Kamis, 05 Januari 2023

Aku Terlahir Hanya untuk Difitnah, Benarkah?

Oleh: Ahmad Berhimin, SE

 


Menjadi bagian dari mahkluk ciptaan Allah yang harus menjalani perjalanan hidup sebagai kodrat manusia sebagai penghuni dunia yang fana dan harus melalui perjalanan yang telah diperintahkan oleh Sang Khalik, siap tidak siap inilah perjalanan hidup yang harus kita jalani.

Terlahirnya diriku ke dunia fana ini sudah menjadi takdir yang harus aku jalani dan ikuti dengan ikhlas dan tawakal. Karena sebelum kita terlahir ke dunia fana ini kita telah melakukan perjanjian dengan Sang Khalik sebelum roh kita ditiupkan ke jasad dalam bentuk janin di dalam kandungan ibu kita. Akan tetapi setiap mahluk di dunia ini tidak akan ada yang ingat apa yang telah kita buat perjanjian dengan Sang Khalik, karena kodrat kita tempat lupa dan tempat salah serta dosa.

Aku sebagai mahluk yang terlahir di dunia ini  merasa bahagia dan berusaha menjadi mahluk yang baik dan sesuai harapan orang tua,  ibu dan bapak. Sekuat tenaga orang tua memberikan bimbingan baik itu bekal jasmani atau bekal rohani, akan tetapi semua yang kita jalani terkadang tidak sesuai harapan dan cita cita.

Harapan dan cita-cita bagai hamparan savana yang hijau, yang indah bersih tanpa noda yang tidak mungkin digapai, putih bagaimana perumpamaan kapas yang bersih seputih awan. Aku dilahirkan di dunia ini tidak seindah yang harapkan. Aku terlahir penuh dengan fitnahan, kekuranganku baik dari fisik atau non fisik selalu menjadi ejekan dan hinaan dan berujung fitnahan. Banyak yang selalu memanfaatkan kebaikanku untuk mencapai tujuan mereka. Aku yang menjadi bahan jaminan sehingga menjadi fitnahan, terkadang sangat menyakitkan bagai helaan nafas yang terhenti, akan tetapi mau bagaimana lagi semua harus dijalani sampai helaan napas terakhir. Abe, 05012023.

Perlakuan Pemimpin Dzalim

Oleh: Ahmad Berhimin, SE

 


Kehidupan di dunia menghadirkan banyak sekali permasalahan, ada orang yang kelihatannya kehidupannya aman, senang, bahagia penuh dengan bunga bunga bagai pelangi yang indah dan lurus-lurus saja tanapa ada aral melintang yang dijalaninya. Ada juga orang yang perjalanan kehidupannya penuh dengan pertumpahan dara, keringat bercucuran hingga hati dan perasaan penuh dengan gundah dan gulana bahkan bisa sangat tragis kisahnya.

Permasalah dalam suatu keluarga yang berasal dari bibit, bobot dan bebet yang sama pun tidak bisa menjamin kehidupannya yang akan datang menjadi baik, lurus, bagai penghuni surga. Akan tetapi garis tangan dan nasib tidak akan sama. Hal ini bisa terjadi di mana saja, kapan saja, dan dalam keadaan bagaimanapun juga.

Saya sebagai manusia  (mahkluk) yang diciptakan oleh Sang Khalik sama seperti mahluk yang lainya, akan tetapi kenapa perjalanan hidupku dan semua yang saya harapkan dan cita citakan sangat menyakitkan dan sangat menguras air mata penuh lika-liku bagaikan drama sinetron yang penuh dengan adegan-adegan dan seperti setingan yang harus dijalani.  

Saya sebagai manusia juga selalu mendapatkan perlakuan yang kurang baik dari orang-orang di sekitar saya, di lingkungan kerja juga seperti itu, rekan kerja yang tidak suka dengan saya, pemimpin yang dzalim dan tidak punya hati serta perasaana, yang selalu mengangap bahwa saya sebagai stafnya atau bawahannya adalah orang rendahan yang tidak ada harganya dan kualitasnya. Karena keegoisan pemimpin dan secara tidak langsung pemimpin menjadi pemimpin atau leadership yang arogan dan merasa menang sendiri. Pimpinan merasa mereka paling benar, baik, efektif padahal mereka secara tidk langsung mendzalimi bawahan atau staf mereka.

Pesan moralku adalah: Pertama, ingat kita hidup hanya satu kali jangan berbuat dzalim tanpa sadar. Kedua, Usahakan kita menyadari bahwa semua keinginan dan harapan itu finalnya karena Allah Swt. Ketiga, ingat pepatah bahwa di dunia ini tidak ada yang sempurna. Abe, 05012023.

Tetanggaku yang Membuatku Paham

Oleh: Ahmad Berhimin, SE

 


Timbulnya permasalahan yang terjadi di antara tetangga salah satunya adalah pemilik rumah sendiri atau dibilang rumah pribadi dengan penghuni rumah kontarakan (yang ngontrak). Demikian juga bisa terjadi di antara rumah pribadi dengan rumah kontrakan baik yang kontrakan yang level sederhana /rendah atau dengan kontrakan super mewah /kelas tinggi atau eksklusif tidak memandang orang dari wilayah mana. dari budaya yang mana.

Semua ini bisa terjadi karena adanya dampak berbaurnya masyarakat yang tadinya homogen menjadi masyarakat yang heterogen yang menyebabkan terjadinya perubahan yang sangat signifikan dan cepat  tanpa melihat masyarakatnya siap atau tidak. Perubahan tersebut akan menjadi akar masalah yang ditimbulkan di kemudian hari

Salah satunya adalah perubahan pendapat atau ide yang harus disikapi dan direspon dengan kematangan berpikir. Rasa hati yang baik bijaksana dan rasa toleransi yang tinggi.  Terkadang karena perbedan tadi itu akan membuat etika dalam bertetangga juga akan berbeda.

Perbedaan dalam beretika inilah akan menimbulkan sesuatu konsekuensi yang bebeda pula di dalam kehidupan bertetangga. Banyak sekali perbedaan yang tidak melihat orang atau tetangga tersebut sudah dewasa atau belum, masih anak anak atau sudah dewasa  atau bependidikan atau tidak. Akan tetapi semua peristiwa atau kejadian tersebut harus di jalankan sebaik mungkin dan semulia mungkin agar tidak terjadi kesalahpahaman dan terjadinya gap antara kedua bela pihak karena masalah yang timbul.

Sebagai contoh niat kita memperbaiki kerusakan rumah salah satunya dinding yang terkelupas atau paku yang copot dan harus diganti apakah pantas dikerjakan di waktu malam hari. Kalaupun memang terpaksa dilakukan karena keterbatasan waktu karena siang bekerja atau karena tidak ada biaya. Jadi dikerjakan sendiri akan tetapi disinilah etika dalam bertetangga itu dipakai dengan cara apa?, yaitu dengan cara pamit dan izin baik baik sama tetangga dekat yang akan merasakan berisik imbas dari pekerjaan kita.  05012023.

Rabu, 04 Januari 2023

Keangkuhan Pribumi dan Kesombongan Pendatang

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri


 

Salah satu permasalahan yang terjadi di masyarakat adalah perselisihan dan konflik antara pribumi dan pendatang. Bukan hanya pada level lokal tetapi secara internasional masalah ini terjadi di berbagai tempat dan kebudayaan. Tentu saja tempat terjadinya adalah adanya perubahan di masyarakat di mana pada satu tempat tidak lagi bersifat homogen pribumi yang mendiami tetapi heterogen dengan banyaknya pendatang. Perselisihan atau konflik semakin terasa apabila terjadi jurang perbedaan di antara pribumi dan pendatang, mulai dari agama dan kepercayaan, sosial, politik hingga masalah ekonomi adalah sebab-sebab utama terjadinya konflik.

Perselisihan atau konflik bisa terjadi secara diam-diam dan tidak kelihatan, namun seperti api dalam sekam yang suatu saat akan meledak. Hal ini terlihat dari kurangnya komunikasi dan muamalah antara pribumi dan pendatang. Hubungan di antara mereka cenderung terpisah dan tidak terjadi akulturasi atau asimilasi. Masing-masing dengan agama, budaya, politik dan ekonominya, kalaupun ada interaksi sebatas formalitas atau karena keperluan sementara saja. Sejatinya fenomena ini sangat berbahaya apabila terus dibiarkan, suatu saat akan menjadi permasalahan besar jika tidak dicari jalan keluarnya. Contoh nyata dari fenomena ini adalah komunitas-komunitas Ikhwan pengajian yang tinggal di suatu wilayah namun tidak membaur dengan masyarakat tempatan. Mungkin seolah-olah tidak masalah, tapi faktanya menjadi api dalam sekam yang suatu saat meledak atau menjadi konflik terpendam yang tidak bagus bagi sosial kemasyarakatan.

perselisihan atau konflik yang kelihatan nyata adalah konflik sosial bernuansa sara yang terjadi di berbagai penjuru dunia, di Indonesia kita mendengar dulu konflik antara suku Madura dan Dayak, demikian pula orang-orang Asli Timor Leste dengan Indonesia. Hingga saat ini beberapa orang di Papua ingin merdeka karena merasa “dijajah” oleh pendatang yang bukan pribumi Papua. Konflik klasik yang tercatat dalam sejarah tentu saja Suku Indian di Amerika dengan Pendatang dari Eropa, juga Suku Aborigin di Australia dan pendatang Eropa. Semuanya berakar kepada perselisihan antara pribumi dan pendatang. Walaupun dengan variasi permasalahan yang berbeda-beda sesuai dengan akar masalahnya masing-masing.

Salah satu dari akar permasalahan khususnya pada perselisihan yang terjadi antara pribumi dan pendatang di masyarakat urban atau modern adalah sikap “angkuhnya pribumi dan sombongnya pendatang”. Pribumi karena merasa di tanah sendiri dan wilayah yang diturunkan dari nenek moyangnya maka dia merasa tinggi di atas para pendatang yang hanya menumpang, pribumi cenderung angkuh dengan sikapnya dengan menganggap pendatang hanya mengganggu kehidupan mereka dan merebut wilayah dan penghasilannya. Stigma ini semakin meningkat ketika ekonomi pribumi di bawah para pendatang sehingga mengancam keberadaan pribumi itu sendiri. Contoh mudahnya adalah suku Betawi yang perlahan tapi pasti keluar dari wilayahnya sendiri di DKI Jakarta. Walaupun tanpa konflik berarti tapi menjadi catatan sejarah tentang bagaimana sikap pribumi terhadap para pendatang. Keangkuhan ini berbeda-beda sesuai dengan sistem budaya, tingkat pendidikan dan perubahan sistem sosial, semakin terbuka budaya suatu masyarakat maka semakin mudah mereka menerima kehadiran para pendatang.

Para pendatang yang seringkali tidak mau disebut pendatang suka seringkali bersikap sombong dengan keadaannya. Merasa tidak memerlukan pribumi, sibuk dengan urusannya sendiri hingga cenderung tidak peduli dengan masyarakat lokal di mana ia tinggal. Kesombongan pendatang semakin terasa dengan tingkat pemahaman keagamaan, kesejahteraan ekonomi, tingkat pendidikan dan level sosial yang dirasa lebih tinggi dari pribumi sehingga menyepelekan pribumi. Pada beberapa fenomena yang terjadi, para pendatang jarang sekali berbaur dengan pribumi dengan berbagai alasan yang sejatinya adalah salah satu bentuk kesombongan.

Keangkuhan pribumi dan kesombongan pendatang sama-sama tidak diperkenankan dalam Islam, karena keduanya adalah sikap menolak kebenaran dari pihak lain dan menyepelekan manusia. sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam:

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” HR. Muslim.

Keangkuhan pribumi terhadap pendatang yang memandang sebelah mereka adalah salah satu bentuk kesombongan. Demikian pula kesombongan pendatang karena menyepelekan pribumi juga kesombongan yang nyata. Maka Islam memberikan solusi kepada pribumi dan pendatang agar selalu berada dalam satu ikatan ukhuwah Islamiyah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌۭ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. QS. al-Hujuraat: 10.

Pribumi dan pendatang yang sama-sama muslim haruslah mengikatkan ukhuwah mereka dalam Islam yang membawa kepada rahmat dari Allah Ta’ala. Pertanyaan yang muncul berikutnya adalah ternyata banyak corak keislaman antara pribumi dan pendatang itu berbeda, pribumi cenderung memiliki corak keislaman yang tradisional sedangkan pendatang lebih banyak yang modernis atau reformis. Ini menjadi bibit konflik tersendiri yang juga terjadi di masyarakat, maka bersikap lebih bijak sebagai pendatang dan lebih terbuka bagi pribumi adalah salah satu jalan keluar. Karena dalam Islam sendiri istilah pribumi dan pendatang bukanlah isu utama, hanya mereka yang bertakwa itulah yang paling mulia. Wallahu a’lam, 04012023.

Selasa, 03 Januari 2023

… karena aku sayang kamu: Menyikapi Fenomena Buka Pakaian di Media Sosial

Oleh: Misno Mohamad Djahri

 


Media sosial telah mengambil banyak waktu kita, hingga tiada hari tanpa membukanya. Berbagai berita, fakta, dan fenomena tersaji dalam bentuk tulisan, gambar dan video bergantian muncul tenggelam di media sosial. Adanya Facebook, Instagram, Twitter, Youtube, Tik-tok dan berbagai media sosial lainnya menyajikan berbagai tontonan yang mengundang rasa penasaran untuk menikmatinya. Tahap berikutnya, media sosial bukan hanya menyajikan audio visual kepada penikmatnya tetapi mengajaknya untuk turut serta dalam menghasilkan sebuah karya yang dikenal dengan istilah content atau materi. Maka, berbondong-bondong pengguna media sosial membuat content dan meng-upload-nya di media sosial dari mulai suara, gambar, video dan berbagai materi yang diharapkan mengundang simpati atau sekadar “like” dari yang menyaksikannya.

Salah satu dari fenomena yang ada adalah banyaknya pengguna media sosial yang memosting photo dan video dirinya dengan berbagai pose, dari yang memiliki manfaat hingga content bejat yang mengundang syahwat. Sajian laki-laki atau perempuan yang tertutup rapi dengan pakaiannya hingga yang membuka auratnya bahkan tidak ada lagi selembar benang yang menempel di badannya.

Wahai saudariku, khususnya mereka yang sering memposting photo atau video dirinya yang membuka auratnya… berhentilah melakukan hal itu karena justru menjadi dosa jariah yang akan membelitmu. Wanita-wanita yang memposting photo atau videonya dengan aurat terbuka, bertakwalah kepada Allah Ta’ala, karena kecantikanmu adalah hanya untuk suamimu atau pasanganmu nanti di surga yang dirindu Bertaubatlah kepada Allah Ta’ala dengan berhenti memposting photo atau video seperti itu, hapuslah semua yang mungkin masih ada di dunia maya. Karena semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya, dosanya berlipat ganda karena selain dosa membuka aurat kemudian engkau menyebarkannya dan mengundang syahwat orang lainnya.

Wahai saudaraku, khususnya para laki-laki yang juga memposting photo atau video yang membuka aurat, (ingat… aurat laki-laki adalah antara pusar dan lututnya) juga photo yang membuka dada dan perutnya, agar nampak memesona dan dilihat oleh laki-laki dan perempuan lainnya. Ini adalah sebuah kesalahan besar, ketika engkau menebar photo atau video yang dengan sengaja memamerkan lekuk-lekuk tubuhmu. Karena begitu banyak saat ini laki-laki yang terbius dan terpesona oleh laki-laki lainnya, salah satunya adalah karena photo atau video yang engkau posting. Bertakwalah kepada Allah Ta’ala, berhentilah memposting photo atau video yang mengundang syahwat laki-laki atau perempuannya lainnya. Itu adalah sebuah dosa, dan akan terus ditulis dosa selama photo atau video itu masih ada. Naudzubillah min dzalika.

Tulisan ini aku buat karena aku sayang kamu, ya… kamu yang sering memosting photo atau video dengan membuak aurat atau mengundang syahwat yang melihatnya. Mungkin engkau akan menudingkan dengan ungkapan “Sok suci, sok alim, gak usah usil urusan orang lain, begitu saja tergoda” dan ungkapan-ungkapan lainnya. Tapi ingatlah, bahwa manusia yang beriman pasti juga akan enggan melihat photo atau video-mu yang membuka aurat atau pose yang mengundang syahwat. Sekali lagi bukan hanya perempuan, tetapi banyak laki-laki saat ini yang memosting photo atau video yang memamerkan bagian-bagian tubuhnya yang sengaja untuk mengundang hawa laki-laki lainnya.

… karena aku sayang kamu. Ingatlah bahwa selama phot atau video itu ada, maka dosa itu akan selalu tertulis untuk mereka yang memostingnya. Bagaimana jadinya ketika kita meninggal, namun photo atau video itu masih ada di media? Tentu penyesalan yang tiada guna adanya.

… karena aku sayang kamu. Jangan hanya memikirkan kesenangan sendiri, tapi pikirkan juga orang lain yang terfitnah dengan photo atau videomu. Bahkan yang lebih dahsyat lagi ketika anak-anak dan mereka yang masih remaja dan pemuda membuka photo atau video itu kemudian terbawa dengan hawa nafsu hingga membawa kepada kemaksiatan yang terus berlaku.

… karena aku sayang kamu. Berhentilah dari sekarang memosting photo atau video seperti itu, gantilah dengan photo atau video yang positif yang mengajak kepada kebaikan dan memberik kontribusi positif bagi generasi baru. Karena kita tidak tahu, kapan ajal akan menjemputmu…

… karena aku sayang kamu. Aku bukan sok suci, karena aku juga merasa memiliki banyak dosa dan kesalahan yang bisa jadi lebih besar dari dosa-dosamu. Tapi aku terus memperbaiki diri, saling nasehat-menasehati agar kehidupan hakiki dapat terealisasi. Nasehati aku bila melakukan dosa dan kesalahan, aku akan menerimanya dengan penuh keikhlasan. Semoga kita selalu bersama dalam kebajikan, hingga ajal berada di kerongkongan dan menuju ke surgaNya dengan penuh ampunan, itulah sejatinya tujuan hidup orang beriman. Wallahu a’lam. 03012023.

Alhamdulillah, Ya... Kiye gering-gering: Manifestasi Bersyukur Masyarakat Jawa Cilacap

Oleh: Misno Mohamad Djahri



Menggali khazanah kearifan lokal Nusantara tidak akan pernah ada habisnya, masyarakat Jawa khususnya di wilayah eks Karesidenan Banyumas termasuk Cilacap memiliki satu ungkapan yang merupakan manifestasi rasa syukur atas keadaan yang ada. Ketika mereka ditanya “Kepriwe Kabare? (Bagaiaman kabarnya?), mereka akan menjawab “Alhamdulillah, Ya… kiye gering-gering”. Apabila diterjemahkan kata-kata “Ya… kiye gering-gering” bermakna “Ya… ini kurus-kurus”, tentu saja bukan bermakna mereka dalam keadaan kurus-kurus karena istilah ini sudah umum digunakan masyarakat Banyumas, Cilacap dan sekitarnya.

Apabila kita kaji lebih mendalam maka kita akan menemukan bagaimana karakter masyarakat Jawa Cilacap yang menggunakan istilah ini. Kehidupan yang keras di wilayah ini, udara panas, musim tidak menentu hingga kekeringan yang sering sekali terjadi meniscayakan mereka untuk selalu siap dengan segala keadaan yang paling buruk. Dalam keadaan seperti ini harus ada pegangan hidup yang menjadi bekal dalam menghadapi berbagai keadaan, termasuk kurangnya makanan karena gagal panen atau paceklik.

Pegangan hidup berupa keyakinan mendalam akan adanya Gusti Allah sebagai Dzat yang mengatur alam semesta termanifestasi dalam ungkapan-ungkapan keseharian yang merupakan puncak dari syukur kepadaNya. Rasa syukur ini terungkapkan dalam berbagai keadaan baik dalam keadaan senang ataupun susah, dalam masa panen ataupun paceklik, saat makanan melimpah sehingga lemak di tubuh bertambah hingga masa serba kekurangan hingga badan gering-gering (kurus kering).

Ya Kiye gering-gering” adalah ungkapan yang dulu selalu diucapkan oleh para orang tua sebagai manifestasi rasa syukur kepada Allah Ta’ala akan segala kenikmatan dan cobaan yang menimpa mereka. Walaupun badan kurus (gering) asal masih masih mampu untuk sembahyang (shalat) dan beribadah kepada Allah Ta’ala maka mereka selalu mengucapkan Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Bersyukur adalah perintah dari Allah Ta’ala sebagaimana firmanNya:

فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ

 

 “Maka ingatlah kamu semua kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepada kamu semua. Bersyukurlah kepada-Ku, serta janganlah kamu semua itu ingkar kepada-Ku.” QS. al-Baqarah: 152.

Ketika seorang hamba bersyukur maka akan ditambahkan kenikmatan tersebut, sebagaimana kalamNya:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

 “Dan (ingatlah) kamu semua  saat Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya apabila dirimu bersyukur, niscaya Aku ini akan menambah (nikmat) kepada kamu semua, tetapi apabila dirimu itu mengingkari (nikmat-Ku), maka pastinya azab-Ku itu sangat berat.” QS. Ibrahim: 7.

Bisa jadi karena begitu seringnya ungkapan gering-gering pada masa lalu, saat ini kemakmuran di wilayah ini sudah semakin bertambah. Sudah sedikit orang yang kurus kering karena kelaparan, bahkan sudah banyak orang yang gendut dan hidup dalam kemakmuran. Buah dari syukur yang diyakini dalam hati, diungkapkan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota badan.

Seiring dengan mulai hilangnya ungkapan ini, maka bolehlah kita juga mengambil local wisdom ini sebagai satu warisan adiluhung serta mengambil intisari darinya yaitu dengan sentiasa bersyukur kepada Allah Ta’ala atas segala kenikmatan dan apa jua yang ada pada diri kita. Sehingga dari sekarang boleh lah apa bila ditanya “Kepriwe Kabare? (Apa Kabarnya?), maka jawablah “Alhamdulillah, Ya… kiye lemu-lemu (Alhamdulillah, Ya… ini gemuk-gemuk). Wallahu a'alam, 03012023.

 

Nyong wis Mbatin: Sikap Bijak Masyarakat Jawa Cilacap

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri

 


Salah satu dari kearifan lokal berupa ucapan dan sikap adalah istilah “Nyong wis Mbatin” yang maknanya lebih kurang “Saya sudah menduga dalam hati (batin)”. Ungkapan ini biasa disampaikan ketika terjadi sebuah interaksi atau pembicaraan terkait dengan hal-hal yang tidak sebenarnya berdasarkan dugaan kuat dari orang yang mengungkapkan. Sebagai contoh dua orang yang berbicara kemudian salah satu dari orang tersebut menyatakan “Saya tadinya tidak mau mampir ke rumah Bapak, tapi… “, maka orang yang mendengarnya bisa mengungkapkan dalam hatinya “Nyong wis Mbatin (Saya sudah menduga)” dia cuma mau numpang…”. Selain itu ungkapan ini juga digunakan untuk memprediksi sesuatu yang akan terjadi, baik segera atau di masa yang akan datang. “Nyong wis mbatin deweke bakal kaya kue (Saya sudah menduga dia akan seperti itu”.

Mbatin adalah sebuah olah pikir yang diperoleh melalui berbagai pengalaman kehidupan, baik dari diri sendiri ataupun orang lain. Olah pikir ini didukung oleh berbagai analisis yang mendalam sehingga mampu untuk memprediksi dan menduga sebuah peristiwa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Tentu saja ini bukan ramalan, tetapi dugaan kuat bahwa sesuatu akan terjadi, atau ada sesuatu di balik fenomena yang dihadapinya. Seseorang yang terkenal dengan keburukannya, tiba-tiba dia berbuat baik maka dugaan kuat dia hanya berpura-pura baik. Ini bukan buruk sangka, misalnya saja calon wakil rakyat atau pejabat yang ketika akan memasuki masa pemilihan maka akan melakukan pencitraan agar terlihat taat beragama, peduli dengan rakyat hingga memiliki kredibilitas tinggi. “Nyong wis mbatin, Pak Fulan kur pencitraan men dipilih dadi pejabat (Aku sudah menduga bahwa Bapak Fulan itu hanya pencitraan agar dipilih menjadi pejabat”.

Mbatin dalam konteks Islam disebut dengan dzan (dugaan), ia bisa menjadi sebuah kebenaran apabila didukung oleh bukti-bukti yang kuat. Namun bisa juga menjadi dosa ketika bukti-bukti lemah dan cenderung berburuk sangka, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًۭا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌۭ

Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa… QS. al-Hujuraat: 12.

Merujuk pada ayat ini maka dzan atau prasangka bisa menjadi dosa ketika tidak didukung oleh argumentasi yang kuat dan hanya mencari kesalahan pihak lain. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

إياكم والظنَّ، فإنَّ الظنَّ أكذب الحديث

“Jauhilah prasangka, karena prasangka itu adalah perkataan yang paling dusta” HR. Bukhari-Muslim.

Abdul Aziz menyatakan “Maka yang menjadi kewajiban seorang Muslim adalah hendaknya tidak berprasangka buruk kepada saudaranya sesama Muslim kecuali dengan bukti. Tidak boleh meragukan kebaikan saudaranya atau berprasangka buruk kepada saudaranya kecuali jika ia melihat pertanda-pertanda yang menguatkan prasangka buruk tersebut, jika demikian maka tidak mengapa”.

Sementara Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin menyataka “diharamkan suudzan (buruk sangka) kepada sesama Muslim. Adapun kepada non muslim, maka tidak haram berprasangka buruk kepada mereka, karena mereka memang ahli keburukan. Adapun orang yang dikenal sering melakukan kefasikan dan maksiat, maka tidak mengapa kita berprasangka buruk kepadanya. Karena mereka memang gandrung dalam hal itu. Walaupun demikian, tidak selayaknya seorang Muslim itu mencari-cari dan menyelidiki keburukan orang lain. Karena sikap demikian kadang termasuk tajassus“.

Maka, mbatin adalah sebuah usaha preventif agar tidak percaya begitu saja dengan perkataan dan sikap orang lain atau berjaga-jaga dari segala keburukan khususnya mereka yang terkenal dengan kefasikannya. Adapun mbatin untuk memprediksi sesuatu yang akan terjadi maka harus didasari dengan ilmu dan argumentasi yang kuat sehingga akan memberi manfaat kepada pelakunya. Islam menyebutnya dengan istilah mashlahah di mana sebuah kebaikan akan didapatkan apabila kita melakukan tindakan hati-hati (Ihtiyath) dan waspada terhadap segala kemungkinan yang ada. Mbatin menjadi satu solusi dan mengolah berbagai informasi yang ada sebelum melakukan sebuah tindakan.

Nyong wis Mbatin wong sing maca tulisan kiye cengar-cengir (Saya sudah menduga bahwa yang membaca tulisan ini akan tersenyum ketika membacanya). Wallahu a’lam. 03012023.  

 

Senin, 02 Januari 2023

Cinta Selamanya Indah

Cinta Tak Selamanya Indah

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri

 


Fajar Sadboy menjadi fenomena baru generasi muda saat ini, kesedihan mendalam karena diputus cinta menag sangat menyakitkan bagi generasi muda. Apalagi jika karakter awalnya adalah baper (bawa perasaan)-an, tidak percaya diri, minder dan sifat negative lainnya pada diri seseorang, maka semakin lengkap sudah penderitaannya hingga hidup serasa bagai neraka dan keinginannya hanya satu yaitu mengakhiri kehidupan di dunianya. Nama Fajar Sadboy semakin viral dengan lagu yang dinyanyikannya dengan judul “Cinta Tak Selamanya Indah”, sebuah lagu yang menggambarkan keadaan dirinya saat ini. Apakah ada yang salah dengan judul lagunya? Bagaimana Islam memberikan solusinya?

Cinta adalah anugerah dari Allah Ta’ala, ia berupa rasa suka, kagum, simpati, senang kepada orang lain. Rasa ini muncul bersamaan dengan tumbuh berkembangnya manusia, sejak masa kecil, anak-anak, remaja, dewasa bahkan orang yang sudah tua akan selalu merasakan rasa ini. Jika masa anak-anak dan remaja rasa cinta itu berupa sayang dan memerlukan orang-orang terdekatnya, maka pada usia remaja dan pemuda rasa cinta ini mengarah kepada lawan jenis yang menurutnya sesuai dengan perasaannya. Pada kasus penyimpangan lainnya, ia juga muncul pada sesame jenis yang dianggap cocok dan sesuai dengan “perasaannya”. Semakin bertambah usia maka kematangan cinta mencapai puncaknya, hingga cinta orang dewasa akan lebih sempurna, logis dan selalu membawa kepada keindahan dan kebahagiaan walaupun mungkin tidak saling memiliki.

Permasalahan utama khususnya bagi remaja dan pemuda, sebenarnya termasuk orang dewasa juga adalah membedakan antara cinta dan hawa nafsu. Ya… menyukai seseorang seringkali diawali dengan tampilan fisik yang menawan, cantik dan tampan selalu menjadi awal rasa suka itu. Selanjutnya mungkin ditambah dengan perilaku yang sopan dan baik, ramah, suka menolong dan peduli dengan orang lain. Tapi intinya tetap pada sesuatu yang terlihat oleh pandangan, terdengar oleh telinga dan pada tingkatan yang lebih tinggi seharusnya sampai di rasa di hati. Rasa cinta yang muncul memang seringkali dihiasi dengan hawa nafsu, apakah hal ini salah? Tentu saja tidak serratus persen salah, karena itu adalah fitrah manusia yaitu mencintai orang lain yang menurutnya sesuai dengan perasaannya. Kesalahannya adalah ketika hawa nafsu itu lebih mendominasi sehingga cinta yang selalu indah menjadi rusak karena hawa nafsu yang menguasai.

Membahas tentang cinta sejatinya Islam telah mengajarkannya, bagaimana cinta yang merupakan anugerah dari Allah Ta’ala haruslah dijaga dan dipelihara agar selalu sesuai dengan syariahNya. Cinta kepada Allah Ta’ala menjadi dasar dan pondasi bagi cinta kepada seluruh makhlukNya, sehingga cinta akan selalu indah. Tidak mengapa ketika cinta diawali dengan rasa suka dengan fisik, penampilan dan perilakunya, tetapi kemudian dikuatkan dan didasari lagi dengan cinta karena Allah Ta’ala dan rasulNya. Sebagai contoh, seseorang yang mencintai orang lain kemudian keduanya menikah maka kecintaan keduanya akan semakin abadi dengan dasar cinta karena Allah Ta’ala. Jika ada istilah “Cinta Tak Harus Memiliki” juga berlaku pada cinta sejati, karena kecintaan kepada Allah Ta’ala yang terimplementasi dalam cinta kepada orang lain akan menjadikannya tetap mencintai seseorang tanpa harus memiliki dalam sebuah ikatan.

Cinta Selalu Indah jika cinta itu didasari oleh cinta karena Allah Ta’ala, cinta yang tidak indah adalah ketika cinta itu didominasi oleh hawa nafsu, semisal hanya ingin menikmati fisiknya. Cinta seperti ini bahkan akan segera tiada seiring dengan berlakunya masa. Cinta karena hawa nafsu atas kecantikan atau kegagahan seseorang akan hilang ketika orang yang dicintai semakin tua atau memiliki sifat yang tidak kita sukai. Bahkan cinta yang hanya didasari hawa nafsu akan menyiksa pemiliknya ketika tidak disambut oleh orang yang dicintainya, “Bertepuk Sebelah Tangan” adalah cinta yang tidak diterima oleh orang yang dicintainya.

Cinta yang tidak diterima oleh orang yang dicintai pecintanya adalah cinta yang menurutnya tidak selamanya indah. Padahal cinta itu masih bisa tetap ada tanpa harus mendapatkan sambutan, karena cinta karena Allah Ta’ala tetap akan ada yaitu cinta pada seseorang karena orang tersebut melaksanakan seluruh syariah Allah Ta’ala dan mengikuti sunnah nabiNya. Menyadari bahwa cinta yang tidak diterima lebih kepada cinta karena hawa manusia akan menjadikan jiwa lapang dada untuk menerimanya. Karena cinta haruslah saling memberi dan menerima antara dua pihak yang saling mencinta, dan agar cinta itu abadi maka cinta karena Allah Ta’ala adalah pengikatnya.

Akhirnya, Cinta Selalu Indah ketika rasa cinta itu didasari kecintaan kepada Allah Ta’ala. Walaupun tidak harus memiliki tetapi rasa cinta itu akan selalu ada, cinta pada seseorang karena orang tersebut melaksanakan syariah Allah dan RasulNya. Semoga kita selalu mendapatkan cintaNya, Cinta yang Selamanya Indah, hingga di akhir masa… Pagi Penuh Cinta di Bogor, 02012023.

Minggu, 01 Januari 2023

Sebuah Resolusi di Tahun 2023: Dari Menulis 300 buku hingga Keliling Dunia

 Oleh: Misno bin Mohamad Djahri

 


Hari ini adalah tanggal 01 Januari 2023, banyak masyarakat yang mulai merencanakan harapan, cita-cita dan resolusi di tahun ini. Tentu bukan mengikuti trends apalagi semacam merayakan tahun baru, tapi sekadar menjadi sebuah ingatan dan panduan dalam menapaki hari-hari ke depan. Setiap kita tentu memiliki mimpi, harapan dan juga keinginan-keinginan di masa yang akan datang, maka awal tahun ini bisa menjadi Langkah awal untuk Menyusun harapan-harapan dalam satu tahun ke depan.

Sebagai contoh adalah resolusi saya di tahun 2023 ini, tentu saja sebelumnya flashback dulu di tahun 2022. Salah satu dari cita-cita saya adalah menulis buku 3 kali lipat dari umur saya, kemudian cita-cita ini bertambah menjadi 5 kali umur saya sehingga jika umur saya 60 tahun maka 5 x 60 = 300. Sehingga saya harus menulis sebanyak 300 judul buku, dan Alhamdulillah faktanya hingga Januari 2023 ini jumlah buku dalam folder di internet sudah mencapai 256 sehingga target ini yakin inshaallah biidznillah akan tercapai. Hanya menambah 44 buku sangat mudah inshaallah diselesaikan di tahun 2023. Ini adalah cita-cita saya di tahun 2023 ini, yaitu menulis buku hingga 300 judul buku, baru setelah itu peningkatan dari kualitas buku akan terus ditingkatkan hingga target maksimal 500 judul buku.

Masih terkait dengan tulis-menulis, maka menulis jurnal menjadi sebuah kewajiban sebagai seorang dosen, dalam hal ini tidak ada target khusus tapi minimal satu tahun bisa 2-5 artikel jurnal yang terbit dan dapat diakses para pengguna internet. Demikian pula tulisan di website dan blog akan terus berlangsung, dengan target minimal datu bulan antara 3-10 tulisan yang merupakan refleksi dari pemikiran pribadi. Pembuatan video juga tidak ditarget, tapi karena hobby akan terus berjalan dan minimal dalam sebulan 5-10 video bisa diupload di channel youtube pribadi.

Harapan selanjutnya di tahun ini adalah akan menjadi mbah (kakek) bagi cucu pertama saya, mungkin akan sangat Bahagia ketika cucu pertama lahir. Bisa menghabiskan hari-hari Bersama cucu tercinta, saat ini mungkin masih sekadar angan-angan dan harapan. Inshaallah pada akhir bulan Januari-Maret harapan ini akan segera terwujud, menjadi mbah bagi cucu pertama saya.

Berikutnya adalah harapan yang menjadi hobby atau mungkin ikut-ikutan trend orang lain, yaitu jalan-jalan ke seluruh penjuru Indonesia dan dunia. Semoga keadaan semakin membaik dan transportasi darat, laut dan udara aman sehingga saya bisa kembali berkeliling mentafakuri semesta sebagai ciptaan Allah ta’ala. Tentu saja akan lebih bermakna apabila ditemani oleh orang-orang tercinta yang memberi makna dalam kehidupan saya.

Harapan-harapan lainnya masih banyak, misalnya lebih serius dalam mengurus Yayasan, usaha, target bebas dari semua tanggungan hutang, dapat berinvestasi untuk masa depan hingga meninggalkan secara perlahan hal-hal buruk yang mungkin selama ini dilakukan. Intinya adalah berusaha untuk terus menjadi lebih baik dan memberi makna bagi semesta.

Semoga Allah Ta’ala memudahkan semua urusan kita, dan harapan-harapan tersebut dapat terwujud di tahun 2023 ini, ikhtiar dan doa akan selalu dilakukan dalam upaya mewujudkannya. Wallahu a’lam. 01012023.

Aja Ngangsa: Filosofi Jawa Cilacap tentang Usaha di Dunia

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri

 


Apa yang manusia cari di dunia? Harta, tahta, wanita dan sebuah kebahagiaan hidup di dalamnya. Tentu saja tidak sesimpel itu, karena setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda-beda sehingga permasalahan yang dihadapinya pun akan berbeda. Seseorang yang tidak beruntung memiliki harta tentu akan terus bekerja keras agar dapat memperoleh harta sehingga minimal mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebagian manusia lainnya telah dapat mencukupi kebutuhan hidupnya hingga ia mencari sumber kebahagiaan lainnya, agama adalah salah satunya. Karena kebutuhan hidupnya telah terpenuhi, bahkan kekayaannya mampu untuk menghidupi anak-anaknya maka kata kata “Aja Ngangsa” yang bermakna jangan rakus atau berlebih-lebihan dalam mencari harta akan sangat cocok.

Sejatinya filosofi ini sesuai untuk seluruh umat manusia, karena istilah ngangsa adalah satu keadaan berupa sikap berlebih-lebihan dalam mencari harta. Tentu saja semua yang berlebih-lebihan itu tidak baik di mata agama dan juga budaya Nusantara. Sehingga aja ngangsa yang bermakna jangan rakus dan berlebih-lebihan dalam mencari harta adalah satu nasehat yang sangat baik bagi seluruh umat manusia. Indicator dari ngangsa itu sendiri adalah mencari harta dengan rakus tanpa memperhatikan halal dan haram dalam agama, tidak memperhatikan etika budaya hingga memaksakan diri dalam mencari harta.

Mencari harta baik dalam bentuk bekerja ataupun wirausaha mestilah memperhatikan apakah pekerjaan atau usaha itu halal atau haram. Sebagai muslim ini menjadi hal utama yang harus diperhatikan, karena harta yang diperoleh dari bekerja dan usaha yang halal akan memberikan kedamaian dalam kehidupannya. Sebaliknya harta yang haram, semisal dari hasil riba dan perjudian akan mengakibatkan kesusahan, keresahan dan ketidaknyamanan dalam kehidupan pribadi dan keluarga. Halal haram ini juga terkait dengan thayyib, dalam makna hasil kerja atau usaha haruslah pada hal yang thayyib (baik) di mata agama dan budaya. Ada bekerja dan usaha yang halal namun tidak thayyib (baik) di mata manusia, ini juga harus dihindari karena akan berpengaruh kepada kehidupan kita.

Ciri dari ngangsa berikutnya adalah memaksanakan diri dalam mencari harta, hal ini berupa bekerja dan berwirausaha secara berlebihan hingga meninggalkan kewajiban beribadah kepada Allah Ta’ala. Ia meninggalkan shalat, puasa yang wajib dan kewajiban agama lainnya hanya karena bekerja atau berwirausaha. Termasuk di dalamnya menyepelekan dan menunda-nunda ibadah yang seharusnya dilaksanakan pada waktunya. Berikutnya adalah bekerja atau berwirausaha dengan mengorbankan fisiknya sehingga memaksakan diri bekerja padahal fisik (jasad/jasad) nya perlu beristirahat. Maka ini adalah perbuatan dzalim kepada diri sendiri, karena tubuh juga memerlukan istirahat dan masukan gizi yang baik agar mampu untuk bekerja. Termasuk ke dalam istilah ngangsa adalah mengorbankan keluarga dan kerabat dekat dalam hal hak mereka atas diri kita.

Aja Ngangsa sejatinya adalah local wisdom yang merupakan kekayaan budaya Jawa khususnya di Cilacap agar selalu dijadikan pedoman dalam bekerja dan berwirausaha. Jangan rakus dan berlebih-lebihan dalam mencari harta, apalagi sampai mengorbankan agama dan budaya hingga justru kesengsaraan hidup akan menimpa dan kebahagiaan sejati tidak akan didapatkan di dunia. Karena kebahagiaan itu diperoleh salah satunya adalah dari sumber kekayaan yang halal dan sesuai dengan etika agama. Wallahu a’alam. 01012023.