Rabu, 02 Maret 2011

Mata : Jangan Mudah Tergoda....


Oleh Bambang Sahaja

Mata adalah jendela dunia, dengannya kita bisa menikmati indahnya dunia beserta isinya. Tanpa mata tentu kita jadi tuna netra, semuanya gelap hanya hitam pekat yang ada. Mata menjadi indra untuk melihat betapa Tuhan memberikan berjuta anugerahnya. Ada gunung yang membiru di ujung selatan, lauatan terbentang luas di utara, bukit-bukit menghijau di sebelah timur dan sungai yang mengalir di sela-selanya. Demikian pula anugerah yang Tuhan berikan berupa keindahan yang melekat pada setiap ciptaannya termasuk wanita, pria dan manusia semuanya.
Namun mata juga menjadi jendela nista, ketika ia mengarah pada hal-hal yang tidak selaras dengan syariahNya. Ia adalah sarana bagi syaithan untuk menanamkan rasa suka pada hal-hal yang diharamkannya. Berapa banyak maksiat yang berawal dari pandangan mata, berapa banyak mata telah berkontribusi utama dalam pelanggaran syariahNya. Mata menjadi buta karena pesona seorang manusia, entah itu wanita atau pria. Hati terpedaya dan akhirnya jiwa sengsara dengannya.
Karena itu peliharalah mata, jangan mudah tergoda...... apalagi hanya kenikmatan dunia yang seolah-olah penuh pesona, padahal bertabur nestapa. Memelihara mata berarti memberi penjagaan kepada pintu gerbang utama bagi masuknya anugerahNya yang bisa menjadi anugerah atau bencana bagi jiwa. Penjagaan yang harus diperkuat karena ketika pintu gerbang ini jebol maka musuh dengan mudah akan masuk dan membinasakan seluruh tatanan jiwa dan raga. Rajapun akan binasa hingga raga dikuasai musuh yang bernama Hawa......
Ketika Hawa berkuasa, mata yang seharusnya bersyukur ketika melihat sebuah anugerah terindah akan menjadi ganas dan beringas menatap semua yang ada, tanpa memeriksa lagi apakah itu dibolehkan atau diharamkanNya. Mata menjadi bencana...... bahkan pintu gerbangnya, Raja Hati yang dikuasai Hawa akan takluk, berlutut bahkan merunduk tanpa kekuatan untuk melawannya. Akhirnya raga terpenjara dalam jeruji maksiat. Semua itu berawal dari mata......
Karena itu jagalah mata, jangan mudah tergoda.....      

Selasa, 01 Maret 2011

Surat Untuk Sang Pemberi Hadiah

Oleh UmmuSalwa

Saudaraku….
Semoga Alloh subhanallohu wa ta’ala membalas kebaikkanmu, selalu melindungimu, selalu menjaga dirimu dan selalu menambah keilmuanmu.. Bukankah diantara tiga do’a yang mustajab adalah do’a seorang muslim yang saling berjauhan?
Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak seorang Muslim pun mendoakan kebaikkan bagi saudaranya sesama Muslim yang berjauhan melainkan malaikat mendoakannya pula. Mudah-mudahan engkau memperoleh kebaikan pula.” (HR. Muslim)

Curhat Akhwat Pembalap


Oleh Handayani San

Dulu waktu belum bisa naik motor, kepengen deh bisa…enak kali ya kalau bisa naik motor, mau ke mana-mana tinggal..ngeng…gitu. Mau ke mall ngga usah nunggu-nunggu misua yang antar. Kalau lagi suntuk, tinggal jalan-jalan aja ke mana suka, bensin seliter juga cukup.

Faktor XXX


Oleh : Bambang Sahaja

Assalamualaikum
Wa'alaikum salam
Bagaimana kabarnya akhi?
Al-Hamdulillah sehat, antum bagaimana sehat?
Alhamdulillah, udah lama nggak ketemu..... eh... udah punya anak berapa?
Satu, tapi udah gede.... udah sekolah SMP.
Ko' baru satu sih... ga' nambah lagi?
Penginnya sih nambah, usaha juga sudah. Santai aja dikasihnya satu ya nikmati aja....

Jadi kaya' cerpen ya.... tapi bener, dialog seperti ini sering banget didenger. Kaya'nya orang yang bertanya “Ko' anak cuman satu sih... gak pengin nambah?” bener-bener gak punya perikemanusiaan, tapi itu belum apa-apa ternyata kaya'nya orang yang sering nanya kaya gini imannya kurang deh. Bayangin aja dikemanain iman kepada takdirNya? (Ko' jadi senewen gini sih...?) enggak sih... santai aja, emang sih anak ana juga baru satu, tapi ana enjoy aja tuh... nikmati aja apa yang ada. Ya.... setuju saya juga kaya' gitu. Coba kalau antum ditanya “Anak ko' cuman satu... apa nggak kepengin nambah... usahanya mana?” Paling-paling kalau ditanya seperti ini jawabannya “Usaha sih... sudah cuman khan....” (Khan apa coba?)
Khan Allah yang menentukan.... Eit langsung ke pembahasan.... ternyata terkadang ucapan atau pertanyaan seperti itu yang kita tanyakan ke orang lain bisa jadi membuat orang lain terluka di dada.... (Sakit tau....) tapi emang bener ko' nggak etis alias nggak beradab kali ya... masa' nanya kaya' githu. Lagian juga apa urusannya dan itu khan emang udah takdirNya. Kalau sudah ditakdirkan seperti itu (anakanya satu atau gak punya anak) berarti ada faktor XXX yang orang lain tidak tahu.
Nah... membahas tentang faktor XXX ini, berarti kita juga membahas tentang iman kepada takdirNya. Bener.... jadi kalau kita masih nanya “Ko' anak cuman satu sih... gak pengin nambah?” berarti kita sudah melanggar salah satu hukumNya yaitu takdir yang ada pada setiap hambaNya. Jelas lah.... lagian pertanyaan seperti ini sering banget ana denger.... keliatannya sih bercanda tapi kalau sampai merasuk ke sukma (hati maksudnya) bisa jadi kufur dengan takdirNya plus terlalu berbangga dengan banyaknya anak, coba deh baca ayat ini :
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ [٥٧:٢٠]
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.  QS Al-Hadid : 20.
Coba kita yang banyak anak baca ayat ini, apa kira-kira komentarnya? Anak adalah fitnah dan tidak boleh dibanggakan dengan banyak jumlahnya. Ya gak? (Enggak kali..... itu khan penafsiran antum). Ya udah nanti coba cari penafsiran para ulama tentang ayat ini, cuman yang pasti bahwa anak adalah fitnah (cobaan) :
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ [٦٤:١٥]
Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. QS Ath-Thaghabun : 15.
Jadi, selain lalai dari takdir Allah ta'ala orang-orang yang bertanya seperti pertanyaan di atas berarti terlalu bangga dengan banyaknya anak, padahal apa untungnya berbangga dengan fitnah (baca: anak).
Wah.... pembahasannya jadi serius begini nih.... kalem.... kembali ke awal. Jadi kalau kita mau nanya kaya' gituan ya mikir dulu deh.... apakah bercanda (tapi kaya'nya bercanda juga ada tempatnya deh.....) Oh...... masih lanjut ya.....? soalnya banyak faktor yang bisa jadi kita tidak tahu kenapa seseorang tidak punya anak atau anaknya hanya satu. Jelas faktoor-faktor tersebut adalah XXX. Mau tahu penjelasannya ?
Faktor X pertama adalah takdirNya. Itu harus diyakini dan diimani..... jadi kalau masih ada yang nanya  “Kenapa gak punya anak atau kenapa anak cuman satu?” berarti keimanannya kepada takdir dipertanyakan !!! (Segitunya.....)
Faktor X kedua adalah faktor X yang kita sebagai orang luar tidak tahu, mungkin dia punya penyakit tertentu sehingga tidak bisa memiliki keturunan, atau ia mengalami berkali-kali keguguran yang kita tidak tahu terjadinya dan terakhir kita tidak tahu apakah itu atas kehendaknya atau faktor luar dirinya.
Faktor X ketiga.... coba anda pikirkan...... apa kira-kira?
Intinya adalah anak kita adalah fitnah.... karena itu tidak pantas berbangga-bangga dengan banyaknya anak dan tidak pantas pula ketika menanyakan “Kenapa anaknya hanya satu saja”, jelas ini melanggar hak asasi manusia, terutama hak ber............ (sensor ya....). Afwan jika kurang suka....  

 

Mengertilah Abi....


Oleh Ummu Afif

Membahas topik tentang “poligami” memang ngga pernah ada habisnya alias ngga ada akhirnya. Dimanapun dan kapanpun topik ini selalu menarik. Terlepas dari pro dan kontra masalah poligami, di sini saya hanya ingin memaparkan isi hati seorang ummahat yang rela berbagi suami dengan akhwat lain.

Sebagai muslimah yang telah belajar dan mengerti tentang hukum poligami, menolak poligami sama artinya menolak apa yang telah disyari’atkan oleh Alloh dan Rasul-Nya. Namun ada banyak cerita di balik poligami. Ada yang bahagia, ada yang berakhir derita, ada pula yang pasrah dengan keadaan dan hanya mengharap balasan pahala dari Alloh subhanallohu wa ta’ala.

Sejak berkenalan dengan seorang akhwat yang bernama “Rima”, Hasan semakin merasa yakin kalau dia mampu melaksanakan poligami. Berbekal keyakinan itu Hasan pun mengabarkan niat berpoligaminya kepada “Fitri” istrinya. Saat itu istrinya sedang hamil 7 bulan, anak kedua buah cinta mereka. Wanita tetaplah wanita yang lembut perasaannya, yang selalu mengedepankan perasaan ketimbang akalnya. Kaget pastinya saat mendengar niat Hasan. Alasan Fitri saat itu memang masuk akal ketika dia meminta Hasan untuk menunda perkawinan keduanya, karena dirinya sedang hamil tua, mereka pun masih kontraktor alias masih mengontrak rumah, anak pertama mereka “Hamid” sebentar lagi akan masuk Sekolah Dasar. Namun apalah daya seorang wanita ketika mengutarakan alasan itu, Hasan yang seorang ustadz menyodorkan dalil-dalil tentang “poligami”. Fitri hanya menunduk pasrah pada taqdir Alloh, air mata pun mengalir deras di pipinya sambil berkata “tafadhal ya abi…jika itu yang terbaik..”

Perkawinan Hasan dengan Rima pun berjalan lancar. Pesta sederhana mereka gelar. Hampir satu minggu Hasan tidak berkunjung ke istri pertamanya, karena sedang menikmati indahnya masa pengantin baru (baru apa lama ya..kan udah yang kedua..?), kemanapun selalu berdua, layaknya dunia ini milik berdua. Walaupun tempat Hasan mengajar santrinya melewati rumah istri pertamanya, Hasan masih sibuk dengan istri barunya. Di rumah istri pertamanya tiba-tiba Hamid, sang anak mengadu pada ibunya…”Umi…Umi...tadi Hamid lihat Abi boncengan sama Ammah. Abi ko’ nggak pulang sih mi..?” Fitri hanya tertegun, bingung apa yang harus dia jawab. Bagaimana dia menerangkannya pada buah hatinya. Lagi-lagi hanya airmata yang mengalir deras di pipinya.

Dua bulan berlalu, Hasan mulai belajar seadil mungkin membagi malam untuk kedua istrinya. Tapi namanya juga istri baru, muda pula, perasaan Hasan sedikit lebih condong dengan istri barunya. Bulan ketiga perkawinan keduanya mulailah dirasakan Hasan ada yang memberatkan. Dari sifat istrinya keduanya yang agak kekanak-kanakan, manja, cemburuan, apa lagi saat Hasan harus membagi waktunya dengan istri pertamanya. Riak-riak kecil mulai ada dalam rumah tangga barunya. Perasaan menyesalpun kadang menyergap. Namun nasib sudah menjadi bubur. Resiko apapun harus dia terima. Dia ingat saat dia menikah dengan istri keduanya karena dia terfitnah. Dari hanya chatting lewat FB, kemudian bertukar nomer HP. Pesan-pesan Islami bernada da’wah sering dia kirim ke Rima…”tetap istiqomah ya ukhti...” Dari sms berlanjut saling telepon, candaan lembut sedikit menggelitik terkadang terselip di sana, sampai akhirnya niat berpoligamipun terbesit dalam hati. Kini penyesalan itu tinggalah penyesalan. Beruntung dia memiliki istri seperti Fitri yang sabar dan sholihah. Dan semoga semua ini ada ibrah yang dapat diambil, dia yakin semua taqdir Alloh pastilah baik adanya.

Tengah hari di Cibinong
Selasa, 1 maret 2011   

Walaupun Satu Ayat?


Oleh : Abu Aisyah


Aktifitas menulis adalah upaya untuk menyajikan kebajikan kepada para pembaca. Dengan aktifitas ini diharapkan pembaca mendapatkan setetes ilmu yang diamanahkan kepada kita. Sudah selayaknya bahwa ilmu itu disebarkan kepada orang lain, karena itu adalah hak ilmu. Berbeda dengan harta yang ketika dibagikan akan berkurang maka ilmu semakin dibagikan kepada orang lain semakin ilmu itu bertambah. Rasulullah sendiri memberikan acuan mengenai kewajiban untuk menyampaikan ilmu ini dalam sabdanya : “Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat”.

Makin Berisi Makin Merunduk


Oleh Abu Aisyah


Tidak dapat dipungkiri bahwa kehidupan manusia dipenuhi dengan cobaan dan fitnah, baik itu yang bersifat kesenangan ataupun kesusahan. Fitnah dalam hal ini cobaan bisa berupa hal-hal yang dirasakan menyenangkan oleh manusia. Adanya ilmu yang kita miliki adalah salah satu dari fitnah tersebut. Kepemilikan ilmu sejatinya adalah salah satu amanah yang harus ditunaikan oleh pemiliknya, sehingga ilmu itu dianggap bermanfaat ketika dapat diamalkan dan dirasakan manfaatnya oleh orang lain. Kemanfaatan ilmu oleh orang lain bisa berupa manfaat dalam bentuk fisik dan bisa juga dari non fisik semisal perilaku dari pemilik ilmu tersebut.

Dunia Di Tanganku Bukan Di Hatiku


Oleh : Abu Aisyah


Manusia dan dunia adalah dua hal yang saling berkaitan erat, manusia hidup tentu membutuhkan dunia dalam hal ini adalah harta. Harta menjadi sesuatu yang sangat penting bagi manusia karena itu manusia tidak akan bisa hidup tanpa harta. Islam sebagai agama yang memahami kebutuhan manusia maka memberikan porsi sesuai dengan posisinya. Islam memposisikan harta sebagai wasilah dan sarana dalam menghadapi kehidupan. Dalam arti luas Ia adalah alat untuk memenuhi semua kebutuahn hidupnya.  Sebagai sebuah sarana ia bukanlah sebuah tujuan, sehingga sangat disayangkan ketika umat Islam menjadikan harta sebagai tujuan utama dalam hidupnya.

Bila Harus Berbagi Suami…


Oleh : Bambang Sahaja

Ngebaca judul tulisan ini pasti deh yang dibayangin adalah berbagi suami alias poligami. Baca ulang aja lagi “Bila Harus Berbagi Suami....”, satu suami banyak istri ih..... ngeri!!!. Kalem dulu dong.... tulisan ini sama sekali nggak menyinggung masalah poligami, bener... gak bohong. Ini tulisan cuman ngebahas tentang ketika harus berbagi suami... (“Berbagi suami?, dengan siapa? Istri muda lagi? Nambah lagi? Atau punya 'sekretaris pribadi' ?”) Wah.... wah... sabar.... sabar. Berbagi suami di sini adalah ketika suami itu ternyata gak cuman milik kita...  (Milik siapa? Tetangga?, istri muda? Wanita tuna susila?) Ih.... ko' pikirannya ngeres gitu sih.... bukan lagi, ini tulisan ngebahas tentang bila harus berbagai suami.... (maaf tidak ada komentar.....) betul bila harus berbagi suami.... berarti ketika suami yang kita miliki satu-satunya (Ya iyyalah masa Poliandri) ternyata bukan hanya milik kita... (Maaf tidak ada komentar lagi....). eh... tadi ko' pake kata “kita” emang yang nulis misua apa trisi? ya.... misua lah.. alias suami cuma ya sebagai bentuk kebersamaan dan kegotong-royongan jadi “kita” mewakili trisi. Setuju? Setuju gak setuju maju terus.....

ASEP (Ane Senang Ente Puas)


Oleh Bambang Sahaja



Ini bukan cerita tentang tradisi transaksi yang jadi bagian kehidupan insani sehari-hari, ini adalah tentang bagaimana kita bisa berbuat sesuatu bagi agama kita, Islam tentunya. Berbuat sesuatu tersebut adalah menjadikan kebahagiaan yang kita rasakan berada dalam lindungan syariahNya dapat pula dirasakan oleh orang lain. Ane bakalan senang kalau ente juga bisa ngerasain apa yang ane rasakan.
Jujur aja dulu waktu ane masih bergelimang dosa sepertinya hidup tanpa makna. Walaupun harta ada tapi dada terasa hampa, hidup sengsara dan tanpa tujuan hendak ke mana. Sekarang ane baru ngerasa bahwa ternyata ada Dia yang selalu menemani ane, ente juga. Makanya ane seneng banget kalau kebahagiaan ini bisa juga ente rasakan.