Senin, 23 Januari 2023

Yuk Kita Tak Berdansa

Oleh: Misno Mohamad Djahri

 


Salah satu dari berita viral yang beredar saat ini adalah kontroversi tentang dua pelajar dari Ciawi Bogor yang melakukan tarian atau lebih tepatnya dansa. Berita ini sendiri tersebar melalui sebuah video yang memperlihatkan dua orang pelajar dengan pakaian seragam berdansa di depan teman-temannya di lapangan sekolah. Konfirmasi dari pihak sekolah menyebutkan bahwa kedua pelajar yang berdansa itu memang sengaja diperintahkan oleh pihak sekolah untuk membuktikan kepada teman-temannya bahwa mereka memiliki bakat berdansa dan berprestasi di bidangnya.

Tentu saja video ini banyak dikomentari oleh warganet, dari yang setuju bahwa itu adalah bentuk ekspresi seni dan bakat yang istimewa. Tetapi banyak juga yang menganggapnya sebagai hal buruk yang tidak sesuai dengan norma agama dan budaya, karena berdansa antara laki-laki dan perempuan, bersentuhan dan di depan banyak orang. Pihak-pihak yang tidak setuju menganggap bahwa dansa yang dilakukan dua pelajar tersebut menunjukan gambaran buruk dari generasi muda yang selalu ingin melakukan hal-hal yang hanya menyenangkan diri, seperti menyanyi, berjoget atau berdansa.

Sebagai seorang muslim kita juga harus melihatnya dengan kacamata agama, apalagi salah satu dari pelajar tersebut adalah seorang perempuan yang memakai hijab di video yang beredar kemudian dibuka dalam banyak penampilan ketika berdansa. Bagaimana sebenarnya Islam memandang tentang tarian dan dansa yang dilakukan oleh dua pelajar tersebut?

Berdansa atau menari sejatinya adalah gerakan anggota tubuh yang biasanya dilakukan dengan mengiringi musik atau lagi yang ada. Pada masa lalu ia bisa berupa ekspresi rasa suka dan Bahagia karena berbagai prestasi, ritual atau kegiatan sosial kemasyarakat yang ada. Saat ini menari dan berdansa menjadi hiburan dan sebagian ada juga yang dijadikan ajang kompetisi dan perlombaan sebagai bentuk keterampilan yang bisa dilombakan. Menari dan berdansa pada masa sudah ada, dan memang lebih banyak dilakukan perempuan-perempuan yang menjadi biduanita. Laki-laki biasanya akan menari atau menggerak-gerakan badan dengan senjata atau benda lainnya yang menunjukan kejantanannya. Hal ini seperti ini sebagai dalam sebuah riwayat dari Anas bin Malik, ia berkata,

كَانَتِ الْحَبَشَةُ يَزْفِنُونَ بَيْنَ يَدَىْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَيَرْقُصُونَ وَيَقُولُونَ مُحَمَّدٌ عَبْدٌ صَالِحٌ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا يَقُولُونَ ». قَالُوا يَقُولُونَ مُحَمَّدٌ عَبْدٌ صَالِحٌ

“Orang-orang Habasyah menari di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menggerak-gerakkan badan (menari) dan mereka mengatakan, ‘Muhammad adalah hamba yang saleh.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bertanya, ‘Apa yang mereka katakan?’ Orang-orang menjawab, ‘Mereka sebut bahwa Muhammad adalah hamba yang saleh.’” HR. Ahmad.

Tarian orang-orang Habasyah adalah dengan menggerak-gerakan senjatanya dengan lagu yang mengiringinya, ini terjadi pada hari raya sebagaimana disebutkan dalam riwayatnya. Sebagaimana riwayat lainnya menjelaskan dari ‘Aisyah binti Abu Bakar, ia berkata,

جَاءَ حَبَشٌ يَزْفِنُونَ فِى يَوْمِ عِيدٍ فِى الْمَسْجِدِ فَدَعَانِى النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فَوَضَعْتُ رَأْسِى عَلَى مَنْكِبِهِ فَجَعَلْتُ أَنْظُرُ إِلَى لَعِبِهِمْ حَتَّى كُنْتُ أَنَا الَّتِى أَنْصَرِفُ عَنِ النَّظَرِ إِلَيْهِمْ.

“Ada orang-orang Habasyah menggerak-gerakkan badan (menari) pada hari Id di masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilku. Aku meletakkan kepalaku di atas bahu beliau. Aku pun menyaksikan orang-orang Habasyah tersebut sampai aku sendiri yang memutuskan untuk tidak melihat lagi.” HR. Muslim.

كانَ الحَبَشُ يلعبونَ بِحِرابِهم فَسَتَرنِي رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ وأنَا أنْظُرُ ، فمَا زِلْتُ أنظرُ حتَّى كنْتُ أنا أَنْصَرِفُ

 

“Orang-orang Habasyah bermain-main dengan alat perang mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menabiriku dan aku berusaha untuk tetap melihat. Hal ini terus berlangsung hingga aku sendiri yang memutuskan untuk tidak melihatnya lagi.” HR. Bukhari.

Merujuk pada riwayat-riwayat tersebut, maka menari dengan gerakan yang mengiringi syair yang berisi kebaikan dan dilakukan oleh laki-laki tidaklah mengapa, khususnya dilaksanakan pada hari raya. Adapun jika dilakukan oleh laki-laki dengan gerakan-gerakan seperti perempuan maka hukumnya tidak diperbolehkan. Sebagaimana menari yang dilakukan oleh para perempuan di depan bukan mahramnya apalagi dengan tidak menutup aurat serta musik dan lagu yang berisi pemujaan terhadap syahwat dan keduniaan lainnya. Hukumnya adalah haram sebagaimana banyak disebutkan oleh para ulama, diantaranya adalah ulama Malikiyah, Hanafiyah, Hanabilah dan Al-Qafal dari Syafi’iyah mengharamkan joget atau menari. Sebab, kegiatan tersebut dinilai dana’ah (rendah) dan safah (bodoh) yang dapat menjatuhkan wibawa. Menurut Al-Abbi bahwa para ulama memaknai hadist tentang menarinya orang Habasyah hanya sekadar lompat-lompat dengan bermain alat-alat perang mereka. Kegiatan mereka tidak dibarengi hal-hal yang diharamkan seperti membuka aurat dan meminum khamr.

Adapun dansa yang dilakukan oleh dua pelajar tersebut hukumnya sudah jelas haram karena terjadinya interaksi fisik antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram serta dilakukan di depan umum. Kemudian wanita yang berdansa sendiri tidak menutup aurat serta diringi oleh musik-musik yang tidak diperkenankan dalam Islam.

Namun, hendaknya kepada dua pelajar tersebut dan pihak-pihak yang mendukung mereka diberikan nasehat yang baik dan pemahaman bahwa yang mereka lakukan adalah terlarang dalam agama dan tidak sesuai dengan budaya bangsa. Agama Islam telah memberikan larangan secara jelas mengenai hukum menari atau berdansa yang dilakukan dua orang laki-laki perempuan yang bukan mahram serta tidak menutup aurat. Sedangkan secara budaya bangsa, bahwa berdansa seperti yang dilakukan oleh dua pelajar tersebut sejatinya bukanlah budaya Indonesia, itu adalah budaya luar yang belum tentu sesuai dengan budaya kita. Maka menjadi tugas dan tanggungjawab guru, tenaga pendidik, orang tua dan masyarakat secara umum untuk selalu memberikan nasehat yang baik kepada generasi mud akita agar tidak terbawa dalam budaya yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama dan budaya bangsa Indonesia. Wallahu a’lam. 23012023.

Mengelola Hati agar Tidak ada Rasa Dengki

Oleh: Misno Mohamad Djahri

 


Manusia adalah makhluk sosial, sehingga ia membutuhkan interaksi dengan manusia lainnya. Proses interaksi ini berlangsung antar sesama manusia baik secara langsung ataupun melalui media sosial, sehingga dalam proses ini terjadi interaksi saling melihat, mendengar dan terkadang terjadi kontak fisik. Hal pertama yang terjadi dalam interaksi ini adalah kontak mata, di mana mereka yang berinteraksi akan melihat dengan mata kepala lawan interaksinya. Dari sinilah kemudian antara manusia dengan manusia lainnya dapat melihat atau memandang antara yang satu dengan yang lainnya. Tampilan fisik yang terlihat memunculkan berbagai perspektif, jika dalam pandangan seseorang tampilan fisik ini sesuai dengan dirinya maka akan terjadi interaksi yang lebih nyaman, namun jika tampilan fisik ternyata tidak sesuai dengan apa yang diharapkan maka sering sekali muncul rasa tidak nyaman atau bahkan merasa “jijik” ketika melihatnya.

Sebagai contoh seseorang yang bertemu dengan orang lain dengan banyak tato di sekujur tubuhnya, atau berinteraksi dengan orang dengan dandanan ala punk. Maka bagi beberapa orang interaksi dengan mereka tidak nyaman karena hati dan keyakinannya akan berpendapat bahwa orang dengan gaya seperti itu bukanlah orang shaleh. Demikian pula apabila kita berjumpa dengan seseorang yang memiliki cacat di tubuhnya, wajah yang hitam dan penuh luka, mata yang buta, bibir sumbing atau muka yang penuh luka atau tato. Maka jangankan untuk memandang lebih lama, untuk menatapnya sekilas saja akan menjadi malas. Juga apabila kita berinterkasi dengan orang lain namun wajah, gesture dan bahasa tubuhnya tidak menyenangkan kita, maka yang muncul adalah rasa tidak nyaman sehingga kita berupaya untuk tidak memandang dan menjauhi orang tersebut.

Merujuk pada pembahasan sebelumnya maka sebagai seorang muslim tentu sajja kita harus mampu untuk mengelola hati agar tidak muncul rasa tidak nyaman, tidak suka bahkan dengki yang ada di hati. Hal ini karena Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ.

“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati dan amalan kalian.” HR. Muslim.

Riwayat ini secara jelas menyebutkan bahwa rupa dan harta bukanlah sesuatu yang dilihat oleh Allah Ta’ala, akan tetapi baiknya hati dan amalan itulah yang menjadi ukuran baik tidaknya seseorang. Sehingga ketika kita berinteraksi dengan orang lain, di mana orang tersebut tidak nyaman untuk dilihat baik karena fisik atau tampilan lainnya maka jangan sampai terbawa kepada stigma yang negatif, apalagi merasa tidak suka sampai pada jijik melihatnya tanpa adanya alasan syar’i. Termasuk ketika melihat orang lain yang “buruk rupa” atau memiliki karakter yang terkesan menyebalkan, hendaknya kita mengelola hati kita agar tidak muncul rasa negatif yang dilarang oleh agama.

Sebagaimana manusia sebenarnya wajar, ketika melihat tampilan fisik orang lain yang cacat, luka atau buruk rupa kita merasa tidak nyaman. Demikian pula sebagai orang beriman kita tidak suka melihat orang yang badannya penuh dengan tato atau penampilan gaya punk atau wanita yang tidak memakai pakaian syar’i. Tetapi di sinilah tempatnya kita harus mengelola hati, di mana jangan sampai terjebak pada tampilan fisik dan luaran karena sejatinya itu semua adalah ciptaan Ar-Rahman. Tampilan fisik dan luaran juga bukan ukuran, karena bisa jadi orang yang tampilan luarnya buruk rupa atau terkesan menyebalkan sejatinya dia adalah orang paling baik dan bertakwa di sisi Allah Ta’ala.

Mari mengelola hati kita agar tidak mudah menilai seseorang dari tampilan fisik dan luarnya, tapi kepada amal baik dan keshalihannya. Bila kita belum mengenalnya lebih lama maka bersikaplah sesuai dengan aturan agama (syariah), tidak berburuk sangka dan menjunjung tinggi adab dalam Islam yang mulia. Karena sekali lagi, tampil fisik adalah pemberian dari Allah Ta’ala, bahkan manusia tidak bisa untuk merubahnya, sedangkan manusia akan dinilai dari hati dan amal baiknya. Wallahu a’lam. 23012023.

Jumat, 20 Januari 2023

Jangan Memanggil Orang Lain dengan Panggilan yang Tidak Disukainya

Oleh: Dr. Misno, SHI., SE., MEI


 

Islam adalah agama yang sangat memperhatikan adab (etika) sesama manusia, salah satunya adalah dengan syariah (aturan) mengenai panggilan kepada orang lain. Setiap muslim dilarang untuk memanggil saudaranya dengan gelaran yang tidak disukainya, misalnya “Hai Gendut, Hai Hitam, Hai Kurus, Hai Mince” dan panggilan lainnya yang tidak disukai oleh orang yang dipanggilnya. Apalagi jika orang yang dipanggil tersebut tidak suka dan menjadi sakit hati, maka haram hukumnya dan orang yang memanggil telah berbuat dosa.

Dasar hukum dari haramnya memanggil orang lain dengan panggilan yang buruk atau yang tidak disukai oleh orang yang dipanggil adalah firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) itu lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri (maksudnya, janganlah kamu mencela orang lain, pen.). Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar (yang buruk). Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk (fasik) sesudah iman. Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” QS. Al-Hujuraat [49]: 11.

Ayat ini secara jelas menunjukan larangan untuk memanggil orang lain dengan panggilan yang buruk dan tidak disukainya. Hukumnya haram dan menjadi kesepakatan para ulama, sebagaimana perkataan dari Imam Nawawi:

وتفقوا العلماء على تحريم تلقيب الانسان بما يكره سواء كان له صفة كالاعمش والاعرج. او كان صفة لابيه او لامه او غير ذالك مما يكره

Sepakat para ulama atas haram hukumnya memanggil seseorang dengan panggilan yang ia benci. Meskipun panggilan tersebut memang disifati oleh orang yang dipanggil tersebut. Seperti panggilan “Si buta” atau “Si Pincang”. Atau panggilan tersebut merupakan sifat yang menempel pada orang tua atau panggilan lain yang dibenci oleh orang yang dipanggil dengan nama tersebut. Beliau merujuk firman Allah dalam Q.S Al Hujarat ayat 11.

Keharaman ini didasarkan kepada kehormatan dari orang lain yang harus dijaga dalam Islam, jangan sampai ketika seseorang memanggil orang lain dengan panggilan yang buruk dan tidak disukainya maka itu sama saja dengan menyakitinya baik disengaja ataupun tidak. Padahal dalam Islam menyakiti orang lain apalagi dia seorang muslim hukumnya adalah haram, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سِبَابُ المُسْلِمِ فُسُوقٌ، وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

“Mencela seorang muslim adalah kefasikan (dosa besar), dan memerangi mereka adalah kekafiran.” HR. Bukhari dan Muslim

Memanggil orang lain dengan panggilan yang buruk atau tidak disukai hukumya adalah haram karena merupakan bentuk celaan terhadap muslim, ini adalah bentuk kefasikan dalam Islam, sehingga sangat dilarang melakukannya.

Sebaliknya, dalam Islam sangat dianjurkan untuk memanggil orang lain dengan panggilan yang baik dan disukai oleh orang tersebut. Sebuah riwayat yang lemah sanadnya namun maknanya benara, yaitu:

يُعْجِبُهُ أَنْ يُدْعَى الرَّجُلُ بِأَحَبِّ أَسْمَائِهِ إِلَيْهِ، وَأَحَبِّ كُنَاهُ

“Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam suka ketika seseorang dipanggil dengan namanya yang paling dia sukai dan dengan kunyah yang paling dia sukai.”

Riwayat ini dikuatkan oleh atsar dari Umar bin khattab yang berkata, “Ada dua hal yang bisa menjernihkan cintamu kepada saudara-saudaramu: hendaklah engkau mengucapkan salam kepadanya terlebih dahulu ketika berjumpa, dan panggillah ia dengan nama yang paling disukainya.”

Merujuk pada ayat, hadits dan atsar para ulama tersebut maka dapat disimpulkan bahwa memanggil orang lain khususnya orang muslim lainnya dengan panggilan yang buruk atau tidak disukai oleh orang yang dipanggilnya hukumnya adalah haram dalam Islam. Hal ini karena merupakan bentuk celaan dan mengolok-olok orang lain yang jelas haramnya dalam Islam.

Hendaknya kita memanggil orang lain khususnya seorang muslim dengan ucapan yang baik, misalnya “Wahai saudaraku (Akhi), Ya… Ikhwan” dan panggilan lainnya yang menyenangkan bagi orang yang dipanggil. Wallahu a’lam. 20012023.

 

 

Kamis, 19 Januari 2023

Kekuranganku adalah Kekuatanku

Oleh: Ahmad Berhimin, SE., ME (Putra Lintang)

 


Sekilas perjalanan hidup manusia yang diciptakan oleh Allah Ta’ala sangatlah sempurna. Ia adalah mahluk yang paling istimewa di antara mahluk yang lain, karena Allah Ta’ala menciptakan manusia dengan wujud yang indah kalau dilihat secara fisik dan manusia juga diberikan akal dan pikiran yang membuat mahluk yang namanya manusia menjadi luar biasa sempurna.

Berbicara tentang yang namanya manusia, saya adalah adalah satu ciptaan Allah Ta’ala yang menurut saya sangatlah sempurna. Oleh karena itu wajib bagi saya bersyukur dan selalu memjalankan perintah dan laranganNya serta selalu baik kepada sang pencipta yaitu Allah Ta’ala.

Akan tetapi saya sendiri menyadari Allah Ta’ala menciptakan saya lengkap dengan kelebihan dan kekurangan, dalam hal ini saya sampaikan bahwa kekurangan saya ini banyak sekali, itu menurut penilaian saya. Sebagai contoh: kekurangan saya dalam bersosialisasi  dan rasa minder saya dalam bergaul membuat saya menjadi manusia yang pendiam dan selalu takut dalam melangkah. Sekuat tenaga saya menepis hal tersebut, akan tetapi setiap saya memulainya saya selalu ada rasa takut karena dipandang rendah dan selalu menjadi bahan celaan dan fitnaan. Itu adalah kekuranganku,  akan tetapi dalam doa dan harapanku selalu semoga di balik kekuranganku aku bisa menjalani hidupku dengan baik dan aku jadikan kekuranganku menjadi kelebihanku.

Akhirnya, semoga dalam menjalani kehidupan ini selalu ada titik terang yang baik buat saya dan selalu menuntun saya ke arah lebih baik dan menjadikan saya manusia yang diridhai hidupnya dan menjadikan kekeuranganku sebagai rem atau pengingatku akan dahsyatnya kekuasan Allah Ta’ala. @ ABEE 180123 @

Hanya Orang Kerdil yang Tidak Mensyukuri Nikmat Bisa Buang Air Kecil

Oleh: Misno Mohamad Djahri


 

Hari ini saya berkunjung ke seorang kawan yang diberikan cobaan oleh Allah Ta’ala berupa sakit gagal ginjal. Bukan hanya satu tetapi dua ginjalnya sekaligus sudah tidak bisa berfungsi, sehingga tiga kali dalam sepekan harus cuci darah di rumah sakit. Syukurnya kawan ini adalah orang yang mengerti dan paham agama, lulusan dari univesitas al-Azhar Mesir yang saat juga menjadi pembina sebuah pesantren di Kawasan Bogor Barat. Sejatinya sudah hampir satu tahun beliau sakit dan harus melakukan cuci darah yang awalnya hanya dua kali dalam sepekan, kini harus menjalani tiga kali ditambah satu penyakit lagi yaitu Hepatitis C yang beliau derita.

Berbincang dengan beliau maka mengingatkan pada satu nikmat yang kelihatannya sepele yaitu buang air kecil atau pipis. Beliau sempat menjawab “Ya, saat ini sudah tidak bisa buang air kecil (pipis) secara normal lagi”, “Cairan air seni itu menyerap ke dalam tubuh apabila tidak segera dikeluarkan melalui bantuan dari tenaga medis” terang beliau Panjang lebar. Ya… nikmat dalam bentuk bisa buar air kecil adalah nikmat yang kelihatannya kecil, padahal itu adalah sebuah kenikmayan yang tidak bisa dinilai dengan uang. Cairan air seni yang berupa kotoran apabila tidak bisa dikeluarkan akan menjadi penyakit dan tentu saja kemudharatan yang akan terjadi pada orang tersebut.

Belajar dari kisah beliau ini maka kita diingatkan dengan nikmat masih bisa buang air kecil dengan normal sesuai dengan penciptaan manusia. Ia masuk ke dalam nikmat kesehatan yang memang kebanyakan manusia tidak lalai (sering lupa) darinya. Sebagaimana riwayat dari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam di mana beliau bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. HR. Bukhari.

Ibnu Baththal menyatakan, ”Seseorang tidaklah dikatakan memiliki waktu luang hingga badannya juga sehat. Barangsiapa yang memiliki dua nikmat ini (yaitu waktu senggang dan nikmat sehat), hendaklah ia bersemangat, jangan sampai ia tertipu dengan meninggalkan syukur pada Allah atas nikmat yang diberikan. Bersyukur adalah dengan melaksanakan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan Allah. Barangsiapa yang luput dari syukur semacam ini, maka dialah yang tertipu.”

Ibnul Jauzi menyatakan, ”Terkadang manusia berada dalam kondisi sehat, namun ia tidak memiliki waktu luang karena sibuk dengan urusan dunianya. Dan terkadang pula seseorang memiliki waktu luang, namun ia dalam kondisi tidak sehat. Apabila terkumpul pada manusia waktu luang dan nikmat sehat, sungguh akan datang rasa malas dalam melakukan amalan ketaatan. Itulah manusia yang telah tertipu (terperdaya).”

Merujuk pada riwayat dan pendapat para ulama tersebut maka dapat dipahami bahwa sudah selayaknya kita bersyukur dengan segala kenikmatan yang telah Allah Ta’ala berikan kepada kita. Termasuk nikmat yang kelihatannya sangat kecil yaitu nikmat bisa buang air kecil (pipis) dengan normal. Karena banyak sekali orang di luar sana yang menderita sakit ginjal sehingga ginjalnya tidak bisa digunakan dan efeknya adalah tidak bisa buang air kecil (pipis) secara normal.

Cara untuk mensyukuri nikmat ini adalah dengan meyakini bahwa kenikmatan tersebut datang dari Allah Ta’ala yang telah menciptakan setiap bagian tubuh manusia yang berguna. Kemudian mengucapkan rasa syukur dengan hamdalah yaitu Alhamdulillah wa syukru lillah serta menggunakan kenikmatan tersebut di jalan Allah Ta’ala.

Semoga kita termasuk orang-orang yang bersyukur dalam seluruh kenikmatan, termasuk kenikmatan yang kelihatannya kecil seperti nikmat dapat buang air kecil (pipis). Wallahu a’alam. 19012023.


Sahabat Dunia Akhirat (Bag. 1)

Oleh: Ahmad Berhimin, SE., ME (Putra Lintang)

 


Pada saat kenal pertama kali dengan beliau sahabat baik saya ini seperti tidak disengaja dan tidak direncanakan. Beliau adalah teman atau sahabat yang saya kenal dari media sosial, sejak awal berteman di media sosial selalu komunikasi dan berbicara layaknya teman yang sudah kenal lama obrolan dan perbincangan di media sosial terkadang tidak nyambung. Mungkin bisa jadi karena sinyal internet atau mungkin bisa juga karena perbedaan cara pandang dan pemahaman.

Akhirnya seiring waktu karena perkenalan di media sosial tersebut tanpa disengaja saya kena musibah. Saya di tempat bekerja kena pemutusan kerja bahasa keren-nya anak muda sekarang RESIGN atau Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Dari sinilah awal saya bertemu langsung dengan sahabat saya ini, hingga saya bertemu langsung di suatu tempat beliau kerja. Saya datang dengan keadaan saya yang apa adanya, memakai pakaian seadanya yaitu kaos oblong dan celana pendek. Saya menuju ke tempat sahabat saya kerja ketika jam menunjukan waktu sudah selesainya jam kerja sekitar jam 16.00 WIB.

Tanpa basa-basi saya menanyakan kabarnya dan tidak menghiraukan rasa malu karena pakaian yang saya kenakan teramat sederhana. Akan tetapi saya melupakan hal tersebut dan tanpa memikirkan apa jadinya penilaian orang kepada saya dan penilaian sahabat saya juga, padahal ini adalah pertemuan saya untuk pertama kali setelah kenal lama di media sosial.

Sahabat saya ini mempersilakan saya duduk di kursi sofa kantor tempat di mana beliau kerja dengan ramah. Sahabat saya ini berbicara dan bertanya dengan saya langsung, Apa kabar?? Bagaimana keadaannya ?? dan lain sebagainya.

Saya menjawab dengan hati gembira pertanyaan dengan baik satu persatu, walaupun sebenarnya kondisi saya yang lagi bingung karena saya lagi nganggur alias tidak bekerja. Akan tetapi saya tepiskan dulu pikiran tersebut agar sahabat saya ini tidak menilai kesan pertama sudah tidak enak, sahabat saya ini ngobrol panjang lebar bercerita dan lain-lainya. Tanpa terasa sudah 1 jam kita ngobrol tiba saatnya saya pamitan ke sahabat saya ini sambil saya bilang tanpa malu-malu, minta tolong bantuin nyariin kerjaan buat saya.

Sahabat saya ini dengan baiknya langsung menjawab “Iya, nanti dicarikan dan diusahakan, siapkan saja berkasnya, insyaallah kalau rejeki pasti bisa dan keterima”. Begitu baiknya sahabat saya ini dan begitu perhatiannya sahabat saya ini karena itulah wajar kalau saya mengatakan dia orang yang baik.

Inilah kisah sahabat dunia akhirat, moga dia selalu menjadi sahabat baikku di dunia dan di akhirat nanti. Serta menjadi sahabat yang selalu memberikan arah yang positif. Aamin ya robbal alamin. Tersima kasih sabahabtku doaku semoga  sahabatku menjadi ahli surga Firdaus Allah ta’ala. @ ABEE 190123 @

Rabu, 18 Januari 2023

Tulisanku Ibadahku

Oleh: Misno Mohamad Djahri

 


Menulis bukanlah sekadar merangkai kata menjadi sebuah kalimat, merangkai kalimat menjadi sebuah paragraf dan memadukan paragraf saling padu menjadi satu kesatuan ide dan gagasan. Menulis adalah bentuk dari aktifitas yang memiliki nilai ibadah, karena di dalamnya mengandung upaya mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala melalui ajakan kepada yang ma’ruf dan cegahan dari segala bentuk kemungkaran.

Merujuk pada makna ibadah sendiri, yaitu;

 العبادة اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه من الأقوال والأعمال  الباطنة والظاهرة

Ibadah adalah satu kata yang mencakup segala hal yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, baik itu perkataan maupun perbuatan, perkara batin maupun zahir.

Merujuk pada pengertian ini maka seliuruh aktifitas yang dicintai dan diridhaiNya maka ia adalah ibadah dalam rangka penyembahan dan penghambaan diri kepada Allah Ta’ala. Maka, menulis adalah sebuah aktifitas yang akan dinilai ibadah apabila diniatkan karena Allah Ta’ala dan selaras dengan tuntunan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam.

Ikhlas dalam menulis bermakna meluruskan niat dalam menulis yaitu untuk mendapatkan pahala dan ridha dari Allah Ta’ala, caranya yaitu dengan menuliskan hal-hal yang dicintai dan diridhai berupa ajakan untuk berbuat kebajikan (ma’ruf) dan cegahan dari segala bentuk kemungkaran. Termasuk di dalamnya menuliskan syariat, hikmah dan segala yang yang bermanfaat untuk manusia baik di dunia maupun di akhirat.

Mengikuti Rasulullah (mutaba’aturasul) dalam menulis yaitu dengan mencontoh bagaimana beliau mengajak untuk berbuat baik kepada umat manusia dan mencegah kemungkaran dengan penuh hikmah dan ketauladanan. Termasuk hal ini adalah menuliskan sifat-sifat beliau yang agung sebagai rahmat bagi seluruh alam, serta praktik yang dilakukan oleh para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum.

Jika demikian adanya, maka tulisanku adalah ibadahku. Tidak ada niat lain kecuali mengharapkan pahala dan keridhaan Rabb-ku, walaupun kata ikhlas tidak perlu didzahirkan dalam lisan dan tulisan tetapi sebagai motivasi diri bahwa tulisan ini adalah salah satu dari bukti ibadah (penghambaan) kepada Ilahi. Salah satu bukti dari upaya mencapai keikhlasan ini adalah penulis tidak pernah berfikir apakah tulisan ini akan dibaca atau tidak, apakah akan disukai (like) atau tidak. Karena, Bismillah tulisan ini saya niatkan karena Allah Ta'ala. Tentu saja tulisan ini juga mengikuti petunjuk nabi yang suci, di mana beliau telah memberikan pedoman dalam seluruh kegiatan, termasuk menulis yaitu menuliskan segala kebajikan agar memberikan manfaat bagi seluruh alam. Wallahua’lam, 18012023.

Pengalaman Belajar Teknis Menulis

Ahmad Berhimin, SE., ME (Putra Lintang)


Pengalaman Belajar Teknis Menulis

Ahmad Berhimin, SE., ME (Putra Lintang)

 

Perkenalan saya dengan dunia tulis-menulis seperti tidak direncanakan, seorang sahabat baik memperkenalkan tentang teknis tulis-menulis. Sahabat saya ini memberikan masukan dan juga bercerita tentang menulis mulai dari bagaimana indahnya menulis. Ia berkata dengan menulis kita bisa mencurahkan apa yang telah kita lalui, apa yang kita alami,  yang telah dipelajari dan bisa juga kita berbagi ilmu juga dengan menulis kita bisa menberikan manfaat atau motivasi kepada orang lain.

Awalnya saya tidak bisa sama sekali bagaimana menulis dan teknik menulis dikarenakan di dalam pikiran saya terpatri bahwa menulis itu sulit atau tidak gampang. Menulis itu butuh keterampilan bagaimana mengolah kata-kata yang baik dan benar juga harus sesuai kaidah Bahasa, khususnya bahasa Indonesia yang baik dan benar, atau merangkai kata-kata agar bahasa yang dituliskan tersambung secara baik dan benar.

Seiringnya waktu saya mulai menulis dalam bentuk artikel, hari demi hari saya jalani untuk belajar menulis, dari belajar bahasa untuk menulis yang mana yang baku atau tidak baku, belajar menempatkan kata kata agar tersambung dengan baik dan terstruktur. Penempatan huruf kecil dan huruf kapital dan juga tanda baca dalam penulisan.

Di dalam penulisan pun banyak sekali sahabatku ini berkomtar dan memberikan masukan, terkadang membuat saya yang baru belajar menulis ini menjadi serba salah dan bingung dan terkadang menbuat semangatku menghilang dan drop. Saya merasa tidak manpu dan juga dalam benak saya banyak sekali aturan dan kritikan yang harus saya hadapi dan lalui, sehingga tulisan tersebut menjadi baik, enak dibaca orang dan memberikan manfaat bagi orang lain.

Salah satu pemacu dari sahabtku ini adalah menulislah  apa yang mau kamu tulis dengan otak kirimu, keluarkan juga semua ide imajinasimu dengan bantuan otak kirimu setelah kamu tulis dan kamu jabarkan tulisanmu lalu rapikanlah dengan otak kananmu. Insya Allah akan ada hasilnya, tulisanmu akan semakin baik dan pada waktunya akan enak dibaca orang lain dan memberi manfaat bagi para pembacanya. Semoga… @ ABEE 180123

Kisah Penting dari Orang-orang Penting

Oleh: Ahmad Berhimin, SE., ME (Putra Lintang)

 


Sudah beberapa hari ini terhitung dari Jumat tanggal 13 Januari 2023 Jam 09.00 WIB sampai selesai jam 16.00 WIB kemudian hari Senin tgl 16 Januari 2023 berarti pendistribusian surat pengantar sosialisasi beasiswa dalam acara IGT (INAIS GOES TO SCHOOL) sudah berjalan dua hari lamanya yaitu hari jumat dan hari senin. Hal ini arena jadwal Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolahan yang dituju hanya memberlakukan lima hari kerja yaitu senin sampai jumat sesuai dengan peraturan Kemedikbud yang berlaku.  

Dalam pendistribusian surat pengantar tersebut saya bertemu dan berjumpa dengan orang-orang yang penting dalam dunia pendidikan. Saya merasa tersanjung dan merasa bahagia, orang yang saya temui tersebut diantaranya adalah kepala sekolah, wakil kepala sekolah, kepala humas dan para guru-guru yang sangat berdedikasi di dunia pendidikan yang bagi saya sangat baik dan mulia dalam menjalankan amanah untuk berbagi ilmu sesuai disiplin ilmu yang mereka kuasai.

Pertemuan yang sangat berharga ini berbekas di dalam sanubariku, terekam di dalam memoriku betapa indahnya dan betapa megahnya seandainya apa yang saya temui ini berlangsung di dalam semua sendi kehidupan dan tidak hanya formalitas di lingkungan pendidikan akan tetapi bisa diterapakan di lingkungan lainya. Hal ini sesui dengan anjuran rasul dalam haditsnya:

وَخَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” HR. Al-Qadlaa’iy dalam Musnad Asy-Syihaab.

Alhamdulillah semoga apa yang kita harapkan dan kita doakan yang niat baik untuk kemaslahatan umat di kabulkan oleh Allah subhanahu wataallah,  amin dan apa yang kita harapkan jadi indah dan amanah di semua lini. Abee 170123

Wasiat bagi Imam Shalat

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri

 


Salah satu dari syariah Islam dalam shalat adalah dilaksanakan dengan berjamaah di masjid bagi laki-laki, keutamaannya sangat banyak bahkan pahalanya mencapai 27 kali lipat. Shalat berjamaah meniscayakan adanya imam yang menjadi pemimpin dalam pelaksanaannya, untuk menjadi imam ada syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi agar shalat berjamaah yang dilaksanakan dapat mencapai tujuan yang diharapkan.

Sayangnya masih ada beberapa imam yang kurang memahami keadaan makmumnya, ada yang terlalu cepat dalam bacaan dan gerakannya dan sebaliknya ada juga yang sangat lama sehingga menyusahkan sebagian makmum yang shalat di belakangnya.

Seorang yang akan menjadi imam shalat harus memenuhi kriteria sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam:

يَؤُمُّ القومَ أقرؤُهم لكتابِ اللهِ . فإن كانوا في القراءةِ سواءً . فأعلمُهم بالسُّنَّةِ . فإن كانوا في السُّنَّةِ سواءً . فأقدمُهم هجرةً . فإن كانوا في الهجرةِ سواءً ، فأقدمُهم سِلْمًا . ولا يَؤُمنَّ الرجلُ الرجلَ في سلطانِه . ولا يقعدُ في بيتِه على تَكرِمتِه إلا بإذنِه قال الأشجُّ في روايتِه ( مكان سِلمًا ) سِنًّا

“Hendaknya yang mengimami suatu kaum adalah orang yang paling baik bacaan Al Qur’annya. Jika mereka semua sama dalam masalah bacaan Qur’an, maka hendaknya yang paling paham terhadap Sunnah Nabi. Jika kepahaman mereka tentang Sunnah Nabi sama, maka yang paling pertama hijrah (mengenal sunnah). Jika mereka semua sama dalam hijrah, maka yang paling dahulu masuk Islam. Janganlah seorang maju menjadi imam shalat di tempat kekuasaan orang lain, dan janganlah duduk di rumah orang lain di kursi khusus milik orang tersebut, kecuali diizinkan olehnya”. Dalam riwayat Al Asyaj (bin Qais) disebutkan: “yang paling tua usianya” untuk menggantikan: “yang paling dahulu masuk Islam” HR. Muslim.

Hadits ini memberikan panduan dalam menjadikan seseorang sebagai imam shalat, yaitu yang paling baik bacaan al-Qur’an, paling paham sunnah Nabi, lebih awal hijrah, awal masuk Islam dan penduduk setempat yang menjadi imam rawatib. Selain itu tentu saja ada yang lainnya menyangkut sudah baligh-nya seorang imam dan memiliki akhlak yang baik, termasuk yang mampu memahami keadaan makmumnya.

Sebuah riwayat memberikan hikmah yang sangat berharga, yaitu dari Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata,

صَلَّى مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ الأَنْصَارِىُّ لأَصْحَابِهِ الْعِشَاءَ فَطَوَّلَ عَلَيْهِمْ فَانْصَرَفَ رَجُلٌ مِنَّا فَصَلَّى فَأُخْبِرَ مُعَاذٌ عَنْهُ فَقَالَ إِنَّهُ مُنَافِقٌ. فَلَمَّا بَلَغَ ذَلِكَ الرَّجُلَ دَخَلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخْبَرَهُ مَا قَالَ مُعَاذٌ فَقَالَ لَهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « أَتُرِيدُ أَنْ تَكُونَ فَتَّانًا يَا مُعَاذُ إِذَا أَمَمْتَ النَّاسَ فَاقْرَأْ بِالشَّمْسِ وَضُحَاهَا. وَسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى. وَاقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ. وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى »

“Mu’adz bin Jabal Al-Anshari pernah memimpin shalat Isya. Ia pun memperpanjang bacaannya. Lantas ada seseorang di antara kami yang sengaja keluar dari jama’ah. Ia pun shalat sendirian. Mu’adz pun dikabarkan tentang keadaan orang tersebut. Mu’adz pun menyebutnya sebagai seorang munafik. Orang itu pun mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan pada beliau apa yang dikatakan oleh Mu’adz padanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menasehati Mu’adz, “Apakah engkau ingin membuat orang lari dari agama, wahai Mu’adz? Jika engkau mengimami orang-orang, bacalah surat Asy-Syams, Adh-Dhuha, Al-A’laa, Al-‘Alaq, atau Al-Lail.” HR. Muslim

Merujuk pada riwayat ini hendaknya seorang imam tidak menyusahkan makmum khususnya dalam bacaan yang terlalu panjang atau gerakannya yang terlalu lama. Karena hal ini akan menyusahkan makmum khususnya mereka yang sudah lanjut usia atau ada keperluan yang harus segera dilaksanakan. Gerakan yang terlalu lama juga akan menyusahkan makmum yang fisiknya sudah lemah karena sakit atau sudah tua.

Riwayat lainnya yang menguatkan adalah dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu:

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِلنَّاسِ فَلْيُخَفِّفْ فَإِنَّ فِيْهِمُ السَّقِيْمَ وَ الضَّعِيْفَ وَ اْلكَبِيْرَ، وَ إِذَا صَلَّى لِنَفْسِهِ فَلْيُطِلْ مَا شَاءَ

“Jika salah seorang kalian shalat bersama manusia, maka hendaklah (dia) mentakhfif, karena pada mereka ada yang sakit, lemah dan orang tua. (Akan tetapi), jika dia shalat sendiri, maka berlamalah sekehandaknya”. HR. Bukhari.

Tetapi bukan berarti juga membaca yang pendek atau dengan Gerakan yang terlalu cepat sehingga makmum juga akan ketinggalan dalam gerakan. Cara yang tepat adalah berlaku pertengahan, tidak terlalu panjang dalam bacaan tetapi juga tidak terlalu pendek. Demikian juga dalam hal gerakan, maka jangan terlalu lama juga jangan terlalu cepat.  Berlakulah sewajarnya sesuai dengan kemampuan dari makmum yang mengikutinya.

Hal ini sangat penting mengingat makmum memiliki banyak kekurangan, kelemahan dan mungkin ada kegiatan lainnya yang imam tidak mengetahuinya. Sebagai imam yang menjadi pemimpin dalam shalat maka memberikan yang terbaik bagi mereka dan memahami keadaan masing-masing makmum adalah yang utama. riwayat sebelumnya menjelaskan bahwa makmum ada yang sudah lanjut usia, anak-anak atau ada keperluan yang harus segera dilaksanakan. Wallahu a’alam, 18012023.