandia Baru patut diacungi jempol. Tak ada lagi ruang bagi siapa pun juga untuk korupsi, sehingga birokrasi di negara ini sangat mudah. Misalnya, untuk mengurus izin-izin usaha, masyarakat Selandia Baru hanya butuh waktu sehari saja.Bahkan, Selandia Baru menempati posisi negara tercepat di dunia dalam urusan birokrasi. Maka tak heran, negara tersebut dijuluki sebagai negara bisnis tercepat di dunia.

Norwegia pernah menempati peringkat pertama sebagai negara paling bahagia di dunia pada tahun 2017 silam. Masyarakat di negara tersebut cenderung dekat dengan keluarga dan punya keinginan membina hubungan hangat dengan sesama.Keamanan finansial juga jadi faktor pendorong negara ini menjadi negara yang paling berbahagia di dunia ini. Di Norwegia, untuk biaya kesehatan, iuran yang harus dibayarkan maksimal US$ 300 per tahunnya.

Dengan begitu, masyarakatnya akan memperoleh fri korti (kartu bebas) sehingga mereka tak perlu lagi bayar biaya kesehatan sepanjang tahun.Karena kebutuhan medisnya terjamin membuat poin Norwegia menjadi terdongkrak dalam variabel penentu kebahagiaan.

Austria menjadi salah satu negara paling bahagia di dunia. Bahkan, Wina, ibu kota Austria menjadi salah satu kota yang memiliki kualitas hidup terbaik di dunia.Meski dikenal sebagai negara yang rendah sumber daya alam, namun pada kenyataannya Austria mampu membuat masyarakatnya lebih bahagia.Hal itu karena kejujuran menjadi budaya bagi masyarakatnya. Semua warga, mulai dari kalangan anak-anak hingga dewasa diajarkan kejujuran.Di semua tingkatan, pelajaran utama di sekolah Austria adalah menanamkan kejujuran.

Bagi pemerintah Austria, pintar penting, tapi kepintaran tanpa kejujuran bisa berujung malapetaka.Pemerintah Austria juga menjamin keamanan, kesehatan, dan pendidikan. Bahkan, jarang sekali ada polisi berseragam yang lalu-lalang di sepanjang kota.

Bagaimana dengan Indonesia? ia menempati urutan ke-92 dari 159 negara di dunia yang paling bahagia. Peringkat ini setidaknya lebih baik dibanding tahun sebelumnya yang berada di posisi ke-96.Selain itu, Indeks kebahagiaan Indonesia juga mengalami peningkatan dari 5,093 menjadi 5,192. Namun, kebahagiaan Indonesia masih tetap kalah dibandingkan beberapa negara di Asia Tenggara lain, seperti Singapura menempati peringkat ke-35, Filipina peringkat ke-69, dan Malaysia peringkat ke-80.

Membahas tentang kebahagiaan tidak akan lengkap tanpa memahami definisi kebahagiaan yang disebutkan oleh para ahli. Kebahagiaan menurut Aristoteles (Adler, 2003) menyatakan bahwa happiness atau kebahagiaan berasal dari kata “happy” atau bahagia yang berarti feeling good, having fun, having a good time, atau sesuatu yang membuat pengalaman yang menyenangkan. Sedangkan orang yang bahagia menurut Aristoteles (Rusydi, 2007) adalah orang yang mempunyai good birth, good health, good look, goodluck, good reputation, good friends, good money and goodnes

Kebahagiaan merupakan sebongkahan perasaan yang dapat dirasakan berupaperasaan senang, tentram, dan memiliki kedamaian (Rusydi, 2007). Sedangkan happiness atau kebahagiaan menurut Biswas, Diener & Dean (2007) merupakan kualitas dari keseluruhan hidup manusia apa yang membuat kehidupan menjadi baik secara keseluruhan seperti kesehatan yang lebih baik, kreativitas yang tinggi ataupun pendapatan yang lebih tinggi.

Fumham (2008) juga menyatakan bahwa kebahagiaan merupakan bagian dari kesejahteraan, contentment, to do your life satisfaction or equally the absence of psychology distress. Ditambahkan pula bahwa konsep kebahagiaan adalah merupakan sinonim dari kepuasan hidup atau satisfaction with life (Veenhoven, 2000). Diener (2007) juga menyatakan bahwa satisfaction with life merupakan bentuk nyata dari happiness atau kebahagiaan di mana kebahagiaan tersebut merupakan sesuatu yang lebih dari suatu pencapaian tujuan dikarenakan pada kenyataannya kebahagiaan selalu dihubungkan dengan kesehatan yang lebih baik, kreativitas yang lebih tinggi sertatempat kerja yang lebih baik.

Sumner (Veenhoven, 2006) menggambarkan kebahagiaan sebagai “memiliki sejenis sikap positif terhadap kehidupan, dimana sepenuhnya merupakanbentuk dari kepemilikan komponen kognitif dan afektif. Aspek kognitif dari kebahagiaanterdiri dari suatu evaluasi positif terhadap kehidupan, yang diukur baik melalui standardatau harapan, dari segi afektif kebahagiaan terdiri dari apa yang kita sebut secaraumum sebagai suatu rasa kesejahteraan (sense of well being), menemukan kekayaanhidup atau menguntungkan atau perasaan puas atau dipenuhi oleh hal-hal tersebut.

Diener (1985) menyatakan bahwa happiness atau kebahagiaan mempunyaimakna yang sama dengan subjective wellbeing dimana subjective wellbeing terbagiatas dua komponen didalamnya. Kedua komponen tersebut adalah komponen afektif dan komponen kognitif.

Dengan demikian, dapat disimpulkan pengertian kebahagiaan adalah perasaan positif yang berasal dari kualitas keseluruhan hidup manusia yang ditandai denganadanya kesenangan yang dirasakan oleh seorang individu ketika melakukan sesuatu hal yang disenangi di dalam hidupnya dengan tidak adanya perasaan menderita.

Kebahagiaan sebagai sebuah perasaan dapat muncul dengan adanya beberapa indikator yang ada, misalnya terpenuhinya kebutuhan pokoknya, keamanan yang terjamin, kesejahteraan dan fasilitas hidup yang cukup. Dalam skala negara, maka negara yang bahagia dapat dilihat dari; Pendidikan gratis, perawatan kesehatan, tingkat kejahatan rendah, jaminan sosial yang nyaman, populasi yang relatif homogen dan makmur.

Selain itu ada juga standar untuk mengukur kebahagiaan sebuah negara dilakukan berdasarkan usia harapan hidup, pendapatan per kapita, kebebasan untuk menentukan pilihan, dukungan sosial, hingga kemurahan hati.

Indonesia menempati posisi ke-92 dari 159 negara di dunia dalam tingkat kebahagiaan, maknanya bahwa warga negara Indonesia belum bisa merasakan kebahagiaan dengan sepenuhnya. Salah satu dari penyebabnya adalah karena mereka belum bisa menjadi pembelajar, ya... belajar adalah kunci utama dalam meraih bahagia.

Bukankah di Indonesia sudah ada wajib belajar minimal 9 (sembilan) tahun, yaitu dari tingkat sekolah dasar sampai sekolah menengah. Ini permasalahannya, bahwa ternyata pembelajaran yang dilaksanakan saat ini masih jauh dari tujuan pendidikan itu sendiri.

Metode belajar yang ada saat ini masih cenderung menempatkan anak sebagai obyek,  sehingga mereka dipaksa untuk menghafl berbagai rumus, teori dan berbagai ilmu pengetahuan. Bahkan sejak tingkat dasar mereka sudah diberikan mata pelajaran yang begitu bayak sehingga bukannya mereka merasa senang belajar, yang muncul adalah belajar itu menjadi beban sehingga mereka tertekan dan stress dengan belajar.

Selain itu pembelajaran yang diberikan tidak sesuai dengan perkembangan anak sehingga kita lihat anak sekolah menengah sudah belajar ilmu untuk perguruan tinggi. Akibatnya lagi-lagi anak tidak suka dengan yang namanya belajar.

Maka bagaimana caranya agar meraih bahagia? Jawabannya adalah dengan memahami makna bahagia, mengetahui kunci-kunci utama kebahagiaan dan menghilangkan segala penghambat dalam meraih kebahagiaan.

 

Rabu, 25 Agustus 2021

🥇 *SANG KSATRIA DAN MASA DEPAN SEMESTA*🥇

Oleh: Misno

🤴🏻 *Sang Ksatria...*
Seiring mentari terbit di ufuk timur sana
Kau hadir di tengah fananya dunia
Membawa cita, tentang semesta yang penuh angkara murka.

🤴🏻 *Sang Ksatria...*
Dalam buaian ayah dan bunda, kau tumbuh dalam kasih dan sayang dari keduanya...
Bukan tanpa duka, bahkan bersimbah darah dan air mata.

Kini kau telah menginjak usia remaja...
Bahkan ragamu jauh dari ayah bunda tercinta...
Demi sebuah cita-cita mulia...
Memberi manfaat untuk Agama, Negara dan bangsa. 

🤴🏻 *Sang Ksatria...*
Tataplah Sang Surya di angkasa Raya...
Kuatkan _azzam_, iringkan dengan ikhtiar dan doa dipanjatkan...
Genggamkan tangan, kaki diayunkan...
Tuk ber _mujahadah_
_Fii sabilillah_

Onak duri pasti akan kau temui...
Jurang menganga di kanan kiri.
Jadikan itu energi...
Tuk meraih Ridha Ilahi 

🤴🏻 *Sang Kstaria...*
Semesta menunggumu
Menunggu kontribusi teraju
Kerana ianya tertunduk malu
Pada manusia yang berlaku liku.

Katakan yang benar walau tantangan menghadang di hadapan
Hilangkan kemungkaran yang merusak kemanusiaan
Tegakan keadilan 
Agar semesta berada dalam kedamaian.

🤴🏻 *Sang Ksatria...* 
Ini adalah Hari istimewa...
Hari di mana engkau hadir di semesta Raya.
Maka, ucapkan kesyukuran 
Atas segala kenikmatan 

Ayah dan bunda selalu berdoa dengan penuh upaya
Agar engkau menjadi Sang Ksatria Perkasa...
Berkeyakinan mendalam...
Serta berjiwa para pahlawan

Selamat Milad penuh keberkahan untukmu Wahai Sang Kstaria
_Baarakallahu Fi umrika..._
Semoga Allah Ta'ala sentiasa memberkahimu, Wahai Penyejuk mata...
Tempat melabuh asa. 
Hingga nanti menutup mata.... 

Bogor, 24 Agustus 2021

Selasa, 24 Agustus 2021

Wahai Para Istri, Bertakwalah kepada Allah...

 Oleh: Misno Mohd Djahri




Ini kisah seorang suami yang telah melewati usia setengah abad, kehidupannya sudah mapan; ada jabatan dan juga kekayaan. Namun ada satu hal yang mulai mengganjal di hatinya, hasratnya sebagai laki-laki tidak lagi dapat tersalurkan sesuai dengan keinginannya. Ya... sejak istrinya mengalami menopause, hasratnya sebagai sebagai seorang perempuan menurun drastis bahkan bisa dikatakan telah tidak ada lagi. Sebaliknya suaminya yang berusia sekitar 55 tahun justru hasratnya kembali bergelora. Sebuah rona kehidupan yang saling bertentangan yang kemudian memunculkan konflik terpendam.

Setiap kali sang suami mengajak istrinya untuk menikmati “surga dunia”, sang istri menolaknya. Kalaupun sekali-kali mau melayani suaminya biasanya dengan penuh terpaksa dan tidak ada lagi “rasa” yang dulu ada. Masa-masa yang seharusnya dapat dinikmati bersama justru menjadi semacam “nestapa” bagi suami karena harus memadu rasa dengan jasad yang seolah-olah tanpa nyawa. Hambar, itulah kata yang dapat digunakan untuk menggambarkan keadaan sebenarnya.

Sang suami berusaha untuk bertahan, menikmati “hidangan” yang terasa tanpa garam itupun kadang hanya satu kali sebulan. Ia tak berani untuk “jajan” apalagi apalagi yang dijajakan di pinggir jalan. Dia termasuk orang yang masih berpegang teguh dengan yang namanya kesetiaan, walaupun tidak begitu teguh memegang prinsip keagamaan. Dia sadar dan terus berusaha menikmati “hidangan rumahan” yang walaupun hambar masih untuk sekadar menyalurkan di jalan yang benar.

Namun, hari-hari berikutnya hasrat itu sepertinya sudah betul-betul hilang dari sang istri, padahal sang suami justru mengalami peningkatan yang semakin menjadi. Hingga akhirnya seringkali sang suami melakukannya sendiri, di kamar mandi dan ketika rasa itu menghampiri. “Biarlah begini...” bisik suami dalam hati.

Pertahanan sang suami mulai mengendor, seiring bisikan kuat dari syaithon. Media sosial menjadi pintu gerbang bagi sebuah “musibah kemanusiaan” yang datang menghampirinya. Seorang lelaki muda dengan usia sekitar 40-an, berparas tampan dan memiliki jabatan lumayan, telah menarik perhatian sang suami yang kesepian. Rayuan manis dari sang iblis membawanya kepada suka dengan sesama jenis, ia sangat terobsesi dengan lelaki “muda” itu hingga hari-harinya selalu dihiasi dengan percakapan, obrolan hingga rayuan pada sang pujaan.

Sang suami terjebak ke dalam cinta terlarang dengan suami orang, ia sadar bahwa itu salah tapi dia juga paham jika ia “berkelana” dengan seorang wanita tentu akan lebih besar bahayanya. Selain juga citra di masyarakat yang akan memandang hina pada dirinya sebagai tokoh di masyarakat sekitarnya. Tapi hasratnya memaksanya untuk disalurkan segera, hingga peristiwa yang mengundang laknat dari Allah Ta’ala akhirnya terjadi juga.

Sepenggal kisah nyata ini menjadi ibrah yang penuh arti, khususnya bagi para istri yang mulai menginjak usia sudah tidak muda lagi. Apalagi yang telah melewati masa menopause dan tidak memiliki hasrat lagi. Bertakwalah kepada Allah wahai para istri... pahamilah suamimu yang walaupun usianya tidak lagi muda tapi masih memiliki hasrat membara. Itulah sejatinya karakter dari seorang pria, di mana hasratnya terus ada bahkan hingga lanjut usia. “Layanilah” suamimu walau hasrat tak lagi menggebu, jadikan dirimu “salju” yang mendinginkan panasnya nafsu suamimu.

Semoga itu menjadi satu jalanmu, untuk menggapai ridha dan surga Rabbmu. Sedikit memaksakan diri untuk “merayu” walau jasad tak lagi bernafsu, jangan biarkan suamimu terjebak dalam dunia semu hanya karena hasratmu tak seperti dulu.

Bagi para suami tentu saja harus terus bisa mawas diri, usia yang tak muda lagi menjadi alasan kuat untuk terus memperbaiki diri. Rasa ini memang tidak pernah akan pergi, mungkin hingga ajal menghampiri. Tapi, me-manage diri itulah yang bisa dilakukan dan terus berdo’a kepada Ar-Rahmaan agar hasrat ini bisa ditahan atau disalurkan di jalan yang benar. Berat memang terasa, tapi teruslah berusaha, karena di sanalah sejatinya kebahagiaan yang didamba akan lebih terasa kenikmatannya. Kenikmatan yang abadi selamanya, yaitu surga dan keridhaanNya. Wallahu’alam...

Dhuha Menjelang di Kota Hujan, 24082021.


Senin, 23 Agustus 2021

Bukan Tak Mau Divaksin...

 Oleh: Misno Mohd Djahri


Pandemi Covid-19 hingga saat ini belum selesai, bahkan di awal Agustus 2021 jumlahnya semakin meningkat. Hal ini yang kemudian menjadikan pemerintah menggenjot vaksinasi untuk semua warga negara. Jika pada awal mulainya program vaksinasi banyak terjadi kontroversi terkait dengan kehalalan vaksin, isu tentang chips yang ada pada vaksin hingga ancaman kematian apabila divaksin. Kontroversi ini perlahan mulai mereda dengan berbagai kampanye, isu dan pola komunikasi pemerintah yang massif kepada masyarakat hingga kemudian menjadi program nasional di tahun 2021.

Pihak-pihak yang menolak vaksin kini bisa dihitung, dari sedikit mungkin penulis salah satunya. Entah karena alasan ideologis, atau termakan berbagai isu tentang vaksinasi hingga logika sederhana yang selalu ada di benak “Saat ini saya sehat, Alhamdulillah. Kalau saya divaksin saya takut malah jadi sakit”. Entah sampai kapan logika ini akan bertahan, beberapa waktu lalu penulis sudah didaftarkan untuk ikut vaksinasi di Puskesmas dekat tempat kerja, namun karena jadwal yang tidak bisa diganggu gugat akhirnya tidak jadi vaksinasi. Waktu berjalan hingga lebih kurang dua bulan, kini lembaga membuka kembali program vaksinasi. Penulis sempat mendaftar melalui aplikasi dan meyakinkan diri untuk mengikutinya.

Namun, keraguan itu kembali muncul,  “Sekarang khan saya sehat, kalau nanti vaksin apa bisa menjadi tetap sehat?” pikirku dalam hati. “Belum lagi masih banyak tanggungan hutang, dan memakai uang orang lain yang harus dikembalikan. Juga rumah yang belum selesai dibangun serta anak dan istri yang masih memerlukan kehadiran saya”. Intinya kekhawatiran kalau divaksin takut malah jadi sakit dan.... MATI di akhirnya.

Bisa jadi alasan ini tidak benar, apalagi melihat berbagai kampanye tentang vaksin yang begitu massif dan menjamin bahwa vaksin itu aman. Bahkan seorang teman sangat menyayangkan sikap tidak mau divaksin, walaupun ada satu teman lagi yang hingga saat ini juga belum mau divaksin. Mungkin alasan yang disebutkan itu salah, karena terlalu egois atau terlalu takut mati. Belum lagi suara sumbang yang menyatakan bahwa mereka yang tidak mau divaksin adalah yang mengikuti atau minimal simpati dengan golongan agama tertentu.

Saya bukan tidak mau divaksin, tapi memang perlu waktu untuk meyakinkan diri bahwa vaksin itu perlu dan penting. Maklum saya termasuk orang yang suka ngeyel dan perlu waktu untuk memutuskan suatu permasalahan. Logika ini masih selalu terngiang-ngiang “Sekarang saya sehat, kalau divaksin takut jadi sakit dan.... bisa mati”. Terlalu norak dan tidak logis mungkin untuk sebagian orang, tapi biarlah untuk sementara ini saya masih bertahan dengan tidak divaksin. Entah sampai kapan, mungkin sampai saya yakin atau keadaan dan pihak lain memaksa untuk vaksin.

Bukan saya menolak vaksin, tapi saya perlu waktu untuk memikirkan kembali keputusan ini. Kalau dibilang mau kapan lagi? Jawabannya ya saya sendiri tidak tahu sampai kapan, karena keyakinan itu perlu argumentasi subyektif bagi saya. Kalau dibilang ngeyel memang iya, sudah sejak awal saya ungkapkan. Tapi, ya sudahlah... biarkan saja terserah orang mau berpendapat apa. Doakan saja pintu hati saya terbuka untuk segera divaksin... Bogor, menjelang tengah malam 23082021.  

Selasa, 17 Agustus 2021

Kemerdekaan dalam Bayang-bayang Konspirasi Global

 

Oleh: Misno Mohd Djahri

 

Tujuh belas Agustus menjadi hari yang bersejarah bagi Indonesia, ia adalah hari kemerdekaan Negara Republik Indonesia (NKRI). Perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2021 berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, karena masih berada dalam bayang-bayang Virus Corona. Ya... sudah lebih dari satu tahun pandemi ini belum berakhir, data dari Kementerian Kesehatan hingga 15 Agustus 2021; jumlah positif 3.854.354 dan korban meninggal dunia 117.588.

Kemerdekaan di tengah wabah ini bukan hanya memakan korban jiwa, tapi berbagai efek akan adanya wabah ini. Maklum, beberapa kebijakan memang cenderung tidak tegas dan membingungkan. Di sisi lain, “luka lama” dari Pilpres di tahun 2018 menyisakan kelompok oposisi yang terus mengkritisi kinerja pemerintah. Sementara umat Islam yang seringkali dirugikan dalam beberapa kebijakan, semisal; perayaan amadhan, Idhul Fitri, Idhul Adha hingga beberapa perayaan dan syiar keislaman yang seolah-olah “diredam”. Sehingga kemudian umat Islam menjadi makanan empuk bagi pada penyebar hoax di tengah umat.

Hasilnya pandemi Covid-19 bukan hanya tentang wabah yang melanda, tetapi telah banyak memunculkan berbagai konflik dan perselisihan di tengah masyarakat. Dari mulai kebijakan ekonomi, sosial, dan keagamaan. Contoh sederhana adalah vaksinasi yang masih mengundang kontroversi, jika pada awal perselisihan pada kehalalalannya, kemudian muncul berbagai berita yang menyebutkan bahwa vaksin tersebut berbahaya, bahkan isu yang menyebar mengandung “chips” tertentu yang dapat mengontrol tubuh orang yang sudah di-vaksin.

Semua itu tentu harus diluruskan sesuai dengan apa adanya, namun sayangnya lagi-lagi berita-berita seperti itu seolah-olah dibiarkan dan menjadikan bahan perdebatan panjang di masyarakat. Walaupun memasuki Agustus 2021 isu tentang vaksinasi ini sudah mulai berkurang dan “arus utama” telah memenangkan untuk sementara isu vaksin ini.

Bagi penulis, permasalahannya memang bukan hanya terkait dengan vaksinasi, ini adalah satu dari sekian banyak “fenomena” lain yang sejatinya merupakan rangkaian dari berbagai skenario yang didesain ada di dunia ini. Kita tidak tahu apa yang sedang dan akan terjadi karena keterbatasan informasi dan sulitnya mencari sebuah kebenaran saat ini. Apakah terkait dengan permusuhan abadi antara umat beragama khususnya kepada Islam, atau ada pihak-pihak yang ingin menguasai NKRI hingga isu pengurangan jumlah manusia (genocide). Kita akan menjadi saksi sejarah untuk bangsa ini ke depan nanti...

Sebagai orang beriman tentu saja kita harus terus berusaha meningkatkan keimanan, menyikapi segala yang terjadi dengan penuh keimanan, berikhtiar dan mencari sebuah kebenaran walaupun sulit untuk ditemukan. Penulis hanya berharap semoga pandemi ini segera berakhir dan perselisihan antar anak bangsa pun segera berakhir. Kita sudah lelah dengan perselisihan antar anak bangsa yang terkadnag memperebutkan “pepesan kosong” atau memperselisihkan berita yang tidak jelas sumbernya. Kita sudah capek dengan berbagai intrik politik yang mengorbankan rakyat hanya untuk kepentingan partai atau golonganya.

Indonesia adalah bangsa yang kaya dan besar, namun karena kekayaan yang dimiliki dan kebesarannya kemudian menjadi rebutan dari pihak-pihak yang memiliki kepentingan dunia. Entah mereka ingin menghancurkan Indonesia, atau merampok semua kekayaannya. Demikian pula umat Islam yang menjadi mayoritas penduduk Indonesia, selalu menjadi incaran dan korban dari berbagai isu global dunia, fundamentalisme, terorisme dan segala stigma negatif yang diarahkan kepada umat Islam. Lengkaplah sudah, Indonesia dan muslim mayoritas di dalamnya selalu menjadi incaran para bandit global, baik karena ideologi, ekonomi atau karena ingin menjajah kembali negeri tercinta ini.

Semoga NKRI tercinta tetap jaya dan dihindarkan dari segala bentuk marabahaya serta dari pihak-pihak yang ingin menghancurkannya... Rabby ja’alna hadza baladan aamina... Ya Allah jadikalna Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi negeri yang aman dan selalu diberkahi... Jadikan warganya aman sentausa dan selalu berada dalam lindunganMu. Aamiin Ya Rabbal alamiin. 17082021.

Jumat, 06 Agustus 2021

Kesabaran di Tengah Wabah: Berawal dari Keyakinan, Ikhtiar dan Tawakal

 Oleh: Misno bin Mohd Djahri



Syukur kepada Allah Ta’ala adalah sebuah keniscayaan, ia menjadi salah satu dari tanda-tanda keimanan seseorang. Syukur atas nikmat iman, Islam dan ikhsan, syukur secara khusus kita panjatkan atas masih diberikannya kita kesehatan sehingga mampu untuk melaksanakan salah satu kewajiban kita sebagai seorang muslim yaitu beribadah kepadaNya. Alhamdulillah...

Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan alam, habibana wa nabiyyana Muhammad Shalallahu alaihi wasasalam, kepada seluruh ahli baitnya, para shahabatnya serta orang-orang yang senantiasa mengikuti jejak sunnahnya hingga akhir zaman. Allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad...

Wabah yang masih melanda negeri tercinta ini sudah selayaknya disikapi dengan iman Islam serta keyakinan mendalam. Keyakinan bahwa semua itu adalah datang dari Allah Ta’ala:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. QS. Ath-Thaghabun: 11.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim, no. 2653).

Maka keyakinan bahwa musibah wabah virus corona sejatinya sudah menjadi kuasaNya dan telah termaktub adanya. Maka menyikapi hal ini setiap muslim haruslah bersabar, memperkuat kesabaran dan kembali bersabar, sebagaimana kalamNya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung. QS. Ali Imran: 200.

Sebuah riwayat dari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam:

قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: {الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُوْلَى}.

Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda, “Sabar itu ketika pertama kali mendapatkan musibah.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam Al-Bazzar dan imam Abu Ya’la dari sahabat Abu Hurairah r.a. imam An-Nawawi menjelaskan bahwa kesabaran sempurna yang terdapat pahala yang melimpah darinya adalah kesabaran ketika pertama kali mendapatkan musibah. Hal ini disebabkan karena betapa beratnya menerima hal itu.

Kesabaran yang dimaksud tentu bukan hanya pasrah menerimanya, namun tetap berusaha agar terhindar atau yang sudah terpapar agar segera sembuh darinya. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah Keadaan (nasib) sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan (perilaku) yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. al-Ra’d: 11).

Rasululah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:

لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ

“Sungguh, seorang dari kalian yang memanggul kayu bakar dan dibawa dengan punggungnya lebih baik baginya daripada dia meminta kepada orang lain, baik orang lain itu memberinya atau menolaknya”. HR. Bukhari.

Ikhtiar akan semakin sempurna jika dibarengi dengan doa, sebagaimana kalamNya:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Dan berfirman Tuhanmu “Memohonlah (mendoalah) kepada-Ku, Aku pasti perkenankan permohonan (doa) mu itu”. QS. Ghafir:60.

Apabila keyakinan sudah mendalam, ikhtiar sudah dilakukan maka akhir dengan berserah diri dan tawakal kepada Allah Ta’ala, sebagaimana kalamNya:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. QS. Ath-Thalaaq: 3.

Rasul Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:

لوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَ كَّلُوْنَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرُزِقْتُم كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا

Seandainya kalian sungguh-sungguh bertawakal kepada Allah, sungguh Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada seekor burung yang pergi dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang. HR.Tirmidzi.

Maka sebagai seorang mukmin dan muslim, upaya kita dalam menghadapi musibah ini adalah dengan terus meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala, bersabar dengan melaksanakan seluruh ikhtiar serta dilanjutkan dengan tawakal hanya kepada Allah Azza wa Jalla.

Semoga Allah ta’ala segera mengangkat wabah ini dan senantiasa menjaga serta memelihara umat Islam dari segala bentuk kemudaharatan. 060821.