Jumat, 01 November 2013

Kisah Pemandi Jenazah

Oleh: AM Bambang Prawiro



Memandikan jenazah adalah momen yang selalu teringat dalam kehidupan. Peristiwa itu selalu terkenang sepanjang zaman. Tentu saja bukan peristiwa biasa ketika harus memandikan jenazah, ada kepuasan tersendiri ketika bisa memandikan jenazah terutama jika si mayyit adalah keluarga dekat. Namun setiap kali saya memandikan jenazah selalu ada kenangan yang sulit untuk dilupakan. Biasanya peristiwa itu berkaitan dengan kondisi tubuh jenazah ketika dimandikan. Bukan untuk menyebarkan aib seseorang yang telah meninggal namun hingga tulisan ini saya tulis peristiwa itu masih melekat di dalam pikiran hingga sulit sekali untuk dilupakan.
Peristiwa itu terjadi ketika saya sedang memandikan jenazah keluarga dekat saya, seorang yang telah lanjut usia dan sebelumnya sudah sakit-sakita hingga kurang lebih 3 bulan tidak bisa brgerak di tempat tidur. Beberapa kali saya mengunjungi beliau, namun keadaannya semakin memburuk. Karena tidak bergerak dalam waktu yang cukup lama bagian tubuhnya bagian belakang mengalami luka menganga yang cukup dalam hingga kelihatan tulang punggungnya. Seluruh keluarga yang melihat hal tersebut hanya bisa menangis dan berusaha untuk mengobatinya. Beberapa saat luka itu mulai mongering namun meninggalkan lubang di bagian punggung yang membiru. Hinga akhirnya beliau meninggal dunia.
Pagi harinya saya dan beberapa keluarga memandikannya dengan khusyu tidak ada ucapan selain ucapan dzikir. Beberapa kali anak bungsu si mayit menciumi kening jenazah tersebut sementara saya aktif membasuh bagian tubuh lainnya. Dari atas kepala, ke bagian bawah hingga ke kaki. Saya sangat terperanjat ketika membasuh bagian kakinya ternyata tumit jenazah tersebut sudah membusuk dan mengelupas sehingga bagian tulang kaki tersebut tampak kelihatan jelas. Kulit dan daging yang mengelupas tersebut berwarna biru kehitam-hitaman. Pengelupasan hingga ke daging ini dikarenakan kaki kiri dan kanan jenazah selama sakit tidak bisa digerakan sehingga gesekan tersebut semakin lama semakin menggerus kulit dan daging di bagian tumit tersebut. saya tidak tega untuk membasuhnya, hanya menyiramkan air perlahan di bagian tumit tersebut, namun daging yang hampir lepas tersebut semakin mengangga dan menampakan bagian dalam kaki jenazah tersebut. Saya benar-benar merinding hingga tak kuasa menahan tangis, sebuah tangisan karena tidak tega melihat kulit dan daging tumit tersebut terkelupas dan menyisakan luka yang dalam hingga ke tulang kaki.
Setelah memandikan jenazah selesai, ternyata walaupun sudah kering namun kulit dan daging di bagian tumit tersebut tidak bisa menempel kembali hingga beberapa tetes darah segar mengalir. Hingga kafan yang membungkusnya berwarna kemerahan karena rembasan darah. Tidak hanya di bagian tumit, bagian punggung dengan luka menganga juga menyisakan rembasan darah segara pada kain kafan. Saya tidak berani untuk memberitahu kepada yang lain karena tidak tega dan tidak mungkin lagi untuk diatasi. Hingga penguburan mayat dilaksanakan, darah segar itu masih mengalir merembas ke sisi luar kain kafan. Saya hanya ikhlas dan berfikir dalam hati agar penguburan ini segera selesai karena tidak tega menyaksikannya.
Peristiwa itu benar-benar selalu terkenang hingga saat ini, sebuah peristiwa yang membawa hikmah luar biasa bahwa ternyata manusia itu tidak ada apa-apanya. Apalagi jika ia telah menginjak waktu senja, dan keadaan sakit yang menjadikannya tidak bisa bergerak apalagi membersihkan dirinya. Jasad manusia itu sangat lemah hingga tak kuasa menahan luka akibat lamanya tidak bergerak. Ia seperti sebuah mesin yang jika lama digunakan atau jarang digunakan akan karatan dan akhirnya tidak lagi berfungsi. Begitu banyak saya saksikan orang-orang yang diberi umur panjang ternyata sengsara di akhir kehidupannya.
Semoga kita bisa mengambil hikmah dari peristiwa ini, ternyata jasad ini bukan milik kita. Ia akan rusak dan dimakan oleh tanah, kenapa kita harus bangga dengannya? Padahal ia tidak lebih dari seonggok daging yang akan membusuk ketika tidak lagi bernyawa. Sangat merugilah orang-orang yang bangga dengan tubuhnya dan tidak menggunakannya di jalan ketaatan kepada Allah ta’ala. Semoga Allah ta’ala mengampuni dosa bagi jenazah yang saya mandikan, kepada seluruh umat Islam dan saya yang banyak melakukan kesalahan, Amin…….. Astaghfirullah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Please Uktub Your Ro'yi Here...